Tokoh Dewa by Thovani

VIEWS: 218 PAGES: 59

									Tokoh Dewa
Sumber tulisan dan gambar dari :

   1. Buku “Rupa & Karakter Wayang Purwa” oleh Heru S. Sudjarwo, Sumari dan Undung
      Wiyono, penerbit Kakilangit Kencana cetakan ke-1 Mei 2010
   2. Buku “Sedjarah Wajang Purwa” oleh Pak Hardjowirogo penerbit PN Balai ustaka
      Cetakan ke-5 tahun 1968
   3. Website Senawangi
   4. Website Wayang Indonesia
   5. Dan dari sumber-sumber lainnya

                      Sebut
Nama                        Deskripsi Singkat                         Link Referensi
                      an
                            ANTABOGA, HYANGsemasa muda
                            bernama Nagasesa. Ia juga sering disebut
                            dengan nama Hanantaboga, putra Antanaga
                            dengan Dewi Wasu, putri Hyang
                            Anantaswara, dan merupakan keturunan ke
   Antaboga                 empat Sanghyang Wenang dengan Dewi
                            Sayati.Antaboga menikah dengan Dewi
                            Supreti, dan mempunyai dua orang anak,
                            bernama Dewi Nagagini dan Nagatatmala.
                            Walaupun menyandang nama ’naga’ tetapi
                                                                          Bathara
                            Nagagini dan Nagatatmala berwujud
                                                                            Anantabo
                            manusia.Nagagini menikah dengan Bima
                                                                            ga
                            dan mempunyai seorang anak bernama
                                                                            mbiyantu
                            Antareja.
                                                                            Pandhawa
                                                                            oncat saka
                            Dalam keadaan biasa Sanghyang Antaboga
                      Sang                                                  Bale
                            berwujud manusia, tetapi dalam keadaan
                      Hyang                                                 Sigalagala
                            triwikrama, tubuhnya berubah menjadi ular
                                                                          Antaboga
                            naga raksasa. Setiap 1000 tahun sekali,
                                                                          Sang
                            Sanghyang Antaboga mlungsungi’ berganti
                                                                            Hyang
                            kulit’.
                                                                            Anantabo
                                                                            ga
                            Ia juga memiliki Aji Kawastrawan, yang
                            membuatnya dapat menjelma menjadi apa
                            saja, sesuai dengan yang dikehendakinya.
                            Antara lain ia pernah menjelma menjadi
                            garangan putih (semacam musang hutan)
                            yang menyelamatkan Pandawa dan Kunti
                            dari amukan api pada peristiwa Bale
                            Sigala-gala.

                              (Rupa & Karakter Wayang Purwa oleh
                              Heru S. Sudjarwo)
    Asmara            Sang    SANGHYANG ASMARA adalah Dewa                  Asmara
        Hyang Kasih Sayang yang diberi tugas untuk          Silsilah
              mendamaikan suami-istri yang menghadapi        Dewa
              hidup jauh dari kebahagiaan, sehingga
              menjadi suatu pasangan yang penuh dengan
              cinta kasih, kesetiaan dan ketentraman
              hidup penuh bahagia. Ia berparas sangat
              tampan dan tingkah lakunya sangat
              menarik.

              Sanghyang Asmara adalah putra ketiga
              Sanghyang Manikmaya dengan Dewi
              Umarakti/Umaranti. Ia mempunyai dua
              orang saudara kandung bernama :
              Sanghyang Cakra dan Sanghyang
              Mahadewa. Sanghyang Asmara juga
              mempunyai enam orang saudara seayah
              lain ibu, putra Dewi Umayi masing –
              masing bernama : Sanghyang Sambo,
              Sanghyang Brahma, Sanghyang Indra,
              Sanghyang Bayu, Sanghyang Wisnu dan
              Bathara Kala.

              Sanghyang Asmara mempunyai tempat
              kedudukan di Kahyangan Mayaretna. Oleh
              Sanghyang Manikmaya ia juga diberikan
              tugas memberikan pahala kepada keturunan
              Witaradya (sejarah para raja). Selain
              memiliki Aji pangabaran, Sanghyang
              Asmara juga mempunyai kesaktian berupa ;
              Asmaragama, Asmaratantra dan
              Asmaraturida. Rapal Aji Asmaragama
              pernah diajarkan kepada Prabu
              Arjunasasra, raja negara Maespati, dan
              kepada Arjuna, satria Pandawa. Sedangkan
              Rapal Aji Asmaratantra dan Asmaraturida
              diajarkan kepada Sri Kresna, raja negara
              Dwarawati.

               (Website Senawangi)
               BATHARA ASWAN dan BATHARA
               ASWIN adalah dewa kembar, putra dari
               Bathara Sumeru, yang berarti masih
               keturunan    Sanghjyang   Taya,   adik       Aswan
               Sanghyang Wenang. Sebagaimana saudara-        dan
Aswan   Batara
               saudaranya yang lain satu kerunan dari        Aswin
               Bathara Sumeru, Bathara Aswan dan
               Bathara Aswin juga mengemban tugas
               kewajiban menjaga keselamatan umat di
               bumi dengan keahliannya masing-masing.
                Bathara Aswan adalah dewa yang
                khususnya memerangi segala macam
                penyakit yang berkembang di bumi, sedang
                Bathara Aswin adalah dewa yang
                menguasai ramalan segala sesuatu yang
                terjadi di dunia.

                Bhatara Aswan dan Bathara Aswin memiki
                sifat dan perwatakan, sabar, teliti, cerdas,
                setia dan patuh terhadap perintah. Atas
                perintah Sanghyang Manikmaya (Bathara
                Guru), Bathara Aswan dan Bathara Aswin
                turun arcapada (bumi) dengan perantaraan
                rahim Dewi Madrim — putri Prabu
                Mandrapati dengan Dewi Tejawati dari
                Negara Mandaraka —, istri Prabu
                Pandudewanata raja negara Astina. Bathara
                Aswan sebagai Pinten atau Nakula,
                sedangkan Bathara Aswin menjelma
                sebagai Tansen atau Sadewea. Keduanya
                merupakan satria kembar dari lima satria
                Pandawa.

                (Website Senawangi)
                Aswin, Batara oleh sebagian dalang
                dianggap kembaran Batara Aswan.                   Aswan
                Sebagian lagi menganggap Batara Aswan              dan
Aswin           dan Batara Aswin adalah satu tokoh yang            Aswin
                menyatu dalam wujud Dewa Kembar.                  Pitoyo :
                Mereka adalaj putra Batara Sumeru dengan           Batara
                Ibu Dewi Kurani.                                   Aswin
                                                                  Wayang
                Dewa Aswan dan Aswin dikenal juga                  Indonesia
         Batara sebagai Dewa Tabib karena ahli dalam               : Batara
                obat-obatan dan menyembuhkan berbagai              Aswin
                penyakit. Mereka pernah menyembuhkan              Google
                seorang penggembala bernama Utamanyu               Book :
                dari kebutuaan yang dideritanya sejak lahir.       Batara
                Mereka juga pernah menghadiahkan umur              Aswin
                panjang dan kembali muda kepada Maharsi           Batara
                Cyawana, setelah menguji kesetiaan istri           Aswin
                pertapa tersebut yang benama Dewi
                Sukanya.
                BARUNA, BATARA sering disebut pula                Bathara
                dengan nama Batara Waruna. Ia masih                Baruna
                keturunan Sanghyang Wenang dari garis              (Basa
Baruna   Batara
                keturunan Sanghyang Nioya. Batara                  Jawa)
                Baruna bertempat tinggal di Kahyangan             Baruna
                Dasar Samodra. Ia bertugas memelihara             Pitoyo :
                ekosistem dan biota laut. Ia berwujud dewa        Batara
                berwajah ikan dan seluruh badannya                Baruna
                bersisik ikan. Batara Baruna dapat hidup di      Baruna
                darat dan di air. Ia mempunyai cupu berisi
                air kehidupan Mayausadi.

                Dalam pewayangan, Sanghyang Baruna
                pernah menjelma menjadi manusia dan
                menggunakan        nama       Begawan
                Badawanganala. Selama menjadi petapa
                itu ia mempunyai dua putri cantik yang
                disunting Nakula dan Sadewa yaitu Dewi
                Srengganawati dan Dewi Srenggini.

                (Rupa & Karakter Wayang Purwa oleh
                Heru S. Sudjarwo)



                BATHARA BASUKIdikenal pula dengan
                nama Bathara Wasu. Ia adalah putra
                Bathara    Wismanu,      keturunan     dari
                Sanghyang Taya, adik Sanghyang Wenang.
Basuki          Bathara Basuki adalah Dewa keselamatan
                yang berwujud ular putih. Karena
                ketekunannya bertapa, ia mendapat anugrah
                dewata berupa Aji Kawrastawan, sehingga
                dapat beralih rupa menjadi manusia dan
                dapat beradat-istiadat serta berbicara
                seperti manusia.Bathara Basuki menjelma
                kepada satria yang berjiwa selamat/basuki
                                                                 Basuki
                yaitu Prabu Baladewa/Kakrasana, raja
                                                                 Pitoyo :
                negara Mandura yang berkulit putih,
                                                                  Batara
                sebagai     lambang      kesucian     atau
         Batara                                                   Basuki
                keselamatan, terlepas dan terluput dari
                                                                 Batara
                segala keburukan dan kesalahan. Bathara
                                                                  Basuki
                Basuki menjelma dalam tubuh Prabu
                Baladewa sebagai balas jasa atas kebajikan
                yang pernah dilakukan oleh Prabu
                Baladewa menyelanmatkan dirinya yang
                berwujud ular dari kematian di hutan
                Krendayana.

                Dengan penitisan Bathara Basuki, sehingga
                pada masa tuanya, Prabu Baladewa
                terhindar dari pertikaian keluarga yang
                berperang dalam Bharatayuda.

                Setelah keturunan Yadawa lenyap dan
                  Prabu Baladewa akan meninggal, Bathara
                  Basuki keluar dari tubuh Kakrasana/Prabu
                  Baladewa melalui mulutnya, dijemput oleh
                  para naga, diantaranya Naga Taksaka,
                  Kumuda, Mandarika, Hreda, Durmuka,
                  Praweddi, kembali ke patala.

                (Website Senawangi)
                BAYU, BATARA disebut pula Hyang
                Pawaka       ‘angin’.   Dewa       Bayu
                melambangkan kekuatan. Ia putra keempat
 Bayu           Sanghyang Manikmaya, Raja Tribuana
                dengan Permaisuri Dewi Umayi. Karena
                Sanghyang Manikmaya menitis pada
                Semar, otomatis Batara Bayu juga diaku
                sebagai anak Semar. Sanghyang Bayu
                mempunyai lima orang saudara kandung
                masing-masing bernama: Batara Sambo,
                                                                Bathara
                Batara Brahma, Batara Indra, Batara
                                                                 Bayu
                Wisnu, dan Batara Kala.Ia juga
                                                                 duwe
                mempunyai tiga orang saudara lain ibu
                                                                 siswa pitu
                yaitu; Batara Cakra, Batara Mahadewa,
                                                                 ing
         Batara dan Batara Asmara dari ibu Dewi
                                                                 arcapada
                Umarakti.Menurut       wujud        rupa
                                                                Bayu
                wayangnya, Batara Bayu mencerminkan
                                                                Batara
                wataknya yang gagah berani, kuat, teguh,
                                                                 Bayu
                bersahaja, pendiam dan mempunyai
                kekuatan yang dahsyat. Ia tinggal di
                Kahyangan Panglawung, menikah dengan
                Dewi Sumi, putri Batara Soma, dan
                berputra empat orang masing-masing
                bernama: Batara Sumarma, Batara
                Sangkara, Batara Sudarma, dan Batara
                Bismakara.

                  (Rupa & Karakter Wayang Purwa oleh
                  Heru S. Sudjarwo)
Brahma            Tempat : Kayangan Deksina di dalam
                                                                Bathara
                  pedalangan sering disebut kayangan
                                                                 Brahma
                  ArgadahanaAyah : Batara Guru
                                                                 nurunake
                                                                 raja-raja
                  Istri : Dewi Saraswati
                                                                 ing
         Batara                                                  arcapada
                  Ibu : Batari Uma
                                                                Brahma
                                                                Wiki :
                  Kesaktian : Dewa yang menguasai api
                                                                 Brahma
                                                                ewayang :
                  Batara Brama pernah memberikan pusaka
                                                                 Silsilah
                  Alugara dan Nanggala kepada raden
                   Kakrasana pada saat ia bertapa di pertapaan       Dewa
                   Arsonya. Maka seolah-olah Hyang Brama
                   adalah guru dari raden Kakrasana. maka
                   kalau kita lihat bentuk wayang Prabu
                   Baladewa, raden Kakrasana mirip dengan
                   bentuk wayang Batara Brama.

                   Batara Brama selalu atau sering mengikuti
                   perjalanan     Batara       Guru      ke
                   Ngarcapada/Bumi menjelma menjadi raja
                   seberang dengan nama misal prabu Dewa
                   Pawaka atau yang lain.Hal ini dapat
                   digagalkan   oleh     Semar.    Sehingga
                   kehendaknya ingin memusnahkan Pandawa
                   atau membuat onar dunia tidak berhasil.
                   Juga dapat dilihat dalam lakon lahirnya
                   Wisanggeni.

                   Tujuan Batara Drama akan mengawinkan
                   putrinya Dewi Dresanala dengan Dewa
                   Srani serta menceraikan radaen Arjuna. Hal
                   ini dapat digagalkan oleh Semar dan para
                   Pandawa. Jadi kesimpulannya bahwa
                   semua ulah dewa jika salah akan kalah oleh
                   tindakan manusia yang benar.

                   http://wayang.wordpress.com/2006/10/24/b
                   atara-brahma/
                   Bremana adalah putera Betara Brama dan
                   mempunyai saudara laki-laki bernama
                   Bremani. Sesudah dewasa Bremana akan
                   di kawinkan dengan putri Betara wisnu
                   (Dewi Srihunon), tetapi Bremana menolak
Bremana            dan atas permintaanya putri ini dikawinkan
                   dengan saudara mudanya (Bremani).
                   Perkawinan terlaksana dan dari perkawinan
                                                                    ewayang :
                   itu lahirlah seorang putera yang bernama
                                                                     Silsilah
                   Parikenan.
                                                                     Bremana
          Batara
                                                                    Bremana-
                   Setelah Bremani mendapat putera itu, Dewi
                                                                     Bremani
                   Srihunon, istrinya dikembalikan kepada
                   mertuanya (Betara Wisnu) dengan alasan
                   bahwa ia tidak bisa hidup bersama lagi
                   dengan puteri itu. Kemudian Dewi
                   Srihunon diperistrikan oleh Bremana.

                   Bremana bermata jaitan, berhidung
                   mancung, beroman muka tenang, berambut
                   terurai gimbal dan segala pakaiannya
                 serupa dengan Bremani.
                 Bremana Bremmani, Lakon ini oleh
                 sebagian dalang disebut Bramana-Bramani,
                 termasuk lakon pakem, tetapi akhir-akhir
                 ini tidak populer. Kisahnya mengenai
                 perkawinan putra Batara Brama, yakni
                 Bramana dan Bramani dengan Dewi Sri
                 Unon, putri Batara Wisnu.
Bremani
                 Pada mulanya Dewi Srihunon diperistri
                 oleh Bambang Bremani, salah seorang
                 putra Batara Brama. Dari perkawinan itu
                 Dewi Srihunon melahirkan putra tunggal
                 bernama Bambang Parikenan, nenek
                 moyang Pandawa dan Kurawa.

                 Setelah melahirkan Bambang Parikenan,
                 Dewi Srihunon dikembalikan pada Batara
                                                                 Bremani
                 Wisnu (mungkin, dalam istilah masa kini
                                                                 Bremana-
          Batara diceraikan), dan kemudian diperistri oleh
                                                                  Bremani
                 Bambang Bremana, abang Bremani.

                 Ketika Dewi Srihunon hendak diperistri
                 Bremana, mulanya wanita itu menolak.
                 Namun, setelah dibujuk oleh bekas
                 suaminya, yaitu Bremani, akhirnya Dewi
                 Srihunon bersedia menjadi istri Bremana.

                 Dari perkawinannya dengan Prabu
                 Bramana beberapa tahun kemudian Dewi
                 Sri Unon melahirkan seorang putri cantik,
                 Dewi Bremanawati, yang kemudian
                 diperistri oleh Prabu Banjaranjali, raja
                 Alengka.

                 Lakon ini jarang dipentaskan.

                 http://topmdi.net/republikwayang/?p=63
                 Batara Cakra atau Cakradewa adalah putera
                 Sang Hyang Manikmaya atau Batara Guru
                 dengan Batari Parwati. Batara Cakra
                 berkedudukan di Kahyangan Ujung                 Cakra
                 Semeru. Ia menjalankan tugas sebagai            Pitoyo :
Cakra     Batara pujangga kahyangan, sedangkan Batara             Batara
                 Ganesya atau Batara Gana bertugas                Cakra
                 menjaga Panti Pustaka Kahyangan.Oleh
                 karena itu Batara Cakra dan Batara Gana
                 sama-sama mempunyai tugas membina
                 kesusastraan, sehingga Batara Gana sebagai
                  lambang dewa kebijaksanaan bidang
                  pendidikan, Batara Cakra sebagai lambang
                  dewa kapujanggan.

                  Karya Batara Cakra yang terkenal adalah
                  Serat Pustaka Jamus Kalimasada dan
                  Jitapsara.       Jamus       Kalimasada
                  dianugerahkan      kepada    Puntadewa,
                  Jitapsara dianugerahkan kepada Begawan
                  Palasara.

