Docstoc

ETIKA-KONSERVASI-BIODIVERSITAS

Document Sample
ETIKA-KONSERVASI-BIODIVERSITAS Powered By Docstoc
					            ETIKA KONSERVASI BIODIVERSITAS :
       TINJAUAN MAKNA PESAN AYAT-AYAT AL-QUR’AN
                               Burhanuddin Masy’ud

                                     ABSTRAK

        Dalam perspektif ajaran Islam, paling tidak ada 6 komponen utama hidup
yang wajib dipelihara atau dijaga oleh seluruh umat manusia, yakni : (1) memelihara
jiwa (Hifdzul nafs), (2) memelihara akal (hifdzul aql), (3) memelihara harta (hifdzul
maal), (4) memelihara agama (hifdzul diin), (5) memelihara keturunan (hifdzul nasl)
dan (6) memelihara lingkungan hidup (hifdzul biah). Berkaitan dengan memelihara
lingkungan hidup tersebut, banyak ayat-ayat Al-Qur’an yang memberikan pesan
yang dapat dimaknai secara kontekstual terkait dengan prinsip etika konservasi
bidoversitas, diantaranya : Pertama, Prinsip bahwa Tuhan sebagai pemilik hakiki
segala sesuatu di bumi (QS Thaha:6) dan adanya sifat keberagaman ciptaan (QS
An-Nahl (16):11; Lukman (31) : 10; Fathir (35) : 27-28; Yaasin (36): 34, 71, 80; Al-
An'am (6) : 99, 141; Fathir (35): 12); Kedua, Prinsip bahwa manusia bertugas
sebagai pengelola dan pemakmur bumi (QS Al-Baqarah (2):30; Huud (11):61;
Ketiga: Keseimbangan dan Keterukuran Alam Ciptaan (QS Al-Mulk (67): 3; QS Al-
Hijr (15): 19 dan 21; Al-Qamar (54): 49 dan Al-Furqan (25): 2); Keempat, Prinsip
larangan berbuat kerusakan di muka bumi dan dampak kerusakan bumi (QS Al-
Baqarah(2): 11; Al-A’raf: 56; An-Nahl: 34; Al-Qashash: 77; Asy-Syu’araa (26): 151-
152). Kelima, Larangan memanfaatkan sumberdaya secara berlebih-lebihan (boros)
dan melampaui batas (QS Al-Baqarah (2): 190; Al-An’am (6): 141; Al-Isra’ (17): 27).
Keenam, Semua fauna (binatang) di bumi memiliki hak yang sama dengan manusia
sebagai sesama umat Tuhan dan Larangan membunuh spesies apapun tanpa
alasan syar’i. (QS Al-An’am (6): 38; Al-Furqan (25): 68); Ketujuh, prinsip perintah
mempelajari (berpikir) tentang gejala alam (hewan & tumbuhan) (QS An-Nahl (16):
11, 66-67; Al-Mulk (67): 19, 30; Qaaf (50): 7-8; Ar-Ra’du (13): 4; Al-Fathir (35): 27;
Al-Ghaasyiyah (88): 17-20). Kedelapan, Setiap orang atau komunitas harus
bertanggungjawab atas seluruh perbuatannya dan akan menerima akibatnya di
dunia maupun di akhir, sebesar atau sekecil apapun juga (QS Al-Zalzalah (99); 7-8;
An-Naazi’aat (79): 34-41; Al-An’am (6): 132; Al-A’raf (7): 6-9; Yunus (10): 52.
Kesembilan, Semua manusia memiliki kedudukan yang sama di muka bumi dan
keharusan membangun kerjasama dalam kebaikan untuk kemasalahatan di bumi
(QS Al-Hujuran (49): 13; Al-Maidah (5): 2, 8; Al-An’am (6): 152). Diantara prinsip-
prinsp etika konservasi ini harus dikembangkan sebagai acuan didalam
meningkatkan upaya pendidikan bagi terwujudnya masyarakat konservasi.

Kata kunci: etika, konservasi, Al-Qur’an.


