Docstoc

TINJAUAN UMUM TENTANG KECERDASAN EMOSIONAL

Document Sample
TINJAUAN UMUM TENTANG KECERDASAN EMOSIONAL Powered By Docstoc
					                                                                                    1


        TINJAUAN UMUM TENTANG KECERDASAN EMOSIONAL

A. Pengertian Kecerdasan Emosional
             Berdasarkan pengertian tradisional, kecerdasan meliputi kemampuan
   membaca, menulis, berhitung, sebagai jalur sempit keterampilan kata dan
   angka yang menjadi fokus di pendidikan formal (sekolah), dan sesungguhnya
   mengarahkan seseorang untuk mencapai sukses di bidang akademis. Tetapi
   definisi keberhasilan hidup tidak melulu ini saja. Pandangan baru yang
   berkembang, ada kecerdasan lain di luar IQ, seperti bakat, ketajaman
   pengamatan sosial, hubungan sosial, kematangan emosional yang harus juga
   dikembangkan.1)
             Sedangkan emosi berasal dari bahasa latin “movere” yang berarti
   pindah dari atau bergerak.2) Definisi emosi itu bermacam-macam, seperti
   “keadaan bergejolak”, gangguan keseimbangan”, “response kuat dan tak
   beraturan terhadap stimulus”.3) Dan menurut Grolier Webster international
   dictionary, emosi adalah “ An affective state of consciousness in which joy,
   sorrow, fear, hate, or the like is experienced “.4) ( suatu keadaan kesadaran
   afeksi dari sesuatu yang dialami seperti senang, susah, takut, benci atau yang
   lain semacamnya) Daniel Goleman juga merumuskan bahwa emosi merujuk
   pada suatu perasaan dan pikiran-pikiran khasnya, suatu keadaan biologis dan
   psikologis serta serangkaian kecenderungan untuk bertindak. Emosi dapat
   dikelompokkan sebagai suatu rasa amarah, kesedihan, rasa takut, kenikmatan,
   cinta, terkejut, jengkel dan malu.15)
             Kecerdasan emosional (EI) merupakan istilah yang belum lama
   dikenal baik di dunia psikologi dan sosial pada umumnya. Sebagai sandingan

        1)
            L. Verina H.Secapramana, Kecerdasan Emosional, http://www.secapramana
tripod com. (Diakses pada 31 Desember 2000 Pukul 16:00 WIB).
         2)
            Webster, Grolier Webster International Dictionary of the English Language,
Grolier Incorporated, New York, 1974, hlm. 321.
         3)
            Drs. M. Dimyati Mahmud, Psikologi Suatu Pengantar, BPFE, Yogyakarta,
1990, hlm. 163.
         4)
            Webster, Loc.Cit.
         5)
            Kecerdasan Emosional, http://hokuriku-mol.twoglobe.com/kecerdasanemosio-
nalhtml. (Diakses pada 23 Agustus 2001 Pukul 15:30 WIB).
                                                                                   2


   IQ (intelligence Quotient), aspek terpenting EI berada pada mental dan emosi.
   Topik tentang EI menjadi ramai dibicarakan oleh masyarakat luas setelah
   terbitnya buku karya Daniel Goleman pada tahun 1995 yang berjudul
   Emotional Intelligence.
             Istilah kecerdasan emosional pertama kali dilontarkan pada tahun
   1990 oleh psikolog Peter Salovey dari Yale University dan John Mayer dari
   University of New Hampshire. Mereka menggambarkan kecerdasan emosional
   sebagai “ a form of social intelligence that involves the ability to monitor one’s
   own and other’s fellings and emotions, to discriminate among them, and to use
   this information to guide one’s thinking and action ".26) ( himpunan bagian
   dari kecerdasan sosial yang melibatkan kemampuan memantau perasaan dan
   emosi baik pada diri sendiri maupun pada orang lain, memilah-milah
   semuanya, dan menggunakan informasi ini untuk membimbing fikiran dan
   tindakan).
             Definisi yang tidak jauh berbeda dengan definisi yang dikemukakan
   Salovey dan Mayer di atas, dikemukakan pula oleh Daniel goleman.
   Kecerdasan emosional menurut Daniel Goleman adalah kemampuan mengenali
   perasaan kita sendiri dan perasaan orang lain, kemampuan memotivasi diri
   sendiri dan kemampuan mengelola emosi dengan baik pada diri sendiri dan
   dalam hubungan dengan orang lain”.7)
             Sedangkan rumusan definisi yang agak berbeda dan kelihatannya
   lebih simpel dan aplikatif dari definisi di atas adalah sebagaimana yang
   dikemukakan oleh Steve Hein yang mendefinisikan kecerdasan emosional
   sebagai “ knowing what fells good, what fells bad and how to get from bad to
   good "8). (mengetahui mana perasaan-perasaan yang baik, mana yang jelek dan
   bagaimana untuk mendapatkan dari yang jelek itu menjadi baik).

