Documents
Resources
Learning Center
Upload
Plans & pricing Sign in
Sign Out

pelayanan prima rumah sakit

VIEWS: 1,573 PAGES: 13

									A. Pelayanan Prima Dalam Bidang Kesehatan
           Pelayanan prima di bidang kesehatan ( Health Excellent Service ), Health costumer
   care secara harfiah berarti pelayanan kesehatan yang sangat baik atau pelayanan kesehatan
   terbaik. Pelayanan prima adalah faktor kunci dalam keberhasilan pencapaian tujuan program
   kesehatan, khususnya dalam bidang pelayanan masyarakat.
           Jika program pelayanan masyarakat ingin dapat tumbuh dan berkembang, maka
   program biasa dapat melakukan upaya-upaya terobosan untuk dapat bertahan dalam
   persaingan. Program akan dapat diuntungkan dan dapat dukungan jika dapat memberikan
   pelayanan kepada masyarakat yang terus meningkat.
           Untuk melaksanakan hal ini, kita perlu meningkatkan jumlah dukungan pelanggan
   program yang kita miliki. Dengan demikian kita hendaknya memiliki sistem yang dapat
   mempertahankan dukungan pelanggan. Seperti halnya mendapatkan dukungan pelanggan
   yang baru. Dalam hal untuk mendapatkan simpati baru, pelayanan bidang kesehatan juga
   perlu mempertahankan loyalitas konsumen / pelanggannya yang telah ada.
           Pelayanan prima bidang kesehatan ( Health costumer care ) berarti upaya
   memelihara dan mempertahankan para pelanggan pelayanan kesehatan dan terus melakukan
   upaya menambah pelanggan baru.
           Banyak aspek yang perlu dijadikan bahan pemikiran dan bahan pertimbangan agar
   dapat mewujudkan kepuasan pelanggan pelayanan kesehatan dan bukan hanya sekedar
   memberikan janji pelayanan yang terbaik. tetapi ternyata dalam praktek pelayanannya tidak
   baik.
           Pelayanan prima bidang kesehatan ( Health costumer care ) yang baik dibutuhkan
   kesiapan semua anggota pelaksana program tanpa kecuali. apakah mereka yang
   berhubungan langsung atau tidak langsung dengan para pelanggannya, untuk dapat
   melaksanakan tugas dan bekerjasama bersama orang lain. Untuk itu dibutuhkan rasa percaya
   diri untuk menyesuaikan dan mempertimbangkan kepercayaan dan menjaga rahasia
   pelanggan yang ada pada kita.
           Pelayanan prima dibidang kesehatan ( Health costumer care ) bukan hanya sekedar
   memberikan susuatu layanan tehnis kesehatan saja tetapi juga layanan informasi pelayanan
   kesehatan. Hal ini memerlukan sedikit layanan ekstra dengan harapan pelayanan yang akan
   diperoleh adalah pelayanan terbaik.
B. Pentingnya Pelayanan Prima
            Pelayanan prima kesehatan, adalah salah satu pelayanan yang dirindukan oleh
    masyarakat pada saat ini, adalah pelayanan kesehatan yang dapat memperhatikan kebutuhan
    dari masyarakat, yakni jika unit pelayanan masyarakat yg ingin maju dan mengharapkan
    pelanggannya untuk memakai atau memanfaatkan jasa pelayanannya, maka unit pelayanan
    tersebut harus dan tetap mengajak (baca: melalui promosi ) kepada pelanggannya agar selalu
    memanfaatkan fasilitas pelayanan kesehatan . Walaupun banyak sudah unit lain yakni pihak
    swasta yang menawarkan produk-produk jasanya untuk bersaing. Maka barang siapa yang
    tetap konsisten terhadap azas kepatuhan pelayanan prima, maka dialah yang akan jadi
    pemenangnya.
