Docstoc

Makalah Pengertian dan Perubahan Iklim

Document Sample
Makalah Pengertian dan Perubahan Iklim Powered By Docstoc
					MAKALAH KLIMATOLOGI DASAR
               IKLIM
PENGERTIAN DAN FAKTOR YANG MEMPENGARUHI




                     Oleh :
            Aditya Galih Kurniawan
            NIM. 201110320311001
                Adi Nurrahman
            NIM. 201110320311005
              Wahyu Kurniawan
            NIM. 201110320311007
             Taufik Hidayat Idris
            NIM. 201110320311029




               Jurusan Kehutanan

         Fakultas Pertanian & Peternakan

        Universitas Muhammadiyah Malang

                      2011
                                       Kata Pengantar

       Segala puji bagi Tuhan yang telah menolong hamba-Nya menyelesaikan makalah ini
dengan penuh kemudahan. Tanpa pertolongan Dia mungkin penyusun tidak akan sanggup
menyelesaikan dengan baik.

       Makalah ini disusun agar pembaca dapat mengetahui pengertian Iklim serta faktor-faktor
penyebab adanya iklim yang kami olah dan kami susun dari berbagai sumber. Makalah ini di
susun oleh penyusun dengan berbagai rintangan. Baik itu yang datang dari diri penyusun maupun
yang datang dari luar. Namun dengan penuh kesabaran dan terutama pertolongan dari Tuhan
akhirnya makalah ini dapat terselesaikan.

       Makalah ini memuat tentang “Iklim; Pengertian dan Faktor yang Mempengaruhi” dan
sengaja kami tambahkan beberapa hal yang memperngaruhi perubahan iklim baik secara global
maupun yang terjadi di Indonesia.

       Penyusun juga mengucapkan terima kasih kepada guru/dosen pembimbing yang telah
banyak membantu penyusun agar dapat menyelesaikan makalah ini, serta yang telah memberikan
kami ilmu yang berguna serta bermanfaat, sehingga kami bisa mengetahui bagaimana cara
membuat makalah yang benar dan tepat.

       Semoga makalah ini dapat memberikan wawasan yang lebih luas kepada pembaca. Kami
sadar bahwa makalah ini memiliki kelebihan dan kekurangan. Kami akan tetap terbuka
menanggapi kritik dan saran yang bersifat membangun. Terima kasih.




                                                                                     Penyusun
                                             BAB I
                                       PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

         “Iklim adalah kondisi rata-rata cuaca dalam waktu yang panjang. Studi tentang
    iklim dipelajari dalam meteorologi. Iklim di bumi sangat dipengaruhi oleh posisi
    matahari terhadap bumi. Terdapat beberapa klasifikasi iklim di bumi ini yang
    ditentukan oleh letak geografis. Secara umum kita dapat menyebutnya sebagai iklim
    tropis, lintang menengah dan lintang tinggi. Ilmu yang mempelajari tentang iklim
    adalah klimatologi.” (Naufal, 1991).

    Klimatologi berasal dari kombinasi dua kata Yunani, yaitu klima yang diartikan sebagai
kemiringan (slope) bumi yang mengarah pada pengertian lintang tempat dan logos yang berarti
ilmu. Jadi klimatologi didefinisikan sebagai ilmu yang memberi gambaran dan penjelasan
penjelasan sifat iklim, mengapa iklim di berbagai tempat berbeda dan bagaimana kaitan antara
iklim dan aktivitas manusia, Secara mudahnya, ilmu iklim/klimatologi yaitu cabang ilmu
pengetahuan yang membahas sintesis atau statistik unsur-unsur cuaca hari demi hari dalam
periode tertentu (beberapa tahun) di suatu tempat dan wilayah tertentu. Sintesis Klimatologi
dapat juga didefinisikan sebagai ilmu yang mempelajari jenis iklim di muka bumi dan faktor
penyebabnya. Karena metereologi mencakup interpretasi dan koleksi data pengamatan maka
ilmu ini memerlukan teknik statistik. Demikianlah klimatologi dapat pula disebut juga
meteorologi statistik.

