Belajar n Pembelajaran
Document Sample


PENDEKATAN PEMBELAJARAN
BEHAVIORISTIK VS KONSTRUTIVISTIK
Makalah yang disusun untuk melengkapi
Tugas Mata Kuliah Belajar dan Pembelajaran
Yang dibina oleh Bapak Dr. Ali Imron M.Pd
Disusun Oleh
Suci deswita 108345778900
UNIVERSITAS NEGERI MALANG
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
JURUSAN KIMIA
FEBRUARI 2010
KATA PENGANTAR
Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT karena atas karunia-Nya
semata, penulis dapat menyelesaikan makalah yang berjudul ”Pendekatan
Pembelajaran Behavioristik Vs Konstrutivistik.” Makalah ini disusun
dalam rangka memenuhi tugas mata kuliah Belajar dan Pembelajaran.
Terselesaikannya karya tulis ini tidak lepas dari peran berbagai pihak. Oleh
karena itu, penulis mengucapkan terima kasih kepada:
1. Bapak Dr. Ali Imron M.Pd
2. Kedua orang tua yang telah memberi dukungan kepada penulis.
3. Teman-teman semua yang sudah membantu terselesaikannya makalah ini
Semoga Allah SWT berkenan mencatatnya sebagai amal sholeh. Penulis
menyadari bahwa dalam karya tulis ini masih banyak kekurangan. Oleh karena
itu, penulis mengharapkan saran dan kritik yang bersifat membangun untuk
penyempurnaan karya tulis ini. Semoga karya tulis ini bermanfaat bagi semua
pihak.
Malang, Desember 2009
Penulis
ii
DAFTAR ISI
Table of Contents
KATA PENGANTAR ........................................................................................ ii
DAFTAR ISI ..................................................................................................... iii
BAB I PENDAHULUAN .................................................................................. 1
A. Latar Belakang............................................................................................... 1
B. Rumusan Masalah .......................................................................................... 3
C. Tujuan Penulisan ........................................................................................... 3
D. Manfaat Penulisan ......................................................................................... 4
BAB II KAJIAN PUSTAKA ............................................................................. 5
A. Sekilas tentang BPK ................................... Error! Bookmark not defined.3
B. Pengantar Akuntansi ................................... Error! Bookmark not defined.3
BAB III METODOLOGI PENULISAN ............................................................ 7
A. Obyek Kajian ................................................................................................. 7
B. Metode Pengumpulan Data............................................................................ 7
C. Metode Pengolahan Data ............................................................................... 7
D. Metode Analisis dan Sintesis......................................................................... 8
E. Penarikan Kesimpulan ................................................................................... 8
BAB IV PEMBAHASAN .................................................................................. 9
A. External Factor ........................................... Error! Bookmark not defined.7
1. KKN (Korupsi, Kolusi dan Nepotisme) Error! Bookmark not defined.7
2. Sistem Keuangan Negara (National Finance System). Error! Bookmark
not defined.9
3. Sistem Audit (Audit System) ................ Error! Bookmark not defined.12
B. Internal Factor ........................................... Error! Bookmark not defined.15
1. Sistem Informasi BPK untuk Publik....... Error! Bookmark not defined.15
2. SDM (Sumber Daya Manusia) ............... Error! Bookmark not defined.16
3. Gaji.......................................................... Error! Bookmark not defined.18
BAB V KESIMPULAN ................................................................................... 16
A. Kesimpulan .................................................................................................. 16
B. Saran ............................................................................................................ 16
iii
DAFTAR PUSTAKA....................................................................................... 17
iv
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Salah satu faktor yang sangat strategis dan substansial dalam upaya
peningkatan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) suatu bangsa adalah
pendidikan. Pada saat ini pendidikan menjadi fenomena permasalahan yang sangat
penting di Indonesia. Hal ini dilihat dari keadaan SDM di bangsa Indonesia yang
kurang siap menghadapi millennium goals, era globalisasi, dan era informasi,
menurut Pikiran Rakyat tahun 2006 menyatakan bahwa di tingkat dunia Indonesia
termasuk Negara penghutang (debitor) nomor 6, Negara terkorup nomor 3,
peringkat SDM ke 112 dari 127 negara, dengan penduduk yang hidup di bawah
garis kemiskinan mencapai 30% dan pengangguran terbuka mencapai 12 juta
(Mulyasa, 2007:3). Sehingga berbagai upaya perbaikan ditempuh sebagai harapan
bagi pembaruan paradigma pendidikan Indonesia yang lebih bermutu dan
kompetitif sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.
Kemajuan teknologi komunikasi dan informasi yang berkembang begitu
pesat pada era globalisasi, membawa perubahan yang sangat radikal. Perubahan itu
telah berdampak pada setiap aspek kehidupan, termasuk pada system pendidikan
dan pembelajaran. Dampak dari perubahan yang luar biasa itu terbentuknya suatu
‘komunitas global’, lebih parah lagi karena komunitas global itu ternyata tiba jauh
lebih cepat dari yang diperhitungkan: revolusi informasi telah menghadirkan dunia
baru yang benar-benar hyper-reality.
