Bina Pemukiman Baru by sunardi.bbg

VIEWS: 52 PAGES: 5

									                              BINA PEMUKIMAN BARU

                 STUDI KASUS PASCA TSUNAMI MENTAWAI 2010


                                   Bambang Sunardi
                                  b.sunardi@gmail.com




1. Latar Belakang

   Pada tanggal 25 Oktober 2010, pukul 21:42:20 WIB telah terjadi gempabumi besar
dengan magnitude 7,2 SR kedalaman 10 km pada posisi 3,61 LS – 99,93 BT kurang lebih 78
km Barat Daya Pagai Selatan, Mentawai - Sumatera Barat yang membangkitkan tsunami dan
menimbulkan kerusakan berat di beberapa wilayah di Mentawai. Pada umumnya masyarakat
di pesisir pantai kurang memahami apa itu tsunami dan tanda-tandanya sehingga banyak
menimbulkan korban jiwa dan kerugian material. Terlebih lagi gelombang tsunami ini datang
pada malam hari dan dalam waktu yang relatif cepat tanpa didahului oleh goncangan gempa
yang kuat yang dirasakan oleh banyak masyarakat. Dampak bencana gempa bumi
berkekuatan 7,2 SR dan disusul tsunami tersebut, mengakibatkan 897 unit rumah rusak berat
dan 204 unit rusak ringan di 4 kecamatan, yaitu Sipora Selatan, Pagai Selatan, Pagai Utara,
dan Sikakap.

   Sampai akhir Februari 2012 korban-korban tsunami mentawai masih tinggal dalam
hunian sementara (huntara) antara lain salah satunya terletak di KM 37. Program pemerintah
yang harus dilakukan selanjutnya adalah pembangunan hunian tetap (huntap). Pembangunan
huntap dilaksanakan dengan mengupayakan lokasi hunian tetap berada dekat dengan lokasi
hunian sementara (huntara).

   Undang-Undang No. 4 Tahun 1992 tentang Perumahan dan permukiman menyebutkan
bahwa perumahan adalah kelompok rumah yang berfungsi sebagai lingkungan tempat tinggal
atau lingkungan hunian yang dilengkapi dengan prasarana dan sarana lingkungan, sedangkan
permukiman adalah bagian dari lingkungan hidup di luar kawasan lindung, baik yang berupa
kawasan perkotaan maupun perdesaan yang berfungsi sebagai lingkungan tempat tinggal atau
lingkungan hunian dan tempat kegiatan yang mendukung perikehidupan dan penghidupan.
   Perumahan dan permukiman merupakan kebutuhan dasar manusia. Perumahan dan
permukiman selain berfungsi sebagai wadah pengembangan sumber daya manusia dan
pengejawantahan dari lingkungan sosial yang tertib, juga merupakan kontribusi bagi
pertumbuhan ekonomi. Perumahan sebagai penyedia lapangan kerja serta pendorong
pembentukan modal yang besar.

   Dalam masyarakat Indonesia, pemukiman beserta prasarana pendukungnya merupakan
pencerminan dari jati diri manusia, baik secara perseorangan maupun dalam suatu kesatuan
dan kebersamaan serta keserasian dengan lingkungan sekitarnya. Perumahan dan
permukiman juga mempunyai peranan yang sangat strategis dalam pembentukan watak serta
kepribadian bangsa. Demikian hanya dengan pemukiman baru bagi korban tsunami
Mentawai, perlu dibina dan dikembangkan demi kelangsungan serta peningkatan kehidupan
dan penghidupan masyarakat.


2. Teknis Pembinaan Pemukiman Baru
2.1. Pendekatan Secara Fisik

   Pendekatan secara fisik antara lain dengan menilai kelayakan peruntukkan lahan,
aksesbilitas dan kapasitas daya dukung calon lokasi pemukiman tetap (huntap), mengkaji
status kepemilikan lahan serta kemungkinan munculnya konsekuensi perubahan status
kepemilikan lahan serta mengkaji regulasi dan kebijakan terkait dengan rencana pemanfaatan
calon lokasi pemukiman baru.

