Docstoc

BAB II PTK.doc

Document Sample
BAB II PTK.doc Powered By Docstoc
					                                                                      7




                                  BAB II

                          TINJAUAN PUSTAKA



A. Deskripsi Teori
       1. Kemampuan Mengeja/Membaca

                Belajar membaca mencakup pemerolehan kecakapan yang
       dibangun pada ketrampilan sebelumnya. Ada lima tahapan dalam
       perkembangan kemampuan membaca, dimulai dari ketrampilan
       pre-reading hingga ke kemampuan membaca yang sangat tinggi
       pada orang dewasa1.

                Tahap 0, dimulai dari masa sebelum anak masuk kelas
       pertama, anak-anak harus menguasai prasyarat membaca, yakni
       belajar membedakan huruf dalam alfabet. Kemudian pada saat
       anak masuk sekolah, banyak yang sudah dapat “membaca”
       beberapa kata, seperti “Pepsi”, “McDonalds”, dan “Pizza Hut.”
       Kemampuan mereka untuk mengenali simbol-simbol populer ini
       karena seringnya melihat di televisi atau pun di sisi jalan serta
       meja      makan. Hal ini mengindikasikan bahwa mereka dapat
       membedakan antara pola huruf, meskipun belum dapat mengerti
       kata itu sendiri. Pengetahuan anak-anak tentang huruf dan kata
       saat ini secara umum lebih baik ketimbang beberapa generasi
       sebelumnya, hal ini dikarenakan pengaruh acara televisi anak
       seperti “Sesame Street.”

                Tahap 1, mencakup tahun pertama di kelas satu. Anak
       belajar kecakapan merekam fonologi, yaitu keterampilan yang
1
    Jeanne Chall (1979)
                                                                   8




digunakan untuk menerjemahkan simbol-simbol ke dalam suara
dan kata-kata. Kemampuan ini diikuti dengan tahap kedua pada
kelas dua dan tiga, di mana anak sudah belajar membaca dengan
fasih. Di akhir kelas tiga, kebanyakan anak sekolah sudah
menguasai hubungan dari huruf-ke-suara dan dapat membaca
sebagian besar kata dan kalimat sederhana yang diberikan.

      Perubahan dari “learning to read” menuju “reading to learn”
dimulai dalam tahap 3, dimulai dari kelas 4 sampai kelas 8. Anak-
anak pada tahap ini sudah bisa mendapatkan informasi dari materi
tertulis, dan ini direfleksikan dalam kurikulum sekolah. Anak-anak di
kelas ini diharapkan belajar dari buku yang mereka baca. Jika anak
belum menguasai “how to” membaca ketika kelas empat, maka
kemajuannya membaca untuk kelas selanjutnya bisa terhambat.

      Tahap 4, dimulai pada saat sekolah tinggi, direfleksikan
dengan kemampuan baca yang sangat fasih.             Anak menjadi
semakin dapat memahami beragam materi bacaan dan menarik
kesimpulan dari apa yang mereka baca.

   1.1 Emergent Literacy

      Kendati kebanyakan anak belajar membaca di sekolah,
namun sebagian besar anak belajar tentang membaca di rumah.
Mereka belajar simbol tertulis sesuai dengan bahasa tutur ketika
menyampaikan arti kepada orang lain.

      Tapi kebanyakan anak pra-sekolah tidak membaca (tidak
benar benar membaca). Mereka mungkin dapat mengidentifikasi
Coca-Cola, Burger King, atau tanda Fruit Loops ketika melihatnya,
tapi ini bukan benar-benar membaca. Kendati demikian, apa yang
dipelajari anak selama berbicara dengan orang tua tadi adalah
                                                                                          9




       kemampuan            menyusun         tahap      membaca          yang   sebenarnya.
       Gagasan         bahwa       ada     kontinum        perkembangan         kemampuan
       membaca, dari anak usia pra-sekolah hingga yang sudah menjadi
       pembaca fasih, dikatakan sebagai emergent literacy.

                Terdapat sembilan komponen emergent literacy, sebagai
       berikut2:

                1. Language: membaca merupakan kemampuan bahasa,
                     dan anak-anak harus cakap dengan bahasa tutur.
                     kemampuan membaca yang terampil juga memerlukan
                     lebih dari sekedar kecakapan bahasa tutur. Membaca
                     tidak berarti refleksi bahasa tutur, di mana anak yang
                     memiliki kecakapan bahasa yang tinggi akan menjadi
                     anak dengan kemampuan membaca yang juga baik.
                2. Convention of print: anak-anak yang dipaparkan kepada
                     pembacaan di rumah melalui penemuan cetak. Sebagai
                     contoh, dalam bahasa Inggris, anak-anak belajar bahwa
                     membaca dilakukan dari kiri kek kanan, atas ke bawah,
                     dan dari depan ke belakang.
                3. Knowledge of letters: Kebanyakan anak-anak dapat
                     menceritakan ABC sebelum mereka masuk ke sekolah
                     dan dapat mengidentifikasi individu huruf dari alphabet
                     (kendati beberapa anak berpikir “elemeno” adalah nama
                     huruf antara “k” dan “p”. pengetahuan huruf sangat kritis
                     bagi kemampuan baca. Sebagai contoh, penelitian telah
                     menunjukkan bahwa kemampuan anak taman kanak-
                     kanak untuk menamai huruf memprediksikan nilai yang




2
    Whitehurst dan Lonigan 199 mencatat Sembilan komponen emergency literacy)
                                                            10




   dapat diraihnya pada kemampuan membaca di kemudian
   hari.
4. Linguistic awareness; anak harus belajar mengidentifikasi
   tidak saja huruf melainkan unit linguistik, seperti fonem,
   silabel, dan kata. Mungkin yang paling penting dari
   kemampuan       linguistik   untuk     membaca       adalah
   pengolahan fonologi, atau diskriminasi dan mengartikan
   berbagai suara bahasa.
5. Korespondensi phoneme-grapheme: Ketika anak sudah
   memahami       bagaimana      mensegmentasikan         dan
   mendiskriminasikan     beragam    suara    bahasa,    maka
   mereka harus mempelajari bagaimana suara ini sesuai
   dengan huruf tertulis. Kebanyakan proses ini dimulai di
   masa pra-sekolah, di mana pengetahuan huruf dan
   sensitivitas fonologis berkembang secara simultan dan
   resiprok.
6. Emergent    reading:     banyak      anak-anak   pura-pura
   membaca. Mereka akan mengambil buku cerita yang
   sudah akrab bagi mereka dan “membaca” halaman per
   halamannya, atau akan mengambil buku yang belum
   akrab bagi mereka dan pura-pura membaca, membuat
   narasi sesuai dengan gambar di halaman tersebut.
7. Emergent writing: Sama dengan pura-pura membaca,
   anak-anak juga sering berpura-pura menulis, membuat
   garis lekuk (squiggle) pada sebuah halaman untuk
   “menuliskan” nama atau cerita mereka, atau merangkai
   huruf yang benar untuk menghasilkan sesuatu yang
   menurut mereka sesuai dengan cerita.
8. Motivasi print: seberapa tertariknya anak-anak dalam
   membaca dan menulis? Seberapa pentingkah bagi
                                                                                      11




                      mereka         untuk        memahami    kode     rahasia     yang
                      memungkinkan orangtua mengartikan serangkaian tanda
                      pada sebuah halaman? Beberapa bukti mengindikasikan
                      bahwa anak kecil lebih tertarik dalam print (huruf cetak)
                      dan membaca memiliki skill emergent literacy yang lebih
                      besar       ketimbang        yang   kurang    termotivasi   untuk
                      melakukannya. Anak-anak yang tertarik dalam membaca
                      dan menulis lebih mungkin mengetahui huruf cetak,
                      mengajukan pertanyaan tentang print, mendorong orang
                      dewasa untuk membacakannya untuk mereka, dan
                      menghabiskan lebih banyak waktu untuk membaca ketika
                      mereka sudah bisa.
                 9. Other Cognitive Skill: Kemampuan kognitif individu, di
                      samping yang berkaitan dengan bahasa dan kesadaran
                      linguistik mempengaruhi kemampuan baca anak-anak.
                      Berbagai aspek lain memori sangatlah penting di sini
                      yang juga ikut mempengaruhi kemampuan membaca.