                  CALAKUTA, BATARA adalah dewa yang
                  berkuasa atas segala serangga berbisa,
                  menetap di kahyangan Wisabawana yang
                  terletak di lereng Gunung Jamurdipa.

                  Suatu ketika ketenangan di kahyangan
                  Wisabawana terganggu karena para dewa
                  di bawah pimpinan Batara Guru sedang
                  bergotong royong berusaha mencabut
                  Gunung Jamurdipa untuk digunakan
                  mengaduk     samudra     dalam     upaya
                  mendapatkan tirta amerta. Perbuatan para
Calakuta          dewa itu membuat marah Batara Calakuta.

                  Hingga akhirnya timbul perselisihan
                  diantara mereka. Batara Calakuta dan anak
                                                                  Lakon
                  buahnya     kewalahan    dan    kemudian
                                                                   para
           Batara melarikan diri. Dalam pelariannya Batara
                                                                   Dewa
                  Calacuta menciptakan telaga beracun yang
                  berisi bisa kalakuta. Hingga suatu saat
                  ketika kehausan, sebagian dari para dewa
                  meminum air tersebut dan kemudian
                  menemui ajal. Begitupun Batara Guru
                  nyaris mengalami hal serupa jika pada saat
                  meminumnya tidak dimuntahkan segera.
                  Namun karena kuatnya pengaruh bisa
                  tersebut, maka leher batara Guru menjadi
                  biru karenanya. Itulah sebabnya Batara
                  Guru mendapatkan nama alias sebagai
                  Sang Hyang Nilakanta yang berarti
                  lehernya biru.

                  Setelah tirta amerta diperoleh, maka para
                  dewa yang mati karena racun kalakuta
                  dapat dihidupkan lagi.
                  Batara Candra adalah salah seorang putera       Pitoyo :
Candra     Batara Batara Ismaya dengan ibunya bernama              Batara
                  Dewi Kanastren, sedangkan istrinya               Candra
               berjumlah 27 orang. Mereka itu kakak             Lakon
               beradik putera Sang Hyang Daksa. Dalam            para
               pewayangan dikatakan Batara Candra                Dewa
               adalah dewa yang bertugas mengatur dan
               memelihara rembulan serta sinarnya.Batara
               Candra termasuk yang disebut-sebut dalam
               Hastabrata sebagai dewa yang harus
               diteladani sifat-sifatnya oleh raja yang
               bijaksana      dan      selalu     bersikap
               menyenangkan        orang     banyak.Dalam
               sebuah kisah diceritakan ada seorang raja
               siluman gandarwa bernama Prabu Kala
               Rahu alias Rembuculung yang hendak
               mencuri Tirta Amerta. Kala Rahu
               bersembunyi di kegelapan malam, tetapi
               Batara    Candra      memergokinya      dan
               melaporkan tempat persembunyiaan itu
               pada Batara Guru. Pemuka Dewa itu lalu
               mengutus Batara Wisnu menangkap Kala
               Rahu.

               Namun ketika hendak ditangkap, raja
               siluman itu melawan. Dengan senjata
               cakra, Batara Wisnu memotong kepala
               Kala Rahu. Tubuhnya jatuh terhempas ke
               bumi menjelma menjadi lesung penumbuk
               padi. Sementara itu kepalanya melayang-
               layang di angkasa menanti kesempatan
               membalas untuk menghukum Batara
               Candra.

               Itulah yang menimbulkan legenda gerhana
               rembulan,     yang    menyebabkan      di
               masyarakat pedesaan di Jawa Tengah, Jawa
               Timur dan Bali, orang memukul-mukul
               lesung bila terjadi gerhana bulan, yang
               dipercaya untuk menghalau Kala Rahu.
Cingkaralaba   Cingkara atau kadang-kadang disebut
               Cingkarabala adalah saudara kembar
               Balaupata. Mereka berdua adalah putera
               Begawan Bremani. Kakaknya yang sulung
               bernama Manumayasa. Berbeda dengan
                                                                Cingkaral
               kakaknya yang lahir sebagai manusia biasa,
                                                                 aba
               Cingkara     dan     Balaupata    berujud
               raksasa.Oleh Batara Guru, Cingkara dan
               Balaupata    ditugasi    untuk    menjaga
               Selamatangkep, yaitu gerbang yang menuju
               ke kahyangan Suralaya. Mengenai siapa
               orang tua Cingkara dan Balaupata ada versi
                   lain yang menyebutkan bahwa mereka
                   bukan anak Bremani, melainkan anak
                   Maharesi Gopatama, saudara kandung
                   lembu Andini.




Balaupata

                   Balaupata dan Cingkarabala adalah raksasa
                   kembar. Mereka anak raksasa Gopatama
                   yang masih saudara Lembu Andini. Kedua
                   raksasa ini ditugasi menjaga Kori
                   Selamatangkep dan diangkat menjadi dewa.
                   Barang siapa yang mau masuk naik atau
                   masuk ke Kayangan Suralaya menghadap            Ki Dmang
                   Batara Guru, maka harus lebih dahulu             :
                   berhadapan dengan sang penjaga Kori              Balaupata
                   Selamatangkep yang berwujud raksasa             Balaupata
                   kembar.    Siapapun     yang     sanggup
                   mengalahkan atau mendapat izin dari
                   raksasa kembar dapat menghadap Batara
                   Guru.

                   (Ensiklopedi   tokoh-tokoh   wayang   dan
                   silsilahnya)




                   Batara Darma dikenal sebagai dewa yang
                   bertugas menjaga tegaknya keadilan dan          Tembi :
 Darma             kebenaran dalam dunia pewayangan. Dewa           Puntadew
                   inilah yang sebenarnya ayah biologis             a masuk
                   Puntadewa, atas izin Prabu Pandu                 neraka ?
                   Dewanata, istrinya yang bernama Dewi            Wayang
                   Kunti menerapkan ajian Adityarhedaya             Indonesia
            Batara untuk mengundang para dewa. Dewa yang            : Batara
                   pertama dipanggil adalah Batara Darma ini.       Darma
                                                                   Googlebo
                   Batara Darma pernah melindungi Dewi              ok :
                   Drupadi, ketika istri Puntadewa itu hendak       Darma,
                   ditelanjangi oleh Dursasana. Waktu itu           Batara
                   setelah Pandawa ditipu dan kalah main judi
                   dengan para Kurawa, Dewi Drupadi
           dianggap sebagai barang taruhan yang
           dimenangkan oleh Kurawa. Di hadapan
           banyak orang, Dursasana mencoba melepas
           kain yang dikenakan Dewi Drupadi, namun
           selalu gagal. Setiap kali kain yang
           dikenakan     dilepaskan      dari    tubuh
           Drupadi,saat itu pula secara gaib tubuh
           Drupadi terlapisi oleh kain yang lain,berkat
           pertolongan Batara Darma.

           Setelah itu, menjelang berakhirnya masa
           pembuangan       Pandawa     di    hutan
           Kamiyaka,Batara Darma datang menguji
           rasa keadilan Puntadewa, anaknya. Dewa
           itu menyaru sebagai raja gandarwa dan
           membunuh adik-adik Puntadewa satu
           persatu.Ia lalu mengajukan berbagai
           pertanyaan ujian pada Puntadewa yang
           ternyata    dijawab    dengan     sangat
           memuaskan.Ketika Puntadewa disuruh
           memilih mana diantara adik-adiknya yang
           akan dihidupkan kembali,Puntadewa pun
           menjawab dengan pertimbangan keadilan
           yang matang. Karena jawaban Puntadewa
           yang memuaskan ini, raja gandarwa lalu
           berubah ujud menjadi Batara Darma, dan
           keempat adik Puntadewa dihidupkan
           kembali.

           Menjelang kematian Pandawa, Batara
           Darma juga menjelma menjadi anjing
           peliharaan Puntadewa.Anjing itu terus
           mengikuti perjalanan Pandawa dalam
           perjalanan kelana menjemput kematian dan
           mengantar Puntadewa sampai ke pintu
           sorga. Namun ketika Puntadewa hendak
           masuk ke sorga,oleh penjaga gerbang sorga
           anjing itu dilarang masuk. Karena
           penolakan itu Puntadewa lalu protes,
           Puntadewa enggan masuk ke dalam sorga
           yang tidak menghargai sebuah kesetiaan.
           Pada saat itulah si anjing berubah ujud
           menjadi Batara Darma.

           http://teguhrahardjo.blogspot.com/2010_04
           _01_archive.html
           Dewa Ruci meminta Bima untuk masuk                Tunggal
Dewaruci   kedalam badannya, melalui telinga kirinya.         Sawang
           Walaupun dewa ini sangat kecil, tetapi             Kartining
            Bima dapat masuk ke dalam tubuh Dewa             Bawana
            Ruci dan menemukan dirinya berada pada          Wejangan
            suatu dunia yang sangat mengagumkan,             Dewaruci
            damai, dan indah, dimana ia merasa sangat       Dewaruci
            nyaman dan karena itu Bima ingin tetap          Kisah
            tinggal disana.Dewa Ruci kemudian                Dewaruci
            menjelaskan makna dari apa yang                 Siasite :
            dilihatnya dan makna dari kehidupan.             DewaRuci
            Menjawab keinginan Bima untuk tinggal           Tasawuf :
            disana, Dewa Ruci mengatakan ia boleh            Dewaruci
            tinggal disana setelah kematiannya. Tetapi
            untuk saat ini, ia harus kembali ke bumi
            bersama dengan saudara-saudaranya untuk
            melaksakan kewajiban sebagai ksatria.

            Bima mengikuti Dewa Ruci dan kembali ke
            dunia     nyata      untuk     melanjutkan
            perlawanannya memerangi kejahatan,
            membela saudara-saudaranya melawan
            Kurawa.
            BATHARA DEWASRANI adalah putra
            Sanghyang Manikmaya, raja Tribuana
            dengan Bathari Durga, wujud Dewi Umayi
            setelah terkena kutukan Sanghyang
            Manikmaya. Ia lahir di istana siluman,
            Setragandamayit.     Bathara     Dewasrani
            mempunyai lima orang saudara satu ibu
            lain ayah, yang secara fisik merupakan
            putra Bathari Durga/Dewi Pramuni dengan
Dewasrani   Bathara Kala, masing-masing bernama;
            Bathara Siwahjaya, Dewi Kalayuwati,
            Bathara Kalayuwana, Bathara Kalagotama          Dewasran
            dan Bathara Kartinea.Bathara Dewasrani           i
            berwajah tamapan.Selain sakti, juga             Joglosema
            mempunyai Aji Kawrastawan, dapat                 r:
            beralih rupa menjadi apa saja sesuai             Dewasran
            kehendaknya.       Bathara       Dewasrani       i
            mempunyai sifat dan perwatakan; serakah,
            bengis, kejam, suka membuat usil dan mau
            benarnya sendiri. Berkali-kali ia membuat
            keributan di Jonggrisaloka dengan berbagai
            tuntutan yang aneh-aneh.

            Bathara Dewasrani pernah menuntut untuk
            dijadikan raja di Kahyangan Kaideran dan
            dijodohkan dengan Dewi Supraba. Ketika
            keingginannya       ditolak   Sanghyang
            Manikamaya, ia mengamuk, tetapi dapat
            dikalahkan Bathara Indra. Dewasrani juga
                  pernah    mengejar-ngejar  Dewi    Sri
                  Widowati/Dewi Srisekar, istri Bathara
                  Wisnu     sampai    keluar  Kahyangan
                  Untarasegara.

                  Atas perbuatannya itu ia dikutuk Bathara
                  Wisnu menjadi babi hutan, dan dapat
                  kembali kewujud aslinya setelah diruwat
                  ibunya, Dewi Pramuni.

                  Berkali-kali Dewasrani menitis atau
                  menjelma menjadi raja raksasa untuk
                  membuat kekacauaan di Arcapada. Tetapi
                  semua tindakannya itu selalu dapat
                  digagalkan Bathara Wisnu. Karena
                  berbagai tindakannya itu, Dewasrani
                  dikenal sebagai lambang kejahatan.
                  DRESNALA, DEWI adalah putri ke-10
                  Sang Hyang Brahma dengan permaisuri
                  Dewi Raraswati. Ia mempunyai 13 saudara
Dresnala          kandung diantaranya : Dewi Bramanistri
                  yang dianugerahkan kepada Garuda
                  Briawan/Suwarna/Aruni dan menurunkan
                  golongan garuda, Dewi Bramaniyuta yang
                  menikah dengan Batara Srinada/Prabu
                                                                 Wong
                  Basurata raja negri Wirata, Dewi Bremani
                                                                  Edan
                  yang menikah dengan Prabu Banjaranjali
                                                                  Wisangge
                  yang menurunkan raja-raja negara Alengka
                                                                  ni
                  termasuk Prabu Dasamuka.
                                                                 Wisangge
                                                                  ni lair
                  Dewi Dresnala juga mempunyai 8 orang
           Dewi                                                   wujud
                  saudara seayah lain ibu, diantaranya :
                                                                  geni lan
                  Batara Brahmanaresi yang menikah dengan
                                                                  menjila
                  Dewi Srihuna, putri Sang Hyang Wisnu.
                                                                  dadi
                  Kemudian Batara Brahmanasadewa yang
                                                                  satriya
                  menikah dengan Dewi Srinadi, putri Sang
                                                                  pinunjul
                  Hyang Wisnu, berputra Prabu Brahmakestu
                  yang menurunkan raja-raja di Maespati.

                  Dewi Dresanala pernah dianugerahkan
                  kepada Arjuna, yang kala itu menjadi raja
                  di Kahyangan Kainderan atas jasanya
                  membunuh Prabu Niwatakawaca raja
                  raksasa negara Manikmantaka. Dari
                  perkawinan itu lahirlah Wisanggeni.
                  Resi Druwasa adalah guru Dewi Kunti
                                                                 Wii Jv :
                  yang mengajarkan Ajian Adityarhedaya.
Druwasa    Resi
                  Sebenarnya ilmu itu tidak boleh diajarkan
                                                                  Karna
                                                                 Tembi :
                  pada gadis yang belum menikah, tetapi
               karena Dewi Kunti terus merengek,                  Karna
               akhirnya Resi Druwasa mengajarkan ilmu
               itu dengan pesan agar jangan sekali-kali
               dicoba digunakan.Namun pada suatu pagi,
               di ranjang tidurnya, Dewi Kunti mencoba
               keampuhan ilmu itu, akibatnya datanglah
               Batara Surya kepadanya, dan terjadilah
               sesuatu yang tidak diharapkan. Dewi Kunti
               mengandung,       padahal     ia    masih
               gadis.Karena kejadian ini, ayah Dewi
               Kunti, Prabu Kuntiboja mempersalahkan
               Resi Druwasa dan menuntut agar Resi
               Druwasa melahirkan jabang bayi yang
               dikandung Dewi Kunti tanpa merusak
               kegadisannya.

               Oleh Resi Druwasa, bayi itu akhirnya
               dikeluarkan lewat telinga Dewi Kunti,
               sebab ilmu yang diajarkan masuk ke dalam
               diri Dewi Kunti juga lewat telinga. Sesudah
               dilahirkan      ,     Prabu       Kuntiboja
               memerintahkan bayi itu dibuang ke sungai,
               kelak bayi ini menjadi seorang ksatria sakti
               bernama Basukarna.

               Sebagai seorang yang berilmu tinggi, Resi
               Druwasa tahu kelak Dewi Kunti akan
               sangat membutuhkan ilmu ini. Suatu ketika
               suaminya tidak akan dapat menjalankan
               kewajibannya sebagai suami karena
               kutukan Begawan Kimindama, padahal ia
               sangat membutuhkan keturunan. Maka
               ajian Adityarhedaya terbukti memang
               bermanfaat untuk memanggil para dewa,
               sehingga garis keturunannya tidak terputus.
               BATARI DURGA, sebenarnya pada
Durga          mulanya adalah istri Batara Guru. Yakni
               waktu ia masih berwajah cantik, dan masih         Panguwas
               bernama Dewi Uma atau Dewi Umayi.                  a kabeh
               Suatu sore menjelang senja, Batara Guru            setan
               dan Dewi Uma pergi menghibur diri                  priprayan
               menunggang Lembu Andini mengangkasa                gan
        Batari
               melihat-lihat pemandangan alam. Di atas           Batari
               lautan dekat Nusakambangan, sewaktu                Durga
               angin menyingkap kain yang dikenakan               (Gedeng
               Dewi Uma, Batara Guru tergiur melihat              Permoni)
               betis istrinya. Ia lalu merayu Dewi Uma
               dan mengajaknya memadu kasih saat itu
               juga     di    atas    punggung     Lembu
Andini.Namun Dewi Uma menolak ajakan
itu karena merasa hal itu sangat tidak
pantas. Batara Guru tidak menghiraukan
penolakan istrinya, dan terus berusaha
merayu, sedangkan Dewi Uma terus
berusaha menghindar.Akhirnya, karena tak
lagi dapat menahan hasratnya, keluarlah
(mani) Batara Guru, jatuh ke laut.

Penolakan Dewi Uma membuat Batara
Guru kesal dan marah. Sepulangnya di
kahyangan mereka bertengkar. Apalagi
secara diam-diam Lembu Andini kemudian
saling memanas-manasi mereka.

