Serba Serbi Seputar Wanita by puttterbin

VIEWS: 68 PAGES: 35

									                         Hiasi Dirimu Dengan Malu

      26 February, 2008
Penulis: Ummu Salamah Farosyah

Semoga Allah Ta’ala senantiasa merahmatimu, saudariku…
Malu. Demikianlah nama sebuah sifat yang sangat lekat ketika kita berbicara tentang
wanita. Maka beruntunglah engkau saudariku ketika Allah menciptakanmu dengan sifat
malu yang ada pada dirimu! Karena apa ? Hal ini tidak lain karena malu adalah bagian dari
iman.
Dari Ibnu Umar radhiyallahu ’anhu, Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam pernah
melewati seorang Anshar yang sedang menasehati saudaranya karena sangat pemalu,
maka Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda, “Biarkan dia karena rasa malu
adalah bagian dari Iman.” (HR. Bukhari Muslim)

Hakikat rasa malu itu adalah sebuah akhlak yang memotivasi diri untuk meninggalkan hal-
hal yang buruk dan membentengi diri dari kecerobohan dalam memberikan hak kepada
yang berhak menerimanya. Seorang muslimah akan menjauhkan dirinya dari larangan
Allah dan selalu menaati Allah disebabkan rasa malunya kepada Allah yang telah
memberikan kebaikan padanya yang tidak terhitung.

Perintah yang Dibawa oleh Setiap Nabi

Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya di antara yang didapat
manusia dari kalimat kenabian terdahulu ialah: jika engkau tidak malu, berbuatlah
sekehendakmu.” (HR. Bukhari)

Yang dimaksud dengan “kalimat kenabian terdahulu” ialah bahwa rasa malu merupakan
akhlaq yang terpuji dan dipandang baik, selalu diperintahkan oleh setiap nabi dan tidak
pernah dihapuskan dari syari’at para nabi sejak dahulu.

Dalam hadits ini disebutkan, “Jika engkau tidak malu, maka berbuatlah sesukamu.”
Kalimat ini mengandung 3 pengertian, yaitu:

   1. Berupa perintah: Jika perbuatan tersebut tidak mendatangkan rasa malu, maka
      lakukanlah. Karena perbuatan yang membuat rasa malu jika diketahui orang lain
      adalah perbuatan dosa.
   2. Berupa ancaman dan peringatan keras: Silahkan kamu melakukan apa yang kamu
      suka, karena azab sedang menanti orang yang tidak memiliki rasa malu. Berbuat
      sesuka hati, tidak peduli dengan orang lain.
   3. Berupa berita: Lakukan saja perbuatan buruk yang kamu tidak malu untuk
      melakukannya.
Malu? Siapa yang Punya?

Sifat malu ada dua macam, yaitu:

1. Malu yang merupakan watak asli manusia

Sifat malu jenis ini telah menjadi fitrah dan watak asli dari seseorang. Allah
menganugerahkan sifat malu seperti ini kepada siapa saja yang dikehendaki-Nya. Memiliki
sifat malu seperti ini adalah nikmat yang besar, karena sifat malu tidak akan memunculkan
kecuali perbuatan yang baik bagi hamba-hamba-Nya.

Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda, dari Imran Ibn Hushain radhiyallahu’anhu:
“Rasa malu itu tidak mendatangkan kecuali kebaikan.” (HR. Bukhari Muslim)

2. Malu yang diupayakan (dengan mempelajari syari’at)

Al-Qurthubi berkata, “Malu yang diupayakan inilah yang oleh Allah jadikan bagian dari
keimanan. Malu jenis inilah yang dituntut, bukan malu karena watak atau tabiat. Jika
seorang hamba dicabut rasa malunya, baik malu karena tabiat atau yang diupayakan,
maka dia sudah tidak lagi memiliki pencegah yang dapat menyelamatkannya dari
perbuatan jelek dan maksiat, sehingga jadilah dia setan yang terkutuk yang berjalan di
muka bumi dalam wujud manusia.”

Hati-Hati Terhadap Malu yang Tercela

Saudariku, ketahuilah bahwa ada malu yang disebut malu tercela, yaitu malu yang
menjadikan pelakunya mengabaikan hak-hak Allah Ta’ala sehingga akhirnya dia beribadah
kepada Allah dengan kebodohan. Di antara malu yang tercela adalah malu bertanya
masalah agama, tidak menunaikan hak-hak secara sempurna, tidak memenuhi hak yang
menjadi tanggung jawabnya, termasuk hak kaum muslimin.

Nah, saudariku, kini engkau tahu! Meskipun malu adalah tabiat dasar seorang wanita, sifat
ini tidak boleh menghalangimu untuk berbuat kebaikan. Berlomba-lombalah dalam berbuat
kebaikan sampai engkau menjadi wanita yang paling mulia di sisi Allah! Wallahu a’lam.

Maraaji’:

   1. Syarah Hadits Arba’in Imam Nawawi
   2. Tarjamah Riyadhus Shalihin Jilid 2, Imam Nawawi, Takhrij: Syaikh M. Nashiruddin
      Al-Albani
   3. Buletin Tuhfatun Nisa: Rufaidah.
                      Adab Berpakaian Bagi Muslimah
       29 January, 2008

Penulis: Ustadz Aris Munandar

Haruskah Hitam?
Terkait dengan warna pakaian terutama pakaian perempuan, terdapat beragam sikap
orang yang dapat kita jumpai. Ada yang beranggapan bahwa warna pakaian seorang
perempuan muslimah itu harus hitam atau minimal warna yang cenderung gelap. Di sisi
lain ada yang memiliki pandangan bahwa perempuan bebas memilih warna dan motif apa
saja yang dia sukai. Sesungguhnya Allah itu maha indah dan mencintai keindahan, kata
mereka beralasan. Manakah yang benar dari pendapat-pendapat ini jika ditimbang dengan
aturan al-Qur’an dan sunnah shahihah yang merupakan suluh kita untuk menentukan
pilihan dari berbagai pendapat yang kita jumpai?

Salah satu persyaratan pakaian muslimah yang syar’i adalah pakaian tersebut bukanlah
perhiasan. Dalam syarat ini adalah firman Allah yang artinya, “Dan janganlah mereka
menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya.” (QS. an
Nur:31). Dengan redaksinya yang umum ayat ini mencakup larangan menggunakan
pakaian luar jika pakaian tersebut berstatus “perhiasan” yang menarik pandangan laki-laki.

       ‫عن‬     ‫ن‬       ‫عن ع‬                       ‫ع‬                             ‫ع‬
        ‫ع‬         ‫ع‬               ‫ع‬          ‫ع‬                        ‫ع‬
                                                                                         ‫ع‬

Dari Fadhalah bin Ubaid, dari Nabi beliau bersabda, “Tiga jenis orang yang tidak perlu kau
tanyakan (karena mereka adalah orang-orang yang binasa). Yang pertama adalah orang
yang meninggalkan jamaah kaum muslimin yang dipimpin oleh seorang muslim yang
memiliki kekuasaan yang sah dan memilih untuk mendurhakai penguasa tersebut
sehingga meninggal dalam kondisi durhaka kepada penguasanya. Yang kedua adalah
budak laki-laki atau perempuan yang kabur dari tuannya dan meninggal dalam keadaan
demikian. Yang ketiga adalah seorang perempuan yang ditinggal pergi oleh suaminya
padahal suaminya telah memenuhi segala kebutuhan duniawinya lalu ia bertabarruj
setelah kepergian sang suami. Jangan pernah bertanya tentang mereka.” (HR Ahmad no
22817 dll, shahih. Lihat Fiqh Sunnah lin Nisa’, hal 387)

Sedangkan tabarruj itu didefinisikan oleh para ulama’ dengan seorang perempuan yang
menampakkan “perhiasan” dan daya tariknya serta segala sesuatu yang wajib ditutupi
karena hal tersebut bisa membangkitkan birahi seorang laki-laki yang masih normal.

Di samping itu, maksud dari perintah berjilbab adalah menutupi segala sesuatu yang
menjadi perhiasan (baca: daya tarik) seorang perempuan. Maka sungguh sangat aneh jika
ternyata pakaian yang dikenakan tersebut malah menjadi daya tarik tersendiri. Sehingga
fungsi pakaian tidak berjalan sebagaimana mestinya.
Meski demikian anggapan sebagian perempuan multazimah (yang komitmen dengan
aturan agama) bahwa seluruh pakaian yang tidak berwarna hitam adalah pakaian
“perhiasan” adalah anggapan yang kurang tepat dengan menimbang dua alasan.

Yang pertama, sabda Nabi,

         ‫خ ي ي ح‬             ‫ظ‬   ‫ء‬       ‫ي ح ، ط ب‬       ‫ظ‬               ‫خ ي‬         ‫نط ب‬

“Wewangian seorang laki-laki adalah yang tidak jelas warnanya tapi nampak bau
harumnya. Sedangkan wewangian perempuan adalah yang warnanya jelas namun baunya
tidak begitu nampak.” (HR. Baihaqi dalam Syu’abul Iman no.7564 dll, hasan. Lihat Fiqh
Sunnah lin Nisa’, hal. 387)

Hadits ini mengisyaratkan bahwa adanya warna yang jelas bukanlah suatu hal yang
terlarang secara mutlak bagi seorang perempuan muslimah.

Yang kedua, para sahabiyah (sahabat Nabi yang perempuan) bisa memakai pakaian
yang berwarna selain warna hitam. Bukti untuk hal tersebut adalah riwayat-riwayat berikut
ini:

  ‫ع‬      ‫ظي‬            ‫ن ن‬           ‫ع‬               ‫ع ط‬         ‫ن‬        ‫عن ع‬   ‫خ‬   ‫ع‬
                      ‫ء‬                  ‫خ‬                           ‫خ‬     ‫ءي‬            ‫ع‬
               ‫ن‬       ‫خ‬                         ‫ي‬           ‫ي‬             ‫ع‬         ‫ن‬

Dari Ikrimah, Rifa’ah menceraikan istrinya yang kemudian dinikahi oleh Abdurrahman bin
az Zubair. Aisyah mengatakan, “Bekas istri rifa’ah itu memiliki kerudung yang berwarna
hijau. Perempuan tersebut mengadukan dan memperlihatkan kulitnya yang berwarna
hijau. Ketika Rasulullah tiba, Aisyah mengatakan, Aku belum pernah melihat semisal yang
dialami oleh perempuan mukminah ini. Sungguh kulitnya lebih hijau dari pada
pakaiannya.” (HR. Bukhari no. 5377)

Dari Ummi Khalid binti Khalid, Nabi mendapatkan hadiah berupa pakaian berwarna hitam
berukuran kecil. Nabi bersabda, “Menurut pendapat kalian siapakah yang paling tepat
kuberikan pakaian ini kepadanya?” Para sahabat hanya terdiam seribu bahasa. Beliau
lantas bersabda, “Bawa kemari Ummi Khalid (seorang anak kecil perempuan yang diberi
kunyah Ummi Khalid)” Ummi Khalid dibawa ke hadapan Nabi sambil digendong. Nabi
lantas mengambil pakaian tadi dengan tangannya lalu mengenakannya pada Ummi Khalid
sambil mendoakannya, “Moga awet, moga awet.” Pakaian tersebut memiliki garis-garis
hijau atau kuning. Nabi kemudian berkata, “Wahai Ummi khalid, ini pakaian yang cantik.”
(HR. Bukhari no. 5823)

Meski ketika itu Ummi Khalid belum balig namun Nabi tidak mungkin melatih dan
membiasakan anak kecil untuk mengerjakan sebuah kemaksiatan. Sehingga hadits ini
menunjukkan bolehnya seorang perempuan mengenakan pakaian berwarna hitam yang
bercampur dengan garis-garis berwarna hijau atau kuning. Jadi pakaian tersebut tidak
murni berwarna hitam.
Dari al Qasim bin Muhammad bin Abi Bakr, “Sesungguhnya Aisyah memakai pakaian yang
dicelup dengan ‘ushfur saat beliau berihram” (HR. Ibnu Abi Syaibah 8/372, dengan sanad
yang shahih)

Pada tulisan yang lewat telah kita bahas bahwa yang dimaksud dengan celupan dengan
‘ushfur adalah celupan yang menghasilkan warna merah.

