ALTERNATIF MODEL DISEMINASI INFORMASI TEKNOLOGI PERTANIAN

Document Sample
ALTERNATIF MODEL DISEMINASI INFORMASI TEKNOLOGI PERTANIAN Powered By Docstoc
					     ALTERNATIF MODEL DISEMINASI INFORMASI TEKNOLOGI PERTANIAN
        MENGUKUNG PENGEMBANGAN PERTANIAN LAHAN MARJINAL

                      Retno Sri Hartati Mulyandari, Rudy S. Rivai, dan E. Eko Ananto
                           P4MI-Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian


                                                   ABSTRAK

          Petani menggunakan berbagai sumber informasi untuk mendapatkan inovasi yang diperlukan dalam mengelola
usahataninya. Informasi tentang teknologi dan pemasaran merupakan salah satu faktor penentu kinerja usahatani yang
dilaksanakan oleh petani. Sarana dan prasarana komunikasi telah berkembang begitu cepat, namun demikian masih
banyak pula para petani yang luput dari penyebaran dan penyediaan informasi pertanian. Berdasarkan hasil survai
pendasaran Proyek Peningkatan Pendapatan Petani melalui Inovasi (P4MI) yang dilaksanakan tahun 2004 di 5 Kabupaten
(Temanggung, Blora, Lombok Timur, Ende, dan Donggala), diketahui bahwa petani memperoleh informasi pertanian
dari berbagai sumber baik melalui media maupun komunikasi tatap muka secara langsung. Media interpersonal baik
sesama petani, penyuluh, maupun orang tua masih merupakan media utama yang paling sering (80-100%) digunakan
oleh petani. Sumber informasi melalui media cetak masih sedikit digunakan, karena terbatasnya ketersediaan informasi
melalui media cetak di tingkat petani. Radio dan televisi merupakan sumber informasi elektronis terbanyak yang
digunakan petani dalam memperoleh informasi pertanian. Fungsi kelembagaan sebagai sumber informasi teknologi
pertanian di beberapa lokasi masih cukup berperan, khususnya untuk lembaga penyuluhan sekalipun persentasenya kecil.
Kata kunci: Informasi pertanian; lahan marjinal; teknologi pertanian.



                                               PENDAHULUAN

         Informasi merupakan sumber daya penting dalam pertanian modern. Perkembangan
komputer dan perbaikan teknologi komunikasi memberikan petani kesempatan untuk memperoleh
informasi teknis dan ekonomi dengan cepat dan menggunakannya secara efektif untuk
pengambilan keputusan. Bertani bukan lagi sekedar untuk hidup, tetapi sebagai usaha untuk
memperoleh pendapatan yang baik dengan menggunakan seluruh kesempatan yang ditawarkan
oleh lingkungan. Untuk dapat bertahan, lahan pertanian harus dikelola secara efisien. Pelaku
pengembangan pertanian membutuhkan informasi inovasi pertanian yang memadai sebagai dasar
strategi perencanaan dan pertimbangan untuk pengembangan usaha tani lebih lanjut. Begitu
banyak hasil penelitian bidang pertanian yang telah dan sedang dilaksanakan, serta akan terus ada
penelitian-penelitian pertanian lain di masa depan. Hasil penelitian bidang pertanian yang berupa
informasi pertanian pada hakekatnya adalah untuk memperbaiki atau memecahkan masalah yang
ada dalam bidang pertanian.
        Informasi hasil penelitian pertanian yang telah dihimpun dalam berbagai media, bukan
hanya sekedar konsumsi bagi para peneliti lain untuk dijadikan bahan acuan, akan tetapi lebih
penting dari itu adalah bagi para petani, untuk mengembangkan usahataninya dalam rangka
meningkatkan taraf hidup dan kesejahteraannya, yang pada gilirannya untuk memenuhi kebutuhan
hidup primer seluruh umat manusia. Namun demikian, informasi hasil penelitian pertanian
tersebut belum optimal mencapai sasaran utama, yaitu para petani.
        Tujuan penelitian ini adalah: (1) mengidentifikasi informasi teknologi produksi dan
pemasaran hasil pertanian di tingkat petani; (2) mempelajari permasalahan akses informasi
teknologi produksi dan pemasaran hasil pertanian; (3) merumuskan alternatif model peningkatan
akses petani terhadap informasi pertanian.
                           METODOLOGI DAN ANALISIS DATA

