MAKNA PERANG BHARATAYUDA by Localicyous

VIEWS: 95 PAGES: 5

More Info
									                    MAKNA PERANG BHARATAYUDA
                                Trilogi Pewayangan dan Kekuasaan

                                             Bagian II



Sebagai kelanjutan dari tulisan “DUNIA PEWAYANGAN DAN KEKUASAAN” yang mengupas idealisme
etika JAWA dalam pewayangan yang berkenaan dengan masyarakat dan pimpinan ideal maupun
kekuasaan, “wayang purwo / kulit” sebagai pengertian simbolik tetap merupakan sumber yang tidak
pernah kering untuk suatu refleksi kekinian.



Mengupas makna simbolik dari perang Bharatayuda yaitu bagian dari Mahabharata yang mengisahkan
perang saudara antara Pendawa Lima dan Kurawa (mereka adalah sama-sama cucu dari Bhegawan
Abiyasa) untuk mengambil kembali kerajaan Indraprasta / Amartapura yang dikuasai oleh Hastina-pura
dikarenakan kalah judi. Pendawa Lima merasa sudah melunasi hukumannya dibuang dihutan selama 12
(duabelas) tahun, dan satu tahun dalam penyamaran, tetapi Kurawa mempertahankan dan menuduh
Pandawa Lima gagal melaksanakan hukumannya. (Dalam “wayang purwo / kulit” agak sedikit ada
kerancuan bahwa penyebab peperangan disebabkan Pendawa Lima ingin mendapatkan hak Hastina-
pura yang dititipkan oleh Panduwinata – ayah Pendawa Lima, yang pada saat itu raja Hastinapura –
kepada kakaknya yang buta Destrarata – ayah Kurawa).

 Dalam episode Bharatayuda, didalamnya terdapat kisah “Bhagawatgita” yaitu kisah awal dari
Bharatayuda ketika Arjuna merasa sangat tidak bersemangat untuk berperang melawan Kurawa
dikarenakan musuh yang dihadapi masih saudara sendiri bahkan diantara musuh yang harus dihadapi
adalah para sesepuh yang sangat dihormati yaitu Resi Bisma, Pendita Durna dll. Arjuna merasa kenapa
harus berperang untuk memperebutkan kerajaan, kalau perlu biarlah Kurawa menguasai kerajaan. Sri
Kresna memberikan nasihat kepada Arjuna bahkan terpaksa memperlihatkan wujud Wisnu yang
sebenarnya untuk meyakinkan Arjuna bahwa : Peperangan Bharatayuda bukan sekedar perang melawan
saudara sendiri tapi adalah peperangan suci yang harus dilaksanakan oleh Ksatria Utama sebagai
dharmanya / kewajibannya untuk melenyapkan keangkaramurkaan dan kebatilan dimuka bumi. Sri
Kresna kemudian juga mengajarkan kepada Arjuna makna hidup, asal kehidupan, dan akhir kehidupan
yang mengalir dalam perwujudan Wisnu yang sebenarnya yang dituliskan dalam kisah Bhagawatgita
(yang juga menjadi salah satu kitab suci pemeluk agama Hindu).



Dalam interpretasi perang Bharatayuda dalam kisah “wayang purwo/kulit” banyak versi sesuai dengan
peresapan masing-masing penggemar ataupun pengamat “wayang purwo / kulit” yang pada hakekatnya
bisa dikatagorikan dalam simbolik berupa perubahan yang bersifat micro (dalam diri manusia sendiri)
dan perubahan yang bersikap macro (dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara).
Arti simbolik yang bersifat micro (dalam diri manusia secara individu) Pengertian simbolik perang
Bharatayuda dalam diri manusia adalah peperangan dalam diri manusia dalam rangka mengatasi dirinya
antara perbuatan yang baik dan perbuatan yang buruk. Adalah peperangan yang tiada henti selama
hidup dari seseorang sebagai individu untuk mencari nilai budi luhur dan melaksanakan dalam tindakan
nyata sehari-hari yang melawan pengaruh buruk yang bersifat kesenangan yang bisa merusak diri dan
lingkungannya.



   A. Bharatayuda sebagai simbol pertarungan / pergulatan etika baik dan buruk dalam diri
      manusia:

Peperangan dalam diri manusia adalah hakekatnya perang saudara, karena apabila manusia
menginginkan sifat baik yang terpancar dalam kehidupannya dia harus berani membunuh sifat buruk
dalam dirinya yang berarti membunuh sebahagian dari dirinya.