Perbuatan Aisyah sebagaimana dalam riwayat di atas menunjukkan bahwa seorang
perempuan muslimah diperbolehkan memakai pakaian berwarna merah polos. Bahkan
pakaian merah polos adalah pakaian khas bagi perempuan sebagaimana keterangan di
edisi yang lewat.

Berikut ini beberapa riwayat yang kuat dari salaf tentang hal ini:

      Dari Ibrahim an Nakha’i, bersama Alqamah dan al Aswad beliau menjumpai
       beberapa istri Nabi. beliau melihat para istri Nabi tersebut mengenakan pakaian
       berwarna merah.
      Dari Ibnu Abi Mulaikah, aku melihat Ummi Salamah mengenakan kain yang dicelup
       dengan ‘ushfur (baca: berwarna merah).
      Dari Hisyam dari Fathimah bin al Mundzir, sesungguhnya asma’ memakai pakaian
       yang dicelup dengan ‘ushfur (baca: berwarna merah)
      Dari Said bin Jubair, beliau melihat salah seorang istri Nabi yang thawaf
       mengelilingi Ka’bah sambil mengenakan pakaian yang dicelup dengan ‘ushfur
       (Baca: Berwarna merah). (Lihat Jilbab Mar’ah Muslimah karya al Albani hal. 122-
       123).

Di samping itu riwayat-riwayat di atas juga menunjukkan bahwa pakaian berwarna merah
tersebut dipakai di hadapan banyak orang.

Singkat kata, yang dimaksud dengan pakaian yang menjadi “perhiasan” yang tidak boleh
dipakai oleh seorang muslimah ketika keluar rumah adalah:

   1. Pakaian yang terdiri dari berbagai warna (Baca: Warna warni).
   2. Pakaian yang dihias dengan garis-garis berwarna keemasan atau berwarna perak
      yang menarik perhatian laki-laki yang masih normal. (Fiqh Sunnah lin Nisa’, hal.
      388).

Al Alusi berkata, “Kemudian ketahuilah bahwa menurut kami termasuk “perhiasan” yang
terlarang untuk dinampakkan adalah kelakuan mayoritas perempuan yang bergaya hidup
mewah di masa kita saat ini yaitu pakaian yang melebihi kebutuhan untuk menutupi aurat
ketika keluar dari rumah. Yaitu pakaian dari tenunan sutra terdiri dari beberapa warna
(baca:warna-warni). Pada pakaian tersebut terdapat garis-garis berwarna keemasan atau
berwarna perak yang membuat mata lelaki normal terbelalak. Menurut kami suami atau
orang tua yang mengizinkan mereka keluar rumah dan berjalan di hadapan laki-laki yang
bukan mahramnya dalam keadaan demikian itu disebabkan kurangnya rasa cemburu. Hal
ini adalah kasus yang terjadi di mana-mana.” (Ruhul Ma’ani, 6/56, lihat Jilbab Mar’ah
Muslimah, karya Al Albani hal. 121-122).

Jika demikian keadaan di masa beliau, lalu apa yang bisa kita katakan tentang keadaan
masa sekarang! Allahul Musta’an (Hanya kepada Allah kita memohon pertolongan).

Meskipun demikian, pakaian yang lebih dianjurkan adalah pakaian yang berwarna hitam
atau cenderung gelap karena itu adalah:

   1. Pakaian yang sering dikenakan oleh para istri Nabi. Ketika Shafwan menjumpai
      Aisyah yang tertinggal dari rombongan, Shafwan melihat sosok hitam seorang yang
      sedang tidur. (HR. Bukhari dan Muslim)
   2. Hadits dari Aisyah yang menceritakan bahwa sesudah turunnya ayat hijab, para
      perempuan anshar keluar dari rumah-rumah mereka seakan-akan di kepala mereka
      terdapat burung gagak yang tentu berwarna hitam. (HR. Muslim)

Serba Serbi seputar warna

Jilbab Putih
Lajnah Daimah (Komite Fatwa Para Ulama’ Saudi) pernah mendapatkan pertanyaan
sebagai berikut, “Apakah seorang perempuan diperbolehkan memakai pakaian ketat dan
memakai pakaian berwarna putih?”

Jawaban Lajnah Daimah, “Seorang perempuan tidak diperbolehkan untuk menampakkan
diri di hadapan laki-laki yang bukan mahramnya atau keluar ke jalan-jalan dan pusat
perbelanjaan dalam keadaan memakai pakaian yang ketat, membentuk lekuk tubuh bagi
orang yang memandangnya. Karena dengan pakaian tersebut, perempuan tadi seakan
telanjang, memancing syahwat dan menjadi sebab timbulnya hal-hal yang berbahaya.
Demikian pula, seorang perempuan tidak diperbolehkan memakai pakaian yang berwarna
putih jika warna pakaian semisal itu di daerahnya merupakan ciri dan simbol laki-laki. Jika
hal ini dilanggar berarti menyerupai laki-laki, suatu perbuatan yang dilaknat oleh Nabi.”
(Fatawa al Mar’ah, 2/84, dikumpulkan oleh Muhammad Musnid).

Penjelasan di atas menunjukkan bahwa pada asalnya seorang perempuan diperbolehkan
memakai pakaian yang berwarna putih asalkan cukup tebal sehingga tidak
transparan/tembus pandang terutama ketika matahari bersinar cukup terik. Hukum ini bisa
berubah jika di tempat tersebut pakaian berwarna putih merupakan ciri khas pakaian laki-
laki maka terlarang karena menyerupai lawan jenis bukan karena warna putih.

Oleh karena itu pandangan miring sebagian wanita multazimah (yang komitmen dengan
syariat) di negeri kita terhadap wanita yang berwarna putih adalah pandangan yang tidak
tepat karena di negeri kita pakaian berwarna putih bukanlah ciri khas pakaian laki-laki,
bahkan sebaliknya menjadi ciri pakaian perempuan (Baca: Jilbab).

Pakaian Perhiasan
Dalam edisi yang lewat, telah kita bahas tentang salah satu yang terlarang untuk pakaian
perempuan yaitu bukan perhiasan dan telah kita sebutkan dua kriteria untuk mengetahui
hal tersebut. Namun beberapa waktu yang lewat kami dapatkan penjelasan yang lebih
tepat mengenai hal ini. Tepatnya dari Syaikh Ali al Halabi, salah seorang ulama dari
Yordania. Ketika beliau ditanya tentang parameter untuk menilai suatu pakaian itu pakaian
perhiasan ataukah bukan bagi seorang perempuan, beliau katakan, “Parameter untuk
menilai hal tersebut adalah ‘urf (aturan tidak tertulis dalam suatu masyarakat)” (Puncak,
Bogor 14 Februari 2007 pukul 17:15).

Penjelasan beliau sangat tepat, karena dalam ilmu ushul fiqh terdapat suatu kaedah:
“Pengertian dari istilah syar’i kita pahami sebagaimana penjelasan syariat. Jika tidak ada
maka mengacu kepada penjelasan linguistik arab. Jika tetap tidak kita jumpai maka
mengacu kepada pandangan masyarakat setempat (’urf ).”

Misal pengertian menghormati orang yang lebih tua. Definisi tentang hal ini tidak kita
jumpai dalam syariat maupun dari sudut pandang bahasa Arab. Oleh karena itu
dikembalikan kepada pandangan masyarakat setempat. Jika suatu perbuatan dinilai
menghormati maka itulah penghormatan. Sebaliknya jika dinilai sebagai penghinaan maka
statusnya adalah penghinaan. Hal serupa kita jumpai dalam pengertian pakaian perhiasan
bagi seorang muslimah yang terlarang. Misal menurut pandangan masyarakat kita pakaian
kuning atau merah polos bagi seorang perempuan yang dikenakan ketika keluar rumah
adalah pakaian perhiasan maka itulah pakaian perhiasan yang terlarang. Akan tetapi di
tempat atau masa yang berbeda pakaian dengan warna tersebut tidak dinilai sebagai
pakaian perhiasan maka pada saat itu pakaian tersebut tidak dinilai sebagai pakaian
perhiasan yang terlarang.

Artikel ini merupakan ringkasan artikel yang berjudul “Adab Berpakaian” bagian ke 3 dan 4
dari beberapa seri artikel di www.muslim.or.id. Silahkan langsung merujuk ke
www.muslim.or.id untuk mengetahui adab-adab berpakaian lainnya.
                                Kecantikan Sejati
      29 December, 2007

Dikirim: Ummu Yusuf Wikayatu Diny

Adalah kebahagiaan seorang laki-laki ketika Allah menganugrahkannya seorang istri yang
apabila ia memandangnya, ia merasa semakin sayang. Kepenatan selama di luar rumah
terkikis ketika memandang wajah istri yang tercinta. Kesenangan di luar tak menjadikan
suami merasa jengah di rumah. Sebab surga ada di rumahnya; Baiti Jannati (rumahku
surgaku).

Kebahagiaan ini lahir dari istri yang apabila suami memandangnya, membuat suami
bertambah kuat jalinan perasaannya. Wajah istri adalah keteduhan, telaga yang memberi
kesejukan ketika suami mengalami kegerahan. Lalu apakah yang ada pada diri seorang
istri, sehingga ketika suami memandangnya semakin besar rasa sayangnya? Konon,
seorang laki-laki akan mudah terkesan oleh kecantikan wajah. Sempurnalah kebahagiaan
seorang laki-laki jika ia memiliki istri yang berwajah memikat.

Tapi asumsi ini segera dibantah oleh dua hal. Pertama, bantahan berupa fakta-fakta. Dan
kedua, bantahan dari sabda Rasulullah shalallahu ’alaihi wa sallam.

Konon, Christina Onassis, mempunyai wajah yang sangat cantik. Ia juga memiliki
kekayaan yang sangat besar. Mendiang ayahnya meninggalkan harta warisan yang
berlimpah, antara lain kapal pesiar pribadi, dan pulau milik pribadi juga. Telah beberapa
kali menikah, tetapi Christina harus menghadapi kenyataan pahit. Seluruh pernikahannya
berakhir dengan kekecewaan. Terakhir ia menutup kisah hidupnya dengan satu
keputusan: bunuh diri.

Kecantikan wajah Christina tidak membuat suaminya semakin sayang ketika
memandangnya. Jalinan perasaan antara ia dan suami-suaminya tidak pernah kuat.

Kasus ini memberikan ibroh kepada kita bahwa bukan kecantikan wajah secara fisik yang
dapat membuat suami semakin sayang ketika memandangnya. Ada yang bersifat psikis,
atau lebih tepatnya bersifat qalbiyyah!

Bantahan kedua, sabda Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam: “Seorang wanita dinikahi
karena empat hal; karena hartanya, keturunannya, kecantikannya, dan agamanya. Maka
pilihlah yang taat beragama niscaya kamu akan beruntung.” (HR. bukhari, Muslim)

Hadist di atas sebagai penguat bahwa kesejukan ketika memandang sehingga perasaan
suami semakin sayang, letaknya bukan pada keelokan rupa secara zhahir. Ada yang
bersifat bathiniyyah.
Dengan demikian wahai saudariku muslimah, tidak mesti kita harus mempercantik diri
dengan alat kosmetik atau dengan menggunakan gaun-gaun aduhai yang akhirnya akan
membawa kita pada sikap berlebihan pada hal yang halal bahkan menyebabkan kita
menjadi lalai dan meninggalkan segala yang bermanfaat dalam perkara-perkara akhirat,
wal ‘iyadzubillah. Namun tidak berarti kita meninggalkan perawatan diri dengan menjaga
fitrah manusia, dengan menjaga kebersihan, kesegaran dan keharuman tubuh yang
akhirnya melalaikan diri dalam menjaga hak suami. Ada yang lebih berarti dari semua itu,
ada yang lebih penting untuk kita lakukan demi mendapatkan cinta suami.

Sesungguhnya cinta yang dicari dari diri seorang wanita adalah sesuatu pengaruh yang
terbit dari dalam jiwa dengan segala kemuliaannya dan mempunyai harga diri, dapat
menjaga diri, suci, bersih, dan membuat kehidupan lebih tinggi di atas egonya.

Untuk itulah saudariku muslimah… Tuangkanlah di dalam dada dan hatimu dengan cinta
dan kasih sayang serta tanamkanlah kemuliaan wanita muslimah seperti jiwamu yang
penuh dengan kebaikan, perhatian serta kelembutan. Bukankah kita telah melihat contoh-
contoh yang gemilang dari pribadi-pribadi yang kuat dari para shahabiyyah radiyallahu
‘anhunna…?

