Docstoc

PENGERTIAN KECERDASAN EMOSIONAL

Document Sample
PENGERTIAN KECERDASAN EMOSIONAL Powered By Docstoc
					                     PENGERTIAN KECERDASAN EMOSIONAL



             Berdasarkan pengertian tradisional, kecerdasan meliputi kemampuan membaca,
  menulis, berhitung, sebagai jalur sempit keterampilan kata dan angka yang menjadi fokus
  di pendidikan formal (sekolah), dan sesungguhnya mengarahkan seseorang untuk
  mencapai sukses di bidang akademis. Tetapi definisi keberhasilan hidup tidak melulu ini
  saja. Pandangan baru yang berkembang, ada kecerdasan lain di luar IQ, seperti bakat,
  ketajaman pengamatan sosial, hubungan sosial, kematangan emosional yang harus juga
  dikembangkan.1)
             Sedangkan emosi berasal dari bahasa latin “movere” yang berarti pindah dari atau
  bergerak.2) Definisi emosi itu bermacam-macam, seperti “keadaan bergejolak”, gangguan
  keseimbangan”, “response kuat dan tak beraturan terhadap stimulus”.3) Dan menurut
  Grolier Webster international dictionary, emosi           adalah “ An affective state of
  consciousness in which joy, sorrow, fear, hate, or the like is experienced “.4) ( suatu
  keadaan kesadaran afeksi dari sesuatu yang dialami seperti senang, susah, takut, benci
  atau yang lain semacamnya) Daniel Goleman juga merumuskan bahwa emosi merujuk
  pada suatu perasaan dan pikiran-pikiran khasnya, suatu keadaan biologis dan psikologis
  serta serangkaian kecenderungan untuk bertindak. Emosi dapat dikelompokkan sebagai
  suatu rasa amarah, kesedihan, rasa takut, kenikmatan, cinta, terkejut, jengkel dan malu.15)
             Kecerdasan emosional (EI) merupakan istilah yang belum lama dikenal baik di
  dunia psikologi dan sosial pada umumnya. Sebagai sandingan IQ (intelligence Quotient),
  aspek terpenting EI berada pada mental dan emosi. Topik tentang EI menjadi ramai
  dibicarakan oleh masyarakat luas setelah terbitnya buku karya Daniel Goleman pada tahun
  1995 yang berjudul Emotional Intelligence.
             Istilah kecerdasan emosional pertama kali dilontarkan pada tahun 1990 oleh
  psikolog Peter Salovey dari Yale University dan John Mayer dari University of New


        1)
           L. Verina H.Secapramana, Kecerdasan Emosional, http://www.secapramana tripod com.
(Diakses pada 31 Desember 2000 Pukul 16:00 WIB).
        2)
           Webster, Grolier Webster International Dictionary of the English Language, Grolier
Incorporated, New York, 1974, hlm. 321.
        3)
           Drs. M. Dimyati Mahmud, Psikologi Suatu Pengantar, BPFE, Yogyakarta, 1990, hlm. 163.
        4)
           Webster, Loc.Cit.
        5)
            Kecerdasan Emosional, http://hokuriku-mol.twoglobe.com/kecerdasanemosio- nalhtml.
(Diakses pada 23 Agustus 2001 Pukul 15:30 WIB).
   Hampshire. Mereka menggambarkan kecerdasan emosional sebagai “ a form of social
   intelligence that involves the ability to monitor one’s own and other’s         fellings and
   emotions, to discriminate among them, and to use this information to guide one’s thinking
   and action ".26) ( himpunan bagian dari kecerdasan sosial yang melibatkan kemampuan
   memantau perasaan dan emosi baik pada diri sendiri maupun pada orang lain, memilah-
   milah semuanya, dan menggunakan informasi ini untuk membimbing                  fikiran dan
   tindakan).
             Definisi yang tidak jauh berbeda dengan definisi yang dikemukakan Salovey dan
   Mayer di atas, dikemukakan pula oleh Daniel goleman. Kecerdasan emosional menurut
   Daniel Goleman adalah kemampuan mengenali perasaan kita sendiri dan perasaan orang
   lain, kemampuan memotivasi diri sendiri dan kemampuan mengelola emosi dengan baik
   pada diri sendiri dan dalam hubungan dengan orang lain”.7)
             Sedangkan rumusan definisi yang agak berbeda dan kelihatannya lebih simpel
   dan aplikatif dari definisi di atas adalah sebagaimana yang dikemukakan oleh Steve Hein
   yang mendefinisikan kecerdasan emosional sebagai “ knowing what fells good, what fells
   bad and how to get from bad to good "8). (mengetahui mana perasaan-perasaan yang baik,
   mana yang jelek dan bagaimana untuk mendapatkan dari yang jelek itu menjadi baik).
             Di samping itu, masih banyak lagi definisi-definisi kecerdasan emosional yang
   dikemukakan oleh para ahli dengan sudut pandang yang berbeda. Beberapa di antaranya
   memfokuskan pada keahlian atau kecakapan kecerdasan emosional seseorang, beberapa
   ahli yang lain lebih memfokuskan pada tingkah laku, dan yang lain lagi lebih
   memfokuskannya pada hasil akhir (outcome). Definisi-definisi tersebut antara lain:
  1. Heartskills™ mendefinisikan kecerdasan emosional sebagai “ability to navigate life
      towards ever increasing degrees of freedom by accessing innate heartskills: to
      integrate emotions and awareness, to align feelings and reason, to direct actions with
      vision to solve problems, resolve conflicts and creatively enhance inter-and intra-



