Makalah Pernikahan (DOC)

Document Sample
Makalah Pernikahan (DOC) Powered By Docstoc
					                                          BAB I

                                    PENDAHULUAN

    1.1 Latar Belakang




                                             
                                                
              

    “ Maha suci allah, yang telah menciptakan pasangan-pasangan semuanya, dari segala
yang ditumbuhkan oleh bumi, dan dari diri mereka sendiri, maupun dari apa saja yang tidak
mereka ketahui” (QS. Ya sin (36):36).

    
                                    

“ Dan segala suatunya kami ciptakan berpasang-pasang” (QS. Al –dzariyat (51): 49).

       Begitu kah kehendah allah Swt. Dalam segala ciptaannya, dari jenis manusia, hewan
maupun tumbuhan. Melalui perkawinan antara pasangan – pasangan itulah, semuanya
beranak pinak dan berkembang biak, sehingga menjamin kesinambungan jenis masing-
masing. Terus-menerus sampai saat akhir yang dikehendaki oleh-nya.

       Untuk itulah, dalam diri masing-masing pasangan : yang laki-laki dan yang
perempuan (pada jenis manusia) atau yang jantan dan yang betina (pada jenis hewan ), allah
menciptakan pelbagai insyrumen khusus, yang memiliki insting atau hasrat sexual ( syahwah)
yang saling tarik menarik antara keduanya. Dengan insting itu, mereka saling terdorong untuk
melaksanakan tugas masing-masing dengan sebaik-baiknya, demi mencapai tujuan mulia
yang memang telah ditetapkan olehnya.

Khusus kepada jenis manusia, allah Swt berseru:

                                          
                                                     
                                            
     
                                
“Wahai manusia sekalian, sungguh kami telah menciptakan kamu dari jenis laki-laki dan
perempuan, dan kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling
mengenal...” (QS al- hujurat (49): 13).




   
                                              
                                                    
                                   
   
                                                       
                                                

“ Wahai manusia sekalian, bertakwalah kepada tuhanmu yang telah menciptakan kamu dari
satu nafs (jiwa atau diri), dan dari nafs yang satu itu ia menciptakan pasangannya, lalu dari
keduanya ia mengembang biak kan laki-laki dan perempuan yang banyak” (QS al- Nisa’
(4):1)

    Disamping itu, allah tidak menghendaki menjadikan manusia – makhluk yang paling
dimuliakan olehnya- menjadi sama seperti makhluk-makhluk-nya yang lain, yang
menyalurkan syahwah (hasrat seksualnya) dalam hubungan antara kedua jenis kelamin: laki-
laki dan perempuan (atau jantan atau betina) secara bebas sebebasnya, tanpa batas dan tanpa
aturan; tetapi ditetapkanlah bagi manusia aturan main yang aman dan sempurna, yang
menjaga kemuliaannya dan memelihara kehormatannya. Yaitu sebuah lembaga yang dikenal
sebagai “pernikahan “, dan yang dalam agama islam, bahkan dalam semua agama samawi,
dijadikan sebagai satu-satunya cara penyaluran yang sah dan diridhai allah Swt.

A. Rumusan Masalah
    1) Apa pengertian Nikah?
    2) Bagaiman Dasar Hukum Nikah?
    3) Apa Hikmah dan Tujuan Nikah?
B. Tujuan
    1) Ingin memahami pengertian nikah
    2) Ingin memahami Dasar Hukum Nikah
    3) Ingin memahami Dasar Hukum dan Tujuan nikah
                                              BAB II

                                        PEMBAHASAN

1. Pokok Pembahasan
    A. Pengertian Nikah

        Kata per-nikah-an, berasal dari bahasa arab: nikah, yang berarti “pengumpulan” atau “
berjalinnya sesuatu yang lain”. Misalnya, ranting-ranting pohon yang saling berjalin satu
sama lain.

        Adapun dalam istilah hukum syariat, nikah adalah akad (ikatan janji) yang
menghalalkan pergaulan sebagai suami-istri (termasuk hubungan seksual) antara laki-laki dan
seorang perempuan bukan mahram yang memenuhi berbagai persyaratan tertentu, dan
menetapkan hak dan kewajiban asing-masing demi membangun keluarga yang sehat secara
lahir dan batin.

         Selain itu, adakalanya kata nikah digunakan juga dalam arti jima’ (senggama). Kata
lain yang biasa digunakan untuk nikah adalah zawaj (oleh sebagian kalangan awam
dilafalkan zuwaj) yang berarti perkawinan.1
         Sedangkan para ulama fiqih memberikan pengertian yang berbeda tentang
pernikahan, tetapi seluruh definisi tersebut mengandung esensi yang sama meskipun
redaksionalnya berbeda. Ulama Madzhab Syafi’i mendefinisikannya dengan “akad yang
mengandung kebolehan melakukan hubungan suami istri dengan lafadz nikah/kawin atau
yang semakna dengan itu”. Sedangkan ulama Madzhab Hanafi mendefinisikannya dengan
“akad yang memfaedahkan halalnya melakukan hubungan suami istri antara seorang lelaki
dan seorang wanita selama tidak ada halangan syara’”.2

