LAPORAN SINUSITIS
Document Sample


ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN DENGAN SINUSITIS
LAPORAN KELOMPOK
Fasilitator Husnul Mubarok, S.Kep,Ns
Oleh Kelompok 2:
1. Nur Vadhillah
12.
Agus Eko Biantoro
2. Desta Nurwahyu 13. Yeni Desi Rahmawati
3. Tiara Putri Ryandini 14. Yudik Tri Okta
4. Wazirotul Ummah 15. Wahyu Puji Lestari
5. Firman Nur Rahman 16. Evi Ainur R
6. Ani Nur Lina 17. Irine Devi Meliana
7. Yupiter Utami 18. Suroso Efendi
8. Lailatur Rosida 19. Yoga Hardani P
9. Arif Robbul Izzati 20. Eko Remon Karisma
10. Zuliatin Rofiqoh 21. Moh. Mas Fuad
11. Siti Lailiyatus Sholihah 22. Andrian Eka S.
PROGRAM STUDI S-1 KEPERAWATAN
SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN NAHDLATUL ULAMA
TUBAN
2012
KATA PENGANTAR
Puji syukur alhamdulillah senantiasa Penulis panjatkan atas kehadirat Allah SWT atas
segala limpahan rahmat, hidayah, dan karunia-Nya, sehingga Penulis dapat menyelesaikan
laporan yang berjudul “Asuhan Keperawatan pada Klien dengan Sinusitis” dengan baik dan
lancar.
Laporan ini Penulis sajikan secara sistematis agar mudah dipahami oleh pembaca.
Dengan penyusunan laporan ini, Penulis berharap dapat membantu pembaca untuk
mempermudah dalam mempelajari materi ini sesuai dengan judul laporan yang telah
ditentukan.
Penulis menyadari benar bahwa masih terdapat kekurangan-kekurangan di dalam
penyusunan laporan ini. Oleh karena itu, kritik dan saran yang sifatnya membangun dari
setiap pembaca sangat kami harapkan demi kesempurnaan pada pembuatan laporan
kelompok selanjutnya. Semoga laporan yang sangat sederhana ini dapat bermanfaat bagi
para pembaca.
Akhir kata Penulis ucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu
terwujudnya laporan ini, terutama kepada Bapak Husnul Mubarok, S. Kep, Ns. selaku dosen
fasilitator SGD SPS (Sensory Perception System) serta kepada Allah SWT jualah diserahkan
atas segala sesuatunya.
Tuban, 16 Maret 2012
Penulis
BAB I
PENDAHULUAN
1. 1 Latar Belakang
Berdasarkan judul laporan ini, maka Penulis akan menjabarkan tentang latar
belakang sebagai berikut :
Asuhan keperawatan adalah suatu proses keperawatan dalam mengasuh klien untuk
memaksimalkan kesehatan klien.
Sinusitis merupakan penyakit yang sangat lazim diderita di seluruh dunia, hampir
menimpa kebanyakan penduduk Asia. Penderita sinusitis bisa dilihat dari ibu jari bagian atas
yang kempot. Sinusitis dapat menyebabkan seseorang menjadi sangat sensitif terhadap
beberapa bahan, termasuk perubahan cuaca (sejuk), pencemaran alam sekitar, dan
jangkitan bakteri. Gejala yang mungkin terjadi pada sinusitis adalah bersin-bersin terutama
di waktu pagi, rambut rontok, mata sering gatal, kaki pegal-pegal, cepat lelah dan asma. Jika
kondisi ini berkepanjangan akan meimbulkan masalah keputihan bagi perempuan, atau
ambeien (gangguan prostat) bagi laki-laki.
Menurut Lucas seperti yang di kutip Moh. Zaman, etiologi sinusitis sangat kompleks,
hanya 25% disebabkan oleh infeksi, sisanya yang 75% disebabkan oleh alergi dan
ketidakseimbangan pada sistim saraf otonom yang menimbulkan perubahan-perubahan
pada mukosa sinus. Suwasono dalam penelitiannya pada 44 penderita sinusitis maksila
kronis mendapatkan 8 di antaranya (18,18%) memberikan tes kulit positif dan kadar IgE total
yang meninggi. Terbanyak pada kelompok umur 21-30 tahun dengan frekuensi antara laki-
laki dan perempuan seimbang. Hasil positif pada tes kulit yang terbanyak adalah debu rumah
(87,75%), tungau (62,50%) dan serpihan kulit manusia (50%).
Sebagian besar kasus sinusitis kronis terjadi pada pasien dengan sinusitis akut yang tidak
respon atau tidak mendapat terapi. Peran bakteri sebagai dalang patogenesis sinusitis kronis
saat ini sebenarnya masih dipertanyakan. Sebaiknya tidak menyepelekan pilek yang terus
menerus karena bisa jadi pilek yang tak kunjung sembuh itu bukan sekadar flu biasa.
Oleh karena faktor alergi merupakan salah satu penyebab timbulnya sinusitis, salah satu
cara untuk mengujinya adalah dengan tes kulit epidermal berupa tes kulit di mana tes ini
cepat, simpel, tidak menyakitkan, relatif aman dan jarang menimbulkan reaksi anafilaktik.
1. 2 Batasan Topik
Berdasarkan latar belakang di atas, maka terdapat beberapa batasan topik sebagai
berikut :
1. Bagaimana konsep dasar penyakit Sinusitis itu?
2. Bagaimana konsep anatomi fisiologi sensory perception system pada Sinusitis?
3. Bagaimana patofisiologi atau perjalanan penyakit Sinusitis dan WOC sehingga
menyebabkan gangguan ke system tubuh?
4. Bagaimana asuhan keperawatan yang diberikan kepada klien Sinusitis beserta
analisa data dari kasus?
5. Bagaimana aspek legal etik pada pasien Sinusitis?
6. Bagaimana satuan acara penyuluhan (SAP) pada pasien Sinusitis?
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 KONSEP DASAR Sinusitis
A. Pengertian
Beberapa pengertian menurut para ahli mengenai Sinusitis, yaitu :
Putri,2010
Sinusitis adalah suatu keradangan yang terjadi pada sinus.
Adhekrisna, 2010
Sinusitis adalah merupakan penyakit infeksi sinus yang disebabkan oleh kuman
atau virus.
Putri rahza,2010
sinusitis terjadi karena peradangan didaerah lapisan rongga sinus yang
menyebabkan lendir terperangkap di rongga sinus & menjadi tempat
tumbuhnya bakteri.
