Happy Birthday 00 08 Caption 7 Juni 00 16 Caption 7 Juni

Document Sample
Happy Birthday 00 08 Caption 7 Juni 00 16 Caption 7 Juni Powered By Docstoc
					00:08 Caption: 7 Juni



00:16 Caption: 7 Juni 1996



Selamat ulang tahun.

Selamat ulang tahun Xiao Mi



Apa yang sedang kau lakukan?



- Ada Ma La Tang segar dari Taiwan.

- Sini. Cepat.



Aku baru saja datang. Berat sekali.



Seluruh bagian tasku sampai penuh

begini.



Ssst.



- Siapa? Halo.

- Adik yang baru pulang dari Taiwan.



Bukankah hari ini kita harus

mencari buku?
Dan kita telah berjanji, tidak akan

saling membocorkan judulnya.



Bukankah hingga besok sebelum ujian,

kita tidak boleh bertemu.



Menurutmu bagaimana?



- Terserah kau saja.

- Kuhitung sampai tiga. 1, 2, 3.



Hei! Seharusnya kau berterima kasih

terlebih dahulu kepadaku.



Hei! Sukses ya!



Ada janji belajar bersama?



Aku pulang sebelum jam 12. Ingat,

bukakan pintu untukku.



Hei! Jangan lupa, sampaikan ucapan

selamat ulang tahun untuk Xiao Mi.



Maaf. Terima kasih.
Kalau dia pulang, katakan, jangan

pergi ke mana-mana.



Tunggu aku di sini.



- Mana Xiao Mi?

- Di luar hujan ya?



Mana Xiao Mi?



- Halo.

_ Halo.



Sudah kubilang jangan ke mana-mana.

Bagaimana? Apa kau senang?



Bye-bye.



Sekali lagi, selamat ulang tahun.



03:52 Caption: Happy Birthday



03:57 Caption: 7 Juni 2006.
Apa kabar? 7,9 dolar. Terima kasih.



Tambah sebungkus rokok.



Kau melanggar lampu merah lagi.

Ini sudah kedua kalinya.



Halo.



Halo. Aku sedang menyetir, tidak

bisa mengangkat telepon.



Tinggalkan pesan saja.



Halo, Xiao Mi. Ini aku. Ada apa?

Di luar hujan deras.



Cepatlah pulang. Sepertinya hari ini

ulang tahunmu. Selamat ulang tahun.



Kunyanyikan lagu selamat ulang tahun

untuk mu ya.



Selamat ulang tahun. Happy birtday

Xiao Mi. Selamat ulang tahun.
Sudah belasan tahun.



Setiap tahun, saat Xiao Mi dan

Xiao Lin berulang tahun, ...



aku pasti saling memberikan

ucapan selamat kepada mereka.



Baik saat mereka bersama,bertengkar,

atau berada di kota yang berbeda...



Juga telah berpisah selama bertahun-

tahun.



Kebiasaan ini, seumur hidup tidak

akan bisa berubah.



Tapi setiap Xiao Mi berulang tahun,

ia seperti merasa sangat gugup.



Entah karena takut dikatakan tua,

atau takut tidak dapat mewujudkan...



harapannya.
Berapa banyak cinta yang pantas

dinantikan....



Selamat datang di Fudge.



Xiao Mi, sejak kapan kau jatuh

cinta kepadaku?



Aku ingin memotong rambut agar

menjadi pendek.



Sependek mungkin.

Semakin pendek semakin bagus.



Pendek? Cuci rambut dulu.



Kenapa semalam kau tidak mengatakan

apa-apa saat aku meneleponmu?



Aku menelepon hanya untuk

mendengarmu mengatakan halo.



Menurutku, cara kau mengatakan HALO

mirip dengan Xiao Lin.
Tapi, hanya saat mengatakan HALO.



Halo. Seperti itu?



Sudah lewat 36 jam. Dia sama sekali

belum mengucapkan selamat kepadaku.



Kenapa kau hanya diam saja? Bukankah

kalian sudah menikah dua tahun?



Tiga tahun. Aku tidak mau. Ini hanya

terjadi setahun sekali.



Mungkin dia lupa. Kurasa dia memang

lupa. Atau sengaja melupakannya.



Ada telepon.



Halo.



Bagaimana? Benar mau dipotong?

Sekarang kupotong ya? Sebegini?



Atau, jangan dipotong dulu.
Sudah kuduga kau pasti begitu.

Selalu saja berubah.



Hanya beberapa menit saja sudah

berubah pikiran.



Dipotong lain kali saja. Biar lebih

panjang dulu, baru dipotong.



Baiklah. Biar kukeringkan dulu.



Xiao Mi adalah teman SMA-ku.



Xiao Lin adalah teman sekamarku

di kampus.



Meskipun Xiao Mi bukan teman

sekampus kami, tapi dia selalu...



datang, untuk bermain bersama kami.



Sampai besok. Hati-hati ya.



Begitu lah awal perkenalan mereka.
Awalnya, kupikir Xiao Mi menyukaiku.



Kemudian baru kusadari. Aku yang

terlalu banyak berharap.



08:33 Teks email:

D, malam ini, pukul 07:50, sudah

kuterima ucapan selamat darinya.



Ada hal-hal yang kurasakan

setiap hari, tapi hanya bisa...



mengucapkannya setiap tahun sekali.

Maafkan keterlambatanku.



Aku tahu. Dia tidak mungkin lupa.

Xiao Mi.



- 76.

- 8



- 9.

- 10.



- Giliranmu. Xiao Lin.
- Ayo.



3. Aku menang.



Mana? Aku tidak percaya. Cepat

tunjukkan. Kau kalah. Cepat minum.



Dari tadi Xiao D selalu menyanyi.

Suruh dia berhenti.



- Benar. Dari tadi dia terus menyanyi.

- Kenapa? Kalian mau menyanyi?



- Xiao Lin, kau saja yang menyanyi.

- Ayo Xiao Lin.



Nyanyi....



Lagu apa yang mau kau nyanyikan?



Xiao Mi bertanya, kau mau

menyanyikan lagu apa? Ayo pilih.



Tidak mau. Kau saja. Suaraku fals.

Masa disuruh menyanyi?
Coba dulu. Lama-lama pasti bisa.

Kutemani kau menyanyi.



Xiao Mi, pilihkan lagu untuknya.



Nyanyikan lagu apa pun yang

dipilihnya. Ayo.



Sering mempersalahkan diri,

dulu tidak seharusnya begitu.



Sering menyesali diri, karena tidak

menghalangimu pergi.



Meskipun saling mencintai. Mengapa

pada akhirnya harus berpisah.



Apakah kita, selamanya akan selalu

berkelana.



Tak kusangka dapat bertemu denganmu

lagi di tengah lautan manusia.



Jika takdir telah menentukan, tidak
akan ada yang bisa menghindarinya.



Tahun berlalu dengan begitu saja.



Sepertinya karena ada seseorang

yang seolah menghilang.



Sementara aku menyadari, bahwa aku

tetap menyayangimu.



- Kau saja. Aku tidak bisa.

- Tidak apa-apa. Lanjutkan.



