Docstoc

17098784-SMKTeknik-Distribusi-Tenaga-Listrik-Jilid-IISuhadi

Document Sample
17098784-SMKTeknik-Distribusi-Tenaga-Listrik-Jilid-IISuhadi Powered By Docstoc
					Suhadi, dkk.




TEKNIK
DISTRIBUSI
TENAGA LISTRIK
JILID 2
SMK




       Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan
       Direktorat Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah
       Departemen Pendidikan Nasional
Hak Cipta pada Departemen Pendidikan Nasional
Dilindungi Undang-undang




TEKNIK
DISTRIBUSI
TENAGA LISTRIK
JILID 2
Untuk SMK

Penulis Utama           : Suhadi
                          Tri Wrahatnolo
Perancang Kulit         : Tim

Ukuran Buku             : 17,6 x 25 cm




 HAR     SUHARDI, Bambang
 t                Teknik Distribusi Tenaga Listrik Jilid 2 untuk SMK/oleh
         Suhadi, Tri Wrahatnolo ---- Jakarta : Direktorat Pembinaan Sekolah
         Menengah Kejuruan, Direktorat Jenderal Manajemen Pendidikan
         Dasar dan Menengah, Departemen Pendidikan Nasional, 2008.
            xii. 207 hlm
            Daftar Pustaka : A1-A2
            Glosarium        : B1-B5
            ISBN             : 978-979-060-059-1
                               978-979-060-061-4



Diterbitkan oleh
Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan
Direktorat Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah
Departemen Pendidikan Nasional
Tahun 2008
                         KATA SAMBUTAN


Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT, berkat rahmat dan
karunia Nya, Pemerintah, dalam hal ini, Direktorat Pembinaan Sekolah
Menengah Kejuruan Direktorat Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar
dan Menengah Departemen Pendidikan Nasional, telah melaksanakan
kegiatan penulisan buku kejuruan sebagai bentuk dari kegiatan
pembelian hak cipta buku teks pelajaran kejuruan bagi siswa SMK.
Karena buku-buku pelajaran kejuruan sangat sulit di dapatkan di pasaran.

Buku teks pelajaran ini telah melalui proses penilaian oleh Badan Standar
Nasional Pendidikan sebagai buku teks pelajaran untuk SMK dan telah
dinyatakan memenuhi syarat kelayakan untuk digunakan dalam proses
pembelajaran melalui Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 45
Tahun 2008 tanggal 15 Agustus 2008.

Kami menyampaikan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada
seluruh penulis yang telah berkenan mengalihkan hak cipta karyanya
kepada Departemen Pendidikan Nasional untuk digunakan secara luas
oleh para pendidik dan peserta didik SMK.

Buku teks pelajaran yang telah dialihkan hak ciptanya kepada
Departemen Pendidikan Nasional ini, dapat diunduh (download),
digandakan, dicetak, dialihmediakan, atau difotokopi oleh masyarakat.
Namun untuk penggandaan yang bersifat komersial harga penjualannya
harus memenuhi ketentuan yang ditetapkan oleh Pemerintah. Dengan
ditayangkan soft copy ini diharapkan akan lebih memudahkan bagi
masyarakat khsusnya para pendidik dan peserta didik SMK di seluruh
                                                    i
Indonesia maupun sekolah Indonesia yang berada d luar negeri untuk
mengakses dan memanfaatkannya sebagai sumber belajar.

Kami berharap, semua pihak dapat mendukung kebijakan ini. Kepada
para peserta didik kami ucapkan selamat belajar dan semoga dapat
memanfaatkan buku ini sebaik-baiknya. Kami menyadari bahwa buku ini
masih perlu ditingkatkan mutunya. Oleh karena itu, saran dan kritik
sangat kami harapkan.



                                           Jakarta, 17 Agustus 2008
                                           Direktur Pembinaan SMK
              KATA PENGANTAR
        Sebagai buku pegangan, presentasi dalam buku ini ditekankan pada
pokok-pokok yang diperlukan dalam praktek distribusi tenaga listrik sehari-
hari. Oleh sebab itu disini akan lebih banyak terlibat gambar-gambar dan
tabel-tabel dari pada rumus-rumus yang rumit. Rumus-rumus yang disajikan
hanya bersifat praktis dan sederhana.
        Buku ini disusun berdasar Kurikulum SMK Edisi tahun 2004, yang
merupakan penyempurnaan dari Kurikulum SMK Edisi tahun 1999 sebagai
bagian dari rencana jangka panjang upaya untuk lebih meningkatkan
kualitas lulusan sekolah menengah kejuruan. Penulis telah berusaha
maksimal untuk memenuhi harapan sesuai dengan tujuan dan misi yang
ada di dalam kurikulum tersebut.
        Sebagai buku panduan untuk mencapai standard kompetensi kinerja
secara nasional, sangat di sadari bahwa buku ini masih jauh dari sempurna,
saran dan masukan yang konstruktif dan membangun terhadap buku ini
maupun umpan balik berdasarkan pelaksanaan di lapangan sangat
dinantikan dan terbuka pada semua pihak.
       Penulis sangat berterima kasih kepada Sub Direktorat Pembinaan
Sekolah Menengah Kejuruan, Direktorat Jenderal Manajemen Pendidikan
Dasar dan Menengah, Departemen Pendidikan Nasional, yang telah
memberikan kesempatan kepada penulis untuk menyajikan karya terbaik
berupa penulisan buku, walalupun masih jauh dari sempurna.
        Terima kasih juga penulis sampaikan kepada bapak Munadji, BA
direktur CV. Bintang Lima Surabaya, dan bapak Drs. Heru Subagyo selaku
Ketua AKLI Jawa Timur dan rekan-rekan APEI yang telah memberikan
referensi yang sangat bermanfaat dalam penulisan buku ini.
       Akhirulkalam, penulis menyampaikan penghargaan dan terima kasih
yang sebesar-besarnya kepada isteri dan anak-anaknya yang telah banyak
mengorbankan jam-jam istirahat, hari-hari Minggu dan hari-hari libur untuk
kepentingan penulisan buku ini oleh suami dan ayah mereka.




                                    ii
                          SINOPSIS
        Buku ini menekankan pokok-pokok yang diperlukan dalam praktek
distribusi tenaga listrik sehari-hari. Pengguna buku ini adalah siswa SMK
jurusan teknik distribusi tenaga listrik. Di dalam buku ini banyak disajikan
gambar-gambar yang dapat membantu/mempermudah para siswa agar
mengenal materi yang ada di lapangan/industri.
       Materi dalam buku ini sebagian besar diambil dari bahan pelatihan
yang dilakukan oleh para praktisi (kontraktor listrik), tingkat Ahli Madya
(setara D3) dan Ahli Muda (setara SMK), juga materi pelatihan dari diklat
yang sesuai dengan kompetensi yang diinginkan. Penggunaan buku ini
didampingi modul yang disusun sesuai dengan Kurikulum SMK tahun 2004.
      Buku ini menyajikan gambar-gambar rakitan (susunan) hasil kerja
yang sudah jadi dan alat-alat kerja yang digunakan. Penulis mengharapkan
para pembimbing praktik       (guru) sudah memiliki keterampilan (skill)
memadai sehingga mampu menjelaskan gambar –gambar yang ada.
      Materi dalam buku ini merupakan materi terapan yang sangat
menarik untuk di kaji lebih dalam.




                                    iii
                                  DAFTAR ISI
PENGANTAR DIREKTUR PEMBINAAN SMK.....................................                                      i
KATA PENGANTAR PENULIS.............................................................                       ii
SINOPSIS ............................................................................................    iii
DAFTAR ISI ..........................................................................................    iv
PETA KOMPETENSI ............................................................................             vi

JILID 1
BAB I PENDAHULUAN ......................................................................                  1
1-1 Pemanfaatan Tenaga Listrik .........................................................                  1
1-2 Kualitas Daya Listrik ....................................................................            1
1-3 Keselamatan Pemanfaat Tenaga Listrik ......................................                           2
1-4 Sistem Ketenagalistrikan ...............................................................              3
1-5 Klasifikasi Sistem Tenaga Listrik .................................................                   5
1-6 Regulasi Sektor Ketenagalistrikan ................................................                    5
1-7 Standarisasi dan Sertifikasi ...........................................................              7
BAB II SISTEM DISTRIBUSI TENAGA LISTRIK ..............................                                   11
2-1 Pengertian dan Fungsi Distribusi Tenaga Listrik .......................                              11
2-2 Klasifikasi Saluran Distribusi Tenaga Listrik ............................                           14
2-3 Tegangan Sistem Distribusi Sekunder .........................................                        27
2-4 Gardu Distribusi .........................................................................           31
2-5 Trafo Distribuis .............................................................................       42
2-6 Pelayanan Konsumen ..................................................................                47
2-7 Dasar-dasar Perencanaan Jaringan Distribusi .........................                                53
BAB III ALAT PEMBATAS DAN PENGUKUR .....................................                                 63
3-1 Pembatas .......................................................................................     63
3-2 Pemasangan, pengoperasian dan pemeliharaan .......................                                   66
3-3 Alat Ukur Energi Arus Bolak-balik ..............................................                     66
3-4 Jenis-jenis kWH Meter ..................................................................             75
3-5 Pemasangan Alat Pembatas dan Pengukur ...............................                                82

JILID 2
BAB IV JARINGAN DISTRIBUSI TEGANGAN RENDAH ..................                                            95
4-1 Tiang Saluran Tegangan Rendah ...............................................                        95
4-2 Saluran Tegangan Rendah ..........................................................                  100
4-3 Memasang Instalasi Pembumian ...............................................                        130
4-4 Memasang Saluran Kabel Tanah Tegangan Rendah ...................                                    145
4-5 Sambungan Pelayanan ...............................................................                 162
4-6 Gangguan pada Saluran Udara Tegangan Rendah ..................                                      181
4-7 Mengatasi Gangguan pada Sistem Tenaga Listrik ..................                                    185
4-8 Pengaman terhadap Tegangan Sentuh ....................................                              188
BAB V JARINGAN DISTRIBUSI TEGANGAN MENENGAH ..............                                              205
5-1 Konsep Dasar dan Sistem ............................................................                205

                                                      iv
5-2   Saluran Kabel Tanah Tegangan Menengah ..............................                           216
5-3   Penyambungan kabel tanah ......................................................                234
5-4   Saluran Udara Tegangan Menengah .........................................                      237
5-5   Konstruksi Saluran Udara Tegangan Menengah .....................                               239
5-6   Konstruksi Palang Sangga (Cross Arm, Travers) .....................                            264
5-7   Telekomunikasi untuk Industri Tenaga Listrik ...........................                       275
5-8   Baterai dan Pengisinya ................................................................        288

JILID 3
BAB VI SAKELAR DAN PENGAMAN PADA JARING DISTRIBUSI                                                   293
6-1 Perlengkapan Penghubung/pemisah ........................................                         293
6-2 Transformator ................................................................................   307
6-3 Saklar dan Fuse …..………………………………………………...                                                         319
6-4 Pengaman ....................................................................................    339
6-5 Jenis Pengaman ............................................................................      349
6-6 Saklar Seksi Otomatis .................................................................          351
6-7 Penutup Balik Otomatis (PBO) ...................................................                 355

DAFTAR PUSTAKA ..............................................................................
DAFTAR TABEL ....................................................................................
DAFTAR GAMBAR ................................................................................
DAFTAR ISTILAH ..................................................................................




                                                    v
        KODE, JUDUL, KOMPETENSI DAN SUB KOMPETENSI
        SESUAI STANDAR KERJA KOMPENTENSI NASIONAL
      PROGRAM KEAHLIAN TEKNIK DISTRIBUSI TENAGA LISTRIK
   KODE               JUDUL                         SUB KOMPETENSI
 KOMPETENSI         KOMPETENSI
                                          Merencanakan dan menyiapkan pemasangan
                                           APP 1 fasa
 BAB IV APP         Memasang APP          Memasang APP 1 Fasa
 DIS.KON.001        Fasa Tunggal
     (2).A                                Memeriksa hasil pemasangan APP 1 fasa
                                          Membuat laporan berita acara pemasangan

                                          Merencanakan dan menyiapkan pemasangan
                    Memasang APP           APP 3 fasa
                    Fasa tiga             Memasang APP 3 fasa
DIS.KON.002 (2).A
                    Pengukuran            Memeriksa hasil pemasangan APP 3 fasa
                    Langsung
                                          Membuat laporan/berita acara pemasangan

                                          Merencanakan dan menyiapkan pemasangan
                    Memasang APP           APP 3 fasa dengan CT-TR
DIS.KON.003
                    Fasa tiga dengan      Memasang APP 3 fasa dengan CT – TR
                    transformator arus
(2).A                                     Memeriksa hasil pemasangan APP 3 fasa
                    (TA) tegangan
                                           dengan CT-TR
                    rendah (TR)
                                          Membuat laporan/berita acara pemasangan

                                          Merencanakan dan menyiapkan pemasangan
                    Memasang Alat          APP 3 fasa TM
                    Pengukur Fasa         Memasang APP 3 fasa TM
DIS.KON.004 (2).A
                    Tiga Tegangan         Memeriksa hasil pemasangan APP 3 fasa TM
                    Menengah
                                          Membuat laporan/berita acara pemasangan

                                          Merencanakan dan menyiapkan pemasangan
                                           rele pembatas
                    Memasang rele         Memasang Rele pembatas
DIS.KON.005 (2).A   arus lebih untuk
                    pembatas daya         Memeriksa hasil pemasangan rele pembatas
                                          Membuat laporan/berita acara pemasangan

                                          Merencanakan dan menyiapkan pemasangan
                                           alat bantu pengukuran
                    Memasang alat         Memasang alat bantu pengukuran
DIS.KON.006 (2).A
                    bantu pengukuran     Memeriksa hasil pemasangan rele pembatas
                                          Membuat laporan/berita acara pemasangan

                                          Menerapkan prosedur pemeliharaan
                    Memelihara            Menyiapkan pemeliharaan
                    instalasi APP         Memelihara instalasi APP
DIS.HAR.001(2).A
                    pengukuran
                    langsung              Memeriksa instalasi APP
                                          Membuat laporan

DIS.HAR.002(2).A    Memelihara            Menerapkan prosedur pemeliharaan

                                          vi
   KODE               JUDUL                        SUB KOMPETENSI
 KOMPETENSI         KOMPETENSI
                    instalasi APP       Menyiapkan pemeliharaan
                    pengukuran tidak
                                        Memelihara instalasi APP
                    langsung
                                        Memeriksa instalasi APP
                                        Membuat laporan

                                        Menerapkan prosedur pemeliharaan
                    Mengganti           Menyiapkan penggantian
                    Instalasi APP       Mengganti instalasi APP
DIS.HAR.003(2).A
                    Pengukuran
                    Langsung            Memeriksa instalasi APP
                                        Membuat laporan

                                        Menerapkan prosedur pemeliharaan
                    Mengganti           Menyiapkan penggantian
                    Instalasi APP       Mengganti instalasi APP
DIS.HAR.004(2).A
                    pengukuran tidak
                    langsung            Memeriksa instalasi APP
                                        Membuat laporan

                                        Merencanakan dan mempersiapkan pendirian
                                         tiang dengan/tanpa penopangnya
  BAB V TR                              Mendirikan tiang
                    Mendirikan/menan
 DIS.KON.008        am tiang            Memasang tiang penopang
     (2).A                              Mengindetifikasi masalah penanaman tiang
                                        Membuat laporan penanaman tiang

                                        Merencanakan dan mempersiapkan
                                         pemasangan SKUTR
                                        Memasang perlengkapan pelengkap
                    Memasang saluran    Memasang kawat tambat
DIS.KON.009 (2) A   kabel udara
                    tegangan rendah     Menarik SKUTR
                                        Mengindetifikasi masalah pemasangan SKUTR
                                        Membuat laporan pemasangan SKUTR

                                        Merencanakan dan mempersiapkan
                                         pemasangan instalasi pembumian
                                        Memasang instalasi pembumian
                    Memasang
                                        Mengukur tahanan elektroda
DIS.KON.010 (2).A   instalasi
                    pembumian           Mengidentifikasi masalah pemasangan instalasi
                                         pembumian
                                        Membuat laporan pemasangan instalasi
                                         pembumian
                    Memasang            Merencanakan dan mempersiapkan
                    konektor Saluran     pemasangan konektor
DIS.KON.011 (1).A   Kabel Udara         Memasang konektor sadapan SKUTR
                    Tegangan Rendah
                                        Memasangk konektor lurus
                    (SKUTR)

                                        vii
  KODE                JUDUL                        SUB KOMPETENSI
KOMPETENSI          KOMPETENSI
                                         Memasang sambungan SKUTR dengan SKTR
                                         Mengidentifikasi masalah masalah pemasangan
                                          konektor
                                         Membuat laporan pemasangan konektor

                                         Merencanakan dan mempersiapkan penggelaran
                                          SKTR
                    Menggelar saluran    Menggelar SKTR
DIS.KON.012 (2).A   Kabel Tegangan       Menyambung SKTR
                    Rendah (SKTR)
                                         Mengidentifikasi masalah penggelaran SKTR
                                         Membuat laporan

                                         Merencanakan dan mempersiapkan
                    Memasang              pemasangan PHB-TR
                    Peralatan Hubung     Memasang PHB-TR
DIS.KON.013 (1).A
                    Bagi Tegangan        Mengidentifikasi masalah pemasangan PHBTR
                    Rendah ( PHBTR)
                                         Membuat Laporan

                                         Merencanakan dan mempersiapkan
                                          pemasangan SUTR
                                         Memasang Perlengkapan pelengkap dan
                    Memasang Saluran      isolator
DIS.KON.014 (2).A   Udara Tegangan       Memasang kawat tambat
                    Rendah (SUTR)        Menarik SUTR
                                         Mengidentifikasi masalah pemasangan SUTR
                                         Membuat laporan pemasangan SUTR

                                         Menerapkan prosedur pengoperasian
                                         Menyiapkan pengoperasian
                                         Menyiapkan dokumen pengoperasian
                    Mengoperasikan
DIS.OPS.001(2).A    sambungan            Mengoperasikan sambungan pelanggan
                    pelanggan            Menanggulangi masalah operasi
                                         Memeriksa dan membuat laporan
                                        Menerapkan prosedur pengoperasian

                                         Menyiapkan pengoperasian.
                    Mengoperasikan
                    Saluran Kabel        Menyiapkan dokumen pengoperasian
                    Tegangan rendah      Mengoperasikan SKTR dan kabel opstyg baru
DIS.OPS.002(2).A
                    (SKTR) atau
                    opstyg tegangan      Menanggulangi masalah operasi
                    rendah baru          Memeriksa dan membuat laporan




                                         viii
  KODE               JUDUL                             SUB KOMPETENSI
KOMPETENSI         KOMPETENSI
                                             Menerapkan prosedur pengoperasian
                                             Menyiapkan pengoperasian
                   Mengoperasikan
                   peralatan hubung          Menyiapkan dokumen pengoperasian
DIS.OPS.003(2).A   bagi tegangan             Mengoperasikan PHB-TR
                   rendah (PHB-TR)
                                             Menanggulangi masalah operasi
                   baru
                                             Memeriksa dan membuat laporan
                                        
                                             Menerapkan prosedur pengoperasian
                   Mengoperasikan
                   Semi Automatic            Menyiapkan pengoperasian
                   Change Over               Mengoperasikan SACO
DIS.OPS.004(2).A
                   (SACO) pada
                   jaringan tegangan         Menanggulangi masalah operasi
                   rendah                    Memeriksa dan membuat laporan

                   Mengganti fuse            Menerapkan prosedur pengoperasian
                   pada Peralatan            Menyiapkan pengoperasian
DIS.OPS.005(2).A   Hubung Bagi
                                             Mengganti Fuse PHB-TR
                   Tegangan Rendah
                   (PHB TR)                  Memeriksa dan membuat laporan

                                             Menerapkan prosedur pengoperasian

                                             Menyiapkan pengoperasian.
                   Mengoperasikan
                                             Menyiapkan dokumen pengoperasian
DIS.OPS.006(2).A   saluran udara
                   tegangan rendah           Mengoperasikan SUTR baru
                                             Menanggulangi masalah operasi
                                             Memeriksa dan membuat laporan

                                             Menerapkan prosedur pengoperasian
                                             Menyiapkan sarana pekerjaan
                   Mencari gangguan
DIS.OPS.007(1).A   pada saluran udara        Mencari gangguan pada SUTR
                   tegangan rendah           Menanggulangi masalah operasi
                                             Memeriksa dan membuat laporan

                                             Menerapkan prosedur pengoperasian

                   Mengidentifikasi          Menyiapkan pelaksanaan
                   gangguan pada             Menyiapkan dokumen pengoperasian
DIS.OPS.008(2).A   sistem Alat
                                             Melaksanakan identifikasi sistem APP
                   Pembatas dan
                   Pengukur (APP)            Menanggulangi masalah operasi
                                             Memeriksa dan membuat laporan

 BAB VI TM         Menggelar Saluran         Merencanakan dan mempersiapkan
 DIS.KON.015       Kabel Tegangan             penggelaran SKTM
     (2).A         Menengah (SKTM )          Menggelar SKTM

                                             ix
   KODE               JUDUL                        SUB KOMPETENSI
 KOMPETENSI         KOMPETENSI
                                         Mengidentifikasi masalah penggelaran SKTM
                                         Membuat laporan

                                         Merencanakan dan mempersiapkan
                                          pemasangan kotak sambung dan kotak ujung
                                          SKTM
                    Memasang kotak       Memasang kotak sambung
                    sambung dan kotak    Melakukan berbagai macam pembubutan
                    ujung Saluran
DIS.KON.016 (2).A                        Memasang kotak ujung
                    Kabel Tegangan
                    Menengah             Memasang arester dan instalasi pembumian
                    (SKTM)
                                         Mengidentifikasi masalah pemasangan kotak
                                          sambung dan kotak ujung
                                         Membuat laporan

                                         Merencanakan dan mempersiapkan
                                          pemasangan SUTM
                    Memasang Saluran     Memasang perlengkapan pelengkap dan isolator
                    Udara Tegangan
                                         Memasang kawat tambat
DIS.KON.017 (2).A   Menengah
                    (SUTM )              Menarik SUTM
                                         Mengidentifikasi masalah pemasangan SUTM
                                         Membuat laporan pemasangan SUTM

                                         Merencanakan dan mempersiapkan
                                          pemasangan SUTM
                    Memasang
                    peralatan            Memasang peralatan penghubung/pemisah
DIS.KON.018 (2).A
                    penghubung/pemis     Mengidentifikasi masalah pemasangan
                    ah                    peralatan penghubung/pemisah
                                         Membuat laporan

                                         Merencanakan dan mempersiapkan
                                          pemasangan SKUTM
                    Memasang Saluran     Memasang perlengkapan pelengkap
                    Kabel Udara          Memasang kawat tambat
DIS.KON.019 (2).A   Tegangan
                    Menengah             Menarik SKUTM
                    (SKUTM )             Mengidentifikasi masalah pemasangan SKUTM
                                         Membuat laporan

                    Memasang kotak       Merencanakan dan mempersiapkan
                    ujung dan kotak       pemasangan kotak ujung dan kotak sambung
                    sambung Saluran       SKUTM
DIS.KON.020(2).A    Kabel Udara          Memasang Kotak sambung
                    Tegangan             Memasang kotak ujung
                    Menengah
                    (SKUTM)              Membuat laporan

DIS.OPS.009(2).A
                    Mengoperasikan       Menerapkan prosedur pengoperasian.
                    Saluran Kabel
                                         Menyiapkan pengoperasian
                    Tegangan

                                          x
   KODE                JUDUL                           SUB KOMPETENSI
 KOMPETENSI          KOMPETENSI
                     Menengah               Menyiapkan dokumen pengoperasian
                     (SKTM) Baru
                                            Mengoperasikan jaringan SKTM
                                            Menanggulangi masalah operasi
                                            Memeriksa dan membuat laporan

                                            Menerapkan prosedur pengoperasian
                                            Menyiapkan pengoperasian
                     Melokalisir            Menyiapkan dokumen pengoperasian
DIS.OPS.010(2).A     gangguan pada
                                            Mengoperasikan jariangan SUTM
                     SKTM
                                            Menganggulangi masalah operasi
                                            Memeriksa dan membuat laporan

                     Mengoperasikan
                     Saluran Udara
                                          Mengoperasikan Saluran Udara Tegangan Menengah
DIS.OPS.011(2).A     Tegangan
                                          (SUTM ) Baru
                     Menengah
                     (SUTM ) Baru
                                            Menerapkan prosedur pengoperasian.
                                            Menyiapkan pengoperasian
                     Mengganti fuse cut
DIS.OPS.013(2).A                            Melaksanakan penggantian Fuse Link
                     out pada SUTM
                                            Menanggulangi masalah operasi
                                            Membuat laporan penggantian Fuse

                                            Menerapkan prosedur pemeliharaan
                     Memelihara
                     instalasi Ground       Menyiapkan pemeliharaan GFD
DIS.HAR.037(1).A
                     Fault Detector         Memelihara GFD
                     (GFD)
                                            Memeriksa dan membuat laporan pemeliharaan

                                            Merencanakan         dan        mempersiapkan
                                             pemasangan IGT
                     Memasang
                     Indikator              Memasang IGT
DIS.KON.025(1).A
                     Gangguan Tanah         Mengidentifikasi masalah pemasangan
                     (IGT)                   peralatan penghubung/pemisah
                                            Membuat laporan pemasangan IGT

                                            Menerapkan prosedur pemeliharaan

                     Memelihara sistem      Menyiapkan pemeliharaan
 DIS.HAR. 035(2).A
                     komunikasi suara       Memelihara instalasi sistem komunikasi suara
                                            Membuat laporan pemeliharaan

                                            Menerapkan prosedur pemeliharaan
                     Memelihara sistem      Menyiapkan pemeliharaan UPS dan rectifier
DIS.HAR.039(2).A     Baterai dan             catu daya
                     rectifier inverter     Memelihara sistem UPS dan rectifier catu daya
                                            Menanggulangi masalah operasi

                                             xi
  KODE               JUDUL                        SUB KOMPETENSI
KOMPETENSI         KOMPETENSI
                                        Membuat laporan pemeliharaan

                   Mengoperasikan       Menerapkan prosedur pengoperasian
                   Pole Top Switch
   BAB VII                              Menyiapkan pengoperasian
                   (PTS)/Load Break
SAKLAR DAN         Switch (LBS)         Menyiapkan dokumen pengoperasian
 PENGAMAN                               Mengoperasikan PTS dan Poletop LBS
DIS.OPS.014(2)
      A                                 Menanggulangi masalah operasi
                                        Membuat laporan pengoperasian

                                        Menerapkan prosedur pengoperasian

                   Mengoperasikan       Menyiapkan pengoperasian
                   Penutup Balik        Menyiapkan dokumen pengoperasian
DIS.OPS.015(2)A    Automatic (PBO)/
                                        Pengoperasian PBO dan SSO
                   Saklar Semi
                   Automatic            Menanggulangi masalah operasi
                                        Membuat Laporan Pengoperasian

                                        Menerapkan prosedur pengoperasian

                   Mengoperasikan       Menyiapkan pengoperasian
                   Automatic Voltage    Menyiapkan pengoperasian
DIS.OPS.016(2).A   Regulator (AVR)
                                        Mengoperasikan AVR dan CVR
                   dan Cavasitor
                   Voltage (CVR)        Menanggulangi masalah operasi
                                        Membuat laporan pengoperasian




                                        xii
Jaringan Distribusi Tegangan Rendah                                         95


                  BAB IV
            JARINGAN DISTRIBUSI
             TEGANGAN RENDAH
4-1 Tiang Saluran Tegangan Rendah
4-1-1 Jenis Tiang
       Pada umumnya tiang listrik yang sekarang digunakan pada SUTR
terbuat dari beton bertulang dan tiang besi. Tiang kayu sudah jarang
digunakan karena daya tahannya (umumnya) relatif pendek dan
memerlukan pemeliharaan khusus. Sedang tiang besi jarang digunakan
karena harganya relative mahal dibanding tiang beton, disamping itu juga
memerlukan biaya pemeliharaan rutin.
        Dilihat dari fungsinya, tiang listrik dibedakan menjadi dua yaitu tiang
pemikul dan tiang tarik. Tiang pemikul berfungsi untuk memikul konduktor
dan isolator, sedang tiang tarik fungsinya untuk menarik konduktor. Sedang
fungsi lainnya disesuaikan dengan kebutuhan sesuai dengan posisi sudut
tarikan konduktor nya. Bahan baku pembuatan tiang beton untuk tiang
tegangan menengah dan tegangan rendah adalah sama, hanya dimensinya
yang berbeda.
4-1-2 Menentukan/memilih Panjang Tiang




                     Gambar 4-1. Konstruksi Tiang Beton
96

       Tiang beton untuk saluran tegangan menengah dan tegangan
rendah dipilih berdasarkan spesifikasi sebagai berikut:
                      Tabel 4-1. Memilih Panjang Tiang
                                                Panjang       Type        Span
No.        Tegangan             Rangkaian
                                              tiang (mtr)     (daN)     maksimum
                                                  11           350         80
 1        Menengah              Tunggal
                                                  13           350        120
                                                  11           350         50
 2        Menengah               Ganda
                                                  13           350         60
                                                   9           100         40
 3         Rendah               Tunggal
                                                   9           200         60

                         10,8
           0,25
             1,2          TM                                 9,2
                                                    0,25
             1,2          TR                         1,2           TM

                                                     1,2       TR




            8,15
                                      Panel Trafo
                                                    6,55
                                      4,5 ≈ 5,0




     Panjang tiang   13 m                                   11m


                                      7,5
                         0,25




                         7,25




         Panjang tiang           9m

             Gambar 4-2. Jarak aman yang diperlukan untuk
                         menentukan panjang tiang
Jaringan Distribusi Tegangan Rendah                                    97

       Pada jaringan tegangan rendah yang menggunakan tiang bersama
dengan jaringan tegangan menengah maka jarak gawang (Span) harus di
jaga agar tidak lebih dari 60 meter.
       Di dalam menentukan panjang tiang beberapa faktor yang harus
dipertimbangkan adalah; 1) jarak aman antara saluran tegangan menengah
dan tegangan rendah, 2) Posisi trafo tiang, dan 3) tinggi
rendahnya trafo dengan penyangga dua tiang. Gambar 4-2 menunjukkan
jarak aman yang diperlukan untuk menentukan panjang tiang. Pada gambar
tersebut diperlihatkan bahwa panjang tiang minimum untuk tegangan
menengah 11 meter (9,2 meter diatas tanah) dan untuk tegangan rendah 9
meter ( 7,5 meter diatas tanah).
4-1-3 Jarak Aman Tiang Tegangan Rendah
      Dari tabel 5-1 disebutkan bahwa tiang 9 meter type 200 daN dapat
digunakan sampai jarak tiang 60 meter, sedang tiang 9 meter type 100
daN dapat digunakan terbatas sampai jarak tiang 40 meter, bahkan lebih
pendek dengan pengurangan beban kawat, karena batas ketahanan
momen hampir nol pada pada jarak(span) 40 meter, bila
             Tabel 4-2. Batas minimum penggunaan tiang beton
                        Pada jaring SUTR – TIC khusus

Jumlah Jaring               Gawang                 Penggunaan Khusus
 SUTR - TIC   SUTR-TIC        (Span)       50 m
               Khusus                                60 m      75 m
                 3x70+54,6 + 2x16
                        3x50+54,6 + 2x16
                        3x35+54,6 + 2x16
                        3x70+54,6 +1 x16
      Sirkit
     Tunggal            3x50+54,6 +1 x16   9/200     9/200     9/200
                        3x35+54,6 +1x16
                          3 x 70 + 54,6
                          3 x 50 + 54,6
                          3 x 35 + 54,6
                        3x70+54,6 + 2x16
                        3x50+54,6 + 2x16
                                                    9/500
                        3x35+54,6 + 2x16
     Sirkit             3x70+54,6 +1 x16
     Ganda              3x50+54,6 +1 x16   9/200               9/500
                        3x35+54,6 +1x16
                          3 x 70 + 54,6              9/200
                          3 x 50 + 54,6
                          3 x 35 + 54,6
tekanan angin pada konduktor dan tiang mendekati momen ketahanan
sebesar 724 kgm. Hal ini dapat di rinci sebagai berikut:
98

     A: Momen pembengkok oleh tekanan angin pada konduktor = 522 kgm
        untuk jarak tiang 40 meter.
     B: Momen pembengkok oleh tekanan angin pada tiang = 214 kgm
        A + B = 736 kgm ÷ 724 kgm.
       Ini berarti batas momen ketahanan tidak terlampaui untuk penurunan
kawat. Tabel 5-2 menunjukkan batas minimum penggunaan tiang beton
pada jaring SUTR –TIC khusus.
4-1-4 Merencanakan dan mempersiapkan mendirikan tiang
       Untuk menentukan jumlah (kebutuhan) dan jenis tiang pada suatu
lokasi, diperlukan data survai jaringan yang akan dipasang. Dari gambar
situasi jaringan dapat ditentukan jenis dan perlengkapan tiang untuk lokasi
tersebut, yaitu jumlah tiang TR dan penunjangnya. Tiang beton untuk
Tegangan Rendah digunakan ukuran 9 meter, Gambar 4-5 dan gambar
berikutnya menunjukkan konstruksi tiang beton dengan perlengkapannya
sesuai dengan kebutuhan di lokasi.
       Telah diuraikan diatas, jarak antar tiang ditetapkan sebesar 40-60
meter, namun jarak tersebut masih perlu disesuaikan dengan kondisi lokasi
(masih bisa digeser). Dari gambar situasi jaringan dapat ditentukan jenis dan
perlengkapan yang diperlukan (Material Distribusi Utama) untuk lokasi
tersebut, yaitu jumlah tiang beton, konduktor, Kabel tanah dan Udara, serta
isolator dan perlengkapannya.
       Setelah mengetahui jumlah tiang beton yang diperlukan, selanjut-nya
mempersiapkan peralatan minimal yang diperlukan (yang harus disediakan
oleh pemborong) untuk pekerjaan mendirikan tiang adalah sebagai berikut:
        a. Tool kit lengkap                  g. Kantong kerja
        b. Sabuk Pengaman                    h. Tas kerja
        c. Derek-tangan                      i. Topi pengaman
        d. Besi kaki tiga                    j. Tampar 16 mm
        e. Bor tanah                         k. Linggis dan lain-lain.
        f. Gerobak (untuk mengangkut tiang) l. Tangga
4-1-5 Mendirikan/menanam Tiang
      Bagian tiang yang harus ditanam di bawah permukaan tanah adalah
1/6 dari panjang tiang. Jadi kedalaman lubang tergantung panjang/tinggi
tiang yang akan dipasang. Pada tanah yang lembek bagian bawah tiang
harus di pasang bantalan (beton blok) agar bagian tiang yang tertanam
dalam tanah tetap 1/6 panjang tiang. Dari gambar 4-1 tampak bahwa untuk
panjang tiang 13 meter bagian yang berada diatas tanah adalah 10,2 meter,
untuk panjang tiang 11 meter bagian yang berada diatas tanah adalah 9,2
meter, dan untuk panjang tiang 9 meter bagian yang berada diatas tanah
adalah 7,5 meter.
Pekerjaan mendirikan tiang beton diawali dengan menyiapkan gambar
rencana penempatan tiang. Dari gambar rencana dapat ditentukan jumlah
tiang yang diperlukan dan ditentukan pula letak dimana tiang akan didirikan
Jaringan Distribusi Tegangan Rendah                                           99

(ditandai dengan patok). Selanjutnya untuk mendiri-kan tiang dapat
dilakukan langkah–langah sebagai berikut: 1) Mempersiapkan alat-alat kerja
dan perlengkapan yang diperlukan untuk mendirikan tiang tersebut, 2)
Mendistribusikan tiang-tiang tersebut ke lokasi dimana letak tiang akan
didirikan, 3) Menggali lubang pada setiap tempat yang akan didirikan tiang,
4) Jika galian sudah siap, maka kegiatan mendirikan tiang dapat dilakukan.
Mendirikan tiang beton tegangan rendah (9 meter) dapat dilakukan dengan
dua cara; pertama secara manual (konvensional), yaitu menggunakan
derek-tangan dan dengan menggunakan penyangga (tangga). Cara ini
dilaksanakan terutama pada lokasi-lokasi penanaman tiang yang sulit
dijangkau dengan mobil derek. Pada tiang tegangan rendah (9 meter) hal ini
sangat mungkin terjadi. Mendirikan tiang dengan cara manual dilakukan
sebagai berikut:
1) Sebelum tangga untuk penyangga tiang ditinggikan, terlebih dahulu tiang
beton diangkat dengan derek-tangan, 2) Mengikatkan rantai derek-tangan
pada bagian tengah tiang. Derek-tangan ini digantungkan pada besi kaki
tiga yang disiapkan untuk pekerjaan ini. 3) Jika tiang beton sudah mulai
dinailkkan, maka diikuti dengan tangga atau penopang yang lain untuk
mendorong ke atas. 4) Disamping itu untuk mengendalikan arah tiang beton
pada saat diangkat, dipasang tali tampar sebanyak 4(empat) atau 3(tiga)
direntangkan ke arah berbeda, diikatkan pada posisi (15-20) % dari ujung
atas tiang, untuk mengendalikan arah tiang pada saat diangkat. 5)
Selanjutnya tiang ditarik/didorong ke atas sambil dikendalikan dari arah tali
tampar tersebut, sampai bagian pangkal tiang mendekati dan masuk
                                                   lubang. 6) Untuk tiang beton
                                 Tiang beton
    Tali tampar 16 mm               9 meter        bertulang       sebelum diuruk
                                                   tanah, perhatikan arah lubang
                           Derek-tangan            baut untuk penempat an croos
                                                   arm.     7) Jika arah lubang
  Besi kaki tiga 3-4”                              belum sesuai putarlah tiang
                                                   dengan mengikatkan tali pada
                                                   tiang, kemudian tiang diputar
                                                   sesuai dengan arah lubang
                                                   tempat baut yang diinginkan.
                                                   Selanjutnya uruk dengan tanah
                                                   pada sekitar tiang sampai
                                                   padat. Untuk tanah yang
                              Ratai di
                              tarik                lembek pada pangkal tiang
     Lubang tempat tiang                    Tangga
                                                   perlu dipasang pondasi atau
                                                   diberi     bantalan.   Kedua,
                Gambar 4-3. Mendirikan             mendirikan tiang dengan alat
                      tiang cara manual            pengangkat lebih cepat dan
                                                   praktis,    tidak   memerlukan
banyak tenaga manusia (lihat Gambar 4-4). Setelah lubang tempat tiang
disiapkan, maka tiang cukup diangkat dengan alat pengangkat, dan
selanjutnya diperlukan bantuan untuk mengarahkan supaya pangkal tiang
100

                                         tepat berada diatas lubang,
                                        kemudian tiang dimasukkan ke
  Alat pengangkat                       dalam lubang. Persyaratan yang
                            Tiang
                            beton       lain sehubungan dengan kondisi
                                        tanah,   sama   dengan    cara
                                        pertama.

                                        4-2 Saluran Tegangan
                                            Rendah
                                               Saluran Tegangan Rendah
 Lubang tempat tiang        Tali        terdiri dari 3(tiga) macam, yaitu
                            tampar
                                        Saluran Udara Tegangan Rendah
                                        (SUTR), Saluran Kabel Udara
      Gambar 4-4. Mendirikan Tiang      Tegangan rendah (SKUTR), dan
        dengan alat pengangkat          Saluran Kabel Tanah Tegangan
                                        Rendah.
4-2-1 Saluran Udara Tegangan Rendah
        Saluran Udara Tegangan Rendah (SUTR) dengan LVTC (Low
Voltage Twistad Cable), saat ini sudah dikembangkan, hal ini untuk
mempertinggi keandalan, faktor keamanan dan lain-lain. Untuk kabel LVTC
ini pemasangannya, 1) di bawah SUTM (Underbuilt) dan 2) khusus LVTC
(JTR murni). Spesifikasi kabel LVTC seperti tercantum pada tabel 4-3
halaman 99.
    - Accesoreis twisted cable terdiri dari :
        1. Suspension assembly
        2. Large angle assembly
        3. Dead end assembly
        4. Insulated tap connector berbagai ukuran
        5. Insulated Nontension joint
        6. Insulated tension joint.
        7. Guy set / stay set SUTR
        Pemakaian guy set pada SUTR digunakan type ringan, pada stay set
SUTR ini tidak mempergunakan guy insulator.
        Spesifikasi material guy set sesuai dengan gambar standar, sedang
kawat baja galvanisnya sbb. :
             1. Ultimate load : 17 kN
             2. Penampang : 22 mm2
             3. Material       : baja
        Dalam pemasangan Saluran Udara, konduktor harus ditarik tidak
terlalu kencang dan juga tidak boleh terlalu kendor, agar konduktor tidak
menderita kerusakan mekanis maupun kelelahan akibat tarikan dan ayunan,
dilain pihak dicapai penghematan pemakaian konduktor.
        Dalam pemasangan kabel udara setelah tiang berdiri, sambil
menggelar kabel dari haspel terlebih dahulu dipasang perlengkapan bantu
(klem service), pengikat, pemegang dan sebagainya. Untuk kabel
penghantar berisolasi, bagian yang diikat pada pemegang di tiang adalah
Jaringan Distribusi Tegangan Rendah                                       101

penghantar Nol, baik untuk dua kabel (sistem satu fasa) maupun empat
kabel (sistem tiga fasa). Penarikan kabel dimulai dari salah satu tiang ujung,
kemudian ditarik dengan alat penegang (hand tracker. Setelah tarikan
dianggap cukup kuat, maka pada setiap tiang kabel Nol diikat dengan
pemegang yang telah disiapkan.
        Sebagaimana diketahui bahwa harga konduktor berkisar 40% dari
harga perkilometer jaringan. Batasan-batasannya adalah sebagai berikut:
   a) Tarikan AAAC yang diijinkan maksimum 30% dari tegangan putus
      (Ultimate tensile strength).
   b) Tarikan Twisted cable yang diijinkan maksimum 35% dari tegangan
      putus dari kawat penggantung.
   c) Andongan yang terjadi pada SUTR dengan jarak gawang 35-50 meter,
      tidak boleh lebih dari 1 meter.

                       Tabel 4-3. Spesifikasi kabel LVTC
                 Spesifikasi                70 mm2 50 mm2        35 mm2
 - Max. Resistivity pada 20O C (mm2/m)      0,0283   0,0283      0,0283
 - Minimum tensile strangth (K/mm2)           180      180         180
 - Density at 20O C (kg/dm3)                  2,7      2,7         2,7
 - Koefisien of resistansi exp./ OC          0,004    0,004       0,004
 - Cross section (mm2)                         70       70          70
 - Diameter of bare conductor                 10,1     8,4           7
 - Tolerance of conductor diameter (%)         5        5           5
 - Number of stranded                          19       19          19
 - Type of insulation                        XLPE    XLPE         XLPE
 - Ketebalan dari isolasi (mm)                 18       18          18
 - Dia. of cond. over installation (mm)      12,9        -         9,6
 - Max. service/s.c. temperature/oC         80/130   80/130      80/130
 - Max. arus pada amb. temperatur             205      146         132
 - Voltage rating (Volt)                   1000/600 1000/600    1000/600
 - Berat kg/km                               1000      786         550
 - DC resistance at 20oC (Ohm/km)            0,443    0,613       0,876

       Pada kontruksi jaringan tegangan rendah atau menengah harus
diperhatikan lintasan yang akan dilewati saluran kabel, misalnya pada saat
kabel udara melintasi jalan umum, kabel udara yang dipasang di bawah
pekerjaan konstruksi, kabel udara melintasi sungai, dan lintasan- lintasan
lain yang perlu perhatian sehubungan dengan keamanan kabel dan
keselamatan mereka yang berada di sekitar kabel tersebut. Berikut ini
adalah beberapa contoh bentuk saluran kabel udara yang melewati lokasi
tersebut, dan ukuran-ukuran jarak aman terhadap lingkungan yang
tercantum dapat digunakan sebagai acuan dalam melaksanakaan tugas
pemasangan kabel.
102




           Gambar 4-5. Kabel udara melintasi jalan umum
                       yang dilalui kendaraan bermotor.


      Jarak keamanan H              Jalan umum        6m
      Penghantar Berisolasi         Jalan pribadi     4m
                                    Wilayah Pribadi   3m




              Gambar 4-6. Kabel udara yang dipasang
                         di sepanjang jalan raya.
Jaringan Distribusi Tegangan Rendah                                                           103




                 Gambar 4-7. Kabel udara yang dipasang
                             di bawah pekerjaan konstruksi




                                                                             Saluran 2




                                                                    Peralatan proteksi




                                          Gambar 4-8 Dua Kabel
                                                                Saluran udara kabel twisted
                                                                TR aluminium




                 h > 1 m jika tegangan saluran 2
                    lebih tinggi dari 130 V dan lebih rendah dari 57 kV

                 h > 2 m jika tegangan saluran 2
                    lebih tinggi dari 57 kV




               Gambar 4-8. Dua Kabel udara (SUTM & SUTR)
                           dipasang pada satu tiang
104




      Gambar 4-9. Kabel udara melintasi sungai
Jaringan Distribusi Tegangan Rendah                        105




                  Gambar 4-10. Kabel udara yang melintas
                               di sebelah jembatan
106




      Gambar 4-11. Kabel udara melintasi jalur listrik saluran udara




      Gambar 4-12. Kabel udara yang melintasi rel kereta api
Jaringan Distribusi Tegangan Rendah                                     107




     Gambar 4-13. Kabel udara yang melalui kabel udara telekomunikasi
108




      Gambar 4-14. Jarak dengan kabel telekomunikasi
Jaringan Distribusi Tegangan Rendah                                     109




     Gambar 4-13. Kabel udara yang melalui kabel udara telekomunikasi
110




      Gambar 4-14. Jarak dengan kabel telekomunikasi
Jaringan Distribusi Tegangan Rendah                                111




 Gambar 4-15. Pemasangan saluran udara di dekat kabel telekomunikasi
112




      Gambar 4-16. Kabel udara yang melintasi Rel kereta api.




