makalah tata surya ipa by dhannyolan

VIEWS: 988 PAGES: 15

									                                       MAKALAH
                          BUMI DAN TATA SURYA
                             KONSEP DASAR IPA


                                 KATA PENGANTAR
      Puji syukur kehadirat Tuhan YME, atas segala rahmat dan hidayah-Nya, sehingga
penulis dapat menyusun dan menyelesaikan makalah ini dengan judul “Bumi dan Tata Surya”.
Penyusunan Karya Tulis Ilmiah ini banyak mendapat dukungan dan bantuan dari berbagai pihak
baik berupa saran, motivasi maupun bimbingan, oleh karena itu perkenankan penulis
mengucapkan terima kasih kepada:
   1. Ibu Sri Mulyaningsih selaku dosen pengampu.

   2. Kedua orang tua penulis.

   3. Teman-teman yang senantiasa mendukung penulis.

   4. Dan pihak – pihak lain yang tidak dapat penulis sebutkan satu – persatu.

      Penulis sangat menyadari makalah ini masih jauh dari sempurna, telah dikerjakan
semaksimal mungkin sesuai dengan kemampuan yang penulis miliki, karena itulah kritik dan
saran yang membangun sangat dibutuhkan penulis agar menjadi lebih baik. Mudah-mudahan
makalah ini bermanfaat bagi pembaca.




                                                  Semarang, 25 September 2010
                                          penulis




                                  DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR
DAFTAR ISI
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
1.2 Rumusan Masalah
1.3 Tujuan Penulisan
BAB II PEMBAHASAN
2.1 Asal-usul Tata Surya
2.2 Sejarah Penemuan Tata Surya
2.3 Susunan Tata Surya
BAB III PENUTUP
3.1 Simpulan
3.2 Saran
DAFTAR PUSTAKA
                                             BAB I
                                    PENDAHULUAN

1. Latar belakang

       Tata Surya adalah kumpulan benda langit yang terdiri atas sebuah bintang yang disebut
Matahari dan semua objek yang terikat oleh gaya gravitasinya. Objek-objek tersebut termasuk
delapan buah planet yang sudah diketahui dengan orbit berbentuk elips, lima planet kerdil, 173
satelit alami yang telah diidentifikasi, dan jutaan benda langit (meteor, asteroid, komet) lainnya.
       Tata Surya terbagi menjadi Matahari, empat planet bagian dalam, sabuk asteroid, empat
planet luar, dan di bagian terluar adalah Sabuk Kuiper dan Piringan Terbesar. Enam dari delapan
planet dan tiga dari lima planet kerdil itu dikelilingi oleh satelit alami yang biasa disebut dengan
bulan. Contoh: Bulan atau satelit alami Bumi. Masing-masing planet bagian luar dikelilingi oleh
cincin planet yang terdiri dari debu dan partikel lain.
       Itulah sedikit gambaran tentang Tata Surya. Tetapi, Bagaimana Tata Surya bisa
berbentuk seperti sekarang? Bagaimana awal mula terbentuknya Tata Surya? Apa yang menarik
tentang Tata Surya? Pertanyaan-pertanyaan ini sering muncul di sekitar kita dan saya akan
mencoba menjawab lewat makalah ini.
       Oleh karena itu, pada kesempatan kali ini penulis membuat makalah yang berjudul “Tata
Surya dan Semua Benda Langit yang Terikat dengan Gravitasi” dengan harapan dapat
membantu para pembaca.. Dengan adanya makalah ini bukan berarti benda langit hanya itu saja
tetapi masih ada banyak lagi yang tidak dapat ditangkap oleh indera manusia sehingga kita
harus banyak belajar agar dapat menemukan benda langit yang baru.
2. Rumusan masalah

      Bagaimana asal-usul Tata surya?

      Bagaimana sejarah penemuan Tata surya?

      Bagaimana susunan Tata surya?




