Docstoc

Makalah Ijarah, Ji’alah Dan Ruqbah

Document Sample
Makalah Ijarah, Ji’alah Dan Ruqbah Powered By Docstoc
					     IJARAH, JI’ALAH DAN RUQBAH

Disusun untuk memenuhi tugas kelompok Mata kuliah Fiqih II


                    Dosen Pengampu:
                      Farid Hasyim




     UIN MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG
                FAKULTAS TARBIYAH
       JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
                       Maret, 2011
                                  KATA PENGANTAR

     Segala puji bagi Allah SWT. Tuhan yang selalu melimpahkan rahmat, taufiq, dan
hidayah. Tuhan Yang Maha Tahu, Maha Bijaksana, dan selalu memberikan petunjuk dan
pertolongan kepada hamba-hamba-Nya yang mau mendekatkan diri. Ia Maha Pengasih
dan Maha Penyayang. Shalawat dan salam semoga tercurahkan kepada junjungan kita
Nabi Besar Muhammad SAW, para keluarganya, sahabat, pengikutnya dan siapa saja
yang mencintainya.
         Hormat penulis kepada Bapak atas segala asistensinya yang diberikan dalam
rangka penyusunan makalah ini, terima kasih kepada para sahabat-sahabat atas semua
dukungannya baik berupa pikiran ataupun berupa jasa.
         Hasil makalah ini merupakan tugas mata kuliah Fiqih II. Oleh karena itu, penulis
mohon maaf atas segala kekurangan didalamnya dan sekaligus mohon perbaikan
sebagaimana mestinya, atas semua kritik dan saran yang diberikan, penulis mengucapkan
terima kasih atas segala partisipasinya. Semoga Allah memberi balasan yang berlipat
ganda.




                                                        Malang, 21 Maret 2011




                                                         Penulis
                                       BAB I
                                   PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
     Di era globalisasi ini, masyarakat perlu mengkaji dan mengetahui tentang
muamalah, yang hal tersebut sering dilakukan dalam kehidupan sehari-hari. Kelompok
kami ini akan mengulas sedikit mengenai ijara, ji’alah dan ruqba.


B. Rumusan Masalah
   1. Apa Pengertian dan ketentuan-ketentuan Ijarah?
   2. Apa Pengertia dan ketentuan-ketentuan ji’alah?
   3. Apa Pengertian dan ketentuan-ketentuan hukum ruqba?
C. Tujuan pembahasan
  1. Untuk mengetahui Pengertian, dan ketentuan-ketentuan ijarah
  2. Untuk Pengertian dan ketentuan-ketentuan ji’alah
  3. Untuk Pengertian dan ketentuan-ketentuan ruqba
A. Pengertian dan ketentuan-ketentuan Ijarah
   a. Pengertian
     Ijarah Menurut etimologi, ijarah adalah : menjual manfaat . demikian pula artinya
menurut etimologi syarat, untuk lebih jelasnya, dibawah ini dikemukakan beberapa
definisi ijarah menurut pendapat beberapa ulama fiqih. a). Ulama hanafiah Artinya akad
atas suatu kemanfaatan dengan pengganti. b). Ulama Asy-Syafi’iya Artinya akad atas
suatu kemanfaatan yang mengandung maksud tertentu dan mubah, serta menerima
pengganti atau kebolehan dengan penganti tertentu. c). Ulama Malikiah dan Hanabilah
Artinya: Menjadikan milik suatu kemanfaatan yang mubah dalam waktu tertentu dengan
pengganti. Ada yang menerjemahkan sebagai upah mengupah. Menurut penulis keduanya
benar, sebab penulis membagi ijarah menjadi dua bagian, yaitu ijarah atas jasa dan ijarah
atas benda. Landasan syara’ Jumhr ulama berpendapat bahwa ijarah disyariatkan
berdasarkan AL-Qur’an, AS-sunah, dan Ijma’            Al-qur’an Artinya “jika mereka
menyusukan anak- anakmu untukmu, maka berikanlah upahnya.” As-sunah Artinya
“berikanlah upah pekerja sebelum keringatnya kering” (HR. Ibu Majah dari ibnu Umar)
Ijma’Umat islam pada masa sahabat telah berijma’ bahwa ijarah dibolehkan sebab
bermanfaat bagi manusia.
   b. Syarat Ijarah
 a) Syarat terjadinya akad Syarat ini berkaitan dengan aqid, zat akad, dan tempat akad.
   Syarat ini sering disebut “inqad..menurut Ulama Hanafiah ,’aqid disyaratkan harus
   berakal dan mumayyiz (minimal 7 tahun), serta tidak syaratkan tidak baliq. Akan
   tetapi, jika bukan barang miliknya sendiri, akad ijarah anak mumayyiz, dipandang
   sah, tetapi bergantung atas keridhoan walinya.
 b) Syarat pelaksanaan Ijarah (An-Nafadz) Agar izarah terlaksana, barang harus dimiliki
   oleh Aqid atau ia memiliki kekuasaan penuh untuk akad (ahliah).
 c) Syarat sah Ijarah Keabsahan ijarah sangat berkaitan dengan aqid (orang yang aqad),
   ma’qud’alaih (barang yang menjadi objek akad), ujrah (upah) dan zat akad (nafs Al-
   ‘Akad), yaitu :    Adanya keridhaan dari kedua pihak yang akad. Ma’qud ‘alaih
   bermamfaat dengan jelas Ma;qud ‘alaih harus memenuhi secara syara. Kemamfaatan
   benda dibolehkan menurut syara tidak menyewa untuk pekerjaan yang di wajibkan
   kepadanya. Tidak mengambil manfaat bagi diri orang disewa. Manfaat ma’qud ‘alaih
   sesuai dengan keadaan yang umum.
 d) Syarat barang sewaan.
 e) Syarat ujrah. Berupa harta tetap yang dapat diketahui. Tidak boleh sejenis dengan
   barang manfaat dari ijarah, seperti upah menyewa rumah untuk ditempati dengan
   menempati rumah tersebut.
 f) Syarat yang kembali pada rukun akad.
 g) Syarat kelaziman Ma’qud ‘alaih terhindar dari cacat. Tidak ada ujur yang dapat
       membatahkan akad.


