Docstoc

Makalah Filsafat Ilmu

Document Sample
Makalah Filsafat Ilmu Powered By Docstoc
					                     LOGIKA ILMU
                         DAN
       METODE BERPIKIR LLMIAH

SEBAGAI TUGAS PADA MATA KULIAH FILSAFAT ILMU

     DOSEN PEMBIMBING : Drs. Badru Syarikan




                      Disusun oleh :

                     KELOMPOK VII

     Eko Rohadi SB               1110103080014

     Wahyudi Ramadhan            111010308001




             UNIVERSITAS KARIMUN
       FAKULTAS TEKNIK INFORMATIKA
              KABUPATEN KARIMUN
                          2012
                                                 1
                              KATA PENGANTAR




    Puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan Rahmat, Taufiq
serta Hidayah -Nya kepada kita semua, dan atas petunjuknya sehingga kami dapat
menyelesaikan Makalah Mata Kuliah Filsafat Ilmu “Logika Ilmu dan Metode Berfikir
Ilmiah” dengan lancar

      Tidak lupa kami ucapkan terima kasih yang sebesar besarnya kepada yang
terhormat Dosen Pembimbing, Bapak Drs. Badru S yarikan, selaku penanggung
jawab Mata Kuliah Filsafat Ilmu

      Penulis menyadari sepenu hnya bahwa makalah ini tidak luput dari
kesalahan oleh karena keterbatasan dan pengetahuan yang ada, kami berharap
dengan segala kerendahan hati atas saran dan kritik konstruktif semua pihak.

      Akhirnya harapan kami semoga Makalah       ini dapat menambah wawasa n
bagi pembaca khususnya penyusun sendiri




                                                   Karimun, 26 April 2012




                                                         Penyusun




                                                                               2
Logika llmu dan Metode Berpikir llmiah
A. PENDAHULUAN
Latar Belakang
Kita ketahui bersama, bahwa di era post-modern saat ini telah begitu banyak ditemukan
penemuan-penemuan baru dalam ilmu pengetahuan. Penemuan-penemuan tersebut dapat kita
rasakan hampir dalam segala bidang dan lingkungan di mana kita berada. Misalnya, keberadaan
ilmu tekhnologi yang semakin hari semakin canggih.

Hasil penemuan baru tersebut tentunya melalui sejumlah proses yang memakan waktu cukup
relatif panjang. Hal ini (semakin pesatnya penemuan-penemuan baru) merupakan suatu yang
tidak dapat terelakkan lagi, karena ia merupakan tuntutan dari keberadaan manusia itu sendiri,
yakni keberadaan kebutuhan dan keinginan manusia yang semakin tinggi dan beragam.

Di dalam proses penemuan sains tersebut kita mengenal yang namanya metode ilmiah sebagai
jalan untuk meraih hasil yang sesuai “standar”• ke Ilmuan. Sains yang terus berkembang bisa
dikatakan merupakan impac dari adanya revolusi industri yang terjadi di Eropa. Revolusi industri
membawa perubahan besar dalam berbagai aspek. Corak-corak metodologis yang dikembangkan
menyebabkan ilmu pengetahuan bersifat posivistik, deterministik, evolusionistik, sehingga
segala sesuatu harus dijelaskan dengan metode kuantitatif dan eksperimental melalui observer.

Dewasa ini, ada kecendrungan-kalau tidak mau dikatakan sepenuhnya- para pemikir atau ilmuan
berpersepsi bahwa metode ilmiah merupakan satu-satunya metode yang diterapkan dalam
mendapatkan pengetahuan yang disebut ilmu. Bahkan, ia juga dijadikan landasan atau sebagai
asas dalam berpikir. Lebih dari itu, terjadi pensakralan terhadapnya.

Rumusan Masalah

Makalah ini bermaksud ingin mengkaji ulang apakah metode ilmiah layak untuk dijadikan
sebagai basis (asas) dalam aktivitas berpikir atau tidak? Serta sejauh mana sebenarnya cakupan
dari metode Ilmiah dapat dijadikan sebagai alat untuk mencapai ilmu pengetahuan? Dan metode
berpikir apa yang layak dijadikan sebagai basis dan landasan dalam berpikir?