      Gambar 4-17. Contoh skema jaringan tegangan rendah
Jaringan Distribusi Tegangan Rendah                                             113




                                       No.   Kode   Jumlah          Material
                                        1    iss    3 mtr    Stainless Steel Strap
                                        2    isc    1 set    Suspension Clamp
                                        3    ipb    1 bh     Pole Bracket
                                        4    ib     2 buah   Plastic Strap
                                        5    isp    2 buah   Stopping Buckle

     Gambar 4-18. Pemasangan TC pada jaringan 0o-45o
                  pada tiang beton bulat (sudut kecil)




                                      No. Kode Jumlah               Material
                                       1  iss  3 mtr         Stainless Steel Strap
                                       2  isc  2 set         Strain Clamp
                                       3  ipb  1 bh          Pole Bracket
                                       4  ib   2 buah        Stopping Buckle
                                       5  isp  2 buah        Plastic Strap

             Gambar 4-19. Pemasangan TC pada jaringan 45o-120o
                          pada tiang beton bulat (sudut besar)
114




                                   No.   Kode   Jumlah          Material
                                    1     iss   3 mtr     Stainless Steel
                                    2     isc   2 set     Strap
      Gambar 4-20.
      Penyambungan TC pada          3     ipb   5 bh      Pole Bracket
      tiang penegang                4     ib    2 buah    Plastic Strap

         Gambar 4-21 sampai dengan Gambar 4-34 , adalah kontruksi
 tiang penegang saluran udara tegangan rendah (LVTC) sesuai dengan
 keperluan dimana tiang akan dipasang. Pada masing-masing gambar
 disertakan daftar perlengkapan/material yang diperlukan sesuai dengan
 peruntukannya.




                                           Keterangan Gambar 4-21:
                                           1. Suspension Clamp Bracket
                                           2. Suspension Clamp
                                           3. Stainless Steel Strip 0,75 Meter
                                           4. Stopping Buckle
                                           5. Plastic Strap
                                           6. Protektip Plastic Strap 0,5 Meter



        Gambar 4-21 Konstruksi
         tiang penyangga(TR1)
Jaringan Distribusi Tegangan Rendah                                            115




                                       Keterangan Gambar 4-22:
                                        1. Tension Bracket
                                        2. Strain Clamp
                                        3. Stainless Steel Strip 0,75 Meter
                                        4. Stopping Buckle
                                        5. Plastic Strap
                                        6. Protektip Plastic Strap 0,5 Meter

      Gambar 4-22 Konstruksi
     tiang penegang/sudut(TR2)



                                       Keterangan Gambar 4-23:
                                        1. Tension Bracket
                                        2. Strain Clamp
                                        3. Stainless Steel Strip 0,75 Meter
                                        4. Stopping Buckle
                                        5. Plastic Strap
                                        6. PVC 2” – 50 Cm
                                        7. Link
                                        8. Dead end tubes
                                        9. Protektip Plastic Strap 0,5 Meter


     Gambar 4-23 Konstruksi
      tiang awal/akhir(TR3)


                                      Keterangan Gambar 4-24:
                                       1. Suspension Clamp Bracket
                                       2. Suspension Clamp
                                       3. Stainless Steel Strip 0,75 Meter
                                       4. Stopping Buckle
                                       5. Plastic Strap
                                       6. Bundled Conductor, Connector
                                           70-25/70-25
                                       7. Protektip Plastic Strap 0,5 Meter

       Gambar 4-24 Konstruksi
     tiang penyangga silang(TR4)
116


                                    Keterangan Gambar 4-25:
                                    1. Tension Bracket
                                    2. Strain Clamp
                                    3. Stainless Steel Strip 0,75 Meter
                                    4. Plastic Strap
                                    5. Stopping Buckle
                                    6. Bundled Conductor, Connector
                                       70-25/70-25
                                    7. Suspension Clamp Bracket
                                    8. Suspension Clamp
                                    9. Protektip Plastic Strap 0,5 Meter




   Gambar 4-25 Konstruksi tiang
  penyangga & sudut silang (TR4A)    Kode pada Gambar Distribusi



                                      Keterangan Gambar 4-26:
                                        1. Tension Bracket
                                        2. Strain Clamp
                                        3. Stainless Steel Strip 0,75 Meter
                                        4. Plastic Strap
                                        5. Stopping Buckle
                                        6. Bundled Conductor, Connector
                                           70-25/70-25
                                        7. Protektip Plastic Strap 0,5 Meter




   Gambar 4-26 Konstruksi tiang
  penyangga & sudut silang (TR4B)      Kode pada Gambar Distribusi




                                    Keterangan Gambar 4-27:
                                     1. Tension Bracket
                                     2. Strain Clamp
                                     3. Stainless Steel Strip 0,75 Meter
                                     4. Stopping Buckle
                                     5. Plastic Strap
                                     6. Protektip Plastic Strap 0,50 Meter




      Gambar 4-27. Konstruksi
       tiang penegang (TR5)            Kode pada Gambar Distribusi
Jaringan Distribusi Tegangan Rendah                                             117


                                      Keterangan Gambar 4-28:
                                      1. Tension Bracket
                                      2. Strain Clamp
                                      3. Stainless Steel Strip 0,75 Meter
                                      4. Stopping Buckle
                                      5. Plastic Strap
                                      6. Bundled Conductor, Connector
                                         70-25/70-25
                                      7. Protektip Plastic Strap 0,50 Meter




      Gambar 4-28. Konstruksi tiang     Kode pada Gambar Distribusi
       penegang dengan hantaran
        beda penampang (TR5A)
                                        Keterangan Gambar 4-29:
                                         1. Suspension Clamp Bracket
                                         2. Suspension Clamp
                                         3. Tension Bracket
                                         4. Strain Clamp
                                         5. Stainless Steel Strip 0,75 Meter
                                         6. Stopping Buckle
                                         7. Plastic Strap
                                         8. Bundled Conductor, Connector
                                            70-25/70-25
                                         9. Protektip Plastic Strap 0,5 Meter




         Gambar 4-29. Konstruksi           Kode pada Gambar Distribusi
         tiang percabangan (TR6)


                                      Keterangan Gambar 4-30:
                                       1. Tension Bracket
                                       2. Strain Clamp
                                       3. Stainless Steel Strip 0,75 Meter
                                       4. Plastic Strap
                                       5. Stopping Buckle
                                       6. Bundled Conductor, Connector
                                         70-25/70-25




                                         Kode pada Gambar Distribusi
        Gambar 4-30. Konstruksi
       tiang percabangan (TR6A)
118



                                        Keterangan Gambar 4-31:
                                          1. Tension Bracket
                                          2. Strain Clamp
                                          3. Stainless Steel Strip 0,75 Meter
                                          4. Stopping Buckle
                                          5. Plastic Strap
                                          6. Line tap Connector 70-25/70-25




                                            Kode pada Gambar Distribusi




        Gambar 4-31 Konstruksi
      Penyambungan konduktor TC
           dan AAAC (TR7)



                                  Keterangan Gambar 4-32:
                                   1. Guy Wire Band + Bolt & Nut M16 x 50
                                   2. Turn Buckle
                                   3. Preformet Grip 22/35/55/70 Sqmm
                                   4. Guy Insulator
                                   5. Galv. Steel Stranded Wire 22/35/55/70
                                   6. Wire Clip
                                   7. Pipa pelindung ¾” – 2mtr
                                   8. Guy Rod 2,5 Mtr
                                   9. Guy Rod 1,8 Mtr
                                  10. U Bolt & Nut M 16
                                  11. Anchor Block 500 x 500 mm
                                  12. Expanding Anchor
                                  13. Span Schroef 5/8”



                                    Type      Galv. Steel Stranded Wire
                                   Tiang                  (X)
                                   11 Mtr              13 Mtr
                                   9 Mtr               11 Mtr
            Gambar 4-32            7 Mtr                9 Mtr
      Konstruksi Guy Wire (GW)
Jaringan Distribusi Tegangan Rendah                                               119


                                           TIANG       HANTARAN AAAC 3X(SQM)
                                           UTAMA        35    70    150   240
                                           11-350      9-200 9-200 9-200 11.200
                                           11-200      9-200 9-200 11.200
                                            9-200      7-100 9-100

                                           No.               Nama Material
                                            1.   Strut Arm Band + Bolt & Nut M 16x50
                                            2.   Strut Arm
                                            3.   Pipa Galvaniz φ 2” – 1,5 Mtr
                                            4.   Single GW Band + Bolt & Nut M 16x75
                                            5.   Bolt & Nut M 16 x 75


                                                Type
                                                          Satuan dalam meter
                                          No.   Tiang
                                                   Strut A B C        D    E
                                             Utama Pole
                                           1   11   11   8,4 10 5,42 1,83 1
                                           2      11    9    7,7 8,4 3,3 1,83 0,6
                                           3      9     9   6,75 8    4,2   1,5      1
                                           4      7     7    5,3 6,5 3,7 1,16 0,5


     Gambar 4-33 Konstruksi Strut Pole




                                         Keterangan:
                                         Type tiang Galv. Steel Stranded Wire (X)
                                         TM-9 Mtr                30 Mtr
                                         TR-9/7 Mtr              28 Mtr

                                         Keterangan Gambar 4-18:
                                          1. Guy Wire Band + Bolt & Nut M16 x 50
                                          2. Turn Buckle
                                          3. Preformet Grip 22/35/55/70 Sqmm
                                          4. Guy Insulator
                                          5. Galv. Steel Stranded Wire 22/35/55/70
                                          6. Wire Clip
                                          7. Pipa pelindung ¾” – 2mtr
                                          8. Guy Rod 2,5 Mtr
                                          9. U Bolt & Nut M 16
                                         10. Anchor Block 500 x 500 mm
                                         11. Expanding Anchor
                                         12. Span Schroef 5/8”
                                         13. Guy Rod 1,8 Mtr

                                         No. 11 Dipasang sebagai pengganti No. 8,
                                         9, 10, 13

       Gambar 4-34 Konstruksi
       Horizontal Guy Wire (GW)
120

4-2-2 Memasang Saluran Kabel Udara Tegangan Rendah
4-2-2-1 Persiapan Pelaksanaan Penggelaran Kabel Tanah
                                          1). Persiapan gambar
                                              rencana pelaksanaan
                                              pada peta
                                              1 : 5000 atau 1: 200
                                          2). Survai dalam
                                              pembersihan
                                              jalur kabel.
                                          3). Penggalian titik kontrol
                                              jalur kabel pada tiap 50
                                              meter (injeksi test galian)
                                              untuk meneliti kemungkin-
                                              an adanya utilitas lain.
                                          4). Check dokumentasi
                                              asbuilt drawing utilitas-
                                              utilitas lain.
                                          5). Persiapan material
                                              penunjang (Pasir urug,
                                              Batu patok/tanda, Batu
                                              peringatan, Pipa beton/
                                              PVC/sejenis).
                                          6). Pekerjaan pendahuluan
      Gambar 4-35 Alat pelindung              telah dilaksanakan
                  dari seng                   {Lintasan/Crossing-Boring,

    Jembatan kabel, Pembersihan rencana jalur kabel, Rambu-rambu K3,
    Alat-alat kerja (rol kabel, dan lain-lain)}.
7). Pelaksanaan penggelaran/penarikan kabel dengan 1 supervisor, 1
    mandor, 1 kuli tiap 5 meter.
8). Berikut ini adalah gambar-gambar alat angkut untuk menunjang
    pemasangan kabel tanah.




 Gambar 4-36 Kendaraan pengangkut kabel dan haspel (gulungan kabel)
Jaringan Distribusi Tegangan Rendah                                     121

4-2-2-2 Perkakas kerja dan penggunaannya.
1) Pemakaian perkakas kerja dengan tepat.
       Apabila kita dapat menggunakan perkakas kerja dengan tepat, maka
   di dalam melaksanakan pekerjaan tersebut akan memperoleh manfaat
   sebagai berikut; 1) Efisiensi kerja meningkat, 2) Jumlah
   pemakaian/pengerahan tenaga kerja yang berkurang, 3) waktu
   pelaksanaan menjadi lebih pendek / pekerjaan cepat terselesaikan, 4)
   Kualitas pekerjaan lebih baik, 5) Pembiayaan menurun, 6) Menaikkan
   daya saing.
2) Efisiensi akibat penggunaan perkakas sederhana.
       Perlu diketahui bahwa untuk melaksanakan pekerjaan besar dengan
   hanya memakai alat yang sederhana sudah tak efisien lagi. Contoh: a)
   Untuk melaksanakan koneksi kabel pada suatu gardu kontrol dimana
   jumlah kabel mencapai ratusan jalur, maka pengupasan kabel dengan
   pisau akan memerlukan waktu sangat lama, karena itu harus memakai
   tang pengupas kabel. b) Untuk pemasangan label yang tertanam di
   dalam rumah dengan volume pekerjaan yang sangat besar, maka
   penggalian saluran kabel dengan memakai alat konvensional seperti
   cangkul, sekop atau linggis saja, hasilnya sangat tidak efisien. Untuk
   menanggulangi hal ini maka penggalian harus memakai alat pengeruk
   yang berkapasitas besar (misalnya menggunakan Back Hoe). c)
   Pemasangan transformator tenaga dengan daya puluhan Mega Watt
   membutuhkan bantuan mobil derek dan mobil trailer dengan daya angkat
   puluhan ton.
         Perlu diketahui bahwa dalam melaksanakan proyek/pekerjaan di
   Indonesia, banyak alat kerja yang cepat rusak, hal ini disebabkan karena
   pemakai, kurang tahu cara pemakaian atau pemakainya yang
   serampangan, serta tata cara pemeliharaan yang kurang diperhatikan.
   Contoh: a) Membuat lubang besar pada plat besi dengan memakai bor
   listrik dengan mata bor yang kecil dengan menggoyang-goyangkan mata
   bornya, hal ini akan merusak mesin bor listrik tersebut. B) Mengukur arus
   besar suatu beban listrik dengan memakai Ampere Meter yang
   mempunyai kapasitas arus kecil akan merusak alat ini.
3) Kemampuan menggunakan perkakas kerja.
       Mengingat harga peralatan relatif mahal, bahkan kadang-kadang
   harus dipesan dari luar negeri dan memerlukan waktu yang cukup lama,
   apabila alat mengalami kerusakan dan tidak bisa dipakai, akan
   mengganggu jalannya pekerjaan. Oleh karenanya kemampuan orang
   yang menggunakan alat tersebut harus memadai benar-benar terlatih.
       Untuk pemakaian alat kerja khusus, dimana diperlukan ketelitian dan
   rumit, misal : mencari lokasi gangguan kabel tanah dengan
122

  menggunakan Jembatan Wheatstone, maka calon pemakai harus dilatih
  terlebih dahulu mengenai cara pemakaian alat tersebut.
        Hal penting yang harus diperhatikan, alat kerja di lapangan harus
  dikelola dengan baik, terutama pada proyek-proyek besar, dimana alat
  kerja harus dikelola oleh pengelola material (Material Controller) dan
  pengatur alat kerja (Tool Kipp) mulai dari pemesanan, penerimaan
  barang, pemakaian keluar masuk gudang dan pemeliharaan alat kerja
  tersebut.
        Untuk menanggulangi hal tersebut diatas, tenaga kerja bidang teknik
  listrik harus mampu memakai alat dengan baik, demikian juga dalam
  memeliharanya.
4) Pengelompokan dan penggunaan perkakas kerja.
      Perkakas kerja dapat dikelompokkan menjadi 4(empat), yaitu
  Perkakas, Alat Ukur dan Tes, Alat Pengaman, dan Alat Bantu.
       Untuk mempermudah pengelompokan/pemilahan alat kerja suatu
  proyek, berikut ini diberikan nama dan gambar peralatan untuk berbagai
  pekerjaan. Suatu proyek besar memerlukan alat kerja khusus yang tidak
  terdapat di lokasi. Oleh karena itu pengadaan alat tersebut harus
  dijadwalkan dengan tepat waktu.
       Tekniksi listrik yang memasang instalasi listrik dalam bangunan,
  dituntut keterampilan dalam berbagai bidang pekerjaan di bangunan
  tersebut. Hal ini meliputi teknik menandai, memotong, memahat dan
  menggergaji.
5) Berikut ini adalah gambar-gambar alat perkakas yang harus disiapkan
   oleh pelaksana sebelum melaksanakan pekerjaan penanaman kabel
   tanah. Alat kerja yang tercantum disini cukup lengkap, tetapi untuk
   pemakaian di proyek disesuaikan dengan kebutuhan.




           Gambar 4-37                         Gambar 4-38
 Kantung Perkakas Tukang Listrik         Kotak Perkakas (Tool box)
     (Electrician tool pouche)
Jaringan Distribusi Tegangan Rendah                                              123




                                                             Gambar 4-40
                                                        Bor Listrik (Electric drill)
        Gambar 4-39
       Belincong (Pick)




                                       Gambar 4-42          Gambar 4-41
                                        Bor Nagel          Cangkul (Shovel)
                                      (Auger (Ginlet)


         Gambar 4-43
    Bor Tangan (Hand drill)




                                             Gambar 4-44
                                          Gergaji kayu (stang)




             Gambar 4-45                                          Gambar 4-46
             Gergaji kayu                                           Kakatua
124




               Gambar 4-47
           Linggis (Digging Bar)




                                              Gambar 4-49
      Gambar 4-48 Kunci Inggris                Kikir (File)
        ( Adjustable Wrech)




                                         Gambar 4-51
         Gambar 4-50
                                   Kunci Ring (Offset Wrech)
      Kunci Pas (Spanner)




         Gambar 4-52
         Pahat Beton
       (Concrete Chisel)                    Gambar 4-53
                                         Obeng (Screw Driver)




           Gambar 4-54
           Pahat Kayu                        Gambar 4-55
          (Wood Chisel)                     Palu (Hammer)
Jaringan Distribusi Tegangan Rendah                                    125




                                               Gambar 4-56
                                      Penjepit Sepatu Kabel Hidrolik
                                        (Hydraulic Crimping Tool)
            Gambar 4-57
       Alat Pembengkok Pipa
            (Pipe Bender)




            Gambar 4-58                          Gambar 4-59
         Sendok Aduk (Trowel)                 Pisau Kupas Kabel
                                              (Line’s men knive)




                                                Gambar 4-61
              Gambar 4-60                      Tang Kombinasi
             Skop ( Spade )                     (Master Plier)




             Gambar 4-62                     Gambar 4-63
              Tang Lancip                Tang Pengupas Kabel
         (Radio long Nose Plier)            (Wire Striper)
126




       Gambar 4-64
        Tang Potong                        Gambar 4-65
   (Diagonal cutting plier)                   Tirpit
                                          (Penarik kabel)

6) Berikut ini adalah gambar-gambar alat ukur dan tes pemasangan instalasi
   listrik. Alat ukur yang tercantum disini cukup lengkap, tetapi untuk
   pemakaian di proyek disesuaikan dengan kebutuhan.




                                                   Gambar 4-67
          Gambar 4-66                               Kwh Meter
          Ampere Meter




           Gambar 4-68                         Gambar 4-69
             Lux Meter                            Megger
         (Illumino Meter)                   (Insulation Tester)
Jaringan Distribusi Tegangan Rendah                       127




               Gambar 4-70               Gambar 4-71
            Meteran Kayu/lipat         Meteran Pendek
         (Folding wood measurer)        (Convec Rule)




            Gambar 4-72                Gambar 4-73
             Multimeter                Termometer
            (Multy meter)             (Thermometer)




                 Gambar 4-74
                    Tespen
                (Electric tester)




                   Gambar 4-75
                    Water Pas              Gambar 4-76
                     (Level)                Volt meter
                                           (Volt meter)
128

7) Berikut ini adalah gambar alat-alat kerja untuk pemasangan instalasi
   listrik. Ukur dan tes pemasangan instalasi listrik.




                                                 Gambar -78
          Gambar 4-77                       Pelindung Kedengaran
      Kacamata Pengaman                      (Hearing protector)
         (Safety goole)




                                                Gambar 4-80
           Gambar 4-79                         Topi Pengaman
      Pelindung Pernafasan                   (Safety Helmet/Cap)
       (Dust/Mist Protector)




                           Gambar 4-81
                    Sabuk Pengaman (Safety Belt)




          Gambar 4-82                       Gambar 4-83
      Sarung Tangan 20 kV                 Sepatu Pengaman
         (20 kV Glove)                      (Safety Shoe)
Jaringan Distribusi Tegangan Rendah                                               129

8) Berikut ini adalah gambar alat-alat bantu pemasangan instalasi listrik.




                           Gambar 4-84
                         Bor Listrik Duduk
                        (Bend Electric Drill)


                                                          Gambar 4-85
                                                          Catok (Vise)




          Gambar 4-86
      Dongkrak Haspel Kabel                              Gambar 4-87
        (Cable Drum Jack)                       Disel Genset (Diesel Generator)




          Gambar 4-88                                   Gambar 4-89
     Gerinda Potong Cepat                        Mesin Penarik Kabel (Winche)
      (High Speed Cutter )




                                                      Gambar 4-91
         Gambar 4-90                            Pembengkok Pipa Hidrolis
  Molen Beton (Concrete Mixer)                   (Hydraulic Pipe Bender)
130




          Gambar 4-92
         Pemegang Kabel
           (Cable Grip)
                                                 Gambar 4-93
                                             Pompa Air (Water Pump)




            Gambar 4-94
       Rol Kabel (Cable Roller)




                                                  Gambar 4-95
                                                 Tangga Geser
             Gambar 4-96                       (Extension Ladder)
          Treller Haspel Kabel
          (Cable Drum Trailler)


4-3 Memasang Instalasi Pembumian
4-3-1 Definisi-Definisi Sistem Pembumian
   Sesuai dengan PUIL 2000 (Persyaratan Umum Instalasi Listrik 2000)
   terdapat beberapa definisi yang perlu diperhatikan, yaitu :
   - Bumi (Earth) adalah massa konduktif bumi yang potensial listriknya di
     setiap titik manapun menurut konvensi, sama dengan nol.
   - Elektrode Bumi (Earth Electrode) adalah bagian konduktif atau
     kelompok bagian konduktif yang membuat kontak langsung dan
     memberikan hubungan listrik dengan bumi.
   - Gangguan Bumi (Earth Fault) merupakan :
     1). Kegagalan isolasi antara penghantar dan bumi atau kerangka.
Jaringan Distribusi Tegangan Rendah                                          131

      Gangguan yang disebabkan oleh penghantar yang terhubung ke bumi
atau karena resistansi isolasi ke bumi menjadi lebih kecil dari pada nilai
tertentu.
    - Isolasi (Insulation) adalah :
      1). (Sebagai bahan) merupakan segala jenis bahan yang dipakai
          untuk menyekat sesuatu.
      2). (Pada kabel) merupakan bahan yang dipakai untuk menyekat
          penghantar dari penghantar lain dan dari selubungnya, jika ada,
    - Elektrode Batang adalah elektrode dari pipa logam, baja profil atau
      batang logam lainnya yang dipancangkan ke bumi.
    - Pembumian (Earthing) adalah penghubung suatu titik sirkit listrik atau
      suatu penghantar yang bukan bagian dari sirkit listrik dengan bumi
      menurut cara tertentu.
    - Penghantar pembumian (Earthing Conductor) adalah :
      1). Penghantar berimpedasi rendah yang dihubungkan ke bumi.
      2). Penghantar proteksi yang menghubungkan terminal pembumian
          utama atau batang ke elektrode bumi.
    - Rel pembumian adalah batang penghantar tempat menghubungkan
      beberapa penghantar pembumian.
4-3-2 Jenis Tanah
   Jenis tanah menurut PUIL 2000 dibagai atas :
       1). Tanah rawa,
       2). Tanah liat dan tanah ladang,
       3). Pasir basah,
       4). Krikil basah,
       5). Pasir dan kerikil kering,
       6). Tanah berbatu.
4-3-3 Tahanan Jenis Tanah
    Masing-masing jenis tanah mempunyai nilai tahanan jenis tanah yang
    berbeda-beda dan bergantung dari jenis tanahnya, dapat dilihat dalam
    tabel dibawah ini, merupakan nilai tipikal.
                         Tabel 4-4. Tahanan Jenis Tanah
          1        2       3           4        5          6          7
       Jenis    Tanah Tanah liat dan Pasir    Kerikil Pasir dan Tanah
       tanah     rawa Tanah ladang basah      basah Kerikil kering berbatu
     Resistansi
        jenis     30      100         200      500        1000     3000
      (Ω – m)
4-3-4 Tahanan pembumian
    Tahanan pembumian dari elektrode bumi, tergantung pada jenis tanah
    dan keadaan tanah serta ukuran dan susunan elektrode.
132

   Dari Tabel Tahanan Pembumian pada tahanan jenis (rho – 1) = 100
   ohm-meter dibawah ini, menunjukkan nilai rata-rata tahanan elektrode
   bumi, untuk panjang tertentu.

             Tabel 4-5. Nilai rata-rata Tahanan Elektrode Bumi

         1        2    3   4   5     6   7     8   9    10           11
                                                      Pelat vertikal dengan
        Jenis        Pita atau                            sisi atas ± 1 m
                                     Batang atau pipa
      elektrode   penghantar pilin                           dibawah
                                                        Permukaan tanah
                10 25 50 100         1   2    3     5 0,5 x 1       1x1
      Resistans
      pembumian 20 10 5   3 70           40   30   20    35        25
      (Ω)

      Untuk tahanan jenis pembumian yang lain (rho), maka besar tahanan
   pembumiannya merupakan perkalian nilai dalam tabel dengan :
             Rho / rho – 1 atau Rho / 100
4-3-5 Perencanaan pemasangan peralatan
4-3-5-1 Tujuan Pembumian Peralatan
       Pembumian peralatan adalah pembumian bagian dari peralatan yang
   pada kerja normal, tidak dilalui arus.
   Tujuan pembumian peralatan adalah :
  a). Untuk membatasi tegangan antara bagian-bagian peralatan yang
      tidak dilalui arus dan antara bagian-bagian ini dengan bumi sampai
      pada suatu harga yang aman (tidak membahayakan) untuk semua
      kondisi operasi normal.
  b). Untuk memperoleh impedansi yang kecil/rendah dari jalan balik arus
      hubung singkat ke tanah.
       Kecelakaan pada personil, timbul pada saat hubung singkat ke tanah
  terjadi. Jadi bila arus hubung singkat ke tanah itu dipaksanakan mengalir
  melalui impedansi tanah yang tinggi, akan menimbulkan perbedaan
  potensial yang besar dan berbahaya. Juga impedansi yang besar pada
  sambungan-sambungan pada rangkaian pembumian dapat menimbulkan
  busur listrik dan pemanasan yang besarnya cukup menyalakan material
  yang mudah terbakar.
4-3-5-2 Pemasangan dan Susunan Elektrode Bumi
      Untuk memilih macam elektrode bumi yang akan dipakai, harus
  diperhatikan terlebih dahulu kondisi setempat, sifat tanah dan tahanan
  pembumian yang diijinkan. Permukaan elektrode bumi harus
  berhubungan baik dengan tanah sekitarnya. Batu dan kerikil yang
  langsung mengenai elektrode bumi, akan memperbesar tahanan
  pembumian. Elektrode batang, dimasukkan tegak lurus ke dalam tanah
Jaringan Distribusi Tegangan Rendah                                   133

   dan panjang disesuaikan dengan tahanan pembumian yang diperlukan.
   Tahanan pembumian sebagian besar tergantung pada panjangnya dan
   sedikit bergantung pada ukuran penampangnya. Jika beberapa elektrode
   diperlukan untuk memperoleh tahanan pembumian yang rendah, maka
   jarak antara elektrode tersebut minimum harus dua kali panjangnya. Jika
   elektrode tersebut tidak bekerja efektif pada seluruh panjangnya, maka
   jarak minimum antara elektrode, harus dua kali panjang efektifnya.
   Penghantar bumi harus dipasang sambungan yang dapat dilepas untuk
   keperluan pengujian tahanan pembumian, pada tempat yang mudah
   dicapai dan sedapat mungkin memanfaatkan sambungan yang karena
   susunan instalasinya memang harus ada. Sambungan penghantar bumi
   elektrode bumi, harus kuat secara mekanis dan menjamin hubungan
   listrik dengan baik, misalnya dengan menggunakan las, klem atau baut
   kunci yang tidak mudah lepas. Klem pada elektrode pipa, harus
   menggunakan baut dengan diameter minimal 10 mm.
4-3-5-3 Alat Ukur dan Pemeliharaan Tahanan Pembumian
   a) Alat Ukur Tahanan Pembumian
       Untuk mengukur nilai tahanan pembumian dengan cara :
       1). Memakai model empat terminal (Motode Wenner) dengan
           generator putar tangan (DC).




                  Gambar 4-97. Alat Ukur Model Wenner
134

      2).    Pengukuran tahanan pembumian dengan menyambungkan
            terminal C1 ke E yang akan diukur, terminal P2 ke P dan terminal
            C2 ke R. Jarak E – P – R di buat berjarak sama pada satu garis
            lurus. Meter akan memberikan pembacaan langsung dalam
            tahanan dan tahanan pembumian dihitung dengan rumus :
                        ρ (Rho) = 2 . ∏ . a . R (ohm-m)
            dimana :
                 ρ (Rho)       =       resistivitas tanah (ohm-m)
                 a             =       jarak antara electrode (meter)
                 R             =       tahanan (ohm)
                 ∏ (Phi )      =       3,14
      3). Memakai Earth Tester (analog) berdasarkan harga potensial.


                   Sumber
                  Tegangan
                     AC




                 Gambar 4-98. Mengukur Tahanan Tanah
                           dengan Earth Tester Analog

      E (elektrode tanah) yang akan diukur dan elektrode bantu P serta
      elektrode bantu R diletakkan pada satu garis lurus dengan elektrode
      E. Volt meter akan menunjuk pada potensial E – P. Menurut hukum
      Ohm, beda potensial akan berbanding langsung dengan tahanan
      pembumian.
      Terlihat bahwa tahanan membesar dengan kedudukan P semakin jauh
      dari E, dan kenaikan tersebut dengan cepat berkurang dan bahkan
      pada jarak tertentu dari E, kenaikan dapat diabaikan karena sangat
      kecil.
      Persyaratan yang harus diperhatikan adalah :
      a). Elektrode R harus cukup jauh dari elektrode E, sehingga daerah
          tahanan tidak saling menutup (over lap).
      b). Elektrode P harus ditempatkan di luar dua daerah tahanan, dalam
          hal ini ditempatkan pada daerah datar dari kurva.
      c). Elektrode P harus terletak diantara elektrode-elektrode R dan E,
          pada garis penghubungnya.
Jaringan Distribusi Tegangan Rendah                                  135




        Gambar 4-99. Pengukuran dengan Earth Resistance Tester
                     dan Persyaratan pengukuran tahanan tanah




        Gambar 4-100. Pengukuran dengan Tang Ground Tester Digital
136




      Gambar 4-101. Pemasangan Multyple Grounding




       Gambar 4-102. Penempatan Elektrode Pengukuran
Jaringan Distribusi Tegangan Rendah                                            137

4-3-5-4 Pemeliharaan Tahanan Pembumian
        Pemeliharaan pembumian (pentanahan) dilaksanakan minimal sekali
    dalam setahun diadakan pengukuran nilai pembumian pada musim
    kemarau. Diambilnya pengukuran pada musim kemarau, karena pada
    kondisi tersebut nilai tahanan pembumian akan menunjukkan nilai
    sebenarnya. Jika nilai tahanan pembumian, pada pengukuran di musim
    kemarau sudah kecil, maka dimusim penghujan akan semakin kecil.
        Untuk mengetahui nilai tahanan total pembumian, dipakai rumus :
    1/Rp = 1/R1 + 1/R2 + 1/R3 + ........................... + 1/Rn (Ohm)

                                    SOP                        Kode Unit :
 PT. PLN (PERSERO)          MEMELIHARA INSTALASI            DIS.HAR.024(2).A
                               GARDU TIANG                    Halaman 1/5


  PETUGAS :
    1. Pengawas 1 orang
    2. Pelaksana 3 orang

  WAKTU PELAKSANAAN : 2 JAM
  KOORDINASI :
    1. Koordinator Perencanaan Pemeliharaan
    2. Koordinator Operasi
    3. Koordinator Pemeliharaan
    4. Koordinator Perbekalan
    5. Asman Distribusi
    6. Pelanggan
   PERALATAN KERJA :
                                          PERALATAN UKUR :
    1. Toolkit Set.
                                           1. Tang Ampere Meter.
    2. Tang Press.
                                           2. Volt Ampere Meter.
    3. Kain Lap, Kuas.
                                           3. Megger.
    4. Alat Gounding.
                                           4. Earth Tester.
    5. Fuse Puller
                                           5. Fase Sequance Detector/Drivel.
                                           MATERIAL/ALAT BANTU :
   PERALATAN K-3 :
                                           1. NT/NH Fuse sesuai ukuran
    1. Helm Pengaman.
                                           2. Fuse Holder
    2. Sepatu Karet.
                                           3. Vaselin/Grease
    3. Sarung Tangan Kulit.
                                           4. Sepatu Kabel
    4. Pakaian Kerja.
                                           5. Cat Pilok Warna : Merah,
    5. P-3 K
                                              Kuning, Biru, dan Hitam
138


  PROSEDUR KERJA :
 1.    Pelaksanaan pemeliharaan atas dasar PK dari atasan yang berwenang.
 2.    Lakukan pemeriksaan ke lokasi, untuk dasar persiapan pekerjaan.
 3.    Siapkan alat kerja, alat K-3 dan material kerja yang diperlukan.
 4.    Konfirmasikan tanggal dan jam pemadaman.
 5.    Laksanakan pekerjaan sesuai dengan jadual yang sudah disepakati.
 6.    Selesai melaksanakan pekerjaan, segera menormalkan tegangan.
 7.    Buat laporan tertulis kepada atasan yang menugsakan.
 LANGKAH KERJA :
 1.      Petugas pelaksana menerima PK dari Asman Distribusi untuk
         melakukan pemeliharaan Instalasi Gardu Tiang.
 2.      Menyiapkan Alat Kerja, Alat Ukur, Alat K-3, Material Kerja dan Alat
         Bantu sesuai dengan kebutuhan.
 3.      Setelah Petugas sampai di lokasi, gunakan Alat K-3 dan selanjutnya
         lapor ke Posko petugas akan melakukan pemeliharaan.
 4.      Melakukan pengukuran arus beban, tegangan fasa dengan fasa dan
         tegangan fasa dengan nol di Rel dan mencatat dalam formulir BA.
 5.      Melepas beban jurusan, Fuse Utama, Saklar Utama dan CO sesuai
         prosedur K-3.
 6.      Grounding semua kabel jurusan dengan menggunakan Grounding
         Cable TR.
 7.      Memeriksa dan menyesuaikan fuse link dengan trafo terpasang dan
         berikan Vaselin pada kontak dekselnya.
 8.      Melepas terminasi kabel grounding titik netral pada bushing sekunder
         transformator, mengukur dan mencatat nilai tahanan isolasi trafo
         (Primer terhadap Body, Sekunder terhadap Body, Primer terhadap
         Sekunder) dalam formulir berita acara (BA).
 9.      Memasang kembali terminasi kabel grounding titik netral pada bushing
         sekunder transformator dan memeriksa kekencangan mur/baut pada
         Bushing transformator, bila ada sepatu kabel yang rusak diperbaiki
         atau diganti baru.
 10.     Membersihkan Rel, dudukan Fuse Holder, Pisau Saklar Utama (Main
         Switch), Sepatu Kabel dari kotoran/korosi. Dan bersihkan ruangan
         dalam Panel Hubung Bagi.
 11.     Mengukur dan mencatat nilai tahanan isolasi antar Rel, Rel terhadap
         Body dan Tahanan Pentanahan dalam formulir Berita Acara (BA).
 12.     Memeriksa kekencangan mur/baut pada Saklar Utama, Sepatu Kabel,
         Rel, Fuse Holder, Kondisi Isolator Binnen dan Sistim Pembumian.
 13.     Bila ada komponen PHB-TR yang rusak maka diperbaiki atau diganti
         baru.
 14.     Memberi Vaselin pada Pisau Saklar Utama dan Terminal Fuse Holder.
 15.     Melakukan pemeriksaan hasil pekerjaan secara visual, dan
         mengamankan seluruh Peralatan Kerja.
 16.     Melepaskan Grounding Kabel pada seluruh kabel jurusan.
 17.     Melaporkan pada Posko bahwa pekerjaan pemeliharaan telah selesai,
         meminta ijin memasukkan CO sesuai prosedur K-3.
 18.     Mengukur besar tegangan fasa-fasa, tegangan fasa-nol di Rel dan
         putaran fasa sesuai prosedur K-3.
 19.     Melakukan dan menyesuaikan rating fuse utama dan fuse jurusan.
Jaringan Distribusi Tegangan Rendah                                                          139

  20.   Masukkan Saklar Utama, Fuse Utama dan Fuse jurusan secara
        bertahap sesuai prosedur K-3.
  21.   Melakukan pengukuran beban dan mencatat dalam formulir BA.
  22.   Menutup dan mengunci pintu PHB-TR.
  23.   Melepaskan Alat K-3 yang sudah tidak dipergunakan lagi,
        membersihkan dan menyimpan kembali pada tempat yang sudah
        disediakan.
  24.   Melapor ke Posko, bahwa pekerjaan memelihara instalasi Gardu Tiang
        telah selesai dan Petugas akan meninggalkan lokasi pekerjaan.
  25.   Membuat Laporan Berita Acara pelaksanaan pekerjaan.
  26.   Melaporkan penyelesaian pekerjaan dan penyerahan Formulir BA
        kepada Asman Distribusi.




             Gambar 4-103. Diagram Satu Garis PHB-TR

                                        SOP                               Kode Unit :
  PT. PLN (PERSERO)
                                MEMELIHARA INSTALASI                   DIS.HAR.024(2).A
  DISTRIBUSI ............
                                   GARDU TIANG                           Halaman 1/5

  1.      DATA LOKASI GARDU TRAFO
         1.1. Nomor Gardu      : ..............................................................
         1.2. Lokasi           : ..............................................................
         1.3. Daya Trafo       : .................................. kVA
              Terpasang
         1.4. Jumlah Jurusan   : .................................. Jurusan
         1.5. Konstruksi Gardu : Satu Tiang/Dua Tiang/Gardu Bangunan
140


 2.   URAIAN PEKERJAAN :

      2.1.        Pengukuran Tegangan dan Arus

                                             Tegangan ( Volt)
      No             Uraian
                                    R-N    S-N    T-N     R-T        S-T
       1          Sebelum Har
       2          Sesudah Har

      2.2.        Pengukuran Arus Beban Sebelum Pemeliharaan

                                      Arus ( Ampere )
      No.          Beban
                                R     S      T            N
       1          Total
       2          Jurusan A
       3          Jurusan B
       4          Jurusan C
       5          Jurusan D

      2.3.        Pengukuran Arus Beban Sesudah Pemeliharaan

                                      Arus ( Ampere )
      No.          Beban
                                R     S      T            N
       1          Total
       2          Jurusan A
       3          Jurusan B
       4          Jurusan C
       5          Jurusan D

                                        SOP                       Kode Unit :
 PT. PLN ( PERSERO )                MEMELIHARA                 DIS.HAR.024(2).A
   DISTRIBUSI ......                 INSTALASI                   Halaman 1/5
                                    GARDU TIANG


           2.4.    Pemeriksaan dan Penyesuaian Fuse Link

                    1. Nilai Fuse Link :    ......... Ampere
                       Terpasang/Sebe
                       lum Perbaikan

                    2. Nilai Fuse Link :    ......... Ampere
                       Sesudah
                       Perbaikan
Jaringan Distribusi Tegangan Rendah                                                                                  141


            2.5.     Pengukuran Tahanan Isolasi Trafo

                                                             Hasil Pengukuran
           NO                URAIAN                                                          CATATAN
                                                            R       S       T
             1       Primer
             2       Sekunder
             3       Primer - Sekunder


           2.6.      Pengukuran Tahanan Pembumian

                      1.    Nilai Tahanan               :    ............. Ohm
                            Pembumian
                            Sebelum
                            Perbaikan

                      2.    Nilai Tahanan               :    ............. Ohm
                            Pembumian
                            Sesudah
                            Perbaikan

                      3.    Nilai Tahanan               :    ............. Ohm
                            Setelah
                            Penambahan/
                            Metode
                            Lainnya

           2.7.      Pemeriksaan Urutan Fasa

                      1.    Sebelum Pemeliharaan                     : Sesuai / Tidak Sesuai
                      2,    Sesudah Pemeliharaan                     : Sesuai / Tidak Sesuai

                                                                        Surabaya,..........................
          Manager UPJ/UJ ..............                                 PETUGAS,




         ( .........................................)                   ( .......................................)
142

                                     SOP                  Kode Unit :
  PT. PLN (PERSERO)              MEMELIHARA            DIS.HAR.024(2).A
   DISTRIBUSI .........           INSTALASI              Halaman 1/5
                                 GARDU TIANG
 PETUGAS :
 1. Pengawas 1 orang
 2. Pelaksana 2 orang

 KOORDINASI :
 1. Koordinator Perencanaan Pemeliharaan
 2. Koordinator Pemeliharaan JTR
 3. Koordinator Perbekalan
 4. Asman Pemeliharaan
 5. Pelanggan

 PERALATAN KERJA :                  PERALATAN UKUR :

 1. Toolkit Set.                    1. Earth Tester
 2. Tang Press.
 3. Palu 3 Kg.
 4. Cangkul, Tali.
 5. Gergaji Besi
 6. Pengencang Stainless Steel

 PERALATAN K-3 :                    MATERIAL/ALAT BANTU :
 1. Helm Pengaman.                  1. Ground Rod
 2. Sepatu Karet.                   2. BC 50 mm2
 3. Sarung Tangan Kulit.            3. Klem Pentanahan
 4. Pakaian Kerja.                  4. Pipa Galvanis
 5. Sabuk Pengamana                 5. Stainless Steel Strap dan
 6. P-3 K                              Stopping Buckles
                                    6. CCO (Connector Al/Cu)
PROSEDUR KERJA :
 1. Pelaksanaan pemeliharaan atas dasar PK dari atasan yang
    berwenang.
 2. Lakukan pemeriksaan ke lokasi, untuk dasar persiapan pekerjaan.
 3. Siapkan alat kerja, alat K-3 dan material kerja yang diperlukan.
 4. Konfirmasikan tanggal dan jam pelaksanaan pemeliharaan.
 5. Laksanakan pekerjaan sesuai dengan jadual yang sudah disepakati.
 6. Selesai melaksanakan pekerjaan, segera melaporkan kepada Posko.
 7. Buat laporan tertulis kepada atasan yang menugsakan.
LANGKAH KERJA :
 1. Petugas pelaksana menerima PK dari Asman Distribusi untuk
    melakukan pemeliharaan Sistim Pembumian (arde) Jaringan
    Tegangan Rendah.
 2. Siapkan Alat Kerja, Alat Ukur, Alat K-3, Material Kerja dan Alat Bantu
    sesuai dengan kebutuhan.
Jaringan Distribusi Tegangan Rendah                                            143

  3. Setelah Petugas sampai di lokasi, gunakan Alat K-3 pasang rambu
     peringatan untuk publik dan selanjutnya lapor ke Posko bahwa petugas
     akan melakukan pemeliharaan sistim pembumian (arde) JTR.
  4. Periksa sambungan-sambungan dan kawat arde sistim pentanahan
     secara visual.
  5. Apabila terdapat kelainan misalnya putus atau hilang maka gantilah
     dengan penghantar yang baru dengan cara menghubungkan kawat arde
     dengan netral JTR sementara ujung yang lain biarkan tidak terhubung
     dengan Ground Rod.
  6. Lakukan pengukuran Tahanan Pentanahan/Ground Rod sesuai dengan
     instruction manual dan catat nilai tahanannya di Formulir BA.
  7. Bila hasil pengukuran nilai tahanan > 5 Ohm lakukan dengan menambah
     atau memperdalam Ground Rod. Atau dengan metode lain.
  8. Lakukan pengukuran ulang dan catat nilai tahanan pentanahan di formulir
     Berita Acara (BA).
  9. Lakukan penyembungan kawat arde ke Ground Rod dengan
     menggunakan klem arde.
 10. Periksa hasil pekerjaan dan yakinkan bahwa jaringan personil dan
     peralatan dalam keadaan aman.
 11. Lapor ke Posko bahwa pekerjaan pemeliharaan telah selesai.
 12. Bereskan peralatan kerja & K-3 dan rambu peringatan untuk publik serta
     bersihkan areal pekerjaan.
 13. Buat Laporan dan Berita Acara pelaksanaan pekerjaan pemeliharaan
     sistem pentanahan.
 14. Laporan penyelesaian pekerjaan dan Berita Acara diserahkan kepada
     Asman Distribusi.