                 Hubungan antara beberapa komponen emergent literacy
       dengan kemampuan baca terkadang sulit dijelaskan. Namun
       demikian, jelas halnya bahwa keluarga memberikan “The Whole
       Package”. Munculnya keterampilan emergent literacy kepada anak-
       anaknya akhirnya anak akan membantu nantinya untuk memiliki
       kemampuan yang baca lebih baik baik di awal sekolah maupun di
       kemudian hari, daripada keluarga yang hanya memberikan paket
       sedikit-sedikit3.Ini dibenarkan dengan penelitian sebelumnya yang
       melaporkan           bahwa        ada      hubungan   yang    signifikan   antara




3
    Bialystok, 1996; Whitehurst & Lonigan, 1998
                                                                                            12




       kemampuan emergent literacy selama masa pra sekolah dengan
       kemampuan membaca di sekolah dasar4.

            1.2 Kemampuan membaca dan perkembangan kognitif

                Phonemic awareness, adalah salah satu skill yang dapat
       memprediksikan             kemampuan            membaca        di    kemudian     hari,
       Phonemic awareness adalah pengetahuan tentang huruf yang
       dapat dipisahkan dari suara. Kesadaran ini belum muncul pada
       anak-anak          prescholl.       Penelitian        telah   menunjukkan        bahwa
       sensitivitas       anak-anak         terhadap        ritme    akan    berujung    pada
       kesadaran fonem, yang sebaliknya mempengaruhi kemampuan
       baca dan menjadikannya lebih mudah bagi anak-anak untuk
       mengenali kata-kata tertulis baik yang bersuara ataupun yang mirip
       (misalnya, cat). Anak yang sedari kecil memiliki kemampuan
       phonemic awareness yang                     baik dapat dipastikan kemampuan
       membacanya juga baik.

                Phonologic             Recoding.           Alasan      bahwa      kesadaran
       Phonologis merupakan predictor untuk kemampuan baca awal
       adalah karena kemampuan baca awal yang secara umum
       melibatkan penyuaraan kata-kata. Proses phonologic recoding ini
       merupakan dasar dari mayoritas program instruksi membaca di AS
       saat ini. Anak-anak diajarkan mendengar huruf dan mencoba
       mencocokkan antara huruf dan suara.

                Kemampuan baca yang benar-benar fasih tidak dilakukan
       dengan menyuarakan setiap huruf namun dengan secara langsung
       mendapatkan arti keseluruhan kata dari memori (keseluruhan kata
       yang berdasar visual).

4
    Lonigan, Burgess, & Anthony, 2000; Storch & Whitehurst, 2002
                                                                   13




       Kunci bagi kemampuan baca yang fasih adalah proses
automatization (otomatisasi), yakni pemerolehan arti kata tanpa
melakukan usaha (otomatis). Kemampuan mengakses arti kata,
memperluas sumberdaya terbatas dari seseorang dalam proses ini
sangat penting bagi kemampuan baca yang terampil. Ketika terlalu
banyak sumberdaya mental digunakan hanya untuk mendapatkan
arti kata individual, maka terlalu sedikit sumberdaya yang tertinggal
untuk memenggal akta-kata dan memahami arti yang lebih besar
dari suatu teks.

   1.3 Pengajaran Membaca

       Ada dua pendekatan penting pada instruksi membaca
(reading instruction) dan komentar tentang bagaimana bukti
penelitian dipertimbangkan dalam topik ini. Pada dasarnya (dan
secara sederhana) instruksi membaca dapat dipikirkan sebagai,
baik itu (1) proses bawah ke atas (bottom-up process), anak-anak
mempelajari        komponen-komponen     individu   suatu    bacaan
(mengidentifikasi huruf, korespondensi suara-huruf (letter-sound
correspondence)        dan   meletakkannya      bersamaan      untuk
memperoleh makna; atau (2) proses atas ke bawah (top-down
process), tujuan, pengetahuan latar belakang, dan ekspektasi anak-
anak menentukan informasi apa yang dipilih dari teks. Proses
terakhir ini merupakan suatu perspektif konstruktifis, mengingat
kembali ide-ide Piaget. Tentu saja, membaca yang terampil
melibatkan bottom-up dan top-down process, pembuatan tiap
dikotomi artifisial. Namun demikian, reading instruction, terutama
pada tingkat awal, sering menekankan satu terhadap lainnya, dan
oleh karena itu dikotomi memiliki beberapa dasar dalam realitas.
                                                                          14




      Kurikulum yang menekankan bottom-up process ditunjukkan
melalui metode fonik (phonics method). Di sini, anak-anak diajar
korespondensi suara- huruf spesifik, sering kali independen pada
tiap konteks “yang penuh makna”. Kurikulum yang menekankan
top-down    process      ditunjukkan    melalui     pendekatan       bahasa-
menyeluruh (whole-language approach). Menurut Marilyn Adams
dkk., “whole-language approach menekankan bahwa pembelajaran
dilabuhkan pada dan dimotivasikan oleh makna. Selanjutnya,
dikarenakan     pemaknaan       dan      kepemaknaan        yang      penuh
(meaningfulness) perlu didefiniskan secara internal dan tidak
pernah melalui pernyataan (pronouncement), pembelajaran dapat
efektif hanya pada seberapa jauh pembelajaran secara kognitif
dikendalikan oleh siswa”. Oleh karena itu, kurikulum bahasa-
menyeluruh      (whole-language        curricula)    menekankan        pada
ketertarikan membaca (reading interesting) dan teks penuh makna
(meaningful text) sejak dini. Ruang kelas di mana bahasa
keseluruhan diajarkan, lebih cocok berpusat pada siswa (student
centered) dibandingkan dengan berpusat pada guru (teacher
centered), memiliki integrasi membaca dan menulis dalam
keseluruhan kurikulum, memiliki penghindaran latihan bahasa, dan
memiliki kesempatan kecil dalam hal pengelompokan kemampuan
secara kaku.

      Bukti penelitian yang didiskusikan semestinya membuat
gamblang pentingnya pemrosesan level dasar (bottom-up) dalam
pembelajaran     membaca.       Keterampilan        fonologis   merupakan
prediktor     tunggal     terbaik      kemampuan        membaca         (dan
ketidakmampuan          membaca).       Kemampuan         tersebut     tidak
berkembang secara spontan, dan biasanya mengeksplisitkan
instruksi. Kurikulum yang mengabaikan phonics, mengabaikan
                                                                              15




       tentang bagaimana “bermaknanya” phonics membuat pengalaman
       membaca, sedang meresikokan melek huruf pada kebanyakan
       siswanya.

2. Media pembelajaran

                Dalam tahun-tahun belakangan ini telah terjadi pergeseran
       paradigma          dalam        pembelajaran   ke        arah   paradigma
       konstruktivisme. Menurut pandangan ini bahwa pengetahuan tidak
       begitu saja bisa ditransfer oleh guru ke pikiran siswa, tetapi
       pengetahuan tersebut dikonstruksi di dalam pikiran siswa itu
       sendiri. Guru bukanlah satu-satunya sumber belajar bagi siswa
       (teacher centered), tetapi yang lebih diharapkan adalah bahwa
       pembelajaran berpusat pada siswa (student centered). Dalam
       kondisi seperti ini, guru atau pengajar lebih banyak berfungsi
       sebagai fasilitator pembelajaran. Jadi, siswa atau pebelajar
       sebaiknya secara aktif berinteraksi dengan sumber belajar, berupa
       lingkungan. Lingkungan yang dimaksud adalah guru itu sendiri,
       siswa lain, kepala sekolah, petugas perpustakaan, bahan atau
       materi ajar (berupa buku, modul, selebaran, majalah, rekaman
       video, atau audio, dan yang sejenis), dan berbagai sumber belajar
       serta fasilitas (OHP, perekam pita audio dan video, radio, televisi,
       komputer, perpustakaan, laboratorium, pusat-pusat sumber belajar,
       termasuk alam sekitar)5.

                Bertitik tolak dari kenyataan tersebut di atas, maka proses
       belajar mengajar pada hakikatnya adalah suatu proses komunikasi,
       yaitu proses penyampaian pesan (isi atau materi ajar) dari sumber
       pesan      melalui      saluran/media   tertentu    ke   penerima   pesan
       (siswa/pebelajar atau mungkin juga guru). Penyampaian pesan ini

5
    Menurut pendapat Arsyad dalam bukunya
                                                                                  16




       bisa dilakukan melalui simbul-simbul komunikasi berupa simbul-
       simbul verbal dan non-verbal atau visual, yang selanjutya
       ditafsirkan oleh penerima pesan (Criticos, 1996). Adakalanya
       proses penafsiran tersebut berhasil dan terkadang mengalami
       kegagalan. Kegagalan ini bisa saja disebabkan oleh beberapa
       faktor, misalnya adanya hambatan psikologis (yang menyangkut
       minat,      sikap,     kepercayaan,      inteligensi,   dan     pengetahuan),
       hambatan fisik berupa kelelahan, keterbatasan daya alat indera,
       dan kondisi kesehatan penerima pesan. Faktor lain yang juga
       berpengaruh adalah hambatan kultural (berupa perbedaan adat
       istiadat, norma-norma sosial, kepercayaan dan nilai-nilai panutan),
       dan hambatan lingkungan yaitu hambatan yang ditimbulkan oleh
       situasi dan kondisi keadaan sekitar6.

