Docstoc

The Romantic Fool

Document Sample
The Romantic Fool Powered By Docstoc
					Setiap hari dia pergi ke tepi danau

untuk memandang kecantikan si angsa.



Tapi, angsa yang cantik itu sama

sekali tidak mengenalnya.



Saat sang angsa berbalik pergi, maka

sang katak pun menangis.



00:37 (Caption: Si Bodoh Itu Mencintaimu)



Feng, bagiku, kehidupan di kampus

benar-benar luar biasa.



Kelas di gedung yang bermandikan

cahaya,



pepohonan di jalan setapak kampus,

juga pasangan kekasih di tepi danau.



Berpacaran di kampus. Dulu,

tak pernah terbayangkan olehku.



Hal itu membuat kampus menjadi

terasa sangat romantis.
Terima kasih atas perhatianmu

selama ini.



Meskipun entah, sekarang di mana

kamu berada.



Kamu harus menjaga diri baik-baik.



Jangan lupa rajin-rajin

mengirim email untukku.



Xiao Han, ayo makan. Kalau terlambat

nanti kehabisan makanan.



Baiklah. Sebentar lagi.



Aku pergi sebentar.

Nanti kita ngobrol lagi.



Sudah terkirim.



Nantinya, kamu pasti bertemu dengan

orang yang lebih menyayangimu...
dibandingkan dengan aku. Entah lah,

apakah kita masih bisa berhubungan.



Jaga diri baik-baik!



Lupa dimatikan. Dasar. Tidak peduli

terhadap kelestarian lingkungan.



Simpan sebelum dimatikan?

Tidak.



8 bulan kemudian.



Egret Island City, Jalan Gushan 5



Feng, apa kabar? Kampus sedang libur

tapi aku tidak pulang.



Karena aku memutuskan untuk mulai

menulis novel.



Kakak sepupuku menyewakan sebuah

rumah kecil yang bersih,



sehingga aku bisa menulis
dengan tenang.



Feng, rumah ini cantik sekali.



Matahari masuk melalui dedaunan dan

menyinari tubuhku.



Kadang kupikir, mataharinya seperti

tumbuh di antara dedaunan itu.



Semoga kamu juga

bisa membayangkannya.



Sudah lama kamu tidak

mengirimkan email untukku.



Juga tidak bisa ditelepon. Kurasa

kamu sudah tidak berada di kota ini.



Nona Lu Shu-man. Jalan Gushan 5.

Egret Island City.



Ada orang atau tidak? Apakah ada

orang di sini?
Nona Han? Paket untukmu. Mengerti

atau tidak? Dari daerah lain?



Paket untukmu. Tanda tangan dulu.

Tinggal sendirian?



Tinggal sendirian di rumah sebesar

itu, apakah kamu tidak takut?



Kamu benar-benar seorang wanita yang

pemberani.



Sudah lama menjadi tukang pos

di sini?



Tentu saja. Sudah 20 tahun.



Semua orang di sekitar sini, apakah

anda mengenal mereka semua?



Segala sesuatu yang di sini, aku

pasti tahu.



Kalau begitu, yang di seberang itu

siapa? Suratnya banyak sekali.
Setiap minggu selalu ada surat yang

datang, tapi tak ada yang menerima.



- Surat apa saja?

- Entahlah. Tapi, bukan urusanku.



Orangnya?



Pernah kuhubungi, lalu ada keluarga

yang datang untuk bersih-bersih.



Tapi itu sudah lama.



Dulunya, rumah itu pasti cantik

sekali.



Sesuatu yang lebih bagus, biasanya

justru lebih mudah rusak.



Seperti istriku itu.



Dulu banyak yang kagum kepadanya,

tapi sekarang seperti tante-tante.
Apa pun yang terjadi pasti ribut.

Benar-benar merepotkan.



Kalau suatu hari nanti dia tidak

begitu, pasti menganggap jadi aneh.



Kalau ada hari yang seperti itu,

telingaku akan terasa nyaman.



Aku akan segera ke sini, dan berlari

memutari tempat ini, tiga kali.



Suratnya banyak sekali. Sayang kalau

tidak dibaca.



Sebaiknya, anda memberitahu

pemiliknya.



Pemiliknya, sudah cukup tua.

Mengenai wanita itu,



nanti, aku carikan informasinya,

Dan segera memberitahumu.



Saya tahu, menunggu surat itu
rasanya tidak enak.



Tenang saja. Aku orangnya baik.

Nanti pasti kucari alamatnya.



Terima kasih.



Nona Han! Aku sudah menemukan alamat

tante yang kamu inginkan itu.



- Aku sudah menemukannya.

- Benarkah? Bagus sekali.



Tapi, aku ingin bertanya. Untuk apa

kamu ikut campur dalam urusan ini?



Ikut campur? Menurut bapak, aku

terlalu ikut campur?



Kalau bukan ikut campur, lalu apa

namanya?



Masa bapak tidak mengerti?



Mengirim surat, sama artinya dengan
mengirim segenap perasaannya, 'kan?



Tidak menerima balasannya, rasanya

sangat menyedihkan.



Sia-sia saja bapak bertahun-tahun

menjadi tukang pos,



kalau berpikir memasukkan ke kotak

suratnya saja sudah cukup.



Itu, 'kan ungkapan perasaan dari

seseorang kepada orang lain.



