LAPORAN SINUSITIS by DecilzhienySiYeye

VIEWS: 1,203 PAGES: 33

									             ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN DENGAN SINUSITIS
                                 LAPORAN KELOMPOK
                        Fasilitator Husnul Mubarok, S.Kep,Ns




Oleh Kelompok 2:


        1. Nur                                                             Vadhillah
                                                                                       12.
            Agus                                                       Eko Biantoro
        2. Desta Nurwahyu                       13.   Yeni Desi Rahmawati
        3. Tiara Putri Ryandini                 14.   Yudik Tri Okta
        4. Wazirotul Ummah                      15.   Wahyu Puji Lestari
        5. Firman Nur Rahman                    16.   Evi Ainur R
        6. Ani Nur Lina                         17.   Irine Devi Meliana
        7. Yupiter Utami                        18.   Suroso Efendi
        8. Lailatur Rosida                      19.   Yoga Hardani P
        9. Arif Robbul Izzati                   20.   Eko Remon Karisma
        10. Zuliatin Rofiqoh           21.      Moh. Mas Fuad
        11. Siti Lailiyatus Sholihah            22.   Andrian Eka S.




                        PROGRAM STUDI S-1 KEPERAWATAN
              SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN NAHDLATUL ULAMA
                                         TUBAN
                                             2012
                                      KATA PENGANTAR
          Puji syukur alhamdulillah senantiasa Penulis panjatkan atas kehadirat Allah SWT atas
segala limpahan rahmat, hidayah, dan karunia-Nya, sehingga Penulis dapat menyelesaikan
laporan yang berjudul “Asuhan Keperawatan pada Klien dengan Sinusitis” dengan baik dan
lancar.
          Laporan ini Penulis sajikan secara sistematis agar mudah dipahami oleh pembaca.
Dengan penyusunan laporan ini, Penulis berharap dapat membantu pembaca untuk
mempermudah dalam mempelajari materi ini sesuai dengan judul laporan yang telah
ditentukan.
          Penulis menyadari benar bahwa masih terdapat kekurangan-kekurangan di dalam
penyusunan laporan ini. Oleh karena itu, kritik dan saran yang sifatnya membangun dari
setiap pembaca sangat kami harapkan demi kesempurnaan pada pembuatan laporan
kelompok selanjutnya. Semoga laporan yang sangat sederhana ini dapat bermanfaat bagi
para pembaca.
          Akhir kata Penulis ucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu
terwujudnya laporan ini, terutama kepada Bapak Husnul Mubarok, S. Kep, Ns. selaku dosen
fasilitator SGD SPS (Sensory Perception System) serta kepada Allah SWT jualah diserahkan
atas segala sesuatunya.




                                                                  Tuban, 16 Maret 2012




                                                                  Penulis
                                             BAB I
                                      PENDAHULUAN
1. 1 Latar Belakang
        Berdasarkan judul laporan ini, maka Penulis akan menjabarkan tentang latar
    belakang sebagai berikut :
        Asuhan keperawatan adalah suatu proses keperawatan dalam mengasuh klien untuk
    memaksimalkan kesehatan klien.


    Sinusitis merupakan penyakit yang sangat lazim diderita di seluruh dunia, hampir
menimpa kebanyakan penduduk Asia. Penderita sinusitis bisa dilihat dari ibu jari bagian atas
yang kempot. Sinusitis dapat menyebabkan seseorang menjadi sangat sensitif terhadap
beberapa bahan, termasuk perubahan cuaca (sejuk), pencemaran alam sekitar, dan
jangkitan bakteri. Gejala yang mungkin terjadi pada sinusitis adalah bersin-bersin terutama
di waktu pagi, rambut rontok, mata sering gatal, kaki pegal-pegal, cepat lelah dan asma. Jika
kondisi ini berkepanjangan akan meimbulkan masalah keputihan bagi perempuan, atau
ambeien (gangguan prostat) bagi laki-laki.
    Menurut Lucas seperti yang di kutip Moh. Zaman, etiologi sinusitis sangat kompleks,
hanya 25% disebabkan oleh infeksi, sisanya yang 75% disebabkan oleh alergi dan
ketidakseimbangan pada sistim saraf otonom yang menimbulkan perubahan-perubahan
pada mukosa sinus. Suwasono dalam penelitiannya pada 44 penderita sinusitis maksila
kronis mendapatkan 8 di antaranya (18,18%) memberikan tes kulit positif dan kadar IgE total
yang meninggi. Terbanyak pada kelompok umur 21-30 tahun dengan frekuensi antara laki-
laki dan perempuan seimbang. Hasil positif pada tes kulit yang terbanyak adalah debu rumah
(87,75%), tungau (62,50%) dan serpihan kulit manusia (50%).
    Sebagian besar kasus sinusitis kronis terjadi pada pasien dengan sinusitis akut yang tidak
respon atau tidak mendapat terapi. Peran bakteri sebagai dalang patogenesis sinusitis kronis
saat ini sebenarnya masih dipertanyakan. Sebaiknya tidak menyepelekan pilek yang terus
menerus karena bisa jadi pilek yang tak kunjung sembuh itu bukan sekadar flu biasa.
    Oleh karena faktor alergi merupakan salah satu penyebab timbulnya sinusitis, salah satu
cara untuk mengujinya adalah dengan tes kulit epidermal berupa tes kulit di mana tes ini
cepat, simpel, tidak menyakitkan, relatif aman dan jarang menimbulkan reaksi anafilaktik.


1. 2 Batasan Topik
        Berdasarkan latar belakang di atas, maka terdapat beberapa batasan topik sebagai
    berikut :
1. Bagaimana konsep dasar penyakit Sinusitis itu?
2. Bagaimana konsep anatomi fisiologi sensory perception system pada Sinusitis?
3. Bagaimana patofisiologi atau perjalanan penyakit Sinusitis dan WOC sehingga
   menyebabkan gangguan ke system tubuh?
4. Bagaimana asuhan keperawatan yang diberikan kepada klien Sinusitis beserta
   analisa data dari kasus?
5. Bagaimana aspek legal etik pada pasien Sinusitis?
6. Bagaimana satuan acara penyuluhan (SAP) pada pasien Sinusitis?
                                             BAB II
                                        PEMBAHASAN
2.1 KONSEP DASAR Sinusitis




     A. Pengertian
         Beberapa pengertian menurut para ahli mengenai Sinusitis, yaitu :
     Putri,2010
             Sinusitis adalah suatu keradangan yang terjadi pada sinus.
     Adhekrisna, 2010
             Sinusitis adalah merupakan penyakit infeksi sinus yang disebabkan oleh kuman
             atau virus.
     Putri rahza,2010
             sinusitis terjadi karena peradangan didaerah lapisan rongga sinus yang
             menyebabkan lendir terperangkap di rongga sinus & menjadi tempat
             tumbuhnya bakteri.


