goverment community relations by 5SxAc56H

VIEWS: 65 PAGES: 155

									      PERTEMUAN 1

GOVERNMENT RELATIONS
                        Referensi :
Rhenald Kasali, 2000, Manajemen Public Relations, Grafiti,
                   Jakarta. Hal. 115-126
 Zainal Abidin Partao,2006, Teknik Lobi & Diplomasi untuk
   insan Public Relations, Indeks. Jakarta. Hal. 11 – 65.
Membina hubungan baik dengan pemrintah menjadi
sangat penting dewasa ini karena pemerintah adalah
pengatur kehidupan bernegara dan bermasyarakat.
Selain itu, karena pluralitas masyarakat Indonesia, dunia
usaha memerlukan peran pemerintah selaku penengah
dalam menangani krisis.

Perusahaan perlu membina hubungan baik dengan
pemerintah untuk mengurangi ketidakpastian karena
salah membaca peraturan, untuk memepercepat segala
proses birokrasi untuk perijinan, untuk meningkatkan
pemahaman satu sama lain dan untuk memeperoleh
perlindungan pada saat perusahaan mengalami krisis.
Dalam kegiatan PR, pemerintah dianggap penting bukan
saja karena pemerintah adalah pengatur negara dan
pembuat keputusan penting, tetapi lebih dari itu.
Pemerintah terdiri atas orang-orang yang mempunyai
pengaruh yang sangat besar bagi masyarakat dan kegiatan
bisnis.
Adanya pejabat PR yang khusus berhubungan dengan
pihak-pihak pemerintahan untuk kepentingan perusahaan
bukanlah hal yang dilarang, pemerintah membutuhkan
kalangan perusahaan begitu juga sebaliknya dalam
menyukseskan beberapa program yang dibuat untuk
kepentingan masyarakat luas pada umumnya dan
perusahaan khususnya.
Tugas yang diemban oleh PR dalam kaitannya dengan
government relations adalah:
1. Meningkatkan komunikasi dengan pejabat pemerintah
   dan lembaga tinggi negara.
2. Memantau lembaga pembuat keputusan dan peraturan
   pada area yang mempengaruhi bidang usaha mereka.
3. Mendorong partisipasi para pemilih (rakyat) pada setiap
   lapisan masyarakat.
4. Mempengaruhi undang-undang yang berdampak pada
   ekonomi rakyat dan pelaksanaanya.
5. Meningkatkan kesadaran dan pemahaman para
   pembuat keputusan.
6. Mengurangi ketidakpastian karena tidak dapat membaca
   tanda-tanda peraturan.
7. Mempercepat keluarnya keputusan yang berkaitan
   dengan operasi perusahaan, seperti ijin eksploitasi hasil
   alam dan sebagainya.
8. Meningkatkan pemahaman satu sama lain.
9. Mendapatkan perlindungan dan pembelaan pada saat
   perusahaan menghadapi krisis.
Kepentingan pemerintah terhadap dunia usaha antara lain;
1. Dunia usaha adalah penggerak pembangunan yang
   memutar roda perekonomian. Dunia usaha diharapkan
   mampu menciptakan lapangan pekerjaan kepada orang
   banyak.
2. Dunia usaha dipungut pajak. Semakin besar
   perusahaan tentu akan semakin besar pula pajak yang
   dapat disetorkan kepada pemerintah.
3. Dunia usaha adalah mitra pemerintah untuk mengelola
   hasil bumi dan kekayaan negara.

   Kepentingan pemerintah yang besar pada dunia usaha
   sering dimanfaatkan oleh dunia usaha ketika
   menghadapi krisis. Misalnya, adanya masalah
   perburuhan, isu kesalahan produksi, dsb.
Arti Penting Hubungan dengan Pemerintah
Menurut H. Frazier Moore hubungan pemerintah perlu
mendapat perhatian karena:
Pertama, kebijakan pemerintah yang tidak tepat bisa
membuat perusahaan menghadapi perubahan biaya yang
tidak terduga, perpajakan yang tinggi dan sebagainya,
sehingga dapat mematikan gerak perusahaan.
Kedua, undang-undang/ peraturan pemerintah dapat
membuat banyak pembatasan bagi ruang gerak
perusahaan.
Dengan demikian government relations menduduki posisi
yang sangat penting dan vital karena perusahaan dapat
memberikan fakta / bujukan kepada pemerintah, parlemen
untuk melindungi bisnis perusahaan.
   Government relations, pada dasarnya dilakukan
   perusahaan bertujuan untuk:
1. Mengubah berbagai peraturan yang menyulitkan ruang
   gerak perusahaan.
2. Membatalkan rancangan regulasi yang sedang
   disiapkan oleh legislatif atau eksektif.

  Dengan demikian melakukan lobi adalah suatu
  keharusan,    yang diperhatikan dalam kegiatan
  government relations. Lewat lobi tidak berarti segala
  sesuatu bisa dibeli, karena itu meski lobi perlu dan
  ditujukan pada orang penting dalam pemerintahan maka
  lakukanlah dengan profesionalisme tinggi.
                  Melobi Pemerintah

Kegiatan hubungan dengan pemerintahan oleh pejabat PR
biasa dilakukan dengan cara melakukan lobi. Pe_lobi
muncul dari tuntutan perusahaan yang tidak dapat dipenuhi
oleh geverment relations-nya. Kadang karena tidak adanya
pelobi yang tangguh maka perusahaan menyewa PR
(konsultan PR) beserta timnya untuk melobi pemerintah.

Peran para pelobi di Indonesia belakangan cukup
menonjol. Para mantan pejabat pemerintah umumnya
dikenal sebagai anggota dwan komisaris suatu perusahaan
yang banyak memerlukan lobi dengan pemerintah.
Melobi diartikan “melakukan pendekatan secara tidak resmi”
Pelobian diartikan sebagai “bentuk partisipasi politik yang
    mencakup usaha individu atau kelompok untuk
    menghubungi para pejabat pemerintah atau pemimpin
    politik dengan tujuan mempengaruhi keputusan atau
    masalah yang dapat menguntungkan sejumlah orang”.
Menurut Tarsis Tarmudji, Lobi adalah “sebuah (bentuk)
    pressure group yang mempraktikan seni mendapatkan
    teman yang berguna dan mempengaruhi orang lain”.
A.B Susanto menyebutkan             melobi pada dasarnya
    merupakan       “usaha    yang     dilaksanakan    untuk
    mempengaruhi pihak-pihak yang menjadi sasaran agar
    terbentuk sudut pandangan positif terhadap topik lobi,
    dengan demikian diharapkan memberikan dampak
    positif bagi pencapaian tujuan”.
Selanjutnya menurut Tarsis Tarmudji dikemukakan pokok
pikiran yang menjelaskan tentang lobi sebagai berikut:
1. Kegiatan lobi melibatkan beberapa pihak yaitu pihak
    pelobi dan pihak yang dilobi.
2. Sasaran pelobi, orang atau pihak yang dilobi adalah para
    pembuat undang-undang, pejabat pemerintah, pimpinan
    politik dan sejumlah tokoh yang memiliki     pengaruh
    dan kekuasaan.
3. Kegiatan lobi dapat dilakukan individual atau berkelompok
    dengan sasaran lobi juga individual atau lembaga.
4. Kegiatan lobi juga dimaksudkan untuk memperoleh
    teman yang berguna bagi pelobi maupun organisasi
5. Pelobi melakukan kegiatan lobinya dengan tujuan untuk
    mempengaruhi mereka yang menjadi sasaran lobi.
6. Ada unsur pressure (tekanan) pada saat kegiatan lobi
    tengah berlangsung
7. Lobi adalah kegiatan yang bersifat informal.
Alasan untuk melakukan lobi oleh PR terhadap pemerintah
Menurut Frank Jefkins adalah:
1. Segala bentuk campurtangan pemerintah, seperti
   kebijakan ekonomi, peraturan perpajakan, dan
   sebagainya akan memebrikan dampak bisnis perusahan
2. Beberapa bisnis menjadi sukses karena mereka telaten
   mengadakan dialog dengan pemerintah
3. Suatu aspek penting dalam pemerintahan demokratis
   adalah pendiskusian berbagai rencana dan rancangan
   undang-undangnya dengan pihak-pihak terkait yang
   akan terkena dampaknya.
4. Dipihak parlemen juga ada kelompok lobi.
5. Penting untuk mendapatkan informasi dan bahkan
   mengadakan pertemuan serta mengenal para anggota
   parlemen, terutama yang berkepentingan pada bidang
   bisnis perusahaan dan memerlukan informasi tentang
   apa yang perusahaan kerjakan.
6. Anggota parlemen adalah pembentuk opini. Kalau anda
   tidak tahu mereka, maka jangan salahkan mereka jika
   mereka tidak tahu anda.
     PERTEMUAN 2

  MEMAHAMI BUDAYA
LEMBAGA PEMERINTAHAN
                       Referensi:
Zainal Abidin Partao,2006, Teknik Lobi & Diplomasi untuk
 insan Public Relations, Indeks. Jakarta. Hal 135 – 147.
Kerangka berpikir Pimpinan Pemerintahan
Dalam terminologi pemerintahan, peran pemerintah
terhadap BUNM ( Badan Usaha Milik Negara) ada tiga
yaitu;
1. Sebagai regulator
2. Sebagai operator
3. Sebagai owner.

Yang paling terkait dengan perusahaan adalah perannya
sebagai regulator. Ada dua point yang harus dipahami oleh
pejabat PR dalam kaitannya dalam melakukan Lobi
terhadap pemerintah adalah;
Pertama, setiap pemimpin dan adanya pergantian pemimpin
dalam instansi pemerintah akan berbeda dan mempengaruhi
dalam memimpin, dalam berkomunikasi termasuk dalam
menanamkan nilai-nilai pelayanan kepada anak buahnya
saat melayani stakeholder-nya.
Kedua, Fungsi regulator atau pembuat regulasi ini dapat
dimaknai sebagai amanah yang harus dilakukan dengan
baik untuk kesejahteraan masyarakat.
Perlu dipahami bahwa para pemegang jabatan pemerintah
tersebut memiliki kecenderungan mempunyai ego kuat
bahkan mungkin ada sedikit kesombongan. Perlu disadari
walaupun sering mengumandangkan transparansi atau
perlunya keberpihakan kepada dunia usaha dan masyarakat
luas nyatanya mengubah karakter dan kepribadian birokrat
tersebut tidak mudah. Dibutuhkan keahlian membangun
relationship yang kuat.
Kebiasaan-kebiasaan dan pemikiran yang biasa diperlihatkan
oleh para pemimpin yang duduk dipemerintahan adalah:
1. Merasa kepemimpinan pendek (jangka waktu terbatas);
   implikasinya 2 hal yaitu: Memanfaatkan prinsip aji mumpung
   atau kedudukan/jabatan sebagai suatu amanah.
2. Pola hitung untung rugi
3. Gaji mereka sebagai pejabat negara / pegawai negeri kecil
   dan terbatas, tatapi tanggung jawab pada konstituen harus
   mereka pegang.
4. Tanggungjawab pada pribadi dan keluarga, kesejahteraan
   mereka sebagai pejabat pemerintah yang notabene public
   figure tidak cukup jika hanya mereka peroleh dari gaji
   normal mereka.
Bahwa ada kecenderungan setiap pergantian jajaran
pimpinan di suatu instansi pemerintahan selalu menjelek-
jelekan pimpinan lama dan mengelu-elukan pimpinan baru.
Kemudian adanya pergantian pimpinan tertinggi maka
sebagian jajaran bawahanyapun diganti.