Apakah kalau begitu berarti aku

terlalu ikut campur?



Masuk akal. Aku pergi dulu.

Maaf. Aku...



Sebenarnya, aku datang untuk

memberitahukan kepadamu,



bahwa terkadang, tidak ada salahnya

juga jika kita ikut campur.
Melihat ada sedemikian banyak surat

tapi tidak ada orangnya,



saya merasa, saya harus melakukan

sesuatu sehingga datang ke sini.



Semoga anda tidak merasa keberatan.



Sudah lama tidak ada yang untuk

menjengukku.



Dan aku sudah sama tuanya dengan

rumah itu,



sehingga banyak yang

sudah melupakan aku.



Memangnya, tidak ada keluarga yang

menemani tante?



Sudah pergi. Keponakanku sudah

menikah dan tinggal di Inggris.



Aku masih ingat,

sewaktu dia masih kecil,
dengan rambutnya yang dikuncir dua.

Dia cantik sekali.



Tak kusangka, waktu berlalu dengan

sedemikian cepatnya.



Sekarang dia

sudah menjadi seorang ibu.



Apakah nantinya saya boleh lebih

sering menjenguk tante?



Kamu adalah seorang gadis

yang penuh perhatian.



Nanti, akan kuberikan

alamat Shu Man kepadamu,



agar kalian bisa

saling berhubungan.



Sedangkan surat-surat itu, terserah

mau kamu apakan.
Kamu cantik sekali. Punya pacar atau

tidak?



Saya? Belum.



Feng, aku belum juga menerima email

darimu. Entah, bagaimana keadaanmu.



Hari ini, aku menemui pemilik surat

itu. Semoga dia mau membalasnya.



Aku tahu, menunggu merupakan hal

yang tidak menyenangkan.



Sama seperti saat aku menunggu email

darimu.



Ada email baru.



Xiao Han, emailmu sudah kuterima.

Terima kasih atas kebaikanmu.



Sudah bertahun-tahun

aku pergi dari Cina.
Di sana sudah tidak ada lagi hal

yang perlu kukhawatirkan,



juga tidak ada lagi yang kurindukan.

Tentunya, kecuali tante...



yang tinggal sendirian

di seberang lautan sana.



Tolong bantu aku mengurusnya, meski-

pun tidak secara langsung, tapi...



takdir telah mempertemukan kita.

Sekali lagi, terima kasih.



Nona Shu Man, bagaimana dengan

surat-surat itu?



Bakar saja. Sekali lagi, terima

kasih atas perhatianmu kepada tante.



Beliau sudah pergi sejak tadi malam.

Saat tidur. Dia pergi dengan tenang.



Bahkan perawat yang berjaga juga
tidak menyadarinya.



Barang-barang milik tante, letakkan

saja di depan pintu.



Tidak lama lagi, pengacara akan datang

untuk mengurus rumah itu.



Itu adalah rumah warisan dari kakek.



Banyak kenangan yang pernah terjadi

di sana. Sekali lagi terima kasih.



Orang itu, entah seperti apa dia.

Sedemikian berdedikasi dalam...



melakukan hal yang sama. Kurasa,

pengirim suratnya pasti aneh sekali.



Surat-surat ini, seperti gerbang Ali

Baba, yang menyimpan banyak rahasia.



Apakah sebaiknya kubakar saja?



Shu Man, angsa itu sekarang seperti
terpampang dalam bingkai jendela.



Di bawah sinar matahari, berkilauan

seperti intan.



Cahayanya, seperti mimpi yang

membawaku kembali ke masa lalu.



Kamu ingat? Pada musim panas itu,

saat angin menebarkan aroma anggrek,



dari kita bertiga, hanya kamu saja

yang paling tidak bisa berbicara...



dengan menggunakan bahasa daerah

setempat.



Hujan sedemikian deras. Kita tidak

akan bisa pulang. Jadi, bagaimana?



Aku ingin tetap bersamamu. Kalian

bagaimana?



Hei, Mike! Cuacanya begini, tapi

si Lobak masih saja bercanda.
Hujan seperti ini tidak akan lama.

Sebentar lagi pasti sudah reda.



Kalau tidak, bagaimana?



Kalau tidak, kita tunggu lagi saja.

Toh kita tidak sedang terburu-buru.



Tidak mau. Aku mau pulang.



Sia-sia menjadi mahasiswa, kalau

tidak memahami, bahwa mendung dan...



hujan pada musim panas itu mungkin

datang dan pergi secara tiba-tiba.



Seperti segala sesuatu di dunia yang

tidak abadi.



Cepat atau lambat,

segalanya akan berakhir.



Bagaimana dengan cinta?
Tidak ada satu pun dari kami yang

menjawab pertanyaanmu pada hari itu.



Bertahun-tahun telah berlalu, aku

tetap berusaha mencari jawabannya.



Menurutmu, bagaimana aku akan

menjawabnya? Kuberitahu lain kali.



Sukses ya.



Shu Man,aku benar-benar tidak tahu,

kenapa aku masuk kuliah dan...



bagaimana harus menjalaninya

setiap hari.



Otakku seperti seekor lumba-lumba

yang meluncur tanpa suara,



dan dalam sekejap

tidak terlihat lagi batang hidungnya.



