diare anal usia 5 tahun - BAB II diare by dwinurmijayanto

VIEWS: 52 PAGES: 9

diare anal usia 5 tahun

More Info
									                                     BAB II


                        TINJAUAN PUSTAKA




A. Definisi Diare

         Hipocrates mendefinisikan diare sebagai pengeluaran tinja yang

   tidak normal dan cair. Di bagian Ilmu Kesehatan Anak FK UI / RSCM,

   diare diartikan sebagai buang air besar yang tidak normal atau bentuk tinja

   yang encer dengan frekuensi yang lebih banyak dari biasanya. Neonatus

   dikatakan diare bila frekuensi buang air besar lebih dari 4 kali sehari,

   sedangkan untuk bayi yang berumur lebih dari 1 bulan dan anak, bila

   frekuensinya lebih dari 3 kali.


B. Diagnosis

   Cara mendiagnosis pasien diare adalah dengan menentukan 3 hal berikut :


   a. Persistensi

            Persistensi dilihat dari lamanya pasien menderita diare, apakah

       sudah lebih dari 14 hari atau belum, sehingga nantinya dapat

       menentukan apakah diare pada pasien termasuk diare akut atau diare

       persisten. Hal ini berkaitan dengan tatalaksana diare yang berkaitan

       dengan penyulit ataupun komplikasi dari diare tersebut.




                                       8
                                                                          9




b. Etiologi

   Dapat dibagi menjadi beberapa faktor, yaitu:


    1) Faktor Infeksi

        a) Infeksi enteral yaitu infeksi saluran pencernaan yang

              merupakan penyebab utama diare pada anak-anak, infeksi

              enteral ini merupakan infeksi bakteri (misal E. coli,

              Salmonela, Shigella), infeksi parasit (misal Cacing, Protozoa,

              Jamur) dan infeksi virus (misal Rotavirus).

        b) Infeksi parenteral yaitu infeksi di bagian tubuh lain di luar

              alat pencernaan seperti otitis media akut. Keadaan ini

              terutama terdapat pada bayi dan anak di bawah umur 2 tahun.

    2) Faktor Malabsorbsi

        a) Malabsorbsi karbohidrat, pada anak terutama intoleransi

              laktosa

        b) Malabsorbsi lemak

        c) Malabsorbsi protein

    3) Faktor makanan

       Makanan basi, beracun, dan alergi terhadap makanan.


    4) Faktor Psikologis

       Rasa takut dan cemas, bisa menimbulkan diare pada anak yang

       lebih dewasa, namun kasus ini jarang ditemukan.
                                                                       10




c. Derajat Dehidrasi

   Tabel II.1: Pembagian Derajat Dehidrasi

          Kategori                       Tanda dan Gejala


                             Dua atau lebih tanda berikut:


                                 Letargi atau penurunan kesadaran

    Dehidrasi berat              Mata cowong

                                 Tidak bisa minum atau malas minum

                                 Cubitan kulit perut kembali dengan

                                  sangat lambat (≥ 2 detik)

                             Dua atau lebih tanda berikut:


                                 Gelisah

    Dehidrasi tak berat          Mata cowong

                                 Kehausan atau sangat haus

                                 Cubitan kulit pada kulit kembali

                                  dengan lambat

                             Tidak ada tanda dan gejala yang cukup

    Tanpa dehidrasi          untuk mengelompokkan dalam dehidrasi

                             berat atau tak berat


   Sumber: PDT Anak buku 1
                                                                           11




C. Patogenesis

   Mekanisme dasar yang menyebabkan timbulnya diare ialah:


   a. Gangguan osmotic

                Akibat terdapatnya makanan atau zat yang tidak dapat diserap

       akan menyebabkan tekanan osmotik dalam rongga usus meninggi,

       sehingga terjadi pergeseran air dan elektrolit ke dalam rongga usus.

       Cairan     yang    berlebihan   ini   akan   merangsang   usus   untuk

       mengeluarkannya sehingga timbul diare.


   b. Gangguan sekresi

             Akibat rangsangan tertentu (misal oleh toksin) pada dinding

       usus akan terjadi peningkatan sekresi air dan elektrolit ke dalam

       rongga usus dan selanjutnya diare timbul karena terdapat peningkatan

       isi rongga usus.


   c. Gangguan motilitas usus

             Hiperperistaltik akan mengakibatkan berkurangnya kesempatan

       usus menyerap makanan dan cairan, sehingga timbul diare. Sebaliknya

       bila peristaltik menurun akan mengakibatkan pertumbuhan bakteri

       berlebih yang selanjutnya dapat menimbulkan diare.


   d. Patogenesis diare akut

       1) Masuknya jasad renik yang masih hidup ke dalam usus halus

           setelah berhasil melewati rintangan asam lambung
                                                                                12




        2) Jasad renik tersebut berkembang biak (multiplikasi) didalam usus

           halus

        3) Oleh jasad renik dikeluarkan toksin

        4) Akibat toksin tersebut terjadi hipersekresi yang selanjutnya akan

           menimbulkan diare

    e. Patogenesis diare kronis

            Lebih komplek dan faktor-faktor yang menimbulkan masalah

       ialah infeksi bakteri, parasit, malabsorbsi, malnutrisi dan lain-lain.




