Skripsi PAI

Document Sample
Skripsi PAI Powered By Docstoc
					       PELAKSANAAN STRATEGI PEMBELAJARAN KONTEKSTUAL
PADA MATA PELAJARAN AKIDAH AHLAK DI MI MAARIF NU 1 RAWALO


                                        BAB I
                                  PENDAHULUAN


A. Latar Belakang
          Kualitas kehidupan bangsa sangat ditentukan oleh faktor pendidikan. Pendidikan
   mempunyai peranan yang amat menentukan bagi perkembangan dan perwujudan diri
   individu. Oleh karena itu, pembaharuan pendidikan harus selalu dilakukan untuk
   meningkatkan kualitas pendidikan nasional. Kemajuan suatu bangsa hanya dapat dicapai
   melalui penataan pendidikan yang baik. Upaya peningkatan mutu pendidikan diharapkan
   dapat menaikkan harkat dan martabat manusia Indonesia (Nurhadi dkk, 2003: 1).
          Sesuai dengan tujuan dari pendidikan nasional yang tercantum pada Undang-
   Undang No.20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Yaitu: Pendidikan
   Nasional bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia
   yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat,
   berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis.
          Pendidikan dalam Islam dipahami sebagai sebuah proses transformasi dan
   internalisasi ajaran-ajaran Islam terhadap anak   didik, melalui proses pengembangan
   fitrah, agar memperoleh keseimbangan hidup dalam semua aspeknya (Muhaimin dkk,
   2001: 136). Dengan demikian, fungsi pendidikan Islam pada hakikatnya adalah proses
   pewarisan nilai-nilai budaya Islam untuk pengembangan potensi manusia, dan sekaligus
   proses produksi nilai-nilai budaya Islam baru sebagai hasil interaksi potensi dengan
   lingkungan dan konteks zamannya. Oleh karena itu, kunci keberhasilan umat Islam, agar
   mampu menangkap ruh ajaran Islam yang sesungguhnya dan selalu konteks dengan
   kehidupan tiada lain adalah melalui proses pendidikan.
          Fazlur Rahman (1996: 36-37), mengatakan bahwa setiap reformasi dan
   pembaharuan dalam Islam harus dimulai dengan pendidikan. Mastuhu (1994: 1) juga
   berpendapat bahwa manusia adalah makhluk yang memiliki daya akal dan kehidupan,
   maka ia harus membentuk peradaban dan memajukan kehidupan melalui proses
pendidikan. Namun pada kenyataannya pembelajaran pendidikan agama Islam yang
selama ini berlangsung agaknya terasa kurang terkait atau kurang concern terhadap
persoalan bagaimana mengubah wajah pengetahuan agama yang bersifat kognitif menjadi
“makna” dan “nilai” yang perlu diinternalisasikan dalam diri anak didik, untuk
selanjutnya menjadi sumber motivasi bagi mereka untuk bergerak, berbuat, dan
berperilaku secara konkret-agamis dalam kehidupan praxis sehari-hari.
       Bila kita mengamati fenomena empirik yang ada dihadapan dan sekeliling kita
maka tampaklah bahwa pada saat ini terdapat banyak kasus kenakalan di kalangan
pelajar. Isu perkelahian pelajar, tindak kekerasan, premanisme, white collar crime
(kejahatan kerah putih), konsumsi minuman keras, etika berlalu-lintas, perubahan pola
konsumsi makanan, kriminalitas yang semakin hari kian menjadi, dan sebagainya, telah
mewarnai halaman surat kabar, majalah, dan media massa lainnya. Timbulnya kasus-
kasus tersebut memang tidak semata-mata karena kegagalan pendidikan agama Islam di
sekolah yang lebih menekankan aspek kognitif, tetapi bagaimana semuanya itu dapat
mendorong serta menggerakkan GPAI untuk mencermati kembali dan mencari solusi
lewat pengembangan pembelajaran pendidikan agama Islam yang berorientasi pada
pendidikan nilai (afektif) (Muhaimin dkk, 2001: 90).
       Muchtar Buchori (1992: 3), menilai bahwa pendidikan agama Islam di sekolah
telah mengalami kegagalan, karena praktek pendidikannya menekankan aspek kognitif
dalam menumbuhkan kesadaran beragama, belum menyentuh aspek afektif dan konatif-
volutif, yakni kemauan dan kesadaran      untuk mengamalkan nilai-nilai ajaran Islam.
