Docstoc
EXCLUSIVE OFFER FOR DOCSTOC USERS
Try the all-new QuickBooks Online for FREE.  No credit card required.

Makalah Inflasi dan Deflasi

Document Sample
Makalah Inflasi dan Deflasi Powered By Docstoc
					                                                                               1




                                     BAB I
                                   INFLASI


1.1 PENGERTIAN INFLASI
              Dalam ilmu ekonomi, inflasi adalah suatu proses meningkatnya harga-
   harga secara umum dan terus-menerus (kontinu) berkaitan dengan mekanisme
   pasar dapat disebabkan oleh berbagai faktor, antara lain, konsumsi masyarakat
   yang meningkat atau adanya ketidak lancaran distribusi barang. Dengan kata
   lain, inflasi juga merupakan proses menurunnya nilai mata uang secara
   kontinu. Inflasi adalah proses dari suatu peristiwa, bukan tinggi-rendahnya
   tingkat harga. Artinya, tingkat harga yang dianggap tinggi belum tentu
   menunjukan inflasi. Inflasi dianggap terjadi jika proses kenaikan harga
   berlangsung secara terus-menerus dan saling pengaruh-mempengaruhi. Istilah
   inflasi juga digunakan untuk mengartikan peningkatan persediaan uang yang
   kadangkala dilihat sebagai penyebab meningkatnya harga.
               Selain itu, inflasi merupakan salah satu masalah ekonomi yang
   banyak mendapatkan perhatian para pemikir ekonomi. Pengertian inflasi
   adalah kecenderungan dari harga-harga untuk menaik secara umum dan terus
   menerus. Kenaikan harga dari satu atau dua barang saja tidak disebut inflasi.
   Syarat adanya kecenderungan menaik yang teus menerus juga perlu diingat,
   karena kenaikan harga karena musiman, menjelang hari-hari besar atau yang
   terjadi sekali saja, dan tidak mempunyai pengaruh lanjutan tidak disebut
   inflasi.
              Jika seandainya harga-harga dari sebagian barang diatur diatur
   pemerintah, maka harga-harga yang dicatat oleh Biro Statistik mungkin tidak
   menunjukkan kenaikan apapun karena yang dicatat adalah harga harga
   "resmi" pemerintah. Tetapi kenyataan yang terjadi ada kecenderungan bagi
   harga-harga untuk terus menaik. Dalam hal ini inflasi sebetulnya ada, tetapi
   tidak diperlihatkan. Keadaan ini disebut "suppressed inflation" atau "inflasi
   yang ditutupi" , yang pada suatu waktu akan terlihat karena harga-harga resmi
   makin tidak relevan dalam kenyataan.


                                            1
                                                                                   2




1.2 JENIS-JENIS INFLASI
          Berdasarkan asalnya, inflasi dapat digolongkan menjadi dua, yaitu
   inflasi yang berasal dari dalam negeri dan inflasi yang berasal dari luar negeri.
   Inflasi berasal dari dalam negeri misalnya terjadi akibat terjadinya defisit
   anggaran belanja yang dibiayai dengan cara mencetak uang baru dan gagalnya
   pasar yang berakibat harga bahan makanan menjadi mahal. Sementara itu,
   inflasi dari luar negeri adalah inflasi yang terjadi sebagai akibat naiknya harga
   barang impor. Hal ini bisa terjadi akibat biaya produksi barang di luar negeri
   tinggi atau adanya kenaikan tarif impor barang.
          Inflasi juga dapat dibagi berdasarkan besarnya cakupan pengaruh
   terhadap harga. Jika kenaikan harga yang terjadi hanya berkaitan dengan satu
   atau dua barang tertentu, inflasi itu disebut inflasi tertutup (Closed Inflation).
   Namun, apabila kenaikan harga terjadi pada semua barang secara umum,
   maka inflasi itu disebut sebagai inflasi terbuka (Open Inflation). Sedangkan
   apabila serangan inflasi demikian hebatnya sehingga setiap saat harga-harga
   terus berubah dan meningkat sehingga orang tidak dapat menahan uang lebih
   lama disebabkan nilai uang terus merosot disebut inflasi yang tidak terkendali
   (Hiperinflasi).
          Dari hal diatas kita dapat membedakan bermacam-macam inflasi
   berdasarkan berbagai penggolongannya, yaitu: Berdasarkan parah tidaknya
   inflasi, Berdasarkan penyebab dari Inflasi, Berdasarkan asal dari inflasi, dan
   Penggolongan Inflasi ditinjau dari asal inflasi.


