Documents
Resources
Learning Center
Upload
Plans & pricing Sign in
Sign Out

transfer dalam negeri

VIEWS: 89 PAGES: 13

									                              TRANSFER DALAM NEGERI

       Salah satu jasa dalam dunia perbankan yang banyak dipergunakan oleh masayarakat
adalah pengiriman uang (transfer) baik yang dilakukan dengan kawat ataupun secara tertulis.
Karena transfer uang dapat dilakukan baik di dalam negeri maupun ke luar negeri yang dapat
dilaksanakan dalam valuta asing dan Rupiah.

       Adapun transfer adalah suatu kegiatan jasa bank untuk memindahkan sejumlah dana
tertentu sesuai dengan perintah isi pemberi amanat yang ditujukan untuk keuntungan seseorang
yang ditunjukan untuk keuntungan seseorang yang ditunjuk sebagai penerima transfer
(Beneficiary).

       Pengiriman uang dibagi menjadi dua macam transaksi : pengiriman uang keluar (transfer
keluar) dimana bank pelaksana bersifat aktif dan pengiriman uang masuk (transfer masuk)
dimana bank pembayaran transfer bersifat pasif. Baik transfer uang keluar atau masuk akan
mengakibatkan adanya hubungan antar cabang yang sifatnya timbale balik (reciprocal), artinya
bila satu cabang mendebet cabang lainnya akan mengkredit.

   1. Transfer Keluar

           Pengiriman uang dalam satu atau antar negara harus dilakukan dengan cara yang
   mudah, cepat dan aman sehingga uang akan sampai di tangan pihak yang akan dituju dapat
   diterima tepat pada waktunya dengan jumlah yang utuh seperti apa yang telah diamanatkan
   oleh si pengirim. Dengan kata lain merupakan salah satu jenis pengiriman uang yang dapat
   menyederhanakan lalu lintas pembayaran adalah dengan pengiriman uang keluar (transfer
   keluar). Dalam transfer keluar ini, jasa perbankan dalam transfer atau pengiriman uang ke
   luar atau di dalam negeri dimana valuta yang ditransfer adalah valuta asing (valas). Dalam
   jasa transfer keluar, pihak bank pengirim yang aktif melakukan suatu kegiatan transfer.

           Keuntungan bagi Bank yang melaksanakan transfer keluar adalah sebagai sarana
   untuk menciptakan pendapatan dalam bentuk komisi, peningkatan pelayanan kepada para
   nasabah, peningkatan pangsa pasar bank, dan dari segi promosi lainnya.

      2.   Transfer Keluar Dengan Kawat (Telegraphic Transfer)
        Dalam menggunakan kegiatan transfer keluar dengan kawat, pihak bank akan
menggunakan kurs telegraphic transfer kepada nasabah yang mau mengirim uangnya
ke luar atau dalam negeri dalam valas. Satu hal yang harus diingat oleh pihak bank
hendak mengirim uang dengan valas yang paling menguntungkan pihak bank karena
bank akan berprinsip harus harus menerima uang dengan alternative kurs yang
tertinggi dan membayar dengan alternative kurs yang terndah. Cara yang ditempuh
oleh bankdalam telegraphic transfer(TT) ini adalah dengan menerapkan T.T. untuk
valuta yang dijual dan menerapkan kurs beli T.T. untuk yang dibeli. Bila diterapkan
kurs jual T.T. menjadi pembilang dan kurs beli T.T. untuk yang dibeli. Bila diterapkan
kurs jual T.T. sebagai penyebut maka akan hasilnya akan jauh lebih kecil dimana
sebesar kurs inilah yang akan dibayarkan kepada nasabah. Jadi melalui uraian di atas
terdapat gambaran bahwa pihak bank harus mendapatkan alternative keuntungan yang
paling besar melalui pemilihan kurs.