Berapa cinta yang mungkin terulang.

Berapa orang yang bersedia menunggu.



Berapa banyak yang pantas kunanti.

Saat cinta harus mengarungi lautan.



Apakah masih mungkin ada?



Berapa cinta yang mungkin terulang.

Berapa orang yang bersedia menunggu.



Setelah kita lulus, kalau ada
kesempatan, ada baiknya mengambil...



kursus untuk mengingatnya kembali.

Jangan membuang-buang kesempatan.



Aku tidak berbakat,juga tidak rajin.



Kalau tidak bisa mendapat beasiswa,

aku tidak mungkin ke luar negeri.



Tenang saja. Aku akan menyemangatimu

berlatih.



Saat kau berlatih, aku akan berdiri

di sampingmu, belajar menyanyi.



Maksudmu, permainan pianoku sama

seperti nyanyianmu?



Kalau begitu, aku tidak akan mungkin

memperoleh beasiswa.



Coba kulihat tanganmu. Hebat sekali.

Garis tanganmu bagus.
Tanganmu sangat lembut. Memang

merupakan tangan seorang pianis.



Tangan perokok. Seperti ayahku.



Mulanya, kami tidak yakin dengan

hubungan mereka.



Karena Xiao Lin yang penuh rasa

percaya diri, sepertinya selalu...



bisa memperoleh apa pun yang

diinginkannya.



Selalu saja ada wanita lain yang

muncul di sisinya.



Tapi Xiao Mi seolah tak berkeberatan.



Suatu hari, ia bercanda. Katanya,

kalau sedang bersama Xiao Lin,...



lalu ada yang memandang mereka,

entah, apakah mereka memandangku...
atau Xiao Lin.



Xiao Mi tidak cukup memiliki rasa

percaya diri.



Tapi, hal itu erat berhubungan

dengan keadaan keluarganya.



Paman, apa tidak salah? Sebenarnya,

siapa yang sedang bermain?



Panas! Maaf.



Maaf. Tidak apa-apa. Biar aku saja.



Selalu ada salah paham antara

Xiao Mi dengan ibunya.



Dan aku tidak bisa membantu mereka

menyelesaikannya.



Xiao Mi tidak menyukai ibunya?



Benci sekali. Meskipun sulit, tapi

kau harus bersabar menghadapinya.
Nenek, tidurlah.



Kedua orangtuaku sudah meninggal.

Aku hanya memiliki dua orang kakak.



Apakah mereka sudah berkeluarga?



Kakakku yang kedua sudah menikah.

Kakak pertama belum.



Mungkin karena terlalu sibuk.



Yang dipikirkannya hanya bagaimana

memenuhi kebutuhan kami.



Sehingga, sampai sekarang belum juga

menikah.



Waktu istriku masih ada, aku bahkan

belum pernah menggoreng telur.



Sekarang berbeda.



Saat belajar menyetir, sebaiknya
menggunakan yang 'matic' dulu.



Untuk membiasakan diri dengan dasar

pengoperasiannya.



Pada dasarnya, menyetir sama seperti

bermain video games.



Papa, menyetir itu menyetir, tidak

sama dengan bermain games.



Seperti waktu belajar piano.



Setelah menguasai teknik dasarnya,

baru kau bisa merasakannya.



Benar atau tidak?



Nanti, kau pasti bisa merasakan

adanya hubungan yang spesial...



antara kau dengan mobilmu. Teorinya

banyak, gunakan saja perasaanmu.



Ada masalah?
Lebih cepat sedikit. Cara menginjak

pedalnya salah.



Sudah kuberitahu berkali-kali,

jangan terburu-buru.



Perlahan-lahan saja.



Kenapa tidak boleh?



Bagaimana jika kita coba cara kedua?

Pindahkan koplingnya beberapa kali.



Kalau tidak, kau tidak akan bisa.



Kenapa tidak bisa?



Apanya yang tidak bisa? Pasti bisa.



sabuk pengamannya pendek sekali?

Kenapa begitu?



Masa?
Bagaimana jika malam ini pergi

menonton film saja?



Ujian? Kau pikir semua orang sama

rajinnya denganmu? Mau atau tidak?



Nenek, kalau memasak angsio daging

dengan pare, bumbunya kecap yang...



manis atau yang asin? Aku mengerti.

Dua-duanya, ya?



Kenapa aku bisa menjadi arsitek?



Aku hanya menuruti keinginan

keluargaku. Asal lulus saja.



- Jangan terlalu pendek.

- Aku mengerti.



Dirapikan saja.



Tapi, Xiao Lin berbeda. Keluarganya

kebanyakan menjadi pengacara,...
akuntan atau pakar-pakar

yang lainnya.



Jadi, kalau dibandingkan denganku,

dia lebih rajin belajar.



Aku lapar sekali.



Xiao Lin, di mana kau? Ayo keluar

mencari makan. Bagaimana?



Kantin di sekitar kampus kami,

makanannya tidak ada yang enak.



Biasanya kau makan apa?



Kadang di rumah, atau ke kantin yang

di dekat kampus kalian.



Di mana saja juga sama.

Kenapa harus sejauh itu?



Apakah Xiao D juga di sini?



Kenapa kau bisa berada di sini?
Dia sudah menunggumu seharian.

Ke mana saja kau?



Kenapa harus menunggu aku?



Xiao Lin, sebaiknya kita makan dulu.



Duduklah.

Pelayan, tambah dua orang lagi.



Makan apa? Bagaimana jika yang

paket saja?



Terserah. Pilih saja.

Kau mau makan apa?



Kami sudah memesan makanan.



Kau makan yang di kotak bekal saja.



Dia sudah mempersiapkan bekal cinta

untukmu.



Bahkan menunggumu lama sekali.
Masa? Aku bisa makan apa saja.



Tidak perlu membuang-buang waktu

untuk mempersiapkan makanan untukku.



Mana kotak bekalnya?



Xiao Lin.



Mengagetkan saja.

Memangnya aku tuli?



Kalau tidak begitu, apa kau akan

mempedulikan aku?



Xiao Lin. Bukankah waktu itu kau

mengatakan, kau mau membeli pena?



Aku sudah membelikannya untukmu.



Di mana membelinya? Terima kasih.

Berapa harganya? Biar kuganti.



Tidak perlu. Waktu itu, kau juga
membantuku.



Bagaimana kalau kau mentraktir aku

minum soda?



Baiklah.



Penanya sebegitu mahal, masa

hanya ditraktir soda?



Wajar saja. Demi Xiao Lin, apa pun

pasti akan dia berikan.



Maaf tidak menunggu.

Kami makan dulu, ya.



Xiao Lin, kau tidak mau berangkat

ke Italia?



Sebenarnya aku mau.



Aku tahu, kau sangat mengagumi

profesor itu.



Aku berhutang budi kepadanya.
Kalau bisa berangkat dan menjadi

asistennya, aku pasti senang sekali.



Kalau begitu, mudah saja. Aku punya

alamat profesor itu.



- Masa?

- Benar.



Kalau begitu, aku akan mengajukan

proposal kepadanya.



Bagaimana kalau kita buat

bersama-sama?



Baiklah.



