KEUNTUNGAN USAHATANI KOMODITAS UTAMA DI NTB

Document Sample
KEUNTUNGAN USAHATANI KOMODITAS UTAMA DI NTB Powered By Docstoc
					                     KEUNTUNGAN USAHATANI KOMODITAS UTAMA DI NTB

                    Irianto Basuki 1), Sri Hastuti2) , I. M. Wisnu W.2) , Dwi Praptomo S 1).
                          1)
                             Penyuluh pada Balai Pengkajian Teknologi Pertanian NTB
                           2)
                              Peneliti pada Balai Pengkajian Teknologi Petanian NTB


                                                    ABSTRAK

           Di Nusa Tenggara Barat terdapat beberapa komoditas unggulan yang menjadi primadona pembagunan
pertanian. Beberapa komoditas unggulan tersebut sudah diusahakan secara luas oleh petani dan melibatkan sejumlah
besar petani. Tujuan pengkajian ini adalah untuk mengetahui tingkat keuntungan yang diterima petani dari usahatani
komoditas unggulan, dan untuk mengetahui effisiensi usahatani komoditas unggulan pada taraf teknologi petani.
Pengkajian ini menggunakan pendekatan metode survai dan dilakukan pada tahun 2004. Lokasi survai adalah kabupaten
yang menjadi sentra komoditas unggulan. Dari setiap kabupaten ditentukan kecamatan dan desa yang menajdi sentra
komoditas unggulan. Petani responden ditentukan dengan cara purposive sampling. Petani responden adalah petani yang
melakukan usahatani berbasis komoditas unggulan. Petani responden kemudian dipilahkan menjadi tiga strata
berdasarkan luas penguasaan lahan yaitu sempit, sedang dan luas dan untuk peternakan dipilahkan menjadi tiga strata
berdasarkan jumlah pemilikan ternak yang sedikit, sedang dan banyak. Jumlah petani responden dari setiap komoditas
utama ditentukan sebanyak 15. Data yang dikumpulkan terdiri dari data sekunder dan data primer. Data sekunder
diperoleh dari dinas instansi terkait dan data primer dikumpulkan melalui wawancara dengan petani responden. Data
primer selanjutnya dianalisa dengan analisa biaya dan pendapatan untuk menentukan keuntungan petani dan analisas Rate
Cost Ratio untuk menentukan effisiensi usaha komoditas unggulan. Hasil kaijan menunjukkan bahwa tingkat keuntungan
usahatani padi sawah MKI Rp. 2.212.793/ha (R/C 1,78), padi sawah MH Rp. 2.966.687/ha (R/C 1,99), padi ladang
Rp. 2.821.997/ha (R/C 3,01) , jagung Rp. 865.621/ha (R/C 3,62), kacang hijau Rp. 341.058/ha (R/C 1,54), bawang
merah MKI Rp. 11.278.455/ha (R/C 1,63) bawang merah MKII Rp. 4.800.126/ha (R/C 1,78) , manggis Rp. 8.486.221
(R/C 4,26), mangga Rp. 4.411.060 (R/C 5,06), pisang Rp. -157.338 (R/C 1,06), kopi Rp. 3.027.897/ha (R/C 9,36),
jambu mete Rp. 247.685/ha (R/C 1,25), kakao Rp. 3.872.685.2/ha (R/C 3,61), vanilli Rp 752.201,-/ha (R/C 1,32),
tembakau Rp. -529.199 /ha (R/C 1,04), sapi potong Rp. 817.867 (R/C 2,01), kerbau Rp. 8.424.266,- (R/C 2,04), kambing
Rp. 1.852.224 (R/C 2,55) ayam Buras Rp. 725.671,- (R/C 1,53), dan itik Rp. 3.874.010 (R/C 2,92), Pada umumnya
efisiensi usahatani komoditas unggulan yang diusahakan petani di NTB menunjukkan nilai efisiensi (R/C) yang cukup
bagus kecuali pisang dan tembakau.

