Docstoc

hukumpegadaian

Document Sample
hukumpegadaian Powered By Docstoc
					Mengenal Seluk Beluk
    Pegadaian

      Disusun oleh :
 Muhammad Arifin bin Baderi.
         ‫َ ن م ب َة‬                     ‫ِد‬           ٍَ              ‫َإ ك‬
 ‫ البقرر‬ٌ ‫وِن ُنُتمْ عَلَى سَفر وََلمْ تَج ُواْ كَاتِبًا فرِهَا ٌ َّقُْوض‬
                                                                        283
"Bila kalian berada dalam perjalanan (dan
kamu bermu'amalah secara tidak tunai)
sedangkan tidak mendapatkan juru tulis,
maka         hendaklah              ada         barang            yang
digadaikan yang diserah terimakan (kepada
pemberi piutang)." (Al Baqarah 283).
                   Mengapa Ada Gadai?
     ‫م َم ْ ب ه‬                                ‫د ت‬                ‫ن‬         ‫َي ال‬
.... ُ ‫يَا أُّهَا َّذِينَ آمَُواْ إِذَا تَ َايَنُم بِدَيْنٍ إِلَى َأجَلٍ ُّس ًّى فَاكتُُو‬
                   ‫َ ٌ َّ ب َة‬                    ‫ِد‬                َ
              ٌ ‫وِن ُنُتمْ عَلَى سَفرٍ وََلمْ تَج ُواْ كَاتِبًا فرِهَان مقُْوض‬     ‫َإ ك‬
“Hai orang-orang yang beriman, apabila
kamu bermu'amalah tidak secara tunai untuk
waktu yang ditentukan, hendaklah kamu
menuliskannya……Dan bila engkau sedang
dalam perjalanan, dan tidak mendapatkan
juru tulis, maka hendaknya ada barang gadai
yang diserahterimakan.” Al Baqarah 282-283.
‫ من‬ ‫عن عائشة رضي اهلل عنها قالت: (اشترى رسول اهلل‬
                                                  ٍّ
            ‫يهودي طعاماً نسيئةً ورهنه درعَه). متفق عليه‬
“Sahabat 'Aisyah radhiallahu 'anha,
mengisahkan: "Rasulullah  membeli
dari seorang Yahudi bahan makanan
(gandum) dengan cara tidak tunai, dan
beliau       menggadaikan             perisainya."
Muttafaqun ‘Alaih
          ‫‪Pegadaian Dapat Dilakukan‬‬
           ‫.‪Dimanapun&Kapanpun‬‬
         ‫الن‬
‫عن أنس بن مالك رضي اهلل عنه قال: لقد رهن َّيب ‪‬درعاً‬
                                  ‫له باملدينة عند يهودي‬
‫ٍّ وأخذ منه شعرياً ألهله، ولقد مسعته‬
‫حب‬         ‫بر‬
‫يقول: (ما أمسى عند آل حممد ‪‬صاع ٍّ وال صاع ٍّ‬
                                                     ‫وإن‬
                      ‫ًّ عنده لتسع نسو ٍ)، رواه البخاري‬
Sahabat Anas mengisahkan: "Sungguh Nabi
 pernah menggadaikan perisainya kepada
seorang yahudi di Madinah, dan beliau
berhutang kepadanya sejumlah gandum
untuk menafkahi keluarganya, dan sungguh
aku pernah mendengar Beliau  bersabda:
Dirumah keluarga Muhammad  tidak
tersisa lagi gandum walau hanya ada satu
sho' (takaran sekitar 2,5 Kg), padahal ia
memiliki sembilan istri." (riwayat Imam
Bukhory).
Hukum Gadai.