Dalam keadaan marah Dewi Uma
mengatakan: “Perbuatan seperti tadi
Kakanda hanya pantas dilakukan oleh
makhluk yang bertaring panjang….”
Karena Dewi Uma memiliki kesaktian
tinggi, apa yang diucapkannya itu
kemudian terjadi.Bukan main marah Batara
Guru setelah menyadari taringnya tumbuh
menjadi panjang. Tanpa berpikir lagi ia
segera membalas mengutuk Dewi Uma
menjadi seorang raseksi.

Setelah saling kutuk mengutuk itu
keduanya sama-sama menyesal. Karena
Dewi Uma telah terlanjur berubah ujud
menjadi raksasa, maka Batara Guru
menganggapnya tidak pantas lagi menjadi
istrinya.

Karena itu Batara Guru lalu menukar badan
jasmaninya dengan tubuh Sang Hyang
Permoni yang cantik tetapi berhati dengki
dan culas. Sedangkan jiwa Sang Hyang
Permoni dimasukkan ke tubuh Dewi Uma
yang telah berujud raksasa itu, dan diberi
nama Batari Durga.

Beberapa saat kemudian datanglah
makhluk ganas yang berasal dari kama
benih Batara Guru yang jatuh ke laut itu.
Makhluk ini mengamuk di kahyangan lalu
mengajukan tiga tuntutan, yakni minta
diakui sebagai anak, diberi nama, dan
diberi istri. Tuntutan ini dikabulkan Batara
Guru. Makhluk itu diberi nama Batara
Kala, dan diberi istri Batari Durga. Mereka
diberi tempat di Kahyangan Setra
Gandamayit, di Hutan Krendawahana. Di
tempat ini mereka berkuasa atas segala
macam jin, gandarwa, hantu, dan makhluk
halus lainnya.

Dalam pewayangan, Batari Durga menjadi
sesembahan oleh mereka yang memiliki
sifat suka mengambil jalan pintas.
Burisrawa, misalnya, menyembah dan
mohon pertolongan Batari Durga ketika ia
tidak dapat membendung rasa rindunya
pada Dewi Subadra, istri Arjuna. Dengan
bantuan Batari Durga, Burisrawa dapat
masuk ke Kasatrian Madukara tanpa
diketahui dan kemudian nyaris dapat
menodai Subadra. (Lakon Sembadra
Larung) Lesmana Mandrakumara, putra
sulung Prabu Anom Duryudana, juga
pernah minta bantuan Batari Durga agar
dapat mempersunting Dewi Pregiwati, putri
Arjuna. Walaupun Durga membantunya,
usaha ini gagal dan Dewi Pregiwati
menjadi istri Pancawala, putra Prabu
Yudistira.

Kelak, menjelang pecah Baratayuda, Batari
Durga pernah dimintai tolong oleh Dewi
Kunti, agar membinasakan gandarwa
Kalantaka dan Kalanjaya. Kedua gandarwa
sakti itu mengancam keselamatan Pandawa,
karena mereka hendak membantu Kurawa.
Batari     Durga     bersedia    memenuhi
permintaan Kunti, dengan syarat ibu para
Pandawa itu harus menyerahkan Sadewa
sebagai kurban. Dewi Kunti tidak sanggup
memenuhi permintaan Betari Durga itu.
Namun ternyata akhirnya Batari Durga
dapat pulih kembali menjadi bidadari
cantik setelah diruwat oleh Sadewa, salah
seorang si kembar dari keluarga Pandawa.
Sadewa sanggup meruwat Batari Durga
setelah tubuhnya disusupi oleh Batara
Guru. Peristiwa itu dikisahkan dalam lakon
Sudamala atau Murwakala.

Walaupun pada Wayang Purwa tokoh
Batari Durga sering dilukiskan jahat,
bengis, dan menakutkan, beberapa sekte
                    agama di India, terutama di wilayah utara,
                    Durga dipuja sebagai dewi pelindung.
                    Mereka percaya Durga adalah Dewi
                    Penolong bagi orang yang sedang terkena
                    musibah atau menderita karena suatu
                    perlakuan yang tidak adil. Dalam seni kriya
                    Wayang Kulit Purwa, tokoh Batari Durga
                    digambarkan dengan tiga wanda, yakni
                    wanda Gidrah, wanda Wewe, dan wanda
                    Gedrug.

                    http://blvckshadow.blogspot.com/2010/03/b
                    atari-durga.html
                    Batara Dwapara adalah dewa berhati culas,
                    iri dan dengki, sering memfitnah para dewa
                    lainnya. Karena sifat-sifatnya yang buruk
                    itu tidak juga berkurang, ia diusir dari
 Dwapara            kahyangan lalu dikutuk oleh Sang Hyang
                    Tunggal untuk turun ke dunia guna
                    melampiaskan sifat buruknya. Akibat              Bharatayu
                    kutukan Sang Hyang Tunggal itu, Batara            dha
                    Dwapara terpaksa turun ke dunia dan              Banjaran
                    menitis ke seorang bayi, putera Prabu             Sengkuni
             Batara
                    Suwala, Raja Plasajenar.Bayi itu adalah          KTCM
                    Arya Suman yang setelah dewasa                    Banjaran
                    mempunyai nama alias Sengkuni.Kutukan             Sengkuni
                    itu diterima Batara Dwapara sewaktu ia
                    diketahui oleh para dewa lainnya telah
                    memfitnah Batara Bayu. Itu pula sebabnya,
                    Patih Sengkuni memiliki watak buruk
                    sebagai tukang fitnah dan dengki. Dan itu
                    pula sebabnya, Bima sebagai anak Batara
                    Bayu amat geram terhadap Sengkuni.
                    GAGARMAYANG, BATARI adalah                       Kraton
                    bidadari keturunan Sang Hyang Triyarta. Ia        Surakarta
Gagarmayan          mempunyai saudara kembar bernama                  : Wayang
     g              Batari Prabasini. Meskipun memiliki              KSMS
                    bentuk badan ceking, namun karena                 Arjuna
                    kecantikan dan daya sensualnya yang               Wiwaha
                    tinggi, Batari Gagarmayang oleh Sang             Video
                    Hyang Manikmaya ditetapkan sebagai                WO
             Batari
                    salah stau dari 7 bidadari upacara di             Arjuna
                    Suralaya. Bidadari lainnya adalah Batari          Wiwaha
                    Supraba, Dewi Lenglengdanu, Batari               KTCM
                    Irimirin, Batari Tunjungbiru, Batari              Begawan
                    Warsiki dan Batari Wilutama.                      Ciptaning
                                                                     Ki
                    Dalam kisah Arjuna Wiwaha, Batari                 Nartosabd
                    Gagarmayang pernah diturunkan ke dunia            ho :
                bersama keenam bidadari suralaya lainnya          Arjuna
                melaksanakan perintah Sang Hyang Indra            Wiwaha
                untuk menggagalkan konsentrasi Arjuna
                yang sedang bertapa di Goa Mintaraga di
                lereng Gunung Indrakila.

                Mereka gagal dalam tugasnya
                karena Arjuna tetap konsisten
                dengan       tapanya       dan       tidak
                terpengaruh sama sekali atas
                godaan sensualitas dari bidadari-
                bidadari nan jelita itu. Malah
                justru     bidadari-bidadari        itulah
                yang sebenarnya “jatuh cinta”
                kepada kegagahan Arjuna.
                Batara Ganesa disebut juga Batara
                Ganapati atau Batara Gana, dianggap
                sebagai Dewa Pendidikan, Sastra,dan
                Penyebar Ilmu Pengetahuan. Ia adalah anak
                Batara Guru dari Dewi Umaranti, yang
                tinggal di kahyangan Glugutinatar.Batara
                Ganesa lahir tidak dalam bentuk manusia,
                melainkan dalam ujud menyerupai gajah,
                lengkap dengan gading dan belalainya. Hal
                ini terjadi karena sesaat setelah Batara
                Guru dan Dewi Uma saling bercumbu
Ganesa          kasih, para dewa datang menghadap. Di
                antara mereka yang datang menghadap              Dewane
                adalah Batara Endra yang mengendarai              ngelmu
                Gajah Airawata. Gajah itu luar biasa besar,       kang
                sehingga membuat takjub dan kaget Dewi            ngreksa
                Uma, yang saat itu lagi mengandung.               panti
         Batara
                Karena ketakjubannya itu, maka kemudian           pustaka
                Dewi Umaranti melahirkan putera yang              kayangan
                bentuk dan wajahnya mirip sekali dengan          Wiki :
                gajah.                                            Ganesa

                Bayi gajah Ganesa ternyata juga memiliki
                kesaktian luar biasa. Ia dapat mengalahkan
                raja raksasa Nilarudraka dari kerajaan
                Glugutinatar, yang datang menyerbu
                kahyangan. Ketika itu raja raksasa
                gandarwa      itu     mengamuk      karena
                lamarannya pada Dewi Gagarmayang
                ditolak. Setelah dikalahkan, Glugutinatar
                dijadikan kahyangannya.

                Dalam pewayangan, pada lakon Batara
                Brama Krama, Batara Ganesa pernah
                diruwat oleh Batara Brama sehingga
                ujudnya menjadi dewa yang tampan, tidak
                lagi berkepala gajah. Setelah ujudnya
                berubah, Batara Ganesa dikenal dengan
                sebutan Batara Mahadewa. Menurut
                Adiparwa, yaitu bagian pertama dari
                Mahabarata, Ganesa juga berjasa menjadi
                juru tulis Empu Wyasa yang mengarang
                kitab Mahabarata itu. Nama lain Batara
                Ganesa adalah Ganapati, Lambakarna,
                Gajanana, Karimuka dan Gajawadana.
                                                                Ki
Gangga                                                           Nartosabd
                                                                 ho :
                                                                 Banjaran
                GANGGA, BATARI disebut juga Batari
                                                                 Bisma
                Ganggawati, Dewi Angga, Dewi Jahnawi,
                                                                Akhir
                Dewi Jumpini. Dia adalah istri pertama
                                                                 Perjalanan
         Batari Prabu Santanu, raja negri Astina.
                                                                 Sang
                Sebenarnya dia adalah seorang bidadari
                                                                 Jahnawisu
                yang terkena kutukan dewa sehingga harus
                                                                 ta
                menjalani hidup di dunia.
                                                                Lahirnya
                                                                 Dewabrat
                                                                 a

                GURU, BATARA atau juga disebut Sang
Guru            Hyang Manikmaya adalah putra ketiga
                Sang Hyang Tunggal dengan Dewi
                Wirandi/Rekatawati,     putri      Prabu
                Yuyut/Resi Rekatama, Raja Samodralaya.
                Dia mempunyai 2 saudara kandung yaitu
                Sang Hyang Tejamaya/Antaga dan Sang
                Hyang Ismaya. Batara Guru juga
                                                                Batara
                mempunyai 3 orang saudara seayah lain ibu
                                                                 Guru
                putra Dewi Darmani, putri Sang Hyang
                                                                 Krama
                Darmayaka dari Selong, yaitu : Sang
                                                                Wiki :
                Hyang Rudra/Dewa Esa, Sang Hyang
         Batara                                                  Batara
                Dewanjali dan Sang Hyang Darmastuti.
                                                                 Guru
                                                                Batara
                Batara Guru mempunyai 27 nama gelar,
                                                                 Guru
                tapi yang dikenal diantaranya : Sang Hyang
                Jagadnata, Sang Hyang Jagadpratingkah,
                Sang Hyang Pramesti Guru, Sang Hyang
                Siwa, Sang Hyang Girinata. Dalam dunia
                pewayangan Sang Hyang Manikmaya
                mempunyai kekuasaan tertinggi. Ia
                menguasai 3 lapisan jagat raya yaitu :
                Mayapada (dunia kadewatan), Madyapada
                (dunia makhluk halus) dan Arcapada (dunia
                    manusia di bumi).

                    Batara Guru tinggal di kahyangan Jong Giri
                    Kelasa (dalam pewayangan sering disebut
                    Jonggring Salaka atau Suralaya). Ia beristri
                    Dewi Uma atau Umayi yang sangat cantik
                    jelita dan sakti. Awalnya Dewi Uma tidak
                    bersedia diperistri, kecuali apabila Batara
                    Guru berhasil menangkapnya. Berkali-kali
                    usaha dilakukan Guru untuk memenuhi
                    keinginan itu dengan menangkap Dewi
                    Uma namun selalu gagal karena
                    “kelicinan” gerak Dewi Uma. Hingga
                    setelah sekian lama belum berhasil maka
                    Batara Guru memohon kepada Hyang
                    Wenang, kakeknya, agar ia diberi tambahan
                    sepasang tangan lagi untuk mempermudah
                    menangkap Dewi Uma. Setelah terkabul
                    dan tangan Batara Guru berubah menjadi
                    empat, maka Dewi Uma berhasil
                    ditangkapnya dan kemudian menjadi
                    istrinya. Karena bertangan empat inilah
                    maka Batara Guru sering disebut Sang
                    Hyang Caturbuja.
 Indra            INDRA, BATARA adalah dewa keindahan
                  dan dewa prajurit yang memerintah dan
                  mengepalai para hapsari atau bidadari di
                  kahyangan kainderan. Dia adalah putra
                  ketiga dari Sang Hyang Manikmaya dengan
                  permaisuri Dewi Umayi. Batara Indra
                                                                      Bathara
                  mempunyai 5 saudara sekandung yaitu
                                                                       Indra
                  Sang Hyang Sambo, Sang Hyang Brahma,
                                                                       pangarsan
                  Sang Hyang Bayu, Sang Hyang Wisnu dan
                                                                       e
                  Batara Kala. Ia juga mempunyai 3 orang
                                                                       widadara
                  saudara seayah lain Ibu, putra Dewi
                                                                       widadari
           Batara Umarakti yaitu Sang Hyang Cakra, Sang
                                                                      Wiki :
                  Hyang Mahadewa dan Sang Hyang
                                                                       Indra
                  Asmara.Sang Hyang Indra sangat sakti,
                                                                      Pitoyo :
                  apabila tiwikrama mempunyai wibawa
                                                                       Batara
                  halilintar. Ia mempunyai kendaraan gajah
                                                                       Indra
                  yang sangat besar bernama Erawana.Sang
                  Hyang Indra tinggal di kahyangan
                  Rinjamaya dan menikah dengan Dewi
                  Wiryati yang menghasilkan 7 anak yaitu
                  Dewi Tara, Dewi Tari, Batara Citrarata,
                  Batara Citragana, Batara Jayantaka, Batara
                  Jayantara dan Batara Harjunawangsa.
                    DEWI IRIMIRIN dikenal pula dengan
Irimirin   Batari
                    nama Dewi Surendra (pedalangan Jawa),
                yang mempunyai arti “Seorang yang nafsu
                birahinya (semangat keseksualannya) amat
                besar.”Dewi Irimirin adalah salah seorang
                diantara bidadari upacara Suralaya yang
                terdiri dari tujuh orang, yaitu Dewi
                Supraba, Dewi Lenglengdanu, Dewi
                Irnimirin, Dewi Gagarmayang, Dewi
                Tunjungbiru, Dewi Warsiki dan Dewi
                Wilutama.

                Karena kecantikannya Dewi Irimirin
                pernah menimbulkan peperangan hebat
                amtara     Suralaya    dengan     negara
                Nusahambara. Prabu Kalimantara, raja
                raksasa negara tersebut mengutus kedua
                senapati perangnya Arya Dadali dan Arya
                Sarotama untuk melawar Dewi Irimirin.

                Karena lamarannya ditolak para dewa,
                Prabu Kalimantara mengerahkan angkatan
                perangnya untuk menyerang Suralaya.
                Angkatan perang dewa tidak dapat
                membendung         serangan      negara
                Nusahambara.       Kesaktian      Prabu
                Kalimantara, Arya Dadali dan Arya
                Sarotama tidak terkalahkan oleh para
                dewa.Dewa kemudian minta bantuan
                Bambang      Sakutrem,     putra   Resi
                Manumayasa dari pertapaan Retawu untuk
                menghadapinya.

               Dengan kesaktiannya, Sakutrem berhasil
               membinasakan Prabu Kalimantara, Arya
               Dadali dan Sarotama yang kemudian
               berubah wujud menjadi pusaka-pusaka
               kadewatan berupa ; Jamus Kalimasada,
               panah Ardadadali dan panah Sarotama.
               Dengan peristiwa tersebut.Dewi Irimirin
               merupakan bidadari pertama yang menjadi
               awal mula turunnya pusaka-pusaka
               kadewatan diberikan kepada umat arcapada
               SANGHYANG ISMAYA adalah putra
               kedua Sanghyang Tunggal dengan Dewi
               Wirandi/Rekatawati, putri Prabu
                                                        S.E.M.A.R
         Sang Yuyut/Resi Rekatama, raja Samodralaya. Ia
Ismaya   Hyang mempunyai dua saudara kandung bernama
                                                        Semar, abdi
                                                        titisan Ilahi
               Sanghyang Tejamaya/Sanghyang Antaga
               dan Sanghyang Manikmaya. Sanghyang
               Ismaya juga mempunyai tiga orang saudara
             kandung seayah lain ibu, putra Dewi
             Darmani, putri Sanghyang Darmayaka dari
             Selong, masing-masing bernama ;
             Sanghyang Rudra/Dewa Esa, Sanghyang
             Dewanjali dan Sanghyang Darmastuti.