        6)
             Cary Cherniss, Emotional Intelligence: What It is and Why It Matters,
(paper),2000, http://www.eicosortium.org/research/what_is_emotional_intelligence.htm.
(Diakses pada 31 Desember 2000 Pukul 16:30 WIB). mengutip Peter Salovey and John
D. Mayer, Emotional Intelligence: imagination, Cognition,and Personality, hlm. 212.
         7)
            Daniel Goleman(b), Op.Cit, hlm.512.
         8)
            teve Hein, EQ for Everybody; A Practical Guide to Emotional Intelligence,
Aristotle Press, Florida, 1996, hlm. 8.
                                                                                        3


             Di samping itu, masih banyak lagi definisi-definisi kecerdasan
   emosional yang dikemukakan oleh para ahli dengan sudut pandang yang
   berbeda. Beberapa di antaranya memfokuskan pada keahlian atau kecakapan
   kecerdasan emosional seseorang, beberapa ahli yang lain lebih memfokuskan
   pada tingkah laku, dan yang lain lagi lebih memfokuskannya pada hasil akhir
   (outcome). Definisi-definisi tersebut antara lain:
  1. Heartskills™ mendefinisikan kecerdasan emosional sebagai “ability to
      navigate life towards ever increasing degrees of freedom by accessing
      innate heartskills: to integrate emotions and awareness, to align feelings
      and reason, to direct actions with vision to solve problems, resolve conflicts
      and     creatively   enhance     inter-and     intra-personal    relationships.9)
      (kemampuan untuk mengemudikan kehidupan ke arah peningkatan derajat
      kebebasan yang sesungguhnya dengan mempergunakan daya batin: untuk
      mengintegrasikan emosi dan kesadaran, menyelaraskan perasaan dan
      fikiran, mengarahkan tindakan dengan pandangan untuk memecahkan suatu
      permasalahan, memecahkan konflik dan secara kreatif mempertinggi
      hubungan antar dan intrapribadi).
  2. Six second berpendapat bahwa kecerdasan emosional adalah “The
      combination of knowing yourself, choosing yourself, and giving yourself. It
      includes the skills, habits, and understandings that shape our thoughts,
      feelings, and actions in our relationships with ourselves and with others.”10)
      (perpaduan antara pengetahuan diri sendiri, pemilihan diri dan pemberian
      diri. Hal ini termasuk keahlian, kebiasaan, dan pemahaman yang
      membentuk pemikiran, perasaan dan tindakan kita dalam berhubungan
      dengan diri sendiri dan orang lain).
  3. Dan Q-metrics berpendapat bahwa “Emotional Intelligence (EQ) is the
      ability to sense, understand, and effectively apply the power and acumen of



        9)
          EQ Definitions, http://www.heartskills.com/eq/eq-definitions.html. (Diakses
pada Maret 2001 Pukul 14:30 WIB).
       10)
           Ibid.
                                                                              4


   emotions as a source of human energy, information, trust, creativity and
   influence.”11) (Kecerdasan emosional adalah kemampuan untuk merasakan,
   memahami dan mempergunakan kekuatan dan kecakapan emosi secara
   efektif sebagai sumber energi manusia, informasi, kepercayaan, kreativitas
   dan pengaruh).
            Secara historis, topik yang berhubungan dengan kecerdasan emosional
bukanlah persoalan yang baru sama sekali, bahkan penelitian yang berkaitan
dengan ini telah berlangsung sejak lama. Kenyataan ini didasarkan pada
sejarah yang panjang dari penelitian dan teori tentang kepribadian dan sosial
yang dilakukan oleh para psikolog.
            Ketika para psikolog mulai menulis dan berfikir tentang kecerdasan,
mereka memfokuskan pada aspek-aspek kognitif termasuk memori dan
problem-solving. Bagaimanapun, ada beberapa peneliti yang mengakui sejak
semula bahwa aspek-aspek nonkognitif juga penting. Misalnya, David
Wechsler mendefinisikan kecerdasan sebagai kumpulan atau kemampuan
menyeluruh dari seseorang untuk bertindak yang penuh tujuan, berfikir secara
rasional, dan berhubungan dengan lingkungannya secara efektif. Sejak
permulaan 1940 ia mengarahkan unsur “non-intellective” sebagaimana
“intellective”, dengan yang ia maksud efektif, pribadi dan faktor-faktor sosial.
Lagipula pada permulaan 1943, Wechsler telah mengemukakan bahwa
kecakapan non-intellective sangat perlu untuk meramalkan kemampuan
seseorang untuk meraih keberhasilan dalam kehidupan.12)
            Wechsler juga bukan satu-satunya peneliti yang memandang
kecerdasan non-kognitif sebagai hal yang penting bagi penyesuaian diri dan
keberhasilan seseorang. E.L Thorndike (1920), misalnya telah menulis tentang
Kecerdasan sosial yang merupakan akar konsep kecerdasan emosional.
Thorndike mendefinisikan kecerdasan sosial sebagai “the ability to understand
and manage men and women, boys and girl – to act wisely in human


     11)
           Ibid.
     12)
           Carry Cherniss, Loc.Cit.
                                                                                   5


   relations”13) (kemampuan untuk memahami dan mengatur                laki-laki dan
   perempuan, pemuda dan pemudi untuk berbuat secara bijaksana dalam
   hubungannya dengan manusia). Sayangnya hasil karya dari perintis awal ini
   sebagian besar telah terlupakan hingga pada tahun 1983 ketika Howard
   Gardner mulai menulis tentang personal intelligence dalam teori multiple
   intelligence-nya.
              Gardner    melalui kecerdasan personalnya, telah membicarakan
   kecerdasan sosial. Gardner membedakan kecerdasan personal dalam dua
   bagian yaitu kecerdasan interpersonal dan intrapersonal. Ia mendefinisikannya
   sebagai berikut:
         ‘Kecerdasan antarpribadi adalah kemampuan untuk memahami
         orang lain : apa yang memotivasi mereka, bagaimana mereka
         bekerja, bagaimana bekerja bahu-membahu dengan mereka.
         Tenaga-tenaga penjualan yang sukses , para guru, dokter dan
         pemimpin keagamaan semuanya orang-orang yang mempunyai
         tingkat kecerdasan pribadi yang tinggi. Kecerdasan intrapribadi
         adalah kemampuan korelatif, tetapi terarah. Ke dalam kemampuan
         tersebut adalah kemampuan membentuk model diri sendiri yang
         diteliti dan mengacu pada diri serta kemampuan                   untuk
         menggunakan model tadi sebagai alat untuk menempuh kehidupan
         secara efektif’.14)