               Masyarakat sekarang ini semakin cerdas dalam menilai dari setiap langkah yang
      akan diambil , karena kebutuhannya selalu di hitung dengan rincian untung rugi secara
      ekonomi yang terkadang agak terlalu rumit. Maka unit pelayanan kesehatan pun sudah
      saatnya melakukan re evaluasi dan pembenahan dari kebijakan yang telah dibuat, apakah
      menurut anggapan pelanggannya secara ekonomi menguntungkan atau tidak. Jika dalam
      perhitungan tersebut lebih cenderung berpihak pada keuntungan para pelanggannya,
      maka produk pelayanan kesehatan tersebut kemungkinan besar akan diminati oleh
      masyarakat pelanggan / pendukungnya. Namun juga jangan salah, tanpa dibarengi peran
      promosi yang efektif hal ini akan lama sampai pada tujuan akhir.
               Pelayanan prima bidang kesehatan , penting bagi unit pelaksana pelayanan
      kesehatan , termasuk pimpinan dan staf pelayanan tersebut. Ini catatan penting bagi
      civitas unit pelaksana pelayanan tersebut karena dapat meningkatkan citra dan
      mempertahankan loyalitas pelanggan serta membantu untuk menyamakan misi dan visi
      dari programnya.
 C. Prinsip-prinsip pelayanan prima
               Pelayanan prima bidang kesehatan, dikembangkan berdasarkan prinsip 3 A.
      Pertama, kita harus menyajikan Attitude ( sikap ) yang benar. Kedua, kita harus saling
      memberikan Attention ( perhatian ) yg tidak terbagi . ketiga , semua pelanggan senantiasa
      mencari action ( Tindakan).
                  Pelayanan prima berdasarkan konsep attituide ( sikap ) meliputi tiga prinsip
       berikut:
       a).Melayani pelanggan berdasarkan penampilan yang sopan dan serasi
       b). Melayani pelanggan dengan berfikir positip sehat dan logis.
       c). Melayani pelanggan dengan sikap selalu menghargai
                  Pelayanan prima berdasarkan attention ( perhatian ) meliputi tiga prinsip :
       a). Mendengar dan memahami secara sungguh-sungguh kebutuhan para pelanggan.
       b).Mengamati dan menghargai kepada para pelanggannya.
       c) Mencurahkan perhatian penuh kepada para pelanggan.
                  Pelayanan prima berdasarkan action ( tindakan ) meliputi lima prinsip :
       a).Mencatat setiap pesan para pelanggan.
       b) Mencatat kebutuhan pelayanan
       c). Menegaskan kembali kebutuhan pelayanan
       d).Mewujudkan kebutuhan pelanggan
          Hal-hal yang perlu diperhatikan yang berkaitan dengan konsep pelayanan prima
bidang kesehatan, yaitu :
   1. Apabila dikaitkan dengan tujuan pemerintah dalam memberikan pelayanan kesehatan
       kepada masyarakat maka pelayanan prima kesehatan adalah pelayanan kesehatan yang
       terbaik kepada masyarakat.
   2. Pelayanan prima kesehatan didasarkan pada struktur pelayanan terbaik.
   3. Untuk instansi yang sudah mempunyai standar pelayanan kesehatan maka pelayanan
       prima , yaitu adalah pelayanan yang memiliki standar.
   4. Apabila pelayanan selama ini sudah sesuai dengan standar, maka pelayanan prima upaya
       mencari terobosan sehingga berarti pelayanan yang diberikan dapat melebihi standar.
   5. Untuk instansi yang belum mempunyai standar pelayanan maka pelayanan prima adalah
       pelayanan yang terbaik dari instansi yang bersangkutan. Usaha selanjutnya adalah
       menyusun standar pelayanan prima.
D. Perilaku dalam pelayanan prima
       Dalam memberikan pelayanan yang bermutu tinggi dan memuaskan pelanggan, faktor
peilaku manusia adalah dapat menentukan, selain bentuk isi (content) mutu barang atau jasa yang
diberikan.