                Untuk mengatasi kemungkinan hambatan-hambatan yang
       terjadi selama proses penafsiran dan agar pembelajaran dapat
       berlangsung          secara   efektif,   maka   sedapat       mungkin   dalam
       penyampaian pesan (isi/materi ajar) dibantu dengan menggunakan
       media pembelajaran. Diharapkan dengan pemanfaatan sumber
       belajar berupa media pembelajaran, proses komunikasi dalam
       kegiatan belajar mengajar berlangsung lebih efektif (Gagne, 1985)
       dan efisien.

                Perkembangan ilmu dan teknologi semakin mendorong
       usaha-usaha ke arah pembaharuan dalam memanfaatkan hasil-
       hasil     teknologi      dalam     pelaksanaan      pembelajaran.       Dalam
       melaksanakan          tugasnya,     guru   (pengajar)     diharapkan    dapat
       menggunakan alat atau bahan pendukung proses pembelajaran,
       dari alat yang sederhana sampai alat yang canggih (sesuai dengan


6
    Sadiman, dkk., 1990
                                                                                  17




       perkembangan dan tuntutan jaman). Bahkan mungkin lebih dari itu,
       guru diharapkan mampu mengembangkan keterampilan membuat
       media pembelajarannya sendiri. Oleh karena itu, guru (pengajar)
       harus memiliki pengetahuan dan pemahaman yang cukup tentang
       media        pembelajaran,   yang    meliputi7;(i)    media    sebagai    alat
       komunikasi agar lebih mengefektifkan proses belajar mengajar; (ii)
       fungsi media dalam rangka mencapai tujuan pendidikan; (iii)
       hubugan antara metode mengajar dengan media yang digunakan;
       (iv) nilai atau manfaat media dalam pengajaran; (v) pemilihan dan
       penggunaan media pembelajaran; (vi) berbagai jenis alat dan teknik
       media pembelajaran; dan (vii) usaha inovasi dalam pengadaan
       media pembelajaran.

            2.1 Pengertian Media Pembelajaran
                Secara etimologi, kata “media” merupakan bentuk jamak dari
       “medium”, yang berasal dan Bahasa Latin “medius” yang berarti
       tengah. Sedangkan dalam Bahasa Indonesia, kata “medium” dapat
       diartikan sebagai “antara” atau “sedang” sehingga pengertian
       media dapat mengarah pada sesuatu yang mengantar atau
       meneruskan informasi (pesan) antara sumber (pemberi pesan) dan
       penerima pesan. Media dapat diartikan sebagai suatu bentuk dan
       saluran yang dapat digunakan dalam suatu proses penyajian
       informasi (AECT, 1977:162).

                Istilah media mula-mula dikenal dengan alat peraga,
       kemudian dikenal dengan istilah audio visual aids (alat bantu
       pandang/dengar).       Selanjutnya     disebut       instructional   materials
       (materi pembelajaran), dan kini istilah yang lazim digunakan dalam
       dunia pendidikan nasional adalah instructional media (media


7
    Hamalik, 1994
                                                                         18




       pendidikan atau media pembelajaran). Dalam perkembangannya,
       sekarang muncul istilah e-Learning. Huruf “e” merupakan singkatan
       dari “elektronik”. Artinya media pembelajaran berupa alat elektronik,
       meliputi CD Multimedia Interaktif sebagai bahan ajar offline dan
       Web sebagai bahan ajar online.

                 Media juga dapat diartikan sebagai segala sesuatu yang
       dapat dipergunakan untuk menyalurkan pesan, merangsang
       pikiran, perasaan, perhatian, dan kemauan siswa, sehingga dapat
       terdorong terlibat dalam proses pembelajaran. Gagne mengartikan
       media sebagai berbagai jenis komponen dalam lingkungan siswa
       yang dapat merangsang siswa untuk belajar. Heinich, Molenda,
       Russel (1996:8) menyatakan bahwa : “A medium (plural media) is a
       channel of communication, example include film, television,
       diagram, printed materials, computers, and instructors. (Media
       adalah saluran komunikasi termasuk film, televisi, diagram, materi
       tercetak, komputer, dan instruktur).

                 Banyak batasan tentang media, Association of Education
       and Communication Technology (AECT) memberikan pengertian
       tentang media sebagai segala bentuk dan saluran yang digunakan
       untuk menyampaikan pesan dan informasi. Dalam hal ini
       terkandung pengertian sebagai medium atau mediator, yaitu
       mengatur hubungan yang efektif antara dua pihak utama dalam
       proses belajar -siswa dan isi pelajaran8. Sebagai mediator, dapat
       pula mencerminkan suatu pengertian bahwa dalam setiap sistem
       pengajaran, mulai dari guru sampai kepada peralatan yang paling
       canggih dapat disebut sebagai media. Heinich memberikan istilah
       medium, yang memiliki pengertian yang sejalan dengan batasan di


8
    Gagne, et al., 1988
                                                                                  19




       atas yaitu sebagai perantara yang mengantar informasi antara
       sumber dan penerima9.

                  Berikut ini beberapa pendapat para ahli komunikasi atau ahli
       bahasa tentang pengertian media yaitu:

                  a. Orang, material, atau kejadian yang dapat menciptakan
                       kondisi     sehingga      memungkinkan      siswa       dapat
                       memperoleh pengetahuan, keterapilan, dan sikap yang
                       baru,     dalam   pengertian   meliputi buku,   guru,    dan
                       lingkungan sekolah (Gerlach dan Ely dalam Ibrahim,
                       1982:3).
                  b. Saluran        komunikasi        yang   digunakan         untuk
                       menyampaikan pesan antara sumber (pemberi pesan)
                       dengan penerima pesan (Blake dan Horalsen dalam
                       Latuheru, 1988:11).
                  c. Komponen strategi penyampaian yang dapat dimuati
                       pesan yang akan disampaikan kepada pembelajar bisa
                       berupa alat, bahan, dan orang (Degeng, 1989:142).
                  d. Media sebagai segala sesuatu yang dapat digunakan
                       untuk menyalurkan pesan dan pengirim pesan kepada
                       penerima pesan, sehingga dapat merangsang pildran,
                       perasaan, perhatian, dan minat serta perhatian siswa
                       sedemikian rupa, sehingga proses belajar mengajar
                       berlangsung dengan efektif dan efesien sesuai dengan
                       yang diharapkan (Sadiman, dkk., 2002:6).
                  e. Alat yang secara fisik digunakan untuk menyampaikan isi
                       materi, yang terdiri antara lain buku, tape-recorder, kaset,
                       video kamera, video recorder, film, slide, foto, gambar,


9
    Heinich et.al., 1993
                                                                      20




            grafik, televisi, dan komputer (Gagne dan Briggs dalam
            Arsyad, 2002:4).

        Berdasarkan beberapa pendapat di atas, dapat disimpulkan
bahwa       media    pengajaran    adalah    bahan,    alat,     maupun
metode/teknik yang digunakan dalam kegiatan belajar mengajar
dengan maksud agar proses interaksi komunikasi edukatif antara
guru dan anak didik dapat berlangsung secara efektif dan efesien
sesuai dengan tujuan pengajaran yang telah dicita-citakan. Selain
itu media pembelajaran dapat diartikan juga segala sesuatu yang
menyangkut software dan hardware yang dapat digunakan untuk
meyampaikan isi materi ajar dari sumber belajar ke pebelajar
(individu   atau    kelompok),    yang   dapat   merangsang      pikiran,
perasaan, perhatian dan minat pebelajar sedemikian rupa sehingga
proses belajar (di dalam/di luar kelas) menjadi lebih efektif.