                                                                                                3
B. PEMBAHASAN

1. Hakekat Berpikir

Dalam keseharian kita, ketika beraktivitas dalam lingkungan masing-masing, bisa dipastikan
bahwa aktivitas tersebut tidak bisa lepas dari yang namanya berpikir. Hanya saja memang,
tingkat daya pikir tersebut masing-masing berbeda pada setiap orang.

Berpikir bisa dikatakan merupakan suatu aktivitas yang sangat penting. Karena tanpanya,
manusia akan berada dalam suasana yang gelap dan hampa. Manusia tidak akan mampu
mengenal lingkungan tempat dia tinggal, siapa pencipta alam jagad raya ini, bahkan ia pun tidak
akan mampu mengenal dirinya dan hakikat keberadaannya di dunia tanpa melalui sebuah
aktivitas berpikir.

Berpikir juga bisa dikatakan suatu hal yang alamiah ( fitrah atau natural ) bagi setiap manusia -
yang sehat atau tidak gila- dikarenakan adanya “unsur-unsur”• ciptaan yang telah diciptakan
oleh Allah Swt.

Dalam proses berpikir, sejatinya melibatkan unsur-unsur tertentu, yakni:

        a. Otak yang sehat

        b. Panca indra

        c. Informasi sebelumnya

        d. Adanya fakta

Dari empat unsur di atas dapat kita rangkai sebuah definisi sebagai berikut: “Pemindahan
penginderaan terhadap fakta melalui panca indera ke dalam otak yang disertai adanya informasi-
informasi terdahulu yang akan digunakan untuk menafsirkan fakta tersebut”•. Definisi ini
sekaligus juga merupakan definisi bagi akal, pemikiran, proses berpikir.




                                                                                               4
2. HAKIKAT BERFIKIR ILMIAH

Sebagai makhluk hidup yang paling mulia, manusia dikaruniai kemampuan untuk mengetahui
diri dan alam sekitarnya. Melalui pengetahuan, manusia dapat mengatasi kendala dan kebutuhan
demi kelangsungan hidupnya. Karenanya tidak salah jika Tuhan menyatakan manusialah yang
memiliki peran sebagai wakil Tuhan di bumi, melalui penciptaan kebudayaan.

Proses penciptaaan kebudayaan dan pengetahuan yang didapatkan oleh manusia di mulai dari
sebuah proses yang paling dasar, yakni kemampuan manusia untuk berfikir. Meskipun
sebenarnya hewan memiliki kemampuan yang sama dengan manusia dalam hal berfikir, tetapi
makhluk yang terakhir hanya dapat berfikir dengan kemampuan terbatas pada instink dan demi
kelangsungan hidupnya. Berbeda dengan hewan, manusia dapat kesadaran manusia dalam proses
berfikir melampaui diri dan kelangsungan hidupnya, bahkan hingga menghadirkan kebudayaan
dan peradaban yang menakjubkan. Sesuatu yang nyata-nyata tidak dapat dilakukan oleh makhluk
Tuhan yang lain.

Dalam membahas pengetahuan ilmiah, kegiatan berfikir belum dapat dimasukkan sebagai bagian
dari kegiatan ilmiah, kecuali ia memenuhi beberapa persyaratan tertentu yang disebut sebagai
pola fikir. Berfikir dengan mendasarkan pada kerangka fikir tertentu inilah yang disebut sebagai
penalaran atau kegiatan berfikir ilmiah. Dengan demikian tidak semua kegiatan berfikir dapat
dikategorikan sebagai kegiatan berfikir ilmiah, dan begitu pula kegiatan penalaran atau suatu
berfikir ilmiah tidak sama dengan berfikir.

Ketika anak batitanya mengambil sebuah pisau, seorang ibu langsung berusaha untuk mengambil
sebilah pisau dari si anak, karena sang Ibu berfikir pisau dapat membahayakan si anak. Kegiatan
berfikir sang ibu belum dapat dikategorikan sebagai kegiatan ilmiah karena ibu hanya mengira-
ngira atau mempergunakan perasaan dalam kegiatan berfikirnya. Berbeda dengan seorang
mahasiswa psikologi yang dengan sengaja memberikan sebilah pisau kepada anak batita dalam
rangka untuk mengetahui bagaimana sistem reflek si batita dalam mempergunakan pisau.
Mahasiswa memiliki alasan yang jelas yakni ingin mendapatkan pengetahuan tentang
kemampuan seorang anak kecil, sehingga memungkinkan kegiatannya disebut berfikir ilmiah.
Lalu apa saja yang memungkinkan kegiatan mahasiswa psikologi disebut sebagai berfikir
ilmiah?