     B. Etiologi
         Penyebab terjadinya Sinusitis itu adalah :
     Pada Sinusitis Akut, yaitu:
     1. Infeksi virus
         Sinusitis akut bisa terjadi setelah adanya infeksi virus pada saluran pernafasan
         bagian atas (misalnya Rhinovirus, Influenza virus, dan Parainfluenza virus).
     2. Bakteri
         Di dalam tubuh manusia terdapat beberapa jenis bakteri yang dalam keadaan
         normal tidak menimbulkan penyakit (misalnya Streptococcus pneumoniae,
         Haemophilus influenzae). Jika sistem pertahanan tubuh menurun atau drainase dari
        sinus tersumbat akibat pilek atau infeksi virus lainnya, maka bakteri yang
        sebelumnya tidak berbahaya akan berkembang biak dan menyusup ke dalam sinus,
        sehingga terjadi infeksi sinus akut.
    3. Infeksi jamur
        Infeksi jamur bisa menyebabkan sinusitis akut pada penderita gangguan sistem
        kekebalan, contohnya jamur Aspergillus.
    4. Peradangan menahun pada saluran hidung
        Pada penderita rhinitis alergi dan juga penderita rhinitis vasomotor.
    5. Septum nasi yang bengkok
    6. Tonsilitis yg kronik


    Pada Sinusitis Kronik, yaitu:
    1. Sinusitis akut yang sering kambuh atau tidak sembuh.
    2. Alergi
    3. Karies dentis ( gigi geraham atas )
    4. Septum nasi yang bengkok sehingga menggagu aliran mucosa.
    5. Benda asing di hidung dan sinus paranasal
    6. Tumor di hidung dan sinus paranasal.
     C. Manifestasi Klinik
           Tanda dan gejala yang ditimbulkan Sinusitis adalah:


1 Sinusitis maksila akut
         Gejala : Demam, pusing, ingus kental di hidung, hidung tersumbat, nyeri pada pipi
         terutama sore hari, ingus mengalir ke nasofaring, kental kadang-kadang berbau dan
         bercampur darah.
2 Sinusitis etmoid akut
         Gejala : ingus kental di hidung dan nasafaring, nyeri di antara dua mata, dan pusing.
3 Sinusitis frontal akut
         Gejala : demam,sakit kepala yang hebat pada siang hari,tetapi berkurang setelah sore
         hari, ingus kental dan penciuman berkurang.
4 Sinusitis sphenoid akut
         Gejala : nyeri di bola mata, sakit kepala, ingus di nasofaring
5 Sinusitis Kronis
           Gejala : pilek yang sering kambuh, ingus kental dan kadang-kadang berbau,selalu terdapat
           ingus di tenggorok, terdapat gejala di organ lain misalnya rematik, nefritis, bronchitis,
           bronkiektasis, batuk kering, dan sering demam


     D. Klasifikasi
        Sinusitis secara klinis dibedakan menjadi 2 jenis, yaitu
           1. Sinusitis akut : Suatu proses infeksi di dalam sinus yang berlangsung selama 3
           minggu.
           Macam-macam sinusitis akut : sinusitis maksila akut, sinusitis emtmoidal akut, sinus
           frontal akut, dan sinus sphenoid akut.


           2. Sinusitis kronis : Suatu proses infeksi di dalam sinus yang berlangsung selama 3-8
           minggu tetapi dapat juga berlanjut sampai berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun.


     •     Sinusitis berdasarkan penyebabnya sinusitis
               a. Rhinogenik (penyebab kelainan atau masalah di hidung), Segala sesuatu yang
                   menyebabkan sumbatan pada hidung dapat menyebabkan sinusitis
          b. Dentogenik/Odontogenik          (penyebabnya    kelainan   gigi),    yang   sering
              menyebabkan sinusitis infeksi pada gigi geraham atas (pre molar dan molar)


2.2 KONSEP ANATOMI DAN FISIOLOGI SENSORY PERCEPTION SYSTEM SINUSITIS
      Sinus sendiri adalah rongga udara yang terdapat di area wajah yang terhubung dengan
   hidung.Sinus paranasal merupakan hasil pneumatisasi tulang – tulang kepala, sehingga
   terbentuk rongga di dalam tulang. Semua sinus mempunyai muara (ostium) ke dalam
   rongga hidung. Didalam rongga sinus terdapat lapisan yang terdiri dari bulu-bulu halus
   yang disebut dengan cilia. Fungsi dari cilia ini adalah untuk mendorong lendir yang di
   produksi didalam sinus menuju ke saluran pernafasan. Gerakan cilia mendorong lendir ini
   berguna untuk membersihkan saluran nafas dari kotoran ataupun organisme yang
   mungkin ada. Ketika lapisan rongga sinus ini membengkak maka cairan lendir yang ada
   tidak dapat bergerak keluar & terperangkap di dalam rongga sinus.
      Secara embriologik, sinus paranasal berasal dari invaginasi mukosa rongga hidung dan
   perkembangannya dimulai pada fetus usia 3-4 bulan, kecuali sinus sfenoid dan sinus
   frontal. Sinus maksila dan sinus etmoid telah ada saat bayi lahir, sedangkan sinus frontal
   berkembang dari sinus etmoid anterior pada anak yang berusia kurang lebih 8 tahun.
   Pneumatisasi sinus sfenoid dimulai pada usia 8-10 tahun dan berasal dari bagian
   posterosuperior rongga hidung. Sinus – sinus ini umumnya mencapai besar maksimal pada
   usia antara 15-18 tahun.


   A. Bagian-bagian sinus, meliputi :
      Rongga sinus sendiri terdiri dari 4 jenis, yaitu
      a. Sinus Frontal, terletak di atas mata dibagian tengah dari masing-masing alis
      b. Sinus Maxillary, terletak diantara tulang pipi, tepat disamping hidung
      c. Sinus Ethmoid, terletak diantara mata, tepat di belakang tulang hidung
      d. Sinus Sphenoid, terletak dibelakang sinus ethmoid & dibelakang mata
    B. Anatomi Sinusitis