Menurut Mastuhu (1999: 35), metodologi belajar yang digunakan tampak masih “klasik”,
dalam arti masih mewariskan sejumlah materi pelajaran agama yang diyakini benar untuk
disampaikan kepada anak didik tanpa memberikan kesempatan kepada mereka agar
disikapi secara kritis. Metode yang digunakan masih bercorak menghafal, mekanis, dan
lebih mengutamakan pengkayaan materi.
       Melihat kenyataan di atas, pembelajaran pendidikan agama Islam tidak mungkin
dapat berhasil dengan baik sesuai dengan misinya bila hanya berkutat pada transfer atau
pemberian ilmu pengetahuan agama sebanyak-banyaknya kepada anak didik, atau lebih
menekankan aspek kognitif. Pembelajaran pendidikan agama Islam justru harus
dikembangkan ke arah internalisasi nilai (afektif) dan yang dibarengi dengan aspek
kognisi sehingga timbul dorongan yang sangat kuat untuk mengamalkan dan menaati
ajaran dan nilai-nilai dasar agama yang telah diinternalisasikan dalam diri anak
(psikomotorik) yang dapat memberikan pemahaman yang terbangun dari dalam diri
siswa. Dan tak kalah pentingnya adalah memotivasi dan menciptakan lingkungan belajar
yang kondusif bagi siswa untuk mengembangkan kreativitas belajar mereka dalam
menyikapi persoalan yang berkaitan dengan kehidupan mereka sehari-hari dimana di
masa sekarang, dengan kemajuan dan perubahan yang begitu cepat dalam bidang
teknologi dan ilmu pengetahuan, pendidik tidak mungkin dapat meramalkan dengan tepat
pengetahuan macam apa yang dibutuhkan anak didik selewat beberapa tahun mendatang
agar mampu menghadapi masalah-masalah kehidupan mereka kelak ketika dewasa.
Menjejalkan bahan pengetahuan semata-mata tidak akan banyak menolong anak didik,
karena belum tentu di masa mendatang mereka akan dapat menggunakan informasi
tersebut (Muhaimin dkk, 2001: 14).
       Maka, tanggung jawab pendidik tidak semata-mata hanya sebatas mengajar
(transfer of knowledge) saja, selain itu pendidik juga dituntut agar    menumbuhkan
kreativitas belajar anak didik serta mampu membangun pemahaman yang akan sangat
berguna bagi kehidupan anak didik mereka mendatang. Untuk mencapai tujuan
pendidikan secara efektif dan efisien, seorang pendidik harus menguasai berbagai teknik
dan metode penyampaian materi yang tepat dalam proses belajar-mengajar sesuai dengan
materi yang disampaikan dan dengan mempertimbangkan kemampuan masing-masing
anak didik.
       Menurut Johnshon, sebagaimana dikutip Nurhadi, dkk (2003: 14), salah satu dari
delapan komponen utama dalam sistem pembelajaran kontekstual (Contextual Teaching
and Learning/CTL) adalah berfikir kritis dan kreatif (critical and creative thinking)
dimana siswa dapat menggunakan tingkat berfikir yang lebih tinggi. Secara kritis dan
kreatif siswa dapat menganalisis, membuat sintesis, memecahkan masalah, membuat
keputusan, dan menggunakan logika bukti-bukti.
       Secara umum menurut GBPP PAI 1994, pendidikan agama Islam bertujuan untuk
meningkatkan keimanan, pemahaman, penghayatan, dan pengamalan peserta didik
tentang ajaran agama Islam, sehingga menjadi manusia muslim yang beriman dan
bertaqwa kepada Allah SWT, serta berakhlak mulia dalam kehidupan bermasyarakat,
berbangsa dan bernegara. Dalam upaya untuk merealisasikan pelaksanaan pendidikan
agama Islam, pendidik dituntut untuk menguasai pengetahuan yang memadai dan cara-
cara mengajar yang baik agar mampu menciptakan suasana belajar- mengajar yang
efektif dan efisien atau dapat mencapai hasil yang sesuai dengan tujuan yang diharapkan.
Pendidik diharapkan dapat memberi dorongan kepada anak didik hingga mereka merasa
mempunyai kebebasan berfikir, berbuat, serta bereaksi sesuai tujuan yang telah
ditetapkan bersama (Muhaimin dkk, 1993: 78).
