Your Place or Mine

Document Sample
Your Place or Mine Powered By Docstoc
					00:15 Lagu:

Apakah kau pernah memberitahukan

kepada kekasihmu...



kau telah mengubah kehidupanku.



Apakah kau ingat kepada seluruh

kisah cinta yang telah berlalu?



Berapa lama kah berlalunya kisah

cinta yang terpanjang?



Ternyata, semakin lama, daya ingat

seseorang akan semakin memburuk.



Tahunya hanya bahwa dalam sehari

terdapat 24 jam.



Bekerja selama 8 jam dan tidur

8 jam.



Sisa waktu yang 8 jam, entah

digunakan untuk apa.



Demi untuk mencari seseorang yang
menurutmu cukup lumayan,...



namun justru tidak mendapatkan

siapa pun juga.



Semua orang bisa saling berpelukan,

atau saling menipu,...



hanya dalam jangka waktu 8 jam

yang tersisa itu.



Kau pasti juga tahu, berdasarkan

data statistik yang resmi...



ternyata dalam kehidupan ini,

terdapat 3869 perokok pasif.



Juga mengalami patah hati sebanyak

7,8 kali.



Dan kehilangan pekerjaan sebanyak

4,2 kali.



0,99 melakukan hubungan di luar

nikah, 1/2 diantaranya berselingkuh.
Tapi, sayangnya tidak ada data

mengenai orang yang dipastikan...



berhasil menemukan cinta sejatinya.



01:14 Caption:

Your Place or Mine?



Sudah ketemu atau belum?

Sudah ketemu? Masa?



Contohnya aku, yang selalu

berusaha menemukan cinta sejati.



Tapi, setiap wanita selalu saja

menganggapku berbohong.



Setiap pagi, begitu terbangun,

pandanganku segera terarah...



ke tumpukan kotak batu nisan.

Dan aku tidak berbohong.



Pada setiap kotak itu, baik wanita
yang terburu-buru pergi, sewaktu...



kami putus, atau mantan pacarku yang

dulu, semuanya bukan tipe orang...



yang suka teliti dalam menyimpan

barang-barangnya.



Sehingga, mereka tidak hanya sekedar

meninggalkan aku saja.



Mereka juga meninggalkan

barang-barang mereka.



Tapi, aku tidak pernah membuangnya.

Sehingga semuanya kemudian menumpuk.



Baru-baru ini juga bertambah satu

kotak.



Jika diteruskan, sepertinya tumpukan

itu akan terus bertambah tinggi.



Tuan, aku adalah surveyor dari

biro pemasaran di Hongkong.
Apakah aku boleh meminta waktu untuk

mewawancaraimu?



Maaf nona, aku sedang terburu-buru.

Cari orang lain saja.



Tapi, pertanyaannya tidak banyak.

Hanya survey pasar saja.



Kalau mau melakukan survey pasar,

lakukan saja di supermarket.



Tidak ada gunanya kau menanyakannya

kepadaku.



Karena, kau adalah pria tertampan

yang kulihat pada hari ini. Benar.



Untung kau mengatakannya. Aku jadi

tidak tega menolak permintaanmu.



Tanyakan saja, tapi agak cepat, ya?

Aku sedang terburu-buru.
Baiklah. Tuan, kapan terakhir

kalinya anda menggunakan kondom?



Apa?



Maaf, aku harus menanyakan yang ini

terlebih dahulu.



Apakah anda pernah menggunakan

kondom?



Tentu saja.



Umur berapa pertama kalinya anda

menggunakannya?



Umur berapa?



Waktu masih muda. Aku sudah lupa.



Apakah anda atau pasangan anda yang

membelinya?



Aku tidak membelinya, kalau tidak

salah, aku mengambil milik ayahku.
Bagaimana dengan sekarang?



Anda yang membeli, atau dia yang

berinisiatif untuk membeli?



Berinisiatif?



Dia yang lebih berinisiatif,

sementara aku tidak.



Aku lebih pasif.



Biasanya, sekali bermain, berapa

kondom yang anda gunakan?



Itu rahasia.

Mungkin sekitar 3, 5, atau 7.



Ajukan pertanyaan yang lain, aku

benar-benar sedang terburu-buru.



Apakah anda pernah menggunakan

beberapa merek kondom ini?
Manis, Suasana, Pejuang Cinta,

Pantang Menyerah, ...



Lebih Dahsyat,

Cinta yang Mendalam...



Lembaran ini sebaiknya kubawa saja.

Nanti ku-fax saja kepadamu. Oke?



Waktu itu, dengan yang itu...

sepertinya tidak memakai kondom.



Sedangkan yang sebelumnya dan yang

itu....



Kasihan sekali! Lagi-lagi pak Wei

diputuskan oleh pacarnya.



Pantas beberapa hari ini dia tidak

datang ke kantor.



Pak Wei putus dengan pacarnya?



Benar. Setiap menemukan bintang baru

dia pasti bisa membuatnya terkenal.
Tapi, kenapa tidak pernah bisa

bertahan lama?



Apa yang tahan?



Pak Wei. Selamat pagi.



Pagi. Rekan-rekan semuanya, kita

memperoleh sebuah tantangan baru.



Kita harus merevisi proposal yang

kita ajukan itu.



Banyak yang harus diubah.



Padahal sudah selesai digambar.



Yang benar saja.



Agar kita dapat dengan segera

menjualnya. Mana naskahnya?



Tadi malam sudah kuletakkan

di ruangan kak Patrick.
Baiklah.



Pak Wei, apa yang sedang kaucari?

Mana teman SD-mu itu?



Patrick? Tadi ada.



Itu bukan untukmu,

tapi untuk Patrick.



Maaf. Apa ini?



Obat panas dalam. Dia sedang sakit

tenggorokan.



Masa? Kenapa rasanya pahit?



Di mana, ya?



Aku tahu.



Setiap manusia membutuhkan cinta.



Bersama cinta,
kita bisa tumbuh dewasa.



Tumbuh dewasa. Berkembang.



Kenapa belum juga? Ayo keluar.



Patrick. Cepat keluar!



Ada apa?



Tidak usah dihafal,

naskahnya harus diubah.



Kau kerasukan, ya? Aku selalu harus

mempertaruhkan diri.



Sementara kau selalu mengacak-acak.

Kau mau kita mati atau untung?



Aku menelepon, tapi hp-mu mati.



Kutelepon ke rumah,

tapi tidak ada yang mengangkat.



Kau ke mana saja?
Tadi malam, aku beraksi.



Apa?



Beraksi! Melakukan itu! Beraksi!

Sudah mengerti, sobat?



Dahsyat sekali!

Apa memang sehebat itu?



Tentu saja. Ada yang dari Spanyol,

juga dari Nigeria.



Pokoknya berwarna-warni dan banyak

sekali.



Seperti didatangkan dari seluruh

penjuru langit dan bumi.



Kalau A Fen tahu,

kau pasti dihabisi.



Kusuruh dia pulang kampung bersama

kedua orangtuanya.
Sehingga aku bisa memperoleh sedikit

kebebasan.



Kurasa, kau juga membutuhkannya.

Jangan terlalu banyak menyiksa diri.



Jika yang lama belum pergi,

bagaimana yang baru bisa datang?



Ji Xiang benar-benar bodoh karena

dia memutuskanmu.



Hentikan bicaramu.



Bukankah kita sudah seperti saudara?

Kenapa tidak boleh membicarakannya?



Coba lihat ke cermin. Kau terlihat

pucat sekali. Mengerti?



Baiklah. Seperti itu saja.



Apa tidak salah? Kau hanya mengubah

tanggalnya saja.
Masa begitu? Kau marah, ya?



Di dunia ini, apa saja yang rasanya

masih kurang?



Apa yang paling diinginkan oleh

manusia?



Benar!



Yaitu, hal yang selama 24 jam selalu

kita inginkan.



Yaitu, cinta.



Untuk itu, ini yang kita sebut

sebagai cinta.



Semua orangtua menginginkan agar

anak-anaknya dapat merasakan cinta.



Jika anaknya bahagia, orangtuanya

pasti merasa lebih bahagia.
Sehingga penjualan popok yang kita

lakukan akan semakin meningkat.



Karena kami akan membantu anda dalam

mempromosikannya.



06:48 Caption & VO:

Cinta.

Anda pasti dapat merasakannya.



Coba lihat dulu yang ini.



Beberapa perusahaan kita yang lain

juga bisa menerapkan program ini.



Patrick.



Jangan lupa, hari ini, jam 8

ada cara makan malam.



Makan? Makan malam di mana?



Ada undangan dari teman-teman

sekolah yang dulu. Kau lupa, ya?
Tapi, aku sudah ada janji dengan

ibuku. Ibu memasakkan sup untukku.



Kau tau, aku sudah sebulan tidak

bertemu dengannya.



Menjadi anak yang berbakti itu jauh

lebih penting.



Kita mau ke mana?



Ke hotel Jiu Long Tang.



Yang benar saja. Aku tidak mau.



Jadi, maunya pergi ke mana?



Kenapa tidak ke rumahmu saja?



Ke rumahku? Baiklah.



Perhiasan untuk menjaga kesehatan,

yang akan menemanimu seumur hidup.



Kenapa kau pergi? Ji Xiang.
Apa yang harus kulakukan?



Aku bukan bermaksud begitu.

Tapi kau tidak juga bisa mengerti.



Apa yang tidak kumengerti?

Aku justru sangat memahaminya.



Dia jauh lebih kaya.

Jadi, kau lebih memilihnya.



A Wei. Mempertahankan hubungan ini

merupakan sebuah kesalahan besar.



Aku sudah terlalu banyak memberikan

kesempatan.



Tapi kau belum juga berubah.



Apa yang harus kuubah? Benar.

Kadang aku memang terlalu emosional.



Aku kurang bisa mengendalikan diri,

tapi itu memang sifat....
Sifatmu memang seperti itu.



Tapi, bukan berarti kau boleh

mengabaikan perasaan orang lain.



Jika kau menyukaiku, seharusnya kau

juga bisa menerima kekuranganku.



Aku bukan bermain-main saat menjalin

hubungan denganmu.



Aku benar-benar serius.



Sayangnya, hanya berlangsung selama

tiga menit.



Padahal sewaktu baru mulai, mau

siang atau malam, ...



sepertinya tidak pernah bosan.

Kau juga tampak sangat bergairah.



Lama-kelamaan seolah semakin padam.



Aku dianggap mengganggu dan
membosankan.



Atau bahkan dianggap tidak ada.



Aku ini pekerja kreatif.



Aku membutuhkan ketenangan untuk

dapat menghasilkan karya. Aku....



Yang pasti, kau terlalu egois!



Katamu, kau bersedia sehidup-semati

denganku.



Ya ampun. Aku lupa siapa namamu.



Kau adalah cinta pertamaku. Wajar

jika aku berkata seperti itu.



Mana mungkin aku mengatakan hanya

mencintaimu selama 3 hari 2 malam?



Tapi, kau telah melukai perasaanku.



Bahkan membuatku tidak lagi bisa
mempercayai laki-laki, sehingga...



akhirnya aku menjadi lesbian.



Pantas kau tidak pernah

mencariku lagi.



Sekarang kau sudah tahu, apa

kesalahanmu?



Memangnya apa?

99,9 persen pria memang seperti itu.



Kau bahkan tidak bisa menghargai

perasaan orang lain.



Kau hanyalah laki-laki bodoh yang

tidak bisa memahami perasaan wanita.



Kau sama sekali tidak bisa

memahami wanita.



Kau tidak mau kuantar?



Tidak perlu. Malam ini, aku mau
menginap di rumah temanku.