Metodologi
         Makalah ini memanfaatkan data hasil studi pendasaran Proyek Peningkatan Pendapatan
Petani melalui Inovasi-P4MI (Poor Farmers’ Income Improvement through Innovation-PFI3P)
tahun 2004 yang dilaksanakan di Kabupaten Blora dan Temanggung Provinsi Jawa Tengah,
Kabupaten Lombok Timur di Provinsi Nusa Tenggara Barat, Kabupaten Ende di Provinsi Nusa
Tenggara Timur, dan Kabupaten Donggala di Provinsi Sulawesi Tengah. Responden dalam studi
pendasaran adalah petani pemilik lahan maupun penggarap di lokasi P4MI. Pada setiap kabupaten
dipilih secara purposive lima desa contoh yang masing-masing desa diwawancarai 30 responden.
Dengan demikian, seluruh responden berjumlah 750 orang.

Analisis Data
        Analisis data dilakukan dengan mengelompokkan rumah tangga tani (responden)
berdasarkan besarnya pendapatan perkapita per tahun. Responden berpendapatan rendah adalah
rumah tangga yang pendapatan perkapita pertahunnya di bawah garis kemiskinan dan responden
berpendapatan tinggi adalah rumah tangga tani yang pendapatan perkapitanya di atas garis
kemiskinan. Nilai garis kemiskinan yang digunakan adalah versi Biro Pusat Statistik (BPS) tahun
2003 untuk masing-masing kabupaten. Kisaran nilai garis kemiskinan BPS tersebut yang paling
rendah Rp 1.025.628,- di Kabupaten Ende dan tertinggi Rp 1.387.764,- di Kabupaten Donggala.
Analisis sederhana dilakukan berupa nilai rata-rata, frekuensi distribusi, dan tabulasi silang,
sedangkan uraian deskriptif dilakukan untuk menjelaskan keterkaitan antar variabel yang diamati.


                                 HASIL DAN PEMBAHASAN

Keragaan Informasi Pertanian
          Kemiskinan penduduk di Indonesia sangat terkait erat dengan sektor pertanian,
khususnya di daerah pedesaan. Kantong-kantong kemiskinan di pedesaan sangat signifikan
dijumpai pada daerah lahan tadah hujan yang marjinal. Upaya peningkatan pendapatan petani di
daerah tersebut dihadapkan pada kendala rendahnya kemampuan mereka untuk melakukan inovasi
produksi dan kemampuan menangkap peluang pasar, disamping berbagai faktor antara lain: (a)
sarana dan prasarana produksi serta pemasaran sangat kurang, (b) teknologi spesifik untuk lahan
marginal ini masih jauh lebih sedikit dari pada untuk lahan beririgasi, (c) kelembagaan masih
sangat lemah, dan (d) belum adanya insentif yang memadai bagi petani untuk meningkatkan
pendapatannya. Kelangkaan informasi horizontal dan vertikal juga ikut memperburuk akses petani
terhadap teknologi, pasar, sumber input produksi dan harganya, di samping kelangkaan potensi
pemecahan masalah yang dihadapi di tingkat lapang. Kondisi tersebut menempatkan mereka
semakin terpuruk dalam perangkap kemiskinan.
         Petani menggunakan sumber-sumber yang berbeda untuk mendapatkan informasi yang
diperlukan dalam mengelola usahataninya. Gagasan tersebut yang melandasi konsep sistem
pengetahuan dan informasi pertanian atau agricultural knowledge and information system (AKIS)
yang dirumuskan sebagai: peningkatan keserasian antar pengetahuan, lingkungan, dan teknologi
yang diperlukan melalui sinergi dari berbagai pelaku, jejaring kerja, dan lembaga yang akan
menciptakan proses kesinambungan dalam transformasi, transmisi, dokumentasi (documentation),
pencarian informasi (search), pemanggilan (retrieval), integrasi, difusi, serta pemanfaatan bersama
(sharing) inovasi. Dengan demikian, untuk mengelola usaha taninya dengan baik, petani
memerlukan berbagai sumber informasi, antara lain (Van den Ban dan Hawkins, 1999): kebijakan
pemerintah; hasil penelitian dari berbagai disiplin ilmu; pengalaman petani lain; dan informasi
terkini mengenai prospek pasar yang berkaitan dengan sarana produksi dan produk pertanian.
       Sarana dan prasarana komunikasi telah berkembang begitu cepat seiring dengan
perkembangan teknologi informasi dan komunikasi untuk mendukung proses pemanfaatan bersama
informasi teknologi pertanian. Namun demikian, petani di pedesaan khususnya yang berada di
lahan marjinal masih banyak yang luput dari upaya diseminasi informasi pertanian yang selama ini
diselenggarakan. Di samping itu, informasi yang berkaitan dengan hasil penelitian dari berbagai
disiplin ilmu, sebagian besar juga masih disajikan dalam bentuk publikasi yang sulit dipahami oleh
petani langsung. Mengingat media informasi yang ada saat ini belum mampu menjangkau petani
di pedesaan, diperburuk dengan institusi kelembagaan yang seharusnya berperan untuk
memfasilitasi akses informasi bagi petani juga belum berfungsi dengan baik, maka petani di
pedesaan cenderung memanfaatkan sumber informasi teknologi pertanian yang terbatas ada di
lingkungannya.

