Hukum Lavoiser

Document Sample
Hukum Lavoiser Powered By Docstoc
					Antoine-Laurent de Lavoisier
                       Makalah
                       Disusun
         Sebagai Tugas Mata Kuliah Fisika Atom




                         Oleh:
             Hendro Novianto      M0210030
             Anna Uswati          M0210012
             Fredica Arya         M0209039




                     Jurusan Fisika

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
           UNIVERSITAS SEBELAS MARET
                  SURAKARTA
                      2012




                         -1-
                               KATA PENGANTAR
        Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa yang telah
memberikan karunia dan kemampuan kepada penulis sehingga dapat menyelesaikan tugas
mata kuliah fisika atom. Mempelajari makalah ini dengan saksama, berarti mempersiapkan
diri secara dini untuk mengetahui tentang biografi dan teori atom yang diungkapkan oleh
seorang ilmuwan yang lebih dikenal Antoine-Laurent de Lavoisier.Makalah ini berisi
beberapa informasi tentang sejarah Lavoiser dan eksperimen-eksperimennya sehingga
dapat merumuskan tentang hukum kekekalan massa.

       Ucapan terima kasih ingin disampaikan penulis kepada pihak-pihak yang telah
memberikan bantuan, dukungan, dan bimbingan dalam menyelesaikan tugas akhir ini,
yaitu:

1. Ibu Utari,S.Si., M.Si. selaku Dosen pengampu mata kuliah Fisika Atom Fakultas
   Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam.
2. Semua pihak yang tidak dapat disebutkan satu per satu, atas segala bantuan, bimbingan,
   kritik dan saran dalam penyusunan makalh ini.
        Akhir kata, penulis menyadari juga bahwa makalah ini masih jauh dari sempurna,
maka kritik dan saran yang membangun dari rekan-rekan bagi penyempurnaan kami
sambut dengan hati terbuka.




                                                                Surakarta, Februari 2012



                                                                        Penulis




                                          -2-
                                                 DAFTAR ISI
JUDUL......................................................................................................................1

KATA PENGANTAR..............................................................................................2

DAFTAR ISI............................................................................................................3

BAB I PENDAHULUAN

          1.1. Rumusan Penelitian Ilmuwan.................................................................4

          1.2. Rumusan Singkat Hukum.......................................................................4

BAB II PEMBAHASAN

          2.1. Siapakah Lavoiser itu ?...........................................................................5

          2.2. Masalah Philogiston................................................................................6

          2.3. Kelompok Unsur Lavoiser......................................................................7

          2.4. Eksperiment Lavoiser.............................................................................8

BAB III PENUTUP

          3.1. Kesimpulan.............................................................................................9

          3.2. Saran.......................................................................................................9

DAFTAR PUSTAKA.............................................................................................10

LAMPIRAN...........................................................................................................11




                                                           -3-
                                     BAB I
                                 PENDAHULUAN


1.1 Penelitian yang dilakukan

     Pada 1789, Antoine Lavoiser mengelompokan 33 unsur kimia. Pengelompokan unsur
tersebut berdasarka sifat kimianya. Unsur-unsur kimia di bagi menjadi empat kelompok.
Yaitu gas, tanah, logam dan non logam. Pengelompokan ini menyempurnakan
pengelompokan unsur sebelumnya yang dikemukakan oleh tokoh kimiawan yang berasal
dari Arab dan Persia. Yang mengemukakan tentang pengelompokkan unsur menjadi logam
dan non logam.

Bukan hanya pengelompokaan 33 unsur saja, Lavoiser juga melakukan eksperimen dengan
sejumlah unsur yang telah ditemukannya. Yaitu mereaksikan antara merkuri dengan gas
oksigen di ruang tertutup yang menghasilkan merkuri oksida yang berwarna merah.
Apabila merkuri oksida dipanaskan kembali, senyawa tersebut akan terurai menghasilkan
sejumlah cairan merkuri dan gas oksigen dengan jumlah yang sama seperti semula.