                                           Keterangan :
                                               1.   Ground Rod.
                                               2.   Klem Pembumian
                                               3.   Konduktor Pembumian.
                                               4.   Stainless Steel Strap.
                                               5.   Pierching Klem.
                                               6.   Kawat Netral JTR.




    Gambar 4-104. Gambar Konstruksi Sistem Pembumian
144



                                                    SOP                                    Kode Unit :
 xzPT. PLN ( PERSERO
                                                MEMELIHARA                              DIS.HAR.024(2).A
           )
                                                 INSTALASI                                Halaman 1/5
    DISTRIBUSI ......
                                                GARDU TIANG

      1.    DATA LOKASI GARDU TRAFO

             1.1.     Nomor Gardu                :    ............................................

             1.2.     Nomor Tiang                :    ............................................

             1.3.     Lokasi                          ............................................


      2.    NILAI TAHANAN PEMBUMIAN (ARDE)

            2.1.      Nilai Tahanan                           :    ............. Ohm
                      Pembumian Sebelum
                      Perbaikan

            2.2.      Nilai Tahanan                           :    ............. Ohm
                      Pembumian Sesudah
                      Perbaikan

            2.3.      Nilai Tahanan
                      Pembumian Setelah                       :    ............. Ohm
                      Penambahan/Metode
                      Lainnya

      3.    CATATAN

             3.1.     ................................................................................................

             3.2.     ................................................................................................


                                                                     Surabaya, ..............................
           ASMAN DISTRIBUSI                                                  PETUGAS,




      ( .........................................)                    ( .........................................)
Jaringan Distribusi Tegangan Rendah                                                                     145

4-4 Memasang Saluran Kabel Tanah Tegangan Rendah
4-4-1 Pengecekan Pekerjaan Penarikan Kabel
       Sebelum melaksanakan pekerjaan penarikan kabel, maka perlu
diadakan pengecekan secara menyeluruh apakah semua hal yang terkait
dengan pekerjaan penarikan kabel sudah dipersiapkan dengan baik. Untuk
pengecekan pekerjaan penarikan kabel dapat diikuti acuan berikut:
No. Kontrak ....................... Daerah ........................ No. Tag....................
Gbr. Referensi............................................................Uraian.....................
                                                                          Instalasi OK, Tanda
No.                         Item yang di cek
                                                                             tangan & Tgl.
     Cocokan Haspel kabel sesuai dengan
 1. peruntukan dan rencana pemotongan
     Cocokan tegangan kabel, temperatur kabel
 2. minimum.
     Cek daftar penarikan kabel untuk arah putaran
 3. dan metode penarikan dalam konduit untuk
     kabel tegangan rendah.
     Cek arah panah pada haspel kabel untuk
 4.
     keperluan penarikan kabel.
     Periksa kabel apakah ada kerusakan pada
 5.
     bagian luar.
     Bagian logam dari kabel yang masih tergulung
 6. di dalam haspel kabel di megger sebelum
     dipasang.
     Dilakukan cek kontinyuitas dan isolasi pada
 7. kabel instrumen sebelum kabel dikeluarkan
     dari haspel (m, 250 Volt).
     Dilakukan pengukuran dengan megger
 8. terhadap kabel daya dan kontrol yang telah
     digelar dan dicatat pada Field test Record.
     Dilakukan cek kontinyuitas dan isolasi untuk
 9. kabel instrumen setelah digelar dan dicatat
     pada Field test Record.
     Dilakukan High Potential Cable Test (jika
10. diperlukan) dan dicatat dalam Field test
     Record.
     Konduktor diidentifikasi apakah sesuai dengan
11. spesifikasi dan gambar.
12. Kabel diberi end seal setelah dipotong.
 Catatan:
    Air dan kotoran yang ada di dalam konduit dibersihkan sebelum
    dilakukan penarikan kabel kedalamnya.
 Keterangan:
146

4-4-2 Penempatan Kabel pada Galian tanah
       Gambar 4-105 sampai dengan 4-134 menunjukkan ukuran lebar dan
kedalaman galian dan persyaratan lain berkaitan dengan pekerjaan
penanaman kabel tanah.




Catatan:
  - Ukuran dalam mm
  - Setiap 30 cm tanah urug
     dipadatkan dengan stamper   Gambar 4-105. Perletakan 1 kabel
                                         tanah TR tiap 1 meter di
                                         bawah berm




Catatan:
  - Ukuran dalam mm
  - Setiap 30 cm tanah urug
     dipadatkan dengan stamper

        Gambar 4-106. Perletakan 2 kabel tanah TR tiap 1 meter di
                      bawah berm
Jaringan Distribusi Tegangan Rendah                                            147




    Catatan:
      - Ukuran dalam mm
      - Setiap 30 cm tanah urug         Gambar 4-107. Perletakan 3 kabel tanah
         dipadatkan dengan stamper         TR tiap 1 meter di bawah berm




       Catatan:
         - Ukuran dalam mm
         - Setiap 30 cm tanah urug
            dipadatkan dengan stamper


                                      Gambar 4-108. Perletakan 4 kabel tanah
                                         TR tiap 1 meter di bawah berm
148




      Catatan:
        - Ukuran dalam mm
        - Setiap 30 cm tanah urug
           dipadatkan dengan stamper


      Gambar 4-109. Perletakan 5 kabel tanah TR tiap 1 meter di bawah berm




 Catatan:
   - Ukuran dalam mm                   Gambar 4-110. Perletakan 6 kabel tanah
   - Setiap 30 cm tanah urug
      dipadatkan dengan stamper             TR tiap 1 meter di bawah berm
Jaringan Distribusi Tegangan Rendah                                       149




 Catatan:
   - Ukuran dalam mm
   - Setiap 30 cm tanah urug
   dipadatkan dengan stamper


  Gambar 4-111. Perletakan 7 kabel tanah TR tiap 1 meter di bawah berm




  Catatan:
    - Ukuran dalam mm
    - Setiap 30 cm tanah urug
    dipadatkan dengan stamper


   Gambar 4-112. Perletakan 8 kabel tanah TR tiap 1 meter di bawah berm
150




 Catatan:
  - Ukuran dalam mm
  - Setiap 30 cm tanah urug      Gambar 4-113. Perletakan 1 kabel
     dipadatkan dengan stamper
  - D > 20 cm                     tanah TR tiap 1 meter di bawah
  - D > 50 cm untuk pipa gas         berm posisi penyebrangan




 Catatan:
  - Ukuran dalam mm
  - Setiap 30 cm tanah urug
     dipadatkan dengan stamper    Gambar 4-114. Perletakan 1 kabel
  - D > 20 cm                         tanah TR tiap 1 meter di
   - D > 50 cm untuk pipa gas        bawah berm posisi paralel
Jaringan Distribusi Tegangan Rendah                                            151




 Catatan:
    - Ukuran dalam mm
    - Setiap 30 Cm tanah urug
      dipadatkan dengan stamper


                                  Gambar 4-115. Perletakan 1 kabel tanah TR
                                        tiap 1 meter di bawah trotoar




 Catatan:
    - Ukuran dalam mm
    - Setiap 30 Cm tanah urug
      dipadatkan dengan stamper       Gambar 4-116. Perletakan 2 kabel tanah
                                         TR tiap 1 meter di bawah trotoar
152




  Catatan:
     - Ukuran dalam mm
     - Setiap 30 Cm tanah urug
       dipadatkan dengan stamper



                                    Gambar 4-117. Perletakan 3 kabel tanah
                                       TR tiap 1 meter di bawah trotoar




 Catatan:
    - Ukuran dalam mm
    - Setiap 30 Cm tanah urug
      dipadatkan dengan stamper


                                   Gambar 4-118. Perletakan 4 kabel tanah
                                      TR tiap 1 meter di bawah trotoar
Jaringan Distribusi Tegangan Rendah                                    153




       Catatan:
          - Ukuran dalam mm
          - Setiap 30 Cm tanah urug
            dipadatkan dengan stamper

                           Gambar 4-119. Perletakan 5 kabel tanah
                              TR tiap 1 meter di bawah trotoar




            Catatan:
               - Ukuran dalam mm
               - Setiap 30 Cm tanah urug
                 dipadatkan dengan stamper



                           Gambar 4-120. Perletakan 6 kabel tanah TR
                                 tiap 1 meter di bawah trotoar
154




         Catatan:
            - Ukuran dalam mm
            - Setiap 30 Cm tanah urug
              dipadatkan dengan stamper



                      Gambar 4-121. Perletakan 7 kabel tanah
                         TR tiap 1 meter di bawah trotoar




      Catatan:
         - Ukuran dalam mm
         - Setiap 30 Cm tanah urug
           dipadatkan dengan stamper



                      Gambar 4-122. Perletakan 8 kabel tanah
                         TR tiap 1 meter di bawah trotoar
Jaringan Distribusi Tegangan Rendah                                      155




     Catatan:
        - Ukuran dalam mm
        - Setiap 30 Cm tanah urug
          dipadatkan dengan stamper   Gambar 4-123. Perletakan 1 kabel
        - D > 20 cm                    tanah TR tiap 1 meter di bawah
        - D > 50 cm untuk pipa gas       trotoar posisi penyebrangan




     Catatan:
        - Ukuran dalam mm
        - Setiap 30 Cm tanah urug
          dipadatkan dengan stamper
        - D > 20 cm
                                      Gambar 4-124. Perletakan 1 kabel
        - D > 50 cm untuk pipa gas     tanah TR tiap 1 meter di bawah
                                            trotoar posisi peralel
156




Catatan:
   - Ukuran dalam mm                  Gambar 4-125. Perletakan 1 kabel
   - Setiap 30 Cm tanah urug
     dipadatkan dengan stamper
                                       tanah TR tiap 1 meter melintang
                                           jalan raya aspal (digali)




         Catatan:
            - Ukuran dalam mm
            - Setiap 30 Cm tanah urug
              dipadatkan dengan stamper



                Gambar 4-126. Perletakan 2 kabel tanah TR tiap 1
                   meter melintang jalan raya aspal (digali)
Jaringan Distribusi Tegangan Rendah                                157




       Catatan:
          - Ukuran dalam mm
          - Setiap 30 Cm tanah urug
            dipadatkan dengan stamper




                             Gambar 4-127. Perletakan 3
                             kabel tanah TR tiap 1 meter
                           melintang jalan raya aspal (digali)




         Catatan:
            - Ukuran dalam mm
            - Setiap 30 Cm tanah urug
              dipadatkan dengan stamper


                  Gambar 4-128. Perletakan 4 kabel tanah TR
                tiap 1 meter melintang jalan raya aspal (digali)
158




      Catatan:                               Gambar 4-129. Perletakan 5 kabel
         - Ukuran dalam mm
         - Setiap 30 Cm tanah urug            tanah TR tiap 1 meter melintang
           dipadatkan dengan stamper              jalan raya aspal (digali)




            Catatan:
               - Ukuran dalam mm
               - Setiap 30 Cm tanah urug
                 dipadatkan dengan stamper


                                       Gambar 4-130. Perletakan 6 kabel
                                        tanah TR tiap 1 meter melintang
                                            jalan raya aspal (digali)
Jaringan Distribusi Tegangan Rendah                                      159




    Catatan:                          Gambar 4-131. Perletakan 7 kabel
       - Ukuran dalam mm
       - Setiap 30 Cm tanah urug       tanah TR tiap 1 meter melintang
         dipadatkan dengan stamper         jalan raya aspal (digali)




     Catatan:                         Gambar 4-132. Perletakan 8 kabel
        - Ukuran dalam mm
        - Setiap 30 Cm tanah urug      tanah TR tiap 1 meter melintang
          dipadatkan dengan stamper        jalan raya aspal (digali)
160




                                                    Catatan:
                                                         Ukuran dalam mm
                                                         Setiap 30 Cm tanah urug
                                                         Dipadatkan dengan stamper
                                                         Kabel dimasukkan kedalam
                                                         pipa PNV ∅ 6” jenis AW
                                                         tebal 6 mm
                                                         Untuk kabel tanpa armorrod,
                                                         dimasukkan ke pipa besi di
                                                         galvanis 7 micron ∅ 6”.
                                                         D > 20 cm
                                                         D > 50 cm untuk pipa gas



             Gambar 4-133. Perletakan 1 kabel tanah TR tiap 1 meter
              melintang jalan raya aspal (digali) posisi penyebrangan




      Catatan:
           Ukuran dalam mm
           Setiap 30 Cm tanah urug
           Dipadatkan dengan stamper
           Kabel dimasukkan kedalam          Gambar 4-134. Perletakan
           pipa PNV ∅ 6” jenis AW              1 kabel tanah TR tiap 1
           tebal 6 mm
           Untuk kabel tanpa armorrod,       meter melintang jalan raya
           dimasukkan ke pipa besi di
           galvanis 7 micron ∅ 6”.           aspal (digali) posisi paralel
           D > 20 cm
           D > 50 cm untuk pipa gas
Jaringan Distribusi Tegangan Rendah                                      161

Jika kabel tanah dilindungi dengan pipa beton digunakan acuan sebagai
berikut:
          Tabel 4-6. Ukuran galian tanah untuk beberapa pipa beton
        No.       Tabung beton φ 20 Cm          L            D
         1.               1 Tabung              100         1000
         2.               2 Tabung              100         1000
         3.               3 Tabung              900         1000
         4.               4 Tabung            1.200         1000
         5.               5 Tabung            1.500         1000
         6.               6 Tabung            1.800         1000




         Gambar 4-135.                       Gambar 4-136
         Susunan struktur                Pemasangan kabel tanah
      penanaman kabel tanah               dengan pipa pelindung



                                                 Gambar 4-137.
                                             Cara meletakkan kabel
                                           tanah di dalam tanah galian




                          Gambar 4-138.
         Ukuran dan penempatan untuk satu kabel dan dua kabel
162

4-5 Sambungan Pelayanan
4-5-1 Ketentuan Umum Sambungan Pelayanan
       Ketentuan umum yang perlu diperhatikan dalam sambungan
pelayanan pelanggan, antara lain adalah jarak aman saluran kabel, jumlah
pelanggan pada setiap sambungan luar pelanggan (SLP). Batasan-batasan
tersebut dapat dilihat pada Gambar 5-139.




         Gambar 4-139. Ketentuan umum sambungan pelanggan



      Keterangan :
      JTR = STR s/d APP (STR + SLP + SMP + APP)
       SP = SLP s/d APP (SLP + SMP + APP)
       SR = SLP s/d SMP (SLP + SMP)
         L = 30 m u/ Kabel isolasi dipilin (LVTC)
             45 m u/ Kabel jenis Dx/Qx
        T = 6 m Melintasi Simpang Jalan Umum
             5,5 m Melintasi Rel Kereta Api
             5 m Melintasi Jalan Umum
             4 m Tidak melintasi Jalan Umum
Jaringan Distribusi Tegangan Rendah                               163




        Gambar 4-140 Ketentuan umum sambungan luar pelanggan


   Ketentuan-ketentuan Sambungan Pelayanan.
    1. Dari satu tiang boleh dipasang maksimum 5 SLP.
    2. Dari SLP 1 boleh disambung berturut-turut (seri) maksimum 5
       pelanggan dan tetap memperhatikan beban dan susut tegangan.
    3. Jarak sambungan dari tiang ke rumah atau dari rumah ke rumah
       maksimum 30 meter u/ SLP jenis twisted dan maksimum 45 meter
       u/ SLP jenis DX/QX.
    4. Jarak sambungan dari tiang ke rumah terakhir maksimum 150
       meter dan tetap memperhatikan susut tegangan yang diijinkan.
    5. Susut tegangan sepanjang SR yang diijinkan maksimum 2% bila
       SLP disambung pada STR, maksimum 10% bila SLP disambung
       pada Gardu Trafo/Peti TR.
    6. Pada satu tiang atap boleh dipasang maksimum 3 SLP.
164

4-5-2 Konstruksi Sambungan Luar Pelayanan (SLP)




                                                   JUMLAH
 Kode         Material
                                     SKA 11-C SKC 11-C SKA 11-C-T SKC 11-C-T
  Vb    Pole band double rack           1        1         1          1
  aa    Eye nut 5/8”                    1        1         1          1
  as    Service swinging clevis         1        1         1          1
  s     Spool insulator ansi 53-1       1        1         1          1
  bn    Clamp loop dead end             1        1         1          1
  atp   Armor tape                     0,5      0,5       0,5        0,5
  psc   Plastic strap for clamping      1        1         1          1
  p     Bare connector bimetal          2        4          -         -
  p-1   Protective cap tap connector    -        -         2          4

  Gambar 4-141 Konstruksi SLP 1 phasa jenis DX/ 3 phasa jenis QX
                pada STR tanpa isolasi dan berisolasi




                                                   JUMLAH
 Kode         Material
                                     SKA 14-C SKC 14-C SKA 14-C-T SKC 14-C-T
  Vb    Pole band double rack           1        1         1          1
  da    Bracket secondery               1        1         1          1
  s     Spool insulator ansi 53-1       1        1         1          1
  bn    Clamp loop dead end             1        1         1          1
  atp   Armor tape                     0,5      0,5       0,5        0,5
  psc   Plastic strap for clamping      1        1         1          1
  p     Bare connector bimetal          2        4          -         -
  p-1   Protective cap tap connector    -        -         2          4

  Gambar 4-142. Konstruksi SLP 1 phasa jenis DX/ 3 phasa jenis QX
                pada STR tanpa isolasi dan STR berisolasi
Jaringan Distribusi Tegangan Rendah                                          165




                                                           JUMLAH
     Kode              Material
                                               SKA-C   SKC-C SKA-C-T SKC-C-T
      Vb     Pole band double rack               1       1      1       1
      aa     Eye nut 5/8”                        1       1      1       1
      dt     Service alum. dead end clamping     1       1      1       1
      psc    Plastic strap for clamping          1       1      1       1
      p      Bare connector bimetal              2       4      -       -
      p-1    Protective cap tap connector        -       -      2       4


    Gambar 4-143 Konstruksi SLP 1 phasa jenis DX/ 3 phasa jenis QX
                 pada STR tanpa isolasi dan STR berisolasi




                                                           JUMLAH
   Kode               Material
                                               SKA-C1 SKC-C1 SKA-C1-T SKC-C1-T
    Vb      Pole band double rack                1      1       1        1
    v-1     Pole attachment fitting              1      1       1        1
    dt      Service alum. dead end clamping      1      1       1        1
    psc     Plastic strap for clamping           1      1       1        1
    p       Bare connector bimetal               2      4       -        -
    p-1     Protective cap tap connector          -      -      2        4


    Gambar 4-144 Konstruksi SLP 1 phasa jenis DX/ 3 phasa jenis QX
                 pada STR tanpa isolasi dan berisolasi
166




                                                         JUMLAH
  Kode              Material
                                             SKA-C2 SKC-C2 SKA-C2-T SKC-C2-T
   v-1     Pole attachment fitting              1      1       1        1
   dt      Service alum. dead end clamping      1      1       1        1
   psc     Plastic strap for clamping           1      1       1        1
   p       Bare connector bimetal               2      4       -        -
   p-1     Protective cap tap connector         -      -       2        4
   sst     Stanless steel strap               1,75   1,75    1,75     1,75
   stp     Stoping bucle for sst                1      1       1        1


      Gambar 4-145 Konstruksi SLP 1 phasa jenis DX/ 3 phasa jenis QX
                   pada STR tanpa isolasi dan berisolasi




                                                          JUMLAH
 Kode               Material
                                              SKA-T   SKC-T SKA-T -T SKC-T -T
  Vb      Pole band double rack                 1       1      1        1
  aa      Eye nut 5/8”                          1       1      1        1
  dt-1    Service alum. dead end clamping       1       1      1        1
  psc     Plastic strap for clamping            1       1      1        1
  p       Bare connector bimetal                2       4      -        -
  p-1     Protective cap tap connector          -       -      2        4



       Gambar 4-146 Konstruksi SLP 1 phasa / 3 phasa jenis Twisted
                    pada STR tanpa isolasi dan STR berisolasi
Jaringan Distribusi Tegangan Rendah                                         167




                                                          JUMLAH
      Kode               Material
                                               SKA-T1 SKC-T1 SKA-T1 -T SKC-T1 -T
      Vb     Pole band double rack               1      1       1         1
      V-1    Pole attachment fitting             1      1       1         1
      dt-1   Service alum. dead end clamping     1      1       1         1
      psc    Plastic strap for clamping          1      1       1         1
      p      Bare connector bimetal              2      4        -         -
      p-1    Protective cap tap connector        -      -       2         4

         Gambar 4-147 Konstruksi SLP 1 phasa / 3 phasa jenis Twisted
                      pada STR tanpa isolasi dan STR berisolasi




                                                           JUMLAH
      Kode               Material
                                               SKA-T2 SKC-T2 SKA-T2 -T SKC-T2 -T
      V-1    Pole attachment fitting              1      1       1         1
      dt-1   Service alum. dead end clamping      1      1       1         1
      psc    Plastic strap for clamping           1      1       1         1
      p      Bare connector bimetal               2      4       -         -
      p-1    Protective cap tap connector         -      -       2         4
      sst    Stanless steel strap               1,75   1,75    1,75      1,75
      stp    Stoping bucle for sst                1      1       1         1


       Gambar 4-148 Konstruksi SLP 1 phasa / 3 phasa jenis Twisted
                    pada STR tanpa isolasi dan STR berisolasi
168




                                            PKA – C
                                            PKC - C
                               PKA 16 – C
                               PKC 16 - C
                                                        JUMLAH
  Kode               Material
                                            SKA-T2 SKC-T2 SKA-T2 -T SKC-T2 -T
  dr     Clevis service conduit                1      1       -         -
  Sdf    Service dead end fitting              -      -       1         1
  as     Service swmping clevis                -      -       1         1
  s      Spool insulator ansi 53-1             1      1       1         1
  bn     Clamp loop dead end                   1      1       1         1
  atp    Armor tape                           0,5    0,5     0,5       0,5
  psc    Plastic strap for clamping            1      1       1         1
  p      Bare connector bimetal                2      4       2         4

  Gambar 4-149 Konstruksi SLP 1 phasa jenis DX/ 3 phasa jenis QX
               pada tiang atap




                                                        JUMLAH
 Kode                Material
                                            KA10-C KC10-C KA10-C1 KC10 –C1
  bt     Wire holder clevis screw              1      1      -       -
  aq     Eye Screw ½ “ x 4”                    -      -      1       1
  as     Service swinging clevis               -      -      1       1
  s      Spool insulator ansi 53-1             1      1      1       1
  bn     Clamp loop dead end                   1      1      1       1
  atp    Armor tape                           0,5    0,5    0,5     0,5
  psc    Plastic strap for clamping            1      1      1       1
  p      Bare connector bimetal                2      4      2       4


  Gambar 4-150 Konstruksi SLP 1 phasa jenis DX/ 3 phasa jenis QX
               pada titik tumpu dinding/tiang kayu
Jaringan Distribusi Tegangan Rendah                                      169




                               KA - C                              CKA – C
                               KC - C                              CKC – C

                                                     JUMLAH
  Kode                 Material
                                         KA-C   KC-C   CKA-C    CKC –C
   Sdt     Service dead end fitting        1      1       1        1
   j       Lag screw 3/8” x 2 1/2 “        2      2       -        -
   as      Service swinging clevis         1      1       1        1
   c       Bolt machine 5/8” x 6”          -      -       1        1
   ek      Locknut 5/8”                    -      -       2        2
   s       Spool insulator ansi 53-1       1      1       1        1
   bn      Clamp loop dead end             1      1       1        1
   atp     Armor tape                     0,5    0,5    0,5       0,5
   psc     Plastic strap for clamping      1      1       1        1
   p       Bare connector bimetal          2      4       2        4
   -       Pasir kali + batu kerikil       -      -     0,02     0,02
   cpt     Cement portland                 -      -       1        1

    Gambar 4-151 Konstruksi SLP 1 phasa jenis DX/ 3 phasa jenis QX
                 pada titik tumpu dinding/tiang beton




                                                     JUMLAH
    Kode                Material
                                         CKA-C1 CKC-C1 CKA-C2   CKC –C2
    as      Service swinging clevis         1      1      1         1
    o       Bolt machine 5/8” x 6”          1      1      1         1
    d       Washer square 2 ¼”              1      1      1         1
    ek      Locknut 5/8”                    1      1      1         1
    s       Spool insulator ansi 53-1       1      1      1         1
    bn      Clamp loop dead end             1      1      1         1
    atp     Armor tape                     0,5    0,5    0,5       0,5
    psc     Plastic strap for clamping      1      1      1         1
    p       Bare connector bimetal          2      4      2         4
    -       Pasir kali + batu kerikil     0,02   0,02   0,02      0,02
    cpt     Cement portland                 1      1      1         1

     Gambar 4-152 Konstruksi SLP 1 phasa jenis DX/ 3 phasa jenis QX
                  pada titik tumpu dinding/tiang kayu dan beton
170




                                                          JUMLAH
      Kode               Material
                                               CKA-C1 CKC-C1 CKA-C2   CKC –C2
      sst    Stansless steel strap               -      -     0,35      0,35
      stp    Stoping bucle for sst               -      -       1         1
      Sdt    Service dead end fitting            1      1       -         -
      v-1    Pole attachment fitting             -      -       1         1
      dt-1   Service alum. dead end clamping     1      1       1         1
      psc    Plastic strap for clamping          1      1       1         1

                  Gambar 4-153 Konstruksi SLP 1 phasa, 3 phasa
                               Jenis twisted pada tiang atap




                                                          JUMLAH
  Kode                  Material
                                               KA-T   KC-T   CKA-T    CKC–T
  Sdt        Service dead end fitting           1      1        1        1
  j          Lag screw 3/8” x 2 1/2 “           2      2        -        -
  c          Bolt machine 5/8” x 6”              -      -       1        1
  ek         Locknut 5/8”                        -      -       2        2
  dt-1       Service insul. dead end clamp.     1      1        1        1
  psc        Plastic strap for clamping         1      1        1        1
  -          Pasir kali + batu kerikil           -      -     0,02     0,02
  cpt        Cement portland                     -      -       1        1

         Gambar 4-154 Konstruksi SLP 1 phasa, 3 phasa jenis twisted
                       pada titik tumpu dinding/tiang kayu dan beton
Jaringan Distribusi Tegangan Rendah                                           171




                                                             JUMLAH
    Kode               Material
                                                 KA-T1   KC-T1 CKA-T2   CKC–T2
    aq      Eye screw ½” x 4”                      1       1     -         -
    j       Lag screw ½” x 4”                      -       -     1        1
    v-1     Pole attachment fitting                -       -     1        1
    dt-1    Service insul. dead end clamp.         1       1     1        1
    psc     Plastic strap for clamping             1       1     1        1

          Gambar 4-155 Konstruksi SLP 1 phasa, 3 phasa jenis twisted
                       pada titik tumpu dinding/tiang kayu




                                                              JUMLAH
  Kode                  Material
                                                     CKA-T1 CKC-T1 CKA-T2 CKC–T2
    C      Bolt machine 5/8” x Panjang disesuaikan      1      1      1      1
    d      Washer square 2 ¼”                           1      1      1      1
    ek     Locknut 5/8”                                 1      1      1      1
   v-1     Pole attachment fitting                      1      1      1      1
   dt-1    Service insul. dead end clamp.               1      1      1      1
   psc     Plastic strap for clamping                   1      1      1      1
     -     Pasir kali + batu kerikil                  0,02   0,02   0,02   0,02
   cpt     Cement portland                              1      1      1      1

     Gambar 4-156 Konstruksi SLP 1 phasa, 3 phasa jenis twisted
                  pada titik tumpu dinding/tiang kayu
172

4-5-3 Penggunaan Pipa Instalasi.
     Jika menggunakan pipa instalasi       dengan   bahan    logam    harus
dilaksanakan hal-hal sebagai berikut:
a. Sambungan-sambungan harus kontak langsung dan bebas isolasi.
b. Ujung pipa bagian atas dihubung pada pangkal tiang atap dengan kawat
   tembaga minimum 6 mm2 dan dilas/disolder.
c. Ujung pipa bagian bawah dihubungkan ke kawat pentanahan pada peti
   tegangan rendah.

Tabel 4-7. Daftar material konstruksi SMP dengan tiang atap dan titik tumpu
           untuk SR 1 phasa/3 phasa dengan SLP jenis DX/QX dan SMP
           jenis NYM/NYY.

                                                    JUMLAH
  Kode             Material               PMA8-C PMC8-C MA8-C MC8-C
                                          PMA8-C1 PMC8-C1 CMA8-C CMC8-C
  gc     Service must 11/2 “ x 1 ½” M        1        1       -        -
  ptc    Protective cap for gc 11/2”         1        1       -        -
  gd     Fixing colar 11/2”                  1        1       -        -
  gd-1   Fixing ring 11/2”                   1        1       -        -
  j      Lag screw 3/8” x 2”                 3        3       -        -
  gc-1   Union/PVC pipe, conduit            9*)      9*)    10*)     10*)
  lbp    Union/PVC L bouw pipe              3*)      3*)     5*)      5*)
  shp    Union/PVC shock pipe               1*)      1*)     1*)      1*)
  gd-2   Staples conduit pipe and nail     16*)     16*)    20*)     20*)
  cv     Service cable intrance NYM 2c     10*)       -     10*)       -
  cv     Service cable intrance NYM 4c       -      10*)      -      10*)
  cv-1   Service cable external DX type    45*)       -     45*)       -
  cv-1   Service cable external QX type      -      45*)      -      45*)
  slp    Sheet lead pipe, 1 ½” hole          1        1       -        -
  gd-3   Strap for sheet lead 11/2”          1        1       -        -



4-5-4 Konstruksi Sambungan Masuk Pelanggan (SMP)
      Gambar berikut menunjukkan beberapa jenis Sambungan Masuk
Pelanggan (SMP) melalui kerangka tiang atap dan atau tidak melalui tiang
atap.
Jaringan Distribusi Tegangan Rendah                              173




       Gambar 4-157 Konstruksi
       SMP dengan tiang atap
       untuk SR 1 phasa/3 phasa
       dengan SLP jenis DX/QX
       dan SMP jenis NYM/NYY
       di luar bangunan.




                                      Gambar 4-158 Konstruksi
                                      SMP dengan tiang atap
                                      untuk SR 1 phasa/3 phasa
                                      dengan SLP jenis DX/QX
                                      dan SMP jenis NYM/NYY
                                      di luar plapon
174




      Gambar 4-159 Konstruksi SMP dengan
      titik tumpu untuk SR 1 phasa/3 phasa
      dengan     SLP    jenis DX/QX    dan
      SMP jenis NYM/NYY di luar bangunan.




      Gambar 4-160 Konstruksi SMP
      dengan titik tumpu untuk SR 1
      phasa/3 phasa dengan SLP jenis
      DX/QX dan SMP jenis NYM/NYY
      di luar bangunan.
Jaringan Distribusi Tegangan Rendah                                              175

Tabel 4-8 Daftar material konstruksi SMP dengan tiang atap/titik tumpu
           untuk SR 1 phasa/3 phasa tanpa sambungan jenis Twisted

                                                           JUMLAH
  Kode                 Material                  PMA8-T PMC8-T MA8-T MC8-T
                                                 PMA8-T1 PMC8-T1 CMA8-T CMC8-T
  gc      Service must 11/2 “ x 1 ½” M               1       1      -      -
  ptc     Protective cap for gc 11/2”                1       1      -      -
  gd      Fixing colar 11/2”                         1       1      -      -
  gd-1    Fixing ring 11/2”                          1       1      -      -
  j       Lag screw 3/8” x 2”                        3       3      -      -
  gc-1    Union/PVC pipe, conduit                   9*)     9*)   10*)   10*)
  lbp     Union/PVC L bouw pipe                     3*)     3*)    5*)    5*)
  shp     Union/PVC shock pipe                      1*)     1*)    1*)    1*)
  gd-2    Staples conduit pipe and nail            16*)    16*)   20*)   20*)
  cv      Intrance and external service cable,
          include LVTC type 2 core                 40*)    40*)    -      -
  cv      Intrance and external service cable,
          include LVTC type 4 core                  -       -     40)*   40*)
  slp     Sheet lead pipe, 1 ½” hole                1       1      -      -
  gd-3    Strap for sheet lead 11/2”                1       1      -      -




  Gambar 4-161 Konstruksi SMP
  dengan tiang atap untuk SR 1 phasa/3
  phasa tanpa sambungan jenis Twisted
176




  Gambar 4-162 Konstruksi
  SMP dengan tiang atap
  untuk SR 1 phasa/3 phasa
  tanpa sambungan jenis
  Twisted




         Gambar 4-163 Konstruksi SMP dengan
         tiang atap untuk SR 1 phasa/3 phasa
         tanpa sambungan jenis Twisted
Jaringan Distribusi Tegangan Rendah                                     177




    Gambar 4-164 Konstruksi
    SMP dengan titik tumpu
    untuk SR 1 phasa/3 phasa
    tanpa sambungan jenis
    Twisted.




                                                              JUMLAH
                                KODE     MATERIAL
                                                           1 FASA 3 FASA
                                go     APP 3 fasa dengan
                                       OK type III                  1
                                go     APP 3 fasa dengan
                                       OK type I             1



  Gambar 4-165 Pemasangan APP pelanggan
  TR 1 phasa/3 phasa dengan OK type I/III
  pada dinding yang telah ada pelindungnya
178




      KODE                    MATERIAL                 JUMLAH
        go   APP 1 fasa dengan OK type I                  1
         -   Asbes gelombang 1000 x 550                   1
         -   Segitiga penyangga 200 x 200 x 280 dengan
             besi L 50 x 50 x 5                           2
        -    Kayu 40 x60 x 900                            2
        -    Fisher 3/8”                                  4
        -    Paku sekrup 3/8” x 2”                        4
        -    Mur – baut 3/8” x 31/2 ”                     4
        -    Paku payung                                  6
        -    Pasir (kubik)                               0,01
        -    Semen (kg)                                   2



      Gambar 4-166 Pemasangan APP pelanggan TR 1 phasa
                  dengan OK type I dengan pelindung tambahan.
Jaringan Distribusi Tegangan Rendah                                     179




    KODE                          MATERIAL                      JUMLAH
     go        APP 3 fasa dengan OK type III                       1
      -        Asbes gelombang 1400 x 900                          1
      -        Segitiga penyangga 400 x 400 x 560 dengan besi
               L 50 x 50 x 5                                      2
       -       Kayu 40 x60 x 900                                  2
       -       Fisher 3/8”                                        4
       -       Paku sekrup 3/8” x 2”                              4
       -       Mur – baut 3/8” x 31/2 ”                           4
       -       Paku payung                                        6
       -       Pasir (kubik)                                     0,01
       -       Semen (kg)                                         3



           Gambar 4-167 Pemasangan APP pelanggan TR 3 phasa
                        dengan OK type III dengan pelindung
                        tambahan.
180




 KODE                        MATERIAL                        JUMLAH
  go     APP 3 fasa dengan OK type VI khusus pasangan luar     1
  gc     Gas pipe disesuaikan                                  1
    -    Knie disesuaikan                                      4
    -    Besi kanal C np 6                                     2
    -    Besi kanal C np 6 250 mm                              2
   vo    Pole band                                             4
    -    Mur – baut 3/8” x 11/2 ”                              4
    -    Mur – baut 1/2” x 11/2 ”                              8
    v    Beugel disesuaikan                                    4
  dl 1   Pipe spacer ¾” x 3/8”                                 1
  dl 1   Pipe spacer ¾” x 7/8”                                 1
    -    Seal tap (rol)                                        2


             Gambar 4-168 Pemasangan APP pelanggan TR 3
                           phasa pada Gardu Trafo Tiang.
Jaringan Distribusi Tegangan Rendah                                          181

4-6 Gangguan pada Saluran Udara Tegangan Rendah
4-6-1 Gangguan Hilang Pembangkit
          Dalam beroperasi, pembangkit tenaga listrik tidak bisa dipisahkan
dari sub sistem tenaga listrik yang lain yaitu penyaluran (transmisi), distribusi
dan pelelangan, karena pembangkit tenaga listrik merupakan salah satu sub
sistem dari sistem tenaga listrik.
          Suatu sistem tenaga listrik yang sangat luas cakupan areanya,
menyebabkan timbulnya gangguan tidak bisa dihindari. Salah satu sub
sistem yang kemungkinan mengalami gangguan, adalah pembangkit tenaga
listrik. Bentuk gangguan tersebut adalah hilangnya daya atau pasokan daya
pada pembangkit atau biasa disebut hilangnya pembangkit.
          Secara garis besar, gangguan hilangnya pembangkit diakibatkan
oleh dua hal, yaitu yang bersifat internal dan gangguan yang bersifat
ekstemal.
1) Gangguan internal yaitu yang diakibatkan oleh pembangkit itu sendiri,
   misalnya: kerusakan/gangguan pada penggerak mula (prime over) dan
   kerusakan/gangguan pada generator, atau komponen lain yang ada di
   pembangkitan.
2) Gangguan eksternal, yaitu gangguan yang berasal dan diakibatkan dari
   luar pembangkitan, misalnya: gangguan hubung singkat pada jaringan.
   Hal ini akan menyebabkan sistem proteksi (relai atau circuit breaker)
   bekerja dan memisahkan suatu pembangkitan dari sistem yang lainnya.
   Apabila tingkat kemampuan pembebanan pembangkitan yang hilang
   atau terlepas dari sistem tersebut melampaui spinning reserve sistem,
   maka terjadi penurunan frekuensi terus menerus. Hal ini harus segera
   diatasi, karena akan menyebabkan trip pada unit pembangkitan yang
   lain, sehingga berakibat lebih fatal, yaitu sistem akan mengalami padam
   total (collapse).
4-6-2 Gangguan Beban Lebih
         Dalam suatu sistem tenaga listrik, yang dimaksud gangguan beban
lebih adalah pelayanan kepada pelanggan listrik yang melebihi kemampuan
sistem tenaga listrik yang ada, misal: trafo distribusi dengan kapasitas daya
terpasang 100 KVA, akan tetapi melayani pelanggan lebih besar dari
kapasitasnya. Hal ini menyebabkan trafo bekerja pada kondisi abnormal.
         Beban lebih akan menyebabkan arus yang mengalir pada jaringan
listrik menjadi besar, selanjutnva menimbulkan panas yang berlebihan, yang
akhirnya akan menyebabkan umur hidup (life time) peralatan dan material
pada jaringan listrik menjadi pendek atau mempercepat proses penuaan dan
kerusakan.
182

4-6-3 Gangguan Hubung Singkat
        Gangguan hubung singkat pada jaringan listrik, dapat terjadi antara
phasa dengan phasa (2 phasa atau 3 phasa) dan gangguan antara phasa
ke tanah. Timbulnya gangguan bisa bersifat temporer (non persistant) dan
gangguan yang bersifat permanent (persistant).
        Gangguan yang bersifat temporer, timbulnya gangguan bersifat
sementara, sehingga tidak memerlukan tindakan. Gangguan tersebut akan
hilang dengan sendirinya dan jaringan listrik akan bekerja normal kembali.
Jenis gangguan ini ialah : timbulnya flashover antar penghantar dan tanah
(tiang, traverse atau kawat tanah) karena sambaran petir, flashover dengan
pohon-pohon, dan lain sebagainya.
        Gangguan yang bersifat permanen (persistant), yaitu gangguan yang
bersifat tetap. Agar jaringan dapat berfungsi kembali, maka perlu
dilaksanakan perbaikan dengan cara menghilangkan gangguan tersebut.
Gangguan ini akan menyebabkan terjadinya pemadaman tetap pada
jaringan listrik dan pada titik gangguan akan terjadi kerusakan yang
permanen. Contoh: menurunnya kemampuan isolasi padat atau minyak
trafo. Di sini akan menyebabkan kerusakan permanen pada trafo, sehingga
untuk dapat beroperasi kembali harus dilakukan perbaikan.
        Beberapa, penyebab yang mengakibatkan terjadinya, gangguan
hubung singkat, antara lain:
1) Terjadinya angin kencang, sehingga menimbulkan gesekan pohon
   dengan jaringan listrik.
2) Kesadaran masyarakat yang kurang, misalnya bermain layang-layang
   dengan menggunakan benang yang bisa dilalui aliran listrik. Ini sangat
   berbahaya jika benang tersebut mengenai jaringan listrik.
3) Kualitas peralatan atau material yang kurang baik, misaInya: pada JTR
   yang memakai Twested Cable dengan mutu yang kurang baik, sehingga
   isolasinya mempunyai tegangan tembus yang rendah, mudah
   mengelupas dan tidak tahan panas. Hal ini juga akan menyebabkan
   hubung singkat antar phasa.
4) Pemasangan jaringan yang kurang baik misalnya: pemasangan konektor
   pada JTR yang memakai TC, apabila pemasangannya kurang baik akan
   menyebabkan timbulnya bunga api dan akan menyebabkan kerusakan
   phasa yang lainnya. Akibatnya akan terjadi hubung singkat.
5) Terjadinya hujan, adanya sambaran petir, karena terkena galian (kabel
   tanah), umur jaringan (kabeI tanah) sudah tua yang mengakibatkan
   pengelupasan isolasi dan menyebabkan hubung singkat dan
   sebagainya.
Jaringan Distribusi Tegangan Rendah                                   183

4-6-4 Gangguan Tegangan Lebih
       Yang dimaksud gangguan tegangan lebih ialah, besarnya tegangan
yang ada pada jaringan listrik melebihi tegangan nominal, yang diakibatkan
oleh beberapa hal sebagai berikut:
1) Adanya penurunan beban atau hilangnya beban pada jaringan, yang
   disebabkan oleh switching karena gangguan atau disebabkan karena
   manuver.
2) Terjadinya gangguan pada pengatur tegangan otomatis/automatic voltage
    regulator (AVR) pada generator atau pada on load tap chenger
    transformer.
3) Putaran yang sangat cepat (over speed) pada generator yang
   diakibatkan karena kehilangan beban.
4) Terjadinya sambaran petir atau surja petir (lightning surge), yang
   mengakibatkan hubung singkat dan tegangan lebih.
5) Terjadinya surja hubung (switch surge), yaitu berupa hubung singkat
   akibat bekerjanya circuit breaker, sehingga menimbulkan tegangan
   transient yang tinggi. Hal ini sering terjadi pada sistem jaringan
   tegangan ekstra tinggi.
       Gangguan tegangan lebih akan merusak isolasi, dan akibatnya akan
merusak peralatan karena insulation break down (hubung singkat) atau
setidak-tidaknya akan mempercepat proses penuaan peralatan dan
memperpendek umur peralatan.
       Sebenarnya kondisi abnormal ini kurang tepat jika disebut sebagai
gangguan. Akan tetapi kondisi abnormal ini jika berlangsung terus menerus
akan menyebabkan peralatan cepat rusak, umur peralatan pendek dan
membahayakan sistem.
       Sebenamya timbulnya gangguan beban lebih ini, khususnya terhadap
pasok daya ke pelanggan, bisa dieliminir oleh pihak PLN dengan cara:
pembebanan pada tiap-tiap trafo harus diinventarisir dan dimonitor dengan
seksama, sehingga pembebanannya tidak melebihi kapasitas trafo.
       Beberapa penyebab yang mengakibatkan timbulnya gangguan beban
lebih ialah:
1)    Semakin meningkatnya permintaan energi listrik dari pelangggan,
     sehingga memaksa trafo dan saluran dengan beban maksimum, bahkan
     mungkin lebih besar dari kemampuannya. Hal ini disebabkan:
     a. Jumlah volume jaringan listrik yang terbatas dan kurang bisa
        mengimbangi jumlah pelanggan.
     b. Kurangnya pengertian dan ketidaktahuan masyarakat pelanggan
        listrik terhadap masaIah kelistrikan. Contoh: pada suatu daerah
        tertentu terdapat sambungan listrik ke pelanggan dengan kondisi
        beban trafo dan jaringan yang telah maksimum. Ada calon pelanggan
184

         lain yang berdekatan dengan pelanggan PLN tersebut, ngotot untuk
         bisa disambungkan aliran listrik ke rumahnya. Akhirnya dengan
         sangat terpaksa PLN melayani, sehingga beban trafo dan jaringan di
         daerah tersebut menjadi lebih (over load).
      c. Terjadinya loses daya pada jaringan dan trafo, yang diakibatkan oleh
         berbagai hal, sehingga trafo beserta jaringannya tidak bisa bekerja
         pada beban penuh.
2)     Adanya manuver atau perubahan aliran beban di jaringan, setelah
      timbulnya gangguan.
3)     Adanya pemakaian energi listrik yang di luar kontrol dan catatan PLN
      atau tanpa sepengetahuan PLN, sehingga PLN sulit mendeteksi beban
      trafo dan jaringan yang ada. Hal ini akan menyebabkan timbulnya
      gangguan beban lebih.
4-6-5 Gangguan Instabilitas
       Yang     dimaksud   gangguan     instabilitas adalah   gangguan
ketidakstabilan pada sistem (jaringan) listrik. Gangguan ini diakibatkan
adanya hubung singkat dan kehilangan pembangkit, yang selanjutnya akan
menimbulkan ayunan daya (power swing).
       Efek yang lebih besar akibat adanya ayunan daya ini adalah,
mengganggu sistem interkoneksi jaringan dan menyebabkan unit-unit
pembangkit lepas sinkron (out of synchronism), sehingga relai pengaman
salah kerja dan menyebabkan timbulnya gangguan yang lebih luas.
       Untuk mengantisipasi agar gangguan instabilitas tidak teijadi, ada
beberapa cara yaitu: konstruksi jaringan harus baik, sistem proteksi harus
andal, pengoperasian dan pemeliharaan harus baik dan benar, dan
sebagainya.
4-6-6 Gangguan karena konstruksi jaringan yang kurang baik
       Yang dimaksud sistem jaringan di sini adalah, mulai dari
pembangkitan, penyaluran, distribusi sampai dengan instalasi listrik
pelanggan. Sedangkan yang dimaksud gangguan konstruksi jaringan
adalah, gangguan yang terjadi akibat kondisi jaringan yang tidak memenuhi
ketentuan dan standard teknik.
        Di sini ingin ditekankan bahwa sistem jaringan sangat menentukan
tingkat keberhasilan dan keandalan sistem tenaga listrik. Beberapa hal yang
mengakibatkan gangguan sistem jaringan, adalah:
1) Perencanaan yang kurang baik misalnya: tidak mempertimbangkan
   keseimbangan antara supply and demand (daya yang tersedia dan
   kebutuhan beban pelanggan), design konstruksi yang kurang tepat, dan
   lain sebagainya.
Jaringan Distribusi Tegangan Rendah                                    185

2) Peralatan dan material yang dipasang mempunyai standard teknik
   yang rendah (under quality).
3) Pemasangan yang kurang baik, yang diakibatkan kesadaran pelaksana
   pekerjaan yang rendah dan pengawasan dari pihak Owner yang kurang
   ketat.
4) Pengoperasian dan pemeliharaan yang kurang baik, kegagalan kerja
    sistem proteksi (peralatan pengaman) dan penuaan pada,
    peralatan/material jaringan.
         Hal tersebut di atas akan menyebabkan timbulnya berbagai
gangguan pada jaringan listrik. Hal ini bisa diatasi sedini mungkin, yaitu
sejak tahap perencanaan, pelaksanaan pekerjaan, pengawasan pelak-
pekerjaan, komisioning, pengoperasian dan pemeliharaan jaringan listrik,
harus mengikuti kaidah, ketentuan dan standard teknik yang telah
ditentukan.
4-7 Mengatasi Gangguan pada Sistem Tenaga Listrik
4-7-1 Konstruksi Jaringan Listrik yang Baik
        Terjadinya gangguan pada sistem tenaga listrik, tidak mungkin
dihilangkan dan tidak dapat dihindari sama sekali. Upaya yang bisa kita
tempuh adalah mengurangi terjadinya gangguan tersebut.
        Mengurangi terjadinya gangguan pada sistem tenaga listrik
merupakan upaya yang bersifat represif dan antisipasif, yaitu memasang
dan mewujudkan adanya konstruksi jaringan listrik yang baik, dengan cara
sebagai berikut:
1) Pada saat perencanaan sistem tenaga listrik, harus ditentukan design
   yang baik dan penentuan spesifikasi peralatan dan material harus
   memenuhi ketentuan teknik, sehingga pada saat beroperasi tahan
   terhadap kondisi kerja normal maupun dalam keadaan terjadi gangguan.
   Tahan terhadap pengaruh elektris, thermis maupun mekanis atau tidak
   terjadi overstress elektris dan mekanis, serta tidak terjadi overheated.
2) Material yang akan dipasang harus dapat diandalkan, mempunyai
   kualitas yang baik, mempunyai persyaratan dan standard teknik, yang
   dibuktikan dengan type test, sertifikat LMK, SPLN, IEC dan lain
   sebagainya. Atau berdasarkan pengalaman, peralatan/meterial tersebut
   telah terbukti keandalannya.
3) Pemasangan peralatan dan material harus dilaksanakan sebaik-
   baiknya, sesuai dengan design, spesifikasi dan ketentuan dalam. RKS
   dan kontrak.