Kenapa menginap di rumah teman?



Dia sedang patah hati.



Patah hati? Apakah aku perlu

menemanimu menghiburnya?



Tentu saja tidak perlu.



Dua hari lagi kuhubungi lagi, ya?



Kita lihat saja nanti.



Sampai bertemu lagi.



Kau cari mati, ya?



Kenapa kau membawa perempuan

ke rumahku?



Sebenarnya aku tidak bermaksud

begitu.
Aku ingin mengajaknya ke hotel Jiu

Long Tang, tapi dia tidak mau.



Aku membutuhkan tempat untuk

"beraksi".



Jadi, kupinjam rumahmu sebentar

untuk "beraksi".



Omong-omong,

untung aku yang datang.



Pintu rumahmu tidak kau kunci, ya?

Berbahaya sekali. Mengerti?



Kau anggap rumahku ini hotel?



Kalau mau bersenang-senang,

kenapa tidak dirumahmu sendiri?



Aku sudah berjanji.



Jika ingin "beraksi", tidak boleh

di rumahku sendiri.
Jika A Fen tiba-tiba datang, dia

bisa menghabisiku.



Aku tidak boleh menyakiti perasaan

pacarku.



Aku harus menjadi kekasih yang baik.



Sudahlah. Bereskan saja kamarnya.



Sekali lagi kau melakukannya,

kucincang kau dengan pisau buah.



Galak sekali. Sejak kapan kau

berubah menjadi sedemikian jahat?



Om Simon.



Papa, untuk apa malam-malam begini

datang ke sini?



Aku ke ini untuk menonton

sepak bola. Di rumahku mati lampu.



Papa, suaranya dibesarkan.
Aku tidak bisa mendengarnya.



Kita sedang menonton sepak bola,

bukan mendengarkannya.



Apa yang dikatakan pembicaranya,

belum tentu bisa dipercaya.



Bukan pembicara, mereka disebut

komentator bola.



Benar.



Halo. Aku? Aku sedang menonton

sepak bola di tempat A Wei.



Tidak apa-apa. Dia hanya sedang

patah hati saja.



Jadi, aku menemaninya.



Kau putus lagi?



Bukan aku yang salah.
Tapi dia memberiku kartu merah.

Apa lagi yang bisa kulakukan?



Mana mungkin dia memberikan kartu

merah tanpa alasan?



Kenapa almarhumah ibumu tidak pernah

memberikan kartu merah kepadaku?



Sejujurnya, waktu mama masih hidup,

apakah papa pernah berselingkuh?



Menurutmu, apakah para pesepak bola

itu hanya pura-pura bermain saja?



Tentu saja tidak pernah.



Jujur saja, om. Pernah atau tidak?



Kau tidak percaya?

Pikirkan saja sendiri.



Aku tidak bisa mengerti. Ternyata

papa suka main perempuan.
Tapi kenapa harus berumah tangga?



Itu dua hal yang berbeda.



Benar. Masih ada kehidupan lain

di luar lapangan.



Apa yang dikatakan om tidak salah.

Memang begitu.



Semakin banyak yang bisa dilayani,

semakin baik.



Yang serius saja sulit dicari.

Apalagi yang hanya main-main.



Tapi, mungkin yang hanya untuk

bersenang-senang,...



pada saatnya nanti bisa muncul

dengan sendirinya.



Seperti yang terjadi pada Patrick

dan A Fen, gadis dari Shanghai.
Ia sudah berpacaran dengan Patrick

selama lima tahun.



Tapi yang dilakukannya hanya

membersihkan rumah setiap minggu.



Dia lebih mirip dengan pembantu,

dibandingkan dengan pacarnya.



Bangun. Aku sudah membelikan

makanan untukmu.



Papa menanyakan tentang dirimu.



Kenapa hari minggu kau tidak mau

menemani mereka minum teh.



Katakan saja, ada hal yang harus

kuselesaikan. Jadi tidak bisa.



Aduh, apa harus selalu dijawab

seperti itu?



Kau belum membayar kartu kredit?
Benar. Nanti kuberikan

ceknya kepadamu.



Besok, kau bayarkan saja sewaktu

istirahat makan siang.



Untuk apa kau ke hotel?



Untuk apa aku ke hotel?



Waktu itu ada tamu dari Amerika.

Tapi dia tidak punya uang.



Kasihan sekali.



Memangnya kenapa?



Orang asing itu, sepertinya....



Patrick dengan mudah mengajukan

berbagai macam alasan...



Untuk membujuk A fen.



Sudahlah. Tidak perlu khawatir.
Memangnya kenapa? Kau pikir aku

berselingkuh? Begitu, ya?



Mana aku tahu? Aku lebih sering

tidak berada di sisimu.



Kalau tidak percaya, buktikan saja.

Aku benar-benar tidak melakukannya.



Jangan.



Baiklah. Kau masuk ke kamar saja.



Tidak mau. Aku lebih suka di sini.



Mana kondomnya?



Aku tidak mau memakai kondom.



Bagaimana nanti kalau aku hamil?

Apakah kita akan menikah?



Baiklah. Aku akan memakai kondom.
Michael.



Aku pasti kembali.



Benar. Ini penting sekali.

Pakai telepon kantor saja. Benar.



Aku sudah menghubungi berkali-kali.



Sebenarnya, apa yang terjadi?



Perusahaan kita terkena masalah.



Katanya akan ada banyak orang yang

dipecat.



Bahkan bosku sekarang sudah dipecat.

Apa yang sebaiknya kulakukan?



Aku sudah tahu.



Aku pindah ke bagian kalian saja.

Bagaimana?



Jadi, apakah ada orang dari bagian
kami yang dipecat?



Tidak ada.



Gawat sekali.



Aku takut tidak bisa menyesuaikan

diri dengan bos yang baru.



Katanya, dia lesbian.

Namanya Vivian Wu.



Lulusan UCLA. Ph. D. Pernah membuat

dua iklan terbaik di Amerika.



Benar. Bagus sekali.

Masuk.



Tentu saja. Bagus sekali.



Kenapa kau ke sini?



Tinggi 1,73.

Ukurannya 34, 23, 34 inchi.
Dia belum genap tiga jam

tiba di sini.



Tapi 1/3 karyawan wanita sudah

menggosipkan dia sebagai lesbian.



Dari mana kau bisa tahu jika dia

lesbian?



Perhatikan saja kakinya.



Mungkin, jadwalnya akan kukirimkan

minggu depan.



Bagaimana caranya?



Lihat ibu jarinya. Bisa atau tidak?



Ibu jarinya?



Benar.



Dari mana kita bisa tahu?



Bagus sekali. Kau juga.
Terima kasih. Sampai bertemu lagi.



Maaf. Ada yang menelepon dari jauh.

Vivian Wu.



Zhang Shu Wei.



Silahkan pindah ke sini.



Tuan Zhang, lain kali, usahakan

untuk datang tepat pada waktunya.



Apa?



Tidak usah banyak alasan. Oke?



Tidak usah berisik. Masih ada

kesempatan lain untuk membalasnya.



Tiga tahun yang lalu, JET meminta

kalian, sebaggai pimpinan BEST...



untuk menangani klien di Hongkong.



Tapi, mulai sekarang, kalian tidak
akan sebebas yang dulu.



Sekarang, kau yang memimpin.

Jadi, putuskan saja sendiri.



Jika tidak suka, pecat saja kami.



Bukan. Maksud A Wei, sebenarnya....



BEST yang kami tangani, pasti akan

selalu mendampingi JET.



Sepertinya kalian cocok.

Kalian mengobrol saja.



Aku ingin mengajukan cuti panjang.



Ternyata tuan Zhang memang seorang

seniman.



Tapi, sekarang bukan saat yang tepat

untuk memamerkan jiwa senimu.



Sebenarnya, bos sangat menyukai

hasil karya kalian.
Rencananya, kalian akan memperoleh

tugas yang bersifat internasional.



Benar. Menurut saya keputusan bos

memang sangat tepat.



Benar. Dia memang yang terbaik.



Tapi, tuan Zhang....



Sepertinya ada bagian dari sifatmu

yang perlu diubah.



Diubah bagaimana?



Kau dikenal sebagai pengarah kreatif

yang sangat berbakat.



Sayangnya, kurang berkualitas.



Benar.



Apanya yang benar?
Yang dikatakannya itu memang benar.

Kau lihat saja sendiri.



Gaya berpakaianmu seperti itu.



Kau pintar memoles orang lain, tapi

tidak bisa mendandani diri sendiri.



Kurasa, kau perlu bersikap

lebih terbuka.



Banyak-banyaklah bergaul dengan

kalangan media dan klien kita.



Hal itu sangat berguna bagi

perusahaan kita.



Dia sudah sering tampil di media.



Tapi lebih banyak pada kolom

hiburan, gosip dan sejenisnya.



Aku masih ada urusan lain. Sebaiknya

nanti kita bicarakan lagi.
Terima kasih.



Sampai bertemu lagi.



Oh, iya. Aku telah mengundang

manajer dari Jepang, Tommy.



Senin nanti, kita harus menjamunya.



Tuan Zhang juga harus datang.



Aku?



Tidak ada alasan.



Dia menyukaimu.



Apa maksudmu?



Bukankah dia mengundangmu makan?

Kau tidak dengar?



Aku tidak peduli.



Ya ampun! Kau juga menyukainya?
Apa maksudmu?



Pantas kau menjadi sedemikian emosi.

Sampai berkobar-kobar.



Kurasa, memang sudah waktunya.



Menurutmu, bagaimana rasanya

bercinta dengan seorang lesbian?



Dasar! Bagaimana cara melihat

ibu jarinya?



Lihat. Yang ini bagus, ya?



Hei, bantu aku mengangkatnya.



Tunggu sebentar ya.



Oke.



Bos, sudah bisa dimulai?



Yang benar saja. Apa-apaan ini?
Yang kuminta adalah yang

seperti ini. Kenapa tidak ada?



Kata kak Patrick,

kita harus melakukan penghematan.



Untuk sementara waktu,

ada pengurangan anggaran.



Benar pak Wei. Katanya, GWT dan LB

menggunakan sumber daya lokal...



dalam mengajukan proposal untuk

melaksanakan proyek ini.



Kita sedang berada dalam pengawasan

yang ketat, bos.



Ke sini.



Satu orang satu. Cepat dikenakan.



Aku tidak mau memotret.
Mereka sudah datang.



Bos tidak terima.



Yang benar saja. Masing-masing dari

perempuan itu dibayar 400 dolar.



Aku sudah bersusah payah

mendatangkan mereka.



Bubarkan saja. Bagikan bayarannya

kepada mereka semua.



Semuanya, bubar!



Siapa?



Kau siapa? Keluar.

Cepat keluar.



Kau siapa? Diam di tempat.

Jangan bergerak.



Sebentar.

Seperti itu. Bagus.
Mana yang lainnya?



Tidak perlu kau pikirkan.

Yang penting, kau jangan bergerak.



Apakah kau fotografernya?



Kalau begitu, nanti siapa yang

membayar gajiku?



Nanti kubayar, kalau sudah selesai

memotret.



Fotografer, masih berapa lama lagi?

Kakiku sudah pegal sekali.



Oke. Sebentar lagi.

Tunggu sebentar lagi.



Ke kiri sedikit.



Aku sudah tidak tahan lagi.



Sakit sekali.
Dasar lemah. Hanya berdiri sebentar

sudah sakit.



Bukan begitu. Hari ini, aku sudah

seharian berdiri di jalanan.



Berdiri di jalanan?

Aku mengerti.



Mengerti apa?



Kau tidak punya uang.