Akibat dari perubahan yang begitu cepatnya, manusia tidak bias lagi hanya
bergantung pada seperangkat nilai, keyakinan, dan pola aktivitas sosial yang
konstan. Manusia dipaksa secara berkelanjutan untuk menilai kembali posisi
sehubungan dengan faktor-faktor tersebut dalam rangka membangun sebuah
konstruksi social-personal yang memungkin atau yang tampaknya memungkinkan.
Jika masyarakat mampu bertahan dalam menghadapi tantangan perubahan di
dalam dunia pengetahuan, teknologi, komunikasi serta konstruksi sosial budaya
ini, maka kita harus mengembangkan proses-proses baru untuk menghadapi
masalah-masalah baru ini. Kita tidak dapat lagi bergantung pada jawaban-jawaban
1
masa lalu karena jawaban-jawaban tersebut begitu cepatnya tidak berlaku seiring
dengan perubahan yang terjadi. Pengetahuan, metode-metode, dan keterampilan-
keterampilan menjadi suatu hal yang ketinggalan zaman hampir bersamaan dengan
saat hal-hal ini memberikan hasilnya. Degeng (1998) menyatakan bahwa kita telah
memasuki era kesemrawutan. Era yang datangnya begitu tiba-tiba dan tak seorang
pun mampu menolaknya. Kita harus masuk di dalamnya dan diobok-obok. Era
kesemrawutan tidak dapat dijawab dengan paradigma keteraturan, kepastian, dan
ketertiban. Era kesemrawutan harus dijawab dengan paradigma kesemrawutan. Era
kesemrawutan ini dilandasi oleh teori dan konsep konstruktivistik; suatu teori
pembelajaran yang kini banyak dianut di kalangan pendidikan di AS. Unsur
terpenting dalam konstruktivistik adalah kebebasan dan keberagaman. Kebebasan
yang dimaksud ialah kebebasan untuk melakukan pilihan-pilihan sesuai dengan
apa yang mampu dan mau dilakukan oleh si belajar. Keberagaman yang dimaksud
adalah si belajar menyadari bahwa individunya berbeda dengan orang/kelompok
lain, dan orang/kelompok lain berbeda dengan individunya.
Alternativ pendekatan pembelajaran ini bagi Indonesia yang sedang
menempatkan reformasi sebagai wacana kehidupan berbangsa dan bernegara,
bukan hanya di bidang pendidikan, melainkan juga di segala bidang. Selama ini,
wacana kita adalah behavioristik yang berorientasi pada penyeragaman yang pada
akhirnya membentuk manusia Indonesia yang sangat sulit menghargai perbedaan.
Perilaku yang berbeda lebih dilihat sebagai kesalahan yang harus dihukum.
Perilaku manusia Indonesia selama ini sudah terjangkit virus kesamaan, virus
keteraturan, dan lebih jauh virus inilah yang mengendalikan perilaku kita dalam
berbangsa dan bernegara.
Longworth (1999) meringkas fenomenan ini dengan menyatakan: ”Kita perlu
mengubah focus kita dan apa yang perlu dipelajari menjadi bagaimana caranya
untuk mempelajari”. Perubahan yang harus terjadi adalah perubahan dari isi
menjadi proses. Belajar bagaimana cara belajar untuk mempelajari sesuatu
menjadi suatu hal yang lebih penting daripada fakta-fakta dan konsep-konsep yang
dipelajari itu sendiri’.
Oleh karena itu, pendidikan harus mempersiapkan para individu untuk siap
hidup dalam sebuah dunia di mana masalah-masalah muncul jauh lebih cepat
daripada jawaban dari masalah tersebut, di mana ketidakpastian dan ambiguitas
2
dari perubahan dapat dihadapi secara terbuka, di mana para individu memiliki
keterampilan-keterampilan yang diperlukannya untuk secara berkelanjutan
menyesuaikan hubungan mereka dengan sebuah dunia yang terus berubah, dan di
mana tiap-tiap dan kita menjadi pemberi arti dari keberadaan kita. Beare &
Slaughter (1993) menagaskan, ‘Hal ini tidak hanya berarti teknik-teknik baru
dalam pendidikan, tetapi juga tujuan baru. Tujuan pendidikan haruslah unutk
mengembangkan suatu masyarakat di mana orang-orang dapat hidup secara lebih
nyaman dengan adanya perubahan daripada dengan adanya kepastian. Dalam dunia
yang akan datang, kemampuan untuk menghadapi hal-hal baru secara tepat lebih
penting daripada kemampuan untuk mengetahui dang mengulangi hal-hal lama.
Sehingga dalam menyusun makalah ini kami memberi judul ”Pendekatan
Pembelajran Behavioristik Vs Konstrutivistik.”
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah diulas mengenai BPK, maka penulis
merumuskan masalah sebagai berikut :
1. Bagaimanakah uraian penjelasan mengenai pendekatan pembelajaran behavioristik ?
2. Bagaimanakah uraian penjelasan mengenai pendekatan pembelajaran konstrutivistik ?
3. Faktor-faktor perbedaan apakah yang membedakan pendekatan pembelajaran
behavioristik dan konstrutivistik ?
