Docstoc

makalah aliranJabariyah dan Qodariyah

Document Sample
makalah aliranJabariyah dan Qodariyah Powered By Docstoc
					         Jabariyah dan Qodariyah


                                         BAB I

                                   PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

             Tuhan adalah pencipta alam semesta, termasuk di dalanya (didalamnya) manusia
   sendiri. Selanjutnya Tuhan bersifat Mahakuasa dan mempunyai kehendak yang bersifat
   mutlak. Disini timbullah pertanyaan sampai dimanakah manusia sebagai ciptaan Tuhan,
   bergantung pada kehendak dan (dan) kekuasaan mutlak Tuhan dalam menentukan
   perjalanan hidupnya? Diberi Tuhankah manusia kemerdekaan dalam mengatur hidupnya?
   Ataukah manusia terikat seluruhnya pada kehendak dan kekuasaan mutlak Tuhan?

             Dalam menanggapi pertanyaan-pertanyaan seperti ini kaum Qadariah berpendapat
   bahwa manusia mempunyai kemerdekaan dan kebebasan dalam menentukan perjalanan
   hidupnya. Menurut paham qadariah manusia mempunyai kebebasan dan kekuasaan
   sendiri    untuk   mewujudkan    perbuatan-perbuatannya.   Sedangkan   kaum   jabariah
   berpendapat sebaliknya. Manusia tidak mempunyai kemerdekaan dalam menentukan
   kehendak dan perbuatannya. Manusia dalam paham ini terikat pada kehendak mutlak
   Tuhan.

             Pada masa sebelum islam masyarakat Arab kelihatannya dipengaruhi oleh paham
   jabariah ini. Bangsa Arab, yang pada waktu itu bersifat serba sederhana dan jauh dari
   pengetahuan, terpaksa menyesuaikan hidup mereka dengan suasana padang pasir, dengan
   panasnya yang terik serta tanah dan gunungnya yang gundul. Dalam dunia yang demikian
   mereka tidak banyak melihat jalan untuk mengubah keadaan sekeliling mereka sesuai
   dengan keinginan mereka sendiri. Mereka merasa dirinya lemah dan tak berkuasa dalam
   menghadapi kesukaran-kesukaran hidup yang di timbulkan suasana padang pasir. Dalam
   kehidupan sehari-hari mereka banyak tergantung pada kehendak natur. Hal ini membawa
   mereka pada sikap fatalistis.




1.2 Rumusan Masalah

   Berdasarkan latar belakang di atas kita merumuskan masalah sebagai berikut:
1. Bagaimana sejarah munculnya Jabariah dan Qadariah?
2. Siapa sajakah doktrin-doktrin Jabariyah dan Qadariyah (tanda tanya)
3. Bagaimana perkembangan Jabariyah dan Qadariyah?


1.3 Tujuan

   Berdasarkan rumusan masalah di atas maka tujuan makalah ini adalah sebagai berikut:
1. Untuk mengetahui sejarah munculnya Jabariah dan Qadariah.
2. Untuk mengetahui doktrin-doktrin Jabariyah dan Qadariyah.
3. Untuk mengetahui perkembangan Jabariyah dan Qadariyah.
                                                     BAB II

                                              PEMBAHASAN



2.1 Jabariyyah
    1. Pengertian

                  Kata Jabariyyah            berasal dari kata jabara               yang berarti memaksa dan
        mengharuskannya melaksanakan sesuatu atau secara harfiah dari lafadz al-jabr yang
        berarti paksaan. Kalau dikatakan Allah mempunyai sifat Al-jabbar (dalam bentuk
        mubalaghah), itu artinya Allah Maha Memaksa. Selanjutnya kata jabara setelah
        ditarik menjadi jabariyah memiliki arti suatu kelompok atau aliran. Lebih lanjut Asy-
        Syahratsan menegasakan bahwa paham Al jabr berarti menghilangkan perbuatan
        manusia dalam arti yang sesungguhnya dan menyandarkannya kepada Allah. 1)
        Dengan kata lain manusia mengerjakan perbuatannya dalam keadaan terpaksa. Dalam
        bahasa inggris, jabbariyyah disebut fatalism atau predestination, yaitu faham yang
        menyebutkan bahwa perbuatan manusia telah ditentukan dari semula oleh qadha dan
        qadar Tuhan.2) Secara teminologis, berarti menyandarkan perbuatan manusia kepada
        Allah SWT. Jabariyyah menurut mutakallimin adalah sebutan untuk mahzab al kalam
        yang menafikkan perbuatan manusia secara hakiki dan menisbatkan kepada Allah
        SWT semata.3)