Janganlah engkau penuhi dirimu dengan ahlak yang selalu sedih dan gelisah, banyak
pengaduan dan keluh kesah dan selalu mengancam, karena hal tersebut akan
menggelapkan hatimu. Tersenyumlah untuk kehidupan. Seperti kuatnya para shahabiyyah
dalam menghadapi kehidupan yang keras dan betapa kuatnya wanita-wanita yang lembut
itu mempertahankan agamanya…

Perhiasan jiwa, itulah yang lebih utama. Yaitu sifat-sifat dan budi pekerti yang diajarkan
Islam, yang diawali dengan sifat keimanan. Sebagaimana firman Allah, (yang artinya)
”Tetapi Allah menjadikan kamu cinta kepada keimanan dan menjadikan iman itu indah
dalam hatimu serta menjadikan kamu benci kepada kekafiran, kefasikan, dan
kedurhakaan.” (QS. Al-Hujaraat: 7)

Apabila keimanan telah benar-benar terpatri dalam hati, maka akan tumbuhlah sifat-sifat
indah yang menghiasi diri manusia, mulai dari Ketakwaan, Ilmu, Rasa Malu, Jujur,
Terhormat, Berani, Sabar, Lemah Lembut, Baik Budi Pekerti, Menjaga Silaturrahim, dan
sifat-sifat terpuji lainnya yang tidak mungkin disebut satu-persatu. Semuanya adalah
nikmat Allah Subhanahu wa Ta’ala yang diberikan kepada hamba-hambanya agar dapat
bahagia hidup di dunia dan akhirat.

Wanita benar-benar sangat diuntungkan, karena ia memiliki kesempatan yang lebih besar
dalam hal perhiasan jiwa dengan arti yang sesungguhnya, yaitu ketika wanita memiliki
sifat-sifat terpuji yang mengangkat derajatnya ke puncak kemuliaan, dan jauh dari segala
sesuatu yang dapat menghancurkanya dan menghilangkan rasa malunya….!

Saudariku… jika engkau telah menikah, maka nasihat ini untuk mengingatkanmu agar
engkau selalu menampilkan kecantikan dirimu dengan kecantikan sejati yang berasal dari
dalam jiwamu, bukan dengan kecantikan sebab yang akan lenyap dengan lenyapnya
sebab.

Saudariku… jika saat ini Allah belum mengaruniai engkau jodoh seorang suami yang
sholeh, maka persiapkanlah dirimu untuk menjadi istri yang sholihah dengan memperbaiki
diri dari kekurangan yang dimiliki lalu tutuplah ia dengan memunculkan potensi yang
engkau miliki untuk mendekatkan dirimu kepada Yang Maha Rahman, mempercantik diri
dengan ketakwaan kepada Allah yang dengannya akan tumbuh keimanan dalam hatimu
sehingga engkau dapat menghiasi dirimu dengan akhlak yang mulia.

Saudariku… ini adalah sebuah nasihat yang apabila engkau mengambilnya maka tidak ada
yang akan diuntungkan melainkan dirimu sendiri.

Disalin dari: Buletin al-Izzah edisi no16/thn III/Muharram 1425 H
(Bulletin ini diterbitkan oleh Forkimus (forum kajian Islam Muslimah Salafiyah) Mataram,
Lombok, NTB)
                            Ketika Kita Ingin Dilihat
      16 December, 2007

Penyusun: Ummu Aiman
Muraja’ah: Ustadz Aris Munandar

Masya Allah, anti sudah hafal 5 juz ???
Hmmm…

Secara fitrah manusia, pastilah senang jika dirinya dipuji. Saat pujian datang -apalagi dari
seseorang yang istimewa dalam pandangannya- tentulah hati akan bahagia jadinya.
Berbunga-bunga, bangga, senang. Itu manusiawi. Namun hati-hatilah duhai saudariku,
jangan sampai riya’ menghiasi amal ibadah kita karena di setiap amal ibadah yang kita
lakukan dituntut keikhlasan.

Niat yang ikhlas amatlah diperlukan dalam setiap amal ibadah karena ikhlas adalah salah
satu syarat diterimanya suatu amal di sisi Allah. Sebuah niat dapat mengubah amalan kecil
menjadi bernilai besar di sisi Allah dan sebaliknya, niatpun mampu mengubah amalan
besar menjadi tidak bernilai sama sekali.

Kali ini, kita tidak hendak membahas tentang ikhlas melainkan salah satu lawan dari
ikhlas, yaitu riya’.

Hudzaifah Ibnu Yaman pernah berkata:
“Orang-orang bertanya pada Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam tentang hal-hal yang baik
sedangkan aku bertanya kepada beliau tentang hal-hal jelek agar aku terhindar dari
kejelekan tersebut.” (HR Bukhari dan Muslim)

Maka saudariku muslimah, marilah kita mempelajari tentang riya’ agar kita terhindar dari
kejelekannya.

Mari Kita Berbicara tentang Riya’

Secara bahasa, riya’ berasal dari kata ru’yah ( ‫ ,) ي‬maknanya penglihatan. Sehingga
menurut bahasa arab hakikat riya’ adalah orang lain melihatnya tidak sesuai dengan
hakikat sebenarnya.

Al Hafizh Ibnu Hajar menyatakan, “Riya’ ialah menampakkan ibadah dengan tujuan agar
dilihat manusia, lalu mereka memuji pelaku amal tersebut.”

Pernahkah ukhti mendengar tentang sum’ah? Sum’ah berbeda dengan riya’, jika riya’
adalah menginginkan agar amal kita dilihat orang lain, maka sum’ah berarti kita ingin
ibadah kita didengar orang lain. Ibnu Hajar menyatakan: “Adapun sum’ah sama dengan
riya’. Akan tetapi ia berhubungan dengan indera pendengaran (telinga) sedangkan riya’
berkaitan dengan indera penglihatan (mata).”

Jadi, jika seorang beramal dengan tujuan ingin dilihat, misalnya membaguskan dan
memperlama shalat karena ingin dilihat orang lain, maka inilah yang dinamakan riya’.
Adapun jika beramal karena ingin didengar orang lain, seperti seseorang memperindah
bacaan Al Qur’annya karena ingin disebut qari’, maka ini yang disebut sebagai sum’ah.

Bahaya Riya’

Ketahuilah wahai saudariku, bahwa riya’ termasuk ke dalam syirik asghar/kecil. Ia dapat
mencampuri amal kita kemudian merusaknya. Amalan yang dikerjakan dengan ikhlas akan
mendatangkan pahala. Lalu bagaimana dengan amalan yang tercampur riya’? Tentu saja
akan merusak pahala amalan tersebut. Bisa merusak salah satu bagiannya saja atau
bahkan merusak keseluruhan dari pahala amalan tersebut.

Berikut ini beberapa bentuk riya’:

   1. Riya’ yang mencampuri amal dari awal hingga akhir, maka amalannya terhapus.
      Misalnya seseorang yang hendak mengerjakan shalat lalu datang seseorang yang ia
      kagumi. Kemudian ia shalat dengan bagus dan khusyu’ karena ingin dilihat orang
      tersebut. Riya’ tersebut ada dari awal hingga akhir shalatnya dan ia tidak berusaha
      untuk menghilangkannya, maka amalannya terhapus.
   2. Riya’ yang muncul tiba-tiba di tengah-tengah amal dan dia berusaha untuk
      menghilangkannya sehingga riya’ tersebut hilang, maka riya’ ini tidak
      mempengaruhi pahala amalannya. Misalnya seseorang yang shalat kemudian
      muncul riya’ di tengah-tengah shalatnya dan ia berusaha untuk menghilangkannya
      sehingga riya’ tersebut hilang, maka riya’ tersebut tidak mempengaruhi ataupun
      merusak pahala shalat tersebut.
   3. Riya’ muncul tiba-tiba di tengah-tengah namun dibiarkan terus berlanjut, maka ini
      adalah syirik asghar dan menghapus amalannya. Namun dalam kondisi ini ulama
      berselisih pendapat tentang amalan mana yang terhapus, misalnya riya’ dalam
      shalat. Apakah rakaat yang tercampuri riya’ saja yang terhapus ataukah
      keseluruhan shalatnya?

Pendapat pertama menyatakan bahwa yang terhapus hanyalah pada amalan yang terkait.
Pendapat kedua, yaitu perlu dirinci:

   1. Kalau amalannya merupakan satu rangkaian dan tidak mungkin dipisahkan satu
      dengan yang lain, misalnya shalat dhuhur empat rakaat, maka terhapus rangkaian
      amal tersebut.
   2. Kalau amalannya bukan merupakan satu rangkaian, maka amal yang terhapus
      pahalanya adalah sebatas yang tercampuri saja. Misalnya seseorang yang
      bersedekah kepada sepuluh orang anak yatim. Saat bersedekah pada anak kesatu
      sampai yang kelima ia ikhlas. Akan tetapi riya’ muncul saat ia bersedekah pada
      anak ke-enam, maka pahala yang terhapus adalah sedekah pada anak ke-enam.
      Contoh yang serupa adalah puasa.

Riya’ itu Samar

Pada asalnya, manusia memiliki kecenderungan ingin dipuji dan takut dicela. Hal ini
menyebabkan riya’ menjadi sangat samar dan tersembunyi. Terkadang, seorang merasa
telah beramal ikhlas karena Allah, namun ternyata secara tak sadar ia telah terjerumus
kedalam penyakit riya’.

Saudariku, pernahkah engkau mendengar langkah laki seekor semut? Suara langkahnya
begitu samar bahkan tidak dapat kita dengar. Seperti inilah Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa
sallam menggambarkan kesamaran riya’. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Kesyirikan itu lebih samar dari langkah kaki semut.” Lalu Abu Bakar bertanya, ”Wahai
Rasulullah, bukankah kesyirikan itu ialah menyembah selain Allah atau berdoa kepada
selain Allah disamping berdoa kepada selain Allah?” maka beliau bersabda.”Bagaimana
engkau ini. Kesyirikan pada kalian lebih samar dari langkah kaki semut.” (HR Abu Ya’la Al
Maushili dalam Musnad-nya, tahqiq Irsya Al Haq Al Atsari, cetakan pertama, tahun 1408 H,
Muassasah Ulum Al Qur’an, Beirut, hlm 1/61-62. dishahihkan Al Albani dalam Shahih Al
Targhib, 1/91)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengkhawatirkan bahaya riya’ atas umat Islam
melebihi kekhawatiran beliau terhadap bahaya Dajjal. Disebutkan dalam sabda beliau:
“Maukah kalian aku beritahu sesuatu yang lebih aku takutkan menimpa kalian daripada
Dajjal.” Kami menyatakan, “Tentu!” beliau bersabda “Syirik khafi (syirik yang
tersembunyi). Yaitu seseorang mengerjakan shalat, lalu ia baguskan shalatnya karena ia
melihat ad seseorang yang memandangnya.”

Hal ini tidak akan terjadi, kecuali karena faktor pendukung yang kuat. Yaitu karena setiap
manusia memiliki kecenderungan ingin mendapatkan pujian, kepemimpinan dan
kedudukan tinggi di hadapan orang lain.

Bentuk Riya’

Wahai ukhti muslimah, didalam mencapai tujuannya, para mura’i (orang yang riya’)
menggunakan banyak jalan, diantaranya sebagai berikut:

   1. Dengan tampilan fisik, yaitu seperti menampilkan fisik yang lemah lagi pucat dan
      suara yang sangat lemah agar dianggap sebagai orang yang sangat takut akhirat
      atau rajin berpuasa.
   2. Dengan penampilan, yaitu seperti membiarkan bekas sujud di dahi dan pakaian
      yang seadanya agar tampil seperti ahli ibadah. Ketika menjelaskan QS Al Fath,
      dalam Hasyiah Ash Shawi 4/134 disebutkan, “Yang dimaksud ‘bekas sujud’
      bukanlah hitam-hitam di dahi sebagaimana yang dilakukan oleh orang-orang bodoh
      yang ingin riya’ karena hitam-hitam di dahi merupakan perbuatan khawarij.”
   3. Dengan perkataan, yaitu seperti banyak memberikan nasehat, menghafal atsar
      (riwayat salaf) agar dianggap sebagai orang yang sangat memperhatikan jejak
      salaf.
   4. Dengan amal, yaitu seperti memperlama rukuk dan sujud ketika shalat agar tampak
      khusyu’ dan lain-lain.