       Salah satu prinsip paling penting dalam psikologi pendidikan adalah guru tidak
boleh hanya semata-mata memberikan pengetahuan kepada siswa. Siswa harus
membangun pengetahuan di dalam benaknya sendiri. Guru dapat membantu proses
tersebut dengan cara-cara mengajar yang membuat informasi menjadi sangat bermakna
dan sangat relevan bagi siswa, dengan memberikan kesempatan kepada siswa untuk
menemukan atau menerapkan sendiri ide-ide mereka sendiri untuk belajar. Guru dapat
memberikan kepada siswa tangga yang dapat membantu siswa menemukan mencapai
tingkat pemahaman yang lebih tinggi, tetapi harus diupayakan agar siswa sendiri yang
memanjat tangga tersebut (Nurhadi dkk, 2003: 9).
       Pembelajaran    yang   dapat   dijadikan     sebagai   alternatif   untuk   proses
menginternalisasikan nilai-nilai ajaran Islam adalah pembelajaran yang di dalamnya
mengakomodasikan keterlibatan siswa secara fisik maupun mental dan pembelajaran
yang dimaksud adalah pembelajaran kontekstual. Dalam pembelajaran kontekstual, siswa
diberi kesempatan untuk membangun pengetahuannya sendiri atau membangun gagasan-
gagasan baru dan memperbaharui gagasan lama yang sudah ada pada struktur kognitif.
       Di samping itu siswa juga diberi kesempatan untuk mencari dan menemukan
sendiri pengetahuannya, melakukan observasi dan melakukan pemecahan masalah secara
bersama-sama dalam kerangka kegiatan ilmiah, dan juga siswa diberi kesempatan untuk
melakukan abstraksi atau suatu proses pemaknaan kehidupan sehari-hari yang dirujukkan
dengan teori atau contoh yang ada.
       Dengan demikian, siswa akan mengembangkan pemahamannya dengan baik jika
mereka dapat secara mudah mengaitkan antara sesuatu yang mereka kenal dengan
pengetahuan dan pemahaman yang baru atau yang belum dikenal. Konteks diperlukan
bukan hanya untuk menarik perhatian siswa, tetapi juga memberikan pertautan antara
koherensi terhadap pengetahuan, pemahaman, keterampilan, nilai, dan sikap (Nurhadi
dkk, 2003: 26-28).
       Pembelajaran kontekstual mengakui bahwa “belajar” merupakan sesuatu yang
kompleks dan multidimensional yang jauh melampaui berbagai metodologi yang hanya
berorientasi pada latihan dan rangsangan/tanggapan (stimulus-response). Pembelajaran
kontekstual   mengasumsikan bahwa secara alamiah, pikiran mencari konteks sesuai
dengan situasi nyata lingkungan seseorang, dan itu dapat terjadi melalui pencarian
hubungan yang masuk akal dan bermanfaat (Nurhadi dkk, 2003: 5).
       Dengan        pendekatan   pembelajaran    kontekstual     yang    berlandaskan
konstruktivisme, siswa diharapkan dapat membangun pemahamannya sendiri dari
pengalaman atau pengetahuan terdahulu (asimilasi). Pemahaman yang mendalam
dikembangkan melalui pengalaman-pengalaman belajar yang bermakna (akomodasi).
Siswa diharapkan mampu mempraktikkan pengalaman atau pengetahuan yang telah
diperoleh dalam konteks kehidupannya. Siswa juga diharapkan melakukan refleksi
terhadap strategi pengembangan pengetahuan tersebut. Dengan demikian, siswa dapat
memiliki pemahaman yang berbeda terhadap pengetahuan yang dipelajari. Pemahaman
ini diperoleh siswa karena ia dihadapkan kepada lingkungan belajar yang bebas yang
merupakan unsur yang sangat esensial (Nurhadi dkk, 2003: 9-10).
       Menurut Muhaimin, dkk (2001: 145), metode pembelajaran terkait dengan
bagaimana (how to) membelajarkan anak didik atau bagaimana membuat anak didik
dapat belajar dengan mudah dan terdorong oleh kemauan dan kemampuannya sendiri
untuk mempelajari apa (what to) yang teraktualisasikan dalam kurikulum sebagai
kebutuhan (needs) anak didik.
