Makalah RUJUK, TALAK, DAN FASAKH

Document Sample
Makalah RUJUK, TALAK, DAN FASAKH Powered By Docstoc
					                                       BAB I
                                PENDAHULUAN


A. Latar Belakang
          Thalaq sebagai salah satu penyebab putusnya perkawinan merupakan topik
   yang selalu harus dibicarakan ketika membahas persoalan pernikahan. Walau ia
   bagian dari bahasan pernikahan, bukan berarti wacana tentang Thalaq ini bias
   dianggap sederhana dan “sempit”. Ada banyak persoalan yang mesti dan lazim
   menjadi bagiannya, mulai dari pengertian, dasar hukum, rukun dan syarat, macam-
   macamnya aplikasi dan relevansinya dengan hukum positif Indonesia dan
   sebagainya.
          Dewasa ini masyarakat banyak memusatkan perhatian pada permasalahan
   yang berkaitan dengan wanita, termasuk di dalamnya yaitu permasalahan tentang
   perceraian (Thalaq), Rujuu’, dan Fasakh. Permasalahan ini telah tersebar dan marak
   terjadi belakangan ini, akhirnya masalah tersebut telah mendapat sambutan Iuas dari
   kaum Muslimin. Mereka juga menganggap masalah tersebut sebagai problematika
   rumah tangga dan masyarakat. Padahal sesungguhnya Islam tidak mensyari’atkan
   masalah tersebut kecuali untuk menyelesaikan problematika yang cukup banyak
   dalam kehidupan laki-laki, wanita, rumahtangga dan masyarakat. Problem yang
   sebenarnya adalah terletak pada kesalahfahaman terhadap syari’at Allah atau salah
   dalam penerapannya. Dan segala sesuatu, apabila tidak benar dalam penerapannya
   maka akan menimbulkan bahaya yang lebih besar.
          Berdasarkan pernyataan diatas, perlu kiranya pembahasan tentang masalah-
   masalah di atas dibahas tersendiri dan lebih lanjut dalam mata kuliah Fiqih II ini.
   Sehingga dalam hal kehidupan keluarga kita akan lebih terarah dan sesuai dengan
   Oleh karena itu penjelasan masalah akan dibahas lengkap dalam bab selanjutnya.


B. Rumusan Masalah
  1. Apa pengertian Thalaq, Rujuu’, dan Fasakh?
  2. Bagaimana hukum Thalaq, Rujuu’, dan Fasakh?
  3. Apa saja macam Thalaq, Rujuu’, dan Fasakh?
  4. Bagaimana syarat dan rukun Thalaq, Rujuu’, dan Fasakh?




                                                                                    1
C. Tujuan Pembahasan
  1. Mengetahui pengertian Thalaq, Rujuu’, dan Fasakh?
  2. Mengetahui hukum Thalaq, Rujuu’, dan Fasakh?
  3. Mengetahui macam Thalaq, Rujuu’, dan Fasakh?
  4. Mengetahui syarat dan rukun Thalaq, Rujuu’, dan Fasakh?




                                                               2
                                                  BAB II
                                            PEMBAHASAN


A. THALAQ
1.   Pengertian Thalaq

         Thalaq berasal dari kata “‫ ”اطالق‬yang menurut bahasa adalah “melepaskan atau
meninggalkan” , dalam istilah fiqh berarti pelepasan perkawinan. 1 Dengan redaksi lain,
'Ali ibn Muhammad Al-Jurjaniy2 mengemukakan pengertian etimologi dari kata Al-
thalaq itu dengan: Izâlat al-qayd wa al-takhliyyaħ (menghilangkan ikatan dan
meninggalkan). Dalam pengertian etimologi, kata al-thalâq tersebut digunakan untuk
menyatakan: "melepaskan ikatan secara hissiy, namun 'urf mengkhususkan pengertian al-
thalâq itu kepada: "melepaskan ikatan secara ma'nawiy"3.
         Sedangkan pengertian Thalaq secara terminology telah dikemukakan pula oleh
para ulama fikih. Menurut al-Sayyid al-Bakar (ulama Syafi'iyah), Thalaq adalah:
                                        4
                                         ‫حل عقد النكاح باللفظ الآليت وهي الطالق والفراق والسراح‬
Melepaskan akad pernikahan dengan menggunakan lafal berikut: al-thalaq, al-firaq dan
al-sarrah

         Adapun menurut al-Sayyid Sabiq, Thalaq adalah:
                                                               5
                                                                 ‫حل الرابطة الزواج وإهناء العالقة الزوجية‬
Melepaskan ikatan dan mengakhiri hubungan perkawinan


2.   Hukum Thalaq
              Yang dimaksud hukum Thalaq adalah pemutusan tali perkawinan .Thalaq
     merupakan suatu yang disyariatkan dan yang menjadi dasarnya adalah Al-Qur’an
     dan ijma’. Dalam Al-qur’an dijelaskan;
             
         
          

1
  Muhammad Bagir al-Habsyi, Fiqh Praktis II Menurut al-Qur'an -as-Sunnah dan Pendapat para Ulama ,
Buku II Cet. I, Bandung, Mizan Media Utama, 2002, hlm. 181.
2
  Ali bin Muhammad al-Jurjaniy, Kitab al-Ta'rifat, (Beirut: Dar al-Kutub al-'Ilmiyyah, 1998), cet. Ke-3, h.
141. Lihat juga: Muhammad Ruwas Qal'ahjiy dan Hamid Shadiq Qinyabiy, Mu'jam Lughaħ al-Fuqahâ`,
'Arabiy-Ingliziy Divorce Repudiction, (Riyadh: Dar al-Nafa`is, 1988), h. 281
3
  Wahbah al-Zuhayliy, al-Fiqh al-Islâmiy wa Adillatuh, (Damaskus, Dâr al-Fikr, 1989), cet. Ke-3, Juz 7, h.
356
4
  Al-Sayyid Abi Bakr (al-Sayyid al-Bakr), I'ânât al-Thâlibîn, (Beirut: Dar Ihya` al-Turats al-'Arabiy, t.th.),
Juz 4, h. 2
5
  Al-Sayyid Sabiq, Fiqh al-Sunnah, (Beirut: Dar al-Fikr, 1983), Juz 2, h. 206



                                                                                                             3
         
           
          
                
           
         
                              
             “Thalaq (yang dapat diRujuu’) dua kali. Setelah itu boleh Rujuu’ kembali
     dengan cara yang ma’ruf atau menceraikanya dengan cara yang baik.tidak hall bagi
     kalian untuk mengambil kembali dari sesuatu yang telah kalian berikan kepada
     mereka, keceali klian keduanya kwatir tidak dapat menjalankan hukum-hukum
     Allah, jika kalian kwatir keduanya(suami istri )tidak menjalankan hokum-hukum
     Allah ,maka tidak ada dosa atas keduanya tentang bayaran yang yang diberikan oeh
     istri untuk menebus dirinya ,itulah hokum-hukum Allah,maka janganlah kalian
     melanggarnya ,barang siap yanga melangggr hokum–hukum Allah ,mereka itulah
     orang-orang yang dholim.(Q.S. al-Baqarah:229).
                 