    2. Sejarah

1
  Asy-Syahrastani, Al-Milal wa Al-Nihal, diterjemahkan oleh Asywadie Syukur (Surabaya : Bina Ilmu, 2006), h. 71.
2
  Harun Nasution, Teologi Islam : Aliran Aliran Sejarah Analisa Perbandingan (Cet. 5 ; Jakarta : UI-Press, 1986), h. 31.
3
  Muhammad Maghfur, Koreksi atas Kesalahan Pemikiran Kalam dan Filsafat Islam ( Bangil: Al-Izzah, 2002), h. 41.
                 Lahirnya Mu’tazillah telah menimbulkan reaksi, khususnya di kalangan
        penentangnya. Di kota Tirmidz, pada akhir abad ke- 1 H / 7 M muncul figur Jahm bin
        Safwan (w. 128 H / 749 M) dengan paham Jabariyyah.4 )

                 Paham Al Jabr pertama kali diperkenalkan oleh Ja’ad bin Dirham kemudian
        disebarkan oleh Jahm bin Shafwan dari Khurasan. Dalam sejarah teologi islam, Jahm
        tercatat sebagai tokoh yang mendirikan aliran jahmiyyah dalam kalangan Murji’ah. Ia
        adalah sekretaris Surai bin Al hariz dan selalu menemaninya dalam gerakan melawan
        kekuasaan bani Umayyah. Namun dalam perkembangannya paham Jabariyyah juga
        dikembangkan oleh tokoh lainnya diantaranya Al Husain bin Muhammad An-Najjar
        dan Ja’ad bin Dirrar.5)

                 Mengenai kemunculan Jabbariyyah ini para ahli sejarah memikirkan dan
        mengkajinya melalui pendekatan geocultural bahasa arab yaitu Ahmad Amin yang
        mengilustrasikan kehidupan bangsa arab yang dikukung oleh gurun pasir Sahara
        berpengaruh besar pada cara hidup mereka, terbukti terhadap munculnya sifat
        penyerahan diri terhadap alam.

                 Bibit paham al jabar telah muncul sejak awal periode Islam. Bibit-bibit itu
        terlihat dalam peristiwa sejarah berikut :

        a. Suatu ketika nabi menjumpai sahabatnya yang sedang bertengkar dalam masalah
             takdir Tuhan, nabi melarang mereka untuk memperdebatkan masalah tersebut
             agar terhindar dari kekeliruan penafsiran ayat-ayat Tuhan mengenai taqdir.6)
             Contohnya terdapat pada Q.S Ash Shaffat ayat 96.
        
             “ Allah menciptakan kamu dan apa yang kamu perbuat”
        b. Khalifah Umar bin Khattab pernah menangkap seseorang yang diketahui mencuri,
             ketika di interograsi, pencuri itu berkata “Tuhan telah menentukan aku mencuri”.




4
  Ibid., h. 24
5
  Abdul Rozak dan Rosihon Anwar, Ilmu Kalam (Cet. II; Bandung: Pustaka Setia, 2006), h.64.
6
  Ibid.
                Mendengar hal itu umar memberikan dua jenis hukuman kepada pencuri, yaitu
                potong tangan dan dera.7)

                     Berkaitan dengan kemunculan aliran Jabbariyyah, ada yang mengatakan
           bahwa kemunculannya diakaibatkan oleh pengaruh asing, antara lain oleh pemikiran
           Yahudi yang bermahzab Qurra dan agama Kristen yang bermahzab Yaccobit.