1.2 Rumusan Singkat Hukum(Kekekalan Massa)

    Dari hasil eksperimen yang telah dilakukan, Lavoiser dapat merumuskan hukum dasar
kimia yaitu hukum kekekalan massa yang berbunyi: ”Dalam suatu reaksi, massa zat
sebelum dan sesudah reaksi adalah sama”, dengan kata lain massa tidak dapat diciptakan
dan tidak dapat dimusnahkan. Artinya selama reaksi terjadi tidak ada atom-atom pereaksi
dan hasil reaksi yang hilang.Pernyataan yang umum untuk menyatakan hukum
kekekalan massa adalah massa dapat berubah bentuk tetapi tidak dapat diciptakan atau
dimusnahkan. Untuk suatu proses kimiawi di dalam suatu sistem tertutup, massa dari
reaktan harus sama dengan massa produk.Hukum kekekalan massa digunakan secara luas
dalam bidang-bidang seperti kimia, teknik kimia, mekanika, dan dinamika fluida.
(http://www.artikelkimia.info/hukum-kekekalan-massa-hukum-lavoisier-20090921122011
diakses tanggal 26 februari 2012)




                                          -4-
                                     BAB II
                                  PEMBAHASAN

2.1 Siapakah Lavoiser Itu?

     Ilmuwan Perancis hebat Antoine Laurent Lavoisier merupakan tokoh terkemuka di
bidang perkembangan ilmu kimia. Pada saat kelahirannya di Paris tahun 1743, ilmu
pengetahuan kimia ketinggalan jauh ketimbang fisika, matematika dan astronomi.
Sejumlah besar penemuan yang berdiri sendiri-sendiri sudah banyak diketemukan oleh
para ahli ilmu kimia, tetapi tak satu pun kerangka teori yang dapat jadi pegangan yang
dapat merangkum informasi yang terpisah-pisah. Pada saat itu tersebar semacam
kepercayaan yang tak meyakinkan bahwa air dan udara merupakan substansi yang
elementer. Lebih buruk lagi, adanya kesalahfahaman mengenai hakekat daripada api.
Kepercayaan yang berkembang saat itu adalah bahwa semua proses pembakaran benda
mengandung substansi duga-dugaan yang disebut “phlogiston,” dan bahwa selama proses
pembakaran, substansi barang yang terbakar melepaskan phlogiston-nya ke udara.
Dalam jangka waktu antara tahun 1754 – 1774, ahli-ahli kimia berbakat seperti Joseph
                           Black, Joseph Priestley, Henry Cavendish dan lain-lainnya telah
                           mengisolir arti penting gas seperti oxygen, hydrogen, nitrogen
                           dan carbon dioxide. Tetapi, sejak orang-orang ini menerima
                           teori phlogiston, mereka tidak mau memahami hakikat atau arti
                           penting substansi kimiawi yang telah mereka ketemukan.
                           Oxygen, misalnya, dipandang sebagai udara yang semua
                           phlogiston-nya telah dialihkan. (Sebagaimana diketahui bahwa
                           serpihan kayu lebih sempurna terbakar dalam oxygen
                           ketimbang dalam udara; mungkin ini akibat udara lebih mudah
menghisap phlogiston dari kayu yang terbaru). Jelas, kemajuan nyata di bidang kimia tidak
bisa terjadi sebelum dasar-dasar utamanya dapat difahami.