        Selain penerapan selisih kurs yang paling menguntungkan bagi pihak bank,
bank juga memungut ongkos T.T. yang dibebankan kepada nasabah karena
pengiriman uang ini dilakukan dengan T.T. Besarnya ongkosn T.T. tergantung kemana
uang tersebut hendak dikirim.

        Selain pemilihan kurs dan ongkos kirim, pendapatan bank yang harus diterima
adalah dari komisi transfer. Komisi transfer dengan T.T. ini biasanya relative lebih
besar dari pengiriman uang secar tertulis. Hal ini dilakukan karena pengiriman uang
dengan T.T. pada saat itu juga atau hari yang bersangkutan rekening kantor pusat di
koresponden akan berubah dengan jumlah, transfer tersebut, sehingga keuntungan
yang bisa diraih dari penerapan selisih kurs di koresponden akan hilang walaupun
jumlah uang yang akan ditransfer sudah diterima oleh bankyang merupakan dana
paling murah karena tidak berbunga yang mana bila disalurkan dalam bnetuk pinjaman
jangka pendek sehari atau dua hari yang menguntungkan pihak bank. Untuk menutupi
hilangnya kesempatan pendapatan selisih kurs dan bunga di koresponden ini atau
(opportunity cost) maka sebagai gantinya bank akan menerapkan beban komisi yang
lebih besar dalam pengiriman uang dengan T.T ini kepada nasabah. Lazimnya
perhitungan komisi ini diperhitungkan dalam prosentase tertentu dari jumlah transfer
dan dibukukan juga dalam valuta transfer.

         Sebagai unsure pengaman dalam pengiriman uang dengan T.T. ini selalu
dipergunakan nomor test dalam berita perintah membayar kepada koresponden,
dimana nomor test ini akan dipengaruhi dengan kode – kode tertentu seperti bank
pengirim, bank pembayar, hari tanggal-bulan dan tahun pengiriman, dan jumlah nilai
transfer serta lain – lainnya.

         Telah kita ketahui,pengiriman uang dilakukan oleh bank dengan cara
memerintahkan cabang lain untuk membayar sejumlah uang tertentu kepada
beneficiary (orang yang berhak menerima transfer) yang berdomisili di kota tertentu.
Dengan demikian terjadi hubungan antar kantor antara cabang pemberi amanat dan
pembayaran transfer.

         Sebagai contoh apabila seorang nasabah Bank Omega cabang Jakarta,
Tn.Kadir, hendak mengirim uang dengan kawat kepada seorang rekannya nasabah giro
Bank Omega – Cabang Bandung sebesar Rp 6.000.000. Untuk jasa ini Tn. Kadir
dikenakan komisi transfer Rp 10.000 dan ongkos kawat sebesar Rp 15.000.
Pembayaran dilakukan dengan menarik selembar cek giro termasuk seluruh biaya dan
komisi. Pada saat menerima amanat ini, Bank Omega – Jakarta akan membukukan :

D : Giro – Rekening Tn.Kadir                   Rp 6.000.000

         K : Pendapatan Komisi Transfer                       Rp    10.000

         K : Pendapatan Ongkos Kawat                          Rp    15.000

         K : RAK – Cabang Bandung                             Rp 6.000.000

         Apabila Tn. Kadir hendak mengirim uang secara tertulis kepada seorang
rekannya di cabang Surabaya sebesar Rp 20.000.000. Komisi dikenakan sebesar Rp
10.000. Pembayaran dilakukan dengan uang tunai Rp. 10.000.000, cek Bank BCA –
Jakarta Rp 5.000.000, dan atas beban rekening tabungan Bank Omega – cabang
Jakarta sisanya. Bank Omega – cabang Jakarta akan memperhatikan hal – hal sebagai
berikut.

           Dalam hal penyetoran dengan warkat campuran termasuk warkat kliring akan
ditampung seluruh setoran non – kliring dalam rekening hutang lainnya. Kemudian
rekening hutang lainnya harus segera dinihilkan sewaktu kliring tersebut dinyatakan
berhasil. Ayat jurnal untuk mencatat transaksi tersebut adalah sebagai berikut.

