Docstoc

MENGENAL LEBIH JAUH TENTANG STUDI KASUS _TUGAS_

Document Sample
MENGENAL LEBIH JAUH TENTANG STUDI KASUS _TUGAS_ Powered By Docstoc
					Studi Kasus (Case Studies) sebagai Metode Penelitian
              Makalah Ini Disusun Guna Memenuhi
    Mata Kuliah: Metodologi Penelitian Pendidikan Islam
      Dosen Pengampu: Dr. H. Muhammad Anis, M.A.




                        Disusun oleh:

Nama           : Zainul Arifin, S.Pd.I & Ari Susanto S.Pd.I
Prodi          : Pendidikan Islam (PI)
Konsentrasi    : Manj. & Kebijakan Pend. Islam (MKPI)




          PROGRAM PASCASARJANA
  UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUNAN KALIJAGA
                YOGYAKARTA
                    2011
A. Pendahuluan
       Jika mau mengamati hasil penelitian di perpustakaan yang telah terkumpul dalam
jilid, termasuk perpustakaan UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, maka di sana kita bisa
menemukan berbagai corak strategi dalam penelitian yang dipakai seseorang peneliti. Untuk
mengungkap sesuatu yang tersembunyi di dalam objek penelitian, tentunya diperlukan cara
yang paling tepat agar hasilnya juga baik. Dalam hal ini, seorang peneliti dapat memakai
salah satu strategi tertentu, di mana strategi tersebut dijadikan sebagai metode untuk
penelitiannya.
       Di antara beberapa strategi penelitian yang digunakan seorang peneliti, kemungkinan
kita akan menemukan apa yang namanya studi kasus (case studies). Dalam benak pun segera
terselip bermacam pertanyaan mengenainya. Pertanyaan yang sering muncul, apa yang
membedakan penelitian dengan strategi studi kasus dengan penelitian lainnya? Di sini, perlu
sedikit kita tahu bahwa metode case studies sangat tepat dipakai untuk memahami fenomena
tertentu di suatu tempat tertentu dan waktu yang tertentu pula, misalnya tentang metode
pengajaran mata kuliah metodologi penelitian pendidikan Islam di lembaga pendidikan
tertentu dalam waktu tertentu (yang masih dalam proses). Penelitian studi kasus menekankan
kedalaman analisis pada kasus tertentu yang lebih spesifik.
       Pertanyaan lain yang tidak kalah seringnya, apa hasil penelitian studi kasus bisa
digeneralisasi atau berlaku secara umum? Sejujurnya saya pribadi masih risau dengan
pertanyaan tersebut, sebab selain istilah generalisasi tidak dikenal dalam metode penelitian
kualitatif, hasil studi kasus memang tidak dimaksudkan untuk digeneralisasi karena
lingkupnya yang sempit.
       Bahwa studi kasus bukanlah suatu pemilihan metodologis, akan tetapi lebih sebagai
pilihan objek yang diteliti: kita memilih untuk meneliti—melakukan studi kasus. Studi kasus
diartikan sebagai metode atau strategi dalam penelitian untuk mengungkap kasus tertentu.
Ada juga pengertian lain, yakni hasil dari suatu penelitian sebuah kasus tertentu. Jika
pengertian pertama lebih mengacu pada strategi penelitian, maka pengertian kedua lebih pada
hasil penelitian. Dalam sajian pendek ini diuraikan pengertian yang pertama.
       Lebih lanjut, penelitian studi kasus memusatkan perhatian pada satu objek tertentu
yang diangkat sebagai sebuah kasus untuk dikaji secara mendalam sehingga mampu
membongkar realitas di balik fenomena sebab yang kasat mata hakikatnya bukan sesuatu
yang rill (realitas), itu hanya pantulan dari yang ada di dalam. Sebagaimana lazimnya
perolehan data dalam penelitian kualitatif, data studi kasus dapat diperoleh dari semua pihak
yang bersangkutan, baik melalui wawancara maupun dokumentasi. Data yang diperoleh dari
berbagai cara itu hakikatnya untuk saling melengkapi. Ada kalanya data yang diperoleh dari
wawancara belum lengkap, sehingga harus dicari lewat cara lain, seperti observasi dan
partisipasi.
        Berbeda dengan metode penelitian kuantitatif yang menekankan pada jumlah atau
kuantitas sampel dari populasi yang diteliti, sebaliknya penelitian model studi kasus lebih
menekankan kedalaman pemahaman atas masalah yang diteliti. Karena itu, metode studi
kasus dilakukan secara intensif, terperinci, dan mendalam terhadap suatu gejala atau
fenomena tertentu dengan lingkup yang sempit. Kendati lingkupnya sempit, dimensi yang
digali harus luas, mencakup berbagai aspek hingga tidak ada satu pun aspek yang tertinggal.
Oleh karena itu, di dalam studi kasus sangat tidak relevan pertanyaan-pertanyaan, seperti
berapa banyak subjek yang diteliti, berapa sekolah, dan berapa banyak sampel dan
sebagainya. Perlu diperhatikan bahwa sebagai varian penelitian kualitatif, penelitian studi
kasus lebih menekankan kedalaman subjek ketimbang banyaknya jumlah subjek yang diteliti.
Sebagaimana sifat metode penelitian kualitatif pada umumnya, metode studi kasus juga
sebaiknya dilakukan terhadap peristiwa atau gejala yang sedang berlangsung. Bukan gejala
atau peristiwa yang sudah selesai (ex post facto). Unit of analysis bisa berupa individu,
kelompok, institusi, atau masyarakat.1
        Umumnya, penelitian hanya berakhir pada temuan substantif, yakni ketika masalah
yang diajukan telah dijawab berdasarkan data. Padahal, masih ada satu tahap lagi yang harus
dilalui jika diharapkan penelitian menjadi karya ilmiah yang baik, yaitu tahap temuan formal,
berupa thesis statement dari hasil abstraksi temuan substantif.