Setibanya di rumah, telepon aku, ya?



Kalau mau ke Venisia, kau harus

berlatih baik-baik.



Tidak perlu menyuruhku berlatih

piano. Aku bukan anak kecil.
Meskipun mau, tapi tidak semua orang

dapat memperoleh kesempatan itu.



Dan tidak semua orang

menginginkan kesempatan itu.



Terima kasih, untuk kotak bekalnya.



Kau buang saja. Bukankah kau sudah

kenyang?



Aku sudah menyimpannya, di dalam

perutku.



Terlalu banyak basa-basi. Sudah.

Tutup saja teleponnya.



Besok aku ada ujian.



Masa? Aku masih boleh menemanimu

berlatih?



Sudahlah. Tidak perlu. Bukankah kau

juga sibuk?
Zhao Xiao Mi, katanya ada masalah

di rumahmu. Angkat teleponnya.



Kapan anda menyadari bahwa dia

menghilang?



Kira-kira satu jam yang lalu.

Ini fotonya.



- Terakhir, di mana anda melihatnya?

- Di sini.



Saat menghilang, pakaian apa yang

dikenakannya?



- Warnanya abu-abu.

- Abu-abu.



Kau tidak tidur?



Bagaimana kalau nenek tidak ketemu?



Tidak usah berpikir sembarangan.
Ketemu atau tidak,

kemungkinannya sama besarnya.



Jika berpikir positif, kemungkinan

yang positif juga semakin terbuka.



Nenek sudah tua. Dia tidak mungkin

pergi terlalu jauh.



Aku tidak suka perasaan yang

seperti ini. Benar-benar tidak suka.



Mama.



- Aku datang untuk mengantarkannya.

- Terima kasih.



Beliau sudah tua. Lain kali harus

lebih diperhatikan.



Jangan sembarangan ke luar rumah.



Xiao Lin. Kurasa, kita perlu

mengubah hubungan pertemanan kita.
Bukankah kita memang berteman baik?



Yang kau maksud dengan teman baik,

berbeda dengan yang kumaksud.



Apa beda antara pertemanan yang kau

maksud dengan yang kumaksud?



Pertemanan yang kau maksud, disebut

sahabat.



Yang kumaksud, sebagai pasangan.



Bukankah kau memang pacarku?



Itu sebabnya mengapa aku mengatakan,

sebaiknya kita bersahabat saja.



Aku ini pria normal. Jadi tidak

mungkin mundur dengan begitu saja.



Pasangan mungkin saja putus.



Sahabat bisa selalu bersama seumur

hidup.
Aku ingin selalu bersamamu

seumur hidupku.



Apa yang lebih baik dibandingkan

dengan sahabat?



Apa saja persyaratan untuk menjadi

seorang sahabat?



Kau terlalu memanjakan sisi kekanak-

kanakannya.



Memangnya kenapa? Apa aku salah?



Tidak juga. Tapi, dia memiliki sisi

ketidak-nyamanan.



Jika hanya sekedar sahabat saja, dia

tidak akan bersikap begitu.



Apa karena aku tidak cukup baik?



Aku juga tidak terlalu memahami

wanita.
Sulit untuk dapat dimengerti.



Yang dikatakan oleh ayahnya

ternyata ada benarnya juga.



Dia sulit untuk dapat dimengerti.



Semua wanita memang sulit untuk

dapat dimengerti.



Tapi, kasus Xiao Mi memang berbeda.



Aku tidak peduli. Yang pasti, aku

sangat menyukainya.



Maaf. Aku terjebak kemacetan.



Nona, mau pesan apa?



Kopi saja. Terima kasih. Kenapa

tiba-tiba memanggilku ke sini...



sampai menelepon berkali-kali.
Ingat. Nomor telepon ini 93320107.

Ini milikmu.



Yang ini, 93320607. Punyaku.



Kau tidak perlu menggunakan 'beeper'

lagi.



Dengan HP ini, sewaktu-waktu,

aku bisa menghubungimu. Benar, 'kan?



- Aku tidak mau.

- Kenapa?



Aku tidak mau terlalu mudah dicari

orang.



Selain itu, aku juga bukan tipe yang

bisa sewaktu-waktu menghubungimu.



Kalau kau tidak menyalakan 'beeper',

aku juga tidak bisa menghubungimu.



Aku tidak peduli.

HP ini sudah kubeli.
Anggap saja hadiah ulang tahun.

Hadiah Natal juga boleh.



Atau hadiah kelulusan saja?

Ayo di terima. Bagus.



Tapi, aku tidak mempersiapkan hadiah

untukmu.



Tidak perlu khawatir. Katakan saja,

apa arti dari kedua nomor HP ini?



Hari ulang tahunmu dan hari ulang

tahunku.



Mana ada pria yang memberikan hadiah

ulang tahun kepada pacarnya, tapi...



pacarnya hanya berkata seperti itu?

Ayo, katakan sesuatu yang manis.



Sudah lama aku tidak mendengar kau

mengatakan hal-hal yang seperti itu.
Belum! Ayo lagi! Jangan berhenti!



- Halo.

- Halo, Xiao Mi.



Halo Xiao Lin. Aku sudah mengepak

barang-barangku.



Kapan kau dan papa menjemputku?



Ini bukan Xiao Lin. Aku Xiao D.



Hai, terlambat sedikit saja pasti

sudah menjadi tumor yang ganas.



Kenapa di kamar ini? Nanti kucarikan

kamar yang lebih bagus.



Apakah kau Xiao Mi? Aku kakak

pertama Xiao Lin.



Dia kakak keduanya. Setelah

dioperasi, apa yang kau rasakan?



Kata dokter tidak apa-apa. Hanya
sedikit nyeri dan kembung.



Perut terasa penuh, ya? Hanya perlu

kentut saja.



Setelah kentut, kau akan merasa

lebih nyaman.



Empat minggu lagi, kuliah dari bea-

siswa Konsulat Amerika akan dimulai.



Kau sudah menerima surat

pemberitahuannya?



Kak, jangan bicara terlalu banyak.

Sebaiknya kita carikan kamar dulu.



Aku juga lebih setuju jika kau

berangkat ke Amerika.



Jadi, kau tidak usah ke Italia.



Sakit sekali. Jangan. Tidak usah

terlalu keras.
Kenapa belum kentut juga?



Keluargaku mengajarkan, tidak boleh

sembarangan kentut di depan orang.



Itu tidak sopan.



Sekarang tidak bisa disamakan.

Kentutnya berbeda.



Ini adalah sebuah kentut yang sangat

ajaib dan ditunggu-tunggu.



- Jangan membuatku ingin tertawa.

- Maaf. Jangan tertawa.



Kalau kau berada di sini, bagaimana

aku bisa kentut?



Kalau begitu, aku keluar saja.



Jika aku menciummu, setelah itu,

apakah kita masih bisa bersahabat?



Boleh. Kita lakukan saja.
Kita adalah sahabat yang lebih baik

dibandingkan dengan sahabat biasa.



Jangan menyesal, ya.



Cepat keluar. Kumohon, cepatlah

keluar. Kentut. Aku mau kentut.



- Ada apa?

- Sudah bisa kentut.