Sumber Informasi Teknologi Pertanian
        Berdasarkan hasil studi pendasaran yang telah dilaksanakan, diketahui bahwa sumber
informasi yang digunakan oleh petani baik kategori pendapatan rendah maupun tinggi cukup
bervariasi, yaitu berasal dari media interpersonal, media cetak, maupun audio visual (Tabel 1, 2,
dan 3). Sumber informasi interpersonal yang biasa dimanfaatkan petani untuk memperoleh
informasi teknologi pertanian adalah sesama petani atau orang tua, petugas penyuluh lapangan,
pedagang, dan distributor saprodi, maupun pedagang. Ada beberapa yang juga memanfaatkan staf
BPTP yang kebetulan berada di desa pada saat melaksanakan kegiatan pengkajian atau diseminasi
teknologi pertanian. Sumber informasi melalui media cetak yang biasa diakses oleh petani adalah
koran, majalah, dan brosur/leaflet. Sedangkan sumber informasi elektronis yang biasa
dimanfaatkan petani adalah radio dan televisi. Beberapa lembaga yang berkaitan dengan kegiatan
pertanian (Balai Penyuluhan Pertanian/BPP, Dinas, BPTP, dan Koperasi/Asosiasi) juga dinyatakan
oleh responden memberikan dukungan dalam penyediaan informasi pertanian dengan persentase
terbesar adalah BPP/Dinas.
Tabel 1. Persentase responden berdasarkan sumber informasi teknologi dan kelompok pendapatan di Lima Kabupaten,
         Indonesia, 2004.

                                                             Sumber informasi
       Kabupaten             Sesama                                                    Distributor
                                          Orang tua      Staf BPTP      PPL/Dinas                      Pedagang
                             petani                                                     saprodi
 Kelompok pendapatan rendah
   Blora                  96.36                 88.42          22.50          70.90          33.18          44.06
   Temanggung               100                 81.52           8.67          72.18           6.30          27.62
   Lombok Timur           86.56                 79.26          12.78          38.28          19.02          18.50
   Ende                   86.74                 55.47          10.39          48.14           3.90           5.08
   Donggala               84.31                 53.21           4.52          56.04           8.07           8.56
 Rata-rata                90.79                 71.57          11.77          57.11          14.09          20.76
 Kelompok pendapatan tinggi
   Blora                  98.88                 89.64          17.76          73.68          46.56          35.52
   Temanggung             89.36                 80.56          11.11          67.74           9.19          32.28
   Lombok Timur           73.58                 72.40           7.14          44.88          11.32          17.84
   Ende                   80.63                 65.44          27.94          51.98          11.15          11.15
   Donggala               91.22                 63.22           7.12          64.31          14.76          11.38
 Rata-rata                86.74                 74.25          14.22          60.52          18.60          21.63
Sumber: Data hasil studi pendasaran P4MI di Kabupaten Blora, Temanggung, Lombok Timur, Ende, dan Donggala TA 2004