       
        
                   
          
         
           
           
                   
            “Hai Nabi, apabila kamu menceraikan isteri-isterimu maka hendaklah kamu
     ceraikan mereka pada waktu mereka dapat (menghadapi) iddahnya (yang wajar)6
     dan hitunglah waktu iddah itu serta bertakwalah kepada Allah Tuhanmu. Janganlah
     kamu keluarkan mereka dari rumah mereka dan janganlah mereka (diizinkan) ke
     luar kecuali mereka mengerjakan perbuatan keji yang terang.7 .Itulah hukum-hukum
     Allah, maka sesungguhnya dia telah berbuat zalim terhadap dirinya sendiri. Kamu
     tidak mengetahui barangkali Allah mengadakan sesudah itu sesuatu hal yang
     baru8”At thalaq:1)
        Ayat diatas secara jelas menguraikan petunjuk atau aturan tentang waktu dan tata
cara menjatuhkan Thalaq, kepada Nabi Muhammad SAW. Akan tetapi, meskipun yang
di khitabb dalam ayat tersebut hanya Nabi Muhammad SAW, namun menurut para
mufassir, kandungan hokum yang terdapat dalam ayat itu tetap menjangkau dan berlaku
bagi umatnya.
        Dalam mengomentari pengkhususan khitab terhadap Nabi Muhammad SAW
dalam ayat diatas, Abu Bakar, sebagaimana yang dikutip oleh Abi Bakr Ahmad al-Razi
al-Jashshash, mengemukakan sebagai berikut:


6
  Maksudnya: isteri-isteri itu hendaklah ditalak diwaktu suci sebelum dicampuri. Tentang masa iddah lihat
surat Al Baqarah ayat 228, 234 dan surat Ath Thalaaq ayat 4.
7
  Yang dimaksud dengan perbuatan keji di sini ialah mengerjakan perbuatan-perbuatan pidana,
berkelakuan tidak sopan terhadap mertua, ipar, besan dan sebagainya.
8
  Suatu hal yang baru maksudnya ialah keinginan dari suami untuk rujuk kembali apabila talaqnya baru
dijatuhkan sekali atau dua kali.



                                                                                                            4
      "Abu Bakar berkata: Pengkhususan khitab ayat terhadap Nabi Muhammad SAW
      membawa beberapa kemungkinan pengertian; a). sudah diketahui bahwa hokum
      atau ketentuan apa saja yang ditujukan kepada Nabi Muhammad SAW, juga
      ditujukan kepada umatnya. Sebab umatnya tersebut diperintahkan untuk mengikuti
      apa saja yang diperintahka kepada Nabi SAW, kecuali beberapa hala yang
      dikhususkan kepada Nabi SAW. b). pada awal potongan ayat tersebut, di taqdirkan
      kalimat: Ya ayyuha al-Nabi qul li ummatika idza thallaqtum al-nisa'….(Hai Nabi,
      katakanlah kepada umatmu: Apabila kamu menceraikan Isteri-isterimu…), dan c).
      Biasanya, apabila yang dikhitab itu adalah Pemimpinnya, maka pengikutnya telah
      termasuk didalamnya.9
             Jadi menurut Abu Bakar tersebuut, meskipun dalam ayat khitab-nya
     dikhususkan kepada Nabi Muhammad SAW namun tetap berlaku bagi umatnya.
             Muhammad Sulaiman 'Abdillah al-'Asyqar dan Ibn Katsir berpendapat bahwa
     didahulukannya khitab tersebut kepada Nabi Muhammad SAW hanya berfungsi
     sebagai penghormatan dan memuliakan Nabi Muhammad SAW. ketentuan yang
     terdapat dalam ayat di atas, menurut kedua mufassir tersebut, juga berfungsi bagi
     Umatnya, sebab setelah khitab itu ditujuakan kepada Nabi SAW, Allah SWT
     menujukannya kepada Nabi SAW dan umatnya, yaitu dengan menggunakan khitab
     plural pada kata "thalaqtum".10
             Dalam hadits yang diriwayatkan Umar, juga dijelaskan kasus menceraikan
     ketika sedang haid.
             “Perintahkan anakmu itu supaya Rujuu’ (kembali) kepada istrinya itu.
     Kemudian hendaklah ia teruskan pernikahn tersebut hingga ia suci dari haid ,maka,
     jika berkehendak. ia boleh meneruskan sebagaimana yang telah berlalu. Dan jika ia
     menghendaki ia boleh menceraikanya sebelum ia mencampurinya demikian iddah
     diperintahkan Allah saat wanita itu diceraikan (mutafaq ilaih)“.
             Sedangkan di dalam beberapa Hadist diterangkan mengenai problematika
     Thalaq dan hukumnya, diantaranya hadist riwayat Ibnu ‘Umar.
                                      ََ ْ
         ‫عن ابْن عمر عن النَّبي صلَّى اللَّهم علَيْه وسلَّم قَال أَبغضُ الحالل إلَى َللا تَعالَى الطَّالق‬
           َ          َ َّ                   َْ َ َ َ َ َ                        َ          َ َ َُ      َ
             “Perkara halal yang paling dibenci dalam pandangan Allah adalah Thalaq”
             Para ulama sepakat membolehkan Thalaq, Thalaq diambil sebagi jalan untuk
     menghindari dan menghilangkan berbagi hal negatif di dalam rumahtangga
     mengalami keretakan hubungan.




