Docstoc

perlunya etika profesi dalam bidang keteknikan - Copy

Document Sample
perlunya etika profesi dalam bidang keteknikan - Copy Powered By Docstoc
					Jelaskan alasan perlunya etika profesi dalam bidang keteknikan ! Apa yang akan terjadi bilamana
profesi keteknikan tanpa etika?


Kode etik merupakan suatu cara untuk memperbaiki iklim organisasional sehingga individu-individu
dapat berperilaku secara etis. Perusahan memerlukan kode etik untuk menentukan status bisnis
sebagai sebuah profesi, dimana kode etik merupakan salah satu penandanya. Kode etik dapat juga
dipandang sebagai upaya menginstitusionalisasikan moral dan nilai-nilai pendiri perusahaan, sehingga
kode etik tersebut menjadi bagian dari budaya perusahaan dan membantu sosialisasi individu baru
dalam memasuki budaya tersebut.
Bila profesi keteknikan tidak dilandasi dengan etika maka akan memungkinkan para profesional untuk
berpaling kepada kenyataan dan mengabaikan idealisme kode etik profesi
(http://lagaknya.blogspot.com/2010/04/tugas-etika-profesi-2.html).


Kelompok profesional merupakan kelompok yang berkeahlian dan berkemahiran yang diperoleh
melalui proses pendidikan dan pelatihan yang berkualitas dan berstandar tinggi yang dalam
menerapkan semua keahlian dan kemahirannya yang tinggi itu hanya dapat dikontrol dan dinilai dari
dalam oleh rekan sejawat, sesama profesi sendiri. Kehadiran organisasi profesi dengan perangkat
“built-in mechanism” berupa kode etik profesi dalam hal ini jelas akan diperlukan untuk menjaga
martabat serta kehormatan profesi, dan di sisi lain melindungi masyarakat dari segala bentuk
penyimpangan maupun penyalah-gunaan kehlian (Wignjosoebroto, 1999).


Oleh karena itu dapatlah disimpulkan bahwa sebuah profesi hanya dapat memperoleh kepercayaan
dari masyarakat, bilamana dalam diri para elit profesional tersebut ada kesadaran kuat untuk
mengindahkan etika profesi pada saat mereka ingin memberikan jasa keahlian profesi kepada
masyarakat yang memerlukannya. Tanpa etika profesi, apa yang semula dikenal sebagai sebuah
profesi yang terhormat akan segera jatuh terdegradasi menjadi sebuah pekerjaan pencarian nafkah
biasa (okupasi) yang sedikitpun tidak diwarnai dengan nilai-nilai idealisme dan ujung-ujungnya akan
berakhir dengan tidak-adanya lagi respek maupun kepercayaan yang pantas diberikan kepada para
elite profesional ini.

Beri contoh minimal tiga kasus pelanggaran etika profesi yang pernah terjadi di bidang profesi
keteknikan ! Apa dampak yang ditimbulkan?


1.    Internet merupakan salah satu produk gabungan teknologi komputer dan telekomunikasi yang
sukses. Internet yang pada awalnya ditujukan untuk kepentingan militer saat ini telah digunakan
sebagai media untuk melakukan bisnis dan kegiatan sehari-hari. Yang sering menjadi pertanyaan
adalah tingkat kemanan dari teknologi internet. Keamanan di internet sebetulnya sudah pada tahap
yang dapat diterima, hanya hal ini perlu mendapat pengesahan dari pemerintah atau otoritas lainnya
sehingga pelaku bisnis mendapatkan kepastian hukum. Identitas seseorang dapat diberikan dengan
menggunakandigital signature (tanda tangan digital) yang dikelola oleh Certification Authority (CA).
Permasalahannya adalah tanda tangan digital ini harus dapat dianggap sebagai alat bukti yang sah
setelah melalui prosedur dan mekanisme keamanan yang tinggi. Kejahatan yang ditimbulkan oleh
teknologi komputer dan telekomunikasi perlu diantisipasi. Istilah hacker,
cracker, dan cybercrime telah sering terdengar dan menjadi bagian dari khazanah hukum pidana.
Kejahatan yang melibatkan orang Indonesia sudah terjadi. Ada juga kejahatan yang dilakukan oleh
pengguna di Indonesia dengan tidak mengirimkan barang atau uang yang sudah disepakati dalam
transaksi e-commerce. Tindak kejahatan semacam ini pada umumnya dapat ditelusuri (trace) dengan
bantuan catatan(logfile) yang ada di server ISP yang digunakan oleh cracker. Akan tetapi seringkali
ISP tidak melakukan pencatatan (logging) atau hanya menyimpan logdalam kurun waktu yang
singkat. Logfile ini dapat menjadi bukti adanya aksescracker tersebut. Penyidikan kejahatan cyber ini
membutuhkan keahlian khusus. Pihak penegak hukum harus lebih cepat tanggap dalam menguasai
teknologi baru ini. Eksistensi teknologi informasi disamping menjanjikan sejumlah harapan, pada saat
yang sama juga melahirkan kecemasan-kecemasan baru antara lain munculnya kejahatan baru yang
lebih canggih dalam bentuk cyber crime. Disamping itu, mengingat teknologi informasi yang tidak
mengenal batas-batas teritorial dan sepenuhnya beroperasi secara maya (virtual), teknologi informasi
juga melahirkan aktivitas-aktivitas baru yang harus diatur oleh hukum yang berlaku saat ini.
Kenyataan ini telah menyadarkan masyarakat akan perlunya regulasi yang mengatur mengenai
aktivitas-aktivitas yang melibatkan teknologi informasi
(http://blog.uad.ac.id/yuniarti/2009/10/24/etika-profesi-hacker/).