        6)
             Cary Cherniss, Emotional Intelligence: What It is and Why It Matters, (paper),2000,
http://www.eicosortium.org/research/what_is_emotional_intelligence.htm.        (Diakses pada 31
Desember 2000 Pukul 16:30 WIB). mengutip Peter Salovey and John D. Mayer, Emotional
Intelligence: imagination, Cognition,and Personality, hlm. 212.
         7)
            Daniel Goleman(b), Op.Cit, hlm.512.
         8)
            teve Hein, EQ for Everybody; A Practical Guide to Emotional Intelligence, Aristotle
Press, Florida, 1996, hlm. 8.
      personal relationships.9) (kemampuan untuk mengemudikan kehidupan ke arah
      peningkatan derajat kebebasan yang sesungguhnya dengan               mempergunakan daya
      batin: untuk mengintegrasikan emosi dan kesadaran, menyelaraskan perasaan dan
      fikiran, mengarahkan tindakan dengan pandangan untuk memecahkan suatu
      permasalahan, memecahkan konflik dan secara kreatif mempertinggi hubungan antar
      dan intrapribadi).
  2. Six second berpendapat bahwa kecerdasan emosional adalah “The combination of
      knowing yourself, choosing yourself, and giving yourself. It includes the skills, habits,
      and understandings that shape our thoughts, feelings, and actions in our relationships
      with ourselves and with others.”10) (perpaduan antara pengetahuan diri sendiri,
      pemilihan diri dan pemberian diri. Hal ini termasuk keahlian, kebiasaan, dan
      pemahaman yang membentuk pemikiran, perasaan dan tindakan kita dalam
      berhubungan dengan diri sendiri dan orang lain).
  3. Dan Q-metrics berpendapat bahwa “Emotional Intelligence (EQ) is the ability to sense,
      understand, and effectively apply the power and acumen of emotions as a source of
      human energy, information, trust, creativity and influence.”11) (Kecerdasan emosional
      adalah kemampuan untuk merasakan, memahami dan mempergunakan kekuatan dan
      kecakapan emosi secara efektif sebagai sumber energi manusia, informasi,
      kepercayaan, kreativitas dan pengaruh).
               Secara historis, topik yang berhubungan dengan kecerdasan emosional bukanlah
   persoalan yang baru sama sekali, bahkan penelitian yang berkaitan dengan ini telah
   berlangsung sejak lama. Kenyataan ini didasarkan pada sejarah yang panjang dari
   penelitian dan teori tentang kepribadian dan sosial yang dilakukan oleh para psikolog.
               Ketika para psikolog mulai menulis dan berfikir tentang kecerdasan, mereka
   memfokuskan pada aspek-aspek kognitif termasuk memori dan problem-solving.
   Bagaimanapun, ada beberapa peneliti yang mengakui sejak semula bahwa aspek-aspek
   nonkognitif juga penting. Misalnya, David Wechsler mendefinisikan kecerdasan sebagai
   kumpulan atau kemampuan menyeluruh dari seseorang untuk bertindak yang penuh
   tujuan, berfikir secara rasional, dan berhubungan dengan lingkungannya secara efektif.
        9)
          EQ Definitions, http://www.heartskills.com/eq/eq-definitions.html. (Diakses pada Maret
2001 Pukul 14:30 WIB).
       10)
           Ibid.
        11)
              Ibid.
  Sejak permulaan 1940 ia mengarahkan unsur “non-intellective” sebagaimana
  “intellective”, dengan yang ia maksud efektif, pribadi dan faktor-faktor sosial. Lagipula
  pada permulaan 1943, Wechsler telah mengemukakan bahwa kecakapan non-intellective
  sangat perlu untuk meramalkan kemampuan seseorang untuk meraih keberhasilan dalam
  kehidupan.12)
             Wechsler juga bukan satu-satunya peneliti yang memandang kecerdasan non-
  kognitif sebagai hal yang penting bagi penyesuaian diri dan keberhasilan seseorang. E.L
  Thorndike (1920), misalnya telah menulis tentang Kecerdasan sosial yang merupakan akar
  konsep kecerdasan emosional. Thorndike mendefinisikan kecerdasan sosial sebagai “the
  ability to understand and manage men and women, boys and girl – to act wisely in human
  relations”13) (kemampuan untuk memahami dan mengatur            laki-laki dan perempuan,
  pemuda dan pemudi untuk berbuat secara bijaksana dalam hubungannya dengan manusia).
  Sayangnya hasil karya dari perintis awal ini sebagian besar telah terlupakan hingga pada
  tahun 1983 ketika Howard Gardner mulai menulis tentang personal intelligence dalam
  teori multiple intelligence-nya.
             Gardner melalui kecerdasan personalnya, telah membicarakan kecerdasan sosial.
  Gardner membedakan kecerdasan personal dalam dua bagian yaitu kecerdasan
  interpersonal dan intrapersonal. Ia mendefinisikannya sebagai berikut:
        ‘Kecerdasan antarpribadi adalah kemampuan untuk memahami orang lain :
        apa yang memotivasi mereka, bagaimana mereka bekerja, bagaimana bekerja
        bahu-membahu dengan mereka. Tenaga-tenaga penjualan yang sukses , para
        guru, dokter dan pemimpin keagamaan semuanya orang-orang yang
        mempunyai tingkat kecerdasan pribadi yang tinggi. Kecerdasan intrapribadi
        adalah kemampuan korelatif, tetapi terarah. Ke dalam kemampuan tersebut
        adalah kemampuan membentuk model diri sendiri yang diteliti dan mengacu
        pada diri serta kemampuan untuk menggunakan model tadi sebagai alat untuk
        menempuh kehidupan secara efektif’.14)