1.2 Rumusan Masalah
    1.2.1    Apakah pengertian dan perbedaan antara iklim dan cuaca?
    1.2.2    Faktor- faktor apa saja yang berpengaruh terhadap keberadaan iklim dan perubahan
             iklim tersebut?
1.3 Tujuan
    1.3.1    Mendapatkan pengertian tentang deskripsi iklim dan cuaca.
    1.3.2    Mengetahui berbagai faktor yang mempengaruhi keberadaan iklim serta perubahan
             iklim.
                                            BAB II

                                       PEMBAHASAN




Pengertian Cuaca dan Iklim
       Pada umumnya orang sering menyatakan kondisi iklim sama saja dengan kondisi cuaca,
padahal kedua istilah tersebut adalah suatu kondisi yang tidak sama.


Beberapa definisi cuaca adalah :

      Keadaan    atmosfer   secara   keseluruhan    pada   suatu      saat   termasuk   perubahan,
       perkembangan dan menghilangnya suatu fenomena (World Climate Conference, 1979).
      Keadaan variable atmosfer secara keseluruhan disuatu tempat dalam selang waktu yang
       pendek (Glen T. Trewartha, 1980).
      Keadaan atmosfer yang dinyatakan dengan nilai berbagai parameter, antara lain suhu,
       tekanan, angin, kelembaban dan berbagai fenomena hujan, disuatu tempat atau wilayah
       selama kurun waktu yang pendek (menit, jam, hari, bulan, musim, tahun) (Gibbs, 1987).

Fenomena perubahan cuaca ini terjadi pada lapisan troposfer, di bawah lapisan stratosfer.
Ilmu yang mempelajari seluk beluk tentang cuaca disebut meteorologi.


Sedangkan iklim didefinisikan sebagai berikut :

      Sintesis kejadian cuaca selama kurun waktu yang panjang, yang secara statistik cukup
       dapat dipakai untuk menunjukkan nilai statistik yang berbeda dengan keadaan pada setiap
       saatnya (World Climate Conference, 1979).
      Konsep abstrak yang menyatakan kebiasaan cuaca dan unsur-unsur atmosfer disuatu
       daerah selama kurun waktu yang panjang (Glenn T. Trewartha, 1980).
      Peluang statistik berbagai keadaan atmosfer, antara lain suhu, tekanan, angin
       kelembaban, yang terjadi disuatu daerah selama kurun waktu yang panjang (Gibbs,1987).

Ilmu yang mempelajari seluk beluk tentang iklim disebut klimatologi.
       Adapun definisi perubahan iklim adalah berubahnya kondisi fisik atmosfer bumi antara
lain suhu dan distribusi curah hujan yang membawa dampak luas terhadap berbagai sektor
kehidupan manusia (Kementerian Lingkungan Hidup, 2001). Perubahan fisik ini tidak terjadi
hanya sesaat tetapi dalam kurun waktu yang panjang. LAPAN (2002) mendefinisikan perubahan
iklim adalah perubahan rata-rata salah satu atau lebih elemen cuaca pada suatu daerah tertentu.
Sedangkan istilah perubahan iklim skala global adalah perubahan iklim dengan acuan wilayah
bumi secara keseluruhan. IPCC (2001) menyatakan bahwa perubahan iklim merujuk pada variasi
rata-rata kondisi iklim suatu tempat atau pada variabilitasnya yang nyata secara statistik untuk
jangka waktu yang panjang (biasanya dekade atau lebih). Selain itu juga diperjelas bahwa
perubahan iklim mungkin karena proses alam internal maupun ada kekuatan eksternal, atau ulah
manusia yang terus menerus merubah komposisi atmosfer dan tata guna lahan.


       Istilah perubahan iklim sering digunakan secara tertukar dengan istilah ’pemanasan
global’, padahal fenomena pemanasan global hanya merupakan bagian dari perubahan iklim,
karena parameter iklim tidak hanya temperatur saja, melainkan ada parameter lain yang terkait
seperti presipitasi (kandungan kelembapan udara yg berbentuk cairan atau bahan padat, spt
hujan, embun salju), kondisi awan, angin, maupun radiasi matahari. Pemanasan global
merupakan peningkatan rata-rata temperatur atmosfer yang dekat dengan permukaan bumi dan di
troposfer, yang dapat berkontribusi pada perubahan pola iklim global. Pemanasan global terjadi
sebagai akibat meningkatnya jumlah emisi Gas Rumah Kaca (GRK) di atmosfer. Naiknya
intensitas efek rumah kaca yang terjadi karena adanya gas dalam atmosfer yang menyerap sinar
panas yaitu sinar infra merah yang dipancarkan oleh bumi menjadikan perubahan iklim global.