Adapun Lavoisier yang berhasil dan menangani bagian-bagian yang menjadi teka-teki
menjadi satu kesatuan yang dapat dibenarkan dan menemukan arah yang tepat dalam teori
ilmu kimia. Pada tahap pertama, kata Lavoisier, teori phlogiston sepenuhnya meleset: tidak
ada benda yang namanya phlogiston. Proses pembakaran
terdiri dari kombinasi kimiawi tentang terbakarnya barang
dengan oxygen. Kedua, air bukanlah barang elementer
samasekali melainkan satu campuran antara oxygen dan
hydrogen. Udara bukanlah juga substansi elementer
melainkan terdiri terutama dari campuran dua jenis gas,
oxygen dan nitrogen. Semua pernyataan ini kini tampak
gamblang sekarang, tetapi belum bisa ditangkap baik oleh
pendahulu-pendahulu       Lavoisier     maupun        rekan
sejamannya. Bahkan sesudah Lavoisier merumuskan
teorinya dan mengajukan kepada kalangan ilmuwan, toh
                                           -5-
masih banyak juga pemuka-pemuka ahli kimia yang menolak gagasan teori ini. Tetapi,
buku Lavoisier yang brilian Pokok-pokok Dasar Kimia (1789), begitu terang dan jernihnya
mengedepankan hipotesa ini dan begitu meyakinkan serta mengungguli pendapat-pendapat
lain, barulah ahli-ahli kimia angkatan lebih muda dengan cepat mempercayainya.Seraya
membuktikan bahwa air dan udara bukanlah unsur kimiawi, Lavoisier mencantumkan pula
dalam bukunya daftar substansi benda-benda itu yang dianggapnya punya arti mendasar
dan bersifat elementer meski daftarnya mengandung beberapa kekeliruan, daftar unsur
kimiawi modern sekarang ini pada hakekatnya merupakan perluasan dari apa yang sudah
disusun Lavoiser itu.Lavoiser sudah menyusun skema pertama yang tersusun rapi tentang
sistem kimiawi (bekerja sama dengan Berthollet, Fourcroi dan Guyton de Morveau).
Dalam sistem Lavoisier (yang jadi dasar pegangan hingga sekarang) komposisi kimia
dilukiskan dengan namanya. Untuk pertama kalinya penerimaan suatu sistem kimia yang
seragam dijabarkan sehingga memungkinkan para ahli kimia di seluruh dunia dapat saling
berhubungan satu sama lain dalam hal penemuan-penemuan mereka.

Lavoisier merupakan orang pertama yang dengan gamblang mengemukakan prinsip-
prinsip penyimpanan jumlah reaksi benda kimia tanpa bentuk tertentu: yakni reaksi dapat
mengatur kembali elemen yang benar dalam substansi semula tetapi tak ada hal yang
terhancurkan dan pada akhir hasil berada dalam berat yang sama seperti komponen asal.
Keyakinan Lovoisier tentang pentingnya kecermatan menimbang bahan kimiawi
melibatkan reaksi yang mengubah ilmu kimia menjadi ilmu eksakta dan sekaligus
menyiapkan jalan bagi banyak kemajuan-kemajuan di bidang kimia pada masa-masa
sesudahnya.Lavoisier juga memberi sumbangan dalam bidang penyelidikan geologi, dan
menyumbangkan pula dalam bobot yang meyakinkan di bidang fisiologi. Dengan
percobaan yang teramat hati-hati (bekerja sama dengan Laplace), dia mampu menunjukkan
bahwa proses fisiologi mengenai keringatan atau bersimbah peluh adalah pada dasarnya
sama dengan proses pembakaran lambat. Dengan kata lain, manusia dan bangsa binatang
menimba energi mereka dari proses pembakaran organik yang perlahan dari dalam, dengan
penggunaan oxygen dalam udara yang dihimpunnya. Penemuan ini saja –yang mungkin
arti pentingnya setara dengan penemuan Harvey tentang peredaran darah– sudah cukup
mendudukkan Lavoisier dalan daftar urutan buku ini. Tambahan pula, Lavoisier punya
makna amat penting berkat formulasinya tentang teori kimia sebagai titik tolak tak
tergoyahkan bagi sektor pengetahuan kimia pada jalur yang tepat. Dia umumnya dianggap
sebagai “Pendiri ilmu kimia modern”, dan memang dia patut mendapat julukan itu.
(http://atifhidayat.wordpress.com/2009/02/20/31-antoine-laurent-lavoisier-1743-1794/   diakses
tanggal 27 februari 2012)

2.2 Masalah Phlogiston?

    Dalam sejarah kimia, salah satu dari perselisihan yang penuh semangat perhatian
oksidasi alami. Cerita bermula dalam tahun 1718 ketika Georg Stahl, ahli kimia Jerman
mengemukakan bahwa logam terbentuk dari oksida itu yang dipanaskan dengan karbon
karena logam mengabsorbsi zat yang diberi nama “phlogiston”. Sebaliknya, dia

                                             -6-
                                 mengemukakan bahwa pemanasan logam pada udara
                                 menghasilkan oksidanya karena pelepasan phlogiston pada
                                 atmosfir.