        Media interpersonal ternyata merupakan media yang paling banyak dimanfaatkan oleh
petani dibandingkan dengan media tercetak dan audio visual. Dominannya akses petani terhadap
sumber informasi ini dilandasi oleh intensitas proses interaksi yang dapat terjadi melalui
komunikasi tatap muka. Hal ini dapat ditunjukkan dengan lebih tingginya akses petani terhadap
sesama petani dan orang tua dibandingkan dengan sumber informasi interpersonal lainnya yaitu
penyuluh, distributor sarana produksi, dan pedagang (Gambar 1). Hampir seluruh (90%) responden
baik yang berpendapatan rendah maupun tinggi menyatakan bahwa petani lainnya merupakan
sumber informasi utama untuk memperoleh informasi teknologi pertanian. Petugas Penyuluh
Lapangan (PPL) merupakan sumber informasi potensial yang juga banyak dimanfaatkan petani
untuk memperoleh informasi teknologi pertanian, khususnya di kabupaten yang masih memiliki
Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) seperti di Donggala.
        Kemudahan dalam akses informasi teknologi pertanian dari sumber informasi yang
digunakan juga merupakan faktor tingginya pemanfaatan sumber informasi dari sesama petani,
orang tua, dan petugas penyuluh lapangan oleh petani. Sebagian besar (90%) petani merasakan
sangat mudah dan mudah dalam memperoleh informasi teknologi pertanian dari petani lainnya dan
orang tua. Hasil studi ini memperkuat hasil penelitian yang telah dilaksanakan di Desa Ciherang,
Kabupaten Bogor (Mulyandari, 2001) dimana seluruh (100%) responden (petani) menyatakan
bahwa petani lain merupakan sumber informasi utama untuk membantu kegiatan usahataninya
dengan sekitar 95% di antaranya menyatakan sangat mudah dan mudah dalam akses sumber
informasi ke petani lain dibandingkan dengan penyuluh, distributor sarana produksi, dan pedagang.




Gambar 1. Rataan Sebaran Responden Berdasakan Sumber Informasi Interpersonal untuk Informasi
          Teknologi Pertanian.

        Namun demikian, untuk jenis informasi pasar, ternyata pedagang merupakan sumber
informasi utama yang mampu melampaui sumber informasi dari sesama petani untuk kelompok
petani kategori pendapatan tinggi (Gambar 2). Hal ini dapat dipahami karena dalam hal pemasaran
produk usahatani, petani akan lebih sering berinteraksi dengan pedagang daripada dengan penyuluh
maupun dengan orang tua. Responden pun sebagian besar merasakan sangat mudah dan mudah
dalam akses informasi teknologi pemasaran kepada pedagang.
        Seperti halnya hasil penelitian Mulyandari (2001), hasil studi pendasaran P4MI juga
menunjukkan bahwa sumber informasi dalam media audio visual dan media cetak sangat sedikit
dijadikan sebagai sumber informasi teknologi pertanian. Kurang dimanfaatkannya sumber
informasi dalam media cetak disebabkan di samping oleh tidak terjangkaunya media tersebut
sampai di tingkat petani juga karena dirasa kurang praktis bagi responden yang tidak lulus Sekolah
Dasar atau bahkan tidak pernah mengikuti pendidikan formal. Sebagian besar (di atas 85%)
responden menyatakan bahwa sumber informasi pertanian dalam media cetak belum/tidak cukup
tersedia dan belum ada sampai di tingkat pedesaan. Alasan lainnya yang juga mendasari kurang
dimanfaatkannya media ini sebagai sumber informasi adalah tidak bisa baca, tidak mengerti isinya,
dan tidak berminat.
Tabel 2. Persentase Responden Berdasarkan Sumber Informasi Teknologi Pertanian dan Kelompok Pendapatan untuk
         kategori media cetak di Lima Kabupaten, Indonesia, 2004.

                                                       Sumber informasi
         Kabupaten
                                      Koran                Majalah/buku       Brosur/leaflet/poster
 Pendapatan rendah
    Blora                                    8.88                         0                           0
    Temanggung                                0                           0                       1.82
    Lombok Timur                             2.88                         0                           0
    Ende                                     1.78                         0                       0.91
    Donggala                                 5.46                         0                       4.52
 Rata-rata                                   2.87                       3.41                      1.45
 Pendapatan tinggi
    Blora                                    7.22                         0                           0
    Temanggung                              11.05                       4.47                      1.60
    Lombok Timur                             6.50                       5.80                      7.94
    Ende                                     2.86                       2.86                      2.86
    Donggala                                 4.97                       2.58                      3.92
 Rata-rata                                   6.24                       3.57                      3.26
Sumber:    Data hasil studi pendasaran P4MI di Kabupaten Blora, Temanggung, Lombok Timur, Ende, dan Donggala TA 2004 yang
           diolah sesuai kebutuhan.