Sudah bisa kentut? Berarti sudah

sehat.



Xiao Lin berangkat ke Amerika,

untuk belajar selama beberapa tahun.



Saat dia berangkat, Xiao Mi tidak

mau mengantarkan kepergiannya.



Katanya, ingin menemani neneknya

di rumah saja.



Memang, itu hanya alasan. Sebenarnya
ia merasa ketakutan.



36:07 Caption: 01 Juli 1997



Mungkin Xiao Lin tidak akan pernah

kembali lagi. Tapi, karena gengsi...



dia tidak akan pernah meminta

Xiao Lin, agar tidak pergi.



Nenek. Aku pamit.



Bagus. Notasi ini, adalah notasi

yang paling kusukai.



Ia melambangkan ketenangan, masa

beristirahat, bernafas atau...



diulang kembali dari awal.



Sebenarnya, setiap notasi memiliki

makna tersendiri.



Setelah kau benar-benar memahaminya,

jika perhatikan kembali, ia hanya...
sekedar notasi biasa, namun memiliki

makna tertentu. Kau mengerti?



Belum mengerti? Tidak apa-apa.

Nanti, kau pasti akan mengerti.



Ayo, kita coba sekali lagi.



90:07 Caption: Ujian menyetir



Maaf. Aku mengangkat telepon dulu.

Setelah itu baru kita mulai. Halo.



Selamat ulang tahun.

Selamat ulang tahun Xiao Mi.



- Aku sedang ujian.

- Ujian apa?



Mau mengambil SIM.



Ayo kau pasti bisa. Bukan. Maksudku,

sukses, ya?
Aku yakin, kau pasti bisa.

Sampai nanti.



Halo. Malam ini, kutunggu di ICQ.



Perhatian, kenakan sabuk pengaman.

Kita akan segera berangkat.



40:01 Teks chatting window:

Xiao Mi, kau harus pergi ke luar

negeri.



Tidak harus untuk belajar,

tapi untuk membuka wawasan.



Kondisi nenek semakin menurun. Aku

harus lebih sering menemaninya.



Bagaimana kabar teman merokokku?



Baik. Tapi sudah terlalu banyak

merokok. Bagaimana denganmu?



Sama saja. Tingkat stres sedemikian

tinggi. Tidak bisa berhenti.
Aku yakin, jika kau ingin berhenti,

kau pasti bisa segera melakukannya.



- Sudah. Cantik sekali.

- Terima kasih.



Benar-benar cantik sekali.



Aku juga ingin melihatmu mengenakan

gaun pengantin.



- Istriku.

- Suamiku.



Hari ini, pengantin prianya tampan

sekali.



- Tentu saja.

- Terima kasih.



Dia A Zhen, sahabatku. Dia belajar

ke Jepang.



- Ini Xiao Mi. Dia juga sahabatku.
- Apa kabar?



Tidak lama lagi, Xiao Mi juga akan

berangkat untuk belajar ke Jepang.



- Kau harus menjaganya baik-baik.

- Kapan kau berangkat?



Masih belum pasti.



Bagaimana jika nanti tidak ada yang

menjaganya di sana?



Kau belum juga mengeluarkan kartu

nama?



Aku tidak membawa kartu nama.



Kau mau dia yang meneleponmu, atau

kau yang meneleponnya?



- Xiao Mi, berapa nomor teleponmu?

- 93320107



- Xiao Mi,kubawakan minuman untukmu.
- Terima kasih.



- Xiao D.

- A Zhen.



Kedua pengantin, dipersilahkan

saling bertukar cincin.



Cincin. Mana cincinnya?



Istriku.



Di Tokyo terdapat banyak

sekolah musik.



Aku hanya pelajar miskin, tidak

punya banyak uang.



Kau bisa berkunjung dulu.Datang saja

ke sana untuk melihat-lihat dulu.



Atau hanya sekedar mencoba.



Apa yang kalian bicarakan? A Zhen.

Apa kabar?
Xiao Mi, kapan kau bersedia

menjadi pacarku?



Baiklah. Katakan saja kapan.



Kau tahu, aku sangat menyukainya.



Aku sudah bertahun-tahun berusaha

mendekatinya.



- Kami sudah lama bersahabat.

- Tidak apa-apa?



Kuberi tahu, ya. Sebentar lagi, dia

akan menjadi iparku.



Kutinggal dulu, ya?



- Lumayan tampan juga.

- Kau terlalu banyak minum.



Terlalu banyak minum. 93320107.



Bukankah 7 Januari adalah hari
ulang tahun Xiao Lin?



Ulang tahunku 1 Juli.



Hanya terbalik saja angkanya, tapi

kau tidak mau berkencan denganku.



Baiklah.Aku akan berkencan denganmu.

Tunggu sebentar.



Setelah berganti pakaian,

aku akan pergi denganmu.



Seumur hidup aku tidak pernah

berharap bisa ke luar negeri.



Apalagi pergi ke Jepang.

Tapi, mungkin....



Aku tidak suka kepada orang Jepang

itu.



Apalagi yang berpura-pura bisa

berbahasa Cina.
Maksudmu A Zhen? Dia adalah orang

Cina yang bisa berbahasa Jepang.



Tidak mungkin.Kenapa bahasa Cinanya

sekali? Tidak jelas dia orang mana.



Kau benar-benar mau berkencan

denganku atau tidak?



Memangnya, apa yang bisa kita

lakukan?



Paling tidak, sama-sama tidak ada

orang yang mau kepada kita.



Bagaimana jika kita....



Halo. Bagaimana? Belum kembali lagi?

Berapa poin?



Ada-ada saja. Orang-orang itu,

kenapa sebegitu kurang kerjaan?



Minum-minum sampai larut malam.
Kalau kau belum mau pulang,

bagaimana kalau kita minum dulu?



Apakah akhir-akhir ini Xiao Lin

menghubungimu?



Kupikir kau tidak akan pernah

menyebut namanya.



Memangnya kenapa? Kami tidak sedang

bertengkar.



Hanya sudah berada di tempat yang

terpisah jauh saja, sehingga...



merasa seperti orang asing.



Aku hanya ingin tahu, apakah kau

masih berhubungan dengannya?



Sempat. Dua minggu yang lalu, dia

pulang. Tapi sudah pergi lagi.



- Kanker usus.

- Kali ini, kau pulang berapa lama?
- Hanya sebentar.

- Kapan pergi lagi?



Kakakku sedih sekali. Aku ingin

menemaninya lebih lama.



- Lalu ke sana lagi, ada ujian.

- Apakah kau menghubungi Xiao Mi?



Terima kasih. Sampai bertemu lagi.



Sampai bertemu lagi.



Xiao Mi, kalau bertemu Xiao Lin,

ingat, jangan sampai dia tahu...



bahwa aku memberitahumu mengenai

kepulangannya.



- Aku tahu.

- Apakah kau marah kepadanya?



Kalau mau bertemu, dia pasti muncul.

Benar atau tidak?
Tidak perlu khawatir. Pergi sana.



Sampai bertemu lagi.



Teh Oolong.



Sashimi.



Benar.



- Air.

- Mizu.