         Menurut ahli ushul golongan syafi’, nikah adalah aqad yang dengannya menjadi
halal hubungan kelamin antara pria dan wanita. Menurut arti majazi ialah bersetubuh 3



1
  Muhammad Bagir, Fiqih Praktis II; Menurut al-Qur’an, as-Sunnah, dan Pendapat Para Ulama’, (Bandung:
  Karisma, 2008), hal. 3-4
2
  Uwaidah Syaikh Kamil Muhammad, Fiqih Wanita, (Jakarta Timur: Pustaka Al-Kautsar, 1998), hal. 396
3
  Fachri, perkawinan sex dan hukum, pekalongan :T.B. bahagia1986 , hal : 62
    B. Beberapa Firman Allah Dan Hadist Yang Mengandung Anjuran Untuk
       Menikah

       Cukup banyak teks keagamaan ( dalam al-Qur’an dan hadist Nabi Saw.) yang
    mengandung anjuran kepada kaum muslimin secara langsung ataupun tidak langsung
    untuk melakukan pernikahan dan membangun keluarga yang sehat lahir batin.
    Adakalanya dengan memberikan informasi tentang keadaan para nabi dan rasul, yang
    sepatutnya diteladani:

    
                                              
     
     
                                  

       ” dan telah kami utus para rasul sebelum kamu dan kami jadikan bagi mereka istri-
    istri dan keturunan” (QS Al-Ra’d [13]: 38)

    Dan, adakalanya allah menyebutkan tentang sebagian dari karunia agung-Nya kepada
    manusia dalam wujud keluarga yang terdiri atas istri, anak-anak dan cucu-cucu yang
    dimiliki oleh seorang,

                                             
                                               
                                            
                                              
                                       
        

” dan allah menjadikan bagi kamu istri-istri dari jenis kamu sendiri dan menjadikan
bagimu dari istrimu itu anak-anak dan cucu-cucu, dan memberimu rezeki dari yang baik-
baik..”(QS Al-Nahl [16]:72).

       Demikian pula, di samping hadis-hadis yang telah dikutipkan sebelum ini,
    yangmengandung anjuran untuk menikah, tidak sedikit pula sabda nabi Saw. Yang
    memberikan pengertian betapa bahagia dan beruntungnya seorang laki-laki yang
    beristrikan seorang perempuan yang salehah.

        Di antaranya, sabda beliau,”Empat hal, yang barang siapa memperolehnya, sungguh
    ia telah dikaruniai seluruh kebaikan dunia dan akhirat: (1) hati yang selalu bersyukur,
    (2)lidah yang selalu berzikir,(3)tubuh yang selalu sabar menghadapi cobaaan, dan
    (4)seorang istri yang selalu menjaga kepentingan suaminya: baik yang menyangkut
    kehormatan dirinya sendiri maupun harta sang suami.” (HR Ath-Thabari)

    Diriwiyatkan pula bahwa Nabi Saw. Pernah bersabda, “ barang siap oleh Allah seorang
    istri yang salehah, maka sesunggguhnya Allah Swt. Telah membantunya (dalam
    melaksanakan) setengah dari (ajaran) agamanya, maka hendaklah mereka bertakwa
    kepada Allah dalam setengahnya yaang lain. “ (HR Al- Hakim)

          Dan adakalanya Allah menyebutkan tentang sebagian dari karunia agung-Nya
kepada manusia dalam wujud keluarga yang terdiri atas istri, anak-anak, cucu-cucu yang
dimiliki oleh seseorang;4
            
    
             
              
                
                               
Artinya:
Allah menjadikan bagi kamu istri-istri dari jenis kamu sendiri dan menjadikan bagimu dari
istri-istri kamu itu, anak-anak dan cucu-cucu, dan memberimu rizki dari yang baik-baik.
Maka mengapakah mereka beriman kepada yang bathil dan mengingkari nikmat Allah?.5


          Demikian pula dalam firman Allah yang lain;6
     
        
          
            
                   
Artinya:
Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari
jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-

4
  Muhammad Bagir, op.cit, hal. 7
5
  QS. An-Nahl: 72
6
  Muhammad Bagir, op.cit, hal. 7
Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar
terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir.7
          Tidak cukup dengan itu, bahkan Allah memerintahkan kepada masyarakat muslim
agar saling membantu dan menolong dalam mengupayakan pernikahan bagi orang-orang
yang bersendiri (yakni laki-laki yang tidak beristri dan perempuan yang tidak bersuami), dan
untuk itu Allah menjamin diperolehnya rizki bagi mereka yang (walaupun miskin) bertekad
melangsungkan pernikahan demi memelihara diri dari perbuatan haram dan bersedia
memikul tanggung jawab sebagai bagian dari masyarakat muslim;8
            
            
    
     
                         
Artinya:
Dan nikahkanlah orang-orang yang sendirian (yang tidak beristri atau bersuami) diantara
kamu, dan orang-orang yang layak (menikah) dari hamba-hamba sahayamu yang laki-laki
dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. Jika mereka miskin, Allah akan
memampukan mereka dengan karunia-Nya, dan Allah Maha Luas (pemberian-Nya) lagi
Maha Mengetahui.9