   Pendekatan secara fisik dilakukan dengan meninjau pemukimam tetap (huntap) yang baru
dibangun. Bangunan di pemukiman yang baru haruslah memenuhi kriteria antara lain tahan
gempabumi mengingat daerah Mentawai merupakan daerah yang sangat rawan terhadap
bencana gempabumi. Kriteria huntap haruslah berada pada zona aman (ketinggian > 25 meter
di atas permukaan laut mengingat potensi tsunami yang cukup besar di daerah Mentawai.

   Pendekatan fisik lainnya antara lain melalui langkah-langkah untuk menghindari
kemungkinan terjadinya kebakaran maupun keruntuhan bangunan sebelum waktunya yang
dapat menimbulkan kerugian besar pada lingkungan pemukiman dan membahayakan banyak
jiwa manusia. Pendekatan ini akan lebih lengkap apabila dibarengi dengan pembangunan
prasarana air bersih dan penyehatan lingkungan, perbaikan sistem pembuangan sampah,
pembuangan air rumah tangga, dan pembuangan air hujan dalam lingkungan. Selain untuk




                                                                                        1
meningkatkan mutu kehidupan rakyat juga mengarah pada terwujudnya lingkungan hidup
yang sehat.

   Pembinaan penyehatan lingkungan pemukiman baru hendaknya dititik beratkan kepada
pembinaan swadaya dan swakelola masyarakat dengan meningkatkan ketrampilan dan
pengetahuan warga untuk mempergunakan bahan-bahan bangunan setempat dengan sehemat-
hematnya. Rumah-rumah sehat yang didasarkan pada pola arsitektur tradisional yang baik
diharapkan dapat dikembangkan di pemukiman baru tentunya dengan mendapatkan
bimbingan teknis.

   Dengan pendekatan fisik tersebut diatas paling tidak akan banyak mengurangi potensi
korban jiwa dan kerugian material lainnya apabila bencana gempabumi / tsunami kembali
melanda daerah Mentawai. Dengan pembangunan prasarana air bersih dan penyehatan ling-
kungan, perbaikan sistem pembuangan sampah, pembuangan air rumah tangga, dan pem-
buangan air hujan dalam lingkungan akan meningkatkan pemenuhan kebutuhan pokok
rakyat. Selain itu akan meningkatkan mutu kehidupan rakyat juga mengarah pada
terwujudnya lingkungan hidup yang sehat. Hal ini mempunyai arti penting bagi kegairahan
berproduksi, kestabilan sosial, ekonomi dan kebudayaan yang mempunyai pengaruh positip
bagi kelangsungan pembangunan pada umumnya


2.2. Pendekatan Secara Biologis

    Pendekatan secara biologis dilakukan dengan melakukan langkah antara lain hunian
tetap (huntap) korban tsunami Mentawai hendaknya tidak terlalu jauh dari lokasi hunian
sementara (huntara) sehingga perladangan yang telah digarap masyarakat tetap dapat
dimanfaatkan dan tidak jauh. Akses terhadap lokasi – lokasi lama hendaknya tersedia dengan
baik sehingga mata pencaharian masyarakat dilokasi hunian baru tetap tersedia dengan baik.

    Diperlukan peninjauan ulang sejauh mana mata pencaharian yang lama masih diminati
oleh masyarakat di pemukiman baru. Kecenderungan untuk alih profesi dimungkinkan pula
apabila masyarakat menghendaki dan lingkungan serta sumberdaya alam mendukung bagi
mata pencaharian yang baru tersebut.