B. Pengertian Studi Kasus (Case Studies)
        Sebelum membahas lebih lanjut tentang bagaimana aplikasi dari studi kasus (case
studies), alangkah lebih baik jika diperdalam terlebih dahulu apa yang dimaksud studi kasus
itu sendiri. Banyak definisi berbeda dilontarkan seseorang mengenai studi kasus. Suatu hari,
di kampus X penulis mencoba menanyakan apa yang diketahui tentang definisi studi kasus
kepada beberapa dosen yang penulis temui secara accidental. Hasilnya, bervariasi. Ada yang
menjawab dengan sederhana dan ada yang menjawab di luar dugaan yang menunjukkan
persepsi masing-masing tentang apa sebenarnya studi kasus. Dosen pertama menjawab, “Apa
pun penelitian terhadap apa pun yang disepakati sebagai ‘kasus’ maka itulah yang dimaksud

        1
         Denzin, N.K. and Lincoln, Y.S., Handbook of Qualitative Research. Terjemahan oleh Dariyatno dkk.
(Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2009), hlm. 301.
studi kasus. Jadi, jika publik melabeli peristiwa bom buku sebagai kasus maka penelitian
terhadap peristiwa tersebut adalah studi kasus.
        Kemudian, penulis bertemu dosen lain dan setelah ditanya, dosen yang lain tersebut
jawabnya, “Studi kasus itu seperti penelitian jenis lain tapi yang membedakan adalah jumlah
responden yang diteliti sedikit (satu atau dua).” Hemat saya ini adalah cara pembedaan yang
ekstrem dari penelitian studi kasus dengan jenis penelitian lainnya.
        Pada hari yang lain kemudian penulis menjumpai dosen yang berbeda dan
menanyakan hal yang sama, dan dosen tersebut menjawab bahwa studi kasus adalah
penelitian yang mendalam, susah pelaksanaannya.
        Istilah “studi kasus” berasal dari bahasa Inggris dari frase “case study”. Jika di urai
kata “case” dan “study” maka keduanya mempunyai arti dan makna sendiri. “Case”, dalam
Kamus Oxford dimaknai sebagai example of the occurrence of something; set of facts; matter
being investigated by the police; jika diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia: contoh
kejadian sesuatu, serangkaian kenyataan-kenyataan, dan perihal yang sedang di periksa
polisi. Sedang kata “study” dimaknai oleh kamus tersebut sebagai process of learning
something; book etc, resulting from research; give time and attention to learning something;
examine carefully; yang dapat diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia sebagai serangkaian
kegiatan mempelajari sesuatu; buku dll hasil penelitian; mencurahkan waktu dan perhatian
untuk mempelajari sesuatu; memeriksa dengan saksama.2 Mencermati makna dua kata
tersebut maka kiranya dapat ditarik kesimpulan bahwa yang dimaksud studi kasus (case
study) adalah serangkaian kegiatan yang dilakukan dengan sungguh-sungguh dengan penuh
perhatian terhadap sesuatu fenomena aktual yang menjadi fokus perhatian.
        Dalam konteks penelitian, beberapa ahli telah menyampaikan pendapat dan
mengajukan definisi studi kasus. Aziz S.R. menyatakan bahwa penelitian yang terinci tentang
seseorang (individu) atau sesuatu unit sosial selama kurun waktu tertentu disebut studi kasus.
Lebih tegas, Aziz menambahkan bahwa penelitian studi kasus adalah penelitian terhadap
fenomena dalam konteks kehidupan nyata, bilamana batas-batas antara fenomena dan
konteks tak tampak dengan tegas; dan di mana: multi sumber bukti dimanfaatkan.3
        Untuk memahami lebih jauh tentang studi kasus dengan lugas Feagin, Orum, dan
Sjoberg dalam Tellis menyatakan bahwa studi kasus merupakan penelitian yang melakukan


