Biodata Ebiet G Ade by agungferdianto

VIEWS: 164 PAGES: 7

									                           BIODATA EBIET G. ADE




Ebiet G. Ade (lahir di Wanadadi, Banjarnegara, Jawa Tengah, 21 April 1954; umur 57
tahun) adalah seorang penyanyi dan penulis lagu berkewarganegaraan Indonesia. Ebiet
dikenal dengan lagu-lagunya yang bertemakan alam dan duka derita kelompok tersisih.
Lewat lagu-lagunya yang ber-genre balada, pada awal kariernya, ia 'memotret' suasana
kehidupan Indonesia di akhir tahun 1970-an hingga sekarang. Tema lagunya beragam, tidak
hanya tentang cinta, tetap ada juga lagu-lagu bertemakan alam, sosial-politik, bencana,
religius, keluarga, dll. Sentuhan musiknya sempat mendorong pembaruan pada dunia musik
pop Indonesia. Semua laguditulisnya sendiri, ia tidak pernah menyanyikan lagu yang
diciptakan orang lain, kecuali lagu Mengarungi Keberkahan Tuhan yang ditulis bersama
dengan PresidenSusilo Bambang Yudhoyono.


Kehidupan pribadi
Terlahir dengan nama Abid Ghoffar bin Aboe Dja'far di Wanadadi, Banjarnegara [1],
merupakan anak termuda dari 6 bersaudara, anak Aboe Dja'far, seorang PNS, dan Saodah,
seorang pedagang kain. Dulu ia memendam banyak cita-cita, sepertiinsinyur, dokter, pelukis.
Semuanya melenceng, Ebiet malah jadi penyanyi -- kendati ia lebih suka disebut penyair
karena latar belakangnya di dunia seni yang berawal dari kepenyairan[2].




Setelah lulus SD, Ebiet masuk PGAN (Pendidikan Guru Agama Negeri) Banjarnegara.
Sayangnya ia tidak betah sehingga pindah keYogyakarta. Sekolah di SMP Muhammadiyah 3
dan melanjutkan ke SMA Muhammadiyah I. Di sana ia aktif di PII (Pelajar Islam Indonesia).
Namun, ia tidak dapat melanjutkan kuliah ke Fakultas Ekonomi Universitas Gadjah
Mada karena ketiadaan biaya. Ia lebih memilih bergabung dengan grup vokal ketika ayahnya
yang pensiunan memberinya opsi: Ebiet masuk FE UGM atau kakaknya yang baru ujian lulus
jadi sarjana di Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto.[3]
Nama Ebiet didapatnya dari pengalamannya kursus bahasa Inggris semasa SMA. Gurunya
orang asing, biasa memanggilnya Ebiet, mungkin karena mereka mengucapkan A menjadi E.
Terinspirasi dari tulisan Ebiet di bagian punggung kaos merahnya, lama-lama ia lebih sering
dipanggil Ebiet oleh teman-temannya. Nama ayahnya digunakan sebagai nama belakang,
disingkat AD, kemudian ditulis Ade, sesuai bunyi penyebutannya, Ebiet G. Ade. Kalau
dipanjangkan, ditulis sebagai Ebiet Ghoffar Aboe Dja'far. [4][5]

Sering keluyuran tidak keruan, dulu Ebiet akrab dengan lingkungan seniman
muda Yogyakarta pada tahun 1971. Tampaknya, lingkungan inilah yang membentuk
persiapan Ebiet untuk mengorbit. Motivasi terbesar yang membangkitkan kreativitas
penciptaan    karya-karyanya     adalah    ketika   bersahabat    dengan Emha      Ainun
Nadjib (penyair), Eko Tunas (cerpenis), dan E.H. Kartanegara (penulis). Malioboro menjadi
semacam rumah bagi Ebiet ketika kiprah kepenyairannya diolah, karena pada masa itu
banyak seniman yang berkumpul di sana.

Meski bisa membuat puisi, ia mengaku tidak bisa apabila diminta sekedar mendeklamasikan
puisi. Dari ketidakmampuannya membaca puisi secara langsung itu, Ebiet mencari cara agar
tetap bisa membaca puisi dengan cara yang lain, tanpa harus berdeklamasi. Caranya, dengan
menggunakan musik. Musikalisasi puisi, begitu istilah yang digunakan dalam lingkungan
kepenyairan, seperti yang banyak dilakukannya pada puisi-puisi Sapardi Djoko Damono.
Beberapa puisi Emha bahkan sering dilantunkan Ebiet dengan petikan gitarnya. Walaupun
begitu, ketika masuk dapur rekaman, tidak sebiji pun syair Emha yang ikut dinyanyikannya.
Hal itu terjadi karena ia pernah diledek teman-temannya agar membuat lagu dari puisinya
sendiri. Pacuan semangat dari teman-temannya ini melecut Ebiet untuk melagukan puisi-
puisinya.


