Perkembangan Motorik Pada Anak by ummi21

VIEWS: 81 PAGES: 2

									                          Perkembangan Motorik Pada Anak


       Proses tumbuh kembang kemampuan gerak seorang anak disebut perkembangan
motorik. Secara umum, perkembangan motorik bisa dibagi menjadi dua bagian, yaitu motorik
kasar dan motorik halus.

        Keterampilan motorik ini pada dasarnya berkembang sejalan dengan kematangan saraf
dan otot. Sehingga dapat dikatakan, setiap gerakan yang dilakukan seorang anak, sesederhana
apapun sebenarnya merupakan hasil pola interakasi yang kompleks dari berbagai bagian dan
sistem dalam tubuh yang dikontrol oleh otak, karena proses kematangan masing-masing anak
tidak selalu sama, maka lalu perkembangan antara anak satu dengan yang lainnya bisa saja
berbeda. Ada anak yang sudah bisa berjalan ketika usianya 10 bulan, misalnya, sementara anak
lain di usia 13 bulan.

        Masa lima tahun pertama adalah masa emas bagi perkembangan motorik anak. Hal itu
disebabkan pada usia ini badan anak masih begitu lentur dan mudah diarahkan. Ditambah dengan
kesenangannya bereksplorasi dan seperti tak mengnel rasa takut, maka segala gerakan yang
diajarkan pada anak akan dianggapnya sebagai satu permainan yang menyenangkan.

       Berbagai manfaat bisa diperoleh anak ketika ia semakin terampil menguasai gerakan
motoriknya. Selain kondisi badan juga semakin sehat karena anak banyak bergerak, ia juga jadi
lebih mandiri dan percara diri. Anak semakin yakin dalam mengerjakan segala sesuatu karena
sadar akan kemampuan fisiknya. Anak-anak yang baik perkembangan motoriknya, biasanya juga
mempunyai keterampilan social positif. Mereka akan senang bermain bersama teman-temannya
karena dapat mengimbangi gerak teman sebaya, seperti berlompat-lompatan dan berkejar-
kajaran.

       Salah satu keterampilan motorik yang paling jelas menandai munculnya kemandirian
seorang anak adalah berjalan. Kini, anak dapat pergi ke mana saja mereka suka tanpa perlu
bantuan atau bimbingan Anda. Umunya, di usia 10-12 bulan, bayi sudah mulai bisa berjalan,
sekalipun ada beberapa bayi yang baru bisa berjalan di usia 16 bulan. Ini tidak berarti bayi yang
bisa cepat berjalan lebih pandai dari pada bayi yang relatif lebih lambat barjalan. Setiap anak
pada dasarnya memiliki kecepatan perkembangan yang berbeda. Sehingga bisa saja anak yang
lambat berjalan, lebih cepat dalam perkembangan bicaranya.

        Sebelum berjalan, sebenarnya bayi sudah melewati proses latihan yang cukup panjang.
Dimulai ketika ia belajar mengangkat kepala dalam posisi tengkurap untuk melatih saraf serta
otot-otot leher dan perut. Kemudian dilengkapi dengan latihan otot kaki ketika ia belajar
merangkak.
       Biasanya bayi mengawali aktivitas berjalannya dengan cara merambat, berpegangan pada
perabot rumah tangga. Bila rasa percaya diri untuk melangkah bebas mulai mucul, ia mencoba
menguasai keseimbangan tubuhnya dengan membuat satu-dua langkah pendek. Mulanya, tentu
saja bayi akan mengalami jatuh bangun karena belum bisa menguasai keseimbangan. Sampai
akhirnya ia dapat melangkah dan berjalan dengan tegap.

        Beberapa orang tua merangsang bayinya berjalan dengan bantuan alat bantu, seperti kursi
beroda. Alat ini pada dasarnya melatih kaki bayi untuk melangkah, di samping mengatur
keseimbangan badannya. Dengan alat bantu, umumnya bayi merasa lebih aman, sehingga secara
tidak langsung akan meningkatkan kepercayaan dirinya untuk belajar berjalan.

       Namun, ada pendapat lain yang mengatakan bahwa alat bantu akan mengurangi bahkan
menghentikan kegiatan merangkak yang merupakan kreativitas penting bagi perkembangan
motorik.

       Lepas dari kedua pendapat di atas, dengan atau tanpa alat bantu, yang perlu diingat orang
tua adalah jangan memaksa anak untuk berjalan sebelum ia memiliki kesiapan baik secara fisik
maupun psikologis. Paksaan hanya membuat anak tertekan dan malas berlatih. Sebenarnya ruang
gerak yang luas dan kepercayaan Anda adalah bantuan yang sangat didambakan anak.

								
To top