Sumber: Data baseline survey Kabupaten Blora, Temanggung, Lombok Timur, Ende, dan Donggala TA 2004.

Gambar 2.      Rataan Sebaran Responden Berdasarkan Sumber Informasi Interpersonal untuk Informasi
               Teknologi Pemasaran Hasil Pertanian di Lima Kabupaten, Indonesia, 2004.
Tabel 3. Persentase Responden Berdasarkan Sumber Informasi Teknologi Pertanian dan Kelompok Pendapatan untuk
         Kategori Media Audio-Visual di Lima Kabupaten, Indonesia, 2004..

                                                                Sumber informasi
         Kabupaten
                                    Radio            Televisi         Film/ VCD/CD                 Internet
  Pendapatan rendah
    Blora                            59.32             52.20                 0                         0
    Temanggung                       14.16             17.94                 0                         0
    Lombok Timur                     16.16             12.86                 0                         0
    Ende                              2.61              2.09                 0                         0
    Donggala                          9.52              9.29                1.16                       0
  Rata-rata                          17.02             15.89                0.23                       0
  Pendapatan tinggi
    Blora                            50.34             31.12                 10                      8.58
    Temanggung                       14.62             16.21                  0                       0
    Lombok Timur                     17.90             19.96                  0                       0
    Ende                              4.40               0                    0                       0
    Donggala                         15.23              7.93                2.87                      0
  Rata-rata                          20.03             11.05                2.57                     1.72
Sumber: Data hasil studi pendasaran P4MI di Kabupaten Blora, Temanggung, Lombok Timur, Ende, dan Donggala TA 2004.