D : Kas                                      Rp 10.000.000

D : Tabungan – Rekening Tn. Kadir            Rp 5.010.000

D : BI – Giro                                Rp 5.000.000

    K : Hutang Lainnya                                           Rp 20.000.000

    K : Pendapatan Komisi Transfer                               Rp       10.000

              Bila kliring dinyatakan berhasil :

D : Kas                                      Rp    15.000

    K : RAK – Cabang Surabaya                                    Rp       15.000

              Bila terjadi pembatalan transfer keluar, haruslah diperhatikan bahwa
pembatalan tersebut hanya dapat dilakukan bila transfer keluar belum dibayarkan
kepada si penerima uang dan untuk itu bank pemberi amanat harus member perintah
berupa “stop payment” kepada cabang pembayar. Pembayaran pembatalan ini baru
dapat dilakukan oleh bank pemberi amanat kepada nasabah pemberi amanat apabila
telah diterima berita konfirmasi dari bank pembayar bahwa memang transfer dimaksud
belum dibayarkan.

              Sebagai contoh Tuan Mirza, yang telah memberikan amanat kepada Bank
Omega – Jakarta dua minggu lalu untuk mengirimkan uang dengan kawat kepada
rekannya di cabang Bandung, sebesar Rp 1.000.000 datang kembali ke bank untuk
membatalkan transfernya. Untuk itu ia dikenakan ongkos kawat sebesar Rp 15.000
yang dibayarnya tunai. Hasil pembatalan transfer agar disetorkan untuk keuntungan
rekening tabungannya. Pada saat ini menerima amanat ini, bank Omega – Jakarta akan
membukukan :

D : Kas                                  Rp   15.000

    K : RAK – Cabang Surabaya                                 Rp    15.000

             Setelah Bank Omega – Jakarta menerima konfirmasi berita bahwa transfer
tersebut memang belum dibayarkan kepada yang beneficiary yang berhak menerima
transfer tersebut, maka bank Omega – Jakarta membukukan sebagai berikut :

D : RAK – Cabang Bandung                 Rp 1.000.000

    K : Tabungan – Rekening Tn.M                              Rp 1.000.000

          Contoh lain, Seorang hendak mengirim uang ke Amerika serikat sebanyak
USD 250.000 dengan TT. Komisi ditentukan sebesar 0,5% dari nilai transfer.
Sedangkan ongkos kawat ditentukan oleh bank akan tampak sebagai berikut :

          Jumlah transfer T.T                                 USD    250.000

          Komisi 0,15 % x USD 250.000                         USD        375

          Jumlah valas USD                                    USD    240.375

          Kurs jual USD 1                                  = Rp.       1.640 X

          Ekuivalen dalam valuta RP                           Rp410.615.000

          Ongkos T.T                                          Rp      35.000

          Jumlah yang harus diterima                          Rp410.650.000

          Melalui gambaran di atas kita bisa amati bahwa ongkos kawat dalam valuta
Rp diterima oleh bank dan menjadi pendapatan bank, padahal bank akan
membayarkan ongkos kawat ini kepada jasa telekomunikasi berupa ongkos telex. Pada
waktu bank membayar ongkos kawat akan dibebankan sebagai biaya, sehingga
pendapatan dan biaya kawwat apabila dibandingkan akan menjadi nol atau tidak ada
kerugian ataupun keuntungan bank yang bisa diperoleh dari pengirim uang tersebut.