Tapi aku masih ingat benar,

pada pagi yang cerah itu....
Wah, sudah jam delapan lebih! Dasar

weker bodoh! Hari ini, 'kan ujian!



Kenapa?!



Siswa yang itu hebat sekali.



Kamu pasti bisa berperan sebagai

Spiderman-nya Cina.



Bapak terlalu berlebihan.



Luo Zi Jian, jangan mengganggu

teman-teman yang lain.



Ayo, birnya diminum. Di pertandingan

di TV tadi, kalau bukan karena...



diblokir oleh pemain yang itu

bolanya pasti masuk.



Lobak, kamu telah merusakkan

sepedaku. Jadinya bagaimana?
Bagaimana? Bukankah aku sudah

memberikan 10 dolar kepadamu?



Hanya 10 dolar. Kamu pikir aku

bodoh? Sepedaku itu masih baru.



Kamu bilang baru? Dasar pembohong!

Sudahlah. Mau menyuruhku membayar?



Bayar saja sendiri.



Kamu.... Awas ya!



Lobak, tak kusangka, ternyata

kamu tega menindas orang juga ya.



Menghadapi pengecut seperti itu,

memang sudah seharusnya begitu.



Hari ini, ada mahasiswi baru yang

cantik. Siapa namanya?



- Kenapa? Ingin mendekatinya?

- Aku hanya bertanya saja.
Baru datang kemarin. Dianya cantik,

Keluarganya kaya.



Bahkan keluarganya kaya saja kamu

juga tahu? Jadi, siapa namanya?



- Marganya Ji, namanya Hua. Ji Hua.

- Jenis kelamin, perempuan.



- Dia biasa dipanggil Shu Man.

- Dia dibesarkan di luar negeri.



Masa? Dari mana kamu tahu?



Katanya, dia dibesarkan di Amerika.

Bahasa Inggrisnya pasti canggih.



Kalau begitu, dia pasti bicaranya

seperti ini,



"Halo, apa kabar? Aku bukan Yankee."



Jika ayahnya mengirimkan dia untuk

bersekolah di sini, berarti...
Demi untuk mempelajari tradisi

budaya leluhurnya di Cina.



Semua sudah tahu bahwa Bufo

Melanotictus lebih dikenal sebagai...



katak pemimpi. Apakah ada yang tahu,

apa makanan utamanya?



Makanan utama katak pemimpi adalah

angsa.



Tapi tidak tahu, yang dia makan itu

angsa hidup, atau dimasak dulu.



Tapi, terkadang katak pemimpi tidak

ingin memakan angsa.



Dia hanya ingin berpacaran dengan

sang angsa.



- Siapa yang mengatakannya?

- Einstein!



- Bukan, Newton!
Apanya yang Newton? Pak,

saya yang mengatakannya.



Pendapatmu cukup unik. Lanjutkan.



Katak pemimpi, sehari-hari hidup di

tepi danau dan memakan serangga.



Dulunya, seekor angsa muncul di tepi

danau. Angsa itu dengan lembut...



berenang-renang di danau, sementara

katak yang memandangnya berpikir,



"Luar biasa! Ternyata di dunia ini

ada mahluk yang sedemikian cantik!"



Kemudian katak itu pingsan dan

tenggelam di dalam danau cinta.



Imajinasimu hebat sekali. Kamu bisa

menjadi penulis cerita.



Memangnya kenapa?
Itu dia orangnya, yang merusakkan

sepedaku, tapi tidak mau membayar!



Tidak tahu diri! Merusakkan sepeda

tapi tidak mau membayar!



Hanya salah paham saja. Dengarkan

penjelasanku terlebih dahulu.



- Kejar!

- Berhenti!



- Jangan kabur!



Beraninya keroyokan. Kalau berani,

maju satu per satu.



- Hei Long!

- Mike.



- Sudah. Demi aku, lepaskan dia.

- Dia itu siapamu?



- Adikku.
Baiklah. Hari ini aku mengalah.

Jangan sampai aku melihatmu lagi.



Ayo.



Kamu tidak apa-apa?



Kamu tidak berhutang budi kepadaku,

dan kamu menolongku.



Tapi, jangan minta ditraktir ya.



Kalau begitu, aku yang mentraktirmu

minum. Bagaimana?



Sekarang aku baru tahu, di mana

kampung halamanmu.



Kenapa? Pernah ke sana?



Aku punya tante di sana. Adik ibuku.

Karena tinggal di sana,



keluarga kami menentangnya.
Apa perlu seperti itu?



Sekarang sudah abad berapa? Masih

saja membatasi kebebasan orang.



Kehidupan di sana jauh lebih buruk

dibandingkan dengan di kota.



Untuk apa tantemu pindah ke sana?



Tentu saja karena cinta. Tapi, aku

tidak percaya kepada cinta. Kamu?



Aku? Sedikit percaya, sedikit tidak.

Lumayan kan?



Dari ucapanmu itu, berarti ada yang

kamu sukai di kampus?



Aku belum sempat melihat-lihat, tapi

sudah dikejar-kejar Hei Long.



Oh iya, sebaiknya jangan sampai

berurusan dengan Hei Long.
Kamu tidak akan mampu menghadapinya.



Aku tidak mengerti.

Kenapa dia mau menindasku,



tapi langsung bungkam,

setelah bertemu denganmu?



Ya ampun, bukannya kamu juga

menindas pemilik sepeda itu?



