Docstoc

proposal perikanan

Document Sample
proposal perikanan Powered By Docstoc
					                              II. TINJAUAN PUSTAKA



2.1. Biologi dan Morfologi Cacing Sutra (Tubifex sp)

    Cacing sutra atau cacing rambut termasuk kedalam kelompok cacing –

cacingan (Tubifex sp). Dalam ilmu taksonomi hewan, cacing sutra digolongkan

kedalam kelompok Nematoda. Embel – embel sutra diberikan karena cacing ini

memiliki tubuh yang lunak dan sangat lembut seperti halnya sutra. Sementara itu

julukan cacing rambut diberikan lantaran bentuk tubuhnya yang panjang dan

sangat halus tak bedanya seperti rambut (Sihombing et al., 2008). Cacing sutra

(Tubifex sp) dapat diklasifikasikan sebagai berikut :


Phylum         : Annelida

Class          : Oligochaeta

Ordo           : Haplotaxida

Famili         : Tubificidae

Genus          : Tubifex

Spesies        : Tubifex sp


    Secara umum cacing sutra atau cacing rambut terdiri atas dua lapisan otot

yang membujur dan melingkar sepanjang tubuhnya. Panjangnya 10 – 30 mm

dengan warna tubuh kemerahan, saluran pencernaannya berupa celah kecil mulai

dari mulut sampai anus ( Redaksi Agro Media, 2007). Hal yang sama juga

disampaikan oleh Wahyuningsih (2001), menyatakan Spesies ini mempunyai

saluran pencernaan berupa celah kecil mulai dari mulut sampai anus. Cacing sutra
(Tubifex sp) ini hidup berkoloni, bagian ekornya berada dipermukaan dan

berfungsi sebagai alat bernafas dengan cara difusi langsung dari udara.

    Menurut Pennak (1978), Cacing sutra (Tubifex sp) tidak mempunyai insang

dan bentuk tubuh yang kecil dan tipis. Karena bentuk tubuhnya kecil dan tipis,

pertukaran oksigen dan karbondioksida sering terjadi pada permukaan tubuhnya

yang banyak mengandung pembuluh darah. Kebanyakan Tubifex membuat tabung

pada lumpur di dasar perairan, di mana bagian akhir posterior tubuhnya menonjol

keluar dari tabung bergerak bolak-balik sambil melambai-lambai secara aktif di

dalam air, sehingga terjadi sirkulasi air dan ia akan memperoleh oksigen melalui

permukaan tubuhnya. Getaran pada bagian posterior tubuh dari Tubifex dapat

membantu fungsi pernafasan (Wilmoth, 1967). Hal yang sama juga disampaikan

oleh Sugiarti et al., (2005) bahwa, hampir semua oligochaeta bernafas dengan cara

difusi melalui seluruh permukaan tubuh. Hanya beberapa yang bernafas dengan

insang. Cacing sutra ini bisa hidup diperairan yang berkadar oksigen rendah,

bahkan beberapa jenis dapat bertahan dalam kondisi yang tanpa oksigen untuk

jangka waktu yang pendek. Cacing sutra dapat mengeluarkan bagian posteriornya

dari tabung, guna mendapatkan oksigen lebih banyak, apabila kandungan oksigen

dalam air sangat sedikit.


2.2. Ekologi Cacing Sutra (Tubifex sp)

    Cartwright (2004), menjelaskan bahwa cacing sutra (Tubifex sp) umumnya

ditemukan pada daerah air perbatasan seperti daerah yang terjadi polusi zat

organik secara berat, daerah endapan sedimen dan perairan oligotropis.

Ditambahkan bahwa spesies Cacing Tubifex sp ini bisa mentolerir perairan dengan

salinitas 10 ppt. Kemudian oleh Chumaidi (1986), dikatakan bahwa dua faktor
yang mendukung habitat hidup cacing sutra (Tubifex sp) ialah endapan lumpur

dan tumpukan bahan organik yang banyak.

    Sedangkan Departemen Pertanian (2002), menambahkan dari setiap tubuh

cacing sutra (Tubifex sp) pada bagian punggung dan perut kekar serta ujung

bercabang dua tanpa rambut. Sementara sifat hidup cacing sutra (Tubifex sp)

menunjukan organisme dasar yang suka membenamkan diri dalam lumpur seperti

benang kusut dan kepala terkubur serta ekornya melambai – lambai dalam air

kemudian bergerak berputar – putar.




2.3. Perkembangbiakan Cacing Sutra (Tubifex sp)

     Khairuman dan Amri (2002), menyatakan cacing sutra (Tubifex sp) adalah

termasuk organisme hermaprodit. Pada satu individu organisme ini terdapat 2

(dua) alat kelamin dan berkembangbiak dengan cara bertelur dari betina yang

telah matang telur. Sedangkan menurut Chumaidi dan Suprapto (1986), telur

cacing sutra (Tubifex sp) terjadi didalam kokon yaitu suatu bangunan berbentuk

bangunan bulat telur, panjang 1 mm dan diameter 0,7 mm yang dihasilkan oleh

kelenjar epidermis dari salah satu segmen tubuh yang disebut kitelum. Telur yang

ada didalam tubuh mengalami pembelahan, selanjutnya berkembang membentuk

segmen – segmen. Setelah beberapa hari embrio cacing sutra (Tubifex sp) akan

keluar dari kokon.