    2.2 Tujuan Penggunaan Media Pembelajaran

        Penggunaan media pengajaran sangat diperlukan dalam
kaitannya dengan peningkatan mutu pendidikan khususnya dalam
pembelajaran membaca puisi. Menurut Achsin menyatakan bahwa
tujuan penggunaan media pengajaran adalah (1) agar proses
belajar mengajar yang sedang berlangsung dapat berjalan dengan
tepat guna dan berdaya guna, (2) untuk mempermudah bagi
guru/pendidik daiam menyampaikan informasi materi kepada anak
didik, (3) untuk mempermudah bagi anak didik dalam menyerap
atau menerima serta memahami materi yang telah disampaikan
oleh guru/pendidik, (4) untuk dapat mendorong keinginan anak
didik untuk mengetahui lebih banyak dan mendalam tentang materi
atau pesan yang disampaikan oleh guru/pendidik, (5) untuk
menghindarkan salah pengertian atau salah paham antara anak
                                                                      21




       didik yang satu dengan yang lain terhadap materi atau pesan yang
       disampaikan oleh guru/pendidik10. Sedangkan Sudjana, dkk.
       (2002:2) menyatakan tentang tujuan pemanfaatan media adalah (1)
       pengajaran akan lebih menarik perhatian siswa sehingga dapat
       menimbulkan motivasi, (2) bahan pelajaran akan lebih jelas
       maknanya sehingga dapat lebih dipahami, (3) metode mengajar
       akan lebih bervariasi, dan (4) siswa akan lebih banyak melakukan
       kegiatan belajar. Jadi dapat disimpulkan bahwa tujuan penggunaan
       media adalah (1) efektivitas dan efisiensi dalam kegiatan belajar
       mengajar, (2) meningkatkan motivasi belajar siswa, (3) variasi
       metode pembelajaran, dan (4) peningkatan aktivasi siswa dalam
       kegiatan belajar mengajar.

            2.3 Manfaat Media Pembelajaran

                Secara umum manfaat penggunaan media pengajaran
       dalam kegiatan belajar mengajar, yaitu (1) media pengajaran dapat
       menarik dan memperbesar perhatian anak didik terhadap materi
       pengajaran yang disajikan, (2) media pengajaran dapat mengatasi
       perbedaan pengalaman belajar anak didik berdasarkan latar
       belakang sosil ekonomi, (3) media pengajaran dapat membantu
       anak didik dalam memberikan pengalaman belajar yang sulit
       diperoleh dengan cara lain, (5) media pengajaran dapat membantu
       perkembangan pikiran anak didik secara teratur tentang hal yang
       mereka alami dalam kegiatan belajar mengajar mereka, misainya
       menyaksikan pemutaran film tentang suatu kejadian atau peristiwa.
       rangkaian dan urutan kejadian yang mereka saksikan dan
       pemutaran film tadi akan dapat mereka pelajari secara teratur dan
       berkesinambungan, (6) media pengajaran dapat menumbuhkan


10
     Menurut Achsin (1986:17-18)
                                                                                22




       kemampuan anak didik untuk berusaha mempelajari sendiri
       berdasarkan pengalaman dan kenyataan, (7) media pengajaran
       dapat mengurangi adanya verbalisme dalain suatu proses (dalam
       bentuk kata-kata tertulis atau lisan belaka)11.

                Sedangkan      menurut    Sadiman,    dkk.    (2002:16), media
       pengajaran dapat mengatasi keterbatasan ruang, waktu, dan daya
       indera, misalnya (1) obyek yang terlalu besar bisa digantikan
       dengan realita, gambar, film, atau model, (2) obyek yang kecil bisa
       dibantu dengan menggunakan proyektor, gambar, (3) gerak yang
       terlalu cepat dapat dibantu dengan timelapse atau high-speed
       photography, (4) kejadian atau peristiwa di masa lampau dapat
       ditampilkan dengan pemutaran film, video, foto, maupun VCD, (5)
       objek yang terlalu kompleks (misalnya mesin-mesin) dapat
       disajikan dengan model, diagram, dan lain-lain, dan (6) konsep
       yang terlalu luas (misalnya gunung berapi, gempa bumi, iklim, dan
       lain-lain) dapat divisualisasikan dalam bentuk film, gambar, dan
       lain-lain.

                Adapun manfaat media pembelajaran menurut Harjanto
       (1997 : 245) adalah :

                1) Memperjelas       penyajian   pesan       agar   tidak   terlalu
                     verbalistis ( tahu kata – katanya, tetapi tidak tahu
                     maksudnya).
                2) Mengatasi keterbatasan ruang, waktu dan daya indera.
                3) Dengan menggunakan media pembelajaran yang tepat
                     dan bervariasi dapat diatasi sikap pasif siswa.

11
     Latuheru, 1988:23-24
                                                                      23




      4) Dapat menimbulkan persepsi yang sama terhadap suatu
          masalah.

   Selanjutnya menurut Purnamawati dan Eldarni (2001 : 4) yaitu :

      1) Membuat konkrit konsep yang abstrak, misalnya untuk
          menjelaskan peredaran darah.
      2) Membawa obyek yang berbahaya atau sukar didapat di
          dalam lingkungan belajar.
      3) Manampilkan obyek yang terlalu besar, misalnya pasar,
          candi.
      4) Menampilkan obyek yang tidak dapat diamati dengan
          mata telanjang.
      5) Memperlihatkan gerakan yang terlalu cepat.
      6) Memungkinkan         siswa   dapat      berinteraksi   langsung
          dengan lingkungannya.
      7) Membangkitkan motivasi belajar
      8) Memberi kesan perhatian individu untuk seluruh anggota
          kelompok belajar.
      9) Menyajikan informasi belajar secara konsisten dan dapat
          diulang maupun disimpan menurut kebutuhan.
      10) Menyajikan    informasi      belajar      secara      serempak
          (mengatasi waktu dan ruang).
      11) Mengontrol arah maupun kecepatan belajar siswa.

      Pemanfaatan media pembelajaran dalam proses belajar
mengajar perlu direncanakan dan dirancang secara sistematik agar
media pembelajaran itu efektif untuk digunakan dalam proses
belajar   mengajar.   Ada   beberapa     pola     pemanfaatan      media
pembelajaran, yaitu (1) pemanfaatan media dalam situasi kelas
atau di dalam kelas, yaitu media pembelajaran dimanfaatkan untuk
                                                                   24




menunjang tercapainya tujuan tertentu dan pemanfaatannya
dipadukan dengan proses belajar mengajar dalam situasi kelas, (2)
pemanfaatan media di luar situasi kelas atau di luar kelas, meliputi
(a) pemanfaatan secara bebas yaitu media yang digunakan tidak
diharuskan kepada pemakai tertentu dan tidak ada kontrol dan
pengawasan dad pembuat atau pengelola media, serta pemakai
tidak dikelola dengan prosedur dan pola tertentu, dan (b)
pemanfaatan secara terkontrol yaitu media itu digunakan dalam
serangkaian kegiatan yang diatur secara sistematik untuk mencapai
tujuan pembelajaran yang telah ditentukan untuk dipakai oleh
sasaran pemakai (populasi target) tertentu dengan mengikuti pola
dan   prosedur   pembelajaran     tertentu   hingga    mereka   dapat
mencapai tujuan pembelajaran tersebut, (3) pemanfaatan media
secara   perorangan,     kelompok     atau   massal,    meliputi   (a)
pemanfaatan media secara perorangan, yaitu penggunaan media
oleh seorang saja (sendirian saja), dan (b) pemanfaatan media
secara kelompok, baik kelompok kecil (2—8 orang) maupun
kelompok besar (9—40 orang), (4) media dapat juga digunakan
secara massal, artinya media dapat digunakan oleh orang yang
jumlahnya puluhan, ratusan bahkan ribuan secara bersama-sama.

      Berdasarkan pendapat tersebut di atas, dapat dikatakan
bahwa seorang guru dalam memanfaatkan suatu media untuk
digunakan dalarn proses belajar mengajar harus memperhatikan
beberapa hal, yaitu (1) tujuan pembelajaran yang akan dicapai, (2)
isi materi pelajaran, (3) strategi belajar mengajar yang digunakan,
(4) karakteristik siswa yang belajar. Karakteristik siswa yang belajar
yang dimaksud adalah tingkat pengetahuan siswa terhadap media
yang digunakan, bahasa siswa, artinya isi pesan yang disampaikan
melalui media harus disesuaikan dengan tingkat kemampuan
                                                                   25




berbahasa    atau   kosakata    yang      dimiliki   siswa   sehingga
memudahkan siswa dalam memahami isi materi yang disampaikan
melalui media. Selain itu, penting juga untuk memperhatikan jumlah
siswa. Artinya media yang digunakan hendaknya disesuaikan
dengan jumlah siswa yang belajar.

   2.4 Fungsi Media Pembelajaran

      Efektivitas proses belajar mengajar (pembelajaran) sangat
dipengaruhi oleh faktor metode dan media pembelajaran yang
digunakan. Keduanya saling berkaitan, di mana pemilihan metode
tertentu akan berpengaruh terhadap jenis media yang akan
digunakan. Dalam arti bahwa harus ada kesesuaian di antara
keduanya untuk mewujudkan tujuan pembelajaran. Walaupun ada
hal-hal lain yang juga perlu diperhatikan dalam pemilihan media,
seperti: konteks pembelajaran, karakteristik pebelajar, dan tugas
atau respon yang diharapkan dari pebelajar (Arsyad, 2002).
Sedangkan menurut Criticos (1996), tujuan pembelajaran, hasil
belajar, isi materi ajar, rangkaian dan strategi pembelajaran adalah
kriteria untuk seleksi dan produksi media. Dengan demikian,
penataan pembelajaran (iklim, kondisi, dan lingkungan belajar)
yang dilakukan oleh seorang pengajar dipengaruhi oleh peran
media yang digunakan.