      3. Mahzab dan tokoh

                     Berdasarkan pengertian dari Jabbariyah, Jabariyyah sendiri dibagi menjadi
           dua bentuk, pertama, Jabariyyah murni yang menolak adanya perbuatan berasal dari
           manusia dan memandang manusia tidak memunyai kemampuan untuk berbuat.
           Jabariyah ini bisa disebut juga jabariyah ekstrim yang di kemukakan oleh Jahm bin
           Safwan. Jabariyah yang ekstrim dalam istilah yang diberikan oleh al-Syahrastani
           disebut al-Jabariyah al-Kholish, yaitu Jabariyah yang tidak menetapkan perbuatan
           atau kekuasaan sedikitpun pada manusia.Kedua, Jabariyyah pertengahan (moderat)
           yang mengakui adanya perbuatan dari manusia namun perbuatan manusia tidak
           membatasi. Orang yang mengaku adanya perbuatan dari makhluk ini yang mereka
           namakan “kasab” bukan termasuk Jabariyyah.8) Jabariyah yang modert diberi istilah
           al-Jabariyah al-Mutawasithah, yaitu Jabariyah yang tidak menetapkan adanya qudrat
           kepada manusia, tetapi qudrat tersebut tidak mempunyai efek atas perbuatan.




           Diantara pemuka jabariyyah murni adalah berikut :

           a. Jaham ibn Shafwan (124 H)

                     Nama lengkapnya adalah Abu Mahrus Jahm bin safwan ia berasal dari
                Khurasan dan tinggal di Khuffan yang merupakan seorang da’i fasih dan lincah.
                Ia menjabat sebagai sekretaris Haris bin Surais wali yang menentang bani
                Umayyah. Sebagai orang yang menganut sekaligus penyebar paham Jabariyyah



7
    Ibid.
8
    Asy-Syahrastani, loc. cit.
               usaha yang dilakukan Jahm tersebar ke berbagai tempat seperti Tirmiz dan Balk. 9)
               Jaham ibn Shafwan mati setelah dibunuh Muslim ibn Ahwas al-Mazini, salah
               seorang khalifah Bani Umayah.

               Pendapat Jahm yang berkaitan dengan persoalan teologi sebagai berikut.10)

                 1. Manusia tidak mampu untuk berbuat apa apa tidak mempunyai daya, tidak
                     mempunyai kehendak sendiri dan tidak mempunyai pilihan.
                 2. Surga dan neraka tidak kekal. Tidak ada yang kekal selain Allah.

                        Surga dan neraka serta aktivitas penghuninya akan berakhir. Firman Alloh
                     swt yang berbunyi (mereka kekal di dalamnya) disebutkan majas, bukan
                     kekekalan yang sesungguhnya sebab yang kekal hanyalah Alloh swt. Dalam
                     ayat lain Alloh swt berfirman :
                     Artinya : ” Mereka (penghuni surga dan neraka) kekal di dalamnya selama
                     ada langit dan bumi, kecuali Alloh swt menghendaki yang lain …”.(QS. 11 :
                     107 – 108).Ayat tersebut menngandung syarat dan pengecualian kekekalan
                     surga dan neraka. Bagi Jabariyah pahala dan siksaan pun merupakan paksaan
                     karena didasarkan pada keyakinan bahwa manusia tidak memiliki pilihan dan
                     daya. Manusia dalam paham ini hanya merupakan wayang yang digerakkan
                     dalang.



                 3. Iman dan ma’rifat atau membenarkan dalam hati dalam hal ini pendapatnya
                     sama dengan konsep iman yang diajaukan kaum Murji’ah.
                 4. Kalam Allah adalah makhluk.




          b. Ja’ad bin Dirham

                    Ja’ad bin Dirham adalah seorang Maulana Bani Hakim yang tinggal di
               Damaskus yang dibesarkan dilingkungan orang Kristen yang senang berbicara
               tentang teologi. Semula dia mengajar di lingkungan Bani Umayyah, akan tetapi
               setelah tampak pemikiran yang kontroversial, Bani Umayyah menolaknya,
               kemudian lari ke Khuffah, dan disana bertemu dengan Jahm, serta mentransfer


9
    Abdul Rozak dan Rosihon Anwar, op. cit., h. 67.
10
    Ibid.
             pemikirannya untuk disebarluaskan.Pendapat Ja’ad sama dengan pendapat Jahm
             bin Shafwan pada umumnya.11)

