MANAJEMEN PRODUKSI _ OPERASIONAL

Document Sample
MANAJEMEN PRODUKSI _ OPERASIONAL Powered By Docstoc
					        PRODUKSI DAN PRODUKTIVITAS


A. PENGERTIAN
Produksi adalah pengubahan bahan2 dari sumber2
menjadi hasil yang diinginkan oleh konsumen. Hasil
itu dapat berupa barang ataupun jasa.
Dengan demikian produksi merupakan konsep
yang     lebih     luas     ketimbang          manufaktur
(pengolahan),      karena         pengolahan     hanyalah
sebagai “bentuk khusus” dari produksi. Jadi dengan
demikian pedagang besar, pengecer, dan lembaga2
yang   menyediakan        jasa,    juga   berkepentingan
dengan produksi.
Perusahaan bisnis adalah sebuah organisasi/
lembaga yang mengubah keahlian dan material
menjadi barang atau jasa untuk memuaskan para
pembeli, serta diharapkan akan memperoleh laba
untuk para pemilik.
Istilah   “produksi”    sering    kaitan    dengan     istilah
“produktivitas”, namun walaupun sangat berkaitan
bukan berarti bahwa “produktivitas” merupakan
fasilitas yang aktif.
Produktivitas       adalah       sebuah      konsep     yang
menggambarkan hubungan antara hasil (jumlah
barang dan atau jasa yang diproduksi) dengan
sumber (jumlah tenaga kerja, modal, tanah, energi,
dan sebagainya) untuk menghasilkan hasil tersebut.


B. PRODUKSI
Kegiatan produksi melibatkan pengubahan dan
pengolahan      berbagai     macam         sumber     menjadi
barang dan jasa untuk dijual.
Tanggung      jawab      manajer      produksi         adalah
membuat keputusan2 penting untuk mengubah
sumber menjadi hasil yang dapat dijual. Keputusan
tersebut adalah :
   Keputusan yang berhubungan dengan disain
    dari sistem produksi manufaktur;
   Keputusan yang berhubungan dengan operasi
    dan pengendalian sistem tersebut, baik dalam
    jangka panjang maupun dalam jangka pendek.


C. SISTEM PRODUKSI MANUFAKTUR
Beberapa keputusan untuk jangka panjang yang
menentukan disain produksi adalah :
a. Disain produksi dari barang yang diproses
  Dalam bentuk seperti apakah barang dan jasa
akan dibuat (pola, corak, kualitas) ?
b. Pemilihan/penentuan peralatan dan prosesnya
  Peralatan seperti apa yang akan dibeli supaya
  barang atau jasa dapat diproduksi dengan biaya
  minimum ?
c. Disain tugas
  Bagaimanakan kegiatan produksi itu akan dibagi
  kepada     para       pekerja     menurut       keahlian,
  kesehatan, dan biaya yang diperlukan ?
d. Lokasi dari fasilitas produksi
  Dimanakah fasilitas produksi/pabrik itu akan
  didirikan dalam kaitannya dengan letak pasar
  sumber tenaga kerja dan material, pengawasan
  polusi lingkungan, dan faktor2 lain ?
e. Layout dari fasilitas tersebut
  Bagaimanakah          sebuah      pabrik     itu    akan
  dipersiapkan supaya operasinya dapat efisien ?
Keputusan2       yang     kompleks     tersebut      sangat
berkaitan dengan proses pengolahan yang dapat
digolongkan menurut 3 macam cara : (1) sifat proses
tersebut, (2) jangka waktu produksi, (3) sifat produk
yang diproses.
1. Sifat Proses Produksi
   Penggolongan         proses    produksi    berdasarkan
”sifat” ini akan menentukan jenis atau bentuk pokok
yang dipakai dalam pengolahan suatu produk.
Berdasarkan    sifatnya,   proses   produksi   dapat
dibedakan menjadi 4 macam, yakni :
a. Proses ekstraktif
  Adalah suatu proses produksi yang mengambil
 bahan2 langsung dari alam. Contoh : proses
 penambangan batu-bara, bijih besi, bijih emas,
 pengeboran minyak, dsb. Proses ekstraksi ini
 terdapat dalam industri proses produksi dasar,
 oleh karena itu pertanian dan perikanan juga
 disebut industri ekstraktif.