                                 PENDAHULUAN

      Wacana dan tuntutan tentang keharusan konservasi               biodiversitas
(keanekaragaman hayati) terus berkembang dari waktu ke waktu sejalan dengan
meningkatnya kesadaran masyarakat bahwa jaminan keberlanjutan dan mutu hidup
dan kehidupan ummat manusia di dunia ini sangat bergantung pada jaminan
kelestarian biodiversitas tersebut di muka bumi ini. Manusia memang sangat
tergantung pada biodiversitas sebagai sumber energi bagi hidup dan kehidupannya,
sehingga dapat dibayangkan jika terjadi kerusakan, pencemaran atau ketiadaan
keanekaragaman hayati dan lingkungan hidup, maka jaminan mutu                 dan
keberlanjutan hidup dan kehidupan umat manusia jelas akan terpengaruh. Dengan
demikian, biodiversitas sangat disadari sebagai unsur penting penunjang kehidupan
umat manusia dari generasi ke genrasi. Sejarah perkembangan hidup dan kehidupan
manusia di muka bumi ini tidak bisa dilepas-pisahkan dari keberadaan biodiversitas,
baik yang tersedia secara alamiah maupun sebagai hasil rekayasa budidaya
manusia.
        Manusia memang menjadi pusat dari segala sumber persoalan krisis
lingkungan hidup termasuk ancaman terhadap kelestarian biodiversitas. Oleh karena
itu, persoalan konservasi biodivesitas dan pelestarian lingkungan hidup dalam arti
luas, bukan sekedar persoalan teknis-biologis, melainkan lebih sebagai persoalan
sosial-budaya. Ini berarti bahwa upaya konservasi biodiversitas dan pelestarian
lingkungan hidup dengan hanya menyandarkan pendekatan teknis-biologis, di
tengah-tengah tata hubungan antar negara di dunia yang tidak seimbang dan tidak
jujur, masih rendahnya tingkat kesadaran dan pemahaman masyarakat, tingginya
kemiskinan dan masih tingginya laju pertumbuhan penduduk dengan berbagai
konsekwensinya terhadap eksploitasi sumberdaya alam, ternyata makin
memperburuk kondisi kualitas lingkungan hidup dan             merosotnya ancaman
kelestarian biodiversitas di dunia. Dengan demikian diperlukan pendekatan lain yang
lebih mendasar, komprehensif dan strategis yang bersifat sosio-budaya, yang
mampu menggugah hati nurani manusia dan kemanusiaan                   yang memiliki
kecenderungan dasar berbuat kebaikan dan kebajikan (hanief). Dalam perspektif
sosio-budaya inilah, makin disadari dan kuatnya tuntutan untuk mengembangkan
dan menerapkan pendekatan lain dalam usaha konservasi melalui upaya
mewujudkan masyarakat konservasi (Conservation society). Masyarakat konservasi
adalah masyarakat yang dalam interaksinya dengan sumberdaya alam dan
lingkungan hidupnya senantiasa memegang teguh dan berperilaku sesuai dengan
prinsip etika, kaidah dan norma yang berlaku pada sistem alam (Sunnatullah), yang
sesuai dengan karakter sumberdaya alam yang memiliki keterbatasan daya dukung,
mempunyai hak hidup dan harus diperlakukan sama seperti halnya manusia
sebagai ciptaan Tuhan. Disinilah diperlukan pengembangan nilai-nilai etika
konservasi yang akan menjadi panduan, ukuran, batasan dan penilai tentang
bagaimana seseorang secara individual maupun komunitas seharusnya bertindak
terhadap lingkungannya agar dapat dikatakan benar atau tidak benar, baik atau tidak
baik, sesuai atau tidak sesuai. Disinilah mulai pula digali sumber nilai, norma atau
landasan yang akan dijadikan sebagai rumusan etika konservasi dimaksud.
        Pada masyarakat yang beragama manapun di dunia, maka sumber hukum,
norma dan etika yang diyakini benar dan harus dipegangteguh serta menjadi acuan
dalam berperilaku adalah kitab sucinya. Bagi umat Islam, maka Al-Qur’an sebagai
kitab suci diyakini memiliki pesan-pesan yang lengkap sebagai petunjuk dan
pedoman hidup dan kehidupan di dunia. Ayat-ayat suci Al-Qur’an memang tidak
secara eksplisit menjelaskan bagaimana etika konservasi, karena Al-Qur’an bukan
kitab tentang konservasi namun sebagai firman Allah Yang Maha Kuasa, maka
kandungan makna pesan di dalamnya diyakini menjangkau seluruh segi hidup dan
kehidupan manusia termasuk aspek konservasi biodiversitas. Pertanyaannya, pesan
mana saja dari ayat-ayat Al-Qur’an yang dapat dimaknai sebagai prinsip-prinsip etika
konservasi biodiversitas ?


                  TINJAUAN KONSEP ETIKA KONSERVASI


        Untuk membangun suatu pemahaman yang sama tentang konsep etika, ada
baiknya perlu terlebih dahulu diuraikan makna etika dan kaitannya dengan moral.
Etika menurut asal katanya (etimologi), berasal dari bahasa Yunani ethos yang
berarti watak kesusilaan atau adat. Sedangkan arti etika menurut Poerwadarminta
dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia, adalah ilmu pengetahuan tentang asas-
asas akhlak (moral).       Sedangkan menurut istilah        (terminologi), etika lebih
merupakan suatu ilmu pengetahuan yang berhubungan dengan upaya menentukan
perbuatan yang dilakukan manusia untuk dikatakan baik atau buruk (Nata 1996).
Etika merupakani hasil pikiran manusia, yang sifatnya humanistis dan antropsentris,
yakni berdasar pada pemikiran manusia dan diarahkan pada manusia. Artinya etika
adalah aturan atau pola tingkah laku yang dihasilkan oleh akal manusia. Nata
(1996), bahkan mancatat paling tidak ada empat hal/ciri yang berhubungan dengan
etika, yakni : Pertama, dilihat dari segi obyek pembahasannya, etika berusaha
membahas perbuatan yang dilakukan manusia. Kedua, dilihat dari segi sumbernya,
etika bersumber pada akal pikiran manusia atau filsafat, sehingga bersifat relatif atau
tidak mutlak, dan tidak pula universal, bersifat terbatas, dapat berubah, memiliki
kekurangan atau kelebihan. Ketiga, dilihat dari segi fungsinya, etika berfungsi
sebagai penilai, penentu dan penetap terhadap suatu perbuatan yang dilakukan oleh
manusia, yaitu apakah perbuatan tersebut akan dinilai baik, buruk, mulia, terhormat,
hina dan sebagainya; dan Keempat, dilihat dari segi sifatnya, etika bersifat relatif
yakni dapat berubah-ubah sesuai tuntutan zaman.
         Dalam praktek kehidupan para profesional, konsep etika tersebut
dirumuskan sebagai aturan (kode etik) yang mengikat dan menetapkan perilaku atau
perbuatan para profesional tertentu, seperti “Kode Etik IDI (Ikatan Dokter Indonesia)”
yang mengatur dan mengikat perbuatan profesi dokter Indonesia; Kode Etik IAI
(Ikatan Advokat Indonesia) untuk profesi advokat, dan sebagainya. Dalam perspektif
makna etika seperti inilah, konsep etika konservasi mengandung makna sebagai
aturan, ketentuan, pedoman yang menetapkan suatu perbuatan manusia atau
kelompok manusia itu sesuai dengan asas dan prinsip-prinsip konservasi ataukah
tidak.
       Berbeda dengan etika, moral menurut asal katanya (etimologi) berasal dari
bahasa Latin mores (jamak dari kata mos) yang berarti adat kebiasaan. Dalam
Kamus Umum Bahasa Indonesia, moral adalah penentuan baik buruk terhadap
perbuatan atau kelakuan. Sedangkan dalam arti istilah, moral adalah suatu istilah
yang digunakan untuk menentukan batas-batas dari sifat, perangai, kehendak,
pendapat atau perbuatan yang secara layak dapat dikatakan benar atau salah, baik
atau buruk (Nata 1996). Dalam kamus bahasa Inggris (The Advanced Learner’s
Dictionary of Current English”, sebagaimana dikutip Nata (1996), paling tidak kata
moral mempunyai tiga makna, yakni : (1) prinsip-prinsip yang berkenaan dengan
benar dan salah, baik dan buruk; (2) kemampuan untuk memahami perbedaan
antara benar dan salah, dan (3) ajaran atau gambaran tingkah laku yang baik. Jelas
bahwa moral adalah istilah yang digunakan untuk memberikan batasan terhadap
aktivitas manusia dengan nilai (ketentuan) baik atau buruk, benar atau salah.
Seseorang disebut bermoral, itu berarti bahwa orang itu menunjukkan tingkah laku
yang baik, begitu pula sebaliknya, jika seseorang disebut tidak bermoral, itu berarti
orang itu melakukan sesuatu perbuatan yang buruk yang menyalahi adat kebiasaan
yang telah diakui dan diterima oleh masyarakat pada umumnya.
       Meskipun etika dan moral sama-sama membahas obyek yang sama yakni
perbuatan manusia, namun keduanya memiliki makna yang berbeda. Nata (1996)
mencatat, ada beberapa perbedaan antara etika dan moral. Pertama, Etika lebih
menekankan penentuan nilai perbuatan manusia baik atau buruk menggunakan tolok
ukur akal pikiran atau rasio, sedangkan tolok ukur moral adalah norma-norma, adat
istiadat dan kebiasaan yang tumbuh dan berkembang dan berlangsung di
masyarakat. Kedua, etika lebih bersifat pemikiran filosofis dan berada dalam
dataran konsep-konsep, sedangkan moral berada dalam dataran realitas dan muncul
dalam tingkah laku yang berkembang di dalam dan diterima masyakarat. Ketiga,
moral lebih dipakai untuk perbuatan yang sedang dinilai, sedangkan etika dipakai
untuk pengkajian sistem nilai yang ada.
       Dalam perspektif konservasi biodiversitas, makna moral ini menempatkan
seseorang untuk selalu bertindak sesuai dengan asas-asas konservasi sekaligus
perwujudan penunaian kewajiban dasarnya sebagai makhluk Tuhan yang harus
senantiasa memelihara dan menjaga bumi beserta isinya.   Adalah sungguh tidak
bermoral, jika manusia sebagai sebaik-baik ciptaan Tuhan yang mengemban
amanah mulia sebagai wakil Tuhan (khalifa-Nya) dan tergolong sebagai makhluk
berbudaya, beradab dan berakal budi, namun bertindak merusak              dan
menyebabkan kepunahan biodiversitas di muka bumi ini.