Imam Syafii Imam Syafii berkata: Allah
memerintahkan anda agar menggadaikan barang,
bila tidak menemukan juru tulis. Selanjutnya Allah
mengizinkan anda untuk tidak menggadaikan dan
berfirman:
                                         ‫ِ ضك‬
                               ‫فَإِنْ أَمنَ بَعْ ُ ُم َبعْضًا‬
“Namun jika sebagian kamu mempercayai
sebagian yang lain.” (Al Baqarah 283) Ini bukti
bahwa perintah untuk menggadaikan pada awal
ayat hanya sebatas anjuran dan bukan kewajiban,
yang bila anda tinggalkan maka anda berdosa.” (Al
Umm 3/89)
   Bayar Tunai, Tidak Mau,
 Menggadaikan Barang, Malu,
Berhutang, Tidak Tepat Waktu!
َ      ْ ِ ‫َ ن م ب َة‬                       ‫د‬             ٍَ           ‫َإ ك ت‬
‫وِن ُنُمْ عَلَى سَفر وَلَمْ تَجِ ُواْ كَاتِبًا فرِهَا ٌ َّقُْوض ٌ فَرإن أَمِرن‬
                                       ‫ت َ ت‬               ‫ؤ ِّ ال‬
             283 ‫ البقر‬ ‫بَعْ ُ ُم بَعْضًا فَلُْي َد َّذِي اؤُْمِن أَمَانََه‬‫ضك‬
"Bila kalian berada dalam perjalanan (dan
kamu bermu'amalah secara tidak tunai)
sedangkan tidak mendapatkan juru tulis,
maka hendaklah ada barang yang
digadaikan yang diserah terimakan (kepada
pemberi piutang. Namun jika sebagian kamu
mempercayai sebagian yang lain, maka
hendaklah yang dipercayai menunaikan
amanatnya " (Al Baqarah 283).
                        ٍ              ‫َ ْل ِّ ظ م أ َ دك‬
‫(مط ُ الْغَنِى ُلْ ٌ وَإِذَا ُتْبِع أَحَ ُ ُمْ عَلَى مَلِىء فَلْيَتْبَعْ) متفق عليه‬
"Penunda-nundaan orang yang telah
kecukupan                        adalah                       perbuatan
zhalim.                   Dan            bila                tagihanmu
ditransfer kepada orang yang
berkecukupan, maka hendaknya
engkau menurutinya." Muttafaqun
'alaih.
               Awas! Masa Depan Suram
 ‫َه َّه‬                       ‫د‬                       ‫الن ِ د َ َد ه ه‬
)ُ ‫(مَنْ أَخَذَ أَمْوَالَ َّاس ُيرِي ُ َأدَاءهَا أ َّى اللَّ ُ عَنْ ُ ، وَمَنْ أَخَذَ ُيرِي ُ ِإْتالَفَهَا َأتْلَف ُ الل‬
                                                                                                    ‫رواه البخاري‬
"Barang siapa yang mengambil harta orang lain,
sedangkan ia berniat untuk menunaikannya,
niscaya Allah akan memudahkannya dalam
menunaikan harta tersebut, dan barang siapa
mengambil harta oranga lain sedangkan ia berniat
untuk   merusaknya,     niscaya    Allah   akan
membinasakannya." Riwayat Bukhari.
ِ           َ ‫ر‬            ُ ‫د َ ن م َن‬                     َ
‫قال الصنعاين: فَمنْ اسْتَ َانَ ديًْا يَعْلَ ُ أَّه لَا يَقْدِ ُ علَى قَضَائِه‬
                                                                  ‫َ َر‬
                                                               ‫فَقَدْ فَعلَ مُح َّمًا‬
As        Shan’ani              berkata:             “Barang              siapa
berhutang dalam jumlah yang ia sadari
bahwa ia tidak kuasa untuk melunasinya,
maka berbuat sesuatu yang haram. (Subulus
Salam 4/406)
‫قال املناوي : أي أتلف اهلل أمواله يف الدنيا بكثر احملن واملغارم‬
                         ‫واملصائب وحمق الربكة ويف اآلخر بالعذاب‬
Al Munawi berkata :Maksud: “Allah
membinasakannya”                       adalah           Allah
menghancurkan harta kekayaannya semasa
ia hidup di dunia. Berbagai cobaan, biaya
hidup yang berat, petaka, dan dihapuskan
keberkahan hidupnya. Ditambah lagi, kelak
di akhirat, azab yang pedih telah
menantinya. (At Taisir Bisyar Al Jami’ As
Shaghir 2/756)
 Bertekad Bulat
Melunasi Piutang
Sudikah engkau aku ajari doa yang
diajarkan   oleh   Rasulullah   
kepadaku. Dengan doa ini, andai
engkau     menanggung      piutang
sebesar gunung Shiir niscaya Allah
akan      memudahkanmu       untuk
melunasinya.