Kiat Mengobati Penyakit Riya’

Wahai saudariku, setiap insan tidak akan pernah lepas dari kesalahan. Sebaik-baik orang
yang melakukan kesalahan adalah yang bertaubat kepada Allah atas kesalahan yang
pernah dilakukannya.

Hati manusia cepat berubah. Jika saat ini beribadah dengan ikhlas, bisa jadi beberapa saat
kemudian ikhlas tersebut berganti dengan riya’. Pagi ikhlas, mungkin sore sudah tidak.
Hari ini ikhlas, mungkin esok tidak. Hanya kepada Allahlah kita memohon agar hati kita
diteguhkan dalam agama ini.

Selain itu, hendaknya kita berusaha untuk menjaga hati agar terhidar dari penyakit riya’.
Saudariku, inilah beberapa kiat yang dapat kita lakukan agar terhindar dari riya’:

1. Memohon dan selalu berlindung kepada Allah agar mengobati penyakit riya’

Riya’ adalah penyakit kronis dan berbahaya. Ia membutuhkan pengobatan dan terapi serta
bermujahadah (bersungguh-sungguh) supaya bisa menolak bisikan riya’, sambil tetap
meminta pertolongan Allah Ta’ala untuk menolaknya. Karena seorang hamba selalu
membutuhkan pertolongan dan bantuan dari Allah. Seorang hamba tidak akan mampu
melakukan sesuatu kecuali dengan bantuan dan anugerah Allah. Oleh karena itu, untuk
mengobati riya’, seorang selalu membutuhkan pertolongan dan memohon perlindungan
kepada–Nya dari penyakit riya’ dan sum’ah. Demikian yang diajarkan Rasulullah dalam
sabda beliau:

“Wahai sekalian manusia, peliharalah diri dari kesyirikan karena ia lebih samar dari
langkah kaki semut.” Mereka bertanya, “Wahai Rasulullah, bagaimana cara kami
memelihara diri darinya padahal ia lebih samar dari langkah kaki semut?” beliau
menjawab, “Katakanlah:

              ‫ن ن‬

‘Ya Allah, kami berlindung kepada-Mu dari perbuatan syirik yang kami ketahui. Dan kami
mohon ampunan kepada-Mu dari apa yang tidak kami ketahui.’” (HR. Ahmad)

2. Mengenal riya’ dan berusaha menghindarinya
Kesamaran riya’ menuntut seseorang yang ingin menghindarinya agar mengetahui dan
mengenal dengan baik riya’ dan penyebabnya. Selanjutnya, berusaha menghindarinya.
Adakalanya seorang itu terjangkit penyakit riya’ disebabkan ketidaktahuan dan adakalanya
karena keteledoran dan kurang hati-hati.

3. Mengingat akibat jelek perbuatan riya’ di dunia dan akhirat

Duhai saudariku di jalan Allah, sifat riya’ tidaklah memberikan manfaat sedikitpun, bahkan
memberikan madharat yang banyak di dunia dan akhirat. Riya’ dapat membuat
kemurkaan dan kemarahan Allah. Sehingga seseorang yang riya’ akan mendapatkan
kerugian di dunia dan akhirat.

4. Menyembunyikan dan merahasiakan ibadah

Salah satu upaya mengekang riya’ adalah dengan menyembunyikan amalan. Hal ini
dilakukan oleh para ulama sehingga amalan yang dilakukan tidak tercampuri riya’. Mereka
tidak memberikan kesempatan kepada setan untuk mengganggunya. Para ulama
menegaskan bahwa menyembunyikan amalan hanya dianjurkan untuk amalan yang
bersifat sunnah. Sedangkan amalan yang wajib tetap ditampakkan. Sebagian dari ulama
ada yang menampakkan amalan sunnahnya agar dijadikan contoh dan diikuti manusia.
Mereka menampakkannya dan tidak menyembunyikannya, dengan syarat merasa aman
dari riya’. Hal ini tentu tidak akan bisa kecuali karena kekuatan iman dan keyakinan
mereka.

5. Latihan dan mujahadah

Saudariku, ini semua membutuhkan latihan yang terus menerus dan mujahadah
(kesungguhan) agar jiwa terbina dan terjaga dari sebab-sebab yang dapat membawa
kepada perbuatan riya’ bila tidak, maka kita telah membuka pintu dan kesempatan kepada
setan untuk menyebarkan penyakit riya’ ini ke dalam hati kita.

Belajar dari Para Salaf

Duhai muslimah, berikut ini adalah kisah salaf yang menunjukkan betapa mereka menjaga
diri dari riya’ dan sum’ah. Mereka tidak menginginkan ketenaran dan popularitas. Justru
sebaliknya, mereka ingin agar tidak terkenal. Mereka memelihara keikhlasan, mereka takut
jika hati mereka terkena ujub (bangga diri).

Abu Zar’ah yahya bin Abu ‘Amr bercerita: Pernah Adh-Dhahhak bin Qais keluar untuk
memohon hujan bersama-sama dengan orang-orang, tapi ternyata hujan tidak turun dan
beliau juga tidak melihat awan. Beliau berkata: “Dimana gerangan Yazid bin Al Aswad?”
(dalam satu riwayat: tidak seorang pun yang menjawab pertanyaan beliau. Beliau pun
bertanya lagi: “Dimana Yazid bin Al Aswad Al Jurasyi? Jika beliau mendengar, saya sangat
berharap beliau berdiri.”) “Ini saya”, seru Yazid. “Berdirilah dan tolonglah kami ini di
hadapan Allah. Jadilah kamu perantara(*) kami agar Allah menurunkan hujan kepada
kami.”, kata Adh-Dhahhak bin Qais. Kemudian Yazid pun berdiri seraya menundukkan
kepala sebatas bahu serta menyingsingkan lengan baju beliau kemudian berdoa: “Ya
Allah, sesungguhnya hamba-hamba-Mu ini memohon syafaatku kepada-Mu.” Beliau
berdoa tiga kali dan seketika itu pula turunlah hujan yang sangat deras sehingga hampir
terjadi banjir. Kemudian beliau pun berkata: “Sesungguhnya kejadian ini membuat saya
dikenal banyak orang. Bebaskanlah saya dari keadaan seperti ini.” Kemudian hanya
berselang satu hari, yaitu Jum’at setelah peristiwa itu beliau pun wafat. (Riwayat Ibnu
Sa’ad (7/248) dan Al Fasawi (2/239-pada penggal yang terakhir). Atsar ini shahih).

(*) Dalam keadaan ini, meminta perantara dalam berdo’a diperbolehkan, karena Yazid bin
Al Aswad Al Jurasyi yang menjadi perantara masih dalam keadaan hidup, dan beliau
adalah seorang yang shaleh. Bedakan dengan keadaan orang-orang yang berdo’a
meminta kepada orang yang dianggap shaleh yang sudah meninggal dunia di kubur-kubur
mereka! dan ini merupakan Syirik Akbar yang membuat pelakunya kekal di neraka jika
belum bertaubat. -ed

Berkata Hammad bin Zaid rahimahullah: “Saya pernah berjalan bersama Ayyub tapi beliau
melewati jalan-jalan yang membuat diriku heran dan bertanya-tanya kenapa beliau sampai
berbuat seperti ini (berputar-putar melewati beberapa jalan). Ternyata beliau berbuat
seperti itu karena beliau tidak mau orang-orang mengenal beliau dan berkata: ‘Ini Ayyub,
ini Ayyub! Ayyub datang, Ayyub datang!’” (Riwayat Ibnu Sa’ad dan lainnya).

Hammad berkata lagi: “Ayyub pernah membawa saya melewati jalan yang lebih jauh,
maka sayapun berkata: ‘Jalan ini lebih dekat!’ Beliau menjawab: ‘Saya menghindari
kumpulan orang-orang di jalan tersebut.’ Dan memang apabila dia memberi salam, akan
dijawab oleh mereka dengan jawaban yang lebih baik dari jawaban kepada yang lainnya.
Dia berkata: ‘Ya Allah sesungguhnya Engkau mengetahui bahwa aku tidak
menginginkannya! Ya Allah sesungguhnya Engkau mengetahui bahwa aku tidak
menginginkannya!’” (Riwayat Ibnu Sa’ad (7/248) dan Al Fawasi (2/239-pada penggal yang
terakhir). Atsar ini shahih).

Kita berlindung kepada Allah dari penyakit riya’. Semoga Allah menjadikan kita seorang
mukhlishah, senantiasa berusaha untuk menjaga niat dari setiap amalan yang kita
lakukan. Innamal ‘ilmu ‘indallah. Wa’allahu a’lam.

Maraji’:

   1. Terjemah Sittu Duror, Landasan Membangun Jalan Selamat. ‘Abdul Malik Ahmad
      Ramdhani. Media Hidayah. Cetakan pertama. 2004.
   2. Mutiara Faidah Kitab Tauhid Syaikh Muhammad At Tamimi. Abu ‘Isa ‘Abdullah bin
      Salam. Cetakan pertama. LBIA Al Atsary.
   3. Majalah As-Sunnah edisi 05/ VIII/ 1425H/ 2004M
                   Ternyata Hari Jum’at itu Istimewa
      16 December, 2007

Penyusun: Ummu Aufa
Muraja’ah: Ustadz Abu Salman

Saudariku, kabar gembira untuk kita semua bahwa ternyata kita mempunyai hari yang
istimewa dalam deretan 7 hari yang kita kenal. Hari itu adalah hari jum’at. Saudariku, hari
jum’at memang istimewa namun tidak selayaknya kita berlebihan dalam menanggapinya.
Dalam artian, kita mengkhususkan dengan ibadah tertentu misalnya puasa tertentu
khusus hari Jum’at, tidak boleh pula mengkhususkan bacaan dzikir, do’a dan membaca
surat-surat tertentu pada malam dan hari jum’at kecuali yang disyari’atkan.

Nah artikel kali ini, akan menguraikan beberapa keutamaan-keutamaan serta amalan-
amalan yang disyari’atkan pada hari jum’at. Semoga dengan kita memahami
keutamaannya, kita bisa lebih bersemangat untuk memaksimalkan dalam melaksanakan
amalan-amalan yang disyari’atkan pada hari itu, dan agar bisa meraih keutamaan-
keutamaan tersebut.

Keutamaan Hari Jum’at

1. Hari paling utama di dunia

Ada beberapa peristiwa yang terjadi pada hari jum’at ini, antara lain:

      Allah menciptakan Nabi Adam ‘alaihissallam dan mewafatkannya.
      Hari Nabi Adam ‘alaihissallam dimasukkan ke dalam surga.
      Hari Nabi Adam ‘alaihissallam diturunkan dari surga menuju bumi.
      Hari akan terjadinya kiamat.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam
berkata:

“Hari paling baik dimana matahari terbit pada hari itu adalah hari jumat, pada hari itu
Adam diciptakan, dan pada hari itu pula Adam dimasukkan ke dalam surga, serta
diturunkan dari surga, pada hari itu juga kiamat akan terjadi, pada hari tersebut terdapat
suatu waktu dimana tidaklah seorang mukmin shalat menghadap Allah mengharapkan
kebaikan kecuali Allah akan mengabulkan permintannya.” (HR. Muslim)

2. Hari bagi kaum muslimin

Hari jum’at adalah hari berkumpulnya umt Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam
masjid-masjid mereka yang besar untuk mengikuti shalat dan sebelumnya mendengarkan
dua khutbah jum’at yang berisi wasiat taqwa dan nasehat-nasehat, serta do’a.
Dari Kuzhaifah dan Rabi’i bin Harrasy radhiyallahu ‘anhuma bahwa Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam berkata, “Allah menyesatkan orang-orang sebelum kami pada hari jum’at,
Yahudi pada hari sabtu, dan Nasrani pada hari ahad, kemudian Allah mendatangkan kami
dan memberi petunjuk pada hari jum’at, mereka umat sebelum kami akan menjadi
pengikut pada hari kiamat, kami adalah yang terakhir dari penghuni dunia ini dan yang
pertama pada hari kiamat yang akan dihakimi sebelum umat yang lain.” (HR. Muslim dan
Ibnu Majah)