Tentang penggantian supplier atau distributor sebagai
pelobi setiap penggantian pimpinan ada peluang dan
ancaman. Jika kita belum masuk maka bisa jadi peluang
dan jika kita merupakan rekenan pimpinan yang lama
maka kita sudah harus melakukan ancang-ancang dan
mempersiapkan strategi pendekatan sehingga posisi kita
tidak sampai diganti.
Ketika terjadi konflik didalam organisasi/instansi akibat
pergantian yang ada maka seorang pelobi tidak boleh
bersifat memihak, harus netral. Demikian juga jiga terjadi
adanya ketidak puasan dan saling mendiskriditkan para
pelobi harus pula menyadari kondisi ini.

Antara Pengambil Keputusan dan Eksekutor
Bahwa pengambil keputusan dan eksekutor dalam
lembaga pemerintahan tidak sekaligus. Juga harus
dibedakan dengan peran supporting staff.
Ada pejabat yang menandatangani sebuah kebijakan, ada
eselon dibawahnya yang melaksanakan, dan ada pejabat
yang menyediakan equipment. Jika lobi kita ingin sukses
dan hasilnya sesuai dengan yang kita rencanakan, ketiga
jenjang tersebut harus kita perhatikan.
Harus pula dipahami terkadang kita sudah berhasil
menghubungi tokoh          untuk di lobi sudah berhasil
menetapkan waktu, tempat dan topik pembicaraan saat
lobi, maka kita tidak boleh berpikiran bahwa hasilnya akan
mudah diramal, bahwa dinamika organisasi bergerak
cepat, sulit diprediksi, maka hasil lobi kitapun yang sudah
disetujui bersama bisa saja tiba-tiba dibatalkan.

Perubahan atas apa yang sudah diputuskan bersama itu
bisa terkadi karena alasan sederhana. Dalam bisnis ada
stakeholder, dimana stakeholder terus bergerak, semua
memiliki motif, semua memiliki kepentingan. Pergeseran
yang satu bisa menggeser yang lain. Perubahan ini harus
diikuti, dimonitor dan dicermati.
Perlu menjadi perhatian pelobi bahwa para pimpinan yang
dilobi bukanlah orang yang ahli dalam bidangnya, mungkin
saja jabatannya sebagi jabatan politis, mereka juga bukan
orang yang memiliki cukup informasi soal bisnis anda. Bila
mereka mengambil keputusan yang salah tentang industri
anda itu bukanlah karena salah mereka . Karena itu
berikanlah informasi yang memadai dan cukup tentang
industri dan bisnis kita.
         PERTEMUAN 3
AKTIFITAS LOBI KE PEMERINTAH
                       Referensi :
Rhenald Kasali, 2000, Manajemen Public Relations, Grafiti,
                  Jakarta. Hal. 115-126
Di Indonesia, peran untuk melobi pemerintah masih sering
dilakukan oleh pemimpin puncak atau pemilik perusahaan.
Kebanyakan pelobi menjalin hubungan yang dekat dengan
para pejabat pemerintahan.

Meskipun demikian, pada beberapa perusahaan investasi
asing di Indonesia, ditemui bahwa peran tersebut dilakukan
oleh spesialis PR yang disebut government relations.
Tugas mereka dalah melobi pemerintah agar investasi
mereka aman disini, menembus izin-izin investasi,
perluasan impor, pemakaian tenaga kerja asing,
pengurusan pajak, dan sebagainya.
   Hal-hal Penting dalam Melobi

   Beberapa hal yang perlu diperhatikan bila melakukan
   lobi dengan pemerintah;
1. Setiap keputusan politik pasti menguntungkan bisnis
   tertentu dan akan merugikan bisnis yang lain.
2. Bisnis anda tidak bisa tidak terpengaruh keputusan
   politik. Karena itu harus dikenali bagaimana, kapan,
   dan mengapa keputusan politik diambil. Baik di
   negara sendiri atau dinegara lain yang berhubungan
   dengan bisnis anda.
3. Kekuatan lobi dalam mempengaruhi orientasi politik
   parpol pemerintah dan sebagainya juga dipengaruhi
   oleh sejauh mana pelobi memiliki network dengan
   tokoh-tokoh atau key person di negara tersebut.
4. Sejauh mana lobi anda bisa langsung ke pusat
   organisasi pemerintah (legislatif, eksekutif, yudikatif)
   sejauh itu pula anda mengetahui apa yang akan
   diputuskan terhadap: bisnis, peraturan, kompetitor dan
   sebagainya.
                        Aktifitas Melobi
   Hal-hal yang bisa dilakukan oleh Pelobi ke pemerintah
   sangat bervariasi sesuai dengan sifat dari industri dan
   kelompok yang diwakili.
   Kebanyakan hal-hal yang dilakukan adalah :
1. Mengumpulkan data dan fakta
   Pemerintah adalah pemilik dat yang lengkap tetapi
   seringkali tidak terkoordinasi. Di Indonesia hampir
   setiap departemen melakukan penelitian dan tabulasi
   data tahunan. Data-data ini disampaikan kepada pusat-
   pusat dokumentasi, humas dan juga dipegang oleh
   para individu yang menangani suatu
   komoditas/peraturan. Selain itu, pemerintah juga
   menyimpan data-data statistik, ekonomi,opini dan
   keputusan.
2. Interpretasi terhadap langkah pemerintah
   Keputusan pemerintah umumnya adalah merupakan
   penjabaran dari opini orang-orangnya. Fungsi utama
   pelobi adalah menerjemahkan opini tersebut kedalam
   kebutuhan perusahaan. Pelobi melakukan prediksi yang
   didugaakan terjadi secara hukum dan memberi
   rekomendasi agar perusahaan dapat menyesuaikan diri
   atau memanfaatkan ketentuan baru tersebut.

3. Interpretasi terhadap langkah perusahaan
   melalui kontak regular dengan pejabat pemerintahan,
   pelobi menginformasikan bagaimana suatu regulasi
   dirasakan oleh perusahaan atau oleh kelompk
   masyarakat tertentu.
4. Membangun posisi
   Adakalanya seorang pelobi melakukan tindakan untuk
   menunda suatu peraturan agar perusahaan tidak
   mengalami kesulitan serius atau agar semua pihak siap
   melaksanakan peraturan tersebut.

5. Melemparkan berita nasional
   istilah yang dipakaia adalah publicity springboard, yaitu
   menggunakan tempat lobi sebagai pusat peerdaran
   berita. Tempat lobi umumnya dalah suatu pusat yang
   selalu dikunjungi oleh para wartawan dan jurnalis media.
   Berita yang dilemparkan melalui para pejabat di tempat
   lobi akan dengan segera beredar secara nasional dan
   akan dikutip oleh media lainnya.
6. Mendukung kegiatan pemasaran
   tepatnya dalah melobi agar pemerintah menggunakan
   jasa atau membeli produk yang diahsilkan perusahaan.
   Pemerintah adalah pembeli yang paling besar. Pelobi
   tidak hanya menawarkan barang/jasa, melainkan juga
   mengajukan proposal untuk dianggarkan oleh
   pemerintah.
     Ada dua hal yang bisa dipelajari dari perkembangan
     teknik melobi yang banyak diterapkan oleh
     perusahaan internasional dewasa ini, yaitu:
1.   Grass-root lobbying
     lobi kepada pemerintah dilakukan secara tidak
     langsung, yaitu dengan meningkatkan kesadaran
     warga negara untuk menyampaikan aspirasinya
     kepada pemerintah, agar pemerintah mau membela
     kepentingannya. Para pelobi menggerakkan
     masyarakat karena masyarakatlah yang memilih
     langsung para pembuat kebijakan sehingga ada
     tanggung jawab bagi pembuat kebijakan untuk
     mewujudkan aspirasi masyarakat.
2.   Political Action Committees (PAC).
     Cara ini dilakukan di negara-negara yang
     masyarakatnya sudah maju. Perusahaan mendukung
     kandidat politik yang mempunyai filosofi yang sama
     dengan filosofi perusahaan.
     Cara yang lebih halus misalnya dengan memberikan
     beasiswa kepada calon-calon pemimpin yang
     diharapkan dapat memberi kontribusi bagi
     pembangunan, denagn mendukung tim-tim olah raga
     nasional yang berkompetisi di tingkat internasional dan
     sejenisnya.
        PERTEMUAN 3
LANGKAH DAN STRATEGI LOBI
           (I)
                        Referensi :
Zainal Abidin Partao,MM. 2006. Teknik Lobi dan Diplomasi,
                Indeks, Jakarta. hal 69-113
A. Persiapan Yang diperlukan saat Melobi
Seorang pejabat PR yang bertanggung jawab terhadap
government relations mutlak memahami strategi lobying
dan persiapan apa yang dibutuhkan agar sukses
melaksanakan fungsinya.
1. Langkah-langkah persiapan Lobi
   point-poin yang penting diketahui agar proses lobi
   berjalan lancar yaitu:
   1. Pahami prinsip-prinsip kegiatan lobi
   2. Kenali sasaran lobi
   3. Pahami prinsip-prinsip membangun kepercayaan
      sasaran lobi terhadap diri anda
   4. Berikan gambaran manfaat yang didapat bila
      mendukung atau mengabulkan permintaan anda.
   5. Persiapkan berbagai fasilitas pendukung.
Lobi adalah aktivitas komunikasi yang dilakukan individu
maupun kelompok kecil yang bertujuan memperoleh rekan
yang bermanfaat guna mempengaruhi para pimpinan
organisasi lain maupun orang yang memiliki kedudukan
penting dalam organisasi dan pemerintahan sehingga
dapat memberikan keuntungan buat diri sendiri atau
organisasi atau perusahaan pelobi.
Untuk itu prinsip-prinsip yang haru dipegang teguh dalam
melobi adalah:
1. Diluar    pembicaraan      formal   masih   diperlukan
   pembicaraan informal.
2. Pelobi harus mampu menetralisir berbagai keadaan
   yang bisa menghambat proses pembicaraan informal.
3. Pelobi harus membangun keyakinan pada sasaran lobi
    bahwa hasil apapun yang diputuskan tidak
    menyebabkan hubungan kedua belah pihak menjadi
    negatif.
4. Pelobi hrus mampu membantu orang itu mengambil
    keputusan.
5. Memahami kondisi yang bersifat politis
6. Memegang prinsip saling menguntungkan, dan bisa
    saling membutuhkan.
7. Kunci keberhasilan lobi terletak kepada kemampuan
    memodifikasi struktur psikologis internal orang yang
    dilobi.
2. Ukuran Keberhasilan :
   Lobi bisa untuk mencapai tujuan jangka pendek dan
   jangka panjang. Tujuan lobi bervariasi bisa berupa
   mempengaruhi sasaran lobi agar berbagai usulan,
   rencana dan program kerja anda, mendapatkan
   pengertian, pemahaman, persetujuan hingga pada
   dukungan. Bisa saja tujuan lobi hanya sekedar tercipta
   hubungan kerja yang kondusif, saling memahami, tidak
   saling mengganggu. Oleh karena itu terlebih dahulu
   harus ditetapkan suatu parameter yang jelas terhadap
   pencapain tujuan lobi..
3. Siapa yang di Lobi
Siapa yang dilobi bukan pekerjaan yang mudah untuk
menjawabnya       seiring   dngan    berjalannya    waktu,
berubahnya lingkungan bisnis serta semakin kompleknya
perkembangan yang terjadi maka          lembaga, institusi,
organisasi atau perusahaan yang menjadi sasaran lobipun
bergeser. Dalam upaya memahami sasaran/target lobi
maka kita harus mengajukan 2 pertanyaan yaitu :
1. Apa lembaga atau organisasi yang harus kita lobi ?
2. Siapa orang dalam lembaga, organisasi              yang
    mempunyai pengaruh atas kelancaran pencapaian
    tujuan oraginasai atau perusahaan ?
B. Mengorganisasikan dan Merencanakan Lobi
1. Menetapkan Bentuk Kegiatan
   Bentuk kegiatan lobi dipilih dipengaruhi banyak faktor.
   Siapa sasaran lobi, apa hobi dan kesukaanya, apa posisi
   atau kedudukannya dalam organisasi, apa latar
   belakangn budanya/sukunya, apa latar belakang
   pendidikannya dan luas lingkup pengalamannya.
   bentuk kegiatan hanyalah sebuah sarana untuk
   mencapai tujuan, yang harus dirancang untuk
   memmpermudah mencapai tujuan. Bentuk kegiatan
   alternatif yang umum adalah :
   Kunjungan ke pabrik, Makan siang/malam bersama,
   seminar, workshop dihotel berbintang, mengikuti
   kegiatan hobi target yang dilobi.
2. Menetapkan tempat
    Dasar pemilihan tempat untuk melakukan lobi adalah:
a. Suasana
b. Privasi
c. Bila dibutuhkan penginapan ?
d. Restoran atau hotel ?
e. Pertimbangkan faktor lokasi tempat lobi berlangsung
f. Alternatif tempat lobi harus dipersiapkan
g. Persetujuan pihak yang akan di lobi
h. Dapat dikaitkan dengan lokasi dekat dengan hobinya
i. Dari pertemuan pertama atur pertemuan berikutnya
j. Setelah tempat disetujui adakankoordinasi dengan pihak
   yang terkait.
3. Menetapkan Waktu
   Menetapkan waktu lobi harus dilihat situasi dan kondisi
   pihak yang dilobi. Waktu makan, acara seminar,
   melakukan kegiatan hoby, adalah waktu yang bisa tepat
   untuk melaksanakan lobi.

