Hubungan Hukum Antara Konsumen dan Produsen by uz8TYAb

VIEWS: 0 PAGES: 27

									Hubungan Hukum Antara
Konsumen dan Produsen
        Oleh :

        Soemali
   Hubungan Secara Langsung
• Hubungan antara produsen dengan konsumen dilaksa-
  nakan dalam rangka jual beli. Jual beli sesuai Pasal
  1457 KUH Perdata adalah suatu perjanjian dengan ma-
  na pihak yang satu mengikatkan dirinya untuk menye-
  rahkan suatu kebendaan dan pihak yang lain untuk
  membayar harga yang telah dijanjikan. Dari pengertian
  ini, maka terdapat unsur-unsur :
• 1. Perjanjian
• 2. Penjual dan pembeli
• 3. Harga
• 4. Barang
                  Lanjut …
• Suatu perjanjian sesuai Pasal 1313 KUH Perda-
  ta adalah suatu perbuatan dengan mana satu
  orang atau lebih mengikatkan dirinya terhadap
  satu orang lain atau lebih. Untuk sahnya suatu
  perjanjian diperlukan empat syarat, sesuai Pasal
  1320 KUH Perdata, yaitu :
• 1. sepakat mereka yang mengikatkan diri.
• 2. kecakapan untuk membuat suatu perikatan.
• 3. suatu hal tertentu.
• 4. suatu sebab yang halal.
                  Lanjut …
• Tiap-tiap perikatan dilahirkan, baik karena per-
  setujuan, baik karena undang-undang (Pasal
  1233 KUH Perdata). Pasal 1234 KUH Perdata
  menyatakan bahwa tiap-tiap perikatan adalah
  untuk memberikan sesuatu, untuk berbuat sesu-
  atu, atau untuk tidak berbuat sesuatu.
• Semua perjanjian yang dibuat secara sah ber-
  laku sebagai undang-undang bagi mereka yang
  membuatnya (Pasal 1338). Kata semua perjan-
  jian …, mencerminkan asas kebebasan berkon-
  trak (freedom of contract).
                 Lanjut …
• Kebebasan berkontrak terdapat pembatasan-
  pembatasannya. Pembatasan itu antara lain
  bahwa sutau perjanjian harus dilaksanakan de-
  ngan itikad baik (Pasal 1338(3)).
• Suatu perjan-jian tidak boleh melanggar
  undang-undang, ke-susilaan dan ketertiban
  umum (Pasal 1337), dan harus dilaksanakan
  menurut kepatutan, kebiasaan dan undang-
  undang (Pasal 1339).
                       Lanjut …
• Dalam hubungan langsung, terdapat hubungan kontrak-
  tual (perjanjian) antara produsen dan konsumen. Jika
  produk menimbulkan kerugian pada konsumen, maka
  konsumen dapat meminta ganti rugi kepada produsen
  atas dasar tanggung jawab kontraktual (contractual
  liability).
•                     Model 1

•                  Contractual
• Produsen <---------------------------   Konsumen
•           Contractual liability
                   Lanjut …
• Dilihat dari sumber munculnya perikatan di anta-
  ra para pihak, yaitu, karena perjanjian atau kare-
  na undang-undang. Sumber munculnya perikat-
  an ini penting untuk menentukan jenis tanggung
  jawab hukum (liability), apabila terjadi sesuatu
  sengketa mengenai perikatan tersebut.
• Apabila perikatan dilahirkan dari perjanjian, ma-
  ka apabila salah satu pihak tidak memenuhi per-
  ikatan yang timbul, pihak yang tidak memenuhi
  perikatan tersebut dikatakan melakukan wan-
  prestasi atau ingkar janji atau breach of contract.
                     Lanjut …
• Penyelesaian kasus tanggung jawab hukum karena
  wanprestasi akan didasarkan pada hukum perjanjian
  (the law of contract) Tanggung jawab hukum yang lahir
  dari perjanjian tersebut disebut dengan contractual lia-
  bility.
