Pengertian dan Wilayah Kajian Ilmu Tauhid/Ilmu Kalam by T178r0a

VIEWS: 0 PAGES: 13

									Pengertian dan Wilayah Kajian
Ilmu Tauhid/Ilmu Kalam

          Pertemuan 1
Arti Tauhid
   Secara bahasa bentuk masdar dari kata ”wahada-
    yuwaidu-Tauhidan” berarti” mengesakan atau
    menunggalkan”.
   Muhammad          Abduh        mendefinisikan:
    mengi’tikadkan bahwa Allah adalah satu, tiada
    syarikat baginya.
   Abdul Aziz dalam bukunya “kebersihan Iman dan
    Tauhid” memberi definisi “I’tikad dalam hati
    dengan penuh keyakinan bahwa Allah itu satu”.
   Thaib Tahir Abdul Mu’in memaknai tauhid
    “mengetahui atau mengenal Tuhan Allah serta
    meyakini bahwa Allah itu tunggal tak ada
    sekutunya”
   Kesimpulan: Tauhid adalah keyakinan yang
    mendalam akan ke-esa-an Tuhan yang mutlak
    bagi zat-Nya, perbuatan dan ciptaan-Nya,serta
    tempat kembali semua makhluk dan penghabisan
    segala tujuan.
Memaknai Konsep Tauhid
    Menurut Nur Khalik Ridwan: Rumusan kesatuan
    respon ilahi atas manusia ada dalam gugusan
    tauhid pada hakekatnya adalah tindakan
    menciptakan      keadilan    dalam      sistem
    bermasyarakat. Bukan pengakuan formal dan
    percaya adanya Tuhan YME.
   Alasannya: a. Secara primordial manusia sudah
    bersyahadat semasa dalam kandungan (al-A’raf
    172), dan Tuhan telah memberikan potensi luhur
    dalam diri manusia untuk dapat mengenal-
    Nya(melalui penalaran akal)
   b. Tuhan Maha Besar tidak butuh pengakuan,
    manusialah yang membutuhkan-Nya, maka
    rumusan tentang Tuhan yang dilakukan manusia,
    hanya menjadikan Tuhan itu makin “kurang” atau
    tidak lengkap.
   c. Tuhan itu sebagai entitas independen, tidak
    terkena distorsi atas perumusan yang berbeda-
    beda yang dilakukan manusia.
   Jadi fungsi perentah Tuhan untuk mengesakan-
    Nya adalah untuk menciptakan keadilan dan
    melawan penindasan (Thoghut)
   Karena respon Ilahi itu untuk manusia, maka
    yang diperlukan dalam kerangka “Tahuhid” itu
    adalah mengabdi kepada Tuhan dalam pengertian
    berbuat baik, berbuat keadilan, kesetaraan dan
    keseimbangan untuk menghilangkan bentuk-
    bentuk penuhanan (kekuasaan) yang digunakan
    untuk menciptakan mekanisme penindasan.
   Banyak ayat “pengesaan terhadap Tuhan” diikuti
    untuk melawan “penindasan”, atau semacam
    Thoghut (Az-zumar ayat 17, An-nahl ayat 36)
Tauhid sebagai suatu Ilmu
   Syeh Muhammad Abduh mendefinisikan: Ilmu
    yang membahas wujud Allah,sifat-sifat yang
    wajib/tetap pada-Nya, dan sifat-sifat yang
    mustahil disandarkan pada-Nya, juga tentang
    rasul-rasul dan kerasulannya.
   Syeh Husain Affandi Al-Jisr: Ilmu tauhid adalah
    suatu ilmu yang membicarakan bagaimana
    menetapkan aqidah Islam dengan bukti yang
    yakin (dalil naqli dan aqli).
   Imu Tauhid memiliki sebutan yang banyak antara lain: Al-fiqh al-din,
    Ilmu Aqa’id, Ilmu Kalam, Ilmu Ushuluddin dan Teologi Islam.
   Disebut al-fiqh al-din untuk membedakan(lebih utama) dengan al-fiqh
    al-ilmu (ilmu hukum).
   Disebut      ilmu     aqaid    kerena     membicarakan      masalah
    kepercayaan(aqidah agama).