3. Tujuan penulisan

      Mengetahui asal-usul Tata Surya

      Mengetahui sejarah Tata Surya

      Mengetahui susunan Tata Surya
                                          BAB II

                                   PEMBAHASAN

2.1 Asal-usul Tata Surya

Banyak ahli telah mengemukakan hipotesis tentang asal-usul Tata Surya, diantaranya

      Hipotesis nebula

       Hipotesis nebula pertama kali dikemukakan oleh Emanuel Swedenberg(1688-
       1772)tahun 1734dan disempurnakan oleh Immanuel Kant(1724-1804) pada tahun 1775
       Hipotesis serupa juga dikembangkan oleh Pierre Marquis de Laplace secara independen
       pada tahun 1796. Hipotesis ini, yang lebih dikenal dengan Hipotesis Nebula Kant-
       Laplace, menyebutkan bahwa pada tahap awal, Tata Surya masih berupa kabut raksasa.
       Kabut ini terbentuk dari debu, es,dan gas yang disebut nebula, dan unsur gas yang
       sebagian besar hidrogen. Gaya gravitasi yang dimilikinya menyebabkan kabut itu
       menyusut dan berputar dengan arah tertentu, suhu kabut memanas, dan akhirnya
       menjadi bintang raksasa (matahari). Matahari raksasa terus menyusut dan berputar
       semakin cepat, dan cincin-cincin gas dan es terlontar ke sekeliling matahari. Akibat gaya
       gravitasi, gas-gas tersebut memadat seiring dengan penurunan suhunya dan membentuk
       planet dalam dan planet luar. Laplace berpendapat bahwa orbit berbentuk hampir
       melingkar dari planet-planet merupakan konsekuensi dari pembentukan mereka.

      Hipotesis planetisimal
    Hipotesis planetisimal pertama kali dikemukakan oleh Thomas C. Chamberlin dan
    Forest R. Moulton pada tahun 1900. Hipotesis planetisimal mengatakan bahwa Tata
    Surya kita terbentuk akibat adanya bintang lain yang lewat cukup dekat dengan
    matahari, pada masa awal pembentukan matahari. Kedekatan tersebut menyebabkan
    terjadinya tonjolan pada permukaan matahari, dan bersama proses internal matahari,
    menarik materi berulang kali dari matahari. Efek gravitasi bintang mengakibatkan
    terbentuknya dua lengan spiral yang memanjang dari matahari. Sementara sebagian
    besar materi tertarik kembali, sebagian lain akan tetap di orbit, mendingin dan memadat,
    dan menjadi benda-benda berukuran kecil yang mereka sebut planetisimal dan beberapa
    yang besar sebagai protoplanet. Objek-objek tersebut bertabrakan dari waktu ke waktu
    dan membentuk planet dan bulan, sementara sisa-sisa materi lainnya menjadi komet dan
    asteroid.

   Hipotesis pasang surut bintang

    Hipotesis pasang surut bintang pertama kali dikemukakan oleh James Jeans pada tahun
    1917. Planet dianggap terbentuk karena mendekatnya bintang lain kepada matahari.
    Keadaan yang hampir bertabrakan menyebabkan tertariknya sejumlah besar materi dari
    matahari dan bintang lain tersebut oleh gaya pasang surut bersama mereka, yang
    kemudian terkondensasi menjadi planet.Namun astronom Harold Jeffreys tahun 1929
    membantah bahwa tabrakan yang sedemikian itu hampir tidak mungkin terjadi.
    Demikian pula astronom Henry Norris Russell mengemukakan keberatannya atas
    hipotesis tersebut.

   Hipotesis Kondensasi

    Hipotesis kondensasi mulanya dikemukakan oleh astronom Belanda yang bernama G.P.
    Kuiper (1905-1973) pada tahun 1950. Hipotesis kondensasi menjelaskan bahwa Tata
    Surya terbentuk dari bola kabut raksasa yang berputar membentuk cakram raksasa.

   Hipotesis Bintang Kembar

    Hipotesis bintang kembar awalnya dikemukakan oleh Fred Hoyle (1915-2001) pada
    tahun 1956. Hipotesis mengemukakan bahwa dahulunya Tata Surya kita berupa dua
      bintang yang hampir sama ukurannya dan berdekatan yang salah satunya meledak
      meninggalkan serpihan-serpihan kecil. Serpihan itu terperangkap oleh gravitasi bintang
      yang tidak meledak dan mulai mengelilinginya.