Kata kunci : keuntungan , usahatani, komoditas unggulan


                                                PENDAHULUAN

        Salah satu indikator untuk mengetahui keberhasilan pembangunan yaitu dari pertumbuhan ekonomi
yang diukur dengan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB). Selama tahun 2002-2003 laju pertumbuhan
sektor pertanian mencapai 3,02 persen per tahun. Pada umumnya sub sektor penyusun sektor pertanian
mengalami pertumbuhan yang positif yaitu berkisar antara 2,52 - 4,75 persen. Pertumbuhan tertinggi terjadi
pada subsektor kehutanan dan terendah terjadi pada subsektor tanaman bahan makanan.
         Gambaran struktur kesempatan kerja di Propinsi Nusa Tenggara Barat menunjukkan bahwa
kesempatan kerja terbesar yang tersedia di NTB terdapat di sektor pertanian. Dari total angkatan kerja yang
bekerja, sebesar 57,5 persen bekerja di sektor pertanian. Meskipun pangsa sektor pertanian terhadap PDRB
sekitar 24% (dibawah sektor pertambangan), namun sektor pertanian mampu menyerap tenaga kerja relatif
besar.
         Dilihat dari peranan sektor pertanian di NTB melalui PDRB dan tenaga kerja yang terlibat,
ternyata peranan sektor ini masih sangat besar yaitu sekitar 40% dari PDRB , dan lebih dari 50% tenaga
kerja yang terlibat di sektor ini Oleh karena itu sangat wajar apabila kebijakan pembangunan di NTB masih
bertumpu pada sektor pertanian. Permasalahan yang dihadapi sektor pertanian di NTB sekarang ini masih
cukup banyak selain yang telah disebutkan sebelumnya, diantaranya adalah masalah penurunan produksi dan
populasi ternak, rendahnya nilai tukar petani, kesempatan kerja, regenerasi petani, masalah iklim dan dan
kekeringan, teknologi dan aspek-aspek sosial ekonomi lainnya.
          Dari seluruh komoditas pertanian yang diusahakan petani di NTB tercatat 74 jenis komoditas
terdiri dari sayuran 16 jenis, buah-buahan 18 jenis, padi palawija 8 jenis, perkebunan 18 jenis dan peternakan
14 jenis. Uraian berbagai jenis tersebut adalah: sayuran terdiri dari bawang merah, bawang putih, kentang,
kubis, kacang merah, cabe besar, kacang panjang, sawi, tomat, terong, bayan, lobak, labu siam, kangkung,
cabe kecil, ketimun; buah-buahan terdiri dari belimbing, jeruk, mangga, sirsat, alpokad, mangga, rambutan,
duku/langsat, durian, pepaya, sawo, jambu biji, jambu air, jambu bol pisang, nenas, salak, nangka; padi
palawija terdiri dari padi sawah, padi ladang, jagung, ubi kayu, ubi jalar, kacang tanah, kedelai, kacang
hijau; tanaman perkebunan terdiri dari kelapa, kopi, mete, cengkeh, kakao, pinang, kapuk, asam, vanilli,
kemiri, lontar, aren, tebu, tembakau rakyat, tembakau virginia, wijen, jarak dan empon-empon dan
peternakan terdiri dari kuda, sapi, kerbau, kambing, domba, babi, ayam ras petelur, ayam ras pedaging, ayam
buras itik/entog/angsa, kelinci, puyuh, merpati kalkun. (BPSNTB 2004).
          Ditinjau dari sisi keberadaan komoditas unggulan menurut hasil kajian BPTP NTB 2003, prioritas
komoditas unggulan NTB adalah sebagai berikut: tanaman pangan meliputi padi ladang, kacang hijau, padi
sawah, kacang tanah dan jagung; sayuran meliputi kentang, kacang-kacangan, bawang merah, cabai; buah-
buahan meliputi jeruk keprok, manggis, mangga, rambutan, durian; tanaman perkebunan meliputi jambu
mete, vannili, tembakau virgina, kopi, kakao, wijen; peternakan meliputi sapi, ayam buras, kerbau, kambing
dan itik.
       Selanjunya ditinjau dari pelaku usahatani dari komoditas utama tersebut perlu diketahui sejauh
mana komoditas yang disuahakan tersebut mempunyai suatu nilai keuntungan, sehingga para pelaku tersebut
mempunyai peluang mengusahakan lebih lanjut dalam skala yang lebih besar.


                                            METODOLOGI

        Lokasi pengkajian adalah di wilayah pembangunan pertanian NTB yang meliputi seluruh
kabupten/kota yang terdapat di pulau Lombok dan pulau Sumbawa. Kegiatan ini dilaksanakan mulai bulan
Juni 2004 hingga Desember 2004.
         Pengkajian ini menggunakan pendekatan metode survai. Lokasi survai adalah kabupaten diwilayah
Propinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) yang menjadi sentra komoditas unggulan
         Dari setiap kabupaten ditentukan kecamatan dan desa yang menajdi sentra komoditas unggulan.
Petani responden ditentukan dengan cara purposive sampling. Petani responden adalah petani yang
melakukan usahatani berbasis komoditas unggulan dari setiap sub sektor yang ada yaitu tanaman pangan
(padi sawah, padi ladang, jagung dan kacang hijau), tanaman hortikultura (bawang merah, manggis, mangga
dan pisang), tanaman perkebunan (kopi, mete, kakao, vanili dan tembakau), peternakan (sapi potong, kerbau,
kambing, ayam buras dan itik) dan dari perikanan yaitu kerapu dan rumput laut. Petani responden dipilahkan
menjadi tiga strata berdasarkan luas penguasaan lahan yaitu sempit, sedang dan luas dan untuk peternakan
menjadi tiga strata berdasarkan jumlah pemilikan ternak yaitu sedikit, sedang dan banyak. Jumlah petani
sampel dari setiap komoditas utama ditentukan sebanyak 15 orang.