        Sumber informasi dalam audio visual hanya terbatas pada radio dan televisi yang sudah
banyak tersedia di tingkat petani meskipun tingkat pemanfaatannya sebagai sumber informasi
pertanian masih sangat sedikit.(Tabel 3) Radio dan televisi yang dimiliki petani, sebagian besar
hanya digunakan sebagai sarana hiburan. Kurang dimanfaatkannya radio dan televisi sebagai
sumber informasi pertanian disebabkan media tersebut kurang atau bahkan tidak pernah
memberikan informasi pertanian serta responden tidak mengetahui adanya informasi pertanian
yang dapat dimanfaatkan untuk kegiatan usahataninya. Hal ini kita sadari bahwa saat ini sebagian
besar stasiun televisi dan radio belum atau tidak memberikan siaran khusus untuk mendukung
pertanian dan pembangunan pedesaan.
        Beberapa petani juga menyatakan bahwa informasi yang berasal dari media radio sulit
dipahami karena sifatnya yang satu arah dan selintas. Untuk di kabupaten tertentu yang kondisi
sosial ekonominya sangat minim sebagian besar (di atas 70%) untuk Ende dan di atas 50% untuk
Donggala menyatakan belum memiliki pesawat televisi maupun radio. Adapun untuk di tiga
kabupaten lainnya, sekitar 30% responden menyatakan tidak memiliki pesawat televisi atau radio.
        Institusi pemerintah (BPPT-LIPI dengan Warintek-nya dan Deptan), maupun lembaga
swasta yang berkaitan dengan layanan informasi pertanian telah mendiseminasikan informasi
pertanian melalui media elektronis berupa website yang dapat diakses secara online melalui internet
maupun dalam media CD dan VCD. Melalui media ini, sumber informasi pertanian diharapkan
dapat menyebarkan informasi pertanian yang dimilikinya secara cepat dan luas tanpa hambatan
geografis dan tidak mengenal out off print. Namun demikian, untuk jenis sumber informasi yang
dikemas dalam media VCD/CD dan internet, sebagian besar petani masih merasa asing dan tidak
mengetahui apabila ada informasi pertanian yang dikemas dalam media tersebut. Media ini belum
memasyarakat di tingkat petani karena masih dianggap terlalu canggih (sophisticated).
        Upaya mempercepat arus informasi teknologi pertanian melalui media elektronis dalam
media VCD/CD, dan internet akan lebih sesuai untuk pengguna antara (petugas dinas pertanian
atau penyuluh pertanian) bukan untuk petani langsung. Hal ini disebabkan oleh masih
dibutuhkannya prasyarat tertentu untuk dapat dimanfaatkannya sumber informasi ini, misalnya
peralatan komputer dan tersedianya jaringan untuk memfasilitasi koneksi kesumber informasi
melalui akses online. Di beberapa kabupaten bahkan instalasi listrik pun masih juga menjadi salah
satu faktor penghambat dalam operasionalisasi perangkat elektronis.
         Sumber informasi teknologi pertanian yang dikemas dengan media VCD masih
memungkinkan untuk disampaikan langsung ke petani, karena alat ini sudah mulai tersedia di
tingkat petani di seluruh kabupaten, meskipun dengan jumlah yang relatif masih sangat terbatas
(sekitar 25% untuk Ende, Donggala dan sekitar 50% untuk Lotim, Temanggung, dan Blora).
Alternatif Model Peningkatan Akses Informasi Pertanian
        Berdasarkan hasil studi pendasaran, sumber informasi melalui media interpersonal masih
mendominasi petani dalam mendapatkan informasi teknologi pertanian. Namun demikian, dari
segi efisiensi penyebaran inovasi pertanian, media interpersonal akan membutuhkan biaya dan
waktu yang cukup tinggi. Oleh karena itu, untuk meningkatkan kualitas informasi pertanian yang
sampai kepada petani perlu dirumuskan model peningkatan akses petani terhadap informasi
pertanian dengan mengoptimalkan dan menggabungkan media informasi yang biasa dimanfaatkan
oleh petani dengan teknologi informasi dan komunikasi modern.
        Alternatif model peningkatan akses informasi yang ditawarkan adalah model intermediate
akses. Intermediate akses dengan media komunikasi melalui beberapa tahapan (multi-step flow
communication) merupakan strategi yang dirasa cukup ideal untuk mempercepat proses
peningkatan akses petani terhadap informasi pertanian. Fasilitator dari Lembaga Swadaya
Masyarakat, petugas penyuluh pertanian di kabupaten maupun kecamatan, operator pusat informasi
pertanian di tingkat kabupaten, petugas pelayanan informasi pertanian, kontak tani andalan dapat
bertindak sebagai pengguna antara (intermediaries users) untuk menjembatani petani dalam akses
informasi pertanian. Intermediate akses ini cukup efisien, mengingat keterbatasan petani dari segi
ekonomi, pengetahuan, dan letak geografi tidak memungkinkan petani dapat langsung akses
informasi yang dibutuhkan tanpa dibantu oleh fasilitator. Secara fungsional, mekanisme
peningkatan akses informasi teknologi pertanian sampai di tingkat petani disinergikan dengan
kegiatan diseminasi informasi teknologi pertanian (dalam bentuk pengetahuan, produk, maupun
layanan informasi) dari berbagai institusi pemerintah (Badan Litbang Pertanian melalui PUSTAKA
dan BPTP) maupun non pemerintahan, media, dan aktivitas kelembagaan potensial daerah yang
mendukung pembangunan pertanian.
         Dalam strategi diseminasi sistem informasi pertanian untuk peningkatan akses petani
terhadap informasi teknologi pertanian, terdapat tiga tahapan utama dengan asumsi pusat
informasi pertanian di tingkat kabupaten dapat operasional secara optimal. Tahap pertama,
pengguna dan pengguna antara (operator, penyuluh, fasilitator) dapat akses informasi pertanian
dari berbagai media yang tersedia di pusat informasi pertanian, baik secara elektronis (online dan
offline) maupun tercetak. Pada tahap kedua, informasi yang telah diperoleh dilakukan proses:
pengelolaan, perakitan kembali, dan penyederhanaan ke dalam bentuk yang mudah diterima oleh
pengguna sesuai dengan karakteristik pengguna (user friendly) dengan biaya yang murah. Untuk
mendukung ketersediaan informasi tepat guna yang sesuai dengan kebutuhan pengguna, institusi
terkait Deptan (khususnya Badan Litbang Pertanian, melalui PUSTAKA dan BPTP) dan luar
Departemen Pertanian akan mendukung kegiatan ini. Pada tahap ketiga, diharapkan informasi
yang telah dikemas dalam berbagai media dapat disebarkan ke pengguna melalui kombinasi dari
media terbaru (digital media), konvensional, termasuk media tradisional yang populer di tingkat
masyarakat. Pada tahap ini diharapkan peran petugas dari LSM (fasilitator) dapat bersinergi
dengan tokoh masyarakat untuk mendukung operasionalisasi diseminasi informasi pertanian
(siaran radio, telepon seluler, papan pengumuman desa, media personal) sampai di tingkat petani.
Seluuruh media potensial yang mampu menjangkau pengguna (siaran radio, telepon seluler,
papan pengumumam desa, dan media personal) sampai di tingkat desa perlu dioptimalkan untuk
mempercepat diseminasi informasi pertanian.
         Sistem informasi pertanian berbasis web untuk sementara dapat difungsikan sampai di
tingkat kabupaten. Implementasi dari subsistem diseminasi informasi pertanian ini adalah
difungsikannya pusat informasi pertanian di tingkat kabupaten di lokasi yang strategis di
kabupaten yang berfungsi tidak hanya sebagai telecentre, namun juga sebagai one stop shop untuk
pertukaran informasi di mana kontak tani dapat memperoleh informasi yang berguna dan sesuai
dengan inovasi produksi dan pemasaran. Di tempat ini diharapkan kontak tani memiliki akses
terhadap informasi pertanian elektronis dari berbagai sumber secara online (melalui internet) yang
telah dikembangkan melalui jaringan telepon, offline (pangkalan data dan CD-ROM), maupun
konvensional (tercetak). Kesempatan untuk dapat berinteraksi langsung dengan tenaga ahli, tenaga
teknis di bidang pertanian maupun dengan sesama kontak tani pun terbuka luas untuk peningkatan
kualitas usahatani yang dilaksanakannya. Kondisi ini dapat diwujudkan apabila ada dukungan aktif
dari pemerintah kabupaten dan LSM lokal dalam pengelolaan pusat informasi pertanian dan
memfasilitasi petani untuk akses informasi.