   1.2.1 Berdasarkan parah tidaknya inflasi :
         1. Inflasi ringan (di bawah 10% setahun)
         2. Inflasi sedang (antara 10 - 30% setahun)
         3. Inflasi berat (antara 30 - 100% setahun)
         4. Hiperinflasi (di atas 100% setahun)
                                                                         3




1.2.2 Berdasarkan penyebab dari Inflasi
    1. Demand inflation / inflasi permintaan




          Inflasi ini timbul karena permintaan masyarakat akan berbagai
     macam barang terlalu kuat. Inflasi permintaan ini disebabkan oleh
     permintaan masyarakat akan barang-barang (aggregate demand)
     bertambah   misalnya, karena bertambahnya pengeluaran pemerintah
     yang dibiayai dengan pencetakan uang, atau kenaikan permintaan luar
     negeri akan barang-barang ekspor, atau bertambahnya pengeluaran
     investasi swasta karena kredit    yang murah, maka kurva agregate
     demand bergeser dari D1 ke D2. Akibatnya tingkat harga umum naik
     dari H1 ke H2.
          Inflasi yang timbul karena kenaikan biaya produksi, yaitu karena
     kenaikan harga sarana produksi yang didatangkan dari luar negeri, atau
     karena kenaikan bahan bakar minyak) maka kurva penawaran
     measyarakat (aggregate supply) bergeser dari S1 ke S2.
          Perbedaan dari kedua macam inflasi ini adalah:
     1) Perbedaan dalam hal akibat dari kedua macam inflasi tersebut, dari
         segi volume output, karena dari segi harga output tidak berbeda.
         Dalam kasus demand inflation, biasanya ada kecenderungan
         outputnya (GDP riil) menaik bersama-sama dengan kenaikan harga
         umum. Besar kecilnya kenaikan output ini tergantung tegantung
                                                                       4




      pada eltisitas kurva agregate supplay, semakin mendekati output
      maksimum semakin tidak elastis kurva tsb. Sebaliknya dalam kasus
      cost inflation biasanya kenaikan harga-harga dibarengi dengan
      penurunan omzet penjualan barang (kelesuan usaha).
  2) Perbedaan dalam hal urutan dari kenaikan harga.
      Dalam demand inflation kenaikan harga barang (output) menda-
      hului kenaikan harga barang-barang input dan harga- harga faktor
      produksi (upah dsb).
      Sedangkan dalam dalam cost inflation kenaikan harga barang -
      barang input dan harga-harga faktor produk mendahului kenaikan
      harga barang-barang akhir (output).


2. Cost inflation / inflasi penawaran.




      Inflasi ini timbul   karena kenaikan biaya produksi atau berkur-
angnya penawaran agregatif. Inflasi desakan biaya (cost push inflation)
terjadi   akibat   meningkatnya    biaya    produksi   (input)   sehingga
mengakibatkan harga produk-produk (output) yang dihasilkan ikut naik.
Meningkatnya biaya produksi dapat disebabkan 2 hal,yaitu kenaikan
harga,misalnya bahan baku dan kenaikan upah/gaji,misalnya kenaikan
gaji PNS akan mengakibatkan usaha-usaha swasta menaikkan harga
barang-barang dan Factor-faktor yang menyebabkan terjadinya inflasi
adalah sebagai berikut:
                                                                           5




    a. Tingkat pengeluaran agregat yang melebihi kemampuan perusahaan
       untuk menghasilkan barang dan jasa
    b. Tuntutan kenaikan upah dari pekerja.
    c. Kenaikan harga barang impor
    d. Penambahan penawaran uang dengan cara mencetak uang baru
    e. Kekacauan politik dan ekonomi seperti yang pernah terjadi di
       Indonesia tahun 1998. akibatnya angka inflasi mencapai 70%.


1.2.3 Berdasarkan asal dari inflasi
   1. Inflasi yang berasal dari dalam negeri (domestic inflation)
   2. Inflasi yang berasal dari luar negeri (imported inflation)


1.2.4 Penggolongan Inflasi ditinjau dari asal inflasi
    1. Inflasi dari dalam negeri timbul misalnya karena defisit anggaran
       belanja yang dibiayai dengan pencetakan uang baru, panenan gagal
       dsb.
    2. Inflasi dari luar negeri adalah inflasi yang timbul karena kenaikkan
       harga-harga (yaitu:inflasi) di luar negeri atau di negara-negara
       langganan berdagang kita.


