Makalah Wadiah, Salam, Dhaman

Document Sample
Makalah Wadiah, Salam, Dhaman Powered By Docstoc
					                                      Wadi’ah, Salam dan Dhaman


Bab Jual Beli secara Salam
        Jual beli secara salam         adalah jual beli dalam penyifatan barang dalam akad yang
penyerahan barangnya kemudian sesuai dengan kesepakatan. Dengan kata lain, serah terima
dengan akada lampau. Dikatakan: “aslama” meminjamkan: “aslafa“ pinjaman tanpa bunga
:”salafun” , dia adalah salah satu jenis jual beli dengan akad yang sama seperti layaknya jual
beli, akan tetapi dengan akad serah terima kemudian. Syaratnya pun sama seperti jual beli
lainnya. Jual beli seperti ini diolehkan dengan dalil dari kitab, sunnah dan ijma’.
Adapun dalil dari kitab adalah Firman Allah Ta’ala yang artinya:
“Hai orang-orang yang beriman,apabila kamu bermu’amalah tidak dengan cara yang tunai
untuk waktu yang ditentukan, hendaklah kamu menuliskannya”. (Qs. Al Baqarah [2]: 282).1
        Adapun dalil dari Ijma’ yang membolehkan salam adalah apa yang dikatakan oleh Ibnu
Al Mundzir, “ menurut Ijma’ para ulama, jual beli secara salam itu boleh, karena harga dalam
jual beli menjadi salah satu pengganti dari akad tersebut”. Diperbolehkan menetapkan besarnya
harga barang pada saat akad, karena orang lain membutuhkan itu, sedangkan pemilik tanaman
dan buah-buahan serta penjualnya membutuhkan nafkah atas dirinya dan akad jual beli harus
sempurna. Diperbolehkan bagi mereka untuk menjual secara salam untuk kebutuhan umum,
demi menciptakan harga yang terjangkau dari kebutuhan tersebut.2
Syarat jual beli secara salam
Jual beli salam tidak sah kecuali dengan syarat:
    1. Barang itu boleh dibatasi dengan menyebut sifat
        Kalimat salam dan salaf itu sama artinya. Akad ini dinamakan salam karena orang yang
        memesan barang itu sanggip menyerahkan modal uang di majlis akad. Dinamakan salaf
        karena pemesan telah terlebih dahulu telah menyerahkan uang harganya.3
    2. Barang tersebut harus jelas sifatnya sehingga bisa dibedakan secara lahiriyah.
        Contohnya: jual beli secara salam pada benih, buah-buahan, tepung, pakaian, sutera,
        kapas, linen, wool, gandum, kertas, besi, timah, kuningan, baja, perkakas, minyak wangi,

1
  Ibnu Qudamah, Al Mughni pembahasan tentang : sifat Haji dan Jual Beli (Jakarta : Pustaka Azzam, 2008) hlm. 851
2
  Ibid, hlm. 852. Lihat Ibnu Mundzir dalam kitab Al Ijma’ hlm. 106.
3
  Imam Taqiyuddin Abu Bakar bin Muhammad Husaini,Kifayatul Akhyar (kelengkapan orang shalih) (Surabaya :
2007) hlm. 571.
        perhiasan, cat, minyak hewani, susu, air raksa, tawas, korek api, celak mata dan semua
        barang yang ditimbang dan ditakar atau ditanam. Hadits tentang buah-buahan dan hadis
        dari Ibnu Abi Aufa dalam masalah gandum, kismis dan minyak sertaIjma’ para ulama
        menyatakan bolehnya jual beli secara salam pada makanan. Menurut Ijma’ juga, boleh
        menjual pakaian secara salam, hal ini dinyatakan Ibnu Al Mundzir.4
                 Tidak sah jual beli secara salam pada barang yang tidak jelas sifatnya, seperti
        perhiasan dari mutiara, Yaqut, Fairuz, Zabarjadah, Aqiq dan Balwar. Semua harganya
        jelas berbeda, tergantung dari besar- kecil, keelokan bentuk, kadar warna serta kadar
        kemurniannya, sedangkan semua itu tidak dapat diukur seperti dengan putihnya bulu
        burung dan lain sebagainya. Inilah pendapat Asy-Syafi’I dan Ashhab Ar-Ra’yi.
                 Tidak sah jual beli secara salam pada barang yang tercampur dengan sengaja
        tanpa bisa dibedakan, seperti Al-Ghaliah dan An-Naddi 5, pasta yang digunakan sebagai
        obat ol;eh orang yang tidak faham, hewan yang hamil, tempat minum dari emas yang
        berbeda kepala dan diameternya. Karena semua barang tersebut tidak dapat ditetapkan
        sifatnya. Ada pendapat lain dari barang di atas yang membolehkan jual beli secara salam
        , jika perbedaan kadar tinggi, diameter atas dan bawahnya tidak begitu signifikan.
                 Tidak sah jual beli secara salam pada dirham palsu yang tercampur dengan kayu,
        Al-Qarn6, tebu dan         At-Tuz7 , jika semua itu tidak dapat ditetapkan kadarnya dan
        dibedakan. Ada yang mengatakan dalam hal itu boleh, akan tetapi apa yang disebutkan di
        atas lebih afdhol. Al Qadhi berkata, barang yang tercampur itu dibedakan menjadi empat
        jenis:
                 Pertama, tercampur dengan sengaja dan dapat dibedakan. Seperti, pakaian, dan
        kain dari kapas, linen dan wool. Maka dibolehkan jual beli secara salam di dalamnya
        karena semua mungkin ditetapkan kadarnya.
                 Kedua, barang yang dicampur untuk kemaslahatannya, dan tidak dengan maksud
        tersendiri. Seperti, bau haru dalam keju, garam dalam adonan dan roti, serta air dalam