2.2 Sejarah Tata Surya

      Lima planet terdekat ke Matahari selain Bumi (Merkurius, Venus, Mars, Yupiter dan
      Saturnus) telah dikenal sejak zaman dahulu karena mereka semua bisa dilihat dengan
      mata telanjang. Banyak bangsa di dunia ini memiliki nama sendiri untuk masing-masing
      planet. Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi pengamatan pada lima abad lalu
      membawa manusia untuk memahami benda-benda langit terbebas dari selubung
      mitologi. Galileo Galilei (1564-1642) dengan teleskop refraktornya mampu menjadikan
      mata manusia "lebih tajam" dalam mengamati benda langit yang tidak bisa diamati
      melalui mata telanjang. Karena teleskop Galileo bisa mengamati lebih tajam, ia bisa
      melihat berbagai perubahan bentuk penampakan Venus, seperti Venus Sabit atau Venus
      Purnama sebagai akibat perubahan posisi Venus terhadap Matahari. Penalaran Venus
      mengitari Matahari makin memperkuat teori heliosentris, yaitu bahwa matahari adalah
      pusat alam semesta, bukan Bumi, yang sebelumnya digagas oleh Nicolaus Copernicus
      (1473-1543). Susunan heliosentris adalah Matahari dikelilingi oleh Merkurius hingga
      Saturnus. Teleskop Galileo terus disempurnakan oleh ilmuwan lain seperti Christian
      Huygens (1629-1695) yang menemukan Titan, satelit Saturnus, yang berada hampir 2
      kali jarak orbit Bumi-Yupiter. Perkembangan teleskop juga diimbangi pula dengan
      perkembangan perhitungan gerak benda-benda langit dan hubungan satu dengan yang
      lain melalui Johannes Kepler (1571-1630) dengan Hukum Kepler. Dan puncaknya, Sir
      Isaac Newton (1642-1727) dengan hukum gravitasi. Dengan dua teori perhitungan inilah
      yang memungkinkan pencarian dan perhitungan benda-benda langit selanjutnya. Pada
      1781, William Herschel (1738-1822) menemukan Uranus. Perhitungan cermat orbit
      Uranus menyimpulkan bahwa planet ini ada yang mengganggu. Neptunus ditemukan
      pada Agustus 1846. Penemuan Neptunus ternyata tidak cukup menjelaskan gangguan
      orbit Uranus. Para astronom kemudian menemukan sekitar 1.000 objek kecil lainnya
      yang letaknya melampaui Neptunus (disebut objek trans-Neptunus), yang juga
      mengelilingi Matahari. Di sana mungkin ada sekitar 100.000 objek serupa yang dikenal
      sebagai Objek Sabuk Kuiper (Sabuk Kuiper adalah bagian dari objek-objek trans-
      Neptunus). Belasan benda langit termasuk dalam Objek Sabuk Kuiper di antaranya
      Quaoar (1.250 km pada Juni 2002), Huya (750 km pada Maret 2000), Sedna (1.800 km
      pada Maret 2004), Orcus, Vesta, Pallas, Hygiea, Varuna, dan 2003 EL61 (1.500 km pada
      Mei 2004). Penemuan 2003 EL61 cukup menghebohkan karena Objek Sabuk Kuiper ini
      diketahui juga memiliki satelit pada Januari 2005 meskipun berukuran lebih kecil dari
      Pluto.

      Dan puncaknya adalah penemuan UB 313 (2.700 km pada Oktober 2003) yang diberi
      nama oleh penemunya Xena. Selain lebih besar dari Pluto, objek ini juga memiliki
      satelit.