       Meskipun pemanasan global hanya merupakan 1 bagian dalam fenomena perubahan
iklim, namun pemanasan global menjadi hal yang penting untuk dikaji. Hal tersebut karena
perubahan temperatur akan memberikan dampak yang signifikan terhadap aktivitas manusia.
Perubahan temperatur bumi dapat mengubah kondisi lingkungan yang pada tahap selanjutnya
akan berdampak pada tempat dimana kita dapat hidup, apa tumbuhan yang kita makan dapat
tumbuh, bagaimana dan dimana kita dapat menanam bahan makanan, dan organisme apa yang
dapat mengancam. Ini artinya bahwa pemanasan global akan mengancam kehidupan manusia
secara menyeluruh.


Studi perubahan iklim melibatkan analisis iklim masa lalu, kondisi iklim saat ini, dan estimasi
kemungkinan iklim di masa yang akan datang (beberapa dekade atau abad ke depan). Hal ini
tidak terlepas juga dari interaksi dinamis antara sejumlah komponen sistem iklim seperti
atmosfer, hidrofer (terutama lautan dan sungai), kriosfer, permukaan tanah dan biosfer, dan
pedosfer. Dengan demikian, dalam studi-studi mengenai perubahan iklim dibutuhkan penilaian
yang terintegrasi terhadap sistem iklim atau sistem bumi.




                                    Gambar 1 : Sistem iklim
                   Sumber : http://www.ncdc.noaa.gov/paleo/ctl/about1a.html
Iklim merupakan keadaan rata-rata dari cuaca di suatu daerah dalam periode tertentu. Faktor-
faktor yang mempengaruhi keadaan iklim antara lain suhu, kelembaban, curah hujan, angin dan
penyinaran matahari.
       Iklim adalah keadaan rata-rata udara pada wilayah yang relatif luas dan dalam jangka
waktu yang lama. Iklim meliputi daerah yang sangat luas, mìsalnya wilayah suatu negara. Iklim
jangka waktunya juga lama, misalnya sampai 30 tahun baru mengalami perubahan. Iklim
meliputi statistik suhu, kelembaban, tekanan udara, angin, curah hujan, jumlah partikel atmosfer
dan pengukuran unsur meteorologi di dalam wilayah tertentu dalam waktu lama, apabila
dibandingkan dengan cuaca, yang merupakan kondisi sekarang dari unsur-unsur dan variasi
mereka selama masa pendek.


Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Adanya Iklim
1. Garis Lintang
       Garis lintang yang merupakan ukuran jarak
   utara atau selatan dari garis katulistiwa
   berpengaruh terhadap kondisi iklim pada suatu
   wilayah. Pada daerah tropis yang terletak antara
   23,5°LU dan 23,5°LS menerima lebih banyak
   pancaran sinar matahari, karena matahari
   bersinar hamper meliputi seluruh wilayah ini.
   Pada daerah kutub yang wilayahnya mencakup
   66,5°LU dan 66,5°LS hingga pusat kutub, mendapatkan pancaran sinar matahari dengan
   sudut yang rendah dengan menyebarkan energi pada area yang luas, itulah sebabnya daerah
   kutub tidak pernah terasa hangat. Diantara daerah tropis dan kutub merupakan kawasan
   beriklim sedang


2. Luas Wilayah Perairan
       Butuh banyak energi panas untuk menaikkan suhu pada wilayah perairan daripada untuk
menaikkan suhu di daratan, begitu juga wilayah perairan melepaskan panas lebih banyak
daripada wilayah daratan untuk menjadi dingin. Wilayah perairan yang luas juga berpengaruh
terhadap perubahan iklim di daerah pesisir yait dengan menyerap maupun melepaskan panas.
Hal ini menyebabkan daerah pesisir menjadi hangat pada musim dingin dan lebih dingin pada
musim panas dibandingkan dengan wilayah daratan pada rentang garis lintang yang sama.


3. Arus Laut
        Arus laut juga mempengaruhi iklim di daerah pesisir, arus hangat yang bergerak dari
wilayah katulistiwa menuju ke garis lintang yang lebih tinggi akan menghangatkan wilayah
darata yang dilalui arus tersebut. Pada saat arus dingin turun dan mengalir menuju daerah
katulistiwa, membuat udara dan iklim pada wilayah yang dekat dengan arus tersebut menjadi
dingin. Angin yang bertiup dari lautan seringkali lebih lembab daripada yang berttiup dari
daratan, oleh karena itu daerah pesisir memiliki iklim lebih basah dari tempat yang lebih jauh
lagi di daratan.


