Studi Dampak Penghapusan Subsidi Listrik Terhadap Kinerja Sektor Riil

Document Sample
Studi Dampak Penghapusan Subsidi Listrik Terhadap Kinerja Sektor Riil Powered By Docstoc
					      Studi Dampak Penghapusan Subsidi Listrik Terhadap Kinerja Sektor Riil
                     Studi Kasus : Industri Tekstil/Garment1

                                          Oleh:
                                    Agunan P. Samosir2

Rekomendasi

       Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan dan pasokan listrik dimasa
yang akan datang akan mengalami krisis. Pemerintah perlu memikirkan jalan terbaik
untuk membantu pendanaan dalam investasi baru dan jalur-jalur transmisi untuk
memenuhi kebutuhan listrik. Dengan mengundang investor swasta merupakan salah
satu cara yang baik untuk investasi, akan tetapi iklim usaha yang kondusif, jaminan
keamanan berusaha dan regulasi yang konsisten merupakan faktor kunci keberhasilan
mengundang investor.

       Kebijakan penghapusan subsidi listrik jelas akan membebani masyarakat, baik
rumah tangga maupun sektor produksi. Namun, dengan pertimbangan semakin
beratnya beban anggaran pemerintah, lebih-lebih setelah krisis hebat melanda
perekonomian Indonesia, kurang efektifnya subsidi listriknya menjangkau sasaran,
maka perlu dicari jalan tengah berkaitan dengan persoalan dilematis subsidi listrik. Jalan
tengah yang bisa ditempuh adalah penurunan secara bertahap subsidi listrik dengan
perlakuan yang berbeda menurut kelompok penggunanya. Pengurangan subsidi pada
awal dikenakan terbesar pada kelompok tarif pengguna yang relatif sedikit dikonsumsi
oleh masyarakat dan produsen, misalnya kelompok rumah tangga dan kelompok sosial
dengan beban di bawah 450 VA.

       Berkaitan dengan dampak negatif dari penurunan subsidi listrik pada sisi makro
dan perdagangan internasional, terutama menurunnya pertumbuhan ekonomi,
menurunnya tingkat kesempatan kerja, dan menurunnya daya saing perdagangan di
pasar internasional, maka sebagai kompensasinya pemerintah perlu menempuh
kebijakan lain terutama di sektor riil dengan menciptakan iklim usaha yang lebih
kondusif dan efisien. Kebijakan deregulasi dan debirokratisasi perlu lebih ditajamkan
hingga menyentuh pada persoalan mendesak. Disamping itu, percepatan restrukturisasi

1 Merupakan hasil penelitian pada industri tekstil/garment di Jabotabek dan Bandung tahun
anggaran 2001
2 Peneliti pada Pusat Statistik dan Penelitian Keuangan, Badan Analisa Fiskal, Departemen

Keuangan



                                                                                            1
sektor perbankan mutlak dilakukan guna mendukung bergeraknya sektor riil. Dengan
demikian, dampak negatif kenaikan TDL pada perekonomian dapat direduksi dengan
jalan penciptaan iklim usaha yang lebih favourable.
       Perlunya PLN melakukan sosialisasi sebelum kenaikan TDL diberlakukan
kepada seluruh sektor, khususnya kepada sektor industri tekstil yang paling banyak
menggunakan tenaga listrik dan tenaga kerja. Sosialisasi tersebut sangat penting untuk
menghadapi masalah-masalah yang terjadi seperti yang telah dikemukakan di atas.


Permasalahan

       Beberapa permasalahan pokok yang menjadi fokus studi yaitu: (1) Bagaimana
dengan penggunaan tenaga listrik dimasa yang akan datang?, (2) Bagaimana dengan
mekanisme perhitungan subsidi listrik yang diterima PT. PLN?, (3) Seberapa besar
dampak penghapusan subsidi listrik terhadap perekonomian makro?, dan (4) Seberapa
besar dampak penghapusan subsidi listrik terhadap pengguna listrik secara sektoral?.


Tujuan
       Tujuan dari studi ini adalah: (i) Untuk menyusun potret distribusi penggunaan
tenaga listrik, (ii) Untuk menganalisis dampak penghapusan subsidi listrik terhadap
sektoral, regional, kelompok rumah tangga dan perekonomian makro, (iii) Untuk
mengidentifikasi mekanisme perhitungan subsidi listrik yang selama ini diterima PT.
PLN dari APBN, dan (iv) Untuk mengidentifikasi struktur biaya dan penyesuaian yang
dilakukan oleh sektor industri akibat penghapusan subsidi listrik/kenaikan TDL.