                                                                                              5
Pertama, perlu dipahami bahwa kegiatan penalaran adalah proses berfikir yang
membuahkan sebuah pengetahuan. Selain itu, melalui proses penalaran atau berfikir ilmiah
berusaha mendapatkan sebuah kebenaran. Untuk mendapatkan sebuah kebenaran, kegiatan
penalaran harus memehuni dua persyaratan penting, yakni logis dan analitis.

Syarat pertama adalah logis, dengan kata lain kegiatan berfikir ilmiah harus mengikuti suatu
aturan atau memenuhi pola pikir (logika) tertentu. Kegiatan penalaran yang digunakan si
mahasiswa disebut logis karena ia memehuni suatu pola fikir induktifis atau pola fikir dengan
menggunakan observasi individual untuk mendapatkan pengetahuan yang lebih general, dengan
cara mengamati refleks si batita ketika diberikan sebilah pisau. Syarat kedua bagi kegiatan
penalaran adalah analitis, atau melibatkan suatu analisa dengan menggunakan pola fikir
(logika) tersebut di atas. Ini berarti, jika si mahasiswa psikologi hanya melihat si anak saat
diberikan sebilah pisau tanpa melakukan analisa apa yang terjadi setelah itu dan tidak
menggunakan pola fikir induktifisme dalam analisanya, maka kegiatannya itu belum dapat
disebut sebagai sebuah penalaran atau kegiatan berfikir ilmiah.

Dari penjelasan dan contoh di atas, dapatlah diketahui bahwa dalam proses berfikir kita sehari-
hari, kita dapat membedakan berfikir ilmiah dari kegiatan yang lain, yaitu berfikir non-ilmiah.
Pada penjelasan lebih lanjut, para filosof atau para pemikir menyimpulkan bahwa kegiatan
berfikir ilmiah didapatkan melalui rasio dan indera (juga pengalaman) manusia sehari-hari.
Penjelasan terakhir ini akan dibahas pada bahasan tentang sumber pengetahuan.

Selain berfikir ilmiah, terdapat dua contoh lain dimana sebuah kegiatan berfikir tidak dapat
disebut sebagai penalaran. Keduanya adalah berfikir dengan intuisi dan berfikir
berdasarkan wahyu. Intuisi adalah kegiatan berfikir manusia, yang melibatkan pengalaman
langsung dalam mendapatkan suatu pengetahuan. Namun, intuisi tidak memiliki pola fikir
tertentu, sehingga ia tidak dapat dikategorikan sebagai kegiatan penalaran. Sebagai misal,
seorang Ayah merasa tidak tenang dengan kondisi anaknya yang sedang menuntut ilmu di luar
kota. Tetapi ketika ditanyakan apa sebab yang menjadi dasar ketidaktenangan dirinya, sang Ayah
tidak dapat menyebutkannya dan hanya beralasan bahwa perasaannya menyatakan ada yang
tidak beres dengan si anak yang ada di luar kota. Setelah menyusul ke tempat anaknya, ternyata
si anak sedang sakit parah. Meskipun proses berfikir sang Ayah mendapatkan kebenaran, tetapi

                                                                                             6
tidak bisa disebut berfikir ilmiah, karena tidak memenuhi suatu logika tertentu dan terlebih lagi
tidak terdapat proses analitis terdapat peristiwa ini.

Selain berfikir intuitif, pengetahuan melalui wahyu juga tidak bisa memenuhi kegiatan
penalaran. Alih-alih menggunakan pola fikir (logika) tertentu dan analisa terhadapnya, wahyu
justru mendasarkan kebenaran suatu pengetahuan bukan pada hasil aktif manusia. Dengan kata
lain, melalui wahyu, akal manusia bersifat pasif dan hanya menerima sebuah kebenaran yang
sudah ada (taken for granted) dengan keyakinannya.