     Kenaikkan harga barang-barang yang kita impor mengakibatkan:
       1. Secara langsung kenaikan indeks biaya hidup karena sebagian dari
          barang-barang yang tercakup di dalamnya berasal dari impor.
       2. Secara tidak langsung menaikkan indeks harga melalui kenaikan
          biaya produksi (dan kemudian, harga jual) dari berbagai barang
          yang menggunakan bahan mentah atau mesin-mesin yang harus
          diimpor (cost inflation)
       3. Secara tidak langsung menimbulkan kenaikan harga di dalam
          negeri,   karena     kenaikkan      harga     barang-barang   impor
          mengakibatkan kenaikan pengeluaran pemerintah/swasta yang
                                                                              6




              berusaha mengimbangi kenaikan harga impor tsb (demand
              inflation).
               Penularan inflasi dari luar negeri ke dalam negeri bisa pula
         melalui kenaikan harga barang-barang ekspor dan saluran-salurannya
         hanya sedikit berbeda dengan penularan lewat kenaikan harga barang-
         barang impor.
          1. Bila harga barang-barang ekspor seperti kopi teh minyak kelapa
              sawit naik, maka indeks biaya hidup akan naik pula sebab barang-
              barang tsb langsung masuk dalam daftar barang- barang yang terca-
              kup dalam indeks harga.
          2. Bila harga barang-barang ekspor (seperti, kayu,karet, timah, dsb)
              naik, maka biaya produksi dari barang-barang yang menggunakan
              barang-barang tsb dalam proses produksinya (perumahan, sepatu,
              kaleng, dsb) akan naik, dan harganya akan naik pula (cost
              inflation).
          3. Kenaikan harga barang-barang ekspor berarti kenaikan penghasilan
              eksportir. Kenaikan penghasilan ini akan dibelanjakan untuk
              membeli barang-barang , baik dari dalam negeri maupun luar
              negeri. Bila jumlah barang yang tersedia di pasar tidak bertambah,
              akibatnya harga-harga barang lain akan naik pula (demand
              inflation).


1.3 TEORI INFLASI
         Secara garis besar 3 kelompok teori mengenai inflasi, masing-masing
   menyoroti aspek-aspek tertentu dari proses inflasi, yaitu:
   1.3.1 TEORI KUANTITAS
         Teori ini menyoroti peranan dalam proses inflasi dari:
         a.   Jumlah uang yang beredar
         b.   Psikologi (harapan) masyarakat mengenai kenaikan harga-harga
         (expectation)
         Inti dari teori ini adalah :
                                                                      7




a. Inflasi hanya bisa terjadi kalau ada penambahan volume uang yang
     beredar (berupa penambahan uang cartal atau penambahan uang
     giral).
b. Laju inflasi ditentukan oleh laju pertambahan jumlah uang yang
     beredar dan oleh psikologi (harapan) masyarakat mengenai
     kenaikan harga-harga di masa mendatang.
Ada 3 kemungkinan keadaan :
1.   Keadaan pertama, apabila masyarakat tidak (atau belum)
     mengharapkan harga-harga untuk naik pada bulan bulan
     mendatang.
     Dalam hai ini, sebagian besar dari penambahan jumlah uang yang
     beredar akan diterima masyarakat untuk menambah likwiditasnya
     (yaitu, memperbesar pos Kas dalam buku neraca para anggota ma-
     syarakat).
     Ini berarti sebagian besar dari kenaikan jumlah uang tersebut tidak
     dibelanjakan untuk pembelian barang. Sehingga tidak akan ada
     kenaikan permintaan yang berarti akan barang-barang, jadi tidak
     ada kenaikan harga barang-barang.
     Dalam keadaan seperti ini kenaikan jumlah uang beredar sebesar
     10% diikuti oleh kenaikan harga- harga sebesar, misalnya 1%.
     Keadaan ini biasa dijumpai pada waktu inflasi masih baru mulai
     dan masyarakat masih belum sadar bahwa inflasi sedang berlang-
     sung.
2. Keadaan Kedua adalah di mana masyarakat atas dasar
     pengalaman di bulan bulan sebelumnya mulai sadar adanya
     inflasi.
     Penambahan jumlah uang yang beredar digunakan oleh masyarakat
     untuk membeli barang-barang (memperbesar pos aktiva barang-
     barang didalam neraca).
     Kenaikan harga (inflasi) adalah suatu pajak atas saldo kas ma-
     syarakat, karena uang semakin tidak berharga. Dan orang-orang
                                                                               8