Perilaku yang baik pertama dalam memberikan pelayanan menurut De Vriye, et al. adalah :
   Self Esteem : Penghargaan terhadap diri sendiri, dengan pandai menghargai dirinya sendiri,
    seorang karyawan akan berpikiran dan bertindak positif terhadap orang lain, sehingga pandai
    menghargai pelanggan dengan baik. Dengan demikian pelayanan bukan menundukkan diri.
   Exceed Expectations (melampaui harapan) : Memberikan pelayanan dengan melebihi apa
    yang diharapkan pelanggan (mematuhi dan melebihi standar) secara konsisten.
   Ricovery (pembenahan) : Adanya keluhan pelanggan jangan dianggap sebagai suatu beban
    masalah namun suatu peluang untuk memperbaiki atau meningkatkan diri. Apa masalahnya,
    dengrkan pelanggan, kumpulkan data, bagaimana pemenuhan standarnya.
   Vision (visi) : Pelayanan yang prime berkaitan erat dengan visi organisasi. Dengan budaya
    kerja atau budaya organisasi (Corporate Culture) atau Budaya mutu (Quality Culture) dalam
    pelayanan prima, visi, impian akan dapat diwujudkan sepenuhnya seperti yang diharapkan.
        Improve (Perbaikan atau peningkatan) : Peningkatan mutu pelayanan secara terus
menerus (Continous Improvement) dalam memberikan kepuasan kepada pelanggan agar tidak
ditinggalkan. Karena para pesaing ingin berusaha meningkatkan diri untuk menarik hati
pelanggan. Meningkatkan diri dapat dengan pendidikan dan latihan sebagai modal, membuat
standar pelayanan lebih tinggi, menyesuaikan tuntutan lingkungan dan pelnggan, dan
merencanakan pelayanan yang baik bersama karyawan sejak awal.
        Care (perhatian) : Perhatian atau perlakuan terhadap pelanggan dengan baik dan tulus.
Memenuhi kebutuhannya, memperlakukannya dengan baik, menjaga dan memenuhi standar
mutu sesuai dengan standar ukuran yang diharapkan.
        Empower (Pemberdayaan) : Memberdayakan agar karyawan mampu bertanggung jawab
dan tanggap terhadap persoalan dan tugasnya dalam upaya peningkatan pelayanan yang bermutu.
        Ada empat hal yang harus diperhatikan dalam upaya menyelenggarakan pokok
pelayanan prima, yaitu :
   1. Apa produk yang disajikan.
   Dalam hal ini harus mampu diidentifikasi secara jelas bagaimana spesifikasi produk dan apa
   yang dapat dilakukan untuk meningkatkan mutunya. Dalam hal pelayanan kesehatan
   misalnya perlu dispesifikasi jenis tindakan medis yang akan ditawarkan, bagaimana
   perkembangan teknologi dalam tindakan itu, dan lain lain.
   2. Kapan disajikan.
   Walaupun produk itu baik tetapi kalau tidak disajikan sesuai dengan waktu kebutuhan
   penggunaannya oleh pelanggan maka tentu tidak akan memuaskan pelanggan. Apalgi kalau
   terlambat, misalnya perawat yang harus dibel beberapa kali baru datang ketempat tidur
   pasien yang membutuhkannya.
   3. Bagaimana menyajikannya.
   Ini merupakan hal yang penting karena satu produk yang sama dapat diterima secara berbeda
   bila cara penyajiannya berbeda pula. Katakanlah misalnya dokter dapat menerangkan secara
   rinci apa yang akan dilakukan pada sebuah tindakan bedah maka mungkin akan
   menenangkan pasien, ketimbang pasien tidak tahu sama sekali prosedur bedah apa yang
   akan dijalaninya.
   4. Apakah sesuai dengan harapan pelanggan.
   Pada dasarnya pelayanan adalah demi kepuasan pelanggan maka dalam setiap penyajian
   produk apapun-termasuk kesehatan-harus dinilai apakah produk yang kita berikan sesuai
   dengan harapan pelanggan itu. Dalam hal ini maka pelanggan dapat memperoleh pelayanan
   yang ”basic” saja sifatnya, atau kalau lebih baik dean sesuai dengan harapannya kita sebut
   ”expected” dan yang paling baik tentu kalau pelanggan mendapat pelayanan di atas yang dia
   harapkan, disebut ”excellent”.
