Docstoc

Makalah Ilmiah Pendidikan Ideal

Document Sample
Makalah Ilmiah Pendidikan Ideal Powered By Docstoc
					                                  BAB I

                            PENDAHULUAN




Pendidikan merupakan aktifitas yang sama tuanya dengan sejarah peradaban manusia.
Hal ini disebabkan karena kegiatan pendidikan lahir dan berkembang sejalan dengan
mainstream sejarah dan peradaban manusia itu sendiri. Lewat pendidikan, paradigma
hidup terus berganti (paradigm shift) dalam perjalanan kehidupan manusia. Perubahan
tatanan masyarakat dari non-modern menuju modern tidak terlepas dari peran
pendidikan sebagai garda depan perubahan kualitas sebuah masyarakat.


Menurut Raka Joni dalam S.Z. Arbi S. Syahrun ( 1991:21-22) hakikat pendidikan
adalah :
       a.   Pendidikan merupakan proses interaksi manusia yang ditandai oleh
            keseimbangan antara kedaulatan subjek didik dengan kewibawaan
            pendidik.
       b.   Pendidikan merupakan usaha penyiapan subjek didik menghadapi
            lingkungan hidup yang mengalami perubahan yang semakin pesat.
       c.   Pendidikan meningkatkan kualitas pribadi dan masyarakat.
       d.   Pendidikan merupakan kiat dalam menerapkan prinsip-prinsip ilmu
            pengetahuan dan teknologi bagi pembentukan manusia seutuhnya.


Inkeles menjelaskan bahwa pendidikan merupakan faktor terpenting yang
meniscayakan ciri manusia moderen (Suwarno & Alvin 2000:31). Sedangkan kondisi
modern itu sendiri bermakna perubahan struktur sosial dalam masyarakat yang
membawa perubahan nilai-nilai, norma-norma dan perilaku sosial (Inkeles 1966:152).
Modernisasi mengakibatkan perubahan kepribadian dalam masyarakat modern,
semisal perubahan dalam prilaku, pandangan dan cara hidup serta cara berpikir
mengenai nilai norma dan agama, sebagaimana pendapat Shipman (1971;20) “
modernisation does not just replace the technology, scales and tempo of live and
work, but changes the expectations that govern behaviours itself “. Oleh karena itu
dapat dikatakan pendidikan merupakan agent of modernisation yang memikul beban
berat dalam menciptakan perubahan masyarakat demi kebaikan dan kemajuan masa
depan.
Pendidikan memainkan peranan yang sangat penting dalam membentuk generasi
penerus sesuatu bangsa. Dengan demikian, sudah selayaknya apabila kita merenung
pemahaman tentang paradigma pendidikan jangan hanya dikurung dalam pengertian
yang sangat sempit yakni hanya pendidikan sekolah (sekolah formal). Namun lebih
dari itu nalar kita hendaknya merambah kesemua aspek kehidupan sebagai kegiatan
pendidikan. Dimana aspek kehidupan tersebut dapat menjadi sarana dan media
pembelajaran (Sidi 2001:4). Dari sini lahirlah satu ide menciptakan masyarakat
belajar (learning society ), maknanya aktor belajar bukanlah mutlak sebagai atribut
yang menempel pada peserta didik dan mahasiswa, akan tetapi aktor belajar adalah
semua    komponen     masyarakat.   Sehingga    tanggung    jawab    kualitas   dan
keberlangsungan kegiatan belajar bukanlah beban total yang dipikul sekolah, namun
pendidikan merupakan tanggung jawab kita bersama (individu, sekolah, masyarakat,
tempat kerja, dan Negara). Diharapkan ketika learning society terbentuk, maka akan
muncul budaya belajar (cultural learning) yan mewarnai pola hidup masyarakat
belajar. Menurut Green dalam bukunya prolegomena to Ethics, ia mengambarkan “
individuals can develop a good manner or character, and hence realise themselves
only within society (Bousfield 1999:106). Sedangakn menurut Al-Kaylani seharusnya
pendidikan mampu membawa seseorang peserta didik untuk berperan bagi dirinya,
masyarakat setempat, dan masyarakat luas.
                                       BAB II
               PENGERTIAN DAN KONSEP PENDIDIKAN IDEAL




A. PENGERTIAN


“ Pendidikan yang ideal adalah pendidikan yang memiliki balance antara pendidikan
intelektual, emosional, dan spiritual. Jika diperlebar, pendidikan bukan hanya terfokus
kepada yang di didik (murid/pelajar) saja, melainkan contoh baik juga terlebih dahulu
dipupuk kepada siapa yang mendidik (guru). Apalah artinya jika konsep yang telah
ditata bagus dalam sebuah kurikulum pendidikan, tetapi orang-orang yang
menjalankannya memberikan image jelek pada pendidikan tersebut, dengan kata lain,
para pendidik juga harus terdidik dan berusaha menjadi figure baik pada anak
didiknya”. ( http://salafiyah.org)