• Di sisi lain, apabila perikatan dilahirkan dari undang-
  undang karena perbuatan manusia yang melawan hu-
  kum, maka penyelesaian kasus tanggung jawab hukum
  tersebut akan didasarkan pada hukum tentang perbuat-
  an melawan hukum (the law of tort). Tanggung jawab
  hukum yang lahir dari undang-undang tersebut disebut
  tortious liability.
    Hubungan Tidak Langsung
• Pada wal sejarah manusia, transaksi bisnis ter-
  jadi secara langsung antara produsen dan kon-
  sumen. Seiring dengan revolusi industri, tran-
  saksi usaha berkembang ke arah hubungan
  yang tidak langsung melalui suatu mata rantai
  distribusi, dari pelaku usaha, disalurkan atau
  didistribusikan kepada agen, lalu ke pengecer
  baru sampai konsumen. Dalam hubungan ini
  tidak terdapat hubungan kontraktual (perjanjian)
  antara produsen dan konsumen.
                    Lanjut …
•                  Model 2
• Produsen <------Distributor <---- Grosir
•                                       !
•                                       v
•                                 Pengecer
•                                       !
•                                       v
•                                 Konsumen

• Dalam model 2 tersebut di atas, konsumen hanya memi-
  liki hubungan kontraktual dengan pengecer, sedangkan
  denga produsen hanya berhubungan dengan produk.
                    Lanjut …
• Dalam model 2, konsumen tidak dapat meminta ganti ru-
  gi dari produsen atas dasar tanggung jawab kontraktual,
  karena konsumen hanya memiliki hubungan kontraktual
  dengan pengecer, padahal produk yang menimbulkan
  kerugian dihasilkan oleh produsen bukan pengecer. Jika
  ternyata bahwa produsen adalah pihak yang merugikan
  konsumen, maka produsen wajib bertanggung jawab
  atas kerugian yang timbul tersebut. Pertanggungjawab-
  an produsen atas produknya yang menimbulkan kerugi-
  an kepada konsumen dinamakan tanggung jawab pro-
  duk (product liability).
                  Lanjut …
• Pertanggungjawaban produk tidak didasarkan
  pada contractual liability, tetapi didasarkan pada
  tortious liability, yaitu, tanggung jawab atas da-
  sar perbuatan melawan hukum. Pertanggungan
  produk ini adalah pertanggungjawaban perdata
  dari produsen untuk mengganti kerugian kepada
  pihak pembeli pemakai bahkan pihak ketiga atas
  kerusakan benda, badan dan kematian sebagai
  akibat penggunaan produknya. Dari pengertian
  ini, terdapat 5 unsur utama yang menyebabkan
  timbulnya kasus pertanggungjaeaban produk :
                      Lanjut …
•   1. Produsen(producer)
•   2. Konsumen(consumer)
•   3. Produk (product)
•   4. Kerusakan (defect)
•   5. Kerugian (damage)
•   Ad.1. Produsen
•   Yang dapat dikualifikasikan sebagai produsen adalah
    subyek hukum yang terdiri dari orang perseorangan
    dan/atau badan usaha. Pengertian produsen dapat meli-
    puti : penghasil, pihak yang mengabstraksikan atau me-
    misahkan bahan, pihak yang memproses suatu produk,
    pihak penjual, importir dan pemasok.
                   Lanjut …
• Dalam Pasal 1 angka 3 Undang-Undang Nomor 8 Tahun
  1999 tentang Perlindungan Konsumen, memberikan pe-
  ngertian pelaku usaha adalah setiap orang perseorang-
  an atau badan usaha, baik yang berbentuk badan hu-
  kum maupun bukan badan hukum yang didirikan dan
  berkedudukan atau melakukan kegiatan dalam wilayah
  hukum negara Republik Indonesia, baik sendiri maupun
  bersama-sama melalui perjanjian menyelenggarakan
  kegiatan usaha dalam berbagai bidang ekonomi.
  Perusahaan ini berupa korporasi, BUMN, koperasi,
  importir, pedagang, distributor dan lainnya.
                 Lanjut …
• Ad. 2. Konsumen
• Kata konsumen seringkali merupakan terjemah-
  an dari kata dalam bahasa Inggris yang disebut
  end-user (pemakai akhir), yaitu, setiap penggu-
  na barang atau jasa untuk kebutuhan diri sendi-
  ri, keluarga atau rumah tangga dan tidak untuk
  memproduksi barang atau jasa lain atau mem-
  perdagangkan kembali. Dalam Black’s Law Dic-
  tionary, menyatakan bahwa consumer adalah
• “ one who consumer individuals who purchase
  use, maintain, and dispose of products and ser-
  vices “.