        berusaha menghindari pajak ini dengan mengubah saldo kasnya
        menjadi      barang.   Sehingga    permintaan    akan    barang-barang
        melonjak, akibatnya harga barang-barang tersebut juga mengalami
        kenaikkan.
        Pada keadaan ini kenaikan jumlah uang sebesar, misalnya 10%
        akan diikuti dengan kenaikan harga barang mungkin sebesar 10%
        pula.
     3. Keadaan Ketiga adalah tahap Hiperinflasi, yakni orang-orang sudah
        kehilangan kepercayaan terhadap nilai mata uang. Keadaan ini
        ditandai oleh makin cepatnya peredaraan uang (velocity of
        circulation yang menaik). Uang yang beredar sebesar misalnya 20%
        akan mengakibatkan kenaikan harga lebih besar dari 20%.


1.3.2 TEORI KEYNES
          Menurut teori ini, inflasi terjadi karena suatu masyarakat ingin
    hidup di luar batas kemampuan ekonominya. Proses inflasi menurut
    pandangan ini adalah proses perebutan bagian rezeki di antara
    kelompok- kelompok sosial yang menginginkan bagian yang lebih besar
    daripada yang bisa disediakan oleh masyarakat. Proses perebutan ini
    diterjemahkan menjadi keadaan di mana permintaan masyarakat akan
    barang-barang selalu melebihi jumlah barang- barang yang tersedia
    (timbulnya inflationary gap).


1.3.3 TEORI STRUKTURALIS
          Adalah teori mengenai inflasi yang didasarkan atas pengalaman di
    negara Amerika Latin. Teori ini memberi tekanan pada ketegaran
    (rigidities) dari struktur perekonomian yang sedang berkembang.
    Karena      inflasi   dikaitkan   dengan   faktor-faktor    struktural   dari
    perekonomian (faktor-faktor ini hanya bisa berubah secara gradual dan
    dalam jangka panjang) maka teori ini disebut juga teori inflasi jangka
    panjang.
                                                                        9




Menurut teori ini ketegaran utama ada dua macam:
1. Ketegaran yang pertama berupa ketidakelastisan dari penerimaan
    eksport., yaitu nilai ekspor yang tumbuh secara lamban dibanding
    dengan pertumbuhan sektor- sektor lain.
    Kelambanan ini disebabkan oleh:
     a. Harga di pasar dunia dari barang-barang ekspor negara tersebut
        makin tidak menguntungkan dibanding dengan barang-barang
        impor yang harus dibayar (term of trade makin memburuk).
     b. Supplay atau produksi barang-barang ekspor yang tidak
        responsif terhadap kenaikan harga (supplay barang-barang
        ekspor yang tidak elastis).
    Kelambanan     pertumbuhan        penerimaan   ekspor   ini,   berarti
    kelambanan pertumbuhan kemampuan untuk mengimpor barang-
    barang yang dibutuhkan (untuk konsumsi maupun investasi).
    Akibatnya negara tersebut mengambil kebijaksanaan pembangunan
    yang menekankan pada penggalakkan produksi dalam negeri dari
    barang-barang yang sebelumnya diimpor (import substitution
    strategy), meskipun biaya produksi dalam negeri lebih tinggi dan
    berkualitas rendah daripada barang- barang sejenis yang diimpor.
    Biaya yang lebih tinggi ini mengakibatkan harga yang lebih tinggi
    pula. Bila proses substitusi impor ini makin meluas, biaya produksi
    juga meluas ke berbagai barang, sehingga makin banyak harga
    barang yang naik, dan inflasipun terjadi.
 2. Ketegaran Kedua berkaitan dengan ketidakelastisan dari supplay
    atau produksi bahan makanan di dalam negeri. Produksi bahan
    makanan dalam negeri tidak tumbuh secepat pertambahan
    penduduk dan penghasilan per kapita, sehingga harga bahan
    makanan di dalam negeri cenderung untuk menaik melebihi
    kenaikan harga barang- barang lain. Akibat selanjutnya adalah
    timbulnya tuntutan karyawan untuk memperoleh kenaikan upah.
    Kenaikan upah berarti kenaikan ongkos produksi, yang berarti
                                                                                   10