C. Tujuan Penulisan
Tujuan dari penulisan makalah ini adalah sebagai berikut :
1. Mendeskripsikan uraian penjelasan mengenai pendekatan pembelajaran behavioristik.
2. Mendeskripsikan uraian penjelasan mengenai pendekatan pembelajaran konstrutivistik.
3. Menjelaskan faktor perbedaan yang membedakan pendekatan pembelajaran
behavioristik dan konstrutivistik.
3
D. Manfaat Penulisan
Makalah ini diharapkan memberikan :
1. Manfaat Teoritis bagi kalangan akademik
a. Dalam penulisan ini dapat dijadikan sebagai dasar untuk memahami problem
dasar yang dihadapi BPK dari segi faktor eksternal dan faktor internal.
prosedur pelaksanaan audit atas laporan keuangan secara teoritis dan praktis.
b. Penulisan ini diharapkan dapat memberikan tambahan pengetahuan tentang
pemeriksaan keuangan negara yang dilaksanakan BPK RI.
2. Manfaat Praktis bagi jajaran anggota BPK RI
Dari hasil penulisan ini diharapkan dapat memberikan informasi serta
masukan yang bisa dipertimbangkan untuk mendorong peningkatan peran BPKP
dalam mengembangkan sistem dan prosedur pengawasan pada BUMN.
4
BAB II
KAJIAN PUSTAKA
A. Hakikat Pembelajaran Behavioristik
Thornike, salah seorang penganut paham behavioristik, menyatakan bahwa
belajar merupakan peristiwa terbentuknya asosiasi-asosiasi antara peristiwa-
peristiwa yang sisebut stimulus (S) dengan respon ® yang diberikan atas stimulus
tersebut. Pernyataan Thorndike ini didasarkan pada hasil eksperimennya di
laboratorium yang menggunakan beberapa jenis hewan seperti kucing, anjing,
monyet, dan ayam. Menurutnya, dari berbeagai situasi yang diberikan seekor
hewan akan memberikan sejumlah respon, dan tindakan yang dapat terbentuk
bergantung pada kekuatan keneksi atau ikatan-ikatan antara situasi dan respon
tertentu. Kemudian ia menyimpulkan bahwa semua tingkah laku manusia baik
pikiran maupun tindakan dapat dianalisis dalam bagian-bagian dari dua struktur
yang sederhana, yaitu stimulus dan respon. Dengan demikian, menurut pandangan
ini dasar terjadinya belajar adalah pembentukan asosiasi antara stimulus dan
respon. Oleh karena itu, menurut Hudojo (1990:14) teori Thondike ini disebut teori
asosiasi.
Selanjutnya, Thorndike (dalam Orton, 1991:39-40; Resnick, 1981:13)
mengemukakan bahwa terjadinya asosiasi antara stimulus dan respon ini mengikuti
hokum-hukum berikut: (1) Hukum latihan (law of exercise), yaitu apabila asosiasi
antara stimulus dan respon serting terjadi, maka asosiasi itu akan terbentuk
semakin kuat. Interpretasi dari hokum ini adalah semakin sering suatu pengetahuan
– yang telah terbentuk akibat tejadinya asosiasi antara stimulus dan respon – dilatih
(digunakan), maka asosiasi tersebut akan semakin kuat; (2) Hukum akibat (law of
effect), yaitu apabila asosiasi yang terbentuk antara stimulus dan respon diikuti
oleh suatu kepuasan maka asosiasi akan semakin meningkat. Hal ini berarti
(idealnya), jika suatu respon yang diberikan oleh seseorang terhadap suatu stimulus
adalah benar dan ia mengetahuinya, maka kepuasan akan tercapai dan asosiasi
akan diperkuat.
Penganut paham psikologi behavior yang lain yaitu Skinner, berpendapat
hamper senada dengan hokum akibat dari Thorndike. Ia mengemukakan bahwa
5
unsur terpenting dalam belajar adalah penguatan (reinforcement). Maksudnya
adalah pengetahuan yang terbentuk melalui ikatan stimulus – respon akan semakin
kuat bila diberi penguatan. Skinner membagi penguatan ini menjadi dua, yaitu
penguatan positif dan penguatan negative. Penguatan positif sebagai stimulus,
apabila representasinya mengiringi suatu tingkah laku yang cenderung dapat
meningkatkan terjadinya pengulangan tingkah laku itu. Sedangkan penguatan
negative adalah stimulus yang dihilangkan/dihapuskan karena cenderung
menguatkan tingkah laku (Bell, 1981:151).
B. Hakikat pembelajaran Konstruktivisme
Pembentukan pengetahuan menurut konstruktivistik memandang subyek
aktif menciptakan struktur-struktur kognitif dalam interaksinya dengan lingkungan.
Dengan bantuan struktur kognitifnya ini, subyek menyusun pengertian realitasnya.
Interaksi kognitif akan terjadi sejauh realitas tersebut disusun melalui struktur
kognitif yang diciptakan oleh subyek itu sendiri. Struktur kognitif senantiasa harus
diubah dan disesuaikan berdasarkan tuntutan lingkungan dan organisme yang
sedang berubah. Proses penyesuaian diri terjadi secara terus menerus melalui
proses rekonstruksi.