                                     HASIL DAN PEMBAHASAN

1.   Tanaman Pangan dan Hortikultura

Padi sawah
       Produktivitas padi sawah yang dicapai petani sekitar 50 kw/ha per musim. Tingkat produksi pada
musim kemarau sama dengan rata-rata produksi padi Kabupaten Lombok Barat tahun 2003, namun lebih
tinggi dibandingkan dengan data produksi BPS tahun 2003 untuk Propinsi NTB yaitu 46 kw/ha.
Produktivitas padi yang ditanama pada MK I 2004 dan MH 2003/2004 masing-masing 48 kw/ha dan 56
kw/ha.
      Tabel 1 menunjukkan bahwa struktur biaya dan penerimaan per hektar bervariasi pada setiap musim.
Biaya usahatani yang dikeluarkan pada musim kemarau sekitar 56 persen dari total penerimaan usahatanai
dan biaya usahatani yang dikeluarkan pada musim hujan 50 persen dari total penerimaan usahatani. Biaya
usahatani terbesar yang dikeluarkan adalah untuk biaya tenaga kerja yaitu mencapai 32 persen dari total
penerimaan usahatani pada musim kemarau dan 29 persen dari total penerimaan usahatani pada musim hujan.
       Pendapatan bersih atau keuntungan usahatani padi sawah per hektar pada musim kemarau sekitar 2,2
juta rupiah dengan nilai R/C sebesar 1,78 dan keuntungan bersih pada musim hujan sekitar 3 juta rupiah
dengan nilai R/C sebesar 1,99. Berdasarkan nilai R/C yang diperoleh usahatani padi yang ditanam pada
kedua musim tersebut menunjukkan bahwa usahatani padi sawah cukup menguntungkan untuk diusahakan
karena memiliki nilai R/C lebih dari 1 (satu).
Tabel 1. Keuntungan Usahatatani Komoditas Tanaman Pangan dan Hortikultura di NTB, 2004

                                        Biaya (Rp)                          Nilai
                                                                                         Keuntungan
 No      Komoditas                   Tenaga     Biaya                     Produksi                     R/C
                        Saprodi                            Total Biaya                      (Rp)
                                     Kerja      Lain                        (Rp)
  1   Padi sawah
      MKI                 729.422   1.634.711   487.122      2.851.255    5.064.048        2.212.793    1.78
      MH                  685.884   1.740.374   574.401      3.000.660    5.967.347        2.966.687    1.99
  2   Padi ladang         313.511   1.018.632    69.965      1.402.108    4.224.105        2.821.997    3.01
  3   Jagung              729.689     664.746   103.870      1.498.305    2.363.927          865.621    1,58
  4   Kc. Hijau           157.507     378.530    91.458        627.495      968.553          341.058    1.54
  5   Bwg merah
      MKI              11.599.783   5.974.080   298.184     17.872.047   29.150.502       11.278.455    1.63
      MKII              4.745.842   1.307.368    83.505      6.136.716   10.936.842        4.800.126    1.78
  6   Manggis           1.102.816   1.372.924   123.754      2.599.493   11.085.714        8.486.221    4.26
  7   Mangga              558.902     445.896    81.654      1.086.452    5.497.512        4.411.060    5.06
  8   Pisang            2.007.338     761.558    86.753      2.855.649    2.698.312         -157.338   -1.06