9
 Abu Bakr Ahmad al-Raziy al-Jashshash, Ahkâm al-Qur`ân, (Beirut: Dar al-Fikr, 1993), Juz 3, h. 677
10
   Muhammad Sulayman 'Abdillah al-'Asyqar, Zubdat al-Tafsîr, (Riyadh: Maktabah Dar al-Salam, 1994),
h. 748. Lihat Juga: 'Imad al-Din Abi al-Fida' Isma'il Ibn Katsir, Tafsîr al-Qur`ân al-'Azhîm, (Riyadh:
Maktabah Dar al-Salam, 1994), Juz 4, h. 484



                                                                                                         5
        Dari keterangan di atas, maka hukum Thalaq menjadi bermacam-macam
karena disesuaikan berdasarkan sebab dan kebutuhannya. Di bawah ini penjelasan
macam hukum Thalaq terdapat lima hukum, diantaranya:
a. Wajib
        Apabila terjadi perselisihan antara suami istri, lalu tidak ada jalan yang dapat
ditempuh kecuali dengan mendatangkan dua hakim yng mengurus perkara keduanya,
jika hakim memandang bahwa perceraian lebih baik bagi mereka .karena jika rumah
tangga tidak dapat mendatangkan apa-apa selain keburukan, pertengkaran, bahkan
menjerumuskan kepada kemaksiatan maka saat itu Thalaq menjadi wajib. Thalaq
wajib bagi suami atas permulaan istri, dalam hal suami tidak mampu menunaikan
hak-hak istri serta menjalankan kewajiban sebagai suami. Contoh: suami tidak
mampu mendatangi istri, istri berhak menuntut Thalaq menurut Thalaq dan suami
wajib menuruti tuntutan istri.
b. Makruh
        Apabila Thalaq yang dilakukan tanpa adanya tuntutan dan kebutuhan,
Namun dalam hal ini ulama berbeda pendapat. Antara lain:
   1) Thalaq tersebut haram dilakukan,karena dapat menimbulkan mudhorot bagi
       dirinya juga istrinya dan tidak dapat mendatangkan manfaat.
       “tidak boleh mendatangkan mudharat kepada orang lain dan tidak boleh
       membalas kemudharatan dengn kemudharatan lagi”
   2) Thalaq seperti itu boleh, karena didasarkan sabda Rasulullah SAW.
       “suatu hal yang halal yang paling dibenci Allah adalah Thalaq dalam lafad
       lain disebutkan” dan “Allah tidak memperbolehkan sesuatu yang lebih dia
       benci selain Thalaq”
c. Mubah
        Apabila Thalaq yang dilakukan karena adanya kebutuhan, Contoh: karena
jeleknya perilaku istri.
d. Sunnah
        Apabila Thalaq yang dilakukan pada saat istri mengabaikan hak-hak Allah
yang telah diwajibkan atasnya, istri rusak moralnya, berbuat zina dan tidak menjaga
diri atau berprilaku terhormat (haram).
e. Mahzhur/haram (terlarang)




                                                                                      6
              Apabila Thalaq yang dilakukan ketika istri sedang haid. Ulama mesir telah
     sepakat untuk mengharamkan Thalaq ini disebut juga Thalaq bid’ah. Disebut bid’ah
     karena suami yang menceraikan itu menyalahi perintah Allah dan sunnah rasul.
            “Wahai Nabi, apabila engkau menceraikan istri-istri kalian,maka hendaklah
     kalian ceraikan mereka pada waktu mereka dapat menghadapi iddahnya dengan
     wajar (Ath-thalaq:1)”.
            “jika ia menghendaki maka ia boleh menceraikanya sebelum ia
     mencmpurinya, demikian iddah diperintah allah ketika itu diceraikan”.
            Thalaq bid’ah sangat bertentangan dengan syariat, dan Thalaq itu terjadi saat:
          Suami menceraikan istri ketika dalam keadaan haid atau nifas
          Suami menceraikan istri dalam keadan suci ,namun sumi telah menyetubuhinya
          pda masa suci tersebut.
          Suami yang menjatuhkan Thalaq tiga terhadap istri dengan satu kalimat atau tiga
          kalimt dalam satu waktu.


3.   Macam-Macam Thalaq
     a.    Ditinjau dari segi waktu dijatuhkannya Thalaq dibagi menjadi tiga
           1) Thalaq Suni
                 adalah Thalaq yang dijtuhkan sesuai tuntunan sunnah ,dikatakan Thalaq
           suni jika memenuhi syarat:
              a) Istri yang diThalaq sudah pernah digauli, jadi jika Thalaq dijatuhkan
                 terhadap istri yang belum pernah digauli tidak termasuk Thalaq suni,
              b) Istri yang dapat melakukan iddah suci setelah diThalaq,yaitu dalam
                 keadaan suci dari haid.
              c) Thalaq itu dijtuhkan ketika istri dalam keadaan suci.
              d) Suami tidak pernah menggauli istri selama masa suci dimana Thalaq itu
                 dijatuhkan.

           2) Thalaq Bad’i
                 Thalaq yang dijatuhkan tidak sesuai atau bertentangan dengan tuntunan
           sunnah,dan tidak memenuhi syarat-syarat Thalaq suni.termasuk Thalaq ba’I
           adalah:
              a) Thalaq yang dijatuhkan terhadap istri pada waktu haid.
              b) Thalaq yang dijtuhkan terhadap istri dalam keadaan suci tapi pernah
                 digauli suami pada sat suci tersebut

           3) Thalaq Suni Wala Bad’i



                                                                                        7
           Yaitu Thalaq yang termasuk talk suni dan tidk Thalaq bd’I yitu:
       a) Thalaq yang dijatuhkan terhdap istri yang belum pernah digauli.
       b) Thalaq yang dijatuhkan terhadap istri yang belum haid atau sudah tidak
          haid.
       c) Thalaq yang dijatuhkan terhadap istri yang sedang hamil

b. Ditinjau dari tegas dan tidaknya kata-kata yang digunakan menThalaq
     1) Thalaq Shar’ih
          Yaitu Thalaq yang menggunakan kata-kta yang jelas dan tegas.
          Imam syafi’I mengatakan bahwa kata-kata yang digunakan untuk Thalaq
     sharih ada tiga, yaitu “Thalaq” “firaq”dan”sarah”. Contoh Thalaq sarih:
       a) Engkau saya Thalaq sekarang juga
       b) Engkau saya firaq sekarang juga
       c) Engkau saya saran sekarang juga
     2) Thalaq Kinayah
           Yaitu Thalaq dengan mempergunakan kata-kata sindiran atau samar-
     samar. Contoh Thalaq kinayah:
       a) Engkau sekarng telah jauh dari diriku
       b) Selesaikan sendiri segara urusanmu
          Ucapan-ucapan      tersebut   mengandung      kemungkinan      cerai   dan
     mengandung kemungkinan lain.maka menurut taqiyudin al- husaini, kedudukan
     Thalaq dengan kata-kat kinyah ini bergantung kepada niat suami.


c.   Ditinjau dari segi kemungkinan bekas suami Rujuu’ atau tidak
     1) Thalaq Raj’i
           Adalah Thalaq yang dijatuhkan suami terhadap istri yang telah di
     gauli,dan Thalaq yang pertama atau kedua kali dijatuhkan.
          Menurut Dr. As- siba’I Thalaq raj’I adalah untuk kembalinya bekas suami
     tidak memerlukan mahar,tidak memerlukan pembaruan akad nikah serta tidak
     memerlukan persaksian ,talk raj’I hanya terjadi pada Thalaq pertama dan kedua
     berdasarkan firman Allah swt.
          “Thalaq (yang dapat diRujuu’) du kali setelah itu boleh Rujuu’ algi
     dengan cara yang makruf atau menceraikan dengan cara yang baik (Al
     Baqarah:229)