            Seorang nasabah hendak mengirim uang dalam valuta DEM 200.000 kepada
seorang rekannya di Jerman Barat. Nasabah tersebut merupakan Giro JPY pada bank
saudara. Oleh karena itu nasabah tersebut akan membayarnya dalam valuta JPY.
Ongkos kawat sebesar Rp 25.000. Komisi transfer keluar ditetapkan sebesar 0,15%
dari nilai transfer. Yang menjadi masalah bagi pihak bank adalah pemilihan kurs yang
mana yang paling menguntungkan ? Kurs yang harus dipergunakan oleh bank untuk
valuta DEM adalah kurs jual sedangkan untuk valuta adalah kurs beli, sebab bank
valuta yang tidak dimiliki oleh nasabah (JPY) dan menjual valuta yang tidak dimiliki
oleh nasabah (JPY) yang menjual valuta yang tidak dimiliki nasabah (DEM). Katakan
saja kurs jual DEM1=Rp.929, dan kurs beli JPY 100=Rp. 1.166,-

            Perhitungan yang harus dibuat oleh bank untuk transaksi ini adalah sebagai
berikut :

            Nilai transfer (T.T.)                               DEM 200.000

            Komisi 0,15% x DEM 200.000 =                        DEM        300

            Jumlah valuta DEM                                   DEM 200.300

            Kurs Konversi DEM 1=(Rp929x100):1.166,-             JPY       79,69

            Ekuivalen JPY                                       JPY 15.957.901

            Bila pengiriman uang dalam valuta DEM tersebut hendak dibayarkan oleh
nasabah dalam valuta Rp, maka pihak bank harus cermat memperhitungkan penerapan
kurs yang harus dibebankan oleh nasabah. Hal ini dikarenakan dengan menerima
valuta Rp, pihak bank akan kehilangan kesempatan untuk menikmati kesempatan yang
hilang (opportunity cost) ini maka pihak bank akan memperhitungkannya dengan kurs
jual dan beli yang akan diperhitungkan dengan nasabah, seperti tampak sebagai
berikut :
        Dengan mempergunakan contoh diatas transfer sebesar DEM 200.000.
Pembayaran dilakukan dalam valuta Rp. Komisi sebesar 0,15%. Katakan saja kurs jual
DEM 1 terhadap USD sebesar 0,565972 sedangkan kurs jual USD 1 sebesar Rp 1.640.

        Dengan demikian perhitungan yang akan dilakukan oleh pihak bank akan
tampak sebagai berikut :

        Jumlah transfer (T.T.)                                  DEM 200.000

        Komisi 0,15%                                            DEM         300

        Jumlah valuta DEM                                       DEM 200.300

        Kurs konversi DEM 1=

        (0,565972 x Rp 1.640+Rp0,50) x 200.300 =                Rp 185.973.956,30

        Ongkos T.T.                                             Rp       25.000,00

        Jumlah yang harus dibayar                               Rp 185.998.956,30

        Perhatikan kurs yang diterapkan dalam pembayaran dalam valuta Rp
ditambahkan dengan Rp 0,50 (baca setengah point). Hal ini dilakukan untuk menutupi
‘opportunity cost’ dalam selisih kurs, bila pembayaran diterima dalam valuta asing.

        Apabila pembayaran dilakukan dengan valuta asing yang berbeda atau sama,
kurs jual DEM tidak akan ditambah dengan setengah point disebabkan dengan
diterimanya sejumlah valuta asing yang diterima itu dan juga bila valas tersebut
disalurkan dalam bentuk bunga. Lagipula satu hal yang harus diingat, bahwa dalam hal
ini pihak bank sudah ‘bebas’dari kewajiban pembayaran bunga atas giro nasabah
tersebut karena pendebitan rekeningnya sejumlah yang harus ditransfer tersebut.

        Adapun pembukuan transfer keluar dengan T.T akan bervariasi, bergantung
kepada setoran yang dilakukan oleh pengamanat (si pemberi perintah untuk transfer).
Sebagai contoh diberikan di bawah ini :

Contoh :
        Seorang hendak mengirim uang ke Belanda sebesar NLG 400.000 dengan
T.T. Ongkos T.T. Rp 45.000. Komisi 0,125%. Kurs lihat tabel. Pembayaran dilakukan
dengan tunai/giro Rp.