         Gambar 3. Alternatif Model Peningkatan Akses Petani Terhadap Informasi Pertanian.

       Idealnya, pusat informasi pertanian ini diperpanjang sampai minimal di tingkat sentra
produksi (kecamatan) untuk mendekati enduser. Dengan demikian, selain kontak tani, petani pun
juga dapat akses secara langsung terhadap sumber informasi lokal maupun nasional. Di tingkat
kecamatan ini, diharapkan dapat dibangun klinik pertanian yang secara teknis dapat memberikan
layanan kepada petani dalam proses pemecahan permasalahan yang dihadapi dalam berusahatani
maupun informasi pasar berkaitan dengan jenis komoditas yang diusahakan petani.




        Kerjasama antara dinas pertanian terkait dengan peneliti/pengkaji di tingkat regional
maupun nasional sangat dibutuhkan untuk dapat terselenggaranya klinik pertanian. Dengan
operasionalnya sistem jaringan di tingkat kecamatan ini, proses kerjasama tersebut diharapkan
dapat berjalan dengan cepat dan mudah melalui berbagai media komunikasi aktif yang tersedia di
daerah dan dapat dimanfaatkan untuk memfasilitasi percepatan akses informasi. Media komunikasi
tersebut di antaranya adalah siaran radio, telepon, faximile, selebaran, maupun kelembagaan
usahatani seperti kelompok tani dan koperasi desa, serta media komunikasi interpersonal melalui
petugas penyuluh pertanian formal dari dinas pertanian maupun penyuluh informal dari swasta
(misalnya dari LSM atau dari distributor sarana produksi pertanian). Dalam kasus tertentu, pakar
untuk komoditas dengan bidang permasalahan tertentu dapat didatangkan untuk memberikan
bantuan teknis yang dibutuhkan. Karena target pengembangan akses informasi pertanian berbasis
teknologi informasi hanya sampai di tingkat kabupaten, maka dukungan fisik maupun manajemen
dari pemda setempat untuk keberlanjutan kegiatan pembangunan dan operasionalisasi jaringan
informasi pertanian hingga sampai di tingkat pengguna akhir sangat dibutuhkan.