       12)
          Carry Cherniss, Loc.Cit.
       13)
           Ibid. mengutip E.L Thorndike, Intelligence and Its Uses, Harper’s Magazine,
1990,140.227-235.
       14)
          Daniel Goleman(a), Op-Cit.hlm. 52 mengutip Howard Gardner, Multiple Intelligences,
BasicBooks, New York, 1993, hlm. 9.
               Kedua     jenis   kecerdasan   yang   dikemukakan   oleh   Gardner   ini   jelas
   memperlihatkan kaitan yang erat dengan pengertian kecerdasan emosional sebagaimana
   yang dikemukakan oleh Salovey dan Mayer serta Goleman. Hanya saja di sini terdapat
   perbedaan di antara keduanya, yaitu dalam hal ini Gardner serta rekan-rekannya tidak
   mengejar secara lebih terperinci peran perasaan dalam kecerdasan, mereka lebih
   memfokuskan pada pemahaman tentang perasaan dan dari sudut pandang bagaimana
   kognisi melihat emosi.15) Fokus ini barangkali secara tidak sengaja menyebabkan belum
   terjelajahinya lautan emosi yang begitu kaya dan yang membuat kehidupan batin dan
   hubungan-hubungan menjadi begitu kompleks.16)
               Sementara itu, kecerdasan emosional menunjukkan pengelompokkan alternatif
   dari tugas-tugas kecerdasan sosial. Di satu pihak kecerdasan emosional lebih luas daripada
   kecerdasan sosial, yakni tidak hanya melibatkan pemikiran tentang emosi dalam
   perhubungan sosial, tetapi juga pemikiran tentang emosi-emosi internal yang penting bagi
   perkembangan pribadi (sebagai lawan dari sosial). Di pihak lain, kecerdasan emosional
   lebih terfokus pada permasalahan-permasalahan emosional yang melekat pada persoalan-
   persoalan pribadi dan sosial.17) Dan yang paling menonjol dalam perbedaan tersebut
   adalah pendekatan yang digunakan oleh Daniel Goleman dan yang lainnya, yang lebih
   mengarah kepada peranan emosi dalam pembentukan kecerdasan emosional.
               Penelitian tentang kecerdasan sosial kemudian berlanjut melalui pekerjaan
   penting yang dilakukan oleh Sternberg dan Smith (1985), Cantor dan Kihlstrom (1987),
   Legree (1995) dan yang lainnya. Sebagian besar dari penelitan itu menggambarkan
   pentingnya pengembangan konsep kecerdasan sosial.


A. Kecakapan-kecakapan Utama Kecerdasan Emosional
               Dalam definisi yang dikemukakan oleh Salovey dan Mayer serta Daniel
   Goleman, disebutkan beberapa kemampuan utama yang harus dimiliki yang berhubungan



        15)
              Ibid, hal.53
        16)
              Ibid.
        17)
             John D. Mayer; et al ., Emotional Intelligence Meets Traditional Standards for an
Intelligence, Ablex Publishing Corporation, 1999, http://www.eqi.org. (Diakses pada 2 April 2001
Pukul 14:30 WIB).
dengan kecerdasan emosional. Kemampuan-kemampuan tersebut mencakup lima
wilayah utama kecerdasan emosional yaitu:
1. Kesadaran Diri ( self awareness )
2. Pengaturan Diri ( self regulation )
3. Motivasi Diri ( self motivation )
4. Empati ( empathy )
5. Membina Hubungan ( relationship ).


ad.1. Kesadaran Diri ( Kemampuan Mengenali Emosi Diri )
            Komponen pertama dari kecerdasan emosional adalah kesadaran diri yaitu
kemampuan untuk memahami emosi-emosi seseorang, kekuatan dan kelemahan-
kelemahannya.18)        Kesadaran diri ini merupakan dasar kecerdasan emosional yang
melandasi terbentuknya kecakapan-kecakapan lain.19) Seseorang yang mempunyai
kecerdasan emosi akan berusaha menyadari emosinya ketika emosi itu menguasai dirinya.
Melalui kesadaran diri tersebut, seseorang dapat mengetahui dan memahami emosinya.
Namun kesadaran diri ini tidak berarti bahwa seseorang itu hanyut terbawa dalam arus
emosinya tersebut sehingga suasana hati itu menguasai dirinya sepenuhnya. Sebaliknya
kesadaran diri adalah keadaan ketika seseorang dapat menyadari emosi yang sedang
menghinggapi fikirannya akibat permaslahan-permasalahan yang dihadapi untuk
selanjutnya ia dapat menguasainya. Orang yang keyakinannya lebih dan menguasai
perasaannya dengan baik dapat diibaratkan pilot yang andal bagi kehidupannya, karena ia
mempunyai kepekaan yang lebih tinggi akan perasaan mereka yang sesungguhnya.
            Kesadaran emosi dimulai dengan penyelarasan diri terhadap aliran perasaan yang
terus ada dalam diri seseorang, kemudian mengenali bagaimana emosi-emosi ini
membentuk persepsi, fikiran dan perbuatannya. Seseorang yang unggul dalam kecakapan
ini selalu sadar tentang emosinya bahkan sering dapat mengenali kehadiran emosi-emosi
itu dan merasakannya secara fisik. Ia dapat mengartikulasikan perasaan-perasaan itu,
selain menunjukkan ekspresi sosialnya yang sesuai.20)