D. Patofisiologi

   Sebagai akibat diare baik akut maupun kronis akan terjadi:


    a. Kehilangan air dan elektrolit (dehidrasi) yang mengakibatkan

       terjadinya gangguan keseimbangan asam basa (asidosis metabolik,

       hipokalemia, dan sebagainya)

    b. Gangguan gizi sebagai akibat kelaparan (masukan makanan kurang,

       pengeluaran bertambah)

    c. Hipokalemia

    d. Gangguan sikulasi darah
                                                                     13




E. Gejala Klinis

   Gejala klinis diare antara lain:

   a) Frekuensi buang air besar lebih dari 4 kali

   b) Nafsu makan kurang atau tidak ada

   c) Tinja cair dan mungkin disertai darah dan lendir

   d) Bila penderita kehilangan banyak cairan dan elektrolit maka gejala

       dehidrasi mulai tampak

   e) Gejala muntah dapat terjadi sebelum dan sesudah diare dan dapat

       disebabkan oleh lambung yang turut meradang atau akibat ganggauan

       keseimbangan asam basa elektrolit
                                                                         14




F. Komplikasi

   Sebagai akibat kehilangan cairan dan elektrolit secara mendadak dapat

   terjadi berbagai macam komplikasi seperti:


   a. Dehidrasi

   b. Renjatan hipovolemik

   c. Hipokalemia (dengan gejala meteorismus, hipotoni otot, bradikardi,

       perubahan pada elektrokardiogram)

   d. Hipoglikemia

   e. Intoleransi laktosa sekunder, sebagai akibat defisiensi enzim laktosa

       karena kerusakan vili mukosa usus halus

   f. Kejang, terutama pada dehidrasi hipertonik

   g. Malnutrisi energi protein, karena selain diare dan muntah penderita

       juga mengalami kelaparan



G. Penatalaksanaan Diare

   Terdapat 5 lintas tata laksana, yaitu:


   a. Rehidrasi

              Salah satu komplikasi diare yang paling sering terjadi adalah

       dehidrasi. Mencegah terjadinya dehidrasi dapat dilakukan mulai dari

       memberikan cairan rumah tangga yang dianjurkan seperti air tajin,

       kuah sayur atau air sup. Bila terjadi dehidrasi, anak harus segera di

       bawa ke petugas kesehatan untuk mendapatkan pengobatan yang tepat
                                                                            15




   dan cepat yaitu dengan oralit. Cairan rehidrasi oral (CRO)

   mengandung kombinasi elektrolit dan glukosa dapat menurunkan

   angka kematian akibat dehidrasi pada diare, karena kombinasi gula

   dan garam ini dapat meningkatkan penyerapan cairan usus.


b. Dukungan Nutrisi

         Makanan tetap diteruskan sesuai umur anak dengan menu yang

   sama pada waktu anak sehat untuk mengganti nutrisi yang hilang serta

   mencegah agar tidak menjadi gizi buruk. Jika anak masih diberikan

   Air Susu Ibu (ASI) maka ASI diteruskan karena ASI tidak

   menyebabkan diare.


c. Suplementasi zinc

         Zinc    diberikan    selama    10     hari   berturut-turut   terbukti

   mengurangi lama dan beratnya diare. Mencegah berulangnya diare

   selama 2-3 bulan.


d. Antibiotik selektif

        Antibiotik tidak diberikan pada kasus diare akut kecuali dengan

   indikasi yaitu pada diare berdarah dan kolera. Obat pilihan

   berdasarkan    WHO        2005   adalah     golongan    Quinolon     seperti

   siprofloksasin dengan dosis 30-50mg/kgBB/hari dibagi dalam 3 dosis

   selama 5 hari. Jika tidak ada perbaikan maka amati kembali adanya

   penyulit atau komplikasi. Untuk pasien rawat jalan dianjurkan

   pemberian     sefalosporin       generasi    ketiga     seperti     sefiksim
                                                                        16




       5mg/kgBB/hari per oral. Pemeriksaan tinja dapat dilakukan untuk

       menyingkirkan adanya amoebiasis. Pemberian antibiotik yang tidak

       rasional justru akan memperpanjang masa diare karena mengganggu

       keseimbangan flora usus dan Clostridium difficle yang akan tumbuh

       dan menyebabkan diare sulit sembuh.


   e. Edukasi orang tua


            Nasihat pada ibu atau pengasuh untuk segera kembali jika anak

       demam, tinja berdarah, muntah berulang, makan atau minum sedikit,

       sangat haus, diare makin sering atau belum membaik dalam 3 hari.

       Indikasi rawat inap pada penderita akut berdarah adalah malnutrisi,

       usia kurang dari satu tahun, menderita campak pada 6 bulan terakhir,

       adanya dehidrasi dan disentri yang datang sudah dengan komplikasi.


H. Cara pencegahan diare


   a. pemberian hanya ASI saja pada bayi sampai usia 4 bulan

   b. mencuci tangan dengan sabun setelah berak atau sebelum memberi

      makan anak

   c. menggunakan jamban dan menjaga kebersihannya

   d. membuang tinja dijamban

   e. menggunakan air matang untuk makanan dan minuman

   f. menjaga kebersihan lingkungan sekitar

								
To top