          MENGEMBANGKAN ETIKA KONSERVASI BIODIVERSITAS

        Etika konservasi (conservation ethic) dapat dibangun dengan dua prinsip
pendekatan, yakni pendekatan antroposentris dan biosentris. Pendekatan
antroposentris menekankan pada akibat tindakan orang mengenai sumberdaya
alam atau lingkungan terhadap kepentingan orang lain. Artinya, etika konservasi ini
mengatur bagaimana seharusnya seseorang itu bertindak atau berbuat terhadap
sumberdaya alam (SDA) dan lingkungannya secara baik dan benar agar tidak
menimbulkan dampak negatif terhadap kepentingan orang lain, sekaligus mengatur
hukum atau sanksi bila terjadi pelanggaran. Sebagai contoh, jika kita menebang
pohon atau membakar hutan, hendaknya mempertimbangkan dampaknya terhadap
kepentingan masyarakat sekitar dalam menjadikan hutan itu sebagai sumber
penghidupan mereka. Jika kita menebang hutan yang pada gilirannya dapat
mengganggu kehidupan masyarakat sekitar karena terjadi banjir, maka kita akan
dipandang melakukan tindakan yang salah atau tidak beretika atau tidak bermoral.
Sedangkan pendekatan biosentris menekankan pada akibat tindakan orang atau
sekelompok orang mengenai sumberdaya alam atau lingkungan tanpa
mempertimbangan ada-tidaknya akibat terhadap orang lain melainkan lebih kepada
dampaknya terhadap kelestarian orgamisme flora-fauna itu di alam. Artinya lebih
menekankan pada akibat tindakan orang atau sekelompok orang terhadap
kepentingan kelestarian biologis (flora-fauna) dari SDA atau lingkungan tesebut.
Misalnya, jika kita menebang sesuatu pohon dalam hutan, harus mempertimbangkan
dampak penebangan pohon itu terhadap kepentingan burung atau satwa tertentu
yang menggunakan pohon itu untuk kepentingan kelangsungan hidupnya, baik
sebagai sumber pakan, tempat berteduh maupun sebagai tempat berkembangbiak.
        Mengacu pada pandangan itulah, sebenarnya dapat dirumuskan beberapa
argumentasi etik yang membenarkan perlunya konservasi biodiversitas atau
perlindungan terhadap sesuatu spesies langka dan spesies tanpa nilai ekonomi yang
jelas, sebagaimana dikemukakan oleh Primack (1993) dan Primack et al. (1998)
sebagai berikut:

1. Setiap spesies memiliki hak untuk hidup, karena setiap spesies memiliki nilai
   intrinsik, nilai untuk kebaikannya sendiri, meskipun tidak berhubungan dengan
   kebutuhan manusia.
2. Semua spesies saling tergantung satu sama lain. Spesies berinteraksi dengan
   cara yang kompleks sebagai bagian dari komunitas alami. Hilangnya satu
   spesies memiliki konsekwensi yang jauh bagi anggota lain di dalam komunitas,
   sehingga secara etik semua spesies harus dijaga kelestariannya.
3. Manusia harus hidup di dalam keterbatasan ekologi seperti spesies lainnya.
   Artinya manusia harus berhati-hati untuk meminimalkan kerusakan ini karena
   akan mempengaruhi manusia juga.
4. Manusia harus bertanggungjawab sebagai penjaga dan pelindung bumi. Karena
   jika kita merusak sumberdaya alam bumi dan menyebabkan kepunahan spesies,
   maka generasi mendatang harus membayarnya dengan standar dan kualitas
   hidup yang lebih rendah.
5. Menghargai kehidupan manusia dan keanekaragaman manusia sebanding
   dengan menghargai keanekaragaman hayati.
6. Alam memiliki nilai spiritual dan estetika yang melebihi nilai ekonominya. Hampir
   setiap orang membutuhkan kehidupan liar dan lansekap secara estetika, dan
   banyak orang menganggap bumi sebagai ciptaan yang agung dengan
   kebaikannya sendiri dan nilai yang harus dihargai. Oleh karena itu harus dijaga
   dan dipertahankan keberadaannya.
7. Keanekaragaman hayati dibutuhkan untuk menentukan asal kehidupan. Dua
   misteri utama dunia filosofi dan ilmu pengetahuan adalah bagaimana kehidupan
   timbul dan bagaimana keanekaragaman hidup yang ditemukan di muka bumi
   saat ini ada. Ribuan ahli biologi bekerja untuk memecahkan misteri ini dan sudah
   mendekati jawabannya. Jika suatu spesies punah, bukti-bukti menjadi hilang, dan
   misteri ini menjadi sulit dipecahkan.

     Dalam rangka mendorong pengembangan etika dunia bagi kehidupan
berkelanjutan, maka pada tahun 1991 dalam suatu pertemuan yang diprakarsai oleh
World Conservation Union dan dihadiri oleh banyak pakar dunia dari berbagai
agama, telah dirumuskan Elemen Etika Dunia untuk Kehidupan Berkelanjutan
(Hamilton 1993), sebagai berikut:

1. Setiap manusia adalah bagian dari komunitas kehidupan dari semua makhluk
   hidup yang saling berhubungan antar sesama, antar generasi sekarang dan
   generasi yang akan datang, kemanusiaan dan bersandar dari alam. Mencakup
   juga keragaman budaya dan alam.
2. Setiap manusia memiliki hak asasi yang sama, mencakup hak untuk hidup,
   kemerdekaan dan keamanan personal, hak untuk bebas berbicara, berpikir,
   beragama, bebeas menyelidiki dan mengungkapkan hasil penyelidikannya;
   kedamaian bertemu dan berkumpul; berpartisipasi dalam pemerintahan;
   pendidikan dan mendapatkan sumberdaya dalam dunia yang terbatas untuk
   suatu standar kehidupan yang layak. Tidak ada individu, kemunitas, atau bangsa
   yang berhak menghilangkan hak pihak yang lain untuk memenuhi kebutuhan
   dasarnya.
3. Setiap orang dan setiap masyarakat berhak menghormati hak-hak tersebut dan
   bertanggungjawab untuk melindungi ha-hak tersebut.
4. Setiap bentuk kehidupan memerlukan pernghargaan secara bebas dari manusia.
   Pengembangan manusia tidak boleh menekan keutuhan alam atau daya hidup
   spesies lain. Orang harus menghargai semua ciptaan secara layak dan
   melindungi mereka dari kekejaman, menghindari penderitaan dan pembunuhan
   yang tidak perlu.
5. Setiap orang harus bertanggungjawab terhadap dampak dari tindakannya
   terhadap alam. Orang harus memelihara proses ekologis dan keragaman alam
   dan memanfaatkan setiap sumberdaya alam dengan hemat dan efisien,
   menjamin bahwa pemanfaatan mereka terhadap sumberdaya alam yang dapat
   diperbaharui secara berkelanjutan.
6. Setiap orang harus mengarahkan bersama-sama secara adil manfaat dan biaya
   dari pemanfaatan sumberdaya diantara berbagai komunitas dan kelompok
   kepentingan, diantara generasi sekarang dan generasi yang akan datang. Setiap
   generasi harus meninggalkan untuk masa yang akan datang suatu dunia yang
   beragam dan produktif. Pembangunan oleh masyarakat atau generasi tidak
   boleh membatasi peluang dari generasi atau masyarakat yang lain.
7. Perlindungan terhadap hak-hak asasi manusia dan semua kekayaan alam yang
   ada merupakan suatu tanggungjawab dunia yang melewati batas semua
   kulturak, idelogi dan wilayah geografi. Tanggungjawab itu bersifat individual
   maupun kolektif.

     Secara global baik argumentasi etik maupun rumusan elemen etik seperti
dikemukakan di atas tidak bisa dilepaskan dari pengaruh pandangan barat yang
modern dan pandangan timur yang tradisional (Budhist seperti ditunjukkan pada
Gambar 1.




                         Pandangan Dunia Timur/Tradisional
                             (Pandangan Dunia Budhist)

                       Ekosentris (manusia sebagai bagian alam)
                                    Non-kekerasan
                                 Pengendalian Mental
                           Kebutuhan dan Pemenuhannya
                             Pengembangan Spritualitas
                                  Penghilang egoisme


                                    Garis Kepunahan
                Biodiversity
                        Garis kehidupan                   Biopoverty



                                  Kepunahan Spesies
                     Pembangunan Ekonomi (Mania Pertumbuhan)
                                     Konsumerisme
                            Pengendalian berdasar teknologi
                                       Kekerasan
                     Antroposentris (manusia satu bagian dari alam)

                           Pandangan Dunia Barat/Modern




Gambar 1. Pandangan Dunia Barat/Modern dan Dunia Timur (Budhis) terhadap
          SDA dan Lingkungan (Sponsel & Natadecha-Sponsel 1993).