4) Pada saat pelaksanaan pekerjaan, harus ada pengawasan dari pihak
   PLN, sehingga kemungkinan terjadinya kesalahan dan ketidak sesuaian
   dengan RKS dan kontrak, dapat dihindari.
186

5) Memasang kawat pentanahan (khususnya pada SUTET/SUTT), dengan
   tahanan pentanahan yang rendah. Untuk keperluan pemeriksaan dan
   pemeliharaan, konduktor pentanahannya harus bisa dilepas dari kaki
   tiangnya.
6) Setelah selesai dibangun dan sebelum dioperasikan, jaringan listrik
   tersebut harus di test atau dilaksanakan komisioning, terlebih dahulu,
   sehingga bisa diyakinkan bahwa jaringan tersebut akan dapat beroperasi
   dengan baik, andal dan aman.
7) Pengopcrasian yang baik, dengan memperhatikan dan melaksanakan:
   a. Melaksanakan pemeliharaan rutin dan berkala sesuai kebutuhan.
   b. Mengadakan pemeriksaan dan perbaikan.
   c. Melaksanakan penebangan/pemaprasan ranting dan dahan pohon
      yang ada di sekitar jaringan SUTET, SUTT, SUTM dan SUTR, yang
      kemungkinan akan menyebabkan gangguan. Harus diperhitungkan,
      bahwa pada saat terjadi hembusan angin, dahan-dahan pohon
      tersebut harus tetap mempunyai jarak yang aman dengan kawat
      phasa jaringan.
8) Pada jaringan SUTR dan SLJTM, digunakan kawat penghantar
   (konduktor) yang berisolasi, misalnya: AAAC OC, AAC OC dan Twested
   Cable.
9) Mengidentifikasi dan menginventarisir penyebab gangguan serta,
   melakukan penyelidikan, sebagai umpan balik dan masukan di dalam
   menentukan sistem proteksi yang lebih baik.
4-7-2 Pemasangan Sistem Proteksi yang Andal
          Pemasangan peralatan pengaman (sistem proteksi) pada jaringan
listrik, bertujuan untuk mengurangi akibat terjadinya gangguan. Hal ini harus
dilakukan, karena timbulnya gangguan pada jaringan listrik tidak mungkin
dicegah sama sekali.
1) Fungsi peralatan pengaman (proteksi).
      Sistem proteksi merupakan kesatuan (gabungan) dari alat-alat (sub
      sistem) proteksi, berfungsi untuk:
      a. Mendeteksi adanya gangguan (kondisi abnormal) pada sistem
         tenaga listrik yang diamankannya, sehingga tidak menimbulkan
         kerusakan.
      b. Melepaskan atau memisahkan (mengisolasi) bagian sistem yang
         terganggu sehingga, tidak meluas ke bagian sistem yang tidak
         terganggu dan bagian sistem lainnya dapat terus beroperasi.
Jaringan Distribusi Tegangan Rendah                                     187

2) Pertimbangan pemasangan sistem proteksi.
       Dalam menentukan dan menetapkan pemasangan sistem proteksi
pada jaringan listrik, ada beberapa hal yang dijadikan sebagai
pertimbangan, yaitu:
    a. Fungsi peralatan proteksi, yaitu: pemasangan peralatan proteksi
       pada masing-masing sub sistem jaringan listrik harus tepat, sesuai
       dengan fungsinya.
    b. Area pengamanan, yaitu: pemasangan peralatan pengaman (relay
       pengaman) pada tiap-tiap sub area (section), dimaksudkan apabila
       terjadi gangguan pada section tertentu, maka relay dapat mendeteksi
       gangguan dengan bantuan PMT, melepaskan section yang
       terganggu dari bagian jaringan (sistem) yang lainnya. Antara section
       yang satu dengan section lainnya dalam satu sistem tenaga listik,
       bisa dihubungkan dan diputuskan oleh PMT.
    c. Sistem pengaman ganda, yaitu: pemasangan peralatan pengaman
       ganda. (utama dan cadangan) dengan maksud apabila pengaman
       utama gagal bekerja, masih ada pengaman lain yang bisa
       mengamankan sistem dari gangguan. Pengaman cadangan akan
       bekerja setelah pengaman utama gagal bekerja, sehingga pengaman
       cadangan bekerja dengan waktu tunda (time delay) untuk memberi
       kesempatan pengaman utama terlebih dahulu.
    d. Kriteria peralatan pengaman yang mehputi:
        - Peralatan pengaman harus mempunyai kepekaan (sensitivity) yang
          tinggi, sehingga cukup peka dalam mendeteksi gangguan di
          daerah pengamanannya, meskipun gangguan yang timbul hanya
          memberikan rangsangan yang minim.
        - Peralatan pengaman harus mempunyai keandalan (reliability yang
          tinggi, dengan tingkat kepastian bekerja (dependability) yang bisa
          diandalkan, dapat mendeteksi dan melepaskan sub sistem yang
          mengalami gangguan serta tidak boleh gagal bekerja (mempunyai
          dependality tinggi). Realibility peralatan pengaman juga harus
          mempunyai tingkat keamanan (security) yang tinggi atau tidak
          boleh salah keja. Contoh salah kerja ialah : peralatan pengaman
          mengalami trip, padahal tidak ada gangguan pada jaringan atau
          gangguan terjadi pada sub are (sub sistem) di luar pengamanan
          peralatan pengaman tersebut. Hal ini akan merugikan, karena
          menimbulkan pemadaman aliran listrik, yang sebenamya tidak
          boleh terjadi.
        - Peralatan pengaman harus mempunyai selektivitas (selectivity)
          yang tinggi, yaitu : harus bisa mengamankan pada sub area (sub
          sistem) yang di kawasan pengaman utamanya. Relay harus bisa
          bekerja sesuai kebutuhan, misalnya harus bekerja cepat atau
188

         bekerja dengan waktu tunda (tyme delay) atau bahkan tidak harus
         bekerja, sehingga relay harus bersifat selektif
       - Peralatan pengaman harus mempunyai kecepatan (speed) yang
         tinggi, yaitu dapat memisahkan sub sistem yang terganggu secepat
         mungkin, sehingga kerusakan akibat gangguan dapat diperkecil.
4-8 Pengaman terhadap Tegangan Sentuh
        Jika suatu obyek bertegangan tersentuh oleh tubuh manusia, maka
pada umumnya arus listrik mengalir ke dalam tubuh manusia tersebut.
Tetapi sebenarnya yang berbahaya bagi tubuh bukanlah tegangan itu
sendiri, melainkan arus listrik yang mengalir ke dalam tubuh manusia,
sedangkan tegangan barulah berbahaya apabila akibat sentuhan dengan
tegangan itu menyebabkan mengalirnya arus listrik yang cukup besar di
dalam tubuh. Jika tidak menyebabkan mengalirnya arus maka tegangan itu
tidak berbahaya. Oleh karena itu, sering kita lihat burung-burung bertengger
dengan enaknya pada SUTT 70 kV.




      Gambar 4-169 Pembagian daerah pengaruh arus bolak-balik
                   (pada 50-60 hz) terhadap orang dewasa

        Banyak riset yang telah dilakukan terkait dengan akibat arus listrik
mengalir ke dalam tubuh. Berdasarkan penelitian yang dilaporkan oleh IEC
Report Publication 479 mengemukakan hal-hal sebagai berikut (seperti yang
ditunjukkan dalam Gambar 4-169.)
Daerah (1) Daerah di mana arus tidak menimbulkan reaksi apa-apa
Daerah (2) Daerah di mana arus mungkin sudah terasa, tetapi biasanya
           tidak menimbulkan akibat pathophsiologis
Daerah (3) Daerah di mana biasanya tidak mengakibatkan bahaya fibrilasi
           (denyut jantung tak teratur atau berhenti)
Daerah (4) Daerah di mana fibrilasi bisa terjadi dengan kemungkinan
           sampai 50%
Jaringan Distribusi Tegangan Rendah                                                   189

Daerah (5) Daerah di mana fibrilasi bisa terjadi dengan kemungkinan lebih
           dari 50%.
       Jika tegangan tersentuh ke suatu tubuh, dengan kaki menginjak ke
tanah, maka akan mengalirlah arus listrik di dalam tubuh yang besarnya
tergantung dari tahanan tubuh dan tahanan kontak pada kedua titik
sentuhan. Meskipun yang berbahaya bagi tubuh adalah arus sebagai dasar
untuk menetapkan persyaratan instalasi listrik adalah lebih praktis jika
dinyatakan sebagai tegangan sentuh sebagai fungsi dari waktu. Dalam
Standar IEC Publication 364 4-41, 1977 (Amandemen 1) dinyatakan bahwa
tegangan sentuh sebagai fungsi dari waktu yang diijinkan (Tabel 4-9).
   Tabel 4-9 Tegangan sentuh yang aman sebagai fungsi dari waktu
      Lama Sentuhan                        Besar tegangan sentuh
     Maksimum (detik)            Arus bolak-balik (V)      Arus Searah (V)
                                         < 50                       < 120
               5                          50                         120
               1                          75                         140
              0,5                         90                         160
              0,2                        110                         175
              0,1                        150                         200
             0,05                        220                         250
             0,03                        280                         310

        Bila tubuh tersengat aliran listrik, besar arus yang melewati tubuh
bergantung pada tegangan listrik yang mengenainya dan lintasan yang
dilalui arus listrik. Besar tahanan tubuh manusia sangat dipengaruhi oleh
keadaan kelembaban tubuh dan lintasan tubuh yang dilalui arus dan besar
tegangan yang disentuh. Gambar 4-169 memperlihatkan besar tahanan
tubuh sebagai fungsi dari tegangan sentuh. Garis e dalam Gambar 4-169
menunjukkan arus yang merupakan hasil bagi tegangan sentuh dengan
besar tahanan tubuh yang berkaitan. Ternyata garis e selalu mengambil
jarak dengan garis c di sebelah kirinya, hal ini berarti bahwa jika persyaratan
seperti dalam Tabel 4-7 itu dipenuhi, maka bahaya fibrilasi dihindari.
       Tabel 4-10 Tahanan tubuh sebagai fungsi dari tegangan sentuh
                       Tegangan Sentuh          Tahanan tubuh
                             (V)                   (Ohm)
                             25                     2500
                             50                     2000
                             250                    1000
                        Harga asimtut                650
*) Kurva ini menyatakan tahanan tubuh antara satu tangan dan satu kaki, atau antara tangan
kiri dan tangan kanan.

4-8-1 Cara Pengamanan terhadap Tegangan Sentuh
       Sentuhan dengan tegangan dapat terjadi secara langsung dan tidak
langsung. Pengamanan terhadap sentuhan langsung adalah pengamanan
190

terhadap sentuhan pada bagian yang aktif dari suatu peralatan atau instalasi
yang dalam keadaan normalnya bertegangan. Sedangkan pengamanan
terhadap sentuhan tidak langsung adalah pengamanan terhadap sentuhan
pada “badan” peralatan atau instalasi yang menjadi bertegangan pada
waktu ada gangguan atau hubungan singkat ke “badan” itu. Yang dimaksud
badan adalah bagian konduktif yang tidak merupakan bagian sirkit.
Pengamanan terhadap tak langsung disebut pula pengamanan terhadap
tegangan sentuh pada waktu ada gangguan.
        Secara ringkas cara-cara pengamanan terhadap tegangan sentuh
dapat diuraikan sebagai berikut:
Pengamanan terhadap tegangan sentuh baik yang langsung maupun yang
tidak langsung, mencakup:
Tegangan rendah pengaman (PUIL pasal 323) yaitu di bawah 50 V,
misalnya 42 V, 24 V, 12 V dan sebagainya, sehingga bila terjadi sentuhan
baik yang langsung ataupun tak langsung tidak berbahaya. Tegangan
rendah pengamanan dapat diperoleh dengan cara-cara berikut:
   a) Dengan trafo pengaman, yaitu yang mempunyai belitan sekunder
      yang terpisah dari primernya yang didisain khusus sehingga tidak
      memungkinkan terjadinya hubungan singkat antara belitan primer
      dan sekunder.
   b) Motor-generator set
   c) Battery accu dan cell kering
Pengaman terhadap sentuhan langsung mencakup:
   a) Pengamanan dengan isolasi pada bagian-bagian yang aktif (PUIL,
      pasal 310), misalnya kabel, porselin, karet berisolasi dan
      sebagainya.
   b) Pengamanan dengan selungkup atau sekat f (PUIL, pasal 310 B dan
      C), misalnya kotak saklar, perlengkapan hubung bagi (PHB).
   c) Pengamanan dengan penghalang (PUIL, pasal 213), misalnya
      sekedar dipagari agar orang tidak bisa mendekat, atau
      meletakkannya dibelakang kisi-kisi.
   d) Pengamanan dengan penempatan di luar jangkauan tangan,
      misalnya bagian yang bertegangan ditempatkan 2,5 m di atas lantai.
   e) Pengamanan tambahan dengan Saklar Pengaman Arus ke Tanah
      (SPAT, earth leakage circuit breaker). Ini hanyalah merupakan
      pengamanan tambahan (extra) di samping pengamanan-
      pengamanan lainnya, dimaksudkan untuk mengamankan terhadap
      sentuhan langsung yang mungkin masih terjadi. Saklar ini bekerja
      berdasarkan pada adanya arus bocor ke tanah yang disebut juga
      arus sisa (residual current) yang timbul akibat sentuhan langsung
      karena arus bocor ke tanah sebagai akibat sentuhan langsung ini
      sangat kecil, maka saklar inipun harus sangan sensitif, yaitu
Jaringan Distribusi Tegangan Rendah                                  191

        arusbocor sebesar 30 mA sudah mampu menyebabkan trip-nya
        saklar.
Pengamanan terhadap sentuhan tak langsung, mencakup:
    a) Pengamanan dengan pemutusan secara otomatis dari suplai, yang
       memerlukan pengaman dan alat-alat pengaman seperti misalnya
       sekring dan saklar pengaman.
    b) Pengamanan dengan isolasi pengaman (lihat PUIL, pasal 322A.I.a),
       yaitu dengan cara memberi isolasi tambahan di samping isolasi
       utamanya (berisolasi ganda), sehingga apabila terjadi kerusakan
       pada isolasi utamanya, badan peralatan yang mungkin tersentuh
       tangan itu dengan bahan isolasi, memasang selungkup dari bahan
       isolasi, atau dapat juga badan peralatan sendiri dari bukan bahan
       konduktif.
    c) Pengamanan dengan alas isolasi (lihat PUIL, pasal 322A), yaitu
       memberikan isolasi pada tempat kaki berpijak atau pada lantai dan
       benda-benda konduktif lainnya yang berhubungan dengan tanah
       yang terjangkau tangan sedemikian sehingga tercegahlah orang
       terkena tegangan sentuh yang berbahaya bila terjadi kegagalan
       isolasi.
    d) Pengamanan dengan hubungan alas kaki yang konduktif dengan
       badan atau bagian peralatan yang terpegang dengan tangan
       sedemikian sehingga tidak ada beda potensial antara alas kaki dan
       badan/bagian peralatan yang terpegang tangan bila terjadi
       kegagalan isolasi.
    e) Pengamanan dengan pemisah pengaman (electrical separation)
       (lihat PUIL pasal 329), yaitu dengan memakai generator motor set
       atau trafo pemisah. Trafo pemisah adalah trafo yang belitan
       sekundernya terpisah dari belitan       primernya dan rangkaian
       sekundernya, di mana peralatan itu tersambung, tidak diketanahkan
       sehingga bila terjadi kegagalan isolasi peralatan tercegahlah
       timbulnya tegangan sentuh yang berbahaya.
4-8-2 Pentanahan Tegangan Rendah
       Fungsi Pentanahan tegangan rendah untuk menghindari bahaya
tegangan sentuh bila terjadi gangguan atau kegagalan isolasi pada
peralatan atau instalasi. Pentanahan netral pada jaringan tegangan rendah
adalah yang efektif, di mana menurut persyaratan pentanahan netral harus
mempunyai tahanan pentanahan kurang dari 5 Ohm. Ketentuan ini sesuai
dengan standar konstruksi PUIL, SPLN 3:1978 bahwa semua jaringan
tegangan rendah dan instalasi harus menggunakan sistem Pentanahan
Netral Pengaman (PNP), yaitu system pentanahan               dengan cara
menghubungkan badan peralatan atau instalasi dengan hantaran netral
yang ditanahkan (disebut hantaran nol) sedemikian rupa, sehingga jika
192

terjadi kegagalan isolasi, tercegahlah bertahannya tegangan sentuh yang
terlalu tinggi karena pemutusan arus lebih oleh alat pengaman arus lebih.
4-8-2-1 Pentanahan sistem dan peralatan
        Tegangan sentuh yang timbul pada beban peralatan atau instalasi
akibat kegagalan isolasi sangat tergantung pada pentanahan. Bekerjanya
alat-alat pengaman juga ditentukan oleh system pentanahan dan
pentanahan sistem ini. Pentanahan system dalam distribusi tegangan
rendah dilakukan pada titik bintang sumber (transformator distribusi atau
generator) dan dalam jaringan distribusi serta badan/peralatan instalasi.
        Secara garis besar ada 3 macam system pentanahan netral dan
badan/peralatan instalasi, yaitu:
1) Sistem IT
        Titik netral terisolasi atau tidak diketanahkan (huruf pertama
   menyatakan isolasi), sedangkan badan peralatan diketanahkan. Dalam
   PUIL 1987, sistem IT ini dikenal dengan nama sistem penghantar
   pengaman atau HP. Titik netral trafo atau sumber tidak diketanahkan
   atau diketanahkan melalui tahanan yang tinggi (lebih dari 1000 Ohm).
   Sedangkan bagian konduktif terbuka peralatan, termasuk juga instalasi
   dan bangunan saling dihubungkan dan diketanahkan.
        Karena netralnya tidak diketanahkan, maka arus gangguan ke tanah
   yang jadi sangat kecil, yaitu hanya terdiri dari arus kapasitansi dan arus
   bocor instalasi serta arus detektor tegangan (bila digunakan).
   Persyaratan pentanahan ringan yaitu hanya maksimum 50 Ohm dengan
   tegangan satuannya hanya kecil. Karena arus gangguan kecil, pengaman
   arus lebih tidak akan bekerja karena kecilnya tegangan sentuh, sistem
   dimungkinkan operasi dalam keadaan gangguan satu fasa ke tanah atau
   badan peralatan. Pada waktu terjadi gangguan satu fasa ke tanah,
   tegangan antara fasa yang baik dengan tanah akan naik. Untuk
   mengetahui adanya kenaikan tegangan ini, dapat dipasang detektor (alat
   ukur tegangan) pada setiap fasa dengan tanah. Bila gangguan tidak
   dapat diperbaiki, akan terjadi kegagalan isolasi kedua di tempat lain pada
   fasa yang lain, maka akan terjadi gangguan hubung singkat yang besar
   dan alat pengaman akan bekerja.
        Sistem HP ini hanya dipakai dalam instalasi terbatas, misalnya dalam
   pabrik dengan pembangkit tersendiri atau trafo sendiri dengan kumparan
   terpisah, atau sumber listrik darurat portabel untuk melayani beban yang
   dapat dipindah-pindah.
2) Sistem TT
       Huruf pertama menyatakan pentanahan sistemnya ( titik netral trafo
   atau generator), sedangkan huruf kedua menyatakan bagaimana
   hubungan peralatan atau instalasi dengan penghantar atau pengaman.
   Sistem TT berarti: (i) titik netral trafo (sistem) diketanahkan dan (ii) badan
   peralatan/instalasi dihubungkan ke tanah.
Jaringan Distribusi Tegangan Rendah                                    193

3) Sistem TN
       Titik netral sistem di ketanahkan (huruf pertama T), badan peralatan
   atau instalasi dihubungkan dengan penghantar atau pengaman (huruf
   kedua N). Menurut PUIL, penghantar netral yang berfungsi juga sebagai
   penghantar pengaman disebut penghantar NOL (IEC menyebutnya
   sebagai PEN conductor).




               a) IT                  b) TT            c) TN
                       Gambar 4-170 Sistem Pentanahan TR


4-8-2-2 Sistem Pentanahan Netral Pengaman (PNP)
       Bagian konduktor terbuka (BKT) peralatan atau perlengkapan
dihubungkan dengan penghantar netral yang ditanahkan (penghantar nol)
sedemikian rupa, sehingga bila terjadi kegagalan isolasi tercegahlah
bertahannya tegangan sentuh yang terlalu tinggi karena bekerjanya
pengaman arus lebih.
Sistem PNP terdiri dari 3 jenis, yaitu:
    1. Sistem PNP dengan penghantar netral yang sekaligus berfungsi
       sebagai pengaman untuk seluruh sistem (untuk penghantar tembaga
       yang lebih besar dari 10 mm2) (Gambar 4-170 C1)
    2. Sistem PNP dengan penghantar netral dan penghantar pengaman
       sendiri-sendiri di seluruh sistem (untuk penghantar tembaga yang
       lebih kecil dari 10 mm2) (Gambar 4-170 C2)
    3. Sistem PNP dengan penghantar netral yang sekaligus berfungsi
       sebagai pengaman untuk sebagian sistem , sedangkan bagian
194

       sistem yang lainnya, penghantar netral dan pengaman terpisah
       sendiri-sendiri. (Gambar 4-170 C1).
Persyaratan umum PNP
      Dalam PUIL 1987 pasal 313 B1, disebutkan bahwa luas penampang
penghantar antara sumber atau trafo dan peralatan listrik, harus sedemikian
rupa sehingga apabila terjadi hubung singkat antara fasa dengan
penghantar nol atau badan peralatan, besar arus gangguan minimal sama
dengan besar arus pemutus alat pengaman yang terdekat, yaitu IA = k. IN, di
mana k adalah faktor yang nilainya tergantung pada karakteristik alat
pengamannya.
       Penghantar nol setidak-tidaknya harus diketanahkan pada titik
sumber, di setiap percabangan saluran, ujung saluran dan di setiap
pelanggan.Tahanan pentanahan total penghantar nol (RNE) harus tidak
melebihi 5 Ohm, dengan alasan berikut bila terjadi gangguan ke tanah yang
biasanya melalui tahanan gangguan RG, maka penghantar netral akan
mengalami kenaikan tegangan sesuai persamaan berikut             (tahanan
penghantar diabaikan):

                                R NE
                    V NE =              x 220 volt
                             R NE + R G
       Pada umumnya harga tahanan gangguan yang kurang dari 17 Ohm
jarang terjadi. Batas tegangan sentuh yang aman menurut PUIL atau IEC
adalah 50 volt.




               Gambar 4-171 Sistem Pentanahan PNP
Jaringan Distribusi Tegangan Rendah                                         195

4-8-2-3 Sistem PNP untuk JTR dan Instalasi Pelanggan
       Pada jaringan tegangan rendah, penghantar netral berfungsi sebagai
penghantar pengaman dan diketanahkan di sepanjang saluran. Titik
bintang trafo distribusi diketanahkan. Pada instalasi pelanggan, mulai dari
PHB utama penghantar pengamannya terpisah tersendiri dari penghantar
pengamannya, bila penampangnya kurang dari 10 mm2. Setiap pelanggan
diharuskan memasang sebuah elektroda pentanahan melalui penghantar
pentanahan yang tersambung ke rel atau terminal netral pengaman dalam
PHB.
       Tujuan pentanahan ganda pada penghantar netral sepanjang JTR
dan pentanahan di setiap pelanggan adalah untuk:
     a) Mencecah terjadinya tegangan yang terlalu tinggi pada penghantar
        netral, termasuk badan peralatan pelanggan bila terjadi gangguan
        satu fasa ke tanah ataupun hubungan singkat fasa netral, ataupun
        kegagalan isolasi peralatan.
     b) Mencegah terjadinya kenaikan tegangan yang terlalu tinggi akibat
        terputusnya penghantar netral. Pada pelanggan yang netralnya
        terpisah dari sumber atau gardu distribusi.
     c) Mencegah kenaikan tegangan kawat netral, termasuk badan
        peralatan, dalam hal ini ada arus netral akibat beban yang tidak
        seimbang.
     d) Mencegah kenaikan tegangan yang terlalu tinggi pada kawat
        netralnya, bila JTR yang ada di bawah JTM menyentuh JTM.
        Dengan tersambungnya penghantar pengaman ke netral maka bila
terjadi kegagalan isolasi pada peralatan, arus gangguan akan lebih terjamin
cukup besarnya sehingga alat pengaman selalu bekerja/putus dengan
cepat, sebab penghantar netral merupakan jalan kembali yang baik, tidak
hanya tergantung pada elektroda pentanahan pada sistem PP. Tegangan
sentuh yang terjadipun relatif lebih rendah dibandingkan dengan sistem PP.
4-8-2-4 Bahaya Putusnya Penghantar Netral pada Sistem PNP
        Bila penghantar netral terputus, arus beban masih mungkin mengalir
melalui tanah, akibatnya akan terjadi kenaikan tegangan pada penghantar
netral. Karena pengaman peralatan pelanggan terhubung ke netral, maka
kenaikan tegangan netral tersebut akan dirasakan di badan peralatan
pelanggan. Hal ini dapat membahayakan pelanggan. Bila pentanahan netral
yang seharusnya dilakukan di titik-titik tertentu (di netral trafo distribusi, di
tiang awal dan tiang akhir) tidak dilakukan, maka pada saat terjadi
penghantar netral putus akan terjadi kenaikan tegangan pada fasa-fasa
yang berbeban rendah dan penurunan tegangan pada fasa yang berbeban
tinggi di jaringan yang penghantar netralnya tidak terhubung pada sumber.
196




      Gambar 4-172 Kasus Putusnya Penghantar Netral
                   pada Sistem PNP

4-8-3 Pengaman Terhadap Arus Lebih TR
        Pada umumnya gangguan pada jaringan distribusi disebabkan arus
lebih karena adanya hubungan singkat dan adanya perubahan atau
perkembangan beban.         Hubungan singkat yang dapat terjadi dalam
distribusi tegangan rendah adalah :
    - Hubungan singkat 3 fasa
    - Hubungan singkat fasa-fasa
    - Hubungan singkat satu fasa ke tanah
        Dengan mengakibatkan reaktansi pada jaringan karena harga yang
kecil dibandingkan tanahan jaringan, dan harga tanahan urutan nol, positif
dan negatif sama besar, besar arus hubung singkat secara sederhana dapat
ditentukan sebagai berikut :

      Hubungan singkat 3 fasa

                                              1.1       U
                         I hs 3 f       =
                                                    R
      Hubungan singkat fasa-fasa

                                            1 .1    3 U
                       I hs 3 f f =
                                                   2R
      Hubungan singkat fasa ke tanah

                                              1 .1 U
                      I hs f g      =
                                            R + RE + RG
Jaringan Distribusi Tegangan Rendah                                197

        Hubungan singkat fasa netral

                                               1.1 U
                                I hs f N   =
                                                R + RX

            U     =   Tegangan fasa netral (220 V)
            R     =   Tahanan Jaringan
            RG    =   Tahanan Gangguan
            RX    =   Tahanan pengantar netral
            RE    =   Tahanan pentanahan titik netral

      Pada saluran tegangan rendah dengan penghantar telanjang
gangguan ketanah lebih sering terjadi dan dapat berupa :
         a) Kawat fasa putus dan menyentuh tanah
         b) Hubung singkat dengan penghantar netral
         c) Hubung singkat dengan crossarm/tiang
             - Yang penghantar netral dihubungkan ke tiang
             - Yang menghantar netral tidak dihubungkan ke tiang




                        Jalan arus pada hubungan singkat ketanah
            Gambar 4-173 Macam-macam hubungan singkat
198

          d) Sentuhan kawat fasa dengan pohon/benda
          e) Sentuhan SUTM dengan SUTR
        Gangguan butir a dan b umumnya gangguan melalui tahanan yang
cukup tinggi dan bahkan bisa mencapai ratusan ohm, tergantung kepada
keadaan tanah ataupun ranting pohon, tanah atau ranting yang basah
mempunyai tahanan yang lebih rendah dari pada tanah/ranting kering. Jadi
arus gangguan dalam hal ini kecil dan adakalanya tidak cukup besar untuk
mengoperasikan pelebur yang terpasang. Dalam hal hubungan singkat fasa
netral, tahanan gangguan hampir mendekati nol sehingga arus gangguan
akan besar sekali dan akan mengoperasikan pelebur.
        Dalam hal hubungan singkat dengan crossarm yang penghantar
netralnya dihubungkan ke tiang besi maka keadaannya hampir sama
dengan hubungan singkat ke netral yaitu arusnya besar. Bila digunakan
tiang harus ada penghantar pentanahan yang menghubungkan crossarm
dengan elektroda pentanahan. Jika tiang besi tidak digunakan untuk
mentanahkan kawat netral dan tidak tersambung ke netral, maka tahanan
pentanahan akan tinggi (tiang besi ditanam 1/6 dari panjang tiang atau 1,5 –
2 m), bisa mencapai 50 ohm tergantung keadaan tanahnya arus gangguan
relative kecil dan ada kalanya tidak cukup besar untuk menyebabkan
beroperasinya pelebur di gardu. Bila tegangan sentuh yang timbul tidak
berada dalam batas yang diizinkan, maka hal ini akan merupakan hal yang
berbahaya bagi seseorang yang menyentuh tiang tersebut.
Dalam hal sentuhan SUTM dengan SUTR diharuskan memakai sistim PNP
dimana tahanan pentanahan secara menyeluruh rendah, maka gangguan ini
akan memberikan arus yang besar tergantung pada pentanahan netral
SUTM nya.
        Pada penghantar berisolasi gangguan biasanya berawal dari
gagalnya isolasi penghantar akibat panas yang berlebihan (beban lebih
penghubung sadapan yang kurang kencang dsb) yang kemudian menular
kepenghantar lain sehingga menimbulkan gangguan hubung singkat fasa-
fasa netral dan bahkan hubungan singkat tiga fasa.
Akibat yang ditimbulkan oleh arus singkat adalah :
1. Akibat thermis berupa hangus/lumernya isolasinya penghantar atau
   penghantar itu sendiri naiknya temperature minyak transformator.
2. Akibat pengasuh gaya elektro meknetis yang berupa bengkoknya
   penghantar/rel berayunnya menggelumbungnya tangki transformator.
4-8-4 Pengaman Arus Lebih TR
Pengaman arus lebih di sisi tegangan ada beberapa macam :
1. No. Fus Breaker NFB
   No. Fuse Breaker adalah breaker/pemutus dengan sensor arus apabila
   arus yang melewati peralatan tersebut melebihi kapasitas maka sistim
   magnetik dan bimetalic pada peralatan tersebut akan bekerja dan
   memerintahkan breaker melepas beban.
Jaringan Distribusi Tegangan Rendah                                   199

2. Pengaman lebur (sekering)
    Pengaman lebur adalah suatu alat pemutus yang dengan meleburnya
    bagian dari komponennya yang telah dirancang dan disesuaikan
    ukurannya untuk itu membuka rangkaian dimana sekering tersebut
    dipasang dan memutuskan arus bila arus tersebut melebihi suatu nilai
    tertentu dalam jangka waktu yang cukup (SPLN 64 : 1985 : 1). Fungsi
    sekering dalam suatu rangkaian listrik adalah untuk menjaga atau
    mengamankan rangkaian berikut peralatannya yang tersambung dari
    kerusakan dalam batas nilai pengenalnya setiap saat (PUIL 64:1985:24).




             Gambar 4-174 Pengaman Lebur Tabung Tertutup

4-8-5 Menentukan Kapasitas Pengaman Lebur
      Untuk menentukan arus pengenal pelebur yang akan digunakan
patokan-patokan berikut :
    a) Tegangan pengenal pelebur harus dipilih sesuai dengan tegangan
       jaringan yang akan diamankan.
    b) Arus pengenal pelebur harus lebih besar dari arus beban
       penghantar. Untuk beban distribusi yang sebagian besar merupakan
       penerangan arus pengenal diambil sebesar 1,1 – 1,2 arus beban
       maksimum.
    c) Arus beban maksimum sebaiknya diambil sebesar 0,8 x KHA
       penghantar.
    d) Arus pengenal pelebur harus lebih kecil dari arus hubung singkat
       (yang terbaik adalah terhadap hubung singkat fasa – netral
       sedangkan hubung singkat fasa-fasa dan hubung singkat 3 fasa
       mutlak harus dapat diamankan) dititik terjatuh.
    e) Untuk memberikan pengaman pada transformator distribusi harga ini
       tidak boleh melebihi angka di dalam tabel 5-11.

Contoh soal      : Suatu gardu distribusi dengan kapasitas trafo 100 kVA 3
                   fasa mempunyai jaringan TR 2 jurusan dengan
200

                  menggunakan kabel TIC A1 4 x 70 mm2. Panjang jaringan
                  penjurusan 800 m.
Hitung          : Besar arus pengenal lebur.
Jawab           :
KHA TIC 70 mm2 dari tabel diperoleh 185 A (pada 400 C)
Arus beban maksimum yang dianjurkan adalah 80 % x 185 A = 150 A
Arus pengenal lebar 1,2 x 150 A = 180 A
Kapasitas pelebur yang ada yang terdekat dengan 180 A adalah 160 A.
Dari tabel 5-10 untuk trafo 100 KVA 3 fasa, arus pelebur sekunder minimum
160 A.
Dan maksimum 200 A jadi harga ini masih memenuhi.
Sekarang akan dihitung kecepatan untuk memutuskan arus hubung singkat
dititik ujung. Tahanan pengantar sampai dititik ujung = 0,8 x 0,54 Ohm =
0,432 Ohm.
                                             1.1 U
Arus gangguan fasa – netral.     Iφ =
                                    1
                                                 R
                                                1 .1 220
                                   I1 φ   =                   = 280 A
                                               0, 43 + 0, 432

Pada hubungan singkat fasa netral arus hubungan singkat akan diputus
dalam waktu 40 detik (lihat gambar 4-175)
Arus gangguan fasa-fasa ditik ujung adalah :
                            1 .1 V 3 x 220
                I ff    =                      = 484 Ampere
                             0 , 432 + 0 , 432
Bila digunakan pelebur 160 A, dari gambar 3B arus 484 A ini akan dapat
diputus dalam waktu 3,5 detik.
Arus gangguan 3 fasa dititik ujung adalah :
                             1.1 x 220
                 I3 f   =              = 560 Ampere
                               0,432
Dengan pelebur 160 A, arus ini akan diputus dalam 1,8 detik.
           Tabel 4-11 Kuat Hantar Arus Pangeman Lebur
   Penampang
                    KHA           Tahanan    Reaktansi 50 Hz
    Nominal
                     (A)         (Ohm/km)       (ohm/km)
     (mm2)
       1              2              3             4
      3 x 25 + 50           105           1,52                0,10
      3 x 35 + 50           135           1,10                0,10
      3 x 50 + 50           145           0,81                0,10
      3 x 70 + 50           185           0,54                0,10
Jaringan Distribusi Tegangan Rendah                                         201

Konstanta tahanan, reaksi dan KHA kabel pilin udara jenis NF A2X
Pada suhu keliling maksimum 400 C.
           Tabel 4-12. KHA Penghantar Tembaga A2C dan A3C
        Penampang                              KHA (A)
          (mm2)             Tembaga              A2C            A3C
            1                  2                  3              4
             25                  160               145          135
             35                  200               180          170
             50                  250               225          210
             70                  310               270          255
             95                  380               340          320
            120                  440               390          365
            150                  510               455          425
            185                  585               520          490
            240                  700               625          585

Tabel 4-13.      Rekomendasi pemilihan arus pengenal pelebur 24 kV jenis
               letupan (Publikasi IEC 282-2 (1970). NEMA disisi primer berikut
               pelebur jenis pembatas arus (publikasi IEC 269-2
               (1973)(230/400V) disisi sekunder yang merupakan pasangan
               yang diserahkan sebagai pengaman trafo distribusi.

                    Pelebur Primer 24 kV       Peleburan
    Trafo Distribusi
                      Arus Pengenal (A)   Sekunder (230/400 V)
                                  Arus           Arus
                     Tipe T
   Daya     Arus                Pengenal       Pengenal
                       (A)
 Pengenal Pengenal                 (A)            (A)
  (kVA)      (A)   Min Maks Min Mak         Min       Maks
                                        s
  Fasa Tunggal 20kV
                √3

    16         1,3856        -          -    6,3    6,3   80          100
    25         2,1651       6,3        6,3   6,3    6,3   125         125
    50         4,3301       10         10    10     16    250         250
 Fasa Tunggal 20 kV
   50         1,4434         -          -    6,3    6,3   80          100
   100        2,8867        6,3        8     6,3    10    160         200
   160        4,6188        10        12,5   10    12,5   250         250
   200        5,7735        10        12,5   16     20    315         315
   250        7,2169        16         16    16     25    400         400
202

  315        9,0933     20    25     20    31      500          500
  400       11,5470     25    25     25    40      630        630*)
  500       14,4330     25   31,5   31,5   40      800          800
  630       18,1860     40    40     40    63      1000       1000
  800       23,0940     50    63     50    80     1250*)     1250*)
 1000       28,8670     63    63     63    100    1600*)     1600*)

Catatan     : Pemilihan nilai maksimum pelebur sekunder perlu
            dikombinasikan dengan nilai maksimum pelebur primer.
                   *) Diperoleh dengan pelebur primer
                  **) Contoh koordinasi terlihat




        Gambar 4-175. Kurva leleh minimum dan kurva pemutusan
                      maksimum dan pelebur tegangan rendah
Jaringan Distribusi Tegangan Rendah                                     203

4-8-6 Koordinasi Pengaman Lebur
Sistem pengaman lebur tidak bisa bekerja sendiri, perlu adanya koordinasi
antara pelebur sisi primer dan sekunder pada trafo distribusi. Bila pada sisi
primer trafo dipakai pelebur untuk pembatas arus, pelebur disisi primer
bertugas menjaga batas ketahanan trafo terhadap gangguan hubung singkat
pada belitan trafo tetapi tidak sampai melebur karena inrush current.
Sedangkan pelebur sisi sekunder bertugas mengamankan trafo dari arus
lebih karena gangguan pada JTR untuk lebih jelasnya lihat tabel 5-10.




  Gambar 4-176. Kurva leleh minimum dan kurva pemutusan
               maksimum dan pelebur tegangan rendah
               (230/400V) Berdasarkan rekomendasi IEC 269 – 2
Jaringan Distribusi Tegangan Menengah                               205


              TABEL BAB V
           JARINGAN DISTRIBUSI
          TEGANGAN MENENGAH
5-1 Konsep Dasar dan Sistem
5-1-1 Ruang Lingkup
        Sistem tegangan menengah s/d 35 kV, sistem konstruksi saluran
udara, dan saluran kabel tanah.
Dasar pertimbangan;
      Ditinjau dari segi persyaratan teknis masih memenuhi syarat untuk
digunakan dan dari segi ekonomis termasuk murah harganya dan jika
ditinjau dari estetika (keindahan) maka kabel tanah hanya dipasang untuk
keperluan keamanan dan keindahan pada daerah khusus karena biayanya
masih relatif mahal. Dari segi pelayanan maka pemasangan kabel tanah
akan menunjang kontinuitas pelayanan, karena tidak mudah terkena
gangguan alam.