Itu yang disebut dengan, ikan besar

memakan ikan yang lebih kecil.



Memangnya kamu ikan yang paling

besar?



Aku adalah seekor hiu yang tak

terkalahkan.



- Sendirian? Siapa namamu?

- Namaku Fei Fei.



Fei Fei ya?

Sudah ada yang tertangkap.
Nanti, bagi nomor teleponnya ya.



Halo. Menurutmu aku ini hebat atau

tidak?



Siapa ini?! Tengah malam masih saja

main-main telepon! Cari mati ya?!



(Taksi)



Bang supir, aku ingin bertanya.

Menurutmu, aku hebat atau tidak?



Meskipun kamu punya uang, bukan

berarti kamu sudah hebat.



Aku iri sekali kepada seseorang.

Dia selalu menjadi yang terbaik.



Selalu dihormati siapa saja. Tapi,

orang itu bukan aku.



Kamu mau naik taksi atau tidak?

Kalau tidak, turun saja.
- Semalam kamu mencariku ya?

- Oh, kamu. Ada apa?



Kata ayahku, ada yang tengah malam

menelepon. Kurasa, itu kamu. Kenapa?



Kangen ya?



Jangan bermimpi...

Aku ada urusan. Lain kali saja.



Kamu membelinya di mana? Sepertinya

masih bisa dipakai.



Saya sendiri. Kak, aku A Ling. Aku

ingin bertanya,



apakah kamu kenal Lu Shu Man?

Yang di seberang rumahmu itu.



Tidak ada apa-apa.

Lain kali kita sambung lagi.



Akhir-akhir ini, mau di kantin,
perpustakaan, atau di mana saja...



di kampus, aku selalu bertemu dia.

Kurasa, dia pasti sengaja.



Suatu kali, dia bermain piano untuk

menarik perhatianku.



Permainannya biasa saja, tapi bagiku

itu adalah suara terindah,



yang pernah kudengar di dunia.



Wanita yang pemalu itu bagus, tapi

terlalu pemalu juga tidak baik.



Kalau suka kepadaku, kenapa dia

tidak mengatakannya?



Aku pun memutuskan untuk

menanyakannya.



Aku bersedia, untuk selalu diam-diam

memandangimu, memperhatikanmu...
Aku bersedia, dicintai olehmu secara

mendalam.



Juga mencintaimu secara mendalam!



- Ada apa?

- Kamu... punya tissue atau tidak?



Itu adalah pertama kalinya kami

berbicara cukup banyak,



hubungan kami telah mengalami

perkembangan yang pesat.



Kemudian, aku mengetahui bahwa dia

menyaksikan latihan teater.



Jadi, kuputuskan....



- Untuk apa kamu ke sini?

- Ada....



- Kalau ada apa-apa, katakan saja.

- Ada peran kecil yang bisa kucoba?
* 36:05 (Drama berbahasa Inggris "Love And The Love" dibintangi oleh Zhao Mu Zhong)



Kuberi tahu sekali lagi, dia adalah

pemeran utama pada drama ini.



Aku adalah pemeran utama prianya.

Kami adalah pasangan kekasih.



Kamu berperan sebagai asistenku.

Pada bagian akhir cerita,



aku akan meninggalkannya. Saat dia

menangis, aku akan memanggilmu.



Aku mengerti. Aku akan mengingatnya.



Ingat ya. Ayo, kita coba dulu. Nanti

aku akan memanggilmu ke panggung.



Baiklah, ayo kita mulai.



Ming, jangan pergi. Kumohon, katakan

bahwa kamu tidak akan pergi.



Tidak. Aku harus pergi. Suatu hari
nanti, kamu akan mengerti.



Lupakan dan maafkan aku. Maaf. Hei!

Ayo cepat. Keluarkan kuncinya.



Aku tidak punya kunci mobil.



Pura-pura saja. Tidak harus

benar-benar ada.



- Tuan, kunci mobilmu.

- Bukan begitu. Lebih serius lagi.



- Tuan, kunci mobilmu.



Bagus. Terus. Menangis lah. Lebih

keras lagi. Lari!



- Katanya, kamu ikut pentas drama?

- Aduh, sedang menghafal naskah?



Sukses ya. Kami akan mendukungmu.



Tuan, kunci mobilmu!
Penontonnya banyak sekali.



Lobak, cepat sedikit. Tiga

menit lagi.



Aku tidak mengerti. Setelah sekian

lamanya kita bersama,



Apakah hal itu tidak berarti bagimu?



- Apakah aku boleh tidak tampil?

- Aduh. Ayo.



Ming, jangan pergi. Kumohon, katakan

bahwa kamu tidak akan pergi.



Tidak. Aku harus pergi. Suatu hari

nanti, kamu akan mengerti.



Lupakan dan maafkan aku. Maaf. Hei!



Ayo cepat. Keluar sana.



Hei!...
Maafkan aku. Lobak, cepat

bicara! Mana kunci mobilku?



Maaf. Aku tidak sengaja. Aku tidak

bisa mengendalikan diri. Maaf.



Sekarang, mau bicara seperti apa

juga tidak ada gunanya.



Mulai saat ini, kamu sudah tidak

menjadi anggota teater ini lagi.



Aku memang tidak suka bermain drama.



Lalu, untuk apa kamu di sini? Hanya

untuk mengacau saja?