4
  Ibid, hlm. 853. Lihat Ibnu Mundzir dalam kitab Al Ijma’ hlm. 106.
5
  Al-Ghaliah adalah minyak wangi campuran, seperti minyak kasturi dan anbar.
  An-Naddi adalah kayu gaharu.
6
  Al-Qarn adalah tali yang dipintal dari kulit pohon
7
  At-Tuz adalah jenis pohon
        cuka, kurma dan kismis. Maka dibolehkan jual beli secara salam, karena semua itu demi
        kemaslahatannya.
                 Ketiga, barang yang dicampur dengan sengaja dan tidak dapat dibedakan dari
        campurannya itu. Seperti Al-Ghaliah, An-Nidd, dan pasta. Karena tidak dapat disebutkan
        sifatnya secara jelas, maka jual belinya secara salam tidak sah.
                Keempat, barang yang tercampur secara tidak sengaja dan tidak mempunyai
        maslahat di dalamnya. Seperti susu yang tercampur dengan air. Maka tidak sah jual
        belinya secara salam.8
    3. Diantara syarat sah nya akad salam ialah muslam fih (barang yang dipesan) harus berupa
        dain (hutang), yakni berada pada tanggungan, kartena ketetapan salam hanya berlaku atas
        apa yang ada pada tanggungan.9
    4. Sesudah muslim (orang yang memesan) menyebut jenis dan macam-macamnya muslam
        fih (barang yang dipesan) harus menyebut nama sifat-sifat yang dengan sifat-sifat itu kan
        berbeda-beda harganya, dam          muslim (pemesan) harus menyebut kadarnya dengan
        kejelasan yang dapat menghilangkan kekeliruan atau ketidak tahuan dari muslam fih (
        yang dipesan).10
    5. Salam itu jika mu’ajjal, pemesan hendaknya menyebut waktu penyerahannya barang
        yang dipesan, dan barang itu harus ada pada waktu penyerahan menurut kebiasaan dan
        pemesan harus menyebut tempat menerima barang yang dipesan itu.
                Ketahuilah, bahwa permintaan ganti barang yang dipesan dengan akad salam itu
        tidak boleh, seperti halnya tidak boleh menjualnya, karena permintaan ganti itu nama jual
        sebelum diterima. Jual barang sebelum diterima barangnya itu dilarang.11