2.3 Susunan Tata Surya




      Tata surya adalah susunan benda-benda langit yang terdiri atas matahari sebagai
      pusatnya dan planet-planet, meteorid, komet, serta asteroid yang mengelilingi matahari.
      Susunan tata surya terdiri atas matahari, delapan planet, satelit-satelit pengiring planet,
      komet, asteroid, dan meteorid. Benda langit yang berupa planet dan benda langit lainnya
      dalam mengelilingi matahari disebut revolusi. Sebagian besar garis edarnya (orbit)
      berbentuk elips. Bidang edar planet-planet mengelilingi matahari disebut bidang edar,
      sedangkan bidang edar planet bumi disebut bidang ekliptika. Selain berevolusi benda-
      benda langit juga berputar pada porosnya yang disebut rotasi, sedangkan waktu untuk
      sekali berotasi disebut kala rotasi.

      a. Matahari
  Matahari merupakan pusat tata surya yang berupa bola gas yang bercahaya. Matahari
  merupakan salah satu bintang yang menghiasi galaksi Bima Sakti. Suhu permukaan
  matahari 6.000 derajat celsius yang dipancarkan ke luar angkasa hingga sampai ke
  permukaan bumi, sedangkan suhu inti sebesar 15-20 juta derajat celsius.




b. Planet

1. Planet Merkurius
       Merkurius merupakan planet terkecil dan terdekat dengan matahari. Merkurius
tidak mempunyai satelit atau bulan, dan tidak mempunyai hawa. Garis tengahnya 4500
km, lebih besar daripada garis tengah bulan yang hanya 3160 km. Diperkirakan tidak
ada kehidupan sama sekali di Merkurius. Merkurius mengadakan rotasi dalam waktu
58,6 hari. Ini berarti panjang siang harinya 28 hari lebih, demikian juga malam harinya.
Merkurius mengelilingi matahari dalam waktu 88 hari.


2. Planet Venus
       Planet ini lebih kecil dari bumi. Venus menempati urutan kedua terdekat dengan
matahari. Planet ini terkenal dengan bintang kejora yang bersinar terang pada waktu
sore atau pagi hari. Rotasi Venus ± 247 hari, dan berevolusi (mengelilingi matahari)
selama 225 hari, artinya 1 tahun Venus adalah 225 hari.


3. Planet Bumi
       Bumi menempati urutan ketiga terdekat dengan matahari. Ukuran besarnya
hampir sama dengan Venus dan bergaris tengah 12.640 km. Jarak antara bumi dengan
matahari adalah 149 juga km. Bumi mengadakan rotasi 24 jam, berarti hari bumi = 24
jam.
   a. Gerak rotasi bumi

            Gerak bumi berputar pada porosnya disebut rotasi bumi. Arah rotasi bumi
   sama dengan arah revolusinya, yakni dari barat ke timur. Inilah sebabnya mengapa
matahari terbit lebih dulu di Irian Barat dari pada di Jawa. Satu kali rotasi bumi
menjalani 3600 yang ditempuh selama 24 jam.
b. Akibat rotasi bumi

   1) Adanya gerak semu harian dari matahari
   2) Pergantian siang dan malam
   3) Penyimpangan arah angin, arus laut
   4) Penggelembungan di khatulistiwa dan pemepatan di kedua kutub bumi
   5) Timbulnya gaya sentrifugal
   6) Adanya dua kali air pasang naik dan pasang surut dalam sehari semalam
   7) Perbedaan waktu antara tempat-tempat yang berbeda derajat busurnya
c. Gerak revolusi dari bumi

      Selama mengedari matahari ternyata sumbu bumi miring dengan arah yang
sama terhadap bidang ekliptika. Kemiringan sumbu bumi ini besarnya 23 ½0
terhadap bidang ekliptika tersebut. Akibat dari revolusi bumi ialah :
Akibat dari revolusi bumi adalah :
   1) Pergantian empat musim
   2) Perubahan lamanya siang dan malam
   3) Terlihatnya rasi (konstelasi) bintang yang beredar dari bulan ke bulan
Lintasan bumi dalam revolusinya terhadap matahari disebut orbit.
d. Gaya gravitasi terrestrial dari bumi

      Bumi kita ini mempunyai gaya gerak atau gaya berat. Gaya tarik bumi ini
dinamakan gaya gravitasi terrestrial bumi. Benda di bumi ini memiliki bobot karena
pengaruh gaya gravitasi tersebut. Gaya gravitasi terrestrial inilah yang menahan
semua materi yang ada di bumi serta atmosfernya hingga tidak hilang melayang ke
alam semesta.
e. Waktu