        Diantara tokoh yang termasuk paham Jabariyyah modern adalah :

        a. An-Najjar

                  Nama lengkapnya adalah al-Husain ibn Muhammad An-Najjar (230 H) dan ia
             termasuk tokoh mu’tazilah yang paling banyak mempergunakan ratio.12) Para
             pengikutnya disebut An Najjariyyah atau Husainiyyah. Diantara pendapatnya
             adalah:13)

             1. Tuhan menciptakan segala perbuatan manusia, tetapi manusia mengambil
                  bagian atau peran dalam mewujudkan perbuatan-perbuatan itu.
             2. Tuhan tidak dapat dilihat di akhirat akan tetapi Tuhan dapat saja
                  memindahkan potensi hati ma’rifat pada mata sehingga manusia dapat melihat
                  Tuhan.
        b. Adh Dhirar

                  Nama lengkapnya adalah Dhirar bin ‘Amr. Ia mendirikan aliran Ad-
             Dhirariyyah bersama Hafsul al-Fard, keduanya sependapat adanya sifat Allah,
             keduanya berkata : Allah maha mengetahui dan maha kuasa, maksudnya tidak
             jahil dan tidak lemah, dan Allah adalah zat yang tidak diketahui hakekatnya,
             melainkan Allah saja yang tahu, sedangkan pengetahuan makhlik melalui bukti
             dan dalil. Tuhan dapat dilihat pada hari pembalasan dengan indera keenam yang
             dimiliki manusia. Perbuatan manusia adalah ciptaan Allah pada hakekatnya.
             Katanya sumber ajaran isalm sesudah masa Rasulullah hanya ijma’ dan ajaran
             agama yang diperoleh dari dhirar bahwa ia menolak qiraat Ibnu Mas’ud dan Ubai
             ibn Kaab yang menurutnya bacaan yang seperti itu tidak pernah diturunkan
             Allah.14)



11
   Ibid., h. 68.
12
   Asy-Syahrastani, Ibid., h. 73.
13
   Ibid., h. 75
14
   Abdul Rozak dan Rosihon Anwar, op. cit., h. 70.
   Ajaran-ajaran pokok aliran Jabariyah yaitu :

1. Masalah sifat Alloh swt. Jahm bin Shafwan tidak membenarkan Alloh swt diberi
   sifat-sifat yang terdapat pada makhluk-Nya. Yang demikian itu membawa
   penyerupaan Alloh swt dengan ciptaan-Nya. Namun diakui pula bahwa banyak
   ayat Al-Qur’an yang menyebutkan Alloh swt mendengar, melihat, berbicara dan
   sebagainya. Ayat-ayat tersebut tidak dilihat secara lahiriyah (tekstual) melainkan
   dipahami secara konstekstual.
2. Tentang Surga dan Neraka.Surga dan neraka serta aktivitas penghuninya akan
   berakhir. Firman Alloh swt yang berbunyi (mereka kekal di dalamnya) disebutkan
   majas, bukan kekekalan yang sesungguhnya sebab yang kekal hanyalah Alloh
   swt. Dalam ayat lain Alloh swt berfirman :
   Artinya : ” Mereka (penghuni surga dan neraka) kekal di dalamnya selama ada
   langit dan bumi, kecuali Alloh swt menghendaki yang lain …”.(QS. 11 : 107 –
   108).Ayat tersebut menngandung syarat dan pengecualian kekekalan surga dan
   neraka. Bagi Jabariyah pahala dan siksaan pun merupakan paksaan karena
   didasarkan pada keyakinan bahwa manusia tidak memiliki pilihan dan daya.
   Manusia dalam paham ini hanya merupakan wayang yang digerakkan dalang.
3. Masalah Iman dan Kufur.Iman dan kekafiran bergantung sepenuhnya kepada
   keyakinan di dalam hati dan orang yang telah mengenal baik dengan Alloh swt
   kemudian ingkar dengan lidahnya tidak akan menjadi kufur karenanya. Bahkan
   juga tidak menjadi kafir sungguh pun ia menyembah berhala, menjalankan ajaran
   Yahudi atau Nasrani kemudian mati, bagi Alloh swt orang demikian tetap
   merupakan seorang mukmin yang sempurna. Firman Alloh swt :Artinya :
   “Bukanlah kamu yang menghendaki, tetapi Allohlah yang menghendaki”. (QS.
   Al-Ihsan : 30).
4. Tentang Qudrot dan Irodat Manusia.Manusia tidak mampu melakukan suatu
   perbuatan, tidak memiliki kemauan, kemampuan dan pilihan. Allohlah pencipta
   semua perbuatannya sebagaimana terjadi pada benda-benda. Misalnya manusia
   membaca, menulis, mendengar maka hal itu sama saja dengan Alloh swt
   membuat pohon tumbuh, berbuah, air mengalir dan sebagainya. Firman Alloh swt
   :Artinya : “Dan Allohlah yang menciptakan kamu dan apa yang kamu perbuat”.
   (QS. As-Shaffat : 96).Ketika manusia dikatakan bahwa berbeda dengan benda
   mati karena manusia mempunyai kekuatan, kehendak dan pilihan, Allohlah yang
   menciptakan dalam diri manusia kekuatan atau daya, kehendak dan pilihan yang
   dengannya manusia bertindak. Dengan melihat pendapat Jabariyah seperti yang
   disebutkan di atas, maka apakah artinya Alloh swt mengutus Rosul dan
   menurunkan al-Qur’an yang penuh dengan perintah, larangan, janji dan ancaman
   ? Tidakkah itu menjadi sia-sia belaka ? Semuanya itu tidak sia-sia, karena
   semuanya itu pun untuk menjalankan ketentuan Alloh swt. Keadaan itu tidak
   bedanya dengan Alloh swt menurunkan hujan, menerbitkan matahari, bulan dan
   sebagainya.