B. Etiologi
Penyebab terjadinya Sinusitis itu adalah :
Pada Sinusitis Akut, yaitu:
1. Infeksi virus
Sinusitis akut bisa terjadi setelah adanya infeksi virus pada saluran pernafasan
bagian atas (misalnya Rhinovirus, Influenza virus, dan Parainfluenza virus).
2. Bakteri
Di dalam tubuh manusia terdapat beberapa jenis bakteri yang dalam keadaan
normal tidak menimbulkan penyakit (misalnya Streptococcus pneumoniae,
Haemophilus influenzae). Jika sistem pertahanan tubuh menurun atau drainase dari
sinus tersumbat akibat pilek atau infeksi virus lainnya, maka bakteri yang
sebelumnya tidak berbahaya akan berkembang biak dan menyusup ke dalam sinus,
sehingga terjadi infeksi sinus akut.
3. Infeksi jamur
Infeksi jamur bisa menyebabkan sinusitis akut pada penderita gangguan sistem
kekebalan, contohnya jamur Aspergillus.
4. Peradangan menahun pada saluran hidung
Pada penderita rhinitis alergi dan juga penderita rhinitis vasomotor.
5. Septum nasi yang bengkok
6. Tonsilitis yg kronik
Pada Sinusitis Kronik, yaitu:
1. Sinusitis akut yang sering kambuh atau tidak sembuh.
2. Alergi
3. Karies dentis ( gigi geraham atas )
4. Septum nasi yang bengkok sehingga menggagu aliran mucosa.
5. Benda asing di hidung dan sinus paranasal
6. Tumor di hidung dan sinus paranasal.
C. Manifestasi Klinik
Tanda dan gejala yang ditimbulkan Sinusitis adalah:
1 Sinusitis maksila akut
Gejala : Demam, pusing, ingus kental di hidung, hidung tersumbat, nyeri pada pipi
terutama sore hari, ingus mengalir ke nasofaring, kental kadang-kadang berbau dan
bercampur darah.
2 Sinusitis etmoid akut
Gejala : ingus kental di hidung dan nasafaring, nyeri di antara dua mata, dan pusing.
3 Sinusitis frontal akut
Gejala : demam,sakit kepala yang hebat pada siang hari,tetapi berkurang setelah sore
hari, ingus kental dan penciuman berkurang.
4 Sinusitis sphenoid akut
Gejala : nyeri di bola mata, sakit kepala, ingus di nasofaring
5 Sinusitis Kronis
Gejala : pilek yang sering kambuh, ingus kental dan kadang-kadang berbau,selalu terdapat
ingus di tenggorok, terdapat gejala di organ lain misalnya rematik, nefritis, bronchitis,
bronkiektasis, batuk kering, dan sering demam
D. Klasifikasi
Sinusitis secara klinis dibedakan menjadi 2 jenis, yaitu
1. Sinusitis akut : Suatu proses infeksi di dalam sinus yang berlangsung selama 3
minggu.
Macam-macam sinusitis akut : sinusitis maksila akut, sinusitis emtmoidal akut, sinus
frontal akut, dan sinus sphenoid akut.
2. Sinusitis kronis : Suatu proses infeksi di dalam sinus yang berlangsung selama 3-8
minggu tetapi dapat juga berlanjut sampai berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun.
• Sinusitis berdasarkan penyebabnya sinusitis
a. Rhinogenik (penyebab kelainan atau masalah di hidung), Segala sesuatu yang
menyebabkan sumbatan pada hidung dapat menyebabkan sinusitis
b. Dentogenik/Odontogenik (penyebabnya kelainan gigi), yang sering
menyebabkan sinusitis infeksi pada gigi geraham atas (pre molar dan molar)
2.2 KONSEP ANATOMI DAN FISIOLOGI SENSORY PERCEPTION SYSTEM SINUSITIS
Sinus sendiri adalah rongga udara yang terdapat di area wajah yang terhubung dengan
hidung.Sinus paranasal merupakan hasil pneumatisasi tulang – tulang kepala, sehingga
terbentuk rongga di dalam tulang. Semua sinus mempunyai muara (ostium) ke dalam
rongga hidung. Didalam rongga sinus terdapat lapisan yang terdiri dari bulu-bulu halus
yang disebut dengan cilia. Fungsi dari cilia ini adalah untuk mendorong lendir yang di
produksi didalam sinus menuju ke saluran pernafasan. Gerakan cilia mendorong lendir ini
berguna untuk membersihkan saluran nafas dari kotoran ataupun organisme yang
mungkin ada. Ketika lapisan rongga sinus ini membengkak maka cairan lendir yang ada
tidak dapat bergerak keluar & terperangkap di dalam rongga sinus.
Secara embriologik, sinus paranasal berasal dari invaginasi mukosa rongga hidung dan
perkembangannya dimulai pada fetus usia 3-4 bulan, kecuali sinus sfenoid dan sinus
frontal. Sinus maksila dan sinus etmoid telah ada saat bayi lahir, sedangkan sinus frontal
berkembang dari sinus etmoid anterior pada anak yang berusia kurang lebih 8 tahun.
Pneumatisasi sinus sfenoid dimulai pada usia 8-10 tahun dan berasal dari bagian
posterosuperior rongga hidung. Sinus – sinus ini umumnya mencapai besar maksimal pada
usia antara 15-18 tahun.
A. Bagian-bagian sinus, meliputi :
Rongga sinus sendiri terdiri dari 4 jenis, yaitu
a. Sinus Frontal, terletak di atas mata dibagian tengah dari masing-masing alis
b. Sinus Maxillary, terletak diantara tulang pipi, tepat disamping hidung
c. Sinus Ethmoid, terletak diantara mata, tepat di belakang tulang hidung
d. Sinus Sphenoid, terletak dibelakang sinus ethmoid & dibelakang mata
B. Anatomi Sinusitis
SINUS MAKSILA
Sinus maksila merupakan sinus paranasal yang terbesar. Saat lahir sinus maksila bervolume 6-
8 ml,sinus kemudian berkembang dengan cepat dan akhirnya mencapai ukuran maksimal,yaitu
15 ml saat dewasa.
Sinus maksila berbentuk pyramid. Dinding anterior sinus ialah permukaan fasial os maksila
yang disebut fosa kanina, dinding posteriornya adalah permukaan infra-temporal mkasila,
dinding medialnya ialah dinding dinding lateral rongga hidung, dinding superiornya ialah dasar
orbita dan dinding inferiornya ialah prosesus alveolaris dan palatum. Ostium sinus maksila
berada di sebelah superior dinding medial sinus dan bermuara ke hiatus semilunaris melalui
infundibulum etmoid.