   Aparatur pemerintah dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat, diharapkan
memahami bahwa dirinya adalah bertugas melayani bukan untuk dilayani masyarakat, oleh
karenanya hendaknya dapat diberikan pelayanan yang prima, dalam arti :
     Sensitif dan responsive terhadap tuntutan masyarakat, tantangan maupun peluang –
        peluang untuk peningkatan.
     Inovatif kreatif dalam memberikan pelayanan yang bermutu dan memuaskan pelanggan.
        Mempunyai visi ke       depan, apa sesungguhnya       yang ingin diwujudkan dan
           mempertimbangkan kemungkinan – kemungkinan adanya resiko dan mengelola resiko
           dengan baik (mereduksi, menghilangkan maupun meminimalkan).
        Mampu memanfaatkan dengan baik sumber daya yang tersedia dengan metode ilmiah
           yang sesuai.
        Mampu memecahkan masalah yang timbul dan mengambil keputusan dalam upaya
           peningkatan pelayanan yang bermutu.


Untuk mencapai kualitas Pelayanan Prima, yang perlu diperhatikan adalah :
   1. Aspek Internal (dalam diri sendiri) berupa menjaga penampilan, bersikap proaktif, kreatif
         dan bersemangat, mengelola waktu dengan baik serta tulus dalam melayani dan
         berempati.
   2. Aspek Eksternal berupa lingkungan kerja RS.


E. Pelayanan Prima di Rumah Sakit
Dalam memberikan pelayanan prima di Rumah Sakit, petugas diperhadapkan dengan berbagai
Tipe Pasien sulit yaitu :
   1. Pasien yang ekspresif yaitu pasien yang mempunyai sifat tegas, terlihat seperti pemarah
         karena mungkin kesal dengan sesuatu/seseorang,
   2. Pasien Penggertak yaitu pasien yang mempunyai kecenderungan untuk memojokkan dan
         memaksa lawan bicara untuk mempertahankan diri,
   3. Pasien Keras Kepala yaitu pasien yang tidak mudah menyatakan setuju, berpegang teguh
         pada pemikirannya sendiri meskipun terkadang salah.
   4. Pasien serba tahu yaitu pasien yang memiliki pengetahuan yang luas mengenai pelayanan
         di RS, dan banyak bertanya.
   5. Pasien yang analitis yaitu pasien yang menginginkan info sebanyak-banyaknya,
         mempunyai kekuatan logika dalam berpikir.
Adapun aspek yang perlu diperhatikan untuk mempertahankan Kualitas Pelayanan Prima adalah
berupa :
       Aspek terlihat yaitu pengguna jasa RS dapat menggunakan indra penglihatan untuk
        menilai suatu kualitas pelayanan,
        Aspek Kepercayaan, yaitu kemampuan pemberi layanan untuk memberikan pelayanan
         seperti yang telah dijanjikan,
        Aspek Tanggap dan Cekatan, yaitu kecepatan pelayanan merupakan tuntutan dari
         pelanggan yang begitu menghargai waktu,
        Aspek Kepedulian yaitu memberikan perhatian penuh kepada pelanggan sehingga dapat
         melakukan pelayanan melebihi apa yang diharapkan.
         Menurut Donabedian mutu pelayanan rumah sakit merupakan mata rantai interaksi dan
keterkaitan yang rumit antara sistem struktur yang ada di rumah sakit, proses yang terjadi di
rumah sakit dan outcome / masih akhir yang terjadi. Struktur pada dasarnya adalah sumber daya
yang ada dan pengaturannya, proses meliputi berbagai rangkaian kegiatan yang dijalani di rumah
sakit yang antara lain dinilai dari tercapai tidaknya efisiensi optimal serta hasil akhir dapat
berupa derajat kesehatan dan atau kepuasan pelanggan. Sementara itu, menurut Lisa Ford (2003)
terdapat 5 syarat untuk berlangsungnya pelayanan prima yaitu :
       1. Dapat dipercaya (reliability) : Kalau sudah janji, tepati.
       2. Responsif (responsiveness) : Segera beraksi bila diperlukan, bahkan sebelum diminta.
       3. Buat pelanggan merasa dihargai (makes customer feel valued) : Pelanggan ingin dianggap
          penting.