- Mizu.

- Air. Mizu.



- Kuberikan kepadamu.

- Kimi o kaike.



Xiao Mi, aku menemukan banyak tempat

kursus bahasa Jepang.



Kau mau kursus dulu sebelum

berangkat ke Jepang?
Cara terbaik untuk mempelajari

bahasa asing adalah dengan...



berangkat ke negaranya. Aku cukup

pintar, papa tidak perlu khawatir.



Sekarang, setiap hari aku juga

bertemu dengan A Zhen.



Setidak-tidaknya saat makan bersama,

atau naik mobil.



Jadi, tidak masalah. Sayonara.



Nenek, aku pergi dulu.



Nenek, pada cuaca sedingin ini, kau

harus selalu mengenakan selimutnya.



Aku pergi dulu. Nenek. Papa!



Semua memperkirakan, kali ini mereka

pasti akan menikah.
Tapi mereka kembali berpisah, lalu

bersama lagi.



Kemudian seperti tidak bersama, tapi

juga seperti tak pernah terpisahkan.



50:24 Caption: Bandara Internasional



50:26 Caption: Terminal keberangkatan



Tenang saja. Aku akan menjaganya.

Percayakan saja kepadaku.



Hati-hati. Sering-sering menelepon

ke rumah, ya. Mengerti?



- Akhirnya aku ke luar negeri.

- Memangnya kenapa?



Lihat saja nanti, setelah aku

kembali lagi,...



Apakah kau masih akan tetap seperti

yang dulu?
Ini adalah rekaman sewaktu Xiao Mi

masih kecil, yang dibuat mamanya.



Setelah mamanya pergi, kami tidak

pernah lagi mendengarkannya.



- Aku sudah lama tidak merokok.

- Tidak apa-apa.



Salah. Sekali lagi. Lebih perlahan.

Lebih lembut lagi.



- Giliranmu.

- Tidak mau.



Ayolah. Kumohon. Tidak apa-apa.

Sukses, ya.



- Kau cantik. Kulitmu bersih sekali.

- Terima kasih.



Dudlu, ada seorang teman, yang jika

sedang malu, wajahnya pasti memerah.



Kau tidak sedang
membicarakan aku, kan?



Yang kumaksud adalah mantan pacarku.



Xiao Lin sering menjengukku.



Jika papa bersamanya, kalian pasti

tidak pernah berhenti merokok...



atau bicara yang mengada-ada.



Kau harus bersikap lebih baik

kepadanya.



Apakah aku kurang baik bersikap baik

kepadanya?



Katanya, setelah kau pulang, dia

akan menikahimu.



Papa, kuberitahu, ya. Hanya papa

yang boleh menunggu kepulanganku.



Sedangkan dia.... Papa tidak tahu.

Pacarnya banyak sekali.
Semua orang tidak tahu, apa yang

sebenarnya terjadi di antara kalian.



Papa sudah tua. Jadi selalu saja

menyuruhku menikah.



Tenang saja. Aku tidak akan menikah

dengan Xiao Lin.



Aku sudah membeli dua lembar tiket

untuk menonton konsernya.



Kau berhasil mendapatkannya?



Xiao Lin. Akhir-akhir ini, bagaimana

kondisi bursa properti?



Terkadang baik, terkadang buruk.

Selalu saja seperti itu.



Aku ingin membeli sebuah rumah kecil

untuk Xiao Mi. Sudah sebegitu besar,

masa masih tetap tinggal bersamaku.
Benar atau tidak? Aku juga ingin

menikmati hari-hariku sendiri.



Dulu, ibunya pergi tanpa

meninggalkan pesan.



Kami selalu menunggu. Tak terasa,

sekarang sudah belasan tahun.



Itu membuat Xiao Mi selalu merasa

kurang tenang.



Jadi, kau harus bersikap lebih sabar

saat menghadapinya. Mengerti?



Tenang saja. Aku akan menjaganya.



Jika tidak ada yang mau dengannya,

aku pasti akan menikahinya.



Kenapa harus menunggu sampai tidak

ada yang mau dengannya?



Kau mau menikahinya? Baiklah.
Aku akan memberitahu Xiao Mi,

bahwa kau berkata seperti itu.



Kenapa hanya bermain piano terus?

Ayo bersenang-senang.



Jangan.



59:29 Teks SMS

Selamat ulang tahun.



Selamat ulang tahun.

Selamat ulang tahun Xiao Mi.



Merdu atau tidak? Sudah jauh lebih

baik dibandingkan dengan yang dulu.



Sekarang hanya 3 nada yang fals.

Dulu semuanya fals.



Baiklah. Akan kunyanyikan versi

fals-nya untukmu.



Selamat ulang tahun.

Selamat ulang tahun Xiao Mi.
Selamat ulang tahun untukku.



Xiao Mi, selamat tahun baru.



57:52 Teks papan doa:

Semoga ayah selalu sehat. Ujian

Takashi dan Xiao Mi lancar.



Sukses! Wu Xiao Mi. 2001.



Ini 20 juta lebih banyak dibanding

dengan yang dianggarkan.



Bahkan 5 juta lebih mahal

dibandingkan dengan membeli saham.



Padahal nilai saham jauh lebih

menguntungkan.



58:06 Teks SMS:

Di Jepang ada gempa. Listrik mati.

Aku tidak bisa melihat apa-apa.



Peningkatan nilai saham selama
beberapa bulan ini cukup stabil.



Tapi, mereka menetapkan harga yang

jauh lebih tinggi.



Tidak ada anggaran tambahan dari

pemerintah. Tapi, ada dua solusi.



Yang pertama, mendesain ulang dan

mengulang prosedur pemberian tender.



58:16 Teks SMS:

Punya senter? Atau lampu?



Atau, mengembangkan desain. Dengan

menggunakan desain gambar, kita...



bisa mencoba mencegah terjadinya

hal-hal yang tidak diharapkan.



58:16 Teks SMS:

Punya senter? Atau lampu?



58:20 Teks SMS:

Aku ada lampu dari HP.
Selain itu, dalam 2 bulan, nilainya

mungkin berkembang sebanyak 2 juta.



58:26 Teks SMS:

Aku akan mengirimkan lampion merah

yang besar.



18:35 Teks SMS:

Sinar bulan purnama dari Hong Kong.



58:41 Teks SMS:

Aku hanya bisa mengirimkan pancaran

cahaya mataku saja.



Kita bisa mendiskusikannya dalam

pertemuan bersama para kontraktor.



Untuk memperpanjang jangka waktu

pembayarannya.



Banyak kontraktor yang bersedia

berpartisipasi, karena program ini..



cukup menguntungkan.
58:48 Teks SMS:

Terima kasih.Kau selalu menyinariku,

saat aku membutuhkanmu.



Sehingga hatiku terasa lebih hangat.



Kita juga bisa meminta direksi, agar

mengajukan pinjaman dari bank.



Xiao Lin, menurutmu bagaimana?



Jika mendesain ulang, kira-kira

akan dibutuhkan uang jutaan.



Kami sudah membicarakannya. Tidak

secara total.



Kalian berdua, pelajari perincian

tendernya.