Dari segi klinik yang perlu diperhatikan dari anatomi sinus maksila adalah 1) dasar sinus
maksila sangat berdekatan dengan akar gigi rahang atas, yaitu premolar (P1 dan P2), molar
(M1 danM2), kadang – kadang juga gigi taring (C) dan gigi molar M3,bahkan akar-akar gigi
tersebut dapat menonjol ke dalam sinus, sehingga infeksi gigi geligi mudah naik ke atas
menyebabkan sinusitis; 2) Sinusitis maksila dapat menimbulkan komplikasi orbita; 3) Ostium
sinus maksila terletak lebih tinggi dari dasar sinus, sehingga drenase hanya tergantung dari
gerak silia, lagi pula dreanase juga harus melalui infundibulum yang sempit. Infundibulum
adalah bagian dari sinus etmoid anterior dan pembengkakan akibat radang atau alergi pada
daerah ini dapat menghalangi drainase sinus maksila dan selanjutnya menyebabkan sinusitis.
SINUS FRONTAL
Sinus frontal yang terletak di os frontal mulai terbentuk sejak bulan ke empat fetus, berasal
dari sel-sel resesus frontal atau dari sel-sel infundibulum etmoid. Sesudah lahir, sinus frontal
mulai berkembang pada usia 8-10 tahun dan akan mencapai ukuran maksimal sebelum usia 20
tahun.
Sinus frontal kanan dan kiri biasanya tidak simetris, satu lebih besar dari lainya dan dipisahkan
oleh sekat yang terletak di garis tengah. Kurang lebih 15% orang dewasa hanya mempunyai
satu sinus frontal dan kuran lebih 5% sinus frontalnya tidak berkembang.
Ukuran sinus frontal adalah 2,8 cm tingginya, lebarnya 2,4 cm dan dalamnya 2 cm. sinus fronta
biasanya bersekat-sekat dan tepi sinus berlekuk-lekuk. Taidak adanya gambaran septum-
septum atau lekuk-lekuk dinding sinus pada foto Rontgen menunjukan adanya infeksi sinus.
Sinus frontal dipisahkan oleh tulang yang relative tipis dari orbita dan fosa serebri anterior,
sehingga infeksi dari sinus fronta mudah menjalar ke daerah ini.
Sinus frontal berdrenase melalui ostiumnya yang terletak di resesus frontal, yang
berhubungan dengan infundibulum etmoid.
SINUS ETMOID
Dari semua sinus paranasal, sinus etmoid yang paling bervariasi dan akhir-akhir ini dianggap
paling penting, karena dapat merupakan focus bagi sinus-sinus lainnya. Pada orang dewasa
bentuk sinus etmoid seperti pyramid dengan dasarnya di bagian posterior. Ukuran dari
anterior ke posterior 4-5 cm, tinggi 2,4 cm dan lebarnya 0,5 cm dibagian anterior dan 1,5 cm
dibagian posterior.
Sinus etmoid berongga-rongga, terdiri dari sel-sel yang menyerupai sarang tawon, yang
terdapat di dalam massa bagian lateral os etmoid, yang terletak diantar konka media dan
dinding dinding medial orbita. Sel-sel ini jumlahnya bervariasi. Berdasarkan letaknya, sinus
etmoid dibagi menjadi sinus etmoid anterior yang bermuara di meatus medius dan sinus
etmoid posterior yang bermuara di meatus medius dan sinus etmoid posterior yang bermuara
di meatus superior. Sel-sel sinus etmoid anterior biasanya kecil-kecil dan banyak, letaknya di
depan lempeng yang menghubungkan bagian posterior konka media dengan dinding lateral (
lamina basalis), sedangkan sel-sel sinus etmoid posterior biasanya lebih besar dan lebih sedikit
jumlahnya dan terletak diposterior dari lamina basalis.
Dibagian terdepan sinus etmoid anterior ada bagian yang sempit, disebut resesus frontal, yang
berhubungan sinus frontal. Selo etmoid yang terbesar disebut bula etmoid. Di daerah etmoid
anterior terdapat suatu penyempitan yang di sebut infundibulum, tempat bermuaranya
ostium sinus maksila. Pembengkakan atau peradangan diresesus frontal dapat menyebabkan
sinusitis frontal dan pembengkakan di infundibulum dapat menyebabkan sinusitis maksila.
Atap sinus etmoid yang disebut fovea etmoidalis berbatasan dengan lamina kribrosa. Dinding
lateral sinus adalah lamina papirasea yang sangat tipis dan membatasi sinus etmoid darirongga
orbita. Di bagian belakang sinus etmoid posterior berbatasan dengan sinus sfenoid.
SINUS SFENOID
Sinus sfenoid terletak dalam os sfenoid di belakang sinus etmoid posterior. Sinus sfenoid
dibagi dua oleh sekat yang disebut septum intersfenoid. Ukurannya adalah 2 cm tingginya,
dalamnya 2,3 cm dan lebarnya 1,7 cm. volumenya bervariasi dari 5 sampai 7,5 ml. saat sinus
berkembang, pembuluh darah dan nervus dibagian lateral os sfenoid akan menjadi sangat
berdekatan dengan rongga sinus dan tampak sebagai indensitasi pada dinding sinus sfenoid.
Batas-batasnya ialah, sebelah superior terdapat fosa serebri media dan kelenjar hipofisa,
sebelah inferiornya atap nasofaring, sebelah lateral berbatasan dengan sinus kavernosus dan
a.karotis interna (sering tampak sebagai indentasi) dan disebelah posteriornya berbatasan
dengan fosa serebri posterior didaerah pons.
KOMPLEKS OSTIO-MEATAL
Pada sepertiga tengah dinding lateral hidung yaitu di meatus medius, ada muara-muara
saluran dari sinus maksila, sinus frontal dan sinus etmoid anterior. Daerah ini rumit dan
sempit, dan dinamakan kompleks ostio-meatal (KOM), terdiri dari infundibulum etmoid yang
terdapat di belakang prosesus unsinatus, resesus frontalis, bula etmoid dan sel-sel etmoid
anterior dengan ostiumnya dan ostium sinus maksila.
SISTEM MUKOSILIAR
Seperti pada mukosa hidung, di dalam sinus juga terdapat mukosa bersilia dan palut lendir
diatasnya. Di dalam sinus silia bergerak secara teratur untuk mengalirkan lendir menuju
ostium alamiahnya mengikuti jalur-jalur yang sudah tertentu polanya.