Sampai pada poin ini, perbedaan berfikir ilmiah dari berfikir non-ilmiah memiliki perbedaan
dalam dua faktor mendasar, yakni:

   1. Sumber pengetahuan, berfikir ilmiah menyandarkan sumber pengetahuan pada rasio
       dan pengalaman manusia, sedangkan berfikir non-ilmiah (intuisi dan wahyu)
       mendasarkan sumber pengetahuan pada perasaan manusia.
   2. Ukuran kebenaran, berfikir ilmiah mendasarkan ukuran kebenarannya pada logis dan
       analitisnya suatu pengetahuan, sedangkan berfikir non-ilmiah (intuisi dan wahyu)
       mendasarkan kebenaran suatu pengetahuan pada keyakinan semata.

Uraian mengenai hakikat berfikir ilmiah atau kegiatan penalaran memperlihatkan bahwa pada
dasarnya, kegiatan berfikir adalah proses dasariah dari pengetahuan manusia. Darinya, kita
membedakan antara pengetahuan yang ilmiah dan pengetahuan non-ilmiah. Hanya saja,
pemahaman kita tentang berfikir ilmiah belum dapat disebut benar atau sahih sebelum kita
melakukan penyimpulan terhapat proses berfikir kita. Karena pengetahuan sesungguhnya terdiri
atas kesimpulan-kesimpulan dari proses berfikir kita. Dengan kata lain, suatu pengetahuan ilmiah
disebut sahih ketika kita melakukan penyimpulan dengan benar pula. Kegiatan penyimpulan
inilah yang disebut logika. Dengan demikian kita sudah mendapati hubungan antara syarat
berfikir ilmiah dengan kegiatan penyimpulan. Keduanya sama-sama memenuhi suatu pola pikir
tertentu yang kita sebut logika.




                                                                                               7
Dilihat dari kegiatan penyimpulannya, logika terbagi menjadi dua bentuk, yaitu logika induktif
dan logika deduktif.

a. Logika Induktif;

Kegiatan    penarikan    kesimpulan     melalui   logika    ini     dimulai    dari    kasus   yang
khusus/khas/individual        untuk        mendapatkan            kesimpulan          yang     lebih
umum/general/fundamental. Kita tahu bahwa gajah memiliki mata, kambing juga memiliki
mata, dan demikian pula lalat memiliki mata. Dengan demikian kita dapat menyimpulkan secara
induktif bahwa semua hewan memiliki mata.

Logika induktif memiliki berbagai guna bagi kegiatan berfikir ilmiah kita, antara lain:

   1. Bersifat ekonomis bagi kehidupan praksis manusia. Dengan logika induktif kita dapat
       melakukan generalisasi ketika kita mengetahui/menemui peristiwa yang sifatnya
       khas/khusus.
   2. Logika Induktif menjadi perantara bagi proses berfikir ilmiah selanjutnya. Ia merupakan
       fase pertama dari sebuah pengetahuan, yang selanjutnya dapat diteruskan untuk
       mengetahui generalisasi yang lebih fundamental lagi. Misalnya ketika kita mendapatkan
       kesimpulan “semua hewan memiliki mata” lalu kita masukkan manusia ke dalam
       kelompok ini, bisa saja kita menyimpulkan “makhluk hidup memiliki mata”

b. Logika Deduktif;

Logika Deduktif adalah kegiatan penarikan kesimpulan yang dimulai dari pernyataan yang
umum untuk mendapatkan kesimpulan yang lebih khusus. Pada umumnya, logika deduktif
didapatkan melalui metode Sillogisme yang dicetuskan oleh Filosof Klasik, Aristoteles.
Silogisme terdiri dari premis mayor yang mencakup pernyataan umum, premis minor yang
merupakan pernyataan tentang hal yang lebih khusus, dan kesimpulan yang menjadi penyimpul
dari kedua penyataan sebelumnya. Dengan demikian, kebenaran dalam silogisme atau logika
deduktif ini didapatkan dari kesesuaian antara kedua pernyataan (premis mayor dan minor)
dengan kesimpulannya.