Gara-gara kamu, kami ditertawakan

oleh seluruh warga kampus.



Pementasan yang telah dipersiapkan

selama 6 bulan, menjadi berantakan.



Tadi, aku ketakutan. Aku benar-benar

merasa ketakutan.
Cukup! Aku tidak mau mendengar

alasan apapun! Maaf. Aku yang salah.



Tidak seharusnya aku membiarkanmu

masuk ke kelompok teater kami.



Yang mereka tertawakan itu aku,

bukan kamu. Aku sudah terbiasa.



Aku masuk ke kelompok drama, bukan

karena menyukai teater,



tapi karena menyukai yang lain.

Tapi, dia bukan anggota teater ini.



Aku hanya ingin agar dia

memperhatikan aku.



Dia itu siapa?



Sayang, ayo pergi.



Hal yang paling kutakutkan telah

terjadi.
Tahu atau tidak? Ji Hua sudah punya

pacar.



Siapa?



Pikir saja, siapa di kampus ini yang

bersikap lembut, tinggi, kaya...



punya mobil mewah, dan berpenampilan

trendi?



- Mike?!

- Siapa lagi?



Kenapa segala sesuatu yang indah,

selalu terjadi pada dirinya?



Sejak lahir memang sudah beruntung.

Mau iri juga tidak ada gunanya.



Aku mau protes kepada ayahku.



Lobak, bukankah kamu kenal

dengan Mike? Apa kamu sudah tahu?
Aku tahu.



Kamu pulang kok tidak memberitahuku?

Kenapa sendirian saja di sini?



Kenapa tidak bicara?

Apa ada masalah? Perlu bantuanku?



Anak perempuan seperti kamu, mana

bisa memahami masalah seperti ini.



Dasar bodoh. Masa begitu saja kamu

langsung menyerah?



Kalau tidak, mau bagaimana lagi?

Dia tidak menyukaiku.



Menurutku, mencintai seseorang itu

harus seperti sinar bintang.



Sinar bintang yang bagaimana?



Kurasa, kalau menunggu sampai aku

bersinar, dia sudah dibawa pergi.
Sinarnya tetap akan tetap terpancar,

jauh sampai ke tempat kita berada.



- Apa maksudmu?

- Kamu pikir saja sendiri.



Aku masih bisa bersembunyi, dan

melihat Shu Man dari kejauhan.



Tapi, aku tidak tahan melihatnya

bersama Mike.



Aku merasa semakin jauh dari mereka.



Halo, Lobak, aku Mike. Apa

saja yang kamu lakukan di rumah?



Malam ini, kita jalan-jalan yuk.



Tidak bisa. Aku mau ikut lomba foto.

Lain kali saja.



Siapa?!
Lobak! Jangan melupakan kami

hanya karena lomba foto. Mengerti?



(Lagu - Selamat ulang tahun Lobak...)



Malam itu, kami banyak minum.

Rasanya senang sekali.



Lalu, kami naik mobil Mike untuk

pergi ke pantai.



Kukatakan kepada mereka, "Mike,

ini adalah langit kita!"



Aku seperti sinar bintang. Tetap

melangkah maju, dan selamanya...



tidak akan pernah kembali.

Pantang mundur!



Kalau di novel, setiap bintang di

langit, mewakili satu orang di bumi.



Menurutmu, dari semua bintang itu,

mana yang mewakili kita bertiga?
Tidak tahu. Tapi bintang-bintang itu

terlihat dekat. Padahal jauh sekali.



Lobak, kurasa jika ada

seseorang yang disinari olehmu,



dia pasti merasa sangat bahagia.



Keadaan yang membingungkan itu

berlangsung sampai tingkat tiga.



Hingga pada suatu hari.



- Ayo....

- Pas.



- 55 66.

- Three of a kind, King.



Semua kartu besar ada di sini.

Siapa yang bisa menandingiku?



Dasar bodoh! As three of a kind

tidak bisa menandingimu?
Three of a kind 2 juga tidak bisa

menandingimu?



- Jongkok!...

- Siapa takut?!



Jongkok!... Merangkak! Jongkok!



Tunggu sebentar. Nanti aku ke situ.



- Ada apa?

- Coba temui Mike. Dia sudah gila.



- Ayo, bersulang.

- Baiklah.



- Tadi bagaimana?

- Tidak mabuk,tidak boleh pulang.



Baiklah. Kalau tidak mabuk,

tidak boleh pulang.



- Lobak.

- Ada yang mau kubicarakan.
Ayo, duduk dulu. Mau minum bir?



- Mike, katanya kamu mau pergi?

- Pergi ke mana?



- Kamu benar-benar mau pergi?

- Aku juga tidak tahu.



Sebenarnya kamu ke mana saja? Aku

mencarimu ke mana-mana.



Untuk apa kamu mencariku?



Mau pinjam uang. Cepat katakan.

Kamu mau pergi ke mana?



Mungkin ke Afrika Selatan, Eropa,

atau mungkin ke sini.



Shu Man bilang, kamu sudah gila.

Ternyata benar. Serius sedikit dong.