4. Menetapkan Tim Lobi
   Tim lobi jumlahnya berapa orang, yang terlibat didalam
   tim kita siapa saja dan berapa orang ? Hal yang sama
   juga perlu ditanyakan dari tim sasaran lobi, jumlahnya
   berapa orang dan siapa saja yang hadir.ada pihak lain
   yang perlu diundang? Siapa saja yang diundang ?
   Sesuaikanlah jumlah tim sesuai dengan jumlah tim
   sasaran lobi.
5. Menetapkan Tujuan Lobi
   Apa yang anda pikirkan akan anda peroleh itulah yang
   akan anda dapatkan.Tujuan yang anda tetapkan akan
   membimbing anda sampai pada tujuan tersebut.
   Ada beberapa contoh dari tujuan lobi diantaranya;
   1.Mengajak sasaran lobi untuk terjun langsung dan
     mengamati kegiatan industri perusahaan anda
   2. Saling mengenal satu sama lain dan memahami
     secara personal.
   3. Menjalin hubungan yang lebih harmonis
   4. Memahami dan membina hubungan yang lebih baik
   5. Melakukan perkenalan terhadap pejabat yang baru
     dilantik, naik jabatan dan sebagainya.
6. Menetapkan Anggaran
   Anggaran tergantung banyak variabel, antara lain tujuan
   dan sasaran akhir lobi yang akan capai, siapa yang
   diundang, lokasi atau tempat lobi anda berlangsung.
   Jumlah yang diundang, pilihan menu, tahapan lobi dan
   publikasi. Lobi dapat berlangsung beberapa hari, juga
   mungkin menyiapkan souvenir dan biaya terhadap
   rencana darurat perlu diperhitungkan.
7. Pentingnya Persiapan
   Persiapan lobi yang baik akan menghasilkan:
   - Kelancaran
   - Lobi berjalan efektif sesuai tujuan yang diharapkan
   - Mengurangi tingkat risiko dan kegagalan
   - Memeroleh dukungan dan kepercayaan yang cepat.
Sebaliknya jika persiapan kurang baik maka :
1. Suasana informal dan santai yang bersifat kekeluargaan
   gagal dibangun.
2. Pembicaraan tertunda/ terganggu
3. Kepercayaan terganggu.
4. Lobi terhambat / tidak tuntas
5. Lobi gagal.
   Hal yang perlu dan jangan dilupakan adalah perlu
   menyiapkan rencana darurat (convergency plan) jika
   rencana semula mengalami hambatan dan tidak bisa
   diteruskan.
C. Menetapkan Strategi Lobi yang Efektif
1. Urutan prioritas
   Urutan prioritas berhubungan dengan tahapan-tahapan
   dalam pelaksanaan lobi.
   penetapan prioritas ini maksud dan tujuannya adalah
   untuk memperoleh efek domino atau efek bola salju.”
   bila satu sudah ditangan yang lain akan mengikuti” untuk
   itu kita harus mengingat lima aktivitas yang menjadi
   fungsi melobi yaitu;
   - Membangun koalisi dengan organisasi-organisasi lain,
      berbagai kepentingan dan tujuan-tujuan untuk
      melakukan usaha bersama dalam mempengaruhi
      wakil-wakil legislatif.
- Mengumpulkan informasi dan mempersiapkan
   laporan untuk legislator yang mewakili posisi
   organisasi dalam isu-isu kunci.
- Melakukan kontak dengan individu-individu yang
   berpengaruh dan wakil-wakil dari agensi yang
   menyatu.
- Mempersiapkan pengamat dan pembicara ahli untuk
   mewakili posisi organisasi terhadap legislator.
- Memusatkan debat pada isi kunci, fakta dan bukti-
   bukti yang mendukung posisi organisasi.
Situasi yang akan dibangun, siapa yang akan dilobi,
tujuan yang akan dicapai, akan menentukan dari lima
aktivitas tersebut mana yang harus didahulukan.
Siapa yang dilobi akan menentukan tempat dan waktu lobi.
Dan itu terkait dengan :
- Posisi jabatan, kewenangan dalam memutuskan.
- Juga terkait dengan situasi psikologis dan sosiografis
   yang akan dibangun maupun yang harus kita siapkan.
- Anggaran yang disediakan.
- Waktu dan tempat
- Kedalaman pesan, fakta dan data yang harus dan
   memungkinkan diberikan saat itu ( tidak semua fakta dan
   data dapat diberikan disembarang tempat) dan
   sebagainya.
2. Menyiapkan Argumen
   Lobi yang berhasil adalah lobi yang didasari dengan
   pendekatan yang baik, itu benar. Akan tetapi lobi yang
   mampu membantu upaya pencapain tujuan organisasi
   atau perusahaan tidaklah sesederhana itu berbagai
   persyaratan atau data pendukung sangat diperlukan.
3. Merumuskan Ide dan Usulan
   Setelah rencana dirumuskan maka kunci terakhirnya
   adalah bagaimana anda menjual idenya. Lobi adalah
   teknik komunikasi. Bagaimana anda menjual pesan agar
   pesan tersebut dibeli dibeli sasaran lobi, itu sangat
   tergantung pada pedoman dibawah ini;
Keberhasilan jualan ide anda akan ditentukan :
1. Bagaimana anda membungkus idenya, komponennya adalah :
  a Bagaimana agar menjadikan ide seolah-olah datang dari
  mereka.
  b. Ide anda mendukung ide-ide sasaran lobi
  c. Ide-ide anda seolah meringankan tugas mereka
  d. ide anda tersebut memberikan manfaat yang besar buat
      masyarakat.

2.Bagaimana anda mengkomunikasikannya. Ini menyangkut
  pilihan kalimat.contoh pilihan kalimat yang benar “ Anda akan
  memperoleh keuntungan 15% dari total modal anda setorkan”
  bukannya “kami akan mengajak anda kerjasama, mudah-
  mudahan tingkat keuntungan yang akan kita hasilkan sebesar
  30 % sehingga anda pat 15 %, sisanya buat kami”
4. Memberi makan rohani pelobi
   Makanan rohani dimaksudkan untuk tetap membuat
   anda mampu mengisi kegiatan lobi dengan pemikiran –
   pemikiran yang brilian.
   Memberi makan rohani berarti banyak membaca,
   banyak berdiskusi, banyak mengikuti seminar dan
   sebagainya.juga harus tahu cara penanganan, cara
   pelayanan dan cara mengkonsumsi minuman, table
   manner, memahami berbagai jenis menu makanan,
   tempat untuk memperoleh makanan, dan mampu
   mencari tema-tema pembicaraan yang cocok dengan
   sasaran lobi.
        PERTEMUAN 4
LANGKAH DAN STRATEGI LOBI
           (II)
                        Referensi :
Zainal Abidin Partao,MM. 2006. Teknik Lobi dan Diplomasi,
               Indeks, Jakarta. hal 241-268
A. Pentingnya Fungsi Mendengarkan Untuk Lobi
Ada tiga alasan mengapa kemampuan mendengarkan ini
amat penting untuk keberhasilan kita:
1. Menurut David K Berlo, komunikasi akan berhasil
    apabila antara komunikator dan komunikanterdapat
    kecocokan atau kesamaan satu sama lain. Kesamaan
    dalam budaya, sitem sosial, pendidikan, pengalaman,
    harapan, dan sebagainya.
2. Hasil riset menunjukan tentang mendengarkab
    menyebutkan aktivitas terbesar yang dilakukan
    manusia dalam kegiatan sehari-hari nya adalah
    mendengarkan.
3. Dengan mendengarkan kita memberikan sentuhan
    emosional, perhatian, penghargaan padanya.
Mendengarkan adalah proses aktif menerima rangsangan
(stimulus) telinga (aural =isyarat).
Istilah Listening menurut Devito harus dibedakan dengan
hearing, Pada konsep hearing mendengar disini sebuah
proses fisiologis. Sedangkan pada listening ada proses
pemberian arti atau makna.
Melalui penangkapan makna dan pemahamannya
selanjutnya si penerima rangsangan melakukan aksi
sesuai makna yang ditangkapnya.
Nichols menyatakan bahwa didengarkan berarti ditanggapi
dengan serius, bahwa gagasan dan perasaan dimengerti
dan bahwa yang diutarakan penting. Mendengarkan selain
gabungan dari proses fisiologis ada aktivitas fisik
didalamnya, ia juga mengandung aktivitas psikologis dan
sosiologis.
Dalam      memahami    konsep      mendengarkan   harus
diperhatikan berbagai dimensi yang berlaku di wilayah
fisiologis (berbagai aktivitas fisik seperti mendengar,
melihat dan berprilaku), dimensi psikologis ( mengerti,
merasa dan memahami),          serta dimensi hubungan
(hubungan antar sesama manusia).