              Kedua jenis kecerdasan yang dikemukakan oleh Gardner ini jelas
   memperlihatkan kaitan yang erat dengan pengertian kecerdasan emosional
   sebagaimana yang dikemukakan         oleh Salovey dan Mayer serta Goleman.
   Hanya saja di sini terdapat perbedaan di antara keduanya, yaitu dalam hal ini
   Gardner serta rekan-rekannya tidak mengejar secara lebih terperinci peran


          Ibid. mengutip E.L Thorndike, Intelligence and Its Uses, Harper’s Magazine,
        13)

1990,140.227-235.
        14)
            Daniel Goleman(a), Op-Cit.hlm. 52 mengutip Howard Gardner, Multiple
Intelligences, BasicBooks, New York, 1993, hlm. 9.
                                                                                    6


   perasaan dalam kecerdasan, mereka lebih memfokuskan pada pemahaman
   tentang perasaan dan dari sudut pandang bagaimana kognisi melihat emosi. 15)
   Fokus ini barangkali secara tidak sengaja menyebabkan belum terjelajahinya
   lautan emosi yang begitu kaya dan yang membuat kehidupan batin dan
   hubungan-hubungan menjadi begitu kompleks.16)
               Sementara itu, kecerdasan emosional menunjukkan pengelompokkan
   alternatif dari tugas-tugas kecerdasan sosial. Di satu pihak kecerdasan
   emosional lebih luas daripada kecerdasan sosial, yakni tidak hanya melibatkan
   pemikiran tentang emosi dalam perhubungan sosial, tetapi juga pemikiran
   tentang emosi-emosi internal yang penting bagi perkembangan pribadi (sebagai
   lawan dari sosial). Di pihak lain, kecerdasan emosional lebih terfokus pada
   permasalahan-permasalahan emosional yang melekat pada persoalan-persoalan
   pribadi dan sosial.17) Dan yang paling menonjol dalam perbedaan tersebut
   adalah pendekatan yang digunakan oleh Daniel Goleman dan yang lainnya,
   yang lebih mengarah kepada peranan emosi dalam pembentukan kecerdasan
   emosional.
               Penelitian tentang kecerdasan sosial kemudian berlanjut melalui
   pekerjaan penting yang dilakukan oleh Sternberg dan Smith (1985), Cantor dan
   Kihlstrom (1987), Legree (1995) dan yang lainnya. Sebagian besar dari
   penelitan itu menggambarkan pentingnya pengembangan konsep kecerdasan
   sosial.


B. Kecakapan-kecakapan Utama Kecerdasan Emosional
               Dalam definisi yang dikemukakan oleh Salovey dan Mayer serta
   Daniel Goleman, disebutkan beberapa kemampuan utama yang harus dimiliki


        15)
              Ibid, hal.53
        16)
              Ibid.
        17)
            John D. Mayer; et al ., Emotional Intelligence Meets Traditional Standards
for an Intelligence, Ablex Publishing Corporation, 1999, http://www.eqi.org. (Diakses
pada 2 April 2001 Pukul 14:30 WIB).
                                                                                 7


yang berhubungan dengan kecerdasan emosional. Kemampuan-kemampuan
tersebut mencakup lima wilayah utama kecerdasan emosional yaitu:
1. Kesadaran Diri ( self awareness )
2. Pengaturan Diri ( self regulation )
3. Motivasi Diri ( self motivation )
4. Empati ( empathy )
5. Membina Hubungan ( relationship ).


ad.1. Kesadaran Diri ( Kemampuan Mengenali Emosi Diri )
            Komponen pertama dari kecerdasan emosional adalah kesadaran diri
yaitu kemampuan untuk memahami emosi-emosi seseorang, kekuatan dan
kelemahan-kelemahannya.18) Kesadaran diri ini merupakan dasar kecerdasan
emosional       yang    melandasi     terbentuknya   kecakapan-kecakapan   lain.19)
Seseorang yang mempunyai kecerdasan emosi akan berusaha menyadari
emosinya ketika emosi itu menguasai dirinya. Melalui kesadaran diri tersebut,
seseorang dapat mengetahui dan memahami emosinya. Namun kesadaran diri
ini tidak berarti bahwa seseorang itu hanyut terbawa dalam arus emosinya
tersebut sehingga suasana hati itu menguasai dirinya sepenuhnya. Sebaliknya
kesadaran diri adalah keadaan ketika seseorang dapat menyadari emosi yang
sedang menghinggapi fikirannya akibat permaslahan-permasalahan yang
dihadapi untuk selanjutnya ia dapat menguasainya. Orang yang keyakinannya
lebih dan menguasai perasaannya dengan baik dapat diibaratkan pilot yang
andal bagi kehidupannya, karena ia mempunyai kepekaan yang lebih tinggi
akan perasaan mereka yang sesungguhnya.
            Kesadaran emosi dimulai dengan penyelarasan diri terhadap aliran
perasaan yang terus ada dalam diri seseorang, kemudian mengenali bagaimana
emosi-emosi ini membentuk persepsi, fikiran dan perbuatannya. Seseorang
yang unggul dalam kecakapan ini selalu sadar tentang emosinya bahkan sering