     C. Hukum Pernikahan

        Hukum nikah menurut asalnya (taklifiyah) adalah mubah. Yakni tidak mendapat
pahala bagi orang yang mengerjakan dan tidak mendapat ancaman siksa bagi orang yang
meninggalkan.10

        Para ulama menyebutkan bahwa nikah diperintahkan karena dapat mewujudkan
maslahat; memelihara diri, kehormatan, mendapatkan pahala dan lain-lain. Oleh karena itu,
apabila pernikahan justru membawa madharat maka nikahpun dilarang. Dari sini maka
hukum nikah dapat dapat dibagi menjadi lima:



7
  QS. Ar-Ruum: 21
8
  Muhammad Bagir, op.cit, hal. 7-8
9
  QS. An-Nuur: 32
10
  sumber: http://raisahakim.com/makna-perkawinan-secara-bahasa-dan-syara/ diakses 15 april
2011
1. Wajib.
   Pernikahan menjadi wajib bagi yang memiliki cukup kemampuan untuk
   melakukannya (secara finansial dan fisikal), dan sangat kuat keinginannya untuk
   menyalurkan hasrat seksual dalam dirinya, sementara ia khawatir terjerumus dalam
   perzinaan apabila tidak menikah. Ini mengingat bahwa menjaga kesucian diri dan
   menjauhkannya dari perbuatan haram adalah wajib hukumnya, sedangkan hal itu
   tidak dapat terpenuhi kecuali dengan menikah.
   Akan tetapi, seandainya hasratnya untuk menikah sangat kuat, namun ia tidak
   memiliki kemampuan untuk menafkahi istrinya kelak, lalu ia terpaksa tidak
   melakukan pernikahan, hendaklah ia bersabar dan sungguh-sungguh dalam upaya
   menjaga dirinya dari pada terjerumus dalam perzinaan, seraya mengikuti petunjuk
   firman allah swt.:

                    
                    
      
            
                                                

   “ dan mereka yang tidak memiliki kemampuan untuk menikah, hendaklah menjaga
   kesucian dirinya, sampai allah mampukan mereka dengan karunianya” (QS al – Nur
   (24): 33)
   Diantara hal-hal yang seyogianya dilakukan orang seperti itu, antara lain: dengan
   memperbanyak ibadah, menambah ilmu pengetahuan, berolahraga, membaca buku-
   buku bermanfaat ataupun menghibur hati dengan musik yang sehat dan sebagainya.
   Disamping itu, jika tidak terlalu memberatkan atau menghambat kelancaran
   pekerjaan, hendaklah memperbanyak puasa (tentunya dengan memenuhi segala
   persyaratan keabsahannya, secara lahiriah dan batiniah), sesuai dengan sabda nabi
   saw: “ wahai para pemuda, barang siapa diantara kalian memiliki kemampuan untuk
   menikah, hendaklah ia menikah. Karena yang demikian itu lebih “menundukkan”
   pandangan mata dan lebih menjamin kesucian diri. Dan barang siapa tidak memiliki
   kemampuan untuk itu, hendaklah berpuasa, sebab puasa akan menghindarkannya
   dari dorongan kejahatan.” (HR Al- jama’ah)