Ucapkanlah:
ْ ‫ِ َم‬                           ِ       َ                      َّ ‫الله‬
‫َّ ُم اكْفِنِى بِحَالَِلكَ عنْ حَرَامكَ وَأَغْنِنِى بِفَضْرلكَ ع َّرن‬
                                                               َ‫سِوَاك‬
"Ya Allah, limpahkan kecukupan
kepada kami dengan rizqi-Mu yang
halal agar tidak memakan harta
yang Engkau haramkan. Dan
cukupilah                       kami                   dengan
kemurahan-Mu                           agar                tidak
mengharapkan                       uluran              tangan
selain-Mu. Riwayat Ahmad, At
Awas! Besar Pasak
 Daripada Tiang
Ada seorang lelaki dari Juhainah yang membeli beberapa
kendaraan (onta) dengan pembayaran tidak tunai, dan
dengan harga mahal. Selanjutnya ia bergegas mendahului
jamaah haji, dan akibatnya iapun ditimpa pailit. Ketika
kasusnya dilaporkan ke Khalifah Umar bin Al Khatthab, ia
berkata: Amma ba’du, wahai masyarakat, sesungguhnya
Usaifi’, yaitu Usaifi’ dari Juhainah, merasa puas bila agama
dan kepercayaannya digadaikan dengan sanjungan: “ia
berhasil mendahului jamaah haji”. Ia menyepelekan
piutang, hingga terlilit. Barang siapa memiliki piutang
atasnya, hendaknya ia menemui kami esok hari, karena
harta kekayaannya akan dibagi-bagikan kepada seluruh
krediturnya. Waspadalah kalian dari putang, karena awal
piutang itu kegundahan dan akhirnya peperangan.
(Muwattha’ 2/770)
   ‫عد‬                 ْ ِ                 َّ ً ِ ‫َ َم الد‬
   ُ ْ‫مَا دَخلَ ه ُّ َّْين قَلْبا إِال أَذْهَبَ منَ الْعَقلِ مَا الَ يَ ُو‬
"Tidaklah                kegundahan                           karena
memikirkan piutang menghampiri
hati seseorang, melainkan akan
menyirnakan sebagian dari akal
sehatnya dan tidak akan pernah
pulih kembali.“
 ‫ذ‬       ‫ِن َّج‬                  َّ ‫س‬                ْ           ‫ذ‬
‫(مَا أَكَْثرَ مَا تَسْتَعِي ُ مِنَ الْمَغرَمِ يَا رَ ُولَ اللهِ؟ فَقَالَ: (إ َّ الر ُرلَ ِإ َا‬
                                                  َ َ           ََ
                               ‫غرِم ح َّثَ فَكَذَب ووَعَدَ فَأخْلفَ) متفق عليه‬    ‫َ َ َد‬
Seorang bertanya: "Ya Rasulullah,
betapa sering engkau berlindung dari
piutang yang melilit nan memberatkan?
Beliau                 menjawab:                           Sesungguhnya
seseorang yang telah terlilit piutang
yang memberatkan, bila berbicara, ia
berdusta, dan bila berjanji, ia ingkar."
Muttafaqun 'alaih
  Barang Apa Yang
Bisa Anda Gadaikan?