Karier
Ebiet pertama kali belajar gitar dari kakaknya, Ahmad Mukhodam, lalu belajar gitar di
Yogyakarta dengan Kusbini. Semula ia hanya menyanyi dengan menggelar pentas seni di
Senisono, Patangpuluhan,     Wirobrajan,     Yogyakarta dan    juga   di Jawa  Tengah,
memusikalisasikan puisi-puisi karya Emily Dickinson, Nobody, dan mendapat tanggapan
positif dari pemirsanya. Walau begitu ia masih menganggap kegiataannya ini sebagai hobi
belaka. Namun atas dorongan para sahabat dekatnya dari PSK (Persada Studi Klub yang
didirikan oleh Umbu Landu Paranggi) dan juga temannya satu kos, akhirnya Ebiet bersedia
juga maju ke dunia belantika musik Nusantara. Setelah berkali-kali ditolak di berbagai
perusahaan rekam, akhirnya ia diterima di Jackson Record pada tahun 1979.[6]

Jika semula Ebiet enggan meninggalkan pondokannya yang tidak jauh dari pondok keraton,
maka fakta telah menunjuk jalan lurus baginya ke Jakarta. Ia melalui rekaman demi rekaman
dengan sukses. Sempat juga ia melakukan rekaman di Filipina untuk mencapai hasil yang
lebih baik, yakni album Camellia III. Tetapi, ia menolak merekam lagu-lagunya
dalam bahasa Jepang, ketika ia mendapat kesempatan tampil di depan publik di sana.
Pernah juga ia melakukan rekaman di Capitol Records, Amerika Serikat, untuk album ke-8-
nya Zaman. Ia menyertakan Addie M.S. danDodo Zakaria sebagai rekan yang membantu
musiknya.

Lagu-lagunya menjadi trend baru dalam khasana musik pop Indonesia. Tak heran, Ebiet
sempat merajai dunia musik pop Indonesia di kisaran tahun 1979-1983. Sekitar 7 tahun Ebiet
mengerjakan rekaman di Jackson Record. Pada tahun 1986, perusahaan rekam yang
melambungkan namanya itu tutup dan Ebiet terpaksa keluar. Ia sempat mendirikan
perusahaan rekam sendiri EGA Records, yang memproduksi 3 album, Menjaring
Matahari, Sketsa Rembulan Emas, dan Seraut Wajah.

Sayang, pada tahun 1990, Ebiet yang "gelisah" dengan Indonesia, akhirnya memilih
"bertapa" dari hingar bingar indutri musik dan memilih berdiri di pinggiran saja. Baru pada
tahun 1995 ia mengeluarkan album Kupu-Kupu Kertas (didukung oleh Ian Antono, Billy J.
Budiardjo (alm),Purwacaraka, dan Erwin Gutawa) dan Cinta Sebening Embun (didukung
oleh Adi Adrian dari KLa Project). Pada tahun 1996 ia mengeluarkan album Aku Ingin
Pulang (didukung oleh Purwacaraka dan Embong Rahardjo). Dua tahun berikutnya ia
mengeluarkan album Gamelan yang memuat 5 lagu lama yang diaransemen ulang dengan
musik gamelan oleh Rizal Mantovani. Pada tahun 2000 Ebiet mengeluarkan albumBalada
Sinetron Cinta dan tahun 2001 ia mengeluarkan album Bahasa Langit, yang didukung
oleh Andi Rianto, Erwin Gutawa dan Tohpati. Setelah album itu, Ebiet mulai lagi menyepi
selama 5 tahun ke depan.

Ebiet adalah salah satu penyanyi yang mendukung album Kita Untuk Mereka, sebuah album
yang dikeluarkan berkaitan dengan terjadinyatsunami 2004, bersama dengan 57 musisi
lainnya. Ia memang seorang penyanyi spesialis tragedi, terbukti lagu-lagunya sering menjadi
tema bencana.