2. Sunnah (mustahab atau dianjurkan).
  Pernikahan tidak menjadi wajib, namun sangat dianjurkan (namun di-sunnah-kan),
  bagi siapa-siapa yang memiliki hasrat atau dorongan seksual untuk menikah dan
  memiliki kemampuan untuk melakukannya (secara fisikal maupun finansial );
  walaupun merasa yakin akan kemampuannya mengendalikan dirinya sendiri,
  sehingga tidak khawatir akan terjerumus dalam perbuatan yang diharamkan allah.
  Orang seperti ini, tetap dianjurkan menikah, sebab – bagaimanapun- nikah adalah
  tetap lebih afdhal dari pada mengonsentrasikan diri secara total ( ber-takhalli) untuk
  beribadah (yakni seperti dalam tradisi rabbaniyah atau selibat, dengan menjalankan
  hidup tanpa menikah, yang dilakukan oleh sebagian para pendeta katolik, demi
  berbakti sepenuhnya kepada tuhan). Tentang rabbaniyah ( tradisi para rahib) seperti
  itu. Pernah bersabda : “menikahlah kalian, dan jangan menyerupai para rahib dari
  kalangan nasrani.” (HR Al-baihaqi)
  Dan sabda beliau, “ sesungguhnya allah telah menggantikan tradisi rahbaniyah
  dengan al-hanifiyyah as-samhah ( agama islam yang lurus, lapang, dan tidak
  menyulitkan).” ( HR thabarani)
  Dan sabda beliau lagi, “ sesungguhnya kalian (agar menjadi umat yang kuat, secara
  kualitas dan kuantitas )”, sehingga aku akan membanggakan kalian kelak, pada hari
  kiamat.”
  Disamping itu, seorang yang menghindarkan pernikahan sedangkan ia memiliki
  kemampuan untuk itu, menunjukkan kurangnya rasa tanggung jawabnya terhadap
  kepentingan umat, atau adakalanya menunjukkan adanya kecenderungan untuk
  penyaluran hasrat seksual secara haram, diluar pernikahan. Sebagai mana dikatakan
  umar bin khattab r.a. kepada seorang laki-laki bernama abu’z- zawaid, “ tidak ada
  yang menghalangi mu dari pada melakukan pernikahan, selain ketidak mampuan atau
  kedurhakaan!”
3. Haram
           Pernikahan menjadi haram bagi siapa yang mengetahui dirinya tidak memiliki
  kemampuan untuk memenuhi dirinya tidak memiliki kemampuan untuk memenuhi
  kewajibannya sebagai suami, baik dalam hal nafkah lahiriah ( yang bersifat finansial)
  maupun nafkah batiniah ( yakni kemampuan melakukan hubungan seksual)yang
  wajib diberikan kepada istri.
           Menurut al- qurthubi, apabila seorang laki-laki menyadari bahwa dirinya tidak
  mampu memenuhi kewajibannya terhadap seorang istri, baik yang bersifat sehari-hari,
  ataupun kewajiban-kewajibannya yang lain, seperti ia menderita sakit (impotensi)
   yang menyebabkan dirinya tidak mampu memberikan “nafkah batiniah” kepada si
   istri, maka tidak halal baginya untuk mengawini perempuan itu, kecuali setelah
   menyampaikan kepadanya tentang ketidakmampuannnya itu. Atau, hendaklah ia
   menunda perkawinannya itu sampai pada suatu saat kemudian, setelah ia menyakini
   bahwa dirinya kini telah memiliki kemampuan yang memadai untuk itu.
            Demikian pula tidak halal baginya melakukan penipuan terhadap calon istri,
   misalnya dengan mengaku-ngaku sebagai berasal dari keluarga bangsawan, atau
   pejabat terhormat, sedangkan semua itu berdasarkan kebohongan atau penipuan
   semata-mata.
            Sebaliknya, wajib pula atas seorang perempuan – apabila merasa yakin bahwa
   dirinya tidak akan mampu memenuhi hak-hak calon suaminya, atau ia menderita
   suatu penyakit yang dapat menghalang-halangi kebahagiaan suaminya kelak, seperti
   apabila ia dalam keadaan sakit jiwa (gila) atau menderita penyakit yang menular, atau
   cacat fisik yang membuatnya tidak mampu melakukan hubungan seksual dengannya
   dan sebagainya- maka tidak halal baginya menyembunyikan semua itu, atau
   menerima pinangan sebelum memberitahukan kekurangannya itu kepada si calon
   suami.
            Sebagai konsekuensi dari semua itu, seandainya salah satu pihak (suami atau
   istri) mendapati cacat-cacat seperti tersebut diatas, yang tidak pernah diberitahukan
   kepadanya sebelumnya, maka pihak yang merasa dirugikan berhak membatalkan
   perkawinan tersebut. Sama seperti seorang pembeli berhak mengembalikan barang
   yang telah dibelinya kepada si penjual, manakala terdapat cacat padanya yang tidak
   diberitahukan oleh si penjual sebelum itu.
4. Makruh,
            Pernikahan menjadi makruh (kurang disukai menurut hukum agama) bagi
   seorang laki-laki yang sebetulnya tidak membutuhkan perkawinan, baik disebabkan
   tidak mampu memenuhi hak calon istri yang bersifat nafkah lahiriah maupun yang
   tidak memiliki hasrat (atau kemampuan ) seksual, sementara siperempuan tidak
   merasa terganggu dengan ketidak mampuan si calon suami. Misalnya, karena
   perempuan itu kebetulan seorang kaya raya dan juga tidak memiliki hasrat kuat untuk
   melakukan hubungan seksual. Kurang disukai perkawinan seperti itu (meskipun tidak
   dinilai haram seperti dalam contoh diatas, sebelum ini), terutama apabila dapat
           mengakibatkan si laki-laki seperti itu meninggalkan kegiatannya dalam beribadah
           ataupun dalam menuntut ilmu yang biasa dilakukanya sebelum itu.11
       5. Mubah .
           Mubah bagi yang mampu dan aman dari fitnah, tetapi tidak membutuhkannya atau
           tidak memiliki syahwat sama sekali seperti orang yang impotent atau lanjut usia, atau
           yang tidak mampu menafkahi, sedangkan wanitanya rela dengan syarat wanita
           tersebut harus rasyidah (berakal).12
           Juga mubah bagi yang mampu menikah dengan tujuan hanya sekedar untuk
           memenuhi hajatnya atau bersenang-senang, tanpa ada niat ingin keturunan atau
           melindungi diri dari yang haram.


       D. Tujuan Perkawinan

           Tujuan perkawinan ialah menurut perintah allah untuk memperoleh keturunan yang
sah dalam masyarakat dengan mendirikan rumah yang ramah dan teratur.

           Selain itu ada pula pendapat yang mengatakan bahwa tujuan perkawinan dalam Islam
selain untuk memenuhi kebutuhan hidup jasmani dan rohani manusia, juga sekaligus untuk
membentuk keluarga dan memelihara serta meneruskan keturunan dalam menjalani hidupnya
di dunia ini, juga mencegah perzinaan, agar tercipta ketenangan dan ketenteraman jiwa bagi
yang bersangkutan, ketenteraman keluarga dan masyarakat.