                                                                                                  8
Sebagai misal dapat dijelaskan sebagai berikut:

   1. Premis Mayor Mahasiswa Psikologi menjadi anggota KMF Fishum

Premis Minor Ardi mahasiswa Psikologi

Kesimpulan Ardi menjadi anggota KMF Fishum

   1. Premis Mayor Beberapa mahasiswa Psikologi rajin masuk kuliah

Premis Minor Ardi mahasiswa Psikologi

Kesimpulan Ardi mahasiswa yang rajin masuk kuliah

Kebenaran dari dua contoh penarikan kesimpulan di atas teradapt pada kesesuaian antara kedua
premis dengan kesimpulannya. Pada contoh pertama, premis mayor memuat penyataan yang
lebih general, sedangkan premis minor memuat kasus individual. Kesimpulan yang diambil
adalah sahih karena kedua kasus (general menuju ke individual) di dapatkan dan pernyataan
bahwa Ardi adalah anggota KMF Fishum adalah tepat, menurut pernyataan dan kesimpulan.
Berbeda dengan silogisme kedua dimana premis mayor belum dapat disebut memuat suatu
karakter pernyataan yang general. Akibatnya, premis minor meskipun memiliki kandungan kasus
yang khusus tetapi kesimpulan yang diambil belum dapat disebut sahih menurut kesimpulannya
dan juga pernyataannya. Meskipun Ardi adalah mahasiswa Psikologi, tetapi Ardi belum tentu
termasuk mahasiswa yang rajin masuk kuliah. Apalagi disebutkan dalam premis mayor bahwa
tidak semua mahasiswa Psikologi rajin masuk kuliah.




                                                                                          9
Penarikan kesimpulan melalui logika Deduktif berguna dalam kegiatan ilmiah, antara lain:

   1. Melalui    logika   deduktif   didapatkan    konsistensi   suatu   pernyataan.   Ketepatan
       menempatkan premis mayor dan minor berguna untuk mendapatkan kesimpulan yang
       bersesuaian dengan kedua premis tersebut. Manfaat ini tidak hanya dapat digunakan
       dalam kegiatan ilmiah kita, tetapi juga bermanfaat bagi kehidupan praksis sehari-hari
       kita.
   2. Silogisme, atau penarikan kesimpulan dengan deduksi berguna untuk mendukung
       pernyataan fundamental/general. Melalui silogisme kita mendapatkan berbagai varian
       kesimpulan yang mendukung penyataan fundamental tanpa harus melakukan pengamatan
       secara langsung. Sebagai contoh, kita tidak perlu meneliti langsung ke Planet Yupiter
       untuk mengetahui hukum revolusi dan rotasi sebuah planet, tetapi dicukupkan dengan
       mengambil kesimpulan secara deduktif dari penyataan bahwa semua planet mengalami
       perputaran terhadap matahari ataupun pada dirinya sendiri.

Demikianlah pembahasan tentang hakikat berfikir ilmiah yang menjadi dasar pemahaman dan
praksis dalam melaksanakan kegiatan ilmiah kita.




                                                                                             10
3. Metode Berpikir Rasional dan Metode Berpikir Ilmiah

3.1 Definisi Dari Metode

Dalam kamus besar bahasa Indonesia di sebutkan, bahwa metode adalah cara yang teratur dan
terpikir baik-baik untuk mencapai maksud (dalam ilmu pengetahuan, dsb) atau cara kerja yang
bersistem untuk memudahkan pelaksanaan suatu kegiatan guna mencapai tujuan yang
ditentukan.

Peter R. Senn mengatakan, metode merupakan suatu prosedur atau cara mengetahui sesuatu yang
mempunyai langkah-langkah sistematis. Dan metodologi merupakan suatu pengkajian dalam
mempelajari peraturan-peraturan dalam metode tersebut.

Dari dua macam pendapat di atas dapat kita padukan menjadi; metode adalah suatu cara yang
sistematis untuk mencapai dan mengetahui maksud atau tujuan yang telah ditentukan yang
dengannya tujuan tersebut dapat dicapai dengan mudah.