     18)
           EQ Definitions, Loc.Cit.
     19)
           Daniel Goleman(a), Op.Cit, hlm. 64.
     20)
           Daniel Goleman(b), Op.Cit, hlm. 86.
                 Kesadaran emosi diri ini sangat penting dalam kehidupan manusia. Tanpa
  adanya kesadaran terhadap perasaan dan apa yang menjadi penyebabnya, mustahil baginya
  untuk dapat mencapai kebahagiaan hidup.
                 Kaitannya dengan kebahagiaan hidup, seringkali orang mengartikan kebahagiaan
  hidup berdasarkan tingkatan status, pendidikan atau kekayaan materi. Fakta membuktikan
  bahwa banyak orang dianggap berhasil dalam hidupnya (dengan ukuran berlimpahnya
  harta benda dan tingginya status dan pendidikan orang tersebut) namun ternyata orang itu
  tidak dapat merasakan kebahagiaan hidup. Dengan demikian, kebahagiaan hidup tidak
  ditentukan oleh aspek material semata. Sebaliknya, hal itu sangat berkaitan dengan aspek
  emosional. Karena itu untuk mencapai kebahagiaan hidup orang harus sepenuhnya
  mempunyai kesadaran terhadap emosi diri, mampu memahami mana perasaan yang positif
  dan mana yang negatif. Orang hidup juga harus mengetahui apa yang memungkinkan bagi
  dirinya untuk merasa bahagia di masa mendatang berdasarkan kesadaran diri yang tepat.21)
                 Menurut Hein, terdapat empat aspek praktis dalam kesadaran diri. Keempat
  aspek itu adalah;
  a. pengakuan terhadap perasaan ( acknowledging fellings )
  b. penerimaan terhadap perasaan ( acceptance )
  c. identifikasi perasaan yang spesifik ( identifying specific fellings )
  d. prakiraan perasaan di masa yang akan datang ( forecasting fellings in the future).22)
                 Sedangkan Goleman menyebutkan ada tiga kecakapan utama dalam kesadaran
  diri yaitu:
  a. Kesadaran emosi; mengenali emosi diri dan pengaruhnya. Orang dengan kecakapan ini
      akan :
      -         mengetahui emosi mana yang sedang mereka rasakan dan mengapa terjadi
      -         menyadari keterkaitan antara perasaan mereka dengan yang mereka pikirkan
      -         mengetahui bagaimana perasaan mereka mempengaruhi kinerja
      -         mempunyai kesadaran yang menjadi pedoman untuk nilai-nilai dan sasaran-sasaran
                mereka.



          21)
                Steve Hein, Op.Cit, hlm. 14.
          22)
           Steve Hein, Awareness, http://www.eqi.org/aware.htm. (Diakses pada 7 Februari 2001
Pukul 13:00).
  b. Pengukuran diri yang akurat; mengetahui sumber daya batiniah, kemampuan dan
      keterbatasan diri. Orang dengan kecakapan ini akan :
      -         sadar tentang kekuatan-kekuatan dan kelemahan-kelemahannya
      -         menyempatkan diri untuk merenung , belajar dari pengalaman
      -         terbuka terhadap umpan balik yang tulus, perspektif baru, mau terus belajar dan
                mengembangkan diri
      -         mampu menunjukkan rasa humor dan bersedia memandang diri sendiri dengan
                perspektif yang luas.
  c. Kepercayaan diri; kesadaran yang kuat tentang harga diri dan kemampuan diri sendiri.
      Orang dengan kemampuan ini akan :
      -         berani tampil dengan keyakinan diri, berani menyatakan “keberadaannya’
      -         berani menyuarakan pandangan yang tidak populer dan bersedia berkorban demi
                kebenaran
      -         tegas, mampu membuat keputusan yang baik kendati dalam keadaan       tidak pasti
                dan tertekan.23)


  ad. 2. Mengendalikan Emosi Diri ( Self Regulation )
                 Pengendalian emosi diri yaitu kemampuan untuk mengatur pengaruh-pengaruh
  emosi yang menyusahkan seperti kegelisahan dan amarah dan untuk mencegah emosi-
  emosi yang bersifat impulsif.24) Dengan kata lain pengendalian emosi oleh diri sendiri
  berarti berupaya untuk meredam atau menahan gejolak nafsu yang sedang berlaku agar
  emosi tidak terekspresikan secara berlebihan sehingga seseorang tidak sampai dikuasai
  sepenuhnya oleh arus emosinya.
                 Namun demikian pengendalian emosi diri tidak berarti pengendalian secara
  berlebihan (over kontrol), sebab kendali diri yang berlebihan dapat mendatangkan
  kerugian baik fisik maupun mental. Orang yang mematikan perasaannya, terutama
  perasaan negatif yang kuat, menyebabkan meningkatnya denyut jantung sekaligus naiknya
  tekanan darah. Mereka yang memendam emosi akan mendapatkan sejumlah kerugian.