     18)
           EQ Definitions, Loc.Cit.
     19)
           Daniel Goleman(a), Op.Cit, hlm. 64.
                                                                              8


  dapat mengenali kehadiran emosi-emosi itu dan merasakannya secara fisik. Ia
  dapat mengartikulasikan perasaan-perasaan itu, selain menunjukkan ekspresi
  sosialnya yang sesuai.20)
              Kesadaran emosi diri ini sangat penting dalam kehidupan manusia.
  Tanpa adanya kesadaran terhadap perasaan dan apa yang menjadi
  penyebabnya, mustahil baginya untuk dapat mencapai kebahagiaan hidup.
              Kaitannya dengan kebahagiaan hidup, seringkali orang mengartikan
  kebahagiaan hidup berdasarkan tingkatan status, pendidikan atau kekayaan
  materi. Fakta membuktikan bahwa banyak orang dianggap berhasil dalam
  hidupnya (dengan ukuran berlimpahnya harta benda dan tingginya status dan
  pendidikan orang tersebut) namun ternyata orang itu tidak dapat merasakan
  kebahagiaan hidup. Dengan demikian, kebahagiaan hidup tidak ditentukan oleh
  aspek material semata. Sebaliknya, hal itu sangat berkaitan dengan aspek
  emosional. Karena itu untuk mencapai kebahagiaan hidup orang harus
  sepenuhnya mempunyai kesadaran terhadap emosi diri, mampu memahami
  mana perasaan yang positif dan mana yang negatif. Orang hidup juga harus
  mengetahui apa yang memungkinkan bagi dirinya untuk merasa bahagia di
  masa mendatang berdasarkan kesadaran diri yang tepat.21)
              Menurut Hein, terdapat empat aspek praktis dalam kesadaran diri.
  Keempat aspek itu adalah;
  a. pengakuan terhadap perasaan ( acknowledging fellings )
  b. penerimaan terhadap perasaan ( acceptance )
  c. identifikasi perasaan yang spesifik ( identifying specific fellings )
  d. prakiraan perasaan di masa yang akan datang ( forecasting fellings in the
      future).22)



       20)
             Daniel Goleman(b), Op.Cit, hlm. 86.
       21)
             Steve Hein, Op.Cit, hlm. 14.
       22)
            Steve Hein, Awareness, http://www.eqi.org/aware.htm. (Diakses pada 7
Februari 2001 Pukul 13:00).
                                                                                  9


              Sedangkan Goleman menyebutkan ada tiga kecakapan utama dalam
  kesadaran diri yaitu:
  a. Kesadaran emosi; mengenali emosi diri dan pengaruhnya. Orang dengan
      kecakapan ini akan :
      -      mengetahui emosi mana yang sedang mereka rasakan dan mengapa
             terjadi
      -      menyadari keterkaitan antara perasaan mereka dengan yang mereka
             pikirkan
      -      mengetahui bagaimana perasaan mereka mempengaruhi kinerja
      -      mempunyai kesadaran yang menjadi pedoman untuk nilai-nilai dan
             sasaran-sasaran mereka.
  b. Pengukuran diri yang akurat; mengetahui sumber daya batiniah,
      kemampuan dan keterbatasan diri. Orang dengan kecakapan ini akan :
      -      sadar tentang kekuatan-kekuatan dan kelemahan-kelemahannya
      -      menyempatkan diri untuk merenung , belajar dari pengalaman
      -      terbuka terhadap umpan balik yang tulus, perspektif baru, mau terus
             belajar dan mengembangkan diri
      -      mampu menunjukkan rasa humor dan bersedia memandang diri sendiri
             dengan perspektif yang luas.
  c. Kepercayaan diri; kesadaran yang kuat tentang harga diri dan kemampuan
      diri sendiri. Orang dengan kemampuan ini akan :
      -      berani     tampil   dengan     keyakinan   diri,   berani   menyatakan
             “keberadaannya’
      -      berani menyuarakan pandangan yang tidak populer dan bersedia
             berkorban demi kebenaran
      -      tegas, mampu membuat keputusan yang baik kendati dalam keadaan
             tidak pasti dan tertekan.23)



       23)
            Daniel Goleman, Emotional Competence Framework, http:/www.eiconsortium
.org /research/ emotional_competence_framework.htm. (Diakses pada 2 April 2001 Pukul
14:30 WIB).
                                                                                    10


  ad. 2. Mengendalikan Emosi Diri ( Self Regulation )
              Pengendalian emosi diri yaitu kemampuan untuk mengatur pengaruh-
  pengaruh emosi yang menyusahkan seperti kegelisahan dan amarah dan untuk
  mencegah        emosi-emosi    yang bersifat      impulsif.24)   Dengan   kata   lain
  pengendalian emosi oleh diri sendiri berarti berupaya untuk meredam atau
  menahan gejolak nafsu yang sedang berlaku agar emosi tidak terekspresikan
  secara berlebihan sehingga seseorang tidak sampai dikuasai sepenuhnya oleh
  arus emosinya.
              Namun demikian pengendalian emosi diri tidak berarti pengendalian
  secara berlebihan (over kontrol), sebab kendali diri yang berlebihan dapat
  mendatangkan kerugian baik fisik maupun mental. Orang yang mematikan
  perasaannya, terutama perasaan negatif yang kuat, menyebabkan meningkatnya
  denyut jantung sekaligus naiknya tekanan darah. Mereka yang memendam
  emosi akan mendapatkan sejumlah kerugian. Mereka mungkin tidak
  menunjukkan tanda-tanda yang kelihatan bahwa mereka sedang mengalami
  pembajakan emosi, tetapi sebagai gantinya mereka menderita kehancuran
  internal seperti; pusing-pusing, mudah tersinggung, terlalu banyak merokok
  dan minum, sulit tidur dan sebagainya. Dan, mereka mempunyai resiko yang
  sama dengan mereka yang mudah meledak emosinya.25)
              Menangani perasaan agar dapat terungkapkan secara pas adalah
  kecakapan yang bergantung pada kesadaran diri. Emosi muncul secara tiba-tiba
  dan cepat sekali tanpa dapat kita duga. Misalnya, emosi marah akan menjadi
  aktif dan bertindak dengan cepat sekali tanpa kita duga, ketika mendapat
  rangsangan emosi seperti apabila hak kita dirampas, dicemooh orang ataupun
  ketika merasa disakiti baik secara fisik maupun psikis. Dalam situasi seperti ini
  orang mempunyai waktu yang sangat terbatas untuk dapat mengendalikan
  emosi tersebut. Semakin cepat ia dapat menentukan dan mengidentifikasi