Imam As Syafi'i berkata:
"Bila   ada    orang       yang   hendak
menggadaikan seekor anjing, maka tidak
dibenarkan, karena anjing tidak memiliki
nilai ekonomis. Demikian juga halnya
setiap barang yang tidak halal untuk
diperjual-belikan.” (Al Umm 3/162)
     Menggadaikan
Buah Yang Belum Menua.
Pendapat Pertama:
Imam      Syafi’i     melarang    anda
menggadaikan buah-buah atau tanaman
yang belum siap untuk dipanen
Imam As Syafi'i berkata: "Tidak
dibenarkan bagi seseorang untuk
menggadaikan sesuatu yang pada saat
akad gadai berlangsung tidak halal
untuk diperjual belikan.” (Al Umm oleh
Imam As Syafi'i 3
‫: (هنى عن بيع النخل حىت يزهو وعن‬ ‫أن رسول اهلل‬ ‫عن بن عمر‬
             ).‫السنبل حىت يبيض ويأمن العاهة، هنى البائع واملشتري‬
"Dari sahabat Ibnu Umar  bahwasannya
Rasulullah  melarang penjualan kurma
hingga menua, dan dari penjualan biji-bijian
hingga memutih dan aman dari hama, beliau
melarang penjual dan juga pembelinya."
(riwayat Bukhary dan Muslim)
Pendapat Kedua:
Boleh menggadaikan buah-buahan atau
tanaman yang belum siap untuk dipanen.
Ini adalah pendapat yang dianut dalam
mazhab Maliki dan Hambali, dan
pendapat kedua dalam mazhab Syafii. (Al
Mughni 6/461& Bidayatul Mujtahid 8/28)
Dalil :
Tidak ada dalil yang melarang.
 Menggadaikan
Barang Pinjaman
Ibnul Munzir berkata:
“Seluruh ulama’ yang telah kami hafal
pendapatnya sepakat bahwa anda dibenarkan
untuk meminjam sesuatu barang dari orang
lain untuk anda gadaikan atas piutang anda
dalam nominal yang jelas dan kepada orang
tertentu, dan hingga tempo yang jelas pula.
(Al Mughni Ibnu Qudamah 6/462)
       Dua Opsi Ketika Jatuh Tempo:
1) Debitur berhasil melunasi piutangnya,
maka barang gadaian dikembalikan kepada
pemiliknya.
2) Debitur tidak berhasil melunasi, maka
kreditur berhak melelang barang gadaian,
dan mengambil haknya secara penuh.
Selanjutnya    peminjam,      berkewajiban
mengganti barang atau harganya kepada
pemilik. (Al Mughni Ibnu Qudamah 6/464)
Waktu Penggadaian
Dapat dipahami dari teks ayat 282 Surat Al
Baqarah     dan   juga   dari   tujuan   akad
pergadaian, maka waktu pelaksanaan akad
gadai ialah:
• Setelah
• Atau bersamaan dengan akad hutang-
piutang (Al Mughnii oleh Ibnu Qudamah
6/444-445)
‫عن أيب رافع ‪ ‬أن ضيفاً نزل برسول اهلل، فأرسلين أبتغي لره‬
        ‫ن‬
‫طعاماً، فأتيت رجالً من اليهود فقلت: يقول لك حممد إَّه قرد‬
‫نزل بنا ضيف، ومل يلق عندنا بعض الذي يصلحه، فربعين أو‬
‫أسلفين إىل هالل رجب. فقال اليهودي: ال واهلل ال أسلفه وال‬
‫أبيعه إال برهنٍ، فرجعت إىل رسول اهلل فأخربته فقال: (واهلل إين‬
‫ألمني يف أهل السماء أمني يف أهل األرض، ولرو أسرلفين أو‬
‫َّا وغرريه‬                                        ‫ألد‬
             ‫باعين َّيت إليه. اذهب بدرعي) رواه عبد الررَّ‬
                                                      ‫مرسال‬
“Abu Raafi' , mengisahkan bahwa pada suatu
hari ada seseroang bertamu ke rumah
Rasulullah . Lalu beliau mengutusku untuk
mencari makanan sebagai hidangan. Aku
mendatangi seorang Yahudi, dan berkata
kepadanya:     Nabi   Muhammad       berkata
kepadamu, sesungguhnya ada tamu yang
datang kepada kami, sedangkan kami tidak
memiliki apapun yang dapat dihidangkan untuk
mereka. Karenanya, juallah kepada kami atau
hutangilah kami (gandum) hingga tempo bulan
Rajab.