4. Daerah Pegunungan/ Dataran Tinggi
        Pada posisi garis lintang yang sama, ikli di pegunungan lebih dingin daripada wilayah
permukaan laut. Pada saat pancaran dari matahari diserap oleh permukaan bumi, maka hal itu
akan menyebabkan kenaikan suhu di daratan yang kemudian akan menghangatkan atmosfer.
Karena atmosfer bumi menjadi lebih tipis di dataran tinggi, maka udara di pegunungan memiliki
lebih sedikit molekul untuk enyerap panas.


5. Bayangan Hujan (rain shadows)

       Angin yang bertiup kearah pegunungan membuat udara menjadi dingin kemudian
meneteskan kelembabannya yang berupa kabut atau hujan. Lalu diteruskan ke sisi lain, tekanan
angin yang bertiup turun dari wilayah pegunungan tersebut menurun, menjadi lebih panas dan
membuat dataran menjadi kering.
6. Perkotaan

       Jalan raya, lapangan-lapangan parker, dan gedung gedung juga dapat menyerap energi
panas, ini juga mengakibatkan suhu udara meningkat. Panas ini terjebak dalam polusi udara,
menjadikan apa yang disebut efek panas pulau (heat-island effect). Suhu udara di kota-kota besar
bias mencapai 5°C lebih tinggi dari daerah sekitar pedesaan.

Penyebab Terjadinya Perubahan Iklim

 Faktor-faktor alam seperti fenomena bertambahnya aerosolakibat letusan gunung berapi, siklon
yang dapat terjadi didalamsuatu tahun (inter annual), El-Nino dan La-Nina yang bisa terjadi di
dalam sepuluh tahun (inter decadal) tidak masuk dalamkriteria peruabahan iklim global. Pada
dasarnya perubahan iklim disebabkan oleh aktivitas manusia, khususnya yang berkaitan dengan
penggunaan bahan fosil dan alih guna lahan (Anonim, 2004).

Aktivitas manusia secara langsung maupun tidak langsungdapat menyebabkan perubahan serius
pada komposisi atmosfir secara global. Hal ini disebabkan karena beberapa aktivitas manusia
dapat menyebabkan meningkatnya konsentrasi gas rumah kaca secara signifikan di atmosfer.
Dengan naiknya temperatur rata-rata bumi atau yang biasa disebut dengan pemanasan global
dapat menyebabkan perubahan variabel iklim suhu udara dan curah hujan. Adapun jenis-jenis
gas yang digolongkan sebagai gas rumah kaca adalah:



1. Karbondioksida (CO2)
CO2 merupakan gas rumah kaca utama, jumlahnya mencapai 80% dari keseluruhan gas rumah
kaca.Gas ini berasal dari pembakaran bahan bakar fosil, seperti minyakbumi, batu bara, dan gas
alam. Selain itu penebangan hutan jugaturut andil dalam menyumbang gas CO2, karena pada
saat pohon ditebang, pohon yang berfungsi sebagai penyerap karbon akan melepaskan CO2.



2. Metan (CH4)
Areal persawahan, pelapukan kayu, timbunan sampah proses industri, dan eksploitasi bahan
bakar banyak menyumbangkan jenis gas ini. Adapun sumber utama emisi metan adalah
persawahan. Lebih dari 90% metan yang terlepas dari areal persawahan ke atmosfer berasal dari
tanaman padi (Dyah, 2007).



3. Nitrous Oksida (N2O)
Gas rumah kaca yang satu ini berasal dari kegiatan pemupukanoleh para petani, transportasi, dan
proses industri.



4. Hidroflourkarbon (HFCs)
Jenis ini berasal dari sistem pendingin, foam, pelarut, dan pemadam kebakaran.



5. Perflourokarbon (PFCs)
PFCs berasal dari proses-proses industry



6. Sulfurheksa Flourida (SF6)
Seperti halnya dengan PFCs, SF6 juga dihasilkan dari proses industri.




Penyebab dan Dampak Perubahan Iklim Secara Global

       Sebagai organisasi kesehatan sedunia, WHO melihat begitu besarnya dampak perubahan
iklim pada kesehatan manusia. Untuk itulah mengapa WHO berinisiatif mengangkat tema itu
dalam rangka memperingati HKS ke-60 pada tahun 2008 yang lalu.