        2
           Oxford Learners Pocket Dictionary , (New York: University of Oxford Press, 1999).
        3
            Aziz. S.R.; Abdul, “Memahami Fenomena Sosial Melalui Studi Kasus”, dalam Bungin., Burhan.
Analisis Data Penelitian Kualitatif; Pemahaman Filosofis dan Metodologis ke Arah Penguasaan Model
Aplikasi, (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2003), hlm. 18–34.
analisis dari berbagai sudut pandang (multi-perspectives analyses).4 Artinya, bahwa peneliti
tidak saja memperhatikan suara dan perspektif dari aktor saja, tapi juga kelompok dari aktor-
aktor yang relevan dan interaksi antara mereka. Aspek ini merupakan titik yang menonjol dan
penting yang merupakan ciri-ciri dari studi kasus.
        Sedangkan studi kasus menurut Kumar adalah suatu pendekatan untuk meneliti
fenomena sosial melalui analisis kasus individual secara lengkap dan teliti, serta memberikan
suatu analisis yang intensif dari banyak rincian khusus yang sering terlewatkan oleh metode
penelitian lain. Pollit dan Hungler memaknai studi kasus sebagai metode penelitian yang
menggunakan analisis mendalam, yang dilakukan secara lengkap dan teliti terhadap seorang
individu, keluarga, kelompok, lembaga, atau unit sosial lain. Pendapat Pollit & Hungler
memperjelas lagi tentang esensi studi kasus: “…karena harus tepat untuk analisis yang
intensif, maka fokus studi kasus khususnya adalah pada penentuan dinamika mengapa
seseorang berpikir, berperilaku, atau mengembangkan diri dan bukan pada apa statusnya,
kemajuannya, tindakannya atau pikirannya.”5
        Secara umum, studi kasus merupakan strategi yang lebih cocok bila pokok pertanyaan
suatu penelitian berkenaan dengan how atau why, bila peneliti hanya memiliki sedikit peluang
untuk mengontrol peristiwa-peristiwa yang akan diselidiki, dan bilamana fokus penelitiannya
terletak pada fenomena kontemporer (masa kini) di dalam konteks kehidupan nyata.6


C. Langkah-langkah Pelaksanaan Studi Kasus
        Kita perlu mengetahui pokok-pokok keterampilan dari orang yang melakukan studi
kasus tersebut terlebih dahulu sebelum masuk lebih dalam. Di sini, Robert K. Yin juga
menyempatkan diri untuk membagi, sebagaimana berikut:
   Seseorang      harus    mampu       mengajukan        pertanyaan-pertanyaan        yang     baik    dan
    menginterpretasikan jawaban-jawabannya.
   Seseorang harus menjadi ”pendengar” yang baik dan tak terperangkap oleh ideology atau
    prakonsepsinya sendiri.
   Seseorang hendaknya mampu menyesuaikan diri dan fleksibel agar situasi yang baru
    dialami dapat dipandang sebagai peluang dan bukan ancaman.