Pendidikan ideal harus berpijak pada pengembangan keutuhan seseorang peserta didik
agar muncul self-realisationnya dengan baik. Sangat tidak bijaksana ketika kegiatan
pendidikan justru hanya menekankan sisi kecerdasan intelektual semata-mata.
Sedangkan Daniel Goleman dalam bukunya Emotional Intelligence (Sidi 2001)
bahwa IQ seseorang hanya menyumbang 20% dari kesuksesan seseorang, sedangkan
80 % sisanya ditentukan oleh faktor lain (kecedasan intelektual dan kecerdasan
emosional. Pendidikan ideal adalah yang mampu menyeimbangkan domain-domain
tersebut sehingga lahirlah masyarakat peradaban (civilize culture society) atau
meminjam istilah Inkeles masyarakat modern (modern society) atau lebih populernya
biasa kita sebut civil society. Bentuk masyarakat seperti ini tidak mungkin akan ada
tanpa lahirnya generasi yang well educated.

B. KONSEP PENDIDIKAN YANG IDEAL

Pendidikan tidak hanya dititik beratkan pada satu sisi kecerdasan saja serta ada
beberapa faktor atau komponen yang harus di perhatikan dalam mewujudkan
pendidikan yang ideal tersebut diantaranya :

a. Kurikulum yang adaptable ( berkesesuaian )
   Berkaitan dengan persoalan kurikulum, Hilda Taba (1962) dalam bukunya “
   Curriculum     Development:     Theory      and   Practice”   berpendapat    bahwa
   pengembangan kurikulum hendaknya bersifat rasional dan ilmiah yang
   penentuannya harus beralaskan elemen-elemen valid berbasis realita yang
   diantaranya berasal dari tradisi dan budaya, tuntutan sosial, dan kebiasaan
   masyarakat. Oleh karena itu, kurikulum ilmiah harus merujuk pada analisis
   masyarakat dan budaya, telaah mengenai peserta didik dan proses belajar, serta
   ciri khusus bangunan epistemology ilmu pengetahuan tertentu agar dapat
   ditentukan tujuan institusional dan ciri kurikulumnya. Kurikulum berbasis
   kompetensi hendaknya mampu menyodorkan fakta-fakta mengenai problem
   kehidupan social (lazim disebut “problem posing”). Hal ini bermakna bahwa
   subjek didik diajak untuk memasuki arena “problem solving” dimana siswa
   mampu berimajinasi untuk memecahkan masalah yang dia temukan. Lebih
   penting dari itu adalah penguatan nilai-nilai budaya dan agama agar subjek didik
   tidak terjerumus dalam budaya hedonis, meterialistik dan serba mengagungkan
   Barat sebagai sistem hidup dan bertingkah laku.


b. Pendidik yang ability upgraded ( memiliki kemampuan terbaharui )
   Secanggih apapun kurikulum disusun, namun keterampilan pendidik (guru)
   dalam menyampaikan kurikulum tidak pernah dipantau dan di upgrade, maka
   akan sia-sialah kurikulum tersebut. Guru memegang peranan yang sangat penting
   dalam mentransfer kandungan kurikulum. Jika kondisi guru yang tidak qualified
   terus saja dibiarkan, maka alih-alih mengitrodusir domain life skills, yang akan
   terjadi adalah subjek didik tidak mampu menyerap dan mengaplikasikan pesan-
   pesan kurikulum karena fakor pendidik yang tidak qualified. Malangnya,
   kualifikasi guru yang tidak sesuai dengan bidang studi yang diajarkan masih
   menjadi kenyataan buram yang menimpa pendidikan kita. Di samping itu juga
   guru tidak memahami pengkondisian pembelajaran melalui strategi hidden
   curriculum (kurikulum tersembunyi). Di mana nilai-nilai kejujuran, kesalehan,
   kedisiplinan dan lain-lain lebih ditekankan pada aspek praksis daripada teoritis
   dan       pesan-pesan       oral       di         dalam     ruangan       kelas.