Pada dinding lateral hidung terdapat 2 aliran transport mukosiliar dari sinus. Lendir yang
berasal dari kelompok sinus anterior yang bergabung di infundibulum etmoid dialirkan ke
nasofaring di depan muara tuba Eusthacius. Lendir yang berasal dari kelompok sinus posterior
bergabung diresesus sfenoetmoedalis, dialirkan ke nasofaring di posterior-superior muara
tuba. Inilah sebabnya pada sinusitis di dapati secret pasca-nasal (post nasal drip), tetapi belum
tentu ada secret di rongga hidung.
C. Fisiologi Sinusitis
Fungsi sinus paranasal antara lain:
Sebagai pengatur kondisi udara (air conditioning)
Sinus berfungsi sebagai ruang tambahan untuk memanaskan dan mengatur kelembaban udara
inspirasi. Keberatan terhadap teori ini ialah karean ternyata tidak didapati pertukaran udara
yang definitive antara sinus dan rongga hidung.
Volume pertukaran udara dalam ventilasi sinus kurang lebih 1/1000 volume sinus pada tiap
kali bernafas, sehingga di butuhkan beberapa jam untuk pertukaran udara total dalam sinus.
Lagi pula mukosa sinus tidak mempunyai vaskularisasi dan kelenjar yang sebanyak mukosa
hidung.
Sebagai penahan suhu (thermal insulators)
Sinus paranasal berfungsi sebagai penahan (buffer) panas, melindungi orbita dan fosa serebri
dari suhu rongga hidung yang berubah-ubah. Akan tetapi kenyataanya sinus-sinus yang besar
tidak terletak di antara hidung dan organ-organ yang di lindungi.
Membantu keseimbangan kepala
Sinus membantu keseimbanga kepala karena mengurangi berat tulang muka. Akan tetapi bila
udara dalam sinus diganti dengan tulang, hanya aka memberikan pertambahan berat sebesar
1% dari berat kepala, sehingga teori ini dianggap tidak bermakna.
Membantu resonasi suara
Sinus ini mungkin berfungsi sebagai rongga untuk resonasi suara dan mempengaruhi kualitas
suara. Akan tetapi ada yang berpendapat, posisi sinus dan ostiumnya tidak memungkinkan
sinus berfungsi sebagai resonator yang efektif. Lagi pula tidaj ada kolerasi antara resonasi
suara dan besarnya sinus pada hewan-hewan tingkat rendah.
Sebagai peredam perubahan tekanan udara
Fungsi ini berjalan bila ada perubahan tekanan yang besar dan mendadak, misalnya pada
waktu bersin atau membuang ingus.
Membantu produksi mucus
Mucus yang dihasilkan oleh sinus paranasal memang jumlahnya kecil dibandingkan dengan
mucus dari rongga hidung, namun efektif untuk membersihkan partikel yang masuk dengan
udara inspirasi karena mucus ini keluar dari meatus medius, tempat yang paling strategis.
2.3 PATOFISIOLOGI ATAU PERJALANAN PENYAKIT SINUSITIS
Kesehatan sinus dipengaruhi oleh patensi ostium-ostium sinus dan kelancaran
mucociliary clearance didalam komplek osteo meatal (KOM). Disamping itu mukus
juga mengandung substansi antimikrobial dan zat-zat yang berfungsi sebagai
pertahanan terhadap kuman yang masuk bersama udara pernafasan. Bila
terinfeksi organ yang membentuk KOM mengalami oedem, sehingga mukosa yang
berhadapan akan saling bertemu silia tidak dapat bergerak dan juga menyebabkan
tersumbatnya ostium tekanan negatif didalam rongga sinus yang menyebabkan
terjadinya transudasi atau penghambatan drainase sinus. Efek awal yang ditimbulkan
adalah keluarnya cairan serous yang dianggap sebagai sinusitis non bakterial yang
dapat sembuh tanpa pengobatan. Bila tidak sembuh maka sekret yang tertumpuk
dalam sinus media yang poten untuk tumbuh dan multiplikasi bakteri, dan sekret
akan berubah menjadi purulen yang disebut sinusitis akut bakterialis yang
membutuhkan terapi antibiotik. Jika terapi inadekuat maka keadaan ini bisa berlanjut,
akan terjadi hipoksia dan bakteri anaerob akan semakin berkembang perubahan
kronik dari mukosa yaitu hipertrofi, polipoid atau pembentukan polip dan kista.
2.4 ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN DENGAN SINUSITIS
KASUS PEMICU
Tn S berumur 40 thn dirawat di rs NU tuban. Pada tanggal 13 maret 2012 dengan keluhan
utama pilek tidak kunjung sembuh selama 3 minggu disertai sakit didaerah pipi dan
bengkak diwajah didapat pada pemfis ingus kental berbau,febris,degan TTV: TD
120/80mmhg, N 110x/mnt, S 39c, RR 28x/mnt. Pada pemeriksaan endoskopi didapatkan
sekret yang purulen,cavum nasi menyempit,odema. Advice dokter menyarankan dilakukan
drainase dan pemberian antibiotik dan oksigenasi.
A. Pengkajian
I. Identitas
Nama : Tuan S
Jenis kelamin : Laki-laki
Umur : 40 tahun
Tanggal MRS : 13 Maret 2012
Status perkawinan : Menikah
Pendidikan : SMP
Suku/Bangsa : Indonesia
Agama : Islam
Alamat : Ds. Mrutuk-Tuban
Pekerjaan orangtua : Pedagang
Sumber informasi : Pasien
II. Keluhan Utama : pilek tidak kunjung sembuh selama 3 minggu
III. Riwayat Keperawatan
Riwayat Penyakit Sekarang :
P : Tn.S dibawa ke RS karena sudah 3 minggu pilek tidak sembuh-
sembuh. Tn.S juga merasakan sakit di daerah pipi dan wajahnya
bengkak.Sebelumnya Tn.S sudah minum obat pilek (mixagrib) sudah sembuh
tapi kemudian timbul lagi dan sekarang dibawa ke RS.
Q : pilek yang dirasakan bercampur ingus yg kental dan berbau
R : pilek dirasakan di hidung dan di daerah pipi terasa penuh seperti ada
airnya.
S : pilek yang dirasakan sangat mengganggu aktivitas pekerjaan Tn.S,
hidungnya tersumbat karena pilek yg tidak sembuh2.
