Documents
Resources
Learning Center
Upload
Plans & pricing Sign in
Sign Out

19 trik mendisiplinkan anak

VIEWS: 6 PAGES: 4

									19 Trik Mendisiplinkan Anak

Memiliki anak-anak yang punya kedisiplinan tinggi, memang cita-cita
semua orangtua. Namun, adakalanya orangtua kesulitan "menjinakkan"
anak-anak mereka. Agar jagoan cilik Anda mau mematuhi segala aturan yang
ada di rumah, ikuti 10 trik berikut ini.

Sering kali, orangtua terus berkutat dengan masalah kedisiplinan yang
idealnya selalu dipatuhi anak-anak. Orangtua terkadang harus memaksa
anak-anaknya untuk disiplin di rumah, menghormati orangtua, bicara
dengan nada yang santun, rajin belajar, tidur siang tepat waktu, yang
intinya mengatur semua gerak-gerik Si Kecil.

KLIK - DetailNamun, harus tetap ingat, kedisiplinan yang Anda maksud tak
hanya melakukan koreksi pada tingkah laku anak-anak saja. Tapi juga
mengajarkan kepada mereka cara untuk bisa mengontrol dirinya, serta
peduli akan lingkungannya, sehingga mereka dapat tumbuh menjadi orang
yang berhasil di kemudian hari.

Untuk itu, ada beberapa pendekatan yang dapat Anda lakukan untuk
membantu anak-anak mendisiplinkan dirinya.

1. Tegas
Jika Anda melarang anak-anak untuk tidak melakukan sesuatu, buatlah
alasan-alasan yang masuk akal, dengan memberikan penjelasan dan
bimbingan padanya. Anak jaman sekarang pasti tidak akan mau menerima
alasan seperti, "Jangan duduk di depan pintu, pamali!" Atau, "Jangan
main terlalu sore, nanti diculik Kalong Wewe!" Beritahu alasannya,
kenapa dia tidak boleh duduk di depan pintu atau bermain sore-sore,
menjelang malam.

2. Jangan Plin Plan
Pada dasarnya, Si Kecil akan meniru apa yang orang dewasa lakukan.
Begitu pun jika Anda dan pasangan bertindak plin-plan terhadap suatu
keputusan. Misalnya, Anda tak setuju dia melompat-lompat di tempat
tidur, sementara pasangan Anda membiarkannya. Hal ini hanya akan membuat
dia bingung, akibatnya dia jadi mengabaikan ketidaksetujuan Anda. Jadi,
buatlah kesepakatan keputusan dengan pasangan agar anak-anak jadi mudah
dalam bersikap.

3. Kompromi
Anak-anak tak selalu bisa mengatasi dan membedakan antara persoalan yang
besar dan kecil. Sesekali, berkompromi dan mengertilah diri mereka.
Tindakan kompromi akan membuat anak-anak menjadi lebih mudah menghadapi
persoalan yang lebih besar nantinya. Misalnya, jika dia lalai menengok
ke kiri-kanan saat akan menyeberang jalan, lain kali dia tak akan begitu
lagi. Jika Anda keberatan dengan sikapnya, nyatakan dengan jelas.
Misalnya, "Berhentilah melempar-lempar mainanmu, Nak!" Tapi, jangan
katakan, "Hei, mainannya jangan dilempar-lempar, dong!"

4. Beri Bimbingan
Jika anak Anda mengobrak-abrik buku dari lemari yang ada di ruang
keluarga, katakan saja, "Maukah kamu berhenti 'bermain' buku? Baca saja,
ya di kamarmu?" Jika dia tak memedulikan perkataan Anda, dengan cara
yang lembut namun tegas, Anda bisa membimbingnya ke kamar dan katakan
padanya, dia boleh kembali ke ruang keluarga jika mau mendengarkan
kata-kata Anda.

5. Beri Peringatan
Jika anak tahu aturan yang telah Anda buat, pada usia tertentu, Anda
hanya perlu bertanya padanya, ketika melakukan pelanggaran. Dia akan
langsung merasa segan pada Anda, karena ada konsekuensi atau sanki yang
harus diterimanya segera, setelah pelanggaran dibuat. Jika Anda terbiasa
membuat batasan peringatan sampai hitungan 5, kali ini kurangi sampai
hitungan ke 3, sehingga anak akan belajar untuk segera mengubah sikap
setelah diberi peringatan.

6. Beri Alasan
Jika anak bermain-main dengan benda tajam, Anda tentu harus lebih
berhati-hati memperingatinya. Terangkan dengan bahasa yang jelas dan
sederhana, apa yang akan Anda lakukan dan sebutkan alasannya. Misalnya,
"Mama simpan pisaunya ya, Sayang, nanti bisa melukai tanganmu!" Atau,
"Mama minta kamu jangan main air ya, nanti lantainya jadi licin dan bisa
bikin kamu terjatuh."

7. Jangan Tunda Hukuman
Jika Anda ingin menghukum anak yang tidak disiplin, hukumlah segera
setelah Anda tahu dia tidak disiplin. Jangan sampai Anda menunda memberi
hukuman padanya. Sebab, anak-anak tidak akan mau menerima hukuman
beruntun atau mengulangi kesalahan. Berilah hukuman yang mendidik,
seperti menyapu lantai, merapikan tempat tidur, tidak main play station
atau barbie, atau membersihkan kamar mandi.

8. Tetap Tenang
Marah sambil berteriak, membentak, atau menceramahi anak tanpa henti,
akan membuat Anda menjadi orang yang melakukan tindak kekerasan verbal
terhadap anak. Tindakan ini justru bisa merusak rasa penghargaan diri
pada anak Anda. Akibatnya, anak jadi tidak memiliki rasa pede di ahdapan
orangtuanya.