   Dasar aliran jabariyah
                           Dalam menyebarkan fahamnya, aliranini menunjukkan dalil-dalil al-
                Qur’an
                untuk mendukung pendapatnya :

                a.   QS. Ash-Shaffat : 96
                b.   QS. Al-Anfal : 17
                c.   QS. Al-Ihsan : 30
                d.   QS. Al-An’am : 39 dan 112
                e.   QS. Al-Hadid : 22
                f.   QS. Hud : 6, 107-108
                g.   Q.S.Al-Qomar:49
                h.   QS. Ar-Rum : 40 .
                i.   QS. Asy-Syura : 12
                j.   QS. Taha : 50




2.2 Qadariyyah
       1.     Pengertian

                      Berasal dari bahasa arab, yaitu qodara yang artinya kemampuan dan kekuatan.
            Adapun menurut pengertian terminology qodariyyah adalah suatu aliran kepercayaan
            segala tindakan manusia tidak diintervensi oleh Tuhan. Aliran ini juga berpendapat
            bahwa tiap-tiap orang adalah pencipta bagi segala perbuatannya ia dapat berbuat
            sesuatu atau meninggalkannya atas kehendak sendiri. Berdasarkan pengertian
            tersebut, qodariyyah merupakan nama suatu aliran yang memberikan suatu
            penekanan atas kebebasan dan kekuatan manusia dalam mewujudkan perbuatannya.
            Harun Nasution menegaskan bahwa kaum qodariyyah berasal dari pengertian bahwa
            manusia mempunyai qodrat atau kekuatan untuk melaksanakan kehendaknya, akan
            tetapi bukan berarti manusia terpaksa tunduk paada qodrat Tuhan.15) kata qadar
            dipergunakan untuk menamakan orang yang mengakui qadar digunakan untuk
            kebaikan dan keburukan pada hakekatnya kepada Allah. Namun sebenarnya pendapat
            ini hanya lahir dari orang yang buta hatinya karena rasulullah s.a.w. bersabda :16)


15
     Asy-Syahrastani, op. cit., h. 37 - 38
16
     Ibid.
                                              ‫ق رّية م ُ ْس ِه أمة‬
                                              ِ َ ُْ‫ا لـ َـدَ َِ ُ َجو ُ هَذ ِ ال‬
            Yang artinya:
                 “kaum qodariyyah adalah majusinya umat ini (islam)”.
       2.    Sejarah