T : pilek mulai terjadi saat Tn.S bekerja di pagi hari.
Riwayat Penyakit Dahulu :
Tn.S pernah mengalami sakit gigi bagian atas tetapi sudah di cabut.
Riwayat Penyakit Keluarga : dari keterangan pasien keluarga pasien semua
pernah mengalami sakit gigi.
IV. Observasi dan Pemeriksaan Fisik
Keadaan Umum :
Wajah Tn.S terlihat bengkak
Tn.S terlihat meringis kesakitan
Tn.S tampak lelah
Suara Tn.S berat seperti hidung tersumbat
TTV :
S : 39 celcius (normal 36,5 – 37,5 celcius)
N : 110 x/menit ( 60 – 100 x/menit)
TD : 120/80mmHg (<=120-130, <=80 mmHg)
RR : 28 x/menit (16 – 20 x/menit)
Body System
B1 (Breathing)
o Tn.S tampak lelah
o Bentuk dada normal
o Pengguanan otot bantu pernapasan (retraksi dinding dada)
o Adanya cuping hidung
o Suara pernapasan ronkhi
o Pola napas tidak teratur dengan RR 28 x/mnt
B2 (Blood)
o Didapatkan tekanan darah yang normal (120/80 mmHg)
o Takikardi (Nadi 110 x/mnt)
B3 (Brain)
o Terlihat cemas
o Febris dengan suhu 39C
o Terlihat meringis kesakitan
o Kesadaran compos mentis
o Didapatkan nyeri tekan pada buccae
o Skala nyeri 6 (sedang)
o Respon mmbau Tn.S menurun saat diberi rangsangan bau
B4 (Bladder)
o Produksi urin normal min 400 cc/hari
o Alat kelamin bersih
B5 (Bowel)
o Halitosis
o Anorexia
o BB mnurun
o Mulut bersih
B6 (Bone)
o Tn.S terlihat lelah
o Mampu mggerakkan sendi dengan bebas
IV. Pemeriksaan penunjang
Rinoskopi anterior
o Tampak mukosa konka hiperemis, kavum nasi sempit, dan edema.Pada
sinusitis maksila, sinusitis frontal dan sinusitis ethmoid anterior tampak
mukopus atau nanah di meatus medius, sedangkan pada sinusitis ethmoid
posterior dan sinusitis sfenoid nanah tampak keluar dari meatus superior.
Rinoskopi posterior : Tampak mukopus di nasofaring (post nasal drip).
Dentogen : Caries gigi (PM1,PM2,M1)
Transiluminasi (diaphanoscopia)
Sinus yang sakit akan menjadi suram atau gelap. Pemeriksaan transiluminasi bermakna
bila salah satu sisi sinus yang sakit, sehingga tampak lebih suram dibanding sisi yang
normal.
X Foto sinus paranasalis:
Pemeriksaan radiologik yang dibuat ialah Posisi Water’s, Posteroanterior dan Lateral.
Akan tampak perselubungan atau penebalan mukosa atau batas cairan udara (air fluid
level) pada sinus yang sakit.
Posisi Water’s adalah untuk memproyeksikan tulang petrosus supaya terletak di bawah
antrum maksila, yakni dengan cara menengadahkan kepala pasien sedemikian rupa
sehingga dagu menyentuh permukaan meja. Posisi ini terutama untuk melihat adanya
kelainan di sinus maksila, frontal dan etmoid. Posisi Posteroanterior untuk menilai sinus
frontal dan Posisi Lateral untuk menilai sinus frontal, sphenoid dan etmoid
Pemeriksaan CT –Scan
Pemeriksaan CT-Scan merupakan cara terbaik untuk memperlihatkan sifat dan sumber
masalah pada sinusitis dengan komplikasi. CT-Scan pada sinusitis akan tampak :
penebalan mukosa, air fluid level, perselubungan homogen atau tidak homogen pada
satu atau lebih sinus paranasal, penebalan dinding sinus dengan sklerotik (pada kasus-
kasus kronik).Hal-hal yang mungkin ditemukan pada pemeriksaan CT-Scan :
a. Kista retensi yang luas, bentuknya konveks (bundar), licin, homogen, pada
pemeriksaan CT-Scan tidak mengalami ehans. Kadang sukar membedakannya
dengan polip yang terinfeksi, bila kista ini makin lama makin besar dapat
menyebabkan gambaran air-fluid level.
b. Polip yang mengisi ruang sinus
c. Polip antrokoanal
d. Massa pada cavum nasi yang menyumbat sinus
e. Mukokel, penekanan, atrofi dan erosi tulang yang berangsur-angsur oleh massa
jaringan lunak mukokel yang membesar dan gambaran pada CT Scan sebagai
perluasan yang berdensitas rendah dan kadang-kadang pengapuran perifer.
2.5.7 Pemeriksaan di setiap sinus
a. Sinusitis maksila akut
Pemeriksaan rongga hidung akan tampak ingus kental yang kadang-kadang dapat
terlihat berasal dari meatus medius mukosa hidung. Mukosa hidung tampak
membengkak (edema) dan merah (hiperemis). Pada pemeriksaan tenggorok,
terdapat ingus kental di nasofaring.
Pada pemeriksaan di kamar gelap, dengan memasukkan lampu kedalam mulut
dan ditekankan ke langit-langit, akan tampak pada sinus maksila yang normal
gambar bulan sabit di bawah mata. Pada kelainan sinus maksila gambar bulan sabit
itu kurang terang atau tidak tampak. Untuk diagnosis diperlukan foto rontgen. Akan
terlihat perselubungan di sinus maksila, dapat sebelah (unilateral), dapat juga kedua
belah (bilateral ).
b. Sinusitis etmoid akut
Pemeriksaan rongga hidung, terdapat ingus kental, mukosa hidung edema dan
hiperemis. Foto roentgen, akan terdapat perselubungan di sinus etmoid.
c. Sinusitis frontal akut
Pemeriksaan rongga hidung, ingus di meatus medius. Pada pemeriksaan di kamar
gelap, dengan meletakkan lampu di sudut mata bagian dalam, akan tampak bentuk
sinus frontal di dahi yang terang pada orang normal, dan kurang terang atau gelap
pada sinusitis akut atau kronis. Pemeriksaan radiologik, tampak pada foto roentgen
daerah sinus frontal berselubung.
d. Sinusitis sfenoid akut
Pemeriksaan rongga hidung, tampak ingus atau krusta serta foto rontgen.