B. Tujuan Mendengar
   Aktivitas mendengarkan menurut Devito memiliki tujuan:
   1. Mendengar untuk kesenangan:
       Orang mendengarkan sandiwara radio, mendengar
       kan musik dsb.
  2. Mendengarkan untuk mendapatkan informasi
      Memiliki fungsi antara lain :
     - Untuk mendapatkan fakta dan detail informasi
     - Untuk mendapatkan arahan dan istruksi dari pimpinan
     - Mencoba memahami sudut pandangan orang lain
     - Mencari solusi untuk menyelasaikan konflik dalam tim
       dan memecahkan problem.
  3. Mendengarkan untuk membantu
    Mendengarkan keluh kesah teman atau kerabat

Yang paling penting bagi seorang pelobi adalah mendengar
kan untuk mendapatkan kepastian, memperkokoh informasi
dan kepercayaan diri.
Jenis mendengar yang terakhir adalah sangat penting bagi
pelobi karena informasi yang didapat akan menjadi bahan
keputusan strategis manjemen, akan menjadi bahan
pengambilan kebijakan serta dapat mempengaruhi nasib
organisasi atau perusahaan tempat bekerja.

C. Mendengarkan Lebih sulit daripada bicara
Tentang sulitnya mendengar dalam konsep listening,
dijabarkan menurut Devito, yang bisa digunakan saat lobi
adalah sebagai berikut:
1. Mendengarkan adalah proses yang aktif, bukan pasif.
    Dikaitkan dengan lobi maka disini mendengarkan dalam
    konsep listening(aktif) bukan hearing (pasif).
2. Mendengarkan tidak terjadi begitu saja, tetapi kita harus
   melakukannya.
3. Mendengarkan menuntut tenaga dan komitmen
4. Listening beda dengan hearing.

D. Hambatan dalam Mendengarkan
Perlu juga disadari tentang hambatan – hambatan yang
ada dalam mendengar dalam kegiatan lobi, dan harus
dihindari dan perlu diperhatikan strategi
penanggulangannya yaitu:
1. Sibuk dengan diri sendiri;
2. Sibuk dengan masalah eksternal
3. Mempertajam hal yang tidak esensial
4. Melakukan Asimilasi
5. Terjebak untuk menempatkan orang yang berbicara
    sebagai kawan atau lawan
6. Hanya mendengarkan pesan yang diharapkan.

E. Fungsi Umpan Balik dalam Mendengarkan
Antara kegiatan mendengarkan dan memberikan feedback
sangat erat kaitannya. Pada sisi sebagai pelobi perlu
mendengarkan dengan baik agar bisa memberikan
feedback yang tepat pada sasaran lobi. Mengapa dari
sudut pelobi ? Ada dua alasan;
Pertama sebagai pelobi anda berada pada pihak yang
membutuhkan. Berada pada pihak yang sangat tergantung
pada keputusan sasaran lobi.
Kedua pada sasaran lobi kita, umpan balik yang kita
berikan lewat proses mendengarkan yang kita lakukan, sasaran
lobi dapat menyesuaikan pesannya, memodifikasi, memperkuat
atau mengubah isi atau bentuk pesannya.
Manfaat yang bisa diraih dalam mendengar dikaitkan dengan
umpan balik maka lewat mendengar kita akan dapat;
1. Menangkap informasi yang diharapkan, dikehenadaki
   sasaran lobi sehingga mengabulkan keinginan kita      ketika
   melobinya.
2. Menangkap kekecewaan sasaran lobi pada kita agar kita
   tidak mengulangi kembali, diikuti dengan pemberian    service
   recovery,      servis    tambahan        untuk     meredakan
   kekecewaannya pada kita atau perusahaan kita.
3. Menangkap kesalahpahaman yang mungkin telah terjadi
   sebelumnya sehingga kita bisa mengklarifikasi dan meredakan
   mungkin amarah yang timbul sebagai akibat kesalah pahaman.
Agar manfaat mendengarkan dapat efektif berfungsi harus
memperhatikan prinsip-prinsip antara lain:
1. Kesegeraan
2. Kejujuran
3. Kepatutan
4. Kejelasan

F. Mendengarkan yang Efektif
Untuk menguasai teknik-teknik mendengarkan, harus
mengetahui beberapa dimensi tentang cara mendengar
yang efektif, yaitu ;
 1. Mendengarkan partisipatif dan pasif
2. Mendengarkan secara empatik dan secara objektif
3. Mendengarkan tanpa menilai dan mendengarkan secara
   kritis.
4. Mendengarkan secara dangkal dan secara dalam

G. Teknik-Teknik Mendengarkan Aktif
1. Ajukan pertanyaan dan ulangi pikiran pembaca.
2. Jangan menginterupsi
3. Berilah respon pada pendengar anda
4. Tatap mata pembicara
5. Jangan mengalihkan topik pembicaraan yang sednag
   dibangun pembicara.
6. Kendalikan emosi.
Mengapa mendengarkan secar aktif begitu penting bagi
seorang pelobi, karena hal ini memiliki fungsi yang penting
yaitu:
1. Memungkinkan pendengar mencocokan pemahamannya
   terhadap yang dibicarakan pembicara.
2. Pendengar mengutarakan akseptansinya
3. Mendorong pembicara untuk :
   a. menggali dan mengutarakan perasaan dan pikirannya
   b. Menghasilkan dialog yang memberikan pemahaman
      bersama.
   c. Memecahkan sendiri permasalahan yang dihadapi
      pembicara.
H. Pelobi adalah Host, Pengarah Acara
Walaupun sasaran lobi berbicara panjang lebar, kendali
proses lobi harus tetap ditangan kita sebagai pelobi Pelobi
harus bisa mengarahkan jalannya proses lobi sesuai tujuan
lobi yang telah ditetapkan. Bagaimana mengarahkan
sasaran lobi anda :
1. Fokuskanlah secara bijak topik pembahasan.
2. Ajukan pertanyaan terbuka dengan baik
3. Selingi dengan pertanyaan tertutup untuk mengarahkan
4. Simpulkan topik yang sednag menjadi pembahasan
   anda berdua atau bersama tim. Bacakan secara
   perlahan namun mantap yang bertujuan mendapatkan
   pengesahan.
         PERTEMUAN 5

STRATEGI MENGHADAPI ORANG “SULIT”
           DALAM LOBI
                       Referensi :
Zainal Abidin Partao,MM. 2006. Teknik Lobi dan Diplomasi,
                Indeks, Jakarta. hal 191-209
Definisi “Orang Sulit” dalam lobi
Adakah orang sulit ? Pada intinya tidak ada orang sulit,
yang terjadi hanya ketidakcocokan kepribadian antara
pelobi dan sasaran lobi.
Manusia dilahirkan dengan kepribadian dasar dan
kepribadian ini tidak akan pernah hilang sampai meninggal.
Pengalaman hidup, pendidikan, teman bergaul, perubahan
status sosial ekonominya tidak pernah mengubah
kepribadian dasarnya, yang ada hanya memperkaya ,
menambah dan memberi warna.
Charles J. Keating mengemukakan bahwa kesulitan
dalam menghadapi orang lain bukan karena orang itu
memang sulit untuk didekati atau sulit untuk diajak
kerjasama. Orang tersebut dirasa sulit karena ada faktor
konflik kepribadian antara kita dengannya.
   Untuk itu perlu juga kita memahami tipe-tipe kepribadian
   yang ada. Menurut Myers-Briggs, tipe-tipe kepribadian
   adalah:
1. Kepribadian Introvet
   Orang yang tidak mudah mengungkapkan perasaannya
   kepada orang lain.
2. Kepribadian Ekstrovet
   Orang yang senag bersama orang lain, tidak ada
   rahasia yang      disembunyikan.
3. Kepribadian mengindera
   Orang yang serba cermat, peduli hal-hal yang detail,
   sadar akan        lingkungan fisik dan sangat praktis.
   Loyal kepada perusahan         memiliki        perhatian
   terhadap masalah yang dihadpi atasan.
4. Kepribadian intuitif
   Penyusun konsep dan pengkhayal didalam organisasi.
   Cenderung melihat kemungkinan dibandingkan realitas.
5. Kepribadian pemikir
   Melihat segala sesuatu menurut akal dan logika. Bersifat
   kognitif, menghargai intelektual, dan segala yang masuk
   akal. Emosi atau perasaan dinilai tidak penting.
6. Kepribadian perasa
   Cenderung hangat dan mudah didekati, terbuka
   terhadap pendapat orang lian. Pengambilan keputusan
   cenderung berdasarkan perasaan.
7. Kepribadian pengatur
   Paling senag dengan aturan dan jadwal, meski tidak
   menyukai rutinitas, ia tidak senang menghadapi hal-hal
   yang diluar perkiraannya.
8. Kepribadian mengerti:
   Kepribadian yang dimiliki oleh orang yng menikmati hidup
   sebagaimana adanya.
Namun harus disadari bahwa kepribadian yang ditunjukan
oleh individu kadang-kadang tidak menunjuk salah satu
kepribadian yang ada.maksudnya ada orang yang memiliki
kepribadian menonjol di dua tipe kepribadian, yang sering
disebut “orang di tapal batas” , sebagai pelobi tidak perlu
bingung maka kita harus benar-benar mencermati pada
saat lobi berlangsung tipe kepribadian mana yang paling
menonjolkan dari sasaran lobi.
Sementara itu, Mitchael Le Boeuf memberikan gambaran
kepribadian sebagai pemicu konflik adalah;
1. Pengkritik
2. Si Agresif
3. Tukang gosip
4. Sang moralis
5. Si Martir
6. Tuan perfeksionis
7. Penggemar hal-hal sepele
8. Si sumbu pendek
9. Si pembual
10. Orang yang sinis.
11. Seniman merendahkan diri untuk meremehkan
    orang lain
12. Penipu
Beberapa cara yang bisa diterapkan untuk menghadapi
kepribadian pemicu konflik :
1. Terhadap pengkritik:
   Tenangkan hati dan perasaan anda, tetap fokus pada
   topik lobi.
2. Si Agresif :
   Siapkan data dan informsi, tetap ingatkan terhadap
   komitmen yang disepakati bersama.
3. Si tukang gosip, ingatkan dirinya untuk lebih fokus pada
   tofik lobi.
4. Sang moralis
   Hadapi dengan kerendahan hati, sampaikan kita perlu
   banyak belajar dari dirinya.
5. Terhadap si martir ; ucapkan terima kasih, setelah itu
   agenda lobi harus tetap berjalan sesuai topik yang akan
   didiskusikan.
6. Tuan perfeksionis, berikan senyum penuh kasih, setiap
   sarannya kita catat katakan padanya sarannya dicata
   tetapi dalam waktu singkat ini mohon pengertiannya
   untuk menerima apa adanya.
7. Penggemar hal-hal sepele ; maklumi keterbatas yang
   dimilikinya, ajak fokus pada tofik lobi.
8. Si sumbu pendek; perlu mencari informasi hal-hal apa
   yang bisa menyebabkan dia cepat “meledak’ ciri mereka
   adalah ingin mengerjakan hal yang bukan prioritas.
9. Si pembual : utarakan kekaguman anda padanya, hanya
   itu, kemudian jangan anda tanggapi lebih lanjut. Ajak dia
   untuk bicara soal agenda lobi.
10. Orang yang sinis; perlu dimaklumi, jangan terpengaruh
    kembali arahkan ke topik dan agenda lobi.
11. Terhadap seniman yang suka merendahakan diri untuk
    meremehkan orang lain, anda hanya perlu
    membesarkan hati anda sendiri. Jangan mudah
    tersinggung, besarkan hati karena kita membutuhkan
    dia.
12. Terhadap penipu; berhati-hatilah. Jangan lupa untuk
    meminta perjanjian tertulis atau meminta bukti-bukti
    otentik manakala harsu berhubungan dan mengikat
    janji dengannya.
               Menciptakan Kerjasama