        SINUS MAKSILA
Sinus maksila merupakan sinus paranasal yang terbesar. Saat lahir sinus maksila bervolume 6-
8 ml,sinus kemudian berkembang dengan cepat dan akhirnya mencapai ukuran maksimal,yaitu
15 ml saat dewasa.
Sinus maksila berbentuk pyramid. Dinding anterior sinus ialah permukaan fasial os maksila
yang disebut fosa kanina, dinding posteriornya adalah permukaan infra-temporal mkasila,
dinding medialnya ialah dinding dinding lateral rongga hidung, dinding superiornya ialah dasar
orbita dan dinding inferiornya ialah prosesus alveolaris dan palatum. Ostium sinus maksila
berada di sebelah superior dinding medial sinus dan bermuara ke hiatus semilunaris melalui
infundibulum etmoid.
Dari segi klinik yang perlu diperhatikan dari anatomi sinus maksila adalah 1) dasar sinus
maksila sangat berdekatan dengan akar gigi rahang atas, yaitu premolar (P1 dan P2), molar
(M1 danM2), kadang – kadang juga gigi taring (C) dan gigi molar M3,bahkan akar-akar gigi
tersebut dapat menonjol ke dalam sinus, sehingga infeksi gigi geligi mudah naik ke atas
menyebabkan sinusitis; 2) Sinusitis maksila dapat menimbulkan komplikasi orbita; 3) Ostium
sinus maksila terletak lebih tinggi dari dasar sinus, sehingga drenase hanya tergantung dari
gerak silia, lagi pula dreanase juga harus melalui infundibulum yang sempit. Infundibulum
adalah bagian dari sinus etmoid anterior dan pembengkakan akibat radang atau alergi pada
daerah ini dapat menghalangi drainase sinus maksila dan selanjutnya menyebabkan sinusitis.
        SINUS FRONTAL
Sinus frontal yang terletak di os frontal mulai terbentuk sejak bulan ke empat fetus, berasal
dari sel-sel resesus frontal atau dari sel-sel infundibulum etmoid. Sesudah lahir, sinus frontal
mulai berkembang pada usia 8-10 tahun dan akan mencapai ukuran maksimal sebelum usia 20
tahun.
Sinus frontal kanan dan kiri biasanya tidak simetris, satu lebih besar dari lainya dan dipisahkan
oleh sekat yang terletak di garis tengah. Kurang lebih 15% orang dewasa hanya mempunyai
satu sinus frontal dan kuran lebih 5% sinus frontalnya tidak berkembang.
Ukuran sinus frontal adalah 2,8 cm tingginya, lebarnya 2,4 cm dan dalamnya 2 cm. sinus fronta
biasanya bersekat-sekat dan tepi sinus berlekuk-lekuk. Taidak adanya gambaran septum-
septum atau lekuk-lekuk dinding sinus pada foto Rontgen menunjukan adanya infeksi sinus.
Sinus frontal dipisahkan oleh tulang yang relative tipis dari orbita dan fosa serebri anterior,
sehingga infeksi dari sinus fronta mudah menjalar ke daerah ini.
Sinus frontal berdrenase melalui ostiumnya yang terletak di resesus frontal, yang
berhubungan dengan infundibulum etmoid.
       SINUS ETMOID
Dari semua sinus paranasal, sinus etmoid yang paling bervariasi dan akhir-akhir ini dianggap
paling penting, karena dapat merupakan focus bagi sinus-sinus lainnya. Pada orang dewasa
bentuk sinus etmoid seperti pyramid dengan dasarnya di bagian posterior. Ukuran dari
anterior ke posterior 4-5 cm, tinggi 2,4 cm dan lebarnya 0,5 cm dibagian anterior dan 1,5 cm
dibagian posterior.
Sinus etmoid berongga-rongga, terdiri dari sel-sel yang menyerupai sarang tawon, yang
terdapat di dalam massa bagian lateral os etmoid, yang terletak diantar konka media dan
dinding dinding medial orbita. Sel-sel ini jumlahnya bervariasi. Berdasarkan letaknya, sinus
etmoid dibagi menjadi sinus etmoid anterior yang bermuara di meatus medius dan sinus
etmoid posterior yang bermuara di meatus medius dan sinus etmoid posterior yang bermuara
di meatus superior. Sel-sel sinus etmoid anterior biasanya kecil-kecil dan banyak, letaknya di
depan lempeng yang menghubungkan bagian posterior konka media dengan dinding lateral (
lamina basalis), sedangkan sel-sel sinus etmoid posterior biasanya lebih besar dan lebih sedikit
jumlahnya dan terletak diposterior dari lamina basalis.
Dibagian terdepan sinus etmoid anterior ada bagian yang sempit, disebut resesus frontal, yang
berhubungan sinus frontal. Selo etmoid yang terbesar disebut bula etmoid. Di daerah etmoid
anterior terdapat suatu penyempitan yang di sebut infundibulum, tempat bermuaranya
ostium sinus maksila. Pembengkakan atau peradangan diresesus frontal dapat menyebabkan
sinusitis frontal dan pembengkakan di infundibulum dapat menyebabkan sinusitis maksila.
Atap sinus etmoid yang disebut fovea etmoidalis berbatasan dengan lamina kribrosa. Dinding
lateral sinus adalah lamina papirasea yang sangat tipis dan membatasi sinus etmoid darirongga
orbita. Di bagian belakang sinus etmoid posterior berbatasan dengan sinus sfenoid.
       SINUS SFENOID
Sinus sfenoid terletak dalam os sfenoid di belakang sinus etmoid posterior. Sinus sfenoid
dibagi dua oleh sekat yang disebut septum intersfenoid. Ukurannya adalah 2 cm tingginya,
dalamnya 2,3 cm dan lebarnya 1,7 cm. volumenya bervariasi dari 5 sampai 7,5 ml. saat sinus
berkembang, pembuluh darah dan nervus dibagian lateral os sfenoid akan menjadi sangat
berdekatan dengan rongga sinus dan tampak sebagai indensitasi pada dinding sinus sfenoid.
Batas-batasnya ialah, sebelah superior terdapat fosa serebri media dan kelenjar hipofisa,
sebelah inferiornya atap nasofaring, sebelah lateral berbatasan dengan sinus kavernosus dan
a.karotis interna (sering tampak sebagai indentasi) dan disebelah posteriornya berbatasan
dengan fosa serebri posterior didaerah pons.


               KOMPLEKS OSTIO-MEATAL


Pada sepertiga tengah dinding lateral hidung yaitu di meatus medius, ada muara-muara
saluran dari sinus maksila, sinus frontal dan sinus etmoid anterior. Daerah ini rumit dan
sempit, dan dinamakan kompleks ostio-meatal (KOM), terdiri dari infundibulum etmoid yang
terdapat di belakang prosesus unsinatus, resesus frontalis, bula etmoid dan sel-sel etmoid
anterior dengan ostiumnya dan ostium sinus maksila.