b. Proses analitik
  Adalah suatu proses pemisahan dari suatu bahan
 menjadi beberapa macam barang yang hampir
 menyerupai      bentuk/jenis   aslinya.   Contoh   :
 penyulingan minyak;
c. Proses fabrikasi
  Kadang2      disebut   juga     proses    pengubahan
 adalah suatu proses yang mengubah suatu bahan
 menjadi beberapa bentuk. Pengubahan bentuk
 tersebut dapat dilakukan dengan menggunakan
 mesin, gergaji, pengepres, dsb. Contoh : proses
 pembuatan pakaian, sepatu, jenis mebel tertentu,
 dsb.
d. Proses sistetik
  Proses ini menunjukkan metode pengkombinasi
 an beberapa bahan ke dalam bentuk produk.
 Dalam      pengolahan    baja,    gelas/kaca,    produk
 akhirnya sangat berbeda dengan jenis aslinya
 karena ada perubahan fisik atau kimia.           Dalam
 industri lain seperti dalam produksi mobil, alat2
 listrik,   barang   elektronik   (radio,   TV,   lemari
 pendingin, dll), dimana bahan2 dirakit tanpa
 mengubah bentuk fisik atau susunan kimiawinya,
 disebut proses perakitan atau assembling. Sering
 proses ini digunakan sebagai bagian dari proses
 pengolahan.


2. Jangka Waktu Produksi
Beberapa macam proses produksi dapat ditentukan
menurut periode waktu dimana fasilitas produksi
digunakan.   Dalam   hal   ini   proses   produksi
digolongkan menjadi 2 macam, yakni :
a. Proses terus-menerus (continuous process)
 Istilah ini digunakan untuk menunjukkan suatu
 keadaan manufaktur dimana periode waktu yang
 lama diperlukan untuk mempersiapkan mesin dan
 peralatan yang akan dipakai. Dalam hal ini banyak
 atau semua mesin akan melaksanakan operasi
 yang sama dalam waktu yang tidak terbatas.
 Contoh : produksi mobil, dimana perubahan model
 hanya 1 kali dalam setahun. Istilah terus-menerus
 juga terdapat di dalam industri yang hanya
 mempunyai satu saat operasi     (satu shift) yaitu
 pada pagi sampai sore hari, sedangkan malam
 hari tidak beroperasi. Selain itu juga terdapat
 dalam industri yang mempunyai kegiatan terus-
 menerus tanmpa berhenti selama periode waktu
 yang lama, seperti : pabrik tekstil.
b. Proses terputus-putus (intermittent process)
   Istilah terputus-putus ini terdapat dalam keadaan
 manufactur dimana mesin2 itu beroperasi dengan
 mengalami beberapa kali berhenti dan dirancang
 lagi untuk membuat produk lain yang berbeda.
 Jadi alat yang sama dapat digunakan untuk
 membuat beberapa macam produk sesuai dengan
 keinginan atau pesanan konsumen. Contoh : alat2
 untuk pengecoran logam.


3. Sifat Produk
Proses produksi yang ditentukan menurut sifat
produknya, yang melibatkan ada atau tidaknya
spesifikasi pembeli suatu produk tertentu. Dalam hal
ini proses produksi dapat dibagi dalam 2 macam :
(a) produksi standard, dan (b) produksi pesanan
a. Produksi Standard
Produksi barang2 yang sering dilakukan oleh
produsen adalah produksi standard. Pada produksi
standard ini, dihasilkan sejumlah barang untuk
persediaan, di samping dikirim untuk pembeli dan
penyalur. Contoh : produksi televisi, lemari es, sikat
gigi, dsb. Penggunaan produksi ini memerlukan
sejumlah modal yang besar untuk :
   Memelihara sejumlah persediaan
   Menyediakan      fasilitas   penyimpanan    yang
    memadai
   Menanggung      resiko   kemungkinan     turunnya
    harga pasar, kebakaran, pencurian
b. Produksi Pesanan
Produksi pesanan ini dilakukan apabila ada pembeli
yang menghendaki spesifikasi tertentu. Contoh :
pakaian seragam, furniture tertentu (untuk asrama,
sekolah TK).