Padi Ladang
       Produktivitas padi ladang petani mencapai 29 kw/ha, lebih tinggi dari rata-rata produktivitas padi
ladang Propinsi NTB dan Kabupaten Sumbawa tahun 2003 (24 kw/ha). Dari analisis yang dilakukan
diketahui bahwa diantara biaya produksi yang terdiri dari biaya saprodi, tenaga kerja dan biaya lain, biaya
tenaga kerja merupakan komponen biaya terbesar yang dikeluarkan petani yaitu mencapi 73 persen dari biaya
produksi. Komponen biaya tenaga kerja terbesar yang dikeluarkan yaitu untuk biaya panen yang nilainya
melebihi biaya sarana produksi. Biaya sarana produksi untuk benih yang dikeluarkan petani relatif kecil
karena sebagian besar petani menggunakan benih sendiri atau benih tidak berlabel sehingga harganya murah.
       Pendapatan kotor atau nilai produksi yang diperoleh pada tingkat produksi tersebut diatas yang diukur
dengan harga berlaku pada saat itu adalah sebesar Rp 4,2 juta. Di lain pihak biaya produksi yang dikeluarkan
petani sebesar Rp 1,4 juta maka dengan demikian keuntungan bersih yang diterima petani sebesar Rp. 2,8
juta/ha. Tingkat keuntungan dari usahatani padi ladang relatif cukup besar yaitu mencapai 66,8 persen dari
pendapatan kotor dan nilai R/C yang dicapai yaitu sebesar 3,01 maka usahatani padi ladang di Kabupaten
Sumbawa khususnya di Kecamatan Labangka menguntungkan untuk diusahakan.
Jagung
        Produktivitas jagung yang dicapai pada MH 2003/2004 sekitar 46 kw/ha atau lebih tinggi dari angka
produktivitas jagung (21 kw/ha) yang dilaporkan BPS tahun 2003. Harga jual yang diterima petani pada saat
itu sebesar Rp 516/kg maka dengan tingkat produksi tersebut diatas (46 kw/ha), penerimaan petani kotor atau
nilai produksi yang diterima petani sebesar 2,4 juta rupiah.
       Nilai produksi sebesar 2,4 juta rupiah diperoleh melalui pengeluaran berupa biaya produksi sekitar Rp
1,5 juta atau 63 persen dari penerimaan kotor. Dari biaya produksi yang dikeluarkan, komponen biaya sarana
produksi merupakan komponen biaya produksi terbesar yang dikeluarkan atau 33 persen dari nilai produksi
yang diterima petani dan sebagian besar biaya saprodi tersebut dipergunakan untuk membeli pupuk.
Komponen biaya produksi lainnya yang cukup besar dikeluarkan petani adalah untuk biaya tenaga kerja atau
mencapai sekitar 28 persen dari penerimaan kotor, tetapi lebih kecil dibandingkan dengan biaya saprodi
(31%). Nilai produksi dikurangi biaya produksi merupakan keuntungan bersih petani, maka dengan demikian
keuntungan bersih yang diterima petani dari usahatani jagung sekitar Rp. 900 ribu/ha dan dengan nilai R/C
mencapai 1,54 maka usahatani jagung cukup menguntungkan untuk diusahakan petani.
Kacang Hijau
       Produktivitas kacang hijau yang dihasilkan petani mencapai sekitar 4 kw/ha jauh lebih rendah
dibandingkan dengan rata-rata produksi di Kabupaten Sumbawa dan Propinsi NTB pada tahun 2003 (7,5
Kw/Ha). Pada tingkat produksi ini penerimaan kotor petani sekitar Rp 968 ribu yang dihasilkan melalui
pengeluaran berupa biaya produksi yang per hektarnya mencapai Rp 627 ribu, maka dengan demikian
keuntungan bersih yang diterima petani sebesar Rp 341 ribu/ha. Meskipun secara kuantitatif keuntungan
bersih yang diterima petani relatif kecil (35 % dari penerimaan kotor), tetapi bila dilihat dari nilai R/C yang
dicapai yaitu 1,54 maka usahatani kacang hijau pada taraf teknologi yang diterapkan petani cukup
menguntungkan untuk diusahakan.
       Dari hasil analisis yang dilakukan, diketahui bahwa komponen terbesar dari biaya produksi kacang
hijau adalah untuk biaya tenaga kerja yaitu mencapai 39 persen dari total penerimaan, sedangkan untuk biaya
sarana produksi hanya mencapai 25% dari total penerimaan. Komponen biaya tenaga kerja yang cukup besar
yang dikeluarkan petani adalah untuk biaya panen dan penanganan pasca panen, sedangkan biaya saprodi
yang cukup besar dikeluarkan petani adalah untuk pembelian pestisida guna mengendalikan hama dan
penyakit dan biaya pembelian herbisida untuk mengendalikan gulma karena penanaman kacang hijau yang
umum dilakukan petani adalah secara TOT.
Bawang merah
       Produktivitas bawang merah petani responden berkisar antara 1.290 kw/ha sampai 1.417 kw/ha.
Produksi pada musim kemarau lebih tinggi dibandingkan dengan produksi pada musim hujan. Produksi
bawang merah pada musim hujan lebih rendah karena jumlah petani yang menanam lebih sedikit disamping
diusahakan pada areal yang tidak terlalu luas. Tujuan petani menanam bawang merah pada musim hujan
untuk benih dan mendapatkan harga tinggi, tetapi resiko penanaman pada musim hujan cukup tinggi
sehingga hasil produksi yang diterima petani cenderung rendah. Hal ini terbukti dari hasil analisis biaya dan
pendapatan dimana penerimaan usahatani bawang merah yang diusahakan pada MK I jauh lebih tinggi (Rp.