Cari, bagian mana yang

perlu direvisi.



59:14 Teks SMS:
Listrik sudah menyala. Sudah

tidak apa-apa.



Sampai bertemu pada pertemuan di

minggu depan.



Baiklah.



Kenapa kau bersikap sedemikian

dingin kepadaku?



Tadi bagaimana? Bisa? Kapan? Harus

dipersiapkan baik-baik.



Aku akan mengajarkannya kepadamu.

Ada apa?



Xiao Lin! Benar-benar kau. Kenapa

bisa berada di sini?



Kenapa tidak memberitahu terlebih

dahulu?



Ada urusan di Jepang. Juga, sekalian

menengokmu.
Kau semakin kurus. Takashi. Xiao Lin.



- Senang bertemu denganmu.

- Aku juga senang bertemu denganmu.



Begitu ya?



Ini pesanannya.



Terima kasih.



- Apakah nanti kau langsung pulang?

- Memangnya mau ke mana lagi?



Toiletnya unik sekali, 'kan?

Kenapa hanya tersenyum?



- Kau suka yang manis-manis, ya?

- Suka sekali.



Aku pamit ya.



- Senang bertemu denganmu.

- Sampai bertemu lagi.
Sampai bertemu lagi.



- Mau ke mana dia?

- Masih ada kuliah lagi.



Kau tidak ada kuliah?



Ada teman yang datang dari jauh.

Masa aku tidak menemaninya?



Terima kasih.



- Kau mau yang mana?

- Yang ini.



- Selamat datang.

- Selamat makan.



Ini pesanannya. Selamat menikmati.



- Tadi sudah memesan?

- Sudah.



Apa itu?
Senter, lilin, juga benda-benda lain

yang bisa digunakan saat mati lampu.



Jadi, kau tidak perlu takut jika

listriknya dipadamkan.



Aku tidak membutuhkannya. Aku tidak

takut gelap.



Aku hanya ingin agar kau

mengirimkan SMS untukku.



Biar di sini saja. Merepotkan sekali

jika kau harus membawanya pulang.



Pantas kau sering makan di sini.

Banyak artis yang pernah ke sini.



Temanmu yang tadi juga lumayan

tampan, seperti bintang terkenal.



Maksudmu Takashi? Lumayan.



Sepertinya, semua temanku rata-rata
memang lumayan.



Bagaimana dengan kau sendiri?



Xiao D suka mencela orang, tapi jika

dia mengatakan cantik, berati...



memang benar-benar cantik.



Benar. Lumayan cantik. Kau juga

ramah.



Sini, kubantu.



- Kau tidak merokok?

- Sedang tidak ingin.



Hari ini, kau sama sekali belum

merokok. Tapi, kau masih bau rokok.



Apa kabar papa?



Kata papamu, kalau kau pulang nanti,

kami berdua pasti berhenti merokok.
Aku tahu, suatu hari nanti, kalian

pasti bisa berhenti merokok.



- Xiao Mi, pasta gigimu hampir habis.

- Besok membeli lagi.



Mana yang sabun muka? Mana yang

sabun mandi?



Memangnya harus dibedakan, ya?



- Dingin sekali.

- Aneh. Ada kau di Jepang.



Bahkan satu selimut denganmu.



Kau mau mengajukan permohonan atau

tidak? Ini untukmu.



Benar-benar bisa terkabul?



Kalau percaya pasti terkabul. Kalau

tidak, tidak akan terkabul.



Aku percaya. Aku punya satu harapan.
Kuharap, besok kau pulang ke Hong

Kong bersamaku. Apa bisa dikabulkan?



Tapi, aku belum ingin pulang.



Benar, 'kan? Tidak terkabul. Kenapa

tetap harus ditulis?



Apa orang Jepang itu yang

mengajarkannya kepadamu?



Biasanya kau tidak seperti ini.



Selain itu, ada A Zhen juga. Karena

mereka, kau melakukan semua ini.



Apakah kau menyukai mereka?



Setahuku Xiao Mi tidak mungkin

menyukai mereka, karena kau...



tidak ingin keluar dari

bayang-bayangmu sendiri.
Xiao Lin. Kau sudah pergi selama

bertahun-tahun.



Aku tidak pernah meminta apa-apa

darimu.



Kau juga tidak seharusnya bersikap

seperti itu.



Aku pulang ke Hong Kong.



Aku tidak seharusnya terlalu lama

berada di sini. Xiao Lin.



1:12:11 Caption:

Semoga aku bisa ke Wina, dan

orang yang kusukai...



selamanya tidak akan pernah

meninggalkanku. Wu Xiao Mi. 2002



1:12:24 Caption: Terminal kedatangan



Tanpa menyelesaikan sekolah musik,

Xiao Mi kembali ke Hong Kong.
Alasannya, rindu kepada teman dan

keluarganya.



Papa!



Tentu saja, ia tidak akan mengatakan

bahwa ia merindukan Xiao Lin.



Xiao Lin datang. Sana. Sudah.



Ayo.



Harus ditunggu berapa lama lagi?



Istriku, kau kenapa? Sudah, tidak

usah ditunggu lagi.



Perut istriku sudah lapar.



Xiao D, Xiao Lin datang atau tidak?



Pasti datang. Dia baru saja pindah

kantor.
Jadi, tidak enak jika pulang

terlalu cepat.



Ayo bertaruh. Kalau tidak datang, kau

yang membayar.



Baiklah.



- Pelayan, minta sambalnya.

- Baiklah.



Kau tidak takut sakit?



Aku sudah tidak belajar. Jadi tidak

apa-apa. Terima kasih.



Tadi ada rapat.



Dia sudah datang.



Sekarang sedang sangat dibutuhkan.



Xiao Mi, di situ terlalu banyak

angin.
Biar Xiao Lin saja yang duduk

di situ.



Bisa. Aku akan segera memeriksanya.

Setelah itu baru kuberi jawaban.



A Zhen, sahabat baik suamiku. Dia

adalah mantan pacar Xiao Mi.



Baiklah.



Apa kabar?



Kau sepertinya gugup sekali.

Baiklah. Aku mengerti. Terima kasih.



Tidak perlu sungkan.



Sebenarnya, kau merasa sedemikian

terbebani. Benar. Halo. Tunggu dulu.



Apa yang kau lakukan?



Suamiku, nodanya nanti pasti sulit

dibersihkan.
Lanjutkan saja. Benar.

Tidak apa-apa.



Pelayan, sambalnya.



Jika takdir telah menentukan, tidak

akan ada yang bisa menghindarinya.



- Ayo.

- 10.



Tahun berlalu dengan begitu saja.



- 3.

- Ayo minum.



Sepertinya karena ada seseorang

yang seolah menghilang.



Sementara aku menyadari, bahwa aku

tetap menyayangimu.



Berapa cinta yang mungkin terulang.
Apa mereka benar-benar sudah putus?



Berapa orang yang bersedia menunggu.



- Memang sudah putus.

- Kau tidak berbohong?



Berapa banyak yang pantas kunanti.

Saat cinta harus mengarungi lautan.



Tidak. Sekarang mereka bersahabat.



Apakah masih mungkin ada?