              kenaikan harga barang-barang tersebut. Kenaikan harga tersebut
              menyebabkan tuntutan kenaikan upah lagi. Dan kenaikan upah ini
              diikuti kenaikan harga-harga. Demikian seterusnya.
          Kesimpulan dari teori strukturalis yaitu:
          1. Teori ini menerangkan proses inflasi jangka panjang di negara-
             negara yang sedang berkembang.
          2. Jumlah uang yang beredar bertambah secara pasif mengikuti dan
             menampung kenaikan harga barang-barang tersebut. Proses inflasi
             tersebut dapat berlangsung terus hanya bila jumlah uang yang
             beredar juga bertambah terus.
             Tanpa kenaikan jumlah uang, proses tersebut akan berhenti dengan
             sendirinya.(juga dalam teori Keynes dan teori kuantitas).
          3. Tidak jarang faktor-faktor struktural yang dikatakan sebagai sebab
             musabab yang paling dasar dari proses inflasi tersebut bukan 100%
             struktural. Sering dijumpai bahwa ketegaran ketegaran tersebut
             disebabkan oleh kebijaksanaan harga/moneter pemerintah sendiri.


1.4 DAMPAK INFLASI
       Inflasi memiliki dampak positif dan dampak negatif- tergantung parah
    atau tidaknya inflasi. Apabila inflasi itu ringan, justru mempunyai pengaruh
    yang positif dalam arti dapat mendorong perekonomian lebih baik, yaitu
    meningkatkan pendapatan nasional dan membuat orang bergairah untuk
    bekerja, menabung dan mengadakan investasi. Sebaliknya, dalam masa inflasi
    yang parah, yaitu pada saat terjadi inflasi tak terkendali (hiperinflasi), keadaan
    perekonomian menjadi kacau dan perekonomian dirasakan lesu. Orang
    menjadi tidak bersemangat kerja, menabung, atau mengadakan investasi dan
    produksi karena harga meningkat dengan cepat. Para penerima pendapatan
    tetap seperti pegawai negeri atau karyawan swasta serta kaum buruh juga
    akan kewalahan menanggung dan mengimbangi harga sehingga hidup mereka
    menjadi semakin merosot dan terpuruk dari waktu ke waktu.
          Bagi masyarakat yang memiliki pendapatan tetap, inflasi sangat
    merugikan. Kita ambil contoh seorang pensiunan pegawai negeri tahun 1990.
                                                                            11




Pada tahun 1990, uang pensiunnya cukup untuk memenuhi kebutuhan
hidupnya, namun di tahun 2003 -atau tiga belas tahun kemudian, daya beli
uangnya mungkin hanya tinggal setengah. Artinya, uang pensiunnya tidak lagi
cukup untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Sebaliknya, orang yang
mengandalkan pendapatan berdasarkan keuntungan, seperti              misalnya
pengusaha, tidak dirugikan dengan adanya inflasi. Begitu juga halnya dengan
pegawai yang bekerja di perusahaan dengan gaji mengikuti tingkat inflasi.
       Inflasi juga menyebabkan orang enggan untuk menabung karena nilai
mata uang semakin menurun. Memang, tabungan menghasilkan bunga,
namun jika tingkat inflasi di atas bunga, nilai uang tetap saja menurun. Bila
orang enggan menabung, dunia usaha dan investasi akan sulit berkembang.
Karena, untuk berkembang dunia usaha membutuhkan dana dari bank yang
diperoleh dari tabungan masyarakat.
       Bagi orang yang meminjam uang dari bank (debitur), inflasi
menguntungkan, karena pada saat pembayaran utang kepada kreditur, nilai
uang lebih rendah dibandingkan pada saat meminjam. Sebaliknya, kreditur
atau pihak yang meminjamkan uang akan mengalami kerugian karena nilai
uang pengembalian lebih rendah jika dibandingkan pada saat peminjaman.
       Bagi produsen, inflasi dapat menguntungkan bila pendapatan yang
diperoleh lebih tinggi daripada kenaikan biaya produksi. Bila hal ini terjadi,
produsen akan terdorong untuk melipatgandakan produksinya (biasanya
terjadi pada pengusaha besar). Namun, bila inflasi menyebabkan naiknya
biaya produksi hingga pada akhirnya merugikan produsen, maka produsen
enggan untuk meneruskan produksinya. Produsen bisa menghentikan
produksinya untuk sementara waktu. Bahkan, bila tidak sanggup mengikuti
laju inflasi, usaha produsen tersebut mungkin akan bangkrut (biasanya terjadi
pada pengusaha kecil).
       Secara umum, inflasi dapat mengakibatkan berkurangnya investasi di
suatu negara, mendorong kenaikan suku bunga, mendorong penanaman modal
yang     bersifat   spekulatif,   kegagalan    pelaksanaan     pembangunan,
                                                                                12




    ketidakstabilan ekonomi, defisit neraca pembayaran, dan merosotnya tingkat
    kehidupan dan kesejahteraan masyarakat.