             Sanghyang Ismaya dikenal pula dengan
             nama Sanghyang Punggung (Purwakanda).
             Ia menikah dengan Dewi Senggani, putri
             Sanghyang Wening. Dari perkawinan
             tersebut ia mendapatkan 10 orang putra
             masing-masing bernama ; Bathara
             Wungkuam, Bathara Tembora, Bathara
             Kuwera, Bathara Wrahaspati, Bathara
             Syiwah, Bathara Surya, Bathara Chandra,
             Bathara Yama/Yamadipati, Bathara
             Kamajaya dan Bathari Darmastutri

             Sanghyang Ismaya berwajah tampan. Suatu
             ketika ia berkelahi dengan Sanghyang
             Tejamaya karena memperebutkan siapa
             yang tertua diantara mereka dan yang
             berhak menjadi raja Tribuana. Akibatnya
             wajah mereka menjadi jelek. Oleh
             Sanghyang Tunggal mereka diberitahu,
             bahwa dahulu mereka lahir berwujud telor.
             Yang tertua Sanghyang Tejamaya (tercipta
             dari kulit telur| kemudian Sanghyang
             Ismaya (tercipta dari putih telur) dan
             Sanghyang Manikmaya yang tercipta dari
             kuning telur.

             Karena kesalahannya itu, Sanghyang
             Ismaya dan Sangyang Tejamaya harus
             turun ke Marcapada. Sanghyang Tejamaya
             mendapat tugas memberi tuntunan para
             angkara dan berganti nama menjadi Togog.
             Batahara Ismaya mendapat tugas menjadi
             pamong trah Witaradya. Ia turun ke
             pertapaan Paremana menjelma pada cucu
             nya sendiri, Smara/Semar putra Bathara
             Wungkuam, yang menjadi saudara ipar
             Resi Manumayasa.

              Sumber : Senawangi
              BATHARA KALA adalah putra yang ke-         Bathara Kala
              enam/putra bungsu Sanghyang                wenang mateni
Kala   Batara
              Manikmaya, raja Tribuana dengan Dewi       lan mangan
              Umayi. Ia satu – satunya yang berwujud     wong-wong
raksasa dari ke-enam saudara kandungnya, sukerta
karena ia tercipta dari “kama salah”      Batara Kala
Sanghyang Manikmaya yang jatuh ke
dalam samodra dan menjelma menjadi bayi
rakasasa. Ke-lima kakak kandungnya
masing-masing bernama; Sanghyang
Sambo, Sanghyang Brahma, Sanghyang
Indra, Sanghyang Bayu dan Sanghyang
Wisnu. Bathara Kala juga mempunyai tiga
orang saudara seayah lain ibu, putra Dewi
Umakarti, yaitu ; Sanghyang Cakra,
Sanghyang Mahadewa dan Sanghyang
Asmara.

Bathara Kala bertempat tinggal di
Kahyangan Selamangumpeng. Ia menikah
dengan Dewi Pramuni, ratu penguasa
makhluk siluman yang berkahyangan di
Setragandamayit. Dari perkawinan tersebut
Bathara Kala memperoleh lima orang putra
masing-masing bernama; Bathara
Siwahjaya, Dewi Kalayuwati, Bathara
Kalayuwana, Bathara Kalagotama dan
Bathara Kartinea.

Bathara Kala sangat sakti sejak bayi.
Ketika mengamuk di Suralaya, ia hanya
bisa ditaklukan oleh Sanghyang
Manikmaya dengan Aji Kemayan. Kedua
taringnya dipotong, yang kanan menjadi
keris Kalanadah dan yang kiri menjadi
keris Kaladite. Selain Sanghyang
Manikmaya, hanya Sanghyang Wisnu yang
dapat mengalahkan Bathara Kala.

Meskipun sakti, Bathara Kala sangat dungu
dan tak pernah mulai mengadakan
persoalan ataupun peperangan. Ia kerap
kali bertindak salah tetapi tidak disengaja,
hanya kerena kebodohannya. Bathara Kala
akan membela diri dan haknya apabila
diserang atau dianiaya. Membunuh
makhluk lain tidak untuk kesenangan,
tetapi karena kebutuhan untuk membela
kehidupan. Bathara kala lazim
dipergunakan sebagai lambang
keangkaramurkaan.

Sumber : Senawangi
                     BATHARA KALAGUMARANG adalah
                     putra Bathara Kalakeya, yang berarti cucu
                     Bathari Durga/Dewi Pramuni dengan
                     Bathara      Kala,      dari    kahyangan
                     Setragandamayit. Bathara Kalagumarang
                     diperintahkan oleh Sanghyang Manikmaya
                     untuk turun ke Arcapada mencari
                     seperangkat gamelan ketoprak. Benda
                     tersebut sangat diperlukan oleh Sanghyang
                     Manikmaya untuk memenuhi permintaan
                     Dewi Tisnowati, wanita yang tercipta dari
Kalagumaran          Cupu Retnadumilah milik Sanghyang
     g               Kanekaputra yang jatuh ke dalam rongga
                     mulut       Hyang       Anantaboga.Kerena
                     mendapat wewenang untuk berbuat apa
                     saja     sesuai     kehendaknya,    dalam
                     perjalannya Bathara Kalagumarang selalu
                     membuat keonaran. Setiap dewa yang
                     ditemuinya di perjalanan dihajarnya. Ia
                     juga merusak perkampungan penduduk dan
                     membunuh        orang-orang    yang    tak
              Batara
                     berdosa.Tindakannya itu menimbulkan
                     banyak kekacauan di Arcapada.

                     Pada suatu saat Bathara Kalagumarang
                     bertemu dengan Dewi Sri, istri Sanghyang
                     Wisnu. Ia langsung mengejarnya dan
                     bermaksud     untuk      memperistrinya.
                     Perbuatannya itu diketahui Sanghyang
                     Wisnu yang mengutuknya menjadi babi
                     hutan.

                     Mengetahui wujudnya berubah menjadi
                     babi hutan, Bathara Kalagumarang semakin
                     marah dan beringas. Ia terus mengejar-
                     ngejar Dewi Sri yang akhirnya sampai di
                     negara       Medangkamulan.        Bathara
                     Kalagumarang akhirnya mati dipanah oleh
                     Prabu Makukuhan, yang sesungguhnya
                     penjelmaan     Bathara    Srigati,   putra
                     Sanghyang      Wisnu     dengan      Dewi
                     Srisekar/Sri Widowati.
                     KALARAHU adalah makhluk berwujud
                     raksasa anak maharsi Kasyapa dengan
                     Dewi Sinhika. Kalarahu mempunyai                Gambar
 Kalarahu            saudara tunggal ibu yaitu Sucandra,             Gambar
                     Candrahantri dan Candrapramardana.

                     Kalarahu sangat membenci Batara Surya
                    dan Batara Candra sehingga sering
                    matahari dan bulan ditelan olehnya
                    sehingga menimbulkan gerhana matahari
                    dan bulan. Latar belakang kebencian itu
                    adalah bermula dari pencarian tirta amerta
                    oleh para dewa. Tirta amerta adalah air suci
                    yang jika diminum akan melanggengkan
                    umur, kalis dari kematian dan menjadi
                    makhluk abadi. Kalarahu menyusup
                    diantara rombongan dewa yang mengantri
                    untuk meminumnya.

                    Tepat ketika air di teguknya, Batara Surya
                    dan Batara Candra meneriakinya bahwa dia
                    adalah penyusup. Mengetahui hal tersebut
                    Batara Wisnu langsung melemparkan
                    senjata cakra dan seketika kepala Kalarahu
                    langsung       terpenggal     meninggalkan
                    badannya. Badan Kalarahu jatuh ke bumi
                    dan kemudian berubah menjadi lesung
                    penumbuk padi. Sementara karena telah
                    berhasil meminum tirta amerta, maka
                    kepala Kalarahu tidak mati dan melesat dan
                    mengembara ke angkasa.
                    BATHARA KALAYUWANA adalah putra
                    ke-tiga dari lima bersaudara putra Btahara
                    Kala dengan Bathari Durga dari kahyangan
                    Setragandamayit. Ke-empat saudaranya
                    yang lain adalah Bathara Siwahjaya, Dewi
                    Kalayuwati — menikah dengan Ditya
                    Rudramurti mempunyai anak lelaki
Kalayuwana          (berujud raksasa) yang diberi nama
                    Wisnungkara, yang kemudian menurunkan
                    para raja raksasa, diantaranya Arya
                    Kunjarakresna yang berputra Prabu
                    Yudakalakresna serta Arya
             Batara Singamulangjaya, raja dan patih negara
                    Dwarawati — , Bathara Kalagotama dan
                    Bathara Kartinea.

                    Sebagaimana anak Bathara Kala yang lain,
                    Bathara Kalayuwana juga memiliki sifat
                    perwatakan ; berangasan, tinggi hati,
                    serakah dan mau menang dan benarnya
                    sendiri.

                    Akibat dari sifat berangasan dan
                    kesombongan Bathara Kalayuwana perang
                    besar pernah terjadi di Suralaya, antara para
                 dewa melawan pasukan raksasa dan para
                 siluman dari Setragandamayit. Peperangan
                 terjadi sebagai akibat kemaraan Bathara
                 Kalayuwana yang tidak dapat menerima
                 penolakan Bathara Guru atas pinangannya
                 terhadap Dewi Gagarmayang. Perang baru
                 berakhir setelah Sanghyang Brahma turun
                 ke arcapada untuk meminta bantuan Resi
                 Kiswabrisma, cucu buyut Dewi
                 Brahmanisri dengan Garuda Aruni/Garuda
                 Briawan. Dewi Brahmanisri adalah putrid
                 sulung Sanghyang Brahma dengan Dewi
                 Raraswati. Dalam peperangan tersebut Resi
                 Kiswabriswa berhasil mengalahkan Bathara
                 Kalayuwana dan mengusir pasukan raksasa
                 dan para siluman dari Jonggringsaloka.

                 Sumber : Senawangi
                 BATHARA KAMAJAYA mempunyai
                 wajah sangat tampan. Ia merupakan
                 makhluk yang berwajah paling tampan di
                 Tribuana (jagad Mayapada, Madyapada
Kamajaya         dan Arcapada). Bersama isterinya, Dewi
                 Ratih/Kamaratih, putri Bathara Soma,
                 kedua suami-istri tersebur merupakan
                 lambang kerukunan suami-istri di jagad
                 raya. Mereka terkenal sangat rukun, tidak
                 pernah berselisih, sangat setia satu sama
                 lain dan cinta mencintai.

                  Bathara Kamajaya adalah putra kesembilan
                  dari kesepuluh orang saudara kandung       Bathara
                  putra Bathara Ismaya dengan Dewi           Kamajaya dadi
           Batara Senggani. Kesembilan orang saudaranya      pralambang priya
                  masing-masing      bernama;      Bathara   kang sampurna
                  Wungkuam, Bathara Tambora, Bathara         -
                  Wrahaspati, Bathara Siwah, Bathara
                  Kuwera,    Bathara    Candra,    Bathara
                  Yama/Yamadipati, Bathara Surya dan
                  Dewi Darmanesti.

                 Bathara Kamajaya bertempat tinggal di
                 Kahyangan Cakrakembang. Ia memiliki
                 senjata pamungkas berupa panah sakti
                 bernama Kyai Pancawisaya. Bathara
                 Kamajaya    pernah   ditugaskan  oleh
                 Sanghyang Manikmaya untuk menurunkan
                 Wahyu Cakraningrat kepada Raden
                 Abimanyu/Angkawijaya, putra Arjuna
                   dengan Dewi Sumbadra, sebagai pasangan
                   Wahyu Hidayat yang diturunkan oleh Dewi
                   Ratih kepada Dewi Utari, putri Prabu
                   Matswapati, raja negara Wirata. Bathara
                   Kamajaya sangat sayang kepada Arjuna,
                   dan selalu membantu serta melindunginya
                   bila     Arjuna    menghadapi      suatu
                   permasalahan dan marabahaya.

                   Sebagai makhluk yang berwujud “akyan”
                   hidup Bathara Kamajaya bersifat abadi.

                   Sumber : Senawangi
                   DEWI RATIH atau Dewi Kamaratih,
                   adalah putri Bathara Soma, putra
                   Sanghyang Pancaresi yang berarti
                   keturunan Sanghyang Wening, adik
                   Sanghyang Wenang. Dewi Ratih menikah
                   dengan Bathara Kamajaya, putra
                   kesembilan Sanghyang Ismaya dengan
Kamaratih          Dewi Senggani. Ia bertempat tinggal di
                   Kahyangan Cakrakembang.

                   Dewi Ratih berwajah sangat cantik,
                   memiliki sifat dan perwatakan; sangat setia
                   dan cinta kasih, murah hati, baik budi,
                   sabar dan sangat berbakti terhadap suami.
                   Bersama suaminya Bathara Kamajaya,
                   suami-istri tersebut merupakan lambang
                   kerukunan suami-istri di jagad raya. Karena
                   kerukunannya dan cinta kasihnya satu
            Batari
                   dengan yang lain.

                   Dewi Ratih pernah ditugaskan oleh
                   Sanghyang Manikmaya untuk menurunkan
                   Wahyu Hidayat kepada Dewi Utari, putra
                   bungsu Prabu Matswapati raja negara
                   Wirata dengan permaisuri Dewi Ni
                   Yutisnawati/ Setyawati. Wahyu Hidayat
                   diturunkan sebagai pasangan Wahyu
                   Cakraningrat yang diturunkan Bathara
                   Kamajaya kepada Raden
                   Abimanyu/Angkawijaya, putra Arjuna
                   dengan Dewi Sumbadra.

                   Sebagaimana halnya para dewa lainnya,
                   hidup Dewi Ratih pun bersifat abadi, tidak
                   mengenal kematian.
                   Sumber : Senawangi
                   KANASTREN, DEWI disebut juga Dewi
                   Kanastri atau Ganastri adalah istri dari
                   Semar. Ia bersaudara dengan Dewi
                   Kaniraras istri Begawan Manumayasa.
Kanastren          Perkawinan mereka terjadi saat Semar
                   masih bertempat tinggal di Desa Karang
                   Dempel, yaitu pada saat semar pertama kali
                   ke dunia untuk menjalankan tugas sebagai
                   pemomong para kstaria utama.                    Ki
                                                                    Demang :
            Dewi
                 Meskipun dalam pewayang anak Semar                 Kanastren
                 adalah Gareng, Petruk dan Bagong, namun
                 itu adalah bukan anak dari Kanastren.
                 Bersama Semara (Batara Ismaa), Kanastren
                 memiliki     10 anak      yaitu Bathara
                 Wungkuam, Bathara Tembora, Bathara
                 Kuwera, Bathara Wrahaspati, Bathara
                 Syiwah, Bathara Surya, Bathara Chandra,
                 Bathara      Yama/Yamadipati,      Bathara
                 Kamajaya dan Bathari Darmastutri.
                 DEWI       KANIRARAS         atau    Dewi
                 Retnowati, adalah putri sulung Bathara
                 Hira, putra Sanghyang Triyarta yang berarti
                 keturunan Sanghyang Wening/ Darmayaka
                 dengan Dewi Sikandi. Ibunya bernama
                 Dewi Illawati, bidadari hasil pujaan
                 Sanghyang Pancaresi.Dewi Kaniraras
                 mempunyai adik kandung beranama Dewi
Kaniraras        Kanesti       yang      menjadi       istri
                 Smarasanta/Smara/Semar, putra Bathara
                 Wungkuam, yang berarti cucu Sanghyang
                 Ismaya dengan Dewi Senggani.Dewi
                 Kaniraras     menikah     dengan      Resi
                 Manumayasa/Karnumayasa, putra Bathara
            Dewi
                 Parikenan dengan Dewi Bramananeki, yang
                 menjadi brahmana di pertapaan Wukir
                 Retawu, salah pucak Gunung Saptaarga.
                 Dari perkawinan tersebut ia mempunyai
                 tiga orang putra, masing-masing bernama;
                 Bambang         Manudewa,         Bambang
                 Sakutrem/Satrukem dan Dewi Sriyati.

                   Ketika mengandung putranya yang kedua,
                   Dewi Kaniraras ingin sekali makan buah
                   Sumarwana yang terletak di atas pohon
                   rukem yang dijaga oleh raksasa Satrutama
                   di hutan Wanasaya. Buah Sumarwana
                   akhirnya dapat diambil Resi Manumayasa
                setalah membunuh ditya Satrutama. Begitu
                makan buah Sumawana, Dewi Kaniraras
                langsung melahirkan jabang bayi pria yang
                sangat tanpan dan diberi nama Bambang
                Sakutrem. Atas kehendak dewata, putranya
                tersebut ditakdirkan akan menjadi cikal
                bakal trah witaradya (keturunan para raja)
                di dunia.

                Dewi Kaniraras berusia sangat panjang, Ia
                mati moksa bersama suaminya, Resi
                Manumayasa, kembalike kahyangan.
                BATHARA KUWERA adalah putra ketiga
                Sanghyang Ismaya dangan Dewi Senggani.
                Ia mempunyai sembilan orang saudara
                kandung masing-masing bernama; Bathara
                Wungkuam, Bathara Tambora, Bathara
                Wrahaspati, Bathara Siwah, Bathara Surya,
                Bathara Candra, Bathara
Kuwera          Yama/Yamadipati, Bathra Kamajaya dan
                Dewi Darmanasti.

                Bathara Kuwera adalah Dewa lambang
                kebaktian dan kemanusiaan. Ia bertugas
                memberi petunjuk, fatwa, pahala dan
                perlindungan serta pertolongan kepada
                umat di Arcapada. Pada jaman Ramayana,
                ia menitis pada Brahmana Sutiksna,
                brahmana suci di Gunung
                Citrakuta/Kutarunggu untuk memberi
         Batara wejangan ilmu Asthabrata, yaitu ajaran
                kepemimpinana yang diilhami kebesaran
                dan keseimbangan delapan unsur alam,
                kepada Ramawijaya. Sedangkan pada
                jaman Mahabharata, Bathara Kuwera
                menitis pada Resi Lomosa, brahmana suci
                negara Amarta yang dengan setia
                mendampingi dan memberin nasehat Prabu
                Yudhistira selama masa pemgembaraan
                dihutan sebagaia kibat kalah dalam taruhan
                permainana dadu dengan keluarga Kurawa.