Kini yang menjadi pertanyaan bagaimana menciptakan
kerjasama. Mengelola bisnis adalah mengelola orang.
Lobi adalah bagian dari tugas-tugas dalam organisasi,
bagian dari usaha pencapaian tujuan organisasi. Maka
suksesnya lobi adalah dengan cara mengelola dan
menangani orang.
Membaca orang adalah membaca kepribadiannya,
membaca kecerdasannya serta membaca pola dan cara
belajarnya adalah salah satu alat untuk keberhasilan lobi
kita.
Berikut adalah tips untuk menciptakan kerjasama:
1. Berikan kesan pertama yang positif
2. Bangun kepercayaan dalam dirinya
3. Buatlah mereka kagum pada diri kita
4. Cari tahulah hobi mereka.
5. Apabila mereka sudah suka kepada kita maka akan
   senang     bersahabat dengan kita.
     Untuk menjadikan sasaran lobi senang bekerjasama
     dengan anda berikut adalah rumusannya;
1.   Bila anda punya ide ingin bekerjasama dengannya,
     buatlah seolah-olah ide anda adalah idenya.
2.   Ketika kita ingin bekerjasama dan mendapatkan
     dukungan penuh dari seseorang, berikan kerjasama
     dan dukungan penuh kepadanya terlebih dahulu.
3.   Lebih sulit mempertahankan kerjasama daripada
     menciptakan kerjasama.
4.   Ketahuilah keinginan mereka, ketahuilah kebutuhan
     mereka.
5.   Penuhilah keinginan dan kebutuhan mereka
6.   Bila telah terbina kerja sama yang baik, bicaralah selalu
     tentang kesamaan-kesamaan, kurangi bicara tentang
     perbedaan-perbedaan.
      PERTEMUAN 9

COMMUNITY RELATIONS
                    Referensi:
Yosal Iriantara, 2004. Community Relations. Simbiosa
       Rekatama Media, Bandung. (Hal.19-43)
I. Pengertian Community Relations
Suatu prinsip yang hendak dikembangkan melalui
community relations adalah mengembangkan hubungan
bertetangga yang baik.

Jerold mendefinisikan Community Relations sebagai
“Peningkatan partisipasi dan posisi organisasi dalam
sebuah komunitas melalui berbagai upaya untuk
kemaslahatan bersama bagi organisasi dan komunitas”

DeMartin menyatakan Community Relations sebagai “cara
berinteraksi dengan berbagai publik yang saling terkait
dengan operasi organisasi”.
                       Pemahaman Komunitas (Community)

Dalam kontek PR makna komunitas itu tidak bersifat tunggal.
Menurut Frank Jefkins komunitas adalah “kelompok orang
yang tinggal disekitar wilayah operasi satu organisasi” atau
disebut Jefkins sebagai tetangga (melihat dari aspek lokalitas).
Dengan perkembangan yang ada saat ini komunitas dapat
diartikan bukan sekedar sebagai “kumpulan orang orang yang
tinggal pada lokasi yang sama tapi juga menunjukkan
terjadinya interaksi diantara kumpulan orang tersebut”.
artinya komunitas bukan menunjuk pada lokalitas saja
melainkan juga struktur.

Sedangkan De Martin memberikan pemahaman dari konsep
yang diajukan oleh Hallahan, yaitu bahwa Komunitas adalah
semua stakeholder yang dilayani organisasi.
Perbandingan Konsep Publik dan Komunitas ( Hallahan)
                            PUBLIK                             KOMUNITAS
Komposisi       Secara umum dianggap terbentuk      Individual, organisasi dan institusi
                dari kumpulan individu

Dipandang       Sulit ditentukan posisinya sampai   Mudah ditentukan posisinya dn
organisasi      kelompok tersebut menunjukan        familiar dengan kepentingan
                ingin dikenal
Keterlibatan    Sering reaktif, kebanyakan diberi   Secara ideal proaktif
organisasi      mandat atau diprovokasi
                kelompok
Komunikasi      Kontinum respons mulai dari         Integrasi (keterlibatan,
Organisasi      akomodasi hingga advokasi;          pemeliharaan, pengorganisasian)
                negosiasi
Relasi Konsep   Kebanyak publik berasal dari        Publik dengan tujuan terbatas yang
                komunitas                           kemudian seringkali bertambah
                                                    besar sehingga menjadi komunitas,
                                                    namun fokus kelompok pun meluas
                                                    bukan hanya pada isu tunggal
Stewart E Perry, memandang ada 2 makna komunitas
yaitu;

Pertama, Komunitas sebagai kategori yang mengacu pada
orang yang saling berhubungan berdasarkan nilai –nilai
dan kepentingan bersama yang khusus.

Kedua, Secara khusus menunjuk pada satu kategori
manusia yang berhubungan satu sama lain karena
didasarkan pada lokalitas tertentu yang sama yang karena
kesamaan lokalitas itu secara tak langsung membuat
mereka mengacu pada kepentingan dan nilai-nilai yang
sama.
    Menurut Carol Anne Ogdin menunjukan 5 hal yang
    membedakan antara komunitas dengan kelompok
    manusia yaitu:
•   Pembatasan dan ekslusivitas
•   Tujuan
•   Aturan
•   Komitmen
•   Kemandirian

    Untuk kepentingan PR kita bisa memandang komunitas
    berdasarkan lokalitas sebagai kelompok orang yang
    berdiam pada lokal yang sama. Selain itu, komunitas
    dapat juga dipandang sebagai interaksi dalam struktur
    sosial yang berdiam pada lokasi yang berbeda atau
    mungkin berjauhan namun dipersatukan oleh
    kepentingan dan nilai-nilai sama.
Komunitas secara lebih rinci dapat dipandang berdasarkan
karateristik relasi didalam komunitas :
1. Komunitas sebagai pengelompokan lokal yang
   didasarkan pada kedekatan dan relasi tatap muka.
2. Komunitas sebagai kelompok kepentingan seperti dalam
   komunitas penelitian, komunitas bisnis, atau
   karakteristik tertentu.
3. Kualitas relasi didalamnya dalam bentuk keterikatan
   moral dan emosional seperti mengacu pada identitas,
   nilai-nilai dan tujuan bersama, pengambilan keputusan
   secara partisipatif dan poduksi simboliknya.
II. Hubungan Organisasi dengan Komunitas

Hubungan antara organisasi dan komunitas bukanlah
sekedar soal bertertangga, hubungan ini lebih tepat
dipandang sebagai wujud tanggung jawab sosial
organisasi atau perusahaan atau dalam istilah
populernya saat ini disebut sebagai Corporate Social
Responsibility (CSR).

Dengan tanggung jawab sosial berarti organisasi dapat
dipandang dari 2 sisi yaitu : Sebagai lembaga bisnis yang
mencari keuntungan, disisi lain dipandang juga sebagai
lembaga sosial lantaran memikul beban tanggung jawab
bagi masyarakat.
     Godeke menyebutkan ada beberapa faktor yang
     mempengaruhi perubahan hubungan antara organisasi
     dan komunitasnya, antara lain adalah;
1.   Globalisasi
2.   Peningkatan harapan
3.   Menguatnya masyarakat madani dan sektor LSM yang
     makin berdaya.
4.   Pengaruh meningkatnya gerakan lingkungan yang
     menekankan pada transparansi dan keberlanjutan
5.   Pasar untuk tenaga kerja berbakat , yang bergerak
     menuju pemberian hukuman bagi perusahaan yang
     mengabaikan masalah kemasyarakatan.
Hubungan antara komunitas dan perusahaan lebih tepat
dipandang sebagai relasi yang dikembangkan untuk
membuka ruang bagi terwujudnya tanggungjawab sosial
perusahaan. Tanggung jawab sosial tersebut terus
berevolusi sampai menemukan bentuk yang menunjukan
keseimbangan dan kesetaraan posisi antara perusahaan
dan komunitas.

D. Peran Komunitas bagi Keberhasilan Perusahaan
Perusahaan apapun perlu menjalin hubungan yang baik
dengan komunitasnya sehingga terbentuk sikap positif
komunitas pada perusahaan.
Fakta telah membuktikan bahwa masyarakat paling tidak
suka jika perusahaan tidak berkomunikasi dengan mereka;
bersifat arogan dan tidak memberikan kontribusi atau
manfaat bagi lingkungan sekitar.
Masyarakat tidak ingin melihat perusahaan merugikan
karyawan, merusak lingkungan, mengabaikan masalah
sosial, dsb.
Padahal, sikap positif masyarakat akan mempengaruhi sikap
karyawan terhadap organisasi dan adanya ras kebanggaan
terhadap perusahaan tempatnya bekerja
Dengan memposisikan perusahaan sebagai mitra dalam
pandangan masyarakat dan masyarakat dipandang sebagai
mitra oleh perusahaan dalam mencapai tujuan masing-
masing maka dapat bermanfaat bagi perusahaan seperti;
nama baik, pencapaian tujuan perusahaan dan moral kerja
karyawan.
Dalam kemitraan ini, perusahaan juga akan terlibat dalam
permasalahan sosial yang bisa diatasi bersama
masyarakat.
Keterlibatan perusahaan dapat melalui kegiatan yang
mencakup:
1. Prakarsa-prakarsa komersial yang sasarannya adalah
kelompok komunitas tertentu yang menjadi sasaran
kepentingan bisnis perusahaan namun memberikan
manfaat signifikan dalam komunitas itu.
2. Investasi ekonomi, termasuk pemberian hadiah,
sumbangan, kesukarelaan perusahaan atau karyawan dan
pengembangan ekonomi masyarakat.
Tekanan dalam pelaksanaan Community Relations
Berkaitan dengan fungsi Community relations organisasi
ada beberapa tantangan atau tekanan       baik internal
maupun eksternal menurut Waddock dan Boyle yaitu:

Tekanan lingkungan internal datang dari teknologi,
restrukturisasi, desentralisasi, keterbatasan sumber daya,
dan tekanan lain yang datang dari karyawan dan
komunitasnya.