Baru datang dari kampung, ya?



Aku baru dua minggu berada di sini.



Baru dua minggu saja sudah bisa

menjadi pela...



Apa?



Maksudku, pekerja.



Aku membantu bibiku.
Dia pedagang ikan.



Katanya, dia kekurangan orang.

Lalu, memintaku membantunya.



Memangnya jaman sekarang masih ada

yang mau?



Tentu saja. Pelanggan kami banyak

sekali. Dagangan kami laris sekali.



Kalau ada waktu, datang saja ke

sana. Nanti kuberi diskon.



Tidak perlu. Aku tidak suka.

Sudah merasa lebih nyaman?



Kau beristirahat saja dulu. Nanti

kufoto lagi.



Masih harus difoto lagi? Sudah

malam. Aku tidak tahu jalan pulang.



Nanti kuantar dengan taksi.
Sudah kucuci. Lihat!



Fotografer, aku sudah capek dan

mengantuk sekali.



Kuambil uangmu 500 dolar, untuk

gaji dan ongkos taksi.



Kalau ada waktu, mampir ke tempatku.

Sampai bertemu lagi. Ya Ru.



Bukankah sudah kujelaskan kepadamu?

Kau tidak perlu selalu meneleponku.



Nantinya, bagaimana aku harus

menghadapi mereka semua?



Baiklah. Kita bicarakan nanti malam.

Sampai nanti.



Mau makan kue telur?



Kenapa marah-marah?

Kau bertengkar dengan pacarmu?
Pulang kantor nanti, kau ada waktu?

Kutraktir makan, ya?



Kau datang tepat pada waktunya.



Kau juga.



Aku sangat merindukanmu.



Menurutku, tidak ada salahnya jika

kita bersenang-senang.



Kurasa, tidak ada salahnya juga

jika kita minum bersama.



Tidak perlu terlalu serius.



Maksudmu, bersenang-senang seperti

apa?



Aku memang suka bersenang-senang

denganmu.



Hubungan kita juga cukup baik.
Baiklah. Karena kita berteman,

bagaimana jika kita sudahi saja?



Apa maksudmu?

Kau mau memutuskan aku?



Tidak semudah itu.



Jadi apa maumu?



Istriku.



Biar aku saja yang bicara.



Patrick telah menceritakan mengenai

hubungan kalian.



Tapi dia hanya bermain-main saja.

Jadi, kuperingatkan.



Lain kali, jangan pernah menemuinya

lagi.



Nona. Kau masih muda dan cantik.

Pasti banyak pria yang mau kepadamu.
Aku menyukai suamimu. Memangnya

tidak boleh?



Memangnya sekarang jaman apa?



Lihat saja, dia sudah bosan,

sehingga mencari hiburan di luar.



Sebagai istrinya, kurasa kau tidak

cukup pintar mengurusnya.



Mana boleh kau berbicara begitu?



Sudahlah.



Kalau ada waktu, temui aku, ya?

Aku tidak akan berkeberatan.



Sudahlah.



Bagaimana kau bisa mengenal

perempuan yang seperti itu?



Perempuan jaman sekarang memang
seperti itu.



Jadi, pacarmu tidak tahu jika kau

berselingkuh?



Tahu. Tapi hanya curiga sedikit.



Kenapa kau tidak menikah dengannya?



Menikah?



Papa, mama, kakak, kakak ipar,

adik dan adik iparku...



semua saudara dan teman-temanku...

semuanya bercerai.



Tapi, bukan berarti kau akan

mengalami kegagalan seperti mereka.



Kau tidak tahu. Kuberitahu, ya?

Aku tidak bisa menahan nafsuku.



Dasar gila.
Benar.



Menurutmu, apakah mungkin aku

kelebihan hormon?



Sepertinya tidak akan ada orang

yang bisa menyelamatkan aku.



Tidak usah berbicara buruk

mengenai dirimu sendiri.



Kuantar pulang, ya?



Tidak perlu.



Aku? Aku sedang di Lan Gua Fang.

Masa? Semuanya datang?



Oke. Aku ke sana. Sampai nanti.



Temanku merayakan pesta ulang tahun

di kafe 97. Kau ikut saja.



Aku tidak mau. Kau saja.
Kau benar-benar tidak mau?



Mei-mei, lain kali belum tentu

ada kesempatan seperti ini.



Tidak. Terima kasih.



Baiklah. Sampai bertemu lagi.



Sampai bertemu lagi.



Oke. Sayonara. Sampai bertemu lagi.



Tuan, bantu aku memapah pacarmu.



Kenapa kau sampai begini?



Terima kasih.



Oke.



Kau serius atau hanya berpura-pura?



Kalau tidak bisa minum,

tidak usah minum terlalu banyak.
Kau berat sekali.

Aku tidak kuat menahanmu.



Awas kutinggal di pinggir jalan.

Tidur saja di sana sampai pagi.



Taksi!



Tuan, mau ke mana?



Kita ke mana?

Apa?



Jiu Long Tang.



Apa?



Jiu Long Tang.



Maksudnya hotel Jiu Long Tang?



Kalau begitu, kita ke sana saja.



Kau benar-benar mau pergi
ke Jiu Long Tang?



Tahan dulu.



Kau berat sekali.



Kau mengantuk, ya?

Aku ada ide.



Seka mukamu dengan handuk ini.



Kau tidur, ya? Kau sendiri yang mau

pergi ke Jiu Long Tang.



Sampai di sini, kau malah tidur.

Aku harus bagaimana?



Kurasa, kau satu-satunya pria

di Hongkong yang membawa wanita...



ke Jiu Long Tang, tapi

tidak melakukan apa-apa dengannya.



Bahkan kau hanya memandangi jari

kakinya saja.
Jangan samakan aku denganmu.



Aku tidak akan memanfaatkan wanita

yang sedang lemah seperti itu.



Dia sendiri yang memulainya.

Bahkan mengajakmu ke Jiu Long Tang.



Sepertinya, dia menyukaimu.



Dia ingin kau membantunya, agar dia

bisa kembali menyukai pria.



Dia mabuk parah seperti itu.

Kulakukan juga dia tidak akan tahu.



Aku sudah sedemikian bersabar, tapi

dia belum tentu mengerti.



Kalau dia terbangun dan mengajakku

aku pasti melakukannya.



Aku juga punya harga diri.
Benar. Masuk akal juga.



Kalau terjadi lagi, jangan sampai

hal ini terulang kembali.



Jangan. Ini demi kebaikanmu juga.



Ada apa?



Bos, nona Wu meminta agar tuan Wei

segera ke ruangannya.



Sana!



Aku yang memintamu membawaku ke

Jiu Long Tang?



Tenang dulu... Kalau tidak percaya,

biar kucari supir taksinya.



Dia juga mendengarnya.

Dia bisa menjadi saksi.



Kubilang pergi ke Jiu Long Tang,

karena aku tinggal di Jiu Long Tang.
Apa? Masa? Kau tidak menyebutkan

alamatmu dengan jelas. Jadi....



Sudahlah. Aku mengerti.

Tidak perlu dibicarakan lagi.



Kau tidak menyentuhku, 'kan?



Sedikit.

Tidak!



Sumpah. Kau tenang dulu.



Kau melakukannya.

Kau pasti melakukannya.



Bagian mana yang kau sentuh?



Mana? Ya ampun....



Atas? Bawah?



Hanya kakimu saja.
Kaki? Kau sakit, ya?

Untuk apa kau menyentuh kakiku?



Karena kakimu sangat....



Sangat apa?



Seksi.



Tenang saja. Aku tidak akan

mengatakan kepada siapa-siapa.



Apa pun yang terjadi tadi malam.

Mulai detik ini akan kulupakan.



Luar biasa!



Kau kenapa?



IDM menyukai proposal kita.



Bahkan meminta agar gadis itu

menjadi modelnya.



Dia?
Dia itu siapa? Model?



Omong-omong, dia cantik sekali.

Dari mana kau menemukannya?



Katanya, dia menjadi pelacur yang

menjual ikan.



Pelacur yang menjual ikan?



Semuanya, perhatikan baik-baik.

Temukan dia.



Demi keuntungan sebesar 30 juta,

apa pun yang terjadi, ...



dalam 48 jam, cari gadis penjual

ikan ini di seluruh Hongkong.



Baiklah. Kalau ada stok wanita yang

baru, cepat beritahukan kepada kami.



Baiklah. Tidak masalah.
Sampai bertemu lagi.



Gadis itu sudah ketemu?



Sudah. Aku baru saja membicarakan

kontraknya.



Dia menjajakan ikan di jalanan.

Tapi kenapa kau menyebutnya pelacur?



Memangnya, menjajakan ikan itu

maksudnya bagaimana?



Kau membuatmu kebingungan. Mengerti?



Jadi dia benar-benar menjual ikan?



Mau ke mana?



Anak itu tidak mengerti

bahasa Inggris.



Aku harus menerjemahkan kontraknya

ke dalam bahasa Cina.
Meskipun tidak bisa bahasa Inggris,

jangan disuruh berjualan ikan.



Jangan begitu.



Kalau bisa berbahasa Inggris,

dia tidak akan menjual ikan.



Fotografer!

Kau hebat sekali.



Kau bisa memotretku hingga menjadi

sedemikian cantik.



Aku sampai tidak mengenalinya.



Tony, kalian bicara saja dulu.



Terima kasih pengacara He.



Sama-sama.



Selain itu, tadi malam aku baru tahu

kalau kau sangat terkenal. Lihat.
Katanya, kau adalah Zhang Shu Wei.

Seorang konsultan imej.



Aku terlihat jelek di foto ini.



Aku tidak boleh sembarangan

membiarkan orang mewawancaraiku.



Masih menerjemahkan?



Menurutmu kontrak berbahasa Cina

yang seperti ini bisa digunakan?



Omong-omong, mana bosmu

yang lesbian itu?



Memangnya dia melecehkanmu?

Aku lebih pintar.



Akhir-akhir ini, aku tidak lagi

mengenakan pakaian yang terbuka.



Agar dia tidak tertarik kepadaku.



Benar juga. Dadamu lumayan besar.
Kau cari mati, ya?



Apa salahnya berdada besar? Bukankah

memiliki dada yang besar itu bagus?



Lihat. Dadaku juga besar. Bahkan

lebih besar dibandingkan denganmu.



Memangnya dadamu bisa bergoyang?



Bergoyang?



Hanya begitu saja.

Kau mau mencobanya?



Coba sentuh saja.



Masa hanya begitu? Coba kau pegang.



Tapi janji, ya? Kupegang dadamu,

tapi kau tidak boleh menyentuhku.



Oke. Ayo. Cepat.
Benar-benar bisa bergerak!



Hebat, 'kan?



Pegang erat-erat. Aku akan menambah

kecepatannya.



Wah. Hebat sekali.



Tentu saja.



Yang sebelah kanan lebih dahsyat

lagi. Ayo pegang.



Gunakan kedua tanganmu. Ayo.

Kenapa malu-malu?



Lucu sekali, ya?



Kalau terus digerakkan seperti ini,

nantinya sakit atau tidak?



Tentu saja tidak.

Pegang erat-erat. Sekarang....
Gempa berkekuatan 7 Reichter,

dimulai!



Hebat atau tidak?

Kenapa kau tertawa?



Kau hebat sekali!

Goyang terus. Jangan berhenti.



Sudah. Aku sudah capek. Sudah, ya?

Biar aku beristirahat dulu.



Cepat.



Sekarang giliranmu.



Kau cari mati, ya?



Kontrak itu....



Bukankah sekarang waktunya makan

siang? Santai saja.



Kau berlatih di gym yang mana?