       23)
            Daniel Goleman, Emotional Competence Framework, http:/www.eiconsortium .org
/research/ emotional_competence_framework.htm. (Diakses pada 2 April 2001 Pukul 14:30 WIB).
          24)
            Cary Cherniss dan Daniel Goleman, An EI-Based Theory of Performance, http://www
.eiconsortium.org/research/ei_theory_performance.htm. (Diakses pada 2 April 2001 Pukul 14:30
WIB).
Mereka mungkin tidak menunjukkan tanda-tanda yang kelihatan bahwa mereka sedang
mengalami pembajakan emosi, tetapi sebagai gantinya mereka menderita kehancuran
internal seperti; pusing-pusing, mudah tersinggung, terlalu banyak merokok dan minum,
sulit tidur dan sebagainya. Dan, mereka mempunyai resiko yang sama dengan mereka
yang mudah meledak emosinya.25)
               Menangani perasaan agar dapat terungkapkan secara pas adalah kecakapan yang
bergantung pada kesadaran diri. Emosi muncul secara tiba-tiba dan cepat sekali tanpa
dapat kita duga. Misalnya, emosi marah akan menjadi aktif dan bertindak dengan cepat
sekali tanpa kita duga, ketika mendapat rangsangan emosi seperti apabila hak kita
dirampas, dicemooh orang ataupun ketika merasa disakiti baik secara fisik maupun psikis.
Dalam situasi seperti ini orang mempunyai waktu yang sangat terbatas untuk dapat
mengendalikan emosi tersebut. Semakin cepat ia dapat menentukan dan mengidentifikasi
emosi ini maka akan semakin berpeluang untuk dapat mengendalikannya, sehingga emosi
akan tersalurkan secara tepat, dan orang itu akan terhindar dari melampiaskan emosi ini
secara berlebihan.
               Terdapat lima kemampuan utama yang berhubungan dengan pengaturan diri
yaitu: pengendalian emosi diri, sifat dapat dipercaya, kehati-hatian, adaptabilitas, dan
inovatif.
               Berikut ini beberapa keterampilan yang berhubungan dengan lima kecakapan
tersebut, sebagaimana yang diungkapkan oleh Daniel Goleman:
a. Pengendalian diri; menjaga agar emosi dan impuls yang merusak tetap terkendali.
    Orang dengan kecakapan ini akan mampu :
    -         mengelola dengan baik perasaan-perasaan impulsif dan emosi-emosi yang
              menekan mereka.
    -         tetap teguh, tetap positif dan tidak goyah bahkan dalam situasi yang sangat berat.
    -         berfikir dengan jernih dan tetap terfokus kendati dalam tekanan.
b. Sifat dapat dipercaya; menujukkan standar kejujuran dan integritas. Orang dengan
    kecakapan ini akan mampu :
    -         bertindak menurut etika dan tidak pernah mempermalukan orang
    -         membangun kepercayaan lewat keandalan diri dan otentisitas.
    -         mengakui kesalahan sendiri dan berani menegur perbuatan tidak etis orang lain.


        25)
              Daniel Goleman(b), Op.Cit, hlm. 129.
      -         berpegang kepada prinsip secara teguh bahkan bila akibatnya adalah menjadi
                tidak disukai.
   c. Sifat kewaspadaan; bertanggung jawab atas kinerja pribadi. Orang dengan kecakapan
       ini akan:
      -         Memenuhi komitmen dan mematuhi janji.
      -         Bertanggung jawab terhadap diri sendiri untuk memperjuangkan kepentingannya.
      -         Terorganisasi dengan baik dan cermat dalam bekerja.
   d. Adaptabilitas; luwes dalam menanggapi perubahan. Orang dengan kecakapan ini akan
       mampu :
      -         terampil menangani beragamnya kebutuhan, bergesernya prioritas dan pesatnya
                perubahan.
      -         siap mengubah tanggapan dan taktik untuk menyesuaikan diri dengan keadaan.
      -         luwes dalam memandang situasi.
   e. Inovatif; terbuka terhadap gagasan-gagasan            dan informasi baru. Orang dengan
       kecakapan ini akan mampu :
      -         selalu mencari gagasan baru dari berbagai sumber.
      -         mendahulukan solusi-solusi yang orisinal dalam pemecahan masalah.
      -         menciptakan gagasan-gagasan baru.
      -         berani mengubah wawasan dan mengambil resiko akibat pemikiran baru mereka.26)


  ad. 3. Motivasi Diri ( Self Motivation )
                 Motivasi diri adalah dorongan hati untuk bangkit. Ia merupakan inti secercah
  harapan dalam diri seseorang yang membawa orang itu mempunyai cita-cita yang
  mendorongnya untuk meraih yang lebih tinggi. Motivasi merupakan kepercayaan bahwa
  sesuatu dapat dilakukan, bahkan ketika masalah menghadangnya. Jika seseorang telah
  termotivasi, tidak ada seorang lain pun yang dapat mengambil (merampas) kekuatan
  mereka untuk bergerak maju. Dan ketika motivasi itu datang dari dalam hati seseorang,
  mereka menjadi tak terkalahkan.27)