3.2 Metode Berpikir Ilmiah

Istilah dari Metode berpikir ilmiah ini sebenarnya dipinjam dari tulisannya Taqiyuddin an-
Nabhani dalam bukunya at-Tafkir. Ia menyebut metode ilmiah dengan metode berpikir ilmiah.

Penelitian sebagai suatu rangkaian aktivitas mengandung prosedur tertentu, yakni serangkaian
cara dan langkah tertib yang mewujudkan pola tetap. Rangkaian cara dan langkah ini dalam
dunia ke ilmuan disebut metode. Dan untuk menegaskan bidang ke ilmuan itu seringkali dipakai
istilah metode ilmiah (scientific method).

Dictionary of Behavioral Science memberikan definisi metode ilmiah dengan “Tekhnik-tekhnik
dan prosedur-prosedur pengamatan dan percobaan yang menyelidiki alam yang dipergunakan
oleh ilmuawan-ilmuwan untuk mengolah fakta-fakta, data, dan penafsirannya sesuai dengan
asas-asas dan aturan-aturan tertentu.

Arturo Rosenblueth mengatakan “Metode ilmiah adalah suatu prosedur dan ukuran yang dipakai
oleh ilmuwan-ilmuwan dalam penyusunan dan pengembangan cabang pengetahuan khusus
mereka”•.


                                                                                            11
Selanjutnya, James B. Conant memberikan rumusan metode ilmiah menjadi delapan langkah,
yakni sebagai berikut:

 a. Kenali bahwa suatu situasi yang tak menentu ada. Ini merupakan suatu situasi
     bertentangannatau kabur yang mengharuskan penyelidikan.

 b. Nyatakan masalah itu dalam istilah spesifik

 c. Rumuskan suatu hipotesis kerja

 d. Rancang suatu metode penyelidikan yang terkendalikan dengan jalan pengamatan atau
     dengan jalan percobaan ataupun kedua-duanya.

 e. Kumpulkan dan catat bahan pembuktian atau data “˜kasar’.

 f. Alihkan data kasar ini menjadi suatu pernyataan yang mempunyai makna dan kepentingan.

 g. Tibalah pada suatu penegasan yang tampak dapat dipertanggungjawabkan. Kalau penegasan
     itu betul, ramalan-ramalan dapat dibuat darinya.

 h. Satu padukan penegasan yang dapat dipertanggungjawabkan itu, kalau terbukti merupakan
     pengetahuan baru dalam ilmu, dengan kumpulan pengetahuan yang telah mapan.



3.2.1 Kelemahan-kelemahan dari Metode Berpikir Ilmiah

Kelemahan metode ilmiah dapat kita lihat dari segi cakupan atau jangkauan dari kajiannya,
asumsi yang melandasinya, dan kesimpulannya bersifat relatif. Dengan penjelasan sebagai
berikut:

  a. Metode ilmiah tidak dapat digunakan kecuali pada pengkajian objek-objek material yang
     dapat di indera. Metode ini khusus untuk ilmu-ilmu eksperimental. Ia dilakukan dengan
     cara memperlakukan materi (objek) dalam kondisi-kondisi dan faktor-faktor baru yang
     bukan kondisi dari faktor yang asli. Dan melakukan pengamatan terhadap materi tersebut
     serta berbagai kondisi dan faktornya yang ada, baik yang alami maupun yangtelah
     mengalami perlakuan. Dari proses terhadap materi ini, kemudian ditarik suatu kesimpulan
     berupa fakta materialyang dapat diindera.



                                                                                         12
  b. Metode ilmiah mengasumsikan adanya penghapusan seluruh informasi sebelumnya tentang
     objek yang akan dikaji, dan mengabaikan keberadaannya. Kemudian memulai pengamatan
     dan percobaan atas materi. Ini dikarenakan metode ini mengharuskan kita untuk
     menghapuskan diri dari setiap opini dan keyakinan si peneliti mengenai subjek kajian.
     Setelah melakukan pengamatan dan percobaan, maka selanjutnya adalah melakukan
     komparasi dan pemeriksaan yang teliti, dan akhirnya merumuskan kesimpulan bersarkan
     sejumlah premis-premis ilmiah.

  c. Kesimpulan yang didapat ini adalah bersifat spekulatif atau tidak pasti (dugaan).