      Pemanfaatan       media     dalam       pembelajaran      dapat
membangkitkan keinginan dan minat baru, meningkatkan motivasi
dan rangsangan kegiatan belajar, dan bahkan berpengaruh secara
psikologis kepada siswa (Hamalik, 1986). Selanjutnya diungkapkan
bahwa penggunaan media pengajaran akan sangat membantu
keefektifan proses pembelajaran dan penyampaian informasi
(pesan dan isi pelajaran) pada saat itu. Kehadiran media dalam
                                                                    26




pembelajaran     juga     dikatakan   dapat   membantu    peningkatan
pemahaman siswa, penyajian data/informasi lebih menarik dan
terpercaya, memudahkan penafsiran data, dan memadatkan
informasi. Jadi dalam hal ini dikatakan bahwa fungsi media adalah
sebagai alat bantu dalam kegiatan belajar mengajar.

        Sadiman, dkk (1990) menyampaikan fungsi media (media
pendidikan) secara umum, adalah sebagai berikut: (i) memperjelas
penyajian pesan agar tidak terlalu bersifat visual; (ii) mengatasi
keterbatasan ruang, waktu, dan daya indera, misal objek yang
terlalu besar untuk dibawa ke kelas dapat diganti dengan gambar,
slide, dsb., peristiwa yang terjadi di masa lalu bisa ditampilkan lagi
lewat film, video, fota atau film bingkai; (iii) meningkatkan
kegairahan     belajar,    memungkinkan       siswa   belajar   sendiri
berdasarkan minat dan kemampuannya, dan mengatasi sikap pasif
siswa; dan (iv) memberikan rangsangan yang sama, dapat
menyamakan pengalaman dan persepsi siswa terhadap isi
pelajaran.

        Fungsi media, khususnya media visual juga dikemukakan
oleh Levie dan Lentz, seperti yang dikutip oleh Arsyad (2002)
bahwa media tersebut memiliki empat fungsi yaitu: fungsi atensi,
fungsi afektif, fungsi kognitif, dan fungsi kompensatoris. Dalam
fungsi atensi, media visual dapat menarik dan mengarahkan
perhatian siswa untuk berkonsentrasi kepada isi pelajaran. Fungsi
afektif dari media visual dapat diamati dari tingkat “kenikmatan”
siswa ketika belajar (membaca) teks bergambar. Dalam hal ini
gambar atau simbul visual dapat menggugah emosi dan sikap
siswa. Berdasarkan temuan-temuan penelitian diungkapkan bahwa
fungsi kognitif media visual melalui gambar atau lambang visual
dapat    mempercepat       pencapaian   tujuan   pembelajaran    untuk
                                                                   27




memahami dan mengingat pesan/informasi yang terkandung dalam
gambar atau lambang visual tersebut. Fungsi kompensatoris media
pembelajaran adalah memberikan konteks kepada siswa yang
kemampuannya lemah dalam mengorganisasikan dan mengingat
kembali informasi dalam teks. Dengan kata lain bahwa media
pembelajaran ini berfungsi untuk mengakomodasi siswa yang
lemah dan lambat dalam menerima dan memahami isi pelajaran
yang disajikan dalam bentuk teks (disampaikan secara verbal).

        Dengan menggunakan istilah media pengajaran, Sudjana
dan Rivai (1992) mengemukakan beberapa manfaat media dalam
proses belajar siswa, yaitu: (i) dapat menumbuhkan motivasi belajar
siswa karena pengajaran akan lebih menarik perhatian mereka; (ii)
makna bahan pengajaran akan menjadi lebih jelas sehingga dapat
dipahami siswa dan memungkinkan terjadinya penguasaan serta
pencapaian tujuan pengajaran; (iii) metode mengajar akan lebih
bervariasi, tidak semata-mata didasarkan atas komunikasi verbal
melalui kata-kata; dan (iv) siswa lebih banyak melakukan aktivitas
selama kegiatan belajar, tidak hanya mendengarkan tetapi juga
mengamati,     mendemonstrasikan,         melakukan   langsung,   dan
memerankan.

        Berdasarkan atas beberapa fungsi media pembelajaran yang
dikemukakan di atas, maka dapat disimpulkan bahwa penggunaan
media dalam kegiatan belajar mengajar memiliki pengaruh yang
besar    terhadap   alat-alat   indera.   Terhadap    pemahaman    isi
pelajaran, secara nalar dapat dikemukakan bahwa dengan
penggunaan media akan lebih menjamin terjadinya pemahaman
yang lebih baik pada siswa. Pebelajar yang belajar lewat
mendengarkan saja akan berbeda tingkat pemahaman dan
lamanya “ingatan” bertahan, dibandingkan dengan pebelajar yang
                                                                 28




belajar lewat melihat atau sekaligus mendengarkan dan melihat.
Media pembelajaran juga mampu membangkitkan dan membawa
pebelajar ke dalam suasana rasa senang dan gembira, di mana
ada keterlibatan emosianal dan mental. Tentu hal ini berpengaruh
terhadap semangat mereka belajar dan kondisi pembelajaran yang
lebih   hidup,   yang   nantinya   bermuara   kepada   peningkatan
pemahaman pebelajar terhadap materi ajar.

   2.5 Klasifikasi Media Pembelajaran

        Dari segi perkembangan teknologi, media pembelajaran
dapat dikelompokkan menjadi dua kategori luas, yaitu pilihan media
tradisional dan pilihan media teknologi mutakhir (Seels & Glasgow
dalam Arsyad, 2002:33). Lebih lanjut dijelaskan bahwa pilihan
media tradisional dapat dibedakan menjadi (1) visual diam yang
diproyeksikan, misal proyeksi opaque (tak tembus pandang),
proyeksi overhead, slides, dan filmstrips, (2) visual yang tidak
diproyeksikan, misal gambar, poster, foto, charts, grafik, diagram,
pemaran, papan info, (3) penyajian multimedia, misal slide plus
suara (tape), multi-image, (4) visual dinamis yang diproyeksikan,
misal film, televisi, video, (5) cetak, misal buku teks, modul, teks
terprogram, workbook, majalah ilmiah/berkala, lembaran lepas
(hand-out), (6) permainan, misal teka-teki, simulasi, permainan
papan, dan (7) realia, misal model, specimen (contoh), manipulatif
(peta, boneka). Sedangkan pilihan media teknologi mutakhir
dibedakan menjadi (1) media berbasis telekomunikasi, misal
teleconference, kuliah jarak jauh, dan (2) media berbasis
mikroprosesor, misal computer-assistted instruction, permainan
komputer, sistem tutor intelejen, interaktif, hypermedia, dan
compact (video) disc.
                                                                  29




      Media pembelajaran merupakan komponen instruksional
yang meliputi pesan, orang, dan peralatan. Dengan masuknya
berbagai   pengaruh     ke    dalam   dunia   pendidikan   (misalnya
teori/konsep baru dan teknologi), media pendidikan (pembelajaran)
terus mengalami perkembangan dan tampil dalam berbagai jenis
dan format, dengan masing-masing ciri dan kemampuannya
sendiri. Dari sinilah kemudian timbul usaha-usaha untuk melakukan
klasifikasi atau pengelompokan media, yang mengarah kepada
pembuatan taksonomi media pendidikan/pembelajaran.

      Usaha-usaha ke arah taksonomi media tersebut telah
dilakukan oleh beberapa ahli. Rudy Bretz, mengklasifikasikan
media berdasarkan unsur pokoknya yaitu suara, visual (berupa
gambar, garis, dan simbol), dan gerak. Di samping itu juga, Bretz
membedakan antara media siar (telecommunication) dan media
rekam (recording). Dengan demikian, media menurut taksonomi
Bretz dikelompokkan menjasi 8 kategori: 1) media audio visual
gerak, 2) media audio visual diam, 3) media audio semi gerak, 4)
media visual gerak, 5) media visual diam, 6) media semi gerak, 7)
media audio, dan 8) media cetak.