                  Gambar 5-1 Pola sistem tenaga Listrik
 206

5-1-2 Karakteristik Perlengkapan
       Pada umumnya material-material utama perlengkapan distandarisir,
disesuaikan dengan karakteristik perlengkapan untuk mempermudah stock
manajemen, mengurangi variasi penyediaan perlengkapan, Fasilitas
gudang, dan menyederhanakan variasi tugas petugas, operasi.& pemelihara
an.
       Karakteritik teknis, contoh : PT: PLN (Persero) Distribusi DKI Jakarta
& Tangerang, Material TM terdiri dari:
      Rated insulation voltage            ,        24 kV
      V Test power frequency.                      24 kV, 50 c/s
      Ketahanan Impulse (BTL.- SID)                125 kV
      Arus nominal                                   .....A
      Test ketahanan hubung pendek                 12,5 kA ,1 detik
      Short circuit making capacity 31.5 kA
5-1-3 Perlengkapan Hubung Bagi TR Gardu Distribusi
       Test power frekuensi tegangan fasa-fasa       2-3 Kv,1 menit
       Test ketahanan impulse                        20 KV
       Test power frekuensi tegangan fasa-tanah      10 KV, 1 menit
       Arus nominal Busbar                             ....A
       Keseragaman acceptance test.
       (Ageing test, impulse test, mechanical stength test, maintenance
       requirements, power frequency test, dan lainlain).
       Short times with stand current dalam waktu 0,5 detik
5-1-4 Karakteristik Jaringan Distribusi Saluran Kabel Tanah
       Pada gardu induk, pemutus tenaga dengan relai proteksi (non
       directional).
       Jaringan penghantar; Multicore belted cable, Single belted cable,
       Ukuran 95 mm 2 , 150 mm 2 , 240 mm 2 , Tingkat kontinuitas
       pelayanan tinggi, Sistem 3 fasa dengan gardu distribusi
       kapasitas besar.
       Struktur jaringan: Radial open ring, pada jarak yang sangat
       pendek dapat dipertimbangkan sistem radial.
       Jangkauan pelayanan; maksimum 8 km panjang rute lintasan.
       Rugi tegangan; Diatur pada batas normal operasi dengan:
       - Tap changer pada transformator tenaga di gardu induk (on-load).
       - Tap changer off load t 5 % pada gardu distribusi.
       Gardu distribusi
       Gardu beton dengan dilengkapi:
       - Load breakswitch pada kabel keluar
       - Isolating switch pada kabel masuk
         (Kadang-kadang dipakai juga load breakswitch pada kabel
         masuk)
       Pengaman transformator dengan HRC fused.
Jaringan Distribusi Tegangan Menengah                           207

      Pembatas beban dengan relai pembatas dan trafo tegangan pada
      pelanggan tegangan menengah.
      Gardu kiosk/metal (lad).
      - Perlengkapan sama dengan gardu beton.
      - Kapasitas 1 transformator maksimum 630 kVA.
      Tingkat kontinuitas pelayanan.
      - Orde menit untuk pemulihan gangguan.
      - Orde detik (short break) pada gardu dengan memakai, network
        protector (automatic change over).
      Pengaman Jaringan.
      - Relai overcurrent fasa-fasa dan groundfau4t relay pada gardu
        induk.
      - HRC fused pada gardu distribusi untuk pengaman trafo.
      - Setting relai 0,47 detik pada gardu induk.
      Pentanahan Sistem.
      - Memakai tahanan rendah 12 ohm pada transformator gardu
        induk.
      - Membatasi arus gangguan tanah sampai dengan 1000 A selama 1
        detik:
      Kontruksi Jaringan
      - Ditanam sedalam miimal 0,8 meter.
      - Untuk single core cable tiap 2 km, ditransposisi.
      Transformator
      - Kapasitas transformator ukuran besar 250 kVA, 315 kVA, 400
        kVA, 630 kVA, 1 MVA dengan 1 atau 2 trafo per gardu.
5-1-5 Karakteristik Jaringan Distribusi Saluran Udara
      Pada gardu induk: pengaman circuit breaker dengan automatic
      redoser (pemutus balik).
      Jaringan Penghantar
       - A 3 C, A 2C, ACSR
       - Single core cable
       - Twisted cable
       - Ukuran 35 mm2, 50 mm2, 70,mm2, 150 mm2, 187;5 mm2, 240
         mm2.
      Secara umum penggunaan pada daerah dengan kepadatan beban
      rendah:
       - Pedesaan
       - Kota kecil
       - Daerah penyangga
       - Konstruksi " Antara"

      Sifat Pelayanan
       - Jangkauan luas
       - Tingkat keandalan penyaluran relatif rendah
208

       - Murah dan mudah dibangun.
       - Tingkat perawatan tinggi.
       - Pemeliharaan lebih sulit
       - Sistem 3 fasa dan atau 1 fasa.
      Struktur Jaringan :
       - Umumnya beberapa tempat membentuk radial terbuka (open ring)
         sesama fider utama.
      Pengaman Jaringan
       - Circuit breaker pada gardu induk dengan relai overcurrent phasa-
         phasa dan groundfault non directional, dan directional untuk
         sistem PLN Distribusi Jawa Timur.
       - Automatic redoser pada titik-titik tertentu.
       - Sectionalizer pada jaringan cabang
       - Cut-out fuse pada jaringan dengan cabangan ranting.
       - Pole switch pada tiap 4 km.
       - Arrester tipe 5.0 untuk tiang tengah dan tipe 10 KA untuk Tang
         ujung serta pada gardu distribusi dan pertemuan dengan kabel
         tanah.
      Gardu Distribusi
       • Beton
       • Portal
       • Cantol (3 fasa, 2 fasa, 1 fasa)
      Tiang penyangga.
       - Tinggi 11 m, 12 m, 13 m, 15m.
       - Kekuatan tiang : 200 daN, 350 daN, 500 daN, 800 daN, 1200
          daN.
       - Jenis tiang
           - Beton, besi
           - Kerangka
           - Sela tanduk pada isolator gantung di tiang akhir dan
              isolator TM transformator.
      Sistem Pentanahan
       - Pentanahan pada BKT Tang dengan nilai tahanan tanah
         maksimum 10 ohm.
       - Pentanahan sistem bersama dengan penghantar netral
         jaringan'Tegangan rendah.
       - Pentanahan sistem pada transformator gardu induk dengan
         tahanan 40 ohm, 500 ohm dan atau solid grounded/ pentanahan
         langsung pada sistem jaringan netral bersama.
       Kapasitas-kapasitas Transformator
       - Pada gardu beton, kapasitas besar.
       - Pada gardu portal/cantol, kapasitas 25 kVA, 50 kVA , 160 kVA, 250
         kVA, 315 kVA, 400 kVA, sistem 3 fasa atau 25 kVA, 50 kVA satu
         fasa pada sistem jaringan netral bersama.
       - Cut-out fused dan arrester untuk proteksi transformator distribusi.
       - Gardu distribusi beton, portal, cantol.
Jaringan Distribusi Tegangan Menengah                                    209

5-1-6 Kontinyuitas Pelayanan
        Tingkat pelayanan yang akan diberikan menentukan aspek
        teknis/ekonomis sistem yang diperlukan dan harga jual (tarif listrik)
        Tingkat pelayanan biasanya ditentukan oleh parameter:
         - SAIDI (System Average Interuption Duration Index),
           adalah rata-rata indeks lama waktu padam
           Contoh : Lama padam 2 jam selama 1 tahun
         - SAIFI (System Average Interruption Frekuency Index),
           adalah indeks jumlah kali padam dalam 1 kurun waktu.
           Misalnya : 12, kali gangguan selama 1 tahun.
        Contoh pada PT. PLN (Persero), menentukan 5 tingkat pelayanan.
         - Padam orde beberapa jam.
           Contoh : SUTM tanpa sistem proteksi memadai (desadesa).
         - Padam orde maksimum 30 menit
           Misalnya pada daerah perkotaan.
         - Padam orde beberapa menit
           Misalnya sistem dengan sistem scada remote controlled (DCC-
           UPD).
         - Padam orde beberapa detik.
           Misalnya dengan Automatic Switch.
         - Tanpa padam, spot load sistem yang dipasok dari 2
           penyulang.
5-1-7 Langkah-langkah Meningkatkan Kontinyuitas Pelayanan
       Sistem proteksi jaringan (relai pentanahan, redoser).
       Sistem perlengkapan jaringan (pole switch, load break)
       Prosedur manuver (SOP)
       Sistem scada-unit pengatur distribusi (DCC-UPD).
       Manajemen pemeliharaan (SOP HAR, peralatan, dan lain-lain).
       Manajemen perencanaan sistem dan perencanaan
        ''penyambungan baru.
       Manajemen operasi (mobil unit, dinas gangguan).
       Manajemen komunikasi (radio area, unit operasi).
       Manajemen perbekalan (material harian)
       SDM yang kompeten dan profesional (KSA, iklat).
       PDKB
       Pemakaian saluran udara berisolasi, tree guard, pada daerah.
       daerah rawan pohon.
       Pemakaian kawat tanah sebagai pelindung sambaran langsung
       petir.
       Interloop antar penyulang.
210

5-1-8 Aspek Proteksi pada JTM
      Tujuan :
       - Pengaman manusia/ lingkungan.
       - Pengamanan alat peralatan (kerusakan minimal)
       - Pelayanan, selektifitas pemadaman.
      Macam-macam gangguan
      - Persistent/menetap
      - Umumnya pada SKTM
      - Non persistent/temporer, Umumnya pada SUTM
      Jenis relay dan penempatannya
       - Pola proteksi pada saluran kabel tanah
       - Pada sisi 20 kV gardu induk transformator 150 kV/20 kV.
       - Overcurrent relay - OCR
       - OCR - Groundfault relay


           PMT                      - Overcurrent relay
                                    - Differensial relay
          Penghantar tanah          - Pemutus balik otomatis




                 SSO
             Pembumian                    PBO : Pemutus Balik Otomatis
           PBO                                  (Automatic Redoser)
                                          SSO : Sakelar Seksi Otomatis
                                                (at. Sectionalizer)
            CO         HRC                CO : Cut Out Fused
                                          HRC : HRC Fused pada Gardu
                                                 Beton



 Gambar 5-2 Pola proteksi pada saluran udara tegangan menengah


                           REL- 20 kV              〈〈 〈〈     〉〉

                                   〈〈         〉〉      OCR
                                                     OCR-GF
               150/20 kV                OCR
                                        GF
 Gambar 5-3 Pola proteksi
 pada saluran kabel tanah                 BUSBAR 20 kV (REL)
Jaringan Distribusi Tegangan Menengah                                     211

5-1-9 Aspek Proteksi pada Pembangkit
      - Tegangan keluar pembangkit diatas 1 MW umumnya dengan
        pengenal 1 s/d 11 kV.
      - Jadi persyaratan A.L. PHB utama juga dilengkapi dengan relai-relai
        elektris.




      - Relai daya balik                              - Relai OCR
      - Relai diferensial                             - Relai GF
      - Relai sinkronisasi                            - Relai arus sisa
      - Relai UFR (Under Frequency Relay)
      - Relai over speed
      - Relai thermis
                   Gambar 5-4 Pola proteksi pada pembangkit

5-1-10 Aspek Pembumian pada JTM
Pembumian JTM dilakukan pada titik bintang transformator tenaga.
                        φ L1


                                         [Z] rendah      :   40, 20 Ohm
                               φ L2      [Z] tinggi      :   500 Ohm
                               φ L3      [Z] kecil       :   <<<<
                                         [Z] besar       :   Mengambang
               Z
                      Gambar 5-5 Aspek Pembumian pada JTM

5-1-11 Aspek-aspek Pembumian titik netral transformator tenaga
       di Garduk Induk pada
       -   Kerusakan akibat hubung pendek jaringan.
       -   Keselamatan lingkungan.
       -   (manusia, mahluk hidup) akibat hubung pendek dengan JTR.I
       -   Selektifitas penyulang yang mengalami gangguan.
       -
           Pengaruh terhadap sistem telekomunikasi.
           • Faktor 1,2,4 menghendaki arus gangguan rendah.
           • Faktor 3 menghendaki arus gangguan besar.
5-1-12 Pola jaringan TM berdasarkan aspek pembumian
      Pola jaringan melalui pembumian tahanan rendah.
      a). R = 12 ohm, sistem 3 fasa, 3 kawat untuk saluran udara.
212

          R = 40 ohm, sistem 3 fasa, 3 kawat untuk saluran kabel tanah.
          Contoh : Jakarta, Jabar, Luar Jawa.
      b). Pola Jaringan melalui pembumian tahanan tinggi R = 500 ohm.
          Contoh di PT. PLN (Persero) Distribusi Jawa Timur.
      c). Pola jaringan melalui pembumian langsung.
          R = 0 / kecil sekali
          Contoh : sistem 3 fasa, 4 kawat multi grounded system di Jawa
                    Tengah.
      d). Pola jaringan tanpa pembumian tidak ada pembumian netral
          pada sisi TM. Umumnya di luar Jawa
5-1-13 Karakteristik jaringan dengan pembumian tahanan
       rendah
      Contoh di PT. PLN (Persero) Jakarta Raya
      Sistem jaringan 3 fasa 3 kawat.
      Jaringan radial atau radial open - loop.
      Sistem proteksi dengan:
         Overcurrent relay untuk gangguan phasa-phasa.
         Groundfault relay, gangguan hubung tanah.
         HRC fused dan cut-out fused untuk pengaman
         transforrnator
         Arrester untuk pengaman petir •
         Relay murah
         Pengaruh tegangan langkah kecil
         Pemakaian peralatan proteksi lebih mudah.
         Pengaruh gangguan magnetik pada saluran telepon relatif
         kecil.
      Sistem 20 KV : .
         [z] = 20 ohm → I Gangguan : 1000 A
         [z] = 40 ohm → I Gangguan : 300 A
5-1-14 Karakteristik jaringan dengan pembumian tahanan tinggi
Contoh di PT. PLN (Persero) Jawa Timur
Sistem 3 fasa, 3 kawat.
Jaringan radial atau radial open - loop.
Sistem proteksi :.
       Overcurrent differential relay dengan automatic recloser pada
       circuit breaker gardu induk.
       Automatic recloser pads seksi-seksi jaringan dengan sensor
       tegangan
       Automatic sectionalizer pada pencabangan jaringan
       Cut - out fused untuk pengaman transformator Arrester
       untuk pengaman petir
       Relay mahal → memakai relai arah (directional relay)
       Selektifitas dan koordinasi dengan pengaman lain memakai
       sensor tegangan.
Jaringan Distribusi Tegangan Menengah                                        213

        Gangguan terhadap saluran telekomunikasi kecil.
        [Z] = 500 ohm.
        I gangguan ≈ 24 A
5-1-15 Karakteristik jaringan dengan pembumian langsung
Contoh di PT. PLN (Persero) lawa Tengah
      Sistem jaringan 3 fasa, 4 kawat (Multi grounded system).
      SUTM dengan kawat netral sisi TM dijadikan satu dengan kawat
      netral sisi TR, yang ditanahkan setiap 500 meter.
      Jaringan umumnya radial.
      Gardu distribusi type portal dengan transformator 3 fasa dan type
      cantol dengan transformator 1 fasa.
      Sistem proteksi
      - Overcurrent relay dengan automatic recloser, berkoordinasi
        dengan sectionalizer pada seksi-seksi tertentu saluran utama
        clan pencabangan.
      - Cut - out fused 1 fasa pada saluran pencabangan 1 fasa.
      - Cut - out fused untuk pengaman trafo.
      - Arrester untuk pengaman petir.
      - Relai murah, arus gangguan besar
      - Cocok untuk jangkauan jaringan luas.
      - Koordinasi dengan pengaman sisi hilir mudah
      - Perlu kawat tanah pada sisi TM.
5-1-16 Karakteristik jaringan tanpa pentanahan
       Umumnya listrik desa dengan trafo distribusi sebagai step up dari
       sisi TR kesisi TM.
       Hanya ada pengaman cut-out clan arrester pada transformator
       distribusi. Kadang-kadang dilengkapi relai tegangan tidak
       seimbang pada penyulang TM keluar.
       Apabila terjadi gangguan tanah UFR mesin PLTD jatuh.
5-1-17 Titik pembumian pada sistem TM
       Pada titik netral transformator tenaga.
       Pada jaringan saluran udara TM tiap 3 tiang.
       Pada arrester.
       Pada terminasi kabel masuk sel gardu induk
       Pada titik netral transformator distribusi.
       Semua BKT dibumikan.
    Nilai R :
              Maksimum 10 ohm pada tiang
              Maksimum 0,2 ohm pada titik netral transformator distribusi.
214

5-1-18 Titik-titik pembumian pada jaringan TM

                                                TRAFO TENAGA (1)


                                                    Z




        (6)                          REL 20 KV GI
                     ∧
                     ∧
                     ∨
                     ∨
                                                        TM
        MOF KABEL
                                                         PENGHANTAR
                                                         NETRAL
              (4)
                                                    BKT
                                       TRAFO
                                       DISTRI
                                       BUSI

                                                                   R
         TIANG (2)                ARRESTER                   (6)
                            (2)           (3)                 TR




       Gambar 5-6 Titik-titik pembumian pada jaringan TM

5-1-19 Ketentuan-ketentuan Tentang Persyaratan Instalasi
       Tegangan Menengah PUIL 2000
      PUIL 2000 mencakup persyaratan-persyaratan instalasi listrik sampai
      dengan tegangan 35 kilo Volt dalam bangunan dan di luar bangunan,
      mencakup:
        Perancangan, Pemasangan, Pemeriksaan, Pengujian,
        Pelayanan, Pemeliharaan, Pengawasan.
      Bahasan-bahasan pada persyaratan instalasi jaringan distribusi
      tegangan menengah berikut ini adalah bahasan-bahasan mengenai
      persyaratan instalasi baik pada jaringan ataupun gardu listrik.
      Standard-standard konstruksi yang ada dan dipakai khususnya
      terbitan PT. PLN (Persero) digunakan sebagai contoh aplikasi.
Jaringan Distribusi Tegangan Menengah                                   215

5-1-20 Susut Tegangan pada Sistem 3 fasa 3 kawat 20 kV
       Susut tegangan pada jaringan distribusi TM dibatasi dengan batas-
       batas sadapan pada transformator distribusi.
       Contoh : Sadapan transformator distribusi ± 5 % pada tegangan
                pelayanan/tegangan nominal.
        Namun apabila akan dihitung besarnya susut tegangan pada
        jaringan jika memikul beban dapat dilakukan dengan berbagai
        metode.
        Metode perhitungan dapat dilakukan antara lain dengan:
          - Metode impedansi jaringan
            Perhitungan secara klasik impedansi jaringan dan arus
            beban.
         - Metode momen listrik.
            Perhitungan berdasarkan tabel-tabel momen listrik yang
            telah disusun.
         - Metode grafis
            Perhitungan berdasarkan kurva-kurva susut tegangan,
            panjang jaringan, penampang hantaran dan jenis hantaran.
         - Perhitungan berdasarkan tabulasi susut tegangan per km
            jaringan.
        Uraian-uraian berikut diambil contoh untuk metode moment
        listrik, mengingat metode ini paling mudah diterapkan.
     Tabel 5-1 adalah nilai momen listrik untuk cos φ = 0,8
     Tabel 5-1. Momen listrik kabel dan hantaran udara TM (20kV) pada
                beban diujung penghantar dengan susut tegangan 5%
                                                 MOMEN
                     JENIS  LUAS PENAM DAYA MAX LISTRIK kHA (A)
    SISTEM       PENGHANTAR PANG (MM2)   (MVA)  (MVA.KM)
                   TEMBAGA       50        5,8     46,7   168
                   TEMBAGA       95        8,7     83,3   250
    KABEL          TEMBAGA      150       11,4    116,1   328
    TANAH         ALUMINIUM      95         7      54,4   200
                  ALUMINIUM     150        9,2     78,9   266
                  ALUMINIUM     240       12,6    117,2   365
                   TEMBAGA       25        5        2,5   145
                   TEMBAGA       35        6,1     33     177
                   TEMBAGA       50        8       40,6   230
                   TEMBAGA       70        9,4     50     270
                     ACSR       187,5     13,9     60,9   400
  PENGHAN-
                     ACSR       270       17,7     72,9   510
  TAR UDARA
                  ALUMINIUM     110                48     310
                   ALMELEC       35        5       19,4   145
                   ALMELEC       70        7,8     33,3   225
                   ALMELEC      150       12,6     55,5   365
                   ALMELEC      228       16,6     69,4   480
        Catatan : kHA pada t = 35 O C
 216

5-1-21 Metode momen listrik Sistem 3 fasa 3 kawat 20 kV
        Parameter suatu momen listrik adalah besarnya faktor daya (= cos
φ) jaringan, berdasarkan persamaan klasik:
                    ∆V = √3. I ( R cos φ + jwL sin φ)
          Overheating cable t = 35 O C, 1 kabel pada 1 jalur konstruksi

Contoh:
   a.   Suatu beban diujung 10 MVA dengan rugi tegangan 5 % .
                L = 60,9 = 6,09 km
                     10
   b. Kabel tanah tembaga 3 x 95 mm2 beban 4 MVA pada L = 10 km.
              ∆µ = 4 x 10 X 5% = 2,4 =2,4%
                    83,3         100
   c.    Berapa besar beban jika saluran tembaga L = 25 km, ∆µ = 7%
                P = 33 X 7 = 1,848 MVA.
                    25 5
5-2 Saluran Kabel Tanah Tegangan Menengah
         Kabel tanah Tegangan Menengah yang dipakai adalah kabel tanah
dengan pelindung mekanis bagian luar (pita baja), dengan berpelindung
medan magnet dan elektris. Kabel dapat berbentuk multicore belted cable
atau single core full isolated cable. Dipakai kabel Alluminium berurat dipilin
dengan bahan isolasi XLPE. Pada umumnya kabel tegangan menengah ini
terdiri atas 3 x 1 core atau 1 x 1 core dengan ukuran penampang 300 mm2,
240 mm2, 185 mm2, 150 mm2, 70 mm2, dan 25 mm2. Pemilihan pemakaian
tergantung beban/kerapatan beban yang dilayani.
Kabel tanah diletakkan pada minimum:
  - 0,8 meter di bawah permukaan tanah pada jalan yang dilewati
    kendaraan.
  - 0,6 meter di bawah permukaan tanah pada jalan yang tidak dilewati
    kendaraan.
  - Lebar galian sekurang-kurangnya 0,4 meter
        Catatan:
          Ketentuan ini sangat bergantung pada peraturan daerah setempat.
          Contoh di Jakarta kabel digelar pada minimum 1,1 meter di bawah
          permukaan tanah.
       Kabel harus dilapisi pasir halus setebal minimum 5 cm dari
permukaan kulit kabel dan bagian atas diberi pelindung mekanis untuk
maksud keamanan terbuat dari beton, batu atau bata (lihat gambar
penampang galian kabel tanah menurut standard konstruksi PT. PLN
(Persero) Distribusi Jakarta Tangerang). Kabel tegangan lebih tinggi berada
di bawah yang bertegangan rendah.
Jaringan Distribusi Tegangan Menengah                                    217

5-2-1 Konstruksi persilangan kabel telekomunikasi dan kabel
      listrik non PLN.
   - Kabel listrik harus di bawah kabel telekomunikasi kabel harus dilindungi
     dengan pelindung (pipa beton belah, plat beton, pipa yang tahan api).
     Kedua sisi persilangan pelindung di tambah 0,5 meter.
   - Jika jarak antara kabel tanah dengan kabel telekomunikasi kurang dari
     0,5 meter pelindung harus di dua kalikan (tambahan pelat beton).
   - Bila kabel telekom sejajar dengan kabel TM panjang selama sejajar
     harus dimasukkan dalam pipa beton belah, pelat beton atau sejenis.
   - Jarak kabel tanah dengan instalasi telekom minimal 0,3 meter dan
     harus diberi pelindung (termasuk tiang telekom). (lihat standard
     konstruksi PT. PLN (Persero) ).
5-2-2 Persilangan kabel tanah TM dengan rel kereta api,
   - Rel ka bel harus berjarak minimal 2 meter dari rel kereta api.
   - Jika terjadi persilangan, kabel harus dimasukkan dalam pipa gas
     dengan diameter minimal 4 inchier (10 cm) dan diiebihkan 0,5 meter
     dari masing-masing garis vertikal kid kanan rel kereta dengan
     kedalaman 2 meter dibawah rel kereta api.
   - Hal yang sama jika melintas dipekarangan atau bangunan PT. KAI.
   Catatan:
     1. Harus dilaksanakan pengaturan agar kabel dapat diambil kembali
        dengan tidak usah menggali lagi bagian bawah jalan kereta api
     2. Pekerjaan yang dilaksanakan di atas tanah milik PJKA agar
        dilakukan oleh kontraktor yang disetujui PJKA
     3. Sama halnya dengan perlintasan pada jalan raya, pada
        penyebrangan jalan kereta api juga harus ditambahkan 2 pipa
        cadangan.




                    Gambar 5-7 Aturan Penanaman Kabel
218

5-2-3 Persilangan dengan jalan raya atau jalan lingkungan.
  - Kabel harus di masukkan kedalam pipa beton atau PVC atau selubung
    baja, yang diiebihkan masing-masing 0,5 meter sisi kiri
  - Dibawah penerangan, melintasi jalan lingkungan kabel harus dilindungi
    dengan pelindung pipa beton separuh, PVC atau sejenis.

5-2-4 Persilangan dengan saluran air dan bangunan air.
  - Kabel harus ditanam minimal 1 meter di bawah saluran air. Jika
    dibawah laut harus ditanam sedapat mungkin 2 meter di bawah dasar
    laut.
  - Jarak minimal ka{bel tanah dengan bangunan air adalah 0,3 meter dan
    harus dimasukkan kedalam pipa beton/logam dengan diameter minimal
    10 cm dan dilebihkan 0,5 meter pada kedua sisi perlintasan.
  - Pada kedua tepi saluran air dimana kabel tanah ditanam harus diberi
    tanda yang cukup untuk dilihat pengemudi kapal.
  - Jika harus menyeberangi saluran air jembatan kabel khusus harus
    tersedia.
5-2-5 Pendekatan kabel dengan konstruksi instalasi diatas tanah.
  - Jarak kabel minimal 0,3 meter dari kaki keluar konstruksi dan harus
    dilindungi dengan pipe baja atau bahan yang kuat, tahan lama, tahan
    api. Jika jaraknya kurang dari 0,8 meter dan diberi tambahan 0,5 meter
    dari sisi kin kanan lintasan.
  - Kabel keluar dari tanah (opstik kabel) pada tiang harus dilindungi pipa
    galvanis minimal panjang 2,5 meter di atas tanah.
5-2-6 Prosedur Peletakan Kabel Tanah
  - Kabel diletakkan minimal berjarak 2 x diameter kabel atau 20 cm dari
    kulit luar kabel.
  - Perletakan kabel yang lebih dari 2 kabel baik vertikal atau horizontal
    mengikuti ketentuan-ketentuan yang berlaku. Kondisi ini menurut KHA
    kabel faktor perkalian ini disebut faktor perletakan, untuk jelasnya lihat
    7.3-34 s/d 7.3-35 PUIL 2000. (berlaku untuk perletakan di udara atau di
    tanam).
  - Pada tiap jarak 5 meter jalur kabel harus diberi patok tanda kabel.
  - Pada tiap sambungan kabel harus diberi patok tanda sambungan
    kabel.
Jaringan Distribusi Tegangan Menengah                       219




                                         Jumlah     L
                                          kabel    cm
                                            2      60
                                            3      90
                                            4      120
                                            5      150
                                            6      180




           Gambar 5-8. Pekerjaaan sebelum penanaman kabel
220

Contoh:



                                  In = Arus minimal kabel = 260 A.
                                  Fp = Faktor perletakan untuk 3
                                       kabel mendatar = 0,88
                                  In' = Arus nominal yang dikoreksi
 > 2cm    2D         2D                 0,88 x 260 A = 240 A.
          (20 cm)   (20 cm)



            Gambar 5-9. Peletakan Kabel Tanah

5-2-7 Ketentuan-ketentuan yang tidak terdapat dalam PUIL
  - Lintasan di atas rel kereta api.
                 D ≥ 1,5 meter di atas fasilitas kereta api
                      (misalnya tiang rel-kereta listrik)
  - Jarak tiang terhadap rel kereta api.
                D ≥ panjang tiang.
  - Lintasan dengan SUTT.
                D ≥ 3 meter ( 70 kV)
    D ≥ 4 meter (150 kV)
  - Jarak terhadap tower transmisi
            D ≥ tinggi tiang atau
            D ≥ 1,5 tinggi tiang
  - Lintasan di atas jalan raya utama
            D ≥ 6 meter pada temperatur 60O C tanpa angin
  - Sudut lintasan maksimum dengan jalan raya utama atau sungai sebesar
    30O C
  - Lintasan di atas saluran/sungai, minimum 6 meter saat air pasang
    ditambah 1,5 meter diatas tiang layar.
     (untuk sungai besar tidak dianjurkan saluran TM melintasi sungai).
5-2-8 Persiapan Pelaksanaan Penggelaran Kabel Tanah
  - Persiapan gambar rencana pelaksanaan pada peta 1 : 5000 atau 1:
    200
  - Survai dalam pembersihan jalur kabel.
  - Penggalian titik kontrol jalur kabel pada tiap 50 meter (injeksi test
    galian) untuk meneliti kemungkinan adanya utilitas lain.
  - Check dokumentasi asbuilt drawing utilitas-utilitas lain.
  - Persiapan material penunjang (Pasir urug, Batu patok/tanda, Batu
    peringatan, Pipa beton/PVC/ sejenis).
  - Pekerjaan pendahuluan       telah dilaksanakan {Lintasan/Crossing-
    Boring,
Jaringan Distribusi Tegangan Menengah                            221

   - Jembatan kabel, Pembersihan rencana jalur kabel, Rambu-rambu K3,
     Alat-alat kerja (rol kabel, dan lain-lain)}.
   - Pelaksanaan penggelaran/penarikan kabel dengan 1 supervisor, 1
     mandor, 1 kuli tiap 5 meter.
     Berikut ini adalah gambar perlengkapan persiapan penanaman kabel
tanah dan alat angkut untuk menunjang pemasangan kabel tanah dan
selanjutnya gambar-gambar pekerjaan sebelum penanaman kabel tanah.




                                  HASPEL




                Gambar 5-10 Pengangkutan kabel tanah
                  tegangan menengah dengan forklif
222




                     HITAM




                                          120




              Gambar 5-11 Alat pelindung dari seng


                                          5-2-9 Menentukan jalan
                                                  lintasan kabel
                                          - Kabel-kabel listrik lebih baik
                                            ditempatkan pada tanah
                                            umum (negara) dibawah
                                            trotoir (jalan setapak).
                                          - Membelokkan arah kabel
                                            dilaksanakan dengan cara
                                            membuat lengkungan
                                            sekurang- kurangnya dengan
                                            radius lekuan (bending
                                            radius) 15 kali diameter
                                            keseluruhan daripada kabel
                                            yang bersangkutan.




                                                  R > 15d




      Gambar 5-12 Saluran Kabel
               Tanah                            Gambar 5-13. Penentuan
                                                  lintasan Kabel Tanah
Jaringan Distribusi Tegangan Menengah                     223




                             Gambar 5-14.
            Lebar Galian dan Penanganan Kotak Sambungan




                Gambar 5-15 Dasar lubang galian
224


        MENYEBERANGI PIPA ATAU KABEL




      JALAN MASUK KE RUMAH




                             Gambar 5-16 Aturan
                             Penamanan Kabel




        Gambar 6-17. Jembatan Kabel
Jaringan Distribusi Tegangan Menengah                        225




            Gambar 5-18 Konstruksi khusus penanaman kabel




             Gambar 5-19 Lintasan penyebrangan kabel tanah
                         pada gorong-gorong/parit
226




      Gambar 5-20 Pekerjaan penanaman kabel
Jaringan Distribusi Tegangan Menengah                                    227

                             BUIS BETON
                                   1000




                       DETAIL SAMBUNGAN (dalam cm)




                          Gambar 5-21 Buis Beton




                                                Konstruksi Beton
                                                Konstruksi itu terutama
                                                untuk ketahanan kabel,
                                                letak dan posisi serta ada
                                                rencana pengembangan,
                                                seperti di lokasi sekitar GI


                                          - PVC AW 6 mm di cor di
                                            dalam beton 1 : 3 : 5
                                          - Untuk kontrol dibuat bak
                                            kontrol tiap-tiap 50 m satu
                                            buah bak kontrol dengan luas
                                            2x3 m dan dalamnya 1,40 m


             Gambar 5-22 Konstruksi Penanaman Kabel Tanah
228




      Gambar 5-23 Pemasangan Kabel pada Jembatan Beton
Jaringan Distribusi Tegangan Menengah                         229


   POSISI/KEDUDUKAN KABEL




                              POTONGAN MEMANJANG




                              Potongan A - A




Rak penyangga kabel




                                 Ruang bebas 1 m




      Gambar 5-24 Posisi/kedudukan kabel di dasar rak kabel
230


                              Penanganan dan Pengangkutan
                              Haspel
                              - Haspel    harus     digerakkan
                                dengan tangan secara hati-hati.
                              - Haspel harus di gusur atau
                                digelindingkan
                              - Haspel tidak boleh diikat dengan
                                rantai, kabel atau tambang
                                seputarnya      karena      akan
                                menekan bagian luar kabel.
                              - Haspel sama sekali tidak boleh
                                dilemparkan ke tanah dari atas
                                truk atau trailer.

 Gambar 5-25 Penanganan dan
 Pengangkutan dengan Haspel




  - GRIP PENARIK BERMATA SATU




              Gambar 5-26 Alat Penarik Kabel
Jaringan Distribusi Tegangan Menengah                 231



       - GRIP PENARIK BERMATA DUA




              Gambar 5-27 Alat Penarik kabel (Grip)




Roller untuk Kabel




                   Gambar 5-28 Roller untuk Kabel
232




             Gambar 5-29 Roll Penggelar Kabel




 Gambar 5-30 Dongkrak Kabel




 Gambar 5-31 Penarikan
 kabel TM dengan Roll
   dibelokan normal                        Belokan Normal
Jaringan Distribusi Tegangan Menengah                                   233




                                        Gambar 5-32 Penarikan
                                        kabel TM Belokan Tajam

Melepas Gulungan Kabel
- Apabila perlu, boleh tidak seperti biasanya, kabel di lepas dari haspel
  nya, diletakkan di atas tanah di luar bagian (cara melepas gulungan).
- Pekerjaan yang rumit ini harus dilaksanakan hanya oleh para pekerja
  yang ahli di bawah pengawasan mandor/pengawas.
- Harus di tempuh segala upaya untuk mencegah jangan sampai kabel
  melintir ketika di tarik ke dalam (galian).




                                                R > 20d
                                                d = diameter




                       Gambar 5-33 Penggelaran Kabel
234

5-3 Penyambungan kabel tanah
5-3-1 Ujung kabel sebelum penyambungan
- Apabila dua kabel akan di sambung, maka kedua ujung yang akan
  disambung itu harus dilebihkan satu dari yang lainnya sepanjang 1 meter.
- Sebagai ketentuan umum, kabel pada setiap sisi kotak sambungan tidak
  dilebihkan panjangnya.
5-3-2 Tutup/Dop Ujung Kabel
- Kabel di dalam lubang galian, baik sesudah maupun sebelum diurug, harus
  dipasangkan tutup/dop ujungnya sebagaimana mestinya atau diperiksa
  apakah betul sudah baik pemasangannya.
- Dalam hubungan ini perlu diperhatikan, agar di antara ujung kabel
  dengan tutup/dop ujung kabel harus ada bagian kabel yang dikupas
  bersih.




           Gambar 5-34 Persiapan Penyambungan Kabel




                Gambar 5-35 Tutup / Dop Ujung Kabel


 - Ruang bebas yang harus disediakan untuk kotak sambung
   (Juntion box)
Jaringan Distribusi Tegangan Menengah                                     235




              Gambar 5-36 Aturan galian penyambungan


5-3-3 Memberi label nama pada kabel bawah tanah
   - Agar pemberian tanda kabel bawah tanah lebih mudah, maka akan
     diberi label-label tanah dengan jarak antara yang sama (setiap 6
     meter). Label-label ini akan dicetak seperti contoh ini.
   -   Permukaan label timah yang ada tulisannya itu akan diletakkan
       diatas kabel : label itu akan diikat dengan kawat yang digalvanizir.




                  Gambar 5-37 Penamaan Timah Label



5-3-4 Pemberian tanda pada kotak sambungan (junction box)
236




       Gambar 5-38 Pemasangan Lebel pada Kotak Sambung

Catatan:     Label-label harus ditempatkan sedekat mungkin dengan kotak
            sambung
Mengubah mengatur kembali jaringan tenaga listrik yang sudah
terpasang/beroperasi:
Sebelum membuat sesuatu perubahan terhadap sistem jaringan yang sudah
terpasang harus diambil langkah-langkah sebagai berikut:
   - putuskan saluran listrik pada kabel dan hubungkan kedua ujung kabel
     ke dalam tanah;
   - bila galian sudah terbuka, lepaslah kedua kabel dan periksalah apakah
     nama, jumlah, seksi, tegangan, tahun penanaman sesuai dengan apa
     tertera pada gambar;
   - pastikan bahwa kabel yang akan dipotong telah benar dengan
     menggunakan alat deteksi kabel (radio detection)
   - pengawas pekerjaan dari PLN harus memeriksa apakah pada bagian
     kabel yang akan dipotong itu sudah tidak bertegangan.
5-3-5 Peralatan untuk memeriksa tegangan listrik




           Gambar 5-39 Alat Pembumian Kabel yang akan dipotong
Jaringan Distribusi Tegangan Menengah                                         237

Tutup asbes (Asbestos cover)                       Anyaman penghubung
    Tebal     : 4 mm                               ( connecting brand)
    Ukuran    : 90 x 90 Cm
    Prosentase asbes sekurang-
    kurangnya 90%                                               2
                                           Penampang : 60 mm
                                           Panjang   : 2 meter




                                                 Gambar 5-41 Anyaman
                                                             penghubung
   Gambar 5-40 Tutup Asbes




Karpet Isolasi




                                                               0,50 m
                                        1,00 m




Sarung tangan berisolasi



                                                 Tegangan uji 30 atau 20 kV


                 Gambar 5-42 Alat Kerja Pembumian

Catatan: 1. Sarung tangan harus dibawa dalam tas khusus
         2. Periksa keadaan sarung tangan sebelum dipakai




5-4 Saluran Udara Tegangan Menengah
5-4-1 Prosedur Penggelaran Kabel Tegangan Menengah.
    a. Kabel inti tunggal tegangan menengah harus dilakukan transposisi
       pada tiap jarak 4 meter
238

   b.   Transportasi kabel dilakukan secara gelondongan/haspel.
      Penggelaran harus memakai besi penyangga agar haspel mudah
      diputar.
   c. Jika kabel sangat pendek di bawah 30 meter transportasi dapat
      dilakukan tanpa haspel namun kabel diangkut dalam gelondongan
      menyerupai angka 8.
   d. Untuk mencegah deformasi penampang kabel, tidak diperboleh- kan
      tergilas kendaraan umum.
   e. Peralatan kerja yang diperlukan; Dongkrak/penyangga kabel, rol datar
      dipasang tiap jarak 5 meter, rol belok, rol tikungan, penarik ujung
      kabel, peralatan penggulung.
   f. Sebelum digelar, dilakukan penyuntikan guna mendapatkan
      kemungkinan adanya fasilitas-fasilitas lain di dalam tanah.
   g. Penggelaran dilakukan per haspel.
   h. Setelah penggelaran lubang galian harus di timbun kembali.
   i. Kabel di beri identitas yang terbuat dari logam timah/dyno dengan
      mencantumkan; nama pelaksana/jointer, tanggal penyambungan,
      nama kabel, merk sambungan, kode sambungan.
5-4-2 Mengidentifikasi masalah penggelaran SKTM
   a. Hal-hal yang harus diperhatikan di dalam penggelaran kabel tanah
      adalah pengawasan pada saat menggelar kabel, baik kabel itu sudah
      dalam kemasan haspel atau dalam bentuk gulungan membentuk
      angka 8. Hal ini menyangkut keamanan dan keselamatan pada saat
      pembebanan kabel.
   b. Jika terdapat kabel ciri/cacat pada selubung atau isolasinya (terutama
      isolasi) yang disebabkan oleh kesalahan pada saat penggelaran,
      akan mempengaruhi KHA kabel. Walaupun pada setiap kabel sudah
      mempunyai batas toleransi (faktor koreksi), terutama pada kabel
      yang dibebani terus-menerus.
5-4-3 Membuat laporan
   a. Setiap akhir pekerjaan wajib membuat peta pelaksanaan (asbuilt
      drawing) pada peta 1: 200 dan peta 1:5000 yang mencamtumkan;
      nama penyulang/kabel, titik sambungan, posisi perletakan kabel,
      tanggal dan nama pelaksana, jenis kabel, posisi transposisi jika
      memakai single corecable/kabel inti tunggal, posisi lintasan kabel
      dengan inti lintasan lain, nomor haspel.
   b. Dokumentasi pelaksanaan (photo/gambar pelaksanaan)
   c. Laporan pelaksanaan, nomor perintah kerja.
5-4-4 Kotak Sambung dan Kotak Ujung Saluran Kabel Tegangan
      Menengah
5-4-4-1 Merencanakan dan mempersiapkan pemasangan kotak
        sambung dan kotak ujung SKTM
Jaringan Distribusi Tegangan Menengah                                   239

   a. Sambungan kabel tanah setelah penggelaran tiap 1 haspel (± 300
      meter) perlu disambung.
   b. Tata cara penyambungan sesuai dengan teknologi yang dianut dan
      dilakukan oleh pelaksana bersertifikat.
      Contoh: metode Raychem, Premoulded, 3m dan lain-lain.
   c. Hal yang sama dengan terminasi kabel.
   d. Sambungan terminasi kabel pada saluran udara penghantar tak
      berionisasi harus dilindungi dengan Arrester. Arus pengenal Arrester
      5 kA, jika sambungan di tengah saluran. Arus pengenal Arrester 10
      kA, jika sambungan di ujung saluran.
   e. Pada titik sambungan kabel harus diberi cadangan lintasan dengan
      cara digelar seperti gambar berikut →
      Demikian pula pada kabel yang naik tiang kesaluran udara.
5-4-4-2 Memasang kotak sambung
   Ada 2 macam sambungan berdasarkan tempatnya:
   a. Sambungan yang mengalami tegangan tarik dipakai tention joint /
      joint sleve
   b. Sambungan yang tidak mengalami tegangan tarik dipakai non tention
      joint / Connector atau paralel groove yaitu pada section pole. Paralel
      groove ini dipakai agar bisa dibuka waktu mencari gangguan,
      pemakaiannya harus double per phasa karena konduktiviti parallel
      groove ini hanya 60% dari konduktiviti kawatnya per buah. Section
      pole / tention pole sendiri dipasang pada setiap ± 10 gawang dan
      pada tention pole ini paralel groove dipasang.
5-4-4-3 Mengidentifikasi masalah pemasangan kotak sambung dan
      kotak ujung
   a. Hal-hal yang harus diperhatikan di dalam pemasangan kotak sambung
      adalah pengawasan pada saat menyambung kabel, jangan sampai
      terdapat celah atau cacat lubang (void) yang bisa menyebabkan
      timbulnya udara atau air yang menerobos ke dalam kotak sambungan,
      sehingga bisa terjadi arus bocor atau flesh over.
   b. Permukaan kontak antara kedua kabel yang disambung harus seluas
      mungkin sehingga tidak akan mempengaruhi/mengurangi            KHA
      kabel. Walaupun pada setiap sambungan kabel sudah mempunyai
      batas toleransi (faktor koreksi), terutama pada kabel yang dibebani
      terus-menerus. Namun demikian secara praktis sulit dicapai pada
      sambungan agar KHA tidak berkurang.
5-5 Konstruksi Saluran Udara Tegangan Menengah
5-5-1 Ketentuan-ketentuan Melaksanakan Konstruksi Saluran
      Udara Tegangan Menengah (sesuai PUIL 2000)
      Penghantar udara telanjang yang di pasang, direntangkan diatas tiang
      penyangga dengan isolator penunjang.
240

      Persilangan saluran udara dengan saluran telekomunikasi dengan jarak
      - Penghantar telanjang berjarak 1 meter, bersilangan 1 meter.
      - Penghantar berisolasi berjajar 1 meter, bersilangan 1 meter.
      Pemasangan saluran udara TM dengan saluran telekomunikasi harus
      lebih besar dari jarak 2,5 meter.
      Pemasangan pada satu tiang saluran udara TM dengan saluran udara
      TR (underbuilt) pada setiap 3 tiang harus di pasang penghantar
      pembumian yang dihubungkan dengan penghantar netral.
      Contoh : Lihat standard konstruksi PT. PLN (Persero).
      Jarak aman saluran udara terhadap bagian yang terhubung dengan bumi
      adalah minimum 5 cm + 2/3 x kV sistem. .
      Contoh : 5 cm + 2/3 x 24 kV = 5 cm + 16 cm = 21 cm,
      (Pada tabel 4.131 PUIL tercantum 60 cm untuk Tegangan kerja 20 kV).
      Namun jarak aman saluran pada lingkungan umum ditentukan juga oleh
      pemerintah daerah.
      Jarak antara 2 penghantar saluran udara TM (%20 kV) minimal 60 cm.
      Jarak minimum lendutan penghantar terhadap tanah adalah 6 meter.
      (menurut PUIL-2000, cukup 5 meter).