Tekanan lingkungan eksternal datang dari : globalisasi,
aliansi, kompetisi, dan aturan pemerintah.
          PERTEMUAN 10
TANGUNG JAWAB SOSIAL KORPORATE
(CORPORATE SOCIAL RESPONSIBILITY)
               Referensi:
Yusuf Wibisono.2007. Membedah Konsep dan
Aplikasi CSR –Corporate Social Responsibility.
          Fascho Publishing, Gresik
        Corporate Social Responsibility (CSR)

Hubungan antara organisasi dan komunitas bukanlah
sekedar soal bertetangga, hubungan ini lebih tepat
dipandang sebagai wujud tanggung jawab sosial
organisasi atau perusahaan atau dalam istilah
populernya saat ini disebut sebagai Corporate Social
Responsibility (CSR).

A. Pengertian CSR
CSR merupakan bentuk perhatian suatu perusahaan atau
organisasi terhadap kepentingan-kepentingan masyarakat
dengan bertanggung jawab pada dampak yang ditimbulkan
dari aktifitas operasional perusahaan.
The World Business Council for Sustainable Development
(WBCSD) mendefinisikan CSR adalah:
“ komitmen dunia usaha untuk terus menerus bertindak
secara etis, beroperasi secara legal, dan berkontribusi untuk
peningkatan ekonomi, bersamaan dengan peningkatan
kualitas hidup dari karywan dan keluarganya, sekaligus juga
peningkatan kualitas komunitas lokal dan masyarakat
secara lebih luas”

sedangkan Yusuf Wibisono mendefinisikan CSR sebagai
tanggung jawab perusahan kepada para pemangku
kepentingan untuk berlaku etis, meminimalkan dampak
negatif dan memaksimalkan dampak positif yang mencakup
aspek ekonomi, sosial dan lingkungan dalam rangka
mencapai tujuan pembangunan berkelanjutan.
B. Perkembangan Konsep CSR
Wujud tanggung jawab sosial organisasi berkembang di
awal tahun 60-an, sebagai respon terhadap nilai-nilai sosial
yang berubah, dengan munculnya perdebatan tentang isu-
isu sosial yang mengharuskan organisasi untuk mematuhi
tanggung jawab hukum yang baru.
Isu-isu bisa berupa kesempatan kerja, lingkungan hidup
atau keamanan produk dan sebagainya.
Dengan tanggung jawab sosial berarti organisasi dapat
dipandang dari 2 sisi yaitu : Sebagai lembaga bisnis yang
mencari keuntungan, disisi lain dipandang juga sebagai
lembaga sosial lantaran memikul beban tanggung jawab
bagi masyarakat.
   Create Profit Inc. menggambarkan 3 tahapan
   perkembangan konsep tanggung jawab sosial
   organisasi bisnis dalam konteks community relations :
1. Th 1960-1970-an, pemberian sumbangan sebagai
   respon atas kebutuhan lokal dan manajemen CEO
2. Th.1980-1990-an,      berkembang    model     kewarga
   negaraan korporat
3. Th.1999 berkembang konsep aliansi strategis yang
   terkait dengan tujuan organisasi.

   Konsep CSR (Corporate Social Responsibility)
   seringkali dikaitkan dengan isu GCG (good corporate
   governance) dan Triple Bottom Line.
C. Hubungan CSR dengan GCG
  Good corporate governance (GCG), dalam arti sempit
  dipahami sebagai suatu sistem dan seperangkat aturan
  yang mengatur hubungan antara berbagai pihak yang
  berkepentingan, terutama antara pemegang saham dan
  dewan komisaris serta dewan direksi demi tercapainya
  tujuan perusahaan.

  Sedangkan dalam arti luas, GCG digunakan untuk
  mengatur hubungan seluruh kepentingan stakeholders
  secara proporsional dan mencegah terjadinya keslahan-
  kesalahan yang signifikan dalam strategi perusahaan
  sekaligus memastikan bahwa kesalahan yang terjadi
  bisa diperbaiki dengan segera.
     Dalam tataran praktis, GCG merupakan tatakelola
     perusahaan yang baik agar perilaku para pelaku bisnis
     mempunyai arahan yang bisa dirujuk.

     Terdapat lima prinsip GCG yang dijadikan pedoman
     bagi pelaku bisnis, yaitu:
1.   Transparency (keterbukaan informasi
2.   Accountability (Akuntabilitas)
3.   Responsibility (Tanggung Jawab)
4.   Independency (kemandirian)
5.   Fairness (Kesetaraan dan Kewajaran)
Berdasarkan prinsip-prinsip GCG tersebut, terutama
prinsip responsibility, dapat ditarik benang merah
keterkaitan antara CSR dan GCG. Penerapan prinsip
responsibility tersebut, perusahaan memperhatikan
kepentingan stakeholdernya sebagai bentuk konsekuensi
dari operasional perusahaannya.
Penerapan CSR adalah salah satu bentuk implementasi
dari konsep Good Corporate Governance (GCG).

Konsep CSR juga sering dikaitkan dengan konsep Triple
Bottom Line, yaitu bahwa perusahaan tidak hanya
mengedepankan aspek ekonomi saja, tetapi juga aspek
sosial dan lingkungannya
D. Konsep Triple Bottom Line
  John Elkington mengembangkan konsep triple bottom
  line dalam istilah economic prosperity, environmental
  quality dan social justice.

  Menurut Elkington, perusahaan yang ingin berkelanjutan
  harus memperhatikan ‘3P’ (Profit, People, Planet),
  yaitu bahwa selain mengejar keuntungan (profit),
  perusahaan juga harus memperhatikan dan terlibat pada
  pemenuhan kesejahteraan masyarakat (people) dan
  turut berkonstribusi aktif dalam menjaga kelestarian
  lingkungan (planet)
Semakin disadari bahwa kondisi keuangan saja tidak
cukup menjamin perusahaan tumbuh secara
berkelanjutan. Keberlanjutan akan terjamin apabila
perusahaan memperhatikan dimensi terkait lainnya,
termasuk dimensi sosial.
Dengan demikian, CSR adalah salah satu bentuk
investasi masa depan. Karena melalui hubungan yang
harmonis dan citra baik, timbal baliknya, masyarakat
juga ikut menjaga eksistensi perusahaan.
E. Prinsip-prinsip CSR
   Prof. Alyson Warhurst mengajukan prinsip-prinsip CSR
   adalah sebagai berikut:
1. Prioritas Korporat
2. Manajemen Terpadu
3. Proses Perbaikan berkesinambungan
4. Pendidikan Karyawan
5. Pengkajian Dampak Sosial
6. Produk dan Jasa
7. Informasi Publik
8. Fasilitas dan Operasi
9.    Penelitian
10.   Prinsip Pencegahan
11.   Kontraktor dan Pemasok
12.   Siaga Menghadapi darurat
13.   Transfer best practice
14.   Memberi Sumbangan
15.   Keterbukaan
16.   Pencapaian dan Pelaporan
         PERTEMUAN 11

     SIGNIFIKANSI PROGRAM
COORPORATE SOCIAL RESPONSIBILITY
                    Referensi :
Yusuf Wibisono.2007. Membedah Konsep dan Aplikasi
     CSR –Corporate Social Responsibility. Fascho
                  Publishing, Gresik
Implementasi CSR di perusahaan pada umumnya
dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu:
Pertama, terkait dengan komitmen pimpinannya.
Perusahaan dengan pemimpin yang memiliki
sensitifitas dan kepedulian sosial yang tinggi akan
memiliki komitmen tinggi terhadap CSR, begitu pula
sebaliknya.
Kedua, terkait dengan ukuran dan kematangan
perusahaan. Perusahaan yang besar dan stabil lebih
berpotensi untuk melaksanakan CSR.
Ketiga, regulasi dan sistem perpajakan yang diatur
pemerintah. Semakin kondusif regulasi dan semakin
besar insentif pajak yang diberikan, akan lebih
berpotensi memberi semangat kepada perusahaan
untuk berkonstribusi kepada masyarakat.
A. Arti Penting CSR
   Ada tiga alasan penting mengapa perusahaan harus
   mengembangkan isu tanggung jawab sosial sejalan
   dengan operasi usahanya.
1. Perusahaan adalah bagian dari masyarakat sehingga
   harus memperhatikan kepentingan masyarakat.
   Kegiatah sosial ini berfungsi sebagai kompensasi atau
   upaya timbal balik atas penguasaan sumber daya alam
   dan sumber adaya ekonomi oleh perusahaan yang
   kadang bersifat ekspansif atau eksploratif.
2. Kalangan bisnis dan masyarakat sebaiknya memiliki
   hubungan simbiosa mutualisme. Hal tersebut penting
   untuk mewujudkan harmonisasi hubungan dan erat
   kaitannya dengan citra dan performa perusahaan.
3.   Kegiatan tanggung jawab sosial merupakan salah satu
     cara untuk meredam atau bahkan menghindari konflik
     sosial. Potensi konflik itu bisa akibat dari operasional
     perusahaan atau akibat kesenjangan struktural dan
     ekonomis yang timbul antara masyarakat dengan
     komponen perusahaan.
B. Beberapa Alasan Implementasi CSR oleh
  Perusahaan
  Ada tiga kategori alasan perusahaan melaksanakan
  CSR, yaitu:
  Pertama, karena alasan keterpaksaan, maksudnya CSR
  dipraktekan karena adanya dorongan eksternal.
  Misalnya, tanggung jawab PT. Lapindo Brantas kepada
  para korban lumpur di Sidoarjo terjadi karena adanya
  faktor lingkungan dan faktor sosial.
  Selain itu, CSR yang diterapkan untuk dorongan
  membangun citra perusahaan (faktor reputasi). Misalnya
  berbagai bentuk program CSR yang diarahkan untuk
  membentuk citra atau opini publik yang positif.
Kedua, karena alasan pemenuhan kewajiban,
maksudnya CSR dipraktekan karena adanya regulasi,
hukum dan aturan yang memaksanya. Misalnya yang
terjadi pada perusahaan-perusahaan di Amerika.
Selain itu, CSR yang diterapkan karena adanya
penghargaan atau reward yang diberikan oleh segenap
institusi atau lembaga. Misalnya CSR award.