                            Lima puluh empat tahun kemudian, ahli kimia Prancis
                            Louis Bernard Guyton de Morveau melakukan eksperimen
                            dengan hati-hati menunjukkan bahwa selama pembakaran,
                            logam meningkat dalam beratnya. Bagaimanapun,
                            keberadaan phlogiston sangat baik membuat banyak
                            kimiawan bahwa dia menginterpretasikan hasil sebagai
                            pengertian bahwa phlogiston memiliki berat yang negatif.
Rekannya, Antonie Lavoiser, yang sudi untuk mengeluarkan konsep phlogiston dan
mengusulkan bahwa pembakaran seharusnya penambahan oksigen pada logam (oksidasi)
dan bahwa pembentukan logam dari oksida berhubungan dengan kehilangan oksigen
(reduksi).
Editor Jurnal Sains Prancis yang setuju dengan teori phlogiston, mereka tidak
mempublikasikan hasil dari Lavoiser. Kemudian Lavoiser dengan perubahan barunya, De
Morveau, dan kawan-kawan, membuat jurnal mereka untuk mempublikasikan “kimia
baru”. Ini menjatuhkan teori phlogiston itu menyebabkan kimiawan menyadari bahwa
unsur merupakan zat / bahan dasar dalam kimia dan kimia modern telah lahir.
(http://www.faktailmiah.com/2010/07/22/teori-phlogiston.html diakses tanggal 27 februari 2012)

2.3 Kelompok Unsur Lavoiser

     Lavoiser merupakan kimiawan yang mengelompokkan zat berdasarkan sifat kimianya.
Dia mengelomokan 33 unsur kimia. Unsur-unsur kimia di bagi menjadi empat kelompok.
Yaitu gas, tanah, logam dan non logam. Pengelompokan ini masih terlalu umum karena
ternyata dalam kelompok unsur logam masih terdapat berbagai unsur yang memiliki sifat
berbeda Unsur gas yang di kelompokan oleh Lavoisier adalah cahaya, kalor, oksigen,
azote(nitrogen), dan hidrogen. Unsur-unsur yang tergolong logam adalah sulfur, fosfor,
karbon, asam klorida, asam flourida, dan asam borak. Adapun unsur-unsur logam adalah
antinom,perak,arsenik,bismuth. Kobalt, tembaga, timah, nesi, mangan, raksa, molibdenum,
nikel, emas, platina, tobel, tungsten, dan seng. Adapun yang tergolong unsur tanah adalah
kapur, magnesium oksida, barium oksida, aluminium oksida, dan silikon oksida. Adapun
kelemahan dari pengelompokan unsur lavoiser ”Bahwa pengelompokan unsur masih
sangat sederhana” sedangkan kelebihan dari pengelompokan unsur lavoiser “sudah dapat
mengolongkan 33 unsur kimia yang kemudian dipakai untuk menjelaskan sistem
pengelompokan yang akan datang”
(http://kuliahitukeren.blogspot.com/2011/04/perkembangan-dasar-pengelompokkan-unsur.html
diakses tanggal 27 februari 2012)




                                             -7-
2.4 Eksperimen Lavoiser (Hukum Kekekalan Massa)