               KEGIATAN PRODUKSI


Keputusan2 yang berkaitan dengan kegiatan dan
pengendalian sistem produksi akan menentukan
peningkatan efisiensi operasinya, perencanaan dan
pengawasan kuantitas serta kualitas produksinya.
Masalah2 yang dihadapi oleh manajer produksi :
  Perencanaan produksi
  Organisasi produksi
  Pemeliharaan peralatan
  Pengawasan dan pemeriksaan kualitas
Biaya setiap unit produk yang dihasilkan sangat
ditentukan oleh kemampuan manajer produksi
dalam mengatasi masalah2 yang timbul.
I. Perencanaan Produksi
Fungsi    produksi      adalah   menciptakan       barang
dan/atau jasa sesuai dengan kebutuhan masyarakat
pada     waktu    harga    dan   jumlah     yang    tepat.
Perencanaan       produksi    dilakukan    agar    fungsi
produksi dapat berperan dengan baik.
Keputusan2       yang     menyangkut      dan   berkaitan
dengan masalah2 perencanaan :
   Jenis barang yang akan dibuat
   Jumlah barang yang akan dibuat
   Cara pembuatan (penggunaan peralatan yang
    dipakai)
Keputusan tentang jenis dan jumlah barang yang
akan dibuat sangat dipengaruhi oleh data/informasi
tentang kebutuhan pasar (dari bagian pemasaran).
Perencanaan jenis barang yang akan dibuat, terdiri
atas 4 tahap, yakni :
  Tahap pertama : penentuan disain awal yang
   berupa disain spesifikasi dan syarat2 yang
   harus dipenuhi;
  Tahap kedua : penentuan disain barang yang
   tepat;
  Tahap ketiga : penentuan cara pembuatan yang
   berupa penentuan urutan proses produksi,
   tempat kerja dan peralatan yang dipakai;
  Tahap keempat : pembuatan, merupakan usaha
   memodifikasi tahap ketiga yang disesuaikan
   dengan      layout,   tuntutan    kualitas,   dan
   mesin/peralatan yang tersedia.
Keputusan tentang jumlah barang yang akan dibuat
dipengaruhi oleh perkiraan penjualan (sales forcast)
atau   pola   permintaannya,   dan      mempengaruhi
penentuan     jenis   mesin/peralatan    yang    akan
digunakan.
II. Organisasi Produksi
Dalam perusahaan manufaktur, tanggung jawab
untuk memproduksi barang berada pada Bagian
Produksi.. Pada bagian tertentu terdapat para
spesialis yang ahli dalam perencanaan, supervisi,
atau pelaksanaantahap2 dalam proses produksi.
Besarnya organisasi produksi tergantung pada
besarnya perusahaan dan kompleksnya proses
pengolahan yang diinginkan. Contoh dari organisasi
yang sederhana dari sebuah perusahaan menengah
:
 Wakil direktur yang bertanggung jawab di bidang
    produksi
    Manajer Produksi
      Kepala Pengawasan Produksi
         Personalia Pengawasan Produksi
      Kepala Inspektor
       Inspektor
    Kepala Devisi A
       Gudang
       Mandor Dept 1
         Mandor Pembantu
            Pekerja
 Manajer Riset
    Personalia Riset