Aku benar-benar serius. Aku tidak

mau terkurung di kampus.
Yang seperti di penjara, dengan

buku-buku yang membosankan,



berpacaran dengan gadis-gadis yang

materialistis,



atau terus bermain kartu sepanjang

hari, kemudian memakai jas,



bekerja di kantor, menikah dan

punya anak, mengurus orang tua,



memelihara anjing, mengurus keluarga,

dan pada hari Minggu,



harus berhadapan dengan tagihan

yang harus dibayar,



kemudian ke supermarket untuk membeli

kebutuhan mingguan,



yang membuat tagihan semakin bertumpuk,

hingga pada akhirnya termakan usia.
Untuk apa?

AKu tidak ingin hidup seperti itu.



Yang kamu maksud gadis materialistis

itu Shu Man?



Bukan. Dia tidak begitu, tapi dia

terlalu serius. Aku tidak tahan.



Nantinya, Shu Man bagaimana?



Aku tidak tahu. Aku hanya tahu, jika

aku bukan sebuah layang-layang.



Aku tidak mau terikat

kepada orang lain.



Mike.



Sudah. Aku tidak mau bicara lagi.

Lobak, mana kunci mobilku?



- Dia berkata seperti itu?

- Dia memang berkata seperti itu.
- Aku mengerti.

- Kamu mau ke mana?



Kuliah.



Mike sudah pergi. Shu Man terlihat

tenang, dia tetap masuk ke kelas...



tepat pada waktunya,

tanpa pernah terlambat.



Tapi luka di hatinya, tidak akan

bisa disembunyikannya dariku.



Kamu mau memotretku sampai kapan?



Sayangnya, aku tidak bisa memotret

sewaktu kamu mandi.



Dasar! Kubalas ya!



Siswa-siswi yang di belakang,

apakah kalian boleh berbicara?



(Selesai kuliah nanti, temani aku berbelanja)
Sepanjang jalan, kami sama sekali

tidak berbicara.



Hanya berjalan terus, tanpa henti.

Seperti mendampingi orang buta,



yang berjalan terus tanpa

arah tujuan yang jelas.



Aku tahu, Shu Man pasti merasa

sedih sekali.



Aku ingin menghiburnya

tapi, sepertinya tidak perlu.



Bahkan jika ada ikan bercahaya

yang lewat di depanku, aku akan...



tetap berharap agar kami berdua bisa

terus bersama seperti ini.



Tetap berjalan berdua,

hingga ke ujung dunia.
- Lapar atau tidak?

- Aku tidak lapar.



- Aku mau pulang.

- Biar kuantar.



Tidak usah.



Shu Man. Kamu tidak apa-apa? Kubantu

menghapus air mata ya.



Peluk aku.



Tak pernah terpikirkan, bahwa aku

bisa sedemikian dekat dengannya.



Kami hanya berjarak satu debaran

jantung saja. Namun di dunia ini,



itu adalah jarak yang terjauh. Dia

menangis di dalam pelukanku.



Tapi air matanya, bukan untukku.



Maaf, nomor yang anda hubungi sudah
tidak diaktifkan.



Feng, masih belum ada email darimu.

Aku juga tidak bisa meneleponmu.



Aku ingat,

dulu kita tidak pernah berbicara,



tapi akhir-akhir ini,

sepertinya kamu berubah.



Dia mengirim surat kepadamu? Apakah

dia menyebut namaku?



Tidak.



- Belikan rokok untukku.

- Apa?



Aku mau kamu membelikan rokok.

Mau atau tidak?



Shu Man, kamu jangan merokok.



Yang ini terlalu berat. Ada yang
lebih ringan atau tidak?



Kamu mau yang mana? Aku tidak tahu

mana yang kamu mau.



Jadi, semuanya kubeli.



Sebenarnya aku tidak mau merokok.



Kalau begitu, kamu mau apa? Air

mineral? Kubelikan es krim ya?



Tapi, aku sudah tidak punya uang.

Kamu 'kan tahu, aku tidak kaya.



Tapi, aku mau bekerja.



Agar setiap hari bisa membeli

es krim yang paling mahal untukmu.



Aku janji.



- Kamu suka kepadaku?

- Apa?
Kamu menyukaiku. Benar atau tidak?

Kalau kamu suka, katakan saja.



Mungkin saja aku mau.



Kamu tahu, aku ini bodoh dan tidak

pandai berbicara.



Aku tidak pantas untukmu. Bagaimana

aku berani mengatakannya kepadamu?



Besok, bawakan bunga untukku. Agar

semua orang tahu.



Aku akan memberi jawaban kepadamu.

Kita bisa bersama untuk selamanya.



Kecuali, jika suatu hari nanti, kamu

meninggalkanku. Sampai besok ya.



Shu Man, ayo kita makan.



Hari ini, dosennya lucu sekali.

Setidak-tidaknya,
ada empat lubang di kaos kakinya.



- Kamu bohong ya?

- Aku tidak bohong.



Ada-ada saja.

Apa serunya memperhatikan dosen?



Jadi, kita lihat kaos kakinya saja.



Kalau tidak, ajukan pertanyaan saja.

Saat memakan apel,



ada berapa ulat yang termakan?



Aku tahu. Di dalam setiap apel,

terdapat dua ekor ulat.



Mengerikan sekali kalau ada ulat

di dalam apel.



Shu Man, kamu kenapa?

Tidak enak badan?



Shu Man, Shu Man, aku mencintaimu.
Seperti tikus yang mencintai padi...



Shu Man, kali ini semua orang

menjadi saksi.



Nyanyianmu tadi jelek sekali.