Metodologi
       INDORANI yang dipakai dalam studi ini menggunakan Tabel Input Output (I-
O) Indonesia tahun 1995 untuk menggambarkan ekuilibrium awal. Model INDORANI
membentuk model sektoral secara individual, di mana masing-masing menjelaskan
perilaku dalam kegiatan produksi, perdagangan dan konsumsi antar sektor. Jumlah
sektor yang digunakan dalam kasus ini adalah 71 yang berasal dari data Tabel I-O 1995
172 sektor yang telah diagregasi. INDORANI didesain untuk analisis statik komparatif
efek shock ekonomis pada perekonomian Indonesia. Caranya dengan menerapkan shock
terhadap ekuilibrium yang ada untuk menghitung ekuilibrium baru bagi perekonomian.
INDORANI sering digunakan untuk analisis jangka panjang dimana kapital dan tenaga


                                                                                       2
kerja menjadi variabel endogen. Namun demikian, untuk menunjukkan proses atau
dinamika jangka pendek, simulasi INDORANI dapat melakukan sejumlah restriksi pada
mobilitas kapital dan teknologi.
          Model KUT INDORANI, secara teoritis merupakan model statis-komparatif
tipikal yang mencerminkan kondisi perekonomian pada suatu waktu tertentu. Pada
dasarnya, INDORANI berisi sistem persamaan simultan yang menggambarkan
keterkaitan antar aktivitas ekonomi. Sistem persamaan simultan ini antara lain
menjelaskan; permintaan produsen atas input antara dan input primer, permintaan
produsen atas barang investasi untuk pembentukan kapital (capital formation),
penawaran komoditas oleh produsen, permintaan rumah tangga, permintaan ekspor,
pengeluaran pemerintah, hubungan antara nilai produksi dengan biaya produksi dan
harga jual, serta kondisi market-clearing   3   untuk komoditas dan input primer, berbagai
indikator makro ekonomi serta indeks harga.



Temuan

          Kebijakan pemerintah menaikkan tarif dasar listrik (TDL) cukup memukul dunia
usaha Indonesia yang saat ini sedang berusaha bangkit dari keterpurukannya akibat
krisis ekonomi yang berkepanjangan. Selama kurun waktu 2000 – 2001 TDL sudah
mengalami kenaikan dua kali. Kenaikan TDL ini melengkapi penderitaan pengusaha,
menyusul kenaikan harga BBM (solar) dan kenaikan UMR. Industri tekstil yang selama
ini menjadi primadona didalam pasar ekspor juga mengalami pukulan yang cukup
telak. Apalagi saat ini pasaran tekstil internasional sedang mengalami kelesuan akibat
melemahnya perekonomian dunia dan melimpahnya produk tekstil di pasar
internasional, terutama dari Korsel dan Cina. Untuk mengantisipasi dan menyesuaikan
kondisi ini, maka pengusaha tekstil harus lebih efektif menggarap pasar baru dan efisien
dalam berproduksi.
          Kenaikan ini juga menjadi masalah yang cukup rumit bagi pengusaha tekstil
karena berkaitan dengan perhitungan cost dan harga jual dengan buyer. Selama ini
kontrak pesanan dilakukan tiga bulan sebelum produksi sehingga perhitungan harga
jualnya masih menggunakan perhitungan sebelum kenaikan TDL. Hal ini akhirnya


3   Market clearing adalah asumsi awal dari kondisi keseimbangan masing-masing pasar yang bisa
    disesuaikan dengan kondisi yang sebenarnya.