B. ANALISA DATA
Analisa data 1
Data Etiologi Masalah
Ds : Tn.S mengatakan pilek tidak Infalamasi sinus maxilaris MK:Bersihan
sembuh2 selama 3 minggu jalan napas
Do: Peradanagan lapisan rongga tidak efektif
• RR : 28 x/menit hidung
• Tn.S tampak lelah
• Suara Tn.S berat seperti Stimulus sel goblet dan sel
hidung tersumbat. mucosa
• Pengguanan otot bantu
pernapasan (retraksi Meningkatkan produksi mucus
dinding dada)
• Adanya cuping hidung Akumulasi secret pada
• Suara pernapasan ronkhi sal.pernapasan
• Pemeriksaan rinoskopi
didapatkan secret yang Bersihan jalan napas tidak efektif
purulen, cavum nasi yang
menyempit dan oedem
Analisa data 2
Data Etiologi Masalah
Ds :.Sakit didaerah pipi(buccae) Secret tertimbun lebih banyak di MK:
Do : sinus Gangguan
Terdapat nyeri tekan dengan rasa nyaman
skala 6 nyeri
Pemeriksaan endoskopi Peningkatan tekanan sinus
didapatkan sekret yang
purulen ,cavum nasi yang
menyempit,edema Nyeri di daerah sinus
MK. Gangguan rasa nyaman nyeri
C. DIAGNOSA KEPERAWATAN
1. Pola napas tdk efektif
2. Bersihan jalan napas tdk efektif
3. Kerusakan pertukaran gas
4. Gangguan keseimbangan suhu tubuh (hipertermia)
5. Gangguan persepsi sensori (penghidungan)
6. Gangguan rasa nyaman (nyeri)
7. Gangguan persepsi sensori (penglihatan)
8. Gangguan eliminasi urin
9. Gangguan pemenuhan keb.cairan dan elektrolit
10.Gangguan perfusi jaringan
11.Resiko syok hipovolemik
12.Resiko cidera
13.Gangguan pemenuhan keb.nutrisi
14.Intoleransi aktivitas
D. INTERVENSI KEPERAWATAN
HARI/T NO.DIAGNOSA INTERVENSI RASIONAL
GL
Selasa / Diagnosa.1 1. Auskultasi bunyi nafas. 1. Untuk mengetahui
13 Tujuan : Catat adanya bunyi nafas, adanya obstruksi jalan
maret - Jalan nafas efektif kaji dan pantau suara nafas, tachipneu
2012 setelah secret pernafasan. merupakan derajat
dikeluarkan. 2. Kaji penumpukan secret yang ditemukan
- Mempertahankan yang ada. adanya proses infeksi
jalan nafas paten 3. Tinggikan kepala tempat akut.
dengan bunyi nafas tidur (semi fowler). 2. Mengetahui tingkat
bersih 4. Kolaborasi : keparahan dan
- Pemberian antibiotic tindakan selanjutnya.
Kriteria hasil : - Pemberian nebulizer 3. Upaya menghindari
- Pasien tidak - Tindakan drainage kolaps paru
menggunakan otot - Tindakan oksigenasi 4. Kolaborasi :
bantu pernapsan - Untuk terapi kausal
- Tidak ada cuping (bakteri)
hidung - Untuk pngenceran
- Tidak ada suara secret agar mudah
napas tambahan dilakukan drainage
- Pola napas teratur - Untuk pembersihan
dengan RR 16-20 secret yg menumpuk
x/mnt Upaya untuk
- Tidak ada secret saat menangani pola napas
pemeriksaan yang tidak teratur
rinoskopi.
Selasa / Diagnose 6 1. Kaji nyeri, catat lokasi, 1. Perubahan pada
13 Tujuan : karakteristik, dan karakteristik nyeri
maret 1. Jangka panjang: laporkan perubahan menunjukan
2012 -setelah dilakukan nyeri dengan tepat. terjadi proses
intervensi diharapkan degenerasi atau
nyeri hilang atau 2. Pertahankan istirahat proses infeksi
terkontrol dengan posisi tidur 2. Memungkinkan
-rasa nyaman mid fowler atau drainase dan
terpenuhi miring ke sisi sinus mengurangi
2. jangka pendek: maksilaris yang sehat edema.
-setelah dilakukan
intervensi selama 3. Dorong untuk 3. Mengurangi
1x24jam skala nyeri ambulasi bertahap bengkak pada
turun. s/d kemampuan. opst operasi sinus
maksilaris.
4. Berikan aktivitas 4. Meningkatkan
Kriteria hasil : hiburan relaksasi,
a.Klien mengatakan nyeri sekaligus
berkurang/hilang meninfgktakn
b. Klien dapat koping
beristirahat /tidur. 5. Berikan kompres es 5. Mengurangi nyeri,
segera pada daerah dan
sinus maksilaris kiri pembengkakan.
6. Kolaborasi berikan
analgetik s/d program 6. Mengurangi
pengobatan dokter. nyeri,meningkatk
an istirahat
E. IMPLEMENTASI KEPERAWATAN
HARI/TGL NO.DIAGNOSA JAM IMPLEMENTASI TTD
Selasa/ 13 Diagnose 1 07.00 1. Melakukan auskultasi bunyi nafas.
maret Mencatat adanya bunyi nafas,
2012 Mengkaji dan Memantau suara
pernafasan.
2. mengkaji penumpukan secret yg ada.
3. meninggikan kepala tempat tidur (semi
fowler).
4. Berkolaborasi :
- Memberikan antibiotic
- Memberikan nebulizer.
- Melakukan tindakan drainage.
Melakukan tindakan oksigenasi
Selasa/ 6 Diagnose 6 08.00 1. Mengkaji nyeri, catat lokasi,
maret karakteristik, dan laporkan perubahan nyeri
2012 dengan tepat.
2. Mempertahankan istirahat dengan posisi
tidur mid fowler atau miring ke sisi sinus
maksilaris yang sehat
3. Mendorong untuk ambulasi bertahap
s/d kemampuan.
4.Memberikan aktivitas hiburan
5.Memberikan kompres es segera pada
daerah sinus maksilaris kiri.
6. Mengkolaborasi berikan analgetik s/d
program pengobatan dokter.
F. EVALUASI KEPERAWATAN
HARI/TGL NO.DIAGNOSA EVALUASI TTD
Rabu, 13 Diagnose 1 S : Tn.S mengatakan sudah tdk pilek
maret 2012 O:
- TTV dlm batas normal:
- RR : 20 x/mnt
- Pemeriksaan rinoskopi tdk ada secret purulen
di mucosa hidung, tdk ada oedem dan cavum
nasi kembali semula
- Auskultasi tdk ada bunyi napas tambahan/
ronki (-) vesikuler
- Sudah tdk menggunakan otot bantu
pernapasan.