Rekomendasikan kepadaku, ya?
Dasar nakal. Apanya yang digoyang?



Apakah aku bisa mendapat

banyak uang?



Pasti lebih banyak dibandingkan

dengan menjual ikan.



Tapi, kau boleh membicarakannya dulu

dengan keluargamu.



Aku tidak punya keluarga. Ayahku

meninggal sebelum aku lahir.



Tidak lama setelah melahirkan aku,

ibuku sakit dan kemudian meninggal.



Yang benar saja? Menyedihkan sekali.

Kau ingin membuatku menangis?



Bibi menyuruhku datang ke Hongkong.



Tapi katanya, orang Hongkong

biasanya licik.
Di tempat tinggal kami, ada banyak

orang yang tinggal di sana.



Setiap kali aku mandi, pasti ada

yang berusaha mengintipku.



Aku bisa meminta kepada agenmu, agar

menyediakan tempat tinggal untukmu.



Oke. Kenapa kau tidak menjadi

manajerku saja?



Apa?



Tidak ada alasan.



Aku sudah tahu, kau pasti akan

berkata seperti itu. Dasar.



Bukankah akan lebih baik jika A Wei

menjadi manajernya?



Setelah syuting iklan ini, anak itu

pasti terkenal.
Nantinya, kita pasti bisa memperoleh

banyak keuntungan darinya.



Kita hanya perlu mengurusnya....



Tidak usah dilanjutkan.

Kurasa, hal ini tidak mungkin.



Apa yang kau takutkan?



Memangnya kenapa?



Apa?



Kali ini, kau jangan begitu. Oke?



Tidak mau. Kalau begitu.

Apa yang bisa kulakukan?



Yang benar saja. Masa kau suka?



Jangan sembarangan.



Kau yang sembarangan.
Waktu itu, kau yang datang

ke rumahku bersama dengan....



Maaf. Aku ingin tahu, apa yang

sebenarnya kalian bicarakan?



Kami membicarakan... waktu itu....

Bukan. Menurutku dia takut.



Kau tidak usah bicara lagi. Awas,

nanti kubocorkan.



Baiklah. Aku diam.



Kau urus saja dia.



Tidak usah dipikirkan.



Kau tidak akan mengerti tentang

apa yang kami bicarakan.



Kau takut jatuh cinta kepada

gadis itu. Benar, begitu?
Memangnya kau tidak bisa

mengendalikan dirimu sendiri?



Memangnya kau bisa mengendalikannya?



Kenapa tidak bisa?



Kau bisa?



Tentu saja.



Kalau benar-benar tidak bisa,

bagaimana?



Tidak ada....



Alasan?!



Memangnya hanya itu saja bahasa

Inggris yang kau bisa?



Papa. Mau menonton bola lagi, ya?



Aku lupa. Aku sudah menunggunya

semalaman.
Ternyata malam ini tidak ada

pertandingan.



Daya ingatku sudah menurun.



Listrik di rumah mati lagi?



Tidak usah dibicarakan lagi.



Tadi malam, Kroasia berhasil

mengalahkan Jerman.



Aku marah sekali,

sampai TV-ku rusak.



Sepertinya bernafsu sekali.



Bernafsu? Temanmu yang bernama

Patrick itu nafsunya lebih tinggi.



Dari tadi dia berulang kali

melakukannya dengan perempuan itu.



Dia belum pergi?
Sedang di kamar mandi.



Di kamar mandi?



Anak busuk! Keluar! Kau pikir

rumahku ini tempat lokalisasi?



Dasar pelit!



Bahkan mengeluarkan uang untuk

meniduri perempuan saja tidak mau!



Cepat keluar!



Aku akan menelepon A Fen dan

menceritakan seluruh rahasiamu.



Biar dia mencarimu dan menghajarmu!

Sampai kau minta ampun.



Ada apa?



Dia masih kecil. Jangan bertindak

berlebihan. Sudah, ya?
Kau sudah pulang?



Kenapa kau bisa berada di sini?



Temanmu yang membawaku ke sini.



Katanya, malam ini aku harus

menemanimu di sini.



Oh, begitu? Bukan. Maksudku....

Untuk apa aku harus ditemani?



Bukan... Kenapa kau harus

menemaniku?



Katanya, jika aku menemanimu, kau

mau menjadi manajerku.



Agar kau tidak lagi merasa... ragu.



Sebenarnya, aku tidak mengerti apa

maksudnya.



Tapi, aku sering membaca di koran
dan majalah, bahwa...



Dunia hiburan itu sangat menyeramkan

jadi anggap saja aku...



sedang membalas kebaikanmu.



Kau pikir aku selalu meniduri setiap

wanita yang kuorbitkan?



Di sini tertulis bahwa kau adalah

seorang "pemain di belakang layar".



Itu hanya berita murahan.

Kau tidak akan bisa mengerti.



Kenakan bajumu. Malam ini, kau

tidak perlu menemaniku.



Bagaimana dengan besok malam?



Tidak perlu.



Setelah itu?
Kita bicarakan nanti saja.



Kita tidak akan pernah tahu apa saja

yang mungkin terjadi dalam 24 jam.



Jadi, kau mau menjadi manajerku?



Mau menjadi manajermu atau tidak,

aku tidak tahu.



Kau belum juga berganti pakaian.

Awas nanti kalau kau ku "urus".



Cepat.



Baiklah.



Kata temanmu, semua mantanmu dulu

cantik-cantik.



Tapi, kau selalu dibuang.

Dibuang itu maksudnya bagaimana?



Apa?
Dibuang.



Maksudnya, ditinggalkan.



Kau pernah mendengar cerita tentang

menunggu bus?



Cerita apa? Jorok atau tidak?



Bukan.



Sebenarnya, menunggu cinta itu sama

seperti menunggu kendaraan umum.



Kadang, menurut kita terlalu jelek.

Karena jelek, lalu tidak dinaiki.



Kadang kita merasa, karena tidak

ada AC-nya. Aduh panas sekali!



Jadi, kita tidak mau menaikinya.



Lalu, ada lagi lain yang datang.

Aduh, penuh sekali.
Kita tidak mau berdesak-desakan

dengan orang lain.



Kita terus saja menunggu, hingga

hari menjadi gelap.



Kita merasa takut, sehingga begitu

melihat ada kendaraan yang datang...



tanpa terlalu banyak berpikir, kita

segera menaikinya.



Padahal setelah diperhatikan,

ternyata salah jurusan.



Benar. Tapi kita sudah terlanjur

membayar dan membuang banyak waktu.



Kau mau turun dan naik bis ke arah

yang berlawanan?



Tapi, kau juga tidak tahu, kapan

bis itu datang.



Kalau begitu, naik taksi saja.
Mana ada taksi?



Kalau begitu, berjalan saja.

Memangnya kenapa?



Benar. Patah hati itu seperti

sedang berjalan. Mengerti?



Cerita yang seperti itu kau pelajari

dari mana?



Aku membacanya dari sebuah majalah

wanita.



Ada baiknya jika kau juga membacanya

agar kau bisa lebih memahami wanita.



Sehingga kau tidak selalu "dibuang".

Mengerti?



Apa kau pernah salah naik bus?



Dulu aku selalu naik sepeda.

Aku tidak suka naik bus.
Mendengarkan penjelasan A Ru

mengenai teori bus itu, rasanya...



seperti menonton Brasil dikalahkan

oleh Perancis. Jadi, kuputuskan....



Tidak terdaftar.



Memangnya obat demam ini

tidak dijual di Hongkong?



Kata kakak sepupuku memang tidak.



Itu obat yang masih dalam

taraf percobaan.



Tapi bisa dibeli

di rumah sakit pemerintah.



Yang benar saja. Memangnya manjur?

Jangan-jangan justru berbahaya.



Sudahlah, dimakan saja. Apa lagi

yang kau takutkan?
Aku hanya bertanya. Kau tidak perlu

segalak itu.



Dasar. Niat baikku jangan kau

sia-siakan.



Rumahmu lumayan rapi, ya?

Kau punya pembantu?



Kau kenapa? Tidak apa-apa, 'kan?



Tidak apa-apa. Hanya tersedak saja.



Ada sesuatu yang ingin kutunjukkan

kepadamu.



Coba tebak, kau yang mana?

Aku yang mana?



Foto ini sudah lama sekali.

Bagaimana aku bisa mengenalinya?



Lagi pula, tidak ada kaca pembesar.
Coba saja.



Yang ini, kau.



Hebat sekali. Kau bisa mengenalinya.



Tentu saja.



Dulu, sewaktu di sekolah, kau bodoh

sekali. Mengerti?



Kau yang bodoh.



Dan kau jelek sekali.

Mirip sekali dengan Mickey Mouse.



Tidak mungkin. Aku tampan sekali.



Dulu, kau sering membawakan sandwich

untukku. Juga mempermainkan aku.



Katanya, kau mau membawaku ke

Disneyland, untuk melihat Mickey.



Kemudian mengatakan, di Disneyland
ada seekor hiu putih besar...



yang tidak akan mengijinkan anak

perempuan masuk ke sana.



Aku marah sekali, lalu menangis

berhari-hari di rumah.



Kau bahkan ingat apa yang kukatakan?



Tentu saja.



Jangan.



Maafkan aku.



Jangan hari ini.



Aku turun sebentar membeli rokok.

Kau tidak perlu diantar, 'kan?



Lihat. Bagus atau tidak?



Nona, 10 menit yang lalu katanya

kau mau membeli sepatu.
Kalau membeli sepatu, berarti aku

harus membeli baju yang cocok.



Lihat. Bagus atau tidak?



Tidak sekalian membeli topi?



Ada.



Bagus atau tidak?



Kenapa tidak sekalian membeli

pakaian dalam?



Sudah ada.



Tidak usah.



Dalam 10 menit saja kau sudah

membeli semua ini.



Pakaian yang seperti itu tidak

sesuai dengan karaktermu.
Jika ingin membeli, katakan saja

kepadaku. Nanti kubelikan.



Jangan. Bukankah berbelanja adalah

salah satu kenikmatan bagi wanita?



Kalau kau tidak percaya, aku tidak

mau menjadi manajermu.



Baiklah. Aku percaya kepadamu.



Tuan Zhang, apakah make-upnya mau

dicoba?



Baiklah.



Nanti setelah selesai berdandan,

kita tukar pakaiannya.



Kau terlihat seperti angpao.



Untung di Hongkong tidak ada

banteng.



Kalau tidak, kau pasti
diseruduk sampai mati.



Dia manis sekali.



Kabarnya, baru-baru ini kau

menemukan bintang baru lagi.



Apakah dia bintang yang dimaksud?



Tapi, dia terlihat seperti anak

kecil. Lagi pula, terlalu pendek.



Apa dia bisa terkenal?



Apa fans hanya suka yang tinggi saja?

Memangnya mau bermain basket?



Dulu kau juga belum tentu

bisa diterima.



Benar. Kau yang berjasa. Kenapa kau

tidak pernah mencariku lagi?



Sudah putus bukan berarti tidak bisa

berteman.
Aku tidak tahu bagaimana cara

mengubah mantan pacar menjadi teman.



Maaf.



Ternyata kau masaih marah?

Kalau begitu, sudah lah.



Tapi, sepertinya kau juga sudah

berubah.



Berubah semakin menyedihkan,

sehingga sembarangan memungut...



barang murahan untuk dijual.



Bahkan kau saja bisa kuubah menjadi

terkenal. Mau bagaimana lagi?



Kalau aku menjadi dirimu,

aku tidak akan mengorbitkannya.



Biarkan saja dia menguasaimu

seumur hidup.
Kurang ajar.