29 juta) dibandingkan dengan penerimaan usahatani bawang merah yang diusahakan pada MH (Rp. 11 juta).
       Ditinjau dari struktur pembiayaan, jumlah biaya produksi yang dikeluarkan petani bawah merah yang
menanam pada MK I (Rp. 18 juta/ha) lebih besar dibandingkan petani yang menanam pada MH (6 juta/ha).
Sebagian besar dari biaya produksi tersebut dikeluarkan untuk pembelian bibit dan sarana produksi pestisida.
Keuntungan bersih adalah nilai produksi dikurangi biaya produksi, dengan demikian maka keuntungan bersih
petani yang menanam bawang merah pada MK I sekitar Rp. 11 juta/ha dan ini lebih besar dari keuntungan
bersih yang diterima petani yang menanam bawang merah pada MH yaitu sekitar Rp. 5 juta/ha, tetapi bila
ditinjau dari nilai R/C atau efisiensi usahataninya, petani bawang merah yang menanam pada MK I memiliki
nila R/C lebih rendah (1,63) dibandingkan petani yang menanam bawang merah pada MH (R/C 1,78).
Perbedaan nilai R/C tersebut dipengaruhi oleh faktor harga dimana harga bawang merah yang ditanam pada
MH lebih tinggi karena untuk bibit dibandingkan harga bawang merah yang ditanam pada MK I.
Manggis
         Manggis sebagai tanaman tahunan memerlukan tenggang waktu yang cukup lama mulai dari
penanaman bibit sampai dengan tanaman menghasilkan, sehingga sebagian besar biaya yang dikeluarkan
merupakan biaya yang diinvestasikan. Dalam kajian ini perhitungan keuntungan tanaman manggis dilakukan
pada tanaman manggis umur produktif sehingga biaya yang dikeluarkan hanya berupa biaya pemeliharaan.
Biaya pemeliharaan yaitu berupa biaya tenaga kerja, biaya sarana produksi dan biaya lainnya. Biaya
pemeliharaan yang cukup besar dalam usahatani manggis adalah biaya untuk tenaga kerja yang dikeluarkan
dalam bentuk upah untuk melakukan pemupukan, penyiangan dan panen (Rp. 1.372.924) kemudian biaya
sarana produksi (Rp. 1.102.816) yaitu untuk pembelian pupuk dan pestisida serta biaya lainnya yaitu untuk
pembayaran pajak dan lainnya (Rp. 123.754,-). Jadi dengan demikan maka biaya pemeliharaan yang
dikeluarkan petani selama setahun sebesar Rp. 2.599.493,- Biaya produksi yang dikeluarkan tersebut
menghasilkan nilai produksi sebesar Rp. 11.085.714 maka keuntungan bersih yang diterima petani dalam
jangka waktu 1 tahun sebesar Rp. 8.486.221 dengan nilai R/C sebesar 4,26.
        Ditinjau dari keuntungan bersih dan nilai R/C yang dicapai dan peluang pasarnya, baik di dalam
negeri maupun di luar negeri, maka usahatani manggis cukup layak untuk dikembangkan. Pedagang
pengumpul manggis di Desa Batumekar Kecamatan Lingsar Kabupaten Lombok Barat telah berhasil
menembus pasar luar negeri.
Mangga
        Daerah produsen mangga yang cukup terkenal di Kabupaten Lombok Barat adalah Kecamatan
Bayan. Agroekosistem yang cukup mendukung dengan iklimnya yang kering menghasilkan buah mangga
dengan rasa manis. Mangga yang berasal dari kecamatan ini mampu bersaing di pasar nasional dengan
mangga Probolinggo dari Jawa Timur. Di pasar, konsumen sulit membedakan manggga Bayan dan mangga
yang berasal dari Probolinggo..
         Dari hasil analisis yang dilakukan terhadap mangga yang berada pada umur produktif mampu
menghasilkan keuntungan sebesar Rp. 4.411.060 per tahun. Keuntungan tersebut diperoleh dari nilai
produksi sebesar Rp. 5.497.512 melalui pengorbanan berupa biaya produksi sebesar Rp. 1.086.452. Dari
data tersebut diperoleh nilai R/C usahatani mangga sebesar 5,06 dan ini berarti bahwa usahatani mangga
memiliki tingkat effisiensi yang cukup tinggi.
Pisang
        Dari informasi yang diperoleh, tanaman pisang di lokasi pengkajian baru mulai berbuah antara satu
sampai dua kali sehingga belum berada pada produksi puncak. Pada fase pertumbuhan tanaman tersebut
masih memerlukan input yang cukup besar, sementara disatu sisi hasil produksi yang dihasilkan belum
maksimal sehingga dalam analisa ini usahatani pisang belum mampu memberikan keuntungan kepada petani.
         Dari Tabel 1 diketahui bahwa biaya produksi yang dikeluarkan selama satu tahun sebesar
Rp. 2.855.649 dimana biaya yang dikeluarkan tersebut sebagian besar berupa biaya untuk pembelian sarana
produksi (Rp. 2.007.338) sedangkan biaya tenaga kerja yang dikeluarkan lebih rendah yaitu sebesar
Rp. 761.558. Dilain pihak nilai produksi yang dapat dicapai oleh petani yang bergerak pada usahatani pisang
hanya sebesar Rp. 2.698.312 selama setahun dengan demikian maka petani pisang mengalami kerugian
sebesar Rp. 157.338.
         Interpretasi terhadap besarnya biaya sarana produksi yang dikeluarkan mengindikasikan bahwa
sebagian besar petani sedang melakukan peremajaan tanaman pisang. Pengamatan yang dilakukan saat survai
pada beberapa kebun pisang petani, rata-rata kondisi pisang yang ada dikebun petani masih dalam masa
pertumbuhan. Peremajaan ini dilakukan karena sebagian besar pisang yang dimiliki petani terserang
penyakit darah pisang.