        4
          Tellis., Winston, “Application of a case study methodology” (Online) The Qualitative Report. Vol,3
Number 3, September. Available at: http://www.nova.edu/ssss/QR/QR-3/tellis2.html). Di akses pada: 20 April
201.
        5
          A. Zani, “Seri 1 Studi Kasus”, di akses di http://www.poltekkes-malang.ac.id pada 20 April 2011.
        6
          Prof. Dr. Robert K. Yin, Studi Kasus; Desain dan Metode, (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2006),
hlm. 2.
   Seseorang harus memiliki daya tangkap yang kuat terhadap isu-isu yang akan diteliti,
    apakah hal ini berupa orientasi teoritis atau kebijakan, ataupun bahkan berbentuk
    eksploratoris. Daya tangkap seperti itu mengurangi peristiwa-peristiwa yang relevan dan
    informasi yang harus dipilih ke arah proporsi yang bisa dikelola.
   Seseorang harus tidak bias oleh anggapan-anggapan yang sudah ada sebelumnya;
    termasuk anggapan-anggapan yang diturunkan dari teori. Karena itu, seseorang harus
    peka dan responsive terhadap bukti-bukti yang kontradiktif.7
       Setelah memenuhi beberapa pokok di atas, maka seorang peneliti selanjutnya
melakukan langkah-langkah, dalam hal ini prosedur yang pertama kali dilakukan peneliti,
yakni pengumpulan data. Ini semua tentunya dilaksanakan setelah urusan penentuan kasus
telah ditemukan. Untuk memperoleh pengetahuan secara mendalam, data studi kasus dapat
diperoleh tidak saja dari kasus yang diteliti, tetapi juga dari semua pihak yang mengetahui
dan mengenal kasus tersebut dengan baik. Data atau informasi bisa dari banyak sumber,
tetapi perlu dibatasi hanya pada kasus yang diteliti. Untuk memperoleh informasi yang
mendalam terhadap sebuah kasus, maka diperlukan informan yang andal yang memenuhi
syarat sebagai informan, yakni maximum variety, yakni orang yang tahu banyak tentang
masalah yang diteliti, kendati tidak harus bergelar akademik tinggi.
       Sebagaimana sifat metode penelitian kualitatif pada umumnya, metode studi kasus
juga sebaiknya dilakukan terhadap peristiwa atau gejala yang sedang berlangsung, bukan
gejala atau peristiwa yang sudah selesai (ex post facto). Enam sumber bukti yang dapat
dijadikan fokus bagi pengumpulan data studi kasus, antara lain8: pertama, dokumentasi.
Terkecuali untuk penelitian tentang masyarakat yang belum mengenal baca-tulis, informasi
dokumenter tentunya relevan untuk setiap topik studi kasus. Tipe informasi ini bisa
menggunakan berbagai bentuk dan hendaknya menjadi objek rencana-rencana pengumpulan
data yang eksplisit. Sebagai contoh, pertimbangkan jenis dokumen-dokumen berikut ini:
   Surat, memorandum, dan pengumuman resmi.
   Agenda, kumpulan-kumpulan pertemuan, dan laporan-laporan peristiwa tertulis lainnya.
   Dokumen-dokumen administratif-proposal, laporan kemajuan, dan dokumen-dokumen
    intern lainnya .
   Penelitian-penelitian atau evaluasi-evaluasi resmi pada “situs” yang sama.
   Kliping-kliping baru dan artikel-artikel lain yang muncul di media massa.

