Docstoc

Laporan Praktikum Pengenceran

Document Sample
Laporan Praktikum Pengenceran Powered By Docstoc
					2012
chemistid.blogspot.com;khimicheski.blogspot.com

MUHAFI




[LAPORAN PRAKTIKUM PENGENCERAN]
1.1 TUJUAN
    a. Memahami dan mempraktekkan tekhnik-tekhnik pengenceran larutan

1.2 DASAR TEORI
            Pengenceran adalah mencampur larutan pekat (konsentrasi tinggi) dengan cara
    menambahkan pelarut agar diperoleh volume akhir yang lebih besar. Jika larutan senyawa kimia
    yang pekat diencerkan, kadang-kadang sejumlah panas dilepaskan. Hal ini terutama dapat
    terjadi pada pengenceran asam sulfat pekat yang harus ditmbahkan ke dalam aquade, buka
    sebaliknya. Jika air ditambahkan ke dalam asam sulfat pekat, panas yang dilepaskan sedemikian
    besar yang dapat menyebabkan air menmdadak mendidih dan menyebabkan asam sulfat
    memercik. Dan percikan asam sulfat ini berbahaya untuk kulit. (Khopkar, 1990)
            Larutan adalah campuran homogen antara terlarut dan pelarut. Pelarut yang umumnya
    digunakan adalah air. Untuk menyatakan zat pelarut dan terlarut dikenal istilah konsentrasi.
    Konsentrasi larutan dapat dinyatakan dengan beberapa cara seperti persen perberat (%/w),
    persen per volume (%/v), molaritas, molalitas, ppm, dan fraksi mol. (Anonim, 2009)
            Pengenceran yaitu suatu cara atau metoda yang diterapkan pada suatu senyawa dengan
    jalan menambahkan pelarut yang bersifat netral, lazim dipakai yaitu aquades dalam jumlah
    tertentu. Penambahan pelarut dalam suatu senyawa dan berakibat menurunnya kadar
    kepekatan atau tingkat konsentrasi dari senyawa yang dilarutkan/diencerkan. (Brady, 1999)
            Apabila larutan lebih pekat, sesuaikan konsentrasi larutan yang diketahui dengan satuan
    yang diinginkan, jumlah zat terlarut sebelum dan sesudah pengenceran adalah sama. (Anonim,
    2009)
            Dalam perjalanan sehari-hari di labolatorium biasanya menggunakan larutan yang lebih
    rendah konsentrasinya dengan menambah pelarutnya. Banyak labolatorium membuat larutan
    senyawa yang pekat dengan menambah aquades, biasanya ini sangat ekonomis, biasanya
    larutan ini sangat pekat dan harus diencerkan. Proses pengenceran adalah pencampuran larutan
    pekat (konsentrasi tinggi) dengan menambah pelarut agar diperoleh volume akhir yang besar.
    (Brady, 1999)
            Dalam pembuatan larutan dengan konsentrasi tertentu sering dihasilkan konsentrasi
    yang tidak kita inginkan. Untuk mengetahui kponsentrasi yang sebenarnya perlu dilakukan
    standarisasi. Standarisasi biasanya dilakukan dengan titrasi. Zat-zat yang didalam jumlah relativ
    besar disebut pelarut. (Baroroh, 2004)
            Proses pengenceran menjadi volume yang diketahui dan menghilangkan satu porsi titrasi
    dinamakan mengambil alkoat. Perhitungan yang melibatkan pengenceran bersifgat langsung dan
    simpel, karena tidak ada reaksi kimia terjadi jumlah mol larutan dalam larutan asal harus sama
    dengan jumlah mol larutan final. (Day, 2005)
            Dalam kimia, pengenceran diartikan pencampuran yang bersifat homogen antara zat
    terlarut dan pelarut dalam larutan. Zat yang jumlahnya lebih sedikit di dalam larutan disebut zat
    terlarut atau solut, sedangkan zat yang jumlahnya lebih banyak daripada zat-zat lain
    dalammlarutan disebut pelarut atau solven (Gunawan, 2004)