Betapa sakitnya seseorang yang harus membunuh sifat dalam dirinya yang bersifat kesenangan yang
merusak seperti “ma-lima” (lima M) yaitu (madon, madat, maling, main, mabuk yang artinya madon
berarti – kesenangan dengan wanita/ sex diluar pernikahan, madat – kesenangan dengan candu / ganja
/ ecstacy / heroin / ataupun sejenisnya, maling – kesenangan memiliki hak / kepunyaan orang lain, main
– kesenangan berjudi, mabuk – kesenangan minum minuman keras). Kalau seseorang sudah terlanjur
mempunyai kesenangan seperti tadi yang merupakan sifat buruk dalam dirinya, seseorang memerlukan
sikap sebagai Arjuna yang harus berani melakukan perang Bharatayuda, untuk membunuh sebahagian
dari dirinya yang bersifat buruk, betapa hal itu sangat berat dan terasa menyakitkan. Dan apabila sifat
Ksatria Utama yang memenangkan peperangan dalam diri seseorang,dia mampu mengatasi dirinya
untuk tidak berbuat yang kurang terpuji dan berbudi luhur dalam perbuatan nyata untuk dirinya
maupun untuk masyarakat sekelilingnya. Kemenangan dalam peperangan ini sebetulnya perubahan
yang nyata dari sifat manusia tersebut dari manusia yang kurang terpuji sifatnya menjadi manusia yang
terpuji sifatnya.



   B. Bharatayuda sebagai simbol cara kematian seseorang sesuai dengan karma/ akibat
      perbuatannya:

Dalam kehidupan seseorang selalu diuji keberpihakan-nya terhadap nilai-nilai budi luhur atau
kecenderungannya terpengaruh oleh perbuatan buruk. Dalam masyarakat modern yang makin
heterogen dan dengan makin terbukanya pengaruh berbagai budaya dari luar kadang agak sulit untuk
mengenali dengan cepat dan mengambil garis lurus ataupun garis pemisah antara perbuatan etika moral
yang terpuji maupun yang kebalikannya yang kadang agak sulit bagi kita menarik garis hitam putih. Tapi
kalau kita mengkaji lebih lanjut kisah / lakon dalam “wayang purwo/kulit” hal tersebut bukan sesuatu
yang tidak terdeteksi dalam kisah tokohnya yang selalu bergulat dalam perbuatan yang terpuji maupun
kurang terpuji bahkan terhadap tokoh yang di-ideal-kan seperti tokoh Pendawa Lima dan Sri Kresna. Hal
ini adalah suatu indikasi alamiah ketidak sempurnaan manusia. “Wayang purwo / kulit” mengajarkan
suatu budaya yang sangat bijaksana berkaitan dengan ketidak sempurnaan manusia dengan
menciptakan tokoh punokawan yaitu Semar, Petruk, Gareng, Bagong yang selalu memberikan
peringatan terhadap penyimpangan yang dilakukan oleh para raja dan ksatria. Kalau punokawan ini
secara simbolik diartikan sebagai “rakyat” dan inilah secara nyata sistem demokrasi dimana kelemahan
dan ketidaksempurnaan manusia dicoba diatasi dengan melaksanakan sistem yang saling mengingatkan
(check and balance ataupun social control) antara pihak pimpinan / raja, para ksatria, sistim peradilan,
dan rakyatnya. Sistem ini menuntut semua pihak rela menerima koreksi / kritik dari pihak yang lain, dan
budaya “wayang purwo/kulit” memberi contoh yang gamblang bahwa Semar maupun punokawan selalu
mengingatkan raja / ksatria yang peringatannya / kritiknya diterima dan diperhatikan oleh raja dan para
ksatria.




Beberapa contoh kisah pewayangan yang menggambarkan ketidak sempurna-an sifat dari tokoh yang
dianggap sebagai tauladan :

1. Yudistira/Puntodewo yang terkenal kejujurannya dan kebijaksanaannya sebagai seorang raja ternyata
dia mempunyai kelemahan yang sangat fatal yaitu kesenangannya dengan judi yang kelemahan tersebut
dimanfaatkan oleh Kurawa dengan arsiteknya Patih Sengkuni sehingga membawa kesengsaraan
keluarganya bahkan sampai dengan negaranya, saudara2-nya, bahkan istrinya – Dewi Drupadi – dipakai
sebagai barang taruhan dan sempat sangat dipermalukan didepan umum oleh Dursasono – salah satu
dari Kurawa, dan akhirnya membawa Pendawa Lima harus menjalani hukuman dibuang ditengah hutan
selama duabelas tahun dan melakukan penyamaran selama satu tahun.