           Dalam buku Ny. Soemijati, S.H. disebutkan bahwa: tujuan perkawinan dalam Islam
untuk memenuhi tuntutan hajat tabiat kemanusiaan, berhubungan antara laki-laki dan
perempuan dalam rangka mewujudkan suatu keluarga yang bahagia dengan dasar cinta dan
kasih sayang, untuk memperoleh keturunan yang sah dalam masyarakat dengan mengikuti
ketentuan-ketentuan yang telah diatur oleh syari’ah.

           Rumusan tujuan perkawinan di atas dapat diperinci sebagai berikut:

           a. Menghalalkan hubungan kelamin untuk memenuhi tuntutan hajat tabiat
               kemanusiaan.
           b. Mewujudkan suatu keluarga dengan dasar cinta kasih.




11
     Muhammad Bagir, op.cit, hal. 4-7
12
     http://abuzubair.wordpress.com/2007/09/01/hikmah-dan-hukum-nikah/ diakses tgl 16 april 2011
        c. suatu lembaga yang dibentuk untuk melindungi masyarakat, agar umat manusia
              menjaga dirinya dari kejahatan dan zina. Untuk melancarkan penghidupan
              kekeluargaan dan pensahan keturunan.

        Dari rumusan di atas, Filosof Islam Imam Ghazali membagi tujuan dan faedah
        perkawinan kepada lima hal, seperti berikut:

        a) Memperoleh keturunan yang sah yang akan melangsungkan keturunan serta
              memperkembangkan suku-suku bangsa manusia.
        b) Memenuhi tuntutan naluriah hidup kemanusiaan.
        c) Memelihara manusia dari kejahatan dan kerusakan.
        d) Membentuk dan mengatur rumah tangga yang menjadi basis pertama dari
              masyarakat yang besar di atas dasar kecintaan dan kasih sayang.
        e) Menumbuhkan kesungguhan berusah mencari rezeki penghidupan yang halal, dan
              memperbesar rasa tanggung jawab.13

           Kembali kepada tujuan pernikahan, kita dapat berkata bahwa tujuan dekatnya bagi
setiap pasangan adalah meraih sakinah dengan pengembangan potensi mawaddah dan
rahmah, sedang tujuan akhirnya adalah melaksanakan tugas kekhalifahan dalam pengabdian
kepada Allah swt. Yang untuk maksud tersebut lahir fungsi-fungsi yang harus diemban oleh
keluarga.14

           Ayat lain yang biasanya dikutip dan dijadikan sebagai dasar untuk menjelaskan
tujuan pernikahan adalah sebagaimana dalam Al-Quran QS. Ar-rum :21 :

     
        
           
             
                   
Artinya:
Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari
jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-
Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar
terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir.15
           Berdasarkan ayat di atas jelas bahwa Islam menginginkan pasangan suami istri yang

13
   Mohd. Idris ramulyo, hukum perkawinan islam, (jakarta : PT bumi aksara, 1996) hal :27
14
   Quraish Shihab, Pengantin Al-Quran, (Jakarta: Lentera hati,), hal. 80
15
   QS. Ar-Ruum: 21
telah membina suatu rumah tangga melalui akad nikah tersebut bersifat langgeng. Terjalin
keharmonisan di antara suami istri yang saling mengasihi dan menyayangi itu sehingga
masing-masing pihak merasa damai dalam rumah tangganya.16 Rumah tangga seperti inilah
yang diinginkan Islam, yakni rumah tangga sakinah, sebagaimana diisyaratkan oleh Allah
swt dalam surat Ar-Ruum: 21 di atas.

         Ada tiga kata kunci yang disampaikan oleh Allah dalam ayat tersebut, dikaitkan
dengan kehidupan rumah tangga yang ideal menurut Islam, yaitu sakinah (as-sakinah),
mawaddah (al-mawaddah), dan rahmat (ar-rahmah).

         Ulama’ tafsir menyatakan bahwa as-sakinah adalah suasana damai yang melingkupi
rumah tangga yang bersangkutan; masing-masing pihak menjalankan perintah Allah SWT
dengan tekun, saling menghormati, dan saling toleransi.

         Dari suasana as-sakinah tersebut akan muncul rasa saling mengasihi dan
menyayangi (al-mawaddah), sehingga rasa tanggung jawab kedua belah pihak semakin
tinggi. Selanjutnya, para mufassir mengatakan bahwa dari as-sakinah dan al-mawaddah
inilah nanti muncul ar-rahmah, yaitu keturunan yang sehat dan penuh berkah dari Allah
SWT, sekaligus sebagai pencurahan rasa cinta dan kasih suami istri dan anak-anak mereka.