3. Hari yang paling mulia dan merupakan penghulu dari hari-hari

Dari Abu Lubabah bin Ibnu Mundzir radhiyallahu ‘anhu berkata, Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam berkata, “Hari jum’at adalah penghulu hari-hari dan hari yang paling
mulia di sisi Allah, hari jum’at ini lebih mulia dari hari raya Idhul Fitri dan Idul Adha di sisi
Allah, pada hari jum’at terdapat lima peristiwa, diciptakannya Adam dan diturunkannya ke
bumi, pada hari jum’at juga Adam dimatikan, di hari jum’at terdapat waktu yang mana jika
seseorang meminta kepada Allah maka akan dikabulkan selama tidak memohon yang
haram, dan di hari jum’at pula akan terjadi kiamat, tidaklah seseorang malaikat yang
dekat di sisi Allah, di bumi dan di langit kecuali dia dikasihi pada hari jum’at.” (HR. Ahmad)

4. Waktu yang mustajab untuk berdo’a

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam
menyebut hari jum’at lalu beliau Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Di hari jum’at itu terdapat satu waktu yang jika seseorang muslim melakukan shalat di
dalamnya dan memohon sesuatu kepada Allah Ta’ala, niscaya permintaannya akan
dikabulkan.” Lalu beliau memberi isyarat dengan tangannya yang menunjukkan sedikitnya
waktu itu. (HR. Bukhari Muslim)

Namun mengenai penentuan waktu, para ulama berselisih pendapat. Diantara pendapat-
pendapat tersebut ada 2 pendapat yang paling kuat:

a. Waktu itu dimulai dari duduknya imam sampai pelaksanaan shalat jum’at

Dari Abu Burdah bin Abi Musa Al-Asy’ari radhiyallahu ‘anhu bahwa ‘Abdullah bin ‘Umar
radhiyallahu ‘anhuma berkata padanya, “Apakah engkau telah mendengar ayahmu
meriwayatkan hadits dari Rasulullah sehubungan dengan waktu ijaabah pada hari jum’at?”
Lalu Abu Burdah mengatakan, “Aku mendengar Rasulullah bersabda, ‘Yaitu waktu antara
duduknya imam sampai shalat dilaksanakan.’” (HR. Muslim)

Imam Nawawi rahimahullah menguatkan pendapat di atas. Sedangkan Imam As-Suyuthi
rahimahullah menentukan waktu yang dimaksud adalah ketika shalat didirikan.

b. Batas akhir dari waktu tersebut hingga setelah ‘ashar
Dari Jabir bin ‘Abdillah radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Hari jum’at itu dua belas jam. Tidak ada seorang muslimpun yang memohon sesuatu
kepada Allah dalam waktu tersebut melainkan akan dikabulkan oleh Allah. Maka
peganglah erat-erat (ingatlah bahwa) akhir dari waktu tersebut jatuh setelah ‘ashar.” (HR.
Abu Dawud)

Dan yang menguatkan pendapat kedua ini adalah Imam Ibnul Qayyim rahimahullah,
beliau mengatakn bahwa, “Ini adalah pendapat yang dipegang oleh kebanyakan generasi
salaf dan banyak sekali hadits-hadits mengenainya.”

5. Dosa-dosanya diampuni antara jum’at tersebut dengan jum’at sebelumnya

Dari Salman Al-Farisi radhiyallahu ‘anhu mengatakan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa
sallam bersabda:

“Tidaklah seseorang mandi pada hari jum’at dan bersuci semampunya, berminyak dengan
minyak, atau mengoleskan minyak wangi dari rumahnya, kemudian keluar (menuju
masjid), dan dia tidak memisahkan dua orang (yang sedang duduk berdampingan),
kemudian dia mendirikan shalat yang sesuai dengan tuntunannya, lalu diam
mendengarkan (dengan seksama) ketika imam berkhutbah melainkan akan diampuni
(dosa-dosanya yang terjadi) antara jum’at tersebut dan jum’at berikutnya.” (HR. Bukhari)

Amalan-Amalan yang Disyari’atkan pada Hari Jum’at

1. Memperbanyak shalawat

Dari Abu Umamah radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam
berkata, “Perbanyaklah shalawat kepadaku setiap hari jum’at karena shalawatnya umatku
akan dipersembahkan untukku pada hari jum’at, maka barangsiapa yang paling banyak
bershalawat kepadaku, dia akan paling dekat derajatnya denganku.” (HR. Baihaqi dengan
sanad shahih)

2. Membaca surat Al Kahfi

Dari Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Barangsiapa membaca surat Al-Kahfi pada hari jum’at akan diberikan cahaya baginya
diantara dua jum’at.” (HR. Al Hakim dan Baihaqi dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani)

3. Memperbanyak do’a (HR Abu Daud poin 4b.)

4. Amalan-amalan shalat jum’at (wajib bagi laki-laki)

      Mandi, bersiwak, dan memakai wangi-wangian.
      Berpagi-pagi menuju tempat shalat jum’at.
      Diam mendengarkan khatib berkhutbah.
      Memakai pakaian yang terbaik.
      Melakukan shalat sunnah selama imam belum naik ke atas mimbar.

Saudariku, setelah membaca artikel tersebut semoga kita bisa mendapat manfaat yang
lebih besar dengan menambah amalan-amalan ibadah yang disyari’atkan. Sungguh begitu
banyak jalan agar kita bisa meraup pahala sebanyak-banyaknya sebagai bekal perjalanan
kita di akhirat kelak. Wallahu a’lam.

Maraji’:

   1. Do’a dan Wirid, Pustaka Imam Asy-Syafi’i
   2. Tafsir Ayat-Ayat Yaa Ayyuhal-ladziina Aamanuu, Pustaka Al-Kautsar
   3. Amalan dan Waktu yang Diberkahi, Pustaka Ibnu Katsir
       Fakta Thibbun Nabawi: Habbatus Sauda, Madu, dan Minyak Zaitun
       16 December, 2007

Penyusun: Ummu Hajar

Saudariku, tahukah kalian bahwa penyakit itu ada dua macam, penyakit hati dan penyakit
jasmani? Kedua penyakit itu disebutkan dalam Al-Qur’an. Klasifikasi jenis penyakit ini
mengandung hikmah ilahi dan kemukjizatan yang hanya bisa dicapai oleh kalangan medis
di pertengahan abad ke-18. Sesungguhnya iman kepada Allah dan para Rasul, yaitu
aqidah yang tertanam dalam hati, merupakan solusi pengobatan yang terpenting bagi
hati, yakni bagi penyakit jiwa. Sedangkan untuk penyakit jasmani, kita bisa menengok
metode pengobatan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Istilah Thibbun Nabawi dimunculkan oleh para dokter muslim sekitar abad ke-13 M untuk
menunjukkan ilmu-ilmu kedokteran yang berada dalam bingkai keimanan pada Allah,
sehingga terjaga dari kesyirikan, takhayul dan khurofat.

1. Habbatus Sauda’ atau Jinten Hitam atau Syuwainiz

Imam Bukhari meriwayatkan dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha. bahwa ia pernah mendengar
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda yang artinya: “Sungguh dalam habbatus sauda’
itu terdapat penyembuh segala penyakit, kecuali as-sam.” Saya bertanya, “Apakah as-sam
itu?” Beliau menjawab, “Kematian”. Habbatus sauda’ berkhasiat mengobati segala jenis
penyakit dingin, bisa juga membantu kesembuhan berbagai penyakit panas karena faktor
temporal. Biji habbatus sauda’ mengandung 40% minyak takasiri dan 1,4% minyak atsiri,
15 jenis asam amino, protein, Ca, Fe, Na dan K. kandungan aktifnya thymoquinone (TQ),
dithymouinone (DTQ), thymohydroquimone (THQ) dan thymol (THY). Telah terbukti dari
berbagai hasil penelitian ilmiah bahwa habbatus sauda’ mengaktifkan kekebalan
spesifik/kekebalan didapat, karena ia meningkatkan kadar sel-sel T pembantu, sel-sel T
penekan, dan sel-sel pembunuh alami. Beberapa resep penggunaan dan manfaat
habbatus sauda’:

   1. Ditumbuk, dibuat adonan dangan campuran madu, kemudian diminum setelah
      dicampur air panas, diminum rutin berhari-hari: menghancurkan batu ginjal dan
      batu kandung kencing, memperlancar air seni, haid dan ASI.
   2. Diadon dengan air tepung basah atau tepung yang sudah dimasak, mampu
      mengeluarkan cacing dengan lebih kuat.
   3. Minum minyaknya kira-kira sesendok dicampur air untuk menghilangkan sesak
      napas dan sejenisnya.
   4. Dimasak dengan cuka dan dipakai berkumur-kumur untuk mengobati sakit gigi
      karena kedinginan.
   5. Digunakan sebagai pembalut dicampur cuka untuk mengatasi jerawat dan kudis
      bernanah.
   6. Ditumbuk halus, setiap hari dibalurkan ke luka gigitan anjing gila sebagian dua atau
      tiga kali oles, lalu dibersihkan dengan air.

Untuk konsumsi rutin menjaga kesehatan, sebaiknya dua sendok saja. Sebagian kalangan
medis menyatakan bahwa terlalu banyak mengkonsumsinya bisa mematikan.

2. Madu atau ‘Asl

“Dari perut lebah itu keluar cairan dengan berbagai warna, di dalamnya terdapat
kesembuhan bagi manusia.” (QS. An-Nahl: 69)

Beberapa hasil penelitian tentang madu:

a. Bakteri tidak mampu melawan madu

Dianjurkan memakai madu untuk mengobati luka bakar. Madu memiliki spesifikasi anti
proses peradangan (inflammatory activity anti)

b. Madu kaya kandungan antioksidan

Antioksidan fenolat dalam madu memiliki daya aktif tinggi serta bisa meningkatkan
perlawanan tubuh terhadap tekanan oksidasi (oxidative stress)

c. Madu dan kesehatan mulut

Bila digunakan untuk bersikat gigi bisa memutihkan dan menyehatkan gigi dan gusi,
mengobati sariawan dan gangguan mulut lain.

d. Madu dan kulit kepala

Dengan menggunakan cairan madu berkadar 90% (madu dicampur air hangat) dua hari
sekali di bagian-bagian yang terinfeksi di kepala dan wajah diurut pelan-pelan selama 2-3
menit, madu dapat membunuh kutu, menghilangkan ketombe, memanjangkan rambut,
memperindah dan melembutkannya serta menyembuhkan penyakit kulit kepala.

e. Madu dan pengobatan kencing manis

Madu mampu menurunkan kadar glukosa darah penderita diabetes karena adanya unsure
antioksidan yang menjadikan asimilasi gula lebih mudah di dalam darah sehingga kadar
gula tersebut tidak terlihat tinggi. Madu nutrisi kaya vitamin B1, B5, dan C dimana para
penderita diabetes sangat membutuhkan vitamin-vitamin ini. Sesendok kecil madu alami
murni akan menambah cepat dan besar kandungan gula dalam darah, sehingga akan
menstimulasi sel-sel pankreas untuk memproduksi insulin. Sebaiknya penderita diabetes
melakukan analisis darah dahulu untuk menentukan takaran yang diperbolehkan untuknya
di bawah pengawasan dokter.
f. Madu mencegah terjadinya radang usus besar (colitis), maag dan tukak lambung

Madu berperan baik melindungi kolon dari luka-luka yang biasa ditimbulkan oleh asam
asetat dan membantu pengobatan infeksi lambung (maag). Pada kadar 20% madu
mampu melemahkan bakteri pylori penyebab tukak lambung di piring percobaan.

g. Selain itu madu amat bergizi, melembutkan sistem alami tubuh, menghilangkan rasa
obat yang tidak enak, membersihkan liver, memperlancar buang air kecil, cocok untuk
mengobati batuk berdahak. Buah-buahan yang direndam dalam madu bisa bertahan
sampai enam bulan.
Madu terbaik adalah yang paling jernih, putih dan tidak tajam serta yang paling manis.
Madu yang diambil dari daerah gunung dan pepohonan liar memiliki keutamaan tersendiri
daripada yang diambil dari sarang biasa, dan itu tergantung pada tempat para lebah
berburu makanannya.

3. Minyak Zaitun

“Konsumsilah minyak zaitun dan gunakan sebagai minyak rambut, karena minyak zaitun
dibuat dari pohon yang penuh berkah.” (HR. At-Tirmidzi dan Ibnu Majah).