      Pandangan timur lebih menekankan pada pendekatan mental dengan usaha
pengembangan spiritualitas dan pengurangan sifat-sifat ego, tanpa kekerasan dan
meletakkan manusia sebagai bagian tak terpisah dari alam; kelestarian biodiversitas
menjadi fokus perhatian. Sebaliknya pandangan barat lebih menekankan pada
pendekatan teknologi, meningkatkan usaha pemenuhan seluruh kebutuhan hidup
manusia (konsumerisme), bertindak dengan kekerasan serta mengembangkan
ekonomi dengan prinsip pertumbuhan yang sebesar-besarnya, lebih antroposentris
atau berpusat pada kepentingan manusia dengan memandang manusia merupakan
satu bagian tersendiri dari alam. Pandangan barat menekankan pada keseluruhan
usaha meningkatkan produktivitas sumberdaya alam bagi kemaslahatan manusia
dengan penggunaan teknologi sebagai kekuatan utamanya. Dalam perspektif barat
tersebut, jelas terlihat bahwa pandangan     baratlah yang hampir mendominasi
pemikiran kebanyakan penggerak konservasi di dunia ini yang lebih dibangun atas
dasar prinsip pendekatan antroposentris dan biontris, lebih sekularis yang alpa
terhadap kesadaran dan panggilan pertanggunjawaban Ilahiah (transedental).
Pandangan barat lebih menekankan pada kepercayaan terhadap kekuatan akal
pemikiran manusia dan andalan teknologi sebagai faktor penting dalam
pengendalian pemanfaatan sumberdaya alam, lepas dari semangat dan kesadaran
emosi dan spiritualitas manusia sebagai suatu kekuatan penting. Berbeda halnya
dengan pandangan Timur, yang menempatkan pengendalian mental (emosi) dan
pengembangan spiritualitas sebagai salah satu ciri penting dan mendasar dalam
usaha pemenuhan kebutuhan hidupnya. Pandangan timur ini antara lain diwakili oleh
kultur negara-negara timur seperti Jepang dan Cina yang selalu mengembangkan
hubungan harmoni dengan alam lingkungannya dalam usaha memenuhi kebutuhan
hidupnya. Ada dorongan kuat untuk mencapai derajat manusia dan kemanusiaanya
melalui pola hubungan yang selaras dan dengan pemanfaatan sumberdaya alam
dan lingkungannya. Emosi dan spiritualitasnya selalu diarahkan sejalan dengan
kondisi dan tatanan alam.


           PESAN ETIKA KONSERVASI BIODIVERSITAS DALAM
                      PERSPEKTIF AL-QUR’AN


        Dalam perspektif ajaran Islam, paling tidak ada 6 komponen utama hidup
yang wajib dipelihara atau dijaga oleh seluruh umat manusia, yakni : (1) memelihara
jiwa (Hifdzul nafs), (2) memelihara akal (hifdzul aql), (3) memelihara harta (hifdzul
maal), (4) memelihara agama (hifdzul diin), (5) memelihara keturunan (hifdzul nasl)
dan (6) memelihara lingkungan hidup (hifdzul biah). Berkaitan dengan memelihara
lingkungan hidup tersebut, banyak ayat-ayat Al-Qur’an yang memberikan pesan
yang dapat dimaknai secara kontekstual terkait dengan prinsip etika konservasi
bidoversitas. “Tidaklah Kami (Allah) alpakan sesuatu pun dalam Al-Kitab (Al-Qur’an)
(QS Al-An’aam (6) : 38). Artinya, Al-Qur’an sebagai kitab yang memuat wahyu Allah
Tuhan Yang Maha Mengetahui dan Maha Awal dan Maha Akhir, tidak akan pernah
luput dari semua segi kehidupan di muka bumi ini, baik apa yang sudah terjadi pada
masa silam maupun apa yang sedang terjadi dan yang menjangkau jauh dimasa
mendatang, termasuk berbagai pemikiran dan temuan ilmu pengetahuan
kontemporer dewasa ini. Bucaille (2005) menyatakan bahwa: ”Bagaimanapun,
pertimbangan-pertimbangan ilmiah ini tidak menjadikan kita lupa bahwa Al-Qur’an
masih merupakan kitab suci yang paling sempurna. Al-Qur’an pastilah bukan kitab
ilmiah semata. Dalam Al-Qur’an, kalau manusia diajak untuk memikirkan tentang
teka-teki penciptaan dan berbagai fenomena alam lainnya, akan mudah dilihat
bahwa maksud sebetulnya adalah untuk menekankan Kemahakuasaan Allah”.
Bucaille juga menyatakan bahwa : selama berabad-abad, manusia tidak mampu
mempelajari data tertentu yang terkandung dalam ayat-ayat Al-Qur’an, lantaran
mereka tidak memiliki peralatan ilmiah yang memadai. Baru belakangan ini, berbagai
ayat dari Al-Qur’an yang berkaitan dengan fenomena alam, mampu dipamahi”. Jelas
bahwa jika dikaji dengan pisau analisis kontemporer dan kontekstual, dapat dipahami
banyak isyarat dari ayat-ayat Al-Qur’an yang memberikan pesan penting tentang
keharusan melakukan konservasi.
        Al-Jamaly (1981) menyebutkan Al-Qur’an bagi orang Islam adalah kitab
terbesar mengenai filsafat pendidikan dan pengajaran. Pada hakekatnya Al-Qur’an
adalah perbendaharaan kebudayaan manusia yang sangat luas …..……. Al-Qur’an
adalah kitab pendidikan dan pengajaran. Sebagai kitab pendidikan, Al-Qur’an
menggariskan empat tujuan pendidikan di dalamnya, yakni : (1) memperkenalkan
kepada manusia sebagai individu,          kedudukannya di antara makhluk dan
tanggungjawabnya sebagai pribadi dalam kehidupan ini; (2) memperkenalkan
kepada manusia hubungan-hubungan kemasyarakatannya dan tanggung jawabnya
terhadap ketenteraman masyarakat; (3) memperkenalkan kepada manusia alam
seluruhnya dan menjadikannya mengetahui hikmah Khaliq dalam penciptaan-Nya
dan memungkinkan manusia memanfaatkannya; dan (4) memperkenalkan kepada
manusia Pencipta alam (Allah) dan cara beribadah kepada-Nya.
         Sebagai Kitab dari Allah Tuhan Yang Maha Mengetahui Yang Ghaib dan
Maha Mengetahui apa yang akan terjadi yang belum diketahui dan dijangkau oleh
keterbatasan pengetahuan manusia, maka setiap perkembangan ilmu pengetahuan
komtemporer yang sering diidentifikasi sebagai penemuan manusia, pasti secara
hakiki telah berada dalam skenario besar Ilmu Allah sebagai Pencipta dan Pemilik
Alam Semesta ini, sehingga secara eksplisit (tersurat) maupun implisit (tersirat),
berbagai hal yang berkenaan dengan konservasi biodiversitas pasti telah terkandung
di dalamnya. Melalui pemaknaan atas ayat-ayat Al-Qur’an manusia dapat
memperoleh pemahaman sesuai konteks permasalahan yang dihadapi manusia,
termasuk yang terkait dengan prinsip-prinsip etika konservasi biodiversitas.
Betapapun demikian, Al-Qur’an tentu saja bukanlah kitab tentang konservasi
biodiversitas ataupun etika konservasi,         tetapi pasti kandungannya secara
kontekstual menjangkau segala hal yang sudah dan akan terjadi (berkembang)
dalam perjalanan kehidupan umat manusia, termasuk persoalan yang terkait dengan
prinsip-prinsip etika konservasi biodiversitas.
         Menyadari akan terbatasnya pengetahuan yang kami miliki, terutama terkait
dengan kaidah-kaidah didalam memaknai atau menfasirkan Al-Qur’an, maka sangat
disadari bahwa apa yang dapat ditelaah dari kandungan Al-Qur’an yang maha luas
ini yang kemudian dituangkan sebagai prinsip-prinsip konservasi biodiversitas tentu
saja sangat terbatas, dan tidak hanya apa yang dapat dirumuskan di bawah ini. Apa
yang ditulis di bawah ini hanya sebagian kecil, namun setidaknya sebagai sebuah
wacana awal dalam mendorong pengembangan nilai-nilai etika yang bersumber dari
wahyu Allah, sekaligus sebagai manifestasi penunaian salah satu dari enam
kewajiban manusia (umat Islam khususnya) didalam memelihara lingkungannya
(hifdzul biah), seperti disebutkan di atas. Kami berlindung kepada Allah dari
keterbatasan diri didalam memahami pesan Al-Qur’an tentang konservasi
biodiversitas.     Beberapa prinsip etika konservasi biodiversitas yang dapat kami
identifikasi dari pesan-pesan ayat Al-Qur’an perlu dipahami dan dikembangkan
dalam rangka mendorong terwujudnya masyarakat konservasi,. Dapat diuraikan
secara singkat di bawah ini.