2.    Sebuah perusahaan pengembang di Sleman membuat kesepakatan dengan sebuah perusahaan
kontraktor untuk membangun sebuah perumahan. Sesuai dengan kesepakatan pihak pengembang
memberikan spesifikasi bangunan kepada kontraktor. Namun dalam pelaksanaannya, perusahaan
kontraktor melakukan penurunan kualitas spesifikasi bangunan tanpa sepengetahuan perusahaan
pengembang. Selang beberapa bulan kondisi bangunan sudah mengalami kerusakan serius. Dalam
kasus ini pihak perusahaan kontraktor dapat dikatakan telah melanggar prinsip kejujuran karena tidak
memenuhi spesifikasi bangunan yang telah disepakati bersama dengan perusahaan pengembang.


3.    Sebuah perusahaan X karena kondisi perusahaan yang pailit akhirnya memutuskan untuk
melakukan PHK kepada karyawannya. Namun dalam melakukan PHK itu, perusahaan sama sekali
tidak memberikan pesongan sebagaimana yang diatur dalam UU No. 13/2003 tentang
Ketenagakerjaan. Dalam kasus ini perusahaan x dapat dikatakan melanggar prinsip kepatuhan
terhadap hukum.

4.    Sebuah perusahaan property ternama di Yogjakarta tidak memberikan surat ijin membangun
rumah dari developer kepada dua orang konsumennya di kawasan kavling perumahan milik
perusahaan tersebut. Konsumen pertama sudah memenuhi kewajibannya membayar harga tanah
sesuai kesepakatan dan biaya administrasi lainnya. Sementara konsumen kedua masih mempunyai
kewajiban membayar kelebihan tanah, karena setiap kali akan membayar pihak developer selalu
menolak dengan alasan belum ada ijin dari pusat perusahaan (pusatnya di Jakarta). Yang aneh adalah
di kawasan kavling itu hanya dua orang ini yang belum mengantongi izin pembangunan rumah,
sementara 30 konsumen lainnya sudah diberi izin dan rumah mereka sudah dibangun semuannya.
Alasan yang dikemukakan perusahaan itu adalah ingin memberikan pelajaran kepada dua konsumen
tadi karena dua orang ini telah memprovokasi konsumen lainnya untuk melakukan penuntutan segera
pemberian izin pembangunan rumah. Dari kasus ini perusahaan property tersebut telah melanggar
prinsip kewajaran (fairness) karena tidak memenuhi hak-hak stakeholder (konsumen) dengan alasan
yang tidak masuk akal.
(http://docs.google.com/viewer?a=v&q=cache:UXZzk8ny6-4J:www.los-
diy.or.id/artikel/LosdiyContoh%2520Pelanggaran%2520Etika%2520Bisnis.pdf+contoh+kasus+pelang
garan+etika+profesi+bidang+keteknikan)


Dalam sebuah laboratorium riset dengan 50 orang peneliti telah terjadi kebocoran yang menyebabkan
terinfeksinya para pekerja oleh bakteri mematikan. Dalam waktu singkat telah jatuh 10 korban jiwa.
Untuk menghambat penyebaran bakteri yang belum ditemukan obat penangkalnya, dilakukan isolasi
terhadap fasilitas tersebut. Namun demikian, potensi ancaman kematian masih menghantui 100 ribu
penduduk kota tersebut. Satu-satunya cara untuk menghentikan penyebaran penyakit tersebut adalah
dengan membumihanguskan instalasi riset tersebut dengan bom, yang akan meluluhlantakkan
fasilitas tersebut termasuk para peneliti di dalamnya. Jelaskan bagaimana cara menyelesaikan
dilemma moral tersebut menurut faham:


a.      Kantianisme
b. Utilitarianisme


Kantianisme adalah paham dimana setiap kita mengambil keputusan, kita harus membayangkan
bagaimana bila kita adalah pihak yang dirugikan. Paham ini menjelaskan bahwa bila memang harus
dilakukan sebuah tindakan, maka tindakan itu dilakukan tanpa memperhatikan kepentingan orang
lain.


Utilitarian adalah bahwa seseorang wajib secara moral untuk
menghasilkan paling baik untuk jumlah terbesar. Itu diidentifikasi dengan utilitas yang baik. Dalam
menghitung apakah suatu tindakan yang benar atau salah, orang perlu proyek konsekuensi total baik
atau buruk, dan menentukan tindakan yang akan mengoptimalkan utilitas dalam situasi tersebut.
Untuk perhitungan seperti kepentingan masing-masing orang harus menghitung untuk satu (Anda
tidak dapat privilese kepentingan Anda sendiri) dan hasil harus memaksimalkan (atau
mengoptimalkan) hasil positif.


Jadi, kasus diatas dapat diselesaikan menurut paham “Utilitarian” , dengan cara segera mungkin
memindahkan 40 orang peneliti yang tersisa dan laboratorium riset yang telah terinfeksi
dibumihanguskan dengan bom. Lalu 40 orang peneliti tersebut ditempatkan pada suatu tempat yang
terisolasi hingga menuju tanda-tanda yang baik, dengan begini mungkin saja dari beberapa peneliti
tersebut menemukan antidote (penawar) untuk melawan bakteri mematikan tersebut. Terkesan
mengharapkan suatu kejutan tetapi dengan begitu tidak menghilangkan rasa positif dan optimisme
pada masalah yang terjadi.

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Tags: High, Scool
Stats:
views:126
posted:6/17/2012
language:Indonesian
pages:3
Description: Education