       4. Empati (empathy) : Kita berada disisi yang sama dengan pelanggan.
       5. Kompetensi (competency) : Pekerja di semua level menguasai bidangnya.
         Dalam instruksi Menteri Kesehatan Republik Indonesia No.828/MENKES/VII/1999
tentang Pelaksanaan Pelayanan Prima Bidang Kesehatan, dijelaskan bahwa:
Berdasarkan aspek – aspek kesederhanaan, kejelasan, kepribadian, keamanan, efisiensi,
ekonomis, keadilan, ketepatan waktu, kebersihan, kinerja dan juga sikap perilaku, maka
pelaksanaan pelayanan prima bidang kesehatan perlu memperhatikan hal – hal sebagai berikut :
        Mengupayakan paparan yang jelas melalui papan informasi atau petunjuk yang mudah
          dipahami dan diperoleh pada setiap tempat / lokasi pelayanan sesuai dengan
          kepentingannya menyangkut prosedur / tata cara pelayanan, pendaftaran, pengambilan
          sample atau hasil pemeriksaan, biaya / tarif pelayanan serta jadwal / waktu pelayanan.
        Setiap aturan tentang prosedur / tata cara / petunjuk seperti yang tersebut diatas harus
          dilaksanakan secara tepat, konsisten, konsekuen sesuai dengan peraturan perundang –
          undangan yang berlaku.
 Hak dan kewajiban pemberi atau penerima pelayanan diatur secara jelas setiap
   persyaratan yang diwajibkan dalam rangka menerima pelayanan harus mudah diperoleh
   dan berkaitan langsung dengan kepentingan pelayanan serta tidak menambah beban
   masyarakat penerima pelayanan.
 Tersedia loket informasi dan kotak saran bagi penerima pelayanan yang mudah dilihat /
   dijumpai pada setiap tempat pelayanan. Saran yang masuk harus selalu dipantau dan
   dievaluasi, bila perlu diberi tanggapan atau tindak lanjut dalam rangka upaya perbaikan
   dan peningkatan mutu pelayanan.
 Penanganan proses pelayanan sedapat mungkin dilakukan oleh petugas yang berwenang
   atau kompeten, mampu terampil dan professional sesuai spesifikasi tugasnya. Setiap
   pelaksanaan pemberian pelayanan dan hasilnya harus dapat menjamin perlindungan
   hukum dan dapat dijadikan alat bukti yang sah.
 Selalu diupayakan untuk menciptakan pola pelayanan yang tepat sesuai dengan sifat dan
   jenis pelayanan yang bersangkutan dengan mempertimbangkan efisiensi dan efektivitas
   dalam pelaksanaannya.
 Biaya atau tarif pelayanan harus ditetapkan secara wajar dengan memperhitungkan
   kemampuan masyarakat. Hendaknya diupayakan untuk mengatur mekanisme pungutan
   biaya yang memudahkan pembayarannya dan tidak menimbulkan biaya tinggi.
   Pengendalian dan pengawasan pelaksanaannya harus dilaksanakan dengan cermat,
   sehingga tidak terdapat titipan pungutan oleh instansi lain.
 Pemberian pelayanan dilakukan secara tertib, teratur dan adil, tidak membedakan status
   social masyarakat. Cakupan / jangkauan pelayanan diupayakan seluas mungkin dengan
   distribusi yang merata.
 Kebersihan dan sanitasi lingkungan tempat dan fasilitas pelayanan harus selalu dijamin
   melalui pelaksanaan pembersihan secara rutin dan penyediaan fasilitas pembuangan
   sampah / kotoran secukupnya sesuai dengan kepentingannya.