Kelemahan-kelemahan yang ada pada metode ilmiah ini juga diungkapkan dalam literatur lain.
Dikatakan, bahwa “…Pertama-tama ilmu menyadari bahwa masalah yang dihadapinya adalah
masalah yang bersifat konkrit yang terdapat dalam dunia fisik yang nyata. Secara ontologi, ilmu
membatasi dirinya pada pengkajian yang berada pada ruang lingkup pengalaman manusia. Hal
inilah yang memisahkan antara ilmu dan agama…perbedaan antara lingkup permasalahan yang
dihadapinya juga menyebabkan berbedanya metode dalam memecahkan masalah tersebut”•.

Dikatakan pula, “…proses pengujian ini tidak sama dengan pengujian ilmiah yang berdasarkan
kepada tangkapan pancaindra, sebab pengujian kebenaran agama harus dilakukan oleh seluruh
aspek kemanusiaan kita seperti penalaran, perasaan, intuisi, imajinasi di samping pengalaman”•.
“Metode ilmiah tidak dapat diterapkan kepada pengetahuan yang tidak termasuk ke dalam
kelompok ilmu…demikian juga halnya dengan bidang sastra yang termasuk dalam humaniora
yang jelas tidak mempergunakan metode ilmiah dalam penyusunan tubuh pengetahuaannya”•.

Muhammad Abdurrahman dalam bukunya at-Tafkeer juga mengatakan hal senada dengan yang
telah disebutkan di atas. Ia mengatakan, bahwa metode ilmiah tidak bisa diterapkan pada ilmu
yang termasuk dalam humaniora, hal ini dikarenakan bidang-bidang yang termasuk ke dalam
humaniora tidak membahas perkara-perkara fisik yang dapat diukur dan diujicobakan. Meskipun
demikian, beberapa aspek pengetahuan tersebut dapat menerapkan metode ilmiah dalam
pengkajiaannya, misalnya saja aspek pengajaran bahasa sastra dan metematika. Dalam hal ini
masalah tersebut dapat dimasukkan ke dalam disiplin ilmu pendidikan yang mengkaji secara
ilmiah berbagai aspek proses belajar-mengajar.


                                                                                            13
3.3 Metode berpikir Rasional; Asas Dalam Berpikir

Metode rasional adalah metode tertentu dalam pengkajian yang ditempuh untuk mengetahui
realitas suatu yang dikaji, dengan jalan memindahkan penginderaan terhadap fakta melalui panca
indera ke dalam otak, disertai dengan adanya sejumlah informasi terdahulu yang akan digunakan
untuk menafsirkan fakta tersebut, selanjutnya, otak akan memberikan penilaian terhadap fakta
tersebut. Penilaian ini adalah pemikiran atau kesadaran rasional.

Tidak sebagaimana halnya metode ilmiah, metode rasional dapat diterapkan pada objek-objek
material yang dapat diindera, namun, juga dapat diterapkan pada objek non material atau yang
dikenal dengan namanya humaniora dan pemikiran-pemikiran. Metode berpikir rasional adalah
suatu proses berpikir tentang realitas atau masalah yang dihadapi sebagaimana adanya.

Metode rasional indentik dengan definisi dari akal itu sendiri. Dengan menggunakan metode ini,
manusia akan mencapai sebuah kesadaran tentang hal apa pun. Metode ini merupakan saatu-
satunya metode berpikir. Adapun metode ilmiah (scientific method) dan yang disebut dengan
metode logika (logical method) adalah merupakan cabang dari meode rasional atau merupakan
salah satu cara yang dituntut dalam pengkajian sesuatu.



3.3.1 Hal-Hal yang Harus Diperhatikan Dalam Penggunaan Metode Rasional

Dalam menggunakan metode berpikir rasional ada beberapa hal yang patut untuk kita perhatikan,
yakni:

   a. Dalam pendefinisian metode rasional harus membedakan antara opini (pendapat)
         terdahulu tentang sesuatu dengan informasi terdahulu tentang sesuatu atau tentang apa
         yang berkaitan dengan sesuatu itu. Yang ada pada metode rasional haruslah informasi
         terdahulu bukan opini terdahulu atau pendapat. Opini terdahulu tidak boleh masuk dalam
         aktivitas berpikir, apabila ini terjadi -yakni adanya informasi terdahulu dalam berpikir-
         maka akan mengakibatkan kekeliruan dalam memahami sesuatu.