Pada    tahun 2007,   ia   mengeluarkan     album    baru    berjudul In  Love:    25th
Anniversary (didukung oleh Anto Hoed), setelah 5 tahun absen rekaman. Album itu sendiri
adalah peringatan buat ulang tahun pernikahan ke-25-nya, bersama pula 13 lagu lain yang
masih dalam aransemen lama. [7]

Kemunculan kembali Ebiet pada 28 September 2008 dalam acara Zona 80 di Metro
TV cukup menjadi obat bagi para penggemarnya. Dengan dihadiri para sahabat di
antaranya Eko Tunas, Ebiet G Ade membawakan lagu lama yang pernah popular pada dekade
80-an.


Singles
Sebagian besar lagu Ebiet G. Ade didasarkan tentang bencana. Di bulan Juni 1978, ia menulis
" Berita Kepada Kawan " setelah bencana gas beracun di Dataran Tinggi Dieng. Pada tahun
1981, ia menulis " Sebuah Tragedi 1981 " mengenai tenggelamnya KMP Tampomas
II diKepulauan Masalembu. Setelah letusan Gunung Galunggung pada 1982, ia menulis "
Untuk Kita Renungkan ". Lagu " Masih Ada Waktu " juga didasarkan saat
kejadian kecelakaan kereta api Bintaro.


Keluarga
Menikah dengan Koespudji Rahayu Sugianto (atau lebih dikenal sebagai Yayuk Sugianto,
kakak penyanyi Iis Sugianto) pada tanggal 4 Februari 1982, ia dikaruniai 4 anak, 3 laki-laki
dan 1 perempuan:

       Abietyasakti "Abie" Ksatria Kinasih (lahir 8 Desember 1982)
       Aderaprabu "Dera" Lantip Trengginas (lahir 6 Januari 1986)
       Byatriasa "Yayas" Pakarti Linuwih (lahir 6 April 1987)
       Segara "Dega" Banyu Bening (lahir 11 Desember 1989).

Mereka bertempat tinggal di kawasan Ciganjur, Jagakarsa, Jakarta Selatan.

Anak sulung Ebiet, Abie juga memiliki bakat musik, dan sering mewakili Ebiet dalam
mengecek sound system menjelang ayahnya manggung.

Ebiet juga seorang penggemar golf, namun sejak terjadinya bencana tsunami 2004, ia tidak
pernah lagi main golf.


Diskografi
Tidak seluruh album yang dikeluarkan Ebiet G. Ade berisi lagu baru. Pada tahun-tahun
terakhir, ia sering mengeluarkan rilis ulang lagu-lagu lamanya, baik dengan aransemen asli
maupun dengan aransemen ulang. Dan pada tahun-tahun terakhir Ebiet banyak memilih
berkolaborasi dengan musisi-musisi berbakat.

Jumlah album kompilasinya yang dikeluarkan melebihi album studionya. Sejauh ini terdapat
sedikitnya 25 album kompilasinya yang diterbitkan oleh berbagai perusahaan rekam.

Album studio

       Camellia I (1979)
       Camellia II (1979)
       Camellia III (1980)
       Camellia 4 (1980)
       Langkah Berikutnya (1982)
       Tokoh-Tokoh (1982)
       1984 (1984)
     Zaman (1985)
     Isyu! (1986)
     Menjaring Matahari (1987)
     Sketsa Rembulan Emas (1988)
     Seraut Wajah (1990)
     Kupu-Kupu Kertas (1995)
     Cinta Sebening Embun (1995)
     Aku Ingin Pulang (1995)
     Gamelan (1998)
     Balada Sinetron Cinta (2000)
     Bahasa Langit (2001)
     In Love: 25th Anniversary (2007)
     Masih Ada Waktu (2008)
     Tembang Country 2 (2009)