       Perwakilan WHO untuk Indonesia, Mr. Sharad Adhikary menjelaskan mengapa sangat
penting adanya kepedulian akan isu tersebut dikarenakan dampaknya sudah sangat mengancam
kesehatan dan kelangsungan hidup manusia di bumi ini.

       Pada dasarnya bumi selalu mengalami perubahan iklim dari waktu ke waktu. Hanya saja
di masa lampau perubahan tersebut berlangsung secara alami sedangkan saat ini perubahan iklim
lebih disebabkan oleh ulah manusia sehingga sifatnya lebih cepat dan drastis.
Lalu Apa yang Menyebabkan Perubahan Iklim?

        Pada tahun 2007 Panel Antar Pemerintah tentang Perubahan Iklim (Intergovernmental
Panel on Climate Change/IPCC) dan Al Gore memperoleh penghargaan Nobel Perdamaian.
Penghargaan itu didapatkan atas upaya mereka untuk mengembangkan dan menyebarluaskan
pengetahuan tentang perubahan iklim yang disebabkan oleh aktivitas manusia sekaligus tentang
upaya mendasar untuk menindaklanjuti perubahan yang tidak alami tersebut.

        Hasil kajian IPCC memastikan bahwa perubahan iklim global terjadi karena atmosfer
bumi dipenuhi oleh gas rumah kaca (GRK), seperti karbon dioksida dan metana, yang dihasilkan
oleh manusia. Gas karbondioksida terjadi akibat proses pembakaran bahan bakar fosil dengan
tujuan untuk menghasilkan energi dan juga akibat kebakaran hutan. Sementara gas metana
terjadi akibat aktivitas pembuangan sampah.

        GRK memiliki kemampuan untuk menangkap sinar infra merah dari sinar matahari yang
direfleksikan oleh bumi. Karena itu semakin besar jumlah GRK di dalam atmosfer bumi maka
bumi pun akan semakin panas. Kadar gas karbon dioksida dalam atmosfer mencapai 385 ppm
pada tahun 2006, sebuah peningkatan yang luar biasa jika dibandingkan dengan data perubahan
iklim selama kurun waktu 650.000 tahun terakhir, ujar Mr. Sharad.

        Selama 13 tahun terakhir, dua belas tahun diantaranya tercatat sebagai tahun-tahun
terpanas. Dengan akumulasi GRK yang terus berlangsung seperti saat ini, pada dua sampai tiga
dekade mendatang peningkatan pemanasan global akan melampaui perhitungan yangtelah ada
selama ini. IPCC memperkirakan bahwa pada tahun 2050 temperatur global akan naik 2-3
derajat celcius.

Peningkatan temperatur itu akan berdampak pada :
- Meluasnya pencairan es di kutub utara
- Meningkatnya suhu air laut, yang mengakibatkan naiknya permukaan air laut
- Musim kering akan semakin kering dan musim penghujan akan lebih basah
- Meningkatnya curah hujan dan kondisi banjir
       Semuanya itu akan mempengaruhi kesehatan manusia baik dari sisi semakin
meningkatnya pertumbuhan hewan pembawa penyakit seperti nyamuk, juga ancaman terhadap
ketersediaan air bersih, krisis pangan, dan kebersihan lingkungan. Akhirnya dampak keseluruhan
adalah mengancam jiwa manusia, tandas Mr. Sharad.

       Untuk itu amat penting untuk benar-benar memahami perubahan iklim tersebut. Mr.
Sharad menegaskan bahwa diperlukan kesiapan semua negara dalam menghadapinya, untuk bisa
beradaptasi, dan menerima bahwa akan dapat terjadi pengaruh yang lebih buruk, yang tidak
diperkirakan sebelumnya.***




Perubahan Iklim di Indonesia

       Indonesia mempunyai karakteristik khusus, baik dilihat dari posisi, maupun
keberadaanya, sehingga mempunyai karakteristik iklim yang spesifik. Di Indonesia terdapat tiga
jenis iklim yang mempengaruhi iklim di Indonesia, yaitu iklim musim (muson), iklim tropica
(iklim panas), dan iklim laut.