                    Menurut Ahmad Amin, ada ahli teologi yang mengatakan bahwa qodariyyah
            pertama dimunculkan oleh Ma’bad Al Jauhani dan Ghoilan Ad-Dimasyqy. Ma’bad
            adalah seorang taba’i yang dapat dipercaya dan pernah berguru kepada Hasan Al
            Basri. Tetapi ia memasukilapangan politik dan memihak ‘Abd al-Rahman ibn al-
            Asy’as, Gubernur Sajistan dalam menentang bani Umayah. Dalam pertempuran
            dengan al-Hajjaj, ia mati terbunuh ditahun 80 H. Adapun Ghoilan adalah berasal dari
            Damaskus dan ayahnya menjadi maula Usman bin Affan.17)

                    Ahman Amin juga mengutip dalam kitab Syarh Al Uyun. Informasinya yaitu
            yang pertama kali memunculkan paham qodariyyah adalah orang Iraq yang semula
            beragama Kristen yang kemudian masuk Islam dan kembali lagi masuk Kristen. Dari
            orang inilah Mabad dan Ghoilan mengambil paham ini. Orang Iraq yang dimaksud
            sebagaimana dikatakan Muhammad ibn Syuaib yang memperoleh informasi dari Al
            Auzai, adalah Susan.18)

                    Sementara itu W. Montgomery Watt menemukan dokumen lain melalui
            tulisan dalam bahasa Jerman yang dipublikasikan melalui majalah Islam tahun 1933
            menjelaskan bahwa qodariyyah terdapat dalam kitab risalah dan ditulis untuk khalifah
            Abdul Malik oleh Hasan Al Basri sekitar tahun 700 M, sedangkan Hasan Al Basri
            sendiri (642 – 728) merupakan anak seorang tahanan di Iraq yang lahir di Madinah,
            akan tetapi pada tahun 657 pergi ke Basra dan tinggal disana sampai akhir hayatnya.
            Yang menjadi perdebatan yaitu apakah Hasan Al Basri termasuk orang qodariyyah,
            namun yang jelas berdasarkan catatannya yang terdapat dalam kitab risalah ia percaya
            bahwa manusia dapat memilih secara bebas antara baik dan buruk. Namun menurut




17
     Abdul Rozak dan Rosihon Anwar, op. cit., h. 71.
18
     Ibid.
             Watt, Ma’bad Al Jauhani dan Ghailan Ad Dimasyqy adalah menganut qodariyyah
             yang hidup setelah Hasan Al Basri.19)

                    Di dalam al-Qur'an dapat dijumpai ayat-ayat yang dapat menimbulkan paham
             Qadariyah sebagaimana disebutkan di atas:

                                                                 ‫أ فسه‬              ُ ‫إّن هلل ال ّيغّير ب َ م ح ّى ّيغّي‬
                                                               ْ‫ِ َ ا َ َ ُ َ ِ ُ مَا ِقوْ ٍ َت َ ُ َِروْا مَا بَِنْ ُ ِ ِم‬

                    "Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan sesuatu bangsa kecuali jika
             bangsa itu mengubah keadaan diri meraka sendiri"



                     Paham qodariyyah mendapat tantangan keras dari umat islam. Beberapa hal
             yang mendapat tantang keras yaitu seperti :20)

             1. Pendapat Harun Nasution karena masyarakat Arab sebelum Islam kelihatannya
                 dipengaruhi oleh paham fatalis. Kehidupan bangsa arab ketika itu serba sederhana
                 dan jauh dari pengetahuan. Mereka yang selalu menerima keadaan alam panas
                 yang menyengat serta tanah dan gunung yang gundul yang mengakibatkan merasa
                 dirinya lemah dan tak mampu menghadapi kesukaran hidup oleh alam
                 sekelilingnya. Paham itu terus dianut kendatipun mereka sudah beragama Islam,
                 karena itu ketika qodariyyah dikembangkan, mereka tidak dapat menerimanya
                 karena bertentangan dengan doktrin Islam.
             2. Tantangan dari pemerintah karena pejabat pemerintah menganut paham
                 jabariyyah ada kemungkinan juga, pejabat pemerintah menganggap paham
                 qodariyyah sebagai usaha menyebarkan paham dinamis dan daya kritis rakyat
                 yang pada akhirnya mampu mengkritik dan bahkan dapat menggulingkan mereka
                 dari tahta kerajaan.