Yang terpenting dalam teori konstruktivisme adalah bahwa dalam proses
pembelajaran, si belajarlah yang harus mendapatkan penekanan. Merekalah yang
harus aktif mengembangkan pengetahuan mereka, bukan pembelajar atau orang
lain. Mereka yang harus bertanggung jawab terhadap hasil belajarnya. Penekanan
belajar siswa secara aktif ini perlu dikembangkan. Kreativitas dan keaktifan siswa
akan membantu mereka untuk berdiri sendiri dalam kehidupan kognitif siswa.
Belajar lebih diarahkan pada experimental learning yaitu merupakan adaptasi
kemanusiaan berdasarkan pengalaman konkrit di laboratorium, diskusi dengan
teman sekelas, yang kemudian dikontemplasikan dan dijadikan ide dan
pengembangan konsep baru. Karenanya aksentuasi dari mendidik dan mengajar
tidak terfokus pada si pendidik melainkan pada pebelajar.
Beberapa hal yang mendapat perhatian pembelajaran konstruktivistik, yaitu: (1)
mengutamakan pembelajaran yang bersifat nyata dalam kontek yang relevan, (2)
mengutamakan proses, (3) menanamkan pembelajran dalam konteks pengalaman
social, (4) pembelajaran dilakukan dalam upaya mengkonstruksi pengalaman
(Pranata, 2005)
6
BAB III
METODOLOGI PENULISAN
A. Obyek Kajian
Obyek kajian adalah apa yang menjadi titik perhatian suatu penelitian
(Arikunto, 2000: 99). Adapun obyek kajian dari penelitian ini adalah Faktor
tantangan Eksternal dan Internal yang dihadapi BPK sebagai lembaga negara.
B. Metode Pengumpulan Data
Metode pengumpulan data yang digunakan sebagai bahan analisis didapatkan
dari:
1. Observasi
Observasi adalah pengamatan terhadap objek yang akan diteliti dalam
rentang waktu tertentu dan bertujuan untuk mendapatkan gambaran mengenai
objek penelitian. Observasi dilakukan penulis dengan cara mengikuti
perkembangan berita yang berkaitan dengan BPK di media cetak dan elektronik.
2. Studi Pustaka (Library Research)
Studi pustaka digunakan sebagai landasan teori dalam menganalisis masalah
yang dikaji melalui buku, jurnal, data internet. ini digunakan untuk
mengumpulkan data tentang prosedur. Dari metode studi pustaka, penulis
mendapatkan data-data dalam bentuk tabel dan diagram untuk menganalisis
rumusan masalah.
C. Metode Pengolahan Data
Langkah selanjutnya dalam penulisan karya tulis ini adalah dengan mengolah
dan menulis semua data yang diperoleh secara runtut dan sistematis menurut
pedoman penulisan karya tulis ilmiah.
7
D. Metode Analisis dan Sintesis
Metode analisis yang digunakan dalam karya tulis ini adalah deskriptif analitik,
yaitu menganalisis permasalahan yang ada dari hasil pengamatan atau identifikasi
dan studi kepustakaan tentang permasalahan serta hubungan antara masalah
tersebut yang didasarkan pada suatu teori konsep keilmuan yang relevan.
1. Teknik Penyajian Data
Untuk mencapai tujuan penelitian sesuai yang diharapkan dalam penyusunan
tugas akhir ini untuk diperoleh suatu kesimpulan, maka data yang terkumpul
akan dianalisis kualitatif dengan langkah-langkah sebagai berikut:
a. Memeriksa dan meneliti data yang telah terkumpul untuk menjamin apakah
data tersebut dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya.
b. Mengkategorikan data yang disesuaikan dengan kreteria serta hal-hal yang
diperlukan. Penyajian data penelitian ini dipergunakan metode diskriptif
yaitu menggambarkan kenyataan-kenyataan yang terjadi bersifat umum dan
kemungkinan masalah yang dihadapi serta solusinya.
2. Metode Analisis Data
Data yang diperoleh kemudian disajikan berdasarkan analisis. Secara umum
data yang digunakan adalah secara kualitatif yaitu analisis yang tidak
didasarkan pada perhitungan statistik yang berbentuk kuantitatif ( Jumlah ),
akan tetapi dalam bentuk pernyataan dan uraian yang selanjutnya akan disusun
secara sistematis.
E. Penarikan Kesimpulan
Berdasarkan analisis yang telah dilakukan, Penulis menarik kesimpulan yang
konsisten dengan analisis permasalahan pada pembahasan .
8
BAB IV
PEMBAHASAN
A. Pendekatan Pembelajaran Behavioristik
Menurut teori behavioristik, belajar adalah perubahan tingkah laku sebagai
hasil dari pengalaman (Gage,1984). Belajar merupakan akibat adanya interaksi
antara stimulus dan respon (Slavin, 2000). Seseorang dianggap telah belajar
sesuatu jika dia dapat menunjukkan perubahan perilakunya. Menurut teori ini
dalam belajar yang penting adalah input yang berupa stimulus dan output yang
berupa respon. Stimulus adalah apa saja yang diberikan guru kepada siswa,
sedangkan respon berupa reaksi atau tanggapan siswa terhadap stimulus yang
diberikan oleh guru tersebut. Proses yang terjadi antara stimulus dan respon tidak
penting untuk diperhatikan karena tidak dapat diamati dan tidak dapat diukur.