    Lavoiser melakukan eksperimen dengan dua jenis zat kimia yang telah ia temukan.
Dua zat kimia itu adalah merkuri dan gas oksigen. Dia mencoba memanaskan 530 gram
logam merkuri dalam wadah terhubung udara dalam silinder ukur pada sistem tertutup.
Ternyata volume udara dalam silinder berkurang 1/5 bagian. Logam merkuri berubah
menjadi merkuri oksida sebanyak 572,4 gram yang berwarna merah. Besarnya kenaikkan
massa merkuri sebesar 42,4 gram adalah sama dengan 1/5 bagian udara yang hilang yaitu
oksigen.
Logam merkuri + gas oksigen -> merkuri oksida 530 gram + 42,4 gram = 572,4 gram




Dari eksperimen tersebut Lavoiser dapat merumuskan ”Dalam suatu reaksi
kimia, massa zat sebelum dan sesudah reaksi adalah sama”, dengan kata lain massa tidak
dapat diciptakan dan tidak dapat dimusnahkan. Artinya selama reaksi terjadi tidak ada
atom-atom pereaksi dan hasil reaksi yang hilang. Perumusan ini yang selanjutnya kita
kenal dengan HUKUM KEKEKALAN MASSA.

Pernayataan yang umum untuk menyatakan hukum kekekalan massa adalah massa dapat
berubah bentuk tetapi tidak dapat diciptakan atau dimusnahkan. Untuk suatu proses
kimiawi di dalam suatu sistem tertutup, massa dari reaktan harus sama dengan massa
produk. Hukum kekekalan massa digunakan secara luas dalam bidang-bidang seperti
kimia, teknik kimia, mekanika, dan dinamika fluida.

(http://www.artikelkimia.info/hukum-kekekalan-massa-hukum-lavoisier-20090921122011
dikases tangggal 25 februari 2012)




                                          -8-
                                       BAB III
                                      PENUTUP

3.1 Kesimpulan

     Antoine – Laurent de Lavoisier adalah seorang ilmuwan yang mempunyai peranan
penting dalam perkembangan sistem periodik unsur dan penemuan mengenai hukum
kekekalan massa. Adapun hukum kekekalan massa yang ditemukan berbunyi ”Dalam
suatu reaksi kimia, massa zat sebelum dan sesudah reaksi adalah sama”, dengan kata
lain massa tidak dapat diciptakan dan tidak dapat dimusnahkan. Adapun percobaan yang
dilakukan lavoiser dalam menguji hipotesis mengenai hukum kekekalan massa yang ia
temukan dengan mereaksikan antara logam merkuri dengan gas oksigen yang kemudian
akan menghasilkan zat yang bernama merkuri oksida. Setelah dilakukan proses
perhitungan ternyata massa sebelum dan sesudah reaksi adalah sama. Penemuan lain juga
yang ditemukan oleh lavoiser adalah pengelompokan dari sistem tabel periodik unsur, yang
mana ia berhasil mengelompokan sebanayak 33 unsur berdasarkan jumlah kandungan
logam dan non logam dalam unsur. Tetapi pada penerapan pengelompokan unsur yang
dilakuakan lavoiser masih sangat sederhana sehingga dalam pengunaannya sistem tabel
periodik unsur lavoiser belum menunjukkan hasil yang maksimal.Pada akhirnya sebelum
ia meninggal bardasarkan penemuan dibidang kimia ia mendapat julukan bapak kima
modern.

3.2 Saran

   Saran dari saya selaku penulis adalah semoga makalah yang dengan judul“Antoine-
Laurent de Lavoisier” dapat me nambah wawasan dari pembaca. Dan semoga dengan
adanya karya ilmiah imi pembaca dapat mengetahui bagaimana sistem periodik unsur dan
dapat mengetahui proses perjalan hidup sang ilmuwan. Bagi pembaca yang ingin
memberikan saran lebih lanjut silahkan kirim ke email hendro_novianto@rocketmail.com,
Semua saran yang anda berikan sangat berharga bagi kami.