     E. Beberapa Hikmah Dan Faedah Pernikahan
     Para ulama telah mencatat banyak sekali hikmah dan faedah pernikahan, antara lain
sebagai berikut:
     1. Lestarinya spesies manusia dengan adanya keturunan dari hasil pernikahan.Hasrat
        seksual adalah – sebagaimana telah disinggung diatas- termasuk yang terkuat diantara
        berbagai hasrat manusia yang terus-menerus menuntut dan mendorong agar dipenuhi.
        Jika hal itu tidak terlaksana, pasti akan menimbulkan pelbagai kompleks kejiwaan
        yang sangat merugikan, bahkan bila telah memuncak, dapat mendorong kearah
        kejahatan, dan menjerumuskan kedalam perzinaan: perbuatan keji yang sangat dibenci
        dalam agama, disamping pelbagai mudarat dan penyakit jasmani maupun ruhani, serta
        kekacauan sosial yang timbul darinya.
     2. Terpenuhinya kebutuhan naluri seksual masing-masing suani-istri dalam rangka
        menjaga (kesucian) farj (kemaluan).Pernikahan adalah cara paling utama – bahkan
        satu-satunya cara yang diridhai allah dan rasulnya- untuk memperoleh keturunan dan

16
 http://www.dakwatuna.com/2008/pernikahan-sebagai-landasan-menuju-keluarga-sakinah/ di akses tgl 16
   april 2011
        menjaga kesinambungan jenis manusia, seraya memelihara kesucian nasab (silsilah
        keturunan) yang sangat diperhatikan oleh agama.
     3. Masing – masing suami-istri dapat saling membantu dalam membina keturunan dan
        mempertahankan hidupnya.Pernikahan menumbuhkan rasa tanggung jawab antara
        suami istri dalam pengelolaan rumah tangga, serta dalam pembagian tugas dan
        tanggung jawab masing-masing dalam mengupayakan kesejahteraan keluarga dan
        pemeliharaan anak-anak. Sabda nabi saw. “ masing- masing kamu adalah gembala
        (pemimpin) dan masing-masing kamu akan dimintai pertanggung jawaban berenaan
        dengan gembalaannya ( atau kepemimpinannya). Seorang imam (penguasa negeri)
        adalah pemimpin atas rakyatnya dan akan dimintai pertanggung jawaban berkenaan
        dengan rakyatnya itu. Seorang suami adalah pemimpin atas keluarga-nya dan akan
        dimintai pertanggung jawaban berkenaan dengan kepemimpinannya itu. Seorang istri
        adalah pemimpin rumah keluarganya dan akan dimintai pertanggung jawaban
        berkenaan dengan kepemimpinannya. Seorang pelayan adalah pemimpin atas harta
        majikannya yang dipercayakan kepadanya dan akan dimintai pertanggung jawaban
        berkenaan dengan kepemimpinannya. Maka setiap orang dari kamu adalah pemimpin
        dan akan dimintai pertanggung jawaban atas apa yang dipimpinnya.” (HR Bukhari
        dan Muslim )
     4. Mengatur hubungan suami-istri atas dasar saling memberikan hak dan pertolongan
        yang produktif dalam rangka saling mencintai dan menyayangi, saling menghormati
        dan memberikan dukungan. Pernikahan mempererat hubungan atara keluarga suami
        dan keluarga istri, dan pada gilirannya, memper erat hubungan kasih sayang serta
        menjalin persaudaraan antar anggota masyarakat yang sebelumnya mungkin tidak,
        atau belum, saling mengenal .17


     F. Rukun-Rukun Nikah

Untuk sahnya pernikahan, ada empat rukun yang harus terpenuhi, yaitu:

        1) Adanya calon suami yang memenuhi persyaratan sebagai: laki-laki, beragama
            islam, jelas identitasnya, tidak terkena hambatan perkawinan (misalnya berkaitan
            dengan status sebagai mahram yang telah dijelaskan sebelum ini ), cakap


17
  Abu bakar jabir el-jazairi, pola hidup muslim (minhajul muslim) mu’amalah,( PT remaja rosdakarya, bandung
1991) hal:163
        bertindak hukum untuk hidup berumah tangga, tidak sedang mengerjakan haji dan
        umraoh, dan belum memiliki empat orang istri.
    2) Adanya calon istri yang memenuhi persyaratan sebagai: perempuan, beeragama
        islam (atau dari kalangan Ahl’l-Kitab dengan beberapa persyaratan tertentu), jelas
        identitasnya, tidak terkena hambatan perkawinan, tidak sedang dalam keadaan
        menjadi istri bagi laki-laki lain atau sedang menjalani masa iddah karena
        perceraian atau iddah karena kematian, dan tidak sedang mengerjakan haji dan
        umroh.
    3) Wali: yaitu ayah calon, atau washy (yang diwasiati) atau kerabat yang menurut
        urutan paling dekat kemudian ishbah calon istri (keturunan dari ayah) atau orang
        yang berilmu dari kalangan keluarganya, atau dari kalangan penguasa.
        Rasulullah saw bersabda : “ wanita mana saja yang menikah tanpa izin walinya
        maka nikahnya batal..batal..batal ” (HR. Abu daud, at-tirmidzy dan Ibnu majah )
    4) Dua saksi. Yang dimaksud dengan dua saksi yaitu dua orang atau lebih yang adil
        untuk menghadiri akad nikah. Hal ini berdasarkan firman allah Qs. Al-thalaq:2:

   
                       
    
     
       
       
         

 “Apabila mereka Telah mendekati akhir iddahnya, Maka rujukilah mereka dengan baik
 atau lepaskanlah mereka dengan baik dan persaksikanlah dengan dua orang saksi yang
 adil di antara kamu dan hendaklah kamu tegakkan kesaksian itu Karena Allah.
 Demikianlah diberi pengajaran dengan itu orang yang beriman kepada Allah dan hari
 akhirat. barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya dia akan mengadakan baginya
 jalan keluar”.