       24)
           Cary Cherniss dan Daniel Goleman, An EI-Based Theory of Performance,
http://www .eiconsortium.org/research/ei_theory_performance.htm. (Diakses pada 2
April 2001 Pukul 14:30 WIB).
       25)
             Daniel Goleman(b), Op.Cit, hlm. 129.
                                                                            11


emosi ini maka akan semakin berpeluang untuk dapat mengendalikannya,
sehingga emosi akan tersalurkan secara tepat, dan orang itu akan terhindar dari
melampiaskan emosi ini secara berlebihan.
         Terdapat lima kemampuan utama yang berhubungan dengan
pengaturan diri yaitu: pengendalian emosi diri, sifat dapat dipercaya, kehati-
hatian, adaptabilitas, dan inovatif.
         Berikut ini beberapa keterampilan yang berhubungan dengan lima
kecakapan tersebut, sebagaimana yang diungkapkan oleh Daniel Goleman:
a. Pengendalian diri; menjaga agar emosi dan impuls yang merusak tetap
    terkendali. Orang dengan kecakapan ini akan mampu :
   -   mengelola dengan baik perasaan-perasaan impulsif dan emosi-emosi
       yang menekan mereka.
   -   tetap teguh, tetap positif dan tidak goyah bahkan dalam situasi yang
       sangat berat.
   -   berfikir dengan jernih dan tetap terfokus kendati dalam tekanan.
b. Sifat dapat dipercaya; menujukkan standar kejujuran dan integritas. Orang
    dengan kecakapan ini akan mampu :
   -   bertindak menurut etika dan tidak pernah mempermalukan orang
   -   membangun kepercayaan lewat keandalan diri dan otentisitas.
   -   mengakui kesalahan sendiri dan berani menegur perbuatan tidak etis
       orang lain.
   -   berpegang kepada prinsip secara teguh bahkan bila akibatnya adalah
       menjadi tidak disukai.
c. Sifat kewaspadaan; bertanggung jawab atas kinerja pribadi. Orang dengan
    kecakapan ini akan:
   -   Memenuhi komitmen dan mematuhi janji.
   -   Bertanggung jawab terhadap diri sendiri untuk memperjuangkan
       kepentingannya.
   -   Terorganisasi dengan baik dan cermat dalam bekerja.
d. Adaptabilitas; luwes dalam menanggapi perubahan. Orang dengan
    kecakapan ini akan mampu :
                                                                                    12


      -         terampil menangani beragamnya kebutuhan, bergesernya prioritas dan
                pesatnya perubahan.
      -         siap mengubah tanggapan dan taktik untuk menyesuaikan diri dengan
                keadaan.
      -         luwes dalam memandang situasi.
   e. Inovatif; terbuka terhadap gagasan-gagasan dan informasi baru. Orang
       dengan kecakapan ini akan mampu :
      -         selalu mencari gagasan baru dari berbagai sumber.
      -         mendahulukan solusi-solusi yang orisinal dalam pemecahan masalah.
      -         menciptakan gagasan-gagasan baru.
      -         berani mengubah wawasan dan mengambil resiko akibat pemikiran
                baru mereka.26)


  ad. 3. Motivasi Diri ( Self Motivation )
                 Motivasi diri adalah dorongan hati untuk bangkit. Ia merupakan inti
  secercah harapan dalam diri seseorang yang membawa orang itu mempunyai
  cita-cita yang mendorongnya untuk meraih yang lebih tinggi. Motivasi
  merupakan kepercayaan bahwa sesuatu dapat dilakukan, bahkan ketika
  masalah menghadangnya. Jika seseorang telah termotivasi, tidak ada seorang
  lain pun yang dapat mengambil (merampas) kekuatan mereka untuk bergerak
  maju. Dan ketika motivasi itu datang dari dalam hati seseorang, mereka
  menjadi tak terkalahkan.27)
                 Dalam salah satu definisi EI di muka telah disebutkan bahwa EI
  adalah mengetahui bagaimana untuk meraih dari emosi yang negatif menjadi
  positif. Dalam hal ini Motivasi diri adalah komponen utama untuk
  mewujudkan hal tersebut, yaitu dengan memotivasi emosi negatif yang sedang