                                         -9-
                               DAFTAR PUSTAKA

http://liakimiapasca.wordpress.com/kimia-kelas-x/sistem-periodik-atom/perkembangan-
sistem-periodik-atom/

http://kuliahitukeren.blogspot.com/2011/04/perkembangan-dasar-pengelompokkan-
unsur.html

http://kimia.upi.edu/staf/nurul/web2010/0802969/Matter.html

http://www.chem-is-try.org/materi_kimia/kimia-smk/kelas_x/perkembangan-
pengelompokan-unsur/

http://tuanpitri.com/x/hukum-kekekalan-massa-materi-kimia-kelas-x

http://tuanpitri.com/kimia/hukum-dasar-kimia-lavoisier-proust-dalton-hukum-gas

http://www.artikelkimia.info/hukum-kekekalan-massa-hukum-lavoisier-20090921122011

http://atifhidayat.wordpress.com/2009/02/20/31-antoine-laurent-lavoisier-1743-1794/

http://www.faktailmiah.com/2010/07/22/teori-phlogiston.html




                                         - 10 -
                                      LAMPIRAN

                   (Gambar 1. Skema Rangkaian Percobaan Lavoiser)




                      (Gambar 2. Tabel Periodik Unsur Lavoiser)




Sumber: http://tuanpitri.com/kimia/hukum-dasar-kimia-lavoisier-proust-dalton-hukum-gas




                                        - 11 -
Lampiran Artikel Terkait

http://www.faktailmiah.com/2010/07/22/teori-phlogiston.html

Kamis, 22 Juli 2010 - Transisi antara masa alkimia dan masa kimia modern ditandai
dengan teori phlogiston. Apa itu teori phlogiston, mari kita pelajari??



Teori ini sebagian hanyalah usaha ahli kimia dalam lingkungan pencerahan yang
menyanjung rasionalisme, percobaan dan kemajuan sambil mengutuk mitos. Walau begitu,
juga jelas kalau beberapa gagasan utama alkimia(termasuk transmutasi logam) tidak
pernah ditunjukkan. Di tahun 1667, Johann Joachim Becher menerbitkan Physical
Education yang menyebutkan teori phlogiston pertama kalinya. Dalam bukunya, Becher
menyusun unsur menjadi air dan tiga jenis tanah: terra lapidea, terra fluida dan terra
pinguis. Terra pinguis adalah unsur yang memiliki sifat berminyak, belerang atau mudah
terbakar. Becher percaya kalau terra pinguis adalah ciri utama pembakaran dan terlepas
saat zat yang dapat dibakar terbakar.
Salah satu penerus teori ini adalah dokter dan kimiawan Jerman, Georg Ernst Stahl, yang
menyerang alkimia dengan ganas (setelah merasa tertipu dengannya) dan mengajukan teori
kimia baru yang luas. Stahl menemukan kesejajaran antara pembakaran bahan yang dapat
terbakar dan pengkapuran logam – pengubahan logam menjadi kalx nya atau oksidanya. Ia
menyarankan kalau kedua proses ini terdiri dari hilangnya cairan material, yang dimiliki
setiap zat yang bisa terbakar, yang ia sebut phlogiston
Phlogiston kemudian menjadi pusat teori luas yang mendominasi kimia abad ke-18.
Singkatnya, phlogiston adalah zat material yang menentukan keterbakaran. Saat sebuah
besi logam menjadi merah, ia kehilangan phlogistonnya, sama halnya dengan kayu saat ia
terbakar. Debu kayu dan abu karat merah (kalx) besi tidak dapat lagi terbakar karena ia
tidak lagi mengandung prinsip keterbakaran, atau phlogiston. Namun kalx besi dapat
diubah kembali menjadi logam bila ia dipanaskan dengan kuat dalam zat yang kaya
phlogiston seperti arang. Arang menyumbangkan phlogistonnya (dan menjadi abu), saat
kalx berubah menjadi besi logam cair. Jadi, reduksi biji logam dapat juga dipahami dengan
teori phlogiston. Ahli phlogiston kemudian menambahkan respirasi pada jumlah fenomena
yang dapat dijelaskan teori ini. Hewan bernapas dengan udara, menyebarkan phlogiston
dalam analogi seperti memperlambat api, yang disulut oleh makanan kaya phlogiston yang
ia makan. Atmosfer bumi menghindari kelebihan penumpukan phlogiston karena tanaman
menggunakannya dalam jaringan tanaman yang dapat dimakan oleh hewan. Pembakaran,
kalsinasi atau respirasi dapat lenyap dalam ruang tertutup karena udara memiliki kapasitas
terbatas untuk menyerap phlogiston yang dipancarkan dari entitas yang terbakar,
mengkalsinasi atau bernapas.
Teori phlogiston menjadi populer karena berhasil menjelaskan fenomena dan juga
memandu penyelidikan lebih jauh. Ia juga populer karena beberapa predileksi pencerahan
untuk teori fisika materialistik (cairan panas menjadi kalori, dan juga ada cairan listrik,
cairan cahaya dan sebagainya). Trend materialis-mekanis ini juga karena pengaruh kuat
dari Newton dan Rene Descartes pada ahli kimia abad ke-18. Ahli kimia pencerahan
mendirikan masyarakat-masyarakat ilmiah khusus dengan disiplin ilmu yang jelas (yang
berhubungan dekat dengan kedokteran) di negara-negara besar Eropa. Bengkel atau