 Selalu diupayakan agar petugas memberikan pelayanan dengan sikap ramah dan sopan
   serta berupaya meningkatkan kinerja pelayanan secara optimal dengan kemampuan
   pelayanan yang tersedia dalam jumlah dan jenis yang cukup.
   F. Aspek-aspek Kualitas Pelayanan
           Aspek kualitas jasa atau pelayanan yang merupakan aspek sebuah pelayanan prima.
   Faktor yang menentukan kualitas pelayanan rumah sakit, yaitu :
          Kehandalan yang mencakup dua hal pokok, yaitu konsistensi kerja dan kemampuan
           untuk dipercaya
          Daya tangkap, yaitu sikap tanggap para karyawan rumah sakit melayani saat
           dibutuhkan pasien
          Kemampuan, yaitu memiliki ketrampilan dan pengetahuan yang dibutuhkan agar
           dapat memberikan jasa tertentu
          Mudah untuk dihubungi atau ditemui
          Sikap sopan santun, respek dan keramahan karyawan
          Komunikasi, yaitu memberikan informasi kepada pelanggan dalam bahasa yang dapat
           mereka pahami, serta selalu mendengarkan saran dan keluhan pasien
          Dapat dipercaya atau jujur
          Jaminan keamanan
          Usaha untuk mengerti dan memahami kebutuhan pasien
          Bukti langsung yaitu bukti fisik dari jasa, bisa berupa fasilitas fisik, peralatan yang
           digunakan, representasi fisik dan jasa.
       Dalam perkembangan berikutnya, Parasuraman 10 faktor yang mempengaruhi kualitas
yang ada dengan dirangkum menjadi 5 faktor pokok dalam keunggulan pelayanan, yaitu :
          Bukti fisik (tangibles), bukti langsung yang meliputi fasilitas fisik, perlengkapan dan
           material yang digunakan rumah sakit dan penampilan karyawan yang ada.
          Reliabilitas (reliablility) berkaitan dengan kehandalan kemampuan rumah sakit untuk
           memberikan pelayanan yang segera dan akurat sejak pertama kali tanpa membuat
           kesalahan apapun dan memuaskan.
          Daya tanggap (responsiveness), sehubungan dengan kesediaan dan kemampuan para
           karyawan untuk membantu para pasien dan merespon permintaan mereka dengan
           tanggap, serta menginformasikan jasa secara tepat.
          Jaminan (assurance) yakni mencakup pengetahuan, ketrampilan, kesopanan, mampu
           menumbuhkan kepercayaan pasiennya. Jaminan juga berarti bahwa bebas bahaya,
           resiko dan keragu-raguan.
       Empati (empathy) berarti kemudahan dalam melakukan hubungan komunikasi yang
        baik, perhatian pribadi dan memahami kebutuhan pasien sebagai pelanggan dan
        bertindak demi kepentingan pasien. Berdasarkan uraian di atas maka dapat
        disimpulkan bahwa terdapat lima faktor atau aspek kualitas pelayanan yaitu bukti
        fisik, reliabilitas, daya tanggap, jaminan, empati.
    G. Pelayanan Kesehatan Rawat Inap
    1. Pelayanan Rawat Inap
                Pelayanan rawat inap adalah suatu kelompok pelayanan kesehatan yang
        terdapat di rumah sakit yang merupakan gabungan dari beberapa fungsi pelayanan.
        Kategori pasien yang masuk rawat inap adalah pasien yang perlu perawatan intensif
        atau observasi ketat karena penyakitnya. Menurut Revans (1986) bahwa pasien yang
        masuk pada pelayanan rawat inap mengalami tingkat proses transformasi, yaitu :
    a. Tahap Admission, yaitu pasien dengan penuh kesabaran dan kenyakinan dirawat
        tinggal dirumah sakit.
    b. Tahap Diagnosis, yaitu pasien diperiksa dan ditegakkan diagnosisnya.
    c. Tahap treatment, yaitu berdasarkan diagnosis pasien dimasukkan dalam program
        perawatan dan terapi
    d. Tahap Inspection, yaitu secara terus menerus diobservasi dan dibandingkan pengaruh
        serta respon pasien atas pengobatan.
    e. Tahap Control, yaitu setelah dianalisa kondisinya, pasien dipulangkan. Pengobatan
        diubah atau diteruskan, namun dapat juga kembali ke proses untuk didiagnosa ulang.