    Selanjutnya disampaikan oleh Kosiorek (1974), perkembangan embrio mulai

dari telur hingga menjadi cacing muda membutuhkan waktu sekitar 10-12 hari

pada suhu 240C. Siklus hidup mulai dari penetasan hingga dewasa dan meletakkan

kokonnya yang pertama membutuhkan waktu 40-45 hari, sehingga siklus hidup
dari telur menetas hingga menjadi dewasa dan bertelur lagi membutuhkan waktu

50-57 hari.



2.4. Habitat dan Penyebaran Cacing Sutra (tubifex sp)

    Sihombing et al., (2008) mengemukakan bahwa habitat dan penyebaran

cacing sutra (Tubifex sp) umumnya berada di daerah tropis. Umumnya berada

disaluran air atau kubangan dangkal berlumpur yang airnya mengalir perlahan,

misalnya selokan tempat mengalirnya limbah dan pemukiman penduduk atau

saluran pembuangan limbah peternakan. Selain itu, cacing sutra juga ditemukan di

saluran pembuangan kolam, saluran pembuangan limbah sumur atau limbah

rumah tangga umumnya kaya akan bahan organik karena bahan organik ini

merupakan suplai makanan terbesar bagi cacing sutra (Tubifex sp).



2.5. Pakan dan kebiasaan Makan Cacing Sutra (Tubifex sp)

    Menurut Pennak (1978), makanan oligochaeta akuatik sebagian besar terdiri

dari ganggang berfilament, diatom dan detritus berbagai tanaman dan hewan.

Sebagian besar oligochaeta memperoleh makanan dengan menyaring substrat

seperti kebiasaan cacing yang lain. Komponen organik pada substrat ditelan

melalui saluran pencernaan. Cacing ini memperoleh makanan pada kedalaman 2-3

cm dari permukaan substrat. Cacing sutra mencari makan dengan cara masuk ke

dalam sedimen, beberapa sentimeter di bawah permukaan sedimen dan memilih

bahan makanan yang kecil serta lembek (Morgan, 1980 dalam Isyaturradhiyah,

1992).
    Jumlah makanan yang dikonsumsi sehari-hari oleh cacing sutra (Tubifex sp)

adalah 2-8 kali bobot tubuh (Monakov, 1972). Menurut Pondubnaya dan Sorokin

(1961) dalam Monakov (1972) cacing tersebut hanya makan pada lapisan tipis di

bawah permukaan pada kedalaman 2 cm – 5 cm. Dijelaskan pula bahwa pada

lapisan tersebut banyak zat-zat makanan yang tertimbun akibat dekomposisi

anaeronik.



2.6. Budidaya Cacing Sutra (Tubifex sp)

    Budidaya cacing sutra ini dapat dilakukan di parit beton maupun dikolam.

Kolam yang digunakan bisa berukuran kecil atau besar yang diberi petakan papan

didalamnya. Menurut Priyambodo dan Wahyuningsih (2001), wadah yang

digunakan untuk budidaya cacing sutra ini adalah parit beton atau kotak dari kayu

dengan lebar 50 cm panjang 5 – 10 m dan tinggi 20 -30 cm yang dilapisi plastik.

    Media pemeliharaan dapat berupa dedak, kotoran ayam dan ampas tahu

asalkan kondisinya sudah halus. Fungsinya sebagai sumber makanan bagi cacing

sutra (Khairuman dan Amri, 2008).

    Kualitas media hidup bagi cacing sutra agar cacing sutra dapat hidup dengan

baik maka diperlukan kondisi media yang sesuai dengan kondisinya di alam, salah

satunya oksigen, pH, suhu, kandungan nutrien, nitrogen dan karbon yang

mencukupi agar mendukung bagi kelangsungan hidup cacing sutra. Untuk

mendapat kondisi yang sesuai bagi kelangsungan hidup cacing sutra maka

diperlukan kisaran suhu yang optimal. Menurut Marian dan Pandian (1984),

cacing sutra dapat berproduksi pada kisaran suhu 15 – 30 oC.
2.7. Debit air

    Kecepatan arus atau aliran pada tempat hidup merupakan salah satu faktor

yang mengontrol kehidupan organisme sungai selain tanaman air dan oksigen

terlarut. Kecepatan arus secara langsung maupun tidak langsung sangat penting

pada perairan mengalir karena kecepatan arus akan menentukan macam dan

jumlah endapan atau tipe dasar sungai (Mulyanto, 1992).

    Arus air yang optimum juga mempengaruhi pertumbuhan tubifex sp karena

arus air sebesar itu cukup untuk memberi pasokan oksigen yang besar bagi

kehidupan Tubifex sp tanpa merusak substrat dasarnya. Menurut Susanto (1988)

aliran air ini berguna selain untuk menambah oksigen, menjaga kesejukan juga

untuk membuang sisa-sisa kotoran yang ditambahkan oleh Mulyanto (1992)

bahwa dengan tingkatan aliran tertentu diperlukan untuk memelihara substrat

breeding organisme sungai sehingga cocok untuk melakukan reproduksi.

    Kecepatan debit air juga menentukan kadar oksigen terlarut. Pada suatu

budidaya, konsentrasi oksigen terlarut perlu dijaga agar tetap tinggi karena sangat

penting bagi keberhasilan hidup suatu organisme (Alabaster, 1984) selain itu

kadar oksigen terlarut apabila lebih dari 2 mg/ml dapat menghambat nafsu makan

dan reproduksi pada Tubifex sp (McCall dan Fisher, dalam Mariam dan Pandian,

1984).

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Tags:
Stats:
views:282
posted:6/17/2012
language:Malay
pages:6