1. Iklim Musim (Iklim Muson)

       Iklim jenis ini sangat dipengaruhi oleh angin musiman yang berubah-ubah setiap periode
tertentu. Biasanya satu periode perubahan angin muson adalah 6 bulan. Iklim musim terdiri dari
2 jenis, yaitu Angin musim barat daya (Muson Barat) dan Angin musim timur laut (Muson
Tumur). Angin muson barat bertiup sekitar bulan Oktober hingga April yang basah sehingga
membawa musim hujan/penghujan. Angin muson timur bertiup sekitar bulan April hingga bulan
Oktober yang sifatnya kering yang mengakibatkan wilayah Indonesia mengalami musim
kering/kemarau.

2. Iklim Tropis/Tropika (Iklim Panas)

       Wilayah yang berada di sekitar garis khatulistiwa otomatis akan mengalami iklim tropis
yang bersifat panas dan hanya memiliki dua musim yaitu musim kemarau dan musim hujan.
Umumnya wilayah Asia tenggara memiliki iklim tropis, sedangkan negara Eropa dan Amerika
Utara mengalami iklim subtropis. Iklim tropis bersifat panas sehingga wilayah Indonesia panas
yang mengundang banyak curah hujan atau Hujan Naik Tropika.

3. Iklim Laut

       Indonesia yang merupakan negara kepulauan yang memiliki banyak wilayah laut
mengakibatkan penguapan air laut menjadi udara yang lembab dan curah hujan yang tinggi.



Edvin Aldrian (2003), membagi Indonesia terbagi menjadi 3 (tiga) daerah iklim, yaitu daerah
Selatan A, daerah Utara – Barat B dan daerah Moluccan C, sebagai mana dituangkan pada
gambar 1.




Gambar 1 : Tiga daerah iklim menggunakan metoda korelasi ganda, yang membagi Indonesia
menjadi daerah A (garis tegas), daerah monsun selatan; daerah B (titik garis putus-putus), daerah
semi-monsun; dan daerah C (garis putus-putus), daerah anti monsun.
       Wilayah Indonesia terletak di daerah tropis yang dilintasi oleh garis Khatulistiwa,
sehingga dalam setahun matahari melintasi ekuator sebanyak dua kali. Matahari tepat berada di
ekuator setiap tanggal 23 Maret dan 22 September. Sekitar April-September, matahari berada di
utara ekuator dan pada Oktober-Maret matahari berada di selatan. Pergeseran posisi matahari
setiap tahunnya menyebabkan sebagian besar wilayah Indonesia mempunyai dua musim, yaitu
musim hujan dan musim kemarau. Pada saat matahari berada di utara ekuator, sebagian wilayah
Indonesia mengalami musim kemarau, sedangkan saat matahari ada di selatan, sebagaian besar
wilayah Indonesia mengalami musim penghujan.

       Unsur iklim yang sering dan menarik untuk dikaji di Indonesia adalah curah hujan,
karena tidak semua wilayah Indonesia mempunyai pola hujan yang sama. Diantaranya ada yang
mempunyai pola munsonal, ekuatorial dan lokal. Pola hujan tersebut dapat diuraikan berdasarkan
pola masing-masing. Distribusi hujan bulanan dengan pola monsun adalah adanya satu kali hujan
minimum. Hujan minimum terjadi saat monsun timur sedangkan saat monsun barat terjadi hujan
yang berlimpah. Monsun timur terjadi pada bulan Juni, Juli dan Agustus yaitu saat matahari
berada di garis balik utara. Oleh karena matahari berada di garis balik utara maka udara di atas
benua Asia mengalami pemanasan yang intensif sehingga Asia mengalami tekanan rendah.
Berkebalikan dengan kondisi tersebut di belahan selatan tidak mengalami pemanasan intensif
sehingga udara di atas benua Australia mengalami tekanan tinggi. Akibat perbedaan tekanan di
kedua benua tersebut maka angin bertiup dari tekanan tinggi (Australia) ke tekanan rendah
(Asia) yaitu udara bergerak di atas laut yang jaraknya pendek sehingga uap air yang
dibawanyapun sedikit.