        Hal-hal yang berkenaan dengan dua orang saksi:

      a. Hendaknya berjumlah dua orang atau lebih.
      b. Keduanya harus orang adil. Keadilanya harus dapat dibuktikan, yaitu bahwa
        keduanya tidak pernah berbuat dosa besar, dan umumnya meninggalkan dosa-
                dosa kecil, oleh karena itu, orang fasik yang melakukan zina atau minum-
                minuman keras, atau memakan harta riba, tidak sah menjadi saksi.
           5) Shigat : (bentuk ucapan yakni pengucapan “ijab” yang mengandung penyerahan
               dari pihak wali siperempuan, dan “kabul” yang mengandung penerimaan dari
               pihak calon suami)
           6) Mahar atau sedekah: ialah sesuatu yang diberikan kepada seorang perempuan
               dalam rangka menghalalkan hubungan seksual dengan perempuan tersebut. Mahar
               ini hukumnya wajib.

                Beberapa persoalan tentang mahar, antara lain:

                  a. Disunatkan untuk meringankan beban mahar.
                  b. Disunatkan membaca basmalah dalam akad nikah.
                  c. Mahar itu sah bila berupa sesuatu yang mubah dan nilainya di atas dinar.
                  d. Mahar boleh didahulukan bersama akad, dan boleh pula ditangguhkan
                       seluruhnya atau sebagianya.
                  e. Mahar itu berkaitan dengan tanggung jawab suami pada sat diadakan akad
                       nikah, dan wajib diberikan kepada istri bila sudah melakukan hubungan
                       seksual. Jika terjadi perceraian sebelum melakukan hubugnan seksual,
                       maka kewajiban mengeluarkan mahar itu menjadi lepas separuhnya, dan
                       yang separuhnya menjadi tanggunganya.
                  f. Bila suami meninggal dunia sebelum mengadakan hubungan seksual
                       (bersetubuh) dengan istrinya, padahal mereka telah melakukan akad nikah,
                       maka istrinya tetap memiliki hak waris.
           7) Bantuan Ahli Nikah/Penghulu/kadi.

                    Dimana-mana dinegeri-negeri Islam, maka akad nikah itu selalu dilakukan
                dengan bantuan seorang ahli tentang pernikahan/penghulu/kadi. Sebab kalau
                perkawinan tidak sah oleh karena syarat-syarat akad nikah ada yang tidak betul
                maka aakibatnya anak-anak yang lahir dari perkawinan itu, hak warisan dan lain-
                lain juga tidak dapat diakui sah. Ahli pernikahan/penghulu/kadi itu berada
                dibawah pengawasan hakim agama.18

       G. Bentuk-Bentuk Perkawinan


18
     Fachri, perkawinan sex dan hukum, pekalongan :T.B. bahagia1986 , hal :76
1. Monogami

          Monogami adalah suatu bentuk perkawinan / pernikahan di mana si suami tidak
menikah dengan perempuan lain dan si isteri tidak menikah dengan lelaki lain. Jadi
singkatnya monogami merupakan nikah antara seorang laki dengan seorang wanita tanpa ada
ikatan penikahan lain.19

2. Poligami

          Poligami adalah bentuk perkawinan di mana seorang pria menikahi beberapa wanita
atau seorang perempuan menikah dengan beberapa laki-laki.20

3. Homogami

          Homogami ialah perkawinan antara pria dan wanita dari lapisan sosial yang sama.
Misalnya: orang kaya cenderung kawin dengan anak orang kaya pula, suku Batak cenderung
kawin dengan anak dari keluarga Batak pula, dan sebagainya.
4. Heterogami

          Heterogami ialah perkawinan antara pria dan wanita dari lapisan sosial yang
berlainan. Misalnya: orang keturunan bangsawan menikah dengan orang biasa, orang Batak
menikah dengan orang Sunda.
5. Endogami

Endogami adalah suatu perkawinan antara etnis, klan, suku, kekerabatan dalam lingkungan
yang sama.

6. Eksogami

          Eksogami adalah suatu perkawinan antara etnis, klan, suku, kekerabatan dalam
lingkungan yang berbeda. Eksogami dapat dibagi menjadi dua macam, yakni :

a. Eksogami connobium asymetris terjadi bila dua atau lebih lingkungan bertindak sebagai
pemberi atau penerima gadis seperti pada perkawinan suku batak dan ambon.

b. Eksogami connobium symetris apabila pada dua atau lebih lingkungan saling tukar-
19
     muhammad hasbi http://wwwgooglecommh.blogspot.com/2010/10/bab22.html. diakses tgl 6
      april 2011



20
     http://s3s3p.wordpress.com/2010/01/26/monogami-poligami-dan-perceraian-menurut-hukum-
       islam/, diakses tgl 16 april 2011
menukar jodoh bagi para pemuda.21

7. hipergami adalah adat perkawinan dalam sistem kasta yang mendorong agar seorang
gadis menikah dengan seorang pria dari kastanya sendiri atau dengan pria dari kasta yang
lebih tinggi

8. hipogami adalah menikah dengan wanita atau pria yang sederajat atau di bawahnya.