               SISTEM MUKOSILIAR


Seperti pada mukosa hidung, di dalam sinus juga terdapat mukosa bersilia dan palut lendir
diatasnya. Di dalam sinus silia bergerak secara teratur untuk mengalirkan lendir menuju
ostium alamiahnya mengikuti jalur-jalur yang sudah tertentu polanya.
Pada dinding lateral hidung terdapat 2 aliran transport mukosiliar dari sinus. Lendir yang
berasal dari kelompok sinus anterior yang bergabung di infundibulum etmoid dialirkan ke
nasofaring di depan muara tuba Eusthacius. Lendir yang berasal dari kelompok sinus posterior
bergabung diresesus sfenoetmoedalis, dialirkan ke nasofaring di posterior-superior muara
tuba. Inilah sebabnya pada sinusitis di dapati secret pasca-nasal (post nasal drip), tetapi belum
tentu ada secret di rongga hidung.
    C. Fisiologi Sinusitis


Fungsi sinus paranasal antara lain:
         Sebagai pengatur kondisi udara (air conditioning)
Sinus berfungsi sebagai ruang tambahan untuk memanaskan dan mengatur kelembaban udara
inspirasi. Keberatan terhadap teori ini ialah karean ternyata tidak didapati pertukaran udara
yang definitive antara sinus dan rongga hidung.
Volume pertukaran udara dalam ventilasi sinus kurang lebih 1/1000 volume sinus pada tiap
kali bernafas, sehingga di butuhkan beberapa jam untuk pertukaran udara total dalam sinus.
Lagi pula mukosa sinus tidak mempunyai vaskularisasi dan kelenjar yang sebanyak mukosa
hidung.
         Sebagai penahan suhu (thermal insulators)
Sinus paranasal berfungsi sebagai penahan (buffer) panas, melindungi orbita dan fosa serebri
dari suhu rongga hidung yang berubah-ubah. Akan tetapi kenyataanya sinus-sinus yang besar
tidak terletak di antara hidung dan organ-organ yang di lindungi.
       Membantu keseimbangan kepala
Sinus membantu keseimbanga kepala karena mengurangi berat tulang muka. Akan tetapi bila
udara dalam sinus diganti dengan tulang, hanya aka memberikan pertambahan berat sebesar
1% dari berat kepala, sehingga teori ini dianggap tidak bermakna.
       Membantu resonasi suara
Sinus ini mungkin berfungsi sebagai rongga untuk resonasi suara dan mempengaruhi kualitas
suara. Akan tetapi ada yang berpendapat, posisi sinus dan ostiumnya tidak memungkinkan
sinus berfungsi sebagai resonator yang efektif. Lagi pula tidaj ada kolerasi antara resonasi
suara dan besarnya sinus pada hewan-hewan tingkat rendah.
       Sebagai peredam perubahan tekanan udara
Fungsi ini berjalan bila ada perubahan tekanan yang besar dan mendadak, misalnya pada
waktu bersin atau membuang ingus.
       Membantu produksi mucus
Mucus yang dihasilkan oleh sinus paranasal memang jumlahnya kecil dibandingkan dengan
mucus dari rongga hidung, namun efektif untuk membersihkan partikel yang masuk dengan
udara inspirasi karena mucus ini keluar dari meatus medius, tempat yang paling strategis.
2.3 PATOFISIOLOGI ATAU PERJALANAN PENYAKIT SINUSITIS
                 Kesehatan sinus dipengaruhi oleh patensi ostium-ostium sinus dan kelancaran
      mucociliary clearance didalam komplek osteo meatal (KOM). Disamping itu mukus
      juga mengandung substansi antimikrobial dan zat-zat yang berfungsi sebagai
      pertahanan terhadap kuman yang masuk bersama udara pernafasan. Bila
      terinfeksi organ yang membentuk KOM mengalami oedem, sehingga mukosa yang
      berhadapan akan saling bertemu  silia tidak dapat bergerak dan juga menyebabkan
      tersumbatnya ostium  tekanan negatif didalam rongga sinus yang menyebabkan
      terjadinya transudasi atau penghambatan drainase sinus. Efek awal yang ditimbulkan
      adalah keluarnya cairan serous yang dianggap sebagai sinusitis non bakterial yang
      dapat sembuh tanpa pengobatan. Bila tidak sembuh maka sekret yang tertumpuk
      dalam sinus  media yang poten untuk tumbuh dan multiplikasi bakteri, dan sekret
      akan berubah menjadi purulen yang disebut sinusitis akut bakterialis yang
      membutuhkan terapi antibiotik. Jika terapi inadekuat maka keadaan ini bisa berlanjut,
      akan terjadi hipoksia dan bakteri anaerob akan semakin berkembang  perubahan
      kronik dari mukosa yaitu hipertrofi, polipoid atau pembentukan polip dan kista.
2.4 ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN DENGAN SINUSITIS


   KASUS PEMICU
   Tn S berumur 40 thn dirawat di rs NU tuban. Pada tanggal 13 maret 2012 dengan keluhan
   utama pilek tidak kunjung sembuh selama 3 minggu disertai sakit didaerah pipi dan
   bengkak diwajah didapat pada         pemfis ingus kental berbau,febris,degan TTV: TD
   120/80mmhg, N 110x/mnt, S 39c, RR 28x/mnt. Pada pemeriksaan endoskopi didapatkan
   sekret yang purulen,cavum nasi menyempit,odema. Advice dokter menyarankan dilakukan
   drainase dan pemberian antibiotik dan oksigenasi.


   A. Pengkajian
     I.       Identitas
              Nama                     : Tuan S
              Jenis kelamin            : Laki-laki
              Umur                     : 40 tahun
              Tanggal MRS              : 13 Maret 2012
              Status perkawinan        : Menikah
              Pendidikan               : SMP
           Suku/Bangsa                : Indonesia
           Agama                      : Islam
           Alamat                     : Ds. Mrutuk-Tuban
           Pekerjaan orangtua         : Pedagang
           Sumber informasi           : Pasien
 II.       Keluhan Utama : pilek tidak kunjung sembuh selama 3 minggu
III.       Riwayat Keperawatan
        Riwayat Penyakit Sekarang :
               P     : Tn.S dibawa ke RS karena sudah 3 minggu pilek tidak sembuh-
                sembuh. Tn.S juga merasakan sakit di daerah pipi dan wajahnya
                bengkak.Sebelumnya Tn.S sudah minum obat pilek (mixagrib) sudah sembuh
                tapi kemudian timbul lagi dan sekarang dibawa ke RS.
               Q     : pilek yang dirasakan bercampur ingus yg kental dan berbau
               R     : pilek dirasakan di hidung dan di daerah pipi terasa penuh seperti ada
                airnya.
               S     : pilek yang dirasakan sangat mengganggu aktivitas pekerjaan Tn.S,
                hidungnya tersumbat karena pilek yg tidak sembuh2.
               T     : pilek mulai terjadi saat Tn.S bekerja di pagi hari.


        Riwayat Penyakit Dahulu :
            Tn.S pernah mengalami sakit gigi bagian atas tetapi sudah di cabut.


        Riwayat Penyakit Keluarga : dari keterangan pasien keluarga pasien semua
            pernah mengalami sakit gigi.