                Bersama Sanghyang Cakra, putra
                Sanghyang Manikmaya dengan Dewi
                Umarakti, Bathra Kurewa ditetapkan
                sebagai juru tulis/pencatat hasil sidang para
                dewa yang menetapkan lawan-lawan yang
                akan saling berhadapan dalam perang
                Bharatayuda antara keluarga Kurawa
                     melawan keluarga Pandawa di tegal
                     Kurusetra.

                     Bathara Kuwera menikah dengan Dewi
                     Sumarekti, putri Sanghyang Caturkanaka
                     dengan Dewi Hira, putra Sanghyang
                     Heramaya.

                     Sumber : Senawangi
                     DEWI LENGLENG MULAT Dikenal pula
                     dengan nama Dewi Lengleng Mandanu
                     (pedalangan Jawa), yang mempunyai arti ;
                     “Seorang dengan paras muka yang
                     demikian indahnya, hingga pasti akan
                     menarik dan membelenggu tiap perhatian
                     yang diarahkan kepadanya” Dewi
                     Lengleng Mulat adalah salah seorang
                     diantara bidadari upacara Suralaya yang
                     terdiri dari tujuh orang, yaitu Dewi
                     Supraba, Dewi Irimirin, Dewi
                     Gagarmayang, Dewi Tunjungbiru, Dewi
                     Warsiki dan Dewi Wilutama.
Lenglengmul          Karena kecantikannya Dewi Lengleng
     at              Mulat pernah menimbulkan peperangan
                     hebat antara Suralaya dengan negara Kasi.
                     Prabu Hiranyayaksa mengerahkan pasukan
                     raksasa menyerang Suralaya akibat
                     keinginannya memperistri Dewi Lengleng
              Batari
                     Mulat ditolak Bathara Guru. Dalam
                     peperangan tersebut, angkatan perang dewa
                     tidak dapat membendung serangan Negara
                     Kasi. Kesaktian Prabu Hiranyayaksa tidak
                     terkalahkan oleh para dewa. Untuk
                     menyelamatkan Suralaya, Bathara Narada
                     turun ke arcapada, minta bantuan Prabu
                     Harjunawijaya,.raja negara Mataswapati.

                     Dengan kesaktiannya, Prabu Harjunawijaya
                     berhasil mengalahkan Prabu Hiranyayaksa
                     dan mengusir pasukan raksasa dari
                     Suralaya. Prabu Hiranyayaksa kelak
                     bersekutu dengan Prabu Darmawisesa, raja
                     Widarba menyerang negara Magada dalam
                     memperebutkan Dewi Citrawati. Ia tewas
                     dalam peperangan melawan Bambang
                     Sumantri.

                     Sumber : Senawangi
                 SANGHYANG MAHADEWA adalah
                 Dewa Keluhuran, kemuliaan dan
                 kepahlawanan. Ia bersemayam di
                 Kahyangan Argapura. Sanghyang
                 Mahadewa adalah putra kedua Sanghyang
                 Manikmaya, raja Tribuana dengan Dewi
                 Umarakti/Umaranti. Ia mempunyai dua
                 orang saudara kandung masing-masing
                 bernama ; Sanghyang Cakra dan
                 Sanghyang Asmara. Sanghyang Mahadewa
                 juga mempunyai enam orang saudara
                 seayah lain ibu, putra Dewi Umayi masing
Mahadewa         – masing bernama : Sanghyang Sambo,
                 Sanghyang Brahma, Sanghyang Indra,
                 Sanghyang Bayu, Sanghyang Wisnu dan
                 Bathara Kala.

                 Perwatakan Sanghyang Mahadewa meliputi
                 perwatakan semua saudara-saudaranya.
                 Kejujurannya seperti Sanghyang Sambo,
                 semangatnya seperti Sanghyang Brahma,
                 tajam perasaannya seperti Sanghyang
           Sang Indra, kebijaksanaannya seperti Sanghyang
           Hyang Wisnu, taat dan patuhnya seperti Bhatara
                 Kala, bening dan telitinya seperti
                 Sanghyang Cakra.

                 Sanghyang Mahadewa bertugas untuk
                 memberikan anugrah kepada para tapa dan
                 selalu diutus/ditugaskan membawa pakaian
                 raja dan tanda kebesaran kerajaan apabila
                 ada penobatan raja yang direstui
                 Sanghyang Manikmaya. Seperti
                 penyerahan jamang/mahkota yang terbuat
                 dari emas kepada Prabu Pandu, raja negara
                 Astina, dan Balai Kencana Soka Domas
                 (balai yang terbuat dari emas yang bertiang
                 delapan ratus ) sebagai singgasana Prabu
                 Rama di Suwelagiri.

                 Sanghyang Mahadewa diserahi wewenang
                 untuk menguasai sorga. Ia juga merupakan
                 seorang prajurit pilihan dan menjadi
                 senapati angkatan perang Dewa.

                Sumber : Senawangi
                Dewi Nagagini ialah puteri Sang Hyang
                                                                  Ki
Nagagini   Dewi Antaboga, seorang Dewa ular, yang
                                                                   Demang :
                bertahta di Saptapratala atau bumi lapis
                  yang ke tujuh. la sebangsa bidadari. Pada      Nagagini
                  waktu Pandawa terkena tipu daya Kurawa
                  sehingga hampir saja dibakar di sebuah
                  perjamuan (dalam lakon Balesegala-gala),
                  Pandawa yang tak kuasa menghindarkan
                  diri dari tempat bahaya itu, dengan
                  kemurahan       Dewa,     akhirnya    dapat
                  meloloskan ke dalam bumi dengan
                  mengikuti seekor garangan (sebangsa
                  musang) putih, sehingga bertemu dengan
                  Hyang        Antaboga.Kemudian       Raden
                  Bratasena,      Pandawa      yang   kedua,
                  dinikahkan dengan Dewi Nagagini, dan
                  berputra seorang laki laki bernama Raden
                  Anantareja atau Anantasena. Anantareja
                  dan ibunya tetap tinggal di Saptapratala,
                  sebab mereka termasuk bilangan Dewa dan
                  Dewi.
                  PRABU NAGARAJA adalah raja
                  tatsaka/raja ular naga yang bersemayam di
                  Sumur Jalatunda. Pemaisurinya bernama
                  Dewi Tatsiki. Dari perkawinan tersebut ia
                  memperoleh dua orang putra masing-
                  masing bernama Dewi Pratiwi dan
                  Bambang Pratiwanggana.

                 Prabu Nagaraja adalah mertua Sanghyang
                 Wisnu, yang kawin dengan putrinya, Dewi
Nagaraja         Pratwiwi, dan berputra dua orang, yaitu;
                 Bambang Sitija dan Dewi Siti Sundari,
                 yang kemudian diambil hak sebagi putra-
                 putri Prabu Kresna, raja negara Dwarawati,
                 sebagai penjelmaan Sanghyang Wisnu.
           Prabu Prabu Nagaraja bersedia menerima lamaran
                 Sanghyang Wisnu dan menyerahkan
                 putrinya Dewi Pratiwi apabila Sanghyang
                 Wisnu dapat memenuhi satu persyaratan,
                 menyerahkan Cangkok Wijayamulya, yang
                 mempnyai khasiat dapat menghidupkan
                 kematian. Atas petunjuknya pula
                 Sanghyang Wisnu akhirnya dapat
                 menemukan dan mendapatkan Cangkok
                 Wijayamulya yang berada dalam mulut
                 banteng Wisnuhara.

                  Cangkok Wijayamulya oleh Prabu
                  Nagaraja diberikan kepada Dewi P:ratiwi,
                  yang kemudian diberikan kepada Bambang
                  Sitija saat Sitija turun ke arcapada mencari
                    penjelmaan dan titis Sanghyang Wisnu di
                    arcapada.

                    Sumber : Senawangi
                    BAMBANG NAGATATMALA adalah
                    putra kedua (bungsu) Sanghyang
                    Anantaboga dari Kahyangan Saptapratala
                    dengan Dewi Supreti. Ia mempunyai kakak
                    kandung seorang perempuan bernama
                    Dewi Nagagini yang menjadi istri
                    Bima/Werkudara, salah satu dari lima satria
                    Pandawa, putra Prabu Pandu, raja negara
                    Astina dengan Dewi Kunti.

                   Bambang Nagatatmala berwajah tampan,
                   memiliki sifat dan perwatakan berani,.
                   jujur, setia, keras dalam kemauan dan
                   sangat berbakti. Pada suatu ketika ia
                   melihat lukisan semua makhluk bernyawa
                   termasuk para Dewa dan bidadari. Ketika
                   melihat lukisan pasangan suami-istri Dewi
Nagatatmala        Mumpuni dengan Bathara Yama, dewa
                   penjaga neraka dari kahyangan
                   Paranggumiwang atau Yamani
                   (Mahabharata), ia langsung tertarik pada
                   Dewi Mumpuni. Nagatatmala kemudian
              Bamb
                   menanyakan riwayat kedua pasangan itu
              ang
                   kepada Dewi Supreti, ibunya. Oleh Dewi
                   Supreti diceritakan kisah kehidupan rumah
                   tangga Dewi Mumpuni dengan Bathara
                   Yama yang tidak harmonis, karena
                   sesungguhnya Dew Mumpuni tidak
                   mencintai suaminya. Dewi Mumpuni
                   .bersedia menikah dengan Bathara Yama
                   karena melaksanakan perintah Bathara
                   Guru.

                    Bambang Nagatatmala merasa tertarik
                    dengan cerita tersebut. Ia segera pergi ike
                    kahyangan Parangumiwang untuk menemui
                    Dewi Mumpuni. Setelah terjadi pertemuan,
                    mereka saling jatuh cinta, dan bersepakat
                    untuk menjadi suami-istri. Bambang
                    Nagatatmala kemudian membawa lari ewi
                    Mumpuni ke kahyangan Sapta;pratala.
                    Tuntutan Bathara Yama untuk kembalinya
                    Dewi Mumpuni ditolak Batrhara Guru,
                    karena menurut ketentuan Dewata, Dewi
                    Mumpuni memang telah ditakdirkan
          menjadi isri Bambang Nagatatmala.

          Sumber : Senawangi
          NANDI atau Nanda merupakan nama
          lembu gumarang (lembu yang mempunyai
          dasar warna bulunya putih bertaburkan
          merah kuning keemasan). Dalam cerita
          pedalangan, Nandi dikenal pula dengan
          nama Nandini atau Handini. Nandi adalah
          anak raja jin bernama Prabu Patanam di
          negara Dahulagiri, sebelah timur laut
          Pegunungan Tengguru/Himalaya. Ia
          mempunyai saudar sekandung yang
          dilahirkan kembar berwujud raksasa
          masing-masing bernama Cingkarabala dan
          Balakupata, yang menjadi penjaga pintu
          gapura Selamatangkep di kahyangan
          Jonggringsaloka.
 Nandi
          Nandi sangat sakti, kuat dan bengal.
(Lembu    Karena kesaktiannya itu ia menobatkan diri
          sebagai penguasa jagad raya, disanjung dan
Andini)   dipuja rakyat di jasirah Dahulagiri.
          Mendengar pemujaan Nandi yang
          berkebihan itu, Sanghyang
          Manikmaya/Bathara Guru menjadi sangat
          murka. Karena di seluruh Tribuana (jagad
          Mayapada, Madyapada dan Arcapada)
          seharusnya tidak ada yang pantas dipuja
          dan disembah kecuali dirinya sebagai raja
          Dewata.

          Bathara Guru kemudian datang ke
          Dahulagiri untuk memerangi Nandi.
          Peperangan pun tejadilah. Dengan Aji
          Kamayan, Bathara Guru berhasil
          menundukkan Nandi. Ia menyerah dan
          mohon pengampunan. Oleh Bathara Guru,
          Nandi diampuni dan diboyong ke Suralaya,
          dijadikan tunggangan pribadi Bathara
          Guru. Nandi pernah dipinjam oleh Prabu
          Pandu, raja negara Astina, memenuhi
          permintaan Dewi Madrim, istrinya yang
          waktu itu sedang mengandung Nakula dan
          Sadewa, untuk dinaiki terbang berputar-
          putar di atas taman Kadilengleng negara
          Astina.

          Sumber : Senawangi
                   SANGHAYANG NARADA dikenal pula
                   dengan nama Sanghyang Kanwakaputra
                   atau Sanghyang Kanekaputra. Ia adalah
                   putra sulung dari empat bersaudara putra
                   Sanghyang Caturkanaka dengan Dewi
                   Laksmi, yang berarti cucu Sanghyang
                   Wening, adik Sanghyang Wenang. Tiga
                   saudara kandungnya masing-masing
                   bernama ; Sanghyang Pitanjala, Dewi
                   Tiksnawati dan Sanghyang Caturwarna.

                   Sanghyang Narada sangat sakti dan pernah
 Narada            bertapa di atas permukaan air samudra
                   sambil menggenggam Cupu Linggamanik.
                   Karena kesaktiaannya melebihi Sanghyang
                   Manikmaya, ia kemudian ditundukkan
                   dengan Aji Kemayan, sehingga beralih
                   rupa dan wujudnya menjadi pendek bulat
                   dan berparas jelek. Sebagai imbalan, oleh
                   Sanghyang Manikmaya, Sanghyang Narada
                   diangkat menjadi tuwangga (= patih ) di
                   Suralaya dan dituakan oleh Sanghyang      Bathara Narada
             Sang Manikmaya dengan sebutan                   patih ing
             Hyang “kakang/kakanda”.                         Suralaya
                                                             Narada
                   Sanghyang Narada sangat
                   dipatuhi/disuyudi (Jawa) oleh siapa saja
                   yang bergaul dengannya, karena
                   keramahannya. Ia sangat alim, pandai
                   dalam segala ilmu pengetahuan, periang,
                   jujur, hatinya bening, pikirannya cerdas,
                   senang bersenda-gurau, seorang prajurit
                   dan pandita, sehingga mendapat julukan
                   Resi.

                   Sanghyang Narada tinggal di kahyangan
                   Siddi Udaludal atau Sudukpangudaludal
                   (pedalangan Jawa) dan menikah dengan
                   Dewi Wiyodi. Dari perkawinan tersebut ia
                   memperoleh dua orang putra, masing-
                   masing bernama ; Dewi Kanekawati, yang
                   kemudian dianugerahkan kepada Resi Seta,
                   putra Prabu Matswapati, raja negara
                   Wirata, dan Bathara Malangdewa.

                    Sumber : Senawangi
                    BATHARA PANYARIKAN adalah putra
Panyarikan   Batara Sanghyang Parma, yang berarti cucu
                    Sanghyang Taya, adik Sanghyang Wenang.
                  Ia mempunyai saudara kandung bernama
                  Bathara Darma yang dikenal sebagai dewa
                  keadilan. Bathara Panyarikan mempunyai
                  suatu keahlian yang tidak dimilki para
                  dewa lainnya, yaitu tulisannya sangat
                  bagus serta pandai menulis cepat.

                  Bathara Panyarikan memiliki daya ingatan
                  yang sangat tajam. Apa saja yang pernah
                  didengar dan dilihatnya akan selalu
                  diingatnya dengan baik. Selain itu ia juga
                  pandai menyimpan rahasia. Oleh Bathara
                  Guru, Bathara Panyarikan ditugaskankan
                  sebagai juru tulis kadewatan. Mencatat dan
                  mendukumentasikan semua hasil
                  persidangan dan keputusan yang telah
                  diambil para dewa.

                  Menjelang pecah perang Bharatayudha di
                  tegal Kurusetra antara keluarga Pandawa
                  melawan keluarga Kurawa, Bathara
                  Panyarikan mempunyai tugas dan peranan
                  yang sangat penting. Bersama Bathara
                  Kuwera, ia ditugaskan mencatat hasil
                  sidang para dewa yang memutuskan lawan-
                  lawan yang akan saling berhadapan dalam
                  perang Bharatayuda, serta rahasia kematian
                  setiap senapati perang, baik yang berpihak
                  pada keluarga Pandawa maupun berpihak
                  pada keluarga Kurawa.

                  Sebagaimana para dewa lainnya, karena
                  berwujud akyan/badan halus, maka hidup
                  Bathara Panyarikan bersifat abadi.

                   Sumber : Senawangi
                   BATHARA PARIKENAN atau Bambang
Parikenan          Parikenan adalah putra Bathara
                   Brahmanaresi/Bremani (pedalangan jawa)
                   dengan Dewi Srihuna/Srihunon, putri
                   Sanghyang Wisnu dengan permaisuri Dewi
                   Sripujayanti. Ia mempunyai dua orang
            Batara saudara seibu lain ayah, putra Dewi
                   Srihuna dengan Bathara
                   Brahmanasadewa/Brahmanaraja, kakak
                   kandung Bathara Brahmanaresi, masing-
                   masing bernama ; Dewi Srini dan Dewi
                   Satapi.
                   Sejak kecil Bambang Parikenan tinggal di
                   kahyangan Untarasagara dalam asuhan
                   Sanghyang Wisnu dan Dewi Sripujayanti,
                   karena ayahnya Bathara Brahmanaresi
                   turun ke Arcapada hidup sebagai brahmana
                   di pertapaan Paremana, pegunungan
                   Saptaarga. Sedangkan ibunya Dewi Srihuna
                   tinggal di kahyangan Daksinageni,
                   kahyangannya Bathara Brahma.