2.    Tanaman Perkebunan

Kopi
       Total penerimaan usahatani kopi di lokasi penelitian sebesar Rp 3,4 juta per hektar per tahun.
Sementara itu biaya yang harus dikeluarkan relatif kecil yaitu Rp 360 ribu atau 10,70 persen dari penerimaan
kotor. Biaya terbesar adalah untuk tenaga kerja yaitu sekitar Rp 240 ribu atau 7,05 persen dari penerimaan
kotor.
      Dalam usahatani kopi ini, petani tidak melakukan pemupukan dan pemberantasan hama penyakit
tanaman. Sehingga biaya produksi hanya dikeluarkan untuk bibit dan tenaga kerja.
       Dengan biaya yang relatif kecil dibandingkan penerimaan maka nilai imbangan biaya dan penerimaan
kotor (R/C ratio) yang diperoleh sebesar 9,35. Dengan nilai R/C jauh lebih besar dari satu berarti usahatani
kopi setelah mencapai usia produktif sangat menguntungkan

Table 2. Keuntungan usahatatani komoditas tanaman Perkebunan di NTB, 2004

                                          Biaya (Rp)                           Nilai
                                                                                           Keuntungan
 No     Komoditas                    Tenaga         Biaya        Total       Produksi                     R/C
                       Saprodi                                                                (Rp)
                                     Kerja          Lain         Biaya         (Rp)
 1     Kopi               39.175       239.113        84.536      362.825     3.390.722      3.027.897     9.35
 2     Mete               81.019       879.630        45.525    1.006.173     1.253.858         247.685    1.25
 3     Kakao          2.953.18.9    11.433.12.8     457.81.9   14.844.13.6   53.570.98.8    38.726.85.2    3.61
 4     Vannili           406.250     1.890.960        44.786    2.341.996     3.094.196         752.201    1.32
 5     Tembakau        3.513.527       326.639       326.639   12.505.045    11.975.845        -529.199   -1.04

Mete
       Total penerimaan usahatani jambu mete dalam satu tahun sebesar Rp 1,25 juta per hektar. Dari jumlah
tersebut, sebesar 80,25 persen merupakan biaya produksi dan diantaranya 70,15 persen merupakan biaya
tenaga kerja.
       Keuntungan yang diperoleh selama setahun dari usahatani jambu mete mencapai sekitar 250 ribu
rupiah per hektar tanaman kelapa. Nilai R/C lebih besar dari satu, menunjukkan bahwa usahatani tersebut
menguntungkan. Dilihat dari besaran keuntungan yang diperoleh, pendapatan dari usahatani jambu mete
tersebut tidak cukup besar apabila digunakan sebagai satu-satunya sumber pendapatan rumahtangga.
Kakao
       Rata-rata produksi kakao yang dihasilkan petani selama setahun 7,48 Kw/Ha. Biasanya petani menjual
kakao dalam bentuk biji kering, dengan harga jual yang diterima pada waktu panen Rp 4754/kg. Dengan
tingkat produksi yang dicapai dan tingkat harga yang diterima tersebut diperoleh penerimaan setahun sebesar
5,4 juta rupiah per hektar.
      Total biaya produksi usahatani kakao usia produktif mencapai 27,71 persen dari penerimaan yang
diperoleh. Meskipun tanaman kakao sudah berproduksi, tetap memerlukan pemeliharaan seperti pemupukan,
dan pembersihan. Dari total biaya yang dikeluarkan, komponen biaya terbesar untuk tenaga kerja (21,34%).
       Keuntungan yang diperoleh petani dari satu hektar tanaman kakao sekitar Rp 3,9 juta dalam waktu
satu tahun. Setelah mencapai usia produktif, usahatani kakao sangat menguntungkan. Hal ini terlihat dari
imbangan biaya dan penerimaan kotor (R/C ratio) yang nilainya jauh di atas satu yaitu 3,61.
Vanili
       Total penerimaan usahatani vanili di lokasi penelitian sebesar Rp 3,1 juta per hektar per tahun.
Sementara itu biaya yang harus dikeluarkan mencapai Rp 2,3 juta atau 75,69 persen dari penerimaan kotor.
Biaya terbesar adalah untuk tenaga kerja yaitu 1,9 juta atau 61,11 persen dari penerimaan kotor. Dalam
usahatani vanili, petani tidak melakukan pemupukan sehingga biaya produksi hanya dikeluarkan untuk bibit
dan tenaga kerja.
        Biaya lain dalam biaya tenaga kerja usahatani vanili relatif besar yaitu mencapai 53,47 persen dari
penerimaan. Biaya lain tersebut diantaranya biaya untuk penyerbukan dan upah pejaga kebun. Seperti
diketahui vanili memerlukan penangan khusus dalam proses reproduksi. Penyerbukan dilakukan dengan
bantuan manusia dan hal ini memerlukan keahlian khusus. Oleh karena itu untuk kegiatan penyerbukan
tersebut memerlukan biaya yang besar. Tanaman vanili termasuk komoditas ekspor yang bernilai ekonomi
tinggi, sehingga jika tidak dijaga maka keamanan kebun rawan pencurian.
       Nilai imbangan biaya dan penerimaan kotor (R/C ratio) yang diperoleh sebesar 1,52. Dengan nilai R/C
lebih besar dari satu berarti usahatani vanili menguntungkan. Besarnya keuntungan yang dicapai petani
dalam satu tahun sekitar 600 ribu rupiah per hektar. Nilai ini relatif kecil apabila usaha tersebut merupakan
satu-satunya sumber pendapatan rumahtangga tanpa ada sumber pendapatan lain.
Tembakau
      Komponen biaya terbesar merupakan biaya tenaga kerja, biaya tenaga kerja per hektar lahan tembakau
mencapai 72,35 persen dari penerimaan usahatani. Kegiatan dalam usahatani tembakau adalah persemaian,
pengolahan tanah, pembuatan bedengan, pembuatan lubang tanam, penanaman, penyiraman, pemupukan,
penyemprotan, penggemburan, toping (pemangkasan pucuk), nyuli (pemetikan daun suli), panen dan pasca
panen. Biaya tenaga kerja sebagian besar merupakan biaya pasca panen dan penyiraman.
       Faktor pemupukan sangat menentukan mutu daun tembakau yang dihasilkan. Pengeluaran saprodi
terbesar untuk pembelian pupuk (23,78% dari penerimaan).