                                                                                  8
         Jadi setelah tala raj’i, istri wajib beriddah, bila kemudian suami hndak
    Rujuu’ sebelum berakhir masa iddah,maka Rujuu’ bisa dilakkan namun apabila
    setelah masa iddah berakhir,namun suami tidak menyatakan Rujuu’.maka
    kedudukan Thalaq menjadi Thalaq ba’in. Dan apabila suami hendak
    Rujuu’,harus(wajib)dengan akad nikah baru,dan dengan mahar yang baru pula.
    2) Thalaq Ba’in
         Yaitu Thalaq yang tidak memberikan hak meRujuu’ bagi mantan suami
    pada istri.untuk mengembalikan ikatan perkawinan harus memulai akad nikah
    baru, lengkap dengan syarat dan rukunya. Thalaq ba’in adadua:
      a) Thalaq Ba’in Shugro
            Adalah menghilangkan kepemilikan suami terhadap istri,namun tidak
      menghilangkan      kehalalan    suami    untuk     nikh    kembali   dengan
      istri,artinya,suami bisa mengadakan akad nikah baru dengan istri, baik dalam
      masa iddahnya maupun sesudah berakhirnya masa iddah.
         Yang termasuk Thalaq ba’in shugro:
            Thalaq sebelum berkumpul
            Thalaq dengan penggantian harta(khulu’)
            Thalaq karena aib (cacat tubuh), karena salah satu dipenjara

      b) Thalaq Bain Kubro
            Adalah hilangnya kepemilikan suami terhadap istri serta tidak halalnya
      suami kembali pada istri(Rujuu’) ,kecuali istri menikah kembali dengan laki-
      laki lain,sudah berkumpul telh cerai dan telah menjalani iddahnya dengan
      wajar,Thalaq bain kubro terjadi pada Thalaq ketiga.
          
          
         
                  
          
        
                                         
           “kemudian suami       menThalaqnya (setelah Thalaq kedua),maka
    perempuan itu tidak halal lagi baginya,sampi kawin dengan suami yang lain,
    Kemudian jika suami yang lain itu menceraikannya, maka tidak ada dosa bagi
    keduanya (bekas suami pertama dan isteri) untuk kawin kembali jika keduanya
    berpendapat akan dapat menjalankan hukum-hukum Allah. Itulah hukum-
    hukum Allah, diterangkan-Nya kepada kaum yang (mau) mengetahui. (Al
    Baqarah: 230)”.
d. Ditinjau dari cara suami menyampaikan Thalaq




                                                                                 9
          1) Thalaq dengan Ucapan
                  Yaitu Thalaq yang disampaikan oleh suami dengan ucapan dihadapan
          istrinya dan istri mendengar langsung.
          2) Thalaq dengan Tulisan
                  Yaitu Thalaq yang disampaikan oleh suami secara tertulis lalu
          disampaikan pada istrinya dan hal semacam itu sah.
          3) Thalaq dengan Isyarat
                  Yaitu Thalaq yang dijatuhkan dalam bentuk isyarat oleh suami yang tuna
          wicara,namun apbil dapt menulis lebih baik dengan tulisan.
          4) Thalaq dengan Utusan
                  Yaitu Thalaq yang disampaikan oleh suami melalui perantara atau utusan
          kepada sang istri.


4.   Rukun dan Syarat Thalaq
                Rukun adalah unsur pokok yang harus ada dalam Thalaq dan terwujudnya
     Thalaq bergantung ada dan lengkapnya unsur yang dimaksud. Rukun Thalaq ada
     empat;
     a. Suami
        Suami adalah yang memiliki hak dan yang berhak menjatuhkannya, Untuk sahnya
        Thalaq, suami disyaratkan : 1)Berakal, 2)Baligh, 3)Atas kemauan sendiri11
     b. Istri
        1) Istri masih berada dalam kekuasaan suami
        2) Kedudukan istri atas perkawinan yang sah12
     c. Shighat (kata) Thalaq
        Shighat adalah kata-kata yang diucapkan oleh suami yang menunjukkan Thalaq,
        Thalaq dipandang tidak jatuh jika perbuatan suami yang menunjukkan
        kemarahan.
     d. Qasdhu
        Artinya adalah ucapan Thalaq itu memang dimaksudkan untuk Thalaq.


B. RUJUU’
1.   Pengertian Rujuu’
11
  Muhammad Bagir al-Habsyi, Op. Cit. hlm. 185.
12
  Ibid.



                                                                                     10
          Menurut bahasa arab brasal dari kata ”raja’a-yarji’u-rujk’an yang berarti
  kembali. Sedangkan menurut istilah syari’at yang dimaksud dengan rjuk adalah
  pengembalan istri yang telah diceraikan pada pernikahan yang asal sebelum
  diceraikan. Menurut ulama hanafiah yang dikemukakan oleh abu Zahrah. “Rujuu’
  ialah melestarikan perkawinan dalam masa iddah Thalaq(raj’i)”.
          Menurut Asy Syafi’i: “Rujuu’ adalah mengembalikan status hkum
  perkawinan sebagai suami istri ditengah-tengah iddah setelah terjadinya
  Thalaq(raj’i)”
          Dapat disimpulkan bahwa Rujuu’ adalah mengembalikan status hokum
  perkawinan secara penu setelah terjadi Thalaq raj’I yang dilakukan oleh bekas suami
  terhadap bekas istrinya dalam masa iddah dengan ucapan tertentu.
          Dengan demikian dapat dijelaskan bahwa dengan terjadinya Thalaq antara
  suami istri walaupun dengan Thalaq raj’I menjadikan keharaman hubungan seksual
  suami istri ,namun apabila suami menghendaki kembali pada istri atau Rujuu’,yang
  masih dalam masa iddah maka untuk menghalalkan kembali mantan istri menjadi
  istrinya lagi haruslah dengan peryataan Rujuu’ yang diucapkan oleh bekas suami,
          Hal Rujuu’ mantan suami terhadap istrinya diatur berdasarkan firman Allah
  surat Al-baqarah: 228
          
               
        “Dan suami-suaminya berhak meRujuu’inya dalam masa menanti itu, jika
  mereka (para suami) menghendaki ishlah”.
        Apabila seorang suami menjatuhkan Thalaqnya diwaktu haid maka suami
  berhak meRujuu’ strinya kembali,ketentuan ini sesuai dengan sabda nbi ketika umar
  menThalaq istrinya diwaktu haid lalu rasulullah memerintahkan untuk meRujuu’
  istrinya.
          Dengan demikian status hukum suami meRujuu’ istrinya itu tergantung
  kepada motif dan tujuan serta sesuai atau tidaknya cara menjatuhkan Thalaq itu
  dengan tuntunan sunnah.
     