IV.        Observasi dan Pemeriksaan Fisik
        Keadaan Umum :
        Wajah Tn.S terlihat bengkak
        Tn.S terlihat meringis kesakitan
        Tn.S tampak lelah
        Suara Tn.S berat seperti hidung tersumbat
 TTV :
 S : 39 celcius (normal 36,5 – 37,5 celcius)
 N : 110 x/menit ( 60 – 100 x/menit)
 TD : 120/80mmHg (<=120-130, <=80 mmHg)
 RR : 28 x/menit (16 – 20 x/menit)


 Body System
 B1 (Breathing)
              o     Tn.S tampak lelah
              o     Bentuk dada normal
              o     Pengguanan otot bantu pernapasan (retraksi dinding dada)
              o     Adanya cuping hidung
              o     Suara pernapasan ronkhi
              o     Pola napas tidak teratur dengan RR 28 x/mnt
 B2 (Blood)
              o     Didapatkan tekanan darah yang normal (120/80 mmHg)
              o     Takikardi (Nadi 110 x/mnt)
     B3 (Brain)
          o       Terlihat cemas
          o       Febris dengan suhu 39C
          o       Terlihat meringis kesakitan
          o       Kesadaran compos mentis
          o       Didapatkan nyeri tekan pada buccae
          o       Skala nyeri 6 (sedang)
          o       Respon mmbau Tn.S menurun saat diberi rangsangan bau
     B4 (Bladder)
          o       Produksi urin normal min 400 cc/hari
          o       Alat kelamin bersih
     B5 (Bowel)
          o       Halitosis
          o       Anorexia
         o    BB mnurun
         o    Mulut bersih
     B6 (Bone)
                o   Tn.S terlihat lelah
                o   Mampu mggerakkan sendi dengan bebas
IV.     Pemeriksaan penunjang
 Rinoskopi anterior
         o   Tampak mukosa konka hiperemis, kavum nasi sempit, dan edema.Pada
             sinusitis maksila, sinusitis frontal dan sinusitis ethmoid anterior tampak
             mukopus atau nanah di meatus medius, sedangkan pada sinusitis ethmoid
             posterior dan sinusitis sfenoid nanah tampak keluar dari meatus superior.
 Rinoskopi posterior : Tampak mukopus di nasofaring (post nasal drip).


 Dentogen : Caries gigi (PM1,PM2,M1)


 Transiluminasi (diaphanoscopia)
 Sinus yang sakit akan menjadi suram atau gelap. Pemeriksaan transiluminasi bermakna
 bila salah satu sisi sinus yang sakit, sehingga tampak lebih suram dibanding sisi yang
 normal.


 X Foto sinus paranasalis:
      Pemeriksaan radiologik yang dibuat ialah Posisi Water’s, Posteroanterior dan Lateral.
 Akan tampak perselubungan atau penebalan mukosa atau batas cairan udara (air fluid
 level) pada sinus yang sakit.
 Posisi Water’s adalah untuk memproyeksikan tulang petrosus supaya terletak di bawah
 antrum maksila, yakni dengan cara menengadahkan kepala pasien sedemikian rupa
 sehingga dagu menyentuh permukaan meja. Posisi ini terutama untuk melihat adanya
 kelainan di sinus maksila, frontal dan etmoid. Posisi Posteroanterior untuk menilai sinus
 frontal dan Posisi Lateral untuk menilai sinus frontal, sphenoid dan etmoid


 Pemeriksaan CT –Scan
      Pemeriksaan CT-Scan merupakan cara terbaik untuk memperlihatkan sifat dan sumber
 masalah pada sinusitis dengan komplikasi. CT-Scan pada sinusitis akan tampak :
 penebalan mukosa, air fluid level, perselubungan homogen atau tidak homogen pada
 satu atau lebih sinus paranasal, penebalan dinding sinus dengan sklerotik (pada kasus-
 kasus kronik).Hal-hal yang mungkin ditemukan pada pemeriksaan CT-Scan :
 a. Kista retensi yang luas, bentuknya konveks (bundar), licin, homogen, pada
     pemeriksaan CT-Scan tidak mengalami ehans. Kadang sukar membedakannya
     dengan polip yang terinfeksi, bila kista ini makin lama makin besar dapat
     menyebabkan gambaran air-fluid level.
 b. Polip yang mengisi ruang sinus
 c. Polip antrokoanal
 d. Massa pada cavum nasi yang menyumbat sinus
 e. Mukokel, penekanan, atrofi dan erosi tulang yang berangsur-angsur oleh massa
     jaringan lunak mukokel yang membesar dan gambaran pada CT Scan sebagai
     perluasan yang berdensitas rendah dan kadang-kadang pengapuran perifer.


 2.5.7 Pemeriksaan di setiap sinus
 a. Sinusitis maksila akut
       Pemeriksaan rongga hidung akan tampak ingus kental yang kadang-kadang dapat
     terlihat berasal dari meatus medius mukosa hidung. Mukosa hidung tampak
     membengkak (edema) dan merah (hiperemis). Pada pemeriksaan tenggorok,
     terdapat ingus kental di nasofaring.
       Pada pemeriksaan di kamar gelap, dengan memasukkan lampu kedalam mulut
     dan ditekankan ke langit-langit, akan tampak pada sinus maksila yang normal
     gambar bulan sabit di bawah mata. Pada kelainan sinus maksila gambar bulan sabit
     itu kurang terang atau tidak tampak. Untuk diagnosis diperlukan foto rontgen. Akan
     terlihat perselubungan di sinus maksila, dapat sebelah (unilateral), dapat juga kedua
     belah (bilateral ).
 b. Sinusitis etmoid akut
       Pemeriksaan rongga hidung, terdapat ingus kental, mukosa hidung edema dan
     hiperemis. Foto roentgen, akan terdapat perselubungan di sinus etmoid.
 c. Sinusitis frontal akut
       Pemeriksaan rongga hidung, ingus di meatus medius. Pada pemeriksaan di kamar
     gelap, dengan meletakkan lampu di sudut mata bagian dalam, akan tampak bentuk
     sinus frontal di dahi yang terang pada orang normal, dan kurang terang atau gelap
     pada sinusitis akut atau kronis. Pemeriksaan radiologik, tampak pada foto roentgen
     daerah sinus frontal berselubung.
 d. Sinusitis sfenoid akut
       Pemeriksaan rongga hidung, tampak ingus atau krusta serta foto rontgen.
B. ANALISA DATA
     Analisa data 1
   Data                                    Etiologi                             Masalah
   Ds : Tn.S mengatakan pilek tidak            Infalamasi sinus maxilaris       MK:Bersihan
   sembuh2 selama 3 minggu                                                      jalan napas
   Do:                                        Peradanagan lapisan rongga        tidak efektif
         •     RR : 28 x/menit                           hidung
        •     Tn.S tampak lelah
        •     Suara Tn.S berat seperti        Stimulus sel goblet dan sel
              hidung tersumbat.                          mucosa
        •     Pengguanan otot bantu
              pernapasan (retraksi          Meningkatkan produksi mucus
              dinding dada)
        •     Adanya cuping hidung              Akumulasi secret pada
        •     Suara pernapasan ronkhi                 sal.pernapasan
        •     Pemeriksaan rinoskopi
              didapatkan secret yang       Bersihan jalan napas tidak efektif
              purulen, cavum nasi yang
              menyempit dan oedem