        3.     Doktrin-Doktrin Qadariyah

                     Dalam kitab Al-Milal wa An-Nihal, pembahasan masalah Qadariyah disatukan
             dengan pembahasan tentang doktrin-doktrin Mu’tazilah, sehingga perbedaan antara

19
     Ibid.
20
     Ibid., h. 72.
        kedua aliran ini kurang begitu jelas. Ahmad Amin juga menjelaskan bahwa doktrin
        qadar lebih luas di kupas oleh kalangan Mu’tazilah sebab faham ini juga menjadikan
        salah satu doktrin Mu’tazilah, akibatnya orang menamakan Qadariyah dengan
        Mu’tazilah karena kedua aliran ini sama-sama percaya bahwa manusia mempunyai
        kemampuan untuk mewujudkan tindakan tanpa campur tangan Tuhan.21)

                  Harun Nasution menjelaskan pendapat Ghailan tentang doktrin Qadariyah
        bahwa manusia berkuasa atas perbuatan-perbuatannya. Manusia sendiri pula
        melakukan atau menjauhi perbuatan atau kemampuan dan dayanya sendiri. Salah
        seorang pemuka Qadariyah yang lain , An-Nazzam , mengemukakan bahwa manusia
        hidup mempunyai daya dan ia berkuasa atas segala perbuatannya.22)

                  Doktrin Qodariyah pada dasarnya menyatakan bahwa segala tingkah laku
        manusia dilakukan atas kehendak sendiri. Manusia mempunyai kewenangan untuk
        melakukan segala perbuatan atas ke hendaknya sendiri, baik perbuatan baik maupun
        jahat. Sesungguhnya tidak pantas, manusia menerima siksaan atau tindakan salah
        yang di lakukan bukan atas keinginan dan kemampuan. Dalam paham Qodariyah,
        takdir itu adalah ketentuan Allah yang menciptakannya bagi alam semesta beserta
        seluruh isinya, siksa Azali, yaitu hukum yang dalam istilah Al-Qur’an adalah
        sunnatullah. Dengan pemahaman yang seperti ini, kaum Qodariyah berpendapat,
        bahwa tidak ada alasan yang tepat untuk menyandarkan segala perbuatan manusia
        kepada perbuatan Tuhan. Doktrin-doktrin ini mempunyai pijakan dalam dokrtin Islam
        sendiri.23) Banyak ayat Al-Qur’an yang dapat mendukung pendapat ini, misalnya
        dalam Surat al Kahfi ayat 29



                         
                          
                                                 
                                                  
                                                       

21
   Asy-Syahrastani, op. cit., h. 37.
22
   Harun Nasution, op cit., h. 35.
23
   Abdul Rozak dan Rosihon Anwar, op. cit., h. 74.
                                              
                                        
                                                
                      
                                             
                                               
         Yang artinya :
               Dan Katakanlah: "Kebenaran itu datangnya dari Tuhanmu; Maka barangsiapa
         yang ingin (beriman) hendaklah ia beriman, dan barangsiapa yang ingin (kafir)
         Biarlah ia kafir". Sesungguhnya kami Telah sediakan bagi orang orang zalim itu
         neraka, yang gejolaknya mengepung mereka. dan jika mereka meminta minum,
         niscaya mereka akan diberi minum dengan air seperti besi yang mendidih yang
         menghanguskan muka. Itulah minuman yang paling buruk dan tempat istirahat yang
         paling jele (jelek).


