PENYUSUNAN PROPOSAL PENELITIAN by dzN2lf9

VIEWS: 0 PAGES: 12

									                                                                           0




      MODEL PEMBERDAYAAN PONDOK PESANTREN
                    SEBAGAI
         PUSAT PENGEMBANGAN SAPI POTONG
                                     Oleh :
                         Prof Dr Ir Soemarno MS, dkk.



                               RINGKASAN

      Program ini dirancang dalam rangka ikut mendukung gerakan nasional
pemberdayaan masyarakat dan penanggulangan kemiskinan melalui upaya
pemberdayaan dan penguatan kelembagaan PONPES sebagai pusat
pengembangan sapi potong, serta menerapkan teknologi inovatif dalam sistem
produksi sapi potong.
       Program Payung Pemberdayaan PONPES ini ini terdiri atas lima kegiatan
yang saling berkaitan, yaitu:
1. Menyusun Sistem Informasi tentang Minat berwira-usaha agribisnis sapi-
    potong di kalangan PONPES dan masyarakat sekitarnya, serta kendala-
    kendala yang dihadapi (Kegiatan A).
2. Merancang Panduan Paket Sistem Sekolah Lapang Agribisnis Sapi-potong
    berpendampingan (Kegiatan B)
3. Melaksanakan Rekruitment dan SLASP bagi PONPES, masyarakat sekitar
    dan para pendamping (Kegiatan C).
4. Melaksanakan Ujicoba Pendampingan Pemberdayaan PONPES senagai
    Pusat Pengembangan Sapi Potong (Kegiatan D)
5. Monitoring dan Evaluasi Kegiatan Agribisnis Sapi Potong dengan
   Pendampingan (Kegiatan E)

      Lokasi kegiatan adalah sbb:

No   Wilayah              PONPES                        RTP    Pendamping
1    Tuban                1 unit                        10          2
2    Magetan              1 unit                        10          2
3    Blitar               1 unit                        10          2
4    Lumajang             1 unit                        10          2
5    Kediri               1 unit                        10          2
                                                                              1



I. PENDAHULUAN

       1.1. Latar Belakang

       Gerakan terpadu revitalisasi pertanian, penanggulangan kemiskinan,
pemberdayaan masyarakat dan penguatan usaha ekonomi rakyat di seluruh
tanah air masih menghadapi tantangan dan kendala serius. Oleh karena itu
diperlukan berbagai terobosan kegiatan dan/atau program khusus untuk
mempercepat keberhasilan gerakan nasional tersebut.

        Salah satu program khusus untuk mensukseskan gerakan nasional dalam
lingkup revitalisasi pertanian dapat dituangkan dalam Konsep Pemberdayaan
PONPES sebagai pusat pengembangan sapi potong melalui Pendampingan.
Program ini dikonsepkan bukan merupakan program yang berdiri sendiri tanpa
memerlukan dukungan program lain, namun justru melalui program inilah
diharapkan dapat dipadukan berbagai program sektoral maupun regional yang
diarahkan untuk pengembangan ekonomi wilayah dan masyarakat pedesaan.
Dengan demikian dampak positif daripada program ini akan semakin besar dan
pada akhirnya kemiskinan dan keterbelakangan secara berangsur-angsur dan
pasti dapat ditanggulangi. Sebagai suatu program yang strategis dan koordinatif,
dalam pelaksanaan program ini harus dipupuk dan dibina semangat
kebersamaan yang tinggi di antara berbagai pihak yang terkait baik yang
berkedudukan "membantu" maupun yang "dibantu", termasuk PONPES dan
masyarakat di sekitarnya.

       Salah satu bentuk kegiatan penunjang dalam kerangka implementasi
program ini ialah Penyiapan PONPES dan masyarakat sekitarnya (Majelis ta’lim)
untuk mampu menjadi "pengusaha" Agribisnis Sapi Potong. Dengan dukungan
bentuk-bentuk program khusus dapat dilakukan DIKLAT dan Program Aksi
pendampingan dengan tujuan meningkatkan akses dan kualitas sumberdaya
PONPES dan masyarakat sekitarnya sebagai kader pembangunan bangsa dan
pada    gilirannya   mampu    bersama-sama   dengan     masyarakat      luas
mengembangkan usaha agribisnisnya (dengan basis Produk Unggulan Sapi
Potong).