9. Bertekuk Lutut
Menunduklah saat berbicara pada Si Kecil, terutama saat memberi kritikan
padanya. Tekuklah lutut Anda atau ambil posisi duduk di hadapnnya, agar
pandangan mata Anda sejajar dengannya. Dengan sikap seperti ini, Anda
tak perlu merasa khawatir akan kehilangan respek darinya. Justru
sebaliknya, dia akan semakin menghormati dan menghargai Anda sebagai
orangtua.

10. Jangan Ceramah
Ajaklah Si Kecil ngobrol dan berdiskusi, dari pada diceramahi panjang
lebar. Meskipun tampaknya pernyataan ini tidak bernada keras, seperti,
"Sudah berkali-kali Mama bilang ..." Atau, "Setiap saat kamu kok ...",
tetap memberi kesan seolah-olah dia ditakdirkan untuk selalu
mengecewakan Anda, apapun yang dia perbuat.

Cobalah gulirkan pertanyaan-pertanyaan seperti, "Merokok, kan, enggak
baik untuk anak-anak, ya?" Atau, "Apakah kamu suka jika temanmu
mengganggu terus di sekolah, Nak?" Kritiklah sikapnya, jangan salahkan
dirinya.

11. Tunjukkan Sikap Positif
Terlalu banyak waktu Anda yang terbuang jika hanya mengkritik sikap
buruk Si Kecil. Sebaliknya, Anda jadi kekurangan waktu untuk memberinya
pujian atas sikap positifnya. Ada kalanya, sesekali Anda perlu
mengucapkan, "Mama senang, lho, lihat kamu membereskan mainan dan
menyimpannya di tempat semula."

12. Bermain Bersama
Jika sempat, tak ada salahnya Anda meluagkan waktu sebenatr dan ikut
bermain-main denganyya. Buatlah permainan bernuansa perlombaan semacam
"siapa cepat dia dapat." Permainan ini akan melatih anak Anda bertindak
cepat setelah ada aba-aba dari Anda, atau yang dia ucapkan sendiri.

13. Hindari Rasa Jengkel
Belajarlah untuk memaklumi hal-hal yang bisa memicu anak kesal dan
jengkel. Umumnya, perasaan tidak nyaman ini dialami anak-anak saat dia
sedang kelelahan, saat Anda terlalu menuntutnya berbuat lebih, saat dia
lapar, dan saat dia sakit. Minimalisasi kondisi-kondisi yang membuatnya
tidak nyaman ini untuk mengurangi kejengkelan pada anak.

14. Jangan Menampar!
Tamparan keras yang Anda berikan di wajahnya, akan berpengaruh buruk
bagi diri anak, juga Anda. Anak yang pernah ditampar orangtuanya akan
merasa lebih menderita, dari pada perasaan tidak dihargai atau depresi
sekalipun. Tindakan ini pun sekaligus bisa mengajarkan, secara tidak
langung pada anak, untuk menyelesaikan segala persoalan dengan cara
kekerasan.
15. Jangan Menyuap
Jangan membiasakan memberi uang atau hadiah kepada anak saat Anda
memintanya untuk mengerjakan atau melarang sesuatu. Kebiasaan seperti
ini bisa membuat anak jadi tidak mau mengerjakan atau menghindari
sesuatu, jika belum diberi uang atau hadiah.

16. Bersikap Dewasa
Bersenda gurau dengan cara melucu berlebihan, dengan menggigiti atau
menarik-narik rambut anak Anda, untuk menunjukkan rasa sayang, merupakan
tindakan yang salah. Bersikaplah sewajarnya, sebagai orang dewasa
seperti menggenggam tangannya, memeluknya, atau memberi ciuman di kedua
pipi atau kepalanya.

17. Hadapi Rengekan
Katakan kepada anak-anak untuk tidak merengek saat meminta sesuatu dan
tegaskan pula, Anda tidak akan mengabulkan permintaannya jika
disampaikan dengan cara merengek atau menangis. Kecuali, jika dia
meminta sesuatu dengan sikap yang manis dan sopan.

18. Contoh Baik
Jika suatu kali anak Anda pernah memerogoki Anda sedang berdebat dengan
pasangan tanpa menggunakan kekerasan, dia akan meniru sikap baik itu.
Tapi, jika Anda dan pasangan bertengkar dengan saling menghina, memukul,
atau berteriak, anak Anda akan meniru sikap-sikap buruk itu di kemudian
hari.

Dari 18 trik di atas, yang terpenting, Anda harus mengerti terlebih dulu
kondisi anak-anak. Berusaha untuk membuatnya menjadi lebih disiplin,
tanpa memahami bagaimana dan apa yang dia lakukan, sama halnya seperti
menuangkan sirup ke dalam botol tertutup. Dengan kata lain, percuma saja
dan hanya akan memperburuk keadaan di kemudian hari.

Hubungan dan komunikasi yang baik dengan anak memang sangat perlu
dilakukan. Yang bisa Anda lakukan segera untuk mengatasi masalah ini,
yaitu Anda hanya perlu bertanya kepada anak, apa yang sebenarnya terjadi
dan mengapa dia berbuat begitu. Pada beberapa kasus, anak-anak dapat
berterus terang tentang masalahnya kepada orangtua. Namun, jika dia tak
mau berterus terang, sementara Anda tidak mempunyai cara lain untuk
bertindak, tetaplah berpikir positif.

Regards,

Rudy Stefanus Tobing

								
To top