Yang dapat diamati adalah stimulus dan respon, oleh karena itu apa yang
diberikan oleh guru (stimulus) dan apa yang diterima oleh siswa (respon) harus
dapat diamati dan diukur. Teori ini mengutamakan pengukuran, sebab pengukuran
merupakan suatu hal penting untuk melihat terjadi atau tidaknya perubahan
tingkah laku tersebut.
Faktor lain yang dianggap penting oleh aliran behavioristik adalah faktor
penguatan (reinforcement). Bila penguatan ditambahkan (positive reinforcement)
maka respon akan semakin kuat. Begitu pula bila respon dikurangi/dihilangkan
(negative reinforcement) maka responpun akan semakin kuat. Beberapa prinsip
dalam teori belajar behavioristik, meliputi:
Reinforcement and Punishment
Primary and Secondary Reinforcement;
Schedules of Reinforcement;
Contingency Management;
Stimulus Control in Operant Learning;
The Elimination of Responses
(Gage, Berliner, 1984).
9
Berikut ini pandangan tokoh-tokoh mengenai hakikat belajar yang menganut
paham behavioristik :
1. Thorndike
Thorndike, salah seorang penganut paham behavioristik, menyatakan bahwa
belajar merupakan peristiwa terbentuknya asosiasi-asosiasi antara peristiwa-
peristiwa yang sisebut stimulus (S) dengan respon ® yang diberikan atas stimulus
tersebut. Pernyataan Thorndike ini didasarkan pada hasil eksperimennya di
laboratorium yang menggunakan beberapa jenis hewan seperti kucing, anjing,
monyet, dan ayam. Menurutnya, dari berbeagai situasi yang diberikan seekor
hewan akan memberikan sejumlah respon, dan tindakan yang dapat terbentuk
bergantung pada kekuatan keneksi atau ikatan-ikatan antara situasi dan respon
tertentu. Kemudian ia menyimpulkan bahwa semua tingkah laku manusia baik
pikiran maupun tindakan dapat dianalisis dalam bagian-bagian dari dua struktur
yang sederhana, yaitu stimulus dan respon. Dengan demikian, menurut pandangan
ini dasar terjadinya belajar adalah pembentukan asosiasi antara stimulus dan
respon. Oleh karena itu, menurut Hudojo (1990:14) teori Thondike ini disebut teori
asosiasi.
2. Watson
Watson mendefinisikan belajar sebagai proses interaksi antara stimulus dan
respon, namun stimulus dan respon yang dimaksud harus dapat diamati
(observable) dan dapat diukur. Jadi walaupun dia mengakui adanya perubahan-
perubahan mental dalam diri seseorang selama proses belajar, namun dia
menganggap faktor tersebut sebagai hal yang tidak perlu diperhitungkan karena
tidak dapat diamati. Watson adalah seorang behavioris murni, karena kajiannya
tentang belajar disejajarkan dengan ilmu-ilmu lain seperi Fisika atau Biologi yang
sangat berorientasi pada pengalaman empirik semata, yaitu sejauh mana dapat
diamati dan diukur.
3. Clark Hull
Clark Hull juga menggunakan variabel hubungan antara stimulus dan respon
untuk menjelaskan pengertian belajar. Namun dia sangat terpengaruh oleh teori
evolusi Charles Darwin. Bagi Hull, seperti halnya teori evolusi, semua fungsi
tingkah laku bermanfaat terutama untuk menjaga agar organisme tetap bertahan
10
hidup. Oleh sebab itu Hull mengatakan kebutuhan biologis (drive) dan pemuasan
kebutuhan biologis (drive reduction) adalah penting dan menempati posisi sentral
dalam seluruh kegiatan manusia, sehingga stimulus (stimulus dorongan) dalam
belajarpun hampir selalu dikaitkan dengan kebutuhan biologis, walaupun respon
yang akan muncul mungkin dapat berwujud macam-macam.
B. Pembelajaran Konstrutivistik
Pembentukan pengetahuan menurut konstruktivistik memandang subyek aktif
menciptakan struktur-struktur kognitif dalam interaksinya dengan lingkungan.
Dengan bantuan struktur kognitifnya ini, subyek menyusun pengertian realitasnya.
Interaksi kognitif akan terjadi sejauh realitas tersebut disusun melalui struktur
kognitif yang diciptakan oleh subyek itu sendiri. Struktur kognitif senantiasa harus
diubah dan disesuaikan berdasarkan tuntutan lingkungan dan organisme yang
sedang berubah. Proses penyesuaian diri terjadi secara terus menerus melalui
proses rekonstruksi.
Yang terpenting dalam teori konstruktivisme adalah bahwa dalam proses
pembelajaran, si belajarlah yang harus mendapatkan penekanan. Merekalah yang
harus aktif mengembangkan pengetahuan mereka, bukan pembelajar atau orang
lain. Mereka yang harus bertanggung jawab terhadap hasil belajarnya. Penekanan
belajar siswa secara aktif ini perlu dikembangkan. Kreativitas dan keaktifan siswa
akan membantu mereka untuk berdiri sendiri dalam kehidupan kognitif siswa.