          26)
                Daniel Goleman, Loc.Cit.
          27)
            Sheila Ellison dan Barbara Ann Barnet, 365 Ways to Help Your Children Grow, Source
books Inc, Illionis, 1996, hlm. 20.
            Dalam salah satu definisi EI di muka telah disebutkan bahwa EI adalah
mengetahui bagaimana untuk meraih dari emosi yang negatif menjadi positif. Dalam hal
ini Motivasi diri adalah komponen utama untuk mewujudkan hal tersebut, yaitu dengan
memotivasi emosi negatif yang sedang dirasakan . Melalui motivasi diri emosi negatif
tersebut diarahkan kepada hal-hal yang baik.
            Emosi dapat dijadikan alat untuk meningkatkan prestasi fikiran kognitif dengan
cara-cara tertentu. Di antaranya adalah dengan cara menumbuhkan harapan dalam diri
seseorang itu. Harapan, menurut penelitian modern, lebih bermanfaat daripada
memberikan sedikit hiburan di tengah kesengsaraan..28) Apabila seseorang mempunyai
harapan, maka segala kebimbangan, keputusasaan dan kesedihan yang dialami dapat
diredakan karena segala masalah dapat diatasi. Segala pekerjaan yang diiringi dengan
harapan akan dibantu perasaan gembira dan bersemangat untuk melaksanakannya. Dan
orang yang memiliki harapan yang tinggi, menurut penemuan Snyder, memiliki ciri-ciri
tertentu, di antaranya adalah mampu memotivasi diri, merasa cukup banyak akal untuk
menemukan cara meraih tujuan, tetap memiliki kepercayaan yang tinggi bahwa segala
sesuatunya akan beres ketika sedang menghadapi tahap sulit, cukup luwes untuk
menemukan cara alternatif agar sasaran tetap tercapai atau untuk mengubah sasaran jika
sasaran semula musykil dicapai.29)
            Dari sudut pandang kecerdasan emosional, orang yang mempunyai harapan
berarti ia tidak akan terjebak dalam kecemasan, bersikap pasrah, atau depresif dalam
menghadapi sulitnya tantangan atau kemunduran.
            Selain perhatian, berusaha untuk memasuki suatu keadaan psikologis yang
disebut “flow” merupakan keadaan mental pada tingkatan yang tinggi. Flow adalah
keadaan ketika seseorang sepenuhnya terserap ke dalam apa yang sedang dikerjakannya,
fikirannya hanya terfokus ke pekerjaan itu, kesadaran menyatu dengan tindakan. Dalam
flow, emosi tidak hanya ditampung dan disalurkan, tetapi juga bersifat mendukung,
memberi tenaga, dan selaras dengan tugas yang sedang dihadapi.30)
            Untuk mencapai keadaan flow, seseorang harus dapat memberikan perhatian
sepenuhnya dan membutuhkan konsentrasi yang tinggi terhadap apa yang dilakukan. Pada

     28)
           Daniel Goleman(a), Op.Cit, hlm. 121.
     29)
           Ibid, hlm. 122
     30)
           Ibid, hlm. 127.
tingkatan ini, emosi diarahkan menjadi tenaga yang positif dan produktif. Emosi menjadi
satu unsur motivasi menghadapi emosi yang negatif seperti kekecewaan, kebimbangan,
dan ketakutan melalui kecakapan-kecakapan tertentu.
        Adapun yang termasuk dalam kecakapan motivasi diri antara lain :
a. Dorongan prestasi; berusaha untuk memperbaiki dan menemukan standar yang
    sempurna. Orang dengan kecakapan ini akan :
   -   beorientasi pada hasil, dengan semangat juang yang tinggi untuk meraih tujuan dan
       memenuhi standar.
   -   menetapkan sasaran yang menantang dan berani mengambil resiko yang telah
       diperhitungkan.
   -   mencari informasi untuk mengurangi ketidakpastian dan mencari cara yang lebih
       baik.
   -   terus belajar untuk meningkatkan kinerja mereka.
b. Komitmen; menyesuaikan diri dengan sasaran kelompok atau organisasi. Orang
    dengan kecapakan ini akan :
   -   siap berkorban demi pemenuhan sasaran organisasi yang lebih penting.
   -   merasakan dorongan semangat dalam misi yang lebih besar.
   -   menggunakan nilai-nilai kelompok dalam pengambilan keputusan dan penjabaran
       pilihan-pilihan.
   -   aktif mencari peluang guna memenuhi misi kelompok.
c. Inisiatif ; Kesiapan untuk memanfaatkan kesempatan. Orang dengan kecakapan ini
    akan :
   -   siap memanfaatkan peluang.
   -   mengejar sasaran yang melebihi dari yang dipersyaratkan atau diharapkan dari
       mereka.
   -   berani melanggar batas-batas dan aturan-aturan yang tidak prinsip bila perlu agar
       tugas dapat dilaksanakan.
   -   mengajak orang lain sesuatu yang tidak lazim dan bernuansa petualangan.
d. Optimisme; keteguhan dalam mengejar sasaran walaupun ada halangan dan
    kegagalan. Orang dengan kecakapan ini akan :
   -   tekun dalam mengejar sasaran kendati banyak halangan dan kegagalan.
   -   bekerja dengan harapan untuk sukses daripada takut gagal.
      -         memandang kemunduran atau kegagalan sebagai situasi yang dapat dikendalikan
                daripada sebagai kekurangan pribadi.31)


  ad. 4. Empati
                 Empati adalah kemampuan untuk merasakan keadaan jiwa dan perasaan orang
   lain.32) Kemampuan empati ini sangat tergantung pada kemampuan seseorang dalam
   merasakan perasaan diri sendiri dan mengidentifikasi perasaan-perasaan tersebut. Apabila
   seseorang tidak dapat merasakan suatu perasaan tertentu , maka akan akan sulit bagi
   orang itu untuk memahami bagaimana perasaan orang lain. Untuk itu, semakin tinggi
   kemampuan seseorang dalam memahami emosi diri maka akan lebih mudah baginya
   untuk menjelajahi dan memasuki emosi orang lain.
                 Empati bermula dari kesadaran akan perasaan orang lain. Akan lebih mudah
   untuk menyadari emosi orang lain jika mereka benar-benar menceritakannya secara
   langsung tentang apa yang mereka rasakan. Tetapi selama mereka tidak menceritakannya,
   seseorang harus berusaha menanyakannya, membaca apa yang tersirat, menduga-duga,
   dan berupaya untuk menginterpretasikan isyarat-isyarat yang bersifat nonverbal. Orang
   yang ekspresif secara emosional adalah paling mudah untuk dibaca, tentunya lewat mata
   dan wajah mereka yang memberitahukan kita bagaimana perasaan mereka.33)
                 Seseorang yang mau membaca emosi orang lain haruslah berempati. Empati
   berbeda dengan simpati. Simpati hanya sekedar memahami masalah atau perlakuan
   seseorang. Empati lebih dari itu, empati bukan hanya memahami masalah orang lain tetapi
   juga merasakan apa yang dirasakan orang tersebut. Misalnya, seseorang memahami
   masalah yang dihadapi temannya yang sedang tertimpa musibah, tetapi ia tidak ikut
   merasakan perasaan temannya, maka orang itu hanya bersimpati. Jika orang tersebut
   berempati terhadap temannya, maka ia tidak sekedar memahami masalah yang dihadapi
   temannya, tetapi meletakkan dirinya dalam kedudukan temannya untuk merasakan
   perasaan temannya itu.
                 Kemampuan empati sangat penting dalam kehidupan bermasyarakat. Orang yang
   empatik lebih mampu menangkap sinyal-sinyal sosial yang tersembunyi yang