Fungsi minyak zaitun:

   1. Mengurangi kolesterol berbahaya tanpa mengurangi kandungan kolesterol yang
       bermanfaat.
   2. Mengurangi risiko penyumbatan (trombosis) dan penebalan (ateriosklerosis)
       pembuluh darah.
   3. Mengurangi pemakaian obat-obatan penurun tekanan darah tinggi.
   4. Mengurangi serangan kanker.
   5. Melindungi dari serangan kanker payudara. Sesendok makan minyak zaitun setiap
       hari mengurangi risiko kanker payudara sampai pada kadar 45%.
   6. Menurunkan risiko kanker rahim sampai 26%.
   7. Pengkonsumsian buah-buahan, sayuran, dan minyak zaitun memiliki peran penting
       dalam melindungi tubuh dari kanker kolon.
   8. Penggunaan minyak zaitun sebagai krim kulit setelah berenang melindungi
       terjadinya kanker kulit (melanoma)
   9. Berpengaruh positif melindungi tubuh dari kanker lambung dan mengurangi risiko
       tukak lambung.
   10. Mengandung lemak terbaik yang seharusnya dikonsumsi manusia seperti yang
       terdapat dalam ASI.
   11. Penggunaan sebagai minyak rambut mampu membunuh kutu dalam waktu
       beberapa jam saja.

Setiap penyakit itu ada obatnya, seperti hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang
artinya: “Tidaklah Allah menurunkan suatu penyakit, melainkan Dia menurunkan obatnya.”
(HR. Bukhari dan Muslim) Setiap kali Allah menurunkan penyakit, Allah pasti menurunkan
penyembuhnya. Hanya ada orang yang mengetahuinya dan ada yang tidak
mengetahuinya. Jauh sebelum ilmu pengetahuan berkembang pesat, Nabi shallallahu
‘alaihi wa sallam sudah mengetahui dan menerapkan pengobatan yang terbukti
kemanjurannya.

Maraji:

   1. Keajaiban Thibbun Nabawi, Aiman bin ‘Abdul Fattah
   2. Metode Pengobatan Nabi SAW, Ibnu Qayyim Al-Jauziyah
                 Bangga Menjadi Ibu Rumah Tangga
      16 December, 2007

Penulis: Ummu Ayyub
Muroja’ah: Ust Abu Ahmad

Hebat rasanya ketika mendengar ada seorang wanita lulusan sebuah universitas ternama
telah bekerja di sebuah perusahaan bonafit dengan gaji jutaan rupiah per bulan. Belum
lagi perusahaan sering menugaskan wanita tersebut terbang ke luar negri untuk
menyelesaikan urusan perusahaan. Tergambar seolah kesuksesan telah dia raih. Benar
seperti itukah?

Kebanyakan orang akan beranggapan demikian. Sesuatu dikatakan sukses lebih dinilai dari
segi materi sehingga jika ada sesuatu yang tidak memberi nilai materi akan dianggap
remeh. Cara pandang yang demikian membuat banyak dari wanita muslimah bergeser dari
fitrohnya. Berpandangan bahwa sekarang sudah saatnya wanita tidak hanya tinggal di
rumah menjadi ibu, tapi sekarang saatnya wanita ’menunjukkan eksistensi diri’ di luar.
Menggambarkan seolah-olah tinggal di rumah menjadi seorang ibu adalah hal yang
rendah.

Kita bisa dapati ketika seorang ibu rumah tangga ditanya teman lama ”Sekarang kerja
dimana?” rasanya terasa berat untuk menjawab, berusaha mengalihkan pembicaraan atau
menjawab dengan suara lirih sambil tertunduk ”Saya adalah ibu rumah tangga”. Rasanya
malu! Apalagi jika teman lama yang menanyakan itu ”sukses” berkarir di sebuah
perusahaan besar. Atau kita bisa dapati ketika ada seorang muslimah lulusan universitas
ternama dengan prestasi bagus atau bahkan berpredikat cumlaude hendak berkhidmat di
rumah menjadi seorang istri dan ibu bagi anak-anak, dia harus berhadapan dengan
”nasehat” dari bapak tercintanya: ”Putriku! Kamu kan sudah sarjana, cumlaude lagi!
Sayang kalau cuma di rumah saja ngurus suami dan anak.” Padahal, putri tercintanya
hendak berkhidmat dengan sesuatu yang mulia, yaitu sesuatu yang memang menjadi
tanggung jawabnya. Disana ia ingin mencari surga.

Ibu Sebagai Seorang Pendidik

Syaikh Muhammad bin Shalih al ’Utsaimin rahimahullah mengatakan bahwa perbaikan
masyarakat bisa dilakukan dengan dua cara: Pertama, perbaikan secara lahiriah, yaitu
perbaikan yang berlangsung di pasar, masjid, dan berbagai urusan lahiriah lainnya. Hal ini
banyak didominasi kaum lelaki, karena merekalah yang sering nampak dan keluar rumah.
Kedua, perbaikan masyarakat di balik layar, yaitu perbaikan yang dilakukan di dalam
rumah. Sebagian besar peran ini diserahkan pada kaum wanita sebab wanita merupakan
pengurus rumah. Hal ini sebagaimana difirmankan Allah subhanahu wa ta’ala yang
artinya:
”Dan hendaklah kalian tetap di rumah kalian dan janganlah kalian berhias dan bertingkah
laku seperti orang-orang jahiliyah yang dahulu dan dirikanlah sholat, tunaikanlah zakat
dan taatilah Allah dan Rasul-Nya. Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan
dosa kalian, hai Ahlul Bait dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya.” (QS. Al-Ahzab:
33)

Pertumbuhan generasi suatu bangsa adalah pertama kali berada di buaian para ibu. Ini
berarti seorang ibu telah mengambil jatah yang besar dalam pembentukan pribadi sebuah
generasi. Ini adalah tugas yang besar! Mengajari mereka kalimat Laa Ilaaha Illallah,
menancapkan tauhid ke dada-dada mereka, menanamkan kecintaan pada Al Quran dan As
Sunah sebagai pedoman hidup, kecintaan pada ilmu, kecintaan pada Al Haq, mengajari
mereka bagaimana beribadah pada Allah yang telah menciptakan mereka, mengajari
mereka akhlak-akhlak mulia, mengajari mereka bagaimana menjadi pemberani tapi tidak
sombong, mengajari mereka untuk bersyukur, mengajari bersabar, mengajari mereka arti
disiplin, tanggung jawab, mengajari mereka rasa empati, menghargai orang lain,
memaafkan, dan masih banyak lagi. Termasuk di dalamnya hal yang menurut banyak
orang dianggap sebagai sesuatu yang kecil dan remeh, seperti mengajarkan pada anak
adab ke kamar mandi. Bukan hanya sekedar supaya anak tau bahwa masuk kamar mandi
itu dengan kaki kiri, tapi bagaimana supaya hal semacam itu bisa menjadi kebiasaan yang
lekat padanya. Butuh ketelatenan dan kesabaran untuk membiasakannya.

Sebuah Tanggung Jawab

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, yang artinya:

”Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang
bahan bakarnya manusia dan batu, penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, yang keras,
yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan
selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (QS. At Tahrim: 6)

Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala yang artinya: ”Peliharalah dirimu dan keluargamu!” di
atas menggunakan Fi’il Amr (kata kerja perintah) yang menunjukkan bahwa hukumnya
wajib. Oleh karena itu semua kaum muslimin yang mempunyai keluarga wajib
menyelamatkan diri dan keluarga dari bahaya api neraka.

Tentang Surat At Tahrim ayat ke-6 ini, Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ’anhu berkata,
”Ajarkan kebaikan kepada dirimu dan keluargamu.” (Diriwayatkan oleh Al Hakim dalam
Mustadrak-nya (IV/494), dan ia mengatakan hadist ini shahih berdasarkan syarat Bukhari
dan Muslim, sekalipun keduanya tidak mengeluarkannya)

Muqatil mengatakan bahwa maksud ayat tersebut adalah, setiap muslim harus mendidik
diri dan keluarganya dengan cara memerintahkan mereka untuk mengerjakan kebaikan
dan melarang mereka dari perbuatan maksiat.
Ibnu Qoyyim menjelaskan bahwa beberapa ulama mengatakan bahwa Allah subhanahu
wa ta’ala akan meminta pertanggungjawaban setiap orang tua tentang anaknya pada hari
kiamat sebelum si anak sendiri meminta pertanggungjawaban orang tuanya. Sebagaimana
seorang ayah itu mempunyai hak atas anaknya, maka anak pun mempunyai hak atas
ayahnya. Jika Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, ”Kami wajibkan kepada manusia agar
berbuat baik kepada kedua orang tuanya.” (QS. Al Ankabut: 7), maka disamping itu Allah
juga berfirman, ”Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang berbahan bakar
manusia dan batu.” (QS. At Tahrim: 6)

Ibnu Qoyyim selanjutnya menjelaskan bahwa barang siapa yang mengabaikan pendidikan
anaknya dalam hal-hal yang bermanfaat baginya, lalu ia membiarkan begitu saja, berarti
telah melakukan kesalahan besar. Mayoritas penyebab kerusakan anak adalah akibat
orang tua yang acuh tak acuh terhadap anak mereka, tidak mau mengajarkan kewajiban
dan sunnah agama. Mereka menyia-nyiakan anak ketika masih kecil sehingga mereka
tidak bisa mengambil keuntungan dari anak mereka ketika dewasa, sang anak pun tidak
bisa menjadi anak yang bermanfaat bagi ayahnya.

Adapun dalil yang lain diantaranya adalah firman Allah subhanahu wa ta’ala yang artinya:
”dan berilah peringatan kepada kerabatmu yang dekat.” (QS asy Syu’ara’: 214)

Abdullah bin Umar radhiyallahu ’anhuma mengatakan bahwa Rasulullah shalallahu ’alaihi
wa sallam bersabda (yang artinya), ”Kaum lelaki adalah pemimpin bagi keluarganya di
rumah, dia bertanggung jawab atas keluarganya. Wanita pun pemimpin yang mengurusi
rumah suami dan anak-anaknya. Dia pun bertanggung jawab atas diri mereka. Budak
seorang pria pun jadi pemimpin mengurusi harta tuannya, dia pun bertanggung jawab
atas kepengurusannya. Kalian semua adalah pemimpin dan bertanggung jawab atas
kepemimpinannya.” (HR. Bukhari 2/91)

Dari keterangan di atas, nampak jelas bahwa setiap insan yang ada hubungan keluarga
dan kerabat hendaknya saling bekerja sama, saling menasehati dan turut mendidik
keluarga. Utamanya orang tua kepada anak, karena mereka sangat membutuhkan
bimbingannya. Orang tua hendaknya memelihara fitrah anak agar tidak kena noda syirik
dan dosa-dosa lainnya. Ini adalah tanggung jawab yang besar yang kita akan dimintai
pertanggungjawaban tentangnya.

Siapa Menanam, Dia akan Menuai Benih

Bagaimana hati seorang ibu melihat anak-anaknya tumbuh? Ketika tabungan anak kita
yang usia 5 tahun mulai menumpuk, ”Mau untuk apa nak, tabungannya?” Mata rasanya
haru ketika seketika anak menjawab ”Mau buat beli CD murotal, Mi!” padahal anak-anak
lain kebanyakan akan menjawab ”Mau buat beli PS!” Atau ketika ditanya tentang cita-cita,
”Adek pengen jadi ulama!” Haru! mendengar jawaban ini dari seorang anak tatkala ana-
anak seusianya bermimpi ”pengen jadi Superman!”
Jiwa seperti ini bagaimana membentuknya? Butuh seorang pendidik yang ulet dan telaten.
Bersungguh-sungguh, dengan tekad yang kuat. Seorang yang sabar untuk setiap hari
menempa dengan dibekali ilmu yang kuat. Penuh dengan tawakal dan bergantung pada
Allah Subhanahu wa Ta’ala. Lalu… jika seperti ini, bisakah kita begitu saja menitipkannya
pada pembantu atau membiarkan anak tumbuh begitu saja?? Kita sama-sama tau
lingkungan kita bagaimana (TV, media, masyarakat,…) Siapa lagi kalau bukan kita, wahai
para ibu -atau calon ibu-?

