KRITIK TERHADAP PEMIKIRAN SALAF/WAHABI by veD51N22

VIEWS: 0 PAGES: 16

									Pertemuan ke 10
   Paradigma Pemikiran Salafi
 Kecenderungan sikap umat Islam pada umumnya ketika
  melihat mulai merosotnya komitmen penguasa muslim
  (rezim Umayyah) adalah diam, bisa karena ketidak
  berdayaan, dan bisa karena menghindari pertikaian yang
  menjurus pada peperangan. Bahkan kemudian kebanyakan
  umat berusaha untuk lebih akomodatif terhadap pola yang
  dikembangkan penguasa rezim tersebut.
 Merekalah yang kemudian dikenal sebagai mayoritas
  Ahlussunnah yang moderat dan akomodatif terhadap
  kecenderungan pemikiran manusia yang berubah dan
  berkembang.
 Melihat kecenderungan pemikiran mayoritas sunni yang
 pluralistik dalam fiqih, akomodatif terhadap tradisi
 (budaya) setempat, dan terhadap segala model pemikiran
 yang berasal dari manapun terutama dari filsafat
 hellenistik, yang ini sebenarnya menandakan sebuah
 dinamika umat menghadapi            perubahan karena
 persinggungannya dengan peradaban yang lebih mapan,
 maka ada diantara sebagian kaum sunni (salaf) berusaha
 melakukan self-kritik berdasar paradigma ortodoksinya
 untuk melakukan pemurnian ajaran dengan berusaha
 menolak segala bentuk praktek keagamaan yang dianggap
 menyimpang (bid’ah) dari praktek keagamaan yang
 dicontohkan Rasulullah saw.
 Membangun Doktrin Eksklusif
 Kalau Khawarij merupakan cerminan dari sikap politik
  yang berbasis tradisi baduwi, maka salafi yang kemudian
  dilanjutkan oleh Wahabi merupakan cerminan dari sikap
  puritanisme yang berbasis pula pada tradisi baduwi. Ia
  memisahkan diri dari mayoritas umat yang sunni berdasar
  keprihatinan melihat maraknya penyimpangan praktek
  keagamaan (ritual) umat.
 Untuk ukuran zaman itu dan dalam konteks tradisi arab
  dan kewilayahan barangkali memang dibutuhkan dan
  merupakan sikap awal yang efektif dlm mempertahankan
  kemurnian ajaran yang kemudian dijadikan ruh (spirit)
  pejuangan melawan ancaman dari luar.
 Dengan     spirit paham kemurnian ajaran, mereka
  membangun doktrin yang relatif eksklusif dibanding
  dengan doktrin yang dikembangkan kaum mayoritas sunni
  yang dipandegani oleh pemikiran Al- Asy’ari dibidang
  teologi, dan pemikiran Imam Syafi’i dan madzhab sunni
  yang lain dibidang fiqih, serta pemikiran Imam Ghozali di
  bidang tasawuf.
 Dengan berbasis pemikiran Imam Ahmad bin hambal yang
  tekstual dan menolak metode ta’wil, dalam arti apa yang
  telah ditetapkan Al-qur’an dan dijelaskan oleh al-hadits
  harus diterima dan tak boleh ditolak, adalah merupakan
  dasar doktrinnya, sedang akal tidak lebih berfungsi sebagai
  saksi dan pembenar saja.
   Sang Tokoh Ibnu Taimiyyah
 Ibnu Taimiyyah dalam bukunya Minhaj as-sunnah dengan
 tegas menolak metode rasional Mu’tazilah yang
 menetapkan      adanya    harmoni     (kesesuaian) naql
 (transferensi) dengan ‘aql (nalar). Apabila terjadi
 kontroversi antara keduanya, maka yang digunakan adalah
 nalar dengan melakukan interpretasi alegoris (ta’wil)
 terhadap naql (transferensi). Ibnu Taimiyyah menawarkan
 metode alternatif, yaitu harmonitas rasional yang jelas
 dengan periwayatan yang valid. Maka, jika terjadi
 kontraversi diantara nalar dan naql, ia menyerahkan
 (penyelesaian) pada naql karena yang mengetahuinya
 hanyalah Allah semata.
 Epistemologi Ibnu Taimiyyah tidak mengizinkan
  terlalu banyak intelektualisasi, termasuk menolak
  interpretasi (ta’wil), sebab baginya dasar ilmu
  pengetahuan manusia terutama ialah fitrahnya.
  Dengan fitrah-nya itu manusia mengetahui tentang
  baik dan buruk, dan tentang benar dan salah.
 Fitrah yang merupakan asal kejadian manusia, yang
  menjadi satu dengan dirinya melalui intuisi, hati kecil,
  hati nurani, dan lain-lain, diperkuat oleh agama yang
  disebut sebagai fitrah yang diturunkan, maka
  metodologi kaum kalam baginya adalah sesat.
      Tiga Pokok Ajaran Salaf
 1. Keesaan dzat dan sifat Allah, Salaf menegaskan
 bahwa sifat-sifat, nama-nama, perbuatan dan keadaan
 Allah adalah seperti yang tersebut dalam Al-qur’an
 dan hadis dmaknai sebagaimana arti lahiriyahnya
 (tapi menghindari penafsiran secara indrawi) dengan
 batasan, keadaan-Nya berbeda dengan makhluk-Nya