Kenapa berhenti? Bukan karena

terlalu lelah, 'kan?



Aku marah sekali. Kenapa dia

menyebutku murahan?



Yang penting kau tidak seperti itu.



Menurutmu?



Tentu saja tidak. Kau lugu sekali.



Baiklah. Aku percaya kepadamu.



Apa lagi yang membuatmu marah?



Bukan marah. Aku senang sekali.



Dia bersikap seperti itu,

karena iri kepadaku. Benar, 'kan?



Aku tidak mengerti apa yang kau
maksud.



Kau benar-benar tidak bisa memahami

perasaan wanita.



Bukankah waktu itu kusuruh kau

banyak membaca majalah wanita?



Kau tidak menuruti perkataanku?



Kalau majalah wanita bugil, aku

pasti selalu membacanya.



Bukan yang seperti itu.

Maksudku majalah wanita.



Mana ada pria yang membaca majalah

wanita?



Kau pikir aku punya kelainan?



Apa salahnya belajar? Perhatikan.



Aku ingin belajar bahasa Inggris,

belajar berdandan,...
juga belajar tata busana.



Aku tidak mau menjadi

wanita murahan.



Aku mau menjadi bintang iklan yang

paling terkenal.



Turun dulu. Awas jatuh kalau tidak

berhati-hati.



Baiklah. Ayo berbelanja lagi.



Berbelanja lagi? Nanti kantorku

kehabisan uang.



Jangan terlalu pelit. Bukankah kau

mau membuatku terkenal?



Tentu saja kau harus mengeluarkan

modal.



Jangan mau dianggap murahan.
Tapi, jangan sampai aku mati sebelum

kau terkenal.



Ada perempuan yang ke sini?



Mau kau jelaskan seperti apa juga

tidak ada gunanya.



Sewaktu seorang wanita mau

meninggalkanmu, setidak-tidaknya...



kau harus menjelaskan ribuan alasan,

yang bisa diterimanya.



Untuk meyakinkannya. Kalau tidak,

dia pasti pergi. Mengerti?



Tapi, aku tidak ada hubungan apa-apa

dengan Mei Mei.



Bagus kalau tidak ada. Kalau ada

berarti gawat.



Kau itu temanku atau bukan?
Memangnya kau tidak bisa menghiburku

dengan kata yang enak didengar?



Dia sudah hampir memutuskanmu.

Kau harus bersikap lebih baik.



Baiklah.



Malam ini,

aku mau bersenang-senang.



Aku sudah mempersiapkan obat ini.



Ini obat apa?



Itu koleksi pribadi.



Sebagai teman, sebaiknya cepat kau

keluarkan anggur dari atas lemari.



Ayo kita habiskan. Setelah itu aku

akan segera pergi dari sini.



Jangan harap. Kalau mau,

beli saja sendiri.
Yang itu, kupersiapkan untuk kuminum

bersama pacarku.



Itu, seperti senjata rahasiaku.



Oke. Biar aku saja yang

mengambilnya.



Yang kau alami ini, disebut sebagai

"jalan" kehidupan.



Maksudmu "jalan" menuju ke kematian?



Kau pernah mendengar cerita tentang

kendaraan umum?



Gawat. Aku benar-benar lupa.



Yang pasti, akhirnya,

jangan naik ke bus yang salah.



Kenapa kau memakan mie-ku?



Pada akhirnya nanti, aku pasti
merasa pusing sekali.



Kau tidak perlu memanggilkan

ambulance.



Kau mau menyetir sendiri?



Pada hari pemakamanku, panggil semua

wanita yang pernah tidur denganku.



Pasti ramai sekali.



Mau di Hongkong Coluseum atau

lapangan bola pemerintah?



Jangan. Terlalu murahan.



Repulse Bay saja. Di tepi pantai,

dengan gadis-gadis berbikini.



Pasti luar biasa sekali.



Kenapa rasa mie-nya aneh sekali?



Hebat, 'kan?
Apa Spice Girls juga perlu diundang

untuk menyanyi di sana?



Aku sangat mencintainya!



Dia telah mencampakkan aku.



Aku mau tidur dengannya. Tapi dia

teman sekantorku.



Aku sangat menyayanginya!



Aku....



Kau kenapa?



Sudah lama tidak bermain musik.

Sampai lirik lagu saja, aku lupa.



Aku mual sekali.



Kalau tidak terbiasa makan ganja,

jangan mencobanya. Mengerti?
Memangnya aku makan ganja?



Kau baru saja menghabiskan

semangkuk mie ganja.



Memangnya kau tidak menyadarinya?



Aku tidak mau makan ganja.

Kalau makan, aku bisa pingsan.



Kau jangan menakut-nakutiku.



Mei Mei, kau pernah belajar P3K?

A Wei dalam bahaya.



Dia kenapa?



Gawat sekali keadaannya. Dia tidak

sadar. Jantungnya sudah berhenti.



Cepat selamatkan dia.



Kenapa tidak dibawa ke rumah sakit?



Jangan. Bagaimana kalau
ditangkap polisi?



Aku tidak tahu bagaimana menguras

isi perutnya.



Kalau begitu, ayo kita coba.

Cepat ambil selang. Cepat!



Cepat! Kau sudah sadar? Mana

selangnya?



Ini dia!



Ayo bangun! A Wei!

Bangun!



Kenapa belum sadar juga?



Ayo bangun!



Mulai ada reaksi!



Teruskan!



Kenapa dia bisa seperti itu?
Bukan dia yang salah.

Aku putus dengan A Fen.



Apa?



Dia melihat gelas yang kau pakai.

Dipikirnya aku membawa perempuan.



Kau sudah berusaha menjelaskannya?



Setidak-tidaknya, sudah tidak ada

rasa. Tidak mungkin dilanjutkan.



Aku pantas mati.



Jangan begitu.



Kurasa, di dunia ini hanya kau saja

yang bisa memahamiku.



Anak busuk! Kau pikir aku ini

kelinci percobaanmu?



Mau mempermainkan aku?
Tak kusangka, saat aku pertama kali

mengalami cuci perut secara ilegal.



Bukan. Maksudku, aku hanya merasa

sangat mual.



Ternyata hal itu justru mendekatkan

mereka berdua.



Kenapa?



Aku tidak bisa tidur. Ada banyak hal

yang kupikirkan.



Cepat tidur.



Apakah kau akan menemuinya lagi?



Kenapa?



Aku melakukannya?



Tidak perlu khawatir. Jadwal

bulananku sudah selesai.
Tidak apa-apa.



Pantas aku merasa, luar biasa.

Sangat bersemangat, dan tenang.



Ingat, ya? Kalau dengan orang lain,

kau harus memakai kondom.



Jangan bodoh.

Memangnya ada siapa lagi?



Biasanya pria suka main perempuan.



Bedanya hanya berapa kali dia

melakukannya.



Kalau saja ada obat untuk mengurangi

nafsumu itu.



Nanti aku menjadi impoten.



Bagus. Biar kau tidak banyak main

perempuan dan selalu di sisiku.
Ayo tidur. Besok pagi sekali lagi.



Enak saja.



Kau tidak mau? Bukankah tadi....



Sudah diam. Ayo tidur.



Namanya juga Vivian?



Aku yang mengubah namanya. Tapi,

tidak ada hubungannya denganmu.



Sudah malam. Kau belum pulang?



Ada barang yang ketinggalan.

Aku ingin mengambilnya.



Setelah iklannya beredar, dia pasti

terkenal.



Berarti, kau sukses menjadi

manajernya.



Kali ini hanya coba-coba saja.
Aku tidak bisa menghindar.



Kalau gagal, segalanya pasti

berakhir.



Dan aku akan pindah ke perusahaan

lain.



Kenapa kau selalu berbicara sepedas

itu? Apakah kau membenciku?



Dua-duanya benar.



Menurutmu, aku sangat menyebalkan?



Apakah kau tahu, orang-orang

di perusahaan ini memangilmu apa?



Apa?



"Wanita super berdarah dingin".

"Wanita pembunuh". Dahsyat, ya?



Memang benar. Wajahmu memang selalu

sedemikian mengerikan.
Kuajarkan sebuah ungkapan berbahasa

Inggris kepadamu.



Relax. Kau tahu apa artinya?

Tenang saja.



Terima kasih.



Aku telah berjasa kepadamu. Setidak-

tidaknya, kau harus mentraktirku.



Bukankah sudah pernah?

Bayar sendiri-sendiri saja.



Bayar sendiri-sendiri? Baiklah.

Kau mau minum?



Tunggu sebentar. Biar kucatat

alamatmu.



Kalau tidak, nanti aku salah

mengantar lagi.



Waktu itu, aku hanya sedang tidak
enak badan.



Kali ini, aku yang akan memandangi

jari kakimu.



Kakiku khas kaki orang Hongkong.



Untuk apa kau meneleponku?

Aku sedang sibuk.



Baiklah.



Maaf. Aku ada urusan.



Tidak ada alasan. Aku hanya

bercanda. Lain kali saja.



Kalau begitu, lain kali kutraktir.

Sampai bertemu lagi.



Sampai bertemu lagi.



Memang dasar sial! Sial!

Makan saja sendiri!
Padahal aku ingin membuatnya mabuk.

Lalu membuka roknya.



Naik. Terus naik dan naik lagi.

Lalu....



Santai. Aku pasti ingat.



Jangan harap aku mau membuka pintu!

Dasar.



Kalau mau, lakukan saja di rumahmu!



Ini aku. A Ru.



Hai!



Malam-malam begini.



Aku baru pulang kerja.

Numpang mandi, ya?



Air di hotel mati?



Entah kenapa, dua hari ini aliran
air di hotel kecil sekali.



Sepertinya, mandi di rumahmu lebih

enak.



Akhirnya kau mau membaca majalah

wanita?



Majalah ini bukan milikku. Ayahku

yang meninggalkannya di sini.



Kau tidak pintar berbohong.



Kalau mau mandi, cepat.

Kuberi waktu lima menit.



Aku mandi dulu, ya? Mandi.



Benar-benar tidak takut mati.

Tengah malam berpakaian seperti itu.



Kalau bertemu dengan pemerkosa,

kau pasti dihabisinya.



Hanya dengan satu tangan dia bisa
menarikmu ke tempat yang sepi.



Lalu, menarik pakaianmu dan

menidurkanmu di tanah.



Ada tikus!



Apa? Tikus? Di mana?



Di sana! Besar sekali!



Besar?



Besar sekali!

Tadi lewat di jendela itu.



Hanya lewat saja?

Menakut-nakutiku saja.



Tikus itu mungkin saja kembali lagi.



Mana mungkin?



Kalau begitu, bagaimana aku bisa

mandi?
Tidak usah mandi saja.



Dari 784 hari, kadang pada 357

harinya aku hanya mandi sekali.



Apa? Bau sekali. Coba cium.



Baik-baik saja.



Bagaimana jika kau menemaniku mandi?



Menemanimu mandi?



Nyaman sekali. Enak sekali.



Cepat sedikit!

Sudah selesai atau belum?



Kenapa harus buru-buru?



Hanya duduk di sini. Lama-lama aku

bisa bosan juga.



Kalau membaca pasti tidak akan
merasa bosan.



Apa yang kau baca? Bacakan untukku.



Bagaimana agar lebih....

Bergairah!



Jangan yang itu. Apa yang ada pada

halaman yang setelah itu?



Ayo, baca!



Memberikan 100% kepadanya....

Saat bercinta!



Apa? Kenapa isinya seperti itu?



Memang begitu. Sudah kukatakan, apa

bagusnya majalah yang seperti ini?



Buang-buang uang saja.