Setelah kita memahami besarnya peran dan tanggung jawab seorang ibu sebagai seorang
pendidik, melihat realita yang ada sekarang sepertinya keadaannya menyedihkan! Tidak
semua memang, tapi banyak dari para ibu yang mereka sibuk bekerja dan tidak
memperhatikan bagaimana pendidikan anak mereka. Tidak memperhatikan bagaimana
aqidah mereka, apakah terkotori dengan syirik atau tidak. Bagaimana ibadah mereka,
apakah sholat mereka telah benar atau tidak, atau bahkan malah tidak mengerjakannya…
Bagaimana mungkin pekerjaan menancapkan tauhid di dada-dada generasi muslim bisa
dibandingkan dengan gaji jutaan rupiah di perusahaan bonafit? Sungguh! sangat jauh
perbandingannya.

Anehnya lagi, banyak ibu-ibu yang sebenarnya tinggal di rumah namun tidak juga mereka
memperhatikan pendidikan anaknya, bagaimana kepribadian anak mereka dibentuk.
Penulis sempat sebentar tinggal di daerah yang sebagian besar ibu-ibu nya menetap di
rumah tapi sangat acuh dengan pendidikan anak-anak mereka. Membesarkan anak seolah
hanya sekedar memberinya makan. Sedih!

Padahal anak adalah investasi bagi orang tua di dunia dan akhirat! Setiap upaya yang kita
lakukan demi mendidiknya dengan ikhlas adalah suatu kebajikan. Setiap kebajikan akan
mendapat balasan pahala dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. Tidak inginkah hari kita terisi
dengannya? Atau memang yang kita inginkan adalah kesuksesan karir anak kita, meraih
hidup yang berkecukupan, cukup untuk membeli rumah mewah, cukup untuk membeli
mobil mentereng, cukup untuk membayar 10 pembantu, mempunyai keluarga yang
bahagia, berakhir pekan di villa. Tanpa memperhatikan bagaimana aqidah, bagaimana
ibadah, asal tidak bertengkar dan bisa senyum dan tertawa ria di rumah, disebutlah itu
dengan bahagia.

Ketika usia senja, mata mulai rabun, tulang mulai rapuh, atau bahkan tubuh ini hanya
mampu berbaring dan tak bisa bangkit dari ranjang untuk sekedar berjalan. Siapa yang
mau mengurus kita kalau kita tidak pernah mendidik anak-anak kita? Bukankah mereka
sedang sibuk dengan karir mereka yang dulu pernah kita banggakan, atau mungkin
sedang asik dengan istri dan anak-anak mereka?

Ketika malaikat maut telah datang, ketika jasad telah dimasukkan ke kubur, ketika diri
sangat membutuhkan doa padahal pada hari itu diri ini sudah tidak mampu berbuat
banyak karena pintu amal telah ditutup, Siapakah yang mendoakan kita kalau kita tidak
pernah mengajari anak-anak kita?
Lalu…
Masihkah kita mengatakan jabatan ibu rumah tangga dengan kata ’cuma’? dengan
tertunduk dan suara lirih karena malu?

Wallahu a’lam

Maroji’:

   1. Dapatkan Hak-Hakmu, Wahai Muslimah oleh Ummu Salamah as Salafiyyah. Judul
      asli: Al-Intishaar li Huquuqil Mu’minaat
   2. Mendidik Anak bersama Nabi oleh Muhammad Nur Abdul Hafizh Suwaid. Judul Asli:
      Manhaj At-Tarbiyyah An-Nabawiyyah lit-Thifl
   3. Majalah Al Furqon Edisi: 8 Tahun V/Rabi’ul Awwal 1427/April 2006
                          Menjadi Muslimah Ideal

                                             Oleh :

                          Ustadz Nurul Mukhlisin Asyrafuddin, Lc., M.Ag



   Sebab itu maka Wanita yang saleh, ialah yang taat kepada Allah lagi memelihara diri
    ketika suaminya tidak ada, oleh karena Allah telah memelihara (mereka) .(QS. An-
                                         Nisa’(4):34).

      Dalam ayat ini setidaknya ada tiga karakteristik utama wanita muslimah yang
ditampilkan oleh Allah , di antaranya sebagai berikut;

Pertama, shalihat yaitu beribadah kepada Allah Ta’ala dengan penuh keikhlasan hanya
mengharap ridha-Nya semata, bukan sanjungan dan pujian manusia. Dan dalam
beribadah kepada-Nya, ia selalu mencontohi Rasulullah . Ibadah secara etimologi berarti
merendahkan diri serta tunduk dan patuh. Sedangkan menurut Istilah seperti yang
dikatakan oleh Syekhul Islam Ibnu Taimiyah,” ibadah adalah sebuatan yang mencakup
seluruh apa yang dicintai dan diridhai oleh Allah , baik berupa ucapan atau perbuatan,
yang dzahir maupun yang batin.
Ibadah bisa dibagi menjadi tiga macam yaitu; A)- Ibadah Qalbiyah (hati) seperti khauf
(takut), Raja’ (mengharap), mahabbah (cinta), Tawakkal, Ragbah (senang). B)- Ibadah
badaniyah (badan) seperti shalat, puasa, zakat, haji. C)- Ibadah lisaniyah (lisan), seperti
zikir, membaca al-Qur’an dan lainnya. Dengan demikian ibadah mencakup seluruh tingkah
laku dan ucapan seorang mukmin jika itu diniatkan mendekatkan diri kepada Allah.
Bahkan adat dan kebiasaan yang mubah bisa menjadi Ibadah apabila diniatkan sebagai
bekal untuk taat kepada Allah. Seperti tidur, makan, mencari nafkah dan lainnya.
Kesalahan persepsi tentang ibadah bisa terjadi dengan cara mengurangi makna ibadah
serta membatasi pelaksanaannya pada ibadah ritual dan syiar-syiar tertentu saja. Tidak
ada ibadah yang berkaitan dengan masalah sosial, akhlak dan muamalah. Begitu juga
mereka yang berlebih-lebihan dalam masalah ibadah, sehingga yang sunah kadang
dianggap wajib, atau yang mubah (boleh) dianggap haram. Ibadah yang benar harus
berlandaskan pada tiga filar yang utama yaitu; A)- Al-Hubb (cinta), yang harus dibarengi
dengan sikap rendah diri. B)- Al-Khauf (takut), yang harus dibarengi dengan rasa raja
(harap). C)- Ar’raja’ (mengharap).

Syekhul Islam Ibnu Taimiyah berkata, “Dienullah adalah menyembahnya dengan taat
dan tunduk kepadaNya. Akan tetapi ibadah yang diperintahkan mengandung makna
tunduk dan cinta. Siapa yang tunduk kepada seseorang dengan perasaan benci kepadanya
maka ia bukanlah menghamba (menyembah) kepadanya. Dan jika ia menyukai sesuatu
tetapi tidak tunduk kepadanya maka diapun tidak menghamba padanya. Karena itu tidak
cukup salah satu dari keduanya dalam beribadah kepada Allah, tetapi hendaknya Allah
lebih dicintainya dari segala sesuatu dan Allah lebih diagungkan dari segalanya. Tidak ada
yang berhak mendapatkan kecintaan dan ketundukan yang sempurna selain Allah ”.
(Majmu’ Tauhid Najdiyah, hal.542)
Syekhul Islam berkata, “ Inti agama adalah dua yaitu kita tidak menyembah kecuali
kepada Allah, dan tidak menyembah Allah kecuali dengan apa yang disyariatkan Allah .
       Muslimah juga tidak menyekutukan Allah  dalam ibadahnya baik Syirik Akbar
(besar), yaitu menyekutukan-Nya dalam do’a, sebagaimana firman-Nya,”Maka apabila
mereka naik kapal, mereka berdo’a kepada Allah dengan memurnikan ketaatan
kepadaNya, tetapi tatkala Allah menyelamatkan mereka sampai ke darat tiba-tiba mereka
kembali mempersekutukan Allah”, (QS. al-Ankabut;65)
Atau syirik dalam niat dengan menjadikan tujuan amalnya hanya semata untuk dunia,
Allah  berfirman, “Barangsiapa yang menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya,
niscaya kami berikan kepada mereka balasan pekerjaan mereka di dunia dengan
sempurna dan mereka di dunia tidak akan dirugikan”, (QS.Hud;15)
Syirik dalam ketaatan dengan memberi ketaatan yang sama antara Allah dengan makhluk-
Nya, Sebagaimana firman-Nya, ”Mereka menjadikan orang-orang alim dan pendeta
mereka sebagai tuhan-tuhan selain Allah”, (QS.at-Taubah;31)
Syirik dalam cinta dengan mencintai selain Allah  menyamai cintanya kepada Allah ,
sebagaimana firman-Nya,” Dan di antara manusia ada yang menjadikan sekutu-sekutu
selain Allah, mereka mencintainya seperti mencintai Allah”, (QS. al- Baqarah;165).

Kedua; syirik Ashghar (kecil), yaitu beberapa perbuatan yang yang disebutkan oleh Al-
Qur’an dan hadits sebagai syirik tetapi tidak termasuk syirik besar seperti bersumpah
dengan selain Allah  dan riya’ sebagaimana hadits Nabi yang artinya, “Sesungguhnya
perkara yang paling aku khawatir kepada kalian adalah syirik kecil yaitu riya’,
(HR.Ahmad)

Ketiga; Syirik khofi (samar) , yaitu syirik yang terselubung seperti yang digambarkan
oleh Rasulullah dalam sabdanya, “Bagaimana sekiranya aku beritau kalian tentang sesuatu
yang lebih aku takuti (terjadi) pada kalian daripada AL-Masih Ad-Dajjal?, mereka
menjawab, Ya, wahai Rasulullah!. Beliau bersabda, “Syirik yang samar, seperti seorang
yang berdiri lalu dia melakukan shalat maka dia perbagus shalatnya karena dia melihat
ada orang lain yang melihatnya”, ( HR.Ahmad , dari Abi Sa’id Al-Khudri). Dalam
riwayat al-Hakim Rasulullah  pernah mengilustrasikan syirik itu lebih samar dari semut
yang merayap di atas batu hitam di tengah malam yang gelap- gulita. Oleh sebab itu
beliau mengajarkan do’a sebagai berikut;
   ‫ع‬        ‫ب‬      ‫ن‬              ‫ع‬                ‫ن‬       ‫ي ع‬
Artinya, “Ya Allah! Aku berlindung kepada-Mu dari segala perbuatan syirik yang kuketahui,
dan aku memohon ampunan-Mu dari dosa yang tidak kuketahui”.