III. Pengendalian Produksi
Pengendalian      produksi   merupakan   serangkaian
prosedur yang bertujuan mengkoordinir semua
elemen proses produktif (pekerja, mesin, peralatan,
dan material) ke dalam satu aliran dimana aliran
tersebut akan memberikan hasil dengan gangguan
minimum, ongkos terendah, dan kemungkinan
waktu tercepat.
Pokok2 masalah pengendalian produksi meliputi :
(a) Jenis2 Pengendalian Produksi, (b) Tahap2
dalam Pengendalian Produksi, (c) Alat manajemen :
Program Evaluation and Review Technique (PERT).
a. Jenis2 Pengendalian Produksi
Terdapat 2 macam pengendalian produksi :
 Order Control  digunakan oleh perusahaan
 manufaktur yang beroperasi hanya pada waktu
 menerima pesanan2 dari pembelinya;
 Flow Control  digunakan dalam pabrik2 yang
 berproduksi untuk persediaan dan dimaksudkan
 untuk mempercepat pengiriman barang jadi dari
 tempat     persediaan   begitu   pesanan   pembeli
 diterima
Prosedur dari kedua jenis pengendalian ini sama,
dan fungsinya untuk menentukan apakah arus
material dalam pabrik sudah sesuai dengan waktu
yang direncanakan, atau untuk menentukan apakah
pengangkutan barang jadi ke gudang/ tempat
penyimpanan sudah sesuai dengan waktu yang
direncanakan,        agar       tidak       mengganggu
pemasarannya.
b. Tahap2 dalam Pengendalian Produksi
 Perencanaan  Jika pesanan pembeli atau
 pesanan untuk persediaan perusahaan telah
 diterima oleh bagian perencanaan produksi, maka
 pesanan    dipecah-pecah        ke     dalam   beberapa
 bagian, dengan menggunakan kartu material (bill
 of   material)    yang      memuat     komponen2    jadi
 maupun     yang akan diproses lagi, atau disebut
 order. Daftar tersebut dipecah ke dalam beberapa
 formulir yang memuat jumlah material/barang
 yang akan dibeli dari produsen lain untuk
 keperluan proses produksi. Kemudian formulir2
 permintaan       material    dan     komponen2     yang
 diperlukan diberikan ke Bagian Pembelian.
 Routing         merupakan        suatu   usaha   untuk
 menentukan urut-urutan dari proses dan alat2
 digunakan     dalam   proses    produksi.   Sebelum
 proses dimulai, semua masalah tersebut disusun
 terlebih dahulu dalam route sheet.
 Scheduling  Merupakan suatu usaha untuk
 menentukan kapan produksi akan dimulai dan
 selesai untuk diserahkan. Schedule ini harus
 dibuat sebelum produksi dimulai di dalam bentuk
 master schedule yang kemudian dipecah-pecah
 ke dalam schedule2.
 Dispatching  merupakan surat perintah yang
 berisi     wewenang   untuk    melakukan    kegiatan
 produksi. Surat perintah ini dibuat sebelum
 produksi dimulai dalam bentuk dispatch sheet.
 (memuat : barang apa yang harus dibuat dan
 jumlahnya; disain, ukuran dan bahan yang akan
 dipakai; mesin dan peralatan yang harus dipakai;
 petugas yang harus mengerjakan; kapan harus
 dimulai dan selesai; kepada siapa barang tersebut
 dijual).
Terdapat perbedaan urutan tahap pengendalian
produksi, antara proses terus-menerus (continuous)
dengan proses yang terputus-putus (intermittent).
Pada proses terus-menerus : routing ditetapkan
lebih dulu baru kemudian schedulling dan terakhir
dispatching (pada proses ini routing ditetapkan pada
saat perusahaan didirikan, dan untuk jangka waktu
yang relatif lama). Sedangkan pada proses terputus-
putus   schedulling   ditentukan      terlebih   dahulu,
kemudian menyusul routing dan terakhir dispatching
(pada proses intermitten penting untuk menentukan
scheduling karena barang yang dihasilkan tidak
selalu sama, baik jenis, kualitas, jumlah, maupun
waktu penyerahannya). Penetapan routing pada
proses terputus-putus harus diusahakan untuk
memanfaatkan     semua    fasilitas     yang     tersedia
semaksimal mungkin.
c. Analisis Jaringan kerja : Metode Jalur kritis
dan PERT
Analisis jaringan kerja (Network Analysis)  teknik
yang berkaitan dengan masalah penetapan urutan
pekerjaan yang diarahkan untuk meminimumkan
waktu penyelesaian suatu pekerjaan atau proyek,
agar dicapai biaya yang rendah.
Analisis   jaringan   kerja   banyak     dipakai   pada
scheduling dan terkenal dengan Critical Path
method (CPM ; Metode Jalur Kritis - MJK) dan
Program Evaluation Review Technique (PERT).
Teknik ini berguna terutama untuk menggambarkan
elemen2 dalam situasi yang kompleks untuk tujuan
mendisain,    merencanakan,       mengkoordinasikan,
mengendalikan dan mengambil keputusan.
Dalam PERT khususnya, beranggapan bahwa
waktu untuk melaksanakan masing2 kegiatan tidak
menentu (uncertain), sehingga digunakanlah tiga
perkiraan waktu : optimis, pesimis, dan normal.
Konsep dasar analisis jaringan kerja :
1. Jaringan Kerja (Networking)  merupakan satu
 seri (rangkaian) aktivitas yang bersambung dalam
 menghasilkan barang dan atau jasa, yang terarah
 kepada usaha pencapaian tujuan perusahaan.
 Dua hal yang penting dalam jaringan ini adalah
 aktivitas    (activity         kegiatan     untuk
 menyelesaikan suatu bagian dari pekerjaan yang
 membutuhkan satu waktu tertentu) dan kejadian
 (event saat mulanya atau berakhirnya aktivitas).
 Kejadian paling akhir tidak dapat terjadi sebelum
 aktivitas2 sebelumnya selesai; Antara event mulai
 dan event penyelesaian dihubungkan dengan
 aktivitas. Hubungan antara berbagai event (baik
 mulai   maupun     penyelesaian)   setiap   bagian
 pekerjaan sampai dengan penyelesaian paling
 akhir, akan membentuk suatu diagram jaringan
 kerja (Network Diagram).
2. Jalur Kritis (Critical Path)  adalah jalur yang
 terpanjang dalam menyelesaikan satu rangkaian
pekerjaan sampai selesai. Beberapa hal penting
diperhatikan :
a. Jalur kritis menyoroti aktivitas2 yang harus
  (dapat)     dilakukan        dengan      cepat,     bilamana
  diinginkan         waktu     penyelesaian         yang   lebih
  pendek;
b. Setiap penundaan pada setiap aktivitas yang
  masuk dalam jalur kritis akan menyebabkan
  penundaan          penyelesaian         seluruh    rangkaian
  pekerjaan;
c. Setiap      perencanaan            pendahuluan           dan
  perbaikan sepanjang jalur kritis mungkin akan
  menyebabkan jalur lain menjadi kritis.
 Jalur      kritis     lebih    mengarahkan           perhatian
manajemen            pada       situasi     yang       penting,
memusatkan perhatian pada kemacetan dan
menghilangkan hal2 yang tidak perlu pada jalur
lain   yang      tidak       akan   dapat      mempercepat
penyelesaian seluruh rangkaian pekerjaan.
Aktivitas Semu (Dummy)
Salah satu faktor yang perlu mendapatkan perhatian
pada setiap penyusunan diagram jaringan kerja
adalah aktivitas semu (dummy), yaitu suatu aktivitas
dalam jaringan kerja yang membutuhkan nol satuan
waktu. Aktivitas semu menggambarkan hubungan
antara satu event yang lebih dulu dengan dua even
berikutnya meskipun tidak saling bergantung satu
sama lain (terjadi aktivitas semu apabila terdapat 2
event yang bermula dari 1 event pendahulu dengan
aktivitas 2 yang berbeda, dan keduanya menuju 1
event berikutnya dengan aktivitas yang berbeda
pula)
Keterbatasan2 Metode Jalur kritis (MJK)
Faktor2 penting yang membatasi penerapan MJK
 adalah :
1. MJK mendasarkan diri pada asumsi bahwa
  penyelesaian aktivitas dapat diketahui dengan
     tepat pada setiap waktu. Hal demikian tidak
     mungkin terjadi pada kehidupan negara
2. MJK tidak memasukkan gagasan analisis statistik
     dalam menentukan perkiraan waktu
3. MJK merupakan model perencanaan statik dan
     bukannya alat kontrol yang dinamik