Coba kulihat.

Di mana bisa... dengan

lebih maksimal!
Di tempat tidur, satu bintang.

Di lantai, dua bintang.



Di sofa, tiga bintang. Di mobil,

empat bintang. Empat!



Kalau di bak mandi, tebak berapa

bintang? Sudah tahu atau belum?



Tidak perlu memikirkan berapa

bintangnya!



Tolong!



Tolong? Kau yang mengobarkan

gairahku.



Kau harus membantuku memadamkannya

terlebih dahulu.



Jangan.



Akhirnya tidak bisa kutahan lagi.

Aku pun melakukannya.
Entahlah, apakah dia mungkin

berpikir bahwa aku adalah pria...



yang sembarangan.



Apakah kau menyukainya?



Apa?



Kau tidak suka?



Bukan. Aku suka.



Aku.... Ini yang pertama kalinya

bagiku.



Yang benar saja.



Kupikir memang begitu.



Tapi, dulu aku sering naik sepeda.

Jadi, sepertinya sudah tidak lagi.



Hentikan apa yang kau katakan.
Aku tidak bisa mengatakan apa-apa.



Aku percaya kepadamu.



Tapi, aku berharap agar kau menjadi

yang pertama dan terakhir bagiku.



Asalkan aku mau bertanggungjawab

seumur hidup?



Tenang saja.



Sebentar saja sudah mau lagi.

Cium dulu. Aku masih belum pulih.



Ayo makan.



Oke.



Teleponmu berbunyi.



Angkat saja.



Apakah Patrick ada?
Dia sedang di kamar mandi. Maaf, ini

dari siapa, ya?



Cepat sekali.

Kau membelinya di bawah, ya?



Aku memasak sampai berkeringat.

Masa dituduh membeli di bawah?



Ini sup apa?



Sup kubis.



Tadi, ada Mabel yang meneleponmu.

Katanya, jangan lupa ke 97.



Mabel yang mana? Aku tidak terlalu

dekat dengannya.



Tidak usah dipedulikan.



Kalau bertemu dengannya, kau pasti

ingat, dia yang mana.



Jangan bodoh. Aku berjanji,
mau menemanimu menonton DVD.



Kau kenapa?



Kau tahu, apa obat rematik yang

manjur?



Yang benar saja. Asal kau memakai

viagra, kau tidak akan merasa capek.



Mau bagaimana lagi? Setiap malam aku

harus menemaninya mandi.



Menyedihkan sekali, ya?



Kau beruntung sekali.



Hingga sekarang aku belum pernah

mencoba gadis yang seperti itu.



Kuberitahu, ya? Wajahmu terlihat

lesu, sobat.



Benar. Mungkin karena akhir-akhir

ini aku jarang "beraksi".
Sejak bersama A Mei, aku menjadi

lebih alim.



Tidak mungkin. Cepat atau lambat

kau pasti mencari wanita lain.



Setiap malam selalu begitu.



Entah kenapa, sepertinya aku sudah

tidak terlalu bersemangat.



Kau mau menikah?



Benar. Sejak bersama A Mei, aku

tidak ingin bersama yang lain.



Bagaimana dengan kondom yang

kugunakan untuk bermain di luar?



Apa salahnya bersama A Mei?



Benar. Sewaktu bersama A Mei,

sepertinya berbeda.
Apakah beru-baru ini A Mei

memberikan sup atau obat?



Dua-duanya.



Sepertinya kau sudah berada di bawah

pengaruhnya.



Yang benar saja. Pengaruh apa?



Gairah menurun, semangat menurun,

kegembiraan menurun,...



Hal yang positif menurun, kau

seperti terkena impotensi.



Tidak mungkin disembuhkan.



Seperti terkena impotensi?



Malam begini kau belum pulang?

Memangnya malam ini ada pemotretan?



Bukan. Aku hanya merasa ada yang

kurang.
Jadi, besok rapat dulu, setelah itu

baru memotret.



Perlu bantuan?



Aku sempat mengambil mata kuliah

kesenian.



Hebat. Kenapa tidak dilanjutkan?



Aku tidak menyukai dosennya. Aku

ingin sekali menghajarnya.



Dia mau meniduriku.



Sudah seharusnya begitu. Maksudku,

sudah seharusnya kau menghajarnya.



Bagaimana caranya?



Asal saja. Maksudku, tidak perlu

terlalu berpola.



Agar terlihat lebih alami, jadi
dipulas sembarangan saja.



Di antara pria-pria yang kukenal,

kau adalah yang paling....



Paling apa?



Paling biasa-biasa saja.

Kira-kira begitu.



Maksudnya baik atau tidak?



Tidak ada yang buruk. Hanya sulit

untuk dipuaskan.



Berikan alamatmu dulu kepadaku.



Malam ini, aku tidak ingin pulang.



Ada orang aneh yang menungguku.

Aku tidak mau menemuinya.



Penagih hutang?

Aku hanya bercanda.
Ada juga orang yang begitu kepadamu?



Memangnya aku kenapa? Katakan.



Di antara wanita yang kukenal, kau

yang paling....



paling tidak seperti wanita biasa.



Tidak seperti wanita biasa

bagaimana?



Kau tidak seperti pria, juga tida

seperti wanita.



Aku tidak mengerti.



Kau lesbian, ya?



Lesbian? Kau pikir aku lesbian?



Memangnya tidak?



Kata siapa?
Semua orang di kantor berpikir

begitu.



Dan kau percaya? Untungnya aku hanya

digosipkan lesbian.



Kalau digosipkan terkena AIDS,

bagaimana?



Tidak mungkin. Kalau ada, mungkin

Patrick yang mengalaminya.



Selama ini kau pikir aku lesbian,

sehingga selalu menentangku. Begitu?



Bukan.



Begitu, 'kan?



Aku bisa melihat, sejak pertama

bertemu, kau selalu menentangku.



Bukankah begitu?



Jangan menuduhku.
Kau pikir aku lesbian, sehingga

kau takut melihatku.



Dan takut berbicara denganku. Jadi,

hanya berani menyentuh kakiku.



Begitu, 'kan?



Aku takut.

Tapi bukan takut kepadamu.



Jadi, takut apa?



Aku takut, kalau aku sudah tidak

tahan lagi.



Kalau begitu, tidak usah ditahan.



Papa.



Apa?



Lihat yang nomor enam. Gerakan

kakinya hebat sekali.
Apakah kau pernah menjalin hubungan

dengan dua wanita sekaligus?



Di tempat tidur yang sama?



Tentu saja bukan di tempat tidur

yang sama.



Maksudku, pada saat yang sama

menyukai dua orang wanita.



Itu hanya masalah kecil. Tentu saja

pernah. Apa hebatnya?



Apakah mama tahu?



Aku tidak tahu. Mungkin dia

berpura-pura tidak tahu.



Masa?



Bagaimana dia bisa tahu tentang

wanita itu?
Memangnya hanya satu? Bukankah tadi

kau mengatakan dua?



Dua?



Benar.



Ada dua wanita dan mama tidak

termasuk di dalamnya?



Belum.



Apakah mereka yang memutuskan papa,

atau papa yang memutuskan mereka?



Tidak bisa dianggap putus.

Kalau begitu, hanya dijalani saja.



Lama-lama juga tersingkir dengan

sendirinya.



Tersingkir bagaimana?



Kalau di sepakbola, perumpamaannya

seperti untuk bisa menghasilkan...
gol, kita tidak mungkin bermain

dengan menggunakan dua bola.



Mengerti atau tidak?



Dua bola?



Kau bodoh sekali.



Lain kali, kau tidak perlu

menemaniku menonton bola lagi.



Oh, iya. Arloji yang kau belikan

dulu, sudah rusak.



Tolong direparasi, ya?



Baiklah.



Dua buah bola... Dengan sendirinya

tersingkir.



Aku hanya datang untuk mengambil

barang.
Sudah dibereskan?



Barang-barang yang kutinggalkan,

nanti dibuang saja, ya?



Berikan tas yang di atas kursi itu

kepada Patrick.



Isinya hanya barang seperti kartu

ulang tahun, foto dan lain-lain.



Kau juga boleh membuangnya.



Kuncinya kutinggalkan di atas meja.



Kunci pintunya rusak. Sebaiknya

kau ganti saja, agar lebih aman.



Tidak perlu. Bukankah sebentar lagi

sewanya habis?



Kami sedang mencari tempat tinggal

yang baru.
Kami ingin membeli rumah.



Tidak perlu terburu-buru. Dia selalu

kesulitan dalam mengambil keputusan.



Kau suka bunga hias? Bukankah dia

alergi?



Benar juga.



Pakaiannya ada yang masih ada

di binatu.



Tolong kau ambil, ya?



Tenang saja. Nanti kuambil.



Tidak usah membuang-buang waktu

bersamanya.



Dia tidak akan mungkin berubah.



Aku tidak bermaksud

untuk mengubahnya.
Asalkan kami bisa berbahagia

bersama, itu sudah cukup.



Awalnya, aku juga berpikir begitu.

Tapi, terbukti. Tidak berhasil.



Selama ini, aku hanya menipu

diriku sendiri.



Mei Mei.



Mei Mei tidak datang.

Dia mengambil cuti panjang.



Sejak kapan dia cuti?



Tidak tahu. Dia berlibur selama

dua minggu.



Katanya, mau bepergian.



Bepergian?



Rumahku, atau rumahmu?
Terserah. Tapi, aku tidak mau

memakai kondom.



Tidak memakai kondom? Kita harus

mengutamakan keselamatan.



Aku sehat. Aku bersih.



Kau bersih? Yang benar saja.



Memangnya kau baru sekali ini

melakukannya?



Ayo lah.



Lupakan saja. Sampai jumpa.



Sudah kukatakan berkali-kali.



Jangan sembarangan menggantinya

menjadi roket. Apalagi menjadi pena!



Seperti tidak ada ide baru saja.

Ulangi lagi.
Bagaimana jika kita makan bersama?



Di mana? Kapan?



Jam satu tepat. Di tempatku.



Aku sudah mandi. Kau sendiri saja.



Ayo, kutemani mandi, ya?



Jangan membuang-buang air.



Kau duduk di sini saja.

Aku takut kepada tikus.



Tapi, ada banyak hal yang harus

kuselesaikan.



Dikerjakan sambil mandi saja.



Yang benar saja.

Apa harus seperti ini?



Punya viagra atau tidak?

Kuborong semua.
Cepat. Berikan diskon kepadaku, ya?



Benny, ini kembaliannya. Kalau ada

yang baru, aku akan menghubungimu.



Baiklah.



Tuan, kau mau membeli apa?



Ada obat sakit kepala atau tidak?

Tidak, ya? Tidak apa-apa.



Terima kasih.



Ada.



Kau mau membeli viagra, ya?



Semua pembeli yang berkaca mata

hitam selalu begitu.



Sebenarnya, aku... pamanku. Dia....



Sudah lah. Semuanya juga
seperti itu.



Nona, sakit sekali! Aku bukan

menyuruhmu mencabutnya.



Boleh lebih lembut sedikit

atau tidak?



Kau sedang tidak enak badan?



Biarkan aku beristirahat sebentar.

Nanti kutambah tipsnya.



Bagaimana jika kupulas dengan

minyak? Kau pasti lebih ganas.



Tadi, aku sudah makan obat.



Begini saja. Biar kuperiksa

denyut nadimu.



Memanggnya kau pernah

menjadi perawat?



Selama tiga generasi, keluargaku
selalu menjadi ahli pengobatan.



Hebat sekali.



Angkat kepalamu. Julurkan lidahmu.

Lagi. Keluarkan lagi.