                  
     
      
       
      
             
        “Apabila iddah merek telah hampir habis,maka hendaklah kalian Rujuu’
  mereka dengan bikatau teruskan perceraian secara baik pula,dan yang dmikian itu
  hendaklah hendaklah kalian persaksikan kepada orang yang adil diantra kalian, dan



                                                                                    11
     orang yang menjadi saksi itu hendaklah dilakukan kesaksianya tersebut karena
     Allah (ath-thalaq:2)”.
2.   Hukum Rujuu’
     a) Haram, Rujuu’nya apabila menyakiti istri.
     b) Makruh, jika perceraian itu lebih baik faedahnya bagi keduanya(suami istri)
     c) Jaiz (boleh), hukum Rujuu’ asli.
     d) Sunnah, jika dengan Rujuu’ itu suami ingn (bermaksud) untuk memperbaiki
        keadaan istrinya,atau Rujuu’ itu lebih berfaidah bagi keduanya.
3.   Rukun Rujuu’
     a) Istri
        Keadaan yang disyaratkan untuk istri
        1) Sudah dicampuri,apabila belum dicampuri dan terjadi Thalaq maka putuslah
           pertalian pernikahan karena isri idak mempunyai masa iddah.
        2) Istri yang tertentu,jika suami menThalaq beberapa istri,namun tidak ditentukan
           siapa yang diRujuu’ tidak sah.
        3) Thalaqnya dalah Thalaq raj’i
        4) Rujuu’ dilakukan dalam masa istri tengah menjalani iddah.
     b) Suami
        1) Rujuu’ dilakukan oleh suami dengan kehendaknya sendiri
        2) Sighat (lafadz Rujuu’)
           Lafaz Rujuu’ ada dua:
                Terus terang
                Contoh:”aku Rujuu’ kepdamu”
                Dengan bahasa kiasan
                Contoh:”aku pengen kamu”atau “aku nikahi kamu”

        3) Saksi
                 Dalam hal ini ulama berbeda pendapat sebagian mengatakan wajib,
        sedangkan yang lain mengatakan sunnah. Berkenaan dengan hal tersebut Allah
        berfirman (ath.thalaq:2):
                 Dalam ayat tersebut adalah kewajiban menghadirkan saksi yang adil
        dalam proses Rujuu’ tersebut, hal tersebut merupakan pendapat iman syafi’i yang
        lama (qaul qadim), sedangkan pada pendapat yang baru (qaul jadid), dia
        mewajibkan.




                                                                                      12
C. IDDAH
     1. Pengertian Iddah
           Iddah adalah masa menanti yang diwajibkan atas wanita yang diceraikan
     suaminya,baik karena cerai hidup ataupun karena cerai mati iddah ini bisa dengan
     cara kelahiran anak yang dikandung atau melalui hitungan bulan.
           Pada iddah tersebut sang istri tidak diperbolehkan menikah atau menawarkan
     diri pada laki-laki lain untuk menikahnya.

     2. Hukum Iddah
           Para ulama sepakat mewajibkan iddah berdasarkan firman Allah.
                      
          
           
         
        
                    
         
                  
                  
                         
           “Wanita-wanita yang diThalaq handaklah menahan diri (menunggu) tiga kali
          13
     quru' . Tidak boleh mereka menyembunyikan apa yang diciptakan Allah dalam
     rahimnya, jika mereka beriman kepada Allah dan hari akhirat. Dan suami-suaminya
     berhak meRujuu’inya dalam masa menanti itu, jika mereka (para suami)
     menghendaki ishlah. Dan para wanita mempunyai hak yang seimbang dengan
     kewajibannya menurut cara yang ma'ruf. Akan tetapi para suami, mempunyai satu
     tingkatan kelebihan daripada isterinya14. Dan Allah Maha Perkasa lagi Maha
     Bijaksana. (Al-baqarah:228)”.

     3. Pembagian Iddah
        a) Iddah bagi wanita hamil
                Adalah sampai melahirkan anak yang dikandungnya baik cerai mati
        maupun cerai hidup.
                “dan perepuan-perempuan yang hamil waktu iddah mereka itu adala
        sampai mereka melhirkan kandunganya”(ath-thalaq).
                Dari miswar bin Makhramah bahwa Subai’ah Al-aslamiyah RA pernah
        melahirkan dan bernifas setelah beberap malam kematian suaminya,lalu ia
        mendatangi rasulullah dan meminta izin untuk menikah,maka beliau memberikan
        izin kepadanya sehingga iapun menikah (HR.Bukhari).

13
  Quru' dapat diartikan suci atau haidh.
14
  Hal ini disebabkan karena suami bertanggung jawab terhadap keselamatan dan kesejahteraan rumah
tangga (lihat surat An Nisaa' ayat 34).



                                                                                                   13
                   Al-Hadawiyah dan ulama lainya menyebutkan ,bahwa wanita yang hamil
           dapat mengakhiri iddahnya dengan dua batas waktu.
              1) Melahirkan kandungannya,jika masa itu kurang dari 4 bulan 10 hari.
              2) Tetap dalam iddahnya yang normal 4 bulan 10 hari jika waktu melahirkan
                  lebih dar waktu tersebut.
                  Mereka berhujah dengan firman Allah SWT.
                      
                    
                     
              
             
            
                        
         Orang-orang yang meninggal dunia di antaramu dengan meninggalkan isteri-isteri
         (hendaklah para isteri itu) menangguhkan dirinya (ber'iddah) empat bulan sepuluh
         hari. Kemudian apabila telah habis 'iddahnya, maka tiada dosa bagimu (para
         wali) membiarkan mereka berbuat terhadap diri mereka15 menurut yang patut.
         Allah mengetahui apa yang kamu perbuat. (al-baqarah:234).

           b) Iddah Wanita Yang Menjalani Istihadhah
                  Apabila ia mempunyai hari-hari biasa menjalani masa haid ,maka ia harus
           memperhatikan kebiasan masa haid dan masa sucinya,jika ia tlah menjlani tiga
           kali masa haid maka selesai sudah masa iddahnya,
                  Iddah istri yang dalam masa haid, lalu terhenti oleh sebab yang diketahui
           atau tidak.
                  Jika berhentinya darah haid diketahui adanya penyebab tertentu (seperti
                  Karen proses penyusuan atau sakit),maka ia harus menunggu masa
                  kembalinya masa haid tersebut dan menjalani masa iddahnya sesuai dengan
                  masa haidnya meskipun memerlukan waktu yang lama.
                  jika tidak diketahui sebabnya,maka ia harus menjlani masa iddahnya selama
                  satu tahun,yaitu Sembilan bulan untuk menjalani msa hamilnya dan 3 bulan
                  untuk menjalani masa iddahnya.