      Kita telah mengenal waktu satu hari satu malam yang lamanya 24 jam. Waktu
24 jam ini adalah sehari semalam solar (matahari) berdasarkan gerak semu matahari
dalam membuat satu revolusi lengkap.
4. Planet Mars
      Planet ini berwarna kemerah-merahan yang diduga tanahnya mengandung banyak
besi oksigen, hingga kalau oksigen masih ada jumlahnya sangat sedikit. Pada permukaan
planet ini didapatkan warna-warna hijau, biru dan sawo matang yang selalu berubah
sepanjang masa tahun. Mars mempunyai dua satelit atau bulan yaitu phobus dan daimus.
      Jarak planet mars dengan matahari ialah 226,48 juga km. Garis tengahnya adalah
6272 km dan revolusinya 1,9 tahun. Rotasinya 24 jam 37 menit. Berdasarkan data yang
dikirim oleh satelit Mariner IV di Mars tidak ada oksigen, hampir tidak ada air,
sedangkan kutub es yang diperkirakan mengandung banyak air itu tak lebih merupakan
lapisan salju yang sangat tipis.


5. Planet Yupiter
      Yupiter merupakan planet terbesar. Berdasarkan analisis spektroskopis planet ini
mengandung gas metana dan amoniak banyak, serta mengandung gas hidrogen. Yupiter
mempunyai kurang lebih 14 satelit atau bulan. Planet Yupiter bergaris tengah 138.560
km, rotasinya cepat yaitu 10 jam. Oleh karena gaya gravitasinya yang sangat kuat,
Yupiter mempunyai 12 satelit (bulan) dan 3 darinya beredar berlawanan arah dengan 9
lainnya.




6. Planet Saturnus
      Saturnus mempunyai massa jenis yang sangat lebih kecil dari pada air yaitu 0,75
g/cm3, sehingga akan terapung di air. Ternyata planet ini berupa gas yang terdiri dari
metana dan amoniak dengan suhu rata-rata 103 0C. Saturnus mempunyai 10 satelit dan
diantaranya yang terbesar disebut Titan, yang lain disebut Phoebe yang bergerak
berlawanan arah dengan 9 satelit lainnya.


7. Planet Uranus
      Uranus memiliki 5 satelit. Berbeda dengan planet yang lain, Uranus arah gerak
rotasinya dari timur ke barat. Jarak ke matahari adalah 2860 juta km dan mengelilingi
matahari dalam waktu 84 tahun. Rotasinya 10 jam 47 detik. Besar Uranus kurang dari
setengah Saturnus, bergaris tengah 50.560          km. Berdasarkan pengamatan pesawat
VOYAGER pada bulan Januari 1986 Uranus memiliki 14 buah satelit.


8. Planet Neptunus
      Neptunus mempunyai dua satelit, satu diantaranya disebut Triton. Satelit Triton
beredar berlawanan arah dengan gerak rotasi Neptunus. Jarak ke matahari 44790 km,
mengelilingi matahari dalam 165 tahun sekali seputar.
c. Komet

  Komet berasal dari bahasa Yunani, yaitu Kometes yang artinya berambut panjang.
  Komet menurut istilah bahasa adalah benda langit yang mengelilingi matahari dengan
  orbit yang sangat lonjong. Komet terdiri atas es yang sangat padat dan orbitnya lebih
  lonjong daripada orbit planet. Komet menyemburkan gas bercahaya yang dapat
  terlihat dari bumi. Bagian-bagian komet, yaitu:

  1)inti komet, yaitu bagian komet yang kecil tapi padat tersusun dari debu dan gas.

  2)koma, yaitu daerah kabut di sekeliling inti.

  3)ekor komet, yaitu bagian yang memanjang dan panjangnya mampu mencapai satu
  satuan astronomi(1SA=jarak antara bumi dan matahari).