      Pengelompokan menurut tingkat kerumitan perangkat media,
khususnya media audio-visual, dilakukan oleh C.J Duncan, dengan
menyususn suatu hirarki. Dari hirarki yang digambarkan oleh
Duncan dapat ditarik suatu kesimpulan bahwa semakin tinggi
tingkat hirarki suatu media, semakin rendah satuan biayanya dan
semakin    khusus     sifat   penggunaannya.    Namun      demikian,
kemudahan dan keluwesan penggunaannya semakin bertambah.
Begitu juga sebaliknya, jika suatu media berada pada hirarki paling
rendah. Schramm (dalam Sadiman, dkk., 1986) juga melakukan
pegelompokan media berdasarkan tingkat kerumitan dan besarnya
                                                                        30




biaya. Dalam hal ini, menurut Schramm ada dua kelompok media
yaitu big media (rumit dan mahal) dan little media (sederhana dan
murah). Lebih jauh lagi ahli ini menyebutkan ada media massal,
media kelompok, dan media individu, yang didasarkan atas daya
liput media.

       Beberapa ahli yang lain seperti Gagne, Briggs, Edling, dan
Allen, membuat taksonomi media dengan pertimbangan yang lebih
berfokus pada proses dan interaksi dalam belajar, ketimbang sifat
medianya sendiri. Gagne misalnya, mengelompokkan media
berdasarkan tingkatan hirarki belajar yang dikembangkannya.
Menurutnya, ada 7 macam kelompok media seperti: benda untuk
didemonstrasikan, komunikasi lisan, media cetak, gambar diam,
gambar      gerak,   film     bersuara,   dan    mesin   belajar.   Briggs
mengklasifikasikan media menjadi 13 jenis berdasarkan kesesuaian
rangsangan yang ditimbulkan media dengan karakteristik siswa.
Ketiga belas jenis media tersebut adalah: objek/benda nyata,
model, suara langsung, rekaman audio, media cetak, pembelajaran
terprogram, papan tulis, media transparansi, film bingkai, film (16
mm), film rangkai, televisi, dan gambar (grafis).

       Sejalan dengan perkembangan teknologi, maka media
pembelajaran pun mengalami perkembangan melalui pemanfaatan
teknologi    itu   sendiri.    Berdasarkan      perkembangan    teknologi
tersebut, Arsyad (2002) mengklasifikasikan media atas empat
kelompok: 1) media hasil teknologi cetak, 2) media hasil teknologi
audio-visual, 3) media hasil teknologi berbasis komputer, dan 4)
media hasil gabungan teknologi cetak dan komputer. Seels dan
Glasgow (dalam Arsyad, 2002) membagi media ke dalam dua
kelompok besar, yaitu: media tradisional dan media teknologi
mutakhir. Pilihan media tradisional berupa media visual diam tak
                                                                      31




diproyeksikan     dan     yang    diproyeksikan,     audio,   penyajian
multimedia, visual dinamis yang diproyeksikan, media cetak,
permainan, dan media realia. Sedangkan pilihan media teknologi
mutakhir   berupa        media    berbasis      telekomunikasi    (misal
teleconference)    dan    media    berbasis     mikroprosesor     (misal:
permainan komputer dan hypermedia).

      Dari beberapa pengelompokkan media yang dikemukakan di
atas, tampaknya bahwa hingga saat ini belum terdapat suatu
kesepakatan tentang klasifikasi (sistem taksonomi) media yang
baku. Dengan kata lain, belum ada taksonomi media yang berlaku
umum dan mencakup segala aspeknya, terutama untuk suatu
sistem instruksional (pembelajaran). Atau memang tidak akan
pernah ada suatu sistem klasifikasi atau pengelompokan yang
sahih dan berlaku umum. Meskipun demikian, apapun dan
bagaimanapun cara yang ditempuh dalam mengklasifikasikan
media, semuanya itu memberikan informasi tentang spesifikasi
media yang sangat perlu kita ketahui. Pengelompokan media yang
sudah ada pada saat ini dapat memperjelas perbedaan tujuan
penggunaan, fungsi dan kemampuannya, sehingga bisa dijadikan
pedoman    dalam    memilih      media   yang    sesuai   untuk    suatu
pembelajaran tertentu.

   2.6 Karakteristik Media Pembelajaran

      Setiap media pembelajaran memiliki karakteristik tertentu,
yang dikaitkan atau dilihat dari berbagai segi. Misalnya, Schramm
melihat karakteristik media dari segi ekonomisnya, lingkup sasaran
yang dapat diliput, dan kemudahan kontrolnya oleh pemakai
(Sadiman, dkk., 1990). Karakteristik media juga dapat dilihat
menurut kemampuannya membangkitkan rangsangan seluruh alat
                                                                      32




indera. Dalam hal ini, pengetahuan mengenai karakteristik media
pembelajaran sangat penting artinya untuk pengelompokan dan
pemilihan media. Kemp, 1975, (dalam Sadiman, dkk., 1990) juga
mengemukakan bahwa karakteristik media merupakan dasar
pemilihan media yang disesuaikan dengan situasi belajar tertentu.

         Gerlach dan Ely mengemukakan tiga karakteristik media
berdasarkan petunjuk penggunaan media pembelajaran untuk
mengantisipasi kondisi pembelajaran di mana guru tidak mampu
atau kurang efektif dapat melakukannya. Ketiga karakteristik atau
ciri media pembelajaran tersebut (Arsyad, 2002) adalah: a) ciri
fiksatif, yang menggambarkan kemampuan media untuk merekam,
menyimpan, melestarikan, dan merekonstruksi suatu peristiwa atau
obyek;    b)    ciri   manipulatif,   yaitu   kamampuan    media   untuk
mentransformasi suatu obyek, kejadian atau proses dalam
mengatasi masalah ruang dan waktu. Sebagai contoh, misalnya
proses larva menjadi kepompong dan kemudian menjadi kupu-kupu
dapat disajikan dengan waktu yang lebih singkat (atau dipercepat
dengan teknik time-lapse recording). Atau sebaliknya, suatu
kejadian/peristiwa       dapat      diperlambat   penayangannya     agar
diperoleh urut-urutan yang jelas dari kejadian/peristiwa tersebut; c)
ciri   distributif,    yang    menggambarkan         kemampuan     media
mentransportasikan obyek atau kejadian melalui ruang, dan secara
bersamaan kejadian itu disajikan kepada sejumlah besar siswa, di
berbagai tempat, dengan stimulus pengalaman yang relatif sama
mengenai kejadian tersebut.

         Berdasarkan       uraian      sebelumnya,     ternyata    bahwa
karakteristik media, klasifikasi media, dan pemilihan media
merupakan satu kesatuan yang tidak terpisahkan dalam penentuan
strategi pembelajaran. Banyak ahli, seperti Bretz, Duncan, Briggs,
                                                                      33




Gagne,    Edling,    Schramm,        dan     Kemp,   telah   melakukan
pengelompokan       atau   membuat      taksonomi     mengenai     media
pembelajaran. Dari sekian pengelompokan tersebut, secara garis
besar media pembelajaran dapat diklasifikasikan atas: media grafis,
media audio, media proyeksi diam (hanya menonjolkan visual saja
dan disertai rekaman audio), dan media permainan-simulasi.
Arsyad (2002) mengklasifikasikan media pembelajaran menjadi
empat kelompok berdasarkan teknologi, yaitu: media hasil teknologi
cetak, media hasil teknologi audio-visual, media hasil teknologi
berdasarkan komputer, dan media hasil gabungan teknologi cetak
dan komputer. Masing-masing kelompok media tersebut memiliki
karakteristik yang khas dan berbeda satu dengan yang lainnya.
Karakteristik dari masing-masing kelompok media tersebut akan
dibahas dalam uraian selanjutnya.

       Media grafis. Pada prinsipnya semua jenis media dalam
kelompok ini merupakan penyampaian pesan lewat simbul-simbul
visual dan melibatkan rangsangan indera penglihatan. Karakteristik
yang dimiliki adalah: bersifat kongkret, dapat mengatasi batasan
ruang dan waktu, dapat memperjelas suatu masalah dalam bidang
masalah apa saja dan pada tingkat usia berapa saja, murah
harganya dan mudah mendapatkan serta menggunakannya,
terkadang memiliki ciri abstrak (pada jenis media diagram),
merupakan ringkasan visual suatu proses, terkadang menggunakan
simbul-simbul verbal (pada jenis media grafik), dan mengandung
pesan yang bersifat interpretatif.

