Psikologi Belajar by 08F5W3R

VIEWS: 74 PAGES: 26

									Psikologi Belajar
          Proses Belajar
Latihan
Adanya Penambahan, perubahan Tingkah
Laku yang Baru
 perubahan terjadi secara sadar
 bersifat kontinu dan fungsional
 positif dan aktif
 bukan bersifat sementara
 perubahan bertujuan dan terarah
 mencakup seluruh aspek tingkah laku
             Prinsip Belajar
1. Belajar = pengalaman aktif
2. Belajar = penemuan diri sendiri
3. Belajar = konsekuensi dari pengalaman
4. Belajar = kerjasama dan kolaborasi
5. Belajar = proses evolusi
6. Belajar = (kadang) proses yang
   menyakitkan
7. Belajar = proses emosional dan intelektual
8. Belajar = individual dan unik
          Teori Belajar
Teori stimulus – respon  tidak
memperhitungkan faktor internal
Teori transformasi  memperhitungkan
faktor internal
Teori stimulus-respon (behavioural)
Berpangkal dari psikologi asosiasi
 belajar adalah membentuk tanggapan dan menggabungkan
tanggapan2 dengan jalan pengulangan
“anak mendapatkan tanggapan sebanyak mungkin; materi
sebanyak-banyaknya, anak diminta menghafal, guru aktif-siswa
pasif”
makin banyak diberi stimulus, makin memperkaya respon dalam
proses belajar

Tidak memperhitungkan faktor internal
yang terjadi pada diri subjek
         Teori transformasi
Memperhitungkan faktor internal dan faktor
eksternal dari diri subjek
Berlandaskan teori kognitif
teori neisser :
proses belajar adalah transformasi dari input
 direduksi, diuraikan, disimpan, dipanggil
lagi, dan dimanfaatkan
 tidak terbatas pada domain kognitif saja,
tetapi juga afektif, dan psikomotor
 dalam bentuk permainan
           Cont’d………..
Kegiatan belajar adalah bersifat internal
yang dipengaruhi faktor eksternal
 metode pengajaran, keluarga,
sekolah, materi dll
           Teori Belajar
Behaviourisme
Kognitif
Sosial
Humanistik
Konstruktivisme
      Teori Belajar Behaviourisme
Dipelopori oleh B.F Skinner
Menekankan pada tingkah laku yang teramati
Manusia dibentuk oleh lingkungan. Ia lahir dengan potensi
yang bisa dikembanglan kearah mana saja. Melalui proses
pembentukan (shaping), maka manusia menjadi sosok
tertentu dan dengan kepribadian tertentu.
Pada prinsipnya, manusia bukanlah organisme yang pasif
tetapi ia aktif mencari akibat-akibat (konsekuensi) yang
menyenangkan, karena memandang bahwa manusia itu
pada dasarnya bebas menetukan perilakunya, maka teori
Skinner disebut teori operant conditioning
Skinner memakai refleks sebagai unit dasar untuk
menganalisa tingkah laku organisme atau individu.
                Behaviourisme
Teori belajar Behavioristik ( Watson dan E.R. Guthrie
  )
  Mementingkan pengaruh lingkungan
  Mementingkan bagian – bagian
  Mementingkan peranan reaksi (respon)
  Mementingkan mekanisme terbentuknya hasil
  belajar
  Mementingkan hubungan sebab akibat pada waktu
  yang lalu
  Mementingkan pembentukan kebiasaan
  Pemecahan masalah dengan “mencoba dan gagal
Seseorang belajar adalah dengan merespon
situasi yang baru dengan respon yang lama
atau memakai respon yang baru dipelajari
Cara efektif u/ mengubah dan mengontrol PL
adalah dengan reinforcment, penguatan 
reward& punishment
Pemberian reinforcment  countinous
reinforcment,dan intermitted reinforcmnet
             Jenis Respon
Respondent Behavior respon yang diperoleh
atau dibangkitkan oleh karena adanya stimulus.
Hal ini merupakan pandangan dari conditioning
classic, S – R yang dikemukakan oleh Pavlov.
Atau lebih tegas lagi dikemukakan oleh Watson “
no stimulus, no respon”. Contoh responden
behavior adalah menyempitnya mata kalau ada
sinar yang tajam, saliva (keluarnya air ludah
kalau ada makanan) dan lain sebagainya.
Operant Behavior yaitu perilaku yang dikeluarkan
tanpa adanya stimulus yang jelas.
            Jenis conditioning
           berdasarkan respon
Type S, yaitu kondisioning untuk responden behavior
karena reinforcement dikaitkan dengan stimulus. Stimulus
yang hendak dikondisikan (misalnya: sinar atau bel)
dikaitkan dengan stimulus tak terkondisi misalnya
makanan. Kondisioning jenis ini digunakan untuk respon-
respon otonom.
Type R yaitu kondisioning untuk operant behavior. Huruf R
dimasudkan untuk menekankan pentingnya respon untuk
mendatangkan reinforcement. Pandangan Skinner tentang
conditioning operant behavior ini sesuai dengan
pandangan Thorndike tentang law of effect. Jadi
reinforcement tergantung pada respon yang dilakukan
oleh organisme. Conditioning jenis kedua ini digunakan
untuk respon-respon jenis kerangka.
         Behaviourisme