          26)
                Daniel Goleman, Loc.Cit.
          27)
          Sheila Ellison dan Barbara Ann Barnet, 365 Ways to Help Your Children
Grow, Source books Inc, Illionis, 1996, hlm. 20.
                                                                             13


dirasakan . Melalui motivasi diri emosi negatif tersebut diarahkan kepada hal-
hal yang baik.
            Emosi dapat dijadikan alat untuk meningkatkan prestasi fikiran
kognitif dengan cara-cara tertentu. Di antaranya adalah dengan cara
menumbuhkan harapan dalam diri seseorang itu. Harapan, menurut penelitian
modern, lebih bermanfaat daripada memberikan sedikit hiburan di tengah
kesengsaraan..28) Apabila seseorang mempunyai harapan, maka segala
kebimbangan, keputusasaan dan kesedihan yang dialami dapat diredakan
karena segala masalah dapat diatasi. Segala pekerjaan yang diiringi dengan
harapan       akan    dibantu    perasaan    gembira   dan   bersemangat   untuk
melaksanakannya. Dan orang yang memiliki harapan yang tinggi, menurut
penemuan Snyder, memiliki ciri-ciri tertentu, di antaranya adalah mampu
memotivasi diri, merasa cukup banyak akal untuk menemukan cara meraih
tujuan, tetap memiliki kepercayaan yang tinggi bahwa segala sesuatunya akan
beres ketika sedang menghadapi tahap sulit, cukup luwes untuk menemukan
cara alternatif agar sasaran tetap tercapai atau untuk mengubah sasaran jika
sasaran semula musykil dicapai.29)
            Dari sudut pandang kecerdasan emosional, orang yang mempunyai
harapan berarti ia tidak akan terjebak dalam kecemasan, bersikap pasrah, atau
depresif dalam menghadapi sulitnya tantangan atau kemunduran.
            Selain perhatian, berusaha untuk memasuki suatu keadaan psikologis
yang disebut “flow” merupakan keadaan mental pada tingkatan yang tinggi.
Flow adalah keadaan ketika seseorang sepenuhnya terserap ke dalam apa yang
sedang dikerjakannya, fikirannya hanya terfokus ke pekerjaan itu, kesadaran
menyatu dengan tindakan. Dalam flow, emosi tidak hanya ditampung dan
disalurkan, tetapi juga bersifat mendukung, memberi tenaga, dan selaras
dengan tugas yang sedang dihadapi.30)


     28)
           Daniel Goleman(a), Op.Cit, hlm. 121.
     29)
           Ibid, hlm. 122
     30)
           Ibid, hlm. 127.
                                                                           14


        Untuk mencapai keadaan flow, seseorang harus dapat memberikan
perhatian sepenuhnya dan membutuhkan konsentrasi yang tinggi terhadap apa
yang dilakukan. Pada tingkatan ini, emosi diarahkan menjadi tenaga yang
positif dan produktif. Emosi menjadi satu unsur motivasi menghadapi emosi
yang negatif seperti kekecewaan, kebimbangan, dan ketakutan melalui
kecakapan-kecakapan tertentu.
        Adapun yang termasuk dalam kecakapan motivasi diri antara lain :
a. Dorongan prestasi; berusaha untuk memperbaiki dan menemukan standar
    yang sempurna. Orang dengan kecakapan ini akan :
   -   beorientasi pada hasil, dengan semangat juang yang tinggi untuk meraih
       tujuan dan memenuhi standar.
   -   menetapkan sasaran yang menantang dan berani mengambil resiko
       yang telah diperhitungkan.
   -   mencari informasi untuk mengurangi ketidakpastian dan mencari cara
       yang lebih baik.
   -   terus belajar untuk meningkatkan kinerja mereka.
b. Komitmen; menyesuaikan diri dengan sasaran kelompok atau organisasi.
    Orang dengan kecapakan ini akan :
   -   siap berkorban demi pemenuhan sasaran organisasi yang lebih penting.
   -   merasakan dorongan semangat dalam misi yang lebih besar.
   -   menggunakan nilai-nilai kelompok dalam pengambilan keputusan dan
       penjabaran pilihan-pilihan.
   -   aktif mencari peluang guna memenuhi misi kelompok.
c. Inisiatif ; Kesiapan untuk memanfaatkan kesempatan. Orang dengan
    kecakapan ini akan :
   -   siap memanfaatkan peluang.
   -   mengejar sasaran yang melebihi dari yang dipersyaratkan atau
       diharapkan dari mereka.
   -   berani melanggar batas-batas dan aturan-aturan yang tidak prinsip bila
       perlu agar tugas dapat dilaksanakan.
                                                                                        15


      -         mengajak orang lain sesuatu yang tidak lazim dan bernuansa
                petualangan.
   d. Optimisme; keteguhan dalam mengejar sasaran walaupun ada halangan
       dan kegagalan. Orang dengan kecakapan ini akan :
      -         tekun dalam mengejar sasaran kendati banyak halangan dan kegagalan.
      -         bekerja dengan harapan untuk sukses daripada takut gagal.
      -         memandang kemunduran atau kegagalan sebagai situasi yang dapat
                dikendalikan daripada sebagai kekurangan pribadi.31)


  ad. 4. Empati
                 Empati adalah kemampuan untuk merasakan keadaan jiwa dan
   perasaan orang lain.32) Kemampuan empati ini sangat tergantung pada
   kemampuan           seseorang       dalam   merasakan   perasaan    diri   sendiri   dan
   mengidentifikasi perasaan-perasaan tersebut. Apabila seseorang tidak dapat
   merasakan suatu perasaan tertentu , maka akan akan sulit bagi orang itu untuk
   memahami bagaimana perasaan orang lain. Untuk itu, semakin tinggi
   kemampuan seseorang dalam memahami emosi diri maka akan lebih mudah
   baginya untuk menjelajahi dan memasuki emosi orang lain.
                 Empati bermula dari kesadaran akan perasaan orang lain. Akan lebih
   mudah untuk menyadari emosi orang lain jika mereka benar-benar
   menceritakannya secara langsung tentang apa yang mereka rasakan. Tetapi
   selama         mereka       tidak    menceritakannya,   seseorang    harus     berusaha
   menanyakannya, membaca apa yang tersirat, menduga-duga, dan berupaya
   untuk menginterpretasikan isyarat-isyarat yang bersifat nonverbal. Orang yang
   ekspresif secara emosional adalah paling mudah untuk dibaca, tentunya lewat
   mata dan wajah mereka yang memberitahukan kita bagaimana perasaan
   mereka.33)