       Merupakan kewajiban kita bersama untuk melakukan sebuah perubahan demi
memperbaiki kualitas pendidikan di Indonesia, khususnya kualitas pendidikan agama
Islam, yang ternyata selama ini masih belum berhasil membentuk kepribadian bangsa
sesuai dengan tujuan pendidikan nasional. Salah satu cara yang dapat dilakukan adalah
dengan merubah pendekatan dan metode dalam kegiatan belajar mengajar yang ada
selama ini, dimana guru selalu diposisikan sebagai satu-satunya sumber meraih informasi
(teacher centered) dan siswa bersikap pasif dalam mencari dan mengolah informasi
   tersebut, dengan membiasakan siswa secara kreatif (student centered) menkonstruksi
   sendiri pemahamannya melalui kegiatan belajar mereka.
          Dengan penggunaan metode ini diharapkan membantu melatih siswa untuk peka
   pada dirinya dan lingkungannya dan secara kreatif dapat menkonstruksi pemahamannya
   dengan lebih baik sehingga materi pelajaran pendidikan agama Islam dapat dengan
   mudah diinternalisasikan serta dapat meningkatkan kreativitas dan pemahaman siswa.
   Berangkat dari hal-hal tersebut di atas penulis tertarik untuk mengambil judul skripsi:
   “Pelaksanaan Strategi Pembelajaran Kontekstual Pada Mata Pelajaran Akidah Ahlak di
   MI Ma’arif NU 1 Rawalo”


B. Definisi Operasional
   Untuk mendapatkan gambaran yang jelas tentang arah penulisan skripsi ini, ada baiknya
   penulis terlebih dahulu menjelaskan kata kunci yang terdapat dalam pembahasan ini:
   1. Pelaksanaan
          Pelaksanaan adalah suatu usaha atau kegiatan tertentu yang dilakukan untuk
      mewujudkan rencana atau program dalam kenyataannya.
   2. Strategi
          Strategi adalah suatu garis-garis besar haluan untuk bertindak dalam usaha
      mencapai sasaran yang telah ditentukan. Dihubungkan dengan belajar mengajar,
      strategi juga bisa diartikan sebagai pola-pola umum kegiatan guru dan anak didik
      dalam perwujudan kegiatan belajar mengajar untuk mencapai tujuan yang telah
      digariskan (Sanjaya,2007 : 126).
   3. Pembelajaran
          Pembelajaran adalah kegiatan guru secara terprogram dalam desain instruksional,
      untuk membuat siswa belajar secara aktif, yang menekankan pada penyediaan sumber
      belajar.
   4. Kontekstual
          Menurut Blanchard (2001) dalam Triyanto (2007) menyatakan bahwa pengajaran
      dan pembelajaran kontekstual atau Contextual Teaching and Learning (CTL)
      merupakan suatu konsepsi yang membantu guru mengaitkan konten mata pelajaran
      dengan situasi dunia nyata dan memotifasi siswa membuat hubungan antara
     pengetahuan dan penerapannya dalam kehidupan mereka sebagai anggota keluarga,
     warga negara, dan tenaga.
     (University of washington (2001) dalam Triyanto (2007), Pengajaran kontekstual
     adalah pengajaran yang memungkinkan siswa-siswa TK sampai dengan SMU untuk
     menguatkan, memperluas, dan menerapkan pengetahuan dan keterampilan akademik
     mereka dalam berbagai macam tatanan dalam sekolah dan luar sekolah agar dapat
     memecahkan       masalah-masalah   dunia   nyata   atau   masalah   masalah   yang
     disimulasikan.
  5. Akidah
        Aqidah adalah urusan-urusan yang harus dibenarkan oleh hati dan diterima
     dengan rasa puas serta terhujam kuat dalam lubuk jiwa yang tidak dapat
     digoncangkan oleh badai subhat (keragu-raguan). Dalam definisi yang lain disebutkan
     bahwa aqidah adalah sesuatu yang mengharapkan hati membenarkannya, yang
     membuat jiwa tenang tentram kepadanya dan yang menjadi kepercayaan yang bersih
     dari kebimbangan dan keraguan.
        Berdasarkan pengertian-pengertian di atas dapat dirumuskan bahwa aqidah adalah
     dasar-dasar pokok kepercayaan atau keyakinan hati seorang muslim yang bersumber
     dari ajaran Islam yang wajib dipegangi oleh setiap muslim sebagai sumber keyakinan
     yang mengikat.