       Dapat diamati bahwa hujan maksimum terjadi antara bulan Desember, Januari dan
Februari. Pada kondisi ini matahari berada di garis balik selatan sehingga udara di atas Australia
mengalami tekanan rendah sedangkan di Asia mengalami tekanan tinggi. Akibat dari hal ini
udara bergerak di atas laut dengan jarak yang cukup jauh sehingga arus udara mampu membawa
uap air yang banyak (monsun barat atau barat laut). Akibat dari hal ini wilayah yang dilalui oleh
munson barat akan mengalami hujan yang tinggi. Atas dasar sebab terjadinya angin munson
barat ataupun timur yang mempengaruhi terbentuknya pola hujan munsonal di beberapa wilayah
Indonesia dapat dikatakan wilayah yang terkena relatif tetap selama posisi pergeseran semu
matahari juga tetap. Namun, perubahan diperkirakan akan terjadi terhadap jumlah, intensitas dan
durasi hujannya. Untuk mempelajari hal ini diperlukan data curah hujan dalam seri yang
panjang. Kaimuddin (2000) dengan analisa spasial bahwa curah hujan rata-rata tahunan
kebanyakan di daerah selatan adalah berkurang atau menurun sedangkan dibagian Utara adalah
bertambah.

       Iklim di Indonesia telah menjadi lebih hangat selama abad 20. Suhu rata-rata tahunan
telah meningkat sekiitar 0,3 oC sejak 1900 dengan suhu tahun 1990an merupakan dekade
terhangat dalam abad ini dan tahun 1998 merupakan tahun terhangat, hampir 1oC di atas rata-
rata tahun 1961-1990. Peningkatan kehangatan ini terjadi dalam semua musim di tahun itu.
Curah hujan tahunan telah turun sebesar 2 hingga 3 persen di wilayah Indonesia di abad ini
dengan pengurangan tertinggi terjadi selama perioda Desember- Febuari, yang merupakan
musim terbasah dalam setahun. Curah hujan di beberapa bagian di Indonesia dipengaruhi kuat
oleh kejadian El Nino.

       Beberapa kajian untuk wilayah Indonesia telah dilakukan berdasarkan observasi, model
global dan skenario dengan adanya perubahan curah hujan dan suhu di berbagai lokasi,
diantaranya untuk Kota Jakarta.

       Dari rata-rata bulanan terdapat tren kenaikan di lokasi Jakarta dari tahun 1900 hingga
tahun 2000 antara observasi dan model (gambar 3). Dengan pengertian cenderung mengalami
kenaikan 8% (CGCM) dan 2% (CSIRO). Periode 1900-2000 nampak jelas terjadi kenaikan
temperatur, hal ini ditunjukkan dengan tren perubahan bertanda positif.

       Hasil yang berbeda pada perubahan musim atas Indonesia yang diungkapkan oleh dua
model yang berbeda, Hadcm3 (Hadley Pusat Iklim, UK) dan GISS-ER (Goddard Institut untuk
Space/ Studies, NASA- AS) (Wenhong Li, 2006 dalam Canadell et al., 2006) gambar 4. Dari
hasil Syahbuddin dkk (2007) dengan menggunakan model ARPEGE (Action de Recherche Petite
Echelle Grande Echelle) Climat versi 3.0. berdasarkan simulasi zonasi curah hujan untuk periode
1950-1979 dan periode 2010-2039. diperkirakan akan terjadi peningkatan curah hujan di wilayah
Indonesia pada tahun 2010-2039 yang ditandai dengan anomali positif zona konveksi dan
peningkatan temperatur.
                                       Daftar Pustaka

Anonimous, 2011. Pengertian Iklim. Online. id.shvoong.com/exact-sciences/astronomy. Diakses
        pada tanggal 5 Maret 2012.

Anonimous, 2012. Climate. Online. en.wikipedia.org. Diakses pada tanggal 5 Maret 2012.

Dokter Kita, Majalah. Edisi Mei 2008. Penyebab dan Dampak Perubahan Iklim Secara Global.
        Halaman 24.

LAPAN, Pusfatsatklim ,2009. Perubahan Iklim di Indonesia. Online. iklim.dirgantara-
        lapan.or.id. Diakses pada tanggal 5 Maret 2012.

Ruddiman, 2001. Graphic Overview of Earth's Climate System. Online.
        http://www.ncdc.noaa.gov/paleo/ctl/about1a.html. diakses pada tanggal 5 Maret 2012.

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Tags:
Stats:
views:2369
posted:5/16/2012
language:
pages:16