      Dengan memperhatikan kenyataan bahwa kelembagaan sosial di pedesaan
dan kelompok-kelompok masyarakat yang ada belum memadai untuk
mengembangkan usaha ekonomi desa, serta keterbatasan akses masyarakat
terhadap berbagai fasilitas dan kemudahan-kemudahan yang disediakan
pemerintah, maka diperlukan upaya khusus untuk menyiapkan tenaga
pendamping dan para santri PONPES sebagai kader pembangunan mandiri yang
berwawasan wirausahawan.
                                                                                2



       1.2. Analisis Situasi

        Memberdayakan PONPES sebagai pusat pengembangan Agribisnis Sapi
Potong berarti memberikan teknologi (IPTEK) baru yang diharapkan dapat
diterima dan diterapkan oleh masyarakat PONPES. Beberapa faktor yang
mempengaruhi kecepatan proses penerimaan innovasi adalah : (1) sifat innovasi,
(2) saluran komunikasi yang digunakan, (3) keadaan masyarakat PONPES yang
akan menerima innovasi, (4) peran pendampingan, (5) jenis pengambilan
keputusan. Teknologi innovasi yang akan di innovasikan hendaklah
mempertimbangkan persyaratan yaitu dari segi teknis, sosial dan ekonomi. Segi
teknis bahwa teknologi mudah dilaksanakan oleh penerima; segi sosial, tidak
bertentangan dengan kaidah-kaidah atau norma masyarakat yang ada dan segi
ekonomi, memberi keuntungan.
      Saluran komunikasi mempengaruhi cepat lambatnya teknologi itu sampai
pada obyek dengan metoda komunikasi yang tepat maka pesan itu dengan
mudah diterima. Metoda komunikasi yang tepat di daerah pedesaan adala face -
to face atau kunjungan langsung ke obyeknya. Kondisi masyarakat di lingkungan
PONPES mempunyai karakteristik tersendiri sehingga diperlukan metoda tertentu
agar pesan (teknologi) itu mudah diterima. Dalam pada itu peranan pendamping
sangat mutlak. Dengan pendampingan purna waktu yang berkualitas maka akan
lebih mudah meyakinkan pesan yang diberikan kepada obyeknya.
      Pendamping sebagai pembina hendaklah memenuhi persyaratan : (1) men-
guasai ilmu pengetahuan (IPTEK), (2) pandai bergaul menghormati norma-
norma yang ada, (3) mempunyai tekad dan idealisme yang tinggi untuk men-
sukseskan programnya. Pendamping hendaknya dapat dengan cepat mampu
menganalisis situasi dan dapat membaca problema yang dihadapi oleh obyek
dan segera mengambil langkah-langkah untuk mengatasinya.
      Pengambilan keputusan untuk menerima teknologi baru dilakukan oleh
klien (masyarakat) dengan cara individual atau berkelompok atau berdasarkan
instruksi dari pendamping yang berkompeten; bahkan oleh pemimpin non formal.
Oleh karena itu perlu dipertimbangkan saluran pendampingan yang efektif agar
teknologi itu dapat segera diterima oleh klien (petani).

       1.3. Perumusan Masalah

       Permasalahan Petani-Pekebun Kopi Rakyat
       Beberapa hal yang diperkirakan menjadi permasalahan yang dihadapi
adalah:
(1). Permasalahan Kapabilitas dan Ketersediaan Sumberdaya bagi proses
     agribisnis sapi potong. Kendala sumberdaya megakibatkan tingginya biaya
     produksi yang harus dikeluarkan oleh produsen, akibat selanjutnya ialah
     proses produksi kurang efisien dan harga jual produk yang relatif tinggi. Hal
     ini diperburuk oleh semakin mahalnya harga-harga sarana produksi pada
     tingkat masyarakat.
                                                                                3