Kedua, Qhanithat (taat). Al-Hafidz Imaduddin Abil Fida’ Ismail Ibnu Katsir menulis
perkataan Ibnu Abbas, bahwa yang dimaksud dengan Qhanithat dalam ayat ini adalah
taat kepada suaminya. karena lafadz ayat ini umum, maka taat yang dimaksud juga
meliputi taat kepada kedua orang tua, sebagaimana firman Allah , “ Dan Tuhanmu telah
memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat
baik kepada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya
atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali
janganlah mengatakan kepada keduanya perkataan ”ah”, dan janganlah kamu membentak
mereka dan ucapkan kepada mereka perkataan yang mulia. Dan rendahkanlah dirimu
terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah; “Wahai Tuhanku
kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil”.
(QS.Al -Isra’; 23-24)
Ibu dan bapak adalah orang yang pertama setelah Allah  yang berjasa mewujudkan kita
di dunia. Tidak ada seorangpun setelah Nabi Adam dan Nabi Isa yang terlahir tanpa
proses kedua orang tua. Perjalanan panjang sejak dari setetes mani, menjadi darah
kemudian segumpal daging yang akhirnya menjadi manusia yang sempurna
membutuhkan perjuangan yang berat dari mereka berdua. Al-Qur’an sendiri
mengilustrasikan perjuangan berat tersebut dengan lafaz “Wahnan Ala Wahnin” (lemah di
atas kelemahan), (QS.Lukman;13), di ayat lain dengan kata-kata “Hamalathu Kurhan wa
Wadha’athu Kurhan” (Mengandungnya dengan susah dan melahirkan dengan susah pula).
(QS.Al-Ahqaf;15).
Allah  menceritakan semuanya dengan tujuan sebagaimana di akhir ayat, agar setiap
anak manusia bisa bersyukur kepada Allah dan kepada orang tuanya. Bersyukur kepada
Allah kata Syekh As-Sa’di,”Yaitu dengan beribadah kepada Allah yang menciptakanya dan
jangan sampai keberadaannya di dunia untuk maksiat kepada Allah. Adapun bersyukur
kepada orang tua yaitu dengan berbuat baik dan taat kepada keduanya. (Taisir
Karimurrahman; hal. 597).
Kewajiban berbuat baik kepada orang tua diperintahkan oleh Allah  dengan
menggunakan lafaz “Wawasshaina” (Kami wasiatkan) kepada manusia (QS.Al-
Ankabut;8, Lukman;14). Ini dimaksudkan agar manusia tetap ingat kepada kewajiban
tersebut apapun profesi dan kedudukannya kelak. Juga Allah mensejajarkan perintah
berbuat baik pada orang tua, dengan kewajiban beribadah kepada-Nya (QS.Isra’; 23),
menunjukkan betapa agungnya perintah tersebut. Maka ketika Rasulullah  ditanya
perbuatan apa yang paling afdhal, beliau menjawab setelah shalat di awal waktu adalah
berbakti pada orang tua (HR.Bukhari Muslim).
Suatu hari di musim haji seorang laki-laki menggendong ibunya ketika tawaf dalam
keadaan yang berdesakan. Ia bertanya kepada Ibnu Umar,”Apakah dengan ini aku sudah
membalas jasa ibuku ?”. Ibnu Umar menjawab,“Belum, sekalipun setetes air susunya. Dan
seorang tidak akan mungkin bisa membalas jasa kedua orang tuanya kata Rasulullah,
kecuali ia dapatkan bapaknya tertawan menjadi budak kemudian dia tebus dan
memerdekakannya. (HR.Muslim).
Sebagai orang yang mengandung, melahirkan dan menyusui bahkan sampai dua tahun
(QS.Al-Baqarah;233), ibu mestinya mendapatkan perlakuan yang lebih dibandingkan ayah.
Seorang laki-laki bertanya kepada Rasulullah ,”Siapakah orang yang paling berhak untuk
dilayani dengan sebaik-baiknya ?”. Beliau menjawab “Ibumu !”. “Lalu siapa lagi ?”. Beliau
menjawab,“Ibumu !”. “Lalu siapa lagi ?”, Beliau menjawab ,“Ibumu !”. “Lalu siapa lagi ?”.
Beliau menjawab,“Bapakmu !”. (HR.Bukhari Muslim).
Mentaati orang tua kata Imam Ahmad diwajibkan pada semua yang mubah (dibolehkan
dalam agama). Kalau orang tua melarang melakukan sesuatu atau memerintahkan
melakukan sesuatu sekalipun itu dalam masalah pribadi, anak harus mentaatinya. Seperti
seorang ibu yang memerintahkan anaknya untuk menceraikan isterinya yang tidak taat
dan tidak bisa berbuat baik pada mertuanya, ia harus melakukannya. Sebagaimana yang
diceritakan oleh Abdullah bin Umar bahwa bapaknya Umar bin Khattab pernah
menyuruhnya untuk menceraikan isterinya yang sangat dia cintai. Ketika itu diadukan
kepada Rasulullah, beliau bersabda, “Ceraikanlah isterimu !” (HR.Abu Daud dan
Tirmidzi, shahih).
Bahkan seorang tidak boleh mengorbankan hak orang tuanya sekalipun dengan tujuan
ibadah Selama ibadah itu bukan hal yang wajib. Ada seorang yang datang kepada
Rasulullah meminta ikut berjihad untuk mencari ridha Allah. Nabi bertanya,“Apakah orang
tuamu masih hidup ?”. Dia menjawab,“Ya”. Nabi bersabda,“Maukah engkau mencari ridha
Allah ?. Pulanglah dan perbaikilah cara berbaktimu pada keduanya !” (HR.Bukhari
Muslim). Dalam riwayat lain Nabi bersabda,“Pulanglah dan berjihadlah pada keduanya”,
(HR.Bukhari Muslim). Maksudnya berjihad dengan cara berbuat baik kepadanya. Hadits
ini menunjukkan agungnya kedudukan orang tua. Berbuat baik kepadanya lebih utama
daripada jihad fisabilillah. Dan kalau jihad itu Fardhhu Kifayah maka diharamkan seorang
anak pergi tanpa seizin kedua orang tuanya (Riyadhusshalihin; 137).
Sekalipun orang tua berbeda agama, seorang anak tetap berkewajiban untuk berbuat baik
kepadanya. (QS. Lukman;15). Asma’ binti Abu Bakar pernah mengadukan ibunya yang
non muslim kepada Rasulullah yang selalu datang kepadanya minta untuk minta
diperlakukan dengan baik. Nabi bersabda,“Perlakukanlah ibumu dengan cara yang baik”,
(HR.Bukhari Muslim). Dan berbuat baik kepada keduanya masih diwajibkan sekalipun
mereka sudah meninggal dunia. Seorang sahabat bertanya kepada Nabi, apakah masih
ada hak orang tuanya setelah ia meninggal dunia. Nabi menjawab,“Mendoakannya,
memohonkan ampunan untuknya, dan menyambung persahabatan yang pernah dia bina
di masa hayatnya”. (HR.Ahmad )
Begitu agungnya kedudukan orang tua, maka Allah  melarang untuk durhaka kepada
keduanya. Sekalipun hanya dengan perkataan,“Uffin !” (ah), (QS.Isra’; 23). Ibnu Katsir
dalam menafsirkan ayat ini mengatakan,“Jangan mereka mendengar kata yang tidak baik
darimu walaupun sekedar perkataan “ah”, yaitu perkataan yang sangat sepele. Jangan
pula keluar darimu perbuatan yang tidak layak baginya. Tetapi sebaliknya mengatakan
perkataan yang lunak dan berisi penghormatan dan do’a baginya”,(Tafsir Al-Qur’an Al-
Adzim;III/50).
Rasulullah  menganggap, durhaka kepada orang tua, termasuk salah satu dosa besar.
(HR.Bukhari Muslim). Dan akibat kedurhakaannya, seorang anak bisa merasakannya
semenjak di dunia. Kita masih mengingat kisah Si Malin Kundang anak durhaka. Syekh
Athiyah Muhammad Salim, seorang guru besar di Masjid Nabawi pernah bercerita kepada
penulis, ketika beliau menjabat sebagai Ketua Mahkamah Syariah di Madinah. Beliau
pernah mengadili seorang anak yang membunuh ayahnya dengan cara menyembelihnya
di balik batu besar di tengah padang pasir. Ketika ditanya kenapa melakukan pembunuhan
itu dan kenapa memilih tempat di sana ?. Anak tersebut menjawab,”Sebelum saya
membunuhnya, ayah saya berkata,”Di sinilah aku dulu juga membunuh ayahku”.
Allah  mengajarkan do’a untuk orang tua,” Ya, Allah ! Tunjukilah aku untuk mensyukuri
nikmat-Mu yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan supaya aku
dapat berbuat amal yang salih yang engkau ridhai; berilah kebaikan kepadaku dengan
(memberi kebaikan) kepada anak cucuku. (QS.Al-Ahqaf;15)
Juga taat kepada pemimpin dan siapaun selama tidak mengajak kepada kemaksiatan,
Rasulullah  bersabda,” Tidak boleh ta’at kepada makhluk, dalam maksiat kepada Khaliq
(Allah). Juga tidak boleh taat pada orang tua dalam kemaksiatan, atau mengajak kepada
kemusyrikan (QS.Lukman;15 ).
Bagi seorang isteri ta’at kepada suami merupakan sebuah ibadah dan kewajiban.
Rasulullah bersabda, “Apabila wanita telah shalat lima waktu, dan puasa di bulan
Ramadhan, menjaga kemaluannya, dan mentaati suaminya, maka dikatakan kepadanya;
masuklah ke surga lewat pintu mana yang disuka”, (HR.Ahmad dari Abdurrahman bin
Auf).
Dari Abu Hurairah, Rasulullah  bersabda,”Kalau wanita diajak oleh suaminya ke ranjang,
kemudian dia menolak maka malaikat akan melaknatnya sampai pagi”, (HR.Bukhari
Muslim).
Semuanya ini karena besarnya tanggungjawab suami kepada isteri, sehingga dia berhak
mendapatkan perlakuan dan hak seperti itu.
Ketiga, Hafidzaat (menjaga diri). Islam memuliakan wanita muslimah dari kedzaliman
jahiliyah yang memperbudak wanita bahkan membunuh anak-anak wanitanya,
sebagaimana firman Allah , “Dan apabila seseorang dari mereka diberi kabar dengan
(kelahiran) anak perempuan, hitamlah (merah padamlah) mukanya, dan dia sangat
marah. ia menyembunyikan dirinya dari orang banyak, disebabkan buruknya berita yang
disampaikan kepadanya. apakah dia akan memeliharanya dengan menanggung kehinaan
ataukah akan menguburkannya ke dalam tanah (hidup-hidup) Ketahuilah, alangkah
buruknya apa yang mereka tetapkan itu. (QS. An-Nahl (16):58-59).
Al-Qur’an sangat memperhatikan prinsip-prinsip kesetaraan jender sebagaimana yang bisa
dianalisa dengan lewat beberapa variabel sebagai standar di antaranya; laki-laki dan
perempuan sama-sama sebagai hamba Allah  yang mempunyai potensi dan peluang
yang sama untuk menjadi hamba yang ideal (muttaqin), (QS. 49:13). Penghargaan dan
balasan yang akan diperoleh oleh hamba adalah sama tanpa melihat status jendernya,
(QS.16:97). Sama-sama berpotensi untuk meraih prestasi di dunia dan di akherat,
(QS.3:195), (QS.4:124), (QS.16:97), (QS.40:40). Beberapa bentuk kekhususan yang
diberikan kepada laki-laki seperti sebagai qawwamah (pelindung) bagi perempuan,
(QS.4:34), mendaptakan warisan yang lebih, (QS.4:11), diperkenankan poligami bagi yang
memenuhi persyaratan, (QS.4:3), tidaklah menyebakan laki-laki menjadi hamba yang
utama, tetapi harus dipahami sebagai bentuk tanggung jawab yang lebih besar kepada
laki-laki dalam kapasitasnya yang mempunyai peran publik dan sosial yang lebih dari
perempuan.
Untuk menjaga kehormatan dan kesucian itulah, Allah  memerintahkan muslimah untuk
menutup auratnya dan tidak dipamerkan kepada orang yang bukan mahramnya. Allah 
berfirman, » Katakanlah kepada wanita yang beriman:”Hendaklah mereka menahan
pandangan mereka, dan memelihara kemaluan mereka, dan janganlah mereka
menampakkan perhiasan mereka kecuali yang (biasa) nampak dari mereka.Dan hendaklah
mereka menutupkan kain kudung kedada mereka, dan janganlah menampakkan perhiasan
mereka, kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau
putera-putera mereka, atau putera-putera suami mereka, atau saudara-saudara mereka,
atau putera-putera saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara perempuan
mereka, atau wanita-wanita Islam, atau budak-budak yang mereka miliki atau pelayan-
pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang
belum mengerti tentang aurat wanita.Dan janganlah mereka memukulkan kaki mereka
agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan.Dan bertaubatlah kepada Allah, hai
orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung. (QS. al-Nur (24): 31). Juga firman
Allah  ,” Hai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu, dan istri-
istri orang mukmin agar hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh
mereka. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka
tidak diganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. Al-Ahzab
(33):59)
Dari Abu Hurairah, Rasulullah  bersabda,” Wanita yang paling baik adalah muslimah yang
apabila anda melihatnya, kau akan senang, apabila kau menyuruhnya dia akan taat, dan
apabila engkau tidak ada di sampingnya, dia akan menjaga dirinya dan hartamu, (HR.
Ibnu Jarir)
Inilah beberapa karakteristik utama muslimah yang ideal menurut al-Qur’an dan Sunnah.
semoga Allah  memberikan kita hidayah dan inayah-Nya kepada kita agar kita bisa
menjagi hamba-hamba-Nya yang ideal, Amin!.
Wallahu A’lam bishshawab

Rujukan:
- Tafsir al-Qur’an al-Adzim oleh Imaduddin Isma’il Ibnu Katsir juz 1/653-655).
- Riyadushshalihin

								
To top