3.       Peternakan

Tabel 3: Keuntungan Usahatatani Komoditas Peternakan di NTB, 2004

                                                      Nilai Produksi
 No          Jenis Ternak   Total Biaya (input)                              Keuntungan (Rp)         R/C
                                                    (Rp)(total Out put)
     1     Sapi potong            805.867                 1.623.733                 817.867          2,01
     2     Kerbau               8.075.401                16.499.667               8.424.266          2,04
     3     Kambing              1.194.314                 3.046.538               1.852.224          2,55
     4     Ayam Buras           1.367.471                 2.093.142                 725.671          1,53
     5     Itik                 2.014.866                 5.888.877               3.874.010          2,92

Sapi Potong
          Biaya yang dikeluarkan untuk penggemukan sapi antara lain untuk pembelian sapi bakalan,
penyusutan kandang, pakan dan obat-obatan. Sementara itu biaya tenaga kerja tidak diperhitungkan dalam
analisa karena tenaga kerja yang digunakan semuanya merupakan tenaga kerja keluarga. Total biaya usaha
penggemukan sapi potong dengan skala usaha satu ekor memerlukan biaya Rp 805 ribu. Dengan biaya
tersebut selama enam bulan penerimaan mencapai Rp 1,623 juta sehingga keuntungan yang diperoleh sebesar
Rp 818 ribu atau 50 persen dari total penerimaan. Usaha ternak ini sangat menguntungkan dilihat dari nilai
R/C sebesar 2,01. Dengan tingkat keuntungan ini usaha ternak sapi dapat dikatakan sebagai pekerjaan
sampingan. Apabila usaha penggemukan sapi akan dijadikan sebagai sumber pendapatan utama keluarga
maka skala usaha ternak perlu ditambah.
Kerbau
         Dengan waktu pemeliharaan sekitar satu tahun, masing-masing induk kerbau rata-rata melahirkan
satu ekor anak sehingga jumlah anak yang dilahirkan 2,6 ekor. Output lain yang diperoleh dari usaha ternak
kerbau adalah jasa tenaga kerja. Dengan demikian dalam waktu tersebut penerimaan petani dari nilai ternak
dan jasa tenaga kerja mencapai Rp 16,499 juta.
         Untuk menghasilkan penerimaan sebesar Rp 16,499 juta selama setahun diperlukan biaya sebesar
Rp 8,075 juta. Komponen biya terbesar merupakan biaya pembelian induk kerbau yang mencapai 43,33
persen dari total penerimaan. Dengan struktur penerimaan dan biaya tersebut maka keuntungan petani kerbau
mencapai Rp 8,424 juta dan R/C 2,04. Pada tingkat skala usaha seperti yang dilakukan petani di Kabupaten
Lombok Tengah, usaha ternak kerbau dapat dijadikan sebagai sumber pendapatan utama keluarga.
Kambing
         Dari hasil analisa yang dilakukan menunjukkan bahwa usaha ternak kambing pembibitan yang
dilakukan peternak di Kota Mataram sangat menguntungkan. Dalam waktu satu tahun induk dapat
berproduksi dua kali dengan jumlah anak rata-rata dua ekor. Sehingga pada akhir analisa jumlah anak lepas
sapih sebanyak 6,2 ekor dan jumlah induk menjadi 5 ekor. Total output yang diperoleh petani selama setahun
mencapai Rp 3,046 juta.
         Input produksi terdiri dari biaya pembelian pejantan dan induk, kandang dan obat-obatan. Semua