1.5 PERAN BANK SENTRAL
        Bank sentral memainkan peranan penting dalam mengendalikan inflasi.
    Bank sentral suatu negara pada umumnya berusaha mengendalikan tingkat
    inflasi pada tingkat yang wajar. Beberapa bank sentral bahkan memiliki
    kewenangan yang independen dalam artian bahwa kebijakannya tidak boleh
    diintervensi oleh pihak di luar bank sentral -termasuk pemerintah. Hal ini
    disebabkan karena sejumlah studi menunjukkan bahwa bank sentral yang
    kurang independen salah satunya disebabkan intervensi pemerintah yang
    bertujuan menggunakan kebijakan moneter untuk mendorong perekonomian
    akan mendorong tingkat inflasi yang lebih tinggi.
         Bank sentral umumnya mengandalkan jumlah uang beredar dan/atau
    tingkat suku bunga sebagai instrumen dalam mengendalikan harga. Selain itu,
    bank sentral juga berkewajiban mengendalikan tingkat nilai tukar mata uang
    domestik. Hal ini disebabkan karena nilai sebuah mata uang dapat bersifat
    internal (dicerminkan oleh tingkat inflasi) maupun eksternal (kurs). Saat ini
    pola inflation targeting banyak diterapkan oleh bank sentral di seluruh dunia,
    termasuk oleh Bank Indonesia.
         Dalam rangka mengendalikan inflasi dan menjaga stabilnya nilai mata
    uang, Pemerintah dan otoritas moneter yang ada mengambil beberapa
    kebijakan baik dari segi moneter, fiskal, maupun sektor riil. Dari segi moneter
    maka bank sentral akan menaikkan suku bunga dan pengetatan likuiditas
    perbank-kan, mengkaji efektivitas instrumen moneter dan jalur transmisi
    kebijakan   moneter,    menentukan     sasaran   akhir   kebijakan    moneter,
    mengidentifikasi variabel yang menyebabkan tekanan-tekanan inflasi,
    memformulasikan respon kebijakan moneter.
         Dari segi fiskal, pemerintah menerapkan kenaikan prosentase pungutan
    pajak, mengadakan pinjaman sukarela atau pinjaman paksa, memotong uang,
    membekukan sebagian atau seluruhnya simpanan-simpanan (deposito) pihak-
                                                                      13




pihak partikulir (bukan punya pemerintah) yang ada dalam bank-bank, serta
penurunan pengeluaran pemerintah.


        Gambar 1. Dilema Kebijakan Pengendalian Inflasi dan

                      Akibat Buruk Fiat Money
                                                                           14




     Tampak pada gambar di atas, tindakan BI, Pemerintah, dan Usaha
Swasta   dalam    mengendalikan     inflasi   hanyalah   sebatas   menyentuh
permasalahan teknis atau gejala (symptom) semata.
     Sebaliknya, perpaduan kebijakan yang digunakan menimbulkan krisis
bertambah parah. Inilah sebuah dilema yang sampai saat ini belum
terpecahkan sebagaimana secara jelas dikatakan oleh Samuelson dan
Nordhaus. Bahkan mereka mengatakan kebijakan atau solusi yang ditawarkan
oleh para ahli dalam memecahkan permasalahan inflasi dan pengangguran
secara bersamaan justru menyebabkan efek sampingan yang lebih buruk dari
penyakitnya itu sendiri. Ini terjadi dikarenakan yang diberikan hanya sebatas
menghilangkan penyakit bagian permukaan saja, sementara penyakit bagian
dalamnya masih belum disembuhkan.
     Penyakit bagian dalam yang belum tersentuh oleh perpaduan kebijakan
di atas adalah terkait dengan hakikat mata uang itu sendiri dan sistem yang
melingkupinya serta penyalahgunaan dari fungsi dasar uang sebagai alat tukar
yang bertambah menjadi tidak hanya sebatas sebagai alat tukar, melainkan
juga menjadi sebuah barang (komoditas) yang turut diperdagangkan dengan
imbalan bunga (interest).
     Dari sini dapat disimpulkan bahwa, kehadiran kebijakan moneter
alternatif (mata uang yang kuat dan stabil, serta kebijakan moneter yang tidak
memunculkan dilema di sektor riil) yang mampu mengendalikan inflasi sudah
sangat mendesak dibutuhkan dan segera diaplikasikan.
     Dalam hal ini, Abdul Qadim Zallum (Pemimpin Ke 2 Hizbut Tahrir)
dalam bukunya Sistem Keuangan di Negara Khilafah mengatakan bahwa,
sistem moneter yang berbasis kepada emas dan perak merupakan satu-satunya
sistem moneter yang mampu menyelesaikan problematika mata uang,
menghilangkan inflasi besar-besaran yang menimpa seluruh dunia, dan
mampu mewujudkan stabilitas mata uang dan stabilitas nilai tukar, serta bisa
mendorong kemajuan perdagangan internasional.
                                                                                15