Prinsip Pertama: Tuhan sebagai Pencipta dan Pemilik hakiki segala sesuatu
di bumi, dan adanya Keragaman Ciptaan-Nya
     Al-Qur’an menggariskan bahwa pencipta dan pemilik hakiki bumi beserta segala
isi yang terkandung didalamnya adalah Tuhan. Tuhan pulalah yang menjadi Maha
Pemberi segenap keperluan hidup manusia. Banyak ayat Al-Qur’an menggariskan
tentang prinsip ini diantaranya tertuang dalam QS Thaha (20): 6, QS Al-Hijr (15): 20;
QS Al-Furqan (25): 59; QS Al-Baqarah (2): 29; QS Qaaf (50): 38; An-Nur (24): 45.
         “Kepunyaan Allah-lah semua yang ada di langit, semua yang ada di bumi,
semua yang ada diantara keduanya dan semua yang ada di bawah bumi" (QS
Thaha : 6). "Dan Kami (Allah) telah menjadikan untukmu di bumi keperluan-
keperluan hidup, dan (Kami menciptakan pula) makhluk-makhluk yang kamu bukan
pemberi rezekinya" (QS Al-Hijr (15) : 20). "Dialah (Allah) yang menciptakan langit
dan bumi dan apa yang ada diantara keduanya dalam enam masa" (QS Al-Furqan
25): 59). "Dialah yang menciptakan bagimu segala yang ada di bumi semuanya
....(QS Al-Baqarah (2): 29). "Dan sesungguhnya telah Kami (Allah) ciptakan langit
dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya dalam enam masa ....." (QS Qaaf
(50): 38).
         Prinsip ini menegaskan batasan kepada manusia untuk tidak boleh bertindak
melampaui kewenangan sebagai bukan pemilik sebenarnya (hakiki) dari bumi
beserta segenap isinya termasuk biodiversitas. Jangan bertindak mengingkari
(dzalim) atas prinsip ini. "Dan Dia (Tuhan) telah memberikan padamu (keperluanmu)
dari segala apa yang kamu mohonkan kepada-Nya. Dan jika kamu menghitung-
hitung nikmat Allah tidaklah dapat kamu menghitungnya. Sesungguhnya manusia itu
sangat dzalim (mengingkari)" (QS Ibrahim (14): 34).
        Al-Qur’an bahkan juga menunjukkan secara jelas konsep biodiversitas
(keanekaragaman hayati) ciptaan-Nya baik jenis flora, fauna dan ekosistem (QS An-
Nahl (16):11; Lukman (31) : 10; Fathir (35) : 27-28; Yaasin (36): 34, 71, 80; Al-An'am
(6) : 99, 141; Fathir (35): 12).
         “Dan Allah telah menciptakan semua jenis hewan dari air, maka sebagian
dari hewan itu ada yang berjalan di atas perutnya, dan sebagian berjalan dengan
dua kaki, dan sebagian yang lain berjalan dengan empat kaki. Allah menciptakan
apa yang dikehendaki-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu”
(QS An-Nuur (24): 45).

Prinsip Kedua: Manusia sebagai wakil Tuhan (Khalifah) yang bertugas sebagai
pengelola dan pemakmur bumi.
        Prinsip ini menggariskan bahwa manusia hanya berstatus sebagai wakil
Tuhan dengan tugas utama mengelola dan memakmurkan bumi, sehingga tidak
dibenarkan bertindak melampaui batas kewenangan tersebut. Upaya pengembangan
pemanfaatan semua sumberdaya ciptaan Tuhan sebagai Pemilik hakiki harus
dikhidmatkan bagi kepentingan dan kemaslahatan kemakmuran bumi; menyimpang
dari prinsip ini berarti menyalahi dan berdampak negatif terhadap kehidupan di bumi.
Al-Qur’an menggariskannya dalam banyak ayat, diantaranya tertuang dalam QS Al-
Baqarah (2): 30; QS Huud (11): 61 sebagai berikut: "Sesungguhnya Aku hendak
menjadikan seorang khalifah (wakil) di muka bumi" (QS Al-Baqarah (2): 30)."Dia
(Allah) telah menciptakan kamu dari bumi (tanah) dan menjadikan kamu sebagai
pemakmurnya" (QS Huud (11) : 61).

