Serat Ramayana
Description
Serat (kitab)Ramayana berbahasa Jawa Kuno sebagai Sumber cerita pewayangan
Document Sample


Serat Ramayana
Serat (kitab)Ramayana berbahasa Jawa Kuno sebagai Sumber cerita pewayangan
Serat ( kitab )Ramayana ini berbahasa jawa kuna dan banyak sarjana Belanda yang meneliti tentang
umur serat Ramayana. Seperti DR.W.F. Sruttermheim (Die Rama –Legenden). Beberapa pendapat dapat
ditarik kesimpulan bahwa Serat Ramayana kira-kira dibuat ketika masa pemerintahan Prabu Dyah
Balitung , raja agung yang menguasai tanah jawa, yaitu jawa tengah dan jawa timur dan pusat
pemerintahannya ada di Mataram (kira-kira 820-832 tahun Caka. Pendapat ini berdasarkan kepada
sejumlah keterangan yang ditemukan di Jawa, baik tertulis di batu maupun di tembaga.
Serat ( kitab)Ramayana Jawa Kuna pada dasarnya menceriterakan perjalanan hidup prabu Rama, seperti
halnya Serat Ramayana yang dikarang Walmiki. Tetapi sedikit banyak terdapat perbedaan. Di Serat
Ramayana Sanskerta Dewi Sinta sesudah pulang ke Ayodya, kemudian berpisah dengan Sri Rama.
Sedangkan di Serat Ramayana Jawa Kuna, Dewi Sinta terus berkumpul dengan Sri Rama. Selain itu Serat
Ramayana Jawa Kuna lebih pendek tidak diceriterakan panjang lebar dibanding Ramayana Walmiki. Di
sini akan terlihat jelas bila induk dari Serat Ramayana Jawa kuna bukan serat Ramayana Walmiki.
Seorang peneliti berkebangsaan India bernama Himansu Bhusan Sarkar, menulis buku berjudul “ Indian
Influence On The Literature Of Java and Bali” menyadur sebagain Serat Ramayana Jawa Kuna. Petikan itu
diteliti oleh peneliti lainnya bernama Manomohan Chosh, dan ternyata cocok dengan tembang yang ada
di “Rawana Wadha” (Ceritera Wafatnya Rawana/ bagian ceritera Ramayana ) yang dibuat pujangga
besar di tanah India jaman dulu bernama Bathikawya. Manomohan Chosh juga menyebutkan bahwa
yang membuat serat Ramayana Jawa kuna fasih berbahasa sansekerta. Jadi pendapat sebagian peneliti
Belanda bahwa yang membuat serat Ramayana Jawa kuna tidak bisa bahasa sansekerta merupakan
pendapat yang keliru.
Menurut Serat Saridin, yang membuat Serat Ramayana Jawa kuna itu seorang Pujangga bernama Empu
Pujwa, dikala pemerintahan Prabu Gendrayana di negeri Mamenang. Sementara itu di Bali yang
membuat Serat Ramayana Jawa Kuna adalah Empu Yogiswara di kala tahun 1016 Caka. Pendapat ini
menurut Prof .Dr. R.M.Ng.Poerbatjaraka juga dianggap lemah. Sebab menurut beliau kata Yogiswa yang
terdapat di akhir serat Ramayana bukan menunjukan nama pengarang. Kurang lebih berbunyi “ Sang
Yogiswara Cista, sang sujana suddha manahira huwus mace sira”. Yang artinya; Sang Pandita semakin
pandai, sang sujana menjadi suci hatinya jika telah membaca Serat Ramayanan ini. Jadi dapat dipastikan
yang membuat Serat Ramayanan ini tidak diketahui.
Menurut Poebatjaraka serat Ramayana mempunyai ceritera yang sangat bagus, bahasanya sangat indah,
berisi ajaran-ajaran moral yang luar biasa. Selama beliau menjadi peneliti serat Jawa kuna dan selama
hidupnya belum pernah menemukan Serat yang indahnya mengalahkan Serat Ramayana, baik ditilik dari
segi bahasa, sanggit dan lainnya.
Serat Ramayana Jawa Kuna telah dicetak ke dalam huruf jawa pada tahun 1900 oleh Prof. H Kern.
WoordenBoek-nya yang berupa tafsir juga sudah ada dibuat oleh DR. Junboll. Tetapi menurut
Poerbatjaraka, tafsir itu kurang memuaskan karena banyak bahasa yang tidak diterjemahkan secara
benar. Menurut Poebatjaraka, sebaiknya yang menulis tafsir adalah orang jawa sendiri dan bukan orang
luar, sebab bila bukan orang jawa bahasanya tidak akan mengena di hati atau kurang menggigit. Tetapi
apa hendak dikata orang jawa sendiri tidak sadar bila memiliki warisan agung dari para leluhur yang
sebenarnya cukup untuk bekal pengetahuan rohani.
Get documents about "