           c) Iddah Wanita yang Belum Dicampuri oleh Suaminya
              
                         
               
                      


15
     Berhias, atau bepergian, atau menerima pinangan



                                                                                        14
               
           
        “Wahai orang-orang yang beriman apabila kalian menikah I wanita-
 wanita yang beriman,kemudian kali hendak menceraikan maka sebelum kalian
 menceraikannya,maka sekali-kal tidak wajib atas mereka menjalani masa
 iddahnya bagi kalian yang kalian minta untuk menyempurnakanya .maka berikah
 mereka mut’ah dan lepaskan mereka dengan car sebaik-baiknya “(Al-Ahzab: 49).
         Akan tetapi bagi istri yang suaminya meninggal dunia sebelum ia
  mencampuri istrinya, maka masa iddahya istri adalah sebagaimana jika suami
  telah mencampurnya.
  d) Iddah Wanita yang Telah Dicampuri.
         Jika belum pernah mengalami haid sama sekali, atau ia sudah sempat
  masa menopause, maka ia harus ber iddah selama tiga bulan
     
            
               
      
           
       
                
  “Dan perempuan-perempuan yang tidak haid lagi (monopause) di antara
  perempuan-perempuanmu jika kamu ragu-ragu (tentang masa iddahnya), maka
  masa iddah mereka adalah tiga bulan; dan begitu (pula) perempuan-perempuan
  yang tidak haid. Dan perempuan-perempuan yang hamil, waktu iddah mereka itu
  ialah sampai mereka melahirkan kandungannya. Dan barang -siapa yang
  bertakwa kepada Allah, niscaya Allah menjadikan baginya kemudahan dalam
  urusannya (At Thalaq:4)”.
         Jika ia sudah biasa menjalani, maka iddahnya tiga quru’.
         “wanita-wanita yang diceraikan hendaklah menahan diri(menunggu)tiga
  kali quru’”(al-Baqarah:228)
     1) Jika haid seseorang telah berhenti (menopouse) sebelum waktu yang
       seharusnya, mayoritas ulama berpendapat masa iddahnya 3 kali quru’ juga.
     2) Jika masa menopause pada usia seharusnya ,maka iddahnya adalah tiga
       bulan.


4. Hak Wanita dalam Iddah
  a) Wanita yang taat dalam iddah raj’iah, berhak menerima tempat tinggal dan
     pakaian serta segala sesuatu dari suami yang menThalaqnya segala keperluan
     hidupnya. kecuali istri berbuat durhaka, maka ia tidak berhak menerima
     apapun.
     Rasulullah pernah bersabda tentang masalah ini,




                                                                             15
                 “Dari Fatimah binti Qais, Rasulullah saw telah bersabda kepadanya
           wanita yang berhak mengambil nafkar dari rumah kediaman dari bekas
           suaminya itu apabila bekas suaminya itu berhak untuk Rujuu’ padanya
           “(HR.Ahmad dan Nasa’i)
                 Begitu juga iddah wanita yang ditinggal mati suaminya, ia berhak
           mendapatkan nafkah dalam keadaan hamil ataupun tidak.
                    
                       
             
               
               
                     
                                 
                  “Dan orang-orang yang akan meninggal dunia di antara kamu dan
           meninggalkan isteri, hendaklah berwasiat untuk isteri-isterinya, (yaitu) diberi
           nafkah hingga setahun lamanya dan tidak disuruh pindah (dari rumahnya).
           Akan tetapi jika mereka pindah (sendiri), maka tidak ada dosa bagimu (wali
           atau waris dari yang meninggal) membiarkan mereka berbuat yang ma'ruf
           terhadap diri mereka. Dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana (Al-
           baqarah:240)”

D. FASAKH
1.   Pengertian Fasakh
Batalnya akad pernikahan juga disebut fasakh.16 Menurut bahasa fasakh berasal dari
bahasa Arab ‫ فسخ – يفسخ - فسخا‬yang berarti rusak atau batal.17 Fasakh adakalanya
disebabkan:

     1. Adanya cacat dalam akad itu sendiri, contoh apabila kemudian setelah
        berlangsungnya akad nikah– bahwa si isteri termasuk makhram bagi si suami,
        karena ternyata ada hubungan kekerabatan dan sebagainya antara keduanya.
        Misalnya jika perempuan yang dinikahinya itu ternyata adalah saudaranya
        sendiri, baik saudara kandung, saudara tiri atau saudara dalam persusuan (biasa
        disebut "saudara susu").
     2. Timbulnya sesuatu yang menghambat kelangsungan akad itu sendiri. Misalnya
        apabila salah satu diantara suami atau isteri menjadi murtad (keluar dari agama
        Islam), atau apabila si suami (yang tadinya tidak beragama Islam) kini menjadi
        muslim, sementara si isteri menolak mengikuti tindakan suaminya dan memilih
        tetap dalam kemusyrikannya. Dalam hal ini akad nikah diantara mereka batal
        secara otomatis. Lain halnya apabila si isteri kebetulan termasuk ahlil-kitab
        (pemeluk agama Nasrani atau Yahudi), maka akad nikah mereka tetap




16
   Abdurrahman Al-Jaziry, Kitab al-Fiqh ‘ala al-Mazahib al-Arba’ah, Juz IV, (Beirut Libanon : Dar Kitab
Al-Ilmiayah) hlm. 118.
17
   Andi Tahir Hamid, Beberapa Hal Baru tentang Peradilan Agama dan Bidan gnya, Sinar Grafika, hlm. 22



                                                                                                    16
        berlangsung, mengingat dibolehkannya seorang muslim mengawini perempuan
        dari ahlil-kitab.18

        Adapun pengertian fasakh nikah menurut pendapat Sayyid Sabiq dalam bukunya
Fiqh As-Sunnah adalah bahwa memfasakh nikah berarti membatalkan dan melepaskan
ikatan tali perkawinan antar suami isteri.19

        Terputusnya hubungan perkawinan akibat fasakh, baik disebabkan adanya cacat
dalam akad itu sendiri maupun disebabkan sesuatu yang menghambat
keberlangsungannya (sebagaimana telah dijelaskan di atas) membatalkan akad nikah dan
menghentikannya seketika dan secara langsung, seperti yang diakibatkan oleh talak
ba’in. dan penjelasaannya adalah sebagai berikut, Fasakh bisa terjadi karena:

     a) Fasakh karena tidak terpenuhinya syarat-syarat ketika berlangsungnya akad nikah
           Setelah akad nikah ,teryata diketahi bahwa istrinya adalh saudara kandung atau
           saudara sesusuan suaminya.
           Suami istri yang masih kecil dan akad nikah oleh selain ayah. maka ketika ia
           dewasa boleh memilih meneruskan perkawinanya (khiyar baliqh) atau
           mengakhiri pernikahannya (Fasakh baliqh).
     b) Fasakh yang datang karena hal-hal yang datang setelah akad dan mematalkan
        kelangsungan pernkahan,
           Bila salah seorng suami istri murtad atau keluar dari islam dan tidak mau
           kembali.
           Jika suami yang tadnya kafir msuk islam,tapi istri masih tetap kafr,maka
           akadya batal.