        Jadi rawat inap adalah pelayanan pasien yang perlu menginap dengan cara menempati
tempat tidur untuk keperluan observasi, diagnosa dan terapi bagi individu dengan keadaan
medis, bedah, kebidanan, penyakit kronis atau rehabilitasi medik atau pelayanan medik
lainnya dan memerlukan pengawasan dokter dan perawat serta petugas medik lainnya setiap
hari.


2. Kualitas Pelayanan Rawat Inap
        Jacobalis (1990) menyampaikan bahwa kualitas pelayanan kesehatan di ruang rawat
inap rumah sakit dapat diuraikan dari beberapa aspek, diantaranya adalah:
 a. Penampilan keprofesian atau aspek klinis
     Aspek ini menyangkut pengetahuan, sikap dan perilaku dokter dan perawat dan tenaga
     profesi lainnya
 b. Efisiensi dan efektivitas
     Aspek ini menyangkut pemanfaatan semua sumber daya di rumah sakit agar dapat
     berdaya guna dan berhasil guna
 c. Keselamatan pasien
     Aspek ini menyangkut keselamatan dan kemanan pasien
 d. Kepuasan pasien
     Aspek ini menyangkut kepuasan fisik, mental dan social pasien terhadap lingkungan
     rumah sakit, kebersihan, kenyamanan, kecepatan pelayanan, keramahan, perhatian,
     biaya yang diperlukan dan sebagainya.
Menurut Adji Muslihuddin (1996), mutu asuhan pelayanan rawat inap dikatakan baik,
apabila :
a. Memberikan rasa tentram kepada pasiennya yang biasanya orang sakit
b. Menyediakan pelayanan yang benar-benar profesional dari setiap strata pengelola rumah
sakit. Pelayanan bermula sejak masuknya pasien ke rumah sakit sampai pulangnya pasien.
Dari kedua aspek ini dapat diartikan sebagai berikut :
 Petugas menerima pasien dalam melakukan pelayanan terhadap pasien harus mampu
   melayani dengan cepat karena mungkin pasien memerlukan penanganan segera
 Penanganan pertama dari perawat harus mampu membuat menaruh kepercayaan bahwa
   pengobatan yang diterima dimulai secara benar
 Penanganan oleh para dokter dan perawat yang profesional akan menimbulkan
   kepercayaan pasien bahwa mereka tidak salah memilih rumah sakit.
 Ruangan yang bersih dan nyaman, memberikan nilai tambah kepada rumah sakit
 Peralatan yang memadai dengan operator yang profesional
 Lingkungan rumah sakit yang nyaman.


 a. Pelayanan Tenaga Medis
            Tenaga medis merupakan unsur yang memberikan pengaruh paling besar dalam
   menentukan kualitas dari pelayanan yang diberikan kepada pasien di Rumah Sakit.
   Fungsi utamanya adalah memberikan pelayanan medik kepada pasien dengan mutu
   sebaik-baiknya , menggunakan tata cara dan teknik berdasarkan ilmu kedokteran dan etik
   yang berlaku serta dapat dipertanggungjawabkan kepada pasien dari rumah sakit.
   Donabedian (1980), mengatakan bahwa perilaku dokter dalam aspek manajemen,
   manajemen lingkungan sosial, manajemen psikologi dan manajemen terpadu, manajemen
   kontinuitas dan koordinasi kesehatan dan penyakit harus mencakup beberapa hal, yaitu :
   a.Ketepatan diagnosis
   b.Ketepatan dan kecukupan terapi
       c. Catatan dan dokumen pasien yang lengkap
       d. Koordinasi perawatan secara kontinuitas bagi semua anggota keluarga


 b. Pelayanan Tenaga Perawat
           Perawat adalah seseorang yang telah lulus pendidikan perawa baik di dalam
   maupun di luar negeri sesuai dengan ketentuan perundang-undangan yang berlaku.
