Madrasah di Indonesia: Sejarah dan Perkembangan
Shared by: 05l5c19
-
Stats
- views:
- 297
- posted:
- 5/18/2012
- language:
- Malay
- pages:
- 19
Document Sample


Madrasah di Indonesia:
Sejarah dan Perkembangan
• Madrasah sebelum SKB 3 Menteri:
Mencari Eksistensi
• Madrasah Pasca SKB 3 Menteri:
Pengakuan Eksistensi
• Madrasah dalam UU Sisdiknas:
Kesederajatan
Madrasah sebelum SKB 3 Menteri
• Madrasah lahir sebagai respons thd modernisasi sistem
pendidikan islam di Indonesia. Lahir bukan dari
semangat kaum Muslim Indonesia itu sendiri.
• Azra: Sejak 1870-an, Belanda sbg bentuk nyata dari
politik etis (politik balas budi), mendirikan banyak
volkschoolen (sekolah rakyat) dengan masa belajar tiga
tahun.
• Gerakan modern Islam di Indonesia yang muncul awal
abad ke-20 (Muhammadiyah, Persis, NU dll)
meresponsinya dengan menyerukan perlunya
pembaruan sistem pendidikan Islam.
• Sebagai counter-institution (lembaga tandingan)
bagi sekolah model Belanda, muncul dua bentuk
pendidikan Islam modern di Indonesia. 1.
sekolah-sekolah umum model Belanda dengan
diberi muatan pengajaran Islam. 2. madrasah-
madrasah modern yang secara terbatas
mengadopsi substansi dan metodologi
pendidikan modern Belanda.
• Jadi, ketika itu ada tiga model pendidikan: model
sekolah umum yang diberi muatan Islam, model
madrasah yang mengadopsi pola klasikal, dan
model pesantren yang asli Indonesa.
• Abdurrahman Assegaf: paling tidak awal abad
19 ditemukan madrasah pertama. Ditemukan
fotokopi Akte Tanah yang menyebutkan adanya
kata “Madrasah Alkhairiyah”, sebuah madrasah
yang sekarang terletak di Jalan Ampel
Madrasah No.1 Surabaya Utara, sekitar 100
meter arah belakang Masjid Ampel. Namun, di
tempat ini sekarang diselenggarakan Sekolah
Dasar I Alkhairiyah, bukan madrasah.
• Pembaharuan pendidikan islam dipercepat dengan
hadirnya para alumnus Timur Tengah (Makkah dan
Kairo) di penghujung abad ke-19 dan awal abad ke-20,
yang sekembalinya ke tanah air merintis berdirinya
pesantren dan madrasah.
• Di antara madrasah perintis: Madrasah Adabiyah
(Adabiyah School) oleh Syekh Abdullah Ahmad (1909),
Madras School oleh Syekh M. Thaib Umar (1910),
Madrasah Diniyah oleh Zainuddin Labai al-Junus (1915),
Sumatera Thawalib oleh Syekh Abdul Karim Amrullah
atau Haji Rasul (1921), dan Sumatera Thawalib Parabek
oleh Syekh Ibrahim Musa (1921).
• Sedang di Jawa, madrasah umumnya didirikan oleh
lembaga atau Ormas Islam, seperti: Jammi’yat Khair di
Jakarta (1905), Muhammadiyah (1912), al-Irsyad (1913),
PUI (1917), NU (1926), PERTI (1928), dll.
• Pembaharuan madrasah dimulai sejak Orde Lama
(1945-1965). Tahun 1958/1959, Departemen Agama
memperkenalkan Madrasah Wajib Belajar (MWB)
dengan spesifikasi: lama belajar 8 tahun untuk usia 6-14
tahun. Materi: pengetahuan agama, umum dan
keterampilan yang berbasis pembangunan masyarakat
pedesaan.