         1.Dasar aliran qodariyah


                 Faham qodariyah bukanlah faham yang semata-mata hanya disandarkan
         kepada akal dan fikiran saja.Terbukti mereka banyak menjadikan ayat-ayat Alqur’an
         sebagai pijakan dan penafsiran faham mereka antara lain:

             a.Q.S.Al-Kahfi : 29
             b.Q.S Al-Imron:165
             c.Q.S.Ar-Ro’d:11
             d.Q.S.An-Nisa:111
             e.Q.S Al-Fusilat:40
             f.Q.S.As-Sajadah:40



                                        BAB III
                                       PENUTUP
Kesimpulan
     Dari pembahasan di atas dapat diambil beberapa kesimpulan sebagai berikut :
     1. Sejarah Munculnya Jabariyyah dan Qadariah
               a. Jabariyyah adalah faham yang menyebutkan bahwa perbuatan manusia
                  telah ditentukan dari semula oleh qadha dan qadar Tuhan. Jabariyah
                  berarti menghilangkan perbuatan dari hamba secara hakikat dan
                  menyandarkan perbuatan tersebut kepada Allah SWT.

               b. Qadariyah adalah suatu aliran yang percaya bahwa segala tindakan
                  manusia tidak di intervensi oleh Tuhan. Aliran ini berpendapat bahwa
                  tiap-tiap orang adalah pencipta bagi setiap perbuatannya, ia dapat berbuat
                  sesuatu atau meninggalkannya atas kehendaknya sendiri.
     2. Tokoh-tokoh Jabariyyah dan Qadariah
        a. Jabariyyah
                  Berdasarkan pengertian dari jabbariyah, jabariyyah dibagi menjadi dua
           bentuk. Pertama, jabariyyah murni yang menolak adanya perbuatan berasal dari
           manusia dan memandang manusia tidak mempunyai kemampuan untuk berbuat.
           Kedua, jabariyyah pertengahan (moderat) yang mengakui adanya perbuatan dari
           manusia namun perbuatan manusia tidak membatasi. Dan tokoh-tokohnya antara
           lain: Jahm bin Shafwan (w. 131 H) dan Ja’ad bin Dirham.

        b. Qadariyah
                  Aliran Qodariyah pertama kali dimunculkan oleh Ma’bad Al Jauhani dan
           Ghoilan Ad-Dimasyqy. Ma’bad adalah seorang taba’i yang dapat dipercaya dan
           pernah berguru kepada Hasan Al Basri. Adapun Ghoilan adalah berasal dari
           Damaskus dan ayahnya menjadi maula Usman bin Affan.



                                DAFTAR PUSTAKA


1.   Maghfur W., Muhammad. 2002. Koreksi atas Kesalahan Pemikiran Kalam dan Filsafat
           Ilmu. Bangil: Al-Izzah
2.   Nassution, Harun. 2008. Teologi Islam: Aliran Aliran Sejarah Analisa Perbandingan.
           Jakarta: UI-Press
3.   Razak, Abdul dab Rosihan Anwar. 2007.Ilmu Kalam.Bandung:Pustaka Setia
   4.   Syahrastani. 2006. Al-Milal wa Al-Nihal. (diterjemahkan oleh: Asywadie syukur).
              Surabaya: Bina Ilmu




PENGEDIT                     : Kelompok 4

DAFTAR PUSTAKA

Cyril Glasse, Ensiklopedia Islam Ringkas, Jakarta, PT. Raja Grafindo Persada, Cet. I, 1996.

Depag RI, Ensiklopedia Islam, Jakarta, CV. Anda Utama, Jilid II, 1993.

Dr. Jalaludin Rahman, Konsep Perbauatan Manusia Menurut Qur’an : Suatu Kajian Tafsir
Tematik, Jakarta, Bulan Bintang, Cet. I, 1992.
Drs. Abuddin Nata, M.A, Ilmu Kalam, Filsafat dan Tasawuf, Jakarta, PT. Raha Grafindo
Persada, Cet. II, 1994.

Haris, Murtafi. Aqidah Islamiyah

Nata, Abudin. 2001. Ilmu Kalam, Filsafat dan Tasawwuf. Jakarta: Rajawali Pers

Prof. Dr. Taufik Abdullah dkk, Ensiklopedia Tematis Dunia Islam : Pemikiran dan Peradaban,
Jakarta, PT. Ichtiar Baru Van Hoeve

Prof. K.H.M Taib Thahir Abdul Mu’in, Ilmu Kalam, Jakarta, Widjaja, Cet. III, 1975




.

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Tags:
Stats:
views:298
posted:5/30/2012
language:Malay
pages:16
Description: makalah aliranJabariyah dan Qodariyah, teologi islam, jabariyah, qodariah