Setiap respon yang diikuti oleh stimulus
penguat cenderung diulang.
Stimulus penguat adalah segala sesuatu
yang dapat meningkatkan
dimunculkannya respon operan.
         Prinsip dalam Pendekatan
               Behaviourisme
Generalisasi kecenderungan individu untuk memberikan
respons yang sama terhadap stimulus original.
Diskriminasi  individu merespons pada stimulus tertentu
dan tidak pada stimulus lainnya. Untuk memproduksi
diskriminasi misalnya Pavlov memberikan anjing sekerat
daging persis setelah bunyi lonceng, dan bukan setelah
stimulus yang lain, akibatnya anjing tadi hanya memberi
respons pada stimulus khusus tersebut yakni pada bunyi
lonceng.
Extinction pelemahan atau penghapusan reaksi terkondisi
(conditioned response). Dalam salah satu penelitian Pavlov
membunyikan bel berulang-ulang tanpa disertai pemberian
makanan, akhirnya anjing itu mendengar suara bel tanpa
mengeluarkan air liur.
Klasikal kondisioning  TL dipelajari dengan
memanfaatkan hubungan stimulus dan
respon yang bersifat refleks bawaan
Operan kondisioning reinforcment tidak
diasosiakan dengan stimulus yang
dikondisikan, tetapi diasosiasikan dengan
respon (respon dianggap sebagai pemberi
reinforcment)
       Jenis Reinforcment
Reinforcement positif, yaitu stimulus yang
pemberiannya terhadap operant behavior
menyebabkan perilaku itu akan diperkuat
atau dipersering untuk dimunculkan.
Reinforcement negative, yaitu stimulus yang
penghilangannya untuk stimulus-stimulus
yang tidak menyenangkan (aversive
stimulus) akan menyebabkan diperkuat atau
diperseringnya perilaku.
    Jadwal Pemberian Reinforcment

               Countinous reinforcment



                                            Fixed
Reinforcment
                                Interval

                                           Variabel
                Intermitted
               reinforcment
                                            Fixed