(2). Keterbatasan penguasaan faktor produksi, khususnya sarana produksi.
     Sejumlah besar rumah tangga hanya menguasai lahan yang relatif sempit.
     Hal ini diperkirakan juga berpengaruh terhadap minat petani untuk berwira-
     usaha.
(3). Surplus tenagakerja pedesaan dengan ketrampilan teknis dan manajemen
     yang terbatas, karena terbatasnya kesempatan untuk berlatih secara efektif..
     Sebagai dampak krisis ekonomi yang berkepanjangan, sebagian besar
     tenagakerja (penduduk usia produktif) sedang menganggur musiman.
(4). Keterbatasan alternatif pilihan teknologi produksi, teknologi pasca panen dan
     pengolahan hasil, serta teknologi non pertanian. Kelompok petani kecil di
     desa tidak mempunyai akses yang memadai untuk menentukan alternatif
     usaha tanaman dan agro-teknologinya, sehingga produktivitas marginalnya
     sangat rendah. Perkembangan lapangan kerja off-farm juga belum didukung
     oleh teknologi tepat guna yang memadai, atau masih bersifat kecil-kecilan
     dan sederhana sekali.
(5). Keterbatasan informasi teknologi inovatif, pembinaan, fasilitas permodalan,
     proteksi usaha dan kesempatan (opportunity), suatu lingkaran yang lazim
     dalam bisnis modern. Hampir dalam setiap kegiatannya mereka harus
     melakukan secara swakarsa dan bersedia untuk harus puas dengan apa
     yang menjadi miliknya saja, tanpa keinginan untuk lebih dari apa yang mung-
     kin. Sementara itu faktor produksi unggulan tersebut dikuasai oleh sektor
     perkotaan industrial, terutama dalam wujud informasi, teknologi dan fasilitas
     permodalan.
(6). Nilai tukar perdagangan (term of trade) barang produk pedesaan lebih
     rendah terhadap barang produk perkotaan atau sektor modern. Hal ini
     mengakibatkan warga desa kurang memperoleh surplus yang berarti,
     hampir dalam semua lapangan pekerjaan yang dilakukan, sehingga tidak
     memungkinkan melakukan akumulasi kapital. Hal ini dapat dilihat dari
     rendahnya nilai tukar petani.
(7). Terbatasnya volume uang yang beredar di pedesaan, hal ini merupakan
     dampak dari produktivitas marjinal yang sangat rendah atau nol dan
     keterbatasan fasilitas kredit resmi yang masuk ke desa. Sebagian besar
     penduduk di pedesaan jika memerlukan kredit untuk tambahan modal akan
     mencari pada saluran kredit atau lembaga keuangan non- formal.
(8). Rendahnya tingkat kesejahteraan rumah tangga petani yang pada
     kenyataannya sangat berhubungan erat dengan (a). Masalah pendapatan
     yang diperoleh, (b). Masalah Gizi dan pangan, (c). Masalah kesehatan, (d).
     Masalah aksesibilitas bisnis, (e). Masalah lingkungan pemukiman, (f).
     Masalah Pendidikan, (g). Masalah penguasaan IPTEK/Ketrampilan, (h).
     Masalah pemilikan lahan, (i). Masalah Kesempatan kerja, dan (j). Masalah
     prasarana/sarana kebutuhan dasar.
                                                                             4



      1.4. Hasil Yang Diharapkan

1. Rancangan model pemberdayaan PONPES sebagai Pusat Pengembangan
   Agribisnis Sapi Potong melalui kegiatan pendampingan purna waktu. Model ini
   diharapkan dilengkapi dengan:
      a. Rancangan Sistem Informasi tentang Minat berwira-usaha di kalangan
          PONPES dan masyarakat sekitarnya, serta kendala-kendala yang
          dihadapi dalam mengembangkan usaha sapi potong.
      b. Paket Kurikulum dan Sistem Pembelajaran Sekolah Lapangan
          Agribisnis Sapi Potong
      c. Pandunan DIKLAT Singkat Profesional Pendampingan untuk usaha
          agribisnis sapi potong.
      d. Panduan Pendampingan untuk usaha agribisnis Sapi potong.
       e. Panduan Uji Petik Model pemberdayaan PONPES sebagai Pusat
          Pengembangan Agribisnis Sapi Potong dengan Pendampingan.