   c. Rukun Ijarah

        Menurut Ulama hanafiah, rukun Ijarah adalah Ijab dan Qobul, antara lain dengan
menggunakan kalimat al-ijarah, alistigfar, al-ikhtiar, dan al-ikra.
Menurut Jumhur Ulama, rukun Ijarah ada 4, yaitu:
   - Aqid
   - Shighat akad
   - Ujrah (upah)
   - Manfaat
   -
. d. Sifat dan Hukum Ijarah
 1. Sifat Ijarah Menurut ulama hanafiyah, ijarah adalah akad lazim yang didasarkan pada
       firman Allah SWT: yang boleh dibatalkan, pembatalan tersebut dikaitkan pada
       asalnya bukan didasarkan pada pemenuhan akad.
 2. Hukum Ijarah Hukum ijarah sahih adalah tetapnya kemamfaatan bagi penyewa, dan
       tetapnya upah bagi pekerja atau orang yang menyewakan ma’qud ‘alaih sebab ijarah
       termasuk jual beli pertukaran hanya saja dengan kemamfaatan. Hukum ijarah rusak,
       menurut ulama hanafiyah, jika penyewa telah mendapatkan manfaat tetapi orang
       yang menyewakan atau yang bekerja dibayar lebih kecil dari kesepakatan pada
       waktu akad, ini bila kerusakan tersebut terjadi pada syarat. Akan tetapi, jika
       kerusakan disebabkan penyewa tidakmemberi tahukan jenis pekerjaan perjanjiannya
       upah harus diberikan semestinya.
  e. Pembagian dan Hukum Ijarah
      Ijarah terbagi dua, yaitu ijarah terhadap benda atau sewa-menyewa dan ijarah atas
pekerjaan atau upah mengupah.
    a. Hukum Sewa-menyewa Dibolehkan ijarah atas barang mubah, seperti rumah
     kamar, dan lain-lain, tetapi, dilarang ijarah terhadap benda-benda yang diharamkan.
     Ketetapan hukum akad dalam ijarah Cara memanfaatkan barang sewaan.
     Perbaikan barang sewaan. Kewajiban penyewa setelah hais masa sewa
    b. Hukum upah-mengupah Upah mengupah atau ijarah ‘ala al’a’mal yakni jual beli
     jasa, biasanya berlaku dalam beberapa hal seperti menjahitkan pakaian,
     membangun rumah dan lain-lain. Ijarah ‘alal-a’mal terbagi dua yaitu: Ijarah khusus
     Ijarah yang dilakukan oleh seorang pekerja. Hukumnya, orang yang bekerja tidak
     boleh bekerja selain dengan orang yang telah memberikan upah. Ijarah musytarik
     Ijarah yang dilakukan secara bersama-sama atau melalui kerja sama. Hukumnya
     dibolehkan bekerja sama dengan orang lain. telah memberikan upah. Ijarah
     musytarik Ijarah yang dilakukan secara bersama-sama atau melalui kerja sama.
     Hukumnya dibolehkan bekerja sama dengan orang lain.

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Tags:
Stats:
views:247
posted:5/29/2012
language:Malay
pages:6
Description: Mata kuliah Fiqih II, ketentuan-ketentuan Ijarah, Pengertia dan ketentuan-ketentuan ji’alah, Pengertian dan ketentuan-ketentuan hukum ruqba?