Prinsip Ketiga: Keseimbangan dan Keterukuran Alam Ciptaan
         Al-Qur’an menggariskan prinsip tentang sifat keseimbangan dan keterukuran
alam sebagai ciptaan Tuhan. Karakter sumberdaya alam yang seimbang dan terukur
mengharuskan manusia sebagai wakil Tuhan dengan tugas utama pemakmur dan
penjaga bumi untuk senantiasa bertindak dalam koridor karakter dasar sumberdaya
yang seimbang dan terukur tersebut. Menyimpang dari prinsip ini pasti akan
menimbulkan ketidakseimbangan dan gangguan pada sistem alam yang seimbang
dan terukur tersebut. Diantara ayat Al-Qur’an yang menggariskan prinsip ini adalah
QS Al-Mulk (67): 3; QS Al-Hijr (15): 19 dan 21; Al-Qamar (54): 49 dan Al-Furqan
(25): 2.
         "Dan tidak ada sesuatupun melainkan pada sisi Kami-lah khazanahnya
(sumbernya), dan Kami tidak menurunkannya melainkan dengan ukuran yang
tertentu" (QS Al-Hijr (15): 21). "Kamu sekali-kali tidak melihat pada ciptaan Tuhan
Yang Maha Pemurah sesuatu yang tidak seimbang. Maka lihatlah berulang-ulang,
adakah kamu melihat sesuatu yang tidak seimbang" (QS Al-Mulk (67): 3). ”…dan Dia
telah menciptakan segala sesuatu dan Dia menetapkan ukuran-ukurannya dengan
serapi-rapinya” (QS Al-Furqan (25): 2). "Dan Kami telah menghamparkan bumi dan
menjadikan padanya gunung-gunung dan Kami tumbuhkan padanya segala sesuatu
menurut ukuran" (QS Al-Hijr (15) : 19).

Prinsip Keempat: Prinsip larangan berbuat kerusakan di muka bumi dan
dampak kerusakan bumi.
        Banyak ayat Al-Qur’an menegaskan tentang prinsip larangan membuat
kerusakan di muka bumi, diantaranya seperti digariskan pada QS Al-Baqarah (2): 11;
Al-A’raf (7): 56; An-Nahl (16): 34; Al-Qashash (28): 77; Asy-Syu’araa (26): 151-152).
        “Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi sesudah Allah
memperbaikinya (Surah Al-A’raf (7) ayat 56). “Dan janganlah kamu membuat
kerusakan di muka bumi (QS Al-Baqarah (2): 11). Dan janganlah kamu berbuat
kerusakan di muka bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang
berbuat kerusakan" (QS Al-Qashash (28): 77).
Al-Qur’an juga menegaskan bahwa dengan sifat dasarnya yang seimbang dan
terukur, maka sebenarnya semua kerusakan yang terjadi di muka bumi adalah akibat
ulah perbuatan manusia. "Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan
oleh perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian
dari (akibat) perbuatan mereka agar mereka kembali (ke jalan yang benar)" (QS Ar-
Rum (30): 41). Al-Qur’an juga menegaskan larangan mengikuti perintah pemimpin
manapun yang menyebabkan kerusakan di atas bumi. “ …..dan janganlah kamu
mentaati perintah orang-orang yang melewati batas, yang membuat kerusakan di
muka bumi dan tidak mengadakan perbaikan" (QS Asy-Syu'araa' (26) : 151-152).

Prinsip Kelima: Larangan memanfaatkan sumberdaya secara berlebih-lebihan
(boros) dan melampaui batas.

        Al-Qur’an juga menegaskan tentang prinsip larangan pemanfaatan
sumberdaya secara berlebih-lebihan (boros) dan melampaui batas, selain menyalahi
karakter dasar sumberdaya yang seimbang dan terukur, tetapi lebih dari itu juga
menyalahi prinsip hakekat keberadaan manusia dengan fungsi dan tugas utama
sebagai pemakmur dan pengelola bumi. Hal ini antara lain seperti digariskan dalam
QS Al-Baqarah (2): 190; Al-An’am (6): 141; Al-Isra’ (17): 27; QS Al-Furqan (25): 67;
QS Al'Alaq (96): 6-7.
         "Dan Dialah yang menjadikan kebun-kebun yang berjunjung dan yang tidak
berjunjung, pohon kurma, tanam-tanaman yang bermacam-macam buahnya, zaitun
dan delima yang serupa (bentuk dan warnanya) dan tidak sama (rasanya). Makanlah
dari buahnya yang bermacam-macam itu bila dia berbuah dan tunaikan haknya di
hari memetik hasilnya (dengan disedekahkan kepada fakir miskin), dan janganlah
kamu berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang
berlebih-lebihan" (QS Al-An'am (6) : 141).
        "Sesungguhnya para pemboros itu adalah saudara-saudara syetan" (QS Al-
Isra' (17): 27). "Janganlah kamu melampaui batas, karena sesungguhnya Allah tidak
menyukai orang-orang yang melampaui batas" (QS Al-Baqarah (2): 190).

Prinsip Keenam: Semua fauna (binatang) di bumi memiliki hak yang sama
dengan manusia sebagai sesama umat Tuhan dan Larangan membunuh
spesies apapun tanpa alasan syar’i.

         Al-Qur’an menegaskan perihal kedudukan semua binatang (fauna) di muka
bumi sebagai sesama umat seperti halnya manusia. Artinya mereka juga memiliki
hak hidup dan hak untuk diperlakukan secara baik dan benar sesuai karaker
dasarnya. Tidak boleh meniadakan hak hidup mereka tanpa alasan yang dibenarkan
(syar’i). “Dan tiadalah binatang-binatang yang ada di bumi dan burung-burung yang
terbang dengan kedua sayapnya, melainkan umat-umat (juga) seperti kamu
(manusia). Tiadalah Kami (Tuhan) alpakan sesuatupun di dalam penciptaannya (Al-
Kitab), kemudian kepada Tuhanlah mereka dihimpun” (QS Al-An’am (6): 38). “Dan
orang-orang yang tidak menyembah tuhan lain beserta Allah, dan tidak membunuh
jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) kecuali dengan alasan yang benar ..
(QS Al-Furqan (25): 68).