2. Model Pemberdayaan PONPES ini dimaksudkan mempersiapkan PONPES
dan masyarakat semitarnya sebagai Kader Pembangunan yang mandiri dan
pelaku agribisnis sapi portong yang tangguh dan mempunyai kualifikasi khusus,
yaitu:
a. Sikap mental dan wawasan wira-usaha yang dapat diandalkan untuk
    mendukung kiprahnya dalam kegiatan sosial-ekonomi di pedesaan, serta
    mempunyai kemampuan untuk beradaptasi dan berintegrasi dengan
    lingkungan masyarakat sekitarnya .
b. Menguasai dasar-dasar pengetahuan dan ketrampilan teknis tentang:
    b.1. Kebijaksanaan pemerintah dalam pengembangan koperasi agribisnis di
          pedesaan dan usaha ekonomi rakyat
    b.2. Wawasan dan ketrampilan pragmatis kewira-usahaan dan kepeloporan,
          khususnya dalam lingkup agribisnis Sapi potong
    b.3. Pengalaman dalam aplikasi Manajemen usaha Bisnis di Pedesaan:
          Agribisnis, Koperasi, Kemitraan dalam usaha, dan manajemen
          kelembagaan keuangan,


      II. TUJUAN DAN MANFAAT

      Merancang dan menguji-coba Model pemberdayaan PONPES sebagai
Pusat Pengembangan Agribisnis Sapi Potong melalui kegiatan pendampingan
agribisnis. Penerapan model ini diharapkan akan dapat bermanfaat dalam:
      1. Ikut mendukung program revitalisasi pertanian, pemberdayaan dan
         penguatan ekonomi rakyat, melalui penyiapan PONPES dan masyarakat
         sekitarnya sebagai kader wirausahawan yang handal.
                                                                        5



     2. Memantapkan wawasan serta pemantapan sikap-mental wira-usaha
        stakeholder sebagai kader pembangunan yang mandiri dan berjiwa
        wirausahawan.
     3. Menumbuhkan dan meningkatkan kualifikasi stakeholder sebagai
        pengelola usaha produktif dalam wadah lembaga ekonomi rakyat yang
        mandiri dan mengakar di masyarakat.


      Tujuan Khusus

1. Menyusun Sistem Informasi tentang Minat berwira-usaha agribisnis sapi-
    potong di kalangan PONPES dan masyarakat sekitarnya, serta kendala-
    kendala yang dihadapi (Kegiatan A).
2. Merancang Panduan Paket Sistem Sekolah Lapang Agribisnis Sapi-potong
    berpendampingan (Kegiatan B)
3. Melaksanakan Rekruitment dan SLASP bagi PONPES, masyarakat sekitar
    dan para pendamping (Kegiatan C).
4. Melaksanakan Ujicoba Pendampingan Pemberdayaan PONPES senagai
    Pusat Pengembangan Sapi Potong (Kegiatan D)
5. Monitoring dan Evaluasi Kegiatan Agribisnis Sapi Potong dengan
   Pendampingan (Kegiatan E)



      III. PELAKSANAAN KEGIATAN

       3.1. Khalayak Sasaran
       Khalayak sasaran adalah PONPES dan masyarakat sekitarnya , serta
para calon pendamping.

      3.3. Metode yang digunakan

      3.3.1. Jenis-jenis kegiatan

A. KEGIATAN A:

   Menyusun Sistem Informasi tentang Minat berwira-usaha agribisnis sapi-
   potong di kalangan PONPES dan masyarakat sekitarnya, serta kendala-
   kendala yang dihadapi (Kegiatan A).

1. Tujuan Khusus
1. Mengetahui persepsi, minat dan tanggapan/respon masyarakat PONPES dan
   sekitarnya terhadap pengembangan program pembelajaran kewira-usahaan
                                                                        6



2. Mengetahui kendala-kendala yang dirasakan oleh PONPES dan masyarakat
   sekitarnya dalam mengaktualisasikan minat wira-usahanya
3. Mengetahui opini, saran/pendapat dari kalangan PONPES dan masyarakat
   sekitarnya , serta suasta masyarakat terhadap upaya pemberdayaan wira-
   usaha agribisnis sapi potong
4. Mengetahui minat dan kendala yang dihadapi oleh PONPES dan masyarakat
   sekitarnya dalam mengembangkan usaha agribisnis sapi potong
5. Menganalisis sejauh mana kendala teknologi inovatif dan permodalan
   membatasi usaha agribisnis Sapi potong.