   Pelayanan perawatan di rumah sakit merupakan bagian integral dari pelayanan rumah
   sakit secara menyeluruh, yang sekaligus merupakan tolok ukur keberhasilan pencapaian
   tujuan rumah sakit, bahkan sering menjadi faktor penentu citra rumah sakit di mata
   masyarakat. Keperawatan sebagai suatu profesi di rumah sakit yang cukup potensial
   dalam menyelenggarakan upaya mutu, karena selain jumlahnya yang dominan juga
   pelayanannya menggunakan metode pemecahan masalah secara ilmiah melalui proses
   keperawatan. Asuhan keperawatan meliputi :
       Pelayanan keperawatan (Nursing Service ) adalah seluruh fungsi, tugas, kegiatan dan
        tanggung jawab yang dilaksanakan oleh seorang perawat dalam praktek profesinya
       Asuhan keperawatan (Nursing Care) adalah suatu pelayanan keperawatan langsung
        berupa bantuan, bimbingan, penyuluhan, pengawalan atau perlindungan yang
        diberikan oleh seorang perawat untuk memenuhi kebutuhan pasien
        Menurut Doenges (2000) menyebutkan proses keperawatan adalah proses yang terdiri
dari 5 tahap yang spesifik, yaitu:
a. Pengkajian
        Adalah pengumpulan data yang berhubungan dengan pasien secara sistematis,
meliputi fisik, psikologi, sosiokultural, spiritual, kognitif, kemampuan fungsional,
 perkembangan ekonomi dan gaya hidup. Pengkajian mencakup data yang dikumpulkan
 melalui wawancara, pengumpulan riwayat kesehatan, pemeriksaan fisik, laboratorium
 dandiagnosa serta melihat kembali catatan sebelumnya.
 b. Identifikasi Masalah/Diagnosa Keperawatan
          Adalah analisa data yang telah dikumpulkan untuk mengidentifikasi, memfokuskan
 dan mengatasi kebutuhan spesifik pasien serta respon terhadap masalah aktual dan resiko
 tinggi
 c. Perencanaan
          Adalah proses dua bagian yaitu pertama adalah identifikasi tujuan dan hasil yang
 diinginkan dari pasien untuk memperbaiki masalah kesehatan atau kebutuhan yang telah
 dikaji, hasil yang diharapkan harus spesifik, realistik, dapat diukur, menunjukkan kerangka
 waktu
 yang pasti, mempertimbangkan keinginan dan sumber pasien. Kedua adalah pemilihan
 intervensi keperawatan yang tepat untuk membantu pasien dalam mencapai hasil yang
 diharapkan
 d. Implementasi
          Impelementasi adalah melakukan tindakan dan mendokumentasikan              proses
 keperawatan sesuai dengan rencana keperawatan.
 e. Evaluasi
          Adalah menentukan kemajuan pasien terhadap pencapaian hasil yang diharapkan dan
 respon pasien terhadap keefektifan intervensi keperawatan. Kemudian mengganti rencana
 keperawatan jika diperlukan.
c.   Penyediaan Sarana Medik, Non Medik dan Obat-obatan
          Standar peralatan yang harus dimiliki oleh rumah sakit sebagai penunjang untuk
 melakukan diagnosis, pengobatan, perawatan dan sebagainya tergantung dari tipe rumah
 sakit, di samping tersedianya sarana penunjang medik juga tersedia alat-alat keperawatan.
 Dalam rumah sakit, obat merupakan sarana yan mutlak diperlukan, bagian farmasi
 bertanggung jawab atas pengawasan dan kualitas obat. Persediaan obat harus cukup,
 penyimpanan efektif, diperhatikan tanggal kadaluwarsanya, dan sebagainya.

								
To top