                                      BAB II
                                     DEFLASI


2.1 PENGERTIAN DEFLASI
            Deflasi merupakan suatu gejala ekonomi yang menunjukkan
  penurunan harga penjualan pasar akibat kemerosotan ekonomi. Menurut
  definisi IMF, deflasi adalah suatu fenomena ekonomi yang terjadi akibat
  berlangsungnya resesi panjang akibat penurunan harga penjualan pasar
  kurang-lebih 2 tahun. Deflasi dapat dikatakan suatu gejala ekonomi yang
  berbahaya, seperti halnya inflasi, karena terus meningkatkan situasi labil
  terhadap faktor subjek ekonomi secara psikologi. Dan bagaikan resesi panjang
  deflasi dapat pula menjatuhkan nilai aset sekaligus menghantam berbagai
  sektor perekonomian.
            Pada deflasi, jumlah uang yang beredar dalam masyarakat terlalu
  sedikit, sedangkan barang dan jasa tersedia secara melimpah sehingga
  kenaikan secara tajam nilai mata uang dan peningkatan peranan uang tidak
  dapat dihindarkan. Dalam keadaan deflasi, para penjual akan merasa tidak
  aman untuk menahan persediaan barangnya terlalu lama, karena khawatir
  tingkat harga akan terus menurun. Sebaliknya, pihak pembeli akan bersikap
  menunggu dengan harapan harga akan lebih turun lagi.




2.2 JENIS-JENIS DEFLASI
            Dilihat dari proses terjadinya, deflasi dapat dibedakan menjadi dua,
  yaitu:


  2.2.1 DEFLASI STRATEGIS
           Deflasi ini terjadi akibat diterapkannya kebijakan pengontrolan terhadap
           gejala konsumsi berlebihan untuk mengatasi kenaikan harga pasar




                                             15
                                                                             16




  2.2.2 DEFLASI SIRKULASI
       Deflasi ini terjadi pada masa transisi dari kemakmuran ekonomi menjadi
       kemerosotan ekonomi, akibat ketidakseimbangan antara daya produksi
       dan konsumsi. Gejala ini mendorong penurunan harga penjualan pasar
       dalam resesi ekonomi, akibat semakin kurangnya jumlah kebutuhan
       terhadap barang-barang ekonomis yang berlebihan


2.3 PENYEBAB DEFLASI
         Istilah deflasi adalah lawan kata dari inflasi. Inflasi berkaitan erat
  dengan gejala konsumsi yang berlebihan, sedangkan deflasi ada kaitannya
  dengan pemasokan yang berlebihan. Dengan kata lain, apabila pemasokan
  barang-barang ekonomis melampaui daya konsumsi, dapat mengakibatkan
  penurunan harga penjualan pasar. Gejala ini mendorong kemerosotan investasi
  modal oleh perusahaan, dan memicu turunnya suku bunga sehingga
  menimbulkan pengurangan baik jumlah tenaga kerja maupun upah gaji.
         Jadi dapat disimpulkan bahwa ada empat buah penyebab Deflasi :
  1. Menurunnya persediaan uang di masyarakat.
  2. Meningkatnya Persediaan Barang
  3. Menurunnya permintaan akan barang.
  4. Naiknya permintaan akan uang


2.4 AKIBAT DEFLASI
         Deflasi akan mempengaruhi harapan yang akan datang dan psikologi
  para pengusaha. Proses deflasi juga akan mempengruhi penurunan tingkat
  investasi yang juga tentu saja akan membawa kesulitan bagi perekonomian.
         Deflasi   dapat   menyebabkan    menurunnya     persediaan   uang di
  masyarakat dan akan menyebabkan depresi besar (seperti yang dialami
  Amerika) dan juga akan membuat pasar Investasi (Saham) akan mengalami
  kekacauan. Dikarenakan harga barang mengalami penurunan, konsumen
  memiliki kemampuan untuk menunda belanja mereka lebih lama lagi dengan
  harapan harga barang akan turun lebih jauh. Akibatnya aktivitas ekonomi akan
                                                                             17