1.3 TINJAUAN BAHAN
    a. Aquades
             Air suling yang diperoleh dari pengembunan uap air akibat dari penguapan atau
        pendidihan air (Mulyono, 2009:24)
   b. H2SO4
             Asam anorganik dengan nama asam sulfat, zat cair kental, meyerupai minyak, tak
      berwarna, higroskopis, dalam larutannya (air) bersifat asam kuat, dalam keadaan pekat
      bersifat oksidator, dan bersifat sebagai zat yang dapat mengikat air (zat pendehidrasi). Asam
      sulfat merupakan bahan penting karena kegunaanya yang luas seperti untuk industri pupuk,
      cat, crayon, bahan peledak, dan untuk berbagai produk lainnya, serta untuk pemurnian
      minyak bumi, dan untuk air aki. (Mulyono, 2009:45)
   c. NaCl
             Garam Natirum Klorida untuk keperluan masak, dan biasanya diperkaya dengan unsur
      iodin, dengan menambhkan 5 g Nal per kg NaCl, padatan kristal berwarna putih, berasa asin,
      tidak higroskopis, bila mengandung MgCl2 menjadi berasa agak pahit, dan higroskopis.
      Digunakan terutama sebagai bumbu penting dalam masakan, sebagai bahan pengawet,
      bahan baku pembuatan logam Na dan NaOH, bahan untuk pembuatan keramik, kaca dan
      pupuk. (Mulyono, 2009:142)

1.4 ALAT DAN BAHAN
    A. Alat
       a. Pipet Volume
       b. Pipet Tetes
       c. Bola Hisap
       d. Labu Takar 100 ml
       e. Pipet Ukur
    B. Bahan
       a. Akuades
       b. H2SO4
       c. NaCl

1.5 SKEMA KERJA
      NaCl
         - Diambil 10 ml NaCl 0,01 M
         - Dipindah ke beaker glass dan ditambah 50 ml aquades
         - Dikocok hinggan homogen
         - Dimasukkan ke labu ukur dan ditambah dengan aquades hingga sedikit di bawah tanda batas
         - Dikeringkan kepala labu
         - Ditetes-tetesi hingga tanda batas
         - Ditututp dan dikocok hinggan hohmogen
      Hasil

     H2SO4
        - Diambil akuades dengan pipet ukur
        - Dituangkan kedalam gelas piala
        - Diambil 17 ml asam sulfat pekat
        - Dituangkan asam sulfat ke aquades dengan perlahan dan digoyang dan dilakukan di
           lemari asam
        - Dipindahkan ke labu takar 100 ml dan ditambhakan aquades sampai tanda batas
        - Dihomogenkan
     Hasil
1.6 DATA HASIL PENGAMATAN
    A. Data Hasil Pengamatan NaCl
       No.                      Perlakuan                                      Hasil
         1    Nacl dipipet menggunakan pipet volume           10 ml naCl, Bening
         2    Dipindah ke beaker glass, dan ditambah 50 ml    Homogen
              aquades serta di goyang
         3    Dimasukkan larutan ke labu ukur 100 ml dan      Volume larutan sedikit dibawah tanda
              di tanda bataskan                               batas
         4    Dikeringkan bagian atas labu ukur dengan tisu   Mulut labu ukur kering
         5    Ditambahkan dengan aquades hingga penuh         Larutan pas di tanda batas
         6    Tutup rapat labu ukur dan goyangkan             Homogen, bening, 100 ml NaCl 0,1 M

   B. Data Hasil Pengamatan H2SO4
      No.                      Perlakuan                                      Hasil
       1     Dipipet 50 ml aquades                            50 ml aquades, bening
       2     Dipindahkan ke beaker glass
       3     Dipipet 8 ml H2SO4                               8 ml H2SO4, bening
       4     Dituangkan H2SO4 ke dalam aquades, dan           Homogen
             dogoyang
       5     Dipindahkan ke labu ukur 100 ml dan ditanda      Larutan sampai tanda batas
             bataskan
       6     Ditutup labu ukur dan dikocok                    Homogen, bening, 100 ml H2SO4 1M