2. Arjuna yang sangat pandai dan sakti ternyata punya kelemahan terhadap wanita yang membawanya
dia terkenal kalau dengan istilah sekarang sebagai “Don Yuan” (biarpun beberapa pakar pewayangan hal
ini diartikan sebagai simbol kegandrungan Arjuna akan ilmu pengetahuan sehingga dia selalu berguru
kepada Bhegawan dan mengawini anak perempuannya yang diartikan / disimbolkan sebagai menguasai
ilmu dari sang Bhegawan).

3. Sri Kresna yang terkenal bijaksana dan dikatakan sebagai titisan Wisnu ternyata kurang mampu
mendidik anaknya dan terlalu memanjakan anaknya yang akhirnya membawa pada karma kematiannya
melalui seorang pemburu yang tanpa sengaja memanah kakinya – yang anak panahnya berasal dari
perbuatan / kesombongan anaknya Samba (Mohon ber-hati-hati bagi yang merasa menjadi raja – dan
saya tidak yakin kalau beliau membaca Internet, dan saya yakin bahwa pembantu2 dekatnya pasti ada
yang membaca Internet dan pasti tidak berani mengingatkan sang raja – dan yang memanjakan anak2-
nya menjadi orang yang serakah dan angkara murka bahkan Sri Kresna yang titisan dewa tidak bisa lepas
dari karma akibatnya).
Contoh diatas masih bisa diperpanjang dengan tokoh seperti Abimanyu (anak Arjuna) yang
membohongi istrinya, Gatutkaca (anak Werkudoro) yang memunuh pamannya sendiri, Resi Bisma yang
membunuh wanita yang mencintainya, Prabu Salyo yang membunuh mertuanya, dan yang lainnya yang
pada suatu saat dalam kehidupannya pernah melakukan perbuatan yang kurang terpuji yang balasan
karma dari perbuatan buruknya terjadi pada perang Bharatayuda dan ini menjadi suatu interpretasi
simbolik lainnya dari makna perang Bharatayuda secara micro (pada individu) yaitu : peperangan
terakhir dari manusia menghadapi karma hidupnya, yaitu cara kematiannya adalah cermin dari seluruh
cara dan perilaku seluruh kehidupannya baik ataupun buruk. Arti simbolik yang bersifat macro (dalam
kehidupan bermasyarakat dan bernegara)



Dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara manusia sebagai individu juga selalu diuji keberpihakan
seseorang terhadap kelompok yang punya nilai2 luhur dan kelompok yang cenderung terpengaruh oleh
perbuatan buruk. Dalam masyarakat modern yang makin heterogen dan dengan makin terbukanya
suatu negara dari pengaruh-pengaruh berbagai budaya dari luar sebagai suatu dampak globalisasi
kadang agak sulit untuk mengenali dengan cepat dan mengambil garis lurus ataupun garis pemisah
antara kelompok yang memperjuangkan suatu etika moral yang terpuji maupun yang kebalikannya.
Kalau melihat contoh seperti Yudistira /Puntodewo, Arjuna, dan Sri Kresna seperti tersebut diatas jelas
bahwa sebagai manusia mereka tetap mempunyai sifat alamiah tentang ketidak-sempurna-an manusia.

Walaupun secara umum atau bisa juga dikatakan bahwa sebagian besar perilaku yang diperbuat bisa
dijadikan contoh walaupun tidak lepas dari cacat dan cela. Dengan segala cacat dan cela sebagai
individu, secara kelompok mereka mempunyai suatu ciri utama yaitu mengemban tugas Pemimpin
maupun Ksatria Utama yang harus selalu menegakkan kebenaran dan memerangi kelompok yang
angkaramurka. Dan dari zaman ke zaman selalu saja akan muncul seorang Pemimpin yang memimpin
kelompoknya untuk memerangi kezaliman yang merugikan masyarakat/rakyat banyak ataupun pihak
yang lemah dan tak berdaya. Dan nyata bahwa setiap Pemimpin akan mengalami dilema seperti Arjuna
yang ragu untuk menjalankan perannya untuk menegakkan kebenaran apabila yang dihadapi adalah
para Pimpinan bangsanya sendiri, bahkan diantaranya adalah para tokoh yang dihormati seperti Resi
Bisma, Adipati Karno yang oleh keterikatan historis (walaupun sebetulnya mereka tidak sependapat
dengan kelakuan Duryudono sebagai raja kelompok Kurawa) ataupun dengan sejuta alasan lainnya
berpihak kepada yang tidak benar.