          31)
           Daniel Goleman, Loc.Cit.
          32)
           Benjamin B. Wolman, Dictionary of Behavioral Science,Litton Educational
Publishing Inc., New York, 1973, hlm.115.
          33)
                Steve Hein, Op.Cit, hlm.
                                                                            16


            Seseorang yang mau membaca emosi orang lain haruslah berempati.
Empati berbeda dengan simpati. Simpati hanya sekedar memahami masalah
atau perlakuan seseorang. Empati lebih dari itu, empati bukan hanya
memahami masalah orang lain tetapi juga merasakan apa yang dirasakan orang
tersebut. Misalnya, seseorang memahami masalah yang dihadapi temannya
yang sedang tertimpa musibah, tetapi ia tidak ikut merasakan perasaan
temannya, maka orang itu hanya bersimpati. Jika orang tersebut berempati
terhadap temannya, maka ia tidak sekedar memahami masalah yang dihadapi
temannya, tetapi meletakkan dirinya dalam kedudukan temannya untuk
merasakan perasaan temannya itu.
            Kemampuan empati sangat penting dalam kehidupan bermasyarakat.
Orang yang empatik lebih mampu menangkap sinyal-sinyal sosial yang
tersembunyi yang mengisyaratkan apa-apa yang dibutuhkan atau dikehendaki
orang lain. Tanpa empati akan menyebabkan seseorang sulit untuk bergaul dan
membina persahabatan yang erat dengan orang lain. Namun empati atau
memahami sudut pandang atau perspektif seseorang -tahu mengapa mereka
merasakan demikian- tidak berarti kita juga harus mengalaminya.34) Setelah
berempati barulah kita dapat membantu dengan cara yang lebih rasional dan
positif.


Ad. 5. Membina Hubungan (Relationship)
            Membina hubungan merupakan keterampilan mengelola emosi orang
lain. Kecakapan jenis ini sangat membantu seseorang untuk berkomunikasi
dan menjalin hubungan serta kepercayaan dengan orang lain. Gardner
memecahnya menjadi empat jenis kemampuan, yaitu : kepemimpinan,
kemampuan          membina     hubungan    dan   mempertahankan   persahabatan,
kemampuan menyelesaikan konflik, dan keterampilan analisis sosial. Karena
setiap orang memerlukan berhubungan dengan orang lain, maka kecerdasan
ini memiliki peran sangat besar dalam menentukan kesuksesan seseorang.

     34)
           Daniel Goleman(b), Op.Cit, hlm.232.
                                                                                 17


             Mengenali emosi orang lain dapat dilakukan bila seseorang itu
   memiliki kemampuan mengendalikan emosi diri atau pengaturan diri dan
   empati. Dua kemampuan ini membentuk kecakapan antarpribadi. Kecakapan
   antarpribadi ini dapat menghasilkan perhubungan yang positif dengan orang
   lain dan dapat membantu orang lain mendapatkan kebahagiaan dan
   ketenangan.
             Setiap kali bertemu dengan orang lain, seseorang sebenarnya
   memberi isyarat melalui mimik muka, bahasa tubuh, dan nada suara. Isyarat-
   isyarat ini memberi kesan kepada orang yang ditemui. Misalnya senyuman
   yang diberikan pada orang lain pada setiap bertemu akan menyebabkan
   seseorang mudah didekati oleh orang lain,dan mudah untuk menjalin sebuah
   tali persahabatan. Maka dengan kecerdasan emosional isyarat-isyarat yang
   dihasilkan itu mampu membentuk hubungan yang positif.
              Mereka yang jenius di bidang ini akan menjadi pemimpin dan
   manajer yang handal dan disukai oleh rakyat serta bawahannya. Ia pun bisa
   menjaling hubungan yang tepat baik kepada teman, sahabat maupun musuh
   sekalipun, dan juga kepada anak-anak.
              Supaya anak memiliki kecerdasan antar pribadi yang baik mereka
   harus dibimbing untuk bisa menjalin sosialisasi berkawan yang sehat,
   ditumbuhkan empatinya terhadap perasaan teman lain, diajarkan bagaimana
   mengelola emosi-emosi negatifnya dan bagaimana memanfaatkan emosi
   positifnya.35)


C. Pentingnya Kecerdasan Emosional
             Emosi mempunyai peranan yang penting dalam kehidupan. Emosi
  sangat mempengaruhi kehidupan manusia ketika dia mengambil keputusan.
  Tidak jarang suatu keputusan diambil karena dipengaruhi oleh emosi. Tidak
  ada sama sekali keputusan yang diambil manusia murni berdasarkan pemikiran

       35)
          Majalah Suara Hidayatullah, Ragam Kecerdasan Yang Luas,
http://www.hidayatullah. com/2001/08/tarbiyah2.shtml. (Diakses pada September 2001
Pukul 15:00 WIB).
                                                                                   18


   rasionya. Ini karena seluruh keputusan manusia memiliki warna emosional.
   Jika diperhatikan, keputusan-keputusan dalam kehidupan manusia, ternyata
   keputusannya lebih banyak ditentukan oleh emosi dari pada akal sehat.36)
              Menurut berbagai bukti, perasaan adalah sumber terkuat yang
   menetukan kebahagiaan dan kesuksesan seseorang di dunia kerja. Oleh karena
   itu, orang yang cerdas dalam menggunakan emosinya akan lebih berpeluang
   untuk memperoleh kebahagiaan hidup.
              Goleman menyebutkan bahwa kecerdasan            emosional memainkan
   peranan yang sangat vital. Ia menyebutkan bahwa yang menjadi penentu
   kesuksesan kehidupan manusia          bukanlah rasio tetapi emosi. Dari hasil
   penelitiannya, ia menyebutkan bahwa IQ hanya menyumbang sedikit bagi
   kesuksesan yang dapat dicapai manusia, sementara EQ memberikan kontribusi
   yang lebih dominan. Dengan demikian, EQ menjadi salah satu unsur utama
   yang dapat menentukan kebahagiaan dan kesuksesan seseorang.