Program Evaluation and Review               Tehcnique
(PERT)
Untuk mengatasi keterbatasan pada MJK yaitu
asumsi keadaan yang statik, diciptakan satu model,
sebagai        perubahan       konsep   MJK       dengan
memasukkan b eberapa hal :
1.     Teori    probabilitas    yang    berguna    untuk
     memperhitungkan ketidakpastian masa yang akan
     datang;
2. Gagasan analisis statistik untuk memperkirakan
  standard       penyimpangan   waktu   penyelesaian
  keseluruhan pekerjaan;
3. Membuat model yang baru sebagai alat kontrol
  yang dinamik; model ini dikenal dengan Program
  Evaluation and Review Technique (PERT)
Di dalam PERT digunakan 3 macam perkiraan
waktu, yaitu :
 Waktu yang paling optimis (Wo) merupakan
  kemungkinan waktu penyelesaian paling pendek,
  jikalau semua pekerjaan berjalan dengan lancar;
 Waktu yang paling pesimis (Wp) merupakan
  kemungkinan waktu penyelesaian yang paling
  panjang,           dengan        memperhitungkan
  kemungkinan2 penundaan;
 Waktu normal (Wn) merupakan kemungkinan
  waktu pen yelesaian sebagaimana biasa terjadi.
Dengan menggunakan ketiga jenis waktu tersebut,
untuk   menghitung         waktu        yang   diharapkan,
menggunakan rumus :
                Wo + 4 Wn + Wp
    Wh =     ------------------------
                           6
Waktu yang diharapkan merupakan kesempatan 50
– 50 bagi aktivitas untuk diselesaikan
Beberapa rumus statistik yang dapat digunakan
untuk tujuan ini bersama-sama dengan tabel nilai
probabilitas untuk distribusi normal adalah standard
deviasi setiap aktivitas dan keseluruhan waktu yang
diperlukan    untuk      menyelesaikan         keseluruhan
pekerjaan.
Pengendalian Bahan Baku
Bahan baku merupakan masalah yang cukup
dominan di bidang produksi, sehingga perusahaan
selalu menghendaki jumlah persediaan yang cukup
agar jalannya produksi tidak terganggu. ”Cukup”
bukan berarti harus dalam jumlah besar, karena
persediaan    dalam    jumlah   besar   mengandung
banyak resiko, seperti :
  a. Resiko hilang dan rusak
  b. Biaya pemeliharaan dan pengawasan yang
    tinggi
  c. Resiko usang
  d. Uang yang tertanam di persediaan terlalu besar
Jumlah persediaan yang tepat dapat ditentukan
dengan jalan menghitung persediaan yang paling
ekonomis. Jumlah yang ekonomis dipengaruhi oleh
besar-kecilnya    jumlah   pemesanan         untuk
mencapai biaya persediaan yang optimal, maka
perusahaan harus melakukan pemesanan2 yang
seekonomis mungkin (jumlah pemesanan yang
ekonomis menjadi indikator jumlah persediaan yang
tepat).
Jumlah pemesanan yang ekonomis dipengaruhi
oleh 4 faktor :
  a. Jumlah kebutuhan bahan baku per tahun
  b. Biaya pemesanan
  c. Biaya penyimpanan, dan
  d. Harga bahan baku
Biaya pemesanan, jika dikaitkan dengan besarnya
persediaan,      mempunyai     ciri   yang     berlawanan
dibanding dengan biaya penyimpanan (semakin
besar volume persediaan akan membuat semakin
kecil    biaya     pemesanan,         karena     frekuensi
pemesanan yang semakin jarang). Sebaliknya,
makin besar volume persediaan, maka biaya
penyimpanan       akan     semakin    besar    pula.   Ciri
demikian merupakan dasar penghitungan jumlah
pemesanan yang paling ekonomis.
Jumlah pemesanan yang paling ekonomis dihitung
dengan menggunakan rumus :