       Gambar 5-43 Jarak aman antara kereta api dengan tiang
Jaringan Distribusi Tegangan Menengah                   241




        Gambar 5-44 Jarak aman antara SUTT dan SUTM




   Gambar 5-45 Jarak aman antara Menara SUTT dan SUTM
242




          Gambar 5-46 Jarak aman antara SUTR dan SUTM


5-5-2 Hantaran dan Pemasangan Saluran Udara
  1. Penghantar udara yang dipakai adalah dari jenis-jenis :
          a. Hantaran tak berisolasi : A2C, ABC, ACSR.
          b. Hantaran kabel
               i. Kabel pilin TM.
              ii. Kabel inti tunggal (full atau halfinsulated)
              Dengan ukuran : 25 mm2, 50 mm2, 70mm2, 120 mm2;
              150mm2, 187, 5 mm2, 240 mm2.
  2. Tiang yang dipakai adalah dari jenis tiang besi, tower, beton
       dengan ukuran panjang 11 m, 12 m, 13 m, 15 m dan dengan
       kekuatan 350 daN, 500 daN, 800 daN.
  3. Isolator yang dipakai adalah :
      - Jenis penopang PIN/PIN post/ post isolator untuk tiang tengah
Jaringan Distribusi Tegangan Menengah                                                              243


      - Jenis isolator penegang, umbrella lipe/model payung-piring atau
      - rod non puncher.
      - Jenis TOEI isolator untuk kawat penegang (guy wire).
    4. Arrester yang dipakai adalah
        Type 5KA untuk pemasangan pada tiang tengah.
        Type 10 KA untuk pemasangan pada tiang akhir kawat.
    5. Penghantar pentanahan, memakai kawat tembaga tak berisolasi
        minimal ukuran 35 MM2 dengan elektoda batang minimal 3 meter.
    6. Peralatan bantu lain
          Bending wire/preformed
          Stainless steelstrap
          Uclamp, sengkang
          Link.
          Mur baut galvanized
    7. Tiang ditanam sedalam 1/6 X tinggi tiang
    8. Pemilihan kekuatan tiang
       Besarnya kekuatan tiang dipilih berdasarkan:
        - Luas penampang hantaran.
        - Sistem jaringan ( 1 fasa, 3 asa)
        - Sudut belokan hantaran
        - Fungsi tiang (misalnya tiang seksi)
      Besarnya kekuatan tiang didasarkan atas temperatur maksimum
      hantaran, tanpa hembusan angin
      Tabel berikut ini memberikan tuntunan pemilihan besarnya kekuatan
      tiang.
   Tabel 5-2. Pemilihan Kekuatan Tiang
                                                                                          sudut
   Ujung Jaring Distribusi Tegangan Menengah
 JARAK    SUDUT      PENGHANTAR PENGHANTAR               UKURAN TIANG (dAN)              GUY      KETE-

                                   TWISTED
GAWANG    JALUR          A3C                 200   350      S00     800   2X800   1200   WIRE   RANGAN
                                     JTM
  5O M   0O – 15O      35 mm2        X             X
         15O -30O      35 mm2        X                       X                              -
         30O – 60O     35 mm2        X                               X
              O                2
           >60         35 mm         X                                        X    X
         0O – 15O      70 mm2        X             X
         15O -30O      70 mm2        X                       X
         30O – 60O     70 mm2        X                               X
           >60O        70 mm2        X                                        X    X                 -
         0O – 15O      150 mm2       X                       X
         15O -30O      150 mm2       X                               X
         30O – 60O     150 mm2       X                                        X    X
           >60O        150 mm2       X                                        X    X
         0O – 15O      240 mm2       X                       X
         15O -30O      240 mm2       X                               X
         30O – 60O     240 mm2       X                                        X    X
           >60O        240 mm2       X                                        X    X
         0 – 15O
          O
    _                   Double       -                       X
         15O -30O       Circuit      -                               X
         30O – 60O     150 mm2       -                                        X    X
           >60O                      -                                        X    X
244



5-5-3 Kekuatan Tiang Seksi
  1. Apabila terjadi perubahan luas penghantar pada satu tiang maka
     besarnya tiang yang dipilih, dihitung dengan cara perubahan kekuatan
     tiang, diasumsikan berfungsi sebagai tiang awal masing-masing
     penghantar.
       Contoh
         Penampang A3C 3 x 150 mm 2 bertemu dengan A3C 3 x 35 mm 2 ,
         Jarak gawang 40 meter. Berapa kekuatan tiang seksi tersebut.
       Jawab:
          Tiang awal A3C 3 x 150 mm 2         = 2 x 800 daN
          Tiang awal A3C 3 x 35 mm 2          =     800 daN
          Beda kekuatan                             800 daN
          Dipilih besar kekuatan tiang seksi 800 daN.
        Sagging (lendutan) dari Jarak Gawang
  2. Lendutan atau sagging menentukan besamya kekuatan tarik tiang
     khususnya tiang ujung.
  3. Perhitungan sederhana besarnya lendutan / sagging adalah
      40 cm untuk jarak gawang 40 meter
      60 cm untuk jarak gawang 50 meter
      85 cm untuk jarak gawang 60 meter
      dengan catatan
      Temperatur 20° C
      Kekuatan angin 50 km/jam
      Angka keamanan 2
  4. Untuk kekuatan tiang sebagai fungsi sagging dan jarak gawang dapat
     dilihat pada tabel lembar berikut.
5-5-4 Konstruksi Pemasangan Isolator
  a. Untuk tiang lurus (line pole), memakai satu isolator Pin atau sejenis.
  b. Untuk tiang sudut 0° -15°, memakai satu isolator Pin atau sejenis
  c. Untuk tiang sudut 15° - 30° memakai dua isolator Pin atau sejenis.
  d. Untuk tiang sudut diatas 30° memakai dua isolator tarik dengan
     cross arm minimal panjang 2200 cm.
  e. Untuk pemakaian isolator jenis post insulator, dapat dipakai dengan
     sudut sampai dengan 15°, lebih besar dari 15° memakai 2 isolator
     tarik (hang isolator).
Jaringan Distribusi Tegangan Menengah                                     245



5-5-5 Konstruksi Elektroda Pembumian
    a. Elektroda pembumian ditanam 0,3 meter dari titik tanam tiang atau
       dari sisi luar fondasi.
    b. Terminal sambungan dengan penghantar pembumian disambung
       0,2 meter dibawah permukaan tanah.
    c. Sambungan dilakukan dengan mur baut anti korosif / anti karat.

5-5-6 Palang Sangga (Crossarm, Travers) dengan Ukuran
      Tertentu
    a. Contoh : Panjang 240 cm untuk tiang sudut.
       Panjang 180 cm untuk tiang tengah lurus.
       Material harus terbuat dari metal UNP 8, 15 dan digalvanisir.
       Contoh konstruksi PT. PLN (Persero) pada gambar lampiran
5-5-7 Ikatan Isolator pada Hantaran
    a. Hantaran diikat dengan isolator memakai bending wire (A3C)
       atau preformed.
       Panjang minimum bending wire ± 2 meter.
    b. Agar diperhatikan tata cara mengikatnya.
5-5-8 Guy Wire (Trekskur) atau Kawat Penarik
    a. Guy wire dirancang untuk memungkinkan pemakaian tiang akhir
       dengan kekuatan yang kecil, sejauh ruang batas memungkinkan.
    b. Guy wire terbuat dad kawat baja anti karat jenis "stranded steel
       wire", dengan ukuran minimal 90 mml
    c. Dengan memakai guy wire, besar kuat tarik tiang akhir dapat dipilih
       seminimal mungkin.
      Contoh:
      Konstruksi guy wire standaro konstruksi PT. PLN (Persero).
5-5-9 Konstruksi Pole Top Switch
      Pole top switch memakai tiang 2 x 500 daN atau 800 daN atau 2 x 800
      daN, jika berfungsi sebagai tiang seksi.
5-5-10 Konstruksi Arrester
      Arus pengenal Arrester pada tiang ujung, memakai arrester 10 kA.
      Arus pengenal pada tiang tengah, memakai arrester 5 KA
      (lihat konstruksi Arrester standard konstruksi PT. PLN (Persero).
246



5-5-11 Konstruksi Cut Out Fused
      Cut Out Fused mempunyai fungsi ganda menurut sistem jarngan yang
      dianut baik sebagai pengaman hubung tanah satu fasa atau sebagai
      pengaman hubung singkat pada gardu.
5-5-12 Konstruksi Kawat Tanah (earth wire)
      Konstruksi kawat tanah dipakai di daerah Jawa Timur, dipasang
      di atas penghantar fasa
5-5-13 Konstruksi Saluran Udara Tegangan Menengah Sistem
     Multi Grounded 3 Fasa 4 Kawat
      Konstruksi sistem 3 fasa 4 kawat atau disebut pentanahan netral
      bersama dipergunakan di daerah Jawa Tengah.
      Saluran Tegangan Menengah mempunyai penghantar netral yang
      dijadikan satu dengan penghantar netral sisi jaringan tegangan
      rendah.
      Konstruksi Saluran Udara sedikit berbeda dengan konstruksi 3 fasa 3
      kawat (di daerah DKI Jaya, Jabar, Jatim & Luar Jawa).
5-5-14 Konstruksi-konstruksi Setempat
       Pada beberapa daerah (Sumsel, Lampung, dll) pemakaian model
       atau ∆, masih ada.
       Ketentuan pemakaiannya tergantung atas Standard setempat yang
       dipakai.
Jaringan Distribusi Tegangan Menengah   247


5-5-15 Konstruksi Jaringan Tiang SUTM




 Gambar 5-47. JTM 3 fasa 20
 kV Menggunakan tiang besi /
 beton Pin type insulator &
 kawat AAAC/AAAC-S per kms
 jarak gawang 50 meter (sistem
 3 kawat)
248




      Gambar 5-48. JTM 3 fasa 20 kV Menggunakan tiang
      besi / beton Pos type insulator & kawat AAAC/AAAC-S
      per kms jarak gawang 50 meter (sistem 3 kawat)
Jaringan Distribusi Tegangan Menengah                                                             249




                                               Ke                                               Ke
No              Nama Material           Sat.         No            Nama Material           Sat.
                                               but                                             But.
 1   Twisted kabel 20 kV                Km     1,1   11   Stopping buckle                   Bh 60
 2   Tiang besi/beton 11m 200&350 daN   Bt     16    12   Overhead cable junction set 20 kV Set 2
 3   Tiang besi/beton 11m 500 daN       Bt      5    13   Messenger compression joint       Bh 50
 4   Suspension assembly                Set    16    14   Span guy lengkap                  Set 1
 5   Small angle assembly               Set     1    15   Down guy lengkap                  Set 4
 6   Large angle assembly               Set     6    16   Pentanahan lengkap                Set 21
 7   Adjustable dead end assembly       Set     1    17   T. Box junction set 20 kV         bh 1
                                                          Cross arm UNP 100x50x6x2000
 8   Protective plastic tape            Mtr 20       18                                     Bh 2
                                                          mm & U bolt
     Plastic strap 20x300 & 20x1000 &       60,           Cross arm UNP 100x50x6x350
 9                                      Bh       19                                         Bh 6
     20x1500                                4, 2          mm D. Armb
10   Stainless steel strip              mtr 45 20         Plat U (Strap) 200x80x5x & bolt   bh 9

     Gambar 5-49. JTM 3 fasa 20 kV Menggunakan tiang besi / beton
     dengan kabel udara Twisted 20 kV per kms jarak gawang 50
     meter (sistem 3 & 4 kawat)
250




 Gambar 5-50. JTM 3 fasa 20 kV Menggunakan tiang besi / beton
 Pin type insulator & kawat AAAC / AAAC-S per kms jarak gawang
 50 meter (sistem 4 kawat)
Jaringan Distribusi Tegangan Menengah                                                                    251




                                                                                                Ke
                                                          No          Nama Material          Sat
                                                                                                but
                                                          7    Top Connector                 bh 18
                                                          8    Joint Sleeve                  bh 6
                                                               Cross arm UNP
                                                          9    100x50x6x2000 mm + U bolt Bh         17
                                                               Cross arm UNP 100x50x6x
                                                          10   2000 mm + d. arm bolt          Bh    6
                                                          11   Pelat baja penahan cross arm bh      23
                                                          12   Pentanahan lengkap             set   21
                                                          13   Preformed tie                  bh    61
                                                          14   Down guy lengkap               set   3
                                                          15   Span guy lengkap               set   1
                                                          16   Penghalang panjat & papan
                                                                                              bh    21
                                                               tanda kilat
                                                    Ke    17   Strip Stainless steel          mtr   3
No              Nama Material                 Sat
                                                    but   18   Stopping buckle                bh    6
1    Kawat AAAC / AAAC-S                      km    4,6   19   Tap connector bimetal Al Cu bh       8
2    Tiang beton 11m 350 daN                  Bt    18    20   Isolator tarik TR              bh    24
3    Tiang beton 11m 500 daN                  Bt     3    21   Dudukan Isolator tarik TR tipe
4    Lightning Arrester 24 kV 5 kA            bh     3            & bolt                      bh     5
     Suspension/Strain rod insul. 20kV                    22   Bolt U/.pemegang insulator     bh    18
5    lengkap                                  bh    18    23   Tention clamp                  bh    18
     Insultator 20 kV lengkap (ansi 56-3 tp               24   U-bolt anchor shockle & Clevis
6                                             bh    61         eye                            bh    18
     Pin

             Gambar 5-51. JTM 3 fasa 20 kV Menggunakan tiang
             besi / beton Pos type insulator & kawat AAAC/ AAAC-S
             per kms jarak gawang 50 meter (sistem 4 kawat)
252




                                                                                                Ke
                                                  No            Nama Material                Sat
                                                                                                but
                                                  7    Tap Connector                         bh 18
                                                  8    Joint Sleeve                          bh 6
                                                       Cross arm UNP 100x50x6x2000
                                                  9    mm + U bolt                           Bh 17
                                                       Cross arm UNP 100x50x6x 2000
                                                  10   mm + d. arm bolt                      Bh 6
                                                  11   Pelat baja penahan cross arm          bh    23
                         Detail 10d
                                                  12   Pentanahan lengkap                    set   21
                                                  13   Preformed tie                         bh    61
                                                  14   Down guy lengkap                      set   3
                                                  15   Span guy lengkap                      set   1
                                                  16   Penghalang panjat & papan tanda
                                                       kilat                                 bh 21
                                            Ke
No          Nama Material             Sat         17   Strip Stainless steel                 mtr   3
                                            but
1    Kawat AAAC / AAAC-S              km    4,6   18   Stopping buckle                       bh    6
2    Tiang beton 11m 350 daN          Bt    18    19   Tap connector bimetal Al Cu           bh    8
3    Tiang beton 11m 500 daN          Bt     3    20   Isolator tarik TR                     bh    24
4    Lightning Arrester 24 kV 5 kA    bh     3    21   Dudukan Isolator tarik TR tipe
     Suspension/Strain rod insul.                          & bolt                            bh     5
5    20kV lengkap                     bh    18    22   Bolt U/.pemegang insulator            bh    18
     Insultator 20 kV lengkap (ansi               23   Tention clamp                         bh    18
6    56-3 tp Post                     bh    61    24   U bolt, Anchor shockle & Clevis eye   bh    18

             Gambar 5-52. JTM 1 fasa 20 kV Menggunakan
             tiang besi/ beton Pin type insulator & kawat AAAC
             / AAAC-S per kms jarak gawang 50 meter
Jaringan Distribusi Tegangan Menengah                                                       253




                                                                                    Ke
                                            No          Nama Material           Sat
                                                                                    but
                                            4    Lightning Arrester 24 kV 5 kA   bh 1
                                                 Suspension/Strain rod insul.
                                            5    20kV lengkap                    bh    12
                                                 Insultator 20 kV lengkap (ansi
                                            6    56-3 tp Pin                     bh    40
                                            7    Tap Connector                   bh    12
                                            8    Joint Sleeve                    bh    4
                                                 Cross arm UNP 100x50x6x2000
                                            9    mm + U bolt                     Bh    17
                                                 Cross arm UNP 100x50x6x
 No      Nama Material        Sat   Kebut   10   2000 mm + d. arm bolt           Bh    6
 1 Kawat AAAC / AAAC-S        km     2,2    11   Pelat baja penahan cross arm    bh    23
 2 Tiang beton 11m 200 daN    Bt     18     12   Pentanahan lengkap              set   21
 3 Tiang beton 11m 350 daN    Bt      3     13   Preformed tie                   bh    40
                                            14   Down guy lengkap                set   3
                                            15   Span guy lengkap                set    1
                                                 Penghalang panjat & papan
  Gambar 5-53. JTM 1 fasa 20 kV             16   tanda kilat
                                                                                 bh    21
  Menggunakan tiang besi/beton              17   St rop Stainless steel          mtr   3
  Post type insulator & kawat               18   Stopping buckle                 bh    6
  AAAC / AAAC-S per kms jarak               19   Tention Clamp                   bh    8
                                                 U bolt, Anchor shockle & Clevis
  gawang 50 meter                           20   eye                             bh    24
254

5-5-16 Konstruksi Tiang SUTM
      Berikut ini adalah beberapa jenis konstruksi tiang SUTM sesuai
dengan kebutuhan lokasi di mana tiang tersebut akan dipasang, serta daftar
Material Distribusi Kecil (MDK) yang diperlukan.




                                           Kode pada Gambar Distribusi

                                         Keterangan gambar 6-54:
                                          1. Cross Arm 2000 (type tumpu)
                                          2. Arm Tie type 750 pipe φ ¾”
                                          3. Bolt & Nut M16x400 + Washer
                                          4. Bolt & Nut M16x50/M16x120+ Washer
                                          5. 20 kV Pin Post Insulator + Steel Pin
                                          6. Alluminium Binding Wire 3,2mm
                                          7. Alluminium tape 4,0mm
                                          8. Preformed Top Tie 240/150/70/35
    Gambar 5-54. Konstruksi tiang        Catatan:
               penyangga (TM-1)           No. 6, 7 digunakan tanpa 8
                                          No. 8 digunakan tanpa 6, 7


Konstruksi tiang penyangga Gambar 5-54, dipakai pada jaringan lurus
dan jaringan dengan sudut belok maksimum 15 derajat. Konfigurasi
tiang jenis TM-1 paling banyak digunakan dibandingkan konstruksi jenis
lain.




                                          Kode pada gambar distribusi

                                          Keterangan Gambar 5-55:
                                           1. Cross Arm 2000 (type tumpu)
                                           2. Arm Tie type 750 pipe φ ¾”
                                           3. Bolt & Nut M16x400 + Washer
                                           4. 20 kV Pin Post Insulator + Steel Pin
                                           5. Alluminium Binding Wire 3,2mm
                                           6. Alluminium tape 4,0mm
                                           7. Preformed Top Tie 240/150/70/35
 Gambar 5-55. Konstruksi tiang            Catatan:
                                           No. 5, 6 digunakan tanpa 7
            penyangga ganda (TM-2)
                                           No. 7 digunakan tanpa 5, 6


Material Distribusi Kecil (MDK) untuk tiang TM-1, seperti tertera pada
keterangan gambar 5-54. Konstruksi tiang penyangga ganda (TM-2)
untuk jaringan dengan sudut belok 15-30o. Material Distribusi Kecil
(MDK) seperti tertera pada keterangan gambar 5-55.
Jaringan Distribusi Tegangan Menengah                                                    255

Konstruksi tiang tarik akhir (TM-4), sebagai tiang akhir dari suatu
jaringan. Material Distribusi Kecil (MDK) seperti tertera pada keterangan
gambar 5-6.




                                        Keterangan Gambar 5-56:
                                         1. Strain Insulator 20kV
                                         2. Cross Arm 2000 (type tarik)
                                         3. Arm Tie type 750 pipe φ ¾”
   Kode pada Gambar Distribusi           4. Bolt & Nut M16 x 140 + Washer (Double Arm)
                                         5. Ball Devis + Socked Eye
                                         6. HV Band Strap
                                         7. Bolt & Nut M16 x 140 + Washer
   Gambar 5-56. Konstruksi
                                         8. Dead End Damp (StrainDamp)
   tiang tarik akhir (TM-4)              9. U Strap




          Gambar 5-57. Detail rangkaian isolator tarik/gantung
256




                                        Keterangan Gambar 5-58:
                                          1. 20kV Pin/pin Post Insulator + Steel Pin
                                          2. 20kV Strain Insulator
   Kode pada Gambar Distribusi            3. Cross Arm 2000 (type tarik)
                                          4. Arm Tie type 750 pipe φ ¾”
   Gambar 5-58. Konstruksi                5. Bolt & Nut M16 x 140 + Washer
    tiang penegang (TM-5)                 6. Susp. VEE/Croos Arm Devis/Band Strap
                                          7. Ball Devis & Socked Eye
 13. Preformed Top Tie 240/150/70/35      8. Dead and Damp/Preformed Term + Thimble
 14. Line Tap Connector                   9. Bolt & Nut M16x400 + Washer (double Arm)
 Keterangan :                            10. U Strap
 No. 11, 12 digunakan tanpa No. 13       11. Alluminium Binding Wire 3,2 mm
 No. 13 digunakan tanpa No. 11 & 12      12. Alluminium tape 4,0 mm




                                       Keterangan Gambar 5-59:
                                        1. Cross Arm 2000 (type tarik)
                                        2. Bolt & Nut M16 x 140 + Washer (Double Arm)
                                        3. Double Arm Band & Nut + Washer
                                        4. Arm Tie type 750 pipe φ ¾”
                                        5. Arm Tie Band + Bolt & Nut M.16 x 50
                                        6. Bolt & Nut M140 + Washer
                                        7. 20kV Strain Insulator
   Kode pada Gambar Distribusi
                                        8. Strain Clamp / Preformet Tem.
                                        9. Ball Clevis & Socked Eye
         Gambar 5-59.                  10. Cross Arm Clevis / HV Band Strap
Konstruksi tiang penegang              11. Terminal Lug Cu / Al
dengan Cut Out Switch pada             12. Cut Out Switch 22 kV-100 A + Bracket
tiang akhir lama (TM-4XC)              13. Fuse Link 100A
Jaringan Distribusi Tegangan Menengah                                                     257




                                                 Keterangan Gambar 5-60:
                                                  1. 20kV Pin/Pin Post Insulator + Steel Pin
     Kode pada Gambar Distribusi                  2. 20kV Strain Insulator
                                                  3. Cross Arm 2000 (type tarik)
             Gambar 5-60.                         4. Arm Tie type 750 (pipe φ ¾”)
  Konstruksi tiang tarik ganda (TM-5)             5. Bolt & Nut M16 x 140 + Washer
                                                  6. Susp. VEE/Croos Arm Clevis/Band Strap
                                                  7. Ball Clevis & Socked Eye
     12. Alluminium tape 4,0 mm
                                                  8. Dead and Clamp/Preformed Term +
     13. Preformed Top Tie 240/150/70/35
                                                     Thimble
     14. Line Tap Connector
    Catatan:                                      9. Bolt & Nut M16x400 + Washer(Double Arm)
      No. 11 & 12 Digunakan tanpa No.13          10. U Strap
      No. 13 Digunakan tanpa No.11, 12           11. Alluminium Binding Wire 3,2 mm

 Konstruksi tiang tarik ganda (TM-5) dipasang di setiap panjang jaringan
 lurus 500-700 meter. Material Distribusi Kecil (MDK) untuk SUTM ini
 seperti tertera pada keterangan gambar 5-10.




                                                           Kode pada Gambar Distribusi



                                                             Gambar 5-61.
  Keterangan Gambar 5-61:                             Konstruksi penegang dengan
   1. Cross Arm 2000 NP 10/Square pipe (tarik)          Cut Out Switch (TM5C)
   2. Double Bolt & Nut M16x400/500+ Washer
   3. Arm Tie type 750 (pipe φ ¾”)
   4. Arm Tie Band & Nut M16x50 + Washer
   5. Strain Damp/ Preformed Term + Thimble         9. U Strap
   6. Ball Devis & Socked Eye                      10. String / Tension Disc. Insulator 20kV
   7. Croos Arm Devis/ Susp. VEE/ Band Strap       11. Double Arm Band + Bolt & Nut + Washer
   8. Bolt & Nut M16 x 140 + Washer                12. Cut Out Switch 22 kV+Fuse Link 100 A
 258


Konstruksi penegang dengan Cut Out Switch (TM5C), maksudnya pada
konduktor penghubung antara dua strain dipasang cut out switch,
sehingga dapat digunakan sebagai pemisah rangkaian bila terjadi
gangguan atau untuk pemeliharaan.




                                                             Kode pada Gambar Distribusi


                                                         Gambar 5-62. Konstruksi
                                                           Percabangan tiang
                                                        penyangga dan tarik (TM8)

Keterangan Gambar 5-62:
 1. 20kV Pin/Pin Post Insulator + Steel Pin      10. Bolt & Nut M140 + Washer
 2. Cross Arm type-2000 (tumpu)                  11. Double Arm Band + Bolt & Nut + Washer
 3. Bolt & Nut M16x400/500 + Washer (Double Arm) 12. Cross Arm type 2000 (tarik)
 4. Arm Tie type 750 pipe φ ¾”                   13. Dead and Damp/Preformed Termination
  5. Arm Tie Band, Nut, Washer                   14. Alluminium Binding Wire 3,2mm
 6. U Strap                                      15. Alluminium tape 4,0mm
 7. Tension Disc./ String Insulator 20kV         16. Preformed Top Tie 240/150/70/35 Sqmm
 8. Ball Devis & Socked Eye                      17. Line Tap Connector
 9. Susp.VEE/Croos Arm Devis/Band Strap




                                                             Kode pada Gambar Distribusi

           Gambar 5-63. Konstruksi
               Tiang sudut (TM10)

Keterangan Gambar 5-63:
  1. 20kV Pin/Pin Post Insulator + Steel Pin   11. Double Arm Band + Bolt & Nut + Washer
  2. Tension Disc./ String Insulator 20kV      12. Dead end/Strain Damp/Preformed Term.
  3. Bolt & Nut M16x500 + Washer(Double Arm)   13. Alluminium Binding Wire 3,2mm
  4. Arm Tie type 750 pipe φ ¾”                14. Alluminium tape 4,0mm
 5. Arm Tie Band, Nut M16 + Washer             15. Preformed Top Tie 240/150/70/35 Sqmm
 6. U Strap                                    16. Line Tap Connector/HH connector
 7. Cross Arm type -2000 (tarik)
 8. Ball Devis & Socked Eye                    Catatan:
 9. Band Strap/Croos Arm Devis/Susp. VEE                No. 13, 14 Digunakan tanpa No.15
10. Bolt & Nut M16 x 140 + Washer                       No. 15 Digunakan tanpa No.13, 14
Jaringan Distribusi Tegangan Menengah                                               259

        Dengan konstruksi percabangan tiang penyangga dan tarik,
diperlukan dua buah cross arm, yaitu satu cross arm tumpu untuk
penghantar yang lurus, dan dua cross arm tarik untuk penghantar
cabang. Untuk konstruksi tiang sudut diperlukan dua set Cross arm tarik
dan kelengkapannya, serta dua atau tiga isolator Pin untuk penghantar
penghubung.
                                         Keterangan Gambar 5-64:
                                          1. Cross Arm 2000 (type tarik)
                                          2. Double Bolt & Nut M16x400/500+ Washer
                                          3. Double Arm Band + Nut & Washer
                                          4. Arm Tie type 750 pipe φ ¾”
                                          5. Arm Tie Band Bolt + Nut M16 + Washer
                                          6. Bolt & Nut M16 x 140 + Washer
                                          7. 20kV Strain Insulator
                                          8. Strain Damp
                                          9. Ball Devis & Socked Eye
                                          10. Croos Arm Devis
                                          11. U Strap
                                          12. Cut Out Switch 22 kV/100 A + Fuse 8A +
                                              Bracket
                                          13. 20kV Pin/Pin Post Insulator + Steel Pin
                                          14. Alluminium Binding Wire 3,2mm
                                          15. Alluminium tape 4,0mm
                                          16. Preformed Top Tie 240/150/70/35 Sqmm
                                          17. Terminal Lug 150-Cu/Al
        Kode pada Gambar Distribusi
                                         Catatan:
  Gambar 5-64. Konstruksi tiang sudut    No. 14, 15 Digunakan tanpa No.16
                                         No. 16 Digunakan tanpa No.14, 15
  dilengkapi Cut Out Switch (TM10C)



                                         Keterangan Gambar 5-65:
                                          1. Cross Arm 3000 (Square pipe/Np 10) type
                                             tarik
                                          2. Arm Tie type 750 pipe φ ¾”
                                          3. 20kV Pin/Pin Post Insulator + Steel Pin
                                          4. 20kV Tension Disc/Strain Insulator
                                          5. Double Arm Bolt & Nut M16x400+Washer
                                          6. Bolt & Nut M16 x 140 + Washer
                                          7. HV Band Strap/Susp.VEE/Croos Arm
                                             Devis
                                          8. Ball Devis & Socked Eye
                                          9. HV Dead end Damp/Preformed
                                             Termination
                                         10. Double Arm Band + Nut & Washer
                                         11. Arm Tie Band + Nut M16 & Washer
                                         12. Alluminium Binding Wire 3,2mm
                                         13. Alluminium tape 4,0mm
                                         14. Preformed Top Tie 240/150/70/35 Sqmm
      Kode pada Gambar Distribusi        15. Line Tap Connector

                                         Catatan:
    Gambar 5-65. Konstruksi              No. 12 & 13 Digunakan tanpa No.14
    portal dua tiang (TMTP2)             No. 14 Digunakan tanpa No.12, 13

       Konstruksi portal dua tiang diperuntukkan pada jaringan yang memer-
lukan gawang lebih jauh dari jarak maksimum yang diijinkan untuk jaringan
normal. Misalnya SUTM yang ditarik diatas sungai, terletak disampingnya
jembatan pada sungai yang lebar. Untuk konstruksi ini diperlukan cross arm
3000 type tarik, dan perlengkapan yang lain disesuaikan seperti tertera pada
keterangan gambar 5-15.
 260




                                                              Kode pada Gambar Distribusi



        Gambar 5-66 Konstruksi                     8. Ball Devis & Socked Eye
                                                   9. HV Dead end Damp/Preformed Termination
        portal tiga tiang (TMTP3)                  10. Double Arm Band + Nut & Washer
                                                   11. Arm Tie Band + Nut M16 & Washer
Keterangan Gambar 5-66:                            12. Alluminium Binding Wire 3,2mm
1. Cross Arm 6000 (Square pipe/Np 10) type tarik   13. Alluminium tape 4,0mm
2. Arm Tie type 900 pipe φ ¾”                      14. Preformed Top Tie 240/150/70/35 Sqmm
3. 20kV Pin/Pin Post Insulator + Steel Pin         15. Line Tap Connector 240/150/70/35 Sqmm
4. 20kV Tension Disc./ Strain Insulator
5. Double Arm Bolt & Nut M16x400 + Washer          Catatan:
6. Bolt & Nut M16x140 + Washer                     No. 12 & 13 Digunakan tanpa No.14
7. HV Band Strap/Susp.VEE/Croos Arm Devis          No. 14 Digunakan tanpa No.12, 13

Konstruksi portal tiga tiang diperuntukkan pada jaringan yang
memerlukan gawang lebih jauh dari konstruksi portal dua tiang. Untuk
konstruksi ini diperlukan cross arm 6000 type tarik, dan perlengkapan
yang lain disesuaikan seperti tertera pada keterangan gambar 5-66.




                                                          Kode pada Gambar Distribusi


                                                    8. HV Band Strap/Susp.VEE/Croos Arm Devis
   Gambar 5-67. Konstruksi sudut                    9. Ball Devis & Socked Eye
                                                   10. HV Dead end Damp/Preformed Term
    portal dua tiang (TMTP2A)                      11. Double Arm Band + Nut & Washer
                                                   12. Arm Tie Band + Nut & Washer
Keterangan Gambar 5-67:                            13. Alluminium Binding Wire 3,2mm
 1. Cross Arm 3000 (Square pipe/Np 10) type        14. Alluminium tape 4,0mm
    tarik                                          15. Preformed Top Tie 150/70/35 Sqmm
 2. Arm Tie type 900 pipe φ ¾”                     16. Line Tap Connector 240/150/70/35 Sqmm
 3. Arm Tie type 750 pipe φ ¾”                     17. Cross Arm 3000 (Square pipe/Np 10) type
 4. 20kV Pin/Pin Post Insulator + Steel Pin            tarik
 5. 20kV Tension Disc/Strain Insulator
                                                   Catatan:
 6. Double Arm Bolt & Nut M16x400/500 +
                                                   No. 13 & 14 Digunakan tanpa No.15
    Washer
                                                   No. 15 Digunakan tanpa No.13 &14
 7. Bolt & Nut M16 x 140 + Washer
Jaringan Distribusi Tegangan Menengah                                                       261




     Gambar 5-68. Konstruksi sudut
       portal tiga tiang (TMTP3A)
Keterangan Gambar 5-68:
 1. Cross Arm 6000 (Square pipe/Np10) type tarik
 2. Arm Tie type 900 pipe φ ¾”
 3. 20kV Pin/Pin Post Insulator + Steel Pin            Kode pada Gambar Distribusi
 4. 20kV Tension Disc/Strain Insulator
 5. Double Arm Bolt & Nut M16x400/500+Washer       14. Preformed Top Tie 240/150/70/35 Sqmm
 6. Bolt & Nut M16 x 140 + Washer                  15. Line Tap Connector 240/150/70/35 Sqmm
 7. HV Band Strap/Susp.VEE/Croos Arm Devis         16. Arm Tie type 750 pipe φ ¾”
 8. Ball Devis & Socked Eye                        17. Cross Arm 2000 (Square pipe/Np10) type
 9. HV Dead end Damp/Preformed Termination 2       tarik
10. Double Arm Band + Nut & Washer
11. Arm Tie Band + Nut M16 & Washer
                                                   Catatan:
                                                   No. 12 & 13 Digunakan tanpa No.14
12. Alluminium Binding Wire 3,2mm
                                                   No. 14 Digunakan tanpa No.12, 13
13. Alluminium tape 4,0mm
Konstruksi sudut portal tiga tiang (TMTP3A) secara teknik hampir sama
dengan konstruksi sudut portal dua tiang, yaitu merupakan kombinasi
antara konstruksi portal dengan tarikan tiang akhir jaringan. Untuk tarikan
tiang akhir bisa dari arah samping (konstruksi sudut) atau lurus dengan
tarikan portal. Dalam hal ini tinggal melengkapi dengan guy wire atau strut
pole.




                                                            Kode pada Gambar Distribusi




  Gambar 5-69. Konstruksi tiang akhir
  dengan pemasangan kabel tanah (TM11)
262


Keterangan Gambar 5-69:
1. Strain / Tension Disc Insulator 20kV           10. Dead end/Strain Damp/Preformed
2. Cross Arm 2000 (Square pipe/Np10) type tarik       Termination + Thible
3. Double Arm Band + Nut M16x400 + Washer         11. Bolt & Nut M16 x 140 + Washer
4. Arm Tie type 750 pipe φ ¾”                     12. Lightning Arrester 20kV
5. Arm Tie Band + Nut M16 & Washer                13. Mounting Breaket for Arrester
6. Double Arm Bolt + Nut & Washer                 14. Cable band + Nut & Waster
7. U Strap                                        15. Copper Tube / Cable Schoen
8. HV Band Strap/Croos Arm Devis /Susp.VEE        16. PDC. 8 mm/ MV Insulated Conductor (Cu)
9. Ball Devis & Socked Eye                        17. Jumper wire 80 mm / MV Conductor



Konstruksi tiang akhir dengan pemasangan kabel tanah (TM11),
diperlukan pada jaringan yang akan dihubungkan dengan gardu beton
atau gardu besi, dan pada jaringan yang akan melintas di bawah
jaringan tegangan tinggi. Model yang ke dua ini dimaksudkan untuk
menghindari terjadinya interferensi magnetik dengan saluran diatasnya.


                                                    Keterangan Gambar 5-70:
                                                     1. Guy Wire Band + Bolt & Nut M16 x 50
                                                     2. Turn Buckle
                                                     3. Preformet Grip 22/35/55/70 Sqmm
                                                     4. Guy Insulator
                                                     5. Galv. Steel Stranded Wire 22/35/55/70
                                                     6. Wire Dip
                                                     7. Pipa pelindung ¾” – 2mtr
                                                     8. Guy Rod 2,5 Mtr
                                                     9. Guy Rod 1,8 Mtr
                                                    10. U Bolt & Nut M 16
                                                    11. Anchor Block 500 x 500 mm
                                                    12. Expanding Anchor
                              o     o               13. Span Schroef 5/8”
                           45 -60

                                                     Keterangan
                                                       Type       Galv. Steel
                                                      Tiang    Stranded Wire (X)
                                                      11 Mtr        13 Mtr
                                                       9 Mtr        11 Mtr
                                                       7 Mtr         9 Mtr
            Gambar 5-70.
      Konstruksi Guy Wire (GW)

        Guy Wire diperlukan untuk konstruksi tiang akhir, dan lokasi
(lahan) penempatan guy wire itu ada (tidak bermasalah). Jika tidak
dimungkinkan ada-nya lahan, maka dapat di-pasang guy wire dengan
stut di tengah tiang, jadi jarak antara tiang dengan beton blok lebih
pendek. Yang perlu diperhatikan dalam pemasangan guy wire adalah
besar sudut kemiringannya harus sesuai dengan peraturan yang berlaku.
Karena secara teknik hal ini menyangkut posisi tiang, dimana tiang harus
bisa berdiri tegak. Jika sudut lebih kecil, maka tiang akan melengkung
dan bisa patah.
Jaringan Distribusi Tegangan Menengah                                                       263


                                                No.               Nama Material
                                                 1.   Strut Arm Band + Bolt & Nut M 16x50
                                                 2.   Strut Arm
                                                 3.   Pipa Galvaniz φ 2” – 1,5 Mtr
                                                 4.   Single GW Band + Bolt & Nut M 16x75
                                                 5.   Bolt & Nut M 16 x 75

                                                  TIANG     HANTARAN AAAC 3X(SQM)
                                                  UTAMA      35    70    150   240
                                                  11-350    9-200 9-200 9-200 11.200
                                                  11-200    9-200 9-200 11.200
                                                   9-200    7-100 9-100

                                                      Type
                                                                Satuan dalam meter
                                                No.   Tiang
                                                         Strut A B C        D    E
                                                   Utama Pole
                                                 1   11   11   8,4 10 5,42 1,83 1
                                                 2    11     9   7,7 8,4 3,3 1,83 0,6
   Gambar 5-71. Strut Pole (SP)                  3     9     9   6,75 8    4,2   1,5   1
                                                 4     7     7   5,3 6,5 3,7 1,16 0,5

        Konstruksi Strut pole dipasang, jika pada lokasi tersebut tidak
bisa dipasang guy wire. Letak strut pole berlawanan dengan guy wire,
maksudnya posisi strut pole berada di bawah tarikan penghantar, sedang
guy wire di luar penghantar(arah berlawanan).
        Harga strut pole jauh lebih mahal daripada harga guy wire.
Pemasangan strut pole tidak hanya di ujung, tetapi bisa di percabangan
di tengah saluran, atau pada lokasi yang membutuhkan kekuatan
mekanis cukup tinggi dan sangat strategis.
        Pemasangan Horizontal Guy Wire diperlukan jika pada lokasi
tersebut tidak bisa di pasang guy wire, misalnya terhalang sungai atau
jalan raya.
                                                Keterangan Gambar 5-20:
                                                 1. Guy Wire Band + Bolt & Nut M16 x 50
                                                 2. Turn Buckle
                                                 3. Preformet Grip 22/35/55/70 Sqmm
                                                 4. Guy Insulator
                                                 5. Galv. Steel Stranded Wire 22/35/55/70
                                                 6. Wire Dip
                                                 7. Pipa pelindung ¾” – 2mtr
                                                 8. Guy Rod 2,5 Mtr
                                                 9. U Bolt & Nut M 16
                                                10. Anchor Block 500 x 500 mm
                                                11. Expanding Anchor
                                                12. Span Schroef 5/8”
                                                13. Guy Rod 1,8 Mtr

                                                Keterangan:
                                                Type tiang Galv. Steel Stranded Wire (X)
                                                TM-9 Mtr                30 Mtr
                                                TR-9/7 Mtr              28 Mtr
        Gambar 5-72.
  Horizontal Guy Wire (HGW)             No. 11 dipasang sebagai pengganti No. 8, 9,10,13
264

5-6 Konstruksi Palang Sangga (Cross Arm, Travers)
        Berkaitan dengan arah tarikan kawat yang harus mengikuti arah jalan
(raya), apakah lajur lurus atau berbelok dalam beberapa derajat, maka
diperlukan palang sangga sesuai dengan kebutuhan perlengkapan dalam
pemasangan Saluran Udara Tegangan Menengah. Berikut ini adalah
beberapa model/bentuk palang sangga pada jaring SUTM.