 (mukhalafatu lil khawaditsi ), karena Tuhan itu suci
 dari sesuatu yang ada pada makhluknya. Dengan arti
 lain, bahwa pemahaman yang digunakan ialah
 diantara “ta’thil” (peniadaan sifat) sama sekali dan
 “tasybih” (penyerupaan Tuhan dengan makhluknya).
 2. Keesaan penciptaan oleh Allah, bermakna bahwa segala
 sesuatu yang diciptakan allah itu merupakan karya Allah
 mutlak, tanpa sekutu dalam penciptaannya, tiada yang
 merecoki kekuasaannya, segala sesuatu datang dari pada-
 Nya, dan segala sesuatu kembali kepada-Nya. Dari kajian
 ini, maka timbul persoalan baru apakah perbuatan
 manusia itu “jabbar” (determinasi) yang merupakan
 produk naql dan menolak atas praksis akal, atau “ikhtiari”
 (liberasi) yang merupakan produk akal dan interpretasi
 alegotis-metaforis terhadap naql (wahyu). Mereka
 mengambil sikap dan pemahaman antara paham
 mu’tazilah dan asy’ariyah .
 3. Keesaan ibadah kepada Allah, dimaksudkan adalah
 bahwa ibadah tidak dihadapkan serta dilaksanakan
 kecuali kepada Allah, dengan secara ketat mengikuti
 ketentuan syara’ dan tidak didorong oleh tujuan lain,
 kecuali untuk dan sebagai sikap taat serta pernyataan
 syukur kepada-Nya. Kajian ibadah tidak dimasudkan
 untuk melihat sah-batalnya dan tidak pula dalam
 tinjauan rukun dan syaratnya, tetapi yang dikehendaki
 adalah ada tidaknya jiwa tauhid didalam ibadah
 (ritual) itu.
 Konsekwensi dimasukkan ibadah dalam
 kajian teologi kaum salaf melahirkan
 tindakan     praksis    yaitu:   pelaragan
 mengangkat manusia (hidup atau mati)
 sebagai perantara (wasilah) kepada Tuhan,
 larangan memberi nazar kepada kuburan
 atau penghuninya atau penjaganya, dan
 larangan ziarah kubur orang saleh dan para
 nabi.
    Ajaran Puritan Wahabiyah
 Kaum wahabi atau mereka lebih suka disebut kaum
 muwahhidin adalah penerus paham salaf versi
 madzhab Ahmad bin Hambal, yang sebelumnya telah
 dipopulerkan oleh Ibnu Taimiyyah.
 Dasar keprihatinan yang mendorong lahirnya aliran ini
 kalau dilihat dari pokok ajaranya adalah upaya pemurnian
 kembali ajaran Islam sebagaimana mestinya yang diajarkan
 Rasulullah dengan jargon menegakkan sunnah dan
 memberantas bid’ah dan khurafat yang menimpa kaum
 muslimin yang diindikasikan sebagai sebab terjadinya
 kemunduran umat Islam.
 Prinsip doktrinnya meliputi :
 1. Penyembahan kepada selain Allah adalah salah, dan
  bagi pelakunya wajib dibunuh.
 2.   Pencarian    pengampunan      Tuhan   dengan
  mengunjungi makam orang saleh adalah musyrik.
 3. Penyebutan kata penghormatan dalam salat
  terhadap nama nabi (misal kata: sayyidina) adalah
  musyrik.
 4. Mempelajari dan mengajarkan suatu ilmu yang
  tidak bersumber pada al-qur’an dan sunnah atau
  hanya bersumber akal semata adalah kufur .
 5. Menafsiri al-qur’an melalui cara pena’wilan adalah
  kufur karena mengingkari kadar dalam semua
  perbuatan.
 6. Dilarang memakai buah tasybih dalam berdzikir
  dan berdoa (wiridan), cukup menghitung dengan
  menggunakan keratan jari saja.
 7. Sumber syari’at dalam soal halal dan haram hanya
  al-qur’an dan as-sunnah. Perkataan mutakallimin dan
  fuqaha’ tidak menjadi pegangan.
 8. Pintu ijtihad terbuka bagi siapapun asal memenuhi
  syarat sebagai mujtahid.
 Sedang tradisi umat yang masuk lingkup bid’ah antara
  lain:
 1.Berkumpul dalam merayakan maulid Nabi, berdzikir
  (wiridan) bersama, berdoa melalui tawassul, dan buku
  yang mengajarkan tawasulat harus dirampas dan
  dibakar karena dianggap sumber kesesatan.
 2. Kehidupan serta kebiasaan sehari-hari yang tidak
  terdapat dimasa Nabi adalah bid’ah dan harus
  diberantas sampai kepada yang sekecil-kecilnya.
  Seperti merokok, minum kopi dan sebagainya.
     Kritik Atas Paham Wahabi
 Mengingat      dasar keprihatinan doktrinnya yang
  purifikatif itu, maka nilai positif yang diperoleh umat
  Islam hanya sebatas normatif dan biasanya tidak tahan
  menghadapi perubahan karena pahamnya yang
  kurang akomodatif dan cenderung eksklusif.
 Disamping       itu karena doktrin wahabi ini
  mengedepankan kemurnian ajaran, maka dalam
  kiprah dakwahnya mengakibatkan munculnya potensi
  konflik internal umat, yang menurut istilah Kang
  Jalaluddin Rakhmat akibat dari selalu mendahulukan
  fiqih daripada akhlak.

								
To top