  6. Ahlak
        Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, akhlak dapat diartikan budi pekerti,
     kelakuan. Jadi, akhlak merupakan sikap yang telah melekat pada diri seseorang dan
     secara spontan diwujudkan dalam tingkah laku atau perbuatan. Jika tindakan spontan
     itu baik menurut pandangan akal dan agama, maka disebut akhlak yang baik atau
     akhlaqul karimah, atau akhlak mahmudah. Akan tetapi apabila tindakan spontan itu
     berupa perbuatan-perbuatan yang jelek, maka disebut akhlak tercela atau akhlakul
     madzmumah.


C. Rumusan Masalah
        Sebagaimana latar belakang yang telah diuraikan di atas, maka penulis
  memandang adanya permasalahan yang layak untuk diadakan penelitian lebih lanjut.
   Adapun rumusan masalah yang dimaksud adalah bagaimana pelaksanaan strategi
   pembelajaran kontekstual pada mata pelajaran akidah ahlak di MI Ma’arif NU 1 Rawalo?
D. Tujuan Penelitian
      Dalam penulisan ini ada beberapa tujuan yang menjadi penulis teliti antara lain:
   1. Bagaimana pelaksanaan strategi pembelajaran kontekstual pada mata pelajaran akidah
      ahlak di MI Ma’arif NU 1 Rawalo.
   2. Untuk mengetahui bagaimana pola penerapan pelaksanaan strategi pembelajaran
      kontekstual pada mata pelajaran akidah ahlak di MI Ma’arif NU 1 Rawalo.
E. Manfaat Penelitian
      Penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat bagi semua pihak:
   1. MI Ma’arif NU 1 Rawalo sebagai sumbangan pemikiran dan bahan masukan dalam
      rangka meningkatkan kualitas pembelajaran mata pelajaran Aqidah Akhlak.
   2. Bagi Guru Mata Pelajaran Mata Pelajaran Aqidah Akhlak
      Sebagai bahan pertimbangan bagi guru-guru mata pelajaran Aqidah Akhlak untuk
      melaksanakan strategi pembelajaran kontekstual pada mata pelajaran akidah ahlak.
   3. Bagi Siswa
      Sebagai upaya meningkatkan kualitas pembelajaran dalam meningkatkan kreativitas
      dan pemahaman siswa pada bidang studi Aqidah Akhlak.
   4. Bagi Penulis
      Memberikan wawasan dan pengalaman praktis di bidang penelitian. Selain itu hasil
      penelitian ini juga dapat dijadikan sebagai bekal untuk menjadi tenaga pendidik yang
      profesional.
F. Telaah Pustaka
          Telah pustaka merupakan salah satu cara penyadaran terhadap studi-studi atau
   karya terdahulu yang terkait, untuk menghindari duplikasi, plagiasi, replikasi, serta
   menjamin kaslian dan keabsahan penelitian yang dilakukan. Penelaahan pustaka
   dilakukan untuk menjelaskan posisi penelitian yang sedang dilaksanakan (state of affairs)
   di antara hasil-hasil penelitian dan atau buku-buku terdahulu yang bertopik senada (prior
   research on the topic). Tujuannya adalah untuk menegaskan kebaruan, orisinalitas, dan
   urgensi penelitian bagi pengembangan keilmuan terkait.
          Suatu karya ilmiah dipandang baik dan benar apabila hasil kajian atau penelitia
   tersebut relevan dengan apa yang terjadi atau berkembang dalam suatu wilayah. Dari
   pengertian tersebut, maka peneliti mengemukakan beberapa laporan penelitian terdahulu
   yang menjadi bahan pertimbangan untuk menegaskan kebaruan, orisinalitas dan urgensi
   penelitan ini dari penelitian sebelumnya.
          Berkenaan dengan studi akhlak atau tema-tema senada dengan akhlak, ada
   beberapa penelitian yang telah dilakukan (penelitian sejenis di kampus peneliti)
G. Metode Penelitian
   1. Populasi
      Populasi adalah keseluruhan subyek penelitian.( Suharsimi Arikunto, Prosedur
      Penelitian Suatu Pendekatan Praktik, Jakarta : Bina Aksara, 1989) Adapun populasi
      dalam penelitian ini adalah siswa MI Ma’arif NU 1 Rawalo
   2. Sampel
      Sampel adalah sebagian atau wakil populasi yang diteliti.( Suharsimi Arikunto,
      Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik, Bina Aksara, Jakarta : 1989) Adapun
      sampel dalam penelitian ini adalah siswa MI Ma’arif NU 1 Rawalo.