Sudah lama tidak latihan.

Mau kunyanyikan sekali lagi?



Cepat berikan jawabannya.



Shu Man, Shu Man, aku mencintaimu.

Seperti tikus yang mencintai padi...



Kamu ingat, sewaktu di kelas, kamu

pernah bercerita tentang katak.



Ingat. Tentang katak yang

jatuh cinta kepada angsa.



Tapi, angsa itu tidak pernah

mengetahuinya.



Pinjam sentermu ya.
Kenapa malam-malam masih di luar?

Tidak mau pulang?



Hari ini, kita akan membicarakan

tentang kehidupan manusia.



Apa rahasia yang tersembunyi

di balik kehidupan manusia?



Sederhana. Apa yang saya bicarakan

pada hari ini,



mungkin sulit untuk dimengerti.

Tapi kalau sudah dewasa nanti....



Dua hari ini ke mana saja?

Kenapa kamu tidak datang?



- Ayah menyuruhku ke luar negeri.

- Ke luar negeri? Ke mana?



Tapi, aku ingin tetap bersamamu.



Apakah kamu tahu, siapa ayahku?
Dulu, dia seorang buruh pabrik,



sedangkan ibuku menjahit pakaian,

sementara biaya kuliah mahal sekali.



Mau bagaimana pun juga,

tidak akan pernah bisa terkumpul.



Maafkan aku. Tapi, aku belum

memutuskannya. Aku tidak usah pergi.



Karena aku?



Sudah kubilang, aku ingin selalu

bersamamu.



Kecuali, kalau kamu tidak

menginginkan aku.



- Lobak, mikir apa sih?

- Dia, pasti memikirkan Ji Hua.



Lobak, kamu benar-benar makan

angsa dan menjadi katak pemimpi?
Ingat, perjuangannya 20 tahun!



Apa kabar pak Rektor.



Kemarin Shu Man memberitahu, dia

tidak mau ke luar negeri.



Kumarahi dia. Biasanya dia tidak

pernah seperti itu.



Ternyata gara-gara kamu.

Kamu tidak pantas untuknya.



Ingat, siapa ayahmu yang miskin,

bertani sayuran dan beternak babi.



Ayah saya tidak menanam sayuran. Dia

mengidap hemiplegia, dan bahkan...



harus menggunakan pispot untuk buang

air dan makan pun harus dibantu.



Jadi, mana mungkin beternak babi?



Itu bukan urusanku.
Aku tidak membutuhkan alasanmu.



Anda sama sekali tidak mengerti.

Saya tidak perlu mengajukan alasan.



Tapi, saya tidak boleh diam saja.

Dia seorang manusia. Saya juga sama.



Orang miskin juga punya cinta. Saya

mencintai Shu Man. Apakah itu salah?



Siapa suruh puteri anda

sedemikian cantik dan baik?



Aku bukan orang jahat. Aku bisa

mengerti apa yang kamu rasakan.



Tapi, kalian tidak cocok. Shu Man

harus tinggal di rumah mewah dan...



dinikahkan dengan pria yang sepadan,

bukan dengan anak buruh yang cacat.



Maaf. Aku tidak ingin menghinamu.
Namun, di dunia ini terdapat

banyak tidak-adilan dan kekejaman.



Tidak ada pilihan lain.

Kamu harus menjauhinya.



Kalian tidak sepadan.



Kalau saya tidak mau?



Sebaiknya jangan begitu. Kalau tidak

mungkin kamu tidak akan bisa lulus.



Anda mengancam saya?



Bukan. Kenyataannya memang demikian.

Apakah kamu tahu?



Kakek Shu Man yang mendirikan

sekolah ini. Aku bisa melakukannya.



Aku tahu. Keluargamu harus bersusah-

payah untuk bisa menyekolahkanmu.



Setiap uang kuliahmu, dihasilkan
dari jahitan ibumu.



Kamu ingin tidak lulus?

Apakah kamu tega mengecewakannya?



Saya pasti akan membuatnya merasa

bangga dan membahagiakan Shu Man.



Apa yang bisa kamu berikan kepada

Shu Man?



Saya tidak tahu. Saya hanya tahu,

saya mencintainya.



Bagaimana kamu bisa mencintainya?



Kalian berasal dari dua dunia

yang berbeda.



Jika kamu mencintainya

biarkan dia pergi.



Biarkan dia kembali ke dunia yang

pantas untuknya. Bagaimana?
Anggap saja kamu melakukannya untuk

Shu Man, sambil membantuku.



Sudahlah. Terima kasih.



Sejak itu, Shu Man tidak pernah

kuliah. Melihat kursi yang kosong...



duniaku seolah berhenti berputar.

Kupikir, mungkin dia sudah pergi.



Ayah tidak mengijinkan aku kuliah.

Bahkan mengurungku, tapi aku kabur.



- Kita tidak usah bertemu lagi.

- Kamu kenapa? Kangen, 'kan?



Kita tidak usah bertemu lagi.



Jangan bercanda. Kita sudah tidak

punya waktu lagi.



Ayah pasti sedang mencariku.



Bukan begitu.
Aku sudah tidak menyukaimu.



Apa maksudmu? Kenapa kamu tiba-tiba

berubah?



Sebenarnya aku tidak pernah

menyukaimu.



Aku bertaruh dengan teman. Ternyata,

mendapatkanmu itu tidak sulit.