Belajar lebih diarahkan pada experimental learning yaitu merupakan adaptasi
kemanusiaan berdasarkan pengalaman konkrit di laboratorium, diskusi dengan
teman sekelas, yang kemudian dikontemplasikan dan dijadikan ide dan
pengembangan konsep baru. Karenanya aksentuasi dari mendidik dan mengajar
tidak terfokus pada si pendidik melainkan pada pebelajar.
Konstruktivisime merupakan proses pembelajaran yang menerangkan bahwa
siswa harus menemukan sendiri dan mentransformasikan informasi kompleks,
mengecek informasi baru dengan aturan-aturan lama dan merevisinya bila aturan
tersebut tidak lagi sesuai. Bagi siswa agar benar-benar memahami dan dapat
menerapkan pengetahuan, mereka harus benar-benar bekerja memecahkan
masalah, menemukan segala sesuatu untuk dirinya, berusaha dengan susah payah
11
dengan ide-ide. Teori ini berkembang dari kerja Piaget, Vygotsky, teori
pemrosesan inormasi, dan teori psikologi kognitif lainnya, seperti teorinya Bruner.
Menurut teori ini, satu prinsip yang mendasar adalah guru tidak hanya
memberikan pengetahuan kepada siswa, namun siswa juga harus berperan aktif
membangun sendiri pengetahuan di dalam memorinya. Dalam hal ini, guru dapat
memberikan kemudahan untuk proses ini, dengan membri kesempatan kepada
siswa untuk menemukan atau menerapkan ide-ide mereka sendiri, dan mengajar
siswa menjadi sadar dan secara sadar menggunakan strategi mereka sendiri untuk
belajar. Guru dapat memberikan siswa anak tangga yang membawa siswa ke
tingkat pemahaman yang lebih tinggi dengan catatan siswa sendiri yang mereka
tulis dengan bahasa dan kata-kata mereka sendiri.
Menurut paham dari aliran konstruktivisme, ilmu pengetahuan sekolah tidak
boleh dipindahkan dari guru kepada siswa/anak didik dalam bentuk yang serba
sempurna. Murid perlu diberi binaan tentang pengetahuan menurut pengalaman
masing – masing.
Pembelajaran dalam konteks Konstruktivisme merupakan hasil dari usaha
murid itu sendiri dan guru tidak boleh belajar untuk murid sesuai dengan prinsip
Student centered bukan teacher centered. Blok binaan asas bagi ilmu pengetahuan
sekolah ialah satu skema yaitu suatu aktifitas mental yang digunakan oleh murid
sebagai bahan mentah bagi proses renungan dan pengabstrakan dalam proses
pemikiran anak. Pikiran murid tidak akan menghadapi suatu realitas yang
berwujud secara terasing dalam lingkungan sekitar.
Kenyataan yang diketahui murid adalah realitas yang dia bina sendiri. Murid
sebenarnya telah mempunyai satu set ide dan pengalaman yang membentuk
struktur kognitif terhadap kelanjutan pola pengetahuan dan pemikiran mereka.
Untuk membantu murid membina konsep atau pengetahuan baru, guru harus
mengambil kira struktur kognitif yang sedia ada pada mereka. Apabila istilah baru
telah disesuaikan dan diserap untuk dijadikan sebagian dari pegangan kuat
mereka, barulah kerangka baru tentang sesuatu bentuk ilmu pengetahuan dapat
dibina. Hal inilah yang biasa dinamakan dengan konstruktivisme.
Adaptasi (adaptation)
Konsep pada lingkungan (the concept of envieronmet)
Pembentukan makna (the construction of meaning)
(Fornot, 1996)
12
Berikut ini pandangan tokoh-tokoh mengenai hakikat belajar yang menganut
paham konstrutivistik :
1. Brooks & Brooks dalam Degeng
Hakikat pembelajaran konstruktivistik oleh Brooks & Brooks dalam Degeng
mengatakan bahwa pengetahuan adalah non-objective, bersifat temporer, selalu
berubah, dan tidak menentu. Belajar dilihat sebagai penyusunan pengetahuan dari
pengalaman konkrit, aktivitas kolaboratif, dan refleksi serta interpretasi. Mengajar
berarti menata lingkungan agar si belajar termotivasi dalam menggali makna serta
menghargai ketidakmenentuan. Atas dasar ini maka si belajar akan memiliki
pemahaman yang berbeda terhadap pengetahuan tergentung pada pengalamannya,
dan perspektif yang dipakai dalam menginterpretasikannya.
2. Vygotskian
Konstruktivisme Vygotskian memandang bahwa pengetahuan dikonstruksi
secara kolaboratif antar individual dan keadaan tersebut dapat disesuaikan oleh
setiap individu. Proses dalam kognisi diarahkan memalui adaptasi intelektual
dalam konteks social budaya. Proses penyesuaian itu equivalent dengan
pengkonstruksian pengetahuan secara intra individual yakni melalui proses
regulasi diri internal. Dalam hubungan ini, para konstruktivis Vygotskian lebih
menekankan pada penerapan teknik saling tukar gagasan antar individual.