8
  Ibnu Qudamah, op.cit, hlm. 854
9
  Imam Taqiyuddin Abu Bakar bin Muhammad Husaini,op.cit. hlm. 575
10
   Ibid, hlm. 575-576
11
   Ibid, hlm. 579.
Perihal Dhaman (Jaminan)
          Sah hukumnya menjamin hutang yang telah tetap, jika diketahui kadar (banyak
sedikitnya). Orang yang mempunyai hak dapat menagih pembayaran kepada dhammin
(penjamin) dan dapat pula menagih madhmun ‘anhu (orang yang di jamin), apabila jaminan itu
sesuai dengan apa yang di terangkan.
          Dhaman ialah mengumpulkan suatu tanggungan kepada tanggungan yang lain. Yang
lebih dikatakan, dhaman ialah menyanggupi hak orang lain, sehingga hal itu dapat mencakup
mendatangkan orang yang berkewajiban melunaskan hak orang lain, jika ia menyanggupinya.
Orang yang menjamin itu dinamakn dhaamin, dhamiin, kafiil, za’iin dan hamiil. Yang menjadi
dalil berlakunya dhaman (jaminan) ialah kitab Al-Quran , Ass-sunnah dan ijma’ ummat. Firman
Allah swt dalam Qs. Yusuf ayat 72, yang artinya: “ dan barang siapa yang dapat mendatangkan
takaran emas Raja Yusuf, akan memperoleh bahan makanan seberat muatan unta, dan akulah
yang menjaminnya”. Rosulullah saw bersabda: “barang pinjaman harus dikembalikan, dan orang
yang menjamin harus membayar”.12
          Syarat sahnya dhaman (jaminan) ialan dhamin ( penjamin) harus mengetahui madhmun-
lahu (orang yang diberikan jaminan) menurut qoul asokh sebab manusia itu berlain-lainan
dalam hal penagihan hutang, ada yang halus tindakannya dan ada pula yang keras, sedangkan
tujuan manusia pula berbeda-beda dalam masalah penjaminan, karena itulah menjamin tanpa
mengenal apa bendanya yang dijamin adalah mengandung gharar (penipuan).
Tidak disyaratkan harus mengenal madhmun ‘anhu (orang yang dijamin) menurut qoul yang
asokh, dan tidak disyaratkan mengetahui tentang kehidupannya, tanpa ada khilaf, sebagaimana
tidak disyaratkan juga keridhoannya tanpa ada khilaf.
          Adapun hutang itu disyaratkan harus telah tetap (lazim) pada waktu penjaminannya
karena itu menjamin hutang yang belum tetap, hukumnya tidak sah, walaupun sebab tetapnya
hutang itu terus berlangsung. Seperti menjamin nafkah seorang istri pada hari esok. Hutang
disyaratkan harus telah tetap (lazim), atau akan menjadi tetap, tetapi tidak disyaratkan harus
istiqrar atau tidak dapat gugur. Contoh hutang yang akan menjadi tetap, seperti harga barang
pada masa khiyar.
          Adapun uang ju’alah (upah) sebelum selesai kerja, sebagian ulama ada yang mengatakan
sah dijamin, sebab uang ju’alah itu akan tetap. Menurut qoul yang shahih, tidakn sah