              2 x K x Bp
JPPE =        --------------
                H x Bs


JPPE = Jumlah pemesanan yang paling ekonomi
K     = Jumlah kebutuhan bahan baku per tahun
Bp    = Biaya pemesanan (setiap pesan)
Bs    = Biaya penyimpanan (dinyatakan dalam %)
H     = Harga bahan baku per unit


IV. Pemeliharaan Peralatan
Di bidang aktivitas produksi, fungsi pemeliharaan
dan    perbaikan    peralatan   sangat   memegang
peranan, dan apabila hal ini diabaikan maka
akibatnya perusahaan akan menderita rugi yang
tidak kecil.


Kerugian yang diderita perusahaan karena kelalaian
mengadakan pemeliharaan peralatan, disebabkan
antara lain :
1. Kerusakan peralatan yang sudah cukup parah
  sehingga menyebabkan biaya perbaikan menjadi
  mahal
2. Kerugian    karena   berhentinya    sebagian      atau
  keseluruhan kegiatan produksi
3. Kerugian    karena    keterlambatan       pengiriman
  barang kepada konsumen sehingga menyebabkan
  turunnya pendapatan perusahaan
4. Perusahaan terpaksa harus membayar klaim
  karena penyerahan yang tidak tepat
5. menimbulkan keengganan para pelanggan untuk
  kembali     memesan      ke    perusahaan       karena
  dianggap tidak menepati janji
Masalah       pemeliharaan      ini   bagi       pimpinan
perusahaan sangat membingungkan karena di satu
pihak, penting dan di pihak lain tidak, biayanya sulit
diukur dan tidak produktif.
Kecenderungannya biaya pemeliharaan dari tahun
ke tahun ”naik”, hal ini disebabkan tiga hal :
 SelaLu   terdapat   kenaikan   yang    ajeg   pada
 kecepatan pengoperasian peralatan, ketepatan
 toleransi dan spesifikasi produk yang dibuat
 Adanya kecenderungan untuk memasang alat
 kontrol otomatis dan alat2 pembantu lainnya
 sebagai akibat dari perkembangan teknologi
 Peralatan baru biasanya lebih mahal karena
 adanya     pengaruh     perubahan      harga    dan
 perkembangan peralatan itu sendiri, dan agar
 kenaikan biaya tidak mengubah unit cost selalu
 menyolok, maka mesin baru diusahakan untuk
 dapat bekerja lebih lama, lebih produktif atau
 justru keduanya.