2.   Sebab-Sebab Terjadi Fasakh
             Selain sebab-sebab yang sudah tersebut ada juga hal-hal yang menyebabkan
     terjadinya Fasakh.
     a) Karena ada Thalaq
        Seperti sabda rasulullah S.A.W.
               “Dari ka’ab bin Zaid R.a. bahwasanya rasulullah SaW pernah menikah
        seseorang perempuan bani gifa.masa tatkal bersetubuh dan perempuan telah
        meletakkan     kainya   dan   ia    duduk    diatas   pelaminan   kelihatan
        putih(balak)dilambungnya,lalu beliau berpaling (pergi dari perempuan itu)
        seraya berkata:ambillah kainmu ,tutuplah badanmu dan beliau tidak menyuruh
        mengambil kembali barang yang telah diberikan pda perempuan itu,”
     b) Karena gila

18
   Muhammad Bagir al-Habsyi, Fiqh Praktis II Menurut al-Qur'an -as-Sunnah dan Pendapat para Ulama ,
Buku II Cet. I, Bandung, Mizan Media Utama, 2002, hlm. 242.
19
   Muhammad Abu Zahrah, Al-Akhwal Asy-Syakhsiyah, Beirut: Dar Al-Fikri Al-Arabi, t.th., hlm. 324.



                                                                                                  17
     c) Karena penyakit kusta
            “Dari umar ra. Berkata:bilamana seorang laki-laki menikahi seorang
     perempuan .pada perempuan itu terdapat tanda-tand gila atau penyakit kusta, lalu
     disetubuhnya perempuan itu,maka hak baginya menikahinya dengan sempurna,dan
     yang demikian itu hak bagi suaminya utang atas walinya”.
     d) Karena ada penyakit menular (seperti: sipilis, TBC, dll)
             “Dari Sa’id Musayyab ra.berkata: barang siapa diantara laki-lki yang
     menikah dengan seorang perempuan ,dan pada laki-laki itu ada tanda-tanda
     gila,atau tanda-tanda yang membhayakan ,sesungguhnya perempuan itu boleh
     memilih jika mau ia tetap(dalam perkawinanya) jika ia berkehendak cerai maka si
     perempuan itu boleh bercerai.”
     e) Karena ada daging yang tumbuh pada kemaluan perempuan yang
       menghambat maksud perkkawinan (bersetubuh).
            “Dari Ali r.a berkata:barang siapa laki-laki menikahi perempuan,lalu
     dhukhul dengan perempuan itu,maka diketahuinya perempuan itu terkena
     balak(penyakit belang kulit), gial, atau penyakit kusta,maka hak baginya maskawin
     dengan sebab menyentuh9mencampuri) perempuan itu,dan maskwin itu hak bagi
     suami (supaya dikembalikan) dan utang diatas orang yang telah menipunya dari
     perempuan itu, dank ala didapatinya ada dging tumbuh (difarjinanya,hingga
     menghalangi jima’)suami itu khiyar (memilh) apabila ia menyentuhnya maka hak
     baginya maskawin sebab barng yanga telah dihalalkannya dengan farajnya”
     f) Karena anah (zakr laki-laki impoten ,tidak hidup untuk dijima’) sehingga
       tidak dapat mencapai apa yang dimaksudkan dengan nikah.
             “Dari sa’id bin Musayyab r.a berkata:Umar bin Khattab telah memutuskan
     laki-laki yang anah diberi janji satu tahun”
            Janji satu tahun disini adalah untuk mengetahui dengan jelas bahwa suami itu
     anah atau tidak atau mungkin bisa sembuh.
            Selain itu Fasakh juga terjadi oleh sebab:
       1) Pernikahan yang dilakukan oleh wali dengan laki-laki yang bukan jodohnya.
          Contoh: budak yang merdeka ,orang pezina dengan orang terpelihara ddan
          sebaginya.
       2) Suami tidak mau memulangkan istrinya,tapi tidak juga memberikn belanja
          ,sedangkan istrinya itu tidak rela,
       3) Suami miskin dan kemiskinanya telah jelas oleh beberapa saksi yang dapat
          dipercaya.sehingga ia tidak sanggup untuk memberi nafkah (baik pakaian
          sederhana,tempat,maskawin) belum dibayarkan sebelum campur.
3.   Pelaksanaan Fasakh
            Apabila terjadi hal-hal atau keadaan penyebab Fasakh itu jelas dan
     dibenarkan syara’ maka untuk menetapkan Fasakh tidak perlu putuskan pengadilan,
     akan tetapi pelaksanaannya:



                                                                                      18
a) Jika suami tidak memberi nafkah bukan karena kemiskinannya,sedangkan hakim
  telah memaksa dia untuk itu,maka dalam hal ini hendaklah diadilkan dulu kepada
  pihak berwenang (qadi atau hakim nikah) dipengadilan agama .supaya yang
  berwenang dapay menyelesaikannya sebagaimana mestinya.
   “Dari Umar r.a bahwa ia pernh berkirim surat kepad pembesar-pembesar
   tentara-tentara laki-laki yang telah jauh dari istri –istrinya mereka supaya
   pembesar(pemimpin) itu menangkap mereka,agar mereka mengirimkan nafkah
   atau menceraikan istri mereka.jika mereka telah menceraikannya hendaklah
   mereka kirim semua nafkah yang telah mereka tahan.”
b) Setelah hakim memberi janji kepada suami sekurang-kurangnya tiga hari ,mulai
  istri mengadu –mengadu.setelah mas perjanjian itu habis,sedangkan sumi tidak
  dapat memenuhinya,barulah hakim memFasakh didepan hakim setelah di izinkan.
  “Dari Abu Hurairah r.a. rasulullah saw bersabda tentang laki-laki yang tidak
  memperoleh apa yang akan dinafkahkannya kepada istrinya, bolehlah keduanya
  bercerai (HR Daruquthni dan al- Baihaqi)”.