                   Bambang Parikenan menikah dengan
                   saudara sepupunya sendiri, Dewi
                   Bramaneki, putri Prabu Basurata/Bathara
                   Srinada raja negara Wirata dengan Dewi
                   Bremaniyuta ( Bathara Srinada adalah putra
                   Sanghyang Wisnu dengan Dewi
                   Srisekar/Sri Widowati, sedangkan Dewi
                   Bremaniyuta adalah putri Bathara Brahma
                   dengan Dewi Rarasyati ). Dari perkawinan
                   tersebut ia memperoleh empat orang putra
                   masing-masing bernama ; Dewi Kanika.
                   Kariyasa/Resi Manumayasa, Resi
                   Manobawa dan Resi Paridarma. Resi
                   Manumayasa kelak turun ke Arcapada
                   membuat pertapaan di puncak Retawu,
                   gunung Saptaarga, menikah dengan Dewi
                   Kaniraras, turun-temurun menurunkan
                   keluarga Pandawa dan Kurawa.

                   Sumber : Senawangi
                   DEWI PRABASINI adalah bidadari
                   keturunan    Sanghyang       Triyarta.    Ia
                   mempunyai saudara kembar yang bernama
                   Dewi Gagarmayang yang dipilih oleh
Prabasini          Bathara Guru masuk dalam kelompok
                   Bidadari Upacara Suralaya yang terdiri dari
                   tujuih bidadari. Dewi Prabasini pernah
                   turun ke arcapada dan menjadi istri Prabu
                   Niwatakawaca, raja raksasa dari negara
            Batari Manikmantaka. Perjodohan ini terjadi
                   ketika Arya Nirbita, raksasa keturunan dari
                   Prabu Pracona — raja negara Gowabarong
                   yang tewas dalam peperangan melawan
                   Bambang Tutuka/Gatotkaca di Suralaya —
                   , berhasil menjadi raja di Negara
                   Manikmantaka          bergelar         Prabu
                   Niwatakawaca, datang ke Suralaya minta
                   dijodohkan dengan Dewi Gagarmayang.
                 Karena    para    dewa    merasa   takut
                 menghadapi Niwatakaca yang sangat sakti
                 setelah memiliki Aji Gineng Sukaweda,
                 sedangkan     bidadari  upacara    tidak
                 dipekenankan hidup di arcapada, Bathara
                 Guru kemudian melakukan penipuan,
                 menyerahkan Dewi Prabasini yang wajah
                 dari bentuk tubuhnya persis sama dengan
                 Dewi Gagarmayang, saudara kembarnya,
                 kepada Niwatakawaca.

                 Beberapa      tahun   kemudian,   ketika
                 Niwatakawaca menyadari bahwa yang
                 diperistri bukan Dewi Gagamayang tetapi
                 Dewi Prabasini, saudara kembarnya, ia
                 kembali lagi ke Suralaya untuk meminang
                 Dewi Supraba. Namun pinangannya itu
                 ditolak Batahara Guru, dan Niwatakawaca
                 akhirnya tewas dalam peperangan melawan
                 Arjuna.

                 Dari perkawinannya dengan Prabu
                 Niwatakawaca, Dewi Prabasini mempunyai
                 dua orang putra masing-masing bernama :
                 Arya Nilarudraka, yang setelah dewasa
                 menjadi raja negara Tegalparang dan Dewi
                 Mustakaweni, yang menjadi istri Bambang
                 Prabakusuma (Priyambada), putra Arjuna
                 dengan Dewi Dewi Supraba. Setelah
                 kematian Niwatakawaca, Dewi Prabasini
                 kembali ke Suralaya, hidup sebagai
                 bidadari.

                 Sumber : Senawangi
                 Bathari Pretiwi iku dewa kang nguwasani
                 bumi sap kapisan. Bumi sap kapisan
Pretiwi          kondhang sinebut Ekapratala. Eka ateges
                 siji, pratala ateges bumi. Bathari Pretiwi
                 putrane putri Sang Hyang Nagaraja, kang
                 dumunung ing kayangan Jalatundha. Ibune
                                                            Bathari Pretiwi
                 asma Bathari Dewi.
                                                            panguwasa bumi
          Batari
                                                            sap kapisan
                 Miturut andharan ing buku Bunga Rampai
                                                            -
                 Wayang Purwa Beserta Penjelasannya,
                 anggitane Bondhan Harghana SW lan Muh
                 Pamungkas Prasetya Bayu Aji, weton
                 Cendrawasih lan Ensiklopedi Wayang
                 Purwa, weton Balai Pustaka, Bathari
                 Pretiwi iku drajate padha kalawan para
dewa, amarga dheweke nguwasani bumi
sap kapisan.

Bumi sap kapindho, sinebut Dwipratala,
dikuwasani dening Bathara Kusika. Bumi
sap kaping telu kang sinebut Tribantala
dadi papan dununge Bathara Ganggang.
Bumi sap kaping papat utawa Caturpratala
dikuwasani Bathara Sindula lan bumi sap
kalima, sinebut Pancapratala, dikuwasani
dening Bathara Darampalan.

Bumi sap kaping enem iku kayangane
Bathara Manikem lan Saptapratala utawa
bumi sap kaping pitu mujudake kayangan
papan dununge Bathara Anantaboga.
Bathari Pretiwi ndalem uripe tansah pengin
nduweni       kembang      Wijayakusuma.
Ananging kembang kang ora sabaene
kembang iku duweke Resi Kesawasidi
kang dumunung ing Padhepokan Argajati.

Sawijining dina Bathara Wisnu tumeka ing
kayangan Eka Pratala sedya nglamar
Bathari Pretiwi. Tumekane Sanghyang
Wisnu lan sedyane njaluk dheweke supaye
gelem dadi sisihane dimumpangatake
dening Bathari Pretiwi kanggo nyembadani
pepenginane         duwe         kembang
Wijayakusuma.

Marang Sanghyang Wisnu, Bathari Pretiwi
mratelakake saguh dadi sisihane yen
Bathara Wisnu bisa nyedhiyakake kembang
Wijayakusuma minangka mas kawin.
Bathara Wisnu nyaguhi panjaluke Dewi
Pretiwi iku. Bathara Wisnu banjur tumuju
Padhepokan Argajati, nemoni Resi
Kesawasidi     lan    njaluk    kembang
Wijayakusuma.

Nalika sapatemon kalawan Bathara Wisnu,
putrane putri Resi Kesawasidi, Srisekar,
ketaman panah asmara lan pengin dadi
sisihane Hyang Wisnu. Resi Kesawasidi
mratelakake gelem masrahake kembang
Wijayakusuma yen Hyang Wisnu gelem
dadi mantune. Wusana, Hyang Wisnu
palakrama karo Srisekar.
Nalika Resi Kesawasidi arep masrahake
kembang Wijayakusuma marang Bathara
Wisnu, dheweke kaget amarga kembang
kang ngandhut kasiyat bisa nguripake wong
sing wis mati iku alum. Sawise dititipriksa,
pranyata cangkoke kembang kang sinebut
Wijayamula lan gagange wis ilang. Bathari
Wisnu tetep gelem nampa kembang
Wijayakusuma kang wus alum iku.

Sabanjure, Hyang Winu bali menyang
kayangan Ekapratala arep masrahake
kembang Wijayakusuma marang Bathari
Pretiwi. Resi Kesawasidi lan Srisekar
banjur nyusul Hyang Wisnu menyang
kayangan Ekapratala. Bathari Pretiwi
dhewe uga ngadhepi panglamar saka raja
nagara Garbapitu, Prabu Wisnudewa.

Marang Prabu Wisnudewa, Bathari Pretiwi
njaluk   maskawin   padha,    kembang
Wijayakusuma. Prabu Wisnudewa saguh
ngupadi kembang Wijayakusuma amarga
wus     nduweni   gagange     kembang
Wijayakusume kang wektu iku digawa
macan ingon-ingone kang dijenengi
Sardulamurti.

Lakune Hyang Wisnu tumuju kayangan
Ekapratala pethuk kalawan bantheng kang
bisa tata jalma. Bantheng kang ngaku duwe
jeneng Handaka Wisnuhata iku pengin dadi
abdine Hyang Wisnu. Sabanjure batheng
iku ngiringi lakune Hyang Wisnu tumuju
kayangan Ekapratala.

Bathara Wisnu kang kasil nggawa kembang
Wijayakusuma banjur masrahake kembang
iku marang Bathari Pretiwi. Ing
kalodhangan iku, Prabu Wisnudewa uga
masrahake macan Sardulamurti marang
Bathari Pretiwi nanging ditulak amarga
sing dijaluk iku kembang. Wusana Prabu
Wisnudewa nesu lan nantang prang
tandhing marang Hyang Wisnu.

Macan Sardulamurti mbiyantu Prabu
Wisnudewa, dene bantheng Handaka
Wisnuhata mbiyantu Hyang Wisnu. Macan
lan bantheng kang padha sektine iku
                    sampyuh, mati bareng lan wusana malih
                    rupa dadi gagang lan cangkok kembang.
                    Bathari Pretiwi njupuk gagang lan cangkok
                    kembang iku lan banjur didadekake siji
                    kalawan kembang Wijayakusuma kang
                    dipasrahake dening Bathara Wisnu.

                    Wusana Bathara Wisnu lan Bathari Pretiwi
                    sida palakrama. Kembang Wijayakusuma
                    banjur     dibalekake     maneh     marang
                    Sanghyang Wisnu. Kalorone nurunake
                    putra dhampit yaiku Sitija (sabanjure dadi
                    raja jejuluk Prabu Bomanarakasura) lan Siti
                    Sundari (sabanjure dadi sisihane Arjuna lan
                    nurunake Abimanyu). Nalika Bathara
                    Wisnu nitis marang Prabu Kresna, Bathari
                    Pretiwi banjur dadi sisihane raja Dwarawati
                    iku. ::Ichwan Prasetyo::

                    Sumber                                     :
                    http://www.solopos.co.id/soft/index_detail.
                    asp?id=10317
                    DEWI REKATAWATI dikenal pula
                    dengan nama Dewi Rakti atau Dewi
                    Wirandi. Ia adalah putri Prabu Yuyut/Resi
                    Rekatama, berwujud ketam/yuyu, raja
                    negara Samodralaya. Oleh Sanghyang
                    Wenang, Dewi Rekatawati dinikahkan
                    dengan Sanghyang Tunggal putra
                    Sanghyang Wenang dengan Dewi Sahoti.

                  Karena Sanghyang Tunggal berwujud
                  “akyan” (makluk halus) maka yang lahir
                  dari kandungannya berwujud sebutir telur,
                  terbang melayang-layang yang setelah
Rekatawati   Dewi ditangkap oleh Sanghyang Tunggal pecah
                  berubah wujud menjadi tiga orang anak
                  kembar. Sama-sama tampan, cakap dan
                  memancarkan cahaya keagungan. Oleh
                  Sanghyang Tunggal ketiga putranya
                  tersebut masing-masing diberi nama :
                  Sanghyang Tejamaya/Antaga (terjadi dari
                  kulit telur), Sanghyang Ismaya (terjadi dari
                  putih telur) dan Sanghyang Manikmaya
                  (terjadi dari kuning telur).

                    Karena berwujud badan rokhani, hidup
                    Dewi Rekatawati bersifat abadi. Ia
                    bersemayam di kahyangan
                  Alangalangkumitir.

                  Sumber : Senawangi
                  SADANA, BATARA adalah putra kedua
                  dari empat bersaudara putra Prabu Sri
                  Mahapunggung,         raja      negara
Sadana            Medangkamulan dengan Dewi Danawati.

                  Prabu Sri Mahapunggung adalah nama
                  gelar Batara Srigati, putra Sanghyang
                  Wisnu dengan Dewi Sri Sekar/Sri
                  Widowati yang turun ke Arcapada untuk
                  menjaga kelestarian dunia. Tiga saudara
                  kandungnya yang lain adalah, DewiSri,
                  Wandu, dan Oya.

                  Raden Sadana berwajah sangat tampan, dan
         Batara
                  memiliki sifat perwatakan: murah hati, baik
                  budi, sabar dan bijaksana. Bersama
                  kakaknya, Dewi Sri, ia dikenal sebagai
                  dewa lambang kemakmuran hasil bumi.
                  Sadana dikenal sebagai Dewa umbi-
                  umbian, kentang, sayur-sayuran, dan buah-
                  buhanan, sedangkan Dewi Sri sebagai
                  Dewi Padi. Oleh karena itu, mereka tidak
                  pernah dipisahkan.

               (“Rupa & Karakter Wayang Purwa” oleh
               Heru S. Sudjarwo, Sumari dan Undung
               Wiyono, penerbit Kakilangit Kencana
               cetakan ke-1 Mei 2010)
               SANGHYANG SAMBO atau Sambu
               adalah putra sulung Sanghyang
               Manikmaya, raja Tribuana dengan
Sambo          permaisuri pertama Dewi Umayi. Ia
               mempunyai lima orang saudara kandung
               masing-masing bernama ; Sanghyang
               Brahma, Sanghyang Indra, Sanghyang
                                                                Bathara Sambu
               Bayu, Sanghyang Wisnu dan Bathara Kala.
                                                                nate kajibah
         Sang Sanghyang Sambo juga mempunyai tiga
                                                                ngebur samodra
         Hyang orang saudara seayah lain ibu, yaitu putra
                                                                susu
               Dewi Umarakti, masing-masing bernama ;
                                                                -
               Sanghyang Cakra, Sanghyang Mahadewa
               dan Sanghyang Asmara.

                  Sanghyang Sambo bersemayam di
                  kahyangan Swelagringging. Ia menikah
                  dengan Dewi Hastuti, putri Sanghyang
                  Darmastuti, cucu Sanghyang Tunggal
             dengan Dewi Darmani. Dari perkawinan
             tersebut ia memperoleh empat orang putra
             masing-masing bernama ; Bathara
             Sambosa, Bathara Sambawa, Bathara
             Sambujana dan Bathara Sambodana.

             Bathara Sambo memiliki sifat dan
             perwatakan ; jujur dan terpercaya,
             bertanggung jawab, dan cakap. Karena itu
             apabila ada masalah yang harus
             dirundingkan atau diselesaikan, Bathara
             Sambolah yang diminta menyelesaikannya.
             Ia sangat sakti, dan apabila bertiwikrama
             dari tubuhnya akan keluar prabawa hawa
             yang dapat menundukkan lawannya.
             Bathara Sambo pernah turun ke arcapada
             dan menjadi raja di negara Medangprawa
             bergelar Sri Maharaja Maldewa

             Sumber : Senawangi
             DEWI SRI atau Dewi Sulastri (pedalangan
             Jawa) adalah putri sulung Prabu Sri
             Mahapunggung, raja negara
             Medangkamulan dengan Dewi Danawati.
             Prabu Sri Mahapunggung adalah nama
             gelar Bathara Srigati, putra Sanghyang
             Wisnu dengan Dewi Sri Sekar/Sri
             Widowati yang turun ke Arcapada untuk
             menjaga kelestarian dunia. Dewi Sri
Sri          mempunyai tiga orang adik kandung, yaitu
             ; Sadana, Wandu dan Oya.

           Dewi Sri berwajah sangat cantik. Ia
           diyakini sebagai titisan Bathari Sri
                                                      Sri, Dewi
      Dewi Widowati, neneknya. Dewi Sri memiliki
                                                      -
           sifat dan perwataan: murah hat, baik budi,
           sabar dan bijaksana. Bersama adiknya,
           Sadana, ia dikenal sebagai Dewa lambang
           kemakmuran hasil bumi. Dewi Sri sebagai
           Dewa Padi, sedangkan Sadana sebagai
           Dewa hasil bumi lainnya, seperti : umbi-
           umbian, kentang, sayur-sayuran dan buah-
           buhanan. Oleh karena itu mereka tidak
           pernah dipisahkan.

             Dalam lakon “Sri Sadana” diceritakan,
             bahwa Sadana meloloskan diri pergi dari
             negara Medangkamulan karena dimarai
             oleh ayahnya. Dewi Sri setelah mengetahui
                 kepergian adiknya, lalu pergi mencarinya.
                 Setelah melalui berbagai rintangan dan
                 pengalaman pahit karena dalam perjalanan
                 bertemu dengan raksasa
                 Kalagumarang/Karungkala yang terus
                 menerus mengejarnya. Setelahselamadari
                 nafsu jahat Karungkala, akhirnya Dewi Sri
                 dapat bertemu kembali dengan Sadana

                 Sebagai Dewa Hasil Bumi, Dewi Sri dan
                 adiknya. Sadana diyakini hidup sampai
                 akhir jaman, sebab mempunyai tugas
                 memberikan kemakmuran kepada
                 masyarakat.

                 Sumber : Senawangi
                 BATHARA SRIGATI adalah putra sulung
                 Sanghyang Wisnu dengan permaisuri Dewi
                 Srisekar/Dewi Sri Widowati. Ia mempunyai
                 dua orang saudara kandung masing-masing
                 bernama; Bathara Srinada yang turun ke
                 Arcapada dan menjadi raja negara Wirata
                 bergelar Prabu Basurata, dan Bathari
                 Srinadi. Bathara Srigati juga mempunyai
                 15 orang saudara seayah lain ibu, putra-
                 putri Dewi Pratiwi dan Dewi Sri Pujayanti.
                 Diantara mereka yang dikenal adalah ;
Srigati          Bambang Sitija/Prabu Bomanarakasura
                 yang menjadi raja di negara Surateleng,
                 Dewi Siti Sundari, Bathara Bhisawa, Dewi
                 Srihuna/Srihunon yang menikah dengan
                 Bathara Brahmanaresi dan menurunkan
          Batara trah Saptaarga, Dewi Srihuni dan Bathara
                 Isnapura yang menurunkan Prabu
                 Yudakalakresna, raja raksasa dari negara
                 Dwarawati.