     Analisa data 2
   Data                                                  Etiologi               Masalah
   Ds :.Sakit didaerah pipi(buccae)        Secret tertimbun lebih banyak di     MK:
   Do :                                                   sinus                 Gangguan
            Terdapat nyeri tekan dengan                                        rasa nyaman
             skala 6                                                            nyeri
            Pemeriksaan endoskopi            Peningkatan tekanan sinus
             didapatkan sekret yang
             purulen ,cavum nasi yang
             menyempit,edema                     Nyeri di daerah sinus




                                           MK. Gangguan rasa nyaman nyeri
     C. DIAGNOSA KEPERAWATAN
         1. Pola napas tdk efektif
         2. Bersihan jalan napas tdk efektif
         3. Kerusakan pertukaran gas
         4. Gangguan keseimbangan suhu tubuh (hipertermia)
         5. Gangguan persepsi sensori (penghidungan)
         6. Gangguan rasa nyaman (nyeri)
         7. Gangguan persepsi sensori (penglihatan)
         8. Gangguan eliminasi urin
         9. Gangguan pemenuhan keb.cairan dan elektrolit
         10.Gangguan perfusi jaringan
         11.Resiko syok hipovolemik
         12.Resiko cidera
         13.Gangguan pemenuhan keb.nutrisi
         14.Intoleransi aktivitas
     D. INTERVENSI KEPERAWATAN
HARI/T   NO.DIAGNOSA                  INTERVENSI             RASIONAL
GL
Selasa / Diagnosa.1                  1.   Auskultasi bunyi nafas.        1. Untuk mengetahui
13       Tujuan :                         Catat adanya bunyi nafas,          adanya obstruksi jalan
maret    -   Jalan nafas efektif          kaji dan pantau suara              nafas, tachipneu
2012         setelah secret               pernafasan.                        merupakan derajat
             dikeluarkan.            2. Kaji penumpukan secret               yang ditemukan
         -   Mempertahankan               yang ada.                          adanya proses infeksi
             jalan nafas paten       3. Tinggikan kepala tempat              akut.
             dengan bunyi nafas           tidur (semi fowler).           2. Mengetahui tingkat
             bersih                  4. Kolaborasi :                         keparahan dan
                                     -    Pemberian antibiotic               tindakan selanjutnya.
         Kriteria hasil :            -    Pemberian nebulizer            3. Upaya menghindari
         -   Pasien tidak            -    Tindakan drainage                  kolaps paru
             menggunakan otot        -    Tindakan oksigenasi            4. Kolaborasi :
             bantu pernapsan                                             -   Untuk terapi kausal
         -   Tidak ada cuping                                                (bakteri)
             hidung                                                      -   Untuk pngenceran
         -   Tidak ada suara                                                 secret agar mudah
             napas tambahan                                                  dilakukan drainage
         -   Pola napas teratur                                          -   Untuk pembersihan
             dengan RR 16-20                                                 secret yg menumpuk
             x/mnt                                                           Upaya              untuk
         -   Tidak ada secret saat                                           menangani pola napas
             pemeriksaan                                                     yang tidak teratur
             rinoskopi.




Selasa / Diagnose 6                       1. Kaji nyeri, catat lokasi,       1. Perubahan pada
13       Tujuan :                             karakteristik, dan                 karakteristik nyeri
maret    1. Jangka panjang:                   laporkan perubahan                 menunjukan
2012         -setelah dilakukan               nyeri dengan tepat.                terjadi proses
             intervensi diharapkan                                               degenerasi atau
             nyeri hilang atau            2. Pertahankan istirahat               proses infeksi
             terkontrol                       dengan posisi tidur            2. Memungkinkan
             -rasa nyaman                     mid fowler atau                    drainase dan
     terpenuhi                    miring ke sisi sinus       mengurangi
     2. jangka pendek:            maksilaris yang sehat      edema.
     -setelah dilakukan
     intervensi selama         3. Dorong untuk            3. Mengurangi
     1x24jam skala nyeri          ambulasi bertahap          bengkak pada
     turun.                       s/d kemampuan.             opst operasi sinus
                                                             maksilaris.
                               4. Berikan aktivitas       4. Meningkatkan
Kriteria hasil :                  hiburan                    relaksasi,
a.Klien mengatakan nyeri                                     sekaligus
berkurang/hilang                                             meninfgktakn
b.        Klien        dapat                                 koping
beristirahat /tidur.           5. Berikan kompres es      5. Mengurangi nyeri,
                                  segera pada daerah         dan
                                  sinus maksilaris kiri      pembengkakan.
                               6. Kolaborasi berikan
                                  analgetik s/d program   6. Mengurangi
                                  pengobatan dokter.         nyeri,meningkatk
                                                             an istirahat
   E. IMPLEMENTASI KEPERAWATAN
HARI/TGL   NO.DIAGNOSA   JAM     IMPLEMENTASI                                      TTD
Selasa/ 13 Diagnose 1    07.00   1. Melakukan auskultasi bunyi nafas.
maret                                 Mencatat adanya bunyi nafas,
2012                                  Mengkaji dan Memantau suara
                                      pernafasan.
                                 2. mengkaji penumpukan secret yg ada.
                                 3. meninggikan kepala tempat tidur (semi
                                      fowler).
                                 4. Berkolaborasi :
                                 -    Memberikan antibiotic
                                 -    Memberikan nebulizer.
                                 -    Melakukan tindakan drainage.
                                 Melakukan tindakan oksigenasi
Selasa/ 6 Diagnose 6     08.00   1.    Mengkaji       nyeri,     catat   lokasi,
maret                            karakteristik, dan laporkan perubahan nyeri
2012                             dengan tepat.
                                 2. Mempertahankan istirahat dengan posisi
                                 tidur mid fowler atau miring ke sisi sinus
                                 maksilaris yang sehat
                                 3. Mendorong untuk ambulasi bertahap
                                 s/d kemampuan.
                                 4.Memberikan aktivitas hiburan
                                 5.Memberikan kompres es           segera pada
                                 daerah sinus maksilaris kiri.
                                 6. Mengkolaborasi berikan analgetik s/d
                                 program pengobatan dokter.
   F. EVALUASI KEPERAWATAN
HARI/TGL     NO.DIAGNOSA   EVALUASI                                               TTD
Rabu,   13 Diagnose 1      S : Tn.S mengatakan sudah tdk pilek
maret 2012                 O:
                           -       TTV dlm batas normal:
                               -     RR : 20 x/mnt
                           -       Pemeriksaan rinoskopi tdk ada secret purulen
                                   di mucosa hidung, tdk ada oedem dan cavum
                                   nasi kembali semula
                           -       Auskultasi tdk ada bunyi napas tambahan/
                                   ronki (-) vesikuler
                           -       Sudah tdk menggunakan otot bantu
                                   pernapasan.
                           A : masalah teratasi
                           P : hentikan intervensi, pertahankan hasil