A : masalah teratasi
P : hentikan intervensi, pertahankan hasil
Rabu, 13 Diagnose 6 S:Klien mengatakan nyeri berkurang mulai hari ke
maret 2012 dua(selasa)
O: Klien dapat beristirahat/tidur, palpasi masih
nyeri.
A: Nyeri akut sebagian teratasi.
P : lanjutkan intervensi 1,2,3.
2.5 LEGAL ETIK PADA PASIEN KATARAK
Penatalaksanaan Sinusitis
• Tujuan terapi sinusitis ialah:
– Mempercepat penyembuhan
– Mencegah komplikasi
– Mencegah perubahan menjadi kronik
• Prinsip pengobatan ialah membuka sumbatan di KOM sehingga drainase dan ventilasi
sinus-sinus pulih secara alami.
• Drainase
– Dengan pemberian obat, yaitu
Dekongestan local : efedrin 1%(dewasa) ½%(anak).
Dekongestan oral : sedo efedrin 3 X 60 mg
– Surgikal dengan irigasi sinus maksilaris.
Pemberian antibiotik dalam 5-7 hari (untuk Sinusitis akut) yaitu :
• Ampisilin 4 X 500 mg
• Amoksilin 3 x 500 mg
• Sulfametaksol=TMP (800/60) 2 x 1tablet
• Diksisiklin 100 mg/hari.
Pemberian obat simtomatik
Contohnya parasetamol., metampiron 3 x 500 mg.
Untuk Sinusitis kronis bisa dengan
• Cabut geraham atas bila penyebab dentogen
• Irigasi 1 x setiap minggu
• Operasi Cadwell Luc bila degenerasi mukosa ireversibel
(biopsi)
Pembedahan
Pembedahan, dilakukan :
o bila setelah dilakukan pencucian sinus 6 kali ingus masih tetap kental.
o bila foto rontgen sudah tampak penebalan dinding sinus paranasal.
Persiapan sebelum pembedahan perlu dibuat foto ( pemeriksaan) dengan CT
scan.
Pembedahan
Radikal
o Sinus maksila dengan operasi Cadhwell-luc : .
o Sinus ethmoid dengan ethmoidektomi.
o Sinus frontal dan sfenoid dengan operasi Killian.
Non Radikal
o Bedah Sinus Endoskopik Fungsional (BSEF).
Prinsipnya dengan membuka dan membersihkan daerah kompleks
ostiomeatal.
2.6 SATUAN ACARA PENYULUHAN
SATUAN ACARA PENYULUHAN
Pokok Bahasan : Penyakit Sinusitis
Sub Pokok Bahasan : Perawatan pada penderita Sinusitis
Waktu : Pkl 07.30 – 08.20
Hari/Tanggal : Rabu, 14 maret 2012
Tempat : Aula RS
Sasaran : Klien dan keluarga (peserta) di RS
Penyuluh : Mahasiswa STIKES NU Tuban semester 4
---------------------------------------------------------------------------------------------------
A. Tujuan Instruksional
1. Tujuan Instruksional Umum
Setelah mendapat penyuluhan tentang Katarak selama 30 menit, diharapkan peserta
mengerti tentang perawatan pada anak dengan Sinusitis
2. Tujuan Instruksional Khusus
Setelah mendapatkan penyuluhan, diharapkan peserta mampu :
a) Menjelaskan tentang pengertian Sinusitis
b) Menjelaskan penyebab Sinusitis
c) Menyebutkan tanda tanda Sinusitis
d) Menyebutkan pencegahan Sinusitis
e) Menjelaskan pengobatan Sinusitis
B. Metode belajar
1. Ceramah
2. Tanya jawab
3. Brain storming
C. Alat dan Media
1. Leaflet
2. Flip Chart
3. Laptop
4. LCD
D. Kegiatan Penyuluhan
No Waktu Topik Kegiatan Penyuluh Kegiatan Oleh
Peserta
1 15 Perkenalan 1. Menyampaikan salam - Membalas Moderator
menit pembuka salam
2. Memperkenalkan diri - Memperh Penyaji
3. Menyampaikan tujuan atikan
penyuluhan
4. Mengingatkan kontrak
waktu dan mekanisme
pelaksanaan penyuluhan
2 30 Pengembanga 1. Meminta klien dan - Memper Moderator
menit n keluarga untuk hatikan
menjelaskan sedikit penjelasa
tentang Sinusitis sebatas n dan
yang diketahui. (Brain demonst
storming) rasi
2. Penyampaian Materi, dengan
tentang: Pengertian, cermat
penyebab, tanda gejala, - Menanya
Penyaji
pencegahan, setelah kan hal
pengobatan Sinusitis yang
3. Pemberian kesempatan belum
pada peserta penyuluhan jelas
untuk bertanya. - Memper
4. Menjawab pertanyaan hatikan
peserta penyuluhan yang jawaban
berkaitan dengan materi. penyuluh
5. Memberikan kesempatan an Moderator
kepada pembimbing untuk
memberikan masukan dan
argument
No Waktu Topik Kegiatan Penyuluh Kegiatan Oleh
Peserta
3 10 Penutup 1. Membuka kesempatan - Berpartis Moderator
menit untuk diskusi. ipasi aktif
2. Melakukan evaluasi : dalam
Menanyakan pada pasien kegiatan
dan keluarga tentang diskusi Penyaji
kejelasan materi yang dan
diberikan dan memberikan tanya
penguatan positif bila jawab
keluarga pasien dapat - Menjelas
menjawab dan menjelaskan kan
kembali materi dan kembali
menjawab pertanyaan. materi
3. Menyimpulkan kegiatan dan
penyuluhan, menjawa Moderator
menyampaikan salam b
penutup. pertanya
Membagikan leaflet an.