                                          - 12 -
laboratorium (istilah abad pencerahan untuk bengkel kerja kimia itu sendiri) menjadi
tempat sehari-hari ilmuan dan standar operasinya di buat.
Walau begitu, masih ada banyak isu dasar terkait komposisi kimia. Bagi seorang
phlogistonis, kalx logam adalah unsur, dan logamnya adalah senyawa antara kalx dan
phlogiston. Hal ini membingungkan, karena logam memperoleh berat bukannya
kehilangan berat pada saat ia seharusnya kehilangan phlogiston untuk menjadi kalx. Isu ini
dipertajam pada tahun 1770an, saat kimiawan Inggris (dan seorang pendeta Unitarian)
Joseph Priestley, menemukan sebuah gas baru dengan cara memanaskan mineral tertentu.
Sebuah lilin dibakar dalam gas ini dengan suhu tinggi dan dalam ruangan tertutup. Seekor
tikus dimasukkan ke dalamnya. Ternyata tikus tersebut mampu bertahan lebih lama
daripada di udara biasa. Penjelasan Priestley sendiri adalah bahwa gas baru ini sangat
kehilangan phlogiston dan karenanya, memiliki kapasitas lebih besar dari pada udara biasa
dalam menyerap phlogiston.
Sesungguhnya, gas (yang kita sebut udara sekarang) adalah objek yang relatif baru bagi
kimia. Di Skotlandia tahun 1756, Joseph Black mempelajari gas yang dihasilkan dalam
pernapasan dan pembakaran, mencirikannya secara kimia dan mengamatinya dalam reaksi
kimia tertentu. (Black, seorang dokter, mengajar kimia sebagai cabang kedokteran, sama
halnya dengan sebagian besar ahli kimia akademis di masanya). Ia menyebut gas tersebut
“udara tetap”, karena ia juga ditemukan “tetap” dalam mineral tertentu seperti limestone.
Penemuannya kalau gas ini adalah komponen normal udara biasa (dalam pecahan satu
persen) adalah indikasi nyata pertama kalau udara di atmosfer sesungguhnya campuran
bukannya unsur yang homogen. Dalam seperempat abad kemudian, banyak gas baru
ditemukan dan dipelajari, oleh para ilmuan seperti Priestley, fisikawan dan kimiawan
Inggris, Henry Cavendish, dan ahli farmasi Swedia, Carl Scheele.
Referensi

Brock, W.H. 1993. The Norton History of Chemistry. New York: W.W. Norton

Encyclopaedia Britannica. 2010. Chemistry

Priestley, J. 1794. Heads of Lectures on a Course of Experimental Philosophy.
London: Joseph Johnson




                                          - 13 -

				
DOCUMENT INFO
Categories:
Tags:
Stats:
views:328
posted:6/1/2012
language:
pages:13