Rabu,   13 Diagnose 6      S:Klien mengatakan nyeri berkurang mulai hari ke
maret 2012                          dua(selasa)
                           O: Klien dapat beristirahat/tidur, palpasi masih
                                    nyeri.
                           A: Nyeri akut sebagian teratasi.
                           P : lanjutkan intervensi 1,2,3.
2.5 LEGAL ETIK PADA PASIEN KATARAK
    Penatalaksanaan Sinusitis


   •   Tujuan terapi sinusitis ialah:
           –   Mempercepat penyembuhan
           –   Mencegah komplikasi
           –   Mencegah perubahan menjadi kronik
   •   Prinsip pengobatan ialah membuka sumbatan di KOM sehingga drainase dan ventilasi
       sinus-sinus pulih secara alami.
   •   Drainase
           –    Dengan pemberian obat, yaitu
               Dekongestan local : efedrin 1%(dewasa) ½%(anak).
               Dekongestan oral : sedo efedrin 3 X 60 mg
           –   Surgikal dengan irigasi sinus maksilaris.
      Pemberian antibiotik dalam 5-7 hari (untuk Sinusitis akut) yaitu :
                    •   Ampisilin 4 X 500 mg
                    •   Amoksilin 3 x 500 mg
                    •   Sulfametaksol=TMP (800/60) 2 x 1tablet
                    •   Diksisiklin 100 mg/hari.
      Pemberian obat simtomatik
       Contohnya parasetamol., metampiron 3 x 500 mg.
      Untuk Sinusitis kronis bisa dengan
                            •    Cabut geraham atas bila penyebab dentogen
                            •    Irigasi 1 x setiap minggu
                            •    Operasi Cadwell Luc bila degenerasi mukosa ireversibel
                                 (biopsi)
      Pembedahan
            Pembedahan, dilakukan :
           o   bila setelah dilakukan pencucian sinus 6 kali ingus masih tetap kental.
           o   bila foto rontgen sudah tampak penebalan dinding sinus paranasal.
               Persiapan sebelum pembedahan perlu dibuat foto ( pemeriksaan) dengan CT
               scan.
            Pembedahan
            Radikal
o   Sinus maksila dengan operasi Cadhwell-luc : .
o   Sinus ethmoid dengan ethmoidektomi.
o   Sinus frontal dan sfenoid dengan operasi Killian.
 Non Radikal
o   Bedah Sinus Endoskopik Fungsional (BSEF).
    Prinsipnya dengan membuka dan membersihkan daerah kompleks
    ostiomeatal.
2.6 SATUAN ACARA PENYULUHAN
                                          SATUAN ACARA PENYULUHAN
Pokok Bahasan                   : Penyakit Sinusitis
Sub Pokok Bahasan               : Perawatan pada penderita Sinusitis
Waktu                           : Pkl 07.30 – 08.20
Hari/Tanggal                    : Rabu, 14 maret 2012
Tempat                          : Aula RS
Sasaran                         : Klien dan keluarga (peserta) di RS
Penyuluh                        : Mahasiswa STIKES NU Tuban semester 4
---------------------------------------------------------------------------------------------------
A. Tujuan Instruksional
     1. Tujuan Instruksional Umum
          Setelah mendapat penyuluhan tentang Katarak selama 30 menit, diharapkan peserta
          mengerti tentang perawatan pada anak dengan Sinusitis
     2. Tujuan Instruksional Khusus
      Setelah mendapatkan penyuluhan, diharapkan peserta mampu :
         a) Menjelaskan tentang pengertian Sinusitis
         b) Menjelaskan penyebab Sinusitis
         c) Menyebutkan tanda tanda Sinusitis
         d) Menyebutkan pencegahan Sinusitis
         e) Menjelaskan pengobatan Sinusitis
B. Metode belajar
          1. Ceramah
          2. Tanya jawab
          3. Brain storming
C. Alat dan Media
          1. Leaflet
          2. Flip Chart
          3. Laptop
          4. LCD
D. Kegiatan Penyuluhan
 No   Waktu    Topik           Kegiatan Penyuluh                    Kegiatan           Oleh
                                                                    Peserta
 1    15       Perkenalan    1. Menyampaikan              salam - Membalas             Moderator
      menit                     pembuka                                 salam
                             2. Memperkenalkan diri                 - Memperh          Penyaji
                             3. Menyampaikan              tujuan        atikan
                                penyuluhan
                             4. Mengingatkan             kontrak
                                waktu      dan    mekanisme
                                pelaksanaan penyuluhan
 2    30       Pengembanga   1. Meminta          klien      dan -       Memper         Moderator
      menit    n                keluarga                  untuk         hatikan
                                menjelaskan               sedikit       penjelasa
                                tentang Sinusitis sebatas               n       dan
                                yang    diketahui.        (Brain        demonst
                                storming)                               rasi
                             2. Penyampaian              Materi,        dengan
                                tentang:          Pengertian,           cermat
                                penyebab, tanda gejala, -               Menanya
                                                                                       Penyaji
                                pencegahan,              setelah        kan      hal
                                pengobatan Sinusitis                    yang
                             3. Pemberian        kesempatan             belum
                                pada peserta penyuluhan                 jelas
                                untuk bertanya.                     -   Memper
                             4. Menjawab          pertanyaan            hatikan
                                peserta penyuluhan yang                 jawaban
                                berkaitan dengan materi.                penyuluh

                             5. Memberikan kesempatan                   an             Moderator
                                kepada pembimbing untuk
                                memberikan masukan dan
                                argument
 No    Waktu       Topik                 Kegiatan Penyuluh                  Kegiatan          Oleh
                                                                            Peserta
 3     10          Penutup           1. Membuka            kesempatan -         Berpartis     Moderator
       menit                             untuk diskusi.                         ipasi aktif
                                     2. Melakukan         evaluasi      :       dalam
                                         Menanyakan pada pasien                 kegiatan
                                         dan     keluarga       tentang         diskusi       Penyaji
                                         kejelasan     materi       yang        dan
                                         diberikan dan memberikan               tanya
                                         penguatan        positif    bila       jawab
                                         keluarga    pasien         dapat -     Menjelas
                                         menjawab dan menjelaskan               kan
                                         kembali       materi        dan        kembali
                                         menjawab pertanyaan.                   materi
                                     3. Menyimpulkan            kegiatan        dan
                                         penyuluhan,                            menjawa       Moderator

                                         menyampaikan               salam       b
                                         penutup.                               pertanya
                                         Membagikan leaflet                     an.
                                                                            -   Mendeng
                                                                                arkan         Fasilitator
                                                                                dan
                                                                                membala
                                                                                s salam