       7
           Ibid…, hlm. 68.
       8
           Ibid..., hlm. 67.
        Manfaat dari tipe-tipe dokumen ini dan yang lain tidaklah selalu disandarkan pada
keakuratan atau kekurang-biasannya. Dokumen perlu digunakan secara hati-hati dan tidak
asal diterima sebagaimana adanya dari tempat pengambilannya.
        Kedua, rekaman arsip. Pada banyak studi kasus, rekaman arsip—sering kali dalam
bentuk komputerisasi—bisa merupakan hal yang relevan, ini meliputi:
   Rekaman layanan, seperti jumlah klien yang dilayani dalam suatu periode waktu tertentu.
   Rekaman keorganisasian, seperti bagan dan anggaran organisasi pada periode waktu
    tertentu.
   Peta dan bagan karakteristik geografis suatu tempat.
   Daftar nama dan komoditi lain yang relevan.
   Data survei, seperti rekaman atau data sensus yang terkumpul sebelumnya di sekitar
    “situs”.
   Rekaman-rekaman pribadi, seperti buku harian, kalender dan daftar nomor telepon.
        Rekaman-rekaman arsip ini dan lainnya dapat digunakan bersama-sama dengan
sumber-sumber informasi yang lain dalam pelaksanaan studi kasus. Namun demikian, tak
seperti bukti dokumenter, kegunaan rekaman arsip akan bervariasi pada satu studi kasus dan
lainnya. Pada beberapa penelitian, rekaman tersebut begitu penting sehingga bisa menjadi
objek perolehan kembali dan analisis yang luas. Pada penelitian-penelitian lainnya, rekaman
mungkin hanya sepintas relevansinya.
        Ketiga, wawancara. Salah satu sumber informasi studi kasus yang sangat penting
ialah wawancara. Konklusi semacam ini mungkin mengejutkan, karena adanya asosiasi yang
sudah terbiasa antara wawancara dan metodologi survei. Namun demikian, wawancara
memang merupakan sumber informasi yang esensial bagi studi kasus.
        Wawancara bisa mengambil beberapa bentuk. Yang paling umum, wawancara studi
kasus bertipe open-ended, di mana peneliti dapat bertanya kepada responden kunci tentang
fakta-fakta suatu peristiwa di samping opini mereka mengenai peristiwa yang ada. Pada
beberapa situasi, peneliti bahkan bisa meminta responden untuk mengetengahkan
pendapatnya sendiri terhadap peristiwa tertentu dan bisa menggunakan proposisi tersebut
sebagai dasar penelitian selanjutnya.
        Keempat, observasi langsung. Dengan membuat kunjungan lapangan terhadap situs
studi kasus, peneliti menciptakan kesempatan untuk observasi langsung. Dengan berasumsi
bahwa fenomena yang diminati tidak asli historis, beberapa pelaku atau kondisi lingkungan
sosial yang relevan akan tersedia untuk observasi. Observasi semacam itu berperan sebagai
sumber bukti lain bagi suatu studi kasus.
        Observasi tersebut dapat terbentang mulai dari kegiatan pengumpulan data yang
formal hingga yang kasual. Yang paling formal, protokol observasi dapat dikembangkan
sebagai bagian dari protokol studi kasus, dan peneliti yang bersangkutan bisa diminta untuk
mengukur peristiwa tipe perilaku tertentu dalam periode waktu tertentu di lapangan.
        Kelima, observasi partisipan. Peran-peran untuk berbagai penelitian ilustratif pada
lingkungan sosial dan organisasi tersebut telah mencakup:
   Menjadi penduduk di lingkungan sosial yang bersangkutan sebagai pelaku studi kasus.
   Mengambil peran fungsional lainnya dalam suatu lingkungan sosial, seperti berperan
    sebagai pembantu pelayan toko.
   Berperan sebagai anggota staf dalam suatu latar organisasi.
   Menjadi pembuat keputusan kunci dalam suatu latar organisasi.
        Teknik observasi partisipan tersebut telah sering digunakan dalam penelitian-
penelitian antropologi kelompok budaya atau sub-budaya yang berbeda-beda. Teknik tersebut
juga dapat digunakan dalam latar sehari-hari, seperti organisasi-organisasi atau kelompok
kecil lainnya.
        Setelah data terkumpul maka peneliti akan melakukan analisis data tersebut,
semuanya, tanpa terkecuali. Analisis data terdiri atas pengujian, pengkategorian,
pentabulasian, ataupun pengombinasian kembali bukti-bukti untuk menunjuk proposisi awal
suatu penelitian. Menganalisis bukti studi kasus adalah suatu hal yang sulit karena strategi
dan tekniknya belum teridentifikasikan secara memadai di masa yang lalu. Namun begitu,
setiap peneliti hendaknya dimulai dengan strategi analisis yang umum yang mengandung
prioritas tentang apa yang akan dianalisis dan mengapa. Dalam strategi seperti itu, tiga teknik
analisis yang menentukan hendaknya dipergunakan, yaitu: penjodohan pola, pembuatan
penjelasan, dan analisis deret waktu.9 Masing-masing strategi ini dapat diaplikasikan baik
pada suatu penelitian yang mencakup desain kasus tunggal ataupun multikasus, dan setiap
studi kasus hendaknya mempertimbangkan teknik-teknik ini.
        Langkah terakhir, membuat laporan hasil penelitian. Dalam membuat laporan,
seorang peneliti hendaknya menulisnya secara komunikatif, mudah dibaca, dan
mendeskripsikan suatu gejala atau kesatuan sosial secara jelas, sehingga mempermudah