                  Lanjut …
• Di dalam praktek bisnis, tidak jarang dibedakan
  antara consumer (konsumen) dengan customer
  (pelanggan). Di dalam konteks ini, maka yang
  dimaksud dengan konsumen adalah semua
  orang atau masyarakat, termasuk pelanggan.
  Sedangkan pelanggan adalah konsumen yang
  telah/pernah mengkonsumsi suatu produk yang
  diproduksi oleh produsen tertentu. Di sisi lain,
  terdapat konsumen akhir dengan konsumen an-
  tara. Konsumen akhir adalah konsumen yang
  mengkonsumsi secara langsung produk yang
  diperolehnya, sedangkan konsumen antara
                      Lanjut …
• Adalah konsumen yang memperoleh suatu produk untuk
  memproduksi produk lainnya. Jadi, konsumen antara
  akan menggunakan barang atau jasa untuk keperluan
  komersial.
• Menurut asal 1 angka 2 Undang-Undang Nomor 8 Ta-
  hun 1999, konsumen adalah setiap orang pemakai ba-
  rang dan/atau jasa yang tersedia dalam masyarakat, ba-
  ik bagi kepentingan diri sendiri, keluarga, orang lain, ma-
  upun makhluk hidup lain dan tidak untuk diperdagang-
  kan. Dalam undang-undang ini, pengertian konsumen
  adalah konsumen akhir adalah pengguna atau peman-
  faat akhir dari suatu produk.
                    Lanjut …
• Ad.3.Produk
• Produk adalah barang atau jasa yang dibuat dan ditam-
  bah gunanya atau nilainya dalam proses produksi dan
  menjadi hasil akhir dari proses produksi. Produk adalah
  barang tertentu yang diperoleh umumnya dalam “ consu-
  mer market “, dan digunakan untuk memenuhi kebutuh-
  an konsumen secara pribadi atau rumah tangga. Produk
  adalah barang bergerak, baik berwujud maupun tidak
  berwujud, yang pada umumnya dapat diperoleh di dalam
  consumer market dan digunakan untuk memenuhi kebu-
  tuhan konsumen secara pribadi, keluarga, orang lain,
  maupun makhluk hidup lain.
                  Lanjut …
• Philip Kottler mendifinisikan produk sebagai
• “ A product is anything that can be offered to a
  market for attention, accuisition, use, or con-
  supmtion that might satisty a want or need. It
  ancludes physical objects, services, persons,
  place, organizarion, and ideas “(produk adalah
  setiap apa saja yang dapat ditawarkan di pasar
  untuk mendapatkan perhatian, permintaan, pe-
  makaian atau konsumsi, yang dapat memenuhi
  keinginan atau kebutuhan yang meliputi benda
  fisik, jasa, kepribadian, tempat, oraganisasi dan
  ide-ide.
                   Lanjut …
• Ad.4.Kerusakan
• Yang dimaksud dengan kerusakan adalah bilamana su-
  atu produk tidak memenuhi keselamatan yang berhak
  diharapkan olej konsumen sesuai dengan maksud peng-
  gunaan produk tersebut (intended use), dengan mem-
  perhatikan semua aspek antara lain penampilan produk,
  penggunaan produk secara wajar sesuai harapan ma-
  syarakat pada umumnya, dan saat penempatan produk
  pada mata rantai distribusi.
• Dalam hukum pertanggungjawaban produk, kerusakan
  dapat diklasifikasikan menjadi 3 macam berdasarkan
  sumber kerusakan, yaitu :
                 Lanjut …
• a. Manufacturing defects
• Kerusakan produk yang timbul di dalam proses
  produksi. Terjadinya manufacturing defects,
  apabila produk yang dihasilkan tidak sesuai
  dengan spesifikasi produk yang telah ditetapkan
  sebelumnya oleh produsen. Oleh karena itu,
  pembuktian tentang keberadaan kerusakan di
  dalam kasus seperti ini pada umumnya sangat
  sederhana, yaitu, mencocokkan atau menguji
  spesifikasi yang pada kenyataannya ada pada
  produk dengan spesifikasi yang telah ditetapkan
  sebelumnyan oleh produsen.