                                                                                            3
mengakibatkan turunnya marjin keuntungan yang diperoleh pengusaha tekstil karena
tidak mungkin lagi menaikkan harga jualnya terhadap buyer. Berdasarkan hasil survai
yang dilakukan terhadap beberapa perusahaan tekstil/garment (eksportir dan lokal) di
wilayah DKI Jakarta, diperoleh informasi mengenai tindakan penyesuaian yang
dilakukan setelah terjadi kenaikan TDL terutama kenaikan TDL pada 30 Maret 2000.
Tindakan penyesuaian tersebut, antara lain :
1. Rasionalisasi karyawan (PHK); dengan melakukan PHK terutama untuk karyawan
   bagian produksi (buruh) maka perusahaan bisa melakukan penghematan dalam hal
   upah buruh. Penghematan ini akan mengurangi biaya produksi (biaya tenaga kerja)
   sehingga akan mengurangi pos pengeluaran dan bisa dialihkan untuk menambah
   pos biaya listrik. Pengurangan karyawan ini dilakukan melalui seleksi karyawan
   yang dirasakan kurang produktif tetapi tidak menghambat produksi yang harus
   dihasilkan untuk memenuhi pesanan.
2. Optimalisasi jam kerja; hal ini berkaitan dengan overtime (jam lembur) karyawan.
   Selama ini untuk memenuhi jumlah pesanan dari buyer, maka perusahaan
   menerapkan jam lembur bagi tenaga bagian produksi/buruh dengan konsekuensi
   penambahan upah lembur. Untuk menghemat pengeluaran uang lembur dan
   memenuhi pesanan dari buyer maka perusahaan melakukan kebijakan yang cukup
   ketat dengan meniadakan jam lembur dan tidak memperbolehkan buruh bekerja
   lamban. Hal ini berkaitan dengan upaya mengoptimalkan tenaga buruh sehingga
   supervisor harus bekerja ekstra ketat untuk melakukan pengawasan terhadap kinerja
   buruh tersebut.
3. Penurunan     marjin   keuntungan;    risiko   yang   dihadapi   pengusaha   adalah
   pengurangan keuntungan perusahaan karena harga jual dengan buyer tidak bisa lagi
   dinaikkan sedangkan biaya produksi untuk kenaikan TDL mengalami peningkatan.
   Bahkan keuntungan juga berkurang karena harga bahan baku lokal ikut naik dengan
   rata-rata persentase kenaikan sebesar 10% - 15%. Perusahaan tidak melakukan
   rasionalisasi karyawan tetapi membiarkan marjin keuntungannya menurun. Akan
   tetapi hal ini tidak akan mampu bertahan lama karena pengusaha terutama PMA
   akan berpikir bahwa investasi di Indonesia tidak akan menguntungkan sehingga ada
   kecenderungan untuk mengalihkan atau memindahkan investasinya ke luar negeri.
   Apabila hal ini terjadi maka iklim investasi di Indonesia akan terganggu dan dunia
   usaha akan semakin mengalami kemunduran.



                                                                                     4
4. Meningkatkan harga jual produk di pasar lokal; hal ini hanya bisa dilakukan oleh
   perusahaan lokal karena tidak ada kontrak pesanan dengan buyer di luar negeri.
   Dengan melakukan penghitungan ulang terhadap biaya produksi maka perusahaan
   bisa menaikkan harga jualnya sesuai dengan kenaikan biaya. Tindakan ini lebih
   cenderung berhasil jika konsumen juga mengalami peningkatan kemampuan daya
   beli. Kenyataan yang ada sekarang ini, walaupun daya beli konsumen meningkat
   akan tetapi mereka juga harus menyesuaikan dengan kenaikan harga kebutuhannya,
   misalnya kenaikan TDL untuk rumah tangga, kenaikan BBM, dan kenaikan harga
   barang-barang kebutuhan pokok.

       Selama ini kenaikan TDL lebih cenderung dilakukan secara mendadak bahkan
tanpa ada pemberitahuan terlebih dahulu. Beberapa pengusaha mengeluh karena
mereka tidak bisa melakukan antisipasi sebelumnya. Untuk mengantisipasinya maka
sebaiknya pemerintah terlebih dahulu melakukan sosialisasi kenaikan TDL tersebut
dengan mengadakan seminar/diskusi dengan dunia usaha sehingga perusahaan bisa
melakukan tindakan antisipasi untuk produk berikutnya. Diskusi atau pengkajian yang
lebih mendalam juga sebaiknya dilakukan sebelum pemerintah menetapkan kenaikan
TDL untuk memperoleh gambaran yang lebih kongkrit tentang kondisi dunia usaha,
sehingga dapat mendukung kebijakan yang akan diterapkan. Kenaikan TDL yang relatif
sering akan berdampak buruk bagi kinerja perusahaan karena berkaitan dengan harga
pokok produksi. Beberapa pengusaha menyatakan akan lebih baik apabila kenaikan
TDL dilakukan setahun sekali atau bahkan tiga tahun sekali, untuk memberikan
kesempatan bagi perusahaan untuk melakukan adjustment dan perhitungan ulang biaya
produksi.

       Mekanisme subsidi yang digunakan saat ini telah mengarah kepada kelompok
pengguna yang membutuhkan (targeted subsidy) yaitu kelompok rumah tangga, sosial,
bisnis dan industri beban  450 VA dengan beban pemakaian dibawah 30 kWh. Secara
makro, dampak kenaikan TDL sebagai konsekuensi dari penurunan rata-rata subsidi
listrik mempunyai arah yang negatif. Hal ini ditunjukkan dari menurunnya
pertumbuhan ekonomi riil (GDP riil), menurunnya tingkat kesempatan kerja, dan
meningkatnya laju inflasi. Hal ini merupakan konsekuensi dari menurunnya sektor
produksi akibat naiknya ongkos produksi (cost of production).




                                                                                  5

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Tags:
Stats:
views:77
posted:5/20/2012
language:Malay
pages:5