Orang Yahudi tersebut berkata: Tidak, sungguh
demi Allah aku tidak akan menghutanginya
dan tidak akan menjual kepadanya melainkan
dengan gadaian. Akupun kembali menemui
Rasulullah, lalu aku kabarkan kepada beliau.
Beliau bersabda: Sungguh demi Allah aku
adalah orang yang terpercaya di langit
(dipercaya oleh Allah) dan terpercaya dibumi,
andaikata ia menghutangiku atau menjual
kepadaku, pasti aku melunasinya). (riwayat
Abdurrazzaaq dengan sanad yang mursal).
       Gadai Sebelum Berhutang
Bila ada orang yang berhutang telah
memberikan jaminan barang gadaian, maka -
menurut pendapat yang lebih kuat-
dibolehkan pula.
• Hukum asal setiap transaksi adalah halal.
• Kedua belah pihak yang menjalankan akad
  rela dan telah menyepakati hal tersebut.
 (Al Mughni 6/445& As Syarhul Mumti' oleh
Ibnu Utsaimin 9/125 )
Hukum-Hukum
 Pergadaian.
Pertama: Barang Gadai Adalah Amanah.
Status barang gadai selama berada di tangan pemilik
uang adalah sebagai amanah yang harus ia jaga
sebaik-baiknya. Sebagai konsekuensinya bila terjadi
kerusakan yang tidak disengaja dan tanpa ada
kesalahan prosedur dalam perawatan, maka pemilik
uang tidak berkewajiban untuk mengganti kerugian.
Andai pemilik barang mensyaratkan agar kreditur
mengganti kerugian bila terjadi kerusakan walau
tanpa disengaja, maka persyaratan ini tidak sah. (Al
Um oleh Imam As Syaafi'i 3/168, Mughnil Muhtaaj
oleh As Syarbiny 2/126-127, I'anatut Tholibin oleh Ad
Dimyathy 3/59)
Kedua : Pemilik Uang Berhak Membatalkan
          Pegadaian.
Pergadaian adalah akad yang mengikat salah
satu pihak saja, yaitu pihak penghutang. Dengan
demikian ia tidak dapat membatalkan akad
pegadaian, melainkan atas kerelaan kreditur.
Namun kreditur/pemilik uang, berwenang
sepenuhnya       untuk     membatalkan     akad,
kapanpun      ia    suka.    Karena   pegadaian
disyari'atkan untuk menjamin haknya. Sehingga
bila ia rela apabila haknya terhutang tanpa ada
jaminan, maka itu sepenuhnya adalah
wewenangnya.
Ketiga: Pemilik Uang Tidak Memanfaatkan
       Barang Gadaian.
Barang gadaian sebelum dan setelah digadaikan adalah
milik debitur. Sehingga seluruh kegunaannya milik debitur.
Adapun kreditur, maka ia hanya berhak untuk menahan
barang tersebut, sebagai jaminan atas uangnya yang
terhutang. Bila ia memanfaatkannya, berarti ia mendapat
keuntungan dari piutangnya dan itu adalah riba. Bahkan
adanya persyaratan agar kreditur boleh memanfatkan
barang gadai menjadikan akad hutang-piutang beserta
pergadaiannya batal. (Mughnil Muhtaaj oleh As Syarbini
2/121,     Fathul Mu'ain oleh Al Malibaary3/57, dan
Nihaayatuz Zain oleh Muhammad Nawawi Al Bantany
244)
Sahabat Fudholah bin Ubaid :
                                     ‫كل قرض جر منفعة فهو ربا‬
"Setiap piutang yang mendatangkan kemanfaatn
maka itu adalah riba.” ( Al Baihaqy).