Berapa cinta yang mungkin terulang.

Berapa orang yang bersedia menunggu.




Maaf, mencari penghuni lantai

berapa?



16 A. Tuan Gu.



Tidak ada orang. Tidak ada jawaban.
Padahal, kulihat dia naik bersama

seorang wanita.



Tekan tombolnya lagi.

Sepertinya dia ada.



Kalau begitu tidak perlu. Aku hanya

ingin menjenguk teman.



- Aku pergi saja. Terima kasih.

- Begitu, ya? Ya sudah.



- Ayo makan. Siapkan mejanya.

- Ayo makan.



Halo, Xiao Lin. Kau datang atau

tidak? Kalau begitu, lain kali saja.



Kau harus melihat sofaku yang baru.

Tentu saja bagus. Bagus dan nyaman.



Baiklah. Sampai bertemu lagi.



Bagaimana? Datang atau tidak?
Tidak bisa. Dia sudah ada janji

dengan wanita lain.



Masih dengan teman sekantornya itu?



Sudah ganti lagi.



- Dia menendangku.

- Coba kupegang. Boleh?



Sudah ganti lagi? Dengan siapa?



- Entah. Aku tidak tahu.

- Hebat. Selalu saja beraksi.



- Tidak. Sudah tidak lagi.

- Maksudku Xiao Lin. Bukan bayiku.



Maksudku, bayimu.



1:18:26 Sekolah Seni. Jurusan Musik



Kunci terakhir harus diselaraskan

dengan kelima kunci yang ini.
Seperti orang yang memiliki lima

kunci, kemudian pulang dengan...



menggunakannya secara bersamaan.



Kalau begitu, akan lebih mudah

diingat. Baiklah.



Hari ini sampai di sini saja.



Ingat, Hafalkan apa yang kita

pelajari pada hari ini.



Sekarang sudah boleh beristirahat.



Halo.



Wah. Apa itu?



Ma La Tang dari Taiwan. Ini tahunya

dan juga baso ikannya.



- Kau juga harus makan.

- Baiklah.
Ada urusan apa mencariku?



Sebenarnya, aku ingin bertemu

denganmu, sehingga datang ke sini.



Boleh, 'kan?



Kau yang memasukkannya. Jadi, kau

harus menghabiskannya.



Sini, kubantu.



Tidak perlu.



Berapa cinta yang mungkin terulang.

Berapa orang yang bersedia menunggu.



Berapa banyak yang pantas kunanti.

Saat cinta harus mengarungi lautan.



Apakah masih mungkin ada?



Berapa cinta yang mungkin terulang.

Berapa orang yang bersedia menunggu.
Berapa banyak yang pantas kunanti.

Saat cinta harus mengarungi lautan.



Apakah masih mungkin ada?



Nanti, kalau menjadi ayah, aku pasti

akan menjadi ayah yang baik,...



seperti papamu.



Tapi kau lebih banyak uang. Kau

harus beli rumah yang lebih besar.



Aku sudah siap.



Sofamu benar-benar bagus sekali.



Kau menyuruhku mengganti pakaian.

Kita mau pergi ke mana?



Berjalan-jalan.



Kalau menikah, kau mengenakan gaun

yang seperti itu?
Tidak mau.



Aku tidak mau repot-repot mengenakan

gaun yang seperti itu.



Benar. Buang-buang uang dan waktu

saja.



Aku pergi dulu. Sampai bertemu lagi.



1:23:09 Teks SMS:

Xiao Nan, kenapa tidak mengangkat

telepon?



Ada hal yang ingin kuberitahukan

kepadamu.



Tebak, apa yang kubeli?



Maaf. Aku terlambat. Bayiku lama

sekali baru bisa tertidur.



Ayo, kutraktir minum, ya.



- Baiklah.
- Maaf. Kau mau minum apa?



- Teh Oolong.

- Dua teh Oolong. Untuk dibawa ya.



1:23:35 Dialog film:

Kura-kuraku yang mungil hampir saja

mati tertindih. Kau duduki saja.



- Filmnya lucu sekali, ya?

- Lumayan.



Aku membawa mobil.

Kuantar pulang, ya?



Anakku sudah bangun.



Aku harus menyusuinya

terlebih dahulu.



Kau tahu? Aku iri sekali kepadamu.



Memangnya kenapa belum menikah?

A Zhen kurang apa?
Apa menurutmu Xiao Lin lebih baik?



Mau tahu saja. Kau cepat pulang dan

menyusui saja.



Sebenarnya, semakin lama perasaan

seseorang bisa saja berubah.



Jika kau merasa Xiao Lin lebih baik,

jangan terus-menerus menolak.



Kenapa tiba-tiba kau berbicara

seperti itu?



Sebenarnya, aku tahu siapa yang

kau tunggu.



Xiao Lin juga baik. Tapi menurutku,

kalian berdua sama-sama aneh.



Mungkin aku memang sedang menunggu.



Menunggunya hingga ia lebih setia,

agar aku merasa lebih percaya diri..
karena merasa aman. Mungkin setelah

itu, kami baru bisa menikah.



Oh, iya. Aku ingin bertanya.



Waktu suamimu melamar, apakah dia

menanyakan gaun seperti apa yang...



ingin kau kenakan?



Benar. Tapi, aku berkata, aku sudah

memilihnya sejak kuliah.



Taksinya sudah datang.

Aku pergi dulu, ya?



Sana, pergi saja.



Ada yang menanyakannya kepadamu?

Siapa?



Pergi sana. Dasar ibu-ibu. Susui

anakmu saja. Bayimu sudah lapar.



Jangan lupa meneleponku.
Halo. Maaf. Aku sedang tidak bisa

menerima telepon.



Periksa kotak suaramu. Kutinggalkan

pesan di sana.



Tidak bisa menerima telepon?



Halo. Xiao Mi? Aku mau menikah. Kau

tidak mengenal calon istriku.



Aku memang belum ingin

menceritakannya kepadamu...



sebelum benar-benar jelas. Aku

mau memastikannya dulu. Maafkan aku.



Aku telah menceritakan semuanya

kepadanya.



Tapi, dia ingin memastikan bahwa kau

dan aku hanya bersahabat saja.



Jadi waktu itu, aku menemuimu, untuk
memastikan apakah kita memang...



hanya berteman saja.

Aku sangat mencintainya.



Sekarang dia berada di sampingku.

Xiao Mi, doakan kami, ya?



Xiao Lin, aku sudah menerima pesan

dari kotak suaraku.



Bagus sekali. Akhirnya aku bebas.



Aku tidak perlu susah payah berusaha

membahagiakanmu.



Aku menelepon untuk memberitahumu.

Aku sudah membeli mobil.



Kau masih ingat? Waktu pertama kali

aku belajar menyetir?



Kau tidak pernah bercerita bahwa kau

mau menikah dengan orang lain.
Menikahnya seperti apa, mengenakan

pakaian yang mana, kenapa kau...



tidak menceritakannya kepadaku?



Kenapa kau mengejekku dengan hanya

memberitahukannya melalui telepon...



saat kau berada di depannya? Mau

bagaimana juga, sudah berapa lama...



kau mengenalnya? Sudah berapa tahun

kita berteman?