     3. Metode Pengumpulan Data / Informasi

      Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan metode survei yang
melibatkan sejumlah sampel calon pendamping, PONPES dan masyarakat
sekitarnya.
      Wawancara langsung dilakukan oleh enumerator yang terlatih dan
menggunakan daftar isian terstruktur yang disusun berdasarkan konsep yang
diuraikan di atas.

       B. KEGIATAN B

1. Judul Kegiatan:

   Merancang Panduan Paket Sistem Sekolah Lapang Agribisnis Sapi-potong
   berpendampingan (Kegiatan B)

2. Tujuan Khusus

1. Merancang dan Menyiapkan Sistem pembelajaran dan bahan ajar bagi
   sekolah lapangan agribisnis sapi potong dalam bentuk:
   a. Kurikulum
   b. Silabus
   c. GBPP
   d. SAP
   e. Hand-Out ( Diktat, Buku )

2. Sistematik modul-modul :
     a. Pokok bahasan
     b. Sub pokok bahasan
     c. Tujuan intruksional
     d. Petunjuk cara mempelajari pokok bahasan dan sub pokok bahasan
     e. Buku acuan yang disarankan
     f. Uraian dan contoh
     g. Teori /konsep
                                                                            7



    h. Contoh/aplikasi
    i. Ringkasan
    j. Tugas dan latihan
    k. Daftar istilah
    l. Soal-soal latihan
    m. Kunci jawaban soal-soal latihan

3. Metode dan Pendekatan

a. Rangkaian kegiatan
1. Diskusi antar anggota Tim penanggung-jawab dan tim penyusun modul bahan
   ajar dengan tujuan untuk menyamakan persepsi dan gerak langkah dalam
   melaksanakan pekerjaan/tugas masing-masing
2. Pembuatan Draft Modul Bahan Ajar denan mengunakan refernsi yang relevan
   serta sistematika modul yang cocok untuk pendidikan profesional kewira-
   usahaan sapi potong
3. Pembahasan Draft Modul bahan ajar, melalui kegiatan semi-loka yang
   melibatkan Tim penyusun, instruktur kewira-usahaan, pendamping, instansi
   teknis terkait, dan Masyarakat PONPES
4. Penyusunan Buku pedoman: Modul-modul Kewira-usahaan, dengan
   mengakomodasikan hasil-hasil pembahasan dalam semi-loka

       C. KEGIATAN C

1. Judul Kegiatan:

   Melaksanakan Rekruitment dan SLASP bagi PONPES, masyarakat sekitar
   dan para pendamping (Kegiatan C).

2. Tujuan Khusus

        Program pendidikan dan pelatihan ini pada hakekatnya tujuannya secara
keseluruhan adalah:
1. Mendukung program revitalisasi pertanian, dan penguatan usaha ekonomi
   rakyat, melalui penyiapan pendamping dan kelompok masyarakat di pedesaan
   sebagai kader wirausahawan yang handal, khususnya komoditi sapi potong.
2. Memantapkan wawasan kebangsaan /Ketahanan Nasional serta pemantapan
   sikap-mental para peserta sebagai kader pembangunan yang mandiri dan
   berjiwa wirausahawan.
3. Menumbuhkan dan meningkatkan kualifikasi calon pendamping usaha
   agribisnis sapi potong.
4. Memberikan bekal tambahan mengenai pengetahuan umum tentang
   pembangunan koperasi pedesaan, permasalahan kemiskinan , teknologi
                                                                             8



  tepatguna agroteknologi, dan pengetahuan lain yang terkait dengan kewira-
  usahaan dan manajemen agribisnis komoditi sapi potong.