Organisasi Pemeliharaan Peralatan
Terdapat     dua     sistem     untuk     mengorganisasi
pemeliharaan, yakni :
a. Di   desentralisir   menurut      pusat    biaya   atau
  departemen --. Masing2 bagian atau departemen
  memiliki seksi pemeliharaan tersendiri.
  Keuntungan2 cara desentralisasi :
   Tenaga       mekanik      akan      mengerti      betul
    penggunaan dan karakteristik alat2 yang harus
    mereka pakai
   Mempermudah pimpinan mengarahkan orang2
    untuk mengerjakan pekerjaan2 yang harus
    cepat selesai
   Kontrol pemeliharaan dapat lebih ditingkatkan,
    sehingga       perbaikan2     besar      dapat    lebih
    diperkecil
  Sedangkan kelemahannya :
   Fleksibelitas sangat rendah
   Terdapatnya duplikasi tenaga kerja
b. Sentralisasi  dalam perusahaan hanya terdapat
 satu bagian yang khusus menangani perbaikan
 dan pemeliharaan peralatan.
 Keuntungan2 cara sentralisasi :
  Tidak terdapat duplikasi alat2 lain, tenaga kerja
    dan persediaan suku cadang
  Fleksibelitas yang tinggi


 Kelemahannya :
  Memerlukan      tenaga       kerja   yang    dapat
   menangani berbagai bidang atau memerlukan
   tenaga spesialisasi cukup banyak
  Memerlukan perencanaan, pengaturan jadwal
   waktu dan pembagian tugas yang efektif agar
   pemeliharaan     dapat      dilaksanakan    dengan
   efisien
 Sulit   untuk    menerapkan     pembagian     tugas
  dengan baik pada pekerjaan2 yang harus
  didahulukan dan diselesaikan dengan segera
 Beban pekerjaan bagian pemeliharaan semakin
  besar
Program pemeliharaan peralatan, antara lain
meliputi :
1. Penyusunan       perencanaan     yang      meliputi
  penentuan       tugas2   yang   akan     dilakukan,
  prioritasnya dan tenaganya
2. Mengatur jadwal waktu dan beban pekerjaan
  sesuai dengan skala prioritasnya
3. Mengatur kartu perintah kerja dan kartu2
  pemeliharaan setiap peralatan untuk mengawasi
  keajegan pemeliharaan dan suku cadang yang
  pernah diganti, dan bahkan untuk memonitor di
  bagian apa, peralatan itu sering mengalami
  kerusakan
 4. Mengatur penggunaan suku cadang dengan
   memakai kartu kendali-kartu kendali untuk
   mempermudah administrasi gudang (misalnya
   master bill of material dan bill of material)
 5. Mengatur program latihan (training) dengan
   metode2 yang mungkin dilaksanakan, dengan
   maksud meningkatkan ketrampilan kerja mereka
 6. Mengatur distribusi waktu kapan peralatan akan
   diperbaiki dengan memperhitungkan berbagai
   kemungkinan      kerugian    yang    akan       diderita
   karena sebagian atau seluruh kegiatan terhenti,
   selama perbaikan berlangsung.


V. Pengawasan Kualitas dan Inspeksi
Pengawasan kualitas dalam kegiatan produksi
terletak pada faktor standard yang diterapkan, yang
ditinjau dari dimensi tertentu, misalnya komposisi
kimiawi bahan baku, kekerasan, kekuatan, kerataan
permukaan, ketepatan ukuran dan beberapa faktor
lain yang lebih bersifat subyektif. Suatu barang
dikatakan ”baik”, tidak berarti ”harus persis” dengan
standard tersebut, akan tetapi setidak-tidaknya
”mendekati”, karena adanya faktor ”toleransi”.
Masalah pengawasan kualitas dan inspeksi tidak
hanya menyangkut tentang barangnya saja, akan
tetapi menyangkut pula kebijakan kualitas sesuai
dengan    tuntutan   pasar,   kebutuhan     investasi,
kemampuan     menghasilkan     kembali    (return   on
invesment), persaingan dan sebagainya, kualitas
dan disain teknis, standar bahan baku, proses dan
kemampuan kerja barang ybs, serta berbagai
inspeksi di bidang2 kualitas bahan yang dipakai,
operasi yang digunakan dan daya kerja barang yang
dibuatnya.