12
     Imam Taqiyuddin Abu Bakar bin Muhammad Husaini,op.cit. hlm. 616
menjaminnya, sebab tidak wajib (lazim) seketika itu dan tidak akan menjadi tetap, sebab orang
yang mengupah itu tidak berkuasa untuk memaksa orang yang bekerja supaya bekerja terus,
sehingga menyempurnakan pekerjaannya. Jadi masalah ini serupa dengan akad kitabah.
Demikianlah penta’lilan Al-Qhadi Abu Toyyib, dan ta’lil agak lemah.
           Hutang yang dijamin juga disyaratkan harus maklum (diketahui kadarnya) tidak sah
menjamin hutang yang majhul (tidak diketahui jumlahnya). Misalnya seseorang berkata: aku
menjamin pembayaran harga barang yang kamu jual kepada si fulan! Sedangkan ia tidak
mengetahui harga barang itu, padahal untuk mengetahui harga barang yang dijual itu merupakan
perkara yang mudah. Tetapi ada sebagian ulama mengatakan sah, seandainya seseorang itu
berkata: aku menajamin apa saja yang menjadi hak kamu pada si fulan! Maka jaminan yang
sedemikian itu tidak sah tanpa ada khilaf.13
           Ketahuilah, baha perselisihan pendapat mengenai keabsahan menjamin hutang yang tidak
diketahui jumlahnya juga berlaku atas keabsahan membebaskan hutang yang tidak diketahui
kadarnya. Khilaf itu terjadi karena adanya perbedaan pendapat mengenai kedudukan pembebasan
hutang (bara’ah) apakah hal itu merupakan pemberian milik ataukah pengguguran hak milik.
Jika kita mengatakan baha bara’ah (pembebasan hutang )itu adalah pemberian hak milik, yaitu
qoul yang shahih, maka membebaskan hutang yang tidak diketahui jumlah itu adalah tidak sah.
Sedang jika kita mengatakan baha pembebasan hutang yang majhul (tidak diketahui kadarnya )
itu merupakan pengguguran hak milik maka pembebasan hutang yang majhul itu adalah sah.
Apabila dhaman (jaminan) telah sah dengan memenuhi syarat-syaratnya maka orang yang
mempunyai hak dapat menuntut orang yang berhutang dan dapat juga menagih orang yang
menjamin.14
           Apabila dhamin (penjamin) telah membayar hutangnya , dia boleh menarik kembali
jaminannya,dan pembayaranya itu mendapat izin dari orang yang dijamin. Apabila seseorang
menjamin hutang orang lain dan hutang itu telah ia bayar, apakah penjamin dapat menarik
kembali hartanya dari orang yang di jamini? Dalam hal ini harus di lihat dulu. Jika penjamin
dalam menjamin hutang itu dengan ijin orang yang dijamin maka penjamin dapat menarik
kembali hartanya itu dari orang yang dijaminnya, sebab penjamin mengeluarkan uangnya itu
kemanfaatan orang yang dijaminnya dengan ijinnya. Jadi masalahnya serupa dengan orang yang


13
     Ibid, hlm. 617-618
14
     Ibid, hlm. 619
mengatakan: berilah makan binatangku ini! Kemudian orang yang ditujukan bicara itu
memberikan binatang itu, maka ia dapat meminta kembali harga makanan untuk binatang tadi.
Dalam kitab Al-hali dijelaskan bahwa penjamin tidak dapat menarik kembali hartanya, kecuali
jika ada syarat menarik kembali.
           Jadi jika tidak ada ijin dalam dhaman (jaminan) atau dalam membayar hutang, dhamin
(penjamin) tidak dapat menarik kembali apa yang dia bayar, sebab tindakannya tiu semata-mata
merupakan suatu kebajikan.
           Jika orang yang dijamin itu memberi ijin dalam jaminan saja, si penjamin dapat menarik
kembali haknya menurut qoul yang rajah, sebab penjamin adalah mewajibkan membayar, jadi
ijin orang yang di jamin dalam jaminan itu berarti memberi ijin terhadap apa yang
ditimbulkannya, yaitu pembayaran hutang.
           Jika sipenjamin hutang tanpa ada izin orang yang di jamin, dan membayar hutang orang
itu dengan mendapat izinnya, menurut qoul yang rajih, si penjamin tidak boleh menarik kembali
haknya, sebab kewajiban membayar hutang itu, yang menjadi sebabnya adalah jaminan,
sedangkan orang yang dijamin tidak member izin terhadap jaminannya itu.15
           Tidak sah menjamin hutang yang tidak diketahui jumlahnya (majhul), dan tidak sah
menjamin hutang yang tidak wajib kecuali darkul mabi’I (menjamin hutang pembayaran barang
yang masih dijual).
           Dhaman majhul atau menjamin hutang yang tidak diketahui jumlahnya tidak sah
hukumnya, sebab mengandung unsur gharar (penipuan), sedangkan gharar atau penipuan
adalah dilarang.
           Adapun menjamin hutang yang belum tetap tidak sah juga, sebab jaminan itu adalah
untuk menetapkan hak, oleh karena itu tidak boleh jaminan itu mendahului sebelum tetapnya
hak, sebagaimana halnya dengan persaksian.
Sebagai gambarannya misalnya, seseorang berkata pada kawannya: jualah barang ini kepada si
fulan, dan saya menjamin harganya! Ataupun katanya: hutangilah barang ini kepada si fulan, dan
saya menjamin gantinya!.16




15
     Ibid, hlm. 621
16
     Ibid, hlm 624

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Tags:
Stats:
views:254
posted:5/29/2012
language:Indonesian
pages:6