        9
                Tarsito,     Wahyono,      H.     2009.     Penelitian   Studi   Kasus.   Diakses   di
http://penelitianstudikasus.blogspot.com/ pada 25 April 2011.
pembaca untuk memahami seluruh informasi penting. Laporan diharapkan dapat membawa
pembaca ke dalam situasi kasus kehidupan seseorang atau kelompok.
        Ada beberapa ciri studi kasus yang baik, di antaranya: pertama, menyangkut sesuatu
yang luar biasa, yang berkaitan dengan kepentingan umum atau bahkan dengan kepentingan
nasional; kedua, batas-batasnya dapat ditentukan dengan jelas, kelengkapan ini juga
ditunjukkan oleh kedalaman dan keluasan data yang digali peneliti, dan kasusnya mampu
diselesaikan oleh penelitinya dengan baik dan tepat meskipun dihadang oleh berbagai
keterbatasan; ketiga, mampu mengantisipasi berbagai alternatif jawaban dan sudut pandang
yang berbeda-beda; keempat, studi kasus mampu menunjukkan bukti-bukti yang paling
penting saja, baik yang mendukung pandangan peneliti maupun yang tidak mendasarkan
prinsip selektifitas; kelima, hasilnya ditulis dengan gaya yang menarik sehingga mampu
terkomunikasikan pada pembaca.10


D. Penutup
        Bahwa dalam studi kasus hendaknya peneliti berusaha menguji unit atau individu
secara mendalam. Para peneliti berusaha menemukan semua variabel yang penting. Adapun
batasan studi kasus meliputi: sasaran penelitiannya dapat berupa manusia, peristiwa, latar,
dan dokumen; sasaran-sasaran tersebut ditelaah secara mendalam sebagai suatu totalitas
sesuai dengan latar atau konteksnya masing-masing dengan maksud untuk memahami
berbagai kaitan yang ada di antara variabel-variabelnya.
        Peneliti yang berbeda tentu memiliki tujuan-tujuan yang berbeda pula ketika mengkaji
kasus. Agar selalu ingat dengan perbedaan ini, ada baiknya kita mengidentifikasi tiga jenis
kajian : Studi kasus intrinsik (intrinsic case study), jenis ini ditempuh oleh peneliti yang ingin
lebih memahami sebuah kasus tertentu; studi kasus instrumental (instrumental case study),
yakni digunakan untuk meneliti suatu kasus tertentu agar tersaji sebuah perspektif tentang isu
atau perbaikan suatu teori; studi kasus kolektif (collective case study), jenis ini bukan berarti
melakukan studi tentang kasus kolektif, namun lebih sebagai pengembangan dari studi
instrumental ke dalam beberapa kasus.**




        10
          Sayekti P. S. 2000. Metodologi Penelitian Kualitatif (Diktat). Program Pascasarjana Universitas
Negeri Yogyakarta.
                                      Daftar Pustaka


Bungin, Burhan. 2003. Analisis Data Penelitian Kualitatif; Pemahaman Filosofis dan
      Metodologis ke Arah Penguasaan Model Aplikasi. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.

Denzin, N.K. and Lincoln, Y.S. 2009. Handbook of Qualitative Research. Terjemahan oleh
      Dariyatno dkk. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Oxford Learners Pocket Dictionary , (New York: University of Oxford Press, 1999).

Prof. Dr. Robert K. Yin. 2006. Studi Kasus; Desain dan Metode. Jakarta: PT Raja Grafindo
       Persada.

Sayekti P. S. 2000. Metodologi Penelitian Kualitatif (Diktat). Program Pascasarjana
       Universitas Negeri Yogyakarta.

Internet:
http://www.nova.edu/ssss/QR/QR-3/tellis2.html.
http://www.poltekkes-malang.ac.id
http://penelitianstudikasus.blogspot.com.

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Tags:
Stats:
views:202
posted:6/26/2012
language:Malay
pages:10