Prinsip Ketujuh: Perintah mempelajari (berpikir) tentang gejala alam (hewan &
tumbuhan)
       Al-qur’an juga secara tegas menggariskan prinsip yang terkait dengan
keharusan mempelajari atau berpikir tentang fenomena alam dalam rangka
mengembangkan pola pengelolaan yang benar dan sejalan dengan karakter dasar
sumberdaya alam sebagai ciptaan Tuhan. Diantara ayat-ayat Al-qur’an yang
menggariskan prinsip ini adalah QS An-Nahl (16): 11, 66-67; Al-Mulk (67): 19, 30;
Qaaf (50): 7-8; Ar-Ra’du (13): 4; Al-Fathir (35): 27; Al-Ghaasyiyah (88): 17-20.
Prinsip Kedelapan: Setiap orang atau komunitas harus bertanggungjawab atas
seluruh perbuatannya dan akan menerima akibatnya di dunia maupun di akhir,
sebesar atau sekecil apapun juga.
        Al-Qur’an menggariskan bahwa setiap perbuatan manusia di dunia ini
siapapun dia akan diminta pertanggungjawabannya di dunia ini maupun di akhirat
nanti, sebesar biji sawi sekalipun perbuatan itu. Setiap perbuatan manusia secara
individual maupun kelompok dipastikan akan memperoleh balasan (ganjaran),
apakah perbuatan baik ataupun jelek. Al-Qur’an menegaskannya didalam beberapa
ayat berikut : QS Al-Zalzalah (99); 7-8; An-Naazi’aat (79): 34-41; Al-An’am (6): 132;
Al-A’raf (7): 6-9; Yunus (10): 52.

Prinsip Kesembilan: Semua manusia memiliki kedudukan yang sama di muka
bumi dan keharusan membangun              kerjasama      dalam kebaikan untuk
kemasalahatan di bumi.
       Al-Qur’an menetapkan bahwa semua manusia, tanpa membedakan suku
bangsa sesungguhnya memiliki kedudukan yang sama dan harus memperoleh
perlakuan yang sama. Yang membedakannya adalah kebajikan yang diperbuatnya
yang menghantarkannya menjadi mulia sebagai orang yang bertaqwa dalam
pandangan Tuhan. Untuk itulah maka setiap manusia atau komunitas diprintahkan
untuk saling kenal-mengenal dan saling membantu di dalam berbuat kebajikan dan
dilarang untuk saling tolong-menolong didalam berbuat kerusakan; setiap orang
wajib bertindak adil terhadap siapapun dan dalam keadaan apapun. Diantara ayat
Al-Qur’an yang menggariskan tentang prinsip tersebut, yakni QS Al-Hujuran (49): 13;
Al-Maidah (5): 2, 8; Al-An’am (6): 152.

       Itulah sembilan prinsip etika yang dapat dipetik dari ayat-ayat Al-Qur’an yang
dapat dikembangkan menjadi prinsip-prinsip yang terkait dengan etika konservasi
biodiversitas yang selanjutnya perlu dikembangkan dan ditanamkan kepada manusia
dalam mewujudkan suatu masyarakat konservasi. Tentu ditinjau dari luasnya
kandungan Al-Qur’an dan kesadaran akan keterbatasan yang kami miliki, maka
sesungguhnya apa yang diuraikan disini masih terlalu terbatas. Upaya keras masih
harus dilakukan terus-menerus dalam upaya mewujudkan masyarakat yang
berpegang teguh dan menerapkan prinsip-prinsip etika konservasi dalam seluruh
perihidup dan kehidupannya baik secara individual maupun komunitas.


                               DAFTAR PUSTAKA

Al-Jamaly FM, 1981. Filsafat Pendidikan Dalam Al-Qur’an. Terjemahan. Penerbit CV
     Pepara. Jakarta.
Al-Qardhawi Y. 1998. Al-Qur’an. Berbincang tentang Akal dan Ilmu Pengetahuan.
     Gema Insani Press. Jakarta.
Bucaille M. 2005. Jelajah Alam Bersama Al-Qur’an. Terjemahan The Qur’an and
     Modern Science. CV Arafah Group. Solo.
Departemen Agama RI. 1992. Al-Qur’an dan Terjemahannya. Edisi Lux CV Asy-
     Syifa’. Semarang.
Hadhiri C. 1993. Klasifikasi Kandungan Al-Qur’an. Gema Insani Press. Jakarta.
Hamilton LS & HF Takeuchi (Edt.). 1993. Ethics, Religion and Biodiversity. Relation
     Between Conservationand Cultural Value. The White Horse Press. Cambridge.
Naik Z. 2005. Jelajah Alam Bersama Al-Qur’an. Terjemahan, The Qur’an and
     Modern Science, Compatible or Incompatible ?. CV Arafah Group. Solo.
Nata A. 1996. Akhlak Tasauf. PT RajaGrafindi Persada. Jakarta.
Primack RB. 1993. Essentials of Conservation Biology. Sinauer Associates Inc.
     Sunderland, Massachusetts, USA.
Primack RB, J Suprianta, M Indrawan & P Kramadibrata. 1998. Biologi Konservasi.
     Yayasan Obor Idonesia. Jakarta.
Sponsel LE & P Natadecha-Sponsel. 1993. The Potential Contribution of Buddhism
     in Developing an Environmental Ethic for The Conservastion of Biodiversity.
     Dalam Hamilton LS & HF Takeuchi (Edt.). Ethics, Religion and Biodiversity.
     Relation Between Conservationand Cultural Value. The White Horse Press.
     Cambridge.

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Tags:
Stats:
views:65
posted:6/4/2012
language:Malay
pages:12
Description: ETIKA-KONSERVASI-BIODIVERSITAS.