Docstoc

TUGAS EVOLUSI

Document Sample
TUGAS EVOLUSI Powered By Docstoc
					TUGAS EVOLUSI
Nama : Trias Bawi Palupi
NIM    : 09/285258/BI/8310


                           Sahelanthropus tchadensis-The Ambiguous Ape


          Sahelanthropus tchadensis telah menjadi pusat kontroversi sejak pengumumannya di Juli
2002. Beberapa ahli mengklaim genus ini merupakan nenek moyang bagi simpanse dan manusia, akan
tetapi beberapa kritik menekankan bahwa tengkorak tersebut merupakan bagian dari gorilla betina yang
dapat mudah dikenali. Pendapat berikutnya pun muncul, dan mengklain bahwa Sahelanthropus bukan
subspesies dari sejenis gorilla yang punah pada saat bermigrasi ke Afrika setelah banjir.


Penemuan: Toumai, ‘The Hope of Life’
          Sebuah fosil menakjubkan ditemukan oleh seorang pelajar, Ahounta Djimdoumalbaye di
padang pasir Djurab, Chad bagian utara, Afrika Tengah pada tanggal 19 Juli 2001. Cranium yang
hampir lengkap bagiannya tersebut diberi label TM 266-01-060-1 dan diidentifikasikan sebagai genus
dan spesies baru yaitu Sahelantropus tchadensis. Nama ‘Sahelanthropus’ berasal dari Sahel, salah satu
nama wilayah di Chad, Afrika. Dan ‘anthropus’ berarti manusia (yang secara tidak langsung
mempunyai arti nenek moyang manusia). Chad diberi label TM 266-01-060-1 ‘Toumai’, sebuah nama
yang biasanya diberikan kepada bayi yang terlahir sebelum musim panas (kering). ‘Toumai’ berarti
harapan hidup dalam bahasa Goran.
          Berita utama di halaman depan USA Today (11 Juli 2002) mennyebutkan bahwa sebuah
tengkorak baru yang menjadi inisiasi ‘perubahan pemikiran (ide) asal-usul manusia’. Artikel serupa
menyatakan bahwa tengkorak baru tersebut merupakan ‘bukti terpenting dalam 75 tahun’, dan
beberapa jurnal sains sepakat dengan pernyataan tersebut. Kenyataannya, masih terdapat beberapa ahli
yang kurang setuju dengan sebutan tersebut (bukti terpenting dala 75 tahun). Pasalnya banyak ahli-ahli
sebelumnya yang dalam menemukan sesuatu penemuan yang baru hampir tidak pernah mengklaim
temuannya sebagai ‘penemuan abad ini,’ meskipun penemuan tersebut menjadi tolak ukur terbaru
untuk penemuan-penemuan selanjutnya. Dan juga perlu diingat, untuk mematahkan teori sains
sebelumnya haruslah berdasarkan penelitian yang sungguh-sungguh, bukan hanya pengembangan
disiplin ilmu baru yang hanya menjadi topik hangat pembicaraan untuk periode waktu tertentu.
                                                                Rekonstruksi      terkini      cranium
                                                        Sahelanthropus tchadensis (TM-266-01-60-1)
                                                        memberikan       sebuah   kesempatan     untuk
                                                        menjelaskan lebih detail perbedaan antara
                                                        bentuk cranial antara hominid paling awal, kera
                                                        Afrika dan dengan hominid taksa lainnya. Guy
                                                        et al. (2005) membandingkan rekonstruksi
                                                        TM-266-01-60-1 dengan crania kera Afrika,
                                                        manusia dan beberapa hominid masa Pliosen.
                                                        Hasilnya menunjukkan bahwa TM-266-01-60-
                                                        1 bukan saja merupakan anggota dari hominid
                                                        tetapi juga menunjukkan karakter mosaik yang
    Gambar 1. Tengkorak Sahelanthropus tchadensis.      unik.
          Rekonstruksi TM-266-01-60-1 memperlihatkan bahwa beberapa kenampakan primitif pada
simpanse, tetapi secara keseluruhan lebih mirip Australopithecus, khususnya berdasarkan
basiccranium. TM-266-01-60-1 jika dianalisis lebih spesifik mempunyai kombinasi bagian subnasal
pendek yang berhubungan dengan wajah bagian atas yang menonjol yang terletak di depan
neurocranium. Lebih dari itu, penelitian ini mencoba menganalisis hubungan evolusi antara
Sahelanthropus dan hominid (yang telah diteliti) pada masa Miosen dan Pliosen. Hasilnya dapat dilihat
pada gambar 2.




                               Gambar 2. Dendogram hasil analisis fenetik.
Referensi:
Guy, F., et al. 2005. Morphological affinities of the Sahelanthropus tchadensis (late Miocene hominid
        from    chad)   cranium.   Http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC1323204/pdf/pnas-
        0509564102.pdf. diakses online pada tanggal 20 Maret 2012 pukul 20.15 WIB.
Murdock, M. 2004. Sahelanthropus tchadensis-The Ambiguous Ape. Papers. TJ 18 (3).
        Http://www.angelfire.com/mi/dinosaurs/sahelanthropus.pdf. Diakses online pada tanggal 20
        Maret 2012 pukul 20.00 WIB.

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Tags:
Stats:
views:35
posted:6/17/2012
language:
pages:3