                 Bathara Srigati turun ke Arcapada dan
                 menjadi raja di negara Purwacarita bergelar
                 Prabu Sri Mahapungung. Ia menikah
                 dengan Dewi Danawati dan mempunyai
                 empat orang putra masing-msing bernama ;
                 Dewi Sri, Sadana,Wandu dan Oya.

                 Bathara Srigati sangat sakti. Ia pernah
                 dimintai bantuan ayahnya Sanghyang
                 Wisnu yang menjadi raja di negara
                 Medangkamulan bergelar Prabu Satmata,
                 untuk membinasakan Prabu Watugunung
                  raja negara Gilingwesi yang selain berani
                  menyerang Suralaya juga telah bertindak
                  keliru mengawini ibu kandung dan ibu
                  tirinya.

                  Setelah lanjut usia dan merasa tidak
                  mampu lagi mengendalikan roda
                  pemerintahan, Prabu Sri Mahapunggung
                  menyerahkan tahta kerajaannya kepada
                  putra ketiga, yaitu Wandu yang setelah naik
                  tahta kerajaan Purwacarita bergelar Prabu
                  Srimahawan.

                  Sumber : Senawangi
                  DEWI SRIHUNA atau Dewi Srihunon
                  adalah putri kesembilan Sanghyang Wisnu
                  dengan permaisuri Dewi Sripujayanti. Ia
                  mempunyai 12 saudara kandung, masing-
                  masing bernama: Bathara Herumaya,
                  Bathara Isawa, Bathara Bisawa, Bathara
                  Isnawa. Bathara Isnapura — yang disabda
                  menjadi raksasa dan berganti nama Ditya
                  Rudramurti yang menurunkan Prabu
                  Yudakalakresna, raja raksasa dari negara
                  Dwarawati —, Bathara Madura, Bathara
                  Madusena, Bathara Madusadana, Dewi
                  Srtihuni,    Bathara   Pujarta,   Bathara
                  Parwanboja dan Bathara Hardanari.

                Dewi Srihuna juga mempunyai lima orang
                saudara lain ibu, putra-putri Sanghyang
Srihunon   Dewi Wisnu dengan Dewi Srisekar dan Dewi
                Pratiwi. Mereka adalah, Bathara Srigati
                yang menjadi raja negara Purwacarita
                bergelar Prabu Sri Mahapunggung.
                Kemudian Bathara Srinada yang menjadi
                raja negara Wirata bergelar Prabu Basurata.
                Batara Srinadi yang menurunkan raja-jara
                Mandaraka,                        Bambang
                Sitija/Bomanarakasura       raja    negara
                Surateleng dan Dewi Siti Sundari.

                  Pada mulanya Dewi Srihuna akan
                  dinikahkan         dengan       Bathara
                  Brahmanasadara       (Bremana),    Putra
                  Sanghyang      Brahma    dengan   Dewi
                  Sarasyati.Tapi Bathara Bremana menolak.
                  Dewi Srihuna kemudian dinikahkan dengan
                  Bathara Brahmanaresi (Bremani) adik
                      Bathara Bremana. Dari perkawinan tersebut
                      ia mempunyai seorang putra bernama
                      Bambang Parikenan, yang merupakan
                      cikal-bakal  keturunan     trah    Wukir
                      Retawu/Saptaarga.

                      Karena Bathara Bremana kemudian jatuh
                      cinta pada Dewi Srihuna, maka setelah
                      Bambang Parikenan lahir, oleh Bathara
                      Brahmanaresi, Dewi Srihuna diserahkan
                      kepada kakaknya, Bathara Brahmanasadara
                      (Bremana). Dari perkawinan tersebut, Dewi
                      Srihuna mempunyai dua orang putri,
                      masing-masing bernama : Dewi Srini dan
                      Dewi Satapi.

                      Sumber : Senawangi
                      DEWI SRI WIDOWATI dikenal pula
                      dengan nama Dewi Srisekar. Ia adalah
                      permaisuri utama Sanghyang Wisnu. Dewi
                      Sri Widowati berasal dari Cupu
                      Linggamanik, sebagai hasil semedi Hyang
                      Anantaboga dari kahyangan Saptapratala.
                      Dari perkawinan tersebut, ia memperoleh
                      tiga orang putra masing-msing bernama ;
                      Bathara Srigati, Bathara Srinada dan
                      Bathari Srinadi. Dewi Sri Widowati selain
                      sangat cantik dan anggun juga memiliki
                      kharisma yang tinggi sebagai wanita utama.

                      Dewi Sri dan Bathara Wisnu merupakan
                      pasangan yang tak terpisahkan. Apabila
                      Bathara Wisnu turun menitis ke Arcapada
Sri Widowati   Batari
                      dalam mengemban tugas mengembalikan
                      keseimbangan     dunia    dari   tindakan
                      keserakahan         dan         perbuatan
                      keangkaramurkaan, Dewi Sri akan ikut
                      turun menitis sebagai pasangannya, walau
                      harus melalui berbagai rintangan. Karena
                      itu titisan Dewi Sri selalu menjadi
                      incaran/buruan para penyandang sifat
                      angkara      murka,      sepeti     Prabu
                      Dasamuka/Rahwana, raja negara Alengka.

                      Pada jaman Ramayana, Dewi Sri menitis
                      pada Dewi Kusalya, putri Prabu Banaputra,
                      raja negara Ayodya, ibu Ramawijaya.
                      Kemudian menitis pada Dewi Citrawati,
                      putri Magada dan menjadi istri Prabu
                 Arjunasasra, raja negara Maespati,
                 selanjutnya menitis pada diri Dewi Sinta,
                 putri Prabu Janaka raja negara Mantili dan
                 menjadi istri Ramawijaya. Pada jaman
                 Mahabharata, ketika Bathara Wisnu menitis
                 pada diri Sri Kresna, raja negara
                 Dwarawati, Dewi Sri menitis pada diri
                 Dewi Sumbadra, adik Sri Kresna dan
                 menjadi istri Arjuna, satria Pandawa.

                 Sumber : Senawangi
                 DEWI SUPRABA adalah bidadari yang
                 sangat terkenal karena kecantikannya. Ia
                 masih keturunan Dewi Kanika, putri
                 Sanghyang Taya, adik Sanghyang Wenang.
                 Banyak titah Arcapada yang tergila-gila
                 ingin memperistri Dewi Supraba. Dengan
                 mengandalkan kesaktian, mereka nekad
                 datang melamar ke Suralaya dengan
                 pertaruhan nyawa.

                 Dari sekian banyak titah Arcapada yang
                 sangat bernafsu dan juga karena dendam
                 ingin memperistri Dewi Supraba adalah
Supraba          Prabu Niwatakawaca, raja raksasa negara
                 Manikmantaka. Mata kanan Prabu
                 Niwatakawaca yang waktu mudanya
                 bernama Arya Nirbita menjadi buta karena
                 ditusuk dengan kacip (pemotong buah
                 gambir ) oleh Dewi Supraba saat ia sedang
          Batari
                 mengintip tingkah pola para bidadari di
                 kahyangan Kaideran. Prabu Niwatakawaca
                 yang sangat sakti dan tak terkalahkan oleh
                 para dewa, akhirnya mati oleh panah
                 Pasopati yang dilepas Arjuna, setelah
                 rahasia kesaktiannya/kematiannya berupa
                 noktah hitam dilangit-langit mulutnya
                 diceritakan sendiri kepada Dewi Supraba.

                 Oleh Sanghyang Manikmaya, Dewi
                 Supraba dihadiahkan kepada Arjuna yang
                 atas jasanya membunuh Prabu
                 Niwatakawaca dinobatkan sebagai raja
                 Kaideran bergelar Prabu Kariti. Dari
                 perkawinan tersebut ia memperoleh
                 seorang putra yang diberi nama ;
                 Prabakusuma. Dewi Supraba adalah salah
                 seorang bidadari upacara Suralaya yang
                 terdiri dari tujuh orang, yaitu ; Dewi
               Supraba, Dewi Lenglengdanu, Dewi
               Gagarmayang, Dewi Tunjungbiru, Dewi
               Irimirin, Dewi Warsiki, dan Dewi
               Wilutama.

               Sumber : Senawangi
               BATHARA SURYA adalah Dewa
               Matahari yang bertugas menerangi
               Arcapada, memberi perkembangan hidup
               dan kesehatan kepada semua makhluk yang
               terjadi disiang hari. Bathara Surya adalah
               putra keenam Sanghyang Ismaya dengan
               Dewi Senggani. Ia mempunyai sembilan
               orang saudara kandung, masing-masing
               bernama; Bathara Wungkuam, Bathara
               Tambora, Bathara Wrahaspati, Bathara
               Siwah, Bathara Kuwera, Bathara Candra,
               Bathara Yama/Yamadipati, Bathara
               Kamajaya dan Dewi Darmanasti.

               Bathara Surya mempunyai tempat tinggal
               di Kahyangan Ekacakra. Ia mempunyai tiga
Surya          orang permaisuri yaitu; kakak beradik
               Dewi Ngruna dan Dewi Ngruni, serta Dewi
               Prati/Dewi Haruni, putri Hyang
               Ramaparwa, putra Sanghyang Wening.           Bathara Surya
               Dengan Dewi Ngruna, Bathara Surya            njurung
        Batara berputra Resi Suwarna yang kemudian          ngrembakane
               menurunkan bangsa Garuda. Dengan Dewi        titah
               Ngruni berputra ; Dewi Suryawati yang        -
               kemudian diperistri oleh Gatotkaca, dan
               Bathara Suryanirada. Sedangkan dengan
               Dewi Prati, Bathara Surya berputra Bathara
               Rawiatmaja yang kemudian menurunkan
               raja-raja Maespati, trah pertapaan
               Argasekar, trah pertapaan
               Grastina/keturunan Resi Gotama dengan
               Dewi Indradi.

               Secara tidak resmi, Bathara Surya juga
               mengawini Dewi Kunti dan berputra
               Suryatmaja/Adipati Karna. Bathara Surya
               juga memberikan Cupu Manik Astagina
               kepada Dewi Indradi yang mengakibatkan
               ketiga putra Dewi Indradi, yaitu ; Dewi
               Anjani, Subali dan Sugriwa berubah wujud
               menjadi kera.

               Bathara Surya mempunyai kereta yang
              ditarik oleh tujuh ekor kuda dan pernah
              dipinjam Batahra Wisnu untuk
              memusnahkan Prabu Watugunung, raja
              Gilingwesi. Bathara Surya pula yang
              mengetahui tatkala Ditya Kalarahu mencuri
              Tirta Amerta, hingga persembunyiannya
              dapat diketahui dan dapat dibinasakan oleh
              Bathara Wisnu.

              Sumber : Senawangi
              DEWI TARA adalah seorang
              hapsari/bidadari, putri sulung Bathara Indra
              penguasa kahyangan Kaindran (tempat
              tinggal para bidadari) dengan permaisuri
              Dewi Wiyati. Ia mempunyai enam saudara
              kandung, masing-masing bernama; Dewi
              Tari (menjadi istri Prabu Dasamuka), raja
              negara Alengka), Bathara Citrarata,
              Bathara Citragara, Bathara Jayantaka,
              Bathara Jayantara dan Bathara
              Harjunawangsa.

              Oleh Bathara Guru, Dewi Tara diberikan
              kepada Sugriwa, putra Resi Gotama dengan
              Dewi Indradi/Windradi dari pertapaan
              Grastina/Erraya sebagai imbalan atas jasa
              Subali (kakak Sugriwa) yang telah berhasil
              membunuh Prabu Maesasura dan Jatasura
                                                         Tara
Tara   Batari dari kerajaan Gowa Kiskenda. Belum lama
                                                         -
              menjadi istri Sugriwa, Dewi Tara direbut
              Resi Subali yang termakan hasutan jahat
              Prabu Dasamuka, raja negara Alengka.
              Selama menjadi istri Resi Subali, Dewi
              Tara hamil.

              Setelah Resi Subali meninggal oleh panah
              Gowawijaya milik Ramawijaya, Dewi Tara
              kembali menjadi istri Sugriwa. Ia kemudian
              melahirkan putra berwujud kera berbulu
              merah yang diberi nama : Anggada, sesuai
              dengan pesan Resi Subali sebelum ajal.
              Setelah Prabu Sugriwa meninggal karena
              usia lanjut Dewi Tara kembali ke
              kahyangan Kaindran, kembali hidup
              sebagai bidadari.

              Sumber : Senawangi
              DEWI TARI adalah seorang                    Tari
Tari   Batari
              hapsari/bidadari, putri kedua Bathara Indra -
                penguasa Kahyangan Kaindran (tempat
                tinggal para bidadari) dengan Dewi Wiyati.
                Ia mempunyai enam saudara kandung
                masing-masing bernama : Dewi Tara,
                Bathara Citrarata, Bathara Citragara,
                Bathara Jayantaka, Bathara Jayantara dan
                Bathara Harjunawangsa.

                Oleh Sanghyang Manikmaya/Bathara
                Guru, Dewi Tari dan dua bidadari lainnya
                yaitu Dewi Aswani dan Dewi Triwati
                diberikan kepada tiga putra Alengka, yaitu
                Prabu Dasamuka, Kumbakarna dan Arya
                Wibisana. Mereka dijadikan persyaratan
                perdamaian karena kekalahan para Dewa
                menghadapi serangan Prabu Dasamuka dan
                balatentara negara Alengka. Dewi Tari
                menikah dengan Prabu Dasamuka, Dewi
                Aswani menikah dengan Kumbakarna dan
                Dewi Triwati dengan Arya Wibisana. Dari
                perkawinan tersebut, Dewi Tari
                mempunyai seorang putra bernama
                Indrajid/Megananda.

                Setelah berakhinya perang besar Alengka
                dengan tewasnya Indrajid dan Prabu
                Dasamuka, Dewi Tari kembali ke
                Kahyangan Kaindran, hidup sebagai
                bidadari.

                 Sumber : Senawangi
                 BATHARA TEMBORO dikenal pula
                 dengan nama Bathara Patuk. Ia merupakan
                 putra kedua Bathara Ismaya dengan Dewi
Temboro          Senggani. Bathara Temboro mempunyai
                 sembilan orang saudara kandung, masing-
                 masing bernama : Bathara Wungkuam,
                 Bathara Kuwera, Bathara Wrahaspati,
                 Bathara Syiwah, Bathara Surya, Bathara
                 Candra,     Bathara    Yama/Yamadipati,
          Batara
                 Bathara      Kamajaya     dan     Dewi
                 Darmastuti.Bathara Temboro mempunyai
                 gaya penampilan yang jenaka. Ia sangat
                 pandai melawak dan gaya penampilan yang
                 lucu. Karena keahliannya melucu dan
                 sikapnya yang jenaka, Bathara Tembora
                 menjadi dewa kesayangan Sanghyang
                 Manikmaya/Bathara Guru. Karena dialah
                 satu-satunya Dewa yang dapat menjadi
                     pelipur lara dan penghibur Sanghyang
                     Manikmaya.
 Tunggal             TUNGGAL, SANGHYANG adalah putra
                     sulung Sanghyang Wenang dengan
                     Permaisuri Dewi Sahoti, putri Prabu Hari,
                     Raja Keling negara Hindu. Ia lahir dalam
                     wujud “akyan” (badan halus/jin) dan
                     mempunyai empat saudara kandung
                     masing-masing bernama Dewi Suyati,
                     Batara Nioya, Batara Herumaya, dan
                     Batara Senggana.

                    Dalam segala hal, Sanghyang Tunggal
              Sang
                    merupakan personifikasi dari Sanghyang
              Hyang
                    Wenang, karena hidup sejiwa dengan
                    Sanghyang    Wenang,      ayahnya.   Ia
                    mempunyai pusaka pemberian Sanghyang
                    Wenang antara lain; Cupu Retnadumilah,
                    Cupu    Manikastagina,     Lata    Maha
                    Usadi/Lata Mausadi, dan Kayu Rewan.

                     (“Rupa & Karakter Wayang Purwa” oleh
                     Heru S. Sudjarwo, Sumari dan Undung
                     Wiyono, penerbit Kakilangit Kencana
                     cetakan ke-1 Mei 2010)
                     DEWI TUNJUNGBIRU adalah salah
                     seorang dari tujuh bidadari upacara
                     Suralaya yang terdiri dari ; Dewi Supraba.
                     Dewi Lenglengdanu, Dewi Irimirin, Dewi
                     Gagarmayang, Dewi Wilutama, Dewi
                     Warsiki dan Dewi Tunjungbiru sendiri.
Tunjungbiru
                     Karena kecerdasannya dan sifatnya yang
                     murah hati, setia dan penyabar, Dewi
                     Tunjungbiru pernah diperintahkan oleh
                     Sanghyang Manikmaya/Batara Guru untuk
                     turun ke marcapada, menjelma/menitis
              Batari
                     sebagai putri Bathara Kandikota (turun ke-
                     empat dari Sanghyang Darmajaka). Dalam
                     penitisannya itu ia menikah dengan Prabu
                     Arya/Aya, raja negara Duryapura. Dari
                     perkawinan tersebut, Dewi Tunjungbiru
                     mempunyai seorang putra yang diberi
                     nama, Dasarata. Putranya ini kelak
                     menikah dengan Dewi Kusalya, pewaris
                     tahta negara Ayodya, dan menurunkan
                     Ramawijaya.