ketiga, karena alasan tanggung jawab sosial yang tulus.
Maksudnya CSR diaplikasikan dengan kesadaran
perusahaan terhadap tanggung jawab sosial dan
lingkungan.
B. Benefit Implementasi CSR
    Ada beberapa keuntungan yang bisa diraih
    perusahaan dari penerapan program CSR, yaitu:
1. Mempertahankan atau mendongkrak reputasi dan
    brand image perusahaan
2. Layak mendapatkan social license to operate
3. Mereduksi resiko bisnis perusahaan
4. Melebarkan akses sumber daya
5. Membentangkan akses menuju market
6. Mereduksi biaya
7. Memperbaiki hubungan dengan stakeholder
Rogovsky menyusun manfaat keterlibatan komunitas-
perusahaan adalah sebagai berikut:
                    Komunitas pada Perusahaan
•   Reputasi dan citra lebih baik
•   Lisensi untuk beroperasi secara sosial
•   Bisa memanfaatkan pengetahuan dan tenaga kerja lokal
•   Keamanan yang lebih besar
•   Infrastruktur dan lingkungan sosial ekonomi yang lebih baik
•   Menarik dan menjaga personel yang kompeten untuk memiliki
    komitmen yang tinggi
•   Menarik tenaga kerja, pemasok, pemberi jasa, dan pelangan
    lokal yang bermutu
•   Laboratorium pembelajaran untuk inovasi organisasi
                 Perusahaan pada Komunitas
•   Peluang penciptaan kesempatan kerja, pengalaman
    kerja dan pelatihan
•   Pendanaan investasi komunitas pengembangan
    infrastruktur
•   Keahlian komersial
•   Kompetisi teknis dan personal individual pekerja yang
    terlibat.
•   Representatif bisnis sebagai jurus promosi bagi
    prakarsa-prakarsa komunitas.
Rogovsky menunjukan profil organisasi yang menjalankan
konsep tanggung jawab social ( CSR), seperti berikut:
1. Pendekatan yang menggabungkan nilai dan strategi
   organisasi yang mampu memadukan antara etika
   korporat yang ada, yang berkenaan dengan keterlibatan
   komuniatas yang besar dengan strategi baru.
2. Yakin bahwa keberhasilan korporat hanya bisa dicapai
   bila komunitasnya pun berhasil.
   Tingginya kinerja perusahaan-perusahaan ditunjukan
   dengan adanya hubungan simbiotis antara keberhasilan
   organisasi dan kesejahteraan komunitas.
3. Derajat intensitas tinggi
   Memprioritaskan intensitas keterlibatan komunitas
   organisasi dan menyelaraskan tindakan-tindakan yang
   menunjang komitmen keterlibatan komunitas itu.
8. Memperbaiki hubungan dengan regulator
9. Meningkatkan semangat dan produktifitas karyawan
10. Peluang mendapatkan penghargaan
4. Derajat Integrasi Tinggi
   Integrasi berarti communty relations dan kontribusi
   dijalankan secara bersama-sama dengan tujuan
   komplementer dan tanggung jawab komunitas dijalankan
   semua divisi opersional.
5. Program yang responsif terhadap stakeholder komunitas
   Organisasi bersikap proaktif dan para manajer
   menjalankan kegiatan yang berempati pada komunitas.
6. Pendekatan kesatuan dalam perencanaan program
   Mengakui bahwa setiap lokasi dan kelompok bisnis
   mungkin saja membutuhkan serangkaian program yang
   tepat untuk setiap lokasi dan kelompok bisnis.
7. Kemampuan dalam manajemen perubahan
   Manajer corporate community relations adalah agen
   perubahan yang trampil dan membuat organisasi bisa
   menerima perubahan yang terjadi pd komunitas dan
   masyarakat.
8. Mendukung beberapa kegiatan
   Perusahaan menyadari bahwa akan muncul dampak
   yang lebih besar bila perusahaan mendukung beberapa
   isu yang sedang berkembang.
9. Secara aktif bermitra dengan organisasi non profit
   Perusahaan bekerjasama dengan organisasi pendukung
   untuk bersama-sama merumuskan tujuan , bukan hanya
   sekedar memberikan uang pada organisasi itu.
   PERTEMUAN 12

  BENTUK PROGRAM
COMMUNITY RELATIONS
                       Referensi:
Yosal Iriantara, 2004, Community Relations, Simbiosa
       Rekatama Media, Bandung. Hal 161 - 179
   Semenjak diberlakukan otonomi daerah di Indonesai,
   tuntutan komunitas lokal      pada organisasi bisnis
   meningkat. Komunitas lokal memiliki beberapa tuntutan,
   seperti memprioritaskan tenaga kerja lokal, memberikan
   bantuan pada komunitas lokal atau menuntut
   pembangunan fasilitas sosial.

   Adapun harapan komunitas       yang   harus   dipahami
   perusahaan adalah
1. Income atau pendapatan,
2. Kontribusi perusahaan
3. Kebanggaan
A.   Kemitraan Bisnis-Komunitas

     Kemitraan dikembangkan sebagai wujud keterlibatan
     komunitas organisasi bisnis dan organisasi bisnis
     memandang dirinya bukan sekedar mesin ekonomi
     yang bekerja untuk mendapatkan keuntungan tapi
     juga memandang dirinya sebagai institusi sosial yang
     bisa memberikan manfaat secara sosial.

     Ada tiga bentuk pola kemitraan, yaitu:
1.   Pola kemitraan Kontra Produktif
2.   Pola kemitraan Semi produktif
3.   Pola kemitraan Produktif
• Pola kemitraan kontra produktif
  Pola ini terjadi jika perusahaan masih berpijak pada pola
  konvensional yang hanya mengutamakan kepentingan
  shareholders (pemegang saham). Fokus perusahaan
  bertumpu pada usaha meraih keuntungan yang sebesar-
  besarnya sehingga hubungan perusahaan, pemerintah
  dan masyarakat hanya sekedarnay.
  perusahaan berjalan dengan targetnya sendiri,
  pemerintah tidak peduli dan masyarakat tidak
  mempunyai akses kepada perusahaan.
• Pola kemitraan semi produktif
  Pola kemitraan perusahaan dan komunitas ini masih
  mengacu pada kepentingan jangka pendek. Pemerintah
  dan masyarakat dianggap sebagai objek. Kemitraan
  masih belum strategis dan masih mengedepankan
  kepentingan diri perusahaan, bukan kepentingan
  bersama anatara perusahaan dengan mitranya.

• Pola kemitraan produktif
  pola kemitraan ini menempatkan mitra sebagai objek
  dan dalam paradigma simbiosa mutualisme.
   Dengan mengutip Criss Gribben, Rogovsky
   menunjukan tahapan-tahapan dalam pengembangan
   model kemitraan antara bisnis dan komunitas seperti
   berikut ini:
                          Tahap I
a. Pihak- pihak bermitra berkumpul untuk merumuskan
   kebutuhan bersama.
b. Bila pihak yang bermitra belum pernah bekerjamasama
   maka pihak-pihak bermitra itu mengawali dengan proses
   mengatasi perbedaan
c. Mungkin ada kebutuhan pelatihan untuk membangun
   pihak-pihak yang bermitra bisa beroperasi secara efektif

                         Tahap II
a. Lewat proses dialog dan diskusi, pihak-pihak yang
   bermitra membentuk landasan bersama dan berupaya
   menemukan visi dan misi yang disepakati bersama.
b. Kelompok inti awal dari pihak-pihak bermitra
   menyepakati perlunya melibatkan lebih banyak orang
   dan lebih banyak organisasi.
c. Pihak-pihak     yang     bermitra     mengembangkan
   mekanisme untuk mengkaji kebutuhan dan ukuran
   tindakan yang diusulkan untuk dilaksanakan
d. Pihak-pihak bermitra memadukan informasi yang
   diperoleh dari kajian kebutuhan dengan visi dan misi
   untuk menyusun agenda kegiatan

                           Tahap III
a. Merancang dan menjalankan kerangka kerja formal dan
   struktur organisasi kemitraan
b. Pihak-pihak yang bermitra menyusun tujuan, sasaran,
   dan objektif tertentu terkait dengan agenda kegiatan
c. Bila memadai, eksekutif kemitraan menunjuk atau
   memilih tim manajemen (meski hanya seorang) untuk
   mengawasi pelaksanaan pekerjaan.

                          Tahap IV
a. Kemitraan menyampaikan rencana aksi, baik berupa
   pemberian layanan maupun beberapa fungsi lain.
b. Eksekutif kemitraan berupaya untuk menjaga
   keterlibatan-pihak-pihak yang bermitra , merumuskan
   kebijakan dan menjamin berjalannya akuntabilitas
   kemitraan
c. Ada proses yang terus berlangsung untuk menilai
   mengevaluasi dan menyempurnakan operasi kemitraan
                       Tahap V:
a. Bila diperlukan, para pihak yang bermitra hendak
   menyusun strategi penghentian kemitraan (exit stratgy).
   Strategy ini mencakup penyusunan sejumlah tujuan
   baru untuk mempertahankan dan melanjukan tugas
   kemitraan
b. Pihak-pihak yang bermitra sebaiknya menciptakan
   hidup sesudah mati dengan mengalihkan kembali aset-
   aset kemitraan pada komunitas tempt kemitraan
   dijalankan
B. Pengembangan Masyarakat

Bentuk lain kegiatan community relations yang dilakukan
organisasi bisnis adalah pengembangan masyarakat
(community development). Dimana masyarakat adalah
partisipan sekaligus pemetik manfaat (beneficiaries) dari
pembangunan. Kindervatter menyatakan komponen dari
pengembangan masyarakat adalah :
a. Berorientasi pada kebutuhan baik material maupun non
   material.
b. Memanfaatkan kesejatian (endogenous) masyarakat
   setempat termasuk visi dan misi tentang masa depan
c. Mandiri yang berarti mendasarkan pada kekuatan dan
   sumber daya yang dimiliki.
d. Bersifat ekologis yang memanfaatkan sumber daya secara
   rasional dan penuh kesadaran.
e. Didasarkan pada transformasi struktural yang berarti
   adanya perubahan dalam relasi sosial, kegiatan ekonomi
   dan struktur kekuasaan.