Papa, biar aku saja yang membayar

cicilannya.



- Papa tidak perlu ikut membayar.

- Apa?



Biar aku sendiri yang membayar

cicilannya.



Papa tidak perlu ikut membayar.
Lalu, untuk apa uang yang aku punya?



Lagi pula, kau belum menemukan

orang yang bisa mengurusmu.



Mulai lagi. Kalau begitu, mulai

sekarang, aku akan selalu berada...



di rumah, agar papa bisa selalu

mengurusku.



Tapi papa tidak boleh makan yang

terlalu manis.



Papa juga tidak boleh merokok, atau

terlalu banyak makan daging.



- Xiao Mi, cepat ke sini.

- Ada apa?



Dua hari yang lalu, Xiao Lin datang.

Kalian bertengkar lagi?



Kami sudah lama tidak bertemu.
Jangan terlalu lama. Dia adalah pria

yang baik.



- Dia meminta rekaman kasetmu.

- Rekaman kaset yang mana?



Sewaktu kecil, saat kau bermain

piano. Yang direkam mamamu.



Dia suka sekali. Kupikir kita sudah

tidak memerlukannya.



Jadi, kuberikan saja kepadanya.



- Dia sudah menikah.

- Katanya mau menunggumu.



Papa, dia sudah pindah ke Shanghai.



Kita tidak usah membicarakan dia

lagi, ya?



Ini hari ulang tahunku. Biarkan aku

menikmati kebahagiaanku.
- Papa. Maafkan aku.

- Apa?



- Maaf.

- Sudahlah.



01:33:56        Teks SMS:

Selamat ulang tahun. Selalu setia. Xiao Nan.



01:34:03        Caption: 7 Juni 2003



Aku tidak tahu, kapan Xiao Lin

menikah.



Tapi, sebelum berangkat ke Shanghai,

ia sempat menemuiku untuk...



memotong rambutnya. Entah. Apakah

saat itu, dia ingin mengucapkan...



selamat berpisah,

atau mau meminta maaf.



Halo.
- Sudah terima email dariku?

- Sudah. Email yang dulu, 'kan?



Kali ini, dia terlambat 42 jam.



Lain kali, kalau seperti ini lagi,

aku tidak akan memaafkannya.



Mana mungkin? Seumur hidup,

sepertinya kau tidak akan pernah...



bisa tidak memaafkan Xiao Lin.



Lihat saja nanti.



Seminggu kemudian, sebelum bertugas

ke Shanghai, aku menggoda Xiao Mi.



Kutanyakan, apakah dia mau ikut,

untuk menemui Xiao Lin.



Tapi, jawabannya....



Tentu saja tidak.

Kau sudah gila ya?
Wanita yang itu menyapaku. Wajahnya

seperti kukenal.



Apa dia salah satu pelanggan kita?



Kurasa bukan.



- Xiao D? Kebetulan sekali.

- Mau ke luar negeri, ya?



- Bukan. Mau ke Shanghai. Kau?

- Sama.



Kau tahu apa yang terjadi pada

Xiao Lin?



- Bagaimana kabar Xiao Lin?

- Dia sudah pergi.



Dia sudah tidak di Shanghai?



Bukan Shanghai. Xiao D, Xiao Lin

sudah meninggalkan dunia ini.
Sudah setengah tahun ia meninggal.



Aku tidak bohong.

Aku mantan pacarnya yang dulu itu.



Sudah waktunya. Aku pergi dulu.



- Xiao D.

- Kenapa? Mau model yang bagaimana?



- Terserah kau saja.

- Baiklah.



Terima kasih.



Maaf. Hari ini tidak ada diskon.

905.



Titip Xiao Mi. Kau juga harus

baik-baik menjaga diri.



Urus saja istrimu sendiri.



Kanker. Memang sudah menurun di

keluarga kami.
Selama 4 tahun, semua pengobatan

sudah kami coba.



Baik yang tradisional,

maupun yang modern.



Tapi, minggu lalu Xiao Mi memperoleh

email dari Xiao Lin.



Aku yang mengirimkannya. Kalian

harus merahasiakannya.



Xiao Lin berpesan kepadaku.



Aku harus mengirimkannya kepada

Xiao Mi, pada setiap perayaan...



ulang tahunnya. Aku hampir lupa.

Dua hari kemudian baru kukirim.



- Bagaimana dengan istri Xiao Lin?

- Istri yang mana?



Bukankah tiga tahun yang lalu dia
menikah, lalu pindah ke Shanghai?



Dia tidak pernah menikah?



Jika Xiao Lin menikah, pasti dengan

Xiao Mi. Kita semua tahu.



Di dalam hatinya hanya ada Xiao Mi.



Berapa lama rahasia ini harus kita

simpan?



Selama mungkin. Untungnya, Xiao Lin

bisa pergi dengan tenang.



Setiap hari dia selalu mendengarkan

rekaman piano Xiao Mi.



Jadi waktu itu, kuperdengarkan kaset

itu, pada upacara kremasinya.



Ini kaset yang asli. Dia memintaku

untuk menyimpannya.



Jika suatu hari nanti Xiao Mi tahu,
tolong jelaskan semuanya kepada...



Xiao Mi.



1:39:52 Suara kaset Xiao Mi:

Aku tidak mau. Aku sedang

berkonsentrasi.



Dua bulan kemudian, Xiao Mi menerima

beasiswa untuk memperdalam musik...



di Wina. Kami semua senang sekali.

Akhirnya dia bisa pergi ke Wina.



Jika Xiao Lin tahu. Dia pasti tahu.



Selamat! Dari baunya saja sudah

pedas.



Lebih ramai jika ada Xiao Lin.

Sebentar. Aku harus memberitahunya.



Kali ini benar-benar harus. Akhirnya

aku bisa berangkat ke Wina.
1:41:21 Teks SMS:

Xiao Lin, ada kabar baik. Aku

benar-benar bisa ke Wina.



Sudahlah. Kalau bertemu dia, kalian

saja yang memberitahukan kepadanya.



- Untuk memberikan kejutan untuknya.

- Benar. Kita makan saja dulu.



- Ayo makan.

- Makan yang banyak.



Baiklah.



Xiao Lin. Aku ingin sekali membagi

kebahagiaan ini bersamamu.



Tapi, yang paling ingin kuceritakan

adalah, sewaktu mengikuti ujian,...



aku teringat kepadamu.



Berapa cinta yang mungkin terulang.

Berapa orang yang bersedia menunggu.
Berapa banyak yang pantas kunanti.

Saat cinta harus mengarungi lautan.



Apakah masih mungkin ada?



Terima kasih. Selamanya, kau selalu

menemaniku pada saat kubutuhkan.



Ayo makan. Tidak perlu terlalu

dipikirkan.



Ayo bersulang untuk keberangkatan

Xiao Mi ke Wina.



Pasti senang sekali bisa pergi

ke sana.



Kalian semua juga harus merasa

senang.

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Stats:
views:18
posted:6/15/2012
language:Malay
pages:95
Description: Subtitle for a Hong Kong movie titled "Happy Birthday", 2007, in Indonesian Language.