                                           PENUTUP
1. Berdasarkan hasil survai pendasaran Proyek Peningkatan Pendapatan Petani melalui Inovasi
   (P4MI) yang dilaksanakan tahun 2004 di 5 Kabupaten (Temanggung, Blora, Lombok Timur,
   Ende, dan Donggala), diketahui bahwa media interpersonal baik sesama petani, penyuluh,
   maupun orang tua masih merupakan media utama yang paling sering (80-100%) digunakan
   oleh petani
2. Sumber informasi melalui media cetak masih sedikit digunakan oleh petani karena terbatasnya
   ketersediaan informasi melalui media cetak di tingkat petani. Radio dan televisi merupakan
   sumber informasi elektronis terbanyak yang digunakan petani dalam memperoleh informasi
   pertanian. Fungsi kelembagaan sebagai sumber informasi teknologi pertanian di beberapa
   lokasi masih cukup berperan, khususnya untuk lembaga penyuluhan sekalipun persentasenya
   kecil
3. Salah satu alternatif model peningkatan akses petani terhadap informasi pertanian adalah
   mengembangkan komunikasi bertahap melalui intermediaries users yang lebih peka terhadap
   teknologi komunikasi dan informasi dengan dukungan operasionalisasi Pusat informasi
   pertanian di kabupaten dan pengelolaan informasi yang sederhana menggunakan media yang
   murah, terjangkau, dan sesuai dengan sumberdaya yang tersedia di daerah.
4. Peningkatan akses petani terhadap informasi pertanian harus didukung oleh pusat informasi
   pertanian yang ada di Kabupaten yang dilaksanakan secara terpadu dan komprehensif baik dari
   segi operasionalisasi maupun pembangunan infrastruktur sehingga dapat berhasil guna. Oleh
   karena itu, dukungan secara operasional dari Pemerintah Kabupaten untuk keberlanjutan pusat
   informasi pertanian dan peran serta secara aktif institusi dan lembaga pemerintah dan
   nonpemerintah terkait sangat dibutuhkan.


                                    DAFTAR PUSTAKA

Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian. 2004. Program Komponen Pengembangan
      Sumber Informasi Nasional dan Lokal-PFI3P. PFI3P-Badan Litbang Pertanian, Jakarta.
Indonesian Agency for Agricultural Research and Development, Ministry of Agricultural and
       Asian Development Bank. 2003. Project Administration Memorandum for the Poor
       Farmers Income Improvement through Innovation Project.
Mulyandari, Retno S H., dkk. 2002. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Pengembangan
      Kemandirian Petani oleh Penyuluh (Kasus di Desa Ciherang, Kecamatan Darmaga,
      Kabupaten Bogor). Forum Pascasarjana Volume 25 Nomor 1, Januari 2002, Institut
      Pertanian Bogor, Bogor, Indonesia. Pusat Penelitian dan Pengembangan Sosial Ekonomi
      Pertanian, Bogor, Indonesia.
Noekman, K. M., dkk. 2005. Survai Pendasaran (Baseline Survey) for Poor Farmers’ Income
      Improvement through Innovation Project (PFI3P) di Kabupaten Lombok Timur, Provinsi
      Nusa Tenggara Barat. Pusat Penelitian dan Pengembangan Sosial Ekonomi Pertanian,
      Bogor, Indonesia.
Rivai, R. S., dan I. S. Anugrah. 2005. Survai Pendasaran (Baseline Survey) for Poor Farmers’
        Income Improvement through Innovation Project (PFI3P) di Kabupaten Temanggung,
        Provinsi Jawa Tengah. Pusat Penelitian dan Pengembangan Sosial Ekonomi Pertanian,
        Bogor, Indonesia.
Rivai, R.S., dan M. Iqbal. 2005. Survai Pendasaran (Baseline Survey) for Poor Farmers’ Income
        Improvement through Innovation Project (PFI3P) di Kabupaten Ende, Provinsi Nusa
        Tenggara Timur. Pusat Penelitian dan Pengembangan Sosial Ekonomi Pertanian, Bogor,
        Indonesia.
Swastika, D. K. S., dkk. 2005. Survai Pendasaran (Baseline Survey) for Poor Farmers’ Income
       Improvement through Innovation Project (PFI3P) di Kabupaten Blora, Provinsi Jawa
       Tengah. Pusat Penelitian dan Pengembangan Sosial Ekonomi Pertanian, Bogor, Indonesia.
Van den Ban dan Hawkins. 1999. Penyuluhan Pertanian. Kanisius. Yogyakarta.
Zakaria, dkk. 2005. Survai Pendasaran (Baseline Survey) for Poor Farmers’ Income Improvement
        through Innovation Project (PFI3P) di Kabupaten Donggala, Provinsi Sulawesi Tengah.
        Pusat Penelitian dan Pengembangan Sosial Ekonomi Pertanian, Bogor, Indonesia.

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Tags:
Stats:
views:284
posted:6/5/2012
language:
pages:10