21
  http://organisasi.org/macam-jenis-bentuk-perkawinan-pernikahan-poligini-poliandri-endogami-
eksogami-dll diakses tgl 1 april. 2011 jam 9.49
                                          BAB III

                                        PENUTUP



2. KESIMPULAN

       Adapun dalam istilah hukum syariat, nikah adalah akad (ikatan janji) yang
menghalalkan pergaulan sebagai suami-istri (termasuk hubungan seksual) antara laki-laki dan
seorang perempuan bukan mahram yang memenuhi berbagai persyaratan tertentu, dan
menetapkan hak dan kewajiban asing-masing demi membangun keluarga yang sehat secara
lahir dan batin.

Selain itu, adakalanya kata nikah digunakan juga dalam arti jima’ (senggama). Kata lain yang
biasa digunakan untuk nikah adalah zawaj (oleh sebagian kalangan awam dilafalkan zuwaj)
yang berarti perkawinan

         Cukup banyak teks dalam al-Qur’an dan Hadits yang mengandung anjuran kepada
kaum muslim (secara langsung atau tidak langsung) untuk melakukan pernikahan dan
membangun keluarga yang sehat lahir bathin. Adakalanya dengan memberikan informasi
tentang keadaan para nabi dan rasul, yang sepatutnya diteladani. Diantarannya adalah Surat
Ar-Ra’d: 38, An-Nahl: 72, Ar-Ruum: 21, dan An-Nuur: 32.
         Nikah jika ditinjau dari segi hukum syar’i, maka ada lima macam. Terkadang hukum
nikah itu bisa wajib, sunnah, mubah, makruh, bahkan bisa juga berhukum haram.
   Para ulama telah mencatat banyak sekali hikmah dan faedah pernikahan, antara lain
sebagai berikut:

   a) Lestarinya spesies manusia dengan adanya keturunan dari hasil pernikahan

   b) Terpenuhinya kebutuhan naluri seksual masing-masing suani-istri dalam rangka
       menjaga (kesucian) farj (kemaluan).

   c) Masing – masing suami-istri dapat saling membantu dalam membina keturunan dan
       mempertahankan hidupnya

   d) Mengatur hubungan suami-istri atas dasar saling memberikan hak dan pertolongan
       yang produktif dalam rangka saling mencintai dan menyayangi

       tujuan pernikahan, kita dapat berkata bahwa tujuan dekatnya bagi setiap pasangan
adalah meraih sakinah dengan pengembangan potensi mawaddah dan rahmah, sedang tujuan
akhirnya adalah melaksanakan tugas kekhalifahan dalam pengabdian kepada Allah swt. Yang
untuk maksud tersebut lahir fungsi-fungsi yang harus diemban oleh keluarga.

Bentuk-Bentuk Perkawinan : Monogami, Poligami, Homogami, Heterogami, Endogami,
Eksogami, Hipogami, Hipergami.
                                       DAFTAR PUSTAKA

Bagir, Muhammad. 2008. Fiqih Praktis II; Menurut al-Qur’an, as-Sunnah, dan Pendapat
        Para Ulama’. Bandung: Karisma.2008
El-jazairi, Abu bakar jabir, pola hidup muslim (minhajul muslim) mu’amalah; Bandung; PT
        remaja rosdakarya, 1991

Fachri, perkawinan sex dan hukum; pekalongan: Bahagia,1986

Ramulyo, mohd idris, Hukum perkawinan islam; jakarta: PT Bumi aksara,1996

Shihab, Quraish. Pengantin Al-Quran. Jakarta: Lentera hati.
http://raisahakim.com/makna-perkawinan-secara-bahasa-dan-syara/ diakses 15 april 2011

http://organisasi.org/macam-jenis-bentuk-perkawinan-pernikahan-poligini-poliandri-endogami-
eksogami-dll diakses tgl 1 april. 2011

http://s3s3p.wordpress.com/2010/01/26/monogami-poligami-dan-perceraian-menurut-hukum-
    islam/, diakses tgl 16 april 2011

muhammad hasbi http://wwwgooglecommh.blogspot.com/2010/10/bab22.html. diakses tgl 6 april
     2011

http://www.dakwatuna.com/2008/pernikahan-sebagai-landasan-menuju-keluarga-sakinah/ di akses tgl 16 april
         2011

http://abuzubair.wordpress.com/2007/09/01/hikmah-dan-hukum-nikah/ diakses tgl 16 april 2011

http://raisahakim.com/makna-perkawinan-secara-bahasa-dan-syara/ diakses 15 april 2011

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Tags:
Stats:
views:1156
posted:5/29/2012
language:Chinese
pages:20
Description: 1) pengertian Nikah? 2) Dasar Hukum Nikah? 3) Hikmah dan Tujuan Nikah?