  Arah ekor komet menjauhi matahari. Kebanyakan komet tidak dapat di lihat dengan
  mata telanjang,tapi harus dengan menggunakan Teleskop. Komet yang terkenal
  adalah komet Halley yang ditemukan oleh Edmunt Halley. Komet itu muncul setiap
  76 tahun sekali. Komet sering disebut Bintang berekor.
d. Asteroid

  Asteroid adalah benda langit yang mirip dengan planet-planet, yang terletak di antara
  orbit Mars dan Yupiter. Asteroid disebut juga planetoid atau planet kerdil. Asteroid
  yang terbesar dan yang pertama adalah Ceres yang ditemukan oleh Giussepe Piazzi
  (astronom Italia). Icarus adalah salah satu asteroid yang pernah mendekati bumi
  dengan orbit yang berbentuk lonjong.

e. Meteoroid

  Meteoroid adalah batuan-batuan kecil yang sangat banyak dan melayang-layang di
  angkasa luar. Batuan-batuan ini banyak mengandung unsur besi dan nikel yang masuk
  ke Atmosfer karena pengaruh gravitasi bumi. Batuan-batuan atau benda langit yang
  bergesekan dengan atmosfer bumi dan habis terbakar sebelum sampai di permukaan
  bumi disebut meteor. Sedangkan batuan yang tidak habis terbakar dan sampai ke
  bumi disebut Meteorid.

f. Bulan

  Bulan merupakan benda langit yang mengitari bumi. Karena bumi mengitari
  matahari, maka bulan juga mengitari matahari bersamaan dengan bumi. Selain itu,
  bulan juga berputar pada porosnya sendiri. Dengan demikian bulan mempunyai tiga
        gerakan sekaligus. Benda-benda langit yang berada di dalam tata surya tersusun
        secara rapi

         Selama bergerak benda-benda itu tidak saling bertabrakan. Hal itu terjadi karena
        adanya gaya gravitasi pada masing-masing benda langit. Dengan demikian, dapat
        dikatakan bahwa yang menyebabkan gerakan benda-benda langit teratur adalah gaya
        gravitasi.




                                         BAB III

                                       PENUTUP

3.1 SIMPULAN

   Ada beberapa hipotesis yang menyatakan asal-usul Tata Surya yang telah dikemukakan
   oleh beberapa ahli, yaitu Hipotesis Nebula, Hipotesis Planetisimal, Hipotesis Pasang Surut
   Bintang, Hipotesis Kondensasi, dan Hipotesis Bintang Kembar. Sejarah penemuan Tata
   surya di awali dengan dilihatnya planet-planet dengan mata telanjang hingga ditemukannya
   alat untuk mengamati benda langit lebih jelas yaitu Teleskop dari Galileo. Perkembangan
   teleskop diimbangi dengan perkembangan perhitungan benda-benda langit dan hubungan
   satu dengan yang lainnya. Dari mulai mengetahui perkembangan planet-planet hingga
   puncaknya adalah penemuan UB 313 yang ternyata juga mempunyai satelit.

   Tata surya adalah kumpulan benda langit yang terdiri atas sebuah bintang yang disebut
   Matahari dan semua objek yang terikat oleh gaya gravitasinya. Objek-objek tersebut
   termasuk delapan buah planet yang sudah diketahui dengan orbit berbentuk elips, lima
   planet kerdil atau katai, 173 satelit alami yang telah diidentifikasi, dan jutaan benda langit
   (meteor, asteroid, komet) lainnya. Tata Surya terbagi menjadi Matahari, empat planet
    bagian dalam, sabuk asteroid, empat planet bagian luar, dan di bagian terluar ada Sabuk
    Kuiper dan Piringan Tersebar.




3.2 Saran

    Sebaiknya semua pihak mempelajari Tata Surya agar dapat mengetahui dari mana
    sebenarnya Tata Surya itu berasal sehingga kita tidak dapat mengada-ada atau
    merekayasanya. Mengetahui Tata Surya juga sangat penting agar kita dapat mengetahui
    kebesaran Tuhan Yang Maha Esa sehingga kita dapat meningkatkan keimanan dan
    ketakwaan.




                                    DAFTAR PUSTAKA



      Haryanto.1999.Ilmu Pengetahuan Alam.Jakarta:Erlangga.

      Wikipedia .net

								
To top