          31)
           Daniel Goleman, Loc.Cit.
          32)
           Benjamin B. Wolman, Dictionary of Behavioral Science,Litton Educational Publishing
Inc., New York, 1973, hlm.115.
          33)
                Steve Hein, Op.Cit, hlm.
mengisyaratkan apa-apa yang dibutuhkan atau dikehendaki orang lain. Tanpa empati
akan menyebabkan seseorang sulit untuk bergaul dan membina persahabatan yang erat
dengan orang lain. Namun empati atau memahami sudut pandang atau perspektif
seseorang -tahu mengapa mereka merasakan demikian- tidak berarti kita juga harus
mengalaminya.34) Setelah berempati barulah kita dapat membantu dengan cara yang lebih
rasional dan positif.


Ad. 5. Membina Hubungan (Relationship)
            Membina hubungan merupakan keterampilan mengelola emosi orang lain.
Kecakapan jenis ini sangat membantu seseorang untuk berkomunikasi dan menjalin
hubungan serta kepercayaan dengan orang lain. Gardner memecahnya menjadi empat
jenis kemampuan, yaitu : kepemimpinan, kemampuan membina hubungan dan
mempertahankan persahabatan, kemampuan menyelesaikan konflik, dan keterampilan
analisis sosial. Karena setiap orang memerlukan berhubungan dengan orang lain, maka
kecerdasan ini memiliki peran sangat besar dalam menentukan kesuksesan seseorang.
            Mengenali emosi orang lain dapat dilakukan bila seseorang itu memiliki
kemampuan mengendalikan emosi diri atau pengaturan diri dan empati. Dua kemampuan
ini membentuk kecakapan antarpribadi. Kecakapan antarpribadi ini dapat menghasilkan
perhubungan yang positif dengan orang lain dan dapat membantu orang lain mendapatkan
kebahagiaan dan ketenangan.
            Setiap kali bertemu dengan orang lain, seseorang sebenarnya memberi isyarat
melalui mimik muka, bahasa tubuh, dan nada suara. Isyarat-isyarat ini memberi kesan
kepada orang yang ditemui. Misalnya senyuman yang diberikan pada orang lain pada
setiap bertemu akan menyebabkan seseorang mudah didekati oleh orang lain,dan mudah
untuk menjalin sebuah tali persahabatan. Maka dengan kecerdasan emosional isyarat-
isyarat yang dihasilkan itu mampu membentuk hubungan yang positif.
             Mereka yang jenius di bidang ini akan menjadi pemimpin dan manajer yang
handal dan disukai oleh rakyat serta bawahannya. Ia pun bisa menjaling hubungan yang
tepat baik kepada teman, sahabat maupun musuh sekalipun, dan juga kepada anak-anak.
             Supaya anak memiliki kecerdasan antar pribadi yang baik mereka harus
dibimbing untuk bisa menjalin sosialisasi berkawan yang sehat, ditumbuhkan empatinya

     34)
           Daniel Goleman(b), Op.Cit, hlm.232.
   terhadap perasaan teman lain, diajarkan bagaimana mengelola emosi-emosi negatifnya
   dan bagaimana memanfaatkan emosi positifnya.35)


B. Pentingnya Kecerdasan Emosional
              Emosi mempunyai peranan yang penting dalam kehidupan. Emosi sangat
   mempengaruhi kehidupan manusia ketika dia mengambil keputusan. Tidak jarang suatu
   keputusan diambil karena dipengaruhi oleh emosi. Tidak ada sama sekali keputusan yang
   diambil manusia murni berdasarkan pemikiran rasionya. Ini karena seluruh keputusan
   manusia memiliki warna emosional. Jika diperhatikan, keputusan-keputusan dalam
   kehidupan manusia, ternyata keputusannya lebih banyak ditentukan oleh emosi dari pada
   akal sehat.36)
              Menurut berbagai bukti, perasaan adalah sumber terkuat yang menetukan
   kebahagiaan dan kesuksesan seseorang di dunia kerja. Oleh karena itu, orang yang cerdas
   dalam menggunakan emosinya akan lebih berpeluang untuk memperoleh kebahagiaan
   hidup.
              Goleman menyebutkan bahwa kecerdasan emosional memainkan peranan yang
   sangat vital. Ia menyebutkan bahwa yang menjadi penentu kesuksesan kehidupan manusia
   bukanlah rasio tetapi emosi. Dari hasil penelitiannya, ia menyebutkan bahwa IQ hanya
   menyumbang sedikit bagi kesuksesan yang dapat dicapai manusia, sementara EQ
   memberikan kontribusi yang lebih dominan. Dengan demikian, EQ menjadi salah satu
   unsur utama yang dapat menentukan kebahagiaan dan kesuksesan seseorang.