        Jumlah transfer (T.T)                               NLG    400.000

        Komisi 0,125%                                       NLG         500

                                                            NLG    400.500

        Kurs jual TT NLG 1=0,370781(Rp1.654+0,50)=          Rp.         613,46

        Nilai NLG 400.500=400.500 x Rp 613,46               Rp 245.690.730

        Ongkos T.T                                          Rp.        45.000

        Jumlah yang harus disetor                           Rp 245.735.730

        Jumlah yang harus dibuat :

        Di kantor Cabang :

           KAS/GIRO RP                               Rp. 245.735.730

                   Ongkos T.T                               Rp         45.000

                   RPV RP                                   Rp. 245.690.730

           RPV VALAS                                 NLG 400.500

                   Komisi transfer                          NLG           500

                   RAK – KP                                 NLG     400.500

        Di Kantor Pusat :

           RAK – Cabang                              NLG 400.000

                   Koresponden                              NLG 400.000
        Pendapatan komisi transfer harus disajikan dalam valuta asal transfer untuk
melihat seberapa besar keuntungan yang bisa ditimbulkan dari masing – masing
valuta. Juga beruna sebagai asas penentuan prioritas penyelenggaraan operasional
valuta asing. Variasi lain dapat dilakukan dengan penyetoran valuta – valuta berbeda
seperti di bawh ini.

Contoh :

        Seorang hendak mengirim uang ke HONGKONG sebesar HKD 400.000.
Pembayaran dilakukan atas beban giro CAD. Transfer secara T.T sebesar Rp 40.000.
Komisi sebesar 0,125%.

        Jumlah transfer                                       HKD 400.000

        Komisi 0,125%                                         HKD       500

                                                              HKD 400.500

        Kurs konversi HKD 1 = (0,128595xRp1.654) : Rp 1.164,77 = CAD 0,18261

        Atau :

        Kurs jual HKD 1= Rp. 212,70

        Kurs beli CAD 1= Rp. 800,07

        HKD 1= (212,70:1.164,77) = CAD 0,18261

        Jual HKD 400.500 = 400.500 x CAD 0,18261 = CAD 73.135,31

Jurnal di Cabang

    Giro valas                                 CAD 73.135,31

            RPV valas                                         CAD 73.135,31

        RPV valas                              HKD 400.500

            Komisi transfer                                   HKD       500
                RAK – KP                                          HKD 400.000

            Kas Rp                                 Rp    40.000

                Ongkos T.T                                        Rp     40.000

     Jurnal di Kantor Pusat :

            RAK – Cabang                           Rp 400.000

                Koresponden                                       Rp    400.000

            Apabila pembayaran valuta di atas dilakukan dengan valuta yang sama (valuta
     HKD), maka pembukuan akan jauh lebih sederhana sebagai berikut :

     Jurnal di Kantor Cabang :

            Giro valas                             HKD 400.500

                Komisi transfer                                   HKD        500

                RAK – KP                                          HKD 400.500

            Kas Rp                                 Rp    40.000

                Ongkos T.T                                        Rp    40.000

     Jurnal di Kantor Pusat :

            RAK – KP                               HKD 400.000

                Koresponden                                       HKD 400.000

            Terlihat di atas bahwa transfer secara T.T akan selalu dibebankan dengan
     ongkos T.T, sebab bank harus membayar T.T kepada jasa telekomunikasi.