• Kurikulum 1962 menetapkan perbandingan 68% : 32%
untuk pelajaran umum dan agama, tapi perbandingan ini
dimaknai lain di lapangan. Di Sulawesi Selatan,
madrasah menerapkan perbandingan 60:40, di
Sumatera Barat menerapkan 11:89 untuk pelajaran
umum dan agama.
• Pada 1967 dilakukan penegerian madrasah (MTs dan
MA) berdasarkan KMA No. 80 Tahun 1967 dalam
rangka menjadikan madrasah negeri sebagai contoh
bagi madrasah swasta. Penegerian dihentikan pada
1970 sesuai KMA No. 213 Tahun 1970.
• Mengatasi dualisme pendidikan dengan
konvergensi. Di satu sisi Departemen Agama
memasukkan pelajaran agama ke dalam
kurikulum sekolah umum, dan di sisi lain
Departemen Agama juga memasukkan
pelajaran umum ke dalam kurikulum madrasah
(sekolah agama).
• Steenbrink: ide konvergensi ini telah menggiring
pendidikan Islam ke arah model sekolah umum
yang akan diberlakukan di seluruh Indonesia
• Kebijakan konvergensi mendapat momentumnya
dengan Keputusan Presiden No. 34 Tahun 1972
Tentang Tanggung Jawab Fungsionil Pendidikan dan
Latihan. Pasal 2 Kepres: “Menteri Pendidikan dan
Kebudayaan bertugas dan bertanggung jawab atas
pembinaan pendidikan dan latihan secara menyeluruh,
baik yang diselenggarakan oleh pemerintah maupun
swasta”
• Pasal ini: adanya pelimpahan wewenang dan tanggung
jawab pelaksanaan pendidikan Islam dari Departemen
Agama kepada Departemen Pendidikan dan
Kebudayaan
• Kepres 1972 diikuti dengan Instruksi Presiden
No. 15 Tahun 1972 Tentang Pelaksanaan
Keputusan Presiden No. 34 Tahun 1972. Inpres
memuat: Menteri Pendidikan dan Kebudayaan
berkewajiban membuat susunan pengajaran
pendidikan bagi semua lembaga pendidikan,
baik tingkat dasar, menengah maupun tingkat
pendidikan tinggi, baik yang diselenggarakan
oleh pemerintah maupun swasta.
• Tanggung jawab dan wewenang pendidikan
Islam berada di tangan Menteri Pendidikan dan
Kebudayaan.
• Banyak pimpinan madrasah dan pesantren yang
menolak Kepres dan Inpres di atas, terutama mengenai
pembinaan madrasah dan pesantren yang dialihkan
tanggung jawab dan wewenangnya dari Menteri Agama
kepada Menteri Pendidikan dan Kebudayaan.
• Maksum: Kepres dan Inpres bukan saja merupakan
upaya untuk mengasingkan madrasah dari sistem
pendidikan nasional, tapi juga terdapat indikasi kuat
untuk dihapuskan. Kepres dan Inpres itu dipandang
sebagian manuver pemerintah untuk mengabaikan
peran dan manfaat madrasah dalam pentas nasional.
• Reaksi kaum Muslim: pembentukan Musyawarah Kerja
Majlis Pertimbangan Pendidikan dan Pengajaran Agama
(MP3A). MP3A menegaskan bahwa “yang paling tepat
diserahi tanggung jawab itu adalah Departemen Agama,
sebab Menteri Agama yang sesungguhnya lebih tahu
tentang seluk-beluk pendidikan agama, bukan Menteri
P&K atau menteri lain”.
• tarik-menarik kepentingan antara pemerintah Orde Baru
yang menghendaki pengelolaan madrasah dan lembaga
pendidikan Islam lainnya di bawah satu departemen,
dengan kaum Muslim Indonesia yang menghendaki
pengelolaan madrasah tetap di bawah Departemen
Agama.