Setelah DIKLAT selesai diharapkan peserta sebagai Kader Pembangunan yang
mandiri dan Wirausahawan Muda Pedesaan menguasai dan mempunyai
kualifikasi khusus, yaitu:
1. Sikap mental dan wawasan wira-usaha yang dapat diandalkan untuk
   mendukung kiprahnya dalam kegiatan agribisnis di pedesaan, serta
   mempunyai kemampuan untuk beradaptasi dan berintegrasi dengan
   lingkungan masyarakat desa sekitarnya .
2. Menguasai dasar-dasar pengetahuan dan ketrampilan teknis tentang:
   2.1. Kewira-usahaan: Agribisnis komoditas unggulan sapi potong
   2.2. Pengalaman dalam aplikasi Manajemen usaha agri-bisnis di Pedesaan:
          Agribisnis sapi potong, Koperasi, Kemitraan dalam usaha, dan
          kelembagaan keuangan,
   2.3. Operasionalisasi sistem agribisnis sapi potong: perencanaan,
          pelaksanaan dan tindak lanjut pengendalian usaha bisnis di pedesaan .
   2.4. Kemampuan sebagai fasilitator, komunikator dan dinamisator bagi
          kelompok masyarakat pedesaan di sekitarnya .

      3. MATERI DAN PROSES DIKLAT

         A. Materi
         Materi pelatihan dikelompokkan menjadi empat program (rinciannya
terlampir), yaitu
(1). Program 1. Program Pembekalan dan Pemantapan sikap mental, wawasan
     dan pengetahuan praktis Kewira-usahaan
      1. Pengantar Kewira-usahaan
                - Orientasi umum organisasi dan kewirausahaan
                - Rambu-rambu Kewira-usahaan
                - Membangun cooperate culture
                - Teknik Bisnis Plan
      2. Perilaku Wirausaha dan Sikap-mental wirausaha
      3. Achievement motivation ; Organisasi dan manajemen

     (2). Program 2. Program Pembekalan Pengetahuan dan Ketrampilan
          Teknis dalam lingkup Manajemen Agribisnis Sapi potong:
          1. Manajemen Agribisnis
          2. Usaha produksi (Pembesaran dan Penggemukan) Sapi potong
          3. Pembentukan dan pembinaan kelembagaan
          4. Agroteknologi Sapi potong
          5. Manajemen Pemasaran Hasil
                                                                            9



(3). Program 3. Program Pembekalan Dasar Ketrampilan Wirausaha , mulai dari
     tahap perencanaan, pelaksanaan dan pengendalian/pemantauan, serta
     evaluasi usaha agribisnis Sapi potong.
      1. Administrasi praktis dan pembukuan ; Wawasan perdagangan antar
           pulau dan export/import
      2. Teknik manajemen kelayakan/ Penyusunan Studi Kelayakan ; Operasi
           bisnis: Agribisnis Sapi potong
      3. Teknik membuat kontrak kerja bisnis
(4). Program 4. Program simulasi dan kunjungan lapangan dalam usaha-usaha
     agribisnis sapi potong.


       D. KEGIATAN D

1. Judul Kegiatan:

   Melaksanakan Ujicoba Pendampingan Pemberdayaan PONPES senagai
   Pusat Pengembangan Sapi Potong (Kegiatan D)

2. Tujuan Khusus

     1. Meningkatkan keberdayaan pendamping bersama dengan masyarakat
        pedesaan dalam wira-usaha agribisnis komoditas sapi potong
     2. Meningkatkan kepekaan dan kepedulian terhadap upaya pemberdayaan
        masyarakat pedesaan melalui penerapan teknologi inovatif dalam
        agribisnis sapi potong
     3. Menciptakan lapangan usaha dan kesempatan kerja yang dapat diakses
        oleh angkatan kerja di pedesaan yang kehilangan pekerjaan akibat
        dampak krisis ekonomi.
     4. Meningkatkan citra komoditas sapi potong rakyat sebagai salah satu
        komoditas unggulan wilayah.

     b. Sasaran Kegiatan

(1). Memberikan wawasan kepada para pstakeholder agar siap dan mampu
     berwira-usaha dengan berbekal pengalaman bermitra mengembangkan
     usaha agribisnis sapi potong.
(2). Membantu berkembangnya petani kecil mandiri di pedesaan berbasis pada
     tersedianya sumberdaya alam dan ketrampilan yang telah dimiliki khalayak
     sasaran.
(3). Membantu mewujudkan kemitraan antara PONPES dan masyarakat
     sekitarnya dalam mengembangkan usaha agribisnis rakyat secara
     melembaga.
                                                                            10