Dan perang Bharatayuda adalah simbol peperangan yang mungkin bisa timbul didalam masyarakat
apabila muncul kelompok yang menjunjung tinggi etika berbudi luhur yang melaksanakan perang suci
menghadapi kelompok yang zalim dan angkaramurka agar terjadi perubahan yang nyata menuju suatu
tata masyarakat yang lebih baik. Bahwa pada akhirnya Pendawa Lima memutuskan untuk melaksanakan
suatu perang Bharatayuda bukanlah suatu proses atau keputusan yang mudah, Pendawa Lima secara
nyata telah menjalankan usaha mencegah agar perang Bharatayuda jangan terjadi dengan misi
perdamaian – yang terakhir adalah lakon / cerita “Kresno Duto” yang mengutus Sri Kresna untuk
menyelesaikan masalah secara damai yang akhirnya malah menimbulkan kemarahan yang sangat dari
Sri Kresna yang hampir saja menghancur-luluhkan seluruh kerajaan Hastinapura. Secara simbolik bisa
diartikan bahwa kezaliman dan keangkara-murkaan itu semacam candu/ecstacy, sekali kita didalamnya
sulit kita bisa dengan mudah menjadi sadar dengan sendirinya, harus ada pihak yang berani memerangi
dan menghancurkannya.



Diceritakan bahwa perang Bharatayuda adalah perang yang “gegirisi” atau sangat menakutkan -tidak
ada satupun perang yang tidak menakutkan yang akan meminta banyak korban-dimana akhirnya semua
seratus Kurawa dan segala Ksatria yang membantunya habis terbunuh, juga dari sisi Pendawa Lima tidak
ada anak-anak Pendawa Lima yang bisa lolos dari maut. Kemenangan dari Pendawa Lima harus dibayar
sangat mahal walaupun akhirnya Hastinapura bisa menjadi negara yang adil makmur setelah segala
keangkamurkaan Kurawa bisa dimusnahkan. “Jer basuki mawa bea” adalah suatu pepatah Jawa yang
artinya – untuk mencapai suatu tujuan selalu ada beayanya.



Kesimpulan



Indikasi masyarakat Indonesia saat ini sangat memprihatinkan yaitu suatu kondisi yang apabila tidak
dicermati ataupun disadari – dikarenakan posisinya yang memegang kekuasaan dan kekuasaan apabila
berciri angkaramurka sama dengan ketagihan candu / ecstacy yang punya ciri: sekali kita di dalamnya
sulit kita bisa dengan mudah menjadi sadar dengan sendirinya – yang bisa menimbulkan suatu situasi
radikal para kelompok yang merasa terpanggil untuk melaksanakan pembaharuan yang bisa
mengidentifikasikan ebagai kelompok moralis / kelompok pro-demokrasi menghadapi pemerintahan
yang zalim yang telah menjalankan Pemilu yang tidak adil, pemerintahan yang penuh korupsi dan kolusi,
yang tentaranya menembaki rakyatnya sendiri, melakukan manipulasi undang- undang dan peraturan
yang menguntungkan kelompoknya, yang anak-anak sang pemimpin ikut campur dalam urusan
berusaha dan bernegara seperti layaknya pangeran- pangeran kerajaan, dsb. Lambat atau cepat apabila
tidak diatasi secara bijaksana bukan sesuatu yang tidak mungkin bisa terjadi perang Bharatayuda dibumi
kita tercinta, walaupun kita semua tidak menginginkan, dan adalah sangat alami barangkali juga sebagai
hukum alam bahwa selalu akan muncul kelompok moralis yang dengan segala resikonya untuk
memerangi pihak yang dianggap menyimpang dari tindakan yang jujur dan terpuji dari waktu ke waktu.



Tulisan ini dibuat dengan maksud agar tercapai suatu Pemerintahan (siapapun yang melaksanakan) yang
berorientasi sepenuhnya untuk kepentingan dan kesejahteraan rakyat secara luas.

								
To top