                                                                             19
                                                BAB III
                                              PENUTUP
 A. Kesimpulan

          Thalaq berasal dari kata “‫ ”اطالق‬yang menurut bahasa adalah “melepaskan atau
meninggalkan” , dalam istilah fiqh berarti pelepasan perkawinan. Hokum thalaq pada
dasarnya adalah mkaruh, sesuai dengan hadits dibawah ini :
                                       ََ ْ
          ‫عن ابْن عمر عن النَّبي صلَّى اللَّهم علَيْه وسلَّم قَال أَبغضُ الحالل إلَى َللا تَعالَى الطَّالق‬
            َ          َ َّ                   َْ َ َ َ َ َ                        َ          َ َ َُ      َ
              “Perkara halal yang paling dibenci dalam pandangan Allah adalah Thalaq”
          Sehingga kalau dijabarkan humuny thalaq itu berkembnag sesuai dengan kondisi,
yakni bisa saja Wajib, Makruh, Mubah, Sunnah ataupun haram. Dalam pembagiannya
thalaq ada beberapa maca, yakni :
     e.    Ditinjau dari segi waktu dijatuhkannya Thalaq dibagi menjadi tiga : Thalaq
           Suni, Thalaq Bad’I, Thalaq Suni Wala Bad’i.
     f.    Ditinjau dari tegas dan tidaknya kata-kata yang digunakan menThalaq, yakni :
           Thalaq Shar’ih, Thalaq Kinayah
     g.    Ditinjau dari segi kemungkinan bekas suami Rujuu’ atau tidak, yakni : Thalaq
           Raj’I, Thalaq Ba’in(Shugro/Kubro)
     h.    Ditinjau dari cara suami menyampaikan Thalaq, yakni : Thalaq dengan Ucapan,
           Thalaq dengan Tulisan, Thalaq dengan Isyarat, Thalaq dengan Utusan
          Dalam istilah munakahat ada juga yang dinamakan rujuu’, Rujuu’ ialah
melestarikan perkawinan dalam masa iddah Thalaq(raj’i)” Hukum Rujuu’
     e) Haram, Rujuu’nya apabila menyakiti istri.
     f) Makruh, jika perceraian itu lebih baik faedahnya bagi keduanya(suami istri)
     g) Jaiz (boleh), hukum Rujuu’ asli.
     h) Sunnah, jika dengan Rujuu’ itu suami ingn (bermaksud) untuk memperbaiki
          keadaan istrinya,atau Rujuu’ itu lebih berfaidah bagi keduanya.
          Iddah adalah masa menanti yang diwajibkan atas wanita yang diceraikan
suaminya,baik karena cerai hidup ataupun karena cerai mati iddah ini bisa dengan cara
kelahiran anak yang dikandung atau melalui hitungan bulan.
          Batalnya akad pernikahan juga disebut fasakh.20 Menurut bahasa fasakh berasal
dari bahasa Arab ‫ فسخ – يفسخ - فسخا‬yang berarti rusak atau batal. Adapun pengertian

20
  Abdurrahman Al-Jaziry, Kitab al-Fiqh ‘ala al-Mazahib al-Arba’ah, Juz IV, (Beirut Libanon : Dar Kitab
Al-Ilmiayah) hlm. 118.



                                                                                                       20
fasakh nikah menurut pendapat Sayyid Sabiq dalam bukunya Fiqh As-Sunnah adalah
bahwa memfasakh nikah berarti membatalkan dan melepaskan ikatan tali perkawinan
antar suami isteri.
       Sebab-Sebab Terjadi Fasakh
    g) Karena ada Thalaq
    h) Karena gila
    i) Karena penyakit kusta
    j) Karena ada penyakit menular (seperti: sipilis, TBC, dll)
    k) Karena ada daging yang tumbuh pada kemaluan perempuan yang menghambat
       maksud perkkawinan (bersetubuh).
    l) Karena anah (zakr laki-laki impoten ,tidak hidup untuk dijima’) sehingga tidak
       dapat mencapai apa yang dimaksudkan dengan nikah.




                                                                                  21
                                   DAFTAR PUSTAKA


Abi Bakr, Al-Sayyid (al-Sayyid al-Bakr).Tt. I'ânât al-Thâlibîn. Juz 4. Beirut: Dar Ihya`

            al-Turats al-'Arabiy

Al-Jaziry, Abdurrahman. Tt. Kitab al-Fiqh ‘ala al-Mazahib al-Arba’ah. Juz IV. Beirut

            Libanon : Dar Kitab Al-Ilmiayah

al-Jurjaniy, Ali bin Muhammad. 1998. Kitab al-Ta'rifat. cet. Ke-3. Beirut: Dar al-Kutub

            al-'Ilmiyyah

al-Raziy al-Jashshash, Abu Bakr Ahmad. 1993. Ahkâm al-Qur`ân. Juz 3. Beirut: Dar al-

            Fikr

al-Zuhayliy, Wahbah. 1989. al-Fiqh al-Islâmiy wa Adillatuh. cet. Ke-3, Juz 7 Damaskus,

            Dâr al-Fikr.

Ayyub, Syaikh Hasan, fikih keluarga, Jakarta: Pustaka Kautsar.

Bagir al-Habsyi, Muhammad. 2002. Fiqh Praktis II Menurut al-Qur'an -as-Sunnah dan

            Pendapat para Ulama , Buku II Cet. I, Bandung, Mizan Media Utama.

Ghazaly,Abd.Rahman, fiqih Munakahat, Jakarta: Kencana Prenada Media Group, 2006.

Ibn Katsir, 'Imad al-Din Abi al-Fida' Isma'il. 1994. Tafsîr al-Qur`ân al-'Azhîm. Juz 4.

            Riyadh: Maktabah Dar al-Salam.

Ruwas Qal'ahjiy, Muhammad dan Hamid Shadiq Qinyabiy. 1998. Mu'jam Lughaħ al-

            Fuqahâ`, 'Arabiy-Ingliziy Divorce Repudiction. Riyadh: Dar al-Nafa`is

Sabiq, Al-Sayyid. 1983. Fiqh al-Sunnah. Juz 2. Beirut: Dar al-Fikr

Salim, Amru abdullah mun’im, Fiqih Thalak Berdasarkan Al-Qur’an dan Sunnah,

            Jakarta: Pustaka Azzam, 2005.

Sulayman, Muhammad 'Abdillah al-'Asyqar. 1994. Zubdat al-Tafsîr. Riyadh: Maktabah

            Dar al-Salam.




                                                                                          22

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Tags:
Stats:
views:1623
posted:5/29/2012
language:Malay
pages:22
Description: 1. pengertian Thalaq, Rujuu’, dan Fasakh? 2. hukum Thalaq, Rujuu’, dan Fasakh? 3. macam Thalaq, Rujuu’, dan Fasakh? 4. syarat dan rukun Thalaq, Rujuu’, dan Fasakh?