E. Pengorganisasian dan Job Discription
     1. Pembimbing         : Husnul Mubarok, S.Kep,Ns
     2. Moderator          : Nur Vadhillah
      Job Discription      : Membuka dan menutup kegiatan
                            Membuat susunan acara dengan jelas
                            Memimpin jalannya kegiatan
     3. Penyaji            : Desta Nur Wahyu
      Job Discription      : Menyampaikan materi penyuluhan dengan jelas
     4. Observer           : Eko Remon Karisma
     Job Discription     : Membuat resume kegiatan SAP
                         Mengobservasi semua kegiatan penyuluhan
   5. Fasilitator        :
      Job Discription    : Membantu menyiapkan perlengkapan penyuluhan
                             Memotivasi audience untuk bertanya
                         Membantu penyaji dalam menganggapi pertanyaan audience
F. Kritera Evaluasi
   1. Evaluasi struktur
      1) Peserta atau pasien dan keluarga
      2) Penyelenggaraan penyuluhan di ruang aula STIKES NU Tuban
      3) engorganisasian penyelenggaraan penyuluhan dilakukan oleh mahasiswa prodi S-1
          Keperawatan tingkat II STIKES NU Tuban
      4) Kontrak waktu dilakukan 1 hari sebelum penyuluhan dan 15 menit sebelum
          pelaksanaan penyuluhan.
   2. Evaluasi proses
      1) Peserta atau pasien dan keluarga antusias terhadap materi penyuluhan.
      2) Peserta atau pasien dan keluarga mengikuti penyuluhan sampai selesai.
      3) Peserta atau pasien dan keluarga            mengajukan pertanyaan dan menjawab
          pertanyaan secara benar.
      4) Peserta atau pasien dan keluarga berpartisipasi aktif dalam kegiatan sharing.
   3. Evaluasi hasil :
     1) Peserta mampu menjelaskan tentang pengertian Katarak
     2) Peserta mampu menjelaskan penyebab Sinusitis
     3) Peserta mampu menyebutkan tanda tanda Sinusitis
     4) Peserta mampu menyebutkan pencegahan Sinusitis
     5) Peserta mampu melakukan pengobatan Sinusitis
                                   MATERI PENYULUHAN
•    PENGERTIAN
              Sinusitis adalah suatu peradangan pada rongga udara di area wajah yang
     terhubung dengan hidung.
•    PENYEBAB
              Terjadinya sinusitis dapat merupakan perluasan infeksi dari hidung (rinogen),
     gigi dan gusi (dentogen) akibat dari masuknya virus, bakteri dan jamur ke dalam
     rongga udara tersebut. Bisa juga karena alergi atau ada tumor di dalam hidung.
•    TANDA-TANDA
    – Ingus yang kental
    – Batuk dengan dahak kental
    – Bengkak pada wajah
    – Sakit kepala
    – Nyeri di wajah
    – Sakit gigi
    – Nyeri telinga
    – Sakit tenggorok
    – Nafas berbau
    – Bersin-bersin bertambah sering
    – Demam
    PENCEGAHAN
     •   Selalu bina hidup sehat
     •   Bina lingkungan yang sehat
     •   Hindari lingkungan yang kotor
     •   Hindari penularan penyakit pernapasan
     •   Konsumsi makanan yang bergizi banyak vitamin untuk meningkatkan daya tahan
         tubuh.
     •   Obati segera apabila terkena sakit flu


    PENGOBATAN UNTUK SINUSITIS
    •     Dapat diobati dengan mengeluarkan sekret di dalam sinus
    •     Dengan obat-obat antibiotik
    •     Dengan pencucian sinus-sinus
•   Terakhir jika keadaan penyakit buruk dilakukan pembedahan/operasi utk
    mengeluarkan sekret yg terperangkap di dalam sinus
                                             BAB III
                                           RINGKASAN


4.1 Simpulan
        Sinusitis merupakan penyakit inflamasi mukosa sinus paranasal yang sering ditemukan
dalam praktik dokter sehari-hari, bahkan dianggap sebagai salah satu penyebab gangguan
kesehatan tersering di seluruh dunia. Ada empat pasang sinus paranasal, mulai dari yang
terbesar yaitu sinus maksila, sinus frontal, sinus etmoid dan sinus sfenoid kanan dan kiri.
Semua sinus mempunyai muara (ostium) ke dalam rongga hidung. Infeksi virus ini, dapat
dipengaruhi oleh lingkungan yang berpolusi, udara dingin dan kering serta kebiasaan merokok.
Keadaan ini lama-lama menyebabkan perubahan mukosa dan merusak silia. Dalam Consensus
International tahun 1995 membagi sinusitis hanya akut dengan batas sampai 8 minggu yang
kebanyakan disebabkan oleh streptococcus pneumonia (30-50%) dan kronik yang lebih
disebabkan oleh bakteri gram negative dan anaerob jika lebih dari 8 minggu.
        Pasien dengan sinusitis harus diberikan perawatan secara intensif dan perlunya
pengetahuan dari pihak keluarga agar penyakit tersebut tidak mengalami komplikasi. Dan kita
sebagai perawat harus mampu memberikan edukasi tentang gejala dini katarak agar dapat
segera diobati.
        Pengobatan atau terapi sangat dibutuhkan untuk pasien sinusitis agar tidak lebih
menyebar ke sistemik tubuh. Tetapi kita sebagai perawat harus berkolaborasi dengan tenaga
kesehatan lain untuk pencapaian derajat kesehatan pasien.
        Dan tentunya setiap tindakan yang akan dilakukan harus sesuai dengan aspek legal etik
kita sebagai perawatn yang professional.
                                 REFERENSI PUSTAKA


   Doenges, Marilyan E. 1999. Rencana Asuhan Keperawatan. Alih bahasa: I Made
    Kariasa. Jakarta . EGC
   Long, C Barbara. 1996.Perawatan Medikal Bedah : 2.Bandung. Yayasan Ikatan Alumni
    Pendidikan Keperawatan Pajajaran
   Margaret R. Thorpe. Perawatan Mata. Yogyakarta . Yayasan Essentia Medica
   Nettina, Sandra M. 2001. Pedoman Praktik Keperawatan. Alih bahasa : Setiawan Sari.
    Jakarta. EGC
   Sidarta Ilyas. 2001. Ilmu Penyakit Mata. Jakarta. FKUI
   Smeltzer, Suzanne C. 2001. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah Brunner &
    Suddarth. Alih bahasa : Agung Waluyo. Jakarta. EGC
   Anonim1. Asuhan Keperawatan Sinusitis.
    http://ilmukeperawatan.com/asuhan_keperawatan_ sinusitis.html, diakses tanggal 22
    November 2010
   Anonim2. Askep Sinusitis. http://putrisayangbunda.blog.com/2010/02/10/askep-
    sinusitis/, diakses tanggal 22 November 2010
   Doenges. 2000. Rencana Asuhan Keperawatan Edisi 3. Jakarta: Penerbit buku
    Kedokteran EGC
   Higler, AB. 1997. Buku Ajar Penyakit THT. Jakarta: EGC
   Soepardi, EA. 2007. Buku Ajar Ilmu Kersehatan Telinga Hidung Tenggorok Kepala dan
    Leher. Jakarta: Gaya Baru

								
To top