Bagus. Angkat kedua tanganmu.

Lebih tinggi lagi.



Kau benar-benar bisa atau tidak?



Tegakkan pinggang. Sakit, ya?

Kasihan sekali.



Bagaimana?



Kau mengalami impotensi.



Kau yang mengalami impotensi.

Aku masih muda. Tubuhku sehat.



Kenapa kau menuduhku terkena

impotensi? Jangan bercanda.
Mana bonnya? Terima kasih.



Aku mau menikah.



Apa?



Aku tidak mengatakan apa-apa.



Aku yang mengatakannya.

Aku mau menikah.



Papa mabuk, ya?



Akhir-akhir ini aku merasa kesepian.

Aku ingin punya istri.



Om, kalau kesepian, katakan saja

kepadaku.



Kubelikan boneka tiup saja, ya?



Maksudku bukan begitu.



Meskipun sudah tua, tapi kemampuan

seksualku masih normal.
Kenapa papa tiba-tiba mau menikah?

Siapa yang mau menikahi papa?



Zhen yang menjual buah di lantai

bawah apartemenku itu.



Zhen yang menjual buah? Seperti apa?

Aku belum pernah bertemu dengannya.



Apa hubungan antara kau,

dengan pernikahan kami?



Bulan depan kami akan merayakannya.

Nanti kuperkenalkan kepadanya.



Kenapa kalian tidak mencobanya?

Wanita suka sekali menikah.



Aku tidak perlu membuang-buang

banyak uang.



Selain itu, om juga bisa

melakukannya kapan saja om mau.
Pria memang sudah seharusnya

menikah.



Anak muda seperti kalian memang

belum bisa memahaminya.



Kalian belum pernah mengalaminya.



Aku pulang! Papamu datang, ya?

Apa kabar?



Kangen atau tidak?



Tentu saja.



Bukankah dia adalah wanita yang

waktu itu kau bawa?



Om, kuberitahu, ya?



Urusan anak muda seperti ini,

om pasti tidak akan bisa mengerti.



Aku benar-benar tidak bisa

memahami kalian.
Bagaimana bisa dua orang sahabat,

dengan satu wanita....



Bukan. Papa, aku....



Sudahlah. Biar aku saja yang

memperkenalkannya saja. Oke?



Kutemani om minum di luar.

Jangan mengganggu mereka. Oke?



Naik pesawat dalam jangka waktu yang

panjang, memang melelahkan.



Kusiapkan air untukmu.



Untung Thomas mengobrol denganku,

sehingga aku tidak bosan.



Tom?



Thomas. Dia duduk di sebelahku.

Dia... ramah. Juga baik sekali.
Apakah dia berusaha mendekatimu?



Bukan begitu!



Katanya, aku mirip dengan istrinya

yang meninggal 20 tahun yang lalu.



Orang-orang seperti itu suka

berbohong. Jangan dipercaya.



Dia juga mengerti astronomi,

geografi, sejarah.



Pokoknya, dia tahu semuanya.

Menurutmu, apa pekerjaannya?



Germo.



Bukan.



Dia pengusaha minyak yang sangat

kaya.



Petugas pom bensin?
Itu pasti telepon darinya.

Dia berjanji akan meneleponku.



Halo. Thomas. Ternyata benar-benar

kau yang menelepon.



Aku sedang di rumah manajerku.



Manajer?



Benar.



Kusiapkan air untukmu, ya?



Baiklah. Besok saja, ya?



Sepertinya ada tikus yang masuk.

Dia bisa berubah secepat ini. Dasar.



Moon, ada bunga untuk nona Wu.



Terima kasih.



Sama-sama.
Moon, ada obat sakit gigi?



Apa?



Coba tanyakan kepada yang lain.



Apa yang kau lakukan?



Bunganya bagus sekali.



Kau cemburu karena ada yang

mendekati aku?



Benar.



Dia sudah punya istri.



Pak Wei, ada obat untuk mengatasi

nyeri. Mau atau tidak?



Nanti kita bicarakan lagi.

Moon, buang saja bunganya.



Bos, ke mana kak Mei?
Kenapa?



Tidak apa-apa.



Tapi, sebelum cuti, dia menyuruhku

memindahkan foto ke komputer.



Dan besok, aku akan bepergian.



Berikan saja kepadaku.



Terima kasih bos.



Waktu itu kau sering membawakan

sandwich untukku.



Juga mempermainkan aku.



Katanya, kau mau mengajakku ke

Disneyland untuk bertemu Mickey.



Tapi kemudian mengatakan ada hiu

putih yang besar.



Yang tidak memperbolehkan anak
perempuan masuk ke sana.



Halo.



Kenapa tidak memberitahukan kepadaku

bahwa kau mau mengambil cuti?



Dua minggu ini, kau ke mana saja?



Segelas air saja. Terima kasih.



Mendadak aku harus pergi ke Amerika.



Kau bisa meneleponku, 'kan?



Apakah kau pernah berpikir,

apa yang kau sukai dariku?



Aku... tubuhmu seksi. Kau baik

sekali. Kau selalu baik kepadaku.



Kau sayang kepadaku. Kau....



Memangnya A Fen tidak baik?
Dia berbeda denganmu. Kau kenapa?

Sebenarnya, apa yang terjadi?



Patrick, apakah kau mengerti?



Dua orang tidak hanya dipersatukan

dalam satu malam saja.



Seumur hidup. Dan tidak sesederhana

yang kau pikirkan.



Aku mengerti. Dulu, aku...

Menurutku, dulu aku salah.



Tapi sekarang....



Aku sudah menikah dengan kakak

sepupuku di Amerika.



Dia sudah melamarku sejak dulu.

Aku sudah memikirkannya baik-baik.



Kurasa, dia pasti bisa

membahagiakan aku.
Halo. Benar. Oke.

Baiklah. Sampai nanti.



Dia orangnya?

Selamat.



Terima kasih.



Istriku, aku sudah mau

perjalanan pulang.



Anak-anak sudah tidur? Oke.



Kak, aku bisa pulang sendiri.

Terima kasih, ya?



Kau tidak apa-apa?



Baiklah. Hubungi aku, ya?

Sampai bertemu lagi.



Mei Mei.



Orang itu, aku tidak

peduli siapa dia.
Aku yakin jika kau sebenarnya tidak

menikah dengannya.



Kenapa kau menipuku? Katakan!



Lepaskan! Aku tidak mau

bertengkar denganmu.



Aku tidak mengerti.

Mengapa kau menipuku?



Maksudku bukan begitu.



Jelaskan kepadaku.



Aku tidak mau seperti A Fen.



Aku pasti berubah.



Bagaimana caranya? Jika berubah,

apakah kau merasa bahagia?



Jika bersamaku, kau tidak bisa

bersama dengan wanita lain.
Tanyakan kepada dirimu sendiri.

Bisa atau tidak?



Tapi, aku sangat membutuhkanmu.

Kenapa tidak boleh?



Selama dua minggu ini aku tidak

berada di sampingmu.



A Fen sudah bersamamu selama lima

tahun. Kau bisa putus dengannya.



Jangan terlalu egois. Oke?



Aku ingin tetap berteman denganmu.

Aku menyukai kebersamaan kita.



Aku pergi sendiri ke Amerika, untuk

berkunjung ke Disneyland.



Ternyata tidak seperti yang

kubayangkan. Sama seperti manusia.



Sudah kupikirkan baik-baik. Setelah
memutuskannya, baru aku menemuimu.



Sudah malam baru pulang.



Daripada menantang bahaya,

sebaiknya tidak usah ke sini.



Mau numpang mandi, ya? Mandi saja

dengan bensin.



Jadi, kau tidak perlu memakai sabun.



Apakah tuan Zhang Shu Wei ada?



Ada.



Apa kabar tuan Zhang?

Namaku Michael. Dari ICN Manajemen.



Perusahaan manajemen? Aku pasti

meminta gaji yang tinggi.



Bukan. Aku ingin menyewa nona Ru.



Berarti mau merebut modelku?
Maksudnya bukan begitu.

Kita bisa bekerjasama.



Dia tidak akan dirugikan. Dia bisa

lebih terkenal lagi.



Kami ingin membuat film mengenai

kondom.



Aku sudah tidak tahan lagi. Berhenti

sebentar. Aku capek sekali.



Memangnya kenapa?



Lihat saja. Hanya berjalan beberapa

langkah saja, sudah kehabisan nafas.



Beberapa langkah? Kita sudah

berjalan jauh sekali.



Papa coba saja mengangkatnya.



Kau lemah sekali. Mana ada wanita

yang mau denganmu?
Pantas tidak pernah tahan lama.



Lihat. Papa bahkan lebih hebat

dibandingkan denganmu.



Apanya yang hebat? Dasar.



Apa ini? Hanya pakaian anak-anak

saja. Ayo.



Jika dibeli sekarang, kalau anaknya

sudah lahir, nanti bisa dipakai.



Kenapa? Ternyata papa menikah karena

dia sudah hamil?



Apa? Kau pikir aku hanya main-main?

Aku akan menjadi ayah.



Kalau sudah hamil pestanya tidak

usah dibesar-besarkan.



Waktu itu aku menikah dengan mamamu

karena ada kau.
Aku yang memproduksi anak, nanti kau

yang mengurusnya.



Kau tahu? Membesarkanmu itu bukan

hal yang mudah.



Lebih baik anak laki-laki atau

anak perempuan?



Tapi, bagaimana nanti jika dibawa

pergi orang, lalu dipermainkan?



Papa, aku ada urusan penting.

Lanjutkan sendiri saja, ya?



Aku pergi dulu.



Kau mau ke mana?



Mengejar pacarku.



Kalau mengejar pacar kau bisa

secepat itu.
Kelewatan.... Berhenti di sini saja.



Kenapa kemarin kau tidak

mengangkat teleponku?



Apa aku harus selalu menjawabnya?



Kau bisa lebih hormat kepadaku atau

tidak?



Sudah kubilang, aku tidak mungkin

bercerai dengannya.



Aku sudah capek.



Tapi sejak awal kau juga tahu.



Bukankah kau mengatakan dulu tidak

akan pernah berubah?



Apa kau punya pacar baru?



Pergi sana! Aku bisa pulang sendiri.



Kau tidak perlu menemuiku lagi.
Kebetulan sekali.



Kenapa kau berada di sini?



Benar. Kenapa aku bisa di sini?



Kau mengikuti aku?



Tadi, apa saja yang kau lihat?



Aku melihat burung yang terbang.

Lalu, matahari terbit.



Begitu membalikkan badan, aku sudah

melihatmu.



Aku seperti pihak ketiga, ya?

Sepertinya ada yang salah.



Kau yang ketiga. Aku keempat.

Cinta bisa serumit ini, ya?



Tidak selalu seperti yang kita

harapkan.
Apakah kau pernah mendengar cerita

tentang menunggu bus?



Seperti apa?



Berikan kepadaku kesempatan untuk

berpikir dulu.



Kau sedang menunggu bus. Bus yang

pertama datang, tapi penuh.



Jadi, kau tidak mau naik.

Benar, 'Kan?



Jadi, menunggu yang berikutnya.



Sewaktu bus yang berikutnya datang,

busnya jelek sekali.



Jadi, kau masih menunggu bus yang

berikutnya.



Sewaktu bus yang ketiga datang,

tidak ada AC-nya.
Hari sedemikian panas, sehingga kau

tidak mau menaikinya.



Saat bus yang keempat datang....



Tapi, sebenarnya itu tidak terlalu

penting.



Yang terpenting adalah kau tetap

harus menaikinya.



Yang mana saja, tapi jangan salah

memilih jalur yang salah.