kegiatan pemeliharaan kambing dilakukan oleh anggota keluarga termasuk mencari pakan sehingga biaya
pakan dan tenaga kerja tidak diperhitungkan. Total input usaha ternak kambing sebesar Rp 1,194 juta atau
39,20 persen dari penerimaan.
         Dengan struktur biaya dan penerimaan tersebut maka keuntungan usaha ternak kambing selama
setahun sebesar Rp 1,852 juta. Usaha tersebut menguntungkan dilihat dari nilai R/C sebesar 2,55.
Ayam Buras
        Input produksi yang diperlukan dalam usaha ternak ayam buras antara lain bibit, kandang, pakan,
obat-obatan, dan tenaga kerja. Usaha ternak ayam buras yang dilakukan peternak di Kabupaten Lombok
Barat sudah relatif intensif dilihat dari jenis dan jumlah input yang digunakan. Ternak sudah dikandangkan,
pakan yang diberikan terdiri dari jagung, konsentrat dan dedak, sementara itu pemeliharaan kesehatan juga
dilakukan dilihat dari besarnya pengeluaran untuk obat-obatan.
        Total biaya produksi usaha ternak ayam buras selama setahun mencapai Rp 1,367 juta atau 65,33
persen dari total penerimaan. Biaya terbesar merupakan biaya bibit (28%) dan pakan (27%). Produk utama
yang dihasilkan dalam usaha ternak ayam buras adalah telur konsumsi. Disamping telur konsumsi, usaha
ternak melakukan pembibitan untuk regenerasi induk yang sudah afkir. Hasil analisa menunjukkan
penerimaan usaha ternak ayam selama setahun sekitar Rp 2,093 juta, sehingga keuntungan yang diperoleh
mencapai Rp 726 ribu rupiah dengan nilai R/C sebesar 1,53.
Itik
         Hasil analisa usaha menunjukkan bahwa biaya produksi selama setahun yaitu Rp 2,015 juta. Biaya
ini sebagian besar merupakan biaya lain Rp 859 ribu (14,59 % dari penerimaan) dan biaya pakan Rp 626 ribu
(10,64 % dari penerimaan). Penerimaan selama setahun dari itik jantan, induk, telur dan limbah sebesar Rp
5,889 juta sehingga keuntungan usaha sebesar Rp 3,874 juta.


                                               KESIMPULAN

1.     Tingkat keuntungan usahatani padi sawah MKI Rp 2.212.793/ha (R/C 1,78), padi sawah MH
       Rp 2.966.687/ha (R/C 1.99), padi ladang Rp 2.821.997/ha (R/C 3,01), jagung Rp. 865.621/ha (R/C 3,62),
       kacang hijau Rp 341058/ha (R/C 1,54), bawang merah MKI Rp 11.278.455/ha (R/C 1,63), bawang
       werah MKII Rp 4.800.126/ha (R/C 1,78), manggis Rp 8.486.221 (R/C 4,26), mangga Rp 4.411.060 (R/C
       5,06), pisang Rp -157.338 (R/C 1,06), kopi Rp 3.027.897/ha (R/C 9,36), mete Rp 247.685/ha (R/C 1,25),
       kakao Rp 3.872.685,2/ha (R/C 3,61, vanilli Rp 752.201/ha (R/C 1,32), tembakau Rp -529.199/ha (R/C
       1,04), sapi potong Rp 817.867 (R/C 2,01), kerbau Rp 8.424.266 (R/C 2,04), kambing Rp 1.852.224
       (R/C 2,55), ayam buras Rp 725.671 (R/C 1,53), itik Rp 3.874.010,- (R/C 2,92).
2.     Komoditas yang menguntungkan dengan nilai R/C lebih dari 1,5 mempunyai peluang bagi petani untuk
       dikembangkan.


                                                 PUSTAKA.

BPTP NTB. 2003. Komoditas Unggulan Propinsi Nusa Tenggara Barat. BPTB . NTB. Mataram.

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Tags:
Stats:
views:359
posted:6/16/2012
language:
pages:7