                  Lanjut …
• b. Design defects
• Kerusakan rancangan produk atau design
  defects justru ditemukan di seluruh produk yang
  dihasilkan oleh produsen. Hal ini dapat terjadi
  karena telah terjadi kekeliruan dalam membuat
  rancangan atau design tersebut tidak terhindar-
  kan. Akibatnya, keselamatan yang berhak diha-
  rapkan oleh konsumen sesuai dengan maksud
  penggunaan produk tersebut tidak dapat dipe-
  nuhi oleh produsen.
                    Lanjut …
• c. Warning defects
• Kerusakan yang berkenaan dengan komunikasi tertulis
  yang dilakukan oleh produsen, melalui label yang ditem-
  pelkan pada produk yang dihasilkannya. Sebagai contoh
  mengenai makanan jadi dalam kemasan terbuat dari alu-
  minium foils yang dapat dihangatkan dengan microwave
  oven, maka produsen wajib menuliskan suatu peringatan
  pada kemasannya bahwa kemasan harus dibuang sebe-
  lum makanan tersebut dihangatkan dengan microwave
  oven. Ketiadaan peringatan seperti ini akan mengakibat-
  kan produk makanan jadi dalam kemasan itu dianggap
  mengandung warning defects.
                    Lanjut …
• Ad.5.Kerugian
• Kerugian yang ditimbulkan oleh penggunaan suatu pro-
  duk dapat mengakibatkan :
• 1. kematian
• 2. cidera (personal injury), termasuk setiap penyakit,
  gangguan terhadap fisik atau mental
• 3. kerusakan pada harta benda termasuk pada lahan
  (tanah), yang digunakan untuk keperluan pribadi (bukan
  untuk diperdagangkan)
• 4. kerusakan pada produk itu sendiri, yang digunakan
  untuk keperluan pribadi (bukan untuk diperdagangkan)
                     Lanjut …
• Selain kerugian tersebut di atas, kerugian dapat pula
  diklasifikasikan sebagai berikut :
• 1.kerugian material (material damage) antara lain terma-
  suk biaya pengobatan, kehilangan pekerjaan, kehilang-
  an jasa yang seharusnya diterima, kerugian karena ke-
  matian, biaya penguburan, kehilangan peluang usaha
  atau pekerjaan.
• 2. kerugian immaterial (non-material damage) yang ber-
  sifat subyektif (berbeda parameter) antara lain sebagai
  akibat dari cedera fisik misalnya kesakitan dan penderi-
  taan, ketidaknyamanan, tekanan mental, terasing dari
  masyarakat, pencemaran nama baik atau reputasi,
  penghinaan.
                    Lanjut …
• Untuk melakukan penjualan barang dan jasa sampai pa-
  da konsumen dilakukan secara langsung dan secara ti-
  dak langsung dengan menggunakan saluran distribusi
  dengan menggunakan jasa-jasa lembaga perantara.
  Fungsi utama saluran distribusi adalah mengisi gap an-
  tara produsen dan konsumen, sehingga dapat mening-
  katkan daya jangkau pemsaran barang dan jasa.
• Saluran distribusi merupakan himpunan perusahaan dan
  perserorangan yang mengambil alih hak, atau memban-
  tu dalam mengalihkan hak atas barang atau jasa tertentu
  selama barang atau jasa tersebut berpindah dari produ-
  sen ke konsumen.
                 Lanjut …
• Saluran distribusi adalah sarana yang
  dipergunakan perusahaan agar produk atas jasa
  yang tersedia dapat dengan mudah dibeli dan
  dipergunakan oleh konsumen.
• Saluran distribusi antara lain :
• 1. Produsen – konsumen
• 2. Produsen – Pengecer – Konsumen
• 3. Produsen – Pedagang Besar – Pengecer –
  Konsumen.
• 4. Produsen – Agen – Pedagang Besar –
  Pengecer - Konsumen

								
To top