Apa maksudmu?



Aku tidak mengerti, apa yang

kukatakan.



Tapi, menurutku, mau bagaimana lagi

jika naik bus yang salah.



Semua itu tergantung pilihanmu

sendiri.
Aku telah mengatakan kepadanya,

bahwa aku memilihmu.



Apakah berarti aku menaiki bus yang

salah?



Sebentar....



Kenapa?



Aku mau minum anggur.



Kau tidak menginginkan aku?



Aku....



Bukan.



Kau suruh perusahaan lain mengirimku

bekerja selama setahun di Jepang?



Kupikir, kau bisa belajar banyak

di Jepang. Dan menghasilkan....
Menghasilkan banyak uang.



Aku tidak mau uang!

Aku tidak mau pergi ke mana-mana.



Aku hanya ingin bersamamu. Kau sudah

berjanji akan selalu bersamaku.



Maaf.



Aku salah karena telah

mempercayaimu.



A Ru!



Vivian, tolong ambilkan obat dan

kapas di kamarku.



Aku menginjak kaca.



Aku pihak ketiga, bukan pembantu.

Kalau mau, ambil saja sendiri.



Ternyata pihak kelimanya juga ada.
Aneh sekali.



Keluar!



Ternyata, hal yang menyakitkan bagi

manusia, bukan darah yang mengalir.



Tapi, ada darah yang mengalir dan

tidak tahu bagaimana menghentikannya.



Kita tidak bisa menghentikannya,

karena kita terlalu banyak berharap.



Siapa sangka, segalanya terjadi

sedemikian cepat dan tak terkendali.



Mungkin karena kita terlalu cepat

berlalu.



Sedemikian cepatnya, sehingga kita

tidak mampu mengejarnya.



Sedemikian cepatnya sehingga tidak

punya keberanian untuk kembali...
untuk dapat menggunakan segenap

perasaan untuk mengulanginya lagi.



Ternyata kehidupan ini sedemikian

rapuhnya.



Untuk dapat menyembuhkan luka itu,

di masa kini, kita hanya punya...



satu pilihan.



Yaitu dengan membeli asuransi BIB,

sebagai perlindungan kehidupan.



Hari terakhir bekerja?



Setelah ini, masih ada banyak hal

yang harus kuselesaikan.



Pantas, tadi kau tidak melihatku

melakukan presentasi.



Omong-omong, waktu kau berakting,

kupikir kau sepertinya.
Kenapa? Kau pikir aku sedang

berbohong?



Entahlah. Rasanya berbeda.



Apakah A Ru benar-benar mau pergi

ke Jepang?



Benar.



A Wei, kenapa kau tidak menahannya?



Aku ingin bersamamu.

Masalahnya, kau mau atau tidak?



Bukankah sudah kukatakan, tidak usah

membicarakannya.



Aku telah berjanji kepada diriku

sendiri, aku tidak boleh menangis.



Memangnya bisa?



Dulu, teman-teman memanggilmu....

Cengeng!
Kau cari mati, ya?



Aduh, sakit sekali.



Kau bisa sakit juga? Kenapa selalu

menyakiti perasaan orang lain?



Kalau tidak ada yang mau menikahimu,

jangan mencariku lagi.



Rasakan!



Bangun. Kau tidak mau mencari A Ru?



Kalau dia terbang ke Jepang, berarti

kau dicampakkan lagi.



Menurutku, kau lebih cocok dengan

Vivian.



Dia lebih tinggi, gaji lebih tinggi,

semuanya serba tinggi.



Kau seperti mau kabur.
Kau memang selalu saja menghindar.



Menurutmu....



Diam! Jangan bicara dan jangan

menangis.



Pulang dan kerjakan Pe-ermu!



Kenapa?



Kau mau ke mana?



Mau bepergian.



Bepergian ke mana?



Belum tahu.



Kau tidak ke kantor selama seminggu.

Sudah tujuh hari.



Tuhan menciptakan dunia hanya dalam

tujuh hari.
Dan dalam tujuh hari, kau belum bisa

memutuskan mau pergi ke mana?



Aku mau ke bandara dulu, baru

memikirkannya.



Apakah kau memutuskan mau pergi

ke mana setelah menyetir?



Ke restoran dulu baru memutuskan

mau makan apa?



Ke gereja dulu dan baru memutuskan

mau menikahi siapa?



Kira-kira begitu. Kecuali dalam hal

menikah.



Kalau... aku mau menikahi, apa kau

memutuskannya selama 7 tahun?



Kuberi 7 detik untuk memikirkannya.

1, 2, 3, 4, 5, 6, 7.



Maaf.
Kurasa, aku bukan bus yang ingin

kau naiki.



Aku hanya mengatakan seumpama.



Aku datang untuk mengatakan, kurasa

bus yang kupilih tidak salah.



Sayangnya, bus itu terlalu penuh.

Aku terlalu terburu-buru.



Seumur hidup aku tidak akan

melupakan Vivian.



Karena dia adalah wanita pertama

yang kucampakkan.



Tapi, ternyata dicampakkan dengan

mencampakkan rasanya sama saja.



Seperti makan cabai atau wasabi,

yang membuat kita selalu menangis.



Kita lanjutkan dengan wawancara
bersama model iklan baru, Ya Ru.



Xiao Ru, kabarnya tidak lama lagi

kau akan meninggalkan Hongkong.



Pak, maaf. Suaranya boleh

dibesarkan?



Apakah ada seseorang yang membuatmu

merasa enggan pergi?



Ada. Dia telah mengubah kehidupanku.



Sebenarnya, tidak banyak yang bisa

kuceritakan.



Karena aku ingin belajar untuk

melupakannya.



1:28:33 Lirik lagu:

Tidak akan kutanyakan kepadamu,

mengapa menangis.



Aku tak peduli siapa yang berada

di dalam hatimu.
Kau biarkan aku memberikan

ketenangan untukmu.



Meskipun akhirnya menyedihkan.



Meskipun telah mengarungi ribuan

gunung dan lautan.



Di dalam hatiku, kau selalu menjadi

yang terindah.



Karena cinta, aku tak menyesalinya.



Aku bersedia mendampingimu melalui

berbagai kepahitan.



Cintaku bagaikan ombak.



Cintaku bagaikan ombak yang menuju

kepadamu.



Senantiasa mengikuti.



Cintaku bagaikan ombak yang selalu
merengkuh kita berdua.



Aku tak ingin melihatmu berduka

di malam hari.



Aku tak rela jika ada pria lain

bersamamu.



Kau tahu, dengan begitu, kau dapat

menghancurkan hatiku.



Berjanjilah, sejak saat ini kau

tidak akan keluyuran di malam hari.



Tidak hanya sekedar

mengumbar nafsumu.



Kau tahu, dengan begitu, kau dapat

menghancurkan hatiku.



Halo, sudah check out?



Maaf, aku tidak bisa

pergi ke Jepang.
Kau mencariku?



Pada situasi seperti ini, jika kau

menjadi aku....



apakah kau akan mengakuinya?



Benar. Aku tidak ingin kehilangan

kau. Menikahlah denganku.



Agar kita bisa selalu bersama

seumur hidup.



Sebentar. Sepertinya ada yang salah.



Setelah mengalami sedemikian banyak

sakit hati, aku tidak mungkin...



bersikap sedemikian impulsif.



Jika dipikir-pikir, apakah aku

benar-benar siap berkomitmen...



atau sebaiknya aku mengaburkannya

kembali?
Kau mencariku?



Benar.



Aku tidak tenang jika kau pergi

sendiri ke Jepang.



Jadi, aku mau menemanimu pergi.



Meskipun tidak ada yang tahu, apa

yang akan terjadi, tapi aku...



pasti tetap akan mencintaimu.



Lihat! Dengan berbicara seperti itu,

dia juga sudah merasa senang sekali.



Karena, komitmen cinta itu tidak

boleh sembarangan diucapkan.



Salah sedikit saja, kehidupanmu

pasti berubah.



A Ru tidak menikah denganku.
Setelah menjadi ratu iklan Jepang,

dan banyak digemari di sana,...



meskipun kami jarang bertemu, tapi

kadang masih sempat mandi bersama.



Setelah Patrick dan A Mei berpisah,

ia kembali menikmati kehidupannya.



Siapa sangka, suatu malam, dia

sangat pusing, sehingga terbaring...



di jalanan selama 3 jam, tanpa ada

orang yang mempedulikannya.



Kemudian ia ditemukan oleh penyapu

jalanan yang memanggilkan...



ambulance yang membawanya

ke rumah sakit.



Terbukti, dia terkena impotensi.

Bukan. Maksudnya, penyakit ginjal.
Setelah sembuh, dia berubah menjadi

orang yang benar-benar berbeda.



Bahkan kemudian menikah dan punya

anak.



Tentunya, dengan wanita yang punya

99,9% kesamaan dengan A Fen...



Yang bernama A Fen. Dia seperti

terkena karma.



Sudah kubilang, tunggu aku di sini.

Mengurus anak saja tidak bisa!



Maaf.



Pegang, ini. Cepat sedikit!

Kenapa pelan sekali?!



Benar-benar tidak berguna. Dasar.



Tapi, setiap kali ia menggendong

simpanannya... bukan! Puterinya.
Ia terlihat senang sekali.



Sementara A Mei yang penuh cinta,

tetap mengembangkan cintanya.



Tapi, bukan untuk pria. Ia membuka

sebuah toko mainan anak-anak.



Wanita pengusaha ini, masih tetap

menanti kehadiran Mickey Mouse-nya.



Sementara Vivian.... Anda semua bisa

menyaksikannya....



Entah, apakah karena kucampakkan,

kemudian menghilang selama 2 tahun.



Ternyata ke Amerika dan membuka

galeri lukisan modern di Soho,...



New York, yang bernama Relax.



Ia menjadi seorang pelukis.

Harga lukisannya mahal sekali.
Tapi, meskipun kulihat dari sisi

yang mana pun juga, menurutku...



lukisannya kaku sekali.



Aku menggerti, istriku. Iya. Setelah

menonton bola, aku akan menjemputmu.



Menjemputmu, bukan menjambakmu.

Mana berani aku menjambakmu?



Papa, mau ke lapangan sepak bola

bersamaku?



Sudah berapa kali kukatakan, aku

ini kakakmu.



Papamu adalah yang itu.

Yaitu ayahku.



Biarkan saja.

Tidak perlu dijelaskan.



Kau yang memberinya makan. Kau saja

yang menjadi papanya.
Bukankah kita tetap sekeluarga?



Iklan terbaru A Ru.



Dia terkenal sekali di Jepang.



Pasti lebih terkenal dibandingkan

denganmu.



Memangnya tidak boleh? Apa bisa

membuatku ditangkap polisi?



Bisa saja.



Nak, perhatikan kakak yang itu.



Kalau bertemu dengannya, panggil

dia mama. Kau pasti beruntung.



Benar. Sampai bertemu lagi.



Kau berbicara dengan bahasa

Perancis? Kau berpacaran dengan sana?
Tidak usah ikut campur. Ini bukan

urusanmu.



Pertandingan segera dimulai. Apakah

Perancis dapat memenangkannya?



Papa, ternyata aku lebih suka

bermain di kolam bola, ...



dibandingkan dengan sepak bola.



Memangnya kau mampu bermain dengan

bola sebanyak itu?



Bagus!



Ternyata, menjadi manusia itu mirip

dengan bermain sepak bola.



Kita harus selalu memenangkannya!

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Stats:
views:7
posted:6/15/2012
language:
pages:170
Description: Subtitle for a Hong Kong movie titled "Your Place Or Mine", 1998, in Indonesian Language.