D. Sasaran Kecerdasan Emosional
              Sebagaimana dikemukakan di muka bahwa kecerdasan emosional sangat penting
   dalam kehidupan manusia. Untuk itu EI perlu ditanamkan kepada anak-anak sejak dini.
   Upaya penanaman kecerdasan emosional dapat dilakukan oleh orang tua dan para guru di
   sekolah dengan cara-cara tertentu. Untuk itu, orang tua dan guru sebagai pendidik emosi
   harus mengetahui dan memahami sasaran-sasaran yang terkandung di dalam setiap



       35)
         Majalah Suara Hidayatullah, Ragam Kecerdasan Yang Luas, http://www.hidayatullah.
com/2001/08/tarbiyah2.shtml. (Diakses pada September 2001 Pukul 15:00 WIB).
        36)
            KH. Jalaluddin Rakhmat, Sabar; Kunci Kecerdasan Emosional, Al-Tanwir, 140, 25 Mei,
1999, http://www.muthahhari.or.id/sabar.htm. (Diakses pada 2 April 2001 Pukul 14:30 WIB) .
kecakapan-kecakapan emosional. Dengan demikian, arah serta tujuannya akan menjadi
jelas dan terancang.
        Adapun sasaran-sasaran di dalam lima komponen utama kecakapan emosional,
sebagaimana yang dikemukakan oleh Daniel Goleman, adalah sebagai berikut
1. Kesadaran emosi diri :
   -   Perbaikan dalam mengenali dan merasakan emosinya sendiri.
   -   Lebih mampu memahami penyebab perasaan yang timbul.
   -   Mengenali perbedaan perasaan dan tindakan.
2. Mengelola emosi :
   -   Toleransi yang lebih tinggi terhadap frustrasi dan pengelolaan amarah.
   -   Berkurangnya ejekan verbal, perkelahian, dan gangguan di ruang kelas.
   -   Lebih mampu memngungkapkan amarah dengan tepat tanpa berkelahi.
   -   Berkurangnya perilaku agresif atau merusak diri sendiri.
   -   Perasaan yang lebih positif tentang diri sendiri, sekolah dan keluarga.
   -   Lebih baik dalam menangani ketegangan jiwa.
   -   Berkurangnya kesepian dan kecemasan dalam pergaulan.
3. Memotivasi diri :
   -   Lebih bertanggung jawab.
   -   Lebih mampu memusatkan perhatian pada tugas yang dikerjakan dan menaruh
       perhatian.
   -   Kurang impulsif, lebih menguasai diri.
4. Empati (membaca emosi) :
   -   Lebih mampu menerima sudut pandang orang lain.
   -   Memperbaiki empati dan kepekaan terhadap perasaan orang lain.
   -   Lebih baik dalam mendengarkan orang lain.
5. Membina hubungan :
   -   Meningkakan kemampuan menganalisis dan memahami hubungan.
   -   Lebih baik dalm menyelesaikan pertikaian dan merundingkan persengketaan.
   -   Lebih baik dalam menyelesaikan persoalan yang timbul dalam hubungan.
   -   Lebih tegas dan terampil dalam berkomunikasi.
   -   Lebih populer dan mudah bergaul, bersahabat dan terlibat dengan teman sebaya.
   -   Lebih dibutuhkan oleh teman sebaya.
   -   Lebih menaruh perhatian dan bertenggang rasa.
   -      Lebih memikirkan kepentingan sosial dan selaras dalam kelompok.
   -      Lebih suka berbagi rasa, bekerja keras,dan suka menolong.
   -      Lebih demokratis dalam bergaul dengan orang lain.37)
           Sasaran-sasaran dalam lima komponen utama kecerdasan emosional itu jelas
mengarah pada pembentukan kecerdasan emosional. Kecakapan-kecakapan tersebut tidak
mudah diperoleh kecuali dengan adanya pendidikan dan pelatihan emosi sejak dini. Dan
hal ini adalah tugas utama bagi orang tua dan para guru untuk mewujudkannya.
Pendidikan emosi yang teratur dan terancang dengan baik akan dapat membina anak-anak
untuk memiliki kecakapan-kecakapan emosional sebagaimana yang tersebut di atas. Salah
satu cara untuk membentuk kecakapan-kecakapan ini pada anak-anak adalah dengan
menggunakan cerita-cerita keteladanan, terutama cerita-cerita yang ada dalam Quran yang
begitu kaya akan hikmah dan pelajaran hidup. Pendekatan ini sangat baik digunakan oleh
orang tua dan guru, diberikan kepada anak-anak atau murid-muridnya agar berhasil
sebagai manusia yang seimbang perkembangan intelek, emosi dan rohaninya.




    37)
          Daniel Goleman(a), Op.Cit, hlm. 403

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Stats:
views:490
posted:6/19/2012
language:
pages:17
Description: Sedangkan emosi berasal dari bahasa latin “movere” yang berarti pindah dari atau bergerak.2) Definisi emosi itu bermacam-macam, seperti “keadaan bergejolak”, gangguan keseimbangan”, “response kuat dan tak beraturan terhadap stimulus”. Dan menurut Grolier Webster international dictionary, emosi adalah “ An affective state of consciousness in which joy, sorrow, fear, hate, or the like is experienced.