Dua prinsip penting yang diturunkan dari teori Vygotsky adalah: (1),
mengenai fungsi dan pentingnya bahasa dalam komunikasi social yang dimulai
proses pencanderaan terhadap tanda (sign) sampai kepada tukar menukar informasi
dan pengetahuan, (2) zona of proximal development. Pembelajar sebagai mediator
memiliki peran mendorong dan menjembatani siswa dalam upayanya membangun
pengetahuan, pengertian dan kompetensi.
Sumbangan penting teori Vygotsky adalah penekanan pada hakikat
pembelajaran sosiakultural. Inti teori Vygotsky adalah menekankan interaksi antara
aspek internal dan eksternal dari pembelajaran dan penekanannya pada lingkungan
social pembelajaran. Menurut teori Vygotsky, funsi kognitif manusia berasal dari
interaksi social masing-masing individu dalam konteks budaya. Vygotsky juga
13
yakin bahwa pembelajaran terjadi saat siswa bekerja menangani tugas-tugas yang
belum dipelajari namun tugas-tugas tersebut masih dalam jangkauan
kemampuannya atau tugas-tugas itu berada dalam zona of proximal development
mereka. Zona of proximal development adalah daerah antar tingkat perkembangan
sesungguhnya yang didefinisikan sebagai kemampuan memecahkan masalah
secara mandiri dan tingkat perkembangan potensial yang didefinisikan sebagai
kemampuan pemecahan masalah di bawah bimbingan orang dewasa atau teman
sebaya yang lebih mampu. Pengetahuan berjenjang tersebut seperti pada sekema
berikut.
Effective habits of mind
Cooperative colaborative
Effective communication
Information processing
Complex thinking
C. Perbedaan Behavioristik Dengan Konstrutivistik
Telah diuraikan di atas mengenai 2 jenis pandangan mengenai pendekatan
pembelajaran yaitu behavioristik dan konstrutivistik. Berikut ini beberapa segi
yang diulas penulis mengenai perbedaan antara behavioristik dan konstrutivistik :
14
Tabel 1 Pandangan Konstruktivistik dan Behavioristik tentang belajar dan pembelajaran.
No Faktor beda Konstruktivistik Behavioristik
1 Definisi Penyusunan pengetahuan dari pengalaman konkrit, Perolehan pengetahuan, sedangkan mengajar
Belajar aktivitas kolaboratif, dan refleksi serta interpretasi. adalah memindahkan pengetahuan ke orang yang
Mengajar adalah menata lingkungan agar si belajar belajar.
termotivasi dalam menggali makna seta menghargai
ketidakmenentuan.
2 Tujuan Ditekankan pada belajar bagaimana belajar (learn Ditekankan pada penambahan pengetahuan.
Pembelajaran how to learn)
3 Pengetahuan Non-objective, bersifat temporer, selalu berubah dan Objektif, pasti, dan tetap , tidak berubah.
tidak menentu. Pengetahuan telah terstruktur dengan rapi.
4 Pemahaman Si belajar akan memiliki pemahaman yang berbeda Si belajar akan memiliki pemahaman yang sama
Peserta Didik terhadap pengetahuan tergantung pada terhadap pengetahuan yang diajarkan. Artinya, apa
pengalamannya, dan perspektif yang dipakai dalam yang dipahami oleh pengajar itulah yang harus
menginterpretasikannya. dipahami oleh si belajar.
5 Fungsi Mind Sebagai alat untuk menginterpretasi peristiwa, objek, Menjiplak struktur pengetahuan melalui proses
atau perspektif yang ada dalam dunia nyata sehingga berpikir yang dapat dianalisis dan dipilah sehingga
makna yang dihasilkan bersifat unik dan makna yang dihasilkan dari proses berpikir seperti
individualistic. ini ditentukan oleh karakteristik struktur
pengetahuan.
6 Strategi a. Menekankan pada penggunaan pengetahuan secara a. Menekankan pada keterampilan yang terisolasi
Pembelajaran bermakna mengikuti urutan dari keseluruhan-ke- dan akumulasi fakta mengikuti urutan dari
bagian. bagian-ke-keseluruhan.
b. Pembelajaran lebih banyak diarahkan untuk b. Pembelajaran mengikuti urutan kurikulum
meladeni pertanyaan atau pandangan si belajar. secara ketat.
c. Aktivitas belajar lebih banyak didasarkan pada c. Aktivitas belajar lebih banyak didasarkan pada
data primer dan bahan manipulatif dengan buku teks dengan penekanan pada keterampilan
penekanan pada keterampilan berpikir kritis. mengungkapkan kembali isi buku teks.
d. Pembelajaran menekankan pada proses. d. Pembelajaran menekankan pada hasil
7 Penataan a. Ketidakteraturan, ketidakpastian, kesemrawutan, a. Keteraturan, kepastian, ketertiban
Lingkungan b. Si belajar harus bebas. Kebebasan menjadi unsure b. Si belajar harus dihadapkan pada aturan-aturan
Belajar yang esensial dalam lingkungna belajar. yang jelas dan ditetapkan lebih dahulu secara
ketat. Pembiasaan dan disiplin menjadi sangat
esensial. Pembelajaran lebih banyak dikaitkan
dengan penegakan disiplin.