Jangan kamu pikir karena kamu anak

orang kaya dan cantik,



maka semua orang pasti mencintaimu.

Jangan bermimpi.



Berhenti! Yang kamu katakan itu,

semuanya bohong, 'kan?



Semua itu benar.

Aku menang 500 dolar.



Katamu, kamu menang 500 dolar?

Aku hanya dihargai 500 dolar?
Masih ada 500 dolar lain yang

menungguku.



Selamat berpisah, Shu Man.

Maafkan aku.



Hal yang paling menyedihkan di dunia

ini adalah, berdiri di depanmu...



tapi tidak bisa memberitahukan

kepadamu, bahwa aku mencintaimu.



Dasar. Kamu seperti sebatang kayu.

Baju sampai basah begini, diam saja.



Kubantu kamu mengeringkannya ya.



Sudah sebesar ini belum juga bisa

mengurus diri sendiri.



Kenapa galak sekali? Jauh-jauh aku

datang untuk menjengukmu.



Shu Man. Tidak mungkin. Kepala
Sayur. Feng. Kenapa tulisannya sama?



Kakak sepupu?!



- Halo.

- Kak, ini A Ling.



A Ling?

Tinggal di sana enak atau tidak?



Kak, surat yang ditulis oleh

Lobak untuk Shu Man itu...



kamu yang mengirimnya? Iya, 'kan?



Dari mana kamu tahu?



Dari mana dia menulis semua

surat itu?



- Di kamar yang di loteng itu.

- Masa?!



Selama ini dia tinggal di situ.

A Ling.
Aku ingin seperti sinar matahari itu

yang terus memancar dan selamanya...



tidak akan pernah kembali.



Shu Man. Mungkin, kamu tidak akan

pernah membaca buku harian ini.



Jika kamu membacanya, berarti aku

sudah meninggalkan dunia ini.



Nasib telah mempertemukan kita. Itu

yang disebut sebagai takdir.



Aku sering mengenang masa itu, dan

berharap agar waktu dapat terulang.



Tapi, aku tahu, itu tidak mungkin.



Jadi, aku hanya bisa menggunakan

caraku yang paling bodoh, untuk...



mengembalikan waktu. Setelah lulus,

aku menjadi fotografer profesional.
Demi memotret antelop Tibet, aku

harus tinggal 3 bulan di Ningxia.



Di sana, kita bisa melihat malam

yang selama ini belum pernah bisa...



kita lihat, dengan bintang-bintang

yang paling bercahaya.



Pada suatu malam, terjadi sebuah

kebakaran. Apinya besar sekali.



Banyak orang yang terbakar

sampai mati.



Aku terbaring selama 6 bulan di

rumah sakit.



Aku tahu, waktuku tidak banyak.

Tapi, hanya ada satu hal yang...



kusesalkan. Jam demi jam berlalu.

Secara perlahan, ingatanku kembali.
Kenangan saat kita bertemu, namun

perasaan ini seperti jam pasir...



yang secara perlahan menghilang.

Shu Man, kamu baik-baik saja?



Kamu harus menjaga diri baik-baik.

Aku sudah hampir mati.



Namun, tidak ada yang bisa

kutinggalkan.



Tapi, aku ingin kamu tahu. Di dalam

hidupmu, ada seorang pria bodoh...



yang merelakan diri untuk terluka,

agar bisa mencintaimu.



Seperti cahaya bintang itu, yang

selamanya tidak akan pernah pudar.



Dia meneleponku. Katanya, sesuatu

telah terjadi.



Aku segera kembali untuk menemuinya.
Aku sudah tidak bisa mengenalinya.



Kemudian kami berusaha menemukan

jalan keluarnya.



Dari kamar itu, dia bisa melihat

kamarmu.



Itu adalah permintaan terakhirnya.

Itu yang diinginkan olehnya.



Setelah dia meninggal, aku baru

menemukan surat-surat...



yang dia tulis pada masa-masa

terakhir dalam kehidupannya.



Mike, terima kasih. Aku sudah sama

jauhnya dengan bintang-bintang itu.



Tapi ada satu kalimat yang selalu

ingin kuucapkan kepadamu.



Tuan, kunci mobilmu.
Dasar bodoh.



Tapi, tidak bisa. Aku harus mengirim

surat-surat itu kepadamu.



Seolah-olah dia masih hidup.



Mama, kenapa menangis?



Mama bukan menangis. Ini hanya

keringat yang menetes lewat mata.



Mike, Lobak, cepat pergi.

Ayahku sudah pulang.



Nona Xiao Han, kamu mau pergi?



Musim panas sudah hampir berakhir.

Aku mau menjenguk ibuku.



Novelmu sudah selesai?



Sekarang aku sedang menulis cerita

yang lain.
Tentang seseorang yang bodoh. Masih

ingat surat-surat itu?



Akhirnya mereka telah bertemu dengan

pemiliknya.



Bagus.... Selamat jalan ya.

Sampai bertemu lagi.



Feng, aku rindu kepadamu.



Apakah kamu tahu, di dunia ini juga

ada orang bodoh yang mencintaimu.

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Stats:
views:21
posted:6/15/2012
language:Indonesian
pages:68
Description: Subtitle for a Hong Kong movie titled "The Romantic Fool", 2007, in Indonesian Language.