   Disebut ilmu kalam karena waktu itu yang menjadi perdebatan besar
    ummat masala kalam Allah apakah kadim atau huduts.
   Disebut ilmu Ushuluddin karena yang dibahas adalah menyangkut
    pokok dan fondasi agama.
   Disebut teologi Islam karena yang digagas didalamnya menyangkut
    eksistensi Tuhan dan aktualisasinya dalam kehidupan manusia.
Dasar pembahasan
   Dasar pembahasan ilmu ini adalah dalil akal fikiran
    sebagai pengendali kebenaran, setelah ditetapkan
    kebenarannya baru dicarikan penguatnya pada dalil naqli.
   Ibnu Khaldun menyatakan: ilmu ini berisi alasan-alasan
    mempertahankan       kepercayaan      iman      dengan
    menggunakan dalil akal dan berisi bantahan-bantahan
    terhadap orang-orang yang menyelewengkan dari
    kepercayaan aliran salaf dan ahli sunnah (pada waktu
    berkembang pemikiran filosofis yang dianggap jauh
    menyimpang dari paham salaf).
Dalil Aqli
   Dalil aqli adalah pengetahuan yang didapat dari
    keputusan akal yang sehat berdasar ilmu
    pengetahuan, sebagai simpulan satu atau lebih
    dari suatu peristiwa nyata. Oleh karena itu
    merupakan alat untuk memperkuat bukti adanya
    Allah.
   Dalam ilmu Tauhid didapat hukum akal yang tiga
    yang berlaku bagi semua yang ada: wajib wujud,
    mustahil wujud dan mumkin wujud.
   Wajib wujud menurut akal, sesuatu yang pasti adanya atau sesuatu
    yang tidak menerima akan ketiadaannya, misal adanya penciptaan
    alam, dan satu merupakan setengah dari dua.
   Mustahil wujudnya, suatu yang tidak menerima kepastiannyaatau
    sama sekali tidak ada. Misalnya, adanya sekutu bagi penciptaan alam,
    dan tiga merupakan separuh dari sepuluh.
   Mumkin wujudnya, sesuatu yang dapat menerima adanya dan
    tiadanya (bisa ada dan bisa tidak ada), misalnya, kematian seseorang,
    dan berubahnya batu menjadi emas atas kuasa Allah. Yang pertama
    jaiz aqli yang pasti (’ady) tak perlu pembuktian, yang kedua jaiz aqli
    yang tidak nyata(ghairu ‘ady) dibutuhkan pembuktian dan dianggap
    aneh bagi manusia.
   Ciri-cirinya: yang mungkin tidak akan terjadi tanpa sebab, yang
    mungkin merupakan barang baru, yang mungkin itu diadakan.
Faktor-Faktor yang mempengaruhi
pertumbuhannya
   Pertikaian politik, meluasnya wilayah kekuasaan islam,
    transformasi sosial dan budaya dan dapat dikelompokkan
    menjadi dua yaitu faktor dari dalam sendiri meliputi:
    penguatan aqidah berdasar dalil akal, timbulnya pertikaian
    politik terkait dengan khilafah dan faktor dari luar
    masyarakat muslim meliputi: Persinggungan dengan
    ajaran non islam terkait banyaknya perpindahan agama,
    gencarnya serangan orang yang memusuhi kebesaran
    islam, dan berkembangnya pemikiran filsafat.
Obyek Kajian ilmu Kalam
   Obyek atau bidang garapan ilmu ini adalah
    memantapkan kepercayaan agama dengan jalan
    akal pikiran disamping kemantapan hati orang
    yang percaya dan pembelaannya dengan
    menghilangkan berbagai keraguan yang sengaja
    dimasukkan oleh lawan-lawan dari kepercayaan
    terdebut.
   Sedang obyek formanya adalah terletak pada
    pokok-pokok kajian teologi itu sendiri yang
    menjadi kesatuan yang bulat dan tak terpisahkan.

								
To top