SKB Tiga Menteri
• Sebagai solusi, Departemen Agama,
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan dan
Departemen Dalam Negeri mengeluarkan Surat
Keputusan Bersama (SKB) No. 6 Tahun 1975
(Agama), No. 037/U/1975 (Pendidikan) dan No.
36 Tahun 1975 (Dalam Negeri) Tentang
Peningkatan Mutu Pendidikan Pada Madrasah.
• Dalam SKB itu, masing-masing Kementerian
Agama, Kementerian Pendidikan dan
Kebudayaan, serta Kementerian Dalam Negeri
memikul tanggung jawab dalam pembinaan dan
pengembangan mutu pendidikan madrasah
• SKB: madrasah ibtidaiyah (MI)= setingkat
dengan sekolah dasar (SD), madrasah
tsanawiyah (MTs)=setingkat dengan sekolah
menengah pertama (SMP) dan madrasah aliyah
(MA)=setingkat dengan sekolah menengah atas
(SMA).
• Konsekuensi kesetingkatan ini: ijazah madrasah
mempunyai nilai yang sama dengan ijazah
sekolah umum yang setingkat. Lulusan
madrasah dapat melanjutkan ke sekolah umum
setingkat lebih atas.
• Dengan SKB, madrasah memperoleh
definisinya yang semakin jelas=lembaga
pendidikan Islam yang setara dengan sekolah
umum, sekalipun pengelolaannya tetap berada
di bawah pengawasan Departemen Agama.
• SKB mengandung makna negatif, yaitu
menjadikan madrasah sebagai lembaga
pendidikan Islam yang mengajarkan
matapelajaran agama Islam sebagai
matapelajaran dasar yang diberikan sekuarang-
kurangnya 30% di samping matapelajaran
umum
• Tujuan Prosentase: “agar tingkat matapelajaran
umum dari madrasah mencapai tingkat yang
sama dengan tingkat matapelajaran umum di
sekolah umum yang setingkat”.
• ada maksud lain di balik SKB: keinginan
pemerintah agar pelajaran umum di madrasah
(MI, MTs, dan MA) memiliki memiliki standar
pengetahuan yang sama dengan pengetahuan
umum yang diajarkan di sekolah umum (SD,
SMP dan SMA)
• Tidak sedikit yang menanggapi SKB dengan
keraguan dan rasa cemas, khawatir pendidikan
agama di madrasah akan mengalami
kemunduran dan pendangkalan.
• Inti penolakan terletak pada persoalan
pemberlakuan kurikulum matapelajaran umum
dengan porsi 70%, yang dikhawatirkan dapat
menghilangkan misi lembaga madrasah sebagai
tempat pendidikan ilmu agama
Pasca SKB
• Integrasi madrasah ke dalam sistem pendidikan nasional
di tandai dengan disahkannya Undang-Undang No. 2
Tahun 1989 Tentang Sistem Pendidikan Nasional
(UUSPN).
• Setelah lahirnya UUSPN, madrasah berkembang
dengan predikat baru yaitu “sekolah umum berciri khas
agama Islam”, yang terdiri dari: MI sebagai SD berciri
khas agama Islam; MTs sebagai SLTP berciri khas
agama Islam; dan MA sebagai SMU berciri khas agama
Islam. Predikat ini sesungguhnya dimulai sejak adanya
SKB Tiga Menteri tahun 1975 yang merupakan landasan
awal bagi perkembangan dan pembaruan pendidikan
Islam, khususnya madrasah. Pembaruan menyeluruh
kemudian dilakukan dengan berlakunya UUSPN.
• kurikulum madrasah pun diperbaharui,
yaitu dengan diberlakukannya Kurikulum
1994. Kurikulum ini pada intinya memuat
perbandingan alokasi waktu antara 16-
18% untuk mata pelajaran agama, dan
antara 82- 86% mata pelajaran umum,
dengan catatan bahwa alokasi waktu mata
pelajaran umum muatan nasional
diberlakukan 100%, sama dengan sekolah
umum setingkat.
Get documents about "