          TAMPAK DEPAN




                                            TAMPAK ATAS




         POTONGAN A - A



 No. Kode      Jml                          Jenis Material
  1    tb        1 bt    Tiang beton bulat
  2   a-1       2 bh     Cross Arm UNP 10 100.50.5 x 2000 mm
  3     c       4 bh     Klem beugel type II 50x6 mm
  4     j       2 bh     Double arming boll 5/8” x 300 mm
  5   bkp       2 bh     Arm tie broce 50.50 x 1270 mm
  6   stp       4 bh     Steel plat type I
  7   e-1      12 bh     Mur baut spring washer 5/8” x 148 mm
  8    e        4 bh     Mur baut spring washer 5/8” x 70 mm
  9   stp       4 bh     Steel plat type II
 10    g        6 set    Isolator tumpu type post
 11    h        6 bh     Double side ties


                           Gambar 5-73.
      Pemasangan Cross Arm double Tumpu pada Tiang Beton Bulat
Jaringan Distribusi Tegangan Menengah                                 265




                 TAMPAK DEPAN




                                                    TAMPAK ATAS




                POTONGAN A-A


     No.    Kode      Jml                    Jenis Material
      1       tb       1 bt    Tiang beton type H
      2      a-1      2 bh     Cross Arm UNP 10 100.50.5 x 2000 mm
      3        c      2 bh     Klem beugel type II tiang H
      4      stp      4 bh     Double arming boll 5/8” x 300 mm
      5      bkp      2 bh     Arm tie broce 50.50 x 1270 mm
      6       e       4 bh     Mur baut spring washer 5/8” x 70 mm
      7      e-1     12 bh     Mur baut spring washer 5/8” x 148 mm
      8      stp      4 bh     Steel plat type II
      9       g       6 set    Isolator tumpu type post
     10       h       6 bh     Prilarm double side ties
     11      e-1      1 bh     Klem beugel type I tiang H

                           Gambar 5-74
        Pemasangan Cross Arm double Tumpu pada Tiang Beton H
266




                           TAMPAK ATAS




  No. Kode   Jml                      Jenis Material
   1    tb     1 bt   Tiang beton bulat
   2   a-1    2 bh    Cross Arm UNP 10 100.50.5 x 2000 mm
   3     c    4 bh    Klem beugel type II 50x6 mm
   4     j    2 bh    Double arming boll 5/8” x 300 mm
   5   bkp    2 bh    Arm tie broce 50.50 x 1270 mm
   6   stp    4 bh    Steel plat type I
   7   e-1   12 bh    Mur baut spring washer 5/8” x 148 mm
   8     e    4 bh    Mur baut spring washer 5/8” x 70 mm
   9   stp    4 bh    Steel plat type II
  10     g    6 set   Isolator tumpu type post
  11     h    6 bh    Double side ties

        Gambar 5-75. Pemasangan Cross Arm Tention
          Support 2000 mm pada Tiang Beton Bulat
Jaringan Distribusi Tegangan Menengah                                   267




                      TAMPAK ATAS




     No.    Kode        Jml                    Jenis Material
      1       tb         1 bt   Tiang beton bulat
      2      a-1        2 bh    Cross Arm UNP 10 100.50.5 x 2000 mm
      3      bkp        2 bh    Arm tie broce 50.50 x 1270 mm
      4        c        4 bh    Klem beugel type II tiang beton bulat
      5        j        2 bh    Double arming boll 5/8” x 300 mm
      6      c-1        4 bh    Klem beugel type II tiang beton bulat
      7      e-1       10 bh    Mur baut dan ring 5/8” x 148 mm
      8        k        4 bh    Steel plat type I
      9        l        4 bh    Steel plat type II
     10       g         1 bh    Isolator tumpu type post
     11       ml        6 set   Isolator penegang/afspan long rod
     12      prt        1 bh    Prilarm lop ties
     13     pil/tjn     6 bh    Paralel groove/non tension joint

               Gambar 5-76. Pemasangan Cross Arm Tention
                  Support 2000 mm pada Tiang Beton H
268




                 TAMPAK ATAS




   1     tb        2 bt   Tiang beton bulat
   2    a-2        2 bh   Cross Arm UNP 10 100.50.5 x 2200 mm
   3    c-1        4 bh   Klem beugel type II tiang beton bulat
   4      j        4 bh   Double arming boll 5/8” x 300 mm
   5    stp        6 bh   Steel plat type II Mur baut spring washer 5/8”
   6    e-1        6 bh   x 148 mm
   7      g       3 set   Isolator tumpu type post
   8      h       3 bh    Prilarm lop ties
   9    ml        6 set   Isolator tarik
  10   pil/tjn     6 bh   Paralel groove/non tension joint


           Gambar 5-77. Pemasangan Cross Arm Tention
        Support 2200 mm Double Pole pada Tiang Beton Bulat
Jaringan Distribusi Tegangan Menengah                               269




                   TAMPAK ATAS




                                                   POTONGAN A-A




             TAMPAK DEPAN


     No. Kode       Jml                       Jenis Material
      1    tb        2 bt    Tiang beton H
      2   a-2        2 bh    Cross Arm UNP 10 100.50.5 x 2200 mm
      3   stp        6 bh    Steel plat type II
      4     c        4 bh    Klem beugel type II tiang beton H
      5     e        8 bh    Mur baut dan ring 5/8” x 70 mm
      6   e-1        6 bh    Mur baut spring washer 5/8” x 148 mm
      7     g       3 set    Isolator tumpu type post
      8     h        3 bh    Prilarm lop ties
      9   ml        6 set    Isolator tarik
     10 pil/tjn      6 bh    Paralel groove/non tension joint

                Gambar 5-78. Pemasangan Cross Arm Tention
              Support 2200 mm Double Pole pada Tiang Beton H
270




               TAMPAK ATAS




                                               POTONGAN A-A




          TAMPAK DEPAN

  No. Kode       Jml                      Jenis Material
   1    tb       2 bt    Tiang beton H
   2   a-2       4 bh    Cross Arm UNP 10 100.50.5 x 2200 mm
   3   c-1       4 bh    Klem beugel type II
   4     j       8 bh    Double arming boll 5/8” x 300 mm
   5   stp      12 bh    Steel plat type II
   6   e-1      12 bh    Mur baut spring washer 5/8” x 148 mm
   7    g        6 set   Isolator tumpu type post
   8    h        6 bh    Prilarm lop ties
   9   ml       12 set   Isolator tarik
  10 pil/tjn    12 bh    Paralel groove

                Gambar 5-79. Pemasangan 2 X Tention
                 Support 2200 mm Diatas Dua Tiang
Jaringan Distribusi Tegangan Menengah                                   271




                   TAMPAK ATAS




                                                    POTONGAN A - A



           TAMPAK DEPAN


   No.   Kode          Jml                      Jenis Material
    1      tb          2 bt      Tiang beton type H
    2     a-2           4 bh     Cross Arm UNP 10 100.50.5 x 2200 mm
    3       c           8 bh     Klem beugel type I tiang H
    4      e           16 bh     Mur baut dan ring 5/8” x 70 mm
    5     stp          12 bh     Steel plat type II
    6     e-1          12 bh     Mur baut spring washer 5/8” x 148 mm
    7      g            6 set    Isolator tumpu type post
    8      h            6 bh     Prilarm lop ties
    9     ml           12 set    Isolator tarik
   10    pil/tjn       12 bh     Paralel groove

                     Gambar 5-80. Pemasangan 2 X Tention
                   Support 2200 mm Diatas Dua Tiang Beton H
272




              TAMPAK ATAS




                                    TAMPAK DEPAN


 No. Kode        Jml                        Jenis Material
  1    tb           1 bt    Tiang beton bulat
  2   a-1         4 bh      Cross Arm UNP 10 100.50.5 x 2.000 mm
  3     j         4 bh      Double arming boll 5/8” x 300 mm
  4   c-1         4 bh      Klem beugel type II 50 x 6 mm
  5   stp         4 bh      Steel plat type I
  6   stp         8 bh      Steel plat type II
  7   e-1        16 set     Mur baut spring washer 5/8” x 148 mm
  8   bkp         4 bh      Arm tie broce 50.50 x 1270 mm
  9     g         1 set     Isolator tumpu type post
 10     h         1 bh      Side ties
 11   ml          5 set     Isolator tarik
 12 pil/tjn        8 bh     Paralel groove
           Gambar 5-81. Pemasangan 2 X ½ Tention
       Support 2000 mm pada Tiang Beton Bulat sudut ± 90o
Jaringan Distribusi Tegangan Menengah                                273




                 TAMPAK ATAS




                                          TAMPAK DEPAN


    No.    Kode       Jml                          Jenis Material
     1       tb        1 bt   Tiang beton H
     2      a-1      4 bh     Cross Arm UNP 10 100.50.5 x 2.000 mm
     3       e       8 bh     Mur baut spring washer 5/8” x 70 mm
     4        c      4 bh     Klem beugel type I tiang H
     5      stp      4 bh     Steel plat type I
     6      stp      8 bh     Steel plat type II
     7      e-1      16 bh    Mur baut spring washer 5/8” x 148 mm
     8      bkp      4 bh     Arm tie broce 50.50 x 1270 mm
     9       g        1 set   Isolator tumpu type post
    10       h       1 bh     Side ties
    11       ml       5 set   Isolator tarik
    12     pil/tjn   8 bh     Paralel groove
    13      c-1      2 bh     Klem beugel type II tiang H

                  Gambar 5-82. Pemasangan 2 X ½ Tention
               Support 2000 mm pada Tiang Beton H sudut ± 90o
274




            TAMPAK ATAS




                                            TAMPAK DEPAN

      No. Kode      Jml                   Jenis Material
       1    tb      1 bt    Tiang beton H
       2   a-1      2 bh    Cross Arm UNP 10 100.50.5 x 2.000 mm
       3     a      1 bh    Cross Arm UNP 10 100.50.5 x 1.800 mm
       4     c      2 bh    Klem beugel type II untuk tiang beton
       5   c-1      1 bh    Klem beugel type I untuk tiang beton
       6   stp      6 bh    Steel plat type I
       7     e     10 bh    Mur baut dan ring 5/8” x 70 mm
       8   bkp      4 bh    Arm tie brace 50.50 x 1270 mm
       9   e-1     12 bh    Mur baut dan ring 5/8” x 148 mm
      10   stp      4 bh    Steel plat type II
      11     g      5 set   Isolator tumpu type post
      12   ml       6 set   Isolator penegang/afspan long rod
      13    pll    16 bh    Paralel groove
      14     h      3 bh    Performed top ties
      15   h-1      2 bh    Performed side ties

                  Gambar 5-83. Pemasangan Cross Arm
                    2 x T- Off pada Tiang Beton bulat
Jaringan Distribusi Tegangan Menengah                                        275

5-7 Telekomunikasi untuk Industri Tenaga Listrik
5-7-1 Kelasifikasi
       Yang termasuk dalam telekomunikasi untuk industri tenaga listrik
adalah semua fasilitas telekomunikasi yang diperlukan dalam pengelolaan
perusahaan tenaga listrik, diantaranya yang menyangkut penyediaan dan
kebutuhan,    operasi,    pengamanan     dan    pemeliharaan.    Jaringan
telekomunikasi ini merupakan sistem syaraf dalam pengelolaan perusahaan.
Makin maju perusahaannya makin penting adanya fasilitas yang dapat
diandalkan dan komunikasi yang cepat.
       Sistem telekomunikasi ini dapat dibagi menjadi komunikasi untuk
pembagian beban (load-dispatching), untuk pemeliharaan dan untuk
keperluan-keperluan administratip.
5-7-1-1 Komunikasi untuk Pembagian Beban
        Komunikasi      untuk    pembagian     beban   digunakan    untuk
memungkinkan pembagian beban secara cepat dan tidak terganggu. Oleh
karena pentingnya telekomunikasi untuk tugas ini, maka sistemnya tidak
boleh digunakan bersama dengan keperluan lain. Malahan, perlu diadakan
pula sistem cadangan.
        Dalam keadaan gangguan pada sistem tenaga, bencana alam atau
bencana-bencana lainnya, sistem telekomunikasi harus tetap dapat bekerja
dengan sempurna.
        Fasilitas telekomunikasi yang sesuai untuk pembagian beban adalah
komunikasi radio, telekomunikasi lewat pembawa PLC, dsb.
5-7-1-2 Komunikasi untuk Pemeliharaan
         Komunikasi untuk pemeliharaan dimaksudkan guna komunikasi
antara pusat listrik (piket distribusi), gardu distribusi, saluran distribusi, dan
lain-lain. Untuk itu biasanya digunakan telekomunikasi dengan kawat bagi
sistem tenaga yang kecil serta telekomunikasi dengan radio atau dengan
pembawa saluran tenaga (PLC) bagi sistem tenaga yang besar. Komunikasi
radio mobil sangat berguna dalam pemeliharaan saluran distribusi.
5-7-1-3 Komunikasi untuk Keperluan Administratip
        Komunikasi untuk keperluan administratip digunakan dalam
perhubungan antara kantor pusat, kantor daerah dan kantor cabang. Sering
kali saluran komunikasi untuk pemeliharaan digunakan juga untuk keperluan
administratip. Kadang-kadang yang dipakai untuk keperluan terakhir ini
adalah saluran komunikasi cadangan guna tugas-tugas tersebut terdahulu.

5-7-1-4 Jenis Fasilitas
         Jenis-jenis fasilitas telekomunikasi untuk industri tenaga listrik dapat
dilihat pada diagram Tabel 5-3, halaman 273.
276




      Tabel 5-3 lihat lampiran
      khusus tabel landscape
          di halaman 275
Jaringan Distribusi Tegangan Menengah                                       277

5-7-2 Komunikasi dengan Kawat
5-7-2-1 Saluran Telekomunikasi
         Komunikasi dengan menggunakan kawat tidak sesuai untuk
pemakaian pada rangkaian yang penting atau yang jaraknya jauh, karena
pengaruh yang besar dari angin ribut, taufan, banjir, interferensi dari saluran
tenaga, dsb. terhadap kawat komunikasi ini. Meskipun demikian, komunikasi
jenis ini masih dipakai pada jarak pendek karena pertimbangan ekonomis.
         Komunikasi dengan kabel dipakai karena stabilitasnya lebih terjamin
dibandingkan dengan komunikasi lewat saluran udara. Kerugiannya adalah
bahwa komunikasi dengan kabel lebih mahal dan lebih menyulitkan apabila
terjadi kerusakan.
         Saluran udara dapat dipasang pada tiang-tiang yang khusus
diperuntukkan baginya dan dapat pula dipasang pada tiang-tiang yang juga
dipakai untuk keperluan lain, misalnya tiang distribusi. Yang terakhir ini tentu
saja lebih murah.
         Saluran telpon yang dipasang pada tiang saluran tenaga biasanya
kabel, karena karakteristik listriknya lebih baik, lagi pula lebih kuat.
Beberapa keterangan mengenai kabel telekomunikasi tertera pada Tabel
5-4.
5-7-2-2. Sistem Transmisi
       Komunikasi dengan kawat terdiri dari dua sistem, yakni sistem
transmisi suara dan sistem transmisi pembawa. Yang pertama menyalurkan
arus untuk komunikasi sesuai dengan frekuensi suara, sedang yang kedua
menyalurkannya sesudah merubah frekuensi suara menjadi frekuensi
gelombang-pembawa. Biasanya daerah frekuensi untuk komunikasi
pembawa adalah 3 - 60 kHz dengan jumlah saluran bicara 1-3.
       Untuk komunikasi pembawa dapat dipakai saluran udara maupun
kabel. Namun dalam industri tenaga listrik komunikasi dengan pembawa
PLC dan komunikasi radio lebih digemari.
5-7-3 Komunikasi dengan Pembawa Saluran Tenaga
        Telekomunikasi dengan pembawa saluran tenaga (power line carrier,
disingkat PLC) adalah komunikasi dimana arus pembawa (carrier current)
ditumpukkan (superposed) pada saluran transmisi tenaga, sehingga saluran
tenaga ini menjadi rangkaian transmisi frekuensi tinggi. Jangkau
frekuensinya berbeda untuk setiap negara, namun kebesarannya kira-kira
berkisar antara beberapa puluh sampai 500 kHz.
        Untuk memungkinkan komunikasi dengan cara ini secara effisien,
yaitu dimana karakteristik penyaluran isyarat lewat pembawa digabungkan
dengan karakteristik penyaluran tenaga pada tegangan tinggi, diperlukan
peralatan pengait (line coupling equipment).
 278

5-7-3-1 Peralatan Pengait
       Sistem pengaitan (coupling system) diklasifikasikan menurut
pengaitan induktip dan pengaitan kapasitip. Karena jebakan saluran (line
trap) merupakan impedansi tinggi terhadap frekuensi pembawa, maka
jebakan ini diserikan dengan saluran transmisi tenaga guna memperbaiki
karakteristik penyaluran gelombang-gelombang pembawa.
       Pengaitan induktip lewat udara menggunakan penghantar yang
dipasang sejajar dan dengan jarak tertentu dari saluran transmisi; sistem ini
dipakai untuk mengaitkan peralatan PLC dengan saluran transmisi pada
frekuensi tinggi. Sistem ini sekarang jarang digunakan.
       Tabel 5-4. Karakteristik dan Struktur Kabel Telekomunikasi
(a) Karakteristik Listrik
 Hal                                   Karakteristik
 Tahanan Isolasi                       Di atas 10.000 MΩ/km
 Tahanan Penghantar                    Di bawah 20,7 Ω/km (Templeratur 20OC
                 Antara Penghantar     AC 3.000 V untuk 1 menit
 Tegangan        Dalam dan Luar
 Ketahanan
 (Withstand)     Antara Penghantar     AC 6.000 V untuk 1 menit
                 Luar dan Kulit Luar
 Impedansi Karakteristik               Antara '75 (+ 5 dan/atau -1) Ω
 Attenuasi                             Di bawah 3,7 dB/km
 Tahanan Penghantar                    Di bawah 29,0 Ω/km
 Tahanan Isolasi                       Di atas 10.000 MΩ/km
 Kapasitansi Elektrostatik             Di bawah 50 mµF/km
                 Antara Penghantar     AC 2.000 V untuk I menit
                 Antara Penghantar
                 dan Tanah             AC 4.000 V untuk I menit
                 (tanpa Perisaian)

 Tegangan        Antara Penghantar     AC 2.000 V untuk I menit
 Ketahanan       dan Perisai
 (Withstand)
                 Antara Perisai dan    AC 4.000 V untuk 1 menit
                 Tanah

                 Antara Kawat          AC 1.000 V untuk I menit
                 Penolong dan Tanah

 Impedansi            1 KHz            450 (Standar)
 Karakteristik       10 KHz            150 (Standar)
 (Ω)                 30 KHz            130 (Standar)

                      1 K.Hz           0,75 (Standar)
 Attenuasi           10 KHz            1,7 (Standar)
 (dB/km)             30 KHz            2,2 (Standar)
Jaringan Distribusi Tegangan Menengah                                     279

(b) Struktur Kabel P VC

 Jumlah Diameter Luar Tebal Isolasi Tebal Vinyl Diameter Berat
Pasangan dari Penghantar Polyethylene Sheath      Luar Kira-kira
               (mm)          (mm)      (mm)       (mm)   kg/km
    5           0,9           0,5       2,0        14       240
   10           0,9           0,5       2,0        18       335
   15           0,9           0,5       2,0        20       455
   20           0,9           0,5       2,1        23       570
   30           0,9           0,5       2,3        27       820
   50           0,9           0,5       2,5        34     1.220

(c) Struktur Kabel Koaksial Frekuensi Tinggi untuk Pembawa (PLC)

                 Hal                                    Standar
 Penghantar Dalam           Material        Soft copper berlilit
                            Diameter Luar   Kira-kira 1,2 mm (7/0,4 mm)
                            Material        Polyethylene (filled type)
 Isolasi                    Tebal           Kira-kira 3 mm
                            Diameter Luar   Standar 7,3 mm
 Penghantar Luar            Material        Soft copper wire braid
                            Tebal Standar   2,5 mm
 Sarung Vinyl (sheath)                      Standar 13.2 mm
                            Diameter Luar
                                            Maksimum 14 mm
 Berat                                      Kira-kira 220 kg/km




      Gambar 5-84. Peralatan Pengait untuk komunikasi Pembawa (PLC)
 280

        Ada dua jenis pengaitan dengan kapasitor. Yang pertama adalah
sistem pengaitan dengan kapasitor jenis penala (tuning type), dimana
rangkaian penala (termasuk kapasitor pengait) dikaitkan secara seri dengan
saluran transmisi. Macam yang kedua adalah sistem pengaitan dengan
kapasitor jenis penyaring (filter), dimana pengaitan peralatan PLC dengan
saluran dilakukan melalui penyaring pengait dan kapasitor pengait Sistem
kedua ini sekarang banyak dipakai, lihat gambar 5-87.
        Kapasitor pengait memisahkan saluran transmisi dari peralatan PLC
dan bersama penyaring pengait merupakan jaringan empat-kutub yang
meneruskan frekuensi tinggi. Yang dipakai biasanya adalah kapasitor kertas
terisi minyak seperti terlihat pada Gambar -88, dengan kapasitansi
elektrostatis 0,001 - 0,002 µF.
        Sebagai penyaring dipakai "band-pass filter". Rangkaiannya dari
jenis trafo seperti terlihat pada Gambar 5-87(b). Ruginya dalam daerah
frekuensi yang diteruskan (passing band) 1 - 1,5 dB ke bawah.
        Jebakan saluran terdiri dari kumparan utama yang meneruskan
frekuensi niaga, alat penala yang memberikan impeclansi frekuensi tinggi
yang dikehendaki serta arester yang melindungi peralatan. Contoh
                                         rangkaiannya dapat dilihat pada
                                         Gambar 5-87 dan Gambar 5-88.
                                         Induktansi kumparan utamanya
                                         kira-kira 0, 1 -1 mH, sedang
                                         impedansi     frekuensi  tingginya
                                         mempunyai tahanan effektif kira-kira
                                         400 – 600 Ω .
                                        5-7-3-2 Rangkaian Transmisi
                                                 Ada 4 sistem rangkaian
                                        transmisi PLC, yaitu seperti tertera
                                        pada Gambar 5-86. Untuk ke-empat
                                        sistem ini karakteristik transmisinya
                                        berbeda. Impedansi frekuensi tinggi
                                        dari saluran transmisi berubah
                                        menurut komposisi rangkaian dan
                                        konstruksi    salurannya.     Namun
                                        harga-harga berikut ini dapat
                                        dipakai sebagai patokan:
                                        Untuk pengaitan
                                           fasa-tanah Z = 400 Ω
                                           antar-fasa   Z = 600 Ω
 Gambar 5-85. Peralatan Pengait
 (Coupling Equipment) dalam Gardu.      Attenuasi frekuensi tinggi dari
 A: Jebakan Saluran (Line Trap) B:      saluran transmisi L. dinyatakan oleh
 Kapasitor Pengait (Coupling            rumus beri kut :
 Capacitor) C: Penyaring Pengait
 (Coupling Filter)
Jaringan Distribusi Tegangan Menengah                                     281


            LO = α lL + 2Lc + La (dB)

dimana: αo = konstanta attenuasi untuk pengaitan antar-fasa (dB/km);
              berubah menurut konstruksi saluran transmisi; contoh untuk
              saluran yang umum tertera pada Gambar 6-90.
         IL = panjang saluran transmisi (km)
        LC = atenuasi peralatan pengait per gardu (dB); biasanya diambil
              2,5 dB (t4rmasuk rugi dijebakan saluran)




       (b) Pengaitan Dua-Fasa-Ke-Tanah    (d) Pengaitan Antar-Rangkaian

               Gambar 5-86. Sistem Rangkaian Transmisi
                            dengan Pembawa (PLC)

           Keterangan:
                LT ... Jebakan Saluran (Line Trap)
                CC ... Kapasitor Pengait Coupling Capacitor)
                TR ... Peralatan Pembawa (PLC)
          La = rugi tambahan dalam hal pengaitan fasa-tanah biasanya
               diambil 5 dB.
5-7-3-2 Peralatan PLC
        Peralatan PLC yang dipakai biasanya adalah jenis satu-saluran
     dan jenis tiga saluran (3-channel). Contoh spesifikasinya dapat dilihat
     pada Tabel 5-5.
282




      Tabel 5-5 ada di lampiran
      (khusus tabel landscape)
           di halaman 281
Jaringan Distribusi Tegangan Menengah                 283




                           Tabel 5-6 lihat lampiran
                           khusus tabel landscape
                               di halaman 282
284

5-7-4 Komunikasi Radio
           Telekomunikasi dengan pesawat radio banyak juga dipakai dalam
      industri tenaga listrik seperti terlihat pada Tabel 6-5. Penggunaannya
      kelihatannya tetap akan memegang peranan penting, terutama karena
      keunggulannya dalam keadaan bencana alam (angin topan, banjir)
      dibandingkan dengan komunikasi melalui kawat. Specifikasinya
      berubah dengan frekuensi kerja yang digunakan, yaitu frekuensi tinggi
      sekali (VHF) ke atas. Contoh spesifikasi peralatan komunikasi radio
      tertera pada Tabel 5-6.




                 Gambar 5-87. Contoh Peralatan Radio
Jaringan Distribusi Tegangan Menengah                                   285

5-7-4-1 Komunikasi VBF
         Frekuensi yang paling sering dipakai adalah antara 40 - 70 MHz dan
150 - 160 Hz. Pancaran gelombang radio VHF (30 - 300 MHZ) merupakan
pancaran dengan gelombang langsung (direct wave), gelombang pantulan
(reflected wave) dalarn jarak yang masih dapat dilihat (within line-of-sight
distance), dan gclombang lenturan (diffracted wave) di luar jarak yang dapat
dilihat (beyond line-of-sight distance). Karena jarang ada pancaran ionosfir
untuk gelombang pendek, maka komunikasi ini tidak dapat dipakai untuk
jarak jauh. Namun, sering kekuatan medan gelombang lenturan besar
sekali, misalnya bila jalan pancaran itu dipotong oleh gunung yang terjal.
Dalarn hal demikian, komunikasinya dimungkinkan untuk jarak jauh, yaitu
kira-kira 100 km di luar jarak yang dapat di lihat.
         Komunikasi radio VHF dari stasion ke stasion digunakan untuk
kepentingan lokal dengan 1- 6 saluran (CH). Contoh pemancar, penerima
dan antena radio terlihat pada Gambar 6-90 dan Gambar 6-91.
     Telekomunikasi radio mobil VHF sangat penting artinya bagi
perusahaan listrik terutama dalam pemeliharaan saluran distribusi. Untuk
pekerjaan tadi ada tiga jenis stasion. Yang pertama adalah stasion jinjingan
(portable station) yang dapat dibawa oleh seorang pekerja, yang kedua yang
dipasang dalam kendaraan (mobile station) dan yang ketiga adalah stasion
pangkalan (base) yang dipakai di kantor (gardu) seksi pemeliharaan guna
komunikasi dengan stasion jinjingan dan stasion mobil tadi. Sistem
komunikasinya biasanya simplek (simplex, atau press-to-talk), dimana
pembicaraan dilakukan bergantian.
         Kadang-kadang stasion pangkalan dipasang di tempat yang paling
tinggi (tidak di kantor seksi) untuk memungkinkan komunikasi dengan jarak
pancaran yang lebih jauh. Station pangkalan di tempat yang tertinggi ini
biasanya tidak berawak. Contoh komunikasi radio untuk pemeliharaan
tertera pada Gambar 5-92.
5-7-4-2 Komunikasi Gelombang Mikro
        Jangkau frekuensi untuk komunikasi dengan gelombang mikro
(microwave) adalah 300 - 3000 MHz (dinamakan ultra-high frequency,
disingkat UHF) dan 3000 30000 MHz (dinamakan super-high frequency,
disingkat SHF)." Frekuensi UHF ke atas dinamakan gelombang mikro,
meskipun ada juga yang menggunakan batas 1000 MHz. Frekuensi yang
biasanya digunakan oleh perusahaan listrik'adalah frekuensi sekitar (band)
400 MHz, 2000 MHz dan 7000 MHz.
Spesifikasi peralatan yang digunakan untuk komunikasi radio pada frekuensi
sekitar 400 MHz terlihat pada Tabel 6-6. Pancaran gelombangnya terbatas
pada jarak yang dapat dilihat, yaitu untuk komunikasi antara stasion dengan
rangkaian komunikasi multiplek di bawah 24 saluran (CH). Akhir-akhir ini,
sistem ini banyak dipakai guna komunikasi radio mobil untuk pemeliharaan
saluran tenaga di sekitar kota (suburb). Cara kerjanya sama dengan
komunikasi VHF.
 286




Kantor Dinas Pemeliharaan Saluran Transmisi

    Gambar 5-88. Contoh Sistem Komunikasi Radio Mobil
                 untuk Pemeliharaan Sa]uran.

        Telekomunikasi dengan gelombang mikro digunakan untuk
saluran-saluran komunikasi yang terpenting yang memerlukan saluran
bicara banyak. Dalam hal demikian, biaya pernbangilhan untuk setiap
saluran bicara paling murah dibandingkandengan metoda komunikasi yang
lain. Keuntungan yang lain adalah bahwa berisiknya sedikit, mutu suaranya
baik dan keandalannya tinggi.
        Dibandingkan dengan komunikasi PLC, komunikasi gelombang mikro
lebih murah, karena harga kapasitor pengait dan jebakan saluran pada
komunikasi PLC mahal. Kecuali itu, untuk PLC dibutuhkan peralatan yang
penguatannya besar karena besarnya tegangan berisik korona terutama
pada tegangan tinggi sekali. Oleh karena itu, bila saluran bicaranya enarn
atau lebih, komunikasi gelombang mikro lebih ekonomis dan lebih stabil.
        Gelombang mikro dipancarkan menurut garis lurus (seperti cahaya).
Oleh karena itu pancaran gelombang mikro terbatas pada pancaran
gelombang langsung dalam batas jarak yang dapat dilihat (kecuali pancaran
gelombang terpencar di troposfir). Ini berarti, bahwa rugi pancaran
(propagation loss) antara titik pancaran dan titik penerima berubah-ubah
tergantung dari refraksi di udara (yang merupakan fungsi dari suhu di tanah,
tekanan udara, kelembaban, kedudukan geografis) serta pengaruh
gelombang pantulan (reflected). Fluktuasi ini dinamakan gejala menghilang
(fading). Makin jauh jarak pancaran gelombang radio dan makin tinggi
frekuensinya, makin besar gejala menghilangnya.
Jaringan Distribusi Tegangan Menengah                                   287

       Di angkasa bebas (free space) dimana pengaruh apapun terhadap
pancaran gelombang tidak ada, nilai rata-rata dari rugi pancaran radio
antara dua titik dinyatakan oleh rumus :
                            Γ = 10 log 10 (4πd/λ)2 (dB)
dimana Γ = rugi pancaran angkasa bebas (dB)
       λ = panjang gelombang (m)
       d = jarak antara titik pancaran dan titik penerima (m)
Dalam pernbangunan rangkaian gelombang mikro, stasion radionya harus
diletakkan di tempat dimana gejala menghilang tidak akan banyak terjadi.
Rangkaian itu juga harus direncanakan dengan memperhitungkan terjadinya
rugi-pancaran karena gejala menghilang tadi.
         Sebagai antena gelombang mikro digunakan lensa elektro-magnetik,
antena reflektor tanduk atau antena parabolis. Karena pertimbangan
ekonomis antena yang terakhir banyak dipakai oleh perusahaan-perusahaan
listrik. Setiap antena ini dapat disesuaikan (matched) dengan kearahan
(directivity) yang teliti dan perolehan daya (power gain) yang tinggi. Ciri
telekomunikasi gelombang mikro dimungkinkan oleh mutu antena ini.
Seperti terlihat pada Gambar 6-91 antena parabolis (parabolic antenna)
terdiri dari reflektor parabolis dan radiator primer yang meradiasikan
gelombang-gelombang ke reflektor. Gelombang-gelombang radio yang
direfleksikan kemudian dipancarkan ke depan dengan arah yang tepat.
Perolehan di depan antena dinyatakan oleh persarnaan:
                          G = 10 log10 {(πD/λ)2gp (dB)
dimana G = perolehan (gain) mutlak (dB)
       D = garis tengah permukaan (celah) antena (m); biasanya 2-3 m
       λ = panjang gelombang (m)
      gp = koeffisien perolehan (biasanya 0,5 - 0,65)
Sebagai saluran penghubung (feeder line) biasanya dipakai kabel koaksial
untuk frekuensi sekitar 2000 MHz, sedang penuntun-gelombang (wave
guide) persegi, eliptis atau bulat dipakai untuk frekuensi sekitar 7000 MHz.
Seperti terlihat pada Gambar 5-93 untuk memungkinkan pemantulan
gelombang menurut arah tertentu digunakan reflektor logam datar yang
dinamakan reflektor pasip. Reflektor ini biasanya berukuran 3 m x 4 m, 4 m
x 6 m atau 6 m x 8 m. Contoh pemasangan terlihat pada Gambar 5-94.
        Peralatan telekomunikasi gelombang mikro terdiri dari pesawat
pemancar dan penerima radio, pesawat pengulang (repeater) dan alat
frekuensi-pembawa. Dewasa ini semua peralatan ini sudah ditransistorkan.
Contoh pesawat pengulang keadaan padat (solid state) terlihat pada
Gambar 5-90. Pesawat pengulang biasanya menggunakan sistem rele
detektip (detective relay system) yang menerima gelornbang mikro,
mendemodulasikannya, mengambil bagian videonya, lalu memancarkannya
kembali sesudah memodulasikannya lagi. Ada juga sistem heterodin, yang
menguatkan gelombang mikro yang diterima sesudah mengubah
288

frekuensinya menjadi VHF, lalu memancarkannya kembali sesudah
merubah frekuensinya menjadi gelombang mikro. Sistem terakhir ini jarang
dipakai oleh perusahaan-perusahaan listrik.




Gambar 5-89. Lintasan Gelombang
     Mikro yang dipantulkan oleh
     reflektor Pasif.
                                          Gambar 5-90. Reflektor Pasif
                                          (A) dan Antena Parabola (B)
                                          Gelombang Mikro (Panah
                                          menunjukkan        Lintasan
                                          Gelombang

5-8 Baterai dan Pengisinya
5-8-1 Baterai
        Ada dua macam sumber tenaga untuk kontrol di dalam G.I, ialah
sumber arus searah dan sumber arus bolak-balik. Sumber tenaga untuk
kontrol selalu harus mempunyai keandalan dan stabilitas yang tinggi.
Karena persyaratan inilah dipakai baterai sebagai sumber arus searah.
        Ada dua macarn baterai (battery): timah hitam dan alkali. Sekarang
baterai timah hitamlah yang banyak dipakai. Baterai alkali mempunyai
keuntungan-keuntungan, misalnya, karena membutuhkan
ruang yang lebih kecil, perubahan kapasitas akibat arus pelepasan, lebih
kecil, arus sesaat dapat tinggi dan pemeliharaannya mudah. Tetapi baterai
macam ini jarang dipakai karena harganya mahal dan umurnya sukar
diperkirakan. Di Jepang standar" tegangan searah di terminal baterai adalah
110 V, dan di alat yang dikontrol 100 V. Jumlah baterai ditentukan dengan
menganggap tegangan setiap selnya 2,15 V untuk baterai timah hitam dan
1,35 - 1,45 V untuk baterai alkali. Untuk baterai timah hitarn pada umumnya
dipakai 52 sampai 55 sel.
         Kapasitas baterai ditentukan dengan memperhitungkan semua
faktor yang menyangkut penurunannya selama dipakai, perubahannya oleh
perubahan suhu dan jatuh tegangan, keperluan kapasitas yang diperlukan
dengan memperkirakan beban terus menerus dan beban terputus-putus
(continuous and intermittent load) yang harus dilayani selama terputusnya
Jaringan Distribusi Tegangan Menengah                                    289

pelayanan normal, serta lamanya pemutusan pelayanan (biasanya 1 - 3
jam).
          Kapasitas yang diperlukan dalam keadaan terapung (floating)
dihitung dengan cara berikut. Keadaan terapung adalah bila pada terminal
baterai diterapkan tegangan pengisi yang konstan terus-menerus.
          Kapasitas C1 (Ampere-jam) untuk arus pelepasan maksimum
sesaat i1(A), dan kapasitas C2 (Ampere-jam) untuk arus beban terus
menerus i2 (A) pada saat pemutusan pelayanan untuk t2 (detik) dan arus
beban terputus-putus i3 (A) pada saat pemutusan pelayanan untuk t3 (detik)
dihitung.
        Kemudian dipilih harga yang terbesar (periksa Gambar 6-95.(a)).
Kapasitas C1 adalah:
                         C1 = 2/3 (i1 + i2) (Ampere-jam)
Kapasitas C2 dihitung dengan memisalkan bahwa kapasitas yang diperlukan
adalah Cα (Ampere-jam) dan kapasitas sisa (residual) setelah pelepasan
tahap pertama dan tahap kedua berturut-turut adalah Cα’, dan Cα”

        Cα’ = Cα – (t2 – t3)i2/k2
        Cα” = Cα’ - (i2 – i3)i3/k3

di mana k2 dan k3 adalah koefisien kapasitas untuk Cα/ i2, Cα’/(i2 – i3) yang
dapat diperoleh dari Gambar 5-95 (b). Maka prosentase sisa adalah
               Cα” x 100 = α (%)
                Cα
Dengan cara yang sama dapat diperoleh dan β (%) dan γ % dengan
memisalkan Cβ (Ampere-jam) dan Cγ (Ampere-jam). Dengan menggambar
setiap prosentase kapasitas sisanya dapat ditarik garis lengkung seperti
Gambar 6-95(c). Titik di mana prosentase sisanya 0 itulah C2,
    Bila pengisian dan pelepasannya secara periodik maka C1 dan 3C2
dibandingkan; yang lebih besar itulah yang dipilih sebagai kapasitas yang
diperlukan.
    Kapasitas dasar (rated capacity) ditentukan dari harga kapasitas yang
diperoleh di atas dengan memperhatikan penurunan kapasitas
selama dipakai (biasanya 80%), perubahan kapasitas akibat perubahan
suhu
         Ct = C25/{1 + 0,008(t - 25)}
di mana
         C25 = kapasitas (Ampere-jam) pada suhu standard
         Ct = kapasitas (Ampere-jam) pada suhu tOC
           T = suhu rata-rata (OC dari elektrolit pada 2 jam terakhir
               pelepasan.
290




      Gambar 5-91. Penghitungan Kapasitas Baterai




      Gambar 5-92. Lengkung Pelepasan Baterai
Jaringan Distribusi Tegangan Menengah                                   291

serta jatuh tegangan pada arus pelepasan maksimum sesaat (periksa
Gambar 5-92).
5-8-2 Pengisi
    Sebagai pengisi (charger) dapat digunakan penyearah air raksa,
penyearah silikon, dan sebagainya; namun karena pertimbangan effisiensi,
pemeliharaan dan karakteristiknya, yang banyak dipakai sekarang adalah
penyearah selenium. Sistem pengisiannya ada 2 macam, sistem pengisian
terapung (floating) dan sistem pengisian periodik. Sistem yang pertama
adalah yang banyak dipakai karena umur baterai lebih lama, kapasitasnya
dapat dipergunakan sepenuhnya serta perubahan tegangannya kecil. Arus
output dari pengisi biasanya dibuat sekitar 1,25 kali arus dasar 10 jam dari
baterainya. Namun dalam hal arus beban terus-menerus lebih besar dari
arus dasar 10 jam dari baterai itu, arus output pengisi adalah arus beban
terus-menerus ditambah dengan ½ arus dasar 10 jam dari baterai.
Daftar Pustaka                                                       A1


                 DAFTAR PUSTAKA
  1. Artono Arismunandar, DR. M.A.Sc DR. Susumu Kuwahara. 1975. Buku
     Pegangan Teknik Tenaga Listrik Jilid I. Jakarta: PT. Pradnya
     Paramita.
  2. Artono Arismunandar, DR. M.A.Sc, DR. Susumu Kuwahara. 1975. Buku
     Pegangan Teknik Tenaga Listrik Jilid II. Jakarta: PT. Pradnya
     Paramita.
  3. APEI Pusat. 2004. Materi kursus/Pembekalan Uji Keahlian bidang
     Teknik tenaga Listrik, Kualifikasi : AHLI MUDA. Jakarta: APEI.
  4. APEI Pusat. 2006. Materi kursus/Pembekalan Uji Keahlian bidang
     Teknik tenaga Listrik, Kualifikasi : AHLI MADYA. Jakarta: APEI.
  5. Bambang Djaja. 1984. Distribution & Power Transformator. Surabaya :
     B & D.
  6. Bonggas L. Tobing. 2003. Dasar Teknik Pengujian Tegangan Tinggi.
     Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama.
  7. Bonggas L. Tobing. 2003. Peralatan Tegangan Tinggi. Jakarta: PT.
     Gramedia Pustaka Utama.
  8. Daryanto Drs. 2000. Teknik Pengerjaan       Listrik. Jakarta: Bumi
     Aksara.
  9. Depdiknas. 2004. Kurikulum SMK 2004 Bidang Keahlian Teknik
     Distribusi Tenaga Listrik. Dirjen Dikdasmen, Direktorat Dikmenjur.
 10. Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral. 2004. Sosialisasi
     Standar Latih Kompetensi (SLK) Tenaga Teknik Ketenagalistrikan
     Bidang Distribusi Tenaga Listrik. Jakarta: Pusat Diklat Energi dan
     Ketenagalistrikan.
 11. Imam Sugandi Ir, dkk. 2001. Panduan Instalasi Listrik untuk Rumah
     berdasarkan PUIL 2000. Jakarta: Yarsa Printing.
12. Naryanto, Ir. & Heru Subagyo, Drs. 1997. Manajemen Gangguan
    sebagai Upaya Meningkatkan Keandalan Sistem. Surabaya : AKLI
    DPD JATIM dan DPC SURABAYA.
13. PLN PT. 2003. Workshop Nasional Distribusi. Jakarta: PLN Jasa
    Diklat
14. PLN UDIKLAT Pandaan. Pemeliharaan Gardu tiang (GTT).
15. PLN Distribusi Jatim.  1997. Pelatihan Koordinator Pelaksana
    Pekerjaan Konstruksi Jaring Distribusi. AKLI DPD JATIM dan PLN
    Distribusi Jatim.
Daftar Pustaka                                                        A2

16. PLN Distribusi Jatim. 1997. Konstruksi Jaringan Perusahaan Listrik
    Negara Distribusi Jawa Timur.
17. PLN Distribusi Jatim. 1997. Pelatihan Tenaga Ahli Kontraktor Listrik.
    AKLI DPD JATIM dan PLN Distribusi Jatim.
18. Soedjana Sapiie. DR, Osamu Nishino DR. 1982. Pengukuran dan Alat-
    alat Ukur Listrik. Jakarta: Pradnya Paramita.
19. Standar Nasional Indonesia. 2000. Persyaratan Umum Instalasi
    Listrik 2000. Jakarta: Yayasan PUIL.
20. Standar Listrik Indonesia. 1988. Gangguan pada Sistem Suplai yang
    diakibatkan oleh Peranti Listrik dan Perlengkapannya. Jakarta:
    Departemen Pertambangan dan Energi.
21. Standar Listrik Indonesia. 1988. Spesifikasi Desain untuk Jaringan
    Tegangan Menengah dan Jaringan Tegangan Rendah. Jakarta:
    Departemen Pertambangan dan Energi.
22. Standar Listrik Indonesia. 1988. Metode Pengujian yang
    direkomendasikan untuk Instrumen Ukur Listrik Analog Penunjuk
    Langsung    dan    kelengkapannya.      Jakarta:   Departemen
    Pertambangan dan Energi.
23. Stam H. N. C. 1993. Keselamatan dan Kesehatan di Tempat Kerja.
    Penebar Swadaya: Jakarta.
24. Trevor Linsley. 2004. Instalasi Listrik Tingkat Lanjut. Jakarta :
    Erlangga.
25. Yamanaka. Electric Wire & Cable. Sinar Merbabu: Surabaya
Daftar Istilah                                              B1


                     DAFTAR ISTILAH
admitansi                       admittance
andongan (lendutan)             sag
arus bolak-balik                alternating current
arus pemuat                     charging current
arus searah                     direct current
arus yang diperbolehkan         allowable current
arus                            current
atenuasi                        attenuation
bagian penguat                  bracing member
barang besi                     hardware
batang pelindung                armor rod
batas elastis                   elasticity limit
beban lawan                     counterweight
beban                           load
berat jenis                     specific gravity, density
berisik                         noise
besi tempaan                    malleable iron
beton pelindung                 mulching concrete
daya                            power
daya-guna                       efficiency
faktor beban                     load factor
faktor daya                       power factor
faktor hilang tahanan            annual loss factor
faktor keamanan                  safety factor
faktor tegangan lebih            overvoltage factor
frekuensi frequency
gangguan radio                  radio interference
gardu induk                     substation
garis pusat                     centerline
garis-tengah                    diameter
gawang                          span
gaya putar                      torsional force
gejala menghilang               fading
gelombang berdiri               standing wave
gelombang lenturan              diffracted wave
gelombang mikro                 micro wave
gelombang pantulan              reflected wave
gulungan kerja (operasi)        operating coil
gulungan pelindung              shielding coil
gulungan penghambat              restraining coil
gulungan peredam                 damper winding
gulungan                        coil, winding
hilang kebocoran                leakage loss
hilang tenaga                   energy loss
hubung singkat                  short-circuit
impedansi surJa                 surge impedance
impedansi                       impedance
induktansi                      inductance
isolator gantung                suspension insulator
isolator jenis batang-panjang   long-rod insulator
isolator jenis pasak            pin-type insulator
isolator jenis pos saluran      line-post insulator
jam ekivalen tahunan            annual equivalent hour
kapasitansi                     capacitance
Daftar Istilah                                                  B2

kapasitor                    capacitor
kawat berkas                 bundled conductor
kawat berlilit               stranded conductor
kawat campuran               alloy conductor
kawat komponen               component wire
kawat padat                  solid conductor
kawat paduan                 composite conductor
kawat pelindung              shield wire
kawat penolong               messenger wire
kawat rongga                 hollow conductor
kawat tanah                  ground wire
kawat telanjang              bare conductor
kawat                        conductor, wire
keadaan peralihan            transient state
keadaan tetap                steady state
keandalan                    reliability
kearahan                     directivity
kelongsong reparasi          repair sleeves
kepekaan                     sensitivity
keporian                     porosity
kisi-kisi                    lattice
koeffisien elastisitas        elasticity coefficient
koeffisien pemuaian linier    coefficient of linear expansion
koeffisien suhu              temperature coefficient
komponen simetris            symmetrical component
konduktansi                  conductance
konduktivitas                conductivity
konstanta saluran            line constants
kuat pancang                  cantilever strength
kuat patah                   breaking strength
kuat pikul angkatan,         uplift bearing strength
kuat pikul tekanan           compression bearing strength
kuat pikul                   bearing strength
kuat tarik maksimurn         ultimate tensile strength
kuat tarik                   tensile stress
kuat tindas                  crushing strength
kuat tekan                   compressive strength
kupingan (isolator)          shed
lintasan                     route
lompatan api                 flashover
lubang kerja                 manhole
panas jenis                  specific heat
panas spesifik               specific heat
pancang                      pile
pangkal pengiriman           sending end
pantulan                     flection
papan penahan                butting board
pasak pengunci               lock pin
pasangan                     fitting
pekerja saluran              lineman
pelindung jaringan           network protector
pemanjangan                  elongation
pembagian beban              load dispatching
pembawa saluran tenaga       power line carrier (PLC)
pembumian                    grounding
pemisah                      disconnect switch
pemutus beban cepat          high-speed circuit breaker
pemutus beban                circuit breaker
Daftar Istilah                                                   B3

penala                               tuner, tuning
penegang kawat                       tensioner
penemu gangguan                      fault locator
pengait                              coupling
pengapit                             clamp
penghitung                           counter
penguat penerima                     receiving amplifier
penguat penyama                      matching amplifier
pengubah fasa                        phase modifier
penjepit kawat                       snatch block
pentanahan                           gounding
penuntun gelombang                   wave guide
penutup cepat                        high-speed recloser
penyaring                            filter
penyearah                            rectifier
penyeimbang                          balancer
penyetelan                           adjustment
penyokong                            bracket
peralatan hubung (-penghubung)       switch gear
peralatan pengait                    line coupling equipment
peralatan pengait                    line coupling equipment
peralatan pengubah AC ke DC          converter
peralatan pengubah DC ke AC          inverter
peralatan perisaian                  shielding device
peralihan                            transient
perancangan                          planning
perbandingan hubung-singkat          short-circuit ratio
perbandingan kerampingan               slenderness ratio
percikan                             sparkover
peredam                              damper
peredaman                            lihat "atenuasi", damping
perentang                              spacer
permitivitas                           permittivity~
perolehan daya                         power gain
pusat beban                            load centre
Pusat Listrik Tenaga Air (PLTA)        hydro power stations
Pusat Listrik Tenaga Termis (PLTT)    thermal power station
Pusat Listrik Tenaga Diesel (PLTD)    diesel power stations
Pusat Listrik Tenaga Gas (PLTG)       gas-fired power station
pusat-pusat listrik                    power stations
rambatan                              propagation
rangkaian ganda                      double circuit
rangkaian monitor penghambat-        delay monitor circuit
rangkaian tunggal                    single circuit
reaktansi                             reactance
regulasi tegangan                     voltage regulation
relc pencatat gangguan                fault locating relay
rele arah                             directional relay
rele arus lebih                       overcurrent relay
rele daya                             power relay
rele diferensial                      differential relay
rele firkwensi                        frequency relay
rele gelombang mikro                  microwave relay
rele impedansi                        impedance relay
rele jarak                             distance relay
rele konduktansi                       conductance relay
rele Mho                               Mho relay
rele offset-Mho                        Offset-Mho relay
Daftar Istilah                                                 B4

rele penutup kembali         reclosing relay
rele penutupan               closing relay
rele penyalur                transmitter relay
rele pernbawa saluran         power line carrier relay
rele pilot-kawat              wire-pilot relay
rele reaktansi                reactance relay
rele suseptansi             susceptance relay
rele tahanan                resistance relay
rele tegangan kurang        undervoltage relay
rele tegangan lebih         overvoltage relay
resistivitas                resistivity
respon penguat              exciter response
ril, rel                    bus
rugi daya tranmisi          transmission loss
rugitahanan                 resistance loss
s I arung (kabel)           (cable) sheath
saluran bawah tanah         underground line
saluran bertegangan         hot-line
saluran ganda               double-circuit transmission line
saluran komunikasi          communication channel
saluran panas               hot-line
saluran penghubung          feeder line
saluran tertutup            loop transmission line
saluran transmisi           transmission line
saluran udara               overhead line
sela batang                  rod gap
sela pelindung               protective gap
semu                        appearance
sentral. listrik            Iihat Pusat Listrik
siku pelindung              mulching angle
sistim banyak-terminal      multi-terminal system
sistim berturutan           tandem system
sistim jaringan             spot-network system
sistim rangkaian tertutup   loop system
stabilitas peralihan        transient stability
stabilitas tetap            steady state stability
stasion jinjingan           portable station
stasion mobil               mobile station
stasion pangkalan           base station
stasion tetap               fixed station
struktur pasak              pin structure
sudut ayun                  swing angle
surja hubung                switching surge
surja                       surge
survey garis pusat          center line survey
survey lokasi menara        tower site study
survey profil.              profile survey
survey tampak atas          plan survey
suseptansi                  susceptance
tahanan jenis               resistivity
tahanan                     resistance
tanduk (busur) api          arcing horn
tangkai operasi             operating shaft
tegangan geser              shearing stress
tegangan harian             everyday stress (EDS)
tegangan kejut              pulse voltage
tegangan ketahanan          withstand voltage
tegangan lebih dalam        internal overvoltage
Daftar Istilah                              B5

tegangan lebih         overvoltage
tegangan lentur        bending stress
tegangan lumer         yielding stress
tegangan patah         breaking strength
tegangan perencanaan   design stress
tegangan pikul         bearing stress
tegangan tarik         tensile stress
tegangan tekan         compression stress
tegangan serat         fibre stress
tenaga                 energy
titik lebur            melting point
ugi pancaran           propagation loss
ujung penerimaan       receiving end
urutan negatip         negative sequence
urutan nol             zero sequence
urutan positip         positive sequence
waktu mati             dead time
waktu membuka          opening time
waktu menutup          making time
waktu pasang kembali   resetting time
                                                                                                     C1