2.3. Pendekatan Secara Kultural / Budaya

    Pembinaan lingkungan pemukiman baru dititik beratkan kepada pembinaan swadaya
masyarakat untuk membina pemukiman baru yang sehat dengan memperhatikan adat, tradisi,

                                                                                             2
dan pandangan-pandangan hidup masyarakat yang telah ada. Pengelompokan penduduk harus
mempertimbangkan aspek dusun yang telah ada sehingga tidak merusak tatanan
pemerintahan ditengah masyarakat seperti nama desa/dusun, agar tidak menghilangkan
nama dusun sebelumnya. Dengan cara ini suatu pemukiman desa yang sehat, beraneka-ragam
dan menunjang norma-norma kehidupan sosial yang produktif dapat dikembangkan secepat-
cepatnya.

    Pembinaan berupa langkah pencerahan bahwa daerah Mentawai merupakan daerah
dengan tingkat risiko gempabumi dan tsunami yang sangat tinggi perlu dilakukan sehingga
masyarakat di pemukiman yang baru benar-benar memahami konsekuensi tinggal di daerah
tersebut. Pembinaan ini dapat dilakukan baik secara formal melalui struktur pemerintahan
maupun jalur-jalur informal antara lain lewat kelompok-kelompok masyarakat, LSM dan
lain sebagainya. Dengan demikian pemahaman tentang risiko gempabumi maupun tsunami
merupakan bagian lingkungan kehidupan mereka di pemukiman yang baru.


3. Hasil Yang Diharapkan

   Perubahan lingkungan permukiman serta perubahan kawasan pasca tsunami Mentawai
2010 menyebabkan sebagian lingkungan permukiman yang ada tidak memungkinkan lagi
diperuntukkan sebagai kawasan hunian. Sehingga salah satu pilihan pembangunan kembali
permukiman pasca tsunami Mentawai adalah penyediaan hunian tetap (huntap) yang baru
untuk memukimkan kembali (resettlement) korban bencana tsunami Mentawai di lahan
permukiman.

   Dengan pendekatan secara fisik, biologis dan kultural / budaya maka pilihan lahan bagi
penyediaan hunian tetap (huntap) yang baru adalah tidak terlalu jauh dari lokasi hunian
sementara (huntara). Pembinaan pemukiman baru untuk korban tsunami Mentawai dilakukan
dengan tetap mempertimbangkan tautan keseharian dan keberlanjutan yang dipindah dengan
segala kondisi fisik dan non fisiknya. Pemukiman yang baru harus memperhitungkan dengan
cermat kondisi pasca relokasi dan menjamin berjalannya proses menuju kemandirian dan
keberlanjutan kehidupan dan penghidupan serta pengelolaan dan pengembangan lingkungan
permukiman yang baru.

   Diharapkan melalui pembinaan permukiman yang baru tersebut mampu menjamin bahwa
pengelolaan berbagai aspek sosial, budaya, ekonomi, dan lingkungan, baik lingkungan alam
(natural environment) maupun lingkungan terbangun (built environment) menjadi lebih baik


                                                                                       3
dari semula, bukan sebaliknya menjadi lebih buruk. Diharapkan pula akan terwujud
masyarakat yang memiliki kapasitas dan kepedulian yang tinggi dalam melakukan penataan
kawasan pemukiman baru yang memenuhi persyaratan tata bangunan dan lingkungan
permukiman, mewujudkan tata lingkungan permukiman yang sehat, aman dari risiko bencana
dengan mengedepankan prinsip partisipasi, demokrasi, transparansi, akuntabilitas dan
berkelanjutan, serta mengedepankan pendekatan pembangunan berbasis nilai dan komunitas.


4. Referensi

Anonim, 1992. Undang-Undang No. 4 Tahun 1992 tentang Perumahan dan Permukiman.

Anonim, 1992. Undang-Undang No. 24 Tahun 1992 tentang Penataan Ruang.

Draft Tata Cara Pelaksanaan Penataan Kawasan Relokasi, Kementrian Pekerjaan Umum,
Direktorat Jendral Cipta Karya.




                                                                                      4

								
To top