  Metode yang digunakan untuk pengembangan masyarakat
  ini adalah PRA ( Participatory Rural Appraisal)
  PRA adalah pendekatan dan metode yang mendorong
  masyarakat pedesaan untuk turut serta meningkatkan dan
  menganalisis pengetahuan mereka mengenai hidup dan
  kondisi mereka sendiri agar mereka membuat rencana dan
  tindakan(Robert Chambers).
PRA dijalankan dengan berpegang pada prinsip-prinsip
dasar berikut ini:
1. Mengutamakan mereka yang terabaikan
2. Pemberdayaan (penguatan) masyarakat
3. Masyarakat sebagai pelaku, orang luar sebagai fasilitator
4. Saling belajar dan menghargai perbedaan
5. Santai dan informal
6. Triangulasi
7. Mengoptimalkan hasil
8. Orientasi praktis
9. Keberlanjutan dan selang waktu
10. Belajar dari kesalahan
11. Terbuka pada perubahan
Bahwa praktik community relations yang bernuansa
kegiatan amal atau filantrofis dewasa ini mulai bergeser
menjadi kegiatan strategis. Bukan lagi memberi melainkan
bersama-sama mengembangkan, sehingga keberlanjutan
organisasi menjadi terjaga.
Wujud tanggung jawab sosial korporat itu akhirnya
memang bermuara pada pembuatan laporan sosial untuk
mencerminkan transparansi dan akuntabilittas. Namun apa
yang dilaporkan tentu saja merupakan kegiatan nyata yang
dikembangkan dan dijalankan oleh organisasi bisnis
bersama-sama dengan komunitas sekitarnya.
      PERTEMUAN 13
PROSES COMMUNITY RELATIONS
                    Referensi :
Yosal Iriantara, 2004.Community relations, Simbiosa
       Rekatama Media. Bandung. Hal 73-91
        Proses PR dalam Community Relations

Community relations pada dasarnya adalah kegiatan PR
maka langkah-langkah dalam proses PR pun mewarnai
langkah-langkah daam community relations
Fokus kegiatan community relations adalah permasalahan
yang dihadapi komunitas, bukan permasalahan yang
dihadapi organisasi. Namun dampak dari penyelasaian
permasalahan yang dihadapi komunitas itu akan dirasakan
juga oleh organisasi.
Proses kegiatan community relations bisa dipandang
berdasarkan dua pendekatan :
Pertama, dalam konsep PR lama yang memposisikan
organisasi sebagai pemberi donasi, maka program
community relations hanyalah bagian dari aksi dan
komunikasi dalam proses PR.
Kedua,pendekatan dengan memposisikan komunitas
sebagai mitra dan konsep komunitasnya bukan sekedar
kumpulan orang yang berdiam disuatu wilayah operasi
organisasi. Disini organisasi menampilkan sisi dirinya
sebagai satu lembaga sosial yang bersama-sama dengan
komunitas berusaha memecahkan permasalahan yang
dihadapi komunitas. Baik organisasi dan komunitas
bersama-sama mengerahkan sumber daya yang
dimilikinya untuk memecahkan masalah dan mencapai
tujuan bersama.
Dengan pendekatan yang kedua maka tahapan dalam
proses kegiatan community relations organisasi melalui
tahapan-tahapan sebagai berikut:
1. Pengumpulan fakta
Pengumpulan fakta permasalahan sosial yang ada dapat
ditemukan dari berbagai sumber seperti media massa, data
statistik, obrolan warga masyarakat, keluhan langsung dari
warga masyarakat atau hasil penelitian dan laporan dari
lembaga sosial masyarakat (LSM/NGO).
2. Perumusan Masalah
Masalah adalah adanya kesenjangan antara apa yang
diharapkan       dengan    yang     dialami, yang    untuk
menyelesaikannya diperlukan kemampuan menggunkan
pikiran dan ketrampilan secara tepat.
Dalam merumuskan masalah itu kita mulai memfokuskan pada
komunitas organisasi apakah komunitasnya berdasarkan
lokasi     atau dipandang sebagai struktur interaksi maka
komunitas lepas dari pertimbangan kewilayahan, tetapi lebih
pada pertimbangan kesamaan kepentingan.
3. Perencanaan dan Pemrograman
Perencanaan adalah suatu perkiraan yang didasarkan
pada fakta dan informasi tentang sesuatu yang akan
terwujud atau terjadi nanti.
Untuk bisa mewujudkan apa yang diperkirakan maka
dibuatlah suatu program. Program merupakan cara cara
untuk mecapai tujuan tersebut. Setiap program biasanya
diisi dengan berbagai kegiatan. Kegiatan sebagai bagian
dari program merupakan langkah-langkah yangditempuh
untuk mewujudkan program guna mencapai tujuan yang
sudah ditetapkan.
4. Aksi dan Komunikasi
Aspek aksi dan komunikasi inilah yang menjadi watak yang
membedakan kegiatan community relations dalam konteks
PR dan bukan PR. Watak PR-nya ditampilkan lewat
kegiatan komunikasi. Dalam community relations selalu
ada aspek bagaimana menyusun pesan yang ingin
disampaikan kepada komunitas serta melalui media apa
dan dengan cara bagaimana.
Sedangkan aksi sebagai implementasi program yang
sudah direncanakan pada dasarnya sama saja dengan
implementasi program apapun.
5. Evaluasi
Evaluasi merupakan keharusan dalam konteks community
relations perlu diingat bahwa evaluasi bukan hanya
dilakukan terhadap penyelengaraan program atau
kegiatannya belaka, melainkan juga dievaluasi bagaimana
sikap komunitas terhadap organisasi, Evaluasi sikap publik
itu diperlukan karena pada dasarnya community relations
ini meski merupakan tanggung kawab sosial organisasi
tetap merupakan kegiatan PR.
C. Langkah-Langkah Community Relations.
Kegiatan community relations saat ini tidaklah lagi
dimaknai sebagai kegiatan filantropis yang memosisikan
organisasi seolah-olah seorang dermawan yang membagi-
bagi uang dan barang pada komunitas, sehingga
komunitas merasakan ada manfaat kehadiran organisasi
ditengah lingkungannya hanya melalui pemberian dari
organisasi itu.
Menurut Waddock dan Boyle, kini pendekatan yang
digunakan dituntut untuk bersifat “strategis”. Prgroam
community relations organisasi kini bukan lagi sekedar
penyangga antara organisasi dan lingkungannya
melainkan       menjalankan     fungsi   yang     mesti
mengintegrasikan kepentingan-kepentingan stake holder,
khususnya karyawan dan komunitas kedalam kepentingan
organisasi.
Dengan perubahan pendekatan yang ada maka membutuh
kan staff PR yang menangani community relations adalah
orang yang memiliki pengetahuan yang komprehensif
mengenai       komunitas    lokal,   kebutuhan-kebutuhan
komunitas itu, memiliki keahlian menangani organisasi
serta sifat bisnis dan teknologi orgnisasi komunitas lokal
yang sangat beragam.
Hal lain yang juga harus diperhatikan adalah bagaimana
organisasi dipandang oleh komunitasnya, karena hal ini
akan sangat menentukan langkah-langkah membangun
hubungan dengan komunitas tersebut.
Robert DeMartinis menjelaskan langkah-langkah dalam
community relations bagi organisasi non profit sebagai
berikut :
1. Merumuskan komunitas organisasi dan berbagai
   kelompok yang ada didalamnya.
2. Menentukan tujuan program community relations
   organisasi apa yang ingin dicapai organisasi pada
   masing-masing kelompok dalam komunitas tersebut.
3. Menyusun pesan yang hendak disampaikan
4. Memilih metode yang paling baik dalam penyampaian
   pesan.
5. Melaksanakan Program community relations
6. Menganalisis hasil
 Liz Brown, selanjutnya menguraikan langkah-langkah
community relations untuk organisasi bisnis yaitu;
1. Segmentasi
   Dimana publik sasaran komunitas dibagi dan
   diidentifikasi berdasarkan, demografi ataupun psikografi.
2. Skala prioritas
   Didasarkan pada komunitas yang paling memiliki
   kekuatan untuk mendukung atau menghambat
   pencapaian tujuan bisnis organisasi.
3. Penelitian
   Untuk mengetahui bidang perhatian utama dikalangan
   komunitas yang menjadi sasaran diperlukan adanya
   suatu penelitan.
4. Pemuka Pendapat pada kelompok sasaran
   Cara lain mengetahui dan memahami permasalahan
   komunitas adalah dengan berbicara pada pemuka
   pendapatnya.
5. Penyelarasan
   Perlunya penyelarasan terhadap permasalahan yang
   dihadapi dan harapan yang dirasakan komunitas
   terhadap organisasi, begitu juga sebaliknya tujuan
   organisasi dengan permasalahan komunitas.
  Perbedaan Langkah CR organisasi profit dan non profit

                 Organisasi Non Profit         Organisasi Bisnis
Fokus utama   Melalui kegiatan             Dukungan komunitas untuk
              komunikasi untuk             mencapai tujuan organisasi
              mendapatkan dukungan dari
              komunitas untuk
              menjalankan roda
              organisasi agar mampu
              menjalankan tugsanya
              memberikan pelayanan
              kepada publik yang menjadi
              sasaran kegiatan
Kegiatannya   Kampanye komunikasi          Tidak hanya kampanye
                                           komunikasi , tetapi juga
                                           memberikan bantuan
                                           modal, bantuan manajemen,
                                           fasilitas kesehatan,
                                           pendidikan dll
Dengan demikian untuk melakukan kegiatan cummnity
relations harus dipahami terlebih dahulu waktak organisasi ;
apakah organisasi non profit ataukah organisasi bisnis yang
berorientasi pada pencarian keuntungan. Perbedaan watak
akan membawa pada perbedaan dalam jenis kegiatan yang
akan dilakukan organisasi.
Dikembalikan proses PR sebagai induk program maka pada
dasarnya langkah-langkah community relations baik untuk
organisasi nonprofit maupun organisasi bisnis sama saja.
Langkah-langkah yang berbeda pada kedua jenis orgnisasi
pada dasarnya lebih disebabkan perbedaan watak
organisasi.
D. Kebijakan Community Relations
Community relations merupakan sebuah program yang
dilandasi    kebijakan  (policy)  organisasi.  Dengan
memandang community relations sebagai kebijakan maka
bisa tampak seberapa besar dan seberapa jauh komitmen
organisasi terhadap komunitas.
Menurut Wheelen dan Hunge, kebijakan merupakan
pedoman umum untuk mengambil keputusan pada seluruh
organisasi.
McLaughlin menyatakan kebijakan memiliki makna ganda.
Kebijakan bisa berupa “kerangka kerja yang menjadi
pedoman pengambilan keputusan dalam hal tertentu dan
menunjukan maksud-maksud yang lebih besar” dan bisa
pula berupa” rencana umum tindakan”.
Bila program community relations organisasi dijalankan
sebagai satu kebijakan organisasi maka program tersebut
akan memiliki landasan yang kokoh untuk dijalankan.
Karena kebijakn tersebut merupakan penjabaran dari
strategi umum yang dijalankan satu organisasi untuk
mencapai tujuannya.Kalaupun ada perubahan tapi bukan
hal yang mendasar melainkan lebih merupakan
penyesuaian.
Kecuali terjadi tekanan eksternal atau internal yang
selanjutnya memaksa organisasi merubah kebijakan
strategi organisasinya otomatis juga akan merubah
kebijakan organisasi termasuk didalamya program
community relations.
   Lubna Forzley menyatakan, ada lima hal penting yang
   dalam pelaksanaan program Community Relations
   dengan pendekatan strategis, yaitu bahwa:
1. Tanpa keterlibatan semua pihak, tidak akan ada yang
   tercapai.
2. Keterlibatan komunitas secara strategis selalu
   memberikan hasil yang terbaik bagi semua pihak.
3. Keterlibatan komunitas secara strategis menghasilkan
   visibilitas yang baik.
4. Keterlibatan komunitas secara strategis menghasilkan
   peningkatan pengembangan kapasitas.
5. Keterlibatan komunitas secara strategis
   mempersyaratkan adanya proses dan sistem
   pengukuran

								
To top