Kompilasi

     Lagu-Lagu Terbaik I Ebiet G. Ade (1987)
     Lagu-Lagu Terbaik II Ebiet G. Ade (1987)
     Lagu-Lagu Terbaik III Ebiet G. Ade (1987)
     Lagu-Lagu Terbaik IV Ebiet G. Ade(1987)
     20 Lagu Terpopuler Ebiet G. Ade (1988)
     Perjalanan Vol. I (1988)
     Perjalanan Vol. II (1988)
     Seleksi Album Emas (1990)
     Seleksi Album Emas II (1994)
     16 Lagu Puisi Cinta Ebiet G. Ade (1995)
     Kumpulan Lagu-Lagu Religius (1996)
     Hidupku MilikMu - Kumpulan Lagu-Lagu Religius Vol. II (1996)
     21 Tembang Puisi Dan Kehidupan (1996)
     20 Lagu Terpopuler (1997)
     Lagu-Lagu Terbaik (1997)
     Renungan Reformasi (1997)
     16 Koleksi Terlengkap Ebiet G. Ade(1997)
     12 Lagu Terbaik Ebiet G. Ade (1979-1986; 1997)
     12 Lagu Terbaik Ebiet G. Ade Volume II(1979-1986; 1997)
     Ilham Seni (1998)
     Best of the Best (1999)
     Akustik (2001)
     Balada Country (2002)
     M. Nasir vs Ebiet G. Ade - Penyair Nusantara (2002)
     Nyanyian Cinta (2003)
     Tembang Renungan Hati (2003)
       Tembang Slow (2004)
       Kumpulan Lagu-Lagu Terbaik (2004)
       22 Lagu Hits Sepanjang Masa (2005)
       Yogyakarta (2006)
       Tembang Cantik (2006)

Lagu dari album lain

       Untuk Anakku Tercinta (1983)
       Surat Dari Desa (1987) dalam album Lomba Cipta Lagu Pembangunan 1987.
       Berita kepada Kawan (1995; versi duet dengan M. Nasir)
       Mengarungi Keberkahan Tuhan (2007; ditulis bersama PresidenSusilo Bambang
        Yudhoyono)


Penghargaan
Ebiet G. Ade telah menerima sejumlah penghargaan, antara lain[8]:

       18 Golden dan Platinum Record dari Jackson Record dan label lainnya dari
        album Camellia I hingga Isyu!
       Biduan Pop Kesayangan PUSPEN ABRI (1979-1984)
       Pencipta Lagu Kesayangan Angket Musica Indonesia (1980-1985)
       Penghargaan Diskotek Indonesia (1981)
       10 Lagu Terbaik ASIRI (1980-1981)
       Penghargaan Lomba Cipta Lagu Pembangunan (1987)
       Penyanyi kesayangan Siaran Radio ABRI (1989-1992)
       BASF Awards (1984 - 1988)
       Penyanyi solo dan balada terbaik Anugerah Musik Indonesia(1997)
       Lagu Terbaik AMI Sharp Award (2000)
       Planet Muzik Awards dari Singapura (2002)
       Penghargaan Lingkungan Hidup (2005)
       Duta Lingkungan Hidup (2006)
       Penghargaan Peduli Award Forum Indonesia Muda (2006)
       Sejumlah penghargaan dari berbagai lembaga independen


Catatan dan rujukan
   1. ^ Beberapa sumber menyebutkan bahwa Ebiet lahir di Banyumas. Banyumas
      sebenarnya adalah sebuah karesidenan, sementara ia lahir di wilayah Kabupaten
      Banjarnegara
   2. ^"EBIET G. ADE: Apresiasi Musik Indonesia Menurun". Djarum Super Music.
      Diakses pada 22 Juli 2007.
   3. ^"Ebit G Ade, Bermusik Karena Tak Ada Kegiatan Lain". Minggu Pagi Online.
      Diakses pada 16 Juni 2007.
   4. ^"Ebiet G. Ade: Nggak Ada Istri, Nyanyi Jadi Nggak Asyik". Republika Online.
      Diakses pada 15 Juni 2007.
   5. ^"Mozaik Jejak Langkah Ebiet G. Ade". Ebiet G. Ade Official Website. Diakses pada
      26 Juni 2007.
   6. ^"Perjalanan Ebiet G. Ade: Cerita Masa Lalu, Ketika Langit di Yogya Masih Biru".
      Minggu Pagi Online. Diakses pada 16 Juni 2007.
   7. ^"Ebiet G. Ade: Kembali Mambaca Tanda Zaman Lewat Album Baru". Kabar
      Indonesia. Diakses pada 15 Juni 2007.
   8. ^"Biodata Ebiet G. Ade". Ebiet G. Ade Official Website. Diakses pada 22 Juli 2007.


Pranala luar
      (Indonesia) Ebiet G. Ade Official Website
      (Indonesia) Profil di situs KapanLagi.com.
      (Indonesia) Apa dan Siapa - Abdul Gafar Abdullah (Ebiet G. Ade)
      (Melayu) Muzik Nusantara - Ebiet G. Ade
      (Inggris) Ebiet G. Ade di LyricWiki

Sumber: Sini

Gambar Eksklusif Ebiet G Ade: Sini dan Sini

								
To top