Tahap2 Pengawasan kualitas (4 tahap) :
  1. Penentuan        kebijakan       tentang     penetapan
    kualitas       sesuai    dengan       tuntutan     pasar
    (konsumen)
  2. Penentuan disain teknis untuk mencapai target
    tuntutan pasar
  3. Tahap     pembuatan,          beberapa     pengawasan
    kualitas    bahan       yang    dipakai     dan   operasi
    produksi,      sebagai    perwujudan        pelaksanaan
    tahap 1 dan 2
  4. Tahap penggunaan di lapangan, di mana
    pemasangan akan berpengaruh kepada kualitas
    akhir dan pengefektifan jaminan kualitas serta
    daya kerja barang


Pengawasan Kualitas di dalam Produksi
Dalam lingkup pengawasan kualitas, perbedaan
pengertian inspeksi dan pengawasan :
- Inspeksi          merupakan        penyusunan       cara2
 pengukuran           karakteristik       kualitas       dan
memperbandingkannya       dengan      standard   yang
telah   ditetapkan,    pada   tahap    ini   ”tindakan
perbaikan” belum dilaksanakan.
- Pengawasan/pengendalian          (kontrol)       
mengajukan pertanyaan2 kapan, berapa kali dan
berapakah jumlah barang yang akan diinspeksi.
Bilamana     terjadi    kerusakan,      pengawasan
menentukan penyebab kesalahan dan melakukan
perbaikan.
Konsep probabilitas sangat memegang peranan
pada tahap pengawasan kualitas ini dengan cara
menetapkan perencanaan contoh (sampel) yang
merupakan sarana untuk pengawasan kualitas
barang2 yang keluar, dan dengan menggunakan
prosedur bagan pengawasan (control chart) secara
kontinyu akan dapat mendeteksi mesin2             dan
proses2 yang tidak berjalan dengan semestinya.
Bagan Pengawasan (Control Chart)
Pada dasarnya penyimpangan yang sering terjadi
dalam proses industri, dibagi dalam 2 kategori :
1. Penyimpangan2 yang tidak dapat ditentukan
    Penyimpangan semacam ini, biasanya sangat
  kompleks, akan tetapi tidak begitu           berarti bagi
  total    penyimpangan     yang    terjadi,        karena
  frekuensinya yang terlalu kecil
2. Penyimpangan2 yang dapat ditentukan
  Biasanya penyimpangan2 semacam ini kerapkali
  terjadi dan dapat diketahui (dilacak) penyebabnya:
  yang pada umumnya disebabkan karena :
  - perbedaan2 antara para pekerja
  - perbedaan2 antara mesin2
  - perbedaan2 antara bahan baku (material)
  - perbedaan karena interaksi antara dua atau
          ketiga faktor yang disebutkan di atas
Atas      dasar   hasil   penyelidikan    dari      kedua
penyimpangan tersebut dapat dibuat suatu control
chart (bagan kontrol) sehingga dapat digunakan
untuk   mendeteksi   dimana   penyebabnya,   dan
dengan demikian perusahaan dapat melakukan
perbaikan2.
                SATUAN ACUAN PEMBELAJARAN (SAP)
   PRODIP III ADMINISTRASI PERPAJAKAN SEMESTER I TAHUN 2007/2008




MATA KULIAH KULIAH : ORGANISASI BISNIS & MANAJEMEN (OBM)
DOSEN                 : 1. Dra. UCOK SARIMAH,MM
                      2. SATRIA HADI LUBIS,SE,MBA
                      3. AIDA PURWANINGSIH,SE,MM


PERTEMUAN        POKOK BAHASAN                 JUMLAH   KETERANGAN
    KE                                         JAMLAT
     I       Konsep    Bisnis   dan   Sistem     3
       Perekonomian
 II    Pasar                             3
III    Bentuk-bentuk      Perusahaan     3
       (PT,CV, dll); Bisnis Kecil dan
       Bisnis Besar
IV     Uang & Perbankan; Sekuritas       3
       dan Investasi
 V     Manajemen       Keuangan    &     3
       Resiko
VI     Memahami Proses Pemasaran         3
VII    Organisasi                        3
VIII   Organisasi (lanjutan)             3     Mid Semester I
IX     Manajemen                         3
 X     Sejarah Manajemen                 3
XI     Fungsi-fungsi Manajemen           3
XII    Mengelola SDM                     3
XIII   Kepemimpinan                      3
XIV    Komunikasi                        3
XV     Motivasi                          3
XVI    Pengendalian                      3




                                   JAKARTA, 30 OKTOBER 2007

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Tags:
Stats:
views:220
posted:5/30/2012
language:Indonesian
pages:41