D. Sasaran Kecerdasan Emosional
              Sebagaimana dikemukakan di muka bahwa kecerdasan emosional
   sangat penting dalam kehidupan manusia. Untuk itu EI perlu ditanamkan
   kepada anak-anak sejak dini. Upaya penanaman kecerdasan emosional dapat
   dilakukan oleh orang tua dan para guru di sekolah dengan cara-cara tertentu.
   Untuk itu, orang tua dan guru sebagai pendidik emosi harus mengetahui dan
   memahami sasaran-sasaran yang terkandung di dalam setiap kecakapan-
   kecakapan emosional. Dengan demikian, arah serta tujuannya akan menjadi
   jelas dan terancang.
              Adapun sasaran-sasaran di dalam lima komponen utama kecakapan
   emosional, sebagaimana yang dikemukakan oleh Daniel Goleman, adalah
   sebagai berikut
   1. Kesadaran emosi diri :


        36)
          KH. Jalaluddin Rakhmat, Sabar; Kunci Kecerdasan Emosional, Al-Tanwir,
140, 25 Mei, 1999, http://www.muthahhari.or.id/sabar.htm. (Diakses pada 2 April 2001
Pukul 14:30 WIB) .
                                                                                 19


   -   Perbaikan dalam mengenali dan merasakan emosinya sendiri.
   -   Lebih mampu memahami penyebab perasaan yang timbul.
   -   Mengenali perbedaan perasaan dan tindakan.
2. Mengelola emosi :
   -   Toleransi yang lebih tinggi terhadap frustrasi dan pengelolaan amarah.
   -   Berkurangnya ejekan verbal, perkelahian, dan gangguan di ruang kelas.
   -   Lebih mampu memngungkapkan amarah dengan tepat tanpa berkelahi.
   -   Berkurangnya perilaku agresif atau merusak diri sendiri.
   -   Perasaan yang lebih positif tentang diri sendiri, sekolah dan keluarga.
   -   Lebih baik dalam menangani ketegangan jiwa.
   -   Berkurangnya kesepian dan kecemasan dalam pergaulan.
3. Memotivasi diri :
   -   Lebih bertanggung jawab.
   -   Lebih mampu memusatkan perhatian pada tugas yang dikerjakan dan
       menaruh perhatian.
   -   Kurang impulsif, lebih menguasai diri.
4. Empati (membaca emosi) :
   -   Lebih mampu menerima sudut pandang orang lain.
   -   Memperbaiki empati dan kepekaan terhadap perasaan orang lain.
   -   Lebih baik dalam mendengarkan orang lain.
5. Membina hubungan :
   -   Meningkakan kemampuan menganalisis dan memahami hubungan.
   -   Lebih baik dalm menyelesaikan pertikaian dan merundingkan
       persengketaan.
   -   Lebih baik dalam menyelesaikan persoalan yang timbul dalam
       hubungan.
   -   Lebih tegas dan terampil dalam berkomunikasi.
   -   Lebih populer dan mudah bergaul, bersahabat dan terlibat dengan
       teman sebaya.
   -   Lebih dibutuhkan oleh teman sebaya.
   -   Lebih menaruh perhatian dan bertenggang rasa.
                                                                            20


   -      Lebih memikirkan kepentingan sosial dan selaras dalam kelompok.
   -      Lebih suka berbagi rasa, bekerja keras,dan suka menolong.
   -      Lebih demokratis dalam bergaul dengan orang lain.37)
           Sasaran-sasaran dalam lima komponen utama kecerdasan emosional
itu jelas mengarah pada pembentukan kecerdasan emosional. Kecakapan-
kecakapan tersebut tidak mudah diperoleh kecuali dengan adanya pendidikan
dan pelatihan emosi sejak dini. Dan hal ini adalah tugas utama bagi orang tua
dan para guru untuk mewujudkannya. Pendidikan emosi yang teratur dan
terancang dengan baik akan dapat membina anak-anak untuk memiliki
kecakapan-kecakapan emosional sebagaimana yang tersebut di atas. Salah satu
cara untuk membentuk kecakapan-kecakapan ini pada anak-anak adalah
dengan menggunakan cerita-cerita keteladanan, terutama cerita-cerita yang ada
dalam Quran yang begitu kaya akan hikmah dan pelajaran hidup. Pendekatan
ini sangat baik digunakan oleh orang tua dan guru, diberikan kepada anak-anak
atau murid-muridnya agar berhasil sebagai manusia yang seimbang
perkembangan intelek, emosi dan rohaninya.




    37)
          Daniel Goleman(a), Op.Cit, hlm. 403

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Stats:
views:91
posted:6/16/2012
language:Malay
pages:20
Description: Pengertian Kecerdasan Emosional menurut para pakar seperti : Heartskills™, Six second, Q-metrics, Gardner, Goleman,