                               Ratio
                                            Variabel
Fix Interval Reinforcement Schedule (FI)  jadual
   pemberian reinforcement yang tetap dihitung waktu.
   Misalnya: Dalam penelitian Skinner, setiap 5 menit
   makanan akan keluar (setelah diberi makanan, respon
   tikus santai. Selanjutnya lebih cepat dari 5
   menit/mendekati 5 menit)
Fix Ratio Reinforcement Schedule (FR) jadual
   pemberian reinforcement yang tetap dihitung menurut
   beberapa kali respon. Misalnya: tiap 5 kali tikus
   memukul pedal, maka makanan akan otomatis keluar,
   setelah makanan keluar, maka tikus akan memukul
   sehingga diagram akan menanjak tajam.
Variable Interval Reinforcement Schedule (VI)
   interval yang tidak tetap. Misalnya: waktunya tidak
   jelas/ tidak tetap. Terkadang makanan baru keluar
   setelah 5 menit, terkadang makanan bisa keluar setelah
   tiga menit. Sehingga respon jadi malas-malasan.
Variable Ratio Reinforcement Schedule (VR)  tidak
   jelas beberapa kali ketukan maka makanan akan keluar.
      Teori Belajar Sosial Bandura
Menurut Bandura harus 4 persyaratan untuk dapat menirukan
  model dengan baik:
  Perhatian (suatu model tidak akan bisa ditiru bila tidak diadakan
  pengamatan).
  Retensi atau disimpan dalam ingatan (tingkah laku yang diamati
  harus bisa diingat kembali untuk bisa ditirukan juga bila model
  tidak ada lagi).
  Reproduksi motoris (untuk dapat menirukan dengan baik
  seseorang harus memiliki kemampuan motorisnya).
  Reinforsemen dan motivasi (orang yang menirukan harus
  melihat tingkah laku itu sebagai tingkah laku yang terpuji dan
  bermotivasi untuk menirukannya).
                    Humanistik
Abraham Maslow adalah peletak dasar dan “Bapak” yang
telah membesarkan Psikologi Humanistik.
Aliran Humanistik, disebut-sebut sebagai Mazhab ketiga
dalam perkembangan psikologi ini, lahir sebagai reaksi atas
teori-teori Behaviorisme (kental dengan sifat behavioristik,
asosianistik dan eksperimental) dan Psikoanalisis (depth
psychology dengan sifat klinis-pesimistik).
Pemikiran Maslow bukanlah penolakan mentah-mentah
terhadap karya para Freudian dan Behavioris. Melainkan
lebih ke suatu telaah terhadap sisi-sisi yang lebih
bermanfaat, bermakna dan dapat diterapkan bagi
kemanusiaan, yang kemudian menjadi titik tolak bagi
pengembangannya.
                    Humanistik
Teori belajar humanistik  bahwa teori belajar apapun
dapat dimanfaatkan, asal tujuannya untuk memanusiakan
manusia yaitu mencapai aktualisasi diri, pemahaman diri,
serta realisasi diri orang yang belajar secara optimal. Hal ini
menjadikan teori belajar humanistik bersifat sangat elektif.
Banyak tokoh penganut aliran humansitik, diantaranya
adalah
Kolb yang terkenal dengan “belajar empat tahap”,
 Honey dan Mumford dengan “pembagian tentang macam-
macam siswa”,
 Habermas dengan “tiga macam tipe belajar”
 Bloom dan Krathwohl yang terkenal dengan “taksonomi
bloom.”
                  Teori Maslow
pentingnya kesadaran akan perbedaan individu, dengan
memperhatikan aspek-aspek kemanusiaan. Menggali dan
menemukan sisi-sisi kemanusiaan, pada taraf tertentu akan
sampai pada penemuan diri.
Proses belajar yang ada pada diri manusia adalah proses
untuk sampai pada aktualisasi diri (learning how to be).
Belajar adalah mengerti dan memahami siapa diri kita,
bagaimana menjadi diri sendiri, apa potensi yang kita miliki,
gaya apa yang anda miliki, apa langkah-langkah yang anda
ambil, apa yang dirasakan, nilai-nilai apa yang kita miliki
dan yakini, kearah mana perkembangan kita akan menuju.
Belajar di satu sisi adalah memahami bagaimana anda
berbeda dengan yang lain (individual differences), dan di
sisi lain adalah memahami bagaimana anda menjadi
manusia sama seperti manusia yang lain (persamaan dalam
specieshood or humanness).
         Teori Belajar Humanistik
Menurut Habermas, belajar baru akan terjadi jika ada
 interaksi antara individu dengan lingkungannya.
 Lingkungan belajar yang dimaksud adalah
 lingkungan alam maupun lingkungan sosial, sebab
 antara keduanya tidak dapat dipisahkan.
Menurutnya ada 3 tipe belajar :
 Belajar Teknis (technical learning)  bagaimana
 seseorang dapat berinteraksi dengan lingkungan
 alamnya secara benar. Pengetahuan dan
 keterampilan apa yang dibutuhkan dan perlu
 dipelajari agar mereka dapat menguasai dan
 mengelola lingkungan sekitarnya dengan baik.
             Cont’d………..
Belajar Praktis (practical learning) bagaimana
seseorang dapat berinterkasi dengan lingkungan
sosialnya, yaitu dengan orang-orang disekelilingnya
dengan baik. Kegiatan belajar lebih mengutamakan
terjadinya interaksi yang harmonis antara sesama
manusia. Pemahaman dan keterampilan seseorang
dalam mengelola lingkungan alamnya tidak dapat
dipisahkan dengan kepentingan manusia pada
umumnya. Interaksi yang benar antara individu
dengan lingkungan alamnya hanya akan tampak dari
kaitan atau relevansinya dengan kepentingan
manusia.
Belajar Emansipatoris (emancipatory learning) 
menekankan upaya agar seseorang mencapai suatu
pemahaman dan kesadaran yang tinggi akan
terjadinya perubahan atau transformasi budaya
dalam lingkungan sosialnya.
Dibutuhkan pengetahuan dan keterampilan serta
sikap yang benar untuk mendukung terjadinya
transformasi kultural tersebut. Pemahaman dan
kesadaran terhadap transformasi kultural inilah yang
oleh Habermas dianggap sebagai tahap belajar yang
paling tinggi, sebab transformasi kultural adalah
tujuan pendidikan yang paling tinggi.

								
To top