  melambat dan memberikan pengaruh pada spiral deflasi (deflationary spiral).
  Dampak susulan dari melesunya kegiatan ekonomi adalah banyak pekerja yang
  akhirnya mengalami PHK karena pemiliki bisnis tidak sanggup membayar gaji
  karyawannya.
         Dengan demikian pendapatan yang diterima masyarakat menjadi
  sedikit dan jumlah uang yang beredar di masyarakat semakin berkurang. Dari
  sisi investasi, deflasi juga mengakibatkan melesunya investasi di sektor riil
  maupun di lantai bursa. Akibatnya ini akan menambah berat kelesuan ekonomi
  dikarenakan tidak ada lagi aktivitas bisnis yang berjalan. Deflasi juga dapat
  menyebabkan suku bunga disuatu negara menjadi nol persen. Lalu diikuti juga
  dengan turunnya suku bunga pinjaman di bank. Ini memang merupakan
  langkah paliatif untuk mencegah masyarakat menyimpan uangnya di bank
  yang dapat membuat peredaran uang semakin kecil.


2.5 CARA MENGATASI DEFLASI
         Deflasi dapat diibaratkan jatuh sakitnya seseorang karena jarang
  berolah raga. Apabila seseorang pada dasarnya memiliki kaki normal namun
  malas menggunakannya, maka ini akan mengakibatkan menyusutnya otot-otot
  kaki yang jarang digunakan tersebut. Dalam jangka waktu lebih lama orang
  tersebut akan tidak dapat berjalan sama sekali berhubung otot sudah terlalu
  lemah untuk digunakan. Apabila keadaan ini justru didiamkan, bukan tidak
  mungkin akan mengalami kelumpuhan selamanya.
         Hal ini parallel dengan deflasi. Cara terbaik untuk mengatasinya adalah
  dengan melatih kembali otot-otot yang sudah lama tidak digunakan. Meski
  memakan waktu lama, hal ini adalah satu-satunya cara untuk mengembalikan
  kekuatan otot yang melemah. Dengan kata lain untuk mencegah deflasi
  menjadi krisis ekonomi besar, pemerintah dan semua pihak yang terkait harus
  bersepakat untuk memulai kembali kegiatan ekonomi yang sempat terhenti
  karena salah urus tersebut. Tentu saja ini membutuhkan waktu yang tidak
  sedikir. Lazim dikatakan oleh para analis eknonomi bahwa deflasi merupakan
  kondisi krisis moneter yang sebenarnya tidak memiliki obat yang efektif.
                                                                        18




Apabila pada inflasi Bank Sentral dapat menaikkan suku bunga untuk
menahannya, menurunkan suku bunga bahkan hingga nol persen bukanlah
jalan keluar bagi deflasi. Pasalnya ini akan membuat pemasukan pemerintah
menjadi nol juga atau bahkan negative. Belum lagi hal ini akan memicu aksi
spekulan luar negeri yang dapat menjalankan Carry Trade sehingga nilai uang
justru menjadi jatuh. Akibatnya, biaya impor menjadi terbebani sementara
ekspor tidak menunjukkan kenaikan signifikan berhubung melemahnya mata
uang disebabkan oleh aksi spekulan semata-mata.
       Cara yang paling lazim digunakan adalah memberikan stimulus
ekonomi berupa bantuan likuiditas ke sektor bisnis. Dengan demikian
diharapkan kegiatan ekonomi kembali berputar. Pemerintah juga dapat
memotong pajak dan meningkatkan belanjanya sendiri untuk menggairahkan
perekonomian. Dari sisi Bank Sentral, pemerintah juga dapat meningkatkan
peredaran uang di masyarakat dengan membeli surat hutang sektor swasta dan
menukarkannya dengan uang tunai. Selain itu, juga dapat dilakukan dengan
memotong suku bunga. Namun seperti dijelaskan di atas, memotong suku
bunga bukanlah jalan keluar yang sesungguhnya tetapi hanya sekedar
pengobatan sementara untuk menggairahkan ekonomi dan mengharapkan
harga bergerak naik dengan sendirinya.
       Selain itu, juga dapat diatasi melalui kebijakan pemerintah dengan
jalan melakukan tambahan pembelanjaan sebesar (sejumlah) celah deflasi itu
sendiri, kemudian menambahkan pengeluaran masyarakat, baik untuk
konsumsi maupun investasi.

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Stats:
views:5536
posted:5/20/2012
language:Indonesian
pages:18