     3. Tahapan Pelaksanaan

     (1). Tahap Persiapan

       Persiapan dari segi kelembagaan
(1). Menetapkan rencana lokasi penerjunan sesuai dengan pertimbangan segi
     keterjangkauan dan keringanan biaya (lokasi di wilayah PONPES dan
     sekitarnya).
(2). Melakukan peninjauan dan pengkajian lokasi yang direncanakan untuk
     memudahkan penyelenggaraan kegiatan lapangan.
(3). Mengurus perijinan pada Pemerintah Daerah Tingkat II, Kecamatan dan
     Desa/Kelurahan, berkaitan dengan pemilihan lokasi dan rencana penerjunan.
(4). Menjalin kerja sama dengan berbagai instansi terkait, berkaitan dengan
     penyelenggaraan kegiatan pembekalan maupun penyelenggaraan kegiatan
     lapangan.
(5). Berdasarkan hasil peninjauan dan pengkajian, maka disusunlah
     perencanaan kegiatan pembekalan dan penyelenggaraan kegiatan
     lapangan.

     (2). Latihan Pembekalan: Tujuan Khusus Pembekalan

      Setelah selesai mengikuti Latihan Pembekalan pendamping diharapkan
dapat:
(1). Mempersiapkan diri baik secara fisik rnaupun mental untuk mengabdi
     kepada kelompok sasaran.
(2). Mengidentifikasi berbagai permasalahan riil yang dihadapi oleh kelompok
     sasaran dan berusaha untuk mencarikan solusinya.
(3). Menyusun, mengaktualisasikan dan menilai tingkat keberhasilan program
     kerja yang telah disusun di masing-masing lokasi.

     Materi Pembekalan

      Secara garis besar materi pembekalan program pendampingan terdiri atas
4 bagian yaitu:
(1). Materi tentang misi, visi, tujuan dan latar belakang perlunva kegiatan
     pendampingan.
(2). Materi tentang pendekatan sosial dan teknik penyusunan laporan.
(3). Materi tentang bagaimana mengevaluasi kegiatan pendampingan.
(4). Ruang lingkup kegiatan pendampingan.

      (3). Metode dan Pendekatan: Sekolah Lapangan
     Ujicoba model Usaha Agribisnis Sapi potong dilakukan di lingkungan
PONPES dan sekitarnya, dimana petani pemilik bertindak sebagai “manajer
                                                                           11



usaha” dan didampingi oleh tim pendamping profesional purna waktu. Kegiatan
ujicoba ini meliputi :
1. Persiapan kelompok : lahan dan kepemilikannya; orientasi kelompok
2. Perencanaan usaha agribisnis komoditas Agribisnis Sapi potong
3. Penyiapan lahan dan pengadaan sarana produksi
4. Pelaksanaan budidaya tanaman hingga panen
5. Penanganan pasca panen dan Pemasaran/penjualan hasil


           E. KEGIATAN E

1. Judul Kegiatan:

   Monitoring dan Evaluasi     Kegiatan   Agribisnis   Sapi   Potong   dengan
   Pendampingan (Kegiatan E)

2. Tujuan Khusus

      1. Menganalisis kegiatan pendampingan dalam wira-usaha agribisnis
         komoditas sapi potong
      2. Mengevaluasi kepedulian terhadap upaya pemberdayaan masyarakat
         pedesaan melalui penerapan teknologi inovatif dalam agribisnis sapi
         potong
      3. Menganalisis penciptaan lapangan usaha dan kesempatan kerja yang
         dapat diakses oleh masyarakat pedesaan.
      4. Menganalisis citra komoditas sapi potong rakyat sebagai salah satu
         komoditas unggulan wilayah.

      b. Sasaran Kegiatan

(1). Para stakeholder agar siap dan mampu berwira-usaha dengan berbekal
     pengalaman bermitra mengembangkan usaha agribisnis sapi potong.
(2). Petani kecil di pedesaan berbasis pada tersedianya sumberdaya alam dan
     ketrampilan yang telah dimiliki khalayak sasaran.
(3). Kemitraan antara PONPES dan masyarakat sekitarnya dalam
     mengembangkan usaha agribisnis rakyat secara melembaga.

      3. Tahapan Pelaksanaan
........

								
To top