- Mendeng
arkan Fasilitator
dan
membala
s salam
E. Pengorganisasian dan Job Discription
1. Pembimbing : Husnul Mubarok, S.Kep,Ns
2. Moderator : Nur Vadhillah
Job Discription : Membuka dan menutup kegiatan
Membuat susunan acara dengan jelas
Memimpin jalannya kegiatan
3. Penyaji : Desta Nur Wahyu
Job Discription : Menyampaikan materi penyuluhan dengan jelas
4. Observer : Eko Remon Karisma
Job Discription : Membuat resume kegiatan SAP
Mengobservasi semua kegiatan penyuluhan
5. Fasilitator :
Job Discription : Membantu menyiapkan perlengkapan penyuluhan
Memotivasi audience untuk bertanya
Membantu penyaji dalam menganggapi pertanyaan audience
F. Kritera Evaluasi
1. Evaluasi struktur
1) Peserta atau pasien dan keluarga
2) Penyelenggaraan penyuluhan di ruang aula STIKES NU Tuban
3) engorganisasian penyelenggaraan penyuluhan dilakukan oleh mahasiswa prodi S-1
Keperawatan tingkat II STIKES NU Tuban
4) Kontrak waktu dilakukan 1 hari sebelum penyuluhan dan 15 menit sebelum
pelaksanaan penyuluhan.
2. Evaluasi proses
1) Peserta atau pasien dan keluarga antusias terhadap materi penyuluhan.
2) Peserta atau pasien dan keluarga mengikuti penyuluhan sampai selesai.
3) Peserta atau pasien dan keluarga mengajukan pertanyaan dan menjawab
pertanyaan secara benar.
4) Peserta atau pasien dan keluarga berpartisipasi aktif dalam kegiatan sharing.
3. Evaluasi hasil :
1) Peserta mampu menjelaskan tentang pengertian Katarak
2) Peserta mampu menjelaskan penyebab Sinusitis
3) Peserta mampu menyebutkan tanda tanda Sinusitis
4) Peserta mampu menyebutkan pencegahan Sinusitis
5) Peserta mampu melakukan pengobatan Sinusitis
MATERI PENYULUHAN
• PENGERTIAN
Sinusitis adalah suatu peradangan pada rongga udara di area wajah yang
terhubung dengan hidung.
• PENYEBAB
Terjadinya sinusitis dapat merupakan perluasan infeksi dari hidung (rinogen),
gigi dan gusi (dentogen) akibat dari masuknya virus, bakteri dan jamur ke dalam
rongga udara tersebut. Bisa juga karena alergi atau ada tumor di dalam hidung.
• TANDA-TANDA
– Ingus yang kental
– Batuk dengan dahak kental
– Bengkak pada wajah
– Sakit kepala
– Nyeri di wajah
– Sakit gigi
– Nyeri telinga
– Sakit tenggorok
– Nafas berbau
– Bersin-bersin bertambah sering
– Demam
PENCEGAHAN
• Selalu bina hidup sehat
• Bina lingkungan yang sehat
• Hindari lingkungan yang kotor
• Hindari penularan penyakit pernapasan
• Konsumsi makanan yang bergizi banyak vitamin untuk meningkatkan daya tahan
tubuh.
• Obati segera apabila terkena sakit flu
PENGOBATAN UNTUK SINUSITIS
• Dapat diobati dengan mengeluarkan sekret di dalam sinus
• Dengan obat-obat antibiotik
• Dengan pencucian sinus-sinus
• Terakhir jika keadaan penyakit buruk dilakukan pembedahan/operasi utk
mengeluarkan sekret yg terperangkap di dalam sinus
BAB III
RINGKASAN
4.1 Simpulan
Sinusitis merupakan penyakit inflamasi mukosa sinus paranasal yang sering ditemukan
dalam praktik dokter sehari-hari, bahkan dianggap sebagai salah satu penyebab gangguan
kesehatan tersering di seluruh dunia. Ada empat pasang sinus paranasal, mulai dari yang
terbesar yaitu sinus maksila, sinus frontal, sinus etmoid dan sinus sfenoid kanan dan kiri.
Semua sinus mempunyai muara (ostium) ke dalam rongga hidung. Infeksi virus ini, dapat
dipengaruhi oleh lingkungan yang berpolusi, udara dingin dan kering serta kebiasaan merokok.
Keadaan ini lama-lama menyebabkan perubahan mukosa dan merusak silia. Dalam Consensus
International tahun 1995 membagi sinusitis hanya akut dengan batas sampai 8 minggu yang
kebanyakan disebabkan oleh streptococcus pneumonia (30-50%) dan kronik yang lebih
disebabkan oleh bakteri gram negative dan anaerob jika lebih dari 8 minggu.
Pasien dengan sinusitis harus diberikan perawatan secara intensif dan perlunya
pengetahuan dari pihak keluarga agar penyakit tersebut tidak mengalami komplikasi. Dan kita
sebagai perawat harus mampu memberikan edukasi tentang gejala dini katarak agar dapat
segera diobati.
Pengobatan atau terapi sangat dibutuhkan untuk pasien sinusitis agar tidak lebih
menyebar ke sistemik tubuh. Tetapi kita sebagai perawat harus berkolaborasi dengan tenaga
kesehatan lain untuk pencapaian derajat kesehatan pasien.
Dan tentunya setiap tindakan yang akan dilakukan harus sesuai dengan aspek legal etik
kita sebagai perawatn yang professional.
REFERENSI PUSTAKA
Doenges, Marilyan E. 1999. Rencana Asuhan Keperawatan. Alih bahasa: I Made
Kariasa. Jakarta . EGC
Long, C Barbara. 1996.Perawatan Medikal Bedah : 2.Bandung. Yayasan Ikatan Alumni
Pendidikan Keperawatan Pajajaran
Margaret R. Thorpe. Perawatan Mata. Yogyakarta . Yayasan Essentia Medica
Nettina, Sandra M. 2001. Pedoman Praktik Keperawatan. Alih bahasa : Setiawan Sari.
Jakarta. EGC
Sidarta Ilyas. 2001. Ilmu Penyakit Mata. Jakarta. FKUI
Smeltzer, Suzanne C. 2001. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah Brunner &
Suddarth. Alih bahasa : Agung Waluyo. Jakarta. EGC
Anonim1. Asuhan Keperawatan Sinusitis.
http://ilmukeperawatan.com/asuhan_keperawatan_ sinusitis.html, diakses tanggal 22
November 2010
Anonim2. Askep Sinusitis. http://putrisayangbunda.blog.com/2010/02/10/askep-
sinusitis/, diakses tanggal 22 November 2010
Doenges. 2000. Rencana Asuhan Keperawatan Edisi 3. Jakarta: Penerbit buku
Kedokteran EGC
Higler, AB. 1997. Buku Ajar Penyakit THT. Jakarta: EGC
Soepardi, EA. 2007. Buku Ajar Ilmu Kersehatan Telinga Hidung Tenggorok Kepala dan
Leher. Jakarta: Gaya Baru
Get documents about "