   Melihat peranan penting yang mainkan oleh guru maka mereka dituntut untuk
   memahami pendekatan kurikulum berbasis kompetensi, yaitu suatu pendekatan
   subjek didik (student centered approached). Intinya, pendidik memainkan peranan
   sebagai stabilisator, dinamisator, dan motivator serta menjadi contoh tauladan
   dalam proses interaksi dengan subjek didik. Kegiatan kelas bersifat demokratif,
   eksploratif dan inofatif. Masing-masing individu dalam kelas dihargai sama dan
   memiliki hak yang sama. Sebagaimana yang dilihat oleh Durkheim, dimana fungsi
   pendidikan bertujuan untuk menciptakan homogenitas masyarakat, “ Society can
   survive only if there exists among its members a sufficient degree of homogeneity,
   education perpetuates and reinforces this homogeneity by fixing in the child, from
   the beginning, the essential similarities that collective demands” (1956 :70 in
   May, 1994 :12). Namun kurikulum ini dituntut lebih Dengan demikian kurikulum
   yang berbasis kompetensi tidak menghendaki penjejalan teori dan penekanan
   hanya pada ruang kognitif subjek didik. mampu membangkitkan dan
   memberdayakan seluruh domain subjek didik baik dari kognitif, efektif, dan
   psikomotorik.


c. Subjek didik/ anak didik
   Anak adalah manusia yang belum dewasa dan membutuhkan bantuan, dorongan
   atau semangat, seperti tanaman membutuhkan matahari dan air supaya tetap
   hidup. Sayangnya hal yang sangat dibutuhkan tersebut sedikit sekali yang bisa
   diperoleh anak disebabkan tindakan kita terhadap mereka sering bersifat
   menghambat sehingga memberi reaksi perlawanan ( Dreikurs dan Cassel,
   1974:49)

   Anak adalah manusia yang belum dewasa sehingga potensi yang ada pada diri
   anak ibarat bahan baku ( raw material ) yang belum siap pakai. Untuk menjadi
   siap pakai ( manufacture ), maka dalam proses potensi tersebut membutuhkan
   penanganan yang layak. Oleh karena itu orang tua maupun pendidik perlu
   menciptakan situasi dan kondisi kondusif yang memungkinkan potensi yang
   dimiliki anak baik dari segi kognitif, efektif, dan psikomotorik dapat tumbuh dan
   berkembang secara optimal.
   Dalam Quantum Teaching kunci atau the key agar potensi anak menjadi maksimal
   adalah membangun ikatan emosional, yaitu dengan menciptakan kesenangan
   dalam belajar, menjalin hubungan, dan menyingkirkan segala ancaman dari
   suasana belajar. Studi-studi menunjukkan bahwa siswa/ anak didik lebih banyak
   belajar jika pelajarannya memuaskan, menantang, dan ramah serta mereka
   mempunyai suara dalam pembuatan keputusan. Dengan kondisi seperti itu, para
   siswa lebih sering ikut serta dalam kegiatan sukarela yang berhubungan dengan
   bahan pelajaran ( Walberg, 1997).
d. Peranan masyarakat ( termasuk orang tua dan para ahli )
   Salah satu upaya konkret untuk mendongkrak mutu pendidikan adalah dengan
   penguatan partisipasi masyarakat, dengan mengakomodasi pandangan, aspirasi,
   dan menggali potensi masyarakat untuk menjamin demokratisasi, transparansi,
   dan akuntabilitas. Partisipasi masyarakat itu dinilai penting, karena merupakan
   salah satu realisasi dari esensi demokrasi berkeadilan. Hal tersebut bermakna
   bahwa selain masyarakat mempunyai hak untuk memperoleh pendidikan yang
   bermutu, juga melekat kewajiban untuk ikut serta mengadakannya baik dalam
   menyediakan dana untuk pengadaan, pengembangan dan/atau pemeliharaan
   sarana dan prasarana pendidikan maupun kepakaran atau keahlian yang
   diperlukan dalam penyusunan program serta implementasinya.


e. Lingkungan dan sekolah yang ideal
   Lingkungan terutama keluarga yang merupakan faktor pendukung utama dalam
   pembentukan karakter anak, juga karena keluarga adalah tempat pendidikan
   pertama sebelum anak itu berada di sekolah. Dalam mewujudkan pendidikan yang
   ideal tentu tidak terlepas dari pendidikan, itu merupakan spesialisasi tersendiri
   yang asalnya dari pendidikan keluarga ke pendidikan sekolah. Oleh sebab itu
   segala sarana dan prasarana sekolah tersebut harus mendukung untuk tercapainya
   hasil / output yang sesuai dengan yang diharapkan. Maka dari itu sekolah yang
   ideal itu seyogyanya harus diwujudkan .



Dari kelima penjelasan tersebut diatas dapat dipastikan bahwa pendidikan terutama
pendidikan yang ideal dalam prosesnya terwujud dalam pola interaksi antar
komponennya. Dengan keterkaitan satu sama lainnya maka tujuan pendidikan yang
diharaokan akan tercapai.
BAB III

PENUTUP

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Stats:
views:261
posted:5/24/2012
language:Indonesian
pages:7