c. Kegagalan atau keberhasilan, kemampuan atau c. Kegagalan atau ketidakmampuan dalam
ketidakmampuan dilihat sebagai interpretasi yang penambahan pengetahuan dikategorikan sebagai
berbeda yang perlu dihargai. kesalahan yang perlu dihukum, dan keberhasilan
atau kemampuan dikategorikan sebagai bentuk
perilaku yang pantas diberi hadiah.
d. Kebebasan dipandang sebagai penentu d. Ketaatan pada aturan dipandang sebagai penentu
keberhasilan belajar. Si belajar adalah subjek yang keberhasilan belajar. Si belajar adalah objek
harus memapu menggunakan kebebasan untuk yang harus berperilaku sesuai dengan aturan.
melakukan pengaturan diri dalam belajar.
e. Control belajar dipegang oleh si belajar. e. Control belajar dipegang oleh system yang
berada di luar diri si belajar.
8. Evaluasi a. Evaluasi menekankan pada penyusunan makna a. Evaluasi menekankan pada respon pasif,
secara aktif yang melibatkan keterampilan keterampilan secara terpisah, dan biasanya
terintegrasi, dengan menggunakan masalah dalam menggunakan ‘paper and pencil test’
konteks nyata.
b. Evaluasi yang menggali munculnya berpikir b. Evaluasi yang menuntun satu jawaban benar.
divergent, pemecahan ganda, bukan hanya satu Jawaban benar menunjukkan bahwa si-belajar
jawaban benar telah menyelesaikan tugas belajar.
c. Evaluasi merupakan bagian utuh dari belajar c. Evaluasi belajar dipandang sebagai bagian
dengan cara memberikan tugas-tugas yang terpisah dari kegiatan pembelajaran, dan
menuntut aktivitas belajar yang bermkana serta biasnaya dilakukan setelah kegiatan belajar
menerapkan apa yang dipelajari dalam konteks dengan penekanan pada evaluasi individual.
nyata. evaluasi menekankan pad aketerampilan
proses dalam kelompok.
15
BAB V
KESIMPULAN
A. Kesimpulan
Dari hasil pembahasan rumusan masalah di atas, dapat disimpulkan :
1. Faktor Eksternal BPK merupakan tantangan yang berkaitan dengan masalah dan
penyimpangan serta isu-isu sentral yang berpengaruh terhadap keuangan negara yang
harus dibenahi untuk meningkatkan kinerja BPK menuju lembaga berkompeten
mengawasi akuntabilitas dan transparansi keuangan negara. Faktor eksternal meliputi
KKN, sistem keuangan negara, dan sistem audit.
2. Faktor Internal BPK merupakan sebuah tantangan yang menyangkut komponen-
komponen kerja sistem kelembagaan di dalam tubuh BPK sendiri yang harus dibenahi
untuk meningkatkan kinerja BPK menuju lembaga berkompeten mengawasi
akuntabilitas dan transparansi keuangan negara. Faktor internal meliputi Sistem
informasi BPK terhadap publik, SDM, dan Gaji.
B. Saran
Berdasakan kesimpulan di atas, diajukan saran sebagai berikut
1. BPK hendaknya terus maju memberantas korupsi tanpa pandang bulu.
2. Perlu diadakan penelitian yang lebih lanjut mengenai faktor-faktor lain yang
mempengaruhi dapat kinerja BPK di masa yang akan datang.
16
DAFTAR PUSTAKA
Asmara, Eka Noor, dkk, 1996. Akuntansi Pengantar 1(Proses Penyusunan Laporan
Keuangan),
Bastian, Indra, 2003,Sistem Akuntansi Sektor Publik Modul Pelatihan dan
Penyusunan Laporan Keuangan, Salemba Empat, Jakarta
Kieso, Donald E, dkk, 2004, Intemediate Accounting, Edisi sebelas, John wiley &
Sons, Inc, USA
Mardiasmo, 2006, Pewujudan Transparansi dan Akuntabilitas Publik Melalui
Akuntansi
Presiden Republik Indonesia, “Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang
Keuangan Negara”, Pustaka Pergaulan, Jakarta
Suwardjono, 2005, Teori Akuntansi Perekayasaan Pelaporan Keuangan, Edisi ketiga,
BPFE, Yogyakarta.
Menteri Dalam Negeri RI. 2002. Kepmendagri nomor 29 tahun 2002 tentang
Pedoman Pengurusan, pertanggungjawaban dan Pengawasan Keuangan Daerah
serta Tata Cara Penyusunan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah,
Pelaksanaan Tata UsahaKeuangan Daerah dan Penyusunan Perhitungan
Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah”, Departemen Dalam Negeri.
Presiden Republik Indonesia. 2003. Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang
Keuangan Negara
_______________. 2004. “Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2004 tentang
Perbendaharaan Negara”, Pustaka Pergaulan, Jakarta.
_______________, 2004. “Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2004 tentang
Pemeriksaan Pengelolaan dan Tanggung Jawab Keuangan Negara”, Pustaka
Pergaulan, Jakarta.
Siaran Pers BPK RI, 23 Juni 2008
Siaran Pers BPK RI, 15 Oktober 2008
http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=BPK&redirect=no
http://www.anti-korupsi.go.id
http://www.bpk.go.id
17
Get documents about "