                     Bersama keenam bidadari upacara Suralaya
                 lainnya,   Dewi    Tunjungbiru pernah
                 ditugaskan Bathara Indra turun ke
                 marapada, untuk membangunkan tapa
                 Arjuna di Goa Mintaraga, di lereng Gunung
                 Indrakila bergelar Bagawan Ciptaning.
                 Namun tidak berhasil membangunkan
                 kekhusukkan tapa Bagawan Ciptaning.

                 Sumber : Senawangi
                 UMAYI, DEWI dikenal pula dengan nama
                 Dewi Uma. Ia adalah putri Umaran,
                 seorang hartawan di Merut. Ibunya
                 bernama Dewi Nurweni, putri Prabu
                 Nurangin, raja jin di Kalingga. Dewi
                 Umayi mempunyai adik kandung bernama
Umayi            Dewi Umarakti/Umaranti, yang menjadi
                 permaisuri kedua Sanghyang Manikmaya.

               Kelahiran Dewi Umayi diiringi kekacauan
               alam yang dahsyat. Gunung-gunung
               meletus, gempa bumi dan badai terjadi
               dimana-mana. Saat lahir dari rahim ibunya,
               ia bukan berupa bayi biasa, melainkan
               berwujud segumpal cahaya merah yang
               memelesat ke angkasa. Cahaya itu
               melayang ke sana kemari. Sang ayah segera
          Dewi mengejar dan mencoba menangkapnya,
               tetapi selalu gagal.

                 Akhirnya cahaya itu hinggap di puncak
                 Gunung Tengguru, suatu tempat yang
                 dikuasai para makhluk halus, peri, dan
                 gandarwa. Di tempat itu saudagar Umaran
                 lalu bersamadi, mohon pada Yang Maha
                 kuasa agar anaknya yang berwujud cahaya
                 itu dapat dikembalikan dalam wujud yang
                 sempurna, yaitu layaknya menjadi bayi
                 biasa. Doa itu terkabul namun bayi itu
                 berkelamin ganda.

                 (“Rupa & Karakter Wayang Purwa” oleh
                 Heru S. Sudjarwo, Sumari dan Undung
                 Wiyono, penerbit Kakilangit Kencana
                 cetakan ke-1 Mei 2010)
                 WARSIKI mempunyai arti ; “Seorang yang
                 amat unggul akan kecantikannya.” Karena
Warsiki   Batari itu Dewi Warsiki ditetapkan sebagai salah
                 seorang dari tujuh bidadari upacara
                 Suralaya yang selalu mengiringi
                Sanghyang Manikmaya dalam setiap
                upacara resmi kedewatan. Keenam bidadai
                lainnya adalah ; Dewi Supraba, Dewi
                Lenglengdanu, Dewi Irimirin, Dewi
                Gagarmayang, Dewi Tunjungbiru dan
                Dewi Wilutama.

                Dewi Warsiki adalah satu dari 40 (empat
                puluh) orang putri Sanghyang Nioya
                dengan Bathari Darmastuti. Salah seorang
                saudaranya, Dewi Urwaci, yang merupakan
                bidadari paling seksi di kahyangan,
                menjadi kecintaan Bathara Guru.

                Dalam kisah “Arjuna Wiwaha” Dewi
                Warsiki pernah turun ke arcapada bersama
                keenam bidadari upacara Suralaya lainnya
                melaksanakan perintah Sanghyang Indra,
                untuk membuyarkan atau menggagalkan
                Arjuna yang sedang bertapa di Goa
                Mintaraga, hutan Kaliasa di lereng gunung
                Indrakilo.

                Karena kecantikannya, Dewi Warsiki
                pernah menggoncangkan Suralaya, ketika
                Bathara Kalagotama, putra Bathara Kala
                dengan Dewi Durga yang ingin
                memoeristri Dewi Warsiki ditolak Bathara
                Guru. Perang tak dapat dihindarkan antara
                para dewa Suralaya melawan para raksasa
                dari Setragandamyit. Perang baru berakhir
                setelah Sanghyang Narada turun ke
                arcapada dan meminta bantuan Resi
                Manumayasa dari pertapaan Retawu,
                gunung Saptaarga. Dalam peperangan
                tersebut Manumayasa berhasil
                mengalahkan Bathara kalagotama dan
                kelima saudaranya, yaitu Bathara
                Siwahjaya, Bathara Kalayuwana, Bathara
                Kartinea dan Bathara Dewasrani.

               Sumber : Senawangi
               WENANG, Sang Hyang adalah putra Sang
               Hyang Nurasa dengan permaisuri Dewi             Sang
               Sarwati, putri Prabu Rawangin, raja jin di       Hyang
         Sang
Wenang   Hyang
               Pulau Darma. Sang hyang Wenang lahir             Wenang
               berwujud sotan (suara yang samar-samar)         Ngelmu
               bersama adik kembarnya yang bernama
               Sang Hayang Wening. Dalam pedalangan,
                    Sang Hayang Wenang dikenal pula dengan
                    nama Sang Hayang Jatiwisesa. Saudara
                    kandung lainnya adalah Sang Hyang Taya
                    atau Sang Hyang Pramanawisesa yang
                    berwujud akyan (badan halus/jin).

                    Setelah Sang Hyang Wenang dewasa, Sang
                    Hyang Nurasa kemudian manuksma (hidup
                    dalam satu jiwa) ke dalam diri Sang Hyang
                    Wenang setelah menyerahkan benda-benda
                    pusaka : Kitab Pustaka Darya, pusaka dan
                    azimat berupa Kayu Rewan, Lata Maha
                    Usadi, Cupu Manik Astagina dan cupu
                    Retnadumilah.

                    Sang Hyang Wenang menikah dengan
                    Dewi Sahoti/Dewi Sati, putri Prabu Hari
                    raja negri Keling. Dari perkawinannya
                    dianugerahi 5 putra yang kesemuanya
                    berwujud akyan : Sang Hyang Tunggal,
                    Dewi Suyati, Batara Nioya, Batara
                    Herumaya dan Betara Senggana. Setelah
                    Sang Hyang Tunggal dewasa, maka Sang
                    Hyang Wenang menyerahkan tahta
                    kerajaan dan segenap pasukannya kepada
                    Sang Hyang Tunggal.

                    (“Rupa & Karakter Wayang Purwa” oleh
                    Heru S. Sudjarwo, Sumari dan Undung
                    Wiyono, penerbit Kakilangit Kencana
                    cetakan ke-1 Mei 2010)
                    WILUTAMA adalah salah seorang dari
                    tujuh bidadari upacara Suralaya yang terdiri
                    dari : Dewi Supraba, Dewi Lenglengdanu,
Wilutama            Dewi Gagarmayang, Dewi Tunjungbiru,
                    Dewi Irimirin dan Dewi Warsiki. Karena
                    kecerdasannya        oleh       Sanghyang
                    Manikmaya, Dewi Wilutama ditetapkan               Pitoyo :
                    sebagai kepala dari ketujuh bidadari               Wilutama
                    upacara Suralaya tersebut.                        Herjaka :
           Batara
                                                                       Kidung
                    Dewi Wilutama pernah turun ke Arcapada             Malam
                    melaksanakan     perintah   Sanghyang
                    Manikmaya untuk mempertemukan titisan
                    Bathara Derma dengan Bathari Dermi.
                    Waktu itu Bathara Derma menitis pada
                    Raden Samba, Putra Prabu Kresna dengan
                    Dewi Jembawati. Sedangkan Bathari
                    Dermi, menitis pada Dewi Hagnyanawati,
                putri Prabu Narakasura raja negara
                Surateleng, yang telah menjadi istri Prabu
                Bomanarakusra,         raja         negara
                Prajatisa/Surateleng.

                Menurut cerita pedalangan, Dewi Wilutama
                pernah turun ke Arcapada menjelma
                menjadi kuda sembrani betina dan
                membawa           terbang       Bambang
                Kumbayana/Resi Drona menyeberangi
                lautan yang waktu itu sedang mencari Arya
                Sucitra. Dalam peristiwa itu terjalin
                hubungan asmara antara Dewi Wilutama
                dengan Bambang Kumbayana. Akibatnya
                Dewi Wilutama hamil, dan melahirkan
                seorang putra lelaki yang mempunyai ciri-
                ciri berambut dan bertelapak kaki kuda,
                yang diberi nama Bambang Aswatama.

              http://sudarjanto.multiply.com/photos/phot
              o/210/37
              DEWI WINATA adalah putra Hyang
              Daksa. Ia mempunyai saudara kandung
              sebanyak 49 orang, dua belas orang
              diantaranya wanita. Diantara kedua belas
              saudara perempuannya yang dikenal dalam
              cerita pedalangan antara lain; Dewi Aditi
              (ibu Bathara Waruna), Dewi Muni (ibu dari
              Dewi Mumpuni, istri Bathara Yama yang
              kemudian menjadi istri Nagatatmala) dan
              Dewi Kadru.Dewi Winata beserta
              keduabelas saudara kandungnya menjadi
              istri Resi Kasyapa. Dari perkawinannya
              dengan Resi Kasyapa. Dewi Winata
              memperoleh dua orang putra berwujud
Winata   Dewi
              burung garuda masing-masing bernama ;
              Garuda Aruna dan Garuda Aruni/Garuda
              Suwarna/Brihawan.

                Dewi Winata pernah terkena kutuk pastu
                putranya sendiri, Garuda Aruna sebagia
                akibat ketidak sabarannya memecah telur
                Aruna sebelum waktunya menetas. Aruna
                yang merasa kesakitan kerena menetas
                sebelum waktunya membalas mengutuk
                ibunya, bahwa Dewi Winata akan menjadi
                budak saudaranya sendiri. Kutukan itu
                menjadi kenyataan. Dewi Winata
                diperbudak oleh Dewi Kadru akibat kalah
               menebak warna kuda Ucirawas, karena
               Dewi Kadru dibandu anak-anaknya yang
               berwujud ular melilit tubuh kuda Ucirawas,
               hingga tubuh kuda yang putih mulus
               menjadi belang-belang.

               Bertahun-tahun Dewi Winata diperbudak
               Dewi Kadru untuk mengasuh ribuan ular
               anak Dewi Kadru dengan Resi Kasyapa.
               Penderitaan Dewi Winata akhirnya dapat
               dibebaskan oleh putranya, Garuda Aruni
               yang dapat memenuhi permintaan Dewi
               Kadru dengan memberikan tebusan berupa
               air Saktiwisa yang diperoleh Garuda Aruni
               dengan meminjamnya dari Bathara
               Brahmanayana, atas seijin Sanghyang
               Brahma.

               Sumber : Senawangi
               Sang Hyang Wisnu seorang Dewa putra
               Hyang Guru. Halusnya menitis, menjelma
               pada raja-raja dan ksatria-ksatria. Hyang
               Wisnu pernah juga menjadi raja di muka
Wisnu          bumi ini sebagai manusia biasa bertakhta di
               Purwacarita dengan gelar Sri Maharaja
                                                                 Bathara
               Budakresna.
                                                                  Wisnu
                                                                  kajibah
              Mereka yang mendapat titisan Hyang
                                                                  mamayu
              Wisnu, menjadi orang orang yang sakti dan
                                                                  hayuning
              waspada. Yang mendapat titisan Wisnu
                                                                  bawana
              ialah: Prabu Arjunasasrabau dari Maespati,
                                                                 Wiki :
              Patih Suwanda di Maespati, Sri Rama,
                                                                  Wisnu
              Arjuna dan Prabu Kresna. Penitisan juga
                                                                 Google :
        Sang terjadi sesudah zaman Purwa, ialah pada
                                                                  Gambar
        Hyang Prabu Jayabaya di Kediri.
                                                                  Batara
                                                                  Wisnu
               Ketika Dewa ini dilahirkan, bumi
                                                                 Pitoyo :
               terpengaruh hingga getar, sampai-sampai
                                                                  Batara
               Betara Guru pun jatuh terpelanting.
                                                                  Wisnu
                                                                 KTCM
               Setelah dewasa, ia beristrikan Dewi
                                                                  Wisnu
               Setyabama, putri Hyang Pancaresi, Hyang
                                                                  Ratu
               Wisnu bisa tiwikrama, menjadi raksasa
               yang tidak terhingga besarnya dan memiiki
               senjata cakra yang sangat sakti. Kesaktian
               dan senjata cakra itu digunakan oleh titisan
               Wisnu sebagai bukti bahwa mereka
               memang      titisannya.    Hyang    Wisnu
               merupakan pokok pangkal yang memulai
                   keturunan Pendawa dan ia berbesan dengan
                   Hyang Brama.

                   Asal mula Hyang Wisnu mendapat bunga
                   Wijayakusuma ialah sewaktu ia akan kawin
                   dengan Dewi Pertiwi yang minta sebagai
                   jujur bunga Wijayakusuma.

                   Semula bunga itu dimiliki oleh Begawan
                   Kesawasidi. Tersebutlah, ketika Hyang
                   Wisnu akan kawin dengan Dewi Pertiwi,
                   maka bunga tersebut dipinjam oleh Hyang
                   Wisnu untuk digunakan sebagai jujur.
                   Permintaan itu dikabulkan. Tetapi untuk
                   lengkapnya, barang siapa memiliki bunga
                   itu harus memiliki pula kulitnya dan kulit
                   itu dimiliki oleh Prabu Wisnudewa dari
                   negara Garbapitu. Kulit bunga yang
                   bertempat di dalam mulut seekor banteng
                   (lembu hitam) dapat direbut oleh Hyang
                   Wisnu dari mulut banteng itu. Terkabullah
                   perkawinan Hyang Wisnu karena bisa
                   mengadakan jujur yang diminta.

                   Menurut adat-istiadat Sala, pada waktu di
                   situ masih terdapat seorang raja, maka
                   pemetikan bunga Wijayukusuma dari Pulau
                   Nusakambangan dilakukan oleh seorang
                   ulama atas titah raja.

                    (“Sedjarah Wajang Purwa” oleh Pak
                    Hardjowirogo penerbit PN Balai Pustaka
                    Cetakan ke-5 tahun 1968)
                    Wrahaspati, BATARA adalah putra
                    keempat Sang Hyang Ismaya dengan Dewi
Wrahaspati          Senggani,      putri     Sang    Hyang
                    Wening/Darmayaka. Dia mempunyai 9
                    orang
                    saudara kandung yaitu Batara Wungkuam,
                                                                   Senawang
                    Batara Tembora/Patuk, BataraKuwera,
                                                                    i:
                    Batara Syiwah, Batara Surya, Batara
             Batara                                                 Wrahaspa
                    Candra,     BataraYamadipati,    Batara
                                                                    ti
                    Kamajaya dan Batari Darmayanti.Batara
                    Wrahaspati sangat sakti dan berwatak
                    penyabar sehingga dia menjadi guru para
                    dewa.

                   Batara Wrahaspati bersahabat baik dengan
                   seorang brahmana sakti bernama Resi
                   Sukra yang telah bertapa selama 1.000
                   tahun memuja Batara Prameswara sehingga
                   memperoleh ajian Sanjiwani, yaitu mantra
                   sakti yang dapat menghidupkan orang yang
                   telah mati meskipun telah menjadi abu
                   sekalipun.Mengetahui Resi Sukra menjadi
                   guru bangsa raksasa dan berusaha melawan
                   para     dewa,    Wrahaspati    kemudian
                   menyuruh Kaca murid kesayangannya
                   untuk berguru kepada Resi Sukra. Kaca
                   berhasil mendapatkan mantra sakti itu
                   dengan bantuan Dewi Dewayani, putri
                   tunggal Resi Sukra bersama Dewi Jayanti,
                   maka para dewa tetap tidak terkalahkan
                   oleh golongan raksasa.

                   (“Rupa & Karakter Wayang Purwa” oleh
                   Heru S. Sudjarwo, Sumari dan Undung
                   Wiyono, penerbit Kakilangit Kencana
                   cetakan ke-1 Mei 2010)
                   Betara Yamadipati seorang Dewa dan anak
                   Semar. Dewa ini berkuasa memegang
                   kunci neraka dan berkuasa pula mencabut
Yamadipati         nyawa     manusia.    Maka     menjadilah
                   kepercayaan orang dulu, bahwa kalau
                   orang yang sedang sakit melihat
                   kedatangan Hyang Yamadipati, si sakit itu
                   sudah mendekati ajalnya.
                                                                  Bathara
                   Gambar Wayang Yamadipati berupa orang           Yamadipa
                   bermuka     raksasa,  melambangkan              ti wenang
                   keganasan Dewa itu.                             njabut
                                                                   nyawa
                    Dewa ini beristrikan Dewi Mumpuni tetapi      Yamadipa
             Batara Dewi ini tidak suka pada Yamadipati            ti
                                                                  Pitoyo :
                   Hyang Yamadipati dapat disebut Dewa             Yamadipa
                   kematian.    Ia    bermahkota   topong,         ti
                   berjamang dengan garuda membelakang,           Google :
                   dan bersunting waderan. Bersenjata              Gambar
                   rencong dan berpakaian menurut adat-
                   istiadat   Dewa.    Bermata   plelengan
                   (berkedip, tetapi jarang), menandakan
                   keganasannya. Berhidung manusia, artinya
                   tidak    berhidung    macam    wayang,
                   melambangkan, bahwa Dewa ini selalu
                   mendekati manusia.

                   (“Sedjarah Wajang Purwa” oleh Pak
Hardjowirogo penerbit PN Balai Pustaka
Cetakan ke-5 tahun 1968)

								
To top