       Media    audio.     Hakekat    dari   jenis-jenis   media   dalam
kelompok ini adalah berupa pesan yang disampaikan atau
dituangkan kedalam simbul-simbul auditif (verbal dan/atau non-
verbal), yang melibatkan rangsangan indera pendengaran. Secara
                                                                    34




umum media audio memiliki karakteristik atau ciri sebagai berikut:
mampu     mengatasi    keterbatasan    ruang    dan   waktu    (mudah
dipindahkan    dan    jangkauannya    luas),   pesan/program     dapat
direkam dan diputar kembali sesukanya, dapat mengembangkan
daya imajinasi dan merangsang partisipasi aktif pendengarnya,
dapat mengatasi masalah kekurangan guru, sifat komunikasinya
hanya satu arah, sangat sesuai untuk pengajaran musik dan
bahasa, dan pesan/informasi atau program terikat dengan jadwal
siaran (pada jenis media radio).

       Media proyeksi diam. Beberapa jenis media yang termasuk
kelompok ini memerlukan alat bantu (misal proyektor) dalam
penyajiannya. Ada kalanya media ini hanya disajikan dengan
penampilan visual saja, atau disertai rekaman audio. Karakteristik
umum media ini adalah: pesan yang sama dapat disebarkan ke
seluruh siswa secara serentak, penyajiannya berada dalam kontrol
guru, cara penyimpanannya mudah (praktis), dapat mengatasi
keterbatasan ruang, waktu, dan indera, menyajikan obyek -obyek
secara diam (pada media dengan penampilan visual saja),
terkadang dalam penyajiannya memerlukan ruangan gelap, lebih
mahal dari kelompok media grafis, sesuai untuk mengajarkan
keterampilan tertentu, sesuai untuk belajar secara berkelompok
atau individual, praktis dipergunakan untuk semua ukuran ruangan
kelas, mampu menyajikan teori dan praktek secara terpadu,
menggunakan teknik-teknik warna, animasi, gerak lambat untuk
menampilkan obyek/kejadian tertentu (terutama pada jenis media
film), dan media film lebih realistik, dapat diulang-ulang, dihentikan,
dsb., sesuai dengan kebutuhan.

       Media permainan dan simulasi. Ada beberapa istilah lain
untuk kelompok media pembelajaran ini, misalnya simulasi dan
                                                                        35




permainan peran, atau permainan simulasi. Meskipun berbeda-
beda, semuanya dapat dikelompkkan ke dalam satu istilah yaitu
permainan (Sadiman, 1990). Ciri atau karakteristik dari media ini
adalah: melibatkan pebelajar secara aktif dalam proses belajar,
peran pengajar tidak begitu kelihatan tetapi yang menonjol adalah
aktivitas interaksi antar pebelajar, dapat memberikan umpan balik
langsung, memungkinkan penerapan konsep-konsep atau peran-
peran ke dalam situasi nyata di masyarakat, memiliki sifat luwes
karena dapat dipakai untuk berbagai tujuan pembelajaran dengan
mengubah       alat    dan      persoalannya     sedikit   saja,     mampu
meningkatkan      kemampuan          komunikatif     pebelajar,      mampu
mengatasi keterbatasan pebelajar yang sulit belajar dengan metode
tradisional,   dan     dalam     penyajiannya      mudah    dibuat    serta
diperbanyak.

   2.7 Prinsip-prinsip Pemilihan Media Pembelajaran

        Prinsip-prinsip pemilihan media pembelajaran merujuk pada
pertimbangan seorang guru dalam memilih dan menggunakan
media pembelajaran untuk digunakan atau dimanfaatkan dalam
kegiatan belajar mengajar. Hal ini disebabkan adanya beraneka
ragam media yang dapat digunakan atau dimanfaatkan dalam
kegiatan belajar mengajar.

        Menurut       Rumampuk      (1988:19)      bahwa    prinsip-prinsip
pemilihan media adalah (1) harus diketahui dengan jelas media itu
dipilih untuk tujuan apa, (2) pemilihan media hams secara objektif,
bukan semata-mata didasarkan atas kesenangan guru atau
sekedar sebagai selingan atau hiburan. pemilihan media itu benar-
benar    didasarkan      atas     pertimbangan     untuk    meningkatkan
efektivitas belajar siswa, (3) tidak ada satu pun media dipakai untuk
                                                                 36




mencapai semua tujuan. Setiap media memiliki kelebihan dan
kelemahan. Untuk menggunakan media dalam kegiatan belajar
mengajar hendaknya dipilih secara tepat dengan melihat kelebihan
media untuk mencapai tujuan pengajaran tertentu, (4) pemilihan
media hendaknya disesuaikan dengan metode mengajar dan
materi pengajaran, mengingat media merupakan bagian yang
integral dalam proses belajar mengajar, (5) untuk dapat memilih
media dengan tepat, guru hendaknya mengenal ciri-ciri dan
masing-masing media, dan (6) pemilihan media hendaknya
disesuaikan dengan kondisi fisik lingkungan. Sedangkan Ibrahim
(1991:24) menyatakan beberapa pedoman yang dapat digunakan
untuk memilih media pembelajaran, antara lain (1) sebelum memilih
media pembelajaran, guru harus menyadari bahwa tidak ada
satupun media yang paling baik untuk mencapai semua tujuan.
masing-masing media mempunyai kelebihan dan kelemahan.
penggunaan berbagai macam media pembelaiaran yang disusun
secara serasi dalam proses belajar mengajar akan mengefektifkan
pencapaian tujuan pembelajaran, (2) pemilihan media hendaknya
dilakukan secara objektif, artinya benar-benar digunakan dengan
dasar pertimbangan efektivitas belajar siswa, bukan karena
kesenangan guru atau sekedar sebagai selingan, (3) pernilihan
media hendaknya memperhatikan syarat-syarat (a) sesuai dengan
tujuan pembelajaran yang akan dicapai, (b) ketersediaan bahan
media, (c) biaya pengadaan, dan (d) kualitas atau mutu teknik. Jadi
dapat   disimpulkan   bahwa     prinsip-prinsip   pemilihan   media
pembelajaran adalah (1) media yang dipilih harus sesuai dengan
tujuan dan materi pelajaran, metode mengajar yang digunakan
serta karakteristik siswa yang belajar (tingkat pengetahuan siswa,
bahasa siswa, dan jumlah siswa yang belajar), (2) untuk dapat
memilih media dengan tepat, guru harus mengenal ciri-ciri dan tiap
                                                                        37




tiap media pembelajaran, (3) pemilihan media pembelajaran harus
berorientasi pada siswa yang belajar, artinya pemilihan media untuk
meningkatkan efektivitas belajar siswa, (4) pemilihan media harus
mempertimbangkan biaya pengadaan, ketersediaan bahan media,
mutu media, dan lingkungan fisik tempat siswa belajar.

      Berdasarkan kesimpulan di atas, dapat diturunkan sejumlah
faktor yang mempengaruhi penggunaan media dalam kegiatan
pembelajaran yang dapat dipakai sebagai dasar dalam kegiatan
pemilihan.   Adapun     faktor-faktor    tersebut    adalah   (1)    tujuan
pembelajaran yang ingin dicapai, (2) karakteristik siswa atau
sasaran, (3) jenis rangsangan belajar yang diinginkan, (4) keadaan
latar atau lingkungan, (5)kondisi setempat, dan (6) luasnya
jangkauan yang ingin dilayani (Sadiman 2002:82).

      Pemilihan      media     pembelajaran         oleh    guru     dalam
pembelajaran berbasis kompetensi membaca puisi juga harus
berpedornan pada prinsip-prinsip pemilihan media yang dilatari oleh
sejumlah faktor di atas. Pemilihan media pembelajaran dalam
proses   belajar    mengajar   harus      disesuaikan      dengan    tujuan
instruksional membaca puisi yang akan dicapai, isi materi pelajaran
pembelajaran membaca puisi, metode mengajar yang akan
digunakan,    dan     karakteristik     siswa.   Sehubungan         dengan
karakteristik siswa, guru harus memiliki pengetahuan tentang
kemampuan intelektual siswa usia SMA, agar guru dapat memilih
media yang benar-benar sesuai dengan siswa yang belajar.
Ketepatan dalam pemilihan media akan dapat meningkatkan mutu
proses belajar mengajar membaca puisi sehingga guru dapat
meningkatkan prestasi belajar siswa.

   2.8 Karakteristik Audien
                                                                   38




       Seorang guru terlebih dahulu harus mengenal/memahami
karakter siswanya dengan baik agar dalam proses belajar mengajar
dapat memilih media yang baik sehingga dapat mencapai tujuan
pembelajaran. Anak didik/siswa dapat diidentifikasi melalui 2 (dua)
tipe karakteristik, yaitu karakteristik umum dan karakteristik khusus.
Karakteristik umum meliputi umur, jenis kelamin, jenjang/tingkat
kelas, tingkat kecerdasan, kebudayaan ataupun faktor sosial
ekonomi. Karakteristik khusus meliputi pengetahuan, kemampuan,
serta sikap mengenai topik atau materi yang disajikan/diajarkan.
Hal   ini   penting   karena   langsung   berpengaruh     dalam   hal
pengambilan keputusan untuk memilih media dan metode mengajar
(Latuheru, 1998:3).