                                                                                               14
b. Kesimpulan (konklusi) yang telah dihasilkan dari metode berpikir rasional harus dilihat
   terlebih dahulu berkenaan dengan penilaian terhadap objek yang menjadi penilaian. Jika
   kesimpulan tersebut adalah hasil dari penilaian atas keberadaan (ekisistensi) sesuatu, maka
   kesimpulannya adalah bersifat pasti (definite).

Adapun, jika kesimpulan terebut adalah hasil dari penilaian atas realitas (al-Haqiqah) dari
sesuatu, atau sifat (karakteristik) dari sesuatu, maka kesimpulan tersebut bersifat dugaan, yang
mengandung kemungkinan salah. Akan tetapi, kesimpulan yang ada tetap merupakan pemikiran
yang tepat hingga terbukti kesalahannya.



C. KESIMPULAN
Berdasarkan paparan di atas maka, dapat kita simpulkan bahwa metode berpikir ilmiah tidaklah
layak untuk dijadikan sebagai asas bagi metode berpikir. Hal ini disebabkan, ia hanya dapat
diterapkan pada objek-objek material yang dapat di indera, dan kesimpulan yang dihasilkan
darinya tidaklah bersifat pasti. Dengan kata lain, metode ilmiah hanya dapat diterapkan pada
ilmu yang sifatnya adalah eksperimental atau non-humaniora.

Metode berpikir ilmiah dianut dan dikembangkan oleh orang-orang Barat setelah mereka
menyadari pengaruhnya terhadap kemajuan ilmu pengetahuan dan tekhnologi. Namun kemudian,
penggunaan dari metode ini mengalami perluasan -diterapkan pada hal-hal yang tidak bisa
menggunakan metode ini-. Akibatnya, terjadi pencampuradukan antara science dan bidang
pengetahuan yang bukan termasuk science yang notabenenya tidak dapat menggunakan metode
yang sama.

Adapun metode berpikir yang layak untuk dijadikan sebagai asas dalam metode berpikir adalah
metode berpikir rasional. Metode berpikir inilah kiranya yang harus menjadi metode berpikir
setiap manusia terlebih-lebih bagi kaum Muslimin.




                                                                                             15
                                      Daftar Pustaka

1.    Abdurrahman, M. 2005. At-Tafkeer, Alih bahasa oleh Abu Faiz. Bogor: Pustaka Thariqul Izzah
2.    An-Nabhani, Taqiyuddin. 2003. At-Tafkir, alih bahasa oleh Taqiyuddin as-Siba’I. Bogor: Pustaka
      Thariqul Izzah
3.    Abdullah, Muhammad Husain. 2003. Mafahim Islamiyah; Menajamkan Pemahaman Islam.
      Bangil: Al-Izzah
4.    Athiyat, Ahmad. 2004. At-Thariq, alih bahasa oleh Dede Koswara. Bogor: Pustaka Thariqul Izzah
5.    Departemen Pendidikaan dan Kebudayaan. 1997. Kamus Besar Bahasa Indonesia, Jakarta: Balai
      Pustaka
6.    Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Universitas Terbuka. 1985. Materi Dasar Pendidikan
      Program Akta Mengajar V
7.    Gie, Liang. 2004. Pengantar Filsafat Ilmu, Yogyakarta: Liberty Yogyakarta
8.    Ismail, Muhammad Muhammad. 2004. Al-fikru al- Islamy, alih bahasa oleh A. Haidar. Bangil:
      Al- Izzah
9.    Unal, Ali. 1998. Islam Addresses Contemporary Issues. Turkey: Caglayan A.S
10.   Jujun S. Suariasumantri, Filsafat Ilmu, Sebuah Pengantar Populer.
11.   Chalmers, What is Called Science? (edisi terjemahan).




                                                                                                   16

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Stats:
views:340
posted:6/27/2012
language:
pages:16
Description: Makalah Filsafat Ilmu