3.   Mail Transfer (M.T)

            Selain p0engiriman uang dengan telegraphic transfer (T.T) ada cara lain
     pengiriman uang yang lebih murah bebannya bagi nasabah. Cara tersebut adalah
pengiriman uang secara tertulis atau dengan media pos (udara) dengan pengaruh
tenggang waktu pengiriman uang lebih lama dibandingkan dengan pengiriman uang
dengan telegraphic transfer. Maksud beban yang ringan bagi nasabah adalah dalam
komisi transfer. Komisi pengiriman uang secara tertulis ini memang lebih kecil
dibandingkan dengan pengiriman uang dengan telegraphic transfer, hal ini didasarkan
karena pengiriman uang secara tertulis ada tenggang waktu beberapa hari mulai dari
penerimaan setoran uang pihak nasabah transfer sampai pengkreditan rekening bank di
koresponden. Sehingga pihak bank dapat menikmati keuntungan mulai dari
penerimaan uang yang tidak berbunga atas pembayaran transfer tersebut yang apabila
disalurkan dalam bentuk pinjaman jangka pendek atau panjang akan menciptakan
pendapatan bunga bagi bank serta apabila pembayaran diterima dalam valuta asing
dapat dinikmati keuntungan yang diperoleh dari selisih kurs. Selain itu rekening kantor
pusat di koresponden belum diterima, sehingga bank masih bisa menikmati
keuntungan bunga dan selisih kurs dalam beberapa hari menjelang pengkreditan
rekeningnya di koresponden.

        Berikut ini contoh pengiriman uang yang dilakukan secara tertulis.

        Seorang hendak mengirim uang ke Belgia sebesar DKR 400.000. nasabah
tersebut adalah nasabah giro valas BFC. Komisi ditentukan sebesar 00,75% dari nilai
transfer. Kurs konversi jual DKR 1 = Rp. 246,61 dan kurs beli BFC = RP 42,37.

        Perhitungan yang dilakukan oleh bank sebagai berikut :

        Nilai transfer (M.T)                              DKR 400.000

        Komisi 0,075% x BFC 400.000 =                     DKR        300

        Nilai BFC                                         DKR 400.300

        Kurs konversi DKR1=(Rp246,61:Rp41,37)             BFC      5,9611

        Jumlah yang harus diterima dalam L/T              BFC2.386.228,33

        Dari uraian di atas jelas terlihat tidak ada ruang yang diterima dari ongkos
telegraphic transfer, karena pengiriman uang ini dilakukan secara tertulis. Juga kur jual
DKR tidak perlu ditambahkan dengan setengan point karena bank sudah bisa
menikmati keuntungan dalam selisih kurs valuta asing BFC yang diterimanya dan juga
keuntungan bunga dari penyaluran valuta BFC tersebut atau setidak – tidaknya bebas
membayar bunga kepada nasabah giro BFC. Selain itu alas an yang memperkuat tidak
ditambahkannya kurs jual DKR dengan jumlah setengah point, yang mana dapat
menciptakan keuntungan yang lebih besar melalui penyaluran dana yang lebih lama.

         Lain halnya bila pembayaran nasabah dilakukan dalam valuta Rp, maka dalam
hal ini pihak bank dapat menambahkan setengah point terhadap kurs jual DKR
sebagaimana contoh perhitungan yang telah kami berikan pada perhitungan
telegraphic transfer diatas.

         Adapun contoh pembukuan mail transfer dibawah ini.

Contoh :

Jurnal transfer BFC 200.000 (MT). Komisi 0,0625%. Pembayaran dengan tunai/Giro
Rp.

Jumlah transfer (M.T)                                 BFC 200.000

Komisi 0,625%                                         BFC      125

                                                      BFC 200.125

Kurs jual MT BFC1=0,020452x(Rp.1.653,50+0,50=Rp. 33,83

Nilai BFC 200.125 = 200.125 x Rp 33.83 = rp. 6.770.228,75

Jurnal di Kantor Cabang :

      Kas/Giro Rp                       Rp 6.770.228,75

            RPV                                               Rp 6.770.228,75

      RPV valas                         BFC 200.125

            Komisi transfer                           BFC      125
           RAK – KP                                     BFC 200.000

Jurnal di Kantor Pusat :

    RAK – Cabang                         BFC 200.000

           Koresponden                                  BFC 200.000

           Terlihat di atas, bahwa dalam transfer dengan M.T tidak akan dipungut
biaya teleghraphic transfer serta komisi transfer lebih rendah dari pada teleghraphic
transfer. Variasi pembayaran dapat dilakukan dengan valuta – valuta lainnya.

								
To top