       Kondisi belajar mengajar yang efektif adalah adanya minat
dan perhatian siswa dalam belajar. Minat merupakan suatu sifat
yang relatif menetap pada diri seseorang. Minat ini memiliki
pengaruh yang besar terhadap belajar sebab dengan minat
seseorang akan melakukan sesuatu, sebaliknya tanpa minat tidak
mungkin melakukan sesuatu. Keterlibatan siswa dalam belajar erat
kaiatannya dengan sifat-sifat siswa, baik yang bersifat kognitif
seperti kecerdasan dan bakat maupun yang bersifat afektif, seperti
motivasi, rasa percaya diri, dan minatnya (Usman, 2002:27).

       Minat siswa merupakan faktor utama yang menentukan
derajat keefektifan belajar siswa. Jadi, unsur efektif merupakan
faktor yang menentukan keterlibatan siswa secara aktif dalam
proses pembelajaran (James dalam Usman, 2002:27).
                                                                    39




B. Kerangka Berfikir

         Pada saat sekarang ini Pendidikan Anak Usia Dini sangat
   berkembang pesat sekali di Indonesia, setelah pendidikan taman
   kanak-kanak di hapus dalam sisitem pendidikan yang ada di
   Indonesia. Dengan berkembangnya PAUD sekarang ini, maka para
   orang tua banyak mendaptarkan anak-anak mereka ke PAUD
   terdekat dengan rumah mereka masing-masing.

         Para orang tua yang mendaftarkan anak-anaknya ke PAUD
   mempunyai harapan dan tujuan masing-masing. Dari banyaknya
   harapan dan tujuan dari para orang tua tersebut, rata-rata harapan
   dan tujuan mereka mendaftarkan anak-naknya yaitu supaya
   mempunyai bekal nanti pada saat anak-anaknya memasuki ke
   tingkat pendidikan yang lebih tinggi lagi, yaitu sekolah dasar. Para
   orang tua berharap apabila anak-anak mereka pada saat masuk
   sekolah dasar sudah bisa membaca, menulis, dan bahkan
   berhitung. Tapi ada juga harapan dan tujuan dari para otang tua
   yang lain memasukkan anak mereka ke PAUD yaitu supaya anak-
   anak mereka mempunyai sebuah kegiatan yang bermanfaat. Para
   orang tua tidak ingin anak-anak nya hanya sibuk bermain saja
   dalam kegiatan kesegariannya.

         Melihat harapan dan tujuan tersebut, maka banyak dari para
   tenaga pengajar PAUD memprioritaskan proses pembelajaran yang
   mereka lakukan pada hal CALISTUNG (Baca, Tulis, Hitung). Para
   pengurus dan tenaga pengajar kini sibuk mencari metode/teknik
   dan media pembelajaran yang dapat meningkatkan dengan cepat
   kemampuan siswa/peserta didik dalam hal CALISTUNG. Padahal,
   menurut kami apa yang mereka lakukan itu telah menyimpang dari
   tujuan awal didirikannya PAUD. Adapun tujuan dari dirikannya
   PUAD itu yaitu melaksanakan proses           pembelajaran dengan
                                                                         40




menitikberatkan pada peletakan dasar ke arah pertumbuhan dan
perkembangan     fisik     (koordinasi    motorik    halus    dan    kasar),
kecerdasan (daya pikir, daya cipta, kecerdasan emosi, kecerdasan
spiritual), sosio emosional (sikap dan perilaku serta agama) bahasa
dan komunikasi, sesuai dengan keunikan dan tahap-tahap
perkembangan yang dilalui oleh anak usia dini.

      Apabila    terjadi      proses      pembelajaran       yang    terlalu
menitikberatkan terhadap peningkatan membaca, menulis, dan
menghitung maka peserta didik akan cepat merasa bosan didalam
mengikuti proses pembelajaran yang diberikan oleh pendidik
PAUD. Bahkan didalam benak diri peserta didik akan tercipta sebuh
paradigm    bahwa        pembelajaran       itu     sangat   sudah      dan
membosankan. Karena rata-rata usia peserta didik PAUD yang
memasuki usia BALITA, mereka akan lebih suka apabila proses
pembelajarannya itu lebih bermain dan meningkatkan psikomotorik
mereka.

      Oleh karena itu, menurut peneliti untuk meningkatkan
kemmapuan       siswa      dalam      membaca        dibutuhkan     sebuah
penggunaan media pembelajaran yang sangat menarik dan mudah
dimengerti oleh para peserta didik. Apabila dalam proses
pembelajaran     kurang       tepat      dalam    menggunakan        media
pembelajaran, maka siswa akan lebih merasa cepat bosan dalam
mengikuti proses pembelajaran. Melihat karakteristik peserta didik
yang masih sangat muda yaitu masih dalam usia balita, mereka
akan lebih suka dan tertarik apabila medianya tersebut mempunyai
bentuk yang sangat unik.

      Mengutip dari apa yang diungkapkan oleh Bruner (1966),
dimana terdapat tiga tingkatan utama modus belajar, seperti:
enactive (pengalaman langsung), iconic (pengalaman piktorial atau
                                                                      41




gambar), dan symbolic (pengalaman abstrak). Pemerolehan
pengetahuan dan keterampilan serta perubahan sikap dan perilaku
dapat terjadi karena adanya interaksi antara pengalaman baru
dengan pengalaman yang telah dialami sebelumnya melalui proses
belajar. Sebagai ilustrasi misalnya, belajar untuk memahami apa
dan   bagaimana     mencangkok.       Dalam      tingkatan   pengalaman
langsung,   untuk   memperoleh        pemahaman       pebelajar   secara
langsung mengerjakan atau membuat cangkokan. Pada tingkatan
kedua, iconic, pemahaman tentang mencangkok dipelajari melalui
gambar, foto, film atau rekaman video. Selanjutnya pada tingkatan
pengalaman abstrak, siswa memahaminya lewat membaca atau
mendengar dan mencocokkannya dengan pengalaman melihat
orang mencangkok atau dengan pengalamannya sendiri.

      Berdasarkan apa yang diungkapkan oleh bruner (1966)
tersebut,   maka    dalam    proses    belajar    mengajar    sebaiknya
diusahakan agar terjadi variasi aktivitas yang melibatkan semua
alat indera pebelajar. Semakin banyak alat indera yang terlibat
untuk menerima dan mengolah informasi (isi pelajaran), semakin
besar kemungkinan isi pelajaran tersebut dapat dimengerti dan
dipertahankan dalam ingatan pebelajar. Jadi agar pesan-pesan
dalam materi yang disajikan dapat diterima dengan mudah (atau
pembelajaran berhasil dengan baik), maka pengajar harus
berupaya menampilkan stimulus yang dapat diproses dengan
berbagai indera pebelajar.

      Maka     peniliti   akan    mencoba         menerapkan      proses
pembelajaran dengan menggunakan media huruf alphabet yang
terbuat dari kayu untuk meningkatkan kemampuan peserta didik
PAUD dalam mengeja/membaca. Peneliti yakin media ini dapat
meningkatkan kemampuan membaca para peserta didik karena
                                                                   42




  media ini hampir melibatkan seluruh panca indera dari peserta
  didik. Adapun indera yang dapat terlibat dengan menggunakan
  media pembelajaran ini yaitu; indera penglihatan, pendengaran,
  dan indera perasa.

         Supaya penggunaan media ini lebih efektif maka dalam
  penggunaannya     dapat   diikuti   dengan     penggunaan   metode
  pembelajaran yang menarik. Adapun metode pembelajaran yang
  dapat digunakan yaitu metode belajar sambil bernyanyi. Metode ini
  dirasa tepat karena para peserta didik dengan usia balita akan lebih
  suka   apabila   mereka     belajar   sambil    bernyanyi   dengan
  menggunakan media pembelajaran huruf alphabet dari kayu.
  Kemampuan peserta didik akan lebih cepat meningkat apabila
  menggunakan media dan metode ini. Sehingga apa yang menjadi
  tujuan dan harapan dari para orang tua peserta didik dapat menjadi
  sebuah kenyataan.




C. Hipotesis

         Adapun hipotesis dari penelitian ini yaitu “Kemampuan siswa
  dalam membaca huruf A-Z dapat meningkat dengan menggunakan
  media pembelajaran papan alfhabetis.

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Tags: PTK.doc
Stats:
views:68
posted:6/21/2012
language:Malay
pages:36