                     DAFTAR GAMBAR
Gambar                                                                                             Halaman
1-1 Sistem Tenaga Listrik ...................................................................            3
2-1 Sistem Penyaluran Tenaga Listrik ................................................                   11
2-2 Pembagian/pengelompokan Tegangan Sistem Tenaga Listrik …                                            12
2-3 Konfigurasi horisontal ..................................................................           13
2-4 Konfigurasi Vertikal .....................................................................          13
2-5 Konfigurasi Delta .........................................................................         14
2-6 (a) dan (b) Jaringan distribusi lintas bangunan ............................                        14
2-6 (c) dan (d) Jaringan distribusi lintas bangunan ............................                        14
2-6(e) Jaringan distribusi lintas bangunan ..........................................                   15
2-6 (f) Jaringan distribusi lintas bangunan .........................................                   15
2-7 Saluran Udara dengan konduktor kabel ......................................                         15
2-8 Saluran distribusi dimana saluran primer dan sekunder terletak pada
      satu tiang .....................................................................................  15
2-9 Saluran Udara Lintas Alam ..........................................................                15
2-10 Jaringan radial tipe pohon ..........................................................              17
2-11 Komponen Jaringan radial .........................................................                 17
2-12 Jaringan radial dengan tie dan switch ........................................                     18
2-13 Jaringan radial tipe pusat beban ..............................................                    18
2-14 Jaringan radial tipe phase area (kelompok fasa) ……………….                                            19
2-15 Jaringan Distribusi tipe Ring .....................................................                20
2-16 Jaringan Distribusi ring terbuka .................................................                 20
2-17 Jaringan Distribusi ring tertutup .................................................                20
2-18 Rangkaian Gardu Induk tipe Ring ............................................                       21
2-19 Jaringan Distribusi NET .............................................................              21
2-20 Jaringan Distribusi NET dengan Tiga penyulang Gardu Hubung                                         21
2-21 Jaringan Distribusi NET dilengkapi breaker pada bagian tengah
       masing-masing penyulang ........................................................                 22
2-22 Jaringan distribusi Spindle ........................................................               23
2-23 Diagram satu garis Penyulang Radial Interkoneksi ....................                              24
2-24 Komponen sistem distribusi .......................................................                 25
2-25 Sistem satu fasa dua kawat tegangan 120Volt ..........................                             26
2-26 Sistem satu fasa tiga kawat tegangan 120/240 Volt ..................                               27
2-27 Sistem distribusi tiga fasa empat kawat tegangan 120/240 Volt                                      27
2-28 Sistem distribusi tiga fasa empat kawat tegangan 120/208 Volt                                      27
2-29 Sistem distribusi tiga fasa tiga kawat ........................................                    28
2-30 Sistem distribusi tiga fasa empat kawat 220/380 Volt .................                             28
2-31 Contoh Gambar Monogram Gardu Distribusi ............................                               30
2-32 Penampang Fisik Gardu Distribusi ............................................                      31
2-33 Bagan satu garis pelanggan TM ................................................                     32
2-34 Bagan satu garis Gardu Beton ..................................................                    33
2-35 Bangunan Gardu beton .............................................................                 33
3-36 Bardu Besi .................................................................................       34
2-37 Gardu tiang tipe portal dan Midel Panel .....................................                      35
                                                                                                     C2

2-38 Bagan satu garis Gardu tiang tipe portal ....................................                   36
2-39 Bagan satu garis Gardu tiang tipe Cantol ...................................                    37
2-40 Gardu tiang tiga fasa tipe Cantol ................................................              37
2-41 Elektrode Pentanahan .................................................................          38
2-42 Detail Pemasangan Elektrode Pentanahan ...............................                          38
2-43 Diagram Instalasi Pembumian Gardu Distribusi .........................                          39
2-44 Gardu mobil ................................................................................    40
2-45 Pemutus beban 20 kV tipe "Fuse Cut out" ……………………….                                              41
2-46 Trafo distribusi kelas 20 kV ………………………………………...                                                 41
2-47 Hubungan dalam trafo distribusi tipe "New Jec" ..........................                       42
2-48 Sistem satu fasa dua kawat 127 Volt .........................................                   42
2-49 Sistem satu fasa dua kawat 220 Volt .........................................                   43
2-50 Sistem satu fasa tiga kawat 127 Volt .........................................                  43
2-51 Sistem tiga fasa empat kawat 127/220 Volt ...............................                       44
2-52 Sistem tiga fasa empat kawat 220/380 Volt ...............................                       44
2-53 Bank trafo dengan ril ..................................................................        45
2-54 Bank trafo dilengkapi sekring sekunder pada relnya .................                            45
2-55 Bank trafo dengan pengamanan lengkap ..................................                         46
2-56 Karakteristik beban untuk industri besar ………………………….                                            47
2-57 Karakteristik beban harian untuk industri kecil yang hanya bekerja
     pada siang hari ...........................................................................     48
2-58 Karakteristik beban harian untuk daerah komersiil .....................                         48
2-59 Karakteristik beban harian rumah tangga .................................                       49
2-60 Karakteristik beban penerangan jalan umum ...........................                           50
2-61 Perbandingan nilai g untuk rumah besar dan rumah kecil ..........                               51
2-62 Andongan ....................................................................................   55
2-63 Konstruksi tiang penyangga (TM-1) ............................................                  57
2-64 Konstruksi tiang penyangga ganda (TM-2) ..................................                      57
2-65 Konstruksi tiang tarik akhir (TM-4) ...............................................             58
2-66 Konstruksi tiang tarik ganda (TM-5) .............................................               58
2-67 Konstruksi tiang pencabangan (TM-8) ........................................                    58
2-68 Konstruksi tiang sudut (TM-10) ...................................................              58
2-69 Konstruksi Guy Wire ...................................................................         59
2-70 Konstruksi Horisontal Guy Wire ..................................................               59
2-71 Konstruksi Strut Pole ..................................................................        59
2-72 Konstruksi GTT tipe cantol ...........................................................          60
2-73 GTT tipe dua tiang ......................................................................       60
2-74 Konstruksi Tiang Penyangga (TR-1) ...........................................                   60
2-75 Konstruksi Tiang Sudut (TR-2) .....................................................             60
2-76 Konstruksi Tiang Awal (TR-3) .....................................................              61
2-77 Konstruksi Tiang Ujung (TR-3) .....................................................             61
2-78 Konstruksi Tiang Penegang (TR-5) .............................................                  61
3-1 Miniature Circuit Breaker (MCB) ....................................................             62
3-2 Konstruksi KWH meter ..................................................................          65
3-3 Tang Ampere..................................................................................    66
3-4 Bentuk-bentuk penunjukan (register) ............................................                 66
                                                                                                    C3

3-5 Rangkaian Prinsip Kerja Transformator .........................................                  67
3-6 Transformator Arus ………….........................................................                 69
3-7 Jenis-jenis Trafo Arus ...................................................................       69
3-8 Trafo Tegangan ………...................................................................            71
3-9 Jenis-jenis trafo tegangan ………..................................................                 71
3-10 Alat Pembagi Tegangan Kapasitor …...........................................                    71
3-11 Kombinasi-kombinasi transformator pengukur dan Wattmeter ....                                   72
3-12 Pengukuran arus pada kawat penghantar ...................................                       73
3-13 Diagram Pengawatan kWH Meter 1 phasa 2 kawat ....................                               74
3-14 Diagram Pengawatan kWH Meter 3 phasa 4 kawat ....................                               75
3-15 Diagram Pengawatan kWH Meter 3 phasa 3 kawat ....................                               75
3-16 Bentuk kWH Meter Elektronik .....………………………………….                                                 76
3-17 Bentuk meter standar .................................................................          77
3-18 Bentuk Kunci Elektronik .............................................................           78
3-19 Sambungan Listrik 3 Fasa Tarip Ganda Dari Gardu Tiang dengan
     kabel TR NYFGBY ......................................................................          82
3-20 Lemari APP untuk TM-TR (100 A– 500 A) (DenganTutup Luar)                                        83
3-21 Lemari APP untuk TM-TR (100 A– 500 A) (Tanpa Tutup Luar) ..                                     84
3-22 Sambungan Listrik TM Pengukuran TM Tarif Tunggal Menggu-
     nakan peralatan Cubicle dg Kabel TM .........................................                   85
3-23 Sambungan Listrik TM Pengukuran TM Tarif Ganda Mengguna-
     kan peralatan Cubicle dg Kabel TM kVARh (Sistem 4 kawat) ......                                 86
3-24 Lemari Pasangan Luar untuk Penempatan Alat Ukur TT-TM .....                                     87
3-25 Sambungan Listrik TM Pengukuran TM Tarif Tunggal Mengguna-
     kan Cut Out / Tiang dengan AAAC & KVARH (Sistem 3 kawat) ...                                    88
3-26 Sambungan Listrik TM Pengukuran TR Tarif Tunggal Mengguna-
     kan Peralatan Cubicle dengan Kabel TM & KVARH (Sistem 3
     kawat/4 kawat TM) .......................................................................       89
3-27 Lemari APP untuk TM-TR ( 100 A - 500 A) (dengan Tutup Luar)                                     91
3-28 Lemari APP untuk TM-TR ( 100 A - 500 A) (Tanpa Tutup Luar)..                                    90
3-29 Sambungan Listrik TM Pengukuran TR Tarif Ganda Mengguna-
     kan Peralatan Cubicle dengan Kabel TM & KVARH (Sistem 3
     kawat/4 kawat) .............................................................................    92
4-1 Konstruksi Tiang Beton ……………………………………………….                                                       93
4-2 Jarak aman yang diperlukan untuk menentukan panjang tiang ....                                   94
4-3 Mendirikan tiang cara manual .......................................................             95
4-4 Mendirikan Tiang dengan alat pengangkat ...................................                      98
4-5 Kabel udara melintasi jalan umum yang dilalui kendaraan bermotor                                100
4-6 Kabel udara yang dipasang di sepanjang jalan raya ....................                          100
4-7 Kabel udara yang dipasang di bawah pekerjaan konstruksi …….                                     101
4-8 Dua Kabel udara (SUTM & SUTR) dipasang pada satu tiang .....                                    101
4-9 Kabel udara melintasi sungai .......................................................            102
4-10 Kabel udara yang melintas di sebelah jembatan ........................                         103
4-11 Kabel udara melintasi jalur listrik saluran udara .........................                    104
4-12 Kabel udara yang melintasi rel kereta api ..................................                   104
                                                                                                        C4

4-13 Kabel udara yang melalui kabel udara telekomunikasi .............                                  105
4-14 Jarak dengan kabel telekomunikasi ...........................................                      106
4-15 Pemasangan saluran udara di dekat kabel telekomunikasi ........                                    107
4-16 Kabel udara yang melintasi Rel kereta api .................................                        108
4-17 Contoh skema jaringan tegangan rendah ..................................                           108
4-18 Pemasangan TC pada jaringan 0o-45o pada tiang beton bulat
     (sudut kecil) .................................................................................    109
4-19 Pemasangan TC pada jaringan 45o-120o pada tiang beton bulat
     (sudut besar) ..............................................................................       109
4-20 Penyambungan TC pada tiang penegang tiang beton ...............                                    110
4-21 Konstruksi tiang penyangga(TR1) .............................................                      110
4-22 Konstruksi tiang penegang/sudut(TR2) ......................................                        111
4-24 Konstruksi tiang penyangga silang(TR4) ....................................                        111
4-25 Konstruksi tiang penyangga & sudut silang (TR4A) ................                                  112
4-26 Konstruksi tiang penyangga & sudut silang (TR4B) ................                                  112
4-27 Konstruksi tiang penegang (TR5) ..............................................                     112
4-28 Konstruksi tiang penegang dengan hantaran beda penampang
      (TR5A) ........................................................................................   113
4-29 Konstruksi tiang percabangan (TR6) ..........................................                      113
4-30 Konstruksi tiang percabangan (TR6A) ........................................                       113
4-31 Konstruksi Penyambungan konduktor TC dan AAAC (TR7) ......                                         114
4-32 Konstruksi Guy Wire (GW) .........................................................                 114
4-33 Konstruksi Strut Pole ..................................................................           115
4-34 Konstruksi Horizontal Guy Wire (GW) ........................................                       115
4-35 Alat pelindung dari seng .............................................................             116
4-36 Kendaraan pengangkut kabel dan haspel (gulungan kabel) ......                                      116
4-37 Kantung Perkakas Tukang Listrik (Electrician tool pouche) .......                                  118
4-38 Kotak Perkakas (Tool box) ........................................................                 118
4-39 Belincong (Pick) .........................................................................         119
4-40 Bor Listrik (Electric drill) ..............................................................        119
4-41 Cangkul (Shovel) .......................................................................           119
4-42 Bor Nagel (Auger (Ginlet) ...........................................................              119
4-43 Bor Tangan (Hand drill) .............................................................              119
4-44 Gergaji kayu (stang) ...................................................................           119
4-45 Gergaji kayu ...............................................................................       119
4-46 Kakatua .......................................................................................    119
4-47 Linggis (Digging Bar) ...................................................................          120
4-48 Kunci Inggris ( Adjustable Wrech) ...............................................                  120
4-49 Kikir (File) ...................................................................................   120
4-50 Kunci Pas (Spanner)....................................................................            120
4-51 Kunci Ring (Offset Wrech) ..........................................................               120
4-52 Pahat Beton (Concrete Chisel) ..................................................                   120
4-53 Obeng (Screw Driver) ..................................................................            120
4-54 Pahat Kayu (Wood Chisel) ...........................................................               120
4-55 Palu (Hammer) ............................................................................         120
4-56 Penjepit Sepatu Kabel Hidrolik (Hydraulic Crimping Tool) ………                                       121
                                                                                                        C5

4-57 Alat Pembengkok Pipa (Pipe Bender) …………………………….                                                    121
4-58  Sendok Aduk (Trowel) ……………………………………………..                                                          121
4-59  Pisau Kupas Kabel (Line’s men knive) ……………………….....                                               121
4-60  Skop ( Spade ) …………………………………………….............                                                     121
4-61  Tang Kombinasi (Master Plier) ……………………………..........                                               121
4-62  Tang Lancip (Radio long Nose Plier) …………………………….                                                  121
4-63  Tang Pengupas Kabel (Wire Striper) ………………………….....                                                121
4-64  Tang Potong (Diagonal cutting plier) ……………………………..                                                122
4-65  Tirpit (Penarik kabel) ………………………………......................                                         122
4-66  Ampere Meter ………………………………..................................                                       122
4-67  Kwh Meter ………………………………......................................                                      122
4-68  Lux Meter (Illumino Meter) ……………………………….............                                              122
4-69  Megger (Insulation Tester) ………………………………............                                               122
4-70  Meteran Kayu/lipat (Folding wood measurer) ............................                           123
4-71  Meteran Pendek (Convec Rule) .................................................                    123
4-72  Multimeter (Multy meter) ............................................................             123
4-73  Termometer (Thermometer) .......................................................                  123
4-74  Tespen (Electric tester) ..............................................................           123
4-75  Water Pas (Level) ......................................................................          123
4-76  Volt meter ....................................................................................   123
4-77  Kacamata Pengaman (Safety goole) ………………………………                                                     124
4-78  Pelindung Kedengaran (Hearing protector) ………………………                                                124
4-79  Pelindung Pernafasan (Dust/Mist Protector) ……………………..                                             124
4-80  Topi Pengaman (Safety Helmet/Cap) …………………………….                                                    124
4-81  Sabuk Pengaman (Safety Belt) …………………………………….                                                      124
4-82  Sarung Tangan 20 kV (20 kV Glove) ………………………........                                               124
4-83  Sepatu Pengaman (Safety Shoe) …………………………………                                                       124
4-84  Bor Listrik Duduk (Bend Electric Drill) …………………………….                                              125
4-85  Catok (Vise) …………………………………………………………                                                               125
4-86  Dongkrak Haspel Kabel (Cable Drum Jack) ………………….....                                              125
4-87  Disel Genset (Diesel Generator) ………………………………….                                                    125
4-88  Gerinda Potong Cepat (High Speed Cutter ) …………………….                                               125
4-89  Mesin Penarik Kabel (Winche) ……………………………..........                                                125
4-90  Molen Beton (Concrete Mixer) ……………………………...........                                               125
4-91  Pembengkok Pipa Hidrolis (Hydraulic Pipe Bender) ………......                                        125
4-92 Pemegang Kabel (Cable Grip) ....................................................                   126
4-93 Pompa Air (Water Pump) ............................................................                126
4-94  Rol Kabel (Cable Roller ..............................................................            126
4-95  Tangga Geser (Extension Ladder) .............................................                     126
4-96  Treller Haspel Kabel (Cable Drum Trailler) ...............................                        126
4-97  Alat Ukur Model Wenner ............................................................               129
4-98  Mengukur Tahanan Tanah dengan Earth Tester Analog ..........                                      130
4-99  Pengukuran dengan Earth Resistance Tester dan Persyaratan
     pengukuran tahanan tanah ........................................................                  131
4-100 Pengukuran dengan Tang Ground Tester Digital ....................                                 131
4-101 Pemasangan Multyple Grounding ............................................                        132
                                                                                                         C6

4-102   Penempatan Elektrode Pengukuran .........................................                        132
4-103   Diagram Satu Garis PHB-TR ...................................................                    135
4-104   Gambar Konstruksi Sistem Pembumian ...................................                           138
4-105   Perletakan 1 kabel tanah TR tiap 1 meter di bawah berm ........                                  142
4-106   Perletakan 2 kabel tanah TR tiap 1 meter di bawah berm ........                                  142
4-107   Perletakan 3 kabel tanah TR tiap 1 meter di bawah berm ........                                  143
4-108   Perletakan 4 kabel tanah TR tiap 1 meter di bawah berm ........                                  143
4-109   Perletakan 5 kabel tanah TR tiap 1 meter di bawah berm ........                                  144
4-110   Perletakan 6 kabel tanah TR tiap 1 meter di bawah berm .......                                   144
4-111   Perletakan 7 kabel tanah TR tiap 1 meter di bawah berm ........                                  145
4-112   Perletakan 8 kabel tanah TR tiap 1 meter di bawah berm ........                                  145
4-113   Perletakan 1 kabel tanah TR tiap 1 meter di bawah berm
        posisi penyebrangan .................................................................            146
4-114   Perletakan 1 kabel tanah TR tiap 1 meter di bawah berm
        posisi paralel .............................................................................     146
4-115   Perletakan 1 kabel tanah TR tiap 1 meter di bawah trotoar ......                                 147
4-116   Perletakan 2 kabel tanah TR tiap 1 meter di bawah trotoar ......                                 147
4-117   Perletakan 3 kabel tanah TR tiap 1 eter di bawah trotoar .........                               148
4-118   Perletakan 4 kabel tanah TR tiap 1 meter di bawah trotoar ......                                 148
4-119   Perletakan 5 kabel tanah TR tiap 1 meter di bawah trotoar ......                                 149
4-120   Perletakan 6 kabel tanah TR tiap 1 meter di bawah trotoar ......                                 149
4-121   Perletakan 7 kabel tanah TR tiap 1 meter di bawah trotoar ......                                 150
4-122   Perletakan 8 kabel tanah TR tiap 1 meter di bawah trotoar ......                                 150
4-123   Perletakan 1 kabel tanah TR tiap 1 meter di bawah trotoar
        posisi penyebrangan .................................................................            151
4-124   Perletakan 1 kabel tanah TR tiap 1 meter di bawah trotoar
        posisi peralel ..............................................................................    151
4-125   Perletakan 1 kabel tanah TR tiap 1 meter melintang jalan raya
        aspal (digali) ...............................................................................   152
4-126   Perletakan 2 kabel tanah TR tiap 1 meter melintang jalan raya
        aspal (digali) ...............................................................................   152
4-127   Perletakan 3 kabel tanah TR tiap 1 meter melintang jalan raya
        aspal (digali) ...............................................................................   153
4-128   Perletakan 4 kabel tanah TR tiap 1 meter melintang jalan raya
         aspal (digali) ..............................................................................   153
4-129   Perletakan 5 kabel tanah TR tiap 1 meter melintang jalan raya
        aspal (digali) ...............................................................................   154
4-130   Perletakan 6 kabel tanah TR tiap 1 meter melintang jalan raya
        aspal (digali) ...............................................................................   154
4-131   Perletakan 7 kabel tanah TR tiap 1 meter melintang jalan raya
        aspal (digali) ..............................................................................    155
4-132   Perletakan 8 kabel tanah TR tiap 1 meter melintang jalan raya
        aspal (digali) ...............................................................................   155
4-133   Perletakan 1 kabel tanah TR tiap 1 meter melintang jalan raya
        aspal (digali) posisi penyebrangan .............................................                 156
                                                                                                          C7

4-134 Perletakan 1 kabel tanah TR tiap 1 meter melintang jalan raya
      aspal (digali) posisi paralel .........................................................             156
4-135 Susunan struktur penanaman kabel tanah ...............................                              157
4-136 Pemasangan kabel tanah dengan pipa pelindung .....................                                  157
4-137 Cara meletakkan kabel tanah di dalam tanah galian .................                                 157
4-138 Ukuran dan penempatan untuk satu kabel dan dua kabel .........                                      157
4-139 Ketentuan umum sambungan pelanggan ..................................                               158
4-140 Ketentuan umum sambungan luar pelanggan ...........................                                 159
4-141 Konstruksi SLP 1 phasa jenis DX/ 3 phasa jenis QX pada STR
      tanpa isolasi dan berisolasi ……………………………………….                                                       160
4-142 Konstruksi SLP 1 phasa jenis DX/ 3 phasa jenis QX pada STR
      tanpa isolasi dan STR berisolasi ………………………………….                                                     160
4-143 Konstruksi SLP 1 phasa jenis DX/ 3 phasa jenis QX pada
      STR tanpa isolasi dan STR berisolasi ........................................                       161
4-144 Konstruksi SLP 1 phasa jenis DX/ 3 phasa jenis QX pada STR
      tanpa isolasi dan berisolasi ……………………………………….                                                       161
4-145 Konstruksi SLP 1 phasa jenis DX/ 3 phasa jenis QX pada STR
      tanpa isolasi dan berisolasi ……………………………………….                                                       162
4-146 Konstruksi SLP 1 phasa / 3 phasa jenis Twisted pada STR
      tanpa isolasi dan STR berisolasi .............................................                      162
4-147 Konstruksi SLP 1 phasa / 3 phasa jenis Twisted pada STR
        tanpa isolasi dan STR berisolasi …………………………………                                                    163
4-148 Konstruksi SLP 1 phasa / 3 phasa jenis Twisted pada
      STR tanpa isolasi dan STR berisolasi .......................................                        163
4-149 Konstruksi SLP 1 phasa jenis DX/ 3 phasa jenis QX
        padatiang atap .. .....................................................................           164
4-150 Konstruksi SLP 1 phasa jenis DX/ 3 phasa jenis QX pada
        titik tumpu dinding/tiang kayu ..................................................                 164
4-151 Konstruksi SLP 1 phasa jenis DX/ 3 phasa jenis QX pada titik
       tumpu dinding/tiang beton ........................................................                 165
4-152 Konstruksi SLP 1 phasa jenis DX/ 3 phasa jenis QX pada
      titik tumpu dinding/tiang kayu dan beton ...................................                        165
4-153 Konstruksi SLP 1 phasa, 3 phasa Jenis twisted pada tiang atap                                       166
4-154 Konstruksi SLP 1 phasa, 3 phasa jenis twisted pada titik tumpu
       dinding/tiang kayu dan beton ....................................................                  166
4-155 Konstruksi SLP 1 phasa, 3 phasa jenis twisted pada titik tumpu
       dinding/tiang kayu ......................................................................          166
4-156 Konstruksi SLP 1 phasa, 3 phasa jenis twisted pada titik tumpu
       dinding/tiang kayu ......................................................................          167
4-157 Konstruksi SMP dengan tiang atap untuk SR 1 phasa/3 phasa
       dengan SLP jenis DX/QX dan SMP jenis NYM/NYY di luar
        Bangunan ..................................................................................       167
4-158 Konstruksi SMP dengan tiang atap untuk SR 1 phasa/3 phasa
       dengan SLP jenis DX/QX dan SMP jenis NYM/NYY di luar
        Plapon ........................................................................................   169
                                                                                                     C8

4-159 Konstruksi SMP dengan titik tumpu untuk SR 1 phasa/3 phasa
      dengan SLP jenis DX/QX dan SMP jenis NYM/NYY di luar
      Bangunan ...................................................................................   169
4-160 Konstruksi SMP dengan titik tumpu untuk SR 1 phasa/3 phasa
      dengan SLP jenis DX/QX dan SMP jenis NYM/NYY di luar
      Bangunan ...................................................................................   170
4-161 Konstruksi SMP dengan tiang atap untuk SR 1 phasa/3 phasa
      tanpa sambungan jenis Twisted .................................................                171
4-162 Konstruksi SMP dengan tiang atap untuk SR 1 phasa/3 phasa
       tanpa sambungan jenis Twisted ..............................................                  172
4-163 Konstruksi SMP dengan tiang atap untuk SR 1 phasa/3 phasa
       tanpa sambungan jenis Twisted ..............................................                  172
4-164 Konstruksi SMP dengan titik tumpu untuk SR 1 phasa/3 phasa
       tanpa sambungan jenis Twisted ..............................................                  173
4-165 Pemasangan APP pelanggan TR 1 phasa/3 phasa dengan OK
       type I/III pada dinding yang telah ada pelindungnya ................                          173
4-166 Pemasangan APP pelanggan TR 1 phasa dengan OK type I
       dengan pelindung tambahan ...................................................                 174
4-167 Pemasangan APP pelanggan TR 3 phasa dengan OK type III
       dengan pelindung tambahan ....................................................                175
4-168 Pemasangan APP pelanggan TR 3 phasa pada Gd. Trafo Tiang                                       176
4-169 Pembagian daerah pengaruh arus bolak-balik (pada 50-60 hz)
       terhadap orang dewasa ...........................................................             184
4-170 Sistem Pentanahan TR ............................................................              189
4-171 Sistem Pentanahan PNP...........................................................               190
4-172 Kasus Putusnya Penghantar Netral pada Sistem PNP ...........                                   192
4-173 Macam-macam hubungan singkat ..........................................                        193
4-174 Pengaman Lebur Tabung Tertutup ..........................................                      195
4-175 Kurva leleh minimum dan kurva pemutusan maksimum dan
      pelebur tegangan rendah ..........................................................             198
4-176 Kurva leleh minimum dan kurva pemutusan maksimum dan
       pelebur tegangan rendah (230/400V) Berdasarkan rekomen-
       dasi IEC 269 – 2 ......................................................................       199
4-177 Kurva leleh minimum dan kurva pemutusan maksimum dan
       pelebur tegangan rendah (230/400V) Berdasarkan rekomen
       dasi IEC 269 – 2 ...................................................................          200
5-1 Pola sistem tenaga Listrik ………                      ………………………........                            202
5-2 Pola proteksi pada saluran udara tegangan menengah … ……                                          207
5-3 Pola proteksi pada saluran kabel tanah ......................................                    207
5-4 Pola proteksi pada pembangkit ...................................................                208
5-5 Aspek Pembumian pada JTM ...................................................                     208
5-6 Titik-titik pembumian pada jaringan ...........................................                  211
5-7 Aturan Penanaman Kabel ..........................................................                214
5-8 Pekerjaaan sebelum penanaman kabel .....................................                         216
5-9 Peletakan Kabel Tanah ...........................................................                217
5-10 Pengangkutan kabel tanah tegangan menengah dengan forklif ..                                    218
                                                                                                        C9

5-11 Alat pelindung dari seng ..............................................................            219
5-12 Saluran Kabel Tanah Tegangan Menengah ................................                             219
5-13 Penentuan Lintasan Kabel Tanah ................................................                    220
5-14 Lebar Galian dan Penanganan Kotak Sambungan .....................                                  220
5-15 Dasar lubang galian .....................................................................          220
5-16 Aturan Penamanan Kabel ............................................................                221
5-17 Jembatan Kabel ...........................................................................         221
5-18 Konstruksi khusus penanaman kabel .........................................                        222
5-19 Lintasan penyebrangan kabel tanah pada gorong-gorong/parit ..                                      222
5-20 Pekerjaan penanaman kabel …..................................................                      223
5-21 Buis Beton ...................................................................................     224
5-22 Konstruksi Penanaman Kabel Tanah ..........................................                        224
5-23 Pemasangan Kabel pada Jembatan Beton .................................                             225
5-24 Posisi/kedudukan kabel di dasar rak kabel .................................                        226
5-25 Penanganan dan Pengangkutan dengan Haspel .......................                                  227
5-26 Alat Penarik Kabel .......................................................................         227
5-27 Alat Penarik kabel (Grip) .............................................................            228
5-28 Roller untuk Kabel ......................................................................          228
5-29 Roll Penggelar Kabel ..................................................................            229
5-30 Dongkrak Kabel …........................................................................           229
5-31 Penarikan kabel TM dengan Roll dibelokan normal .....................                              229
5-32 Penarikan kabel TM Belokan Tajam ............................................                      230
5-33 Penggelaran Kabel .......................................................................          230
5-34 Persiapan Penyambungan Kabel ................................................                      231
5-35 Tutup / Dop Ujung Kabel .............................................................              231
5-36 Aturan galian penyambungan ………...........................................                          232
5-37 Penamaan Timah Label ................................................................              232
5-38 Pemasangan Lebel pada Kotak Sambung ...................................                            233
5-39 Alat Pembumian Kabel yang akan dipotong ................................                           233
5-40 Tutup Asbes ...............................................................................        234
5-41 Anyaman penghubung .................................................................               234
5-42 Alat Kerja Pembumian .................................................................             234
5-43 Jarak aman antara kereta api dengan tiang ................................                         237
5-44 Jarak aman antara SUTT dan SUTM ..........................................                         238
5-45 Jarak aman antara Menara SUTT dan SUTM .............................                               238
5-46 Jarak aman antara SUTR dan SUTM ..........................................                         239
5-47 JTM 3 fasa 20 kV Menggunakan tiang besi/beton Pin type
      insulator & kawat AAAC/AAAC-S per kms jarak gawang 50
      meter (sistem 3 kawat) ................................................................           244
5-48 JTM 3 fasa 20 kV Menggunakan tiang besi / beton Pos type
       insulator & kawat AAAC/AAAC-S per kms jarak gawang 50 meter
      (sistem 3 kawat) ...........................................................................      245
5-49 JTM 3 fasa 20 kV Menggunakan tiang besi / beton dengan kabel
      udara Twisted 20 kV per kms jarak gawang 50 meter (sistem
      3 & 4 kawat) ..................................................................................   246
                                                                                                         C10

5-50 JTM 3 fasa 20 kV Menggunakan tiang besi / beton Pin type
     insulator & kawat AAAC / AAAC-S per kms jarak gawang
     50 meter (sistem 4 kawat) ............................................................              247
5-51 JTM 3 fasa 20 kV Menggunakan tiang besi / beton Pos type
     insulator & kawat AAAC/ AAAC-S per kms jarak gawang
     50 meter (sistem 4 kawat) ............................................................              248

5-52 JTM 1 fasa 20 kV Menggunakan tiang besi/ beton Pin type
      insulator & kawat AAAC / AAAC-S per kms jarak gawang
      50 meter .......................................................................................   249
5-53 JTM 1 fasa 20 kV Menggunakan tiang besi/beton Post
      type insulator & kawat AAAC / AAAC-S per kms jarak
      gawang 50 meter ........................................................................           250
5-54 Konstruksi tiang penyangga (TM-1) ............................................                      251
5-55 Konstruksi tiang penyangga ganda (TM-2)..................................                           251
5-56 Konstruksi tiang tarik akhir (TM-4) ..............................................                  252
5-57 Detail rangkaian isolator tarik/gantung ........................................                    252
5-58 Konstruksi tiang penegang (TM-5) ..............................................                     253
5-59 Konstruksi tiang penegang dengan Cut Out Switch pada tiang
     akhir lama (TM-4XC) ..................................................................              253
5-60 Konstruksi tiang tarik ganda (TM-5) ...........................................                     254
5-61 Konstruksi penegang dengan Cut Out Switch (TM5C) ..............                                     254
5-62 Konstruksi Percabangan tiang penyangga dan tarik (TM8) ........                                     255
5-63 Konstruksi Tiang sudut (TM10) ..................................................                    255
5-64 Konstruksi tiang sudut dilengkapi Cut Out Switch (TM10C) ……                                         256
5-65 Konstruksi portal dua tiang (TMTP2) ..........................................                      256
5-66 Konstruksi portal tiga tiang (TMTP3) .........................................                      257
5-67 Konstruksi sudut portal dua tiang (TMTP2A) ..............................                           257
5-68 Konstruksi sudut portal tiga tiang (TMTP3A) ..............................                          258
5-69 Konstruksi tiang akhir dengan pemasangan kabel tanah (TM11)                                         258
5-70 Konstruksi Guy Wire (GW) .........................................................                  259
5-71 Strut Pole (SP) ............................................................................        260
5-72 Horizontal Guy Wire (HGW) ………………………………………..                                                         260
5-73 Pemasangan Cross Arm double Tumpu pada Tiang Beton Bulat                                            261
5-74 Pemasangan Cross Arm double Tumpu pada Tiang Beton H ....                                           262
5-75 Pemasangan Cross Arm Tention Support 2000 mm pada Tiang
     Beton Bulat ..................................................................................      263
5-76 Pemasangan Cross Arm Tention Support 2000 mm pada Tiang
     Beton H ………………………………………………………………                                                                    264
5-77 Pemasangan Cross Arm Tention Support 2200 mm Double Pole
     pada Tiang Beton Bulat …………………………………………….                                                           265
5-78 Pemasangan Cross Arm Tention Support 2200 mm Double Pole
     pada Tiang Beton H …………………………………………………                                                              266
5-79 Pemasangan 2 X Tention Support 2200 mm Diatas Dua Tiang..                                           267
5-80 Pemasangan 2 X Tention Support 2200 mm Diatas Dua Tiang
     Beton H ......................................................................................      268
                                                                                                         C11

5-81 Pemasangan 2 X ½ Tention Support 2000 mm pada Tiang Beton
      Bulat sudut ± 90o ............................................................................     269
5-82 Pemasangan 2 X ½ Tention Support 2000 mm pada Tiang Beton
      H sudut ± 90o .................................................................................    270
5-83 Pemasangan Cross Arm 2 x T- Off pada Tiang Beton bulat ......                                       271
5-84 Peralatan Pengait untuk komunikasi Pembawa (PLC) ...............                                    276
5-85 Peralatan Pengait (Coupling Equipment). dalam Gardu.
     A: Jebakan Saluran (Line Trap) B: Kapasitor Pengait
     (Coupling Capacitor) C: Penyaring Pengait (Coupling Filter) ……                                      277
5-86 Sistem Rangkaian Transmisi dengan Pembawa (PLC) ................                                    278
5-87 Contoh Peralatan Radio ………………………………………………                                                           281
5-88 Contoh Sistem Komunikasi Radio Mobil untuk Pemeliharaan
      Saluran ........................................................................................   283
5-89 Lintasan Gelombang Mikro yang dipantulkan oleh reflektor Pasif.                                     285
5-90 Reflektor Pasif (A) dan Antena Parabola (B) Gelombang Mikro
      (Panah menunjukkan Lintasan Gelombang .................................                            285
5-91 Penghitungan Kapasitas Baterai ...................................................                  287
5-92 Lengkung Pelepasan Baterai .......................................................                  287
6-1 Bentuk lemari dengan bagian yang dapat ditarik keluar ...............                                291
6-2 Busbar tipe terbuka (pandangan depan) ......................................                         291
6-3 Salah satu contoh Busbar tipe tertutup (Kubikel) .........................                           292
6-4 PHB/Gardu terbuka ......................................................................             293
6-5 PHB TR (Out Door) ......................................................................             293
6-6 Rangkaian Utama, Pengukuran & Kontrol PHB TR. ...................                                    294
6-7 PHB-TR Dua Jurusan dan Empat Jurusan ................................                                295
6-8 Konstruksi PHB-TR type berdiri (Standing) ..................................                         296
6-9 Diagram Pengawatan PHB-TR ....................................................                       297
6-10 Pemeriksaan titik sambungan dengan Thermavision ..................                                  299
6-11 Pelaksanaan Pemeliharaan Salah Satu Komponen PHB TR ......                                          300
6-12 Diagram Segaris Gardu Trafo Tiang (GTT) ................................                            300
6-13 Pemasangan PHB-TR pada Gardu ............................................                           301
6-14 Diagram Satu Garis PHB-TR Gardu Tiang Trafo .......................                                 302
6-15 Pemasangan PHB-TR pada Gardu Control ...............................                                302
6-16 Rangkaian Dasar Trafo ..............................................................                305
6-17 Diagram Arus Penguat ...............................................................                306
6-18 Rangkaian Trafo Berbeban .........................................................                  307
6-19 Detail Load Break Switch ………………………………………….                                                          318
6-20 Ruang Kontak Kontrol Load break switch ...................................                          323
6-21 Panel Perlengkapan Load break switch …………………………..                                                   323
6-22 Menghubungkan Kabel ……………………………………………..                                                             327
6-23 Melepaskan Kabel Kontrol ..........................................................                 329
6-24 Pengujian Load Break ……………………………………………..                                                            329
6-25 Terminal TeganganTinggi ..........................................................                  330
6-26 Sambungan Suplai Tegangan Rendah …………………………..                                                       331
6-27 Sambungan Kabel Ujung ………………………………………….                                                             332
6-28 Suplai Tegangan Rendah dan Terminal Grounding ……………                                                 332
                                                                                                       C12

6-29   Gabungan Kabel supplai dari Terminal Trafo ...........................                          333
6-30   Daerah pengamanan gangguan ...............................................                      337
6-31   SUTM dalam keadaan gangguan satu kawat ke tanah ............                                    343
6-32   SUTM dalam keadaan gangguan 2 kawat ke tanah ..................                                 343
6-33   SUTM dalam keadaan gangguan 3 kawat ke tanah .................                                  344
6-34   Penempatan Rele Pengaman pada Jaringan Radial ................                                  359
6-35   Koordinasi Pengaman pada Jaringan Radial ............................                           350
6-36   Koordinasi Pengaman pada Jaringan Loop ..............................                           351
6-37   Koordinasi PBO, SSO dan FCO ................................................                    351
6-38   Penempatan PMT, PBO, PL dan SSO pada pangkal saluran
       cabang jaringan TM ....................................................................         353
6-39   Penempatan PMT dan PL pada jaringan Spindel SKTM (PMT
       tanpa PBO) Pola 2 ......................................................................        354
6-40   Penempatan PMT, PBO, PL , SSO serta Saklar Tuas (ST) .......                                    355
6-41   Penempatan PMT, SSO, ST, FCO pada SUTM ........................                                 356
6-42   Penempatan Arester, PL dan PMT pada SUTM ........................                               357
6-43   Sambaran petir pada SUTM .......................................................                358
6-44   Kondisi I dan II dari Jaringan Distribusi ......................................                368
6-45   Muatan sepanjang tepi awan menginduksikan muatan lawan
        pada bumi ..................................................................................   359
6-46   Lidah petir menjalar ke arah bumi ..............................................                359
6-47   Kilat sambaran balik dari bumi ke awan .....................................                    360
6-48   Kumpulan muatan pada SUTM ..................................................                    360
6-49   Gelombang tegangan uji impuls 1,2 x 50 mikro detik ..................                           362
6-50   Skema Sambaran Petir yang Dialihkan Arrester ke Tanah ..........                                364
6-51   Pengamanan dengan arrester tanpa interkoneksi terminal
       Pentanahan ..................................................................................   365
6-52   Pengamanan dengan arrester dan interkoneksi ke terminal
        pentanahan (solid) .......................................................................     365
6-53   Pengamanan dengan arrester dan interkoneksi pentanahan
       melalui celah (gap) .......................................................................     365
6-54   Hubungan arrester pada sistem bintang yang diketanahkan                                         366
6-55   Pemakaian arrester pada sistem delta ........................................                   366
6-56   Hubungan arrester yang direkomen-dasikan untuk sisi beban
       di bagian primer pelebur (PL) ......................................................            367
6-57   Tegangan pada SKTM akibat sambaran petir pada SUTM .......                                      368
6-58   Penghantar putus sehingga arus mengalir ke tanah ...................                            359
6-59   Kegagalan sambungan kawat pada terminal trafo .....................                             370
6-60   Bushing trafo pecah ...................................................................         370
6-61   Perangkat Relai Pengaman Arus Lebih .....................................                       370
6-62   Diagram satu garis pengaman JTM ............................................                    371
6-63   Pengawatan pengaman dengan relai OCR ...............................                            371
6-64   Diagram pengawatan AC dengan kontrol DC dari OCR/GFR
       (Metoda 2 OCP) ..........................................................................       372
                                                                                                            C13


                        DAFTAR TABEL
Tabel                                                                                            Halaman

 2-1    Penggolongan tarif tenaga listrik ...............................................                    49
 2-2    Nilai g untuk bermacam-macam jenis beban ………….……….                                                   51
 2-3    Daya hantar arus AAAC & XLPE cable TR ...............................                                54
 3-1    Jenis Pembatas dan Penggunaannya …………………..………                                                        63
 3-2    Contoh Data Teknik Pemutus Tenaga (MCB) ..........................                                   63
 3-3    Arus Mula .................................................................................          80
 3-4    Batas Kesalahan Presentase yang Diijinkan ………………......                                               81
 4-1    Memilih Panjang Tiang ..............................................................                 94
 4-2    Batas minimum penggunaan tiang beton Pada jaring SUTR–
        TIC khusus ...............................................................................           95
 4-3    Spesifikasi kabel LVTC .............................................................                 99
 4-4    Tahanan Jenis Tanah ...............................................................                 127
 4-5    Nilai rata-rata Tahanan Elektrode Bumi .................................                            128
 4-6     Ukuran galian tanah untuk beberapa pipa beton .....................                                157
 4-7     Daftar material konstruksi SMP dengan tiang atap dan titik
        tumpu untuk SR 1 phasa/3 phasa dengan SLP jenis DX/QX dan
        SMP jenis NYM/NYY................................................................                   168
 4-8     Daftar material konstruksi SMP dengan tiang atap/titik tumpu
        untuk SR 1 phasa/3 phasa tanpa sambungan jenis Twisted....                                          171
 4-9    Tegangan sentuh yang aman sebagai fungsi dari waktu ..........                                      185
 4-10   Tahanan tubuh sebagai fungsi dari tegangan sentuh ..............                                    185
 4-11    Kuat Hantar Arus Pangeman Lebur .........................................                          196
 4-12    KHA Penghantar Tembaga A2C dan A3C ...............................                                 197
 4-13    Rekomendasi pemilihan arus pengenal pelebur 24 kV jenis
        letupan (Publikasi IEC 282-2 (1970). NEMA disisi primer
        berikut pelebur jenis pembatas arus (publikasi IEC 269-2
        (1973)(230/400V) disisi sekunder yang merupakan pasangan
        yang diserahkan sebagai pengaman trafo distribusi.................                                  197
 4-14   Persamaan kurva ketahanan untuk bermacam-macam jenis
         isolasi ........................................................................................   201
 5-1     Momen listrik kabel dan hantaran udara TM (20kV) pada beban
        diujung penghantar dengan susut tegangan 5% .........................                               212
 5-2    Pemilihan Kekuatan Tiang Ujung Jaring Distribusi Tegangan
         Menengah ……………………………………………………………..                                                                 240
 5-3     Jenis-jenis Fasilitas Komunikasi ................................................                  272
 5-4     Karakteristik dan Struktur Kabel Telekomunikasi ......................                             275
 5-5     Contoh spesifikasi Peralatan Pembawa Saluran tenaga ..........                                     279
 5-6     Contoh spesifikasi Peralatan Radio ..........................................                      280
 6-1     Material Pemeliharaan GTT ......................................................                   310
 6-2     Tabel Daya dan Arus Fuse Link ..............................................                       313
 6-3     Tabel Daya dan Arus Fuse Link ...............................................                      314
 6-4     Kabel standar ...........................................................................          317
 6-5     Panduan Pengujian Switchgear ...............................................                       336

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Tags:
Stats:
views:380
posted:5/29/2012
language:Malay
pages:234