   3. Jenis dan Sumber Data
      a. Jenis data pada penelitian ini diklasifikasikan pada jenis data kuantatif dan
          kualitatif.
      b. Sumber data penelitian ini diklasifikasikan pada sumber data primer dan
          sekunder.
   4. Teknik Pengumpulan Data
      Untuk mendapatkan data yang ada di lokasi penulis menggunakan beberapa alat
      pengumpulan data yaitu metode angket, wawancara, observasi dan dokumentasi.
      a. Observasi
          Metode ini dilakukan dengan tujuan langsung ke lapangan untuk mengamati
          proses dan hasil pelaksanaan strategi pembelajaran kontekstual pada pelajaran
          Akidah-Akhlak siswa MI Ma’arif NU 1 Rawalo
      b. Wawancara
          Metode ini dilakukan dengan mengadakan tanya jawab secara langsung kepada
          Pihak sekolah baik Guru, Kepala Sekolah dan Anak Didik
       c. Angket
           Angket ini penulis berikan kepada anak yang dijadikan sampel untuk diberikan
           jawaban guna mengungkap data yang berhubungan dengan hasil dari penerapan
           strategi pembelajaran kontekstual mata pelajaran Akidah-Akhlak di MI Ma’arif
           NU 1 Rawalo.
       d. Dokumentasi
           Metode ini digunakan untuk menghimpun data mengenai jumlah siswa, jumlah
           guru, jumlah sarana dan prasarana, struktur ogranisasi dan kegiatan siswa yang
           disusun oleh instansi organisasi serta prestasi belajar siswa.

H. Sistematika Penulisan
   Untuk mendapatkan gambaran yang jelas dan menyeluruh, sistematika pembahasan
   skripsi ini dibagi dalam lima bab:
   Bab I memaparkan latar belakang masalah, rumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat
   penelitian, batasan penelitian, definisi operasional serta sistematika pembahasan.
   Bab II merupakan pembahasan tentang kajian teori, yang mencakup pembahasan tentang
   pendekatan kontekstual yang meliputi: pengertian, latar belakang, prinsip, karakteristik,
   komponen, keunggulan, dan kerangka penerapan pendekatan pembelajaran konteskstual;
   tinjauan tentang mata pelajaran Aqidah Akhlak yang meliputi: pengertian, dasar dan
   tujuan, serta materi mata pelajaran Aqidah Akhlak;
   Bab III merupakan penjelasan tentang metode penelitian yang mencakup desain dan jenis
   penelitian, kehadiran peneliti di lapangan, lokasi penelitian, sumber dan jenis data,
   instrumen penelitian, teknik pengumpulan data, analisis data, pengecekan keabsahan
   data, dan tahapan penelitian.
   Bab IV merupakan penjelasan tentang laporan hasil penelitian, yang telah dilakukan oleh
   peneliti, meliputi penjelasan tentang latar belakang obyek penelitian, penjelasan pre test,
   siklus I, siklus II, siklus III.
   Bab V merupakan pembahasan dari hasil penelitian yang sudah dilakukan.
   Bab VI merupakan bab terakhir yang berisikan tentang kesimpulan dari semua isi atau
   hasil penelitian ini. Dalam bab ini, juga dikemukakan beberapa saran yang dapat
   digunakan sebagai bahan pertimbangan.
                                      Daftar Pustaka


Nurhadi, dkk. 2003. Pembelajaran Kontekstual dan Penerapannya dalam KBK, Malang: UM
Press
Muhaimin, dkk. 2001. Paradigma Pendidikan Islam. Malang: UM Press
Fazlur Rahman.1996. Gerakan Modern Dalam Islam. Yogyakarta: Yayasan Obor Indonesia
Masthuhu. 1994.Dinamika sistem pendidikan pesantren. Jakarta : INIS
Mochtar Buchori. 1994. Spektrum Problema Pendidikan. Yogyakarta: Tiara Wacana
Noehi Nasution. 1994. Materi Pokok Psikologi Pendidikan. Jakarta: Dirjen Pendidikan

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Tags:
Stats:
views:634
posted:6/17/2012
language:Malay
pages:11