Ucapan serupa juga diriwayatkan dari sahabat
Abdullah bin Mas'ud, Abdullah bin Salaam dan Anas
bin Malik .
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata, "Dan piutang
yang mendatangkan kemanfaatan, telah tetap
pelarangannya dari beberapa sahabat yang sebagian
disebutkan oleh penanya dan juga dari selain mereka,
di antaranya sahabat Abdullah bin Salaam dan Anas
bin Maalik." (Majmu' Fatawa Ibnu Taimiyyah 29/334).
Imam An Nawawi berkata: "Tidaklah
pemilik uang (murtahin) memiliki hak pada
barang gadaian selain hak sebagai jaminan
belaka. Dan murtahin tidak dibenarkan
untuk bertasarruf (bertindak), baik berupa
ucapan atau perbuatan tentang barang
gadaiaan yang ada di tangannya. Dan ia
juga dilarang untuk memanfaatkannya.”
(Raudhatut Thalibin oleh Imam An Nawawi
3/387)
Dua Pengecualian
1) Bila pemanfaat barang gadai disepakati
  ketika akad jual-beli atau sewa menyewa
  dilangsungkan, dan dalam batasan waktu
  yang disepakati pula. (Nihayatuz Zain
  oleh Muhammad Nawawi Al Bantani 244)
Anda menjual kendaraan kepada seseorang,
dengan kesepakatan sebagai berikut:
• Harga sebesar Rp. 30.000.000,- dengan
  cicilan tiap bulan Rp. 3.000.000,-
• Pembeli berkewajiban menggadaikan
  salah satu rumahnya selama 10 bulan,
  yaitu selama masa kridit.
• Selama masa pengkriditan, yaitu 10 bulan,
  anda menempati rumah gadaian tersebut.
2) Barang gadai berupa binatang hidup.
Hal ini bertujuan untuk memudahkan kedua
belah pihak. Bila makanan binatang tersebut
dibebankan kepada pemilik uang, maka ia
akan dirugikan.
Dan bila dibebankan kepada pemilik
binatang, maka akan merepotkannya,
terlebih –lebih bila jarak antara mereka
berdua berjauhan.
           ‫َّر َب‬                                      ‫الظ ي ْ َب‬
‫( َّهر ُرك ُ بنفقته إذا كان مرهوناً، ولنب الد ِّ ُيشْر ُ بنفقته إذا‬
                      ‫الن ة‬                     ‫ال‬
    ‫كان مرهوناً، وعلى َّذي يركب ويشرب َّفق ُ.) رواه البخاري‬
"Binatang tunggangan bila sedang digadaikan
boleh ditunggangi sebagai imbalan atas
nafkahnya (makanannya). Susu binatang bila
sedang digadaikan boleh diperah lalu diminum
sebagai imbalan atas makanannya. Dan orang
yang menunggangi dan meminum susu
berkewajiban untuk memberikan makanan."
Riwayat imam Bukhori.
Keempat : Piutang Tidak Berkurang Karena
           Barang Gadai Rusak.
Imam As Syafi'i berkata: "Bila seseorang telah
menggadaikan barang, kemudian barang itu rusak, maka
pemberi piutang tidak berkewajiban untuk menggantinya.
Dan jumlah piutang anda tidak berkurang, dari jumlah
semula.....Selama Pemilik uang tidak berbuat kesalahan,
maka status barang gadaian bagaikan amanah. Sehingga
bila penghutang telah menyerahkan barang gadaian
kepada pemilik uang, kemudian ia ingin menarik kembali
barangnya, maka pemilik uang berhak untuk menolaknya.