1.7 PEMBAHASAN
            Setelah dilakukan percobaan diperoleh data-data yang dobutuhkan, pada pengenceran
    larutan antara NaCl dengan Aquades, digunakan 10 ml larutan NaCl 0,1 M dan 50 ml aquades.
    Pada awalnya volume aquades yang digunakan 50 ml, setelah dicampur dengan 10 ml larutan
    NaCl, dan dipindahkan ke labu ukur, kemudian ditambahlan aquades lagi sam[ai volumenya
    tepat 100 ml. Pada percampuran ini di dapati larutan yang homogen antara NaCl dan Aquades,
    hal ini karena NaCl dan Aquades memiliki fase zat yang hampir sama, sehingga keduanya dapat
    campur secara sempurna. Campuran NaCl dan Aquades menghasilkan larutan yang bening, dan
    tidak terdapat bau, hal ini dikarenakan konsentrasi NaCl tidak terlalu besar hanya 0,1 M. Pada
    pengenceran NaCl dengan aquades tidak dilakukan di dalam lemari asam karena NaCl adalah
    garam bukan asam. NaCl terbentuk dari asam kuat dengan basa kuat, yaitu HCl dengan NaOH,
    sehingga saat HCl dengan NaOH direaksikan menghasilkan garam netral yaitu NaCl. Dalam
    pengenceran antara NaCl dengan aquades didapati reaksi kimia yang bersifat eksoterm, reaksi
    eskoterm ini terjadi karena temperatur sistem NaCl mengalami perpindahan kalor dari sistem ke
    lingkungan, sehingga larutan campuran yang diperoleh benar-benar encer dan tidak keruh.
    Kelarutan merupakan ukuran banyaknya zat terlarut yang akan melarut dalam pelarut pada suhu
    tertentu, zat yang sejenis melarutkan sejenis (fasa zat sama atau hampir sama). (Raymond,
    2006:6)
            Pada H2SO4 proses pengenceren larutan digunakan 10 ml H2SO4 (asam sulfat) 12 M dan
    pada awalnya diencerkan dengan 50 ml aquades, setelah dipindah ke labu ukur 100 ml H2SO4 di
    dalam labu ukur ditambah dengan aquades lagi hingga tanda batas yang menunjukkan bahwa
    volume larutan menjadi 100 ml. Pada pencampuran antara H2SO4 dengan aquades ini tidak
    didapati campuran yang homogen, karena tidak semua partikel H2SO4 bercampur sempurna
   dengan aquades, hal ini dikarenakan fase zat antara H2SO4 dengan aquades berebeda, dan
   konsentrasi dari H2SO4 sangatlah tinggi yaitu 12 M. Pada proses pengenceran larutan antara
   H2SO4 dengan aquades dilakukan didalam lemari asam, karena H2SO4 merupakan asam kuat yang
   sangat pekat, apabila pengenceran dilakukan di tempat biasa sangatlah berbahaya karena H2SO4
   jika terkena kulit akan menyebabkan iritasi dan lebih parahnya lagi dapat menyebabkan kulir
   melepuh karena H2SO4 merupakan asam yang sangat kuat. Pada pencampuran H2SO4 dengan
   aquades didapati reaksi kimia yaitu reaksi eksoterm, reaksi ini terjadi karena pada saat
   direaksikan larutan H2SO4 ini melepaskan kalor, hal ini menyebabkan larutan menjadi sedikit
   kental.

1.8 KESIMPULAN
           Dari praktikum ini dapat diambil beberapa kesimpulan, yaitu:
    a. Pengenceran dapat dilakukan dengan penambahan aquades, dengan menggunakan labu
        ukur untuk mengocoknya dan tempat penambahan aquades.
    b. Apabila larutan bersifat asam kuat, maka pengenceran dilakukan di dalam lemari asam




1.9 DAFTAR PUSTAKA
    Anonim, 2009, Penuntun Praktikum Kimia Organik, Universitas Lambung Mangkurat:Banjar Baru

   Baroroh, Umi, L.U, 2004, Kimia Dasar 1, Universitas Lambung Mangkurat:Banjar Baru

   Brady, James. E, 1999, Kimia Universitas, Binaputra:Jakarta

   Gunawan, Adi dan Roeswati, 2004, Kimia Dasar 1, Kartika:Surabaya

   Khopkar, S.M, 1990, Konsep Dasar Kimia Analitik, UI Press:Jakarta

   Mulyono, 2009, Kamus Kimia, Bumi Aksara:Jakarta

   Chandra Anward, dkk, 2007, Bahan Ajar Kimia, Universitas Lambung Mangkurat:Banjar Baru

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Stats:
views:4076
posted:6/2/2012
language:Malay
pages:5