Dan bila barang itu rusak, maka pemilik uang tidak
berkewajiban untuk menggantinya. (Al Umm 3/167)
kelima    :    Barang Gadaian Boleh
             dilelang      ketika    Jatuh
             Tempo.
Bila piutang telah jatuh tempo, maka akan
terjadi beberapa kemungkinan berikut:
1) Penghutang dapat melunasi piutangnya.
   Bila ini yang terjadi, maka barang gadai,
   sepenuhnya harus dikembalikan kepada
   pemiliknya.
2) Penghutang tidak mampu melunasi
        piutangnya, dan pemilik uang rela
        untuk menunda haknya.
       ‫ر ك‬           ‫َدق‬           َ               َِ َْ ‫ذ ع‬                 َ
ْ‫(وِإنْ كَانَ ُو ُسر ٍ فََنظر ٌ إِلَى مَيْسَر وَأنْ تَص َُّوا خَْي ٌ لَ ُمْ ِإن‬
                                                                    ‫ُت م‬
                                                   280 ‫كنُْم تَعْلَ ُون) البقر‬
 "Dan jika (orang berhutang itu) dalam
 kesukaran, maka berilah tangguh sampai
 dia berkelapangan. Dan menyedakahkan
 (sebagian atau semua hutang) itu lebih
 baik bagimu, jika kamu mengetahui." (Al
 Baqarah 280).
“Kelak, Allah mendatangkan seorang hamba-Nya
yang pernah Ia beri harta kekayaan, kemudian Allah
bertanya kepadanya: Apa yang engkau lakukan
ketika di dunia? (Dan mereka tidak dapat
menyembunyikan dari Allah suatu kejadian) (An Nisa’
42) Iapun menjawab: Wahai Tuhanku, Engkau telah
memberiku harta kekayaan, dan aku berprofesi
sebagai pedagang. Kebiasaanku adalah senantiasa
memudahkan, aku meringankan (tagihan) orang
yang mampu dan menunda (tagihan) orang yang
tidak mampu. Kemudian Allah berfirman: Aku lebih
berhak untuk melakukan ini daripada engkau,
mudahkanlah hamba-Ku ini." Muttafaqun 'alaih.
  ‫ظ‬                            ‫ه َله الله‬                           ‫م‬            َ
‫(منْ أَْنظَرَ ُعْسِرًا أَوْ وَضَعَ لَ ُ َأظَّ ُ َّ ُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ تَحْتَ ِرل‬
                                                   ُ ‫َ ظ َّ َّ ِل‬
                                                ) ‫عَرْشِهِ يَوْمَ ال ِل إِال ظُّه‬
"Barang     siapa     menunda     atau
memaafkan      piutang    orang   yang
kesusahan, niscaya Allah menaunginya
di bawah arsy-Nya di hari yang
padanya tidak ada naungan selain
naungan-Nya."       Riwayat    Bukhari,
Muslim, At Tirmizy dan ini adalah teks
riwayat At Tirmizy.
3) Penghutang tidak mampu melunasi
   piutangnya, dan pemilik uang tidak
   mau untuk menunda tagihan.

Pada keadaan seperti ini, barang gadai
harus dijual, dan hasil penjualannya
digunakan untuk melunasi piutang.
1. Hasil penjualan lebih sedikit dari jumlah
   piutang, maka seluruh hasil penjualan
   diserahkan kepada pemilik uang dan
   penghutang masih berkewajiban untuk
   menutup kekurangannya.
2. Hasil penjualan sama dengan jumlah piutang,
   maka hasil penjualan sepenuhnya diserahkan
   kepada pemilik uang guna melunasi haknya.
3. Hasil penjualan melebihi jumlah piutang, maka
   hasil penjualan itu dipotong jumlah piutang,
   dan sisanya dikembalikan kepada pemilik
   barang (penghutang).

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Tags:
Stats:
views:6
posted:5